Monday, October 22, 2012

Bertumbuh Kembang di Komsel



Pdt Paulus Kurnia


Kis 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu;
Roma 16:3-5 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.   Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.  Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.

Ada orang yang melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa sepanjang 20 abad ini, pelayanan Kristen yang paling efektif (mengenai sasaran) adalah pelayanan kelompok kecil (komunitas sel, komsel), Tidak heran dalam permulaan kekristenan. Rasul Paulus selain melayani firman di depan banyak orang, juga melayani dari rumah ke rumah sehingga ada perkumpulan di rumah-rumah. Pada Roma 16:3, Rasul Paulus menyebut 2 orang hamba Tuhan Priskila dan Akwila. Setelah mendengar Injil, hati mereka berkobar-kobar dan mereka melayani di rumah. (ada perkumpulan di rumah mereka). Pada Roma 16:5, Rasul Paulus mengingat ada Epenetus yang disebut saudara yang kukasihi, dan buah pelayanan pertama yang dimenangkan di rumah Prisklia-Akwila. Dalam sejarah kekristenan, orang Kristen tertekan sekali karena kaisar Roma ingin membasmi mereka. Tetapi gereja tidak musnah karena mereka adakan persekutuan di rumah-rumah. Kuat sekali persekutuannya dan tidak takut pada pemerintah penjajah , akrab satu dengan lainnya. Persekutuan A dengan B,B dengan C, C dengan D, D dengan A dll dekat. Mereka tidak berkumpul di gereja seperti sekarang. Mereka punya kumpulan yang erat di kelompok-kelompok kecil. Pelayanan kelompok kecil sangat penting. Dari jaman Tuhan Yesus masuk ke jaman setelah Tuhan Yesus ada persekutuan. Di rumah ada persekutuan, dari situ ada pertumbuhan. Maka betul yang dikatakan bahwa pelayanan kekristenan yang paling mengena adalah pelayanan di kelompok kecil.

Kalau kita bertumbuh berkembang di kelompok kecil ada dampaknya. Kalau lihat model dari perjanjian baru, persekutuan kecil makin lama semakin besar. Kekristenan bertumbuh pesat di abad 21. Umat kristen (Kristen Protestan, Karismatik, Katolik dan lainnya) dunia sudah mencapai hampir 3 miliar orang, hampir separuh dari umat manusia. Perkembangannya tidak bisa dijelaskan secara matematis. Hal ini karena pekerjaan Roh Kudus dan metode perkembangannya melalui kelompok kecil. Di TIongkok banyak rumah yang jadi tempat bersekutu yang terdiri dari belasan orang. Mereka tidak bebas ke gereja, kalau ke gereja ditangkapi. Kebanyakan orang Kristen beribadah di rumah. Walau ditekan, mereka bisa bersekutu di rumah. Pertumbuhkan orang Kristen di sana cepat sekali , mungkin sekarang sudah mencapai 250 juta orang. Di  Alkitab pelayanan kelompok kecil sangat menjadi model. Jaman ini kelompok kecil dapat menjadi cara untuk perkembangan gereja.

Mengapa begitu penting pelayanan kelompok kecil?
1.       Tempat pembuatan murid. Sejak menjadi orang Kristen, kita memiliki status sebagai murid Tuhan. Tapi dalam pikiran dan prilaku belum tentu murid sehingga sekarang ini banyak orang komplain terhadap gereja dan orang Kristen. Apa yang orang dunia lakukan, juga dilakukan orang Kristen seperti ada yang mencuri, menipu, tukang marah dll. Bahkan di gereja sering konflik dan suka ribut. Jadi apa bedanya? Kenapa begitu? Ada orang yang bahkan sudah 30 tahun dibaptis,  tetapi cara pikir, iman, perilaku, karakter dan cara ngomongnya dikritik seperti bukan orang Kristen. Jadi hanya statusnya saja, namun cara hidupnya bukan murid. Ibarat setelah diterima tes masuk dan seluruh syarat administrasi jadi mahasiswa dipenuhi, status kita sudah jadi mahasiswa. Tapi karena belum masuk kuliah maka gaya hidupnya belum. Banyak orang Kristen status murid, tetapi belum jadi murid. Di mana kita jadi murid? Di komsel. Waktu kuliah di Untar iman saya bertumbuh di komsel. Setiap hari kamis dipanggil ikut kelompok kecil, awalnya malas karena lelah setelah kuliah. Tapi pemimpin kami rajin karena ia rindu orang Kristen mengenal Tuhan dengan baik, maka yang awalnya tidak mau , lama-lama kita senang. Ada persekutuan yang manis dan pendalaman Alkitab. Luar biasa hasilnya. Saya jadi belajar firman TUhan dan mengerti apa yang Tuhan mau. Setelah ayat kita hafalkan, lalu dibuat PR bagaimana jalankan ayat ini dan minggu depannya ditanya. Misal : belajar tentang pengampunan. Kita diminta ingat nama yang dibenci, dalam minggu ini harus bisa mengampuni orang itu. Minggu depannya, ditanya, bagaimana menurut kalian? Ada yang belum bisa ampuni mama, adik atau rekan bisnis yang tidak bayar pinjaman. Akhirnya tetap belajar untuk mulai mengampuni sehingga iman mulai bertumbuh. Setelah belajar pengampunan, lalu belajar menjadi taat, jujur menjadi pendengar yang baik dstnya. Saya belajar selama 4 tahun seperti itu sehingga bila 1 tahun 40 kali komsel maka sudah belajar 160 kali. Banyak sekali. Kelompok kecil semakin banyak di kampus. Karena kita girang jadi murid Tuhan, bukan hanya status. Girang, tidak percuma, tidak kecewa jadi murid Tuhan. Memang berat tapi bisa dijalankan. Di gereja saya juga ikut kelompok kecil, sampai saya menyerahkan diri untuk sekolah teologi. Setelah lulus, saya melayani di satu lading. Banyak sekali pemuda remajanya. Waktu awal saya melayani sedikit sekali, kebanyakan umurnya 40 tahun ke atas. Persekutuan remaja 5 orang, pemuda tidak ada. Setelah saya khotbah , saya minta orang tua membawa anak-anaknya ke gereja. Mereka tergerak namun sulit membawa anak-anaknya ke gereja. Saya berdoa. Saya mulai dengan kelas bible-study. Saya buat selebaran dan membuat PA. Ada 15 anak umur 13 tahun yang saya undang. Mereka sulit diatur. Kalau datang ke gereja,  pakai baju sembarangan, belum mandi, bau keringat, atau pakai sandal. Tapi saya mengasihi mereka. Setiap Kamis belajar firman. Mereka boleh mengungkapkan pikiran mereka. Suasananya hidup sekali dan waktu 1-2 jam tidak terasa. Akhirnya mereka ke gereja. Lalu mereka bawa teman. Dalam 1 tahun ada 40 orang remaja. Lalu mulai persekutuan pemuda dengan 7 orang. Saya melayani 6 tahun, hampir setiap tahun ada pemuda yang mempersembahkan diri di SAAT. Dari 15 orang remaja , 8 orang mempersembahan diri jadi hamba TUhan. Saya tidak pernah menduga pekerjaan Tuhan begitu daysat. Dari anak yang kacau dipakai oleh TUhan. Mereka bertumbuh di komsel. Bisa juga jemaat tumbuh di kelompok yang besar, tapi sangat jarang. Khotbah di gereja lebih sulit karena umurnya dari 13-93 tahun dibanding khotbah di kelompok kecil. Kalau khotbah ketinggian, ema /  encim pada ngantuk. Kalau terlalu sederhana,  pemuda komentar, “Muse khotbahnya enteng banget.” Saat saya melayani di GK Ketapang , kadang saya khotbah di jemaat 800 orang dalam 3 kalli kebaktian (yang pagi dihadiri 200 orang, tengah 700 yang berikutnya 100 orang) Yang tengah sulit karena dari remaja sampai yang tua sekali. Kadang saya tidak khotbah dan duduk di tengah. Saya perhatikan, saya duduk di kalangan emak umur 50-60 tahun. Mereka kalau belum kebaktian ramai seperti pasar. Saat kebaktian mulai, baru diam. Tapi begitu khotbah tidur.  Kira-kira kurang 5 menit khotbah akan selesai baru bangun.  Atau saat awal kebaktian kadang ramai, sedangkan saat khotbah mondar-mandir tidak ada kerjaan. Orang Kristen seperti ini bagaimana bertumbuh? Kalau di dalam kelompok kecil berbeda. Indah jadi murid Yesus. Penuh sukacita.

2.       Kelompok kecil tempat untuk bersekutu dan saling melayani.
Walau jumlah anggotanya 8-9 orang semuanya ambil bagian. Ada yang pimpin doa, pimpin pujian, main gitar, pimpin PA, menyiapkan makanan , mengirim undangan. 80% mengambil bagian. Dari bulan ke bulan mereka akrab. Di gereja yang saya layani, ada kelompok yang sudah belasan tahun tidak pernah bubar. Akrab sekali. Jumlahnya 14 orang, sejak masih pemuda sampai sekarang sudah punya anak semua. Mereka pelayan Tuhan yang solid di gereja. Ketika mereka jadi diaken, mereka luar biasa, rela bayar harga, keluarkan duit, rapat berjam-jam dan komitmen melayani. Karena dalam kelomok kecil saling melayani. Bukan hanya tempat menjadi murid tapi tempat bersekutu. sharing pelayanan, belajar melayani, dan saling mendoakan. Hari ini di Jakarta, terdapat banyak orang, walau sesungguhnya mereka tidak punya teman. Coba tanya pemuda-pemudi punya berapa teman dekat? Hampir tidak ada atau sedikit. Kita bentuk teman sekelompok. Bertumbuh bersama di situ, mengenal firman Tuhan, saling mendoakan dan mengasihi. Siapa tahu punya pacar di situ. Lebih baik punya teman seiman dalam persekutuan daripada berpacaran dengan orang di luar gereja. Dulu saya punya kelompok kecil di GKY. Kelompok ini bahkan sampai membentuk kelompok vocal group sendiri lalu pelayanan ke gereja-gereja. Bertahun-tahun begitu akrab. Dari 7-8 orang, akhirnya ada yang menikah. Kita bahagia sekali, satu teman satu iman, satu hati melayani. Sebenarnya di dalam kelompok sel, kita benar-benar bertumbuh di dalam Tuhan. Di komsel pemuda remaja, mereka bertumbuh berkembang dalam iman, kasih dalam Tuhan, suatu kali mereka saling jatuh cinta baik sekali. Mereka jadi pekerja yang baik, cinta Tuhan.

3.       Komsel tempat pertumbuhan gereja.
Gereja yang paling besar di dunia yaitu Saddleback Church yang digembalakan oleh Rick Warren penulis buku Purpose Driven Life. Sekarang jemaatnya 40.000 orang. Ada kebaktian yang didisain untuk muda-mudi pada sore hari. Kebaktiannya dari pagi subuh selalu padat. Kalau tidak datang pagian tidak dapat tempat duduk. Setiap ke Amerika, saya selalu ke sana. Tidak pernah berhenti bertumbuh. Kalau di gereja kita, ada hujan badai 40 orang saja yang datang. Tapi di sana 40.000 orang. Dari satu gunung di beli 60%nya. Ada chapel, ruang kelas, sekolah teologi, ruangan komisi-komisi, luas sekali gerejanya. Bila melihat sejarahnya, gereja ini dimulai dengan 15 orang. Bible study setiap jumat secara rutin. Mereka bertumbuh dalam iman. Hati dikobarkan. Lalu mereka membangun pelayanan gereja kecil. Lama-lama jadi besar. Salah satu penyebabnya, komsel berjalan dengan baik!

Komsel sebagai tempat bertumbuh, membangun persekutuan belajar melayani, tempat gereja bertumbuh. Pribadi bertumbuh di dalamnya, gerejanya tambah lama tambah banyak jemaatnya.
Mau jadi orang Kristen bertumbuh? Bukan hanya status Kristen, murid Kristus bukan hanya namanya. Merasakan sukacita Tuhan. Bukan saja dari makan minum. Tetapi dalam Kristus kita punya sukacita, bertumbuh dalam iman, doa, menghadapi cobaan dan kesulitan hidup. Merasakan sukacita bersekutu dengan TUhan, mengalami kuasa Tuhan. Kita bisa menjadi orang yang bersukacita. Itu benar-benar dialami.  Untuk datang dengan sukacita tidak datang sendiri. Maka hidup kita semua diubah, sifat diubah. Hati yang suka ngomel diubah. Kita menjadi orang yang mudah menerima apa adanya. Kita menjadi orang yang puas apa adanya. Penuh dengan ucapan syukur. Itu hanya ada di dalam Tuhan. Kita mesti rajin komsel. Mau bertumbuh kembang dalam iman, tidak ada model yang lebih baik dari kelompok kecil. Mulai tahun ini belajar, masuk komsel.

No comments:

Post a Comment