Tuesday, February 9, 2016

Spirit Menginjili

Pdt. Paulus Daun

Matius 28:16-20
16   Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
17  Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
18  Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Matius 9:35-37
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
37  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
38  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Amanat Agung untuk Memberitakan Injil

                Ketika Yesus Kristus belum terangkat ke sorga, ia meninggalkan suatu perintah yang penting sekali (Amanat Agung) kepada para muridNya untuk pergi memberitakan Injil. Sebelum menyampaikan pesan ini kepada murid-muridNya, Dia menyatakan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepadaNya. Mengapa Yesus menyatakan terlebih dahulu hal ini? Ia ingin menyampaikan ke murid-muridNya dan setiap kita bahwa Amanat Agung ini adalah perintah dari Raja Diraja dan Tuhan di atas segala tuhan. Amanat ini bukan meminta atau mengajak kita tetapi suatu perintah (命令 mìng lìng) kepada kita yang diberikan Tuhan sendiri kepada kita. Maka setiap kita yang menerima perintah ini, tidak ada alasan untuk menolaknya. Kita menerima perintah ini dengan satu sikap untuk mentaati dan mengikutinya. Kalau Tuhan Yesus memberikan perintah kepada kita maka tIdak ada alasan menolak dan tidak mau mengikutinya. Kita seringkali mengatakan kita sibuk sehingga jangankan mengabarkan injil, datang beribadah minggu saja tidak. Tetapi ini perintah yang diberikan oleh Tuhan, tidak ada alasan untuk menolaknya. Tidak bisa beralasan sibuk atau tidak ada waktu. Hanya ada satu sikap yakni HARUS TAAT dan MENJALANKANNYA! Saya kira semua orang sudah mengerti hal ini. Hamba Tuhan di mimbar sudah menyampaikan hal ini kepada kita. Kalau kita mengerti Amanat Agung dan tahu bahwa kita harus mengabarkan Injil, tetapi apa yang kita lakukan berbeda. Kita tahu perintah untuk mengabarkan Injil dan harus menjalaninya, namun apakah dalam kehidupan, perintah ini sudah kita jalankan? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, “Sejak percaya pada Tuhan Yesus sampai hari ini, apakah kita sudah mengabarkan Injil?” “Apakah kita pernah membawa 1 orang untuk datang dan percaya Tuhan Yesus?” Kadang kita merasa malu, pendeta menyampaikan untuk mengabarkan injil namun apakah kita punya semangat dan hati untuk mengabarkan injil? Jarang sekali orang menjalankan perintah ini, mengapa? Apa masalahnya? Masalah inilah yang harus diatasi. Kita harus punya hati (jiwa) untuk menginjili, mengapa kita tidak taat dan menjalankannya? Ketika Tuhan Yesus di bumi ini mengabarkan Injl, Alkitab mengatakan bahwa Dia masuk ke desa dan kota untuk mengabarkan Injil dan Dia mendorong murid-muridNya untuk menyampaikan firman Tuhan. Membuktikan Tuhan kita punya semangat memberitakan Injil. Agar para murid punya hati dan semangat penginjilan. Mengapa mereka harus semangat? Mat 9:36 mengatakan Dia melihat. “Melihat” itu penting sekali artinya Tuhan Yesus punya hati untuk mengabarkan injil. Kita harus seperti Tuhan Yesus yang melihat yaitu memiliki visi dan misi. Ada suatu titik tujuan dan pedoman.  

Visi dan Misi Hidup

                Apa itu visi? Satu titik tujuan dan pedoman. Apa titik tujuan kita? Kalau kita ingin memiliki hati penginjilan kita harus punya titik patokan yang harus dicapai. Titik tujuan kita apa? Seperti Tuhan Yesus melihat domba-domba tidak punya gembala (Mat 9:36b). Di depan kita melihat banyak jiwa yang akan binasa (terhilang). Kita menjadikan mereka sasaran dan tujuan untuk menyampaikan penginjilan. Kita harus mencapai titik tujuan itu, barulah kita punya semangat visi dan misi itu. Selain visi kita harus punya misi. Kalau hanya visi saja, kita hanya bicara saja di atas meja. Saat rapat kita banyak berteori tetapi tidak ada yang menjalankan. Kalau hanya punya misi tanpa visi, ibaratnya kita melakukan banyak pekerjaan tetapi tidak ada hasilnya. Di gereja kalau mau mengabarkan injil, kita harus punya visi dan misi juga. Bukan saja pemimpin gereja yang harus punya hati yang demikian tetapi juga seluruh jemaatnya. Kalau kita sudah “melihat”, kita akan memiliki hati demikian. Namun melihat saja tidak cukup. Walaupun kita punya visi, kita harus mencapai titik tujuan itu. Namun sepertinya kita tidak punya kekuatan untuk melaksanakannya. Tuhan Yesus tidak hanya melihat seperti yang dicatat pada Mat 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kalau kita punya visi dan misi untuk pengabaran injil, maka bukan saja melihat tetapi kita punya hati yang berbelas kasihan. Hati yang berbelas kasihan berasal dari kita mengasihi. Kalau engkau punya kasih, baru engkau punya hati yang berbelaskasihan. Tanpa kasih, kita tidak punya hati yang berbelaskasihan. Apakah kita punya kasih? Kita punya. Tetapi mengapa kita tidak berbelaskasihan pada orang yang sudah jatuh dalam dosa? Karena kasih kita egois. Kita mau apa yang kita lakukan ada hasil untuk diri sendiri.

Kasih

Ada 3 macam kasih dalam Bahasa Yunani  :
1.       Storge. Kasih ini hanya untuk keturunan sedarah (saudara) saja. Saya bisa mengasih anak saya dan anak saya bisa mengasihi saya, karena memiliki kasih storge ini. Saudara-saudara bisa saling mengasihi karena punya kasih ini.
2.       Philia. Kasih di antara teman. Walaupun engkau bukan saudara saya melainkan sahabat saya, maka saya bisa mengasihimu.
3.       Eros. Kasih suami istri. Saya dan istri bisa mengasihi karena kasih eros ini.

Ketiganya diberikan Tuhan kepada kita. Kasih ini suci, kasih ini untuk kita nikmati. Ketika manusia berdosa,  kasih ini berubah. Ia tidak lagi seperti kasih mula-mula (kasih yang benar). Ketika manusia berdosa, kasih ini penuh keegoisan. Kita bisa mengasihi papa dan mama saya, anak saya, tetapi ada syarat. Asalkan mereka tidak menimbulkan kerugian  bagi (menyulitkan) saya. Kalau orang tua atau anak saya menimbulkan kerugian  maka kasih ini berubah menjadi benci. Kita banyak melihat hubungan orang tua-anak terputus. Kita melihat saudara-saudari, kakak beradik karena harta saling membunuh. Maka kasih storge berubah karena dosa. Asal mendatangkan kebaikan, baru dikasihi. Demikian juga dengan kasih philia. Asal engkau tidak merugikan saya, saya mengasihimu. Tetapi kalau engkau merugikan, kasih ini berubah. Maka kita sering melihat, orang itu bisa menjadi sahabat dan teman baik. Tetapi akhirnya mereka jadi bermusuhan. Demikian juga dengan kasih eros. Kasih ini diberikan Tuhan. Kasih ini baik dan suci, tetapi karena masuk dosa, maka kasih ini berubah. Maka banyak sekali suami mengasihi istri orang lain (selingkuh). Bukan saja suami, tetapi istri juga melakukan hal yang sama. Bukan saja mengasihi suami sendiri tetapi juga suami orang lain. Sehingga sekarang menjadi kacau balau. Setelah menikah sebentar kemudian bercerai. Baru menikah beberapa bulan terjadi masalah. Karena dosa, kasih eros berubah.

Kalau menggunakan tiga macam kasih ini, kita tidak bisa memiliki kasih yang berbelaskasihan pada orang lain. Maka kita perlu kasih Tuhan untuk melingkupinya. Kasih Tuhan adalah kasih agape. Ketiga kasih sebelumnya menghasilkan hal-hal yang normal. Kita hanya melihat teman, saudara, pasangan hidup dan keluarga semata. Dengan kasih agape, titik tujuan dan pedoman kita hanya satu yaitu membawa domba yang hilang kepada Tuhan. Baik saudara atau musuh, orang Tionghoa atau bukan, karena kasih agape kita hanya punya pedoman, untuk membawa jiwa-jiwa yang hilang ke hadapan Tuhan agar mereka punya hidup kekal. Kita tidak hanya bicara saja tetapi juga melakukannya.

Ketika Tuhan Yesus menyampaikan ke murid-muridNya bahwa Dia akan disalib dan murid-muridNya akan tercerai berai. Tetapi Petrus mengatakan bahwa ia tidak. Petrus berkata bahwa ia rela mengorbankan diri sendiri. Tetapi ketika Tuhan Yesus ditangkap, dituduh dan perlu orang untuk mendapinginya. Petrus malah menyangkalNya. Petrus di sini sangat lemah. Dia tidak bisa memegang janjinya. Inilah Petrus yang tercatat pada keempat Injil.  Pada Kisah Para Rasul, kita melihat hal yang berbeda. Di hadapan pemuka Yahudi,Petrus diminta untuk menyangkal Yesus tetapi ia tidak mau. Ia mau bersaksi tentang Tuhan Yesus. Kis 4:12  Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Pemimpin Yahudi kemudian berusaha menangkap dan membunuhnya. Dalam kondisi demikian, Petrus tidak merasa takut. Mengapa Petrus yang tercatat pada keempat injil itu berbeda dengan kitab Yoh 21. Waktu itu Tuhan Yesus bangkit dan bicara dengan Petrus. Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari pada mereka ini?)" (Yoh 21:15-17). Petrus pun menjawab. Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kalau membaca Injil berbahasa Inggris dan Indonesia, kita tidak mengeri makna dan perbedaannya. Dalam bahasa aslinya saat Tuhan Yesus bertanya,”Simon Petrus, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari semua ini)?” Kata yang digunakan bukan storge atau eros tetapi agape! Jadi Tuhan Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih agape?” Petrus menjawabnya, “Aku mengasihi engkau dengan kasih philia.” Sepertinya pertanyaan Tuhan Yesus tidak begitu jelas. Dua kali Petrus menjawab,”Saya mengasihi engkau dengan kasih philia.” Ketiga kalinya Tuhan Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes, saya sudah melakukan banyak. Apakah engkau hanya mengasihiKu dengan philia?” Petrus merasa sangat sedih karena malu. Tuhan Yesus sangat mengasihi dia. Di depan Tuhan Yesus, ia tidak bisa bohong. Petrus tidak bisa menyembunyikan,“Tuhan Engkau Maha Tahu. Saya mengaku, saya mengasihi engkau bukan dengan kasih agape. Saya mengasihi Engkau dengan kasih philia.” Berbeda dengan Yesus yang tidak bisa mengasihi selain dari kasih Agape. Mulai saat itu Petrus tidak mengasihi dengan kasih philia tetapi dengan kasih agape yaitu kasih yang mendalam dan tidak berubah. Dalam keadaan bahaya Petrus tetap teguh memegang kepercayaannya karena dia mengasihi Yesus dengan agape. Kalau Kita punya hati pengabaran Injil, maka kita perlu kasih Tuhan Yesus untuk mengasihi mereka. Dengan kasih agape, mendorong kita mempunyai hati yang berbelaskasihan. Kasih seperti ini hanya punya 1 tujuan yakni  orang yang tidak percaya pada Tuhan Yesus akan binasa sehingga kita punya kasih yang berbelaskasihan. Bagaimana pun keadaannya aku harus mengabarkan injil. TIdak ada alasan tidak memberitakan Injil. Bukan hanya kita membaca Alkitab dan dari sejarah gereja kita bisa membaca. Banyak gereja yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang.
                17 tahun lalu ketika pensiun, saya dipercayakan untuk mengelola sebuah badan misi internasional yang bernama SIM (Serving in Mission) yang berpusat di Amerika. Jaringan ini sudah berusia 120 tahun dan selama itu sudah mengirim 10.000 misionari ke seluruh dunia. Tahukah engkau bagaimana asal mula dari badan misi ini? Jaringan misi ini dimulai dari 3 anak muda (2 orang pemuda dari Kanada dan 1 dari Amerika). 120 tahun lalu mereka  melihat kebutuhan di Afrika. Mereka melihat jiwa-jiwa terhilang di Afrika sehingga mereka mempersembahkan diri sendiri. Mereka mau menjadi misionari. Saat itu, mereka minta agar badan misi mengutus mereka. Tetapi tidak ada satu pun badan misi yang menerimanya. Bukan karena tidak ada uang. Uang ada, tetapi mengapa mereka menolak? Badan misi tidak berani bertanggung jawab. Mengutus misionari ke Afrika sama dengan bunuh diri. Kalau badan misi mengutus misionari ke Afrika, pasti tidak akan kembali. Jadi tidak ada badan misi yang menerima ketiga anak muda ini. Tetapi karena mereka mengasihi orang-orang Afrika, mereka tetap pergi. Tak lama kemudian, 2 pemuda meninggal di Afrika. Yang satu lagi sempat kembali ke Kanada dan berobat. Setelah sembuh ia kembali ke Afrika. Dia tahu kalau kembali ke sana, ia akan mengorbankan diri. Dia tahu, kalau pergi pasti mati! 2 orang temannya sudah meninggal dan dia tidak takut akan meninggal juga. Akhirnya ia benar-benar meninggal di Afrika. Orang-orang Afrika dengan 3 pemuda ini tidak ada hubungan. Bukan keluarga, teman atau kekasih. Mereka tidak mengenal orang-orang Afrika. Tetapi mereka mau pergi, sampai mengorbankan diri sendiri. Satu-satunya jawaban adalah mereka punya kasih yang mendalam. Mereka sungguh mengasihi orang-orang Afrika sehingga walaupun harus mengorbankan diri mereka tidak masalah. Pengorbanan mereka tidak sia-sia. Sampai saat ini sudah 120 tahun, jaringan misi ini terus berjalan. Sekarang ada 2.000 lebih misionari di 44 negara mengabarkan injil Banyak rumah sakit dan sekolah didirikan. Ada beberapa sekolah teologi didirikan. Melalui hal-hal ini, Firman Tuhan terus diberitakan. Kalau kita punya jiwa misi dan semangat mengabarkan Injil, kita tidak hanya dapat melihat tapi kita punya hati yang berbelaskasihan. Dengan memiliki hati yang demikian, percayalah bahwa  di masa depan Tuhan akan memakai kita. Suatu hari kita melihat jiwa terhilang dibawa kehadapan Tuhan. Sejak percaya Tuhan sampai hari ini, bila kita tidak pernah mengabarkan Injil dan membawa satu pun jiwa, jangan kecewa. Tetapi kita datang kehadapan Tuhan Yesus untuk memohon kepadaNya agar memberikan kasih yang dalam. Alkitab mengatakan, “Yang mengetok pintu Tuhan akan membukakan pintu, yang mencari akan mendapatkan.” Tuhan mengasihi orang-orang itu. Dia memberikan kasih yang mendalam pada kita. Kita bisa menggunakan kasih ini untuk mengasihi orang-orang lain. Ketika memperhatikan jiwa-jiwa yang terhilang, kita akan berpikir bagaimana caranya membawa jiwa itu ke hadapan Yesus. Percaya suatu hari Tuhan akan memakai kita.



                

No comments:

Post a Comment