Friday, October 19, 2012

Menegur



Pdt Budianto

Gal 2:11-14 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.   Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?"

Tembok besar di Tiongkok merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusai. Panjangnya 6.400 km tingginya 8m, lebar bagian bawahnya 8 m, lebar bagian atasnya 5m. Tembok ini dibuat dengan tujuan untuk mencegah serbuan tentara Mongol saat itu. Saat itu tembok ini sangat tinggi untuk dipanjat, terlalu tebal untuk didobrak, terlalu panjang untuk dikelilingi. Itu sebabnya orang yang tinggal di dalamnya merasa aman. Namun beberapa tahun setelah tembok itu berdiri, datang serbuan musuh dari Rusia yang kemudian mengalahkan bangsa Tiongkok. Mereka tidak merobohkan dan memanjat tembok itu. Musuh masuk dari pintu utama, dengan cara menyuap para penjaga  dengan sejumlah uang dan wanita. Sebab itu sering dikatakan bahwa orang-orang Tionghoa saat itu teralu bersandar pada kekuatan tembok itu, tetapi mereka lupa mengajarkan integritas (sesuatu yang di dalamnya merupakan prinsip) pada generasi muda. Karena tidak ada integritas, maka kekuatan tembok tidak ada apa-apanya. Sama seperti tembok , kekuatan Injil tidak punya arti bila orang Kristen tidak punya integritas. Kehidupan yang tidak punya integritas merupakan ancaman bagi penyebaran injil. Ini yang dipersoalkan (Rasul) Paulus kepada (Rasul) Petrus.

Kisahnya dimulai ketika Petrus, Barnabas dan orang-orang Kristen yang bukan Yahudi sedang mengadakan perjamuan dan makan bersama. Makan bersama merupakan hal lumrah  dan artinya sebagai suatu persekutuan. Gereja seringkali mengadakan persekutuan dan ada makannya. Orang-orang TIonghoa apalagi, makan itu penting. Saat kita mendatangi rumah, tuan rumah selalu bertanya, “Sudah makan belum?” Tetapi perjamuan makan itu menjadi masalah saat Petrus melihat orang-orang Yahudi datang. Mereka sangat erat berpegang pada hukum Taurat. Mereka mengatakan tidak perlu bergaul erat dengan orang Kristen non Yahudi. Lalu Petrus menjadi takut, mengundurkan diri dan menjauhi orang Kristen non Yahudi. Alkitab bahasa Indonesia mengatakan Petrus “mengundurkan diri”. Kata “mengundurkan diri” merupakan istilah perang yang berarti mundur pelan-pelan mencari posisi yang aman. Waktu Petrus melihat orang Kristen Yahudi yang dipimpin Yakobus datang, maka ia mengundurkan diri dari makan bersama dengan orang Kristen non Yahudi. Dengan demikian, Petrus berusaha mengamankan dirinya sendiri. Kalau yang melakukan tindakan ini orang lain, hal ini bisa dimaklumi. Tetapi yang berbuat ini adalah Petrus. Ia seorang rasul yang diangkat Tuhan Yesus, pemimpin gereja, melakukan tindakan tidak sesuai iman, berprilaku tidak sesuai dengan kebenaran Injil Tuhan. Petrus bukannya tidak tahu berita kesalamatan untuk seluruh manusia. Karena dalam suatu penglihatan, ia harus melayani orang kafir. Pada waktu itu ia melayani Kornelius yang kafir. Petrus tahu, Injil untuk semua orang. Tetapi Petrus menjauhkan diri karena takut dengan saudara-saudara yang bersunat alias orang Yahudi. Apa yang ditakuti? Kemungkinan, ia takut dicap sebagai pelanggar hukum Taurat. Kedua, ia takut menjadi pribadi yang tidak bisa menyenangkan kelompok orang-orang Yahudi. Ketiga, ia takut diserang orang-orang dari kelompok Yakobus ini. Apapun alasannya ia takut akan pandangan orang lain atas dirinya. Ia lebih mementingkan keamanan diri sendiri. Itu sebabnya ia tidak punya prinsip yang teguh. Hidup seperti ini selalu diombang-ambingkan pendapat orang lain. Akibatnya, hidupnya mementingkan citra diri di depan orang lain. Itulah sebabnya, kelakuan Petrus dikatakan tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Inilah kemunafikan. Lawan dari integritas bukan tidak berintegritas tapi kemunafikan. Integritas berarti keutuhan / kebulatan / kesamaan apa yang di hati dengan yang diucapkan. Apa yang diimani, sama dengan apa yang dilakukan dalam perbuatan. Kalau Petrus melakukan tidak sama dengan yang diimaninya, berarti tindakannya itu sama dengan tindakan orang munafik. Dalam bahasa Yunani, kata “munafik” sering digunakan dalam dunia teater. Di mana seorang pemain memainkan peranannya dengan memakai topeng. Hal ini dengan tepat menggambarkan keberadaan orang yang munafik. Orang yang penuh dengan kepura-puraan, yang menyembuniyakan wajah asli. Dalam kekristenan kemunafikan sangat perlu diwaspadai. Karena kemunafikan seperti virus yang dengan cepat menyebar dan mempengaruhi orang lain. TIndakan Petrus memisahkan diri dengan cepat diikuti yang lainnya. Bahkan dalam ayat ke 13 , Barnabas turut terseret dalam kemunafikan mereka. Barnabas itu orang yang baik. Pada Kisah Para Rasul , dikatakan bahwa ia penuh Roh Kudus, tetapi menghadapi kemunafikan ia pun terseret. Apa sebabnya? Pada dasarnya, manusia adalah pemain sandiwara yang ulung. Jauh sebelum mengenal Kristus, ia terbiasa mengenakan topeng. Di rumah kita pakai suatu topeng , di tempat kerja copot topeng yang dipakai di rumah dan ganti dengan yang lain. Di gereja kita pakai topeng yang lain lagi. Walau Kristus sudah mati bagi kita, menyucikan kita, kita perlu waktu untuk berjuang melepaskan topeng-topeng tersebut. Tetapi begitu kita tersudut, dengan cepat kita kembali menggunakan topeng yang lama. Tentunya kemunafikan Petrus sangat menyakitkan orang Kristen non Yahudi juga. Melihat Petrus mengundurkan diri, tentu membuat mereka jadi kecewa. Kita bisa bayangkan, orang yang kita undang makan bersama-sama tiba-tiba mengundurkan diri secara tiba-tiba, kita akan kecewa. Mungkin melihat Petrus meninggalkan mereka, orang Kristen non Yahudi akan berpikir, kalau begitu untuk menjadi Kristen Yahudi, saya juga harus disunat supaya bisa jadi orang Kristen. Bila ini terjadi, maka Injil bukan Injil yang sempurna, tetapi harus disunat untuk bisa diterima. Ini adalah hal yang keliru. Kemungkinan lain, mereka akan meninggalkan kekristenan mereka. Mereka bisa kecewa, pesimis, penebusan Kristus tidak membuat mereka menjadi orang Kristen sejati. Menyadari kemunafikan Petrus, maka Paulus menegur Petrus. Bahkan Petrus menegur begitu keras di hadapan orang banyak. Di dalam ayat ke 14 Paulus ingin mengatakan jika engkau orang Kristen, hidup seperti orang dunia bukan seperti orang Kristen, bagaimanakah engkau dapat memaksa orang dunia untuk hidup sebagai orang Kristen. Teguran Paulus mempunyai dasar yang kuat. Bukan tanpa dasar, asal-asalan, membabi buta atau karena sentimen pribadi. Tetapi teguran ini didasari bahwa Petrus salah, kelakuannya  tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Ayat 13, Petrus hidup dalam kemunafikan. Paulus tahu akan bahaya kemunafikan itu. Karena Petrus pemimpin gereja yang besar yang mempengaruhi yang lain. Barnabas juga terseret. Sehingga Paulus tidak diam saja, ia dengan berani memberikan teguran. Bahkan ia memberikan teguran dengan berterus terang. Ia tidak main belakang. Ia tidak menusuk dari belakang atau membuat gossip. Biasanya orang suka gossip apalagi menghadapi pemimpin besar atau senior. Tetapi Paulus memberi teguran dengan dasar yang kuat dan tidak sembunyi karena mempengaruhi penyebaran Injil.

Suatu hari Socrates didatangi temannya. Pada waktu itu ia ditanya temannya itu. Tahukan anda apa yang dikatakan tentang teman anda. Socrates menjawab, “Tunggu sebentar. Sebelum anda menceritakan kepada saya, saya akan berikan tes sederhana yang disebut sebagai tes 3 saringan”. Temannya berkata, “Apa 3 saringan?”. “Benar. Kita bicara tentang teman saya, apa yang akan engkau ceritakan kepada saya merupakan kebenaran?” Orang itu mengatakan ,”Tidak. Sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu dan belum tentu benar.” Lalu Socrates mengatakan, “Baik, jika anda tidak yakin berita itu benar, sekarang kita lanjutkan dengan saringan yang kedua yakni kebaikan. Apakah yang akan anda katakan itu sesuatu yang baik?” Orang itu mengatakan,”Oh tidak. Malah sebaliknya.” Socrates, “Jadi anda akan bicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia. Mari kita lanjutkan saringan ketiga yakni kegunaan. Apakah yang anda sampaikan berguna bagi saya tidak?” Orang itu mengatakan,”Sama sekali tidak berguna.” Akhirnya Socrates menyimpulkan, “Jika anda ingin katakan sesuatu yang belum tentu benar, baik dan berguna, lalu untuk apa anda akan sampaikan ke saya?” Paulus memberikan teguran ke Petrus pun, ia tahu Petrus tidak benar, tidak baik dan kalau dibiarkan tidak berguna untuk penyebaran Injil. Itu sebabnya Paulus menegur di hadapan mereka semua. Teguran keras Paulus mungkin menyebabkan muka Petrus merah padam. Ia mungkin berkata dalam hati, “Hai Paulus jangan sombong kamu. Siapa kamu itu? Kamu kan orang Kristen baru.” Atau mungkin juga, Petrus bisa menarik Paulus menyingkir. “Paulus kalau aku salah jangan tegur aku di depan orang banyak tetapi empat mata saja.” Tetapi firman TUhan tidak menuliskan reaksi Petrus. Saya berpendapat teguran Paulus bisa mengingatkan Petrus bagaimana Yesus menegurnya. Sehingga Petrus sadar siapa dirinya dan ia mau memperbaiki dirinya. Inilah yang betul-betul diperbaiki dalam diri kita semua. Pada umumnya , kita tidak suka dengan teguran. Tetapi kalau teguran dinyatakan sesuai dengan Alkitab, kita harus belajar melaluinya. Kadang saya diingatkan oleh anak saya yang berumur 10 tahun. Saat setir di Jakarta kadang stress. Sudah macet berjam-jam, disalib sana-sini, walau pendeta terkadang saya tidak tahan juga. Bisa marah-marah. Seringkali dari belakang anak saya menepuk pundak saya,”Papa, sabar-sabar. Papa pendeta lho.” Dengan perkataan ini saja, membuat saya sadar lagi. Untuk apa marah-marah, cape lagi. Diingatkan oleh anak kecil. Kita harus belajar untuk menerima masukan positif yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau teguran itu baik, kita terima. Kalau teguran itu benar untuk penyebaran firman Tuhan, kita juga harus terima. Paulus mengajarkan Timotius untuk menegur dengan kasih dan lemah lembut. Tapi tidak selalu teguran dinyatakan di muka umum, di depan semua orang. Kita harus tahu berhadapan dengan siapa. Apalagi kita orang TIonghoa, harus mengerti budaya orang Tionghoa. Satu kebenaran tidak bisa sekedar kebenaran saja. Seperti obat, pada dasarnya pahit. Ada orang tertentu tidak masalah dengan obat pahit. Ada orang tertentu yang ditegur merasa oke saja, tetapi ada juga yang tidak suka dengan obat pahit sehingga dimasukkan ke kapsul supaya manis. Sehingga orang bisa minum obat itu. Padahal isinya tetap pahit. Isinya kebenaran. Sehingga kita perlu hikmat dalam menegur orang-orang. Kita berhadapan dengan siapa. Kita harus mengetahui budaya yang mempengaruhi orang yang akan ditegur. Oleh karena itu kita harus punya hikmat dalam menegur berlandaskan firman Tuhan. 

No comments:

Post a Comment