Monday, February 27, 2017

Hilangnya Satu Generasi Akibat Dosa (Allah dan Kekudusan Umat / Orang Muda)


Pdt. I Made Mastra

2 Tim 1:1-8
1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,
2 kepada Timotius, anakku yang kekasih: kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Tuhan kita, menyertai engkau.
3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.
7  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
8  Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.

Pendahuluan

                Pada 2 Tim 1:5 dikatakan Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Pada ayat itu disebutkan bahwa Timotius memiliki iman yang tulus ikhlas yang dalam bahasa Yunani berarti iman yang tidak munafik yaitu iman yang tampak di dalam sama dengan yang tampil di luar. Apa yang tampak di luar berasal dari dalam. Bagaimana memiliki iman seperti itu? Ia mempunyai nenek bernama Lois dan  ibu yang bernama Eunike. Keduanya orang Yahudi, tetapi bapaknya bukan orang Yahudi. Jadi Timotius adalah anak campuran (bukan asli Yahudi). Waktu Rasul Paulus memberitakan Injil ke sana, keluarga ini menerima Tuhan Yesus. Timotius saat itu masih seorang anak. Bagaimana seorang anak bisa menjadi orang yang mempunyai iman yang tulus ikhlas (sejati)? Kita merenungkan tema hari ini “Hilangnya Satu Generasi Akibat Dosa (Allah dan Kekudusan Umat / Orang Muda)”. Pernahkah melihat di sekeliing kita ada banyak generasi yang hilang imannya?
                Beberapa tahun lalu saya pergi pelayanan ke daerah Kupang (ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur),  masuk ke pedalaman di kota So-e (ibukota Kabupaten Timor Tengah). Di situ ada pendeta-pendeta yang bukan saja khotbah di hari Minggu tetapi juga hidupnya bermain jimat. Di sana banyak orang yang meninggalkan Tuhan (kekristenan). Jumlahnya bukan hanya 1-2 keluarga, melainkan jemaat dari 7 desa! Bahkan sekarang saya dengar ada 15 desa yang dulunya dikenal sebagai desa Kristen telah meninggalkan Tuhan. Bukankah dulu mereka orang Kristen semuanya? Bagaimana kemudian mereka (generasi berikutnya) meninggalkan Tuhan? Generasi yang mula-mula sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan, tetapi  generasi berikutnya hilang. Hal ini terjadi karena generasi terdahulu tidak membina generasi berikutnya. Ada seseorang yang berkata, “Kebangunan rohani hanya terjadi pada 1 generasi dan tidak otomatis berlangsung pada generasi berikutnya”. Hal ini ada benarnya. Lihat saja negara-negara di Amerika Serikat, Eropa dan lainnya. Dahulu mereka begitu serius dalam beragama kristen. Banyak misionaris yang berasal dari sana, tetapi apa yang kita lihat sekarang di sana? Generasi yang jauh dari Tuhan. Mereka mewariskan kebudayaan Kristen yang baik, tetapi mereka sendiri tidak lagi ada sebagai orang yang memiliki  iman yang sejati!

Iman yang Sejati

                Timotius memiliki iman sejati karena belajar dari nenek dan ibunya. Jadi pendidikan dalam keluarga adalah hal yang sangat penting. Musa mengatakan hal yang sama ketika ia akan meninggalkan dunia ini. Ulangan 6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Ayat ini mengatakan untuk mendidik anak (mengajarkan firman Tuhan) sampai ke anak cucumu baik pada waktu duduk, berjalan, berbaring atau bangun. Mendidik anak ini bukan ditugaskan pertama-tama pada gereja, tetapi utamanya adalah rumah tangga. Bisakah generasi kita memiliki iman sejati untuk diteruskan pada generasi berikut? Bagaimana itu bisa terjadi? Pendidikan dalam rumah tangga sangat penting. Bagaimana mendidik dalam rumah tangga sehingga memiliki iman sejati seperti pada nenek Lois, mama Eunike dan Timotus? Orang tua harus memberikan kesaksian (keteladanan) hidup dalam rumah tangga. Sehingga apa yang tampak di luar sama dengan apa yang ada di dalam, ini yang disebut integritas.
                Kita sering berkata kepada anak-anak, “Kamu lakukan apa yang saya katakan, tetapi dalam hati kita katakan, “Jangan lakukan apa yang saya perbuat.” Itu bukan integritas yang baik. Integritas mempunyai pengaruh yang besar sekali. Mendidik anak juga sama. Bukan apa yang kita katakan yang mengubah mereka, tetapi apa yang mereka lihat yang akan membawa pengaruh. Di dalam kepemimpinan adalah kepengaruhan. Kita bisa memimpin orang sepanjang kita bisa mempengaruhi orang itu. Waktu pengaruh kita sudah tidak ada, kita sudah tidak bisa memimpin orang itu lagi. Anak-anak selalu mengikuti teladan orang tua. Waktu saya masih remaja di Bali dahulu, ada seorang pendeta dari India datang ke Bali menceritakan bahwa di India juga terdapat banyak sapi seperti di Bali. Tetapi ada beda katanya, sapi di India tidak boleh dipotong. Karena sapi itu adalah kendaraan Dewa Brahma. Jadi kalau ada sapi yang tidur di suatu tempat jangan diganggu karena dewanya juga berada di dekat-dekat situ. Dia kemudian bertanya satu pertanyaan, “Anak-anak tahukah kamu apa sebabnya warna pantat sapi itu putih?” Kami berpikir keras namun tidak bisa menjawab. Lalu pendeta itu berkata, “Kalau di India waktu hari mulai gelap dan ada seekor induk sapi melahirkan. Maka saat anak sapi yang baru lahir membuka mata, semuanya terlihat gelap. Dia kemudian melihat lingkaran putih di pantat milik induknya lalu mengikutinya sehingga ia bisa hidup” Saya masih mengingat cerita ini sampai hari ini. Sebagai induk atau orang tua, tingkah – laku  kita diikuti oleh anak-anak. Apa yang kita perbuat, akan diikuti anak kita.
Lalu saya teringat satu cerita yang lain. Seorang anak sedang libur sekolah. Hari pertama liburan, ia merasa senang sekali. Ia bangun tidur lalu mengetok pintu kamar orang tuanya namun tidak ada yang membuka pintu. Ia mengetok sampai 3 kali namun pintu tetap tidak dibukakan. Lalu ia memberanikan diri membuka pintu dan terkejut. Ternyata papa-mamanya sedang berlutut di tempat tidur sedang berdoa. Ia pun menutup pintu dengan perlahan. Besoknya ia ketuk lagi. Satu kali ketuk saja dan lalu ia membuka lagi pintunya. Ia melihat kembali, kedua orangtuanya sedang berlutut berdoa. Pada hari ketiga, ia tidak lagi mengetuk pintu  namun ia langsung membuka pintu dan langsung berlutut ikut berdoa di samping orang tuanya. Orang ini kemudian menulis buku yang mengatakan bahwa “Sejak hari itu sampai hari ini saya tidak pernah bangun pagi tanpa berlutut berdoa.” Jadi teladan yang diberi ke anak-anak sangat berpengaruh pada mereka. Saya bersyukur memiliki orang tua yang memberi teladan yang baik bagi saya. Pagi hari masih gelap sekitar  pk 4.30 - pk 5 orang tua saya sudah berjalan kaki ke gereja lalu berdoa di sana. Saya yang masih kecil mengikuti mereka kesana. Kemudian papa-mama makin sibuk, sehingga saya sendiri pergi ke sana untuk berdoa. Hanya terdapat beberapa orang tua di sana dan hanya saya satu-satunya anak kecil. Sewaktu selesai berdoa, saya dikatakan sebagai anak-anak yang menang. Jadi sejak itu saya terus memiliki kebiasaan pagi untuk terus berdoa.
                Apa yang kita lakukan (perbuat) dengan sejati membawa pengaruh pada orang lain. Ini dialami oleh Timotius sehingga Rasul Paulus berkata “Nenekmu dan  ibumu punya iman sejati. Kamu juga punya iman sejati.” Mulai dari orang tua, lalu teruskan pada generasi berikut. Ini harus terjadi pada rumah tangga. Bukan gereja yang bertanggung-jawab. Orang tua yang punya tanggung jawab. Mengajar anak-anak di meja makan, waktu berjalan, berdiri dan sebagainya. Tuhan Yesus mengatakan ,” sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:15)” Demikian juga dengan Rasul Paulus. Waktu memanggil Timotius ke Miletus dan mereka bercakap di sana. Kis 20:18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Kamu tahu, melihat sendiri, meyakini dan melihat dengan benar aku hidup seperti ini Kis 20:34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Ayat 31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Kalau hidup berpura-pura mungkin bisa dilakukan dalam waktu 1-2 bulan. Seperti waktu main topeng, selama 1-2 hari mungkin masih bisa pakai topeng (topeng itu bukan muka sendiri), tetapi kalau terus menerus tidak mungkin. Seperti Rasul Paulus mengatakan bahwa selama 3 tahun ia bersama-sama dengan mereka sehingga mereka tahu seperti apa tingkah lakunya. Ini berarti dalamnya seperti itu, luarnya otomastis sama dengan dalamnya. Memberi teladan kepada anak-anak tidak bisa dengan pura-pura. Suatu kali saya diundang untuk pelayanan di Semarang. Begitu turun dari pesawat , penjemput sudah menunggu di bawah tangga pesawat. Saya sampai berpikir,”Kenapa bisa sampai dijemput di sana?” Rupanya yang menjemput orang penting (berpengaruh) di sana. Barang-barang saya juga ada yang urus. Setelah sampai di rumahnya, barang-barang saya di taruh di lantai atas. Saya pun bisa beristirahat dengan baik di sana. Pagi-pagi keesokan harinya saya sudah bangun dan membuka jendela. Yang mengherankan di pagi itu ada suara anak yang sedang dipukul dan menangis keras mimpi ampun. Rupanya Bapak keluarga itu benar-benar marah karena anaknya yang masih SD kelas 2-3 merokok. Sehingga anak itu ditarik ke halaman belakang untuk dipukul dan berkata,”Sudah dilarang merokok! Anak kecil tidak boleh merokok!” Setelah capai memukul lalu Sang Bapak mengambil rokok dan menghisapnya. Pemandangan ini membuat saya sangat tidak enak. Ia melarang anaknya merokok dengan alasan anak kecil tidak boleh tetapi orang tua boleh. Kapan anaknya akan berhenti merokok? Anak melihat kelakuan seperti itu dan akan mengikutinya.

Iman yang Sensitif (Punya Kepekaan)

Timotius memiliki iman sejati karena nenek dan ibunya punya iman sejati. 1 Tim 1:4-5 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Pada awal ayat 4 dikatakan,”Apabila aku terkenang akan airmatamu yang kaucurahkan...” Timotius adalah seorang anak laki-laki dan Rasul Paulus mengatakan hal itu menunjukkan bahwa iman sejati nya karena punya kepekaaan. Iman sejati itu perlu kepekaan sehingga kita bisa mengerti dan berhubungan baik dengan orang-orang  lain. Manusia adalah makhluk sosial sehingga pasti berhubungan dengan orang lain baik di keluarga dengan sesama anggota keluarga, di masyarakat dengan tetangga, di gereja dengan banyak orang yang berbeda latar belakangnya. Di  keluarga bisa terjadi banyak masalah. Suami-istri menikah begitu saja, tanpa belajar latar belakang pasangan sehingga istri tidak tahu suami dan sebaliknya. Kalau istri mengenal latar belakang suami seperti apa atau sebaliknya, maka ia bisa mengerti misalnya mengapa perkataan suami kasar atau suami tidak biasa berbincang. Kepekaan seperti itu dibutuhkan. Di gereja, seringkali kita tidak peka dengan keadaan orang lain. Kepekaan dibutuhkan dan iman sejati punya kepekaan. Pada ayat 7 dikatakan Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Ayat ini mengatakan , iman yang kuat berarti dia mungkin pernah mengalami kelemahan dan kemudian dikuatkan. Iman sejati pasti bertumbuh. Iman selalu dibentuk oleh Tuhan agar semakin kuat. Sejak menerima Tuhan Yesus, Timotius datang ke gereja dan bertumbuh, sampai ia bertemu Rasul Paulus yang mengajaknya pelayanan. Kemudian Rasul Paulus meminta Timotius untuk ikut melayani di Efesus. Efesus bukanlah tempat yang sederhana tetapi tempat yang punya banyak permasalahan. Tetapi Timotius memiliki iman yang kuat. Iman yang kuat ini dibutuhkan kalau kita mau meneruskannya pada generasi yang berikut. Waktu anak melihat orang tua mempunyai iman yang kuat mereka bisa mengikutinya. Seperti orang tua yang berdoa setiap pagi, maka anaknya akan ikut. Semua tokoh besar berkata, “Aku ikut orang tuaku”. Seorang pengkhotbah besar abad lalu, DL Moody berkata, “Semua yang aku rasakan sekarang, aku warisi dari orang tuaku.” Semoga Tuhan menolong kita untuk terus bertumbuh semakin kuat.
                Suatu waktu saat di Singapore saya diminta untuk pelayanan di Korea. Waktu ini telepon genggam baru keluar. Saat mau berangkat ke korea, ada seorang jemaat bertanya, “Berapa nomor handphone-mu? Saya berkata, “Saya tidak punya. Di tempatku HP belum banyak.” Dalam hati saya berkata, “Nanti, saya ingin membelinya satu di Korea.” Ternyata harganya lebih mahal di sana. Waktu balik ke Singapore, setelah pelayanan ada yang memberikan telepon genggam yang ukurannya saat itu masih besar seperti setrikaan. Lama-lama HP berukuran kecil keluar dan saya masih memakai yang besar. Sehingga anak-anak yang punya HP seperti itu berkata dengan bercanda ke saya, “Papa , di sebelah sana ada yang sedang membangun tembok. HP papa taruh saja di sana untuk ditembok.” Saya menjawab, “Eh, papa mau mulai berdoa sekarang.” Seminggu kemudian, ada orang datang membawa sebuah tas kecil. Dia berkata, “Mungkin ini bagus untukmu.” Rupanya HP terbaru. Setelah ia pulang, terdengar suara telpon berdering. Kami bertanya-tanya,”Itu telepon siapa?” Suaranya terdengar asing. Setelah dicari-cari ternyata ternyata itu suara HP baru tersebut. Anak-anak berkata,”Rupanya papa punya HP baru.” Lalu mereka berkata, “Wah kalau begitu doa itu ada khasiatnya.” Belakangan  bila ada apa-apa, seorang anak yang berkata, “Papa bantu dong dalam doa.” Waktu kita memberi teladan ke anak, mereka melihat dan mengikuti jalan itu. Lois pasti memberi teladan yang baik. Bahkan diikuti dalam hidup Timotius.

Iman yang penuh kasih.

Hubungan iman dengan kasih . Beriman adalah satu hal. Tetapi dorongan iman itu datang dari kasih. Kasih itu punya dorongan yang besar sekali. Ia ibarat ukuran kapasitas mesin (sentimeter kubik ,cc) mobil. Kalau mesinnya berukuran kecil maka kekuatannya kecil dan sebaliknya. Dulu waktu harga bahan bakar (bensin) naik, ada orang berkata, “Aku malas pakai mobil karena mahal harga minyaknya.” Tetapi ada juga yang berkata, “Kalau mau murah pergi ke Puncak  naik bajaj saja!” Kemudian kami naik bajaj, mesinnya kecil dan pakai minyaknya sedikit. Bajaj berjalan lewat Gunung Sahari tidak masalah, namun sewaktu mau naik ke Puncak bajajnya mundur karena kekuatannya kecil. Di gereja tidak kurang orang seperti itu. Ada semangat, tetapi tidak punya kekuatan yang besar. Kita membutuhkan iman yang punya kekuatan besar. Untuk itu perlu ada dorongan kasih. Ada yang mengatakan iman yang tidak mementingkan diri sendiri. Iman yang memikirkan orang lain. Timotius memikirkan orang lain bukan dirinya.

Penutup

Kesimpulan yang kita dapatkan hari ini, kita harus meneruskan iman ini kepada generasi berikut. Bukan berhenti pada diri kita sendiri. Sangat berbahaya kalau kita merasa puas. Setelah berkata Haleluya lalu berhenti. Kita dihadirkan di sini untuk meneruskan iman pada generasi di bawah kita. Semoga Tuhan menolong kita dengan memulainya dari dalam keluarga kita. Agar kita hidup bagi Tuhan di depan anak-anak, memberi teladan pada orang di sekitar kita. Iman yang di dalam kita, muncul dalam perbuatan yang sama dengan iman yang kita katakan. Itu yang dikatakan menyenangkan hati Tuhan. Amin.

Monday, February 20, 2017

Berputar di Padang Gurun (Gereja Tidak Peduli pada Generasi Muda)


Ev. Lien Vera Sitorus

Maz 78:1-8
1 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.
2  Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala.
3  Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,
4  kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.
5 Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka,
6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,
7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya;
8 dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.

Matius 4:1-4
1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Pendahuluan

                Tema hari ini adalah “Berputar di Padang Gurun (Gereja Tidak Peduli pada Generasi Muda)”. Tidak mudah memikirkan tema ini, tetapi Allah yang Maha Kuasa-lah yang  memberi hikmat bijaksana untuk mencernanya. Padang gurun identik dengan tempatnya Iblis (Maz 78:12-31). Padang Gurun adalah tempat yang berbahaya untuk dihuni. Di sana ada binatang buas dan para penyamun. Di padang gurun itu juga bangsa Israel bersungut-sungut kepada Tuhan Allah. Selama 40 tahun mereka tidak bekerja berat, makanan – minuman tersedia dan mereka tidak perlu mencuci karena semuanya telah disediakan Tuhan di tempat yang tidak ada apa-apanya itu. Tetapi di sana juga (padang gurun) Tuhan Yesus dibawa Roh Kudus (Mat 4:1) setelah diproklamasikan sebagai Anak Allah di hadapan banyak orang dalam peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan. Setelah berpuasa selama 40 hari, Yesus dicobai oleh iblis yang memanipulasi firman Allah, tetapi Yesus menang. Mengapa Tuhan Yesus menang? Karena Ia berpegang pada firman Allah dan taat mutlak kepada BapaNya. Berbeda dengan bangsa Israel yang mengembara di padang gurun selama 40 tahun, mereka hidup dalam ketidaktaatan sehingga mengalami kegagalan.

Yesus Membaca Sehingga UmatNya Harus Ikut Membaca Firman Tuhan

                Yesus Kristus telah mengangkat kita menjadi anakNya. Namun kita  ditempatkan di dunia yang berbahaya yang penuh dengan pencobaan dan penyamun. Dunia ini identik dengan padang gurun. Di sini kita dihadapkan pada berbagai pencobaan. Kadang-kadang pencobaan muncul dalam bentuk penyamaran yang sulit dikenali. Tetapi pengetahuan tentang kebenaran akan Yesus akan membuat kita menang terhadap pencobaan. Tuhan Yesus akan memampukan kita untuk menang atas setiap pencobaan di dunia ini. Sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan mutlak kepada murid-muridNya dan dicatat oleh Matius. Dengan melawan kepalsuan yang diberikan oleh Iblis, Tuhan menjawab “Ada tertulis”. Berarti Yesus pernah membaca dan merenungkan dengan sunguh-sungguh baik sehingga Tuhan Yesus mengatakan “Ada tertulis”. Jadi kalau kita mau menang di padang gurun dunia ini, maka kita harus meneladani Tuhan Yesus Kristus yaitu membaca firman Tuhan yang sudah tertulis. Kalau kita menjawab semuanya sesuai dengan firman Tuhan, maka segala manipulasi dunia ini akan dapat ditangkal. Sebab firman Tuhan adalah kebenaran. Segala hukumNya adalah adil dan untuk selama-lamanya. Sehingga hanya orang yang berpengetahuan tentang kebenaran yang sanggap melihat mana yang benar di dunia ini. Jika Yesus saja tahu ada firman yang tertulis, mengapa anak Tuhan (orang-orang  percaya) di dunia tidak menyandarkan hidupnya terhadap firman Tuhan? Tuhan Yesus sendiri menjawab Iblis dengan kata “Ada tertulis” yang berarti Dia membaca. Tetapi sungguh ironis dengan orang-orang percaya saat ini yang hidup di padang gurun dunia ini yang hanya membaca Alkitab sewaktu-waktu. Maksudnya sewaktu hari Minggu, sewaktu hari Rabu atau sewaktu hari Sabtu. Semua itu adalah waktu-waktu ketika beribadah bersama dengan gereja Tuhan. Tuhan Yesus sendiri adalah Allah yang tunduk kepada Bapa. Melalui firman yang tertulis ini Tuhan Yesus menjawab dan menentang perkataan Iblis. Sehingga ketika berada di padang gurun itu Tuhan Yesus berkemenangan.

Tujuan Dicatatnya Kesalahan Bangsa Isarel Secara Berulang-Ulang

Mazmur 78:1 Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.  Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala.   Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami. Jadi kesalahan bangsa Israel selalu dicatat berulang-ulang  dalam Kitab Suci. Asaf menyampaikan hal ini dalam pujian. Dia mengatakan. kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya (Maz 98:2). Pemazmur mengajar apa yang harus didengar oleh bangsa Israel saat itu. Kejadian masa lampau kesalahan bangsa Israel diulang-ulang diperingatkan. Padahal kalau melakukan kesalahan, kita ingin agar hal itu jangan diungkit-ungkit lagi (disembunyikan saja karena malu dibicarakan sehingga dosa itu tetap di dalam hidup kita). Tetapi Alkitab dengan jujur mencatat bahwa kesalahan bangsa Israel di padang gurun sehingga bangsa Israel berjalan berputar-putar dicatat sehingga menjadi berita yang harus disampaikan ke sepenjuru dunia dari generasi ke generasi sampai ke generasi kita hari ini. Mengapa harus diungkit-ungkit lagi? Karena di dalam padang gurun itu ada kemurtadan bangsa Israel kepada Tuhan . Kemurtadan ini menjadi sorotan ilahi terus-menerus supaya generasi berikutnya tidak melakukan kesalahan yang sama. Sebab itu terkait dengan tema “Berputar di Padang Gurun” yang disambung dengan “gereja yang tidak peduli generasi muda” pemazmur mengangkat kesalahan bangsa Israel itu untuk menjadi berita , sorotan, kesalahan di masa lampau. Supaya generasi muda berikutnya tidak melakukannya. Itulah yang dicatat dalam Maz 78 dan juga diceritakan apa tujuan dari sejarah yang diulang-ulang itu. Apa tujuan sejarah kesalahan itu harus diulang-ulang terus dan diberitahukan dari generasi ke generasi?

1.    Supaya dikenal (diketahui)

Maz 78:6 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka. Angkatan yang kemudian mengenal bahwa Allah yang perkasa telah menuntun bangsa Israel mencapai kebebasan. Saat bangsa Isreal menghadapi jalan buntu (tidak ada jalan), Tuhan Allah sanggup membelah laut supaya bangsa Isarel bisa melewati lautan dan mereka bebas. Keajaiban itu jelas dilihat oleh bangsa Israel yang keluar dari bangsa Mesir. Bila tidak diulang-ulang dicatat, maka kejadian itu hanya menjadi kejadian yang usang (sejarah), lapuk, dan selesai begitu saja. Kejadian di padang gurun itu menjadi berita dari generasi ke generasi sehingga gereja jangan pernah berhenti untuk membaca Kitab Suci. Seringkali pengertian dan persepsi kita salah saat berkata tentang gereja. Seolah-olah gereja itu adalah wujud fisik (gedung) nya. Seolah-olah gereja adalah Sung mushi (Pdt. Sung) yang dulu mendirikan gedung gereja ini. Seolah-olah gereja itu adalah Sung shimu (Ev. Helen Sung) atau Guo mushi (Pdt. Hery Kwok), Guo shimu (Ev. Susan Maqdalena), Vera Chuang Tau (Ev. L Vera Sitorus), Pdt. Stephen Tong atau hamba Tuhan lainnya. Bukan! Gereja itu adalah kita. Gereja itu adalah manusia-manusianya yang telah dipisahkan dan disucikan oleh Allah sehingga menjadi komunitas orang-orang percaya yang sudah dikuduskan oleh Allah. Seharusnya berita kita adalah tentang Allah yang maha kasih, maha dahsyat dan sanggup membuat bangsa Israel berputar 40 tahun di padang gurun dan banyak orang Israel yang gagal masuk ke Tanah Kanaan. Berbeda dengan Tuhan Yesus yang langsung menjawab “Ada Tertulis”. Jadi firman Tuhan yang tertulis ini oleh gereja harus diulang –ulang membicaraaknnya. Gereja itu adalah diri kita. Diri kita diciptakan untuk membaca Kitab Suci dan bukan saja dibaca saat ibadah Minggu. Secara pribadi kita harus melihat kesalahan ini supaya tidak terulang. Supaya angkatan yang kemudian juga mendengarkan. Supaya anak yang akan lahir kelak dapat membangun dirinya untuk tidak mengulangi sejarah dan kesalahan sejarah.

2.    Supaya menaruh kepercayaan kepada Allah dan memegang perintah-perintahNya

Maz 78:7 supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Jumat kemarin saya khotbah di persekutuan guru SKKK Jakarta dengan nats kutipan dari 1 Petrus 2:9-10 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan. Nats ini tentang “Tuhan sudah memilih”. Kalau kita dipilih oleh Presiden Jokowi yang menjadi pemimpin nomor 1 di Indonesia sebagai rekanan kerjanya, tentu kita akan merasa senang sekali. Bila kita diundang ke istana saja oleh Presiden Jokowi dari 240 juta penduduk Indonesia, kita tentu senang. Tetapi ketika Tuhan Yesus memilih kita, karena yang memilih tidak terlihat maka hidup kita seolah-olah biasa-biasa saja. Padahal yang memilih kita adalah Raja di atas segala raja, jauh melampaui Presiden Jokowi. Tetapi karena tidak kelihatan, maka tidak dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.
Ketika terjadi sesuatu peristiwa dalam hidup, kita sangat sulit mempercayakannya pada Allah. Contoh kemarin saat  kami melakukan pembesukan di RS Husada. Ada 1 bapak yang terbaring di ujung ruang ICU. Saya mantan perawat dan sudah biasa melihat kondisi pasien. Saya tahu kondisi Bapak tersebut sudah kritis. Tetapi istri-nya mengatakan, “Sebentar lagi kami mau pindahkan ke Rumah Sakit Siloam Karawaci karena ada dokter Eka.” Saya berkata, “A-yi, kalau mau dipindahkan agar dilakukan secepatnya (sekarang juga). Di mana ambulannya?” Sang istri menjawab, “Tidak tahu, anak saya sedang mengurusnya di luar.” Akhirnya kami mendoakan orang sakit itu. Di dalam hati saya berkata, “Bagaimana cara mengatakan ke a-yi ini yang tidak mau mempercayai RS Husada dan mau memindahkan suaminya ke RS Siloam karena lebih percaya ke dr. Eka?”. Saya yang melihat tensinya (batas atas 170 dan bawahnya minim sekali) , tidak mau ia meninggal di tengah jalan. Karena kondisi Bapak itu sama sekali tidak melakukan respons. Hanya karena mesin pemacu jantung, ia masih bertahan hidup. Tapi kalau dicabut, maka dalam hitungan menit ia sudah tidak ada lagi.
Kita juga sering tidak mau mempercayai Allah yang tidak kelihatan dan hanya mau berusaha sekuat tenaga sendiri saja (semampuku). Sehingga tugas orang percaya – lah untuk memberitakan dari generasi ke generasi kemahakuasaan Allah supaya mereka menaruh kepercayaan pada Allah. Terlalu banyak orang berduit saat ini yang tidak percaya kepada Allah. Dikiranya mereka bisa membeli hidup. Istrinya berpikir dengan uangnya bisa memindahkan suaminya ke rumah sakit lain yang mahal karena ada dokter yang bisa mengatasi sakitnya. Ada juga penderita sakit kanker yang berusaha dikemo agar bisa hidup. Obat kemoterapi menjadi tujuannya agar bisa sembuh lagi. Saya tidak memprovokasi tetapi pengalaman saya di rumah sakit menunjukkan bahwa pengobatan kemoterapi membuat “neraka” besar bagi si penderita. Zat kimia yang masuk ke dalam tubuh membuat penderita merasa gelisah secara psikis dan membuat tidak sanggup menelan dan tidak berdaya. Sehingga ketika dokter mengusulkan penggunaannya maka untuk pemakaian obat tersebut harus diputuskan oleh sang pasien sendiri. Padahal ujung-ujungnya pasien akan meninggal juga dengan terkuras semua harta, kekuatan dan kesabaran. Itulah sebabnya , Asaf menyanyikan dan menceritakannya berulang-ulang dari generasi ke generasi supaya mereka menaruh kepercayaan pada Allah yang maha kuasa. Yang tercatat adalah perbuatan Allah supaya manusia percaya pada Allah yang menciptakanNya di dunia ini dengan melihat perbuatan-perbuatan Allah yang hebat dan agung. Sehingga diri kita meletakkan iman percaya kita pada Tuhan. Namun orang Kristen tidak boleh menyerah begitu saja, melainkan memegang perintah-perintahNya. Kata “memegang” adalah kata kerja. Memegang itu bukan bersifat pasif melainkan aktif. Segala sesuatu yang kita pikirkan, lakukan, tindak lanjuti harus selalu didasarkan pada firman Tuhan. Saat ke kamar mandi pun kita harus berdoa karena cukup banyak orang mati saat masuk ke kamar mandi akibat terpeleset.
Namun seringkali kita merasa biasa saja di dalam hidup ini,  tidak sepenuhnya meletakkan kepercayaan pada Tuhan. Hanya pada waktu tertentu saja kita bisa berdoa kepada Tuhan. Sampai-sampai saat makan minum pun ada orang Kristen yang berdoa hanya karena kebiasaan saja. Jarang yang tahu dan memikirkan bahwa ada virus di dalam perangkat makannya. Jadi kita harus berhati-hati makan di luar. Penyakit Tuberkolosis (TBC) dan hepatitis B cara penularannya  melalui kontak langsung dengan alat yang digunakan si penderita penyakitnya yaitu sendok dan piring. Restoran-restoran di Indonesia tidak mau mencuci piring dengan air panas alias hanya dicuci dengan air biasa saja. Waktu kita makan di restoran di situ ada banyak virus yang tidak kasat mata, maka kita berdoa, “Sucikan dan kuduskanlah....” Itu sudah terpatri di otak kita. Tuhan Yesus mengajarkan berdoa dalam namaNya dan makanan yang disantap agar  disucikan oleh kuasa darah Tuhan sehingga kita tidak perlu ragu-ragu. Yang menjadi permasalahan adalah berdoa itu sudah seperti biasa, tidak lagi mementingkan makna sesungguhnya . Seharusnya kita percaya kepada Allah dan Tuhan Yesus dan Dia menguduskan makanan itu sehingga iman percayanya kepada Tuhan. Saya tidak menghakimi itulah yang terjadi. Itu sebabnya ayat 7 mengatakan :  Menaruh kepercayaan pada Allah dan semua perintah Allah itu harus dilakukan.

3.    Agar tidak mengulang kesalahan nenek moyang

Maz 78:8  dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. Angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah (nenek moyang) telah melakukan kesalahan dan sejarah kesalahan, dan hal itu agar tidak diulangi lagi oleh kita yang hidup di padang gurun dunia ini dengan segala manipulasi dan kepalsuannya. Dunia ini memang penuh dengan segala kepalsuan.
Dahulu ketika saya masih menjadi perawat (sebelum menjadi hamba Tuhan), tugas saya dimutasi ke kamar operasi menjadi rekanan dokter instrumen untuk operasi. Kemudian saya diberitahu bahwa waktu kerja saya harus masuk setiap hari Mingu dari pk 7 sampai Senin pk 7 alias bekerja 24 jam sehingga saya tidak bisa ke gereja. Awalnya karena baru masuk saya menerima tugas itu. Tetapi setelah empat hari minggu berlalu tanpa ke gereja, saya mulai gelisah. Lalu saya pun mengajukan protes ke pimpinan,”Tolong ijinkan saya untuk beribadah di hari Minggu. Karena kalau bekerja dari pk 7 hari Minggu sampai pk 7 hari Senin, kapan saya bisa ke gereja?” Biasanya kalau bawahan yang mengajukan permintaan ditertawakan. “Vera, RS Sumber Waras sejak didirikan belum pernah ada yang protes. Semua yang diminta ke perawat pasti dikerjakan.” Begitu tanggapan yang saya terima. Saya katakan ,”Baiklah. Ini lain dari yang lain.” Dengan sedikit mengejek atasan saya menanggapi, “Jadi kamu maunya hari Minggu libur?” Saya berkata,”Tidak juga. Hanya ijinkan saya beribadah.” Di Jakarta tidak ada ibadah pada pk 5 pagi. Ibadah paling pagi hari Minggu ada di GKI yang mulai pk 6 selesai pk 7.30 padahal waktu kerja mulai pk 7. Jadi saya protes karena tidak bisa ke gereja. Singkat cerita permintaan ini dibawa ke rapat pimpinan rumah sakit. Bisa jadi saya ditertawakan. Lalu saya ditelepon,”Vera Sitorus, Tuhan pun tahu kamu sedang bekerja. Jadi tidak apa-apa tidak datang ke gereja.” Kemudian saya menjawab, “Suster tolong kasih tahu sama Tuhan Yesus saya, karena sudah 4 minggu saya tidak ke gereja, sangat gelisah hati saya. Jadi kalau memang saya harus bekerja di hari Minggu, tolong jangan kasih saya perasaan gelisah. Agar saya tenang-tenang saja bekerja sebagai perawat.” Kemudian suster itu menutup teleponnya dan rapat lagi untuk membahas permintaan yang saya utarakan karena saya haus akan firman Tuhan dan tidak sanggup tanpanya. Walau rajin melakukan renungan setiap hari, saya tetap butuh firman Tuhan yang disampaikan hamba Tuhan di mimbar untuk menjadi kekuatan selama beraktivitas minggu itu karena dunia ini ibarat padang gurun. Tidak lama kemudian datang telepon dari tempat mereka rapat dan disampaikan ke saya, “Kalau begitu silahkan pergi ke gereja sampai pk 7.30 karena pada hari Minggu tidak ada operasi yang direncanakan.” Operasi pada hari Minggu memang diadakan kondisi tertentu seperti untuk pasien yang akan melahirkan darurat, pasien kecelakaan sehingga terjadi pendarahan di otak atau kakinya patah dan lain-lain. Suster kepala menambahkan,” Silahkan kamu beribadah, tetapi dengan catatan pakai mobil ambulan!” Di satu sisi saya senang karena bisa menghemat ongkos bajaj. Tetapi di sisi lain, jemaat akan melihat ambulans yang saya gunakan dan pasti akan bertanya-tanya. Risih rasanya. Tetapi saya terima syarat ini sampai saya tinggalkan rumah sakit setahun kemudian. Dunia ini banyak memanipulasi dosa sehingga kita butuh firman Tuhan untuk menguatkan dan meneguhkan agar kesalahan sejarah tidak terulang dalam diri saya.

4.    Agar tidak berbuat dosa dengan memberontak terhadap Yang Mahatinggi di Padang Kering

Pada Maz 78:17 dikatakan Tetapi mereka terus berbuat dosa terhadap Dia, dengan memberontak terhadap Yang Mahatinggi di padang kering. Beritakan dari generasi ke generasi tentang orang Israel yang berputar-putar di padang gurun dan satu-satunya yang berhasil keluar padang gurun adalah Tuhan Yesus yang tidak memberontak terhadap kehendak Allah. Yesus membaca tulisan tentang kesalahan dalam sejarah bangsa Isarel dan Tuhan Yesus merenungkannya lalu Yesus menjawab Iblis dengan firman Tuhan. Apa jawaban (perkataan) kita bila menghadapi godaan yang dialami oleh Yesus? Apakah anak cucu kita melihat apa yang terjadi dengan diri kita atau hanya mendengar perkataan yang disampaikan saja? Apakah mereka merasakan perbedaan dalam kehidupan kita setelah mengenal dan memaknai firman Tuhan? Sabtu lalu ada acara pasutri berupa gathering di Ancol dan saya diminta untuk membawa anak-anak pasutri keluar supaya orang tua-nya bisa mendengar firman Tuhan. Ternyata di luar ada acara hiburan di panggung terbuka yang membawakan lagu-lagu yang duniawi. Ada satu lagu yang saya suka saat itu yaitu Kopi Dangdut. Saat mendengar lagu itu dilantunkan , saya langsung ikut menari dengan adiknya Charlotte (Cornelius). Tetapi ada anak Sekolah Minggu (Charlotte dan Keeva) yang sedang bermain pasir memandang dengan singit dan mengatakan, “Itu bukan lagu gereja!” Tindakan saya sebenarnya bertujuan ingin menggoda adiknya Charlotte. Tetapi anak generasi sekarang sudah tahu menegur orang tua yang berumur 50 tahun, padahal mereka tidak pusing dengan saya. Pernyataan itu kemudian ia ulangi lagi, “Itu bukan lagu gereja!” Saya ulang lagi tindakan dan kembali ia mengatakan,”Itu bukan lagu gereja Chuang Tao!” Terdapat banyak padang gurun di dunia ini yang memanipulasi dan itu bukan tempat yang enak. Kalau tidak waspada, kita bisa terhisap di dalamnya. Padang gurun bisa menghisap cara berpikir kita, kalau dari generasi ke generasi tidak diberitakan. Generasi itu adalah kita. Generasi berikutnya Charlotte dan Keeva. Setelah besar, mereka akan punya anak lagi. Padang gurun harus terus diberitakan agar generasi di bawah kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk mengatasi padang gurun itu, kita harus meneladani Yesus Kristus yang  membaca, mendengar , merenungkan dan melakukan firman Tuhan yang sudah ada tertulis. Supaya kita tidak berputar-putar di padang gurun dunia ini , maka jalan keluarnya adalah firman Tuhan. Baik saat berdagang, berusaha , bekerja atau apa pun juga, firman Tuhan cukup menjawab kebutuhan kita. Jadi kalau bukan diri kita yang kita paksakan untuk membacanya , maka kita tidak akan bisa membawa generasi berikutnya untuk hormat dan takut kepada Tuhan. Hanya omong kosong saja yang kita sampaikan. Sekarang ini padang gurun apa yang sedang dirasakan? Sudah ada jalan keluar yang tertulis, keluarlah dari padang gurun itu!
Maz 78:72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya. Tuhan menggembalakan kita dengan ketulusan hatiNya dan menuntun kita dengan kecakapan tanganNya, sehingga sekalipun kita masih ada di padang gurun ini, kita bisa menikmati kecakapan tangan Tuhan yang menolong kita. Mari kita membaca Kitab Suci, merenungkannya dan taat seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Amin.

Monday, February 13, 2017

Hancur Perlahan-Lahan (Senior Tidak Menjadi Teladan)


Ev. Susana Heng

1 Kor 4:6
Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis," supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.

Pendahuluan

                Tema hari ini “Hancur Perlahan-Lahan (Senior Tidak Menjadi Teladan)”. Pada ayat 1 Kor 4:6 dikatakan Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis," supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. Di sini dengan kata lain Rasul Paulus berkata “...Teladanilah kami..” Rasul Paulus dengan berani menjadikan dirinya sebagai teladan bagi yang lain, walau hal ini sebenarnya tidak mudah. Dalam kehidupan , bagi orang yang sudah besar atau pun dewasa kita pasti pernah menjadi junior. Atau bila saat ini kita masih berusia muda dan junior, secara perlahan-lahan pasti kita akan tua, dewasa dan menjadi senior. Sewaktu masih junior, kadangkala kita melihat seorang dewasa atau senior yang hidupnya baik dan menjadi teladan sehingga membuat kita terkagum-kagum. Namun sebaliknya kadang kita melihat senior yang tingkah-lakunya membuat kita ternganga-ngaga (melongo). Baru-baru ini kita mendengar berita yang yang menyedihkan. Di salah satu universitas (UII) di Yogya, tanggal 20 Januari 2017 lalu seorang mahasiswa baru (Fadli) yang mengikuti kegiatan mapala meninggal dunia. Penyebabnya adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para seniornya yang memperlakukannya  dengan kejam. Demikiankah perlakuan mereka kepada junior atau orang yang baru masuk? Apakah para senior di sana hanya menunjukkan kekuasaan dan bukannya kepeduliaan? Tindakan mereka bukanlah menunjukkan kepedulian. Dengan demikian di sini kita melihat ada kalanya dunia mempertontonkan senior yang tidak menjadi teladan.

                Pernah juga waktu mulai masuk kerja, ada orang yang baru kerja melihat kelakuan atasannya yang membuatnya terkejut. Senior yang menjadi penyelia (supervisor)  tersebut hanya bisa mencuri idenya dan mencari muka ke atasannya lagi. Ada juga orang yang baru masuk kerja difitnah oleh atasannya. Pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu aturan (bocengli) dan itu adalah senior kita? Adik saya pernah sharing kepada saya. Saat itu ia baru masuk kerja di suatu perusahaan berbentuk yayasan yang berlatar Kristen sehingga ia berharap memiliki atasan yang rohani (baik). Tetapi waktu masuk, ia terkejut. Atasannya itu biasa kalau menyampaikan ceramah kesannya baik sekali, tetapi apa yang dikatakannya berbeda terhadap rekan kerjanya. Ia selalu mengata-ngatai adik saya. Sepertinya ia menganut standar ganda. Sikapnya bukan saja mengintimidasi yang kadang menyusahkan dan bahkan malah memfitnah dia. Hal ini sangat menyakitkan adik saya. Adik saya terus berdoa menyerahkan kepada Tuhan. Akhirnya ia mengundurkan diri dari pekerjaan setelah terus menerus membawa masalah ini dalam doa kepada Tuhan. Bukankah kita seringkali melihat di dunia, ada pemuka (pemimpin) yang diharapkan menjadi teladan ternyata bertindak sebaliknya. Ada yang memberi tanggapan bahwa mereka tidak mengenal Tuhan sehingga menjadi seperti itu. Tetapi waktu rumah-rumah ibadah, kita juga melihat hal yang sama. Saya suka menonton khotbah di TV dan mendengar beberapa pengkhotbah tertentu. Dulu ada seorang pengkhotbah di Singapore yang masih muda dan dapat berkhotbah dengan luar biasa. Gerejanya sangat besar. Beberapa tahun lalu, diberitakan bahwa ia memiliki masalah dengan keuangan yang menyeretnya sampai ke pengadilan. Sekarang ia sudah tidak berkhotbah lagi dan acaranya sudah tidak ada lagi. Apa yang dialaminya telah menjadi batu sandungan bagi beberapa orang. Kita melihat hal-hal seperti itu dan sebagai orang percaya kita merasa prihatin dan sedih. Bagaimana kita menjadi seorang teladan?

Tokoh-tokoh Alkitab yang memulai dengan baik tetapi berakhir kurang baik.

1.    Gideon
Gideon dipakai oleh Tuhan untuk memimpin orang-orang Israel sehingga bangsa Israel tidak disiksa oleh bangsa lain. Pada awalnya ia seorang yang sangat baik dan rendah hati. Ia masih muda. Tapi pada masa tuanya dan sudah terkenal, ia membuat baju efod yang menjadi jerat buat keluarga dan bangsa Israel. Sangat disayangkan orang yang memulai dengan baik tetapi mengakhiri dengan tidak baik.

2.    Raja Salomo.
Kebanyakan kita mengetahui Raja Salomo. Ia seorang raja yang sangat kaya , terkenal, pintar dan berhikmat sehingga Ratu Sheba dari jauh datang mengunjunginya (1 Raja 7:1,7-8). Saat memulai ia meminta hikmat dari Tuhan karena ia merasa tidak bisa apa-apa. Atas permintaannya itu, Tuhan bukan saja memberi hikmat tetapi juga memberikan kemashuran dan kekayaan. Tetapi ia tidak mengakhiri dengan baik. Ia mempunyai banyak istri dari bangsa lain yang kemudian membawanya ke alah lain. Kita merasa sayang melihat orang yang memulai dengan baik tetapi kemudian mengakhiri dengan tidak baik.

3.    Raja Saul
Raja Saul memulai dengan sangat baik dan Tuhan memakainya untuk membawa bangsa Israel menang perang. Namun ia mengakhiri kehidupannya dengan tidak baik.

Banyak orang yang memulai dengan baik, namun hanya sedikit yang mengakhiri dengan baik.

Hubungan Senior dan Junior (Saul dan Daud)
 
Saat terjadi peperangan antara bangsa Israel dengan bangsa Filistin, Goliat , seorang raksasa dari Filistin) menantang orang Israel untuk bertanding dengannya satu lawan satu (1 Samuel 17). Tidak ada satu pun orang Israel yang berani menghadapi Goliat sampai akhirnya majulah Daud. Daud pun menghadapi Goliat dengan ketapel-umban dan berhasil membunuhnya. Sewaktu Daud menang , bangsa Israel pun bersorak . Bangsa Israel mengatakan seperti pada 1 Sam 18:8   Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Mendengar perkataan bangsa Israel, Saul merasa sebal dan bangkitlah amarah Saul dengan sangat. Sewaktu mendengarkan perkataan rakyat yang menyanyikan lagu ini, apa perasaan Saul? Apakah Saul merasa bangga dengan junior yang begitu berprestasi dan membela bangsanya? Kalau kita membaca ayat ini, menurut kita apakah perasaan Saul? Apakah ia merasa bangga dan sayang kepada Daud atau sebaliknya ia justru iri hati kepada nya? Melihat ayat 1 Sam 18:8 ternyata Saul merasa iri terhadap Daud. Sewaktu Saul iri hati, ia berpikir bagaimana caranya menghabisi (membunuh) Daud. Kalau kita bertemu dengan senior yang membuat kita merasa sakit hati, biasanya paling jauh kita mengundurkan diri. Tetapi Daud yang melihat perlakuan Saul, tidak bisa mengundurkan diri karena Saul adalah raja yang punya kekuasaan. Tetapi akhirnya ia lari dan menjadi buronan karena dikejar-kejar Saul dan para  prajuritnya. Hampir saja Daud mengalami kematian. Saat seorang senior semakin berkuasa lalu menjadi jahat , maka junior-nya bisa menjadi celaka. Seringkali kekuasaan bila disalahgunakan maka bisa membuat hal-hal  yang tidak baik walau bila ditempatkan dengan tepat bisa juga baik. Sehingga Saul pun mengejar Daud dan Daud harus meninggalkan kampung halaman, keluarga dan negaranya. Padahal orang-orang non Israel memandang orang Isarel sebagai musuh. Menghadapi hal itu, Daud terkadang berpura-pura gila. Hal ini menunjukkan bagaimana sikap Daud terhadap Saul. Saul adalah orang yang diurapi Allah malah mengejarnya karena iri. Bagaimanakah sikap Daud terhadap senior seperti itu? Kalau ada orang yang begitu jahat terhadap kita, bagaimana sikap kita? Sikap Daud membuat kita tercengang. Kalau kita menghadapinya, mungkin kita akan mendoakannya agar dicabut nyawanya.

                Sewaktu jadi mahasiswa teologia praktek selama 2 bulan, saya bertemu dengan senior yang sangat “rohani”. Setiap kali pakai baju, dibicarakan sehingga stress sekali. Cara berjalan , pakai sepatu dll. Saya harus di bawah dia. Kalau kamu begini-begini, saya lapor kamu. Ia membuat saya jantungan. Padahal kita baru 2 bulan dan dilapor maka kita bisa dilapor. Jadi saya hidup dalam ketakutan. Saya bersyukur , hari berlaru dalam 2 bulan. Dan teman saya sama-sama pelayanan, ia mendukung saya, Saya akan membela kamu. Karena saya dan dia sama-sama mahasiswa praktek di sana. Ia membuat banyak peraturan buat untuk kita. Ia berkata, kamu tidak boleh keluar dengan anak laki-laki, padahal sama-sama dari gereja. Sehingga hati saya ketakutan. Saya rasa hanya 2 bulan saja tidak enak bertemu dengan orang yang mengintimidasi saya. Saya bersyukur, ia bukan raja yang tidak punya prajurit seperti yang dihadapi Daud. Tidak ada tanggal yang tidak mengincar saya. Sehingga keadaan saya sangat buruk. Tetapi apa yang dilakukan Daud yang punya kesempatan untuk membunuh Saul? Pada suatu kali Saul masuk ke dalam gua, dan Daud bersembunyi di sana. Itu kesempatan Daud untuk membunuhnya, kalau itu terjadi Saul tidak akan membunuh lagi. Tetapi apa yang Daud lakukan? Kalau kita menggunakan aji mumpung seakan-akan Tuhan sudah memberi kesempatan , maka begitu ada kesempatansaya habisi dia. Tetapi apa yang dilakukan Daud? 1 Sam 24:7-8 Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya. Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: "Tuanku raja!" Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah. Daud tidak saja tidak membunuh Saul tetapi ia juga mencegah orang lain membunuh Saul. Ia tidak membiarkan orang lain menyentuh atau membunuh orang yang diurapi Tuhan.  Seorang yang diurapi oleh Tuhan sangat dihormati oleh Daud. Daud tidak berani menyentuhnya walaupun Saul begitu jahat terhadapnya. Itulah sikap Daud. Daud tidak membalas kejahatan Saul kepadanya. Daud tidak menghakimi Saul. Walau Alkitab mencatat bahwa Daud memiliki 2 kali kesempatan untuk membunuh Saul. Daud tidak menghakim Saul karena itu hak Tuhan. Mat 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Membaca hal ini saya merasa kagum kepada Daud. Sikapnya luar biasa sekali. Saya tidak bisa seperti itu. Kalau saya disakiti seperti itu, rasanya saya susah mengampuni. Tetapi Daud begitu takut kepada Tuhan dan tidak menyentuh orang yang diurapiNya. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan Daud adalah orang yang berkenan kepada Tuhan.  Di sini kita melihat sikap Daud yang junior terhadap Saul yang senior.

                Banyak orang yang bersikap membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetapi Tuhan tidak menghendaki hal seperti itu dan Daud sangat menghormati Tuhan. Apakah Saul tetap membiarkan Daud berlalu dan baik-baik saja? Tuhan mempunyai mata dan tidak tertidur. Kalau hari ini ada orang yang menekan dan berbuat jahat, kita tidak perlu menghakimi mereka karena  Tuhanlah yang akan menghakiminya. Hal ini terlihat dari akhir kehidupan Saul. Saul dan hampir seluruh keluarganya mati semua. Bahkan jenazah Saul digantung sampai orang Yabes mengambil dan menguburkannya. Di sini kita melihat Tuhan tidak tertidur. Bila senior tidak baik maka hak penghakiman ada di tangan Tuhan dan Ia melihat sewaktu sang junior ditekan orang. Suatu kali ia bisa menjadi senior (tua) , apakah seseorang seumur hidup bisa terus menjadi baik? Saya ingin mengawali dan mengakhiri dengan baik. Sehingga akhirnya Tuhan berkata, “Hai hambaku yang setia, masuklah.” Tetapi seringkali kita tidak baik, berdosa dan jatuh. Mungkin kita saat jadi senior tidak menjadi teladan. Demikian juga dengan Daud sewaktu menjadi raja, ia pernah berbuat dosa. Dia mengambil Batsyeba, istri bawahannya sendiri dan meminjam tangan musuh untuk membunuh suaminya itu. Ia berbuat dosa, tetapi ia kemudian menyesal dan bertobat.

Sikap sewaktu ditegur

Saul
1 Sam 13:11-12  Tetapi kata Samuel: "Apa yang telah kauperbuat?" Jawab Saul: "Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, padahal aku belum memohonkan belas kasihan TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran." 1 Sam 15:21 Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."

Daud
2 Samuel 12:13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

Sewaktu ditegur Daud berkata, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan”. Sebaliknya dengan Saul yang tidak pernah mengakui dosanya. Sewaktu ditegur Nabi Samuel pada 1 Sam 13:11, dia menyalahkan Samuel yang datang terlambat. Jadi ia adalah orang yang mencari alasan atas kesalahannya. Setiap kita bisa berbuat salah, termasuk Daud. Sikap Daud saat ditegur oleh Nabi Natan , ia mengakui kesalahannya. Beberapa tahun lalu, saya menjadi pembina sekolah minggu di suatu gereja. Waktu itu kita punya program membawa anak-anak Sekolah Minggu ke Korea Selatan untuk tampil dalam  suatu acara. Karena pesertanya anak-anak , selain untuk mengisi acara maka harus ada acara main-mainnya. Jadi panitia membuat acara main ski. Saya pun membawa anak-anak ke resort untuk bermain ski. Untuk bermain ski , kita harus mengenakan peralatan untuk melindungi diri. Mengingat saya sudah mulai tua dan takut jatuh, saya berkata, “Kalian main saja, saya yang menjaga barang yang ada.” Mereka pun bermain-main , sedangkan saya yang menjaga barang. Tidak berapa lama kemudian ternyata banyak guru Sekolah Minggu yang menemani saya. Rupanya pelajaran pertama dalam bermain ski adalah belajar jatuh- bangun di es yang licin sekali. Pelajaran ini dilakukan berulang-ulang. Mereka diajar untuk jatuh dan bangun lagi. Belajar jatuh- bangun ini, bukan saja dipelajari oleh pemain ski pemula  tetapi dalam kehidupan, kita harus juga mempelajarinya. Saat jatuh, kita belajar mengakui untuk kemudian bangun kembali. Orang yang jatuh dan tidak pernah bangun kembali tidak bisa menjadi teladan. Di dunia ini tidak ada orang yang sempurna atau tidak pernah menghadapi masalah. Berbuat salah adalah hal yang manusiawi. Bila orang yang berbuat salah mau mengakui kesalahannya dan bertobat , maka orang seperti ini bisa menjadi teladan bagi orang lain karena darinya orang bisa belajar kebenaran. Saul tidak pernah mau mengakui kesalahannya sehingga hancur. Tetapi Daud berbeda dari Saul. Ia mengakui dosanya walaupun ia seorang raja. Waktu menjadi junior kita melihat dan mengkritik orang lain. Tetapi sewaktu kita di atas (menjadi senior), belum tentu kita tidak akan berbuat kesalahan. Tetapi orang akan melihat, apakah kita adalah seorang yang mengakui kesalahan, mau belajar mengatasinya dan menjadi teladan.

Penutup


                Setiap kita adalah manusia yang lemah (bukan manusia yang sempurna). Kita punya kelemahan masing-masing yang diketahui oleh Tuhan dan diri kita sendiri. Kita harus tahu cara untuk mengatasinya. Kita bisa mengevaluasi kelemahan kita dan hidup berkualitas. Kita harus berani menjadi seperti Daud yang mengakui kesalahan dan bertobat. Dan Tuhan menyebut dia orang yang dikasihi dan orang yang diperkenan. Bila hari ini kita menjadi junior maka jadilah junior yang mendoakan senior kita. Bila kita menjadi senior, apakah kita ingin menjadi senior yang mencari kekuasaan semata? Bila iya, maka kita akah hancur. Tetapi Daud tahu mengintrospeksi diri sehingga ia dan keluarganya diberkati. Biarlah hal ini menjadi suatu bahan introspeksi dan refleksi bagi kita bahwa Tuhan mengasihi kita. Tidak ada seorang pun yang tidak punya kelemahan dan tidak pernah berbuat kesalahan. Tetapi saat melakukan kesalahan bagaimana sikap kita? Melihat senior melakukan kesalahan , biarlah kita melakukan intropeksi sehingga kita memulai dan mengakhiri dengan baik hingga suatu kali Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21). Bukankah itu yang kita idamkan? Biarlah kita menjadi orang takut kepada Tuhan.  Amin. 

Monday, February 6, 2017

Rumah yang Kokoh = Generasi Muda yang Kokoh vs Kropos (Lois, Eunike, Timotius)


Pdt. Hery Kwok

Maz 92:13-16
13 Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon;
14 mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita.
15 Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar,
16 untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

2 Timotius 1:3-5
3  Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
4  Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Pendahuluan

                “Rumah yang kokoh” adalah gambaran yang diharapkan terjadi pada generasi muda saat ini yakni generasi muda yang kokoh dalam melawan arus zaman atau ilah zaman ini yang ingin memporak-porandakan generasi muda. Penulis kitab Mazmur pasal  92 ingin menuliskan pengalaman hidupnya. Menurutnya orang benar yakni orang yang percaya kepada Yahweh ( Allah / Kristus) akan bertunas seperti pohon Korma. Buah dari pohon Korma banyak disediakan oleh kaum Muslim saat berbuka puasa sehingga saat itu didatangkan (diimpor) buah korma yang terbaik dari Timur Tengah.  Orang benar akan tumbuh seperti pohon Aras di Libanon. Pohon Aras Libanon adalah pohon yang kayunya digunakan untuk membangun Bait Suci karena memiliki kualitas yang sangat baik. Orang benar (termasuk keturunannya) yang ditanam di Bait Tuhan (konsep Bait Tuhan adalah mendengar firman Tuhan) akan bertunas di pelataran bait Allah dan di masa tuanya tetap berguna. Hal ini berbeda dengan banyak orang tua yang merasa tidak berguna, kesepian atau ditinggalkan karena tidak berbuah. Orang benar akan senantiasa memberitakan Tuhan dalam hidupnya. Lalu pada 2 Tim 1:5 , Rasul Paulus mengatakan kepada salah satu anak rohaninya (Timotius), “Aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”

Rumah yang Kokoh dan Rumah yang Kropos
               
Dalam Matius 7:24-25 Tuhan Yesus mengatakan "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” Perumpamaan tentang rumah yang didirikan di atas batu karang yang kokoh atau di atas pasir merupakan catatan terakhir sewaktu Tuhan Yesus mau mengakhiri seluruh rangkaian khotbahNya di bukit (Matius 5-7). Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan tentang rumah. Dalam hal ini, Alkitab dengan sederhana menceritakan keseharian dalam hidup kepada pembaca. Jadi ada bagian Alkitab yang sulit dan ada juga yang mudah, namun membaca Alkitab merupakan sesuatu yang berguna. Di perumpamaan ini diungkapkan ada 2 rumah yang sama tipe, ukuran, bentuk dan warnanya. Sepintas lalu secara kasat mata kedua rumah ini seperti tidak ada bedanya. Bisa jadi seluruh tampak luar rumah itu mirip sekali satu dengan yang lainnya sehingga sulit dibedakan. Yang membedakan ternyata bukan terletak pada fisik atau disain bangunannya tetapi pada kemampuan saat menghadapi badai. Itu adalah  inti dari perumpamaan ini. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." Kalau kamu mendengar firman Tuhan (pengajaranKu), tetapi kamu tidak melakukanNya kamu seperti rumah yang didirikan di atas pasir. Saat ada “badai” berupa kesulitan, pergumulan dan tantangan hidup baru ketahuan mana rumah yang kokoh dan mana yang kropos. Rumah yang dibangun di atas pasir merupakan gambaran orang yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya. Rumah ini akan hancur saat ada badai yang datang tiba-tiba. Badai seperti ini pasti datang dan tidak mungkin menghidarinya. Rumah yang kokoh menggambarkan orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya walau terkadang sulit dan seringkali mengalami benturan. Orang seperti itu akan terbukti saat dilanda badai, goncangan dan tantangan hidup, ia tidak akan kalah. Membicarakan hal ini, mengingatkan saya pada sebuah fakta kehidupan sehari-hari.
                Beberapa waktu lalu seorang sahabat berkata kepada saya,“Her, kamu kan sekarang seorang pendeta. Bisa kamu bicara dengan anak saya? Kamu ajarkan dia firman Tuhan agar dia bisa menjadi anak baik. Sekarang ini dia tidak mau ke gereja di tempat saya bergereja. Selama ini saya kasih dia uang dan apa yang dia mau, namun hidupnya tidak karu-karuan. Ia tinggal dengan neneknya, tidak mau tinggal dengan saya. Saya berkata kepadanya tapi tidak mau turut.” Saya menyambutnya,”Coba saja bawa ke gereja saya. Tapi saya tidak menjamin karena saya bukan tukang sulap atau ahli nujum. Saya akan mengajari dia firman Tuhan” Dia pun menyanggupi. Tetapi ternyata anaknya tidak bersedia datang. Hidupnya terus ugal-ugalan. Tiap hari minggu dia gunakan untuk kegiatan yang tidak karu-karuan. Sahabat saya akhirnya berkata,”Tidak usah repot-repot. Saya sudah mencoba , tapi dia tidak mau.” Mendengarnya, saya prihatin. Anaknya memang bermasalah. Anaknya sekarang menjadi duri dalam daging dan membuat sahabat saya pusing. Ia telah memberikan uang kepada anaknya. Ia telah memasukkan ke sekolah yang baik namun anaknya tidak mau bersekolah dengan tekun. Akhirnya hidup sang anak kacau balau. Mendengar kisahnya, saya jadi teringat firman Tuhan Ini. Rumah kokoh yang ibarat generasi muda kokoh adalah generasi yang tidak berdiri dengan sendirinya. Tetapi generasi muda harus dipersiapkan dan diperhatikan dengan baik. Ini perkara yang serius karena zaman ini adalah zaman yang benar-benar membuat orang  muda jauh dari Tuhan. Seluruh daya tarik dunia menjauhkan orang muda dalam mencari Tuhan, karena jauh lebih menarik untuk mencari daya tarik dunia.
                Orang Tionghoa punya pepatah yang terkenal : “Banyak anak banyak rejeki”. Sehingga orang-orang dulu punya banyak anak. Paman saya punya 12 orang anak (jumlahnya seperti sepasukan pemain sepak bola). Papa saya punya 5 orang anak. Ada lagi orang tua yang punya lebih banyak anak. Itu karena menganut filosofi orang Tionghoa. Kalau anak-anaknya ‘jadi’ dan tidak menimbulkan masalah maka orang tuanya enak hidupnya, tetapi kalau berantakan maka hal ini akan menjadi masalah. Dalam mendidik anak yang diprioritaskan (yang menjadi utama) selalu memenuhi kebutuhan sekolah, ini tidak salah. Juga kebutuhan uang. Betul. Tapi jarang orang tua memperhatikan iman dari anaknya. Ini masalah yang mengerikan. Ada banyak keluarga yang memprioritaskan anaknya pada hal-hal  yang mereka anggap penting di masa depan, misal untuk menjadi pintar dan mapan. Sahabat saya telah memberikan semua hal ke anaknya tapi tidak iman, itu yang menjadi masalah. Ini membuat generasi menjadi sulit dan kacau. Seringkali kita berpikir iman jadi terpisah dari fakta hidup. Seharusnya iman tidak terpisah dari kehidupan kita. Contoh nyata pada Markus 4:35-41 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.  Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" Kemelut yang terjadi dalam angin ribut itu sebenarnya kemelut yang bisa dihadapi dengan iman. Berarti iman tidak terpisah dari fakta (kenyataan) hidup. Seringkali kita memisahkan iman sehingga tidak menginvestasikan pada generasi di bawah kita. Setelah anak bermasalah baru mengetahui bahwa iman itu bagian yang penting dan dibutuhkan. Iman adalah bagian yang berjalan bersama-sama dengan kita. Ingat pada kisah Rasul Petrus dengan peminta-minta.
                Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Di sana di pintu gerbang yang disebut "Pintu Indah," ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Setiap hari orang itu dibawa ke sana untuk mengemis kepada orang-orang yang masuk ke Rumah Tuhan.  Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.  Mereka menatap dia dan Petrus berkata: "Lihatlah kepada kami." Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!".  Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. (Kis 3:1-7). Uang yang dibutuhkan pengemis dijawab dengan iman oleh Rasul Petrus. Iman tidak merupakan bagian yang terpisah waktu menghadapi pergumulan dan masalah. Justru dalam  menghadapi pergumulan itulah, iman menjadi dasar dan penopang. Maka dalam ayat Roma 10:17 dikatakan , Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Waktu iman itu timbul , ia akan memimpin orang percaya dalam menghadapi seluruh tantangan hidupnya. Di situ ia bisa bertahan dan keluar menjadi pemenang. Kalau duit bisa jadi pemenang maka kita akan mencarinya mati-matian. Kalau duit bisa memberi jaminan, maka orang kaya tidak akan minum obat tidur. Ada orang yang duitnya banyak tapi tidak bisa tidur. Apa yang tidak bisa dibeli orang kaya? Kalau duit bisa memberi jawaban terhadap pergumulan hidup maka carilah duit mati-matian, karena ia yang bisa menolong. Tetapi ternyata tidak dan hanya iman yang terbukti bisa menolong.
                Generasi yang baik adalah generasi yang diwariskan imannya. Surat Rasul Paulus ke Timotius adalah surat pastoral yang sangat menyentuh hati. Seorang bapa rohani menulis surat ke anak rohani yang sedang menghadapi kesulitan dalam pelayanan di daerah Asia yang banyak berhala. Timotius mengalami kegentaran dan ketakutan. Di tengah ketakutan itulah Paulus menulis surat berbau iman untuk menguatkan Timotius. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. (2 Tim 1:4). 3 generasi bisa mewariskan iman itu bukan main-main. Itu merupakan usaha keras dari keluarga untuk meneruskan iman.
                Saya suka membaca riwayat orang-orang sukses. Saya membaca bahwa generasi pertama sukses. Misal Gudang Garam atau Djarum dan lain-lain. Kejatuhan pada perusahaan besar terjadi bukan pada generasi pertama tetapi di generasi berikutnya. Seringkali hancurnya di generasi kedua atau berikutnya.  Contoh restoran Angke. Generasi pendahulu membuat restoran menjadi terkenal tapi hancur oleh anaknya. Juga pada usaha Roti Kartika di Bandung generasi berikutnya membuat susah. Generasi penerus belum tentu bisa bertahan. Saat membayangkan Lois, Eunike dan Timotius, iman mereka hebat. Saya terpesona bagaimana mereka (3 generasi) bertahan, imannya sungguh nyata dalam pelayanan. Ketiga generasi berkiprah dalam pelayanan Rasul Paulus. Maka Rasul Paulus menyatakan iman Timotius pernah dilihat di neneknya. Ia pernah bersama dengan nenek Timotius. Rasul Paulus pernah pelayanan bersamanya, bagaimana Lois membuktikan imannya dalam pelayanan , pergumulan dan mengatasi kesulitan. Rasul Paulus juga mengenal bagaimana mama Timotius yang luar biasa menurunkan (mewariskan) imannya kepada Timotius. Generasi ini luar biasa karena mewariskan iman sulit sekali. Mewariskan uang (deposito) dan harta benda seperti rumah lebih mudah. Menurunkan iman tidak mudah. Menurunkan iman berarti menurunkan keteladanan hidup kita kepada anak. Kalau tidak konsisten dan tidak menjaga diri kita maka sulit menurunkannya pada anak kita. Kalau anak tidak mau melayani itu mungkin karena anak melihat contoh dari orang tuanya. Itulah yang tidak diwarisi oleh generasi tua kepada generasi muda.
               
Penutup

                Dr. Andar Ismail (Siem Hong An) menulis cerita yang bagus sekali tentang kesaksian hidupnya. Ia adalah seorang penulis 27 buku Seri Selamat yang terkenal dan selalu menjadi best-seller. Setiap buku seri-nya selalu mempunyai 33 cerita. Angka “33” sendiri diambilnya dari usia Tuhan Yesus selama di dunia yakni 33 tahun. Dia seorang dosen di STT Jakarta yang hebat sehingga bila seorang mahasiswa teologi dibimbingnya saat menyusun skripsi, maka mahasiswa tersebut seperti mendapat rejeki. Ia juga seorang pendeta di GKI. Di salah satu bukunya, ia mengisahkan tentang warisan iman yang diterimanya dari orang tuanya. Berikut sebagian kisahnya.
Ibu menanam saya di gereja (istilah menanam ini seperti yang tertera di Maz 92:14 bahwa seorang yang ditanam di Bait Tuhan akan hidup seperti tunas yang kokoh). Pagi-pagi buta saya telah dibangunkan oleh mama padahal saya masih merasa ngantuk dan ingin terus tidur. Mama berkata, “Nak hari ini adalah hari bergereja.” Pagi-pagi dalam cuaca masih dingin , Ibu menyuruh saya mengenakan pakaian yang bagus karena kami akan ke gereja. Itu terjadi saat saya berusia 4 tahun. Itu kenangan saya pertama tentang gereja. Di luar saat pergi gereja, udara dingin Bandung langsung menusuk tulang-tulangku. Sering udara masih berkabut. Bersama 3 kakak perempuan saya berjalan. Gereja kami terletak di Jalan Kebon Jati. Sekolah Minggu diadakan di dalam ruangan-ruangan di bagian belakang gereja. Kami duduk tenggelam di kursi besar mengitari meja panjang yang bertaplak hijau. Di ujung depan meja terdapat beberapa buku. Entah itu buku apa saya juga tidak tahu karena saya belum bisa membaca. Ada juga palu kayu yang berukir. Suasana ruangan di sana kaku dan tegang. Yang menarik ada satu pigura gambar besar Tuhan Yesus yang memegang tongkat besar dengan ujung yang melengkung  (gambar Yesus sebagai gembala). Murid-murid di kelas saya hanya 5 anak , jadi masih banyak kursi yang kosong. Kemudian hari saya baru tahu ruangan di mana saya sekolah minggu adalah ruang konsistori tempat rapat majelis setiap bulannya. Di ruangan itulah saya mendengar cerita tentang Abraham, Daniel, Paulus, Debora dan Tuhan Yesus. Di situlah saya mendengar cerita tentang hal itu dari Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu saya orangnya gemuk, senyumnya lebar dan sikapnya ramah. Saya memanggilnya Om Siu Peng. Ia mengajar dengan penuh semangat. Pernah ia memperagakan sesuatu lalu lengannya terayun ke kepala saya hingga kepala saya kena. Kemudian guru sekolah minggu itu berkata,”Maaf tidak sengaja memukul kepala kamu Hong An”. Dan minggu-minggu depan saya datang seperti biasa. Itulah pengalaman saya bergereja. Setelah saya sekolah di Penabur, sekolah saya tidak jauh dari gereja. DI sana saya juga selalu dibawa untuk bergereja dengan sekolah pada waktu-waktu tertentu.
                Sore hari saya menemani Ibu pergi ke gereja lagi karena Ibu belajar katekisasi. (Jadi Ibunya meneladani imannya melalui Ibunya datang ke gereja belajar Alkitab.  Anak yang usianya 4 tahun tidak tahu apa-apa hanya menemani ibu). Di situ saya belajar mengenal yang namanya gereja. Sore hari Rabu ada ibadah wanita, mama mengajak saya untuk menemaninya. Saya tidak mengerti tapi Ibu mengatakan “Coba” jadi saya hanya duduk (Saya coba membayangkan ibu yang telaten. Seorang ibu yang benar-benar tahu anak yang membutuhkan pertumbuhan iman,  bukan hanya untuk dirinya saja tapi juga anaknya). Saat ayah sakit dan tidak bekerja, maka Ibu benar-benar bekerja banting tulang. Makanan di rumah semakin terbatasi. Bahkan saya menjadi anak yang dimasukkan ke program diakonia. Program dimana gereja membantu jemaat. Hidup itu susah. Hidup itu tidak mudah. Apalagi saat itu zaman Jepang, zaman yang tidak enak. Tetapi Ibu tidak pernah meninggalkan saya untuk pergi ke gereja. Dalam catatan terakhir ia berkata, “Begitulah saya betul-betul tiap hari berada di gereja dari usia 4 tahun hingga 12 tahun.” Gereja menjadi rumah kedua saya. Gereja bukan menjadi tempat asing. Saya besar di gereja. Sepertinya Ibu sedang menerapkan Mazmur 92. Saya seolah-olah ditanam di pelataran  gereja sehingga menjadi tunas yang kokoh. Entah dengan sengaja atau tidak Ibu telah menanam saya di pelataran gereja. Kalau orang bertanya di manakah awal karir saya, saya menjawabnya dipelataran gereja di Kebun Jati, Bandung. Di situ saya merupakan benih kecil waktu ditanam. Di situ saya bertumbuh menjadi anak yang diasuh gereja dalam program diakonia. Dari murid Sekolah Minggu hingga saya menjadi dosen teologia. Dari anak bocah yang tidak bisa baca saya sekarang menjadi penulis buku yang cukup digemari. Generasi seperti itulah yang harus dihasilkan oleh gereja. Generasi itulah yang kita perlu berikan dukungan agar kelak gereja memiliki generasi yang baik.

                Andar Ismail memberi penekanan bahwa generasi muda tidak rugi saat berada di gereja, saat belajar firman dan saat beribadah kepada Tuhan. Karena ia telah memberikan bukti kebenaran iman. Waktu imannya bertumbuh ia menjadi orang yang berguna. Kiranya gereja kita boleh menjadi gereja yang melahirkan generasi yang memiliki iman dalam perjalanannya. Dengan iman itulah ia akan menghadapi badai yang paling sulit , tetapi tetap berdiri dan menjadi saksi hidup. Amin.