Monday, April 23, 2018

Iman Mampu Melihat Allah Berkarya dalam Segala Hal





Ev. Susan Kwok

Yeremia 32:16-25
16   Sesudah kuberikan surat pembelian itu kepada Barukh bin Neria, berdoalah aku kepada TUHAN, kataku:
17  Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!
18  Engkaulah yang menunjukkan kasih setia-Mu kepada beribu-ribu orang dan yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya yang datang kemudian. Ya Allah yang besar dan perkasa, nama-Mu adalah TUHAN semesta alam,
19  besar dalam rancangan-Mu dan agung dalam perbuatan-Mu; mata-Mu terbuka terhadap segala tingkah langkah anak-anak manusia dengan mengganjar setiap orang sesuai dengan tingkah langkahnya dan sesuai dengan buah perbuatannya;
20  Engkau yang memperlihatkan tanda-tanda dan mujizat-mujizat di tanah Mesir, sampai kepada waktu ini kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu, seperti yang ternyata pada waktu ini.
21  Engkau telah membawa umat-Mu Israel keluar dari tanah Mesir dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung dan dengan kedahsyatan yang besar.
22  Dan Engkau telah memberikan kepada mereka negeri ini, seperti yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
23  Kemudian mereka memasuki dan mendudukinya, tetapi mereka tidak mendengarkan suara-Mu dan tidak berkelakuan menurut Taurat-Mu; mereka tidak melakukan segala apa yang Kauperintahkan kepada mereka untuk dilakukan. Sebab itu Engkau melimpahkan kepada mereka segala malapetaka ini.
24  Sesungguhnya, tembok-tembok pengepungan yang dipakai untuk merebut kota telah sampai mendekatinya; oleh karena pedang, kelaparan dan penyakit sampar maka kota itu telah diserahkan kepada orang-orang Kasdim yang memeranginya. Maka apa yang Kaufirmankan itu telah terjadi; sungguh, Engkau sendiri melihatnya.
25  Namun Engkau, ya Tuhan ALLAH, telah berfirman kepadaku: Belilah ladang itu dengan perak dan panggillah saksi-saksi!  —  padahal kota itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim."

Pendahuluan

              Tema hari ini “Iman Mampu Melihat Allah Berkarya dalam Segala Hal”. Tulisannya indah, bicaranya mudah, namun dalam kehidupan ini tidak mudah melihat bahwa Allah mampu berkarya dalam segala hal. Oleh karena kita terbatas dalam hal mata, gerak, fisik, kesehatan, keuangan dan segala sesuatu. Sehingga saat menghadapi peristiwa yang tidak masuk akal akan menjadi hal yang menantang kita. Apakah kita tetap mampu belajar percaya bahwa Allah mampu (kita tidak mampu melakukannya tapi Allah mampu!)? Kita mau belajar dari iman Nabi Yeremia.

1.     Allah sedang berkarya dalam hidup kita untuk membereskan dosa yang kita lakukan

Yeremia 31:1-3, 30,33
1  Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia dalam tahun yang kesepuluh pemerintahan Zedekia, raja Yehuda; itulah tahun yang kedelapan belas pemerintahan Nebukadnezar.
2  Pada waktu itu tentara raja Babel mengepung Yerusalem, dan nabi Yeremia ditahan di pelataran penjagaan yang ada di istana raja Yehuda.
3  Sebab Zedekia, raja Yehuda, telah menahan dia di sana dengan tuduhan: "Mengapa engkau bernubuat: Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyerahkan kota ini ke dalam tangan raja Babel, supaya ia mendudukinya;
30  Sebab orang Israel dan orang Yehuda hanyalah melakukan yang jahat di mata-Ku sejak masa mudanya; sungguh, orang Israel hanya menimbulkan sakit hati-Ku dengan perbuatan tangan mereka, demikianlah firman TUHAN.
33  Mereka membelakangi Aku dan tidak menghadap kepada-Ku, dan sekalipun Aku mengajar mereka, terus-menerus, tiada mereka mau mendengarkan atau menerima penghajaran.

Firman Tuhan ini menceritakan seorang hamba Tuhan, Yeremia, seorang nabi dalam Perjanjian Lama yang hidup dalam kerajaan yang dipimpin oleh Raja Zedekia (dari kerajaan Yehuda). Ia seorang nabi yang unik sehingga dijuluki oleh para teolog sebagai “nabi yang menangis”. Mengapa?

a.     Di dalam masa pelayanan Nabi Yeremia, Israel berada di ambang kehancuran.
Nabi Yeremia hidup dalam zaman Israel akan dibuang oleh Allah ke Babel dan dihukum menjadi tawanan selama 70 tahun (angka yang sudah Tuhan tetapkan).

b.     Nabi Yeremia sering diutus untuk melakukan tindakan-tindakan simbolis (gambaran) yang menunjukkan penghukuman-penghukuman Allah yang akan datang.
Kalau Allah memerintahkan Nabi Yeremia melakukan sesuatu, ia akan melakukannya sehingga rakyat mentertawainya. Ia dianggap seperti orang setengah gila karena melakukan hal-hal yang Allah perintahkan. Umumnya kalau kita disuruh melakukan sesuatu, kita pasti mempertimbangkannya terlebih dahulu apakah perintah itu akan memalukan kita atau tidak. Kita pasti berpikir, demikian pula dengan Yeremia. Ia berpikir,”Aduh Tuhan , perintahMu tidak logis (masuk akal)”. Tetapi Allah berkata,”Kamu lakukan karena Aku sedang menunjukkan kepada Israel seperti apa mereka sebenarnya. Itulah hukuman yang akan Kuberikan kepada mereka. Lakukanlah!” Nabi Yeremia pun melakukannya sehingga banyak orang Israel mengolok-oloknya dan mempermalukannya. Seorang nabi dianggap rendah karena ia mau taat kepada firman Tuhan. Kalau kita dianggap rendah dan dipermalukan karena melakukan firman Tuhan maka kita akan merasa susah. Di satu sisi hati kita mau melakukannya , tetapi di sisi lain pikiran mengatakan tidak. “Astaga. Masa saya seorang direktur diminta melakukan begini, bagaimana ceritanya?” Atau di rumah seorang Ibu yang berkuasa berkata kepada anaknya,”Kalau kamu tidak mau baik-baik mendengar perkataan mami, maka akan mami masukin ke perut mami lagi.” Ternyata ada yang seperti itu bila dipermalukan.  Seorang nabi ketika mau melakukan firman Tuhan dan belajar taat melakukan perintah Tuhan, banyak rakyat mencemooh dan menghinanya.

c.     Dari sekian banyak nabi yang dibunuh, Nabi Yeremia pernah ditangkap dan dimasukkan ke dalam sumur hanya karena firman Tuhan yang disampaikan.
Banyak hal tragis yang terjadi dalam hidupnya, sehingga para komentator menjulukinya “nabi yang menangis”. Karena sepanjang pelayanannya sepertinya tidak ada yang baik terjadi. Seolah-olah tidak ada sesuatu yang berarti terjadi karena rakyat (umat) tidak mengerti. Mereka tidak mengerti karena dari raja sampai rakyat semuanya membelakangi Tuhan. “Membelakangi” artinya benar-benar melakukan tindakan yang mencoreng nama Allah. Mereka berzina secara rohani. Mereka melakukan tindakan-tindakan yang membuat hati Allah sakit.

         Setelah firman Tuhan disampaikan, Raja Zedekia kemudian menahan Nabi Yeremia. Hal ini karena Nabi Yeremia menyampaikan suatu firman Tuhan yang berbeda dari nabi-nabi lainnya. Raja Zedekia memiliki banyak nabi (juru bicara rohani). Misalnya ia mempunyai 20 orang nabi. Dari 20 orang nabi tersebut, 19 orang berkata kepada Raja Zedekia  bahwa Israel akan makmur, rakyat akan sehat, ekonomi akan bangkit. Maka mendengarnya, Raja Zedekia merasa senang. Apalagi yang berkata adalah 19 orang hamba Tuhan (bukan hanya 1 orang yang berkata-kata). Namun tiba-tiba Nabi Yeremia berkata berbeda. Ia berkata,”Siap-siaplah Raja Zedekia! Tuhan sebentar lagi akan merobohkan Israel dan membuat rakyatnya dibawa ke Babel menjadi tawanan perang (budak, pembantu atau orang-orang yang tidak diperhitungkan). Israel menjadi tanah yang tandus, negeri yang tidak didiami dan hanya ditumbuhi oleh semak belukar. Ini perintah Tuhan yang berbeda dan maknanya jelek sekali. Zedekia selaku raja seharusnya mampu membawa rakyat Israel taat kepada Tuhan, namun ternyata ia tidak mampu melihat Allah berkarya . Ia tidak mampu melihat “Mengapa Allah akan menghukum (menawan) Israel?”. Sebagai orang yang berdosa, ia telah melakukan banyak perkara yang tidak menyenangkan hati Tuhan akibatnya pikirannya tidak dapat memahami hal tersebut.

         Setelah berbuat biasanya manusia sulit bertanggung jawab. Apalagi kalau sudah berbuat salah dan timbul konsekuensi yang buruk maka manusia akan mengelak dengan licinnya seperti belut dan berusaha mencari alasan untuk membenarkan diri (ini bukan salah saya! Israel mengalami hal itu bukan salah saya. Mereka menyembah dewa Molokh dan membangun dewi Asyerah bukan salah saya). Sebagai raja dan pemegang tampuk tertinggi harusnya ia bertanggung jawab. Bersama-sama dengan para hamba Tuhan (imam) yang memberikan firman yang penuh dusta, ia sudah membuat Israel jatuh ke dalam dosa. Latar belakang dari apa yang kita baca hari ini menunjukkan bahwa Allah sedang bertindak. Nabi Yeremia berani bicara berbeda  karena ia mampu melihat Allah sedang bertindak membereskan dosa itu. Kalau seseorang bicara tentang iman, ingatlah bahwa Allah sedang bertindak dan akan selalu bertindak untuk membereskan segala dosa dengan apa pun caranya. Kita bisa menyembunyikan dosa kita dan memberikan ribuan alasan untuk membenarkan diri tetapi Allah tidak bisa ditipu dan  Ia akan terus bertindak untuk membereskan dosa.

         Sebagai orang beriman , kita mampu melihat Allah sedang berkarya dalam hidup untuk membereskan dosa yang seringkali dan suka kita lakukan. Orang yang hidupnya bergelimang dosa seringkali merasa senang, apalagi tidak ada orang yang tahu. Kalau beriman, kita pasti percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup dan Ia selalu bertindak untuk berkarya dalam hidup kita. Ia akan membereskan dosa kita seperti Ia membereskan dosa Israel karena Ia sayang kepada anak-anakNya. Ia tidak ingin anakNya jatuh terjerumus dalam dosa yang lebih dalam lagi.

2.  Allah sedang berkarya untuk sesuatu di masa mendatang yang Allah sendiri sudah tetapkan itu pasti terjadi

Yeremia 32:8,9, 25.
8  Kemudian, sesuai dengan firman TUHAN, datanglah Hanameel, anak pamanku, kepadaku di pelataran penjagaan, dan mengusulkan kepadaku: Belilah ladangku yang di Anatot di daerah Benyamin itu, sebab engkaulah yang mempunyai hak milik dan hak tebus; belilah itu! Maka tahulah aku, bahwa itu adalah firman TUHAN.
9  Jadi aku membeli ladang yang di Anatot itu dari Hanameel, anak pamanku, dan menimbang uang baginya: tujuh belas syikal perak.
25 Namun Engkau, ya Tuhan ALLAH, telah berfirman kepadaku: Belilah ladang itu dengan perak dan panggillah saksi-saksi!  —  padahal kota itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim."

Nabi Yeremia diberi tugas yang ‘aneh’ dari Tuhan. Sesuai dengan firman Tuhan, Nabi Yeremia membeli ladang (sepetak sawah) dengan perak padahal kota itu telah diserahkan ke tangan orang-orang Kasdim yang merupakan penduduk asli Babel. Rata-rata pekerjaan orang Babel adalah ahli mantra, sihir atau semacam kwa-mia. Kalau seorang pengusaha membeli sawah, makai a mengharapkan nantinya akan memperoleh keuntungan. Pengusaha Tionghoa tidak mau mengeluarkan uang kalau tidak mendatangkan hasil. Hal ini sudah tertanam sejak lahir seperti juga orang Padang. Maka di Tiongkok banyak orang Padang berjilbab belajar bahasa Mandarin. Karena suatu hari mereka ingin berbisnis dengan orang Tionghoa. Sedangkan teman saya yang orang Tionghoa tidak serius mempelajari bahasa Mandarin. Nabi Yeremia disuruh Tuhan utnuk membeli ladang yang akan diserahkan ke orang Kasdim dan sepertinya hal ini tidak masuk akal. Mengapa membeli karena tanahnya mau diambil oleh penjajah dan semua penduduk mau dibawa ke Babel? Tanah dan negara Israel akan ditinnggalkan porak poranda  lalu untuk apa membeli ladang? Buang -buang uang saja. Ini firman Tuhan yang aneh! Lebih baik uangnya disimpan atau digunakan untuk membeli yang lainnya. Nabi Yeremia sendiri setelah membeli akhirnya bertanya,”Kota ini akan ditinggalkan, mengapa Tuhan meminta saya membeli ladangnya?” Sudah membeli baru ia berpikir. Ia membeli dahulu dan mengeluarkan uang seharga 17 syikal perak (sekitar 200 gram) yang nilainya sangat berharga.

Setelah membeli baru Nabi Yeremia teringat bahwa kota itu akan ditinggalkan. Tetapi Tuhan berkata, “Belilah!” Dunia mungkin melihat hal itu sebagai hal yang sia-sia atau kebodohan dan tidak masuk akal. Walaupun situasi politik dan ekonomi tidak kondusif tetapi ia tetap membelinya bahkan ia membeli menurut aturan yang Tuhan berikan yakni dengan memanggil saksi. Lalu surat itu disimpan di dalam bejana tanah liat yang tahan puluhan tahun karena nanti 70 tahun mendatang, ladang yang akan menjadi tempat pertama yang menjadi milik orang Israel setelah pulang dari Babel (balik ke Yerusalem) sudah ada suratnya sehingga sah. Tuhan berjanji, setelah kamu pulang, semua orang akan membeli ladang. Jadi kamu tidak rugi kalau membelinya sekarang. Itu menjadi tanda bahwa Israel pasti kembali karena Tuhan yang menjaminnya. Tuhan akan buktikan dengan menyimpan dalam bejana yang tidak akan rusak selama 70 tahun  (hari ini kamu tanda tangan dan 70 tahun kamu akan lihat buktinya). Kalau kita menjadi Nabi Yeremia mungkin kita berpikir juga mengapa selama itu. Itu kalau ia sehat terus tetapi bagaimana kalau sudah mati di tengah jalan? Lalu bagaimana kalau tidak balik karena 70 tahun itu waktu yang lama. Kita pasti berpikir uang itu tidak akan berputar (uang mati) selama 70 tahun. Tetapi Tuhan berkata,”Simpan karena waktu hari itu tiba kamu akan melihat dan kamu akan bersuka cita.” Allah sedang berkarya untuk sesuatu di masa mendatang yang Allah sendiri sudah tetapkan pasti terjadi, buktinya surat tanahnya masih dalam keadaan bagus. Kalau bukan orang yang taat seperti Nabi Yeremia, maka sulit melakukannya. Itu membutuhkan proses (tidak bisa melakukan dengan seketika). Perlu banyak proses dan setiap proses perlu dilewati (jatuh bangun) supaya kita belajar taat untuk hal yang sangat sulit seperti ini. Suatu hari Tuhan akan mengajar kita melewati hal yang paling sulit dalam hidup kita. Supaya kita mampu belajar taat dan melihat Allah berkarya dalam hidup kita.

3.     Allah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang berdauluat atas hidup manusia

Yeremia 32: 14, 42-43
14  Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Ambillah surat-surat ini, baik surat pembelian yang dimeteraikan itu maupun salinan yang terbuka ini, taruhlah semuanya itu dalam bejana tanah, supaya dapat tahan lama.
42  Sebab beginilah firman TUHAN: Seperti Aku mendatangkan kepada bangsa ini segenap malapetaka yang hebat ini, demikianlah Aku mendatangkan ke atas mereka keberuntungan yang Kujanjikan kepada mereka.
43  Orang akan membeli ladang lagi di negeri ini yang kamu katakan: Itu adalah tempat tandus manusia dan hewan; itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim!

Tuhan sudah berjanji bahwa Ia yang mendatangkan penghukuman atas mereka akibat dosa mereka, Ia juga akan mendatangkan keberuntungan yang dijanjikan (70 tahun mendatang). Bukan hanya keuntungan rohani tetapi khusus dalam peristiwa ini Allah berjanji bahwa “kamu akan mendapatkan keuntungan”. Kamu tidak akan ditinggalkan secara jasmani asal kamu taat. Tetapi itu prosesnya panjang (70 tahun). Hanya orang yang setia  yang bisa mendapatkannya.

         Inti dari segala pembacaan di atas bahwa Allah menunjukkan diriNya sebagai Allah yang berdaulat atas hidup manusia (umatNya), apakah engkau setia atau tidak, taat atau menyimpan dosa, belajar melakukan firman ataukah terus mencari alasan, ataukah engkau hidup dalam kesulitan atau hidup dalam suasana enak, semua Tuhan tahu. Itulah Allah kita. Apakah Dia tahu kalau kita sedang susah hari ini? Dia mendengar setiap seru doa kita selama beberapa bulan terakhir ini, Dia tahu. Dia terus berkarya karena Ia adalah Allah yang hidup. Allah kita tidak pernah berhenti untuk berkarya. Dia selalu bertindak. Oleh karena itu saya ingin mengajak kita belajar, agar saat bicara tentang iman, kita jangan melihat iman itu sebagai sesuatu yang statis (diam, tidak bergerak, bersifat magis). Jangan pernah berpikir, “Karena saya beriman, saya mampu melakukan segala sesuatu.” Jangan berpikir karena merasa beriman, maka kita akan tahu segala hal dan melewatinya. Tidak! Karena iman yang diajarkan oleh firman Allah itulah anugerah Allah yang bisa membuka mata kita terhadap hal-hal baik yang terlihat  di depan mata atau hal yang sulit dicerna oleh orang lain yang tidak percaya pada Tuhan. Hanya iman yang mampu membantu kita melihatnya. Iman adalah anugerah Allah yang menggerakkan kaki kita untuk melakukan sesuatu yang mungkin orang dunia tidak akan lakukan. Iman itu  adalah anugerah Allah yang bisa mencerahkan pikiran dan konsep kita sehingga membuat kita tidak menjadi orang yang terbelakang dan membuat orang ingin selalu melakukan yang baik dan memuliakan Tuhan. Iman itu anugerah yang membuat kita berani menerobos sesuatu yang penuh dengan kesulitan. Jadi iman itu adalah sesuatu yang hidup dan dinamis. Iman itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Iman harus terus bertumbuh. Iman harus dirawat melalui doa, membaca firman Tuhan, perenungan pribadi dan beribadah. Itu sudah pasti. Semua hal ini adalah cara yang bisa digunakan untuk merawat iman kita. Kita tidak mungkin beriman kalau berdoa saja tidak. Kita tidak mungkin melihat Allah berkarya dalam hidup, tapi tidak membaca Alkitab.

         Sewaktu kecil, saya ikut Sekolah Minggu yang dimulai sekitar pk 7-8. Saya tidak pernah absen menghadirinya dan tidak pernah datang terlambat. Mama saya tidak pernah mengantar saya datang ke Sekolah Minggu. Kalau ada koko, ia yang mengantar saya. Dari kecil kita belajar membaca Alkitab. Mulai kelas 4 SD, saya bersama teman di kelas Sekolah Minggu ikut bible study dalam bentuk kursus Alkitab tertulis. Dulu masih pakai pos, jadi kami menghemat uang jajan untuk membeli pranko. Setelah Bab 1 selesai lalu dikirim balik. Nanti saya dapat ijazah dari mereka yang memberi nilai. Setiap Minggu kami mencocokkan nilai yang didapat. Ada yang dapat nilai 6 padahal pertanyaannya mudah. Saya selalu mendapat nilai 10 karena saya suka sekali membaca Alkitab. Jadi semua pertanyaan itu bagi saya mudah. Itu yang Tuhan pupuk sejak kecil, terus sampai remaja dan pemuda. Tetapi tidak berarti hidup kita selalu mulus. Waktu remaja (SMA) setahun saya pernah tidak mau pergi ke gereja karena saya benci melihat pembina saya dan teman-teman saya. Karena suatu peristiwa membuat saya setahun tidak pergi ke gereja. Sebagai remaja saya masih mencari jati diri. Untungnya ada kakak pembina yang tetap mendekati. Akhirnya saya malu sendiri dan ternyata saya yang salah. Perjalanan hidup tidak mudah. Semakin dewasa, kesulitannya  berbeda dengan saat masih kecil. Saya mengalami kesulitan-kesulitan yang membuat saya bertanya kapan kesulitan itu selesai. Saya pernah berada dalam situasi yang sepertinya membuat saya sudah tidak tahan karena bingung Tuhan mau saya berbuat apa. Tuhan tidak seperti peramal yang saat kita datang maka tempel saja telapak tangan lalu keluar garis tangan. Hal ini akan meramal nasib kita, apakah Minggu ini bagus atau tidak (demikian juga dengan bulan depan, apakah cocok untuk pindah rumah). Tuhan kita tidak seperti itu. Dan semua kita pasti akan diproses Tuhan sesuai porsinya supaya kita mampu melihat Allah berkarya dalam hidup kita. Tetapi iman itu harus dipelihara. Tidak bisa tidak.

         Ibarat memelihara tanaman, kalau kita ke gereja hanya datang seminggu sekali , seminggu sekali baca Alkitab dan dengar khotbah serta berdoa itu seperti tanaman saya di lantai 2 yang  harus disiram sehari dua kali. Kalau sehari tidak disiram maka tanamannya  menjadi kuning. Saya pun menyiram  tanaman itu dengan bergayung-gayung air dan setelah 2 jam ia akan berubah warnanya. Bukti tidak bisa dibohongi. Buah itu kelihatan, sehingga bila kita hanya seminggu sekali ke gereja, dan di rumah kita tidak membaca Alkitab, berdoa dan bergumul dengan Tuhan itu ibarat tanaman yang disiram hanya seminggu sekali sehingga di kota Jakarta yang udaranya panas sekali akhirnya tanaman itu akan mati. Tidak cukup seminggu sekali sehingga harus tiap hari dan tiap saat. Itu sebabnya dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus berkata, “Kamu hanyalah ranting.” Ranting itu tidak mungkin berbuah, berbunga atau punya putik kalau ia tidak menempel pada pohon anggurnya. Tidak mungkin hidup sendiri sebagai ranting karena akan mati. Iman kita hidup kalau menempel dengan Kristus dan firmanNya. Tidak ada jalan lain. Tidak ada cara lain yang praktis dan ringan. Bacalah Alkitab sendiri dan berdoa. Itu sebabnya nanti kita baru bisa merasakan hubungan pribadi dengan Tuhan, benar-benar pribadi dan tidak bisa tebeng-tebengan dengan orang lain.

         Misalnya ada anak yang berkata,”Ma, mama saja yang ke gereja minggu ini, saya tidak. Saya nebeng saja, nanti mama ceritakan firmanNya.” Tidak bisa seperti itu. Masing-masing orang harus memelihara imannya sendiri-sendiri. Tidak bisa tebeng-tebengan, apalagi pakai jadwal ganti-gantian pergi ke gereja. Minggu ini saya pergi ke gereja, minggu depan kamu yang pergi. Hidup di dalam Tuhan tidak seperti itu. Oleh karena itu mari kita melihat situasi-situasi sulit yang dihadapi oleh Nabi Yeremia, mungkin suatu hari kita merasa putus asa (ada  tangisan) sehingga Yeremia dikatakan nabi yang menangis (meratap) apalagi saat ia melihat tembok Yerusalem diruntuhkan. Tembok yang begitu gagah dan megah (lambang kekuatan) diruntuhkan sehingga dikatakan anjing liar yang menyeberangi tembok bisa menyebabkan tembok itu runtuh karena pondasinya tidak kuat. Seperti begitu ibaratnya. Nabi Yeremia menangis dan meratap. Ada saat menangis dan putus asa, tetapi ternyata ia bisa bertahan. Bertahan itu proses. Bertahan dan berjuang, itulah hidup iman kita. Iman kita adalah iman yang berjuang dalam keseluruhan hidup dan bukan iman yang berhenti (mati). Sehingga hari ini kita kuat dan percaya, sepertinya percaya sekali namun bulan depan lain lagi.

Penutup

              Kalau ada yang berkata, “Eh jangan takabur ya.” Kamu berbicara jangan terlalu percaya diri, suatu saat kamu juga bisa jatuh. Jadi hati-hati kalau bicara. Karena kalau bicara besar, seolah-olah kuat, gagah , pintar dan berhasil , hati-hati karena bisa saja suatu kali kamu gagal. Namun firman Tuhan berkata bahwa iman itu hidup, di dalam kehidupan iman itu harus nyata. Iman bukan di mulut. Iman itu akan nyata dalam kehidupan. Saya mengenal seseorang dan menurut saya ia adalah seorang yang punya potensi. Ia seorang bapak. Usianya 2 tahun di atas saya (usia istrinya di bawah saya). Anaknya cantik dan bersekolah di Taiwan. Ia seorang artistek, tetapi dia juga ikut terlibat langsung dalam proyek-proyek yang dimilikinya. Secara finansial baik, istrinya dan anaknya juga baik. Semua baik-baik saja. Kalau orang melihatnya bisa kagum karena sepertinya mereka keluarga bahagia. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka hanya ingin punya satu anak. Pekerjaannya lancar dan punya istri yang cantik. Istrinya pintar membuat kue roti dan akhirnya membuka usaha yang cukup maju sehingga mereka mendapat tambahan pemasukanan. Suaminya pintar melobi orang (pintar bicara). Bila ada suatu masalah lalu dia yang bicarakan maka masalah tersebut selesai. Ia sangat hebat. Secara rohani ia juga aktif. Ia langganan menjadi majelis. Setelah menjadi majelis sekian periode, istirahat satu  periode sesuai tata gereja lalu naik lagi sehingga dikatakan 4 L (Loe Lagi, Loe Lagi).

Apa yang saya dapati saat bekerjasama? Saya memperhatikan reaksi hamba Tuhan yang lain. Saat ia lewat dikatakan bahwa pasti ada yang ia kritik. Salah satau kekurangannya atau yang ditakuti yang lain adalah suka mengkritik orang lain. Semua orang jadi pada takut. Kalau ia sudah bicara, semua jadi masuk akal. Dari yang tidak masuk akal menjadi masuk akal. Suatu hari setelah keluar dari tempat itu, dua tahun lalu saya mendengar beritanya membuat saya antara percaya dan tidak percaya. Sekarang ia sudah tidak di sana lagi. Ia dalam proses bercerai dengan istrinya. Ia hidup dengan seorang wanita lainnya dan berada di kota kecil di Jawa Barat. Wanita itu janda dengan 1 anak, beragama Islam.  Perubahannya luar biasa. Pertama kali mendengar kabar tersebut seperti disambar petir. Keluarganya bertanya kepada saya,”Mengapa Tuhan tidak menjaga dia?” Saya jadi bingung mendengar pertanyaan itu. Seolah-olah enak saja. Kamu yang melakukan dan berbuat, tapi suruh Tuhan yang menjaga. Bukankah dari dulu Tuhan sudah berfirman untuk berjaga diri? Firman Tuhan itu untuk membuat kita berjaga-jaga. Namun karena yang bertanya kepada saya adalah orang tua, saya tidak enak langsung menjawab seperti itu. Tidak menjaga diri, tapi menyalahkan Tuhan lagi. Satu pertanyaan : mengapa Tuhan tidak menjaganya? Ia aktif dalam kegiatan-kegiatan gerejawi. Ia majelis. Ia tahu Alkitab, tetapi mengapa bisa begitu? Saya hanya tahu satu hal.  Iman harus hidup setiap hari. Jadi jangan berkata, “Hari ini saya berhasil dan besok saya pasti berhasil.” Tidak bisa! Iman itu adalah perjuangan setiap hari, kita seperti hidup di medan perang. Keberhasilan kita hari ini tidak pernah menjamin besok kita pasti berhasil di medan perang. Belum tentu! Karena musuh kita itu (iblis) bisa memakai berbagai macam cara dan beraneka rupa. Tidak bisa kita berkata hari ini saya berhasil taat, dan besok kita pasti berhasil taat. Belum tentu!  Iman dan ketaatan itu terus-menerus adalah suatu perjuangan. Kita butuh kekuatan. Kekuatan itulah doa, baca Alkitab, beribadah. Jangan kita main-main dalam hal ini.



No comments:

Post a Comment