Wednesday, February 13, 2019

Ketika Dunia Menghimpitmu





Ev. Susana Heng

Matius 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Kejadian 37:3-4
3  Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.
4  Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.

Dunia yang menghimpit

Hal-hal apa saja yang bisa menghimpit orang-orang percaya?

Bersyukur hari ini kita bisa bertemu dan saat tiba di gereja, saya melihat seragam anggota paduan suara berwarna merah. Imlek adalah  suatu hari yang spesial, semuanya bisa berkumpul bersama dan makan bersama dengan keluarga. Hidup ini memang tidak selalu baik. Terkadang ada hal-hal yang tidak baik. Namun dalam suasana imlek bagi orang Tionghoa, suasana baik atau tidak baik tetap harus baik. Berkumpul saja sudah baik karena kita diberkati Tuhan dan masih bisa berkumpul. Memang sepanjang tahun ada susah dan senang, tetapi saat kita masih berkumpul dengan keluarga kita dan masih ada makanan untuk kita dan semua bisa duduk bersama, itu merupakan anugerah besar dari Tuhan bagi setiap kita.  Puji Tuhan saya percaya berkat Tuhan tidak pernah berkesudahan dalam hidup kita walaupun ada kesusahan terjadi dalam hidup kita.
Tema hari ini “Ketika Dunia Menghimpitmu”. Dalam Matius 13:7;22 dikatakan  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Ini perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur benih. Ada yang jatuh di pinggir jalan , di tanah berbatu-batu dan ada yang jatuh di tengah semak duri. Lalu murid-murid bertanya arti tentang perumpamaan itu kepada Tuhan Yesus. Di sini kita melihat ketika benih sudah ditabur saat bertumbuh ternyata bisa dihimpit hingga mati sehingga tidak berbuah. Apa saja yang bisa menghimpit? Himpitan itu  bisa berupa kekhawatiran dan tipu daya kekayaan.
Saya tidak tahu bagaimana suasana hati kita saat ini. Tetapi sewaktu kita melihat semua orang memakai pakaian baru , berwarna merah dengan senyum lebar sehingga  suasana menjadi cerah dan menyenangkan. Sewaktu melihat warna seragam paduan suara  merah bisa mempengaruhi hati kita. Kita dalam keadaan bahagia. Hidup tidak selalu senang atau sebaliknya hanya susah belaka. Firman Tuhan mengatakan bahwa yang membuat kita terhimpit bukan saja kesusahan dan kekhawatiran tetapi harta kekayaan juga bisa menghimpit kita. Terlalu senang bisa membuat kita melupakan Tuhan. Mungkin saat bangun, kita merasa lega, sangat bersyukur dan indah, namun  bukan hari ini saja kita bersyukur kepada Tuhan. Sebagai orang Tionghoa, saya juga merayakan imlek. Pernah saya minta orang untuk mengambil foto saya dan minta membuka mata padahal saya tidak menutup mata. Kalau sedang tersenyum, memang mata saya tinggal segitu.
Di sini kita melihat saat ini saya seperti saudara saya juga senang. Namun pada hari pertama imlek saya terjatuh, padahal saya sudah memakai sepatu datar (tanpa hak tinggi), sehingga hari ini saya naik tangga dengan hati-hati. Selasa lalu (tanggal 5 Feb 2019), tepat saat merayakan imlek dengan mengenakan baju merah, saya terjatuh dan tidak bisa bangun. Suami dan anak saya laki-laki terperanjat. Anak saya akhirnya mengangkat saya berdiri. Saya bersyukur kepada Tuhan, saya tiba-tiba teringat nats Alkitab, “kalau jatuh tidak sampai tergeletak”. Akhirnya bangun juga, walaupun kemudian saya menyadari bahwa ternyata kaki saya tidak bisa menyangga diri sendiri sehingga harus pakai koyo sekujur tubuh. Tangan saya juga memakai koyo dan sekarang masih ada bekas luka. Sewaktu jatuh saya bangun dan bersyukur kepada Tuhan. Saya berkata,”Tuhan sekarang saya mengerti Mazmur yang berkata TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24) .
Di hari imlek, semua kita bersukacita. Kita dengan semangat dan bersukcita. Tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Saat sarapan pagi apakah saya tahu bahwa saya akan jatuh ? Tidak! Saya tidak tahu saya akan  jatuh parah sehingga kaki tidak bisa diangkat. Saya berjalan sambil digandeng suami dengan satu kaki diseret-seret. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa detik kemudian, apakah ada hal yang buruk atau baik. Tetapi sebagai orang Kristen kita tahu satu hal pasti yaitu tangan Tuhan memegang kita. Tuhan tahu seringkali masalah dalam hidup kita bisa membuat kita jatuh.
Saya tidak tahu keadaan setiap kita sekarang ini apakah ada yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi sehingga saat menghadapi imlek ada yang kesulitan memberi angpao atau membeli baju baru untuk anak-anak. Tidak semua orang punya uang yang segitu banyak atau tabungan untuk dipakai. Tetapi sebagai orang Tionghoa kita ingin memakai baju baru. Kita biarkan anak-anak memakai baju baru sedangkan kita mengenakan baju seadanya yang penting berwarna merah karena bajunya hanya dipakai setahun sekali. 
Di dalam hidup tidak semua berjalan baik. Saya mengenal seseorang yang sekarang mencari penghasilan dengan menjadi pengemudi go-jek sampai malam. Ia mengemudi sampai malam karena ia perlu uang untuk membayar biaya kuliah anaknya. Pk 4 pagi ia sudah bangun lalu mengantar kue-kue yang dibuat istrinya lalu ditaruh di sekolah-sekolah untuk dijual. Nantinya ia akan datang mengambil kembali sisanya. Hidupnya sama sekali tidak mudah. Tetapi ia seorang yang sangat taat pada Tuhan. Tidak setiap saat hidup kita baik, tidak setiap saat yang kita lihat baik itu ternyata benar-benar baik. Tetapi satu hal yang pasti adalah Tuhan menolong.

Hal mengenai kekhawatiran

Siapa di antara kita yang tidak pernah kuatir? Tidak ada! Saya orangnya sangat khawatir. Misalnya : anak saya berkata,”Ma, saya mau keluar.” Saya berpikir anak saya akan menyeberangi jalan , jadi saya berdoa, “Tuhan pimpin dia menyeberang jalan” dan saat berpikir dia mau naik bus, saya berdoa, “Tuhan tolong dia naik bus.”.  Karena bisa saja saat naik, bus sudah jalan sehingga kita bisa terjatuh. Saya berdoa,”Tuhan jauhkan dia dari orang jahat”. Saya berdoa semuanya karena saya penuh kekhawatiran. Saya tipe orang yang terlalu banyak khawatir. Terkadang saat malam hari , saya susah tidur karena khawatir. Padahal kejadian belum terjadi. Walau khawatir setengah mati, tetapi kalau mau kejadian tetap saja terjadi. Tetapi saya bodoh  karena merasa khawatir terus-menerus. Saya berdoa, “Tuhan Yesus tolong dan kasihani saya agar saya jangan khawatir”. Saya terlalu banyak khawatir. Untuk satu kejadian, saya bisa berpikir dari A sampai Z padahal tidak mungkin terjadi sampai Z karena bila terjadi sampai B dan C saja sudah aneh. Tetapi saya bisa khawatir seperti itu, namun saya bersyukur karena saya punya Tuhan Yesus. Bersyukur pada Tuhan. Jadi saya selalu berdoa. Saya mau mengajak orang-orang yang penuh kekhawatiran seperti saya untuk membaca Alkitab. Kata Alkitab kekhawatiran bisa membuat kita jatuh. Tuhan tahu hidup kita ada kekhawatiran, Tuhan tahu kita bisa khawatir.

Matius 6:25-26,33
25  "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Tuhan berjanji Tuhan akan menyediakan apa yang kita butuhkan.
33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Kekhawatiran bisa menjatuhkan kita. Saya melayani kelompok kecil. Suatu kali salah satu pemimpin kelompok kecil mengeluh kepada saya. Ia membawa satu jiwa. Orang itu baru mau percaya kepada Tuhan.  Adik suaminya orang Kristen. Tetapi orang itu adalah orang Kristen yang tidak punya kesaksian. Saat usahanya jatuh , dia meramal nasib di kelenteng. Bagaimana ia bisa punya kesaksian untuk saudaranya? Orang Kristen saja bisa mengeluh melihat orang Kristen saat menghadapi kesulitan, bukannya mencari Tuhan tetapi ia pergi kwa mia (melihat nasib). Karena usahanya gagal maka ia akan melakukan hal-hal  yang tidak menjadi kesaksian bagi orang yang belum percaya. Hal ini semakin lama akan membuat ia meninggalkan Tuhan karena ia lebih percaya hal-hal itu daripada Tuhan.
Seringkali kekuatiran kita seperti “bagaimana usaha nanti? Bagaimana anak-anak kita nanti?” Kita tidak bisa menyerahkan itu pada Tuhan. Hal ini membuat kita menjauh dari Tuhan dan mencari pertolongan yang lain daripada Tuhan. Sewaktu kita melangkah dengan kekhawatiran dan mencari sesuatu yang lain dari Tuhan, maka saat itu kita dihimpit mati seperti benih yang tumbuh di semak duri. Karena kita sudah tidak percaya pada Tuhan (lebih percaya yang lain). Itu sebabnya kekhawartiran pada masa depan sering membuat kita menjauh dari Tuhan. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah sudah tahu. Sebelum kita bicara, Tuhan sudah tahu dan Ia ingin kita mencariNya dan Tuhan akan menolong kita langkah demi langkah.
             
Kekayaan Dunia bisa menghimpit kita.

Ternyata kekayaan dunia terkadang bisa menghimpit kita. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita sudah senang dan kaya dan banyak orang seperti itu merasa bisa semuanya. Dia merasa itu semua bisa dalam pengaturannya sehingga ia tidak membutuhkan Tuhan. Seaktu Tuhan memberkati kita, biarlah kita berkata, “Puji Tuhan!” dan bersyukur . Jangan merasa kita sudah hebat dan pintar hingga bisa mencapai posisi ini lalu merasa tidak membutuhkan Tuhan dan meninggalkanNya.

Bagaimana anak Tuhan menghadapi himpitan hidup?

Kejadian 37:23-27
23   Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.
24  Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.
25  Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.
26  Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
27  Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

Kejadian 39:7-9
7   Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku."
8  Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,
9  bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"
             
Pada pasal 39:7 , setelah Yusuf dijual ke rumah Potifar ia dipercaya tetapi terjadi kejadian lain. Pada ayat di atas, Yusuf baru berusia 17 tahun dan ia adalah anak kesayangan bapaknya,Yakub, yang membuat jubah maha indah sehingga saudaranya iri kepadanya. Pada Kejadian 37 mereka punya rencana jahat kepadanya dan mereka menangkapnya, menanggalkan jubahnya dan berobohong kepada ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang namun kenyataannya ia dijual ke Mesir. Seorang anak yang baru 17 tahun artinya masih remaja. Ia seorang anak kesayangan bapak yang berarti ia sangat dimanja, semua yang dimau diberikan. Tiba-tiba dalam sekejap dia dimasukkan ke sumur lalu dijual ke Mesir. Seperti apa perbedaannya? Dari seorang anak kesayangan kemudian menjadi budak. Ia belum dewasa dan bisa berpikir matang karena baru berusia 17 tahun. Tetapi ketika kesusahan hidup menimpa dia dan dia dijual sebagai budak, saya kagum dengannya bagaimana di tempat penjualan budak ia tidak bercerita bagaimana ia mengalami kepahitan. Hari ini kita banyak mendengar orang mendapatkan kepahitan karena ia dulu kaya sekarang jatuh miskin padahal ia tidak dijual seperti Yusuf. Bahkan bapaknya masih berusaha membiayainya sekolah. Orang seperti itu saja sudah mengalami kepahitan. Sedangkan Yusuf dari anak kesayangan menjadi seorang budak. Berarti ia harus menjadi orang asing di satu rumah berarti ia harus bekerja keras.
Saya salut dengannya. 17 tahun sebagai budak , bekerja di rumah orang bertahun-tahun. Ia menjadi orang kepercayaan dari Potifar. Begitu dijual sebagai orang asing, tidak ada orang yang menganggap dia. Ia masih kecil, 17 tahun. Sebagai seorang yang masih kecil, mungkin ia bisa di-bully oleh pembantu-pembantu yang lebih senior. Anak muda ini menjadi pembantu dan budak baru. Ada yang menganggap remeh dan menekan dia. Dalam keadaan seperti ini, ia bisa bertahan  dan tidak berdoa, “Tuhan mengapa engkau meninggalkan aku. Aku dulu anak kesayangan dan sekarang saya jadi budak”. Saya kira, kalau saya bisa berdoa dan menangis-nangis cukup panjang. Tetapi di usia 17 tahun, Alkitab mencatat ia melakukan yang paling baik. Sebagai pembantu pun ia menjadi yang terbaik sampai mendapat kepercayaan. Ini membutuhkan proses yang panjang. Kalau kita masuk tempat baru, tidak mungkin langsung dipercaya. Kita harus bekerja keras baru diakui. Tetapi anak 17 tahun ini mengapa ia bisa punya konsep yang begitu bagus dan bekerja dengan begitu baik sehingga diakui?

1.     Yusuf seorang yang berpegang teguh dalam iman.

Yakub cukup berhasil di masa tuanya mendidik 1 anak untuk takut akan Tuhan. Yusuf mengenal dan belajar Tuhan dari Yakub. Sewaktu ia dibuang ke Mesir, ia tetap berpegang teguh pada imannya. Sehingga ia selalu melakukan yang terbaik. Bosnya dan orang lain tidak melihat tetapi Tuhan melihat. Bandingkan kalau sedang menyapu tidak ada yang melihat, terkadang kita menyapu sembarangan. Juga saat berkendaraan tidak ada polisi atau tidak orang yang melihat kita melanggar peraturan lalu-lintas (menerobos lampu merah). Hal itu terjadi karena kita tidak merasa Tuhan melihat, tetapi Yusuf tahu Tuhan melihat. Sehingga ketika kesulitan datang dan himpitan dunia seperti menekan, dia tidak mengatakan ,”Saya mengalami kepahitan. Hidupku sungguh susah dari seorang anak kesayangan menjadi budak. Sekarang saya menjadi pembantu di rumah orang. Saya paling muda dan ditekan oleh orang-orang yang lebih senior.” Tetapi ia menunjukkan bahwa ialah yang terbaik dan ia tetap berpegang teguh pada imannya. Dalam semua persoalan hidup, tantangan, godaan kehidupan, Yusuf selalu bersandar pada Tuhan. Walaupun ada harga yang harus dibayar. Hal ini bisa kita lihat pada Kejadian 39.
Saat itu Yusuf keadaannya sudah membaik dan menjadi orang kedua sesudah bos. Ini posisi yang tinggi. Tahu-tahu istri Potifar menaksirnya. Kejadian 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Saat itu Yusuf berusia 17 tahun, tampan dan pintar. Istri Potifar melihat Yusuf dari kacamata berbeda dan jatuh cinta kepada Yusuf. Lalu ia membuat rencana dengan mengosongkan rumah sehingga tinggallah ia bersama Yusuf. Ia terus-menerus menggoda Yusuf. Dari pasal 39 ia sudah meminta agar Yusuf tidur dengannya. Tetapi anak muda ini tidak berpikir yang lain. Ia hanya berkata,”Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej 39:9b). Dia tahu semua orang tidak melihat, tetapi Tuhan melihat.  Yusuf menjawab “tidak”. Alkitab dengan jelas mencatat hal ini. Ia tidak mau jatuh dalam dosa walau dihimpit oleh dunia karena takut akan Tuhan. Ia berpegang teguh pada imannya dan tidak luntur.
Dari kacamata dunia, kalau ia jadi dengan istri Potifar, maka posisi akan bertambah baik? Semua orang disuruh pergi sehingga tinggal Yusuf berdua dengannya. Yusuf digoda terus hingga sampai lari meninggalkan bajunya. Kalau tidak seram, ia tidak akan lari terbirit-birit. Memang ada godaan yang harus pakai jurus lari. Jangan sampai jatuh dalam dosa, tidak usah berfilsafat tapi lari! Itu yang dipakai oleh Yusuf dan ia benar-benar lari. Terkadang ada bapak-bapak berkata kepada teman wanita-nya,”Kamu duduk di sebelah saya. Saya kan tidak berdosa” . Tetapi  Alkitab berkata,”memandang saja sudah berdosa”. Ia berkilah,”Bukan saya yang datang tetapi kamu yang datang. Kamu duduk di sebelah saya. Saya senang-senang saja. Kamu suka saya, jadi bukan saya yang salah!”. Kalau berfilsafat maka kita bisa terperangkap jatuh. Jadi pakai jurus Yusuf : lari!!
Sekarang di kantor banyak yang berkata,”Saya hanya makan siang berdua, tidak apa-apa.” Dosa dimulai dari tidak ada apa-apa. Hanya mulai makan siang berdua, lama-lama bicara, lalu lama-lama dari hati ke hati karena mulai dari tidak ada apa-apa (tidak masalah). Tetapi Yusuf pakai cara lari dan menghindar. Namun apa yang terjadi? Sudah jatuh tertimpa tangga. Kalau berpikir secara manusia, Yusuf bukan saja bisa menjadi kesayangan tuan , tetapi ia bisa menjadi kesayangan istrinya juga. Kalau Potifar tidak ada, maka ia bisa menjadi tuannya. Secara duniawi yang diam-diam itu yang menguntungkan. Tetapi Yusuf tidak melakukan itu karena berdosa kepada Tuhan. Yusuf berpegang teguh pada imannya. Banyak orang jatuh walau tidak merencanakan jatuh. Tetapi selalu ada celah-celah yang dipakai iblis menggoda dan membuat kita jatuh. Banyak keluarga baik-baik dan tidak ada suami yang rencana menyeleweng tetapi kemudian jatuh.
Di kantor berteman baik, lau duduk berdua bicara. Awalnya jaraknya cukup jauh, keesokan harinya jaraknya mendekat. Bulan depan sudah makin dekat dan bulan depannya lagi sudah tidak ada jarak. Semuanya terjadi pelan-pelan. Itu sebabnya kita harus berpegang teguh pada Tuhan. Katakan tidak pada yang  tidak . Tidak usah sungkan-sungkan. Tentu saja ada resikonya. Waktu itu Yusuf tidak berpikir resikonya, tetapi ia hanya berpikir satu hal : Tuhan. Tuhan melihat , saya tidak boleh berbuat dosa. Lalu Yusuf dijebloskan ke penjara. Dari anak kesayangan, menjadi budak lalu masuk penjara selama bertahun-tahun. Tetapi ia tetap berpegang teguh pada imannya. Ternyata untuk beriman ada harga yang harus dibayar. Seringkali kita tidak mau membayar harganya  dan lebih baik ikut dunia. Kita lebih baik fleksibel sedikit daripada membuat kita rugi dan susah. Otak kita akan selalu berpikir itu jalan teraman bagi saya, itu lebih baik saya daripada saya menanggung resiko. Tetapi itu bukan jalan dan kehendak Tuhan. Yusuf tahu dan ia takut akan Tuhan.. Ia mencapi tujuan yang Tuhan kehendaki.

2.     Yusuf seorang yang mempunyai hati yang bersih dan tulus.

Dengan memelihara hati yang bersih, Yusuf yang masih muda ini hidup kudus di hadapan Tuhan, walaupun dia digoda, Yusuf tetap tidak jatuh dalam dosa. Yusuf lebih rela menderita dalam kebenaran, menjaga hidup suci, daripada memmperoleh kesenangan-kekayaan duniawi, tapi berdosa pada Tuhan. Himpitan dunia tidak membuat Yusuf jatuh.
Ia berpegang teguh pada iman dan selalu menjaga hati yang murni di hadapan Tuhan. Untuk menjaga hati yang murni tidak mudah. Banyak hal yang bisa membuat hati kita menyimpang ke kiri dan ke kanan. Waktu muda kita disebut orang yang naif, hati kita tulus-tulus saja. Kita tidak pernah berpikir orang akan menggunakan perkataan kita untuk berbalik menyerang kita. Kita tulus dan baik, tetapi kemudian kita mengalami banyak hal dan hati kita tidak menerimanya. Kita melihat Yusuf tetap memiliki hati yang bersih dan tulus. Sewaktu di penjara, apakah dulu ia berpikir,”Saya bekerja di rumah Potifar dengan begitu baik kemudian saya difitnah. Jadi buat apa saya bekerja baik-baik?”  Dengan demikian pekerjaannya biasanya menjadi tidak baik. Namun hati Yusuf tetap baik dan tulus karena di penjara pun ia menjadi yang terbaik. Ia selalu menjadi dirinya sendiri yang adalah yang terbaik dan yang Tuhan melihat apapun juga sehingga hatinya tetap bersih dan tulus.  Apapun yang ia kerjakan, Tuhan membuatnya berhasil. Karena ia memiliki iman yang teguh kepada Tuhan dan ia memiliki hati yang bersih dan ia menjaga hatinya di hadapan Tuhan. Untuk menjaga hati yang bersih di hadapan Tuhan tidak mudah.
Bertemu dengan orang-orang  di gereja, semua memiliki wajah yang baik-baik. Tetapi kalau bertemu orang di luar, ada yang di depannya manis-manis namun di belakang menusuk kita. Maka wajah dan hati kita tidak bisa dijaga bersih-bersih. Kita seringkali menjadi sama dengan dunia ini karena kita tidak berpegang pada Tuhan. Tetapi Yusuf tetap mengandalkan Tuhan. Sejak ia berada di dalam penjara selama bertahun-tahun sampai umur 30-an tahun hingga ia menjadi orang kedua di bawah Firaun, itu waktu yang panjang sekali. Tetapi himpitan dunia yang menekan dia membuat Yusuf justru semakin teguh di hadapan Tuhan. Rupanya itu merupakan pelatihan Tuhan baginya karena Tuhan mempunyai maksud di dalamnya.  Sehingga hari ini, saat kita menghadapi himpitan hidup dan masalah yang bertubi-tubi , itu mungkin latihan Tuhan bagi kita menjadi orang yang lebih tangguh (teguh), memelihara hati dan menjadi seorang yang lebih baik. Seringkali hidup tidak selalu baik, tetapi kita percaya Tuhan selalu menolong agar kita berjalan sesuai dengan firman Tuhan.

Penutup

Saya bersyukur kepada Tuhan. Saya melihat banyak teman-teman seangkatan saya yang melayani walaupun banyak rekan yang hidupnya tidak mudah. Ada yang diterpa sakit-penyakit dan ada seorang teman walaupun menderita sakit namunn sampai akhir hidupnya ia tetap melayani Tuhan. Ia masih muda saat terkena kanker dan anaknya masih kecil. Tetapi istrinya begitu kuat dan sampai di detik akhir ia tetap setia dan percaya kepada Tuhan. Padahal ia baru berumur 30-an tahun dan terkena kanker usus. Saya melihat dia menjalani kemoterapi berkali-kali  padahal dulu belum ada BPJS. Kesulitan keuangan , masalah kesehatan dan anak-anak tentu menjadi beban pikirannya. Tetapi ia tetap bepegang teguh pada Tuhan. Mengikut Tuhan dan selalu setia kepadaNya tidak mudah. Pelayanan Ev. Merce juga tidak mudah. Bertahun-tahun ia harus bekerja untuk pelayanan di Malaysia. Ia orangnya teguh dan tahan susah dan saya percaya Tuhan akan menolongnya terus. Setiap hamba Tuhan punya beban dan masalah masing-masing. Tetapi satu hal kita belajar dari Yusuf adalah bahwa ia tetap berpegang teguh pada Tuhan dan ia punya hati yang murni. Langit tidak selalu akan biru tetapi Tuhan selalu ada di sana untuk kita.
Dunia bisa menghimpit kita dengan kesulitan, fitnahan dan berbagai masalah (keuangan, orang yang menyerang kita atau lainnya), tetapi satu hal yang kita tahu yaitu kita punya Tuhan Yesus yang selalu ada di sana untuk kita. Tetapi di dalam kesusahan, kita mengalami tangan Tuhan. Seperti saat saya jatuh dan tidak bisa apa-apa, tetapi saya melihat itu yang terbaik yang sudah Tuhan berikan bagi saya. Kalau orang lain yang seumur saya mungkin sudah patah tulang dan dioperasi. Tetapi saya hanya susah jalan saja, tinggal pakai koyo dan obat gosok. Saya sangat bersyukur pada Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu satu hal  : Tuhan Yesus saya adalah Tuhan saya. Dia memegang saya, saya jatuh tetapi tidak akan sampai tergeletak karena ada Dia. Saya tahu Tuhan selalu menolong dalam hidup saya. Bahkan kalau saya mengalami sesuatu, terkadang saya berpikir,”Tuhan ingin mengingatkan saya tentang sesuatu?” Mungkin saya sudah melakukan hal yang tidak memperkenankan Tuhan. Tetapi dalam kedekatan kita dengan Tuhan , kita tahu ada sesuatu yang Tuhan mau lakukan dalam hidup kita. Seperti Yusuf , Tuhan ijinkan dari seorang anak kesayangan menjadi seorang budak dan masuk ke penjara menjadi narapidana, karena Tuhan ingin melatih Yusuf menjadi orang kedua setelah Firaun. Dalam kehidupan kita pun Tuhan punya rencana. Mengapa hal itu terjadi? Mungkin Tuhan mau melatih kita menjadi sesuatu yang luar bisa. Biarlah kita tetap berpegang teguh kepada Tuhan dan kita tetap menjaga hati kita tetap bersih. Orang boleh menyerang kita, melukai kita atau berbuat sesuatu, tetapi hati kita tetap tulus dan bersih di hadapan Tuhan karena Tuhan melihat itu semuanya.



Di Dunia, Tapi Bukan dari Dunia





Pdt. Hery Kwok

Yohanes 16:33
Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
Yohanes 17:14-15
14  Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.
15  Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

Pendahuluan

              Tema hari ini “Di Dunia, Tapi Bukan dari Dunia” bersifat paradoks, seakan-akan bertentangan tapi fakta sebenarnya tidak. Sama seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus pada 2 Kor 8:9  “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Allah yang kaya merendahkan diri , sungguh-sungguh menjadi miskin. Justru dalam kemiskinan Dialah kita mendapat kelimpahan kasih karunia. Dialah manusia yang memiliki sifat ilahi , tetapi sekaligus Allah yang mempunyai sifat manusia. Dia manusia 100% dan di dalam Dia sifat-sifat  ilahi nyata. Dia manusia yang memiliki sifat ilahi dan sekaligus Dialah Allah yang memiliki sifat manusia. Itu sebabnya penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa Dia sungguh-sungguh menggumuli kehidupan manusia yang berdosa. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Yoh 16:33b.

Sekitar tahun 2002-2003 saya bersama shi-mu menerima pelayanan di suatu tempat dan saya berkesempatan bergabung dengan suatu jemaat. Waktu itu, kami memiliki sebuah mobil Kijang keluaran tahun lama (generasi Kijang kedua yang kuat). Kami membeli mobil bekas karena tidak mampu membeli mobil baru. Saya sempat ditipu waktu membelinya (dalam perjalanan hidup kami memang banyak ditipu). Suatu kali mobil kami itu rusak, lalu seorang jemaat meminjamkan mobilnya kepada kami. Mobil yang dipinjamkan adalah jenis sedan Civic terbaru. Saya berusaha menolaknya karena takut mobilnya baret. Maklum di Jakarta sulit menemukan mobil yang mulus sehingga kalau membeli mobil, maka kita siap-siap mengalami baret. Saya membayangkan kalau mobil Civic terkena baret berapa harga perbaikannya? Belum lagi relasi kami menjadi tidak enak. Di samping itu timbul kekhawatiran bila membayangkan reaksi rekan-rekan hamba Tuhan yang lain. Tapi jemaat tersebut terus mendesak sehingga akhirnya saya meminjamnya.
              Kebiasaan saya saat mengemudi adalah bila hendak berhenti tidak mau menginjak pedal rem dari jarak jauh, melainkan pada waktu dekat baru rem. Namun saat meminjam mobil tersebut, dari jauh saya sudah menginjak pedal rem karena saya merasa mobilnya bukan mobil saya sehingga saya harus ekstra hati-hati mengemudikannya. Sebagai sedan tahun baru, mobilnya nyaman sekali saat dikendarai. Seluruh fasilitas mobil saya nikmati. AC-nya dingin, radio tape-nya merdu, keempukan shock-breaker dll. Waktu menikmati mobil itu, sempat terpikir kalau tahu seperti itu saya tidak menolaknya, karena memberi kenyamanan. Tetapi namanya pinjam, ada waktu (durasi) nya. Saya bukan yang empunya sehingga saya tidak berhak memakai seterusnya dan ada jangka waktu harus dikembalikan, walaupun saya menikmati seluruh fasilitas mobil itu dengan enak. Setiap keluar dan starter mobil, saya ada di kendaraan yang begitu nyaman. Rasa-rasanya kalau dipakai untuk ke Surabaya pun pasti terasa nyaman karena kenyamanannya telah meninabobokan saya. Rasanya kalau boleh mobil ini  jangan dikembalikan, tetapi yang namanya pinjam tetap harus tahu diri (bukan hak kita). Namun mobil itu bukan hak kami sehingga harus dikembalikan. Setelah mobil kami selesai diperbaiki, lalu mobil pinjaman tersebut saya kembalikan.

              Kalau kita bicara kita ada di dunia tetapi bukan dari dunia, maka ada 2 hal yang dipikirkan yaitu :

1.     Orientasi hidup kita bukan di sini tetapi di “sana”.

Orientasi adalah tujuan, pusat di mana kita punya keinginan. Waktu kita berbicara orientasi hidup kita di dalam dunia, kita bukan berorientasi di sini tetapi orientasi kita di sana. Meskipun kita di dunia, kita bukan berasal di dunia agar kita sungguh-sungguh terjaga, agar kita memiliki orientasi hidup yang di “sana”, bukan di sini. Kita ada di dunia yang sungguh-sungguh menggiurkan yakni di dalam dunia yang ditawarkan oleh iblis kepada Tuhan Yesus.  Matius 5:8-9 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,   dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Ada godaan yang hebat yang iblis tawarkan kepada orang-orang di dunia ini, termasuk kepada kita sebagai orang yang tahu dan telah ditebus oleh Kristus. Kita berada di dalam problem dan sepanjang umur dunia kita pasti mengalami percobaan. Saat memiliki orientasi hidup bukan di sini tetapi di sana, maka kita harus membekali diri agar jangan tergoda dengan kenikmatan dunia ini.
Waktu Allah menciptakan langit, bumi dan isinya, Ia menempatkan Adam dan Hawa, lalu Adam dan Hawa memberontak kepada Allah sehingga mereka diusir dari taman Firdaus. Kemudian mereka beranak-pinak. Manusia yang berdosa kecenderungan hatinya berbuat dosa. Sehingga sampai di pasal di mana sebelum Nuh disuruh oleh Tuhan untuk membuat bahtera, dikatakan pada pasal 6 kecenderungan hati manusia berbuat dosa (Kejadian 6:5-6 Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,  maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya). Lalu Allah menyaring manusia yang sedemikian banyak namun hanya 8 orang yang Allah ijinkan masuk ke dalam bahtera dan selamat yakni Nuh dan istri, ketiga orang anak  mereka dan pasangannya masing-masing.
Kitab Suci tidak berhenti sampai di sana dan dikatakan “Lalu setelah air bah, beranak-pinaklah seluruh  keturunan Nuh tetapi hati manusia tetap berbuat dosa”. Pada pasal 12, Allah menyaring menjadi 1 keluarga yaitu keluarga Abraham. Ia diminta untuk pergi dari sanak-keluarga, lingkungan, kaum kerabatmu dari Us-Kasdim di Mesopotamia pergi ke suatu tempat yang akan diberikan Tuhan. Suatu tempat yang tidak diketahui oleh Abraham. Tetapi orientasi Abraham bukan di sini, Ur Kasdim, tetapi di sana yaitu di tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Waktu Abraham terus berjalan mengikuti apa yang Tuhan tuntun, ke tempat yang akan diterima, Abraham mempunyai orientasi hidup bukan di sini tapi di sana. Waktu Abraham meninggalkan Ur Kasdim, bukan berarti ia tidak punya kekayaan dan kemewahan. Saat itu Ur Kasdim adalah kota yang terbesar. 4.000 tahun lalu , kota itu sangat besar, sebuah megapolitan. Waktu saya belajar Perjanjian Lama, dosen teologi saya yang berasal dari Jerman berkata, “Waktu zaman Abraham, rumah-rumah mereka bagus sekali dan sudah dilengkapi dengan WC (toilet)  yang baik.” Saat itu buang air besar bukan di bawah pohon atau di gurun pasir karena pada zaman Abraham rumah-rumah sudah dilengkapi dengan WC-WC yang baik. Bahkan ada satu rumah yang besar yang terdiri dari ratusan kamar. Arkeolog menggali dan menemukan bahwa dunia saat itu adalah dunia yang hebat sekali. Bahkan dalam Kitab Kejadian pada pasal 12-14 Abraham bisa mengalahkan raja-raja yang waktu itu memusnahkan Sodom dan Gomora yaitu Raja Kedarlaomer dengan segala kroninya. Abraham mempunyai pembantu yang sangat baik. Pembantunya terlatih perang sehingga waktu dia mendengar Lot, keponakannya, ditangkap maka ia dengan pasukannya (pembantu-pembantunya) menyerang para penangkap Lot.
Artinya Abraham adalah orang yang disuruh keluar dari tempat kenikmatan dan tempat yang begitu gemerlap luar biasa, tempat di mana orang menikmati dosa yang luar biasa. Di sana penuh dengan segala berhala. Di sanalah Allah memanggil Abraham. Di sanalah Abraham diajar konsep bahwa orientasi hidupmu bukan di sini tapi di sana. Ternyata Abraham tidak selesai sampai di sini. Waktu ia menjadi kaya raya , Tuhan memberikan keturunan ,Ishak, yang dijanjikan darinya akan berkembang banyak raja-raja. Waktu Ishak mau dinikahkan, Abraham menyuruh bujangnya untuk mencarikan calon istri tapi bujangnya tidak boleh membawa Ishak ke tempat asalnya, Ur Kasdim. Abraham sekali lagi tidak mau memikirkan sesuatu yang di sini tetapi orientasinya di sana. Ia berkata kepada bujangnya, “kamu tidak boleh membawa Ishak ke Ur-Kasdim karena waktu Ishak kembali ke Ur-Kasdim, maka Ishak akan terjebak dengan segala godaan Ur Kasdim. Pemahaman yang kuat yang lahir dari kesadaran bahwa saat Allah memanggil , “Engkau ada di sini, tetapi orientasimu di sana”.
Waktu Musa membawa orang Israel keluar dari Mesir, ditemukan catatan bahwa bangsa Israel bersungut-sungut kepada Musa, “Musa, mengapa kamu membawa kami ke tempat yang sulit? Sementara saat berada di Mesir, kami bisa makan dengan enak. Bahkan kami bisa mati di dalam kelimpahan makanan.” Dengan kata lain Mesir jauh lebih enak dari apa yang Musa bawa. Waktu Allah membawa orang Israel dari Mesir setelah mereka dijajah Mesir selama 420 tahun, kita melihat bagaimana berhala-berhala itu sangat melekat dalam diri orang Isreal. Umat pilihan Tuhan sudah tercemar sedemikian rupa sehingga melalui Musa, Allah mengangkat mereka dari akar penyembahan berhala supaya orientasi mereka jangan di Mesir tapi di sana. Orang-orang yang tidak memahami , mereka tetap marah-marah ke Musa,”Musa, kami lebih senang Mesir”. Artinya walaupun orang-orang Israel adalah umat Tuhan namun ternyata sebagian dari mereka masih punya pikiran dan orientasi hidup “di sini bukan di sana”.
Perjanjian Baru memberikan kepada kita pemahaman yang hebat waktu Rasul Paulus menulis surat ke Jemaat Kolose. Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. (Kolose 3:1-2). Waktu menulis surat itu, Rasul Paulus ingin mengatakakan bahwa orientasi orang percaya memang bukan di sini tetapi di sana. Walau berada di sini, tetapi pikiran kita berada di sana.
Kita hidup dan ada di dunia, dan belum dipanggil Tuhan , apakah kita masih benar-benar menikmati dunia sebagai sesuatu yang sangat disenangi (mencari kenikmatan dunia) atau kita mulai memikirkan bahwa kita harus melihat ke sana. Kita di dunia tetapi kalau hidup seperti dunia, berarti orientasi kita dalah dunia (di sini). Kalau kita mengejar apa yang ditawarkan dunia atau kita terikat dengan dunia ini, maka orientasi kita ada di sini walau mungkin namanya orang Kristen. Itu bukan orang Kristen yang lahir baru. Kristen yang lahir baru adalah orang Kristen yang menyadari bahwa Allah tempatkan kita di dunia tetapi kita bukan berasal dari dunia.
Kewarganegaraan kita bukan dari dunia, berarti seluruh orientasi kita tetap harus tetap ada di sana (bukan di dunia). Kalau kita terlalu menyederhanakan dalam pemahaman bahwa “percaya Yesus lalu selamat tapi hidup tidak berubah” maka itu pemahaman sederhana yang kacau. Karena setelah diselamatkan Kristus, maka kita akan kembali ke rumahNya. Waktu kita berada di rumahNya (di sorga) maka seluruh fasilitas dan aturan main di surga harus menjadi kesukaan kita. Kalau orientasi kita masih di dunia maka kita akan sulit untuk mengikuti apa yang di sana karena orientasi kita tetap di dunia. Maka tidak mungkin dan tidak akan bisa kita berada di sorga waktu orientasi kita ada di sini. Sehingga Rasul Paulus berkata,”Pikirkanlah yang di atas, yang Allah kehendaki.” Allah menghendaki kita sebagai apa? Allah menghendaki apa dalam keluarga?  Allah menghendaki engkau sebagai apa? Orang yang melayaniNya! Orang menghendaki engkau sebagai apa? Hamba-hamba Tuhan! Waktu pikiran Allah itu terus menguasai kita, maka kita akan tetap di dunia tetapi orientasi kita ada di  sana.

2.     Jangan pernah menyerah meskipun hidup susah.

Yohanes 17:15  Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Hal yang sama bahwa waktu kita di dunia tetapi bukan berasal dari dunia, melahirkan pemahaman kita jangan pernah menyerah meskipun hidup yang kita jalani di dunia itu susah. Karena Kitab Suci dengan jujur mengatakan kita berada di dunia yang membenci kita. Walau kita mau berbuat sebaik-baiknya, kita tetap dibenci oleh dunia disebabkan oleh kita berbeda dengan dunia (kita bukan dari dunia). Karena bukan dari dunia (berbeda dari dunia) maka otomatis dunia tidak akan pernah mau menerima kita seutuhnya. Ia akan tetap mencari kelemahan dan kesalahan kita. Maka Kitab Suci mengatakan bahwa orang-orang yang percaya pada Kristus, adalah orang-orang yang harus siap memikul salib karena dunia memang membenci kita.
Pdt. Stephen Tong memberi ilustrasi yang bagus. Jepang mengekspor ikan-ikan yang berkualitas bagus. Rupanya orang Jepang menghasilkan ikan yang bagus dan diimpor ke Eropa. Perjalanan dari Jepang ke Eropa bisa memakan waktu 15 jam, melewati kota Moscow, Siberia dan lainnya. Waktu ikan-ikan berada ada di atas, ikan-ikan itu baik-baik saja. Waktu dibawa sampai di Eropa, dan dibuka ternyata ikan pada mati. Bingunglah orang Jepang karena kalau ikan mati maka mereka akan menderita kerugian. Mereka punya akal bagus. Waktu mengirim lagi , mereka taruh kepiting yang kemudian mengejar-ejar ikan. Karena ikan menghindari kepiting maka mereka berenang dengan luar biasa. Selama 15 jam kepiting mencoba menangkap ikan dan ikan terus bergerak sehingga ketika sampai Eropa ikan itu masih hidup.
Allah taruh kita di dunia, bukan tanpa maksud. Tetapi Ia punya maksud yang hebat yaitu kita warga negara sorga yang ditaruh di dunia. Di sana kita akan mengalami tantangan, hambatan, himpitan, kesulitan hidup. Waktu kesulitan hidup menerpa kita, justru kesulitan itu membuat kita tetap hidup di dalamnya. Ini sesuatu yang paradoks. Dengan mengalami kesusahan, justru kita hidup, kalau tenang justru kita mati seperti ikan-ikan di atas. Waktu kita punya tetap orientasi hidup, bukan di sini tetapi di sana. Kita berada dalam sebuah kondisi, jangan pernah menyerah karena kita sungguh-sungguh dipercayakan Tuhan sementara di dunia ini karena kita akan kembali ke sana.
Hal ini berbeda dari hal yang pertama. Pada hal yang pertama, kita benar-benar dininabobokan oleh tipu daya dunia sehingga kita jatuh dan ternyata benar-benar banyak orang Kirsten jatuh. Karena seorang teolog mengatakan bahwa kita diciptakan di antara dua yaitu Allah dan iblis. Iblis mau kita taat dan tunduk kepadanya. Kita berada di antaranya dan bisa tergoda. Sehingga kita harus menanamkan orientasi hidup kita di sana. Yang kedua adalah kita harus mempersiapakan mental kalau ikut Tuhan maka  kita harus siap untuk diuji.
Waktu kemarin rapat PGI di Cisarua, selama 4 hari 3 malam rasanya seperti setahun. Karena tiap hari rapat dari pagi, begitu makan lalu rapat lagi. Tempat yang bisa membuat kita terhibur adalah tempat makan karena di sana kita tidak rapat. Di mana kita bisa keliling tempat makan. Mau makan apa saja terserah untuk melepas kepenatan. Yang penting di ruang makan bukan di ruang rapat. Karena kalau rapat dengan mereka sampai tidak mandi. Waktu saya mengikuti seksi dokumen keesaan gereja, yang kumpul seperti ahli-ahli Taurat di mana kalimat bahkan kata seperti “dan”, “koma” dipermasalahkan sehingga akhirnya waktu rapat tidak ada yang mandi. Tetapi karena tempat rapatnya dengan kamar saya, maka saya tetap mandi. Waktu selesai mandi ternyata rapat belum selesai. Selama mengikuti sidang dari pagi sampai malam, banyak hal yang saya dapati meskipun lelah. Ada beberapa pemikiran tentang kehadiran gereja di dunia ini yang penuh dengan dinamikanya, yang penuh tantangan di dunia, permasalahan dan pergumulannya. Itulah dunia ini. Kita ada di kondisi di mana kita dibenci oleh dunia. Jangan dunia membuat kita menjadi tawar hati dan patah hati. Poin pertama jangan dunia mengaburkan pandangan (tidak melihat) akan apa yang harus di capai.

Kesimpulan

              Pesan firman Tuhan dalam minggu ini : Yesus telah mengalahkan dunia. Yohanes 16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."  Ini bahasa  yang sangat luar biasa, bahasa yang sungguh-sungguh melegakan hati kita. Karena kita bisa keluar dari godaan si jahat yang hebat dan sekaligus kita tetap bisa bertahan untuk tetap hidup di dunia. Yesus telah mengalahkan dunia, sehingga kita bisa menjadi wakil Allah yang ada di dunia. Kita ditaruh oleh Tuhan di dunia sebagai wakil. Istilah wakil bukan dari kata kerja tetapi termasuk kata benda. Di dalam kata benda dan kita tidak melakukan, maka kita memiliki keberadaan seperti itu. Dalam diri kita sebagai manusia harus keluar apa yang ada sebagai manusia. Waktu kita wakil Allah, Allah ingin agar apa yang menjadi dari keberadaan yang telah Allah tebus, itu keluar. Salah satu tugas PGI kemarin, gereja harus menyuarakan keadilan, kebenaran, bagaimana HAM dan tuntutan-tuntutan yang sebenarnya dunia sedang teriakan. Itulah yang Alkitab ajarkan pada kita. Kita memang bukan dari dunia mari jangan pikir bahwa dunia ini tempat kita selamanya. Jangan pernah kita berkutat di dunia sehingga habis dengan dunia ini. Kita boleh kerja tetapi pekerjaan jangan menyita kita dengan dunia ini. Kita boleh menikmati jalan-jalan tetapi jangan sampai jalan-jalan itu menghabiskan seluruh hidup kita. Kita boleh menikmati apa yang Tuhan berikan tetapi jangan sampai kenikmatan dunia menutup kita sampai kita kehilangan orientasi. Kiranya Firman Tuhan menuntun kita dengan belas kasihan.