Tuesday, May 17, 2016

Lapar dan Haus akan Firman


Pdt. Alex Nanlohy

Kis 2:1-4,41-42
1    Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2  Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
3  dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
4  Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42  Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Yoh 16:12-15
12  Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
13  Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
14  Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
15  Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."

Pendahuluan

                Pentakosta (dari bahasa Yunani Pentēkostē [hēmera]  yang berarti ke lima-puluh) atau Minggu Putih adalah hari raya yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, yang terjadi 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan yang dijanjikan Yesus sesudah kenaikanNya ke surga. Menurut Alkitab, murid-murid Yesus berhasil mempertobatkan tiga ribu jiwa pada hari tersebut dan hal inilah yang disebut dengan lahirnya gereja mula-mula (Kisah Para Rasul pasal 2). Sebelumnya Pentakosta adalah hari raya besar orang Yahudi yang kemudian diadopsi oleh gereja Barat dan gereja Timur. Di luar hari raya Pentakosta, ada 2 hal lagi yang dirayakan oleh orang Yahudi yaitu pemberian 10 hukum Allah dan  hari raya panen (sehingga ada dekorasi berlatar hasil panen).  Kisal Rasul pasal 2 mencatat bagaimana Roh Kudus turun ke atas para rasul. Mereka menerima karunia bahasa-bahasa lain. Tujuan karunia itu adalah menyaksikan berita tentang Yesus. Itu terjadi setelah khotbah Petrus pada Kis 2:14-41 sehingga kehadiran Roh Kudus memampukan kita bersaksi. Kita tidak menolak karunia roh, tetapi kita tidak hanya menekankan karunia apalagi menjadi sombong sehingga berkata,“Saya bisa ini kamu tidak bisa.” Yang terjadi pada ayat 41-42, orang-orang yang menerima khotbah Petrus memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira 3.000 jiwa.

Ciri Gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus

Apa ciri utama dari gereja yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan mengalami kuasa Allah? John Stott (1921-2011, pengkhotbah, penginjil, dan penulis asal Inggris) mengatakan, “Ciri pertama dan utama gereja yang dipenuhi Roh Kudus : mereka bertekun dalam pengajaran para rasul.” Kata ‘bertekun’ (dalam bahasa Inggris : devoted) yang muncul bukan kata sembarangan. Ia bermakna ‘mengkhususkan dan memfokuskan hidup pada pengajaran’. Dalam bahasa kini : orang yang lapar dan haus akan firman. Ini ciri gereja yang mengalami kuasa Pentakosta. Itu terjadi 2.000 tahun lalu. Roh yang sama tinggal dalam hati orang yang percaya pada Yesus Kristus dan yang dikumpulkan menjadi satu jemaat gereja. Mereka bertekun pada pengajaran para rasul. Dikaitkan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam Efesus 2:19-20 dikatakan “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru”. Ini merupakan hal yang penting. Berapa banyak gereja yang setia pada kebenaran? Pentakosta bukan hanya dikaitkan dengan karunia roh. Tuhan mengaruniakan roh, tetapi tujuannya supaya jemaat bisa menikmati kekayaan Firman Tuhan. Roh Kudus adalah Roh Kebenaran untuk menolong kita memiliki kerinduan yang dalam. Lapar dan haus adalah bahasa figuratif. Orang lapar ingin sekali makan , orang haus ingin sekali minum. Sikap hati ini berarti ingin bergantung penuh padaNya, dengan sikap hati yang benar untuk meminta pertolongan Tuhan dan muncul dalam perilaku dan kebiasaan kita.

Roh Kudus dijanjikan Yesus di dalam Yoh 14:16-17 dan itu digenapi pada Kis 2 yang turun atas para murid dan gereja Tuhan dan dikatakan sebagai Roh Keberanan yang memimpin kita dalam kebenaran. Yoh 14:16-17a Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.  Saat Roh Allah diam dalam kita, Dia akan  memberikan kita rasa lapar dan haus akan Firman Tuhan. Tapi bagi orang yang mati dalam dosa tidak punya kerinduan dan rasa haus dan lapar akan Firman Tuhan. Mari hargai Roh Allah dalam hidup kita, yang memimpin hidup kita menuju kebenaran. Ia akan memimpin hidup kita dalam dan kepada kebenaran. Bagaimana gereja punya waktu dan kesempatan untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan? Dalam tradisi gereja reformasi, pusat ibadah adalah pemberitaan Firman Tuhan. Martin Luther (1483 – 1546, Bapa Reformasi Gereja dengan 95 dalilnya) mengembalikan pusat ibadah pada pemberitaan Firman Tuhan sehingga mimbar berada di tengah. Sedangkan pada gereja Katolik dari tata bentuk ruang ibadah saja sudah menunjukkan pusat ibadah. Pusat ibadah (disebut misa) yang berada di posisi tengah gereja adalah altar sedangkan mimbar ada di samping. Saya tidak memperdebatkan , tetapi mengingatkan Roh Allah diberikan untuk memimpin kita agar makin menikmati dan mencintai Firman Tuhan.

Bagaimana Meresponinya Firman Tuhan?

                Gereja banyak melakukan pembinaan dan pengajaran akan Firman Tuhan tetapi apakah jemaat gereja merasakan lapar dan haus? Kalau kita merasa firman Tuhan itu penting bagi hidup kita, maka kita akan menyediakan banyak waktu. Suatu kali saya berbicara dengan seorang teman yang sulit melakukan saat teduh. Setelah digali ternyata ia memiliki filosofi hidup  ‘Saat teduh tidak penting’. Hal ini membuatnya sulit ber-saat teduh.  Padahal apa yang dianggap penting, akan dilakukan karena masuk dalam priortias hidup kita. Hal yang penting akan mendapat prioritas waktu. Apakah Firman Tuhan menjadi prioritas? Kalau betul Firman Tuhan menjadi kebenaran yang menolong kita bertumbuh dalam Tuhan, apakah kita punya kelaparan dan kehausan akan Firman Tuhan?

                Saudara kita yang tidak seiman, ada yang pagi bersekolah dan sore mengikuti pengajian. Mereka ingin anaknya khatam Alquran yang artinya selesai baca Alquran. Ada yang khatamnya kelas 3 SMP. Suatu waktu saya datang ke sekolah Kristen dan bertanya kepada para siswa SMA, “Siapa yang dari kecil sudah menjadi Kristen?”. Semua siswa mengangkat tangan. Lalu saya bertanya lagi, “Berapa banyak yang pernah baca Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu?” Ternyata yang mengangkat tangan tinggal 3 anak. Saya jadi bertanya dalam hati,”Apa yang menjadi kebanggaan orang tua Kristen?”  Kalau punya anak , kita ingin agar dia bisa berbahasa Inggris sehingga dimasukan ke kursus bahasa Inggris. Kalau lapar dan haus akan firman Tuhan apa buktinya? Ada orang tua yang memberi kursus Alkitab pada anaknya? Kebanyakan hanya memasukkan anaknya ke Sekolah Minggu. Ada orang tua yang berkata,”Sudahlah. Ia sudah capai sekolah dari hari Senin sampai hari  Jumat.” Jadi kalau hari Minggu jangan dibangunkan pagi-pagi. Mungkin ada orang tua yang mendorong anak-anaknya ikut Sekolah Minggu? Jarang. Mungkin hal ini disebabkan pergi ke Sekolah Minggu tidak bayar. Coba kalau masuk Sekolah Minggu bayar, pasti orang tua berteriak dengan kerasnya bila sang anak tidak masuk Sekolah Minggu. Mungkin perlu juga Sekolah Minggu dipungut bayaran supaya orang tua mendorong anak-anak Sekolah Minggu bersekolah setiap Minggu. Ada orang tua yang kalau anaknya tidak ikut kursus , teriakannya bisa didengar oleh orang-orang satu gang dengan rumahnya. Tapi kalau untuk pergi ke Sekolah Minggu orang tuanya berkata, “Kasihan.. capai..” jadi akhirnya dilewati (tidak pergi). Tentu ini hanya salah satu survei dan bukan satu-satunya. Kapan pengunjung gereja paling banyak datang : saat  pengajaran atau makan-makan? Makan-makan. Tetapi kalau belajar Alkitab? Di dalam gereja banyak jemaat yang sudah belajar sampai sarjana (S1-S3) tetapi dalam pengetahuan Alkitab banyak yang tetap TK. Lapar dan haus apa buktinya? Apakah kita meresponsi pemberitaan Firman Tuhan? Kalau saat bernyanyi ‘Aku Mengasih Engkau’ banyak yang menyanyi dengan keras.
Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku. Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap jiwaku.
Kurenungkan firmanMu siang dan malam, kupegang printahMu dan kulakukan.
Engkau tahu ya Tuhan tujuan hidupku, hanyalah untuk menyenangkan hatiMu.
Tetapi kalau direnungi kebanyakan kita munafik. Apakah kita benar-benar mengasihi Yesus dengan segenap hati? Yoh 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.
Bukti kasih kepada Yesus bukan kalau ada gambar besar Yesus di kamar, di dinding handphone atau di dompet. Tetapi orang yang mengasihi Yesus kalau ia mentaati FirmanNya seperti lagu di atas Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku. Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap jiwaku. Kurenungkan firmanMu siang dan malam.  Banyak yang saat menyanyikan lagu tersebut dengan penuh penghayatan dan menutup mata, tetapi apakah pernah di lakukan? Hanyalah untuk menyenangkan hatiMu dan hatiku. Apakah  kita mencintai Dia dan semakin taat? Apakah kita makin hidup kudus? Jangan sekedar berjubah Kristen tetapi firman tidak mengubah hidup kita dan masih maunya sendiri : “Gua memang pemarah. Memang gua orangnya begini. Mau apa?” Itu berarti kita tahu Firman Tuhan, tapi tidak berubah dan hal ini mirip dengan orang Farisi. Kalau bilang cinta Tuhan buktikan! Baca Firman Tuhan setiap hari! Bersyukur di sekolah Kristen ada ibadah singkat di pagi hari di mana siswa diminta untuk membaca Alkitab. Tetapi sayangnya banyak yang ingin cepat-cepat selesai karena mau ulangan, sehingga sekolah Kristen lebih tidak menghormati Firman Tuhan.

                Apa beda “sisa” dan “sisih”? Kalau ada makanan dalam piring besar, lalu kita makan sehingga tertinggal sedikit. Itu namanya sisa. Kalau “sisih” dari awal sebelum kita makan telah dilakukan (makanannya dipisahkan). Lebih terhormat makanan disisihkan dulu dibandingkaan dikasih sisa? Waktu yang kita berikan sisa atau sisih? Ada siswa yang menjawab, “Sisa sih...” artinya  membaca Alkitab kalau ada waktu. Juga berdoa dilakukan sewaktu-waktu, padahal sudah diajar lagu “Baca Kitab Suci” di Sekolah Minggu : baca Kitab Suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh 3x Glory haleluya… Baca KItab Suci doa tiap hari Kalau mau tumbuh.. Evaluasi dari lagu itu saja. Pagi ini kita tidak sedang bicara teori. Saya rindu kita pulang mempraktekannya sehingga sesuai dengan tema kita. Jangan hanya di kepala, tetapi kita mau jadikan di hidup kita. Ada seorang pendeta mengunjungi rumah jemaatnya. Yang ada hanya ibu karena bapaknya sedang bekerja. Pendeta berbincang-bincang. “Bagaimana, rajin baca Alkitab?” Dijawab sang ibu,”Oh rajin”. Akhirnya sebelum pulang pendeta tersebut berkata,”Ibu sebelum pulang kita baca Alkitab dan berdoa.” Lalu sang ibu meminta pembantunya untuk membawakan Akkitab yang terletak di atas lemari. Waktu diminta membaca Maz 23, sang ibu membuka Alkitabnya dan tiba-tiba ada kacamata jatuh. Ibu itu lalu berkata, “Ya ampun ini kacamata dicari-cari selama 3 tahun.” Jadi kalau barang hilang coba cari di Alkitab, siapa tahu terselip. Roh Kudus turun maka gereja lapar dan haus membaca kitab suci. Ada kerinduan. Ada ada family altar. Anggota keluarga semua duduk , membaca Alkitab, setiap hari baca 3 pasal. Bagi kepala rumah tangga yang tidak bisa “khotbah” dapat dilakukan dengan membaca Alkitab saja. Sehingga anak-anak tidak asing dengan Firman Tuhan. Kiranya ini jadi kerinduan kita bersama. Kalau kita haus dan lapar, kita berdoa agar kiranya Tuhan menolong saya.

                Penginjil Robert Summer dalam bukunya yang berjudul, “The Wonder of the Word of God” menceritakan tentang seorang warga Kansas, korban ledakan. Pemuda tersebut berusia 20 an akhir. Waktu itu sang pemuda sedang bekerja di suatu pabrik dan tiba-tiba ada kebakaran besar dan terjadi ledakan. Ia berada paling dekat dengan sumber api dan ledakan sehingga bagian tubuhnya banyak yang terkena. Kebakaran yang melanda tubuh dan wajahnya cukup parah. Seluruh mukanya harus  direkonstruksi  ulang, matanya buta dan kedua telapak tangan diamputasi. Setelah sembuh, sang pemuda ditanya, “Apa yang paling kau sesali setelah peristiwa ini?” Ia menjawab,”Saya sangat menyesal karena tidak bisa lagi membaca Alkitab.” Rupanya ia belum lama jadi orang Kristen, dan sedang senang-senangnya membaca Alkitab. Setelah itu ia mencari informasi agar dapat membaca Alkitab walau tidak punya mata dan tangan. Saat itu belum ada Alkitab versi audio. Karena tidak punya mata ia tidak bisa membaca. Mau pakai tangan untuk membaca huruf Braille tidak bisa karena tangannya sudah tidak ada. Ternyata ada wanita yang kondisinya seperti dia yakni tidak punya telapak tangan dan buta dan wanita ini bisa membaca dengan bibir! Dia pun ingin belajar membaca dengan bibir dan meminta Alkitab huruf Braille. Lalu ia coba membaca dengan bibirya. Ternyata akibat kecelakaan itu bibirnya tidak bisa digunakan untuk membaca karena sarafnya rusak. Namun tanpa sengaja lidahnya terjulur dan ia bisa membaca dengan lidah! Mulailah ia membaca. Ketika Robert Summer menulis bukunya, sang pemuda sudah membaca habis dari kitab Kejadian sampai Wahyu sebanyak 3 kali. Apakah kita punya hati yang lapar dan haus akan kebenaran? Kiranya Roh Kudus memimpin hidup kita dan gereja untuk mencintai Firman Tuhan. Amin


No comments:

Post a Comment