Monday, October 22, 2012

Belajar Ramah




Salah satu ciri masyarakat modern yang menonjol adalah individualis. Benarkah begitu? Coba tanyakan kepada penghuni perumahan real estat terutama yang berkelas “mewah”, seberapa banyak tetangga yang mereka kenal? Bahkan dapat dihitung berapa jam yang telah dihabiskan bersama dengan para tetangga. Sehingga acara siskamling bersama warga saat kerusuhan 1998 lalu menjadi blessing in disguise (berkah tersembunyi) untuk kehidupan bertetangga. Saat itulah, para penghuni keluar dari balik pintu rumah yang biasa tertutup dan mulai mengenal para tetangganya.

Gaya hidup individualis berkonotasi “yang penting aku” ini memang belum dapat diterima oleh para penggenggam budaya ramah yang sudah ditanamkan sejak dahulu dan menjadi daya pikat turis asing di negara kita “dahulu kala”. Hal ini saya alami, saat saya menanyakan ke seorang penghuni yang rumahnya sedang ditawarkan untuk dijual, “Ibu, kenapa rumahnya mau dijual?” Ia menjawab salah satu penyebabnya adalah karena ia tidak betah dengan lingkungan sekarang. Karena tetangga kiri kanannya sudah beralih ke orang-orang yang tidak suka bergaul, lebih banyak menutup pintu dan kurang mengenal tetangga. Rumahnya sendiri terbuka dan tidak dikunci, siapa pun boleh mampir. Satu per satu tetangga yang hilang digantikan oleh penghuni seperti itu sehingga akhirnya hanya tersisa beberapa penghuni asli yang masih bertahan.

Keramahan (friendliness, KBBI : sikap baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dl pergaulan), sudah menjadi barang mahal saat ini terutama di kota metropolitan apalagi di kota megapolitan. Anak – anak sejak kecil sudah ditanamkan untuk tidak bercakap-cakap dan bergaul dengan orang yang tidak dikenal. Ini adalah langkah yang mau tak mau ditempuh agar terhindar dari penyalahgunaan , penyesatan bahkan penculikan. Senyuman ramah bagi orang asing sudah terhapus dan bila dilakukan malah akan dicurigai memiliki maksud tersembunyi. Mungkin saat ini yang masih melakukannya adalah petugas asuransi-kartu kredit- perbankan - investasi dan penjaja barang MLM! Selain sikap individualis, upaya berramah-tamah mengalami hambatan karena adanya ancaman terhadap keamanan.

Saya sendiri pernah merasakan keramahan dari orang yang tidak saya kenal baik. Ialah, Long (artinya naga). Seorang pemuda Vietnam yang mendapat beasiswa dan menjadi teman kuliah istri sewaktu belajar di Malaysia. Ia menganut paham komunis walau menghargai kehidupan beragama. Saya hanya mengenalnya sebentar sewaktu mengunjungi istri. Selanjutnya ia bisa menjadi orang yang bisa diandalkan. Sewaktu saya kesulitan menghubungi istri di tengah malam, di tengah keputusasaan saya teringat akan Long. Saya pun menulis email minta tolong ia untuk memeriksa kondisi istri saya di apartemennya. Tidak lama kemudian, ia menjawab email saya dan mengabarkan bahwa istri saya sedang ketiduran dan tidak ada masalah apa-apa. Saya sedikit takjub karena responsnya yang sangat cepat. Hal ini berarti sejak menerima email, ia langsung bergegas turun dari apartemennya untuk mengunjungi apartemen istri saya dan kemudian balik lagi untuk membalas email saya, sementara jarak dari apartemen dia ke apartemen istri  saya tidak dekat walau tidak jauh dan suasana di sana sudah tengah malam dan sangat sepi (universitasnya terletak di hutan yang dibuka). Perjumpaan saya dengannya di lain kesempatan saat berkunjung ke Vietnam. Kita tidak memakai jasa perusahaan perjalanan. Saya hanya mem-book pesawat ke Vietnam pulang pergi. Kita sempat minta saran Long untuk rute perjalanan di sana termasuk mengatur transportasi dan penukaran mata uang Vietnam. Hasilnya menakjubkan! Saat di hotel, ia datang membawakan botol air mineral (yang memang harganya lebih mahal dibanding di Indonesia) tanpa kami minta dan tiket-tiket perjalanan kami. Ia pun bermaksud membayar semua biaya akomodasi di sana (hotel, tiket pesawat dan tour lokal). Astaga, kami tidak berharap sama sekali untuk dibayarkan, apalagi Long itu profesinya dosen di universitas pemerintah yang gajinya juga tidak besar (sama dengan gaji dosen negeri di negeri kita). Setelah membujuknya, akhirnya ia bersedia menerima sebagian pembayaran dari kami. Itu pun nilainya masih besar. Terpaksalah kami mencari akal untuk membayar kebaikannya. Jadi setelah keliling Vietnam dan kembali ke kotanya, kami pamitan untuk kembali ke Indonesia. Dengan alasan kelebihan uang Vietnam yang masih kami miliki dan untuk anaknya baru tidak lama lahir, kami menyelipkan amplop untuknya. Ia pun bersikeras untuk mengembalikannya. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya mau tidak mau ia menerimanya. Kalau menerima pemberian dari orang berada, mungkin tidak begitu berarti, tapi bantuan Long sangat kita hargai. Hanya kami tidak bermaksud mengambil milik orang lain saat kami sendiri cukup.

Bagaimana dengan keramahan di lingkungan gereja? Tidak sedikit kita mendengar cerita mengenaskan seperti yang dialami oleh Mahatma Gandhi yang ditolak masuk karena gereja yang dimasukinya “kelasnya lebih tinggi” dibandingkan yang “seharusnya” dia masuki. Tidak jarang, pengunjung gereja yang baru pertama kali datang menjadi alien yang tersasar tanpa teman. Bahkan jemaat yang sudah lama pun tidak saling mengenal walau sudah sering melihat satu dengan yang lain. Hal ini buah dari paham individualisme dalam jamo (jaman modern) sekarang. Dari lingkungan keluarga kita tidak lagi terbiasa mengucapkan kalimat sederhana seperti “selamat pagi”, “selamat siang”, “selamat malam”, “terima kasih”, “tolong”, “apa kabar” , “selamat makan”, “halo”, “apa kabar?” dan lain-lain. Hal ini pun terbawa di gereja. Antar jemaat gereja juga malas untuk bertegur sapa apalagi saling memperhatikan. Kalau antar jemaat sudah terjadi suasana seperti itu, apakah gereja bisa menjadi komunitas yang saling memperhatikan dan bertumbuh? Tentu tidak mudah.

Untuk lebih memahami sikap ramah ini, tentunya kita dapat berpaling ke sumber dari segala sumber hikmat dan pengetahuan yakni firman Tuhan yang tertuang pada Alkitab. Bila kita menelusuri kata “ramah” di Alkitab, kata ini muncul pada 12 nats Perjanjian Baru dan 10 nats Perjanjian Lama. Bila kita perhatikan, ternyata terdapat banyak hal yang dapat kita pelajari dari ke 22 nats tersebut di antaranya :
1.      Tuhan Yesus sendiri adalah pribadi yang ramah (2 Kor 10:1c : “aku – Paulus- memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah”). Tentunya sebagai anak Tuhan, kita perlu mencontohnya bukan?
2.      Sebagai murid Tuhan Yesus, kita juga tidak boleh sembarangan dalam merespon saat kita difitnah, melainkan menjawabnya dengan ramah (1 Korintus 4:13a :            “kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah”)
3.      Dalam hidup berjemaat kita diminta untuk berlaku ramah seorang terhadap yang lain (Efesus 4:32a      “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain”, Titus 3:2b : “hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang”) .
4.      Menjadi salah satu syarat bagi seorang penilik jemaat (1 Timotius 3:3 : “bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang”)
5.      Menjadi salah satu syarat bagi seorang hamba Tuhan (2 Timotius 2:24 : “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang”)
6.      Salah satu bentuk hikmat (Yakobus 3:17a : “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah,…”)
7.      Peramah tidak menjadi kriteria untuk tunduk kepada atasan, maksudnya baik atasan itu ramah atau tidak, tetap hamba harus tunduk kepadanya. (1 Petrus 2:18 : “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis”).
8.      Perkataan yang ramah itu suci. (Amsal 15:26 : “Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah itu suci”).
9.      Kita harus berhati-hati terhadap orang yang berpura-pura ramah (Amsal 26:25 : “Kalau ia ramah, janganlah percaya padanya, karena tujuh kekejian ada dalam hatinya”).

Salah satu tujuan dari komunitas sel adalah agar jemaat (anggota komsel) saling memperhatikan dan menolong. Anggota yang lebih dewasa melatih yang lebih baru. Anggota yang lebih mengerti firman Tuhan mengajari yang kurang mengerti. Anggota yang menghadapi masalah didukung dan didoakan oleh anggota-anggota lainnya. Anggota yang sedang lemah tubuh, dibesuk dan dihiburkan. Anggota yang sedang bersuka, mengundang anggota lain untuk turut berbagi. Anggota yang sedang berduka dan lemah dikuatkan. Anggota yang satu merasakan kebersamaan dengan anggota lainnya. Setiap anggota merasakan keramahan dari anggota lainnya. Anggota merasa diterima dalam keluarga rohani kecilnya. Kalau satu sel sudah bisa menjadi sel yang anggota memiliki hidup yang saling memperhatikan, maka selnya secara perlahan akan hidup ,  bertumbuh dan berkembang. Maukah kita merasakan keramahan di gereja kita? Marilah kita belajar keramahan dan saling memperhatikan di kelompok kecil kita dahulu.  Komsel yang notabene wadah yang kecil dari gereja memudahkan kita banyak belajar. Tentu semuanya berfokuskan kepada Yesus Kristus dan pengajaran Alkitab yang benar. Tanpanya kita hanya akan bertumbuh semu.  

Yang pasti tidak mudah belajar menjadi ramah . Hal ini dapat dilihat pada  1 Tesalonika 2:7 : “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya”. Membayangkan seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya, mengindikasikan bahwa ramah itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Namun karena ini juga merupakan hal yang perlu kita teladani dari Tuhan Yesus, maukah kita belajar menjadi ramah? Tentu kita juga perlu mewaspai orang yang berpura-pura bersikap ramah. 

Ong Po Han

No comments:

Post a Comment