Monday, June 13, 2016

Roh Kudus dan Spirit Berdoa


Pdt. Hery Kwok

Kisah Para Rasul 2:41-42
41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Kisah Para Rasul 4:23-31
23   Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
24  Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
25  Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
26  Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
27  Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi,
28  untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
29  Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
30  Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
31  Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.

Pendahuluan

                Kisah 2:41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Istora Senayan mempunyai kapasitas untuk menampung sekitar 8.000 orang. Jadi kalau ada  3.000 orang bertobat berarti mereka memenuhi hampir separuh kapasitas stadion. Kisah 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Ada 2 kata menarik yang dicatat oleh dr. Lukas yaitu “bertekun” yang berarti serius, sungguh-sungguh dan antusias dan “mereka berkumpul dan memecahkan roti dan berdoa”. Jadi dikatakan mereka antusias, serius dan selalu berdoa. Ini catatan pertama dari Kisah 2:41-42.

                Dalam catatan Lukas pada pasal 4:31 dikatakan, “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” Pada saat mereka berdoa, goyanglah tempat mereka berada. Goyangan ini bukan karena tsunami, gempa bumi atau bangunannya akan roboh, tetapi ini merupakan manifestasi pekerjaan Allah. Dalam kekuatan Roh Kudus waktu berdoa tempat itu bergoyang. Dalam Perjanjian Lama, saat Allah hadir dinyatakan bahwa “tempat itu dipenuhi kemuliaan” dan disebutkan “bergoyanglah tempat itu”, “mereka melihat kemuliaan Allah dan mereka tidak tahan”.

Roh Kudus dan Spirit Berdoa

                Suatu kali di sebuah gereja ada seorang majelis (panatua) yang  memperhatikan kehadiran seorang pemuda yang rajin berdoa. Majelis ini tertarik karena biasanya yang rajin berdoa adalah orang-orang yang telah berusia tua. Jadi di antara jemaat berambut putih ada yang berambut hitam hadir mengikuti persekutuan doa. Majelis itu menganggapnya hebat sekali dan kemudian ia bertanya, “Dik, sekitar  8 minggu ini saya perhatikan kamu rajin datang ke persekutuan doa, saya ingin tahu apa yang membuatmu rajin berdoa.” Pemuda itu menjawab, “Saya sedang menghadapi masalah besar. Saya berpikir berdoalah cara yang paling tepat untuk mengatasinya.” Majelis tersebut senang sekali mendengarnya karena menganggap hal itu merupakan aplikasi dari firman yang ditabur dari mimbar dalam kehidupan sehari-hari. Pemuda ini terus rajin datang ke persekutuan doa selama 3 bulan. Namun memasuki bulan keempat dan kelima, pemuda ini datang ke persekutuan doa secara bergilir pada Rabu minggu kesatu dan ketiga. Selanjutnya kunjungan menurun menjadi 1 kali dalam sebulan. Majelis ini penasaran. Saat sang pemuda datang lagi ia betanya, “Dulu kamu rutin berdoa. Mengapa sekarang kuantitasnya menurun? Awalnya setiap Rabu berdoa. Kemudian hanya Rabu ganjil dan sekarang malah sebulan hanya sekali.” Pemuda ini hanya tersenyum-senyum mendengar pertanyaan ini dan tidak memberikan jawaban. Sang Majelis terus memperhatikan. Ternyata kehadiran pemuda ini di persekutuan doa hanya 3 bulan sekali. Jadi Sang Majelis bertanya kembali kepadanya, “Maaf kalau dahulu pertanyaan saya membuatmu tidak nyaman. Hanya saya benar-benar ingin mengetahui mengapa sekarang kamu hanya datang 3 bulan sekali?” Akhirnya sang pemuda menjawab, “Sebenarnya dahulu saya ingin menjawab pertanyaan Bapak namun karena malu saya tidak menjawabnya. Sekarang ini saya jarang berdoa karena doa saya sudah dijawab. Jadi buat apa lagi berdoa?”

                Apa yang ada di benak kita saat berdoa? Apakah doa menjadi sebuah bagian kecil alias sempalan saja dalam kehidupan kita? Kalau tidak berdoa merasa tidak afdol saja atau doa itu dilakukan hanya saat ada kebutuhan? Kita tidak ikut persekutuan doa karena menganggap bahwa yang penting sudah datang beribadah pada hari Minggu. Itu  dianggap sudah cukup sehingga tidak perlu lagi datang di persekutuan doa. Orang seringkali memiliki pemahaman yang tidak kuat tentang doa. Banyak yang mengira, berdoa hanya dilakukan saat sedang memiliki kebutuhan atau menghadapi kesulitan. Bila sedang bahagia, makmur, hidup berjalan lancar, tidak ada hal yang membuat kesulitan, maka datang ke persekutuan doa menjadi hal terakhir yang dilakukan oleh orang Kristen.

Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas dan diletakkan setelah kitab Injil. Lukas dipakai Tuhan untuk mencatat perkembangan sejarah awal kekristenan. Saat pentakosta , Allah melawat umatNya dan memberikan Roh Kudus dan pada  Lukas pasal 2 diberitakan bahwa ada 3.000 orang bertobat. Lukas mencatat perjalanan gereja sejati yang lahir dari perbuatan Allah sendiri.

A.    Jemaat mula-mula mempunyai ciri-ciri berdoa , yang merupakan tanda Roh Kudus bekerja.

Ada 3 tanda Roh Kudus bekerja :
1.     Membuat orang percaya pada Yesus. Roh Kudus melahirbarukan orang-orang menjadi percaya pada Tuhan Yesus. Mereka bergabung dalam perkumpulan di gereja. Pekerjaan Roh Kudus dimunculkan demikian hebat membuat seseorang bisa percaya. Jika bukan pekerjaan Roh Kudus tidak ada orang bisa percaya. Memberi keberanian percaya pada Yesus.
2.     Roh Kudus membuat jemaat mula-mula sebagai perkumpulan orang percaya mempunyai sukacita untuk berdoa. Ini gambaran sebagai ciri dari gereja mula-mula. Ciri dimana orang-orang percaya-nya tekun berdoa. Roh Kudus membuat orang percaya setia berdoa.
3.     Roh Kudus memberikan spirit penginjilan.

Pemahaman kita dalam berdoa berasal dari kitab Kisah Para Rasul. Kitab ini berbicara tentang berdoa yang menjadi ciri dari  gereja yang paling kuat. Berdoa merupakan karakteristik dan sehingga gereja disebut sebagai gereja yang berdoa. Jadi sifatnya bukan sempalan yang baru dilakukan saat dibutukan. Berdoa adalah hidup dari gereja itu. Itu ciri dari gereja. Waktu orang melihat cirinya, orang akan mengatakan gereja itu berdoa seperti yang terjadi pada gereja-gereja di Korea. Orang-orang yang berkunjung dan belajar di Korea, setelah kembali  mereka mengatakan bahwa gereja di sana adalah gereja yang berdoa karena kehidupan bergereja di sana kental dengan doa.

Saat bersekolah para siswa seringkali punya guru favorit. Guru yang begitu masuk pasang muka angker, memakai suara yang menggelegar menakutkan dan kalau murid salah dicubit tidak akan menjadi guru favorit. Guru sekarang patut dikasihani karena tidak boleh mengajarkan disiplin. Misalnya : Guru Biologi SMPN 1 Bantaeng, Nurmayani resmi ditahan Kamis 12 Mei 2016 karena mencubit anak polisi yang nakal untuk mendisiplinkannya. Di samping itu juga ada guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat, Aop Saopudin yang dilaporkan ke polisi karena melakukan tindakan disiplin dengan memotong rambut para siswanya saat melakukan razia rambut gondrong. Dulu saya senang berambut panjang. Saat rambut saya dipotong oleh guru, orang tua saya tidak melapor ke Komnas HAM. Guru yang disukai adalah guru yang tenang, tidak pernah marah-marah, kalau siswa tidak buat PR tidak dihukum dan kalau siswa ulangannya jelek tidak disorot. Jadi guru favorit punya ciri-cirinya. Demikian juga dengan gereja. Ciri-ciri gereja yang keluar adalah berdoa. Lukas mencatat 3.000 orang yang menerima perkataan Petrus saat Roh Kudus melawat, berkumpul dan berdoa. Saya bergidik saat membaca bagian ini karena mereka hidup dalam kondisi yang tidak mudah berdoa. Mereka sangat antusias dan rindu berdoa dalam kondisi susah berdoa, karena gereja mula-mula mendapat intimidasi dalam kondisi politik saat itu dan dari orang Yahudi. Saat itu, bukan perkara mudah untuk berdoa. Sekarang kita di Indonesia tidak ada tekanan dan intimidasi. Kita dipagari oleh UU dan aturan yang jelas sehingga kesempatan berdoa sangat luas dan mudah. Hal ini merupakan perbedaan yang menyolok dengan kondisi gereja mula-mula. Doa adalah ciri hidup yang bisa dilihat oleh orang lain. Sebagai orang Kristen yang mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan , maka Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita memberikan ciri sebagai orang yang berdoa.

          Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Rasul Paulus berbicara kepada jemaat di Roma bagaimana Roh membantu orang berdoa. Saat mengaku Yesus sebagai Tuhan, Roh Kudus membangkitkan semangat untuk berdoa. Mari pikirkan baik-baik, apakah kita menjadi orang Kristen yang dikenal dengan ciri berdoa? Apakah gereja ini dikenal sebagai gereja yang berdoa? 10 tahun mendatang kalau kita mengunjungi gereja di Korea kalimatnya akan sama yaitu gereja di sana adalah gereja yang berdoa. Yang berdoa di sana bukan orang tua saja tapi juga orang muda. Mereka rutin berdoa pagi. Berbeda dengan kondisi di sini. Ada yang kalau nonton sepak bola tahan tidak tidur sampai pagi, tapi begitu diminta berdoa malas. Ev. Alvian mengatakan kalau di Korea , keinginan untuk berdoa jemaat di sana kuat sekali. Mari kita refleksikan pada diri kita sendiri, “Apakah ciri saya sebagai orang berdoa ada tidak?” Kami rohaniawan, belajar agar doa menjadi bagian hidup kita. Saat keluar kota untuk berdoa agar tidak ada gangguan, kami mencari tempat yang baik. Kami bertanya kepada pemiliknya, “Tante boleh pinjam tempatnya untuk digunakan sebagai tempat untuk berdoa?” Sang Tanter terheran-heran dan bertanya,”Kok rame ya yang berdoa?” Menurut Tante itu, doa menjadi hal yang langka. Itu perkara penting untuk dipikirkan bersama. Roh Kudus dan berdoa menjadi ciri dari orang percaya sehingga melahirkan orang yang dikenal sebagai pelayan Tuhan.

B.    Doa adalah bentuk pengakuan kita sebagai orang yang tidak mampu

Kisah 4:23-24 Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Roh Kudus dan spirit berdoa melahirkan orang-orang yang menyadari bahwa doa adalah kekuatan saat kita tidak mampu. Saat Petrus dan Yohanes sebagai rasul berada di penjara , jemaat merasa kehilangan tokoh, panutan dan rasul mereka. Tetapi waktu Allah memberikan pertolongan dengan membebaskan kedua rasul itu, respon orang-orang yang mendengarnya : berdoa! Doa yang mereka angkat dari kitab Mazmur. Kisah 4: 29  Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Roh Kudus bekerja dengan karakterisitik yang kuat yaitu menginjil. Waktu berdoa, kita menyatakan bahwa kita tidak punya kekuatan dan kita membutuhkannya. Tuhan membenci dan sangat menentang orang sombong. Dalam kitab yang ditulis Rasul Paulus dikatakan “Rendahkanlah dirimu. Jangan menjadi orang sombong karena Allah murka dengan orang sombong”. Dosa nenek moyang kita adalah kejatuhan karena pikiran yang tidak mau diatur dan tidak mau berharap pada Allah  Kesombongan seperti inilah (saya bisa mengatur diri sendiri dan berbuat seperti yang saya mau) menjadi pikiran orang-orang jahat. Orang sombong tidak punya kekuatan dan apa-apa lagi untuk melakukan tugas (menyaksikan Kristus dalam hidup mereka). Berbeda dengan jemaat gereja mula-mula yang karena ada tekanan dari penguasa kota mereka berkata, “Ya Tuhan tolonglah!” Doa merupakan kesempatan untuk menyatakan kepada Allah, “Saya membutuhkan Engkau dalam hidup dan semua hal yang saya kerjakan.

          Berdoa berarti menyatakan orang-orang percaya membutuhkan Kristus. Allah senang orang-orang seperti ini. Karena hati mereka berharap pada Tuhan. Selasa kemarin , seluruh karyawan gereja melakukan penyegaran di Ancol. Setelah makan saya menjadi babysitter bagi Timo, anak Mario-Lydia. Saya suka kepada anak yang tidak banyak digendong sehingga saya meminta Timo untuk jalan sendiri. Dia senang sekali dengan suasana baru. Anak kecil larinya tertatih-tatih namun tidak takut jatuh. Saat Timo lari, saya yang takut dia terjatuh. Waktu ia mau jatuh saya buru-buru mengangkatnya, lalu saya arahkan dia berjalan lagi di atas pasir. Dia senang. Lalu dia naik ke pembatas pantai dengan laut membuat saya takut dia terjebur sehingga saya tarik dia. Hari itu saya belajar satu perkara : menghadapi ketidakmampuan orang maka belas kasihan kita keluar. Saya merasa berbelaskasihan kalau Timo jatuh. Saya merasa dia perlu diperhatikan dalam ketidakmampuannya. Saya senang menolongnya. Allah senang dengan orang yang rendah hati dan dekat denganNya. Allah senang umatNya berdoa bukan karena Tuhan tidak ada pekerjaan sehingga menunggu kita berdoa tetapi dia senang melihat anak-anakNya berkata, “Tuhan saya sungguh-sungguh membutuhkanMu” karena  pikiran dan uang saya tidak mampu menolong saya.


Saat kita menyanyikan lagu “Allah Peduli”, apa yang dipikirkan dalam hati?” Apa kita benar-benar peduli? Begitu kita mempunyai banyak  uang dan kekuatan yang hebat, apakah kepedulian Allah terasa? Kalau saya sudah bisa berusaha, memiliki depositio, punya gaji (penghasilan) , apakah hal itu membuat Allah sebagai sumber doa yang sungguh kita harapkan? Dalam Kisah Para Rasul,  jemaat gereja mula-mula sungguh-sungguh bertelut dan meminta Allah menolong mereka karena mereka sadar mereka tidak mampu. Namun pada saat gereja menjadi ‘kuat’ di abad 5 mereka lupa hal ini sehingga gereja hancur. Saat gereja tidak menyadarinya, maka barulah Allah berkarya dan memanifestasikan kuasaNya. Goyanglah tempat itu karena manifestasi kekuatan Allah dan Roh Kudus. Di situlah membuat gereja menjadi kuat. Tidak ada yang lebih hebat daripada Tuhan. Waktu berdoa, disitulah kekuatan Allah bekerja . Doa lahir dari kesadaran bahwa Roh Kudus ada di dalam diri saya. Roh Kudus menyadarkan bahwa kita tidak mampu dan butuh belas kasihan sehingga kita perlu berdoa dengan setia. 

Friday, June 10, 2016

Kesaksian Hamzah dari Malaysia - Keselamatan Bukanlah Lagi Mudah-Mudahan.


Majalah Komunikasi Kristiani – Standard Vol. XI No. 10 (Februari 2016)

Lahir dan dididik dalam lingkungan religius, Hamzah tidak yakin akan keselamatan dirinya. Bagaimana perjalanan pencarian dirinya terhadap kebenaran?

Saudara-saudara, inilah kesaksian saya tentang bagaimana Tuhan menyelamatkan dan memberikan paa saya sebuah panggilan khusus. Dia memilih saya sebagai anakNya dan seterusnya sebagai hambaNya. Anugerah Allah di dalam Yesus telah diberikan kepada saya dan kepada seluruh dunia.
            Tuhan menyelamatkan saya bukan melalui peristiwa supranatural. Meskipun secara manusia mustahil bagi saya untuk menerima  dan menjadi pengikut Kristus. Sebab saya dibesarkan di dalam lingkungan pendidikan agama sejak dari taman kanak-kanak. Dan saya menjalankan pendidikan saya dengan begitu baik. Pada tahun 1987, saya terpilih untuk mewakili kota saya guna ikut perlombaan membaca kitab suci dan sayalah juaranya. Tahun 1988, saya menjuarai perlombaan penulisan kaligrafi. Saya juga menjadi juara dalam perlombaan pidato tenang menyebarkan agama kepada sesama penganut dan penganut agama lain.
            Kemudian saya melanjutkan kuliah untuk mempersiapkan diri menjadi guru agama. Kami amat mantap dan sangat percaya bahwa agama kamilah yang paling benar, karena itulah yang dikatakan oleh kitab suci kami bahwa agama kami adalah agama yang benar di sisi Allah. Di kampus saya ajarkan bahwa dalam Perang Salib, agama kamilah yang menang. Ini berarti agama kamilah yang benar karena menurut ulama kami, Tuhan berpihak kepada agama kami sehingga kami menang dalam perang itu.
            Kewajiban besar kami di perguruan tinggi itu adalah memerikan penjelasan tentang agam kepada mereka yang tidak seagama dengan kami.
            Saya terpacu untuk mencari mereka yang belum mengenal agama kami. Di kota kami, komunitas terbesar yang belum terima agama kami adalah orang-orang dari keturunan Tionghoa. Saya sangat rindu untuk memenangkan mereka. Menurut tanggapan saya, agama orang-orang Tionghoa adalah salah dan mereka perlu mendapat ajaran kami. Walaupun demikian, saya sangat hati-hati ketika mendekati masyarakat yang memakan daging babi yang menurut kami adalah daging yang najis. Jika tersentuh, seseorang harus mencuci tujuh kali dengan lumpur, lalu mencuci dengan air bersih sebanyak tujuh kali. Jadi, saya selalu menjaga jarak supaya tidak bersentuhan dengan mereka.
            Saya selalu memulai percakapan dengan perkataan ini : “Hai kawan, maukah Anda mendengarkan cerita saya? Saya ingin tanya apakah agama yang Anda anut?”
            Pada suatu hari, saya berkata pada seorang kenalan dari keturunan Tionghoa tentang hal di atas. Orang itu menjawab,”Saya beragama Kristen.”
            Lalu saya berkata,”Halo kawan, tahukah Anda bahwa ajaran Kristen itu adalah benar pada dua ribu tahun yang lalu? Pada saat Nabi Isa masih hidup,tetapi sekarang agamanya telah digantikan dengan agama baru oleh seorang nabi yang baru?”
            Tetapi ia berkata,”Oh, bagi saya tidak menjadi masalah, apakah ada agama yang baru atau tidak, karena bagi saya dengan beriman maka saya pasti akan masuk surga!”
            Saya sangat terkejut mendengar jawaban itu. Selama 10 tahun belajar agama di sekolah agama dan 4 tahun di perguruan tinggi agama, saya tidak pernah mendengar bahwa masuk surga itu adalah hal yang pasti! Selama ini hanya ada kata-kata “Semoga saja.”
            Di dunia ini orang berlomba-lomba untuk menuju ke akhirat, dan untuk bisa masuk hanya ada istilah insyaallah. Tapi bagaimana orang Kristen itu bisa begitu yakin akan masuk surga? Karena itu saya menegurnya,”Hai kawan, memangnya surga itu kepunyaan Bapamu?”
            Lalu ia menjawab,”Ya! Memang surga itu kepunyaan Bapa saya.”
            Saya sangat terkejut mendengar jawaban itu dan terlintas dalam pikiran saya saat itu nas kitab suci yang berkata bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan nas lain yang mempersoalkan bagaimana Allah bisa mempunyai Anak kalau Dia tidak mempunyai permaisuri?
            Tetapi bagaimana orang ini bisa mengakui Tuhan sebagai Bapanya sendiri? Kemudian saya bertanya lagi,”Memangnya Tuhan kamu itu siapa? Siapa namaNya?”
            Dengan tenang ia menjawab,”Tuhan saya adalah Yesus.” Pada saat saya dengar kata-kata itu, emosi saya meledak dan saya sangat marah kepadanya. Karena bagi saya, dia telah menyekutukan Allah seba tidak ada Tuhan kecuali Allah.
            Saya anggap pertemuan itu telah selesai setelah saya berkata,”Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
            Saya pulang ke perkampungan dan hidup seperti biasanya. Saya membaca kitab suci sambil terus mencari kebenaran baik di lembaga pendidikan maupun secara pribadi. Akan tetapi dialogi denganorang itu tidak bisa hilang dari pikiran saya. Akhirnya dialog itu menggerakkan saya untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Yesus itu. Mengapa umat Kristen begitu yakin bahwa dengan iman seseorang pasti masuk surga?
            Saya mencari buku-buku yang bercerita tentang Yesus. Akhirnya saya temukan satu uku yang ditulis oleh Mundhir Dhan Nadzir yng berjudul Fa’firu Il’lallah (Jalan Menuju kepada Allah). Buku itu menjelaskan tentang peristiwa akhir zaman di mana diceritakan bahwa pada akhir zaman akan terjadi peperangan , kelaparan, gempa bumi, keributan dan peperangan di mana-mana; banyak orang akan ketakutan. Dalam keadaan seperti itu , muncullah satu kuasa yang sungguh dahsyat, bernama Dajjal. Dajjal ini sangat menakutkan. Matanya satu, tinggi dan besar, sehingga lautan hanya selangkah kaki baginya. Di tangan kanannya ada surga dan di tangan kirinya terdapat neraka. Dajjal ini pergi ke mana saja untuk mencari penghuni bagi surga dan neraka yang dibawanya. Sebenarnya surga yang ia bawa adalah neraka di mana para penghuninya akan disiksa selama-lamanya! Dia pergi ke mana saja mencari jiwa-jiwa untuk masuk ke surganya itu. Namun pada saat terakhir, datanglah Penyelamat yang akan menantang Dajjal yang sangat jahat itu.
            Saya terkejut mengetahui siapakah yang akan datang untuk menyelamatkan dunia ini dari cengkeraman Dajjal yaitu Isa Almasih (Yesus Kristus) sang Imam Mahdi! Datanglah Isa Almasih sebagai Imam Mahdi yang akan selamatkan dunia dari kejahatan Dajjal! Keduanya akan terlibat dalam peperangan yang dahsyat!
            Saya kagum dan heran dengan apa yang terjadi selanjutnya. Ketika bertemu dengan Dajjal, Isa Almasih berkata kepada bumi,”Hai bumi terbukalah!” Dengan serta-merta bumi pun terbuka dan Dajjal jatuh dan terhimpit di dalamnya. Lalu Dajjal pun mati.
            Dari sana saya bertanya lagi,”Mengapakah Isa Almasih yang dapat mengalahkan Dajjal?” dalam catatan kaki buku itu disebutkan bahwa Dajjal ini merupakan pengabungan segala kekuatan Iblis yang menjadi satu. Dan Dajjal ini akan menyesatkan banyak orang agar masuk ke dalam neraka.
            Pertanyaan yang timbul dalam pikiran saya adalah mengapa Isa Almasih yang dapat mengalahkan kuasa Iblis ini? Mengapa bukan Nabi Adam yang pernah bertemu secara langsung dengan Iblis itu? Kenapa bukan Nabi Nuh, Nabi Idris, Hud, Salleh dan nabi-nabi yang lainnya, dan bukan pula Nabi Muhammad yang saya sanjung dan muliakan?
            Dalam buku itu muncullah cerita yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam ini di dalam jiwa saya. Setelah Dajjal dikalahkan, Isa akan berkuasa, maka terjadilah Hari Kiamat. Pada hari kiamat, semua jiwa yang pernah hidup akan dikumpulkan di satu tempat yang bernama Ara Mahsyar atau Padang Mahsyar. Mereka akan dikumpulkan untuk menunggu waktu penghakiman di mana satu per satu akan menghadapi seorang Hakim yang akan menghakimi setiap umat manusia. Mereka sangat ketakutan karena panas yang amat sangat pada waktu itu. Menurut gambaran buku itu, lantai Padang Mahsyar adalah dari perak dan di atasnya terdapat matahari yang dapat dijangkau dengan tangan manusia. Sehingga panasnya begitu hebat dan membuat setia orang hancur menjadi air tetapi kemudian muncul lagi menjadi manusia. Pada saat itu mereka semua berduyun-duyun akan mencari pembela mereka, supaya masalah mereka dapat dengan cepat diadili. Mereka bertemu dengan Nabi Adam, lalu berseru kepadanya,”Ya Nabi Adam, ya Nabi Allah, tolonglah bela masalah kami segera!” Tetapi jawabnya Nabi Adam ialah,”Hai umatku, aku tidak sanggup membela perkara kalian, karena saya pun malu, saya pun harus mempertanggungjawabkan masalah saya sendiri di hadapan Hakim itu.”
            Kemudian mereka ke Nabi Nuh, Idris, Hud, Salleh dan kepada semua nabi yang lain untuk mencari pertolongan guna membela masalah mereka di hadapan Sang Hakim itu. Tetapi mereka semua pun tidak dapat menolong! Kemudian mereka pergi mencari Nabi akhir zaman, nabi Muhammad. Mereka berseru,”Ya Rasullulullah , tolong cepat bela masalah kami.” Lalu Muhammad menjawab mereka,”Wahai umatku, aku tidak bisa membela perkara kalian. Aku hanya bisa berdoa syafaat bagi kalian saja.” Dan Muhamad tidak dapat menentukan siapa di antara umatnya yang akan masuk surga ataupun neraka. Keputusan terakhirnya hanya berada di dalam tangan Hakim yang akan menghakimi umat Manusia!
            Saya sangat heran siapa yang menjadi Sang Hakim itu, saudara-saudari, ternyata yang menjadi Hakim adalah Isa Almasih.
            Pertanyaan yang melintas di dalam benak saya adalah mengapa Isa Almasih lagi yang muncul menjadi Hakim? Dialah yang menentukan mereka yang akan masuk surga dan juga mereka yang akan masuk neraka.
            Saya terus bertanya dan sangat amat ingin tahu jawabannya. Kemudian saya mulai melakukan sembahyang dan berdoa terus-menerus. Karena saya tidak mau berada di tengah-tengah, jika dosa dan pahala saya kedapatan seimbang. Karena saya tahu bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, yang kekal adalah yang di akhirat – surga atau neraka. Yang menentukan kita masuk surga atau neraka nanti adalah semasa kini; selama di dunia ini.
            Kemudian saya berdoa dan sembahyang sambil mencari jawaban dan penyelesaian bagi pertanyaan saya di atas. Saya menangis, hati saya senantiasa mencari tahu apa hakikat peran besar yang dimain oleh Nabi Isa yang juga bergelar Almasih itu, dalam perkara surga dan neraka. Selama tiga tahun saya bergumul dengan perkara yang penting ini, tiga tahun saya mencari-cari kebenaran siapakah sebenarnya Isa Almasih ini. Mengapa orang Kristen yakin akan masuk surga? Mengapa Tuhan umat Kristen adalah Yesus Kristus atau Isa Almasih?
            Tidak lama kemudian, saya diberi jawabannya. Tuhan telah bukakan mata dan hati saya kepada kebenaran tentang siapakah sebenarnya Isa Almasih itu. Jawabannya datang dari Surah Al-Imran 3 ayat 45 yang berkata,”Malaikat berkata : Ya Maryam, sesungguhnya , Allah itu memberi kabar sukacita kepadamu, Maryam, dengan Firman yang dari Allah, Firman itu bernama Isa Almasih ibnu Maryam, yang berkuasa di dunia dan di dalam akhirat dan yang paling dekat dengan Allah...”
            Sungguh indah hakikat ini. Firman Allah ini yang bernama Isa Ibnu Maryam yang berkuasa di dunia dan di akhirat. Kesimpulan dalam pikiran saya adalah : Dia yang akan datang kali kedua, Dia yang mampu mengalahkan Dajjal, Dia yang akan menghakimi umat manusia dan menentukan siapa akan masuk surga atau neraka – memang itulah hak Dia, sebab Isa Ibnu Maryam itu berkuasa di dunia dan juga di akhirat!
            Kemudian saya mencari sahabat Tionghoa itu dan ia memberikan sebuah Alkitab pada saya. Pada saat saya membukanya, saya merasa sangat gembira lalu saya mulai membaca kitab Kejadian. Sungguh enak dan menyenangkan sekali pembacaan saya itu! Karena ceritanya sangat jelas, dan kesinambungannya juga amat sempurna. Kronologinya sangat lengkap dan berurutan! Saya membaca kitab-kitab selanjutnya dan semua cerita di dalamnya cocok dengan ajaran dari ulama yang telah mengajarkan pada saya. Saya berusaha membaca dan memahami segala sesuatu yang terkandung dalamnya dengan hati dan pikiran yang terbuka Tuhan berkenan atas pencarian saya itu.
            Akhir kata, pada bulan Juli tahun 1991, sesudah bergumul selama tiga tahun dengan berbagai pertanyaan, setelah memiliki dan membaca Kitab Suci bagi diri sendiri, Tuhan telah memberkati saya dengan damai sejahtera dan keselamatanNya. Pada waktu yang sama, saya mulai tertarik pada sebuah lagu rohani yang memperingatkan saya tentang pencarian saya.
            Liriknya sebagai berikut : Sudahkah engkau siap sedia? Menghadapi kedatangan Yesus kelak kembali! Untuk mengangkat kita semua, yang sungguh-sungguh mengharap padaNya.
            Lirik itu memperingatkan saya bahwa kita semua harus siap menghadapi kedatangan Isa ke dunia ini. Ajaran ini ada juga diajar oleh agama saya sebelum ini dan nasihat untuk bersiap-siap bagi menyambut kedatangan Dia yang kedua adalah sama.
            Sambil berpikir tentang persiapan saya, saya telah diperlihatkan tentang dosa-dosa saya yang sungguh besar dan yang tidak mungkin dapat diampuni. Tuhan telah menunjukkan dosa saya yang begitu besar sehingga mustahil bagi saya masuk ke surga.
            Pada saat itu saya mulai menangis atas segala yang telah saya renungkan. Namun Tuhan menunjukkan pada saya bagaimana Isa Almasih telah menjadi Penebus saya, dan bagaimana Dia telah menanggung hukuman bagi dosa-dosa saya dan juga manusia sejagat.
            Sama seperti putra Abraham telah diselamatkan dari korban sembelihan oleh penggantinya – seekor domba yang telah disiapkan oleh Tuhan sendiri. Sesungguhnya peristiwa itu adalah satu gambaran nubuat yang Tuhan telah berikan kepada umatNya tentang kedatangan Isa Almasih yang datang sebagai Penebus umat manusia!
            Setelah saya meyakini penebusan hukuman dosa-dosa saya oleh korban yang telah dibayar oleh Tuhan sendiri – dengan nyawa Isa Almasih yang sempurna – saya kini beroleh keyakinan juga untuk kedatanganNya yang kedua. Karena Dia bukan saja Hakim yang adil itu, teapi Dia juga adalah Penebus dan Juruselamat saya untuk selama-lamanya! Halleluyah!
            Saya ingin sarankan kepada saudara-saudari yang dikasihi, kupaslah segala prasangka yang tidak berdasar terhadap Alkitab. Bacalah Kitab Suci ini dengan pikiran yang terbuka. Tuhan akan memberkati saudara-suadari dengan anugerahNya! Saya ingin menutup kesaksian saya dengan satu ayat dari Kitab Suci Inil yang sungguh bermakna dan indah sekali, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah , itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. (Ef 2:8-9).

            Semoga Tuhan memberkati pencarian saudara sekalian! Amin.

Wednesday, June 8, 2016

Kesaksian Lydia Nursaid



Berikut kesaksian Ibu Lydia Nursaid yang datang ke GKKK Mangga Besar 5 Juni 2016 (Minggu) untuk memberikan persembahan pujian dan kesaksian hidupnya. Kesaksian ini sudah dikombinasi dengan kesaksian dan data yang ada di internet, sehingga tidak sepenuhnya disaksikan tanggal 5 Juni 2016. Kiranya kesaksiannya dapat menjadi berkat bagi seluruh saudara seiman untuk boleh memberitakan Injil.

Saya  lahir dari keluarga campuran. Bapak campuran antara Padang (Sumatera Barat) – Arab - Italia dengan nama Mohamad Said Bawasir dan Ibu Hasnur orang Madura (Jatim). Bapak saya seorang anggota TNI. Setelah masuk tentara namanya menjadi Said Kelana.  Kami hidup dalam lingkungan yang biasa dididik “secara militer” dengan kedisiplinan yang tinggi. Sejak kecil saya beserta dengan saudara  diarahkan  menjadi seorang yang taat kepada agama yang kami anut sekeluarga. Kami sekeluarga memiliki keyakinan, bahwa agama kamilah yang benar dan   diberkati Allah.

Saya juga terlahir dari keluarga musik. Bapak dikenal sebagai seniman musik yang konsisten di jalur R&B. Sebelum dikenal sebagai penyanyi solo, saya bergabung dengan saudara-saudara dalam band keluarga, The Big Kids dan pernah berduet dengan adik saya, Imaniar. Selain itu adik saya Iwang Noorsaid juga berkecimpung di dunia musik mengambil aliran mainstream jazz, dan adik laki-laki saya yang lain Inang Noorsaid terkenal sebagai drummer yang pernah bergabung dengan kelompok Band Emerald yang beraliran jazz dan God Bless yang beraliran rock. Dari enam anak-anak Said Kelana--Idham, Irommy, Lydia, Imaniar, Inang dan Iwang--, kini praktis hanya Niar, Iwang dan Inang saja yang masih terjun di dunia musik komersial.

Nama Lydia meroket setelah berduet bersama Imaniar tahun 1986 dan berhasil mencetak album hits. Selepas duo itu bubar, Lydia dan Imaniar masing-masing sibuk dengan karir solonya. Setelah sempat menjadi vokalis tamu di album Karimata, akhirnya saya merilis album solo pertamanya dengan judul Lupakan Segalanya. Musisi-musisi kelas atas saat itu seperti Youngky Soewarno, Addie MS, James F. Sundah dan Chandra Darusman membantu menciptakan aransemen yang pas. Tidak begitu berhasil, tapi sempat menjadi radio hits.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara pemakaman. Saat menguburkan orang yang meninggal dalam agama kami dikatakan, “Semoga arwahnya diterima sesuai amal ibadah-nya” sedangkan  di sebelahnya ada kuburan orang Kristen yang pada nisannya bertuliskan “RIP (rest in peace) telah dipanggil oleh Bapak di sorga”. Dalam hati saya berkata, “Jadi orang Kristen enak karena saat meninggal dipanggil Bapak di sorga”. Kalau di agama saya belum tentu masuk sorga walau setiap hari rutin menjalankan sholat. Seperti saya, setiap pk 5 pagi saya sudah bangun. Pk 6 ustad datang untuk mengajar saya mengaji.

Saat menginjak remaja, saat itu saya selalu “mendoktrin” pacar saya, agar masuk dalam agama yang saya anut. Namun, saat saya  berusaha mempengaruhinya, justru pada akhirnya  saya terbawa arus dan mengikuti Yesus Kristus.  Tuhan Yesus telah menangkap saya. Dan bersama pacar,  saya dibaptis di salah satu gereja di Kota Jakarta. Awalnya pacar saya itu orang Kristen yang suam-suam. Tetapi sejak saat itu kami mulai aktif dalam beribadah.

Suami saya keturunan Tionghoa bernama Yongki D. Ramlan (menikah 14 Februari 1988). Waktu berkenalan saya belum tahu agamanya, namun akhirnya saya tahu papanya Budha dan mamanya Kong Hu Cu. Saya yang dari muslim saja mau menerima Yesus, belakangan ia juga menerima Yesus dan dibaptis  bersama-sama dengan saya. Cara Tuhan ajaib. Sekali tangkap 2 jiwa sekaligus. Sekarang ia hampir menyelesaikan tesis S2 Teologia di Tiranus Bandung. Kami melayani di mana-mana sebagai penginjil.  Saya menikah tanpa setahu orang tua saya pada tanggal 14 Februari 1988.

Papa saya tahu kekristenan saya dari berita pernikahan saya di surat kabar. Yang meliput berita pernikahan  itu adalah artis yang menjadi wartawan. Seperti juga Asmiranda dan Jonas, anaknya Idris Sardi ketahuan dari Kristen karena media massa. Papa saya juga tahu saya menikah dari surat kabar “Lydia Nursaid menikah”. Tapi ia melihat saya pemberkatan nikah di gereja bukan di KUA. Saya dicari , rumah saya diketahui padahal 3 tahun saya pergi tidak dicari tetapi sekarang ditangkap dan digebuki. Babak belur. Papa saya ambil samurai. Suami saya yang baru 1 minggu menikah, tidak boleh ikut.

Bapak saya tentara, keras. Waktu mengetahui saya jadi Kristen, ia yang lebih dulu marah. Di keluarga saya banyak mualaf , semua agama masuk muslim. Sekarang saya dipanggil murtadin karena murtad. Waktu masuk dibacok, bapak saya berkata, “Lydia kau mati saya masuk penjara, tetapi saya tidak punya anak yang beragama Kristen” Waktu itu saya berkata, “Sekalipun mati saya tidak akan tinggalkan Yesus, karena saya tahu jalan satu-satunya masuk sorga hanyalah Yesus Krisuts.” Saya berani bicara seperti itu, karena ada ayatnya di Alkitab. Mereka tidak beriman pada Alkitab apalagi Inji. Kalau saya ditanya mereka, saya bisa jawab. Tetapi bapak saya murka dan papa saya minta saya berlutut, hitungan ketiga saya akan dibacok. Saya berlutut dan berdoa, “Tuhan kalau saya mati rumah saya di surga. Tetapi kalau hidup pertemukan saya dengan suami saya.” Baru seminggu pemberkatan sudah mau dibacok. Begitu berkata amin, bapak saya jatuh. GUBRAK. Bapak saya ditomplok paman saya. Saya lari ke lantai 3 ke kamar saya dan terjun dari lantai 3 dan terjun ke atap genteng tetangga. Saya jadi buronon 3 tahun ke Bandung dan Tasikmalaya. Yang saya lakukan adalah mengampuni dan mendoakan mereka. Saat datang ke rumah keluarga , datang tidak hari biasa karena bisa dibacok. Datangnya lebaran, karena saat itu datang tidak boleh bacok anak. Saya datangi dan diusir. Bapak saya berkata, “Kau bukan anakku, karena darahmu Kristen, kau kafir.”, Saya pergi baik-baik, tidak melawan tetapi tahun depan saya datang lagi. Seperti malam ini teraweh, puasa pertama, tidak boleh melakukan kejahatan karena saya lakukan dulunya.

Setelah lebih dari 2,5 tahun  mengarungi rumah tangga, saya mendengar kabar, bahwa ayah dan ibu hendak berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah. Namun, niatnya itu  diundur hingga dua kali. Dengan “tuntunan” Roh Kudus, saya memberanikan diri datang ke rumah orang tua. saya terus berdoa agar  mereka bisa  menerima saya kembali.

Saat kunjungan, ia mengatakan, “Kamu sudah saya gampari, datang lagi datang lagi.” Saya datangi bapak ibu saya. Dia bertanya,”Maumu apa?” Saya hanya berkata, “Abah dan umi mau pergi ke Timur Tengah mau apa?” “Iya, saya mau hapus dosa. Di sana rumahnya Allah” Saya hanya berkata, “Abah kalau mau hapus dosa bayarnya berapa?” Dia bilang,”Satu orang Rp 25 juta, dua orang dengan ibumu Rp 50 juta”.  “Abah, mau tidak yang gratis?” saya tawarkan.  “Saya mau” dia pikir mau dibayarin saya. Saya kenalkan nama Isa Almasih, dia berkuasa di bumi dan di surga. Dia mampu menghapus dosa manusia. Saya tunjukkan ayatnya di Alkitab mapun kitab kita. Bapak saya mengusir saya, “Cepat pergi sebelum saya berubah pikiran”. Buru-buru saya kabur daripada dibacok.

5 hari kemudian bapak saya datang. Suasana mendekati Idul Adha (lebaran haji). Ia bilang, “Yang kamu bilang betul. Kalau orang yang seperti saya mampu bayar sehingga bisa menghapus dosa sedangkan yang miskin sampai mati tetap berdosa.” Saya berkata dalam hati, “Dia tanya, dia sendiri yang menjawab.” Saya tidak mempengaruhi yang demikian keras karena kita menginjil dengan kasih. Melalui hidup dan perkataan kita saja. Ia berkata, “Lydia, kalau memang Isa Almasih bisa menghapus dosa saya, hari ini juga saya mau menjadi Kristen.” Saya tantang “Bisa! Kapan?”  Hari itu juga langsung saya ajak ke pendeta. Papa menerima  konseling, semacam katekisasi. Akhirnya bapak mau menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan   dibaptis. Perjalanan ibadah pun dibatalkan. “Saya bersyukur!” di saat-saat terakhir ayah saya mau menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Dan saya sungguh berbahagia menyambut pertobatan ayah,” katanya.

                Setelah bapak menjadi Kristen, ibu saya mengusirnya. Sebagai kompensasinya ibu naik haji 3 kali setiap tahun. Semua adik perempuan saya (termasuk Imaniar) sudah berhijab. Di Jakarta ada gereja Padang dan saya perkenalkan ke ibu saya. Setelah 23 tahun berdoa kemudian, barulah ibu saya dibaptis. Saat itu usianya sudah 76 tahun. Di Jakarta ada gereja Minang yang memakai bahasa Padang. Setelah usai ibadah, jemaat diajak nyanyi “Kampuang Nan Jauh Di Mato” (ciptaan A. Minos) agar jemaat mengingat orang-orang yang belum percaya di kampung halaman. Setelah masuk Kristen, ibu saya sekarang mengecat rambutnya. Bebas merdeka. Kalau dulu jadi haji, ia tidak boleh mengecat rambut karena tidak tembus air wudu (air sembayang). Sedangkan bapak saya setelah masuk Kristen , tertawa terus karena dosanya sudah diampuni.

                Abang paling besar (Idham), istrinya mantan Kristen karena mau kawin. Tapi abang saya ini dari Muslim jadi Kristen padahal istrinya sudah jadi Muslim. Demikian pula dengan anaknya (keponakan saya) sudah menerima Kristus dan dibaptis.

Saya mempunyai hati misi, karena keluarga saya sudah Tuhan selamatkan. Sebelum keluarga saya diselamatkan saya sudah pelayanan ke Kalimatan. Di sana, anak-anak jemaat disekolahkan dengan biaya dari islamic centre karena tidak ada sekolah Kristen di pedalaman sana. Saya datang membawakan Injil menguatkan iman mereka agar orang tua yang mualaf kembali. Saya pelayanan di pedalaman seperti di papua dan di  Toraja. Tidur di mana saja, tidak masalah yang penting Injil diberitakan. Di Kalimantan Barat daerah Amsangdarif. Daerah saya tidur di bawahnya ada kandang babi dan babinya mengorok. Jadi yang ngorok babi duluan. Hal ini karena pendeta tempat saya tinggal memelihara babi. Karena untuk kehidupan mereka tidak ada sawah. Untuk mandi di Kalimantan harus pergi ke Sungai Kapuas. Saat sedang menyikat gigi dan menyendok air tiba-tiba ada kotoran manusia lewat. Di NTT jalanannya hancur dan  mandi seminggu sekali di Sumba, NTT. Waktu mau KKR di Weiha tidak ada listrik. Sudah 24 tahun tidak ada listrik. Karena gelap, cahaya didapat dari pakai lampu mobil yang distarter. Waktu KKR anak-anak,  tidak ada ibu-bapaknya yang datang karena orang tua nya sudah muslim. Ini daerah Oekam, Onlasi, Kupangsoe. Waktu saya tanya siapa yang mau pendeta dan vikaris? anak-anak kecil itu maju. Ada anak kecil maju dan saya bertanya “Orang tua kemana?” Anak itu menggambarkan dengan tangan mereka bahwa ibunya sudah memakai jilbab agar dikasih rumah yang ada listrik. Dikasih gratis asal pindah iman. Rumah yang asli tidak ada listrik selama 24 tahun dan campur babi. Saya tanya mengapa om tidak pindah? Dijawab, “Buat saya Yesus lebih berharaga” Om ini tidak pindah rumah karena tetap pegang Yesus.


Kita punya Allah yang ajaib. Allah yang kita sembah, lebih dari segalanya. Itu yang saya alami. Saya yang jadi Kristen pertama kali di keluarga. Ini kesaksian hidup saya, true story. Keluarga yang mau bunuh dan bacok saya dan saya jadi buronan 3 tahun, tidak berani ke Jakarta. Tapi saya hidup untuk Tuhan, saya setia. Akhirnya saya boleh beritakan Injil. Keluarga bertobat satu per satu. Masih ada 4 saudara kandung saya yang belum terima Yesus. Ini yang menjadi pokok doa saya. Dengan Injil yang kita tabur, maka kita akan menuai jiwa-jiwa. Kita beritakan Injil, baik atau tidak baik waktunya. ... Saya mau ikut Yesus selama-lamanya, meskipun saya susah, saya mengikut Yesus selama-lamanya. Doakan pelayanan saya. Doakan keluarga saya dan penginjilan-penginjilan. Terima kasih.


Sunday, June 5, 2016

Anakmu = Tiruanmu


Ev. Susan Kwok

Kej 19 (Lot dan kedua anaknya) : 31,34-36
31  Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.
34  Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: "Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita."
35  Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.
36  Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka.

Ulangan 6:4-7
4   Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

2 Tim 3:2
Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,

Pendahuluan

                Dalam buku “Selamat Menabur”,  Pdt. Dr. Andar Ismail menceritakan tentang seorang anak yang lari tergopoh-gopoh memohon pendetanya untuk datang ke rumah dan mendoakan yang sakit. Karena mendengar ada yang sakit, maka sang pendeta dan anak itu segera pergi. Setibanya di tempat yang dituju, sang pendeta agak kecewa sebab ternyata yang sakit itu bukan manusia tetapi seekor kucing. Pendeta itu agak kesal dan merasa dipermainkan oleh anak kecil. Masa kucing sakit saja harus memanggil pendeta? Tetapi sang pendeta tentu tidak ingin mengecewakan sang anak. Apalagi dia diminta untuk mendoakan kucing kesayangan sang anak. Oleh sebab itu, sang pendeta menghampiri kucing yang sedang terbaring sakit dan berdoa,”Hai kucing, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah. Amin.” Setelah sang pendeta selesai mendoakan kucing kesayangannya, sang anak merasa senang sekali. Rupanya doa sang pendeta itu “manjur”. Beberapa hari setelah didoakan, kucing tersebut sembuh. Dan sebagai tanda terima kasih kepada sang pendeta, anak itu membuat sebuah gambar yang bagus. Sang anak kemudian pergi ke rumah sang pendeta untuk memperlihatkan gambar hasil karyanya. Setibanya di rumah pendeta, ternyata rumahnya sepi dan sunyi. Si anak mengetuk pintu beberapa kali. Kemudian terdengar suara sang pendeta yang agak lemah karena ia sedang sakit. Bertanyalah anak itu, “Bolehkah saya masuk sebentar Pak Pendeta?” Sang pendeta menjawab, “Tentu saja. Anakku, silahkan masuk!” Setelah masuk , sang anak berkata, “Pak Pendeta , ini saya membawa sebuah gambar karya saya sendiri. Gambar ini untuk Pak Pendeta sebagai ucapan terima kasih karena kucing saya telah sembuh berkat doa bapak. Si pendeta pun senang menerima gambar itu dan mengucapkan terima kasih. Namun sebelum pamit pulang, sang anak bertanya, “Pak Pendeta bolehkah saya berdoa untuk Bapak yang sedang sakit? tanya sang anak dengan polosnya. ” Oh tentu saja boleh, anakku”, jawab pendeta itu. Maka dengan penuh kesungguhan berdoalah anak itu,”Hai Bapak Pendeta, kalau kamu mau hidup, hiduplah; kalau kamu mau mati, matilah! Amin.” Hati pendeta itu tertemplak dan tertegur. Anak ini dengan cepat belajar dari apa yang dia lihat dan dengar, sehingga ia sadar bahwa ia telah memberi contoh yang buruk.



Anak Belajar dari Lingkungan (termasuk Orang Tua),  Membentuk Kebiasaan dan Nantinya Sulit Berubah
               
Anakmu adalah tiruanmu. Jadi jangan marah bila ada orang yang mengatakan, “Kamu mirip Ibu atau Ayahmu” karena memang benar seperti itu. Misalnya : cara berjalan atau cara bicaranya sama. Ada bapak yang suka makan di warteg (tidak suka makan di restoran). Setelah masuk warteg, ia akan mengangkat kaki dan makan langsung dengan tangan (tidak memakai sendok). Menurutnya dengan cara makan seperti itu terasa nikmat sekali. Sedangkan bila makan di rumah walaupun di meja makan ada gelas kristal dan dihidangkan anggur rasanya tidak nikmat. Jadi yang nikmat makan dengan kaki diangkat dan pakai tangan. Kalau ia punya anak, tidaklah mengherankan bila anaknya akan meniru makan seperti bapaknya karena sang anak melihat tanpa diajar. Karena melihat bapaknya setiap hari demikian, maka jadilah anaknya seperti itu. Anak-anak usia dini banyak sekali meniru lingkungannya terutama orang tuanya dan orang yang dekat dengannya. Sehingga lebih baik mengajar hal-hal yang baik kepada anak-anak sejak dini. Berilah yang baik untuk didengar dan dilihat sebelum pengetahun tidak baik masuk. Anak dari kecil memperhatikan keluarganya. Bila seorang anak menjadi pembohong, maka kemungkinan ia tumbuh dalam lingkungan orang-orang yang biasa berbohong. Bergaul dengan orang-orang yang berbohong akan membentuk kebiasaan berbohong pada anak-anak dan setelah kebiasaan berbohong terbentuk, maka kebiasaan ini akan susah ditinggalkan dan diubah. Selanjutnya jangan-jangan sesudah beranjak besar, ia tidak tahu bahwa berbohong itu salah karena ia melihat sendiri sewaktu berbohong , ayahnya tidak mengalami kejadian yang buruk. Sehingga ia pun senang berbohong. Ini berbahaya. Sejak kecil sampai dewasa , orang tua harus mewanti-wanti anak-anaknya. Kalau orang tua mengumpat (omong kotor) maka anak-anak kecil akan menirunya. Sampai besar ia akan susah mengubah kebiasaan berkata-kata kotor. Masalahnya orang bukan tidak bisa berubah , tetapi anak kecil dengan cepat meniru dan lama-lama menjadi kebiasaan yang terus terbawa sampai dia dewasa.
                Pada usia sekolah, pengaruh orang tua mulai memudar dan ia mulai mencari jati diri. Saat itu ia akan meniru teman-teman sebayanya, tidak peduli apakah baik atau tidak. Yang penting apa yang temannya perbuat akan diikuti sehingga di rumah orang tua harus waspada. Semakin anak bertumbuh dewasa, ia semakin sedikit menyerap pengaruh dari orang tua. Saat ia bekerja dan menjadi karyawan, ia akan melihat bos-nya.  Bila bos-nya rajin maka dengan sadar ia akan meniru hal-hal yang baik darinya. Itu sebabnya pada Yoh 13:15  Tuhan Yesus mengingatkan murid-muridNya untuk mengikuti teladanNya (sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu). Tuhan Yesus sudah memberikan begitu banyak contoh dan harusnya sebagai orang percaya kita harus menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16).

Peran dari Orang Tua Kristen

                Sebagai orang tua Kristen , kita harus benar-benar waspada atas apa yang dipelajari anak-anak bahkan dan cucu-cucu kita. 2 Tim 3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama. Di sini, Rasul Paulus mengingatkan Timotius banyak hal tentang pengajaran sesat dan lainnya. Ia mengingatkan bahwa pada akhir zaman ini akan terdapat lebih banyak kesukaran dan manusia akan mencintai diri sendiri (ego sentris), manusia membual dan berbohong. Manusia  biasa berbohong di mana-mana (gereja, tempat kulaih, sekolah,  tempat pekerjaan) dan  dengan siapapun (istri, anak, mantu dan lainnya). Pada masa yang sukar ini maka anak akan suka berontak kepada orang tua mulai dari hal kecil sampai hal besar. Ia tidak mengindahkan perkataan orang tuanya bahkan melakukan hal-hal yang bertolak belakang dari perkataan mereka. Sekarang terjadi banyak tindakan kriminal seperti perkosaan dan pembunuhan. Pelakunya  pasti mendapat pengaruh buruk yang dilihatnya saat ia masih kecil. Rasul Paulus mengingatkan  ada pengaruh (spirit) zaman yang buruk yang harus diwaspadai dalam konteks keluaga. Spirit zaman ini membuat orang tua Kristen tidak melakukan peran yang sesungguhnya. Peran orang tua sebagai mandataris Allah sudah mulai bergeser. Slogan dan ilmu yang mengatakan bahwa anak harus menjadi teman dan sahabat, sebenarnya merupakan suatu pendekatan yang betul di satu sisi. Itu hanyalah cara komunikasi. Tetapi sebagai mandaratis Allah, orang tua harus punya wibawa dan otoritas yang jelas (tidak arogan tetapi berwibawa). Jadi harus ada suatu hirarki di mana orang tua statusnya sebagai orang tua dan anak sebagai anak. Perhatikan perkembangan ilmu sekarang yang muncul di media masa mengatakan “Jangan menggunakan kata ‘jangan’ atau ‘tidak’ kepada anak”. Apakah bisa mengajari anak bila tidak menggunakan kata “jangan” atau “tidak” dan hanya menggunakan kata “sebaiknya’ atau “bisakah kamu”? Di Alkitab dikatakan banyak digunakan kata  “jangan” dan “tidak boleh” asal menggunakannya dengan tepat dan hati yang mau mendidik. Tidak semua kata jelek, jadi permasalahannya bukan pada kata itu.
                Apa yang ditulis dalam Alkitab terkadang sudah jelas dan tidak perlu ditafsirkan macam-macam. Contoh yang dapat dibaca  pada Kitab Amsal 1-31, Kolose, Efesus. Spirit zaman yang mulai mau menggeser sehingga ketika anak berontak ke ortu tidak serta merta terjadi. Orang tua kaget karena dulu waktu kecil anaknya baik-baik saja, lalu sekarang mengapa mereka memberontak? Bila terjadi begitu, cobalah pikir dan evaluasi cara mendidik dan memberi contoh bagaimana? Ada ilustrasi tentang cara bagaimana ayah mendidik anaknya. Ada seorang ayah yang berkata kepada anaknya, “Anakku janganlah merokok!” sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Mendengar nasehat ayahnya yang bertentangan dengan perbuatannya sendiri, apa yang ada di pikiran sang anak?  Anak ini walau diminta jangan merokok tetap saja merokok, apalagi diperhalus dengan pernyataan “sebaiknya jangan merokok” karena prioritas dan contohnya tidak ada. Dia menyuruh anaknya tapi ia sendiri tidak mau melakukan , di mana wibawa dari apa yang dikatakannya? Ada juga orang tua yang berkata kepada anaknya yang sedang tidur, “Bangun! Hari ini kamu kan pergi ke gereja!” lalu ia sendiri pun tidur kembali. Jadi anaknya disuruh sendirian pergi ke gereja . Mungkin anaknya kemudian pergi ke luar tapi tidak ke geraja. Spirit zaman sekarang :  anak memberontak kepada orang tua.
                Yang terjadi pada keluarga Lot pada Kejadian 19 sangat memprihatinkan. Anak-anaknya pasti melihat contoh yang buruk sebelumnya. Ketika Lot dalam masa mudanya dibawa ke dekat Betel oleh pamannya Abram dan kemudian mereka berdua bersama-sama berusaha dan menjadi kaya. Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.   Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.   Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.  Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." (Kej 13:6-9). Ini baik. Pada umumnya manusia akan memilih hal-hal yang menguntungkan dirinya. Abraham mengajarkan sesuatu yang luar bisa, tapi Lot tidak memahami. Lot menggunakan prinsip aji mumpung. Ia memilih lembah yang subur dan makmur. Berarti bagian yang kurang subur dan makmur menjadi milik Abram. Lot mau memilih yang bagus untuknya , mumpung disuruh pilih duluan oleh pamannya. Akhirnya anak-anak Lot juga hidup di dalam cara berpikir orang tuanya. Aspek yang dipertimbangkan dalam hidup Lot adalah ekonomis dan materi.  Setelah  Sodom dan Gomora dibumihanguskan, kedua anaknya merasa sedang menghadapi masalah. Kej 19:31-32  Kata kakaknya kepada adiknya: "Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.   Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita."  Bila hal ini terjadi sekarang maka beritanya akan masuk televisi. Secara logika, seharusnya kalau tidak ada laki-laki, maka turunlah ke desa-desa dan mencarinya di sana. Zaman sekarang ada bapak yang meniduri anaknya sedangkan zaman  dulu ada anak yang meniduri bapaknya untuk mendapat keturunan. Sepertinya permasalahan anaknya ini mendapat solusi dan Tuhan menjawab. Namun terbukti di kemudian hari, bangsa Amon dan Moab yang menjadi keturunannya terus menjadi biang kerok dan bermusuhan dengan bangsa Israel.

Membesarkan Anak Bukan Secara Alamiah

                Banyak anak dibesarkan dengan alamiah secara turun temurun. Apa yang dilakukan oleh orang tua dilakukan juga oleh anak-anaknya dan tidak boleh berubah-ubah. Sering orang tua mendidik anak seperti itu. Ulangan pasal 6 memberikan kita pemahaman bahwa mendidik anak atau hidup dalam keluarga yang mau memuliakan Tuhan maka pendidikan, pengaruh dan perkembangan itu tidak boleh terjadi secara alamiah, turun temurun tanpa dipikirkan. Harusnya cara mendidik anak dipikirkan, dikondisikan dan direkayasa sedemikian rupa maunya sepreti apa. Bagi yang mau menikah harus sudah memikirkan rumah tangga yang dibangun tidak boleh berjalan secara alamiah tapi dikondisikan dari awal. Di dalamnya ada perjuangan. Ulangan 6:7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  Mendidik anak tidak boleh dilakukan secara alamiah. Allah mendidik bangsa Israel lewat Nabi Musa yang mengatakan,” Dengarlah, hai orang Israel (Shema Yisrael)!” (Ul 5:1, 6:3-4, 9:1, 20:3, 27:9).   Banyak kali Allah meminta Israel untuk mendengar (shema) suaraNya, “Dengarkan apa yang Aku katakan dan perbincangkan.” (Kalau sedang sibuk, berhentilah dan dengar apa yang Aku sampaikan dan inginkan). Ketika musa berkata, “Dengarlah hai Israel!”  maka segala kesibukan itu harus berhenti. Orang Israel harus menyediakan waktu untuk mendengarkan apa yang Tuhan inginkan.
                Ulangan 6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu Ayat 5 ini  seperti kredo. Segala sesuatu harus mulai dari Tuhan. Bagaimana mungkin membangun rumah tangga tanpa mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan tidak bisa terjadi secara alami (begitu saja). Jangan mentang-mentang keluarga Kristen maka tidak waspada sehingga ada istri yang selingkuh, suami kawin lagi, anaknya nakal karena Tuhannya tidak jelas. Siapa Tuhan itu bagi ayah dan ibu? Siapa yang kita ajarkan kepada anak? Ada yang berprinsip “Yang penting anak ke gereja, yang lainnya tidak tahu.” Ul 6:6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan. Haruslah kamu memperhatikan perintah Tuhan (ayat 6) dan mengajarkannya (ayat 7). Itu bukan sekedar untuk memenuhi otak kita. Ibarat memperhatikan rambu lalu lintas agar tidak terjadi kecelakaan dan kesalahan. Jadi jangan kamu tidak perhatikan melainkan perhatikan saja agar tidak sampai menyimpang. Walau tidak menyimpang dengan berhenti saat lampu merah, bisa saja ditabrak kendaraan dari  belakang karena adanya kesalahan manusia (human error) apalagi kalau tidak ada waktu memperhatikan.

Penutup


                Manusia modern sekarang seringkali menganggap Alkitab sudah kuno dan usang untuk mendidik anak. Hati-hati dengan pandangan ini karena Alkitab mencatat agar mengajarkan berulang-ulang. Jadi ada proses yang panjang dalam mengajar anak. Itu membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Tidak ada mental instan di Alkitab. Membangun rumah tangga tidak bisa instan. Kalau kita semua serba instan, suatu kali kita terpuruk dan kaget karena kita tidak mau bayar harga untuk duduk dengan anak kita, membangunkan anak kita karena harus membaca Alkitab, sekolah atau yang lainnya. Oleh sebab itu , jikalau kita tidak memberi satu perhatian yang khusus maka anakmu = tiruanmu. Kalau engkau berikan yang jelek, ia akan meniru jauh lebih jelek laigi. Bila engkau membuat 1 kejahatan  maka ia bisa membuat 10 kejahatan tanpa perlu diajari yang 9 lainnya. Sebagai orang tua, kita harus sungguh-sungguh dalam mendidik anak. Mengusahakan hidup keluarga tidak boleh alamiah, namun harus dikondisikan sesuai firman Tuhan.

Sunday, May 29, 2016

Kuatkan Lutut yang Goyah



Ev Johan Djuandy

Ibrani 12:3-13
3  Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
4   Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.
5  Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;
6  karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
7  Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
8  Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.
9  Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
10  Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.
11  Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
12  Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah;
13  dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
               
Pendahuluan

                Minggu lalu , saya diundang berkhotbah di sebuah gereja dan secara kebetulan bertemu dengan seorang bapak yang sudah lama tidak berjumpa. Melihat wajahnya terbayang ia sedang memiliki beban berat dan dilanda kesedihan. Saya tahu sudah lebih dari 1 tahun, istrinya menderita penyakit kelainan syaraf yang mengakibatkan kemunduran kesehatannya. Penyakitnya sudah berat dan tidak juga kunjung sembuh, sehingga istrinya tidak mau lagi dikunjungi oleh orang lain dan bapak ini sangat berduka. Akhirnya dalam akhir percakapan kami, ia berpesan ke saya, “Tolong doakan istri saya.” Ia tidak minta didoakan agar istrinya sembuh tapi supaya istrinya tidak tawar hati dan meninggalkan Tuhan. Saya sangat mengerti permintaan bapak ini, dan sejak itu saya mendoakan istrinya tiap hari dalam doa saya.
                Dalam menghadapi penderitaan dalam hidup, orang Kristen punya kekuatan yang mungkin runtuh dan menjadi tawar nati. Penulis kitab Ibrani sangat mengerti kenyataan ini sehingga ia mengatakan,”  Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. (Ibrani 12:3). Ada penderitaan yang besar yang berpotensi menjadi ancaman bagi jemaat untuk menjadi lemah dan putus asa. Maka hal ini normal bagi orang Kristen.  Bahkan orang Kristen yang punya kerohanian yang baik sekalipun punya dalam menghadapi tekanan dan penderitaan yang lama (panjang), saat itu ia menjadi lemah hati dan putus asa.  Apa yang dulu menjadi kekuatan mereka kemudian bisa menjadi kelemahan mereka. Ada yang sudah berdoa lama dan merasa Tuhan tidak menjawabnya, mereka lalu meragukan dan mempertanyakan Tuhan. Maka penulis ibani mengatakan lemah iman dan putus asa berbahaya bagian kerohanian jemaat.

Tekanan , Penganiayaan dan Penderitaan untuk Melatih dan Mendisiplinkan UmatNya.

                Saat pemerintahan Romawi dahulu, jemaat Tuhan mengalami penganiayaan dari orang-orang  Romawi. Di samping itu orang-orang  Yahudi lainnya juga membenci orang Kristen. Saat itu orang-orang Kristen dibenci, dikucilkan  dan dianiaya karena iman kepada Kristus. Begitu beratnya penderitaan mereka sehingga ada potensi bagi untuk menyerahkan iman mereka dan  tidak mau lagi mengikuti Tuhan. Mengapa mengikut Tuhan malah menghadapi penganiayaan? Penulis Ibrani sangat mengerti hal ini dan menasehati jemaat untuk bertekun dan jangan menyerah. Ini bukan nasehat pertama. Pasal 10:32-35 penulis menguatkan jemaat di tengah penderitaan agar terus bertekun.  Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.   Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.  Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.Di pasal 12 ini kembali ia mengulangi nasehat dan memberi semangat

Kondisi jemaat tidak mudah, mereka menghadapi penganiayaan dan penderitaan yang berat dan panjang. Harta mereka dirampas dan mereka tidak bisa melawan dan berbuat apa-apa. Dari surat Ibrani kita belajar, bahwa hidup mengikuti Kristus tidak pernah menjadi hidup yang mudah. Jikalau ada orang Kristen yang berpikir menjalani hidup kekristenan akan lancar, makmur dan tidak ada masalah, itu adalah pikiran keliru. Namun kenyataannya banyak orang yang memilih agama yang bermanfaat bagi dirinya. It works for me. Kalau kita tanyakan agama apa yang paling baik dan paling dimintai? Jawabannya : agama yang tuntutannya paling sedikit dan manfaatnya paling banyak. Itu yang paling banyak dicari. Bahkan di dalam kekristenan banyak pengkhotbah yang mengemas ulang kekristenan dengan menutupi pesan radikal dari Yesus Kristus untuk mengikuti Dia bahkan sampai mati dan menggantikannya dengan pesan tentang kesuksesan dan kemakmuran. Alkitab menjanjikan penderitaan bagi yang mau mengikuti Yesus. Alkitab tidak pernah meutupi penderitanan. Tantangan, penganiayaan, penderitaan bukan seharusnya mengejutkan orang percaya yang mengikuti Yesus Kristus. Menjadi orang Kristen ‘relatif mudah’ tetapi mengakhiri hidup Kristen dengan tetap setia pada Kristus adalah tantangan yang besar. Kesulitan yang melanda iman percaya bukan dari penganiayaan tetapi dari penderitaan seperti penyakit, relasi yang rusak dengan orang lain, dosa atau doa yang tidak dijawab. Itu bisa membuat kita mundur. Ibrani 12 ini menjadi perhatian. Secara khusus , Ibrani 12 melihat ujian yang melanda orang percaya adalah cara Allah mendisiplinkan, melatih dan menggembleng anak-anakNya. Penderitaan bisa menjadi cara Tuhan melatih dan mendisiplinkan orang-orang percaya untuk punya kerohanian yang sejati.  

Ada 1 kata yang menonjol dari bahasa Yunani untuk kata ‘disiplin’ yakni  paideia, yang terus diulang dari ayat 5 dan seterusnya. Sayangnya dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan, didikan , hajaran dan ganjaran. Contoh : "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan” (maksudnya disiplin). Kata displin ini sangat penting dalam perikop yang kita baca hari ini. Disiplin digambarkan seperti seorang ayah yang mendisiplinkan anaknya agar hebat, sukses dan punya kedewasaan kerohanian dan moral, tangguh menghadapi tantangan kehidupan. Ayat 7 Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya
                Saya cukup senang membaca cerita bagaimana pengusaha sukses mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi  orang sukses juga. Bagaimana Sofjan Wanandi (1941), pendiri group Gemala (sekarang Santini Group), melatih anaknya dari muda untuk menjadi anak tangguh. Anaknya tidak diberikan kemudahan dalam bentuk uang yang banyak. Banyak pengusaha sukses yang melatih anak-anaknya untuk bekerja keras dan menghadapi kesulitan. Misalnya anaknya Luki Wanandi yang sekarang menjadi presdir Santini group dilatih dari bawah. Dari karyawan sederhana di pabrik perusahaan papanya sendiri. Kalau salah membuat laporan, ia ditegur atasan. Ia melakukan pemeriksaan fisik (stock taking) melihat berbagai kegiatan sebagai orang yang rendahan. Bahkan dia dikirim ke Singapore untuk berlatih dengan gaji 1.000 S$ (lebih rendah dari gaji supir). Hal yang sama juga terjadi dan berlaku dalam kerohanian.
                Pembaca kitab Ibrani perlu didisplin dalam kerohaniaan. Ayat  5-6  Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya;  karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  Jelas cara pandang pasal 12 ini , kita adalah anak. Jemaat adalah anak dan pertanyaannya, “Di mana ada anak yang tidak didisiplin oleh bapak yang bijak?” Di tengah penderitaan yang berat yang dihadapi jemaat saat itu, mereka harus menghadapi kenyataan penderitaan yang mereka alami bukan karena Allah meninggalkan atau tidak sanggup menolong mereka atau Allah tidak peduli pada mereka. Sebaliknya penderitaan yang mereka alami justru bukti kasih Allah kepada anak-anakNya. Mereka didisiplin untuk bertumbuh dalam kedewasan rohani. Jemaat ini melihat penderitaan ini tanda Allah memperlakukan mereka seperti bapak memperlakukan anak-anaknya yaitu mendisiplinkan anaknya. Ayat 8  Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Kalau kita tidak mau disiplin maka kita menjadi anak-anak gampangan. Maka jemaat harus mengubah cara pandang dan prespektif. Di balik penderitaan , Allah sedang bekerja memproses jemaat untuk menjadi murid Kristus yang tangguh. Penulis Ibrani juga mengingatkan agar jemaat berjuang terus dan melihat Yesus Kristus. Ini yang paling besar dalam hidup : melihat penderitaan dengan memandang Yesus Kristus. Karena Yesus Kristus sebagai Anak  mengalami proses yang sama. Ia alami proses disiplin Anak oleh Bapak. Yesus adalah Anak Allah tetapi dalam statusnya yang istimewa sebagai anak , Yesus Kristus tidak melewati penderitaan itu. Yesus Kristus menjalani penderitaan agar Dia disempurnakan. Kalau kita tidak mengerti ayat-ayat ini mungkin kita akan salah paham.
                Ibrani 5:8-9  Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Ini menimbulkan pertanyaan, “Apa Yesus belum sempurna sehingga harus menjalani proses untuk disempurnakan?” Yesus adalah Allah yang sempurna dan tidak ada kekurangan apapun sebagai manusia. Apa maksud mencapai kesempurnaan? Sebagai penebus manusia yang berdosa, Yesus perlu membuktikan ketaatan dan kerelaanNya yang sempura dalam penderitaan yang berat sampai mati di kayu salib. Kesempurnaan dan kerelaan membuktikan bahwa Dia adalah kurban yang sempurna untuk menebus kita yang mau taat kepadaNya. Yesus menjalani proses penyempurnaanNya. Ini yang Allah lakukan kepada Yesus Kristus. Pada Ibrani 12, kita menemukan fakta yang indah. Allah memperlakukan kita, sebagaimana Dia memperlakukan Yesus sebagai anak tunggalNya sendiri. Allah memperlakukan kita tidak kurang seperti kepada Yesus : Dia mengijinkan Anak untuk melewati penggembelangan sampai mati di kayu salib. Jadi apa yang dilakukan kepada kita sebagai anak juga seperti ia menggembleng Yesus sebagai anak. Kita bersyukur dan bersuka cita. Apa yang kita alami mungkin membuat kita hampir menyerah. Itu yang pernah Allah lakukan kepada Yesus Kristus. Sehingga kita disempurnakan dan dibuat jadi dewasa. Mari kita punya paradigma (cara pandang) yang diubahkan oleh firman Tuhan dalam melewati jalan panjang dan berat. Bukannya mencurigai kasih Allah tetapi sebaiknya kita bersyukur karena ini memperlihatkan kita anak-anakNya dan mengerjakan disiplin pada kita seperti pada Yesus Kristus. Yesus Kristus tidak bebas dari disiplin, mengapa kita harus minta dibebaskan dari proses ini. Kalau Yesus yang sempurna mengalami proses disiplin, jangan pernah berharap, hidup sebagai orang Kristen yang trouble-free (bebas dari masalah).
                Hal yang lebih indah dari disiplin adalah tujuan mengapa Allah mendisiplinkan kita sebagai anak-anakNya bukan tujuan untuk yang singkat (jangka pendek) tetapi tujuan yang sampai ke kekalan. Ayat 10 mengontraskan disiplin yang dikerjakan bapak di dunia dengan disiplin Bapa di surga. Bapak di dunia mendisiplinkan jangka pendek, tetapi Dia mendidik agar kita beroleh bagian di dalam kekudusanNya. Ini adalah tujuan yang indah dan kekal. Kalau bapak di dunia ini yang pengetahuan dan bijaksananya yang sangat terbatas mencoba mendidik anaknya dalam jangka pendek, maka Allah yang bijaksana sempurna, mempersiapkan untuk sesuatu yang kekal, untuk mendapat bagian dalam kekudusan yang kekal. Artinya Allah mengajar kita untuk makin bersandar padaNya dan bukan bersandar pada harta, uang kita dan manusia lain. Kita lebih bersandar kepadaNya untuk mencari kehendak Tuhan lebih dari memaksakan agenda dan keinginan kita. Ketika Yesus menghadapi konsekuensi yang sangat berat, salib di depan mata, Dia berdoa 3 kali, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Di tengah penderitaan yang berat, ada peperangan kehendak dan Dia menundukkan kehendakNya pada Bapa. Penderitaan adalah kesempatan yang baik untuk kita belajar taat, baik untuk menggambil bagian dalam kekudusan Allah. Sensitifitas kita jauh lebih terbentuk di masa yang sulit dibanding masa yang lancar. Kita lebih mengetahui anugerah Tuhan di tengah kehidupan yang sulit dibanding yang mudah. Saat kita ingin menyerah Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Korintus 12:9  Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.       
Seorang jemaat remaja kami yang berusia sekitar 17 tahun menderita kanker ganas yang menyerang pencernaannya sehingga perutnya membusuk dan membengkak penuh cairan. Itu masa yang sulit baginya. Ia baru saja mulai bekerja, setelah lulus SMA dan tidak kuliah karena tidak punya dana. Suatu kali saat kebaktian Jumat Agung di gereja diadakan doa seharian. Ia naik ke mimbar dan berkata ,”Saya seringkali merasa sakit sekali karena penyakit ini.” Memang tubuhnya sudah kurus kering karena terapi dan ia sangag menderita. Di malam hari penyakit itu begitu hebat menderanya.  Dia berseru kepada Tuhan minta tolong tapi rasa sakit itu tidak berkurang. Yang indah ia mengatakan, “Saya tidak kecewa pada Tuhan.” Ia mengutip Ratapan 3:22-23 yang disampaikan dalam nyanyian yang dikenal. Kasih Tuhan tak berkesudahan, Tak habis-habisnya rahmatNya, Slalu baru stiap pagi, Baru stiap pagi, Besar kasih setiaMu Tuhan. Besar kasih setiaMu.  Saya baru hari itu melihat orang yang diserang penderitaan yang hebat tapi bisa mengagungkan Tuhan dan merasa kasih Tuhan baru setiap pagi. Beberapa minggu kemudian keadaannya sangat lemah sehingga dimasukkan ke rumah sakit. Waktu saya besuk, dia sedang menderita yang hebat. Dia mencoba mengubah posisinya berkali-kali. Saat melihat saya datang, ia meminta saya bernyanyi lagu Kasih Tuhan Tak Berkesudahan. Saya menyanyi bersamanya dengan terbata-bata karena emosi yang berkecamuk... Kasih Tuhan.. tak berkesudahan. Malam itu juga Tuhan memanggilnya dan mengumpulkan dia kembali ke rumah Bapak di  surga.
                CS Lewis (1898-1963, sastrawan Inggris, pemikir yang dalam, penulis The Chronicles of Narnia) mengatakan , “God allows us to experience the low points of life in order to teach us lessons that we could learn in no other way” (Allah mengijinkan kita mengalami titik terendah dalam hidup  untuk mengajarkan kita suatu pelajaran yang tidak bisa diajar dengan cara lain). Itu pelajaran yang diambil dari titik terendah dalam hidup kita. Mungkin dalam penderitaan kita belajar anugerah Allah. Kalau kita mengharapkan hidup yang mudah untuk mencapai titik puncak dalam hidup kita, mungkin kita tidak belajar tentang taat  dan berserah kepadaNya,  anugerah Allah di tengah ketidakberdayaan kita dan kehendak Allah. Allah mengijinkan titik terendah dalam hidup kita karena ia ingin kita belajar dengan suatu cara yang tidak mungkin diajarkan melalui cara lain. Ibarat emas murni  24 karat yang dihasilkan dari proses pemurnian. Dalam proses tersebut, logam emas kotor  harus melewati perapian. Emas kotor dipisahkan dari  logam lain dan kotorannya. Emas yang melewati api baru menjadi emas murni yang bernilai. Hidup kita tidak mungkin bernilai kalau tidak pernah dimurnikanan dalam api. Rasul Petrus mengatakan pada dalam 1 Petrus 1:6-7  Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu  —  yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api  —  sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.  Kalau emas saja dimurnikan api, bagaimana kita yang diciptakan dengan tujuan yang kekal tidak dimurnikan oleh api? Saat disiplin  datang tidak mendatangkan sukacita melainkan dukaciata tetapi memnghasilkan buah darinya. Itu sebabnya, saat Rasul Paulus mengatakan, Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; supaya imanmu jangan menjadi lemah dan putus asa.

Penutup

                Saya tidak tahu pergumulan setiap jemaat yang hadir saat ini. Mungkin ada yang kecewa  karena doa tidak dijawab sehingga meragukan kasih dan kesetiaan Allah. Kalau memang penderitaan ini bukan karena dosa , mungkin Dia sedang mendisiplinkan anak-anakNya. Maka sebagai anak, kita seharusnya bersyukur karena kita diingatkan untuk memandang kepada Tuhan Yesus. Kita diingatkan pada Yesus yang menanggung bantahan yang sangat hebat agar kita tidak menjadi lemah dan putus asa. Kalau kita sampai ke titik di mana kita  menjadi lemah  dan putus asa, maka lihatlah penderitaan Yesus sehingga kita terus dikuatkan untuk berjalan bersamaNya. Luruskanlah kakimu sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh