Tuesday, February 27, 2018

Sudahkah Kristus Sebagai Tuhan dalam Hidupmu?








Pdt. Alex Haryanto

Yoh 3:3-7
3  Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
4  Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
5  Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
6  Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
7  Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

Orang Baik

              Ada seorang ayah yang  menceritakan tentang 2 orang anaknya yang sudah beranjak dewasa (usia kuliah). Keduanya tidak pernah memakai narkoba, minuman keras atau senang pergi pesta. Keduanya punya relasi yang hangat dengan orang tua dan teman-temannya. Mereka berkuliah di universitas yang baik dan mereka menjadi mahasiswa yang berprestasi, sehat, ambisius, baik  dan ramah. Bila punya anak seperti mereka , kita tentu bisa merasa bangga. Namun ayahnya justru merasa khawatir dengan mereka. Mengapa? Ternyata kedua anaknya kelihatannya tidak mempunyai sedikit pun ketertarikan terhadap Yesus Kristus. Yang lebih parah lagi, mereka berdua mengaku sebagai orang Kristen. Kedua anak muda ini bertumbuh dalam lingkungan gereja, mereka pernah ikut persekutuan Sekolah Minggu, persekutuan remaja, bukan tipe pemberontak dan sudah dibaptis. Walau kuliah , mereka menjaga sikap baik yang telah dipelajari saat mereka remaja, namun mereka sudah meninggalkan Yesus Kristus. Mereka tidak melepaskan nama Kristen dalam hidup mereka, hanya mereka sudah menghentikan ketertarikan terhadap kehidupan Kristen. Melihat hal ini, ayahnya menjadi khawatir sekali. Mereka adalah anak-anak baik namun merasa tidak perlu Yesus karena merasa  sudah berada dalam Yesus. Hidupnya tidak menunjukkan menyembah dan beribadah pada Yesus Kristus.
              Kali ini kita kembali merenungkan apa artinya mengikuti Yesus Kristus dan menjadi orang Kristen yang sejati, dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Pertama-tama mengapa kita ingin menjadi orang baik? Nikodemus adalah seorang Farisi bahkan seorang pemimpin agama Yahudi. Orang Farisi adalah orang yang  percaya kualitas kasih untuk masuk surga adalah dengan perbuatan baik. Mereka harus taut Hukum Musa, pergi ke bait Allah, mempersembahkan korban dan menjauhkan diri dari orang asing. Kalau sudah melakukan hal-hal itu maka ia adalah orang yang baik. Nikodemus berpikir bahwa ia orang baik (di atas rata-rata) sehingga ia pergi ke Yesus Kristus. Pada ayat 2 tersirat Nikodemus diutus menjadi perwakilan. Hal ini tercermin dari perkataannya, "Rabi, kami tahu” (ia tidak menggunakan kata ‘saya’). Alasan Nikodemus diutus karena kemungkinan ia lebih baik dari yang lainnya. Orang baik akan masuk surga. Jadi kita perlu jadi orang baik.

Daya Tarik Menjadi Orang Baik

              Di Indonesia kita perlu menjadi orang baik. Apalagi dasar negara Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Untuk menjadi orang baik, tuntutannya besar sekali. Setiap etnis dan keluarga punya ciri tertentu untuk menjadi orang baik. Saya di rumah (SD, SMP, SMA) juga dituntut menjadi orang baik, kalau berkunjung ke rumah tetangga maka kami harus memperhatikan bagaimana bersikap karena bila tidak “apa nanti kata orang?” (contoh : jangan suka ambil makanan karena nanti dikatakan rakus , apa kata orang nanti?). Jadi kita harus menjadi orang baik dan menjadi lebih baik senantiasa. Apapun alasannya, dari zaman ke zaman istilah (pengertian) tentang kebaikan terus berubah tetapi ada 3  hal penting yang membuat kita tertarik  untuk berbuat baik.
-        kita bisa merasa diri baik (feel good).
-        kita bisa memuji diri sendiri dengan berbuat baik.
-        Kita ingin berbangga karena orang memuji kita. Dengan perbuatan  baik menjadi kesempatan agar kita bisa memuji diri sendiri. Perbuatan baik adalah tanda kita tidak berbuat salah, kita bisa membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain karena kita merasa diri baik. Ini daya tariknya.

Asumsi Menjadi Orang Baik

Ada 3 pandangan
-        Optimisme Manusia (manusia mampu untuk hidup baik dan tidak memerlukan orang lain).
-        Allah hanya menginginkan hal itu (Allah bahkan menuntut kita berbuat baik)
-        Agama sebagai alat untuk membuat kita menjadi (lebih) baik.
Nikodemus (dan orang Farisi) yakin dalam hatinya, ia mampu melakukan apa saja  untuk membenarkan dirinya dan merasa bangga di hadapan Tuhan. Ia merasa bisa untuk benar dan berbangga. Ia mengasumsikan dengan segala usahanya Allah senang untuknya menjadi orang baik. Agama membantu ia untuk menjadi orang baik. Caranya agar bisa menjadi orang baik adalah ketiganya.

Praktek Hidup Orang Baik

Prakteknya, mungkin kita tidak mudah untuk mengidentifikasikan orang-orang baik  yang sudah dilahirkan baru , pengikut Yesus sejati, atau kita menjadi orang baik saja.
-        Mengutuki dosa dunia/orang lain lebih dari dosa sendiri
-        Dosa mempunyai hirarki dan mentolerir dosa
Dosa mempunyai hirarki (dosa besar dan dosa kecil). Kita cenderung mentolerir terhadap dosa sendiri daripada orang lain. Kita tegas ke orang lain tapi mentolerir dosa sendiri.
-        Dosa sendiri adalah kesalahan/kekhilafan. Minta orang lain memaafkannya (itu hanya sebuah kesalahan).
-        Alkitab adalah ajaran moral
Orang seperti ini mengajarkan anak-anaknya dengan menggunakan Alkitab bukan untuk mendapatkan keselamatan tapi hanya untuk hidup baik.  Alkitab adalah ajaran moral.
-        Yesus menjadikan kita orang baik. Kita memperkenalkan Yesus kepada orang lain. Ia membuat usaha saya berhasil, saya lebih baik lagi, membuat saya  kepala bukan ekor, memberikan saya promosi dll. Yesus membuat kita lebih baik lagi, bukan menjadi baru sama sekali. Yesus memang membuat perubahan dalam diri kita, tetapi bukan seperti apa  yang kita pikirkan.
Matius 16:24 Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya , memikul salibnya dan mengikuti Aku. Yesus akan membuat perubahan dalam diri , pernikahan kita (dia akan memberikan anugerah yang cukup agar kita mampu bertahan dan setia terhadap pasangan yang sudah tidak mencintai kita). Yesus akan memberikan promosi dalam pekerjaan kita dengan memberikan kita extra grace sehingga kita mampu menghadapi teman sekerja kita yang jahat dan atasan yang egois . Tuhan akan memperbarui hidup kita, memberikan promosi dengan mengubah tujuan kita bekerja bukan mengubah pekerjaan kita, uraian tugas kita tapi mengubah tujuan dan sikap kita dalam bekerja. Yesus memanggil kita untuk menjadi pengikut yang rela mati untuk kepentingan Yesus dan rela mengecilkan diri kita dan membesarkan Yesus Kristus.  Apakah Yesus Kristus sudah menjadi Tuhan dalam hidup kita? Pertanyaan ini mendesak kita untuk kembali merenungkan kebutuhan kita yang mendesak untuk menjadi ciptaan baru (bukan sekedar baik atau lebih baik) dalam Tuhan Yesus.

Perlunya Lahir Kembali

Mengapa kita harus lahir baru? Yesus tiga kali menyebutkan alasannya saat bercakap-cakap dengan Nikodemus tentang lahir baru. Ayat 3 sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah. Ayat 5, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Ayat 7, Kamu harus dilahirkan kembali. Ini hal mendesak bagi semua orang Kristen. Tidak semua orang yang datang ke gereja sudah lahir baru. Ada yang terjebak untuk hidup baik. John Piper menggunakan kata yang berbeda, “Kita tidak membutuhkan agama baru, kekaguman yang berlebihan terhadap kejadian mujizat  atas nama Yesus Kristus, tetapi yang penting adalah kita sendiri mengalami mujizat yang tidak bisa membuat ktia menolak selain berubah.” Kita dihantam kuasa kasih Tuhan Yesus dalam hidup kita. Kita perlu melihat dan memahami bahwa Yesus bukan hanya pengajar yang baik. Banyak orang melihat Yesus ajarannya baik, ia mengajarkan cinta kasih dan rela berkorban. Tanpa sadar orang Kristen hanya melihat Yesus sebagai guru biasa bukan Kristus Sang Juruselamat. Ada tulisan kuno yang mengatakan bahwa Yesus belajar di Mesir saat kecil, itu menunjukkan Ia orang biasa yang belajar (Ia hanya guru yang penuh kuasa).
Kita yang merasa rindu untuk menjadi ciptaan baru, maka kita harus melihat Yesus sebagai Juruselamat yang menyelamatkan orang yang berada dalam bahaya maut. Kita perlu Juruselamat kalau kita sadar bahwa hidup kita terancam. Kalau kita merasa baik-baik saja maka kita tidak perlu Juruselamat. Kita seorang yang sedang kritis dan membutuhkan keselamatan . Apa yang membuat kita terancam? Dosa! Firman Tuhan malah katakan bahwa kita sebenarnya mati karena dosa.

Jika tidak dilahirkan kembali

John Piper melanjutkan, apa yang terjadi jika kita tidak mengalami lahir baru?
-        Mati karena pelanggaran dan dosa kita (Ef 2:1-2). Kita mati sehingga tahunya kita berbuat dosa. Kita tidak bereaksi terhadap Allah. Allah dilihat sebagai musuh kita. Kita melihat Tuhan tidak mau kita hidup senang sehingga mengapa kita harus mengikuti dan taat kepadaNya? (melihat Allah sebagai pengganggu). Hal ini berarti secara spiritual kita sudah mati.
-        Orang yang harus dimurkai dan hukuman neraka (Ef 2:3).
-        Menyukai kegelapan dan membenci terang (Yoh 3:19-20). Kita lebih nyaman dengan setiap dosa kita (inilah saya), kita tidak suka dengan hal-hal yang baik dan kudus, kita mengasosiasikan diri dengan orang-orang yang tidak baik (kita orang berdosa sehingga tidak mengusahakan untuk gereja).
-        Hati keras seperti batu (Yeh 36:26, Ef 4:18). Hati kita mati dan tidak bereaksi terhadap anugerah Tuhan yang begitu lembut dan baik.  Hati kita begitu keras dan tidak ada kasih di dalamnya.
-        Tidak mungkin berkenan kepada Allah (Roma 8:7-8). Kita tidak mungkjn takluk dalam hukum Allah, tidak berserah dan berkenan kepada Allah, tidak taat terhadap Allah. Apa pun yang kita lakukan seperti kain kotor. Apapun yang orang lain katakan bahwa kita orang baik tapi kalau belum lahir baru, maka dihadapan Tuhan adalah sia-sia (tidak ada artinya sama sekali seperti uap air yang sebentar lagi hilang). Semua sia-sia tidak ada artinya, di hadapan Tuhan (walau di hadapan manusia dipuja-puja).
-        Tidak mampu menerima berita Injil (Ef 4:18; 1 Kor 2:14). Kita tidak mengerti mengapa kita membutuhkan Injil dan Yesus.
-        Tidak mampu datang kepada Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan (Yoh 6:44, 65:1, 1 Kor 12:3)
Tanpa dilahirkan oleh Roh Kudus, kita seperti orang mati dan tidak berpengharapan. Kita sendiri tidak mampu menggapai Tuhan karena kita melihat Tuhan sebagai musuh. Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa , yang ditanamkan iblis bahwa Tuhan tidak punya itikad baik (Dia membuat kita terbelenggu dengan peraturan-peraturanNya). Iblis membohongi Adam dan Hawa dengan memutar balik firman Tuhan. Iblis mengajarkan kepada Adam dan Hawa untuk mencurigai motif Allah  dan perintah-perintahNya sehingga Iblis mengatakan ,”masa sih bisa mati?”. Ditanami kecurigaan bahwa  Tuhan tidak punya maksud baik mengapa Dia tidak memberikan buah itu kepada saya (supaya kita bisa seperti Dia). Itu menjadi dosa turun temurun. .Kalau belum lahir baru, kita tidak melihat Tuhan sebagai pribadi yang bermaksud baik dan kita selalu curiga, tidak nyaman dengan Tuhan. Sehingga kita memerlukan kelahiran kembali, supaya semuanya diubahkan oleh Tuhan.

Proses kelahiran kembali (Bagaimana Lahir Baru?)
Ayat 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa maksud dari air dan Roh (=Roh Kudus)? Air maksudnya dibaptis? Tetapi banyak orang dibaptis tetapi banyak yang belum mengalami kelahiran kembali.
Yehezkiel 36:24-28
24  Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.
25  Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.
26  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.
27  Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.
28  Dan kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu dan kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu.
Air yang dimaksudkan oleh Yesus adalah
-        Dosa-dosa dicuci. air yang mentahirkan, mencuci dosa-dosa kita (ayat 25).
-        Diberikan hati yang baru. Roh adalah Roh Kudus yang mengubah hati kita menjadi hati yang lemah lembut. Tandanya kalau hati sudah lemah lembut adalah taat pada Firman Tuhan. Menuruti segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada ketetapanku.
Kapan dan bagaimana terjadi lahir baru? Tiap orang unik. Entah kecil atau besar (sudah tua). Ini murni pekerjaan Allah (bukan karena usaha manusia). Tuhan yang memberikan iman kepada kita. Sehingga kuasa kematian Yesus 2.000 tahun lalu, kuasaNya dinyatakan pada kita saat ini juga. Dosa kita diberikan kepada Yesus dan kebenaran Yesus diberikan kepada kita. Sebenarnya dosa kita dicuci karena diberikan kepada Yesus, sehingga kita disebut sebagai orang-orang kudus.
Kapan kita mengalami lahir baru? Tiap orang berbeda. Kalau membaca di buku berbeda-beda. Agustinus merasa resah dan kemudian mendengar seperti ada anak-anak yang bernyanyi (ambil dan buka). Akhirnya ia pergi ke temannya dan membuka Alkitab. Langsung matanya melihat Roma 12-13, setelah membacanya ia dilahirkan kembali dan berubah. Berbeda dengan CS Lewis. Waktu ia naik bus , ia mengalami lahir baru. Bagaimana terjadi? Tidak tahu. Ia orang pintar dan sudah diskusi dengan orang lain-lain. Seorang pemuda di gereja kami, saat dilakukan percakapan pribadi, ia menceritakan bagaimana ia lahir baru. Ia sekolah di IPEKA (ibadah sekali seminggu), ia ke gereja di komisi remaja. Datangnya ke persekutuan suka telat. Tapi ia bercerita, ia ke gereja lain karena mengejar gadis yang disukai untuk memberi kesan, justru di sana Tuhan menangkapnya. Melalui firman Tuhan di sana ia bisa melihat dan merasakan, Tuhan sangat baik kepadanya sehingga membuat ia mengingat kembali masa lalunya. Tuhan begitu nyata dalam masa lalu, yang selama ini ia tidak bisa melihatnya. Setiap hari ia berdoa mengucap syukur, tapi ia tidak bisa merasakannya seperti saat itu. Saat bercerita, ia menangis karena terharu. Ia tidak bisa menghentikan ceritanya. Ia merasa Tuhan baik sekali sehingga ia merasa sungguh-sungguh Tuhan baik (kalau dulu ia mengatakan Tuhan baik tidak ada artinya).
Saya lahir baru saat kuliah. Semester 2 saya didoakan oleh seseorang dan ada satu yang ajaib bagi saya yang tidak pernah saya lupakan. Orang itu tahu masalah saya. Dia yang kasih tahu saya dan membuat saya mengampuni orang yang meyakiti saya yaitu papa saya sendiri. Waktu saya kuliah di Surabaya, ia bertanya dengan jelas, “Kamu punya masalah dengan papa kamu ?” Perkataannya seperti perkataan Allah yang luar bisa. Hati saya sakit. Dulu waktu SD, papa saya melontarkan perkataan yang menyakitkan saya, dan sakitnya nyata, saya menangis dan merasa emosional. Saya diminta mengampuni. Selain merasa sakit dan sedih sekali, tapi saya harus melepaskan pengampunan kepada papa saya. Setelah itu saya melihat kecenderungan saya berubah. Ketertarikan dan keinginan untuk menyembah berubah. Berarti saya mengalami mujizat terbesar dalam hidup saya yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya.
Semua orang yang mengalami kelahiran baru, akan mengalami keduanya : dosa-dosa disucikan dan hati kita dilembutkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika tidak dilahirkan kembali (lawannya) maka :
-        Mati karena pelanggaran dan dosa kita (Ef 2:1-2). Kalau lahir kembali kita tidak mati lagi.
-        Orang yang harus dimurkai (Ef 2:3). Setelah lahir baru, kita berkenan kepada Allah karena kita anak-anak Allah (dikasihi Tuhan).
-        Menyukai kegelapan dan membenci terang (Yo 3:19-20)
-        Hati keras seperti batu dll. Setelah lahir baru hati kita lemah lembut. Kita takhluk kepada hukum Allah dan berkenan kepada Allah. Kita mau dan mampu mendengar Injil, kalau bisa sering-sering mendengarnya. Kita mengakui Kristus sebagai Juruselamat karena kita sadar bahwa kita orang berdosa. Kita tahu dalam hati, perbuatan saya membuat saya tidak layak menerima cinta Tuhan. Kita harus mengalami agar kita tidak hanya menjadi orang baik tetapi menjadi orang baru (radikal di dalam Tuhan).

Implikasi Kehidupan Pribadi
-        Otoritas Allah dipulihkan
Kita tunduk kepada Allah, taat kepada pemerintah (karena taat kepada Allah). Apa yang dikatakan Tuhan , itu yang kita taati. Di mana pun (di tempat kerja ada peraturan) tapi kita taat kepada perintah Tuhan. Allah tidak punya maksud jelek. Saya tidak mencurigai sedikit pun apapun dalam hidup saya bahwa Tuhan punya masksud jelek. Seperti Roma 8:28 katakan “Apapun yang terjadi, semua yang terjadi punya maksud yang baik”. Itu artinya kita mengakui otoritas Tuhan dalam hidup kita. Dalam menentukan pilihan, merencanakan bisnis, pernikahan dan sekolah, kita mau taat pada rencana Tuhan.
-        Tujuan dan makna hidup hanya untuk Allah
Mengapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? Mengapa saya dilahirkan di keluarga ini bukan di keluarga lain? Tujuan kita hidup pasti untuk memuliakan nama Tuhan (tidak ada tujuan yang lain). Karena Allah bekerja dalam segala sesutau untuk menyatakan kemuliaan. John Piper mengatakan, “Allah paling dimuliakan ketika kita paling merasa puas di dalam Dia.” Jadi tujuan hidup kita untuk memuliakan nama Tuhan. Bekerja, memasak, merawat anak, bernafas, sekolah semua untuk memuliakan nama Tuhan.
-        Merindukan Tuhan
Jonatan Edward menggambarkan orang yang sudah lahir kembali adalah orang yang  sudah diberikan cicipan akan Tuhan. Seperti ia diberi cicipan akan madu, sekarang ia tahu bagaimana manisnya madu. Ia bisa bedakan mana yang manis madu dibanding manis gula lainnya. Kita merindukan Tuhan karena tidak ada yang seperti Tuhan. Sukacita yang diberikan Tuhan berbeda dengan sukacita yang diberikan dengan membeli rumah dan HP yang baru, mendapat anak-anak baru lahir (beda karena sudah mencicipi). Kita sudah berada bersama Tuhan tapi belum sempurna. Dosa masih mengganggu kita, tapi tidak mengontrol hidup kita. Kita adalah hamba Allah. Otoritas dan tujuan dipulihkan agar kita hanya taat kepada Tuhan. Dosa masih mengganggu tetapi kita tidak diperbudak oleh dosa dan tidak ikut-ikut saja dengan dosa.

Minggu ini saya bergumul dalam rasa iri hati kepada 2 orang. Saya tahu dalam pengetahuan saya bahwa ini tidak baik. Semuanya hamba Tuhan. Ketika ia berkhotbah , cara bicaranya seperti sombong sekali (belum tentu ia benar). Saya tidak suka dengan dia. Kenapa dia lebih pintar dari saya? Ia tidak seperti apa yang saya bayangkan. Kenapa ia tidak perduli kepada saya? Saya tahu apa yang baik dan benar tetapi hati saya ingin memuaskan iri hati saya. Saya berdoa dan berdoa. Saat Rabu ada kebaktian doa, saya duduk dan bergumul secara pribadi karena tidak ingin ini terjadi pada saya, “Tuhan saya tidak mau ini terjadi dalam diri saya tapi saya tidak mampu mengatasinya” dan minta tolong Tuhan. Tuhan akhirnya memberi kelegaan bagi saya. Memang tidak masuk akal, tapi Tuhan memberikan kelegaan. Tapi pergumulan tidak selesai karena akan ada pergumulan yang lain. Yang pasti anugerah Tuhan luar biasa. Ketika kita bergumul dengan dosa , itu tandanya Roh Kudus bekerja dalam diri kita. Dalam Yoh 16, Tuhan menjanjikan Roh Kudus dan Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan dosa. Roh Kudus memberi tahu dosa kita dan harus bertobat. Itu akan terjadi sepanjang hidup kita. Saya sudah bertobat belasan tahun lalu dan saya  terus dalam waktu-waktu tertentu diberi tahu tentang dosa dan membuat kita berjuang mengatasinya bersama Dia sehingga membuat kita lebih dekat dari Tuhan. Kita tidak lepas dari Tuhan karena kita tidak mampu lepas dari dosa.  Saya percaya seperti yang Rasul Paulus katakan,”Kita lebih dari pemenang.” Dosa yang dimaksudkan untuk mencelakakan kita malah justru memberikan berkat buat kita karena membuat kita mendekat pada Tuhan, karena hanya Tuhan saja yang bisa menyelesaikan dan memberikan kedamaian sejati dalam hidup kita. Kalau kita sudah lahir baru, kita merindukan Tuhan.
-        Menjadi murid Kristus
Orang yang lahir baru, punya hati yang taat pada firman Tuhan. Untuk itu kita harus belajar firman Tuhan dan kita harus menjadi murid (lewat baca, dengar atau nonton). Kita akan rindu kebenaran firman Tuhan dan mempelajarinya supanya mengenalNya dan hidupnya dimurnikan senantiasa.

Implikasi Kehidupan Bersama (Sebagai Sebuah Gereja)
-        Saling mengasihi
Saat Tuhan Yesus ditanya orang Farisi akan hukum yang terutama, dijawab Yesus selain “Kasihilah Tuhan Allahmu” juga “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”. Orang yang sudah dilahirkan kembali, belajar selalu bagaimana mengasihi sesamanya (terutama orang-orang di dalam gereja). Saling menolong dan menopang dalam gereja. Apa gunanya kalau bertemu orang kelaparan hanya katakan ,”Kamu punya makanan? Oh baik, silahkan kamu pergi makan” tanpa memberinya makan. “Apa gunanya?”, kata Rasul Yohanes. Kalau mengasihinya , kita akan melakukan sesuatu. Kita mengasihi bukan dengan perkataan tapi perbuatan. Kasih keluar dari diri kita karena kita tahu bahwa kita dikasihi Tuhan. Dikatakan seperti mengasihi diri sendiri, gambarannya bagaimana Tuhan mengasihi kita demikian juga kita belajar mengasihi orang lain.
-        Kelahiran kembali bukan hanya memberikan hati kepada Tuhan, tetapi juga hati yang mengasihi sesama
Karena sadar kita belum sempurna, kita tahu Roh Kudus bekerja saat itu menolong kita untuk menyatakan Kerajaan Allah dalam hidup kita ini. Mari kita datang kepada Tuhan dan tanya kepada diri sendiri apakah kita sudah lahir baru. Jangan sampai kita hanya menjadi orang Kristen yang baik tapi tidak menyembah Yesus Kristsus.



Tuesday, February 20, 2018

Orang Tionghoa pun Perlu Kristus








Pdt. Hery Kwok

Kisah Para Rasul 10:34-36, 42-43
34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.
35  Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.
36  Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
42  Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.
43  Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya."

Pendahuluan

Tema hari ini bukan dari tradisi tetapi dari suatu perintah (Amanat Agung) yang diberitakan oleh Tuhan Yesus sendiri dan dicatat (ditulis) oleh murid-muridNya sendiri (yang pernah hidup bersama Kristus selama 3,5 tahun) untuk menginjili. Sebagai gereja berlatar Tionghoa maka kita membahas tema “Orang Tionghoa pun Perlu Kristus”. Seberapa jauh kita sebagai orang-orang Tionghoa punya hati (terbeban) untuk memberitakan Injil kepada orang-orang Tionghoa? Berbicara tentang tema “Orang Tionghoa pun Perlu Kristus” mau tidak mau kita akan melihat sejarah penginjilan kepada orang-orang yang tinggal di daratan Tiongkok (mainland). Seorang misionaris berkebangsaan Inggris yang terkenal, Hudson Taylor, sampai keturunannya generasi keempat masih menginjili orang Tionghoa di sana. Bahkan ada salah seorang keturunannya yang menikah dengan orang Tiongkok.  Pdt. Stephen Tong pernah bertemu dengan salah seorang keturunan Hudson Taylor. Hudson Taylor sungguh-sungguh menaruh hatinya untuk orang-orang Tionghoa sehingga dari Inggris ia pergi ke Tiongkok. James Hudson Taylor (Tionghoa: 戴德生) (21 Mei 1832 - 3 Juni 1905, 73 tahun), adalah misionaris asal Inggris dan pendiri OMF International. Taylor menghabiskan 51 tahun (3/4 hidupnya) di Tiongkok, dan mampu berkhotbah dalam beberapa dialek bahasa Tionghoa, di antaranya Mandarin, Chaozhou, dan dialek Wu dari Shanghai dan Ning Bo. Yang terakhir ini ia menguasainya dengan cukup baik untuk membantunya menyusun edisi bahasa sehari-hari dari Perjanjian Baru.

Sejak kecil ayahnya (James Taylor) telah menanamkan hati misi kepadanya. Setiap hari ayahnya (ahli farmasi) selalu membacakan dan menjelaskan ayat-ayat Alkitab kepadanya karena ia menginginkan agar anaknya kelak menjadi seorang penginjil. Usaha ini ternyata tidaklah sia-sia. Sebelum berusia 5 tahun, Hudson sudah berkata, "Kelak saat dewasa, saya akan menjadi seorang penginjil dan pergi ke Tiongkok." Hudson Taylor dari kecil kehidupan rohaninya dipupuk oleh orang tuanya. Bahkan waktu ia ragu pergi ke Tiongkok, mamanya mendoakan dia hingga ia pergi ke sana. Bapak Gereja Agustinus juga didoakan oleh mamanya Monica sehingga mengalami pertobatan menjadi Bapa Gereja. Dulu ia sangat kacau balau hidupnya dan tidak hidup seperti orang saleh. Tetapi peran mamanya begitu luar biasa dalam kerohanian. Hudson Taylor mengalami hal seperti itu. Meskipun sejak kecil ia sudah menjadi Kristen, pada saat remaja ia sempat merasa ragu-ragu. Namun berkat doa ibu dan adik perempuannya, akhirnya ia dapat mengatasi keragu-raguannya. Pada waktu ia berumur 17 tahun, setelah ia membaca traktat yang menceritakan karya penyelamatan Kristus yang ditemukannya di ruang baca ayahnya, ia berlutut dan berdoa kepada Tuhan serta mohon pengampunan-Nya. Sejak saat itu, Taylor mulai memfokuskan diri untuk mewujudkan kerinduannya melayani sebagai seorang penginjil di Tiongkok.

Meskipun jiwa misi sudah tertanam di hatinya, ia tetap mengambil pendidikan di bidang farmasi. Chinese Evangelization Society (CES) yang mensponsori pendidikannya melihat hal tersebut sebagai kesempatan Injil diberitakan di Tiongkok. Mereka ingin supaya Hudson segera berangkat ke Tiongkok sebelum kesempatan tersebut hilang. Taylor mulai berlayar selama berbulan-bulan dan tiba di Shanghai pada awal musim semi tahun 1854. Tiongkok dengan berbagai adat-istiadat dan keunikan lainnya merupakan tantangan bagi Taylor. Setibanya di Shanghai dan tinggal di rumah pertamanya, Taylor menderita kesepian dan masalah keuangan (biaya hidup di Shanghai sangat mahal). Usaha-usahanya untuk menyesuaikan diri dengan bahasa setempat sempat membuatnya sangat tertekan, tetapi dengan imannya yang kuat, ia berhasil mengatasinya melalui hobinya (mengoleksi serangga dan tanaman).

Setahun setelah Taylor sampai di Tiongkok, ia segera melakukan perjalanan penginjilan ke pedalaman Tiongkok (sering dilakukannya seorang diri). Saat di Shanghai , penduduknya tidak memperhatikan pesan yang disampaikan. Namun masyarakat pedalaman justru tertarik dengan cara berpakaian dan hidupnya. Keadaan ini membuat Taylor menyadari bahwa ada satu cara untuk bisa melakukan penginjilan di daerah ini, yaitu dengan mengikuti cara berpakaian serta kebudayaan mereka. Meskipun tidak mudah bagi Taylor untuk mengikuti tradisi orang Tiongkok, ia tetap melakukannya juga. Ia rela mengucir dan memotong rambut di bagian depan kepalanya; ia juga rela mengubah cara berpakaiannya. Walaupun dirinya tersiksa (bahkan ia dijadikan bahan lelucon oleh rekan misionaris lainnya) tetapi hal itu justru menjadi ciri khasnya. Usaha ini ternyata tidaklah sia-sia karena dengan penampilannya yang baru ini memudahkannya melakukan penginjilan ke seluruh Tiongkok.

Selain menginjili, Taylor juga melakukan praktik pengobatan. Masalah keuangan tetap menjadi persoalan utama Taylor namun ia beberapa kali menerima kiriman dana dari Inggris. Selain itu, di dalam benaknya mulai muncul keinginan memiliki seorang istri. Taylor teringat kembali kepada Nona Vaughn, wanita yang dicintainya namun tidak bersedia mengikuti Taylor ke Tiongkok dan Elizabeth yang memutuskan pertunangan mereka karena model pakaian dan rambut Taylor. Akhirnya Taylor tiba di Ning Bo , bertemu dan tertarik dengan Maria Dyer (seorang guru di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak perempuan milik Nona Mary Ann Aldersey) pada bulan Maret 1857. Meskipun awalnya Maria menolak lamaran Taylor, namun akhirnya mereka menikah pada tanggal 20 Januari 1858. Maria benar-benar seorang wanita yang dibutuhkan Taylor. Pada tahun 1860 Taylor dan Maria kembali ke Inggris untuk mempersiapkan berbagai keperluan dan memulihkan kesehatan mereka. Taylor menggunakan kesempatan ini untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya.

Pada saat yang sama, Taylor mendirikan China Inland Mission (CIM) tahun 1865-- sebuah organisasi pengutus yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kepribadian Taylor. Taylor menyadari bahwa Tiongkok tidak akan pernah diinjili jika ia harus terus menunggu para utusan hamba Tuhan terpelajar datang ke sana. Tahun 1866, Taylor mulai melakukan persiapan untuk berlayar kembali ke Tiongkok bersama dengan Maria, keempat anak mereka, dan lima belas orang yang ia rekrut, termasuk tujuh gadis yang belum menikah. Selama dalam pelayaran maupun setelah mereka sampai di Shanghai, rombongan ini tidak henti-hentinya dilanda oleh berbagai masalah. Tetapi, segala permasalahan itu dapat diatasi berkat kesabaran dan pendekatan pribadi yang dilakukan Taylor. Pada tahun 1868, rumah yang dijadikan tempat penginjilan Taylor di Yangzhou dirusak dan dibakar. Peristiwa ini nyaris merenggut jiwa para utusan dan Maria. Meskipun peristiwa ini menyebabkan banyak kerugian dan sempat membuat semangat Taylor hampir padam, tetapi berkat dukungan salah seorang temannya, semangat Taylor menyala kembali untuk meneruskan misinya. Ia merasakan bahwa melalui berbagai peristiwa itu, Tuhan menjadikan dirinya seorang yang baru. Peristiwa yang tidak kalah menyedihkan adalah kematian berturut-turut anak-anaknya yaitu Samuel (5 tahun), bayi mereka yang baru berusia kurang dari dua minggu dan Maria sendiri. Tanpa Maria, Taylor benar-benar kehilangan semangat dan kesepian. Karena alasan itulah sebulan setelah kematian Maria, ia pergi ke Hangzhou. Di sana, ia menghabiskan waktu bersama Jennie Faulding (22 tahun), yang merupakan salah satu dari misionaris yang datang ke Tiongkok bersama mereka. Setahun kemudian mereka kembali ke Inggris dan menikah di sana. Pada tahun 1872, mereka kembali lagi ke Tiongkok bersama para utusan yang berjumlah lebih banyak lagi.

Seiring dengan perkembangan CIM, Taylor menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelilingi Tiongkok. Semakin luas daerah yang diinjilinya, semakin besar pula beban yang mereka harus tanggung. Taylor memunyai visi yang besar, ia ingin merekrut seribu utusan dan masing-masing akan menginjili 250 orang setiap hari sehingga dalam waktu tiga tahun seluruh Tiongkok akan bisa dimenangkan. Tetapi sayang, visi itu belum tercapai. Meskipun demikian, pelayanan CIM di Tiongkok berdampak sangat luas. Pada tahun 1882, CIM berhasil masuk ke setiap provinsi Tiongkok; pada tahun 1895, ketika CIM berulang tahun ke-30, mereka telah memiliki lebih dari 640 utusan yang mengabdikan hidup mereka di Tiongkok. Tahun-tahun terakhir abad ke-19 menjadi periode yang penuh ketidakstabilan. Tekanan modernisasi (dan terutama pengaruh negara Barat) berbenturan dengan ketidaksukaan terhadap orang-orang asing. Pada bulan Juni 1900 Pemberontakan Boxer melakukan pembunuhan terhadap orang-orang asing dan pemberantasan kekristenan. Seratus tiga puluh lima utusan dan lima puluh tiga anak-anak mereka dibunuh secara keji. Berita itu sangat memukul Taylor yang sedang di Swiss. Pada tahun 1902 Taylor mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin utama CIM. Taylor dan Jennie tinggal di Swiss sampai kematian Jennie pada tahun 1904. Setahun kemudian Taylor kembali ke Tiongkok, tempat ia menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang sebulan setelah kedatangannya. Sepeninggal Taylor, CIM masih terus berkembang. Pada tahun 1914 CIM menjadi badan misi terbesar di dunia dengan puncaknya pada tahun 1934 CIM memiliki utusan sebanyak 1.368 orang. Pada tahun 1964, CIM berganti nama menjadi The Overseas Missionary Fellowship (OMF).

Mengapa Hudson Taylor bisa mencintai orang-orang Tionghoa? Dalam Kisah Para Rasul 10:43 dikatakan bahwa Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." Melalui perkataan ini, Rasul Petrus sedang mempertanggungjawabkan tindakannya membaptis seorang non-Yahudi bernama Kornelius. Ia mendapat suatu penglihatan supaya ia mencari Petrus yang akan mengatakan kepadanya apa yang Tuhan mau. Allah sangat berdauluat dalam memberi keselamatan kepada Kornelius dan Allah memakai Petrus. Petrus mendengar cerita itu dari Kornelius. Sebelumnya Rasul Petrus mendapat penglihatan tentang binatang najis yang diminta untuk dimakannya. Dari dulu ia tidak pernah memakannya. Sejak muda ia menjaga kekudusan dan tidak mau melanggar adat istiadat orang Yahudi. Tuhan berkata, “Apa yang Aku katakan halal tidak boleh dikatakan haram.” Lalu ada bawahan Kornelius yang menjemputnya. Sewaktu tiba di rumah Kornelius, Kornelius cerita tentang pesan Allah dalam penglihatannya sehingga Petrus terkejut. Pesan itu dikaitkan oleh Petrus dengan mimpinya. Petrus akhirnya memahami bahwa Allah tidak membeda-bedakan manusia. Orang Yahudi punya prinsip bahwa di luar Yahudi, semuanya masuk neraka. Mereka seperti kayu bakar yang ditaruh supaya api neraka tetap menyala-nyala. Pemahaman orang Yahudi tentang bangsa-bangsa lain sangat mengakar (kuat) sekali. Sehingga mereka tidak mau bercerita tentang Yesus Kristus kepada bangsa lain. Kisah Para Rasul (buku lahirnya gereja dan orang-orang percaya) mencatat Tuhan tidak mengkhususkan (menyempitkan) lagi keselamatan hanya untuk orang Yahudi. Jadi bukan untuk segelintir orang sasja tetapi barang siapa (dari suku, etnis mana pun, tingkat sosial mana pun), kalau ia percaya kepada Kristus maka ia akan mendapat pengampunan dosa.

Dari ayat yang dibaca, Yesus ditentukan Allah menjadi hakim yang mengadili orang yang hidup dan mati. Kalau kita mati dan orang-orang yang telah mati lebih dahulu akan dihakimi. Orang yang hidup dan mati dihakimi oleh Hakim yang Agung yaitu Yesus. Pesan yang disampaikan Petrus dalam Kisah Para Rasul adalah “nabi-nabi sudah menyampaikan dan menjelaskan bahwa  siapa pun yang percaya Yesus akan mendapat pengampunan dosa”. Yesuslah yang melakukan karya Keselamatan dan keselamatan hanya bisa dilakukan oleh Yesus Kristus. Sehingga kita belajar tentang karya keselamatan ini seperti juga telah dipahami oleh Hudson Taylor. Siapa yang percaya kepada Yesus Kristus, akan beroleh pengampunan dosa.  Ada 5 hal dalam karya keselamatan Yesus :

1.     Perlunya penebusan

a.     Keadilan Allah
Kita percaya kepada Yesus bukan karena kita pintar tapi karena Allahlah yang memberi kita percaya. Jauh sebelum kita berbuat baik, memberi persembahan, menolong orang, Allah sudah menentukan kita untuk percaya (Ia menyatakan diriNya sehingga hati kita percaya). Saya dulu percaya saat menempuh kuliah di tingkat pertama. Di situlah Ia menggenapkan apa yang Ia sudah rancangkan  sebelum dunia dijadikan,”Aku memilih engkau Hery Kwok” dan Ia buktikan itu waktu saya percaya dan menerima Yesus Kristus. Di situ saya mengalami apa yang sudah Ia tentukan sebelum dunia dijadikan. Keselamatan datangnya dari Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa menolong dirinya supaya selamat. Kebenaran inilah yang membuat orang percaya harusnya rendah hati, bersyukur dan sangat menghargai keselamatan. Manusia butuh penebusan dan itu dikerjakan oleh Kristus karena keadilan Allah yang membuat kita harus menerima penebusan. Allah kita tidak pernah kompromi (mentoleransi) dengan dosa. Dosa adalah dosa. Bagi Allah dosa itu memuakkan dan Dia tidak suka. Allah tidak pernah mencabut ketetapanNya bahwa orang berdosa harus dihukum sehingga keadilan Allah harus dijalani oleh Yesus Kristus, supaya kita tidak dihukum. Keadilah Allah itulah yang membuat kita perlu ditebus. Jadi apa yang sudah Dia tetapkan jauh sebelum dunia dijadikan karena keadilan Allah dalam diriNya. Kita bersyukur Allah kita tidak plin-plan berbeda dengan manusia yang sedikit ragu sehingga bisa membuat anak-anak terkena narkoba dll.
b.     Kasih Allah.
Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.  Kasih Allah begitu besar. Kalau dinyatakan dalam bilangan, digunakan kata ‘tak tertingga’. KasihNya yang begitu besar yang mendorong hatiNya untuk melakukan penebusan.

2.     Sifat Penebusan

a.     Memberi kompensasi /kepuasan kepada Allah
Kristus melakukan keadilan dan kasih Allah supaya apa yang menjadi murka Allah diperdamaikan. Kalau kita pukul orang akan terkena pidana (bisa di penjara). Waku saya memukul orang, yang marah adalah yang dipukul karena ia tidak terima. Agar ia tidak marah, maka yang memukul harus memberi sesuatu sebagai kompensasi. Misalnya : 1 pipi dibayar Rp 1 milyar supaya ia tidak marah lagi. Allah marah terhadap dosa. Supaya memuaskan hati Allah agar tidak marah lagi, maka Yesus mati di kayu salib.
b.     Menggantikan
Seharusnya kita dipaku di kayu salib, tetapi Yesus menggantikan kita. Sekarang kita berada dalam kehidupan tanpa dihukum. Kalau pergi di penjara, ada yang mengatakan untuk membelanya supaya bisa keluar penjara. Papa saya dulu pernah di penjara dan ia berkata,”Jangan sekali-sekali masuk penjara karena susah keluarnya.” Satu hari saja di penjara sangat susah. Kalau divonis 1-2 tahun seperti di neraka. Seharusnya kita ditaruh di sana karena kita layak untuk dihukum oleh Allah tapi Dia gantikan kita.

3.     Jangkauan penebusan : untuk umat yang dipilihNya
Tidak semua orang diselamatkan. Bisa percaya adalah anugerah (blessing). Kita tidak bisa mencari keselamatan sendiri.  Orang Yahudi (Ahli Taurat dan Farisi) mencoba mencarinya dengan caranya (berbuat segala sesuatu dengan kekuatan dirinya) tapi tidak bisa. Maka menerimaNya dikatakan sebagai anugerah. Sehingga Rasul Paulus menulis dalam surat ke jemaat Efesus 2:8-9, “Karena kasih karunia kamu diselamatkan”. Jadi Allah memberikan kepada yang Dia mau yaitu kita dan orang-orang yang ditentukan Allah untuk menerimanya dan belum kita tahu, sehingga kita harus memberitakan Injil termasuk kepada orang-orang Tionghoa. Salah satu jangkauan penebusan Kristus di kayu salib untuk orang-orang yang akan diselamatkan. Kita sudah percaya, puji Tuhan. Namun lihat yang belum seperti orang tua, pembantu, tetangga dll.

4.     Kepastian Keselamatan
Keselamatan tidak bisa hilang maksudnya Allah tidak pernah salah memilih. Kalau Ia salah pilih maka Ia bukan Allah. Waktu Ia kasih hati percaya, maka itu Allah. Waktu ia selamatkan kita, Ia akan terus proses kita.

5.     Kehidupan orang yang diselamatkan
Orang yang telah diselamatkan Allah, maka ia harus hidup sesuai dengan keselamatanNya. Jadi jangan karena keselamatan tidak hilang, lalu berbuat dosa. Itu orang yang tidak mengenal keselamatan. Orang yang diselamatkan tidak berbuat dosa lagi. Sifat karya Allah mencakup dipelihara dalam kehidupan untuk diselamatkan sampai kita mati serupa dengan Kristus. Hudson Taylor menangkap hal itu. Dalam sebuah buku yang dibacanya, itu menggetarkan hatinya. Itu membuatnya meras apa yang ditanam Allah dalam dirinya, Ia harus pergi ke Tiongkok dan tidak pernah membatalkan dan meragukannya lagi.
     
Kesimpulan

Hati dari rasul – rasul (murid-murid Kristus).

1.     Kisah 10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Rasul-rasul mengenal hati Allah yang menginginkan jiwa-jiwa diselamatkan . Hati Petrus dan rasul lainnya menangkap hati Allah . Hudson menangkap hati Allah. Itu sebabnya ia ingin sekali datang ke Tiongkok. Kita harus malu karena Hudson bukan orang Tionghoa melainkan orang Inggris tetapi hatinya di Tiongkok (menangkap hati Allah yang ingin agar jiwa-jiwa diselamatkan). 

2.     Taat kepada Tugas/Amanat yang ditugaskan kepada Rasul/Murid Kristus untuk menginjili kepada seluruh bangsa (ayat 42 Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.).
Setelah menangkap hati Allah, para rasul taat melakukan tugas Amanat Agung (juga Hudson Taylor). Ayat 42 tidak dapat kita jalani kalau kita tidak menangkap ayat 34 (hati Allah). Kalau tidak , biar 4 tahun bicara untuk menginjili orang-orang sesuku dulu yaitu orang Tionghoa, orang yang belum melakukan tugasnya. Melihat sejarah pendiriannya oleh Alm. Pdt. Andrew Gih yang datang dari Tiongkok agar GKKK menginjili untuk semua orang di Indonesia. Ia ingin menyatakan cinta kasih Allah supaya Allah menyelamatkan etnis Tionghoa. Sewaktu rapat sinode diingatkan apa yang hendak dikatakan pendahulu. Silahkan , nanti saya susah dengan bangsa lain. Lihat saja ke orang-orang Tionghoa. Jangan katakan, “Saya tidak bicara” soal skill dan cara bisa dipejari. Kalau hati Allah tidak ada di hati kita, maka kita tidak pernah bereaksi. Pulang gereja langsung pulang, tidak pernah menyampaikan berita Injil. Kita harus malu dengan Hudson Taylor dan keluarganya. Hati nya luar biasa. Untuk orang Batak ada yang namanya Nommensen dari Jerman. Dulu sebelum Nomensen datang, dikatakan orang Batak makan orang. Orang ini bukan dari Indonesia tapi datang ke Indonesia. Maka ada gereja Pasundan, gereja Jawa, gereja Tionghoa, gereja Nias dll.

3.     Hati yang mempunyai belas kasihan.
Hati yang mau menceritakan karya keselamatan kepada manusia berdosa (orang-orang Tionghoa yang belum mengenal Allah). Uutuk itu perlu dilakukan juga dalam pembesukan. Namun kegiatan ini akan menjadi arisan kalau kumpul saja kalau tidak ada penginjilan. Biasaya saat arisan, pesertanya suka ribut. Gereja yang ribut adalah gereja arisan. Gereja seharusnya menginjili sehingga tidak ribut yang ada hanya berikan Injil. Hati kita menangkap hati Allah. Rasul-rasul dan Hudson tangkap hati Allah. Saat hati kita menangkap hati Allah, maka kita tidak akan diam untuk cerita karya keselamatan kepada orang-orang yang kita kenal (yang paling dekat dari etnis Tionghoa). Kiranya kita menjadi jemaat yang bukan untuk diri sendiri. Memperhatikan keluarga penting, tapi kalau fokusnya hanya keluarga, maka kita menjadi ego-sentris. Seperti kalau menyayangi, jangan sampai hanya menyayangi dan memperhatikan keluarga saja karena itu egosentris. Kalau egosentris, Allah yang berhadapan dengan kita. Dia tidak ingin orang tebusanNya punya hati ego-sentris. Dia ubah kita supaya serupa dengan gambar AnakNya. Karena AnakNya sudah membuktikan kasihNya yang luar biasa untuk mengasihi jiwa-jiwa. Kiranya ibadah imlek menolong kita kembali lagi kepada panggilan yang tidak pernah ditarik Allah yaitu kabarkan berita baik. Ada orang yang butuh. Jangan sampai ada yang berkata (seperti di kitab Yehezkiel), “Aku bertemu di jalanan (di suatu tempat) tapi ia tidak menceritakan tentang Injil saat bertemu.” Itu celaka.