Monday, May 27, 2019

PerkataanMu Adalah Perkataan Hidup yang Kekal





Ev. Susana Heng

Yoh 6:60-70
60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
61  Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
62  Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
63  Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
64  Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
65  Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
66  Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
67  Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
68  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
69  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
70  Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."

Perkataan

              Yohanes 6:68-69 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.". Tema hari ini  adalah “PerkataanMu adalah Perkataan Hidup yang Kekal”. Tema ini diambil dari jawaban Simon Petrus kepada Tuhan Yesus yang bertanya kepada kedua belas murid-Nya : "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Pertanyaan ini menyebabkan  Rasul Petrus mengatakan bahwa perkataan Tuhan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal.
Setiap hari kita berkata-kata. Apakah pernah bertekad untuk puasa (tidak) bicara sepanjang hari? Mungkin kalau bertengkar dengan suami maka istri tidak bicara kepada suami saja (masih bicara dengan yang lain). Demikian juga kalau suami sedang kesal dengan istri maka tidak bicara dengan istri minimal selama 2 jam (sebelum suami minta makan). Saya juga bicara begitu banyak setiap hari. Dari perkataan-perkataan yang saya ucapkan tersebut , saya tidak tahu berapa banyak perkataan yang salah. Jadi saya seringkali minta ampun kepada Tuhan. Karena saya berpikir, orang yang banyak bicara pasti banyak salah.
              Perkataan Tuhan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Perkataan kita yang apa? Pernah tidak orang bertengkar atau sakit hati karena perkataan? Perkataan kita adalah perkataan apa? Perkataan yang membuat 2 orang bertengkar, menyakiti hati orang, menggosipkan orang, perkataan yang tidak baik dan itu ada banyak sekali. Tetapi perkataan Tuhan Yesus bukan perkataan yang demikian. Perkataan Tuhan Yesus yang dikatakan oleh Rasul Petrus adalah perkataan hidup yang kekal. Kita tahu di antara murid-murid Tuhan Yesus, Rasul Petrus yang paling cepat bereaksi.

Perkataan Hidup yang Kekal

              Sewaktu Tuhan Yesus berkata, maka Rasul Petrus yang langsung berkata ,”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” padahal ada murid-murid yang lain. Mengapa Petrus mengatakan perkataan ini? Di dalam konteksnya, mengapa sampai Tuhan Yesus bertanya kepada ke dua belas muridNya yang dijawab langsung dijawab Rasul Petrus secara spontan? Kalau kita di pesta dan kita bicara dengan seseorang, tentu ada kejadian atau konteks mengapa mengatakan sesuatu hal. Apakah kita kesal bila kita mengatakan tentang seseorang lalu perkataan tersebut langsung dikutip dan disampaikan (dilapor) kepada orang tersebut agar kita bertengkar. Misalnya : Waktu di pesta ada yang berkata, “Iya-ya, hari ini roknya kependekan”. Orang itu lalu tidak melihat konteksnya menyampaikan bahwa  menurut cuang dao itu , kamu memakai rok terlalu pendek setiap hari. Orang itu menjadi kesal dan marah. Padahal itu konteksnya pembicaraan di pesta. Sehingga saya mengajak untuk melihat konteks dari peristiwa mengapa Petrus mengatakan hal itu. Mengapa Petrus mengucapkan perkataan itu? Sewaktu membaca Alkitab, kita tidak boleh mengutip (ambil) satu ayat saja secara sembarangan, karena di dalam Alkitab pun ada perkataan Iblis. Contoh di kitab Ayub,iblis datang ke hadirat Tuhan dan menuduh Tuhan  sewaktu iblis ingin menggoda Ayub. Jadi kita harus tahu konteks ayat yang dikutip (jangan sembarangan mengutip ayat tanpa mengetahui latar belakang-nya). Di nats Alkitab yang kita baca (Yohanes 6), latar belakangnya terjadi di Kapernaum sewaktu Tuhan Yesus mengajar di rumah  ibadah. Setelah mendengar perkataan Yesus, murid-muridNya menanggapi dengan berkata bahwa perkataan Tuhan Yesus keras ,siapa yang sanggup mendengarkannya. Murid-murid itu bersungut-sungut dan kemudian banyak yang mengundurkan diri dan meninggalkan Tuhan Yesus (Yoh 6:66).
              Setelah kejadian di mana banyak murid-murid mengundurkan diri meninggalkan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus bertanya kepada 12 orang murid-Nya, ”Apakah kamu tidak mau  pergi juga?” (karena sudah banyak orang meninggalkan Tuhan Yesus). Tetapi pada saat itu juga Rasul Petrus dengan cepat langsung menjawab,”Tuhan kepada siapa kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal.” Pada mulanya banyak orang mengikuti Tuhan Yesus. Mereka berbondong-bondong mengikuti Tuhan. Tetapi kemudian waktu mendengar perkataan Tuhan Yesus, mereka mengatakan bahwa perkataan Tuhan Yesus terlalu keras. Kemudian mereka meninggalkan Tuhan Yesus. Sehingga Yesus bertanya kepada murid-muridNya,”Apakah kamu juga akan pergi?” Dan Petrus mengatakan,”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal”. Kemudian dilanjutkan dengan ayat yang di bawahnya. Mengapa perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal? Petrus mengatakan, “Karena Engkau adalah Allah”. Petrus mengatakan bahwa ia percaya  walaupun  saat itu Petrus tidak tahu  apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Ia tidak terlalu mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus saat itu tetapi ia percaya. Seringkali kita juga tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hidup kita, seringkali kita juga tidak mengerti firman Tuhan dibandingkan dengan apa yang terjadi di depan kita. Tetapi dalam hati sewaktu kita tidak mengerti,”Percayalah!” Mengapa? Karena Allah adalah Allah yang mengasihi kita. Ia pasti akan memberikan yang baik. Jadi dikatakan, “Percayalah!”. Seperti Rasul Petrus berkata,”karena Engkau adalah Allah”. Tetapi banyak orang yang meninggalkan Tuhan.
              Bandingkan sewaktu orang banyak diberi makan oleh Tuhan Yesus, apa yang terjadi? (Pada Yoh 6:1-15 Yesus memberi makan 5.000 orang). Saat itu orang banyak melihat mujizat. Mereka diberi makan roti dari 5 roti dan 2 ikan. Begitu banyak orang, tetapi roti dan ikan yang tersisa masih banyak. Yoh 6:11  Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yoh 6:14-15  Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.". Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. Ketika Tuhan Yesus memberikan makanan, roti , mereka ingin  menjadikan Tuhan Yesus sebagai raja. Bandingkan dengan  Yohanes 6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Bagian depan semua orang mengikut Yesus, mereka mencari Tuhan Yesus. Mengapa mencari Tuhan Yesus? Karena mereka diberi makan dan mereka kenyang. Karena mereka disembuhkan dari penyakitnya, mereka melihat mujizat Tuhan. Tetapi sewaktu mereka mengikuti Tuhan Yesus, melihat mujizat Tuhan , mereka terus mengikut Yesus hendak menjadikan Yesus sebagai raja. Kemudian Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran kepada mereka. Tetapi bagian belakang dari Yoh 6:66, apa yang terjadi? Mereka meninggalkan Tuhan Yesus! Kedua bagian ini kontras. Satu bagian orang mengejar hendak menjadikan Dia sebagai raja , bukan karena mereka percaya tetapi mereka sudah kenyang. Tetapi ketika Tuhan Yesus mengajar kebenaran kepada mereka. Mereka mengatakan apa? “Ini terlalu keras.”

Bagaimanakah dengan kita?

-        Apakah kita orang  yang mengikut Tuhan karena roti (sudah kenyang)? Ataukah kita mengikut Tuhan walaupun Perkataan  (rhema) itu keras?

Ada gereja tertentu yang mengadakan KKR kesembuhan. Saya tidak mengatakan hal tersebut tidak bagus, melainkan hal itu bagus sekali. Banyak orang disembuhkan. Tetapi kemudian waktu Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran dan mengizinkan sesuatu terjadi , banyak kemudian yang meninggalkan Tuhan. Jadi mereka ikut Tuhan karena mereka “roti”. Percayakah mereka kepada Tuhan Yesus dan perkataanNya-kah atau karena mereka sudah kenyang dan melihat mujizat? Yang mereka mau adalah mujizat Tuhan. Apa yang memenuhi kebutuhan jasmaninya, bukan Yesus sebagai Tuhan!
Saat ini dunia menawarkan yang enak-enak. Mengapa kalau ditawarkan hal begitu, jemaat akan banyak? Banyak orang akan datang. Mereka akan berbondong-bondong datang untuk mencari Tuhan. Tetapi saat perkataan Tuhan yang hidup itu dinyatakan, banyak orang mengatakan “hal itu susah”. Tidak aneh ada yang meninggalkan Tuhan.

-        Kalau mengikut Tuhan karena roti, maka ketika menghadapi kesulitan, kita akan mudah meninggalkan Tuhan.

Hal ini bisa kita lihat di dalam satu pasal (Yohanes 6), kalau kita bandingkan bagian depan dan belakang-nya. Depan ikut Tuhan karena mereka kenyang, dan di bagian belakang mereka meninggalkan Tuhan Yesus karena perkataanNya  sangat keras. Sehingga kita bisa melihat bahwa banyak orang mengikut Tuhan karena melihat atau mendapat mujizat. Kalau saya mendapat mujizat Tuhan, saya akan senang sekali. Saat susah, saya menangis dan berdoa terus. Semua kalau boleh minta kepada Tuhan, maka mintanya adalah berkat Tuhan yang berkelimpahan. Tidak ada yang meminta agar percobaan datang dan bersusah-susah. Saya dari dulu sampai sekarang mintanya adalah agar Tuhan memberkati. Semua orang suka berkat termasuk saya. Berkat Tuhan, perkataan yang enak, mujizat Tuhan (begitu sakit tinggal berdoa dalam nama Tuhan Yesus maka penyakit hilang dan tidak perlu ke dokter.”) saya juga mau. Tetapi kalau ikut Tuhan hanya dengan motivasi seperti itu, maka celakalah! Maka sewaktu  doa tidak dijawab lalu dia akan meninggalkan Tuhan. Namun saya bersyukur karena Alkitab berkata,”Perkataanmu adalah perkataan hidup yang keras”.
Kalau dilihat dalam bahasa Yunani maka untuk “perkataan” digunakan kata rhema (pernyataan atau  perkataan Tuhan). Kata rhema ini ada juga ditulis di dalam Matius 4:4. Waktu itu Tuhan Yesus dicobai di padang gurun. Setelah berpuasa 40 hari 40 malam tidak makan tentu Dia lapar. Iblis tahu Tuhan Yesus lapar dan dia berkata,”Jikalau Engkau Anak Allah maka suruhlah batu ini menjadi roti” Apakah Tuhan Yesus perlu mengubah roti menjadi batu sehingga Dia  baru menjadi anak Allah? Dia adalah Anak Allah, tidak perlu mengubah batu menjadi roti terlebih dahulu. Tidak perlu mujizat apa pun karena dia adalah Anak Allah. Sehingga apa jawab Tuhan Yesus? Tuhan Yesus menjawab,”Ada tertulis , manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (=rhema). Di dalam Yohanes 6:68 perkataan Yesus itu adalah rhema yaitu perkataan dari Allah. Sehingga kalau kita lihat pengajaran Tuhan Yesus mengenai roti hidup dan orang dikenyangkan karena roti jasmani, sekarang kita melihat urutannya. Saya ingin kita melihat urutannya. Bahwa Tuhan Yesus tidak ingin kita kenyang karena roti saja, tetapi Tuhan Yesus mau kita dikenyangkan oleh firman Tuhan. Karena firman Tuhan aalah makanan bagi kerohanian kita. Itu sebabnya hingga Petrus mengatakan, “Itu adalah perkataan Tuhan yang hidup”. Itu yang memberikan hidup yang kekal.

PerkataanMu / Rhema

Perkataan (rhema/yun) ; apa  yang diucapkan, pernyataan , perkataan Tuhan Yesus. Mat 4:4, Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman(rhema) yang keluar dari mulut Allah." Dari sini kita melihat, kedua bagian ini memakai kata rhema. Yoh 6:68  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kalau makanan jasmani membuat kenyang untuk beberapa jam, maka firman Tuhan setiap hari akan mengenyangkan. Itu sebabnya Tuhan mengajar kita untuk belajar firman Tuhan, untuk belajar dari apa yang Dia ajarkan itu. Banyak orang belum belajar firman Tuhan, malah mereka sudah meninggalkan Tuhan. Saya tidak tahu kalau PA di gereja diikuti berapa orang. Jemaat GKKK Mabes ada 200 orang. Ada yang membawakan Firman untuk menyelidiki Alkitab karena Alkitab susah lalu memberi PR di rumah. Yang ikut ada pada bulan pertama 75 orang, itu hebat sekali. Bulan kedua 50 dan terus menurun. Mengapa sedikit? Belajar firman Tuhan jenuh tidak? Siapa yang baca Alkitab kalau kebanyakan apalagi sampai kitab Bilangan mau tidur? Kadang Firman Tuhan membosankan atau menarik seperti saat membaca buku Narnia? Terkadang Narnia lebih dibaca dibanding kitab Bilangan. Itu sebabnya banyak yang meninggalkan Tuhan. Tetapi Tuhan mengajarkan, “Perkataan Tuhan adalah perkataan yang hidup”. Maz. 119:105  Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Kalau tidak ada perkataan yaitu perkataan hidup yang kekal, maka kita akan tersesat. Itu sebabnya kita belajar firman Tuhan. Kalau kita mengatakan kita percaya Tuhan, maka kita harus belajar dari perkataan Tuhan. Perkataan yang  memberi hidup yang kekal. Bukan perkataan tiap hari gossip tetapi perkataan dari firman Tuhan. Sehingga di sini kita melihat , kenyataan yang terjadi saat ini. Sewaktu Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran dari perkataanNya, banyak orang yang meninggalkan Tuhan. Ternyata firman Tuhan itu bukan saja untuk dihapal. Hapal saja susah apalagi dilakukan. Firman Tuhan kalau hidup maka harus dilakukan dalam hidup kita. Sebagian besar Alkitab mengajar kita bahwa Allah kita adalah Allah kudus sehingga kita juga hidup kudus. Alkitab mengajar kita menjaga kekudusan.
              Saya pernah ikut tour  belasan tahun yang lalu. Pada tour itu yang ikut pesertanya seumuran. Dari Pontianak pada malam hari kita naik bus ke Kuching. Busnya bisa tidur punya. Sampai di Kuching, dijemput oleh tour guide dari Malaysia. Di sana tour guide omong-omong  yang porno dan jorok. Mendengarnya telinga kita tidak enak. Tetapi kita terlalu sopan duduk baik-baik sengaja tidak mau melihatnya agar ia tahu kita tidak mendengar.  Tetapi dia tidak tahu. Bukan saja saya yang tidak melihatnya. Setiap orang tidak mau lihat. Itu tanda omonganmu tidak kita dengar. Akhirnya tour leader langsung berdiri dan bicara ke tour guide. Dia berkata,”Boleh tidak saya minta kamu tidak bicara hal-hal yang seperti itu? Karena kami semua tidak suka” Puji Tuhan ada satu orang yang bicara, kalau tidak kita harus menahan diri untuk tidak menegur dia. Yang terjadi adalah fenomenanya. Mereka menganggap tidak apa-apa. Orang senang menyerempet hal-hal porno sedikit, semua orang mendengar tertawa supaya tidak ngantuk. Mereka menganggap hal yang melanggar kesucian itu sebagai hiburan. Betul tidak? Terkadang kita menjadi bingung. Sedangkan saya orangnya tidak terlalu malu untuk tampil beda. Prinsip saya : kamu tidak usah mengucilkan saya karena saya sangat PD menarik diri.
              Saya punya teman-tema SMA di Medan. Suatu kali saya pulang Medanuntuk reuni. Setelah reuni biasanya dilanjutkan dengan pergi nyanyi-nyanyi di karaoke. Kalau sudah sampai jam tertentu saya sudah harus pulang tidur dan tidak bisa keluar. Biar tidak tidur pun, di tempat tidur saya akan berbaring. Saya tidak bisa pulang malam. Setelah makan malam pk 21, mereka mau lanjut, saya minta diantar pulang. Mereka sudah tahu dan mengantar saya pulang. Besoknya dia bercerita, “Untung kamu tidak ikut. Mereka minum-minum dan berdansa di atas meja sampai pk 12 malam.” Mereka menganggap itu sebagai suatu hiburan. Minum-minum dan dansa-dansi. Mau hidupkan firman Tuhan? Apa yang terbaik yang kita lakukan.
              Apa yang dibaca dilakukan sehingga firman itu adalah firman yang hidup dan memberi hidup yang kekal? Sehingga bukan saya mendengar firman Tuhan lalu menutup Alkitab dan selesai. Itu sebabnya banyak yang meninggalkan Tuhan karena tidak menjalankan firman Tuhan dalam kehidupannya. Jangan anggap dosa itu hal yang biasa. Kalau firman Tuhan katakan hal itu dosa , maka kita juga katakan hal itu dosa.
              Beberapa waktu lalu, saya membaca ada berita tentang K-Pop dari Korea. Banyak anak muda yang suka K-Pop (artis korea yang nyanyi). Anak muda suka sekali. Tahu-tahu saya baca mereka tertangkap. Idola yang gagah dan ganteng, pakai jas dan muka cakap seperti baby-face tidak tahunya menyewa PSK, dan melakukan ini-itu yang diperkenan Allah. Mukanya baby face mengapa hati kayak iblis? Orang yang ganteng dan cantik ternyata  akhirnya banyak ditangkap bahkan ada yang bunuh diri karena tidak tahan diperalat. Ini kemudian menjadi sesuatu yang menggoncangkan Korea karena figure image yang selama ini dianggap bagus ternyata melakukan hal yang kotor. Banyak orang menganggap dosa sebagai tidak apa-apa (hanya hiburan saja). Karena kalau tidak, mereka merasa bosan. Hidup seperti orang tua dianggap tidak ada menariknya. Bagi mereka “yang begini dong yang menarik”. Ternyata bagi kita yang Kristen yang lebih menarik itu katanya dosa. Firman Tuhan menuntut kita dengan jelas. Sehingga kita harus berdasarkan rhema berani berkata tidak kepada dosa. Berani katakan tidak sewaktu ada yang mengajak ke tempat yang tidak benar. Walaupun kita akan merasa, kita dikatakan sebagai orang kurang gaul. Kalau saya dari dulu , PD saja tidak berteman karena tidak mau sampai malam ke tempat yang gelap lampunya karena tidak tahan. Di sana hati saya tidak damai. Jadi tidak usah kucilkan saya, karena saya akan menarik diri terlebih dahulu.
              Rasul Petrus mengatakan, “PerkataanMu adalah perkataan hidup”. Bukan berarti dia mengerti seluruh rhema itu karena dilanjutkan dengan perkataan,”Karena saya percaya engkau adalah Allah”. Mungkin banyak hal yang tidak semua bisa kita mengerti. Tetapi kita percaya kepada Tuhan Yesus yang mati menebus dosa. Bukan percaya karena sudah mendapat berkat atau melihat mujizat. Karena kalau hanya itu saja, kita akan meninggalkan Yesus suatu kali. Apakah kita telah percaya perkataan hidup yang kekal? Walau bukan berarti mengerti semuanya. Banyak yang masih tidak kita mengerti.  Percayakah kepada Tuhan Yesus? PerkataanNya ya dan amin? Beranikah kita melakukan firmanNya dalam hidup kita? Berani kita mengatakan tidak terhadap dosa?



Friday, May 17, 2019

Manusia Tidak Hidup dari Roti Saja

Pdt. Imanuel Adam

Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Yohanes 1:14  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yang Membuat Kita Hidup adalah Firman Tuhan

              Matius 4:4 Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Ucapan Yesus ini diucapkan saat Yesus sedang dicobai oleh Iblis. Dalam hidup ini banyak percobaan yang kita alami, banyak persoalan yang kita hadapi. Itu sebabnya seringkali kita mengeluh, kecewa, patah arang, merasa tertekan, tidak punya kekuatan apapun saat menghadapi persoalan-persoalan. Ketika itu Iblis mencoba mengarahkan pikiran dan perasaan Yesus pada apa yang Dia alami saat Yesus sedang puasa. Matius 4:3  Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Saat itu Yesus diperhadapkan dengan hal-hal duniawi : tanpa roti kita tidak kenyang, tanpa minum akan kehausan, namun Yesus ingin mengatakan hidup manusia bukan dari roti saja. Jadi menghadapi godaan dan arahan iblis, Yesus melawan iblis dengan firman Tuhan, "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Jadi saat menghadapi percobaan, pergumulan, tekanan hidup, maka dijawab dengan firman Tuhan!
Kalau setiap hari kita menonton acara TV tentang kawin-cerai, maka apa yang akan ada di benak kita? Kawin cerai! Kalau setiap hari hati dan pikiran diterangi oleh firman Tuhan, maka di hati kita akan diterangi oleh firman Tuhan. Karena hidup kita digerakkan oleh apa yang dipikirkan dan dirasakan. Jadi ketika mengatakan “aku bodoh” maka jadilah kita bodoh. Ketika mengatakan “kekecewaan mulai masuk dalam hidupku” maka jadilah kekecewaan masuk dalam hidup. Kalau mengatakan “tidak bisa” maka kita benar-benar tidak akan bisa. Saat menghadapi setiap persoalan, pergumulan  dan tekanan hidup harus dijawab dengan firman Tuhan. Maka Yesus mengatakan manusia hidup bukan dari roti saja. Makanan, minuman, pakaian , harta tidak bisa menjadikan kita hidup dan menikmati hidup. Itu hanya sebagian kecil saja, yang membuat kita bisa hidup adalah firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah Yesus

              Yohanes 1:14  Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.  Firman itu adalah Yesus yang mau hidup, bekerja dan menopang kehidupan kita. Kalau kita hidup tapi tidak bisa menjalaninya dengan baik maka untuk apa hidup kalau tidak bisa bersukacita? Untuk apa hidup kalau tidak punya damai sejahtera dalam hidup ini? Yesus mengatakan, “Aku datang untuk memberikan kepadamu damai sejahtera, sukacita hidup. Damai sejahtera yang Kuberikan kepadamu beda dengan yang disiapkan manusia kepadamu, karena damai Allah adalah kekal”.

Saat Tuhan menciptakan alam semesta dan ketika Tuhan menciptakan manusia, apa bedanya? Ada 2 hal :

1.     Saat menciptakan alam semesta Tuhan mengatakan, “Baik”. Tetapi saat menciptakan manusia, Tuhan mengatakan sungguh amat baik. Jadi dengan ungkapan “sungguh amat baik” sudah final, luar biasa, tidak perlu ditambahkan lagi apa-apa. Itu sebabnya Nabi Yesaya menulis , “Di mata Tuhan manusia sungguh berharga dan mulia.” Artinya  kita adalah ciptaan Tuhan yang spesial dan khusus . Tuhan tidak mau membuang ciptaanNya yang sangat spesial (khusus).

2.     Ketika menciptakan alam semesta , Tuhan hanya berfirman,”Jadilah terang” lalu terang pun jadi. “Jadilah cakrawala” maka cakrawala jadi. Tetapi saat menciptakan manusia , Tuhan membuat gambar terlebih dahulu. Seperti saat membuat rumah dibuat gambar dahulu (mana ruang tamu, kamar mandi, dapur, ruang tidur. Dapur ada dapur bersih dan dapur kotor dan sebagainya). Jadi dipikirkan semuanya (dipikirkan sedemikian rupa) karena kita mau tinggal di sana. Jadi ketika Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran dan rancanganNya karena Dia mau tinggal di situ. Dia mau tinggal bersama kita. Tuhan mau berjalan bersama – sama kita, mau bergumul bersama kita. Itu sebabnya Tuhan sangat kecewa ketika manusia membiarkan hidupnya dikendalikan oleh dosa. Berkali-kali Tuhan berupaya melalui orang-orang yang mencintai Tuhan (para nabiNya) mengarahkan manusia untuk kembali lagi kepada Tuhan tetapi tidak bisa. Akhirnya Tuhan sendiri harus datang ke tengah-tengah dunia ini dalam diri Yesus. Yesus mengingatkan kembali manusia adalah ciptaan Tuhan. Yoh 15:4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Kerinduan Tuhan adalah tinggal bersama kita, berjalan bersama kita. Itu sebabnya Tuhan yang begitu kudus, suci, besar , tidak bisa tinggal dengan orang yang berdosa. Tuhan mengubah manusia berdosa menjadi benar di hadapanNya.
Itu sebabnya, ketika saya merenungkan firman Tuhan, “saya benar-benar ciptaan yang luar bisa, sangat diperhatikan dan dipedulikan oleh Tuhan, ke mana saya berada Tuhan ada di sana. Dalam persoalan apa pun yang saya hadapi Tuhan ada di situ. Allah kita luar biasa! Itu sebabnya kalau kita mau tinggal bersama dengan Tuhan, berarti kita harus sepakat dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Kalau kita mengatakan, “Aku mau menjadi pengikut Tuhan” maka kita harus sepakat dengan rencana, pikiran, rancangan besar Tuhan dalam hidup kita di dunia ini. Sepakat artinya kita siap menyerap pikiran dan perasaan Tuhan melalui firmanNya dalam hidup saya. Bagaimana cara sepakatnya? Sepakat di sini berarti siap meninggalkan kebenaran sendiri dan mulai menggantikan dengan kebenaran Tuhan. Ini tidak mudah.

Kebenaran Tuhan, bukan kebenaran sendiri

Ada seorang opa , umurnya sudah hampir 70 tahun. Ia sedang berpikir menghadapi istrinya yang sudah mulai tuli (susah mendengar). Sang Opa pun mencari caranya di google. Di situ diajarkan,”Ada caranya. Dalam jarak 10 meter pangggil istrimu. Kalau tidak menjawab, berarti istrimu ada masalah dengan pendengarannya. Lalu maju lagi 2 m dan panggil lagi. Kalau tidak mendengar juga berarti memang dia sudah di area budeg. Lalu maju lagi 2 meter  dan panggil lagi, kalau tidak mendengar juga, berarti ia benar-benar sudah tuli.” Sang Opa pun mempraktekkan petunjuk itu. Dia pun memanggil istrinya, “Mi, masak apa hari ini?” namun istrinya tidak menjawab. Sehingga Sang Opa berkata, “Wah benar, istri saya punya masalah dengan pendengarannya” lalu ia maju 2 meter lalu dan bertanya ,”Mi, masak apa hari ini?” namun istrinya diam saja. Wah sudah budeg istrinya. Lalu ia maju kembali 2 meter dan bertanya lagi, “Mi, masak apa hari ini?” Sang istri pun menjawab,”Dari tadi saya sudah menjawab,’Masak sayur asem!’” Jadi sebenarnya siapa yang budeg? Kadangkala kita tidak pernah merasa diri kita bermasalah.
Kita hidup dalam kebenaran sendiri. Setelah merasa benar, kita merasa tidak perlu lagi mendengar orang lain. Tuhan Yesus mengatakan,”Aku ingin agar ciptaanKu hidup dan menikmati (menjalani) hidup” sehingga Dia mengatakan : "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh 14:6). Ada 3 hal : harus di jalan Tuhan, mulai mencari kebenaran Tuhan (bagi Tuhan, tidak ada yang benar di dunia ini, baru kita bisa menikmati hidup). Banyak orang yang sudah di jalan Tuhan, tetapi hidupnya tidak benar, makanya dia tidak bisa hidup.
         Saya dan istri suka berjalan pagi di taman dan ada taman favorit kami. Karena sudah rutin berjalan di taman itu, maka suatu hari kami pindah taman agar tidak menjadi bosan. Di sana sudah ada tanda panah petunjuk (diarahkan searah jarum jam). Ketika kami sedang berjalan berdua di taman, lalu masuk sepasang suami-istri yang kemudian berjalan berlawanan dengan arah jalan kami. Kami berpikir,”Orang ini tidak mengerti tanda panah”. Seharusnya mereka berjalan searah dengan jarum jam sesuai dengan petunjuk. Lalu masuk lagi serombongan lain yang juga berjalan berlawanan arah. Demikian juga dengan rombongan yang lain. Akhirnya saya berkata ke istri saya, “Mari kita balik, salah arahnya!”. Istri saya membantah dan mengatakan bahwa arahnya sudah benar.
Terkadang ada banyak hal yang kita dengar dan lihat yang membawa kebenarannya, sehingga ketika berjalan dengan firman Tuhan seperti tidak benar. Itu yang dimaksud dengan godaan. Bagaimana menghadapi situasi seperti itu? Maka belajarlah untuk sepikiran dengan Tuhan. Berikan waktu untuk firman itu hadir di hati dan pikiran kita lalu jalanilah! Menjalani kehidupan dalam firman berarti kita sedang belajar untuk mengalami dahsyatnya firman Tuhan dalam kehidupan kita. Firman yang keluar dari mulut Allah tidak akan kembali kepada Allah dengan  sia-sia. Ketika kita mengimani, mengamini dan menjalani, maka firman itu akan berkerja dan ketika firman itu bekerja maka Ia akan berhasil. Masalahnya kita sering merasa tidak sabaran (ingin cepat berhasil). Diimani tidak firman itu? Dijalani tidak firman itu?
         Dua tahun lalu anak saya yang besar (laki-laki bernama Theo) berkata “Pi, saya sudah siap menikah” Saya bertanya, “Memang kenapa?” Dia menjawab,”Saya teringat pesan papi, Mrk 10:7  sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya” Saya menjawab agar dia benar-benar merenungkan firman tersebut. 4 hari kemudian ia datang lagi dan berkata,”Saya sudah mengerti benar firman Tuhan ini. Hanya, setelah menikah saya tinggal di sini dulu selama 10 tahun saja”. Saya berkata, “Ko, kalau belum siap jangan menikah!” “Lho kapan siapnya Pi?” responsnya. Buat dia makna perkataan “siap” berbeda, Buat anak saya , siap itu siap tempat tinggal , pekerjaan dan lain-lain. Untuk saya, siap adalah siap untuk berjalan dengan Tuhan. Dia bertanya,”Pi, kan tidak apa-apa. Saya kan anak papi, bisa tidak saya tinggal di sini selama 10 tahun?” Saya timbul rasa kasihan kepadanya. Saya terjebak dengan rasa kasihan. Akhirnya saya berkata,”Iya deh. Nanti papi tanya dulu ke mami”. Saat bertemu istri, saya berkata,”Mi, Koko mau menikah”. “Oh aku sudah tahu” jawab istri saya. “Hanya  tadi dia bilang mau tinggal dengan kita selama 10 tahun dulu. Sudahlah Mi, kasihan. Ini anak kita juga. Biar dia bisa kumpul-kumpul dahulu.” Istri saya kemudian memandangi saya terus. “Saya jadi heran dengan Papi. Papi itu pendeta bukan?” “Pendeta!” jawab saya kaget. “Kenapa Papi tidak pegang mulut Papi. Di mimbar berkata, ‘laki-laki meninggalkan orang tuanya’. Sekarang anak sendiri dipegangi?” Saya menjawab,”Apa salahnya? Saya mencari pembenaran-pembenaran.  Tuhan juga mengerti anak ini belum bisa apa-apa, sedang mempersiapkan segala hal untuk masa depannya. Tuhan juga mengerti…”. Saya mencari pembenaran diri saya. Kemudian berbulan-bulan saya bergumul dengan diri saya. Akhirnya suatu malam, setelah selesai berdoa, saya merenung. Sepertinya Tuhan saat itu mengingatkan saya, “Immanuel , waktu kamu menikah, kamu bawa apa?” “Tidak bawa apa-apa, Tuhan”, jawab saya. “Kok kamu bisa lewatkan hari-hari kamu? Tidak kekurangan makanan, minuman , pakaian. Aku percayakan kepadamu 2 orang anak . Kamu bisa sekolahkan, les-kan, berikan sarana kepada mereka sehingga bisa bertumbuh, hingga mereka bisa sekolah dari SD, SMP, SMA dan kuliah dan sekarang sudah bekerja. Siapa yang buka jalan?” “Tuhan!” jawab saya. Sepertinya Tuhan mengingatkan, “Immanuel sama seperti Aku berjalan dengan kamu selama ini, sekarang ijinkan anakmu berjalan bersama dengan saya. Jangan kamu pegangi terus! Mengapa?”  Karena saya mengukur segala hal dengan kebenaran-kebenaran saya : ini anak belum siap. Ini anak belum begini-begitu. Semua itu menurut pikiran saya, menurut kebenaran saya. Di mana bagian Tuhan dalam kehidupan anak saya? Di situlah saya seperti digampar oleh Tuhan sehingga saya berkata, “Ampuni saya Tuhan. Aku tidak memberikan tempat bagi Tuhan untuk bekerja di tengah-tengah kehidupan anak”.
Begitu si Koko datang lagi dan bertanya,”Jadi bagaimana Pi? Sudah bicara dengan mami?” Jadi saya berkata, “Firman Tuhan dari dahulu , sekarang sampai selama-lamanya tidak pernah berubah. Laki-laki harus meninggalkan orang tuanya dan bersatu dengan istrinya.” Adiknya yang perempuan tertawa dan berkata,”Syukur saya tidak menjadi laki-laki”. Istri saya merespon,”Oh.. Kamu juga sama, Agatha. Kamu juga harus dibawa keluar rumah ini oleh suami kamu, berjalan bersama Tuhan.” Bagaimana Tuhan memenuhi janjiNya kepada kita? Kalau kita membiarkan hidup kita dikendalikan oleh ketakutan , kekhawatiran dan kebenaran kita? Bagaimana firman Tuhan bisa berkuasa dan kita mengalami pekerjaan-pekerjaan Tuhan dalam kita , ketika kita membiarkan hidup kita dikendalikan oleh pikiran kita? Itu sebabnya firman Tuhan berkata, “Kita hanya bisa hidup karena firman Tuhan yang dibiarkan hidup dan bertumbuh dalam hidup kita, yang mengongtrol , mulai mengarahkan hidup kita pada kebenaran. Tidak mudah, tetapi harus siap. Begitu keluar dari ruangan ini, “Tuhan aku siap untuk hidup dalam kebenaraMu.” maka kita akan hidup. “Akulah jalan, kebenaran dan hidup

Firman Tuhan menjadi cahaya

Firman Tuhan ingin mengajarkan hal ini. Mazmur 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Kalau dikatakan terang (cahaya) itu berarti kita sedang berada di dalam situasi yang benar. Tidak ragu-ragu, tidak ada yang abu-abu dalam hidup kita. Tidak lagi kita berkata, “mustahil”. Mengapa? Terang itu berarti jelas. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah terang dunia. Barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berada dalam kegelapan, melainkan dalam dirinya ada terang itu”. Ini agak sedikit berlawanan dengan hukum bahasa Indonesia yang pengertiannya, “Akulah terang dunia. Barang siapa mengikut aku, maka dalam perjalanan hidup dia, akan merasakan terang.” Karena terangnya berada di depan dan kita mengalami terang itu. Namun Yesus mengatakan berbeda, “Barang siapa mengikut Aku” berarti Yesus tinggal dalam diri orang itu” sehingga dikatakan oleh Yesus, “Di dalam hidupnya ada terang itu”. Jadi ketika firman Tuhan diserap dan dijalani dalam hidup kita, firman itu diamini, maka firman itu sendiri memberi terang dan kejelasan kepada kita sehingga kita bisa membedakan mana kehendak Tuhan yang baik dan benar. Menurut Tuhan , bukan menurut saya. Dunia mengajarkan yang relatif.
              Siapa yang paling cantik di ruangan ini? Yang duduk bersama istri, tidak ada pilihan lain. Dikatakan, relatif. Dunia mengajarkan hal itu.  Di Jakarta, sayur asem mana yang paling  enak? Relatif. Kopi mana yang paling enak? Relatif! Dunia mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar benar.  Semuanya relatif. Firman Tuhan mengajarkan tidak, “Hanya satu yang benar yaitu Yesus.” Firman yang menerangi hati dan pikiran kita yang bisa membedakan mana yang benar dan baik. Terkadang kita tidak bisa mengatakan begitu. Misalnya :mengapa firman Tuhan mengajarkan “hormatilah orang tuamu”?.
Suatu ketika, anak saya membawa teman wanitanya bertemu kami dan saat itu istri saya berkata, “Ko, sepertinya mami kurang sreg”. Dia berespon,”Wah, mami baru saja ketemu , sekarang sudah berkata tidak sreg. Apa dasarnya?. Ini sih kebenaran mami sendiri”. Istri saya menjawab,”Kamu dengan dia sepertinya banyak persoalan. Bukan menghakimi”. Theo bertanya,”Apa dasarnya?” “Tidak mengerti juga sih Ko. Hanya perasaan mami, hanya perasaan mami kurang begitu sreg. Akhirnya anak kami berkata,”Iya Mi. Saya dengarkan apa yang mami mau” Akhirnya selesai dan tidak jadi. Setelah setahun jadi jomblo, anak saya berkata,”tuh kan, gara-gara mami tidak jadi terus!”  Namun suatu ketika , istri saya mengatakan,”Ya sudahlah , Mami tidak mau mengecewakan kamu. Tapi pada dasarnya sebenarnya Mami kurang sreg.” Namun suatu ketika, ia membawa seorang temannya lagi. Theo berkata,”Bagaimana mi? Ini kan anak Tuhan, dia jadi worship leader di gereja. Dia jadi ketua komisi, pelayanannya luar biasa,Mi. Ini cocok untuk mantu pendeta. Apalagi orang tuanya pengurus gereja yang begini… (segala macam).” Istri saya menjawab,”Ya sudah terserah. Mami tidak mau kecewakan kamu lagi. Kalau memang itu pilihanmu. Mami pernah dengar dari Papi yang mengatakan ‘apa yang kamu pilih, itu menentukan masa depanmu’. “Ya sudahlah. Aku memilih yang terbaik kok” jawabnya. Lalu diperkenalkan kepada saya dan  kemudian saya melihat. Kalau lelaki kurang begitu peka. Saya berpikir,”Dia mau dan anak saya mau , ya sudah. Yang penting anak Tuhan”. Anak saya terus mempromosikan temannya itu“Dia pelayanannya luar biasa.. dan lain-lain”
              Maret 2017, teman wanita dia datang. Padahal kami siapkan pernikahannya di bulan Agustus 2017 dan ternyata tidak jadi. Anak saya berkata,”Saya juga bingung mengapa bisa tidak jadi. Tetapi sudahlah, memang ini keputusan kita berdua, kita tidak bisa teruskan lagi.” Ya sudah, batal semuanya. Sekitar November 2017 anak saya membawa temannya lagi, cepat sekali pulihnya. Anak saya berpikir tidak usah kacau dan depresi. Rupanya ia lebih memikirkan satu hal yang pernah saya katakan kepadanya, “Ko, persoalan itu ada karena kita buat sendiri. Persoalan jadi besar karena kita buat jadi besar. Persoalan kita jadi kecil, karena kita buat jadi kecil. Persoalan bukan jadi persoalan ketika kita anggap itu bukan persoalan buat kita”. Akhirnya anak saya memilih itu bukan persoalan. Jalani saja. Istri saya berkata, “mami sreg”. Baru sekarang si mami sreg, tetapi anak saya berkata,”Masalahnya, ia belum pernah ke gereja! Kedua orang tuanya sudah meninggal waktu ia berusia 10 tahun. Ia tinggal dengan omanya.” “Omanya ke gereja?” “Tidak”. Rupanya oma dan kakaknya tidak ke gereja. Ada satu dua orang om-tante yang sudah ikut Tuhan, tetapi sebagian besar belum”. Begitu saya mendengar hal ini, dalam hati berkata,”gawat”. Saya tanya kepada temannya itu,”Kalau ke gereja ke mana?”. Dia menjawab,”Tidak ke gereja, om!” Saya bertanya lagi,”Jadi selama ini, kamu pernah ke gereja?” Dia menjawab,”Oh pernah. Dulu waktu kecil saya diajak ke Sekolah Minggu. Namun setelah orang tua meninggal tidak ada yang mengantar saya ke gereja, jadi tidak ke gereja lagi.”. Saya geleng-geleng kepala. Hal ini berarti berat. Kemudian istri saya langsung berkata, “Wah kamu nanti bisa mengenal Tuhan nanti bersama Theo. Nanti belajar ke gereja .. dstnya”. Istri saya membela terus. Kok jadi begini. Akhirnya saya bertanya istri saya setelah mereka pergi, “mengapa kamu sepertinya…” “Aku sreg Pi walau dia belum mengenal Tuhan.” “Sreg dari mana ukurannya?” “Tidak mengerti juga. Sepertinya anaknya itu baik.” Itu membuat anak saya jalan terus. Di bulan Januari 2018 dia datang lagi bersama temannya itu, dan ternyata temannya sedang ikut katekisasi. Saya bertanya,”Apakah terpaksa atau tidak?” Jangan gara-gara calon bapaknya pendeta, dia ikut jadi Kristen. Rupanya dia mau sendiri karena dia tiba-tiba bertanya,”Les agama Kristen dimana ya?” Akhirnya diantarkan ke gereja dan cocok  dengan satu gereja dan beribadah di sana. Akhirnya Oktober 2018 mereka menikah dan saya bersyukur karena ia bertumbuh imannya. Saya mulai berpikir lagi,”Benar juga. Ketika saya mulai berpikir tentang masa depan , juga anak saya berpikir tentang masa depan dan saya bertanya kepadanya, “Apa yang menjadi peganganmu untuk masa depan?”. Dia menjawab,”Hanya satu Pi. Saya harus mendengarkan apa kata papi-mami. Bukan karena papi-mami paling benar. Kalau tidak benar, saya juga ingatkan yang tidak benar. Persoalannya firman Tuhan katakan,’Hormatilah orang tuamu kalau kamu mau lanjut usiamu dan berbahagia di tanah yang dijanjikan Tuhan”. Jadi masa depanmu tidak lepas dari peranan orang tua. Jadi anak-anak muda yang belum menikah perlu bertanya orang tua, jangan putuskan sendiri. Doakan bersama orang tuamu karena masa depan tidak lepas dari firman Tuhan. Katakan,”Amin, sesungguhnya Tuhan aku percaya Tuhan, bahwa firmanMu adalah firman yang hidup dan aku jalani itu dalam hidup. Aku percaya bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Bagi manusia sangat mustahil, tapi bagi Tuhan Tuhan tidak ada yang mustahil!”

Firman Tuhan adalah sumber untuk melangkah ke masa depan.

Firman yang membuka jalan di dalam hidupmu. Firman Tuhan bukan saja menjadi cahaya tetapi , firman Tuhan adalah sumber untuk melangkah ke masa depan. Yakobus 1:21  Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Firman yang ada di dalam kita yang menyelamatkan jiwamu dan memampukan engkau keluar dari situasi-situasi sulit dalam hidupmu. Yang membuka jalan bagi hidupmu di tengah-tengah ketiadaan jalan.
Suatu hari anak saya bertanya, “Pi, dulu papi membeli rumah ini berapa harganya?” Saya menjawab,”Waktu itu Rp 200 sekian juta”.  Dia bertanya lagi,”Kalau sekarang berapa harganya?” “Oh sekarang, itu di tikungan ada tanah kosong baru dijual Rp 3,1 miliar.”  “Kalau saya gajinya Rp 6 juta kapan saya bisa punya rumah?”. Saya menjawab,”Dengan harga rumah segitu, maka seumur hidupmu, kamuu  bakal tidak bisa punya rumah.Coba pikir kalau gaji Rp 6 juta dipotong Rp 2 juta untuk naik bus, makan siang di kantor. Rp 4 juta kumpulkan sampai  kapan. 10 tahun  harga rumah naik lagi, kapan terkejarnya?.” Dia bertanya lagi,“Jadi bagaimana Pi?” Saya menjawab,”Coba tanya om-om kamu. Tanya bagaimana caranya mereka bisa punya rumah.” Maka satu per satu ditanya. “Om, waktu menikah langsung punya rumah?” Dijawab tidak (hanya menyewa). “Kok sekarang bisa punya rumah?” Itu hebatnya Tuhan kita. “Jadi bagaimana Pi?” Banyak yang tidak pernah engkau pikirkan dan rancangkan, namun Tuhan sediakan buat kamu karena  Tuhan mengerti siapa kita, Tuhan mengerti batas-batas kemampuanmu, Tuhan mengerti siapa engkau sesungguhnya di mata Tuhan. Maka Tuhan membuka jalan dengan caraNya bukan cara kita. Kamu tahu, saat papi membeli rumah ini dari mana uangnya?” Saya ceritakan masa lalu saya. Bukan ingin  menyombongkan tapi menyaksikan bagaimana pekerjaan Tuhan yang  luar bisa.
              Suatu saat saya harus bergumul untuk tempat tinggal. Selama ini seorang pendeta disiapkan pastori di gereja. Tapi waktu itu saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari pelayanan di gereja tersebut karena ada pergumulan-pergumulan yang berat sekali. Akhirnya kami harus mencari tempat tinggal. Tabungan kami hanya Rp 18 juta, menyewa rumah di sekitar satu rumah situ seharga Rp 28 juta. Jadi tidak pernah bisa dapat. Jauh dari tabungan kami. Akhirnya setelah 3 bulan, kami meminta ijin ke majelis jemaat untuk tinggal dahulu di pastori sambil kami mencari tempat tinggal. Tinggal seminggu lagi dari 3 bulan, saya berkata,”kita kembali ke Bandung tinggal di rumah orang tua”. Sambil menunggu keputusan penempatan dari sinode yang diperkirakan akan memakan waktu lama. Istri saya berkata, “Tidak jadi masalah”. Ia mengerti bahwa saya sedang stres berat. Dia ingin menyenangkan saya. Ia berkata,”Saya mau ke pasar. Saya mau buat sayur asem untuk Papi”. Memang kesukaan saya sayur asem. Lalu ia pergi ke pasar. Ternyata pasar yang biasanya dia datangi pk 10 sudah banyak bahan yang  habis. Lalu ia mencari ke kompleks perumahan ada pasar kaget. Ternyata di sana ada bahan-bahannya. Waktu mau keluar kompleks itu ada rumah yang mau dijual. Ada seorang oma yang sedang menyapu di depan rumah itu. Dia berpikir, “Tidak ada salahnya bertanya, disewa dulu setengah tahun” jadi dia bertanya. “Boleh tidak sewa ½ tahun dulu?”. Sang oma menjawab,”Tidak bisa! Ini untuk dijual”. Waktu mau sampai ke mobil, istri saya dipanggil si oma dan ia pun bertanya apa pekerjaan istri saya. Istri saya menjelaskan bahwa ia seorang ibu rumah tangga dan suaminya hamba Tuhan. Sang oma berkata,”Maaf ya Dik. Saya bukan orang Kristen. Begini saja, adik beli saja rumah ini. Besok kita ke notaris. Setelah dari notaris, kita buka rekening tabungan bersama-sama. Berapa saja suami adik punya uang tiap bulan, masukan ke tabungan. Mendengar itu, istri saya sampai bertanya 3 kali dan jawaban nya tetap sama!
Rupanya ia cocok dengan istri saya jadi ia mau menjual ke istri saya. Istri saya pulang ke rumah dan membawa kabar sukacita kepada saya. Saya hanya tersenyum. Saya bertanya, “Oma itu sudah berumur berapa?” Istri saya menjawab,”Mungkin sudah 80 tahun lebih!”. Jadi saya berkata, “Ya sudah, jangan didengerin. Karena sekarang ngomong A besok B. “ “Tidak! Tadi ngomongnya begini-begitu” sanggah istri saya. Saya akhirnya berkata,”Baik mi, besok kita ke sana.” Jadi kalau besok  Si oma berkata, “Siapa yang bilang begitu?” jadi saya bisa berkata,”Tuh kan”” Jadi tunggu sampai besok. Keesokan harinya, istri saya membawa saya. Saat bertemu oma itu, istri saya berkata, “Oma ini suami saya.” Dia berespon,”Oh jadi ya beli rumah Pendeta?”. Saya bertanya dulu, “Oma punya anak berapa?” Dijawab ada 11 orang. Lalu saya minta agar anak-anaknya dikumpulkan dulu semuanya. “Apa urusannya dengan anak-anak saya.. Ini rumah saya!” “Bukan begitu oma. Saya tidak mau  nanti di antara anak-anak oma ada yang mengatakan, ‘Tuh si pendeta pintar mulutnya bisa membuat si mama menjadi berbalik menjual rumah untuknya!”. Lalu anak-anaknya dikumpulkan. Puji Tuhan, semua anak si Oma sudah ikut Tuhan. Ada yang Katolik, Pantekosta, Protestan. Saya mengutarakan maksud saya bertemu mereka. Anak yang besar berkata, “Ma benar rumah ini jadi mau dijual?” Dijawab,”Betul”. Anaknya bertanya lagi, “Mama mau menjual untuk Pdt. Immanuel?” Dijawab lagi ,”Betul!” Anak-anaknya berkata,”Pak pendeta dengar, mama saya mau jual hanya ke pendeta. Kalau nanti Pak Pendeta butuh saksi di notaris, kami siap!”. Saya katakan,”Oma, kalau saya hanya punya RP 50.000 bagaimana?” Dijawab,”Tidak masalah. Rumah ini adalah rumah sial. Karena letaknya tusuk sate. Diperkirakan 3-4 tahun bisa selesai, kita doakan bersama.” Yang sangat luar biasa, sejak saat itu, saya banyak sekali diminta pelayanan di gereja-gereja. Setiap bulan ada saja dana yang masuk ke tabungan si oma dan 10 bulan selesai. Begitu selesai, si Oma berkata, “Tuh kan benar? Pasti bisa. Tidak 3 tahun tapi 10 bulan!” Saya hanya tersenyum,”Tuhan itu luar biasa”. Sejak 10 bulan selesai, tidak ada yang mengundang saya khotbah kecuali hari Minggu atau hari Jumat. Tuhan ingin mengatakan, “Sudahlah cukup kasih karuniKku padamu”. Tuhan mau menunjukkan, “Ada jalanKu, ada bagianmu!” Di dalam hidup ini ada bagian Tuhan dan ada bagian kita. Kerjakan bagian kita, selebihnya adalah bagian Tuhan. Amin.