Monday, April 30, 2018

Allah Mengubah Kesulitan Menjadi Kemenangan

Ev. Martin Manurung

Kejadian 50:15-21
15  Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya."
16  Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:
17  Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.
18  Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu."
19  Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?
20  Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.
21  Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Pendahuluan

              Sekarang ini sedang ramai film “Avenger : Infinity War”. Film fiksi yang menggabungkan cukup banyak pahlawan adi (super hero) melawan Thanos, sang penjahat! Ironisnya pada akhir film penjahatnya menang. Terkadang saya ingin melihat dalam suatu film, kejahatan menang untuk sementara waktu karena ada pemahaman yang keliru dalam memandang kesulitan dan kemenangan. Mari kita melihat Kejadian 50:15-21 (hidup Yusuf, sebuah kisah penderitaan dan pemeliharaan).
              Setelah membacanya kita tahu jalan ceritanya yakni Yusuf bermimpi dua kali. Mimpi pertama adalah tentang berkas-berkas gandum Yusuf yang tegak berdiri, lalu datanglah berkas-berkas gandum saudaranya yang sujud menyembah berkas-berkas gandum Yusuf. Pada mimpi kedua matahari (=ayah Yusuf), bulan (=mama Yusuf) dan sebelas bintang (ke-11 saudaranya) menyembah Yusuf. Selanjutnya saat menjadi budak di Mesir, Yusuf berhasil mengartikan mimpi Firaun. Ada 2 mimpi Firaun yakni Firaun melihat tujuh sapi yang sangat kurus seperti tulang berlapis kulit memakan habis sapi-sapi yang gemuk dan pada mimpi yang kedua Firaun melihat bulir-bulir gandum yang kurus menelan habis ketujuh bulir gandum yang bagus. Semua kisah ini sudah ditulis dengan lengkap di Alkitab sehingga kita sudah tahu akhirnya. Tetapi Yusuf yang menjalaninya tidak mengetahuinya. Saudara – saudaranya menjualnya kepada orang Ismail dan kemudian Yusuf menjadi budak di tanah Mesir. Di tempat majikannya (Potifar) Yusuf difitnah oleh istri Potifar yang ingin mengajaknya berzina sehingga akhirnya Yusuf di penjara. Yusuf juga berhasil mengartikan mimpi juru minuman yang kemudian lupa membalas budi dengan menolong Yusuf ke luar penjara. Yusuf tidak tahu akhir ceritanya dan hanya menjalankannya. Sedangkan kita yang membaca kisahnya di Alkitab tahu bahwa akhirnya ia mengalami kemenangan dengan menjadi pemegang kuasa atas seluruh Mesir di bawah Firaun dan hidupnya berakhir bahagia.

Apa itu “KEMENANGAN” bagimu ?

Apa konsep tentang memandang kemenangan dalam hidup ini? Ada pelajar yang menganggap kemenangan adalah bila ia lebih pintar dari yang lain atau mendapat nilai tinggi (top score atau ranking). Ada karyawan yang mengartikan menang sebagai memiliki penghasilan yang tinggi. Ada orang yang menikah merasa bermenangan bila punya istri yang cantik, anak yang pintar, mobil dan rumah mewah. Ada pemilik perusahaan (bos) yang menterjemahkan “menang” bila perusahaannya memiliki banyak cabang atau ia memiliki banyak perusahaan. Kita didorong untuk  memiliki pengertian atas natur kemenangan dalam konsep kejayaan, kekuasaan dan kekayaan. Thanos (penjahat dalam film Avenger : Infinity War) sudah menawarkannya dan sebelumnya Iblis juga sudah menawarkan hal tersebut kepada Yesus. Demikian juga dengan Adam dan Hawa yang ditawarkan iblis untuk menjadi seperti Allah. Kemenangan seperti itulah yang dijual hari ini termasuk di gereja. Para motivator juga mengajarkan hal yang sama seperti 5 Langkah Menuju Sukses, Anda Dilahirkan untuk Sukses, Think and Grow Rich, The 7 Habit of Highly Effective People, The Magic of Thinking Big. Bahkan konsep seperti ini juga sudah masuk ke dalam gereja. Sehingga ada undangan kebaktian seperti “Tujuh Cara untuk Mendapatkan Berkat Allah (Menjadi Kepala Bukan Ekor)”, "Terima Pemulihan & KuasaNYA”, “Hadirilah KKR Kesembuhan Ilahi”. Sekarang kita banyak diprovokasi dengan konsep kemenangan bahwa “Dalam kehidupan yang sangat kompetitif ini, saya menang kalau saya mendapatkan semua hal”.
              Anak saya yang bersekolah di Singapore juga diajarkan  bahwa “aku harus menang dari kamu”. Ini konsep sukses yang diajarkan oleh dunia dan ironisnya kata “sukses” tidak ada di Alkitab. Alkitab justru banyak bicara tentang air mata dalam memadang konsep kemenangan. Apakah seharusnya kita menang? Berapa banyak kisah seperti Yusuf yang menang sampai pada akhirnya? Banyak tokoh Alkitab yang tidak menang sampai akhirnya. Kita juga melihat kesulitan , kematian, penderitaan, kehilangan, kegagalan dll justru banyak dialami oleh (dekat dengan) banyak tokoh Alkitab.
              Salah satu teolog bernama Pastor Charles R. Swindoll (1934), dalam bukunya Improving Your Serve, halaman 211-213 mengatakan ada ukuran standar hidup dengan skala kesulitan sebagai berikut :
  1. Kematian pasangan hidup …………………………………………………………………………. 100 (paling sulit)
  2. Perceraian ........................................................................................................ 73
  3. Berpisah dengan pasangan hidup ..................................................................... 65
  4. Ditahan di penjara atau institusi lainnya .......................................................... 63
  5. Kematian salah satu anggota keluarga dekat  .................................................. 63
  6. Mengalami penyakit atau kecelakaan yang parah  ........................................... 53
  7. Menikah ............................................................................................................ 50
  8. Dipecat dari pekerjaan ...................................................................................... 47
  9. Rujuk kembali dengan pasangan nikah ............................................................. 45
10.    Pensiun .............................................................................................................. 45
11.    Perubahan besar dalam tingkah laku dari salah satu anggota keluarga …………. 44
12.    Hamil  ................................................................................................................. 40
13.    Mengalami masalah seksual .............................................................................. 39
14.    Memperoleh anggota keluarga baru (misal: adopsi, kelahiran, dll.) ................. 39
15.     Perubahan besar dalam kondisi keuangan........................................................ 38
16.    Kematian seorang teman dekat ......................................................................... 37
17.    Putera atau puteri yang meninggalkan rumah (misal: menikah, kuliah, dll.) .... 29
18.    Masalah mertua – menantu .............................................................................. 29
19.    Masalah dengan atasan ..................................................................................... 23
20.    Perubahan besar dalam jam kerja atau kondisi kerja ........................................ 20
21.    Pindah rumah ..................................................................................................... 20
22.    Pindah sekolah ................................................................................................... 20
23.    Berlibur .............................................................................................................. 13
24.    Hari Natal ........................................................................................................... 12
25.    Pelanggaran hukum ringan (misal: ditilang dll) .................................................. 11

Semua aspek hidup kita diliputi dalam hal di atas. Julius Caesar mengatakan,”Lebih mudah menemukan orang yang bersedia mati dengan sukarela daripada menemukan orang yang bersedia menahan kepedihan dengan sabar”. Tidak ada seorang pun yang siap dan rela menderita. Bahkan Tuhan Yesus pun di Taman Getsemani berdoa, “"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”. Kesulitan pasti merupakan efek dari dosa. Ada efek yang karena salah manusia dan ada yang Tuhan ijinkan. Di sini saya akan fokus pada kesulitan yang karena Tuhan jinkan (kalau yang karena dosa tinggal bertobat). Tetapi mengapa Tuhan ijinkan,  itulah misteri. Pertanyaan semua orang adalah,”Why me?” (mengapa aku yang mengalami?). Kemarin saya membawa anak-anak sekolah saya ke panti asuhan milik pemerintah di Tanggerang. Penghuninya adalah anak-anak yang dibuang oleh keluarga. Mereka ada yang cacat mental ,ada yang kepalanya besar, tidak bisa membaca dan lain-lain. Pertanyaan eksistensialis dari remaja, “Kalau Tuhan baik mengapa ada anak seperti ini?” “Mengapa? Keluarganya kan tidak salah?”. Pertanyaan ini cukup akrab dengan kita.

Saat ada ‘orang baik’ mengalami kesulitan hidup acapkali orang ateis menyerang kekristenan,”Kalau Dia baik kenapa ada kejahatan dan penderitaan?” Ada sebuah kisah nyata di blog dari seorang ibu yang berjudul “Saya seorang ibu yang berduka” yang ditulis di Bandung, 16 Mei 2008. Blognya didedikasikan sebagai pengingat kehidupan singkat anaknya sekaligus tempat untuk mengusir kepedihan hatinya.  Ia adalah seorang ibu yang berdukacita karena kehilangan putranya, Johan Imanuel yang hanya berusia 2,5 tahun. Johan lahir prematur dan memiliki kelainan yang disebut atresia esofagus murni (EA tipe A), di mana saluran bagian atas dan bawah kerongkongannya terputus. Johan menjalani enam operasi besar untuk memperbaiki kerongkongannya: sekali ketika ia berusia kurang dari 24 jam dan lima lainnya ketika ia berusia antara 1,5 dan 2 tahun. Ia  berhasil lolos beberapa kali dari bayang-bayang kematian karena komplikasi pada fase pasca operasi. Para dokter akhirnya berhasil menarik perutnya ke dalam diafragma (perut Johan ada di dalam dadanya). Kemajuan tampak menjanjikan ketika dia bisa makan bubur halus sampai dia mengalami penyumbatan usus (ileus) beberapa bulan kemudian yang disebabkan oleh infeksi parah. Ileus sendiri belum tentu terkait dengan EA-nya karena bisa terjadi pada siapa saja. Namun “bentuk” baru dari sistem pencernaannya dan juga kondisinya yang belum sepenuhnya pulih dari serangkaian operasi memperburuk situasi. Dia memuntahkan kotoran cair yang membanjiri paru-parunya. Putra satu-satunya yang selalu dikenang oleh orang tuanya sebagai pejuang yang baik pun menghembuskan nafas terakhirnya di depan mata orang tuanya. Berikut petikannya.

Kudekap erat anakku di tepi Kolam Betesda, di Yerusalem di dekat Pintu Gerbang Domba. Sekelilingku berbaring sejumlah besar orang sakit : ada yang buta, timpang & lumpuh. Kami menantikan malaikat Tuhan turun ke kolam dan menggoncangkan air itu sewaktu-waktu ; barangsiapa terdahulu masuk ke dalamnya menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.
O betapa kurindukan tiba waktuku tuk membawa masuk anakku ke kolam itu, ketika bergolak-golak riuh airnya. Tetapi telah hampir dua setengah tahun kucoba tak pernah kuberhasil menjadi yang terdahulu. Ketika kumenuju, orang lain telah sampai dahulu. Pesaing-pesaingku terlalu kuat bagiku….
Tapi hai lihat siapa yang datang…!! Dari jauh kulihat lelaki muda berjenggot, berjubah putih. Dengan wajah penuh kasih Dia dekati Simon (nama ini diambil untuk mewakili tipikal nama laki-laki Ibrani) , yang lumpuh sudah tiga puluh delapan tahun. “Maukah engkau sembuh?” sayup-sayup terdengar lembut suaraNya. Kudengar Simon menggumamkan sesuatu, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah !” kata lelaki itu berwibawa. Dan hai, tak dapat kupercaya yang kulihat !! Simon mengangkat tilamnya dan berjalan, menari, berjingkrak !! Kugosok2 mataku, Tuhan Maha Besar… ini nyata !!
“Siapa gerangan Dia ?!” tanyaku dengan mulut ternganga
“Dia Yesus !!” seseorang di kerumunan berseru. Yesus… nama itu sering kudengar. Kata orang Dia sudah buat banyak mujizat. Yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, bahkan yang mati dibangkitkan. Ada yang bilang Dialah Mesias, Anak Allah yang hidup.
“Nak, akhirnya Tuhan melawat kita !” seruku, penuh harap kutatap buah hati di pelukanku
“Jangan takut, hari ini kamu akan sembuh!”Terseok kugendong tubuh lemah anakku, kucoba terobos lautan manusia, meringsek tuk dekati, tuk tersungkur di kakiNya.
“Rabuni, kasihanilah kami… Rabuni, kasihanilah kami…!!” sekuat tenaga kuteriak mengiba
“Rabuni tolonglah… jamah & sembuhkan anakku !!”“Rabuni…  Rabuni… jangan lalui kami !!!”
Tetapi sia-sia jeritanku…Dia telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak tanpa menyapa, tanpa menoleh, tanpa peduli. Jatuhku terinjak-injak kerumunan yang mengejarNya. Kupandang nanar semata wayangku yang tak lagi bernafas di rengkuhanku. Nyeri dadaku… tangis pilu memecah. “Rabuni…. mengapa hanya Simon ?!!!”
  
              Saat menghadapi kesulitan demi kesulitan, kita ingin mencari painkiller karena tidak ada yang siap dan suka dengan pain (sakit). Saat menderita sedikit sakit kepala, kita tinggal mencari obatnya. Kita ingin cepat sembuh (tidak ingin sakit). Ada teman saya yang suka gymn namun selama seminggu tidak masuk karena sakit difteri. Sekarang ada obat yang lebih mahal tapi bisa mencegah dengan pain-killer nya banyak. Sejak kecil banyak yang sudah diberi pain killer. Dalam memandang kesulitan terkadang kita berkata,“Tuhan kalau bisa semua lalu”.

Bagaimaan sekarang kita memandang Allah?
              Benarkah Allah selalu menginginkan agar akhir dari hidup berupa kemenangan? Untuk Yusuf benar. Tapi apa defisini menang? Kadang saya mengakui dan menyadari hal itu sebagai misteri . Ada tokoh Alkitab yang sampai akhir hidupnya, kemenangannya tidak sesuai dengan konsep dunia. Di Perjanjian Lama ada nabi yang menangis. Karena segala nubuat Tuhan tidak membuat Israel bertobat. Apakah akhir kisah hidup Musa berupa kemenangan dan ia mewarisi tanah perjanjian? Tidak! Padahal Musa sudah dipakai secara luar biasa oleh Tuhan. Kalau kita mengharapkan kesembuhan sebagai tanda mujizat itu terkadang bukan solusi dari Tuhan. Rasul Paulus yang hidupnya dekat dengan Tuhan dan pelayanannya luar biasa, tetapi Tuhan berkata,”Paulus-Pualus, kamu tidak akan sembuh! Duri dalam dagingmu akan selalu ada, tetapi cukuplah. Kasih karuniaKu akan menyertaimu.” Kemenangan konsep Kristen adalah bagaimana Allah memandang konsep kesulitan itu? Dalam kekristenan Allah menginginkan sebuah konsep relasi. Allah mau kita bertumbuh seperti lirik lagu Serahkanlah.

Apakah kau payah mencari-cari? Dan apakah Kau payah berkeliling?
Bawalah sekarang segala susahmu pada kaki Yesus letakkanlah!
Serahkanlah... Serahkanlah! Serahkan pada Yesus, segala beban yang menindih hidupmu
Serahkanlah... Serahkanlah! Serahkan pada Yesus, Dia kan ganti segala duka menjadi suka
Tak pernah Dia janji selalu kan panas dan tak pernah Dia janji hanya ada hujan
Tapi Dia janjikan memberi kekuatan. Bila topan ganas melandamu

Melihat dari Perspektif ALLAH “RELASI”

Kekuatan yang Tuhan beri dalam relasi itulah yang akan Tuhan sediakan. Hidup kita adalah hidup yang konsep kemenangannya adalah  Allah mau saya bergantung padaNya, Allah mau  dalam kesulitan itu aku sebagaimana imanku. Haruskah kuakhiri hidup ini? Haruskah kutetap percaya Allah yang katanya baik itu?  Di dalam konsep itu, Alkitab dengan jujur dan alami mewakili semua tipe manusia. Di dalam kemahatahuan Allah, tidak ada seorang pun menjadi penasehat Allah. God is Omniscient, He Has Perfect Knowledge. Di dalam kemahatahuan Allah tidak perlu Allah dinasehati. Ia tahu kapan yang terbaik. Bagi orang tertentu ada pelangi sehabis hujan, ada kemenangan demi kemenangan. Tetapi bukankah kemenangan adalah bagaimana kita semakin mempercayai Allah, itu yang Allah inginkan dalam hidup kita.
              Grudem mengatakan bahwa Allah tidak pernah berubah dalam keberadaan, kesempurnaan, tujuan, dan janjiNya. Namun Allah benar-benar bertindak dan merasakan secara berbeda dalam menanggapi situasi yang berbeda (God is unchanging in his being, perfections, purpose, and promise, yet GOD does act and feel emotions, and he acts and feels differently in response to different situations). Allah tidak bisa berubah tujuanNya. Allah tahu mengapa kita menderita walau kita tidak tahu alasannya. Sampai nantinya kita baru mengerti begitu. Demikian pula dengan Ayub. Kesulitan bisa Allah ganti dengan kemenangan.

Saya punya alasan meragukan Allah yang hidup. Saya punya kakak yang menderita ayan (epilepsy). Saat sedang kumat, serangannya seperti kejuatan listrik dan akhirnya ia pun tumbang. Kata mama ia mengalaminya sejak usia 5 tahun. Orang dulu tidak terlalu tahu cara menanganinya dengan tepat. Sehingga seringkali sebagai adiknya, saya merasa terganggu. Misalnya kalau di kantor ada serangan mendadak dan membahayakannya, maka saya harus menjemputnya ke kantor. Saya kadang merasa malu saat ditanya,”Mengapa dengan kakakmu keluar busa-busa seperti itu. Gila ya? Kerasukan ya?” Pertanyaan yang membuat hati saya terluka. Saya bertanya,”Mengapa Tuhan?” Sebelum SMA saya tidak menerima pendapat bahwa Allah itu baik walau saya sudah bergereja. Setelah saya betobat ada KKR penyembuhan dan pendeta-pendeta ‘hebat’ datang ke kota saya di Pekan Baru. Saya bawa kakak saya yang sudah percaya tapi tidak sembuh-sembuh. Karena itu saya menghakimi kakak saya sebagai kurang beriman.  Saya bertanya,”Tuhan aku kurang iman apa?” Saya sudah bertobat, membaca Alkitab  dan percaya tapi tidak sembuh. Sampai hari ini kakak saya tidak total sembuh walau berkurang frekuensi kumatnya. Tapi kalau datang serangan (bisa dipicu oleh mens yang mempengaruhi hormon atau stress), terkadang saya berpikir,”Di mana kemenanganku?” Apakah saya harus berhenti berdoa?  Namun pengalaman hidup saya membuktikan bahwa saya percaya kepada janjiNya. Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka (Maz 147:3). Saya tetap mempercayai janjiNya walau penyakit epilepsy kakak saya tidak sembuh sampai hari ini. Dalam kemenangan saya tetap tidak mau berhenti berdoa.
Ketika belajar naik monkey-bar di TK, anak saya tidak percaya. Dia berkata,”Nanti saya jatuh, papa”. Saya berkata,”Kamu tetap saja maju, melangkah, ayunkan badanmu.  Papa kan pasti menyambutmu”. Monkey-bar adalah sarana yang Tuhan kasih untuk melawan hal yang kadang merupakan kesulitan di depan saya. Tetapi apakah engkau masih berharap kepada Allah? Kekristenan tujuannya bukan mencapai semuanya. Kekayaan, harta dan kekuasaan bukanlah tujuan dari iman Kristen tetapi apakah ada iman dibumi? Benjamin Blech mengatakan dalam bukunya, If God is Good why is the World so bad  mengatakan “Kita hanya mati sekali, tetapi kita bisa saja menderita tanpa akhir.”  Tak terhindarkan bagi saya dan orang tertentu yang masih memiliki pokok doa yang sepertinya belum terjawab tetaplah berharap karena kita tidak tahu bagaimana Tuhan melakukannya. Tetapi Tuhan menginginkan ketekunan. Ketekunan itulah  yang menolong kita perdaya bahwa di tangan Tuhan semua bisa.

Tergantung di tangan siapa?
-        Bola basket di tanganku berharga Rp. 150.000. Bola basket di tangan Michael Jordan berharga 33 juta dollar (=Rp 4.95M). Tergantung di tangan siapa.?
-        Raket tenis di tanganku mungkin tak ada gunanya (‘raket nyamuk’ mungkin justru lebih berguna) . Raket tenis di tangan Pete Sampras/ Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.  Tergantung ditangan siapa?
-        Tongkat kayu di tanganku dapat menghalau binatang buas / membunuh kecoa. Tongkat kayu di tangan Musa dapat membelah lautan luas. Tergantung ada di tangan siapa?
-        Umban di tanganku hanyalah merupakan mainan anak-anak. Umban di tangan Daud merupakan senjata yang dahsyat (untuk mengalahkan Goliat). Tergantung di tangan siapa?
-        5 roti dan 2 ikan dalam tanganku adalah Fillet O' Fish McDonalds. 5 roti dan 2 ikan di tangan Yesus dapat memberi makan ribuan orang. Tergantung di tangan siapa?
-        Paku di tanganku berguna untuk memasang hiasan dinding. Paku di tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi manusia berdosa. Tergantung di tangan siapa?
-        Segala sesuatu tergantung di tangan siapa? Di tangan ALLAH, tidak ada masalah yang BESAR!!!

Dalam menghadapi kesulitan, Tuhan bisa menyembuhkan dan bisa memberi kemenangan demi kemenangan, tetapi tinggal kita percaya apakah Tuhan menginginkan itu. Tuhan lebih memilih hati karena Dia adalah Allah yang membutuhkan trust and obey walau Tuhan belum selesaikan namun saya memiliki hati yang berkemenangan yaitu  kemenangan untuk percaya dan beriman sampai maut datang.

Penutup

Dalam video “Hanging on (留言)” yang disutradarai oleh Chau Man Leong (drama keluarga Hong Kong) untuk  mengingatkan “Tidakkah kamu mengingat betapa besar cinta ayah padamu?’ Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata. Ada seorang ayah di usia senjanya merindukan putrinya sepanjang waktu, berharap putrinya tersebut tak kelelahan bekerja dan menjaga dirinya. Di waktu yang bersamaan, putrinya tak pernah mengabaikan sang ayah dan menghabiskan waktunya bersama sang ayah walaupun ia cukup sibuk. Hingga suatu hari, saat ingin pulang ke rumah untuk memenuhi janjinya kepada sang ayah kecelakaan terjadi dan semuanya berubah. Sang ayah yang ditinggalkan putrinya merasa sangat sedih. Ia berusaha terus menghubungi provider (penyedia layanan) telponnya. Berkat kegigihannya dan kebaikan dari provider teleponnya, akhirnya ia memperoleh rekaman (voice mail) dari putrinya. Perjuangannya berhasil mengingatkan operator provider telepon dan atasannya untuk cepat-cepat pulang setelah selesai bekerja untuk menjumpai ayah mereka masing-masing.
Seorang Bapak mengalami penderitaan, namun dengan penderitaannya ternyata bisa menolong kemenenangan demi kemenangan untuk orang lain. Kalau Tuhan ijinkan kesulitan terjadi untuk meraih kemenangan yakni kemenangan untuk menolong orang lain, teladan iman yang diwariskan ke anak cucu. Kemenangan adalah ketika pengalaman kesulitan Tuhan bisa pakai untuk membuat saya lebih mencintai dan lebih mengasihi orang lain. Apakah kesulitan kita Tuhan bisa pakai bukan hanya untuk kemapanan atau kesembuhan tetapi juga untuk menolong orang lain?

No comments:

Post a Comment