Sunday, July 19, 2015

Dosa Saul


Ev. William

1 Sam 15 : 1-11
1  Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.
2  Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
3  Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."
4  Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda.
5  Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah orang-orang menghadang di lembah.
6  Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek.
7  Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.
8  Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.
9  Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.
10   Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:
11  "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

Pendahuluan

                Apa dosa Saul? Ketidaktaatan. Memang ketaatan merupakan tindakan sulit untuk dilakukan (susahnya taat, lebih mudah tidak taat. Susahnya diatur, lebih mudah mengatur). Setiap kita belajar tidak taat sejak kita kecil. Orang tua mungkin kesal ketika anaknya tidak taat terhadap perintahnya, padahal perintah orang tua pasti baik untuk sang anak (misal : ayo makan biar sehat). Tapi sang anak tidak melihatnya begitu sehingga orang tua mungkin kesal. Demikian juga dengan Tuhan.

Mengapa Allah membenci ketidaktaatan?

1.    Ketidaktaatan akan salah menuntun kita dalam menentukan prioritas.

          Ada seorang remaja menatap dengan pandangan kosong karena sedang bergumul dalam percintaannya. Padahal ia masih sangat muda dan perlu melengkapi diri agar dapat mengejar cita-citanya. Seharusnya ia jangan berfokus ke hal-hal yang lain. Janganlah kesukaan hidupnya sekedar mencari pasangan hidup. Saat SD, SMP dan SMA mungkin kita tidak belajar dengan baik karena suka main game, olah raga sepak bola, basket dll. Prioritas kesukaan akan menuntun kita pada ketidaktaatan.

Saul adalah anak dari Kish dari suku Benyamin (1 Sam 9:1-2). Saul tidak hanya tampan, badannya juga kekar dan besar (lebih tinggi dari orang sebangsanya) dan kemudian diangkat menjadi raja. Hal ini disebabkan umat Israel menginginkan raja yang kelihatan (1 Sam 8:19b-20  harus ada raja atas kami;  maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang."). Kepada nabi Samuel bangsa Israel berkata, "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." (1 Samuel 8:5). Sehingga TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." (1 Samuel 8:22) dan, “Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." (1 Sam 15:2-3)  Ternyata Saul tidak taat (1 Sam 15:9 Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka). Saul memilih kambing, domba dan lembu yang terbaik dan tambun untuk pesta bersama rakyat Israel.
Samuel kemudian menegur Raja Saul ,” Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?" (1 Samuel 15:19) Ketidaktaatan meletakkan salah prioritas kesukaan dari kita.

Ketika kuliah teologia di SAAT, para siswa harus  bangun pk 5 untuk bekerja bakti. Ada yang menyapu ,mengepel, membersihkan WC dll. Usai bekerja bakti, kami harus bersaat teduh.  Suatu ketika ada seorang kakak tingkat berkata, “Wil saya lelah. Saya mau tidur saja. Nanti tolong bangunkan saya”. Hal ini tidak mengherankan karena tadi malam dia bergadang untuk persiapan ujian bahasa Yunani yang merupakan mata pelajaran yang sulit. Saya kemudian membiarkan dia tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba seorang dosen mengetuk pintu dan melihatnya masih tidur. Akhirnya dia pun bangun dan berkata, “Saya sakit.” Padahal dia tidak sakit. Seharusnya momen “saat teduh” dan berdoa pagi menjadi kesukaan orang percaya (Kristen) dan sebaliknya bukan membuat kita bosan dan lelah. Pertanyaannya : apakah kita meletakkan kesukaan kita pada Tuhan atau pada diri kita?

2.  Ketidaktaatan menuntun kita salah dalam meletakkan rasa takut.

1 Sam 15:24 Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Di sini terlihat Raja Saul salah meletakkan rasa takutnya. Seharusnya kalau Saul taat pada Tuhan, maka  rasa takutnya diletakkan pada Tuhan. Saul memilih rampasan terbaik untuk dinikmati bersama-sama bangsa Isarel, padahal harusnya semua ditumpas. Di sini kita melihat bagaimana Raja Saul salah meletakkan rasa takutnya. Jawab Saul pada ayat 15 : "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." Dikatakan “sebab rakyat” berarti Raja Saul  menuduh rakyatnya yang melakukannya. Hal ini seperti yang dialami oleh Hawa. Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kej 3:13) Jadi Hawa menyalahkan ular. Raja Saul dan Hawa merasa takut yang disebabkan akan hukuman sehingga mereka menuduh yang lain. Awalnya Raja Saul takut kepada rakyat dan selanjutnya takut pada penghukumannya sendiri. Ketika tidak taat , maka kita meletakkan sesuatu pada hal yang salah.

B.J. Habibi (79) merupakan presiden ketiga Indonesia (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999) dan dilantik setelah presiden Soeharto mengundurkan diri. Sebagai presiden, dia harus bertanggung jawab pada banyak masalah, salah satunya pemisahan Timor Timur dari NKRI. Saat itu ia mendapat tekanan. Rakyat Timor Timur minta agar Timor Timur dimerdekakan, demikian juga ada dorongan dari PM Australia. Setelah referendum pemisahan dari NKRI tahun 1999, terbentuklah Negara Timor Leste. Hal ini menunjukkan terkadang pemimpin sulit membuat keputusan saat rakyat meminta sesuatu untuk dlakukan karena ada rasa takut membuat rakyat kecewa. Pdt. Hery Guo menasehati saya, “Sebagai pemimpin rohani kamu tidak boleh takut dicerca. Katakan yang benar terhadap tindakan yang salah.” Seorang pemimpin sering berada pada posisi yang sulit. Bangsa Israel berkata, “Sudah, kita makan saja bersama-sama lembu-lembu ini.” Raja Saul merasa tidak enak karena nama baiknya akan hancur bila menolak permintaan rakyatnya itu. Semua orang percaya diminta “takut akan Tuhan”. Di Alkitab, banyak perkataan “Takutlah akan Tuhan.” Pengertian “takut” secara umum berbeda dengan takut akan Tuhan. Secara umum , saat merasa takut maka  kita akan menghindarinya. Sedangkan rasa “Takut akan Tuhan” membuat kita dekat dengan Tuhan. Rasa takut ini disebabkan kita merasa diri kita merupakan ciptaanNya (kita merasa kecil maka kita kagum dan hormat sehingga kita harus menyembah padaNya dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan).

3.   Ketidaktaataan salah menuntun kita dalam meletakkan pujian.

Ayat 12  Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal." Rupanya Raja Saul terburu-buru membuat satu tanda peringatan untuk dirinya sendiri (biasanya untuk Tuhan) sebagai tanda keberhasilannya memimpin bangsa Israel menang terhadap bangsa Amalek. Berarti dalam pandangan Raja Saul, “karena tindakanku, aku memuji diriku dengan membuat monumen untuk diriku sendiri (yang seharusnya untuk Tuhan)”. Akhirnya Tuhan menyesal (1 Sam 15:11). Sedangkan di bagian Alkitab lainnya dikatakan :  Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bil 23:19) Penyesalan di sini berbeda dengan penyesalan dalam kalimat, “Presiden RI menyesal akan kejadian pemboman di Bali”. Penyesalan di sini tidak disebabkan karena presiden telah melakukan pembonan di Bali. Bahasa Ibrani נחם - NÂKHAM secara "konseptual" bermakna ' tidak sesuai dengan yang dikehendaki sehingga memerlukan penghiburan, hal-hal yang tidak memuaskan hati'. Jadi Tuhan nakham berarti Tuhan berkabung karena menjadikan Saul sebagai raja.

Ada seorang anak rohani saya yang rajin pelayanan, setia bergereja dan menjadi aktivis di gereja. Suatu kali dia menelpon dan bertanya dengan nada cemas, “Bang Wil ada waktu?”. Maka saya menyempatkan diri untuk mendatanginya. Saat bertemu, ia sedang menangis dan kemudian berkata,”Saya merasa sangat berdosa. Saya seorang pelayan Tuhan tetapi saya kedapatan berhubungan seks di mobil oleh polisi” Polisi tersebut rupanya menggedor mobil dan mendapatinya sedang berhubungan seks. Kemudian ia berkata, “Saya mau bunuh diri!” Saya berkata,”Jangan bunuh diri tapi bertobatlah!” Seorang pelayan Tuhan (aktivis) bisa jatuh dalam ketidaktaatan dan menyesalinya. Anak tersebut ingin terlepas dari rasa bersalahnya. Selama ini ia sering dipuji. Ia melayani dengan dan baik menyanyi dengan bagus. Polisi yang memergokinya berasal dari 1 gereja dan sewaktu menangkapnya sang polisi pura-pura tidak kenal. Saya pun mendatangi polisi itu untuk mencari solusi untuknya. Tindakan aktivis tesebut membuat kecewa. Penyebabnya ada pujian yang dibangun sejak lama. Pujian itu membuat kita “berdiri” dan kita lupa bahwa kita adalah manusia berdosa!

Salah satu contoh lainnya adalah tindakan hukuman mati di Perancis yang dialami oleh Ratu Perancis Marie Antoinette (1755-1793). Ratu ini sangat ingin dipuja sehingga membelanjakan uang untuk menjaga penampilannya, padahal Perancis saat itu sedang mengalami krisis ekonomi. Waktu mau dihukum mati dengan guillotine dia berkata, “Kasihanilah aku, karena sebenarnya aku tidak mau melakukan ini.” Jangan sampai waktu hukuman datang baru kita berkata, “Tuhan kasihanilah saya.” Harusnya kita taat karena kita manusia berdosa. Sebagai pekerja yang luar biasa, kita mungkin mendapat banyak penghasilan sehingga kita lupa bahwa pemberi berkat adalah Tuhan dan kita lupa berlaku setia dan taat dalam kehidupan kita. Sebagai siswa seharusnya kita fokus untuk belajar dan  menata hari depan. Jangan menyalahkan Tuhan kalau kita tidak menyelesaikan studi. Jangan sampai kita salah meletakkan prioritas hidup kita. Mari kita meletakkan pujian kita hanya pada Tuhan, karena dialah sumber berkat dalam kehiduapn kita. Amin.


Sunday, July 12, 2015

Dosa Adam

Pdt. Hery Kwok

Kejadian 2:15-17, 3:1-5
15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
16  Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
1   Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4  Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5  tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Pendahuluan

                Kita sering mendengar istilah  dosa. Ada yang memiliki pemahaman tentang dosa yang sangat  sederhana. Ada yang mengatakan bahwa dosa itu sangat manusiawi sehingga kalau manusia berbuat dosa maka Tuhan pasti akan mengampuni. Pemahaman tentang dosa yang sederhana dan dangkal memberikan gambaran bagaimana kehidupan orang tersebut. Bagaimana cara memandang dosa demikianlah orang itu akan hidup.

Dosa Adam

                Kitab Kejadian merupakan kitab yang paling banyak dibaca karena menjadi pendahuluan (kitab awal) di Alkitab dan seringkali diceritakan guru-guru Sekolah Minggu kepada anak-anak  Sekolah Minggu. Jadi anak-anak Sekolah Minggu sangat mengenal cerita tentang kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Apakah dosa Adam?

1.    Menyalahgunakan Kebebasan yang Diberikan Allah

          Kej 2:15-17 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  Alkitab memberi penjelasan bahwa Allah memberi perintah kepada Adam supaya Adam boleh memakan buah di Taman Eden dengan bebas, hanya buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat yang tidak boleh. Allah memberi kebebasan kepada Adam (manusia). Mengapa manusia diberikan kebebasan itu, karena justru kebebasanlah yang menyebabkan manusia jatuh dalam dosa? Mengapa Allah yang maha tahu dan bijaksana memberi manusia kebebasan karena kalau diberi kebebasan maka terjadilah kejatuhan manusia dalam dosa? Pertanyaan ini sangat menarik, karena Alkitab memberitahukan bahwa manusia bebas untuk makan semua buah kecuali satu dan hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan agar Adam belajar mentaati Allah! Allah sungguh amat baik dalam menciptakan manusia. Saat Allah menciptakan manusia, Dia menempatkan ciptaanNya ini sangat tinggi dibandingkan ciptaan yang lain. Sebagai mahkota ciptaan Dia menaruh kebebasan (hak istimewa)  pada manusia. Allah memberi kebebasan karena Allah menaruh penghormatan terbesar dan hak isimewa kepada manusia (manusia bukan robot). Itu sebabnya hak istimewa yang diberikan AlLAH kepada manusia merupakan hal yang sangat penting. Karena kebebasan itu merupakan fondasi (mencerminkan) nilai moral manusia.
          Contoh praktis : waktu saya dilarang minum narkoba dan tahu ini tidak baik lalu tidak mengambilnya karena saya tahu, mengerti dan rela tidak memakainya itu lahir dari kebebasan saya. Kalau kemudian saya meminumnya berarti nilai moral saya sangat buruk sekali. Justru pondasi dan nilai seseorang ada di dalam kebebasan yang Allah berikan. Nilai itu ada pada kerelaan dalam melakukan apa yang Tuhan perintahkan (Allah tidak memaksakannya). Seharusnya dari Adam lahir ketaatan kepada Allah. Ada seorang laki yang pergi jauh untuk merantau dan mencari uang sehingga meninggalkan keluarga. Saat berada jauh dari keluarga, ia bisa pergi ke seorang pelacur atau tidak. Kebebasan ini ada di dalam dirinya dan itu  untuk melihat pondasi dari nilai moralnya. Waktu ia tidak melacur berarti laki-laki ini adalah orang yang setia. Yusuf ditawarkan  oleh istri Potifar dosa berupa kenikmatan seksual. Yusuf tahu dan tidak melakukannya sehingga kita menemukan nilai moralnya yang luar biasa! Saat menjadi guru, saya memberi test mendadak lalu para siswa saya tinggal untuk mengerjakannya.  Sebelumnya saya berpesan, “Saya percaya kamu tidak akan mencontek dan saya berharap kalian menghargai kepercayaan saya.” Beberapa guru yang mengetahui hal ini berkata, “Kamu guru yang nekad dan tidak karuan. Pastilah anak-anak akan mencontek!” Saya berkata,”Tidak apa –apa. Saya harus memberi pemahaman yang jelas tentang kebebasan. Pada waktu ada yang mencontek , maka kebebasan itu akan keluar dan menjadi pondasi  untuk melihat nilai moral.”
          Dosa Adam ialah menyalahgunakan kebebasan yang diberikan Allah. Padahal kebebasan itu merupakan penghormatqn terbesar dan hak istimewa yang ditaruh Allah pada manusia. Namun manusia gagal melihat kebebasan itu. Ada 2 pilihan dalam menyikapi kebebasan. Adam bebas untuk mentaati Allah atau bebas untuk hidup berpusatkan pada diri sendiri. Penyalahgunaan kebebasan inilah yang terlihat pada Kejadian 3 saat manusia ditawarkan iblis bahwa manusia akan sama seperti Allah sehingga manusia ingin menggantikan Allah dalam hidup mereka. Kebebasan yang disalahgunakan ini  menjadi dosa dalam dunia pada manusia yang pertama.
          Alkitab memberikan penjelasan tentang kegagalan manusia pertama yang tidak,menjalankan kebebasan dengan sebaik-baiknya. Adam yang pertama gagal melakukan kebebasannya untuk taat pada Allah. Adam yang kedua yaitu Kristus melakukan kebebasan dengan berpusat pada Allah. Dengan kebebasan yang diberikan Allah seharusnya menjadi kehormatan bagi manusia karena Dia memberikan hak istimewa pada ciptaanNya. Tetapi bagaimana kita menggunakan kebebasannya menjadi hal lain. Apakah ditujukan (dipusatkan) pada kepentingan Kristus? Kalau berpusat pada diri saya, maka akan berdasarkan pada apa yang saya mau, pilih dan kehendaki. Ini sesuatu yang mengerikan. Apa yang terjadi pada Adam merupakan kegagalan nenek moyang kita seharusnya menjadi perhatian karena selanjutnya diteruskan oleh keturunannya yaitu kita.
          Waktu seorang anak perempuan jatuh dalam dosa seks dengan pacarnya lalu ia menyadari kegagalan nya karena tidak menjaga kesucian hidupnya. Waktu anak gadis diberi kebebasan untuk kepentingan , kepuasan dan kenikmatan diri sendiri maka ia menjual dan memberikan tubuhnya pada pacarnya. Karena kebebasan itu dilakukan untuk kenikmatan. Maka kita harus memahami dosa yang sedemikian berbahaya karena kita tidak mau melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang baik dan berguna. Kita selalu melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang mengekang (membatasi) saya dan  membuat kita tidak bisa menikmati hidup sehingga banyak orang muda jatuh dalam dosa. Mari kita meningkatkan pemahaman kita untuk tidak menyalahgunakan kebebasan yang Allah berikan kepada kita sebagaimana diberikan kepada Adam.

2. Menolak Kehendak Allah

          Pada waktu manusia pertama mengambil dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat (dosa dalam diri nenek moyang kita Adam) berarti Adam menolak kehendak Allah yang kekal, yang ada dalam seluruh ciptaanNya dan yang menginginkan keselamatan dan kebahagian kekal untuk manusia. Cara iblis menaruh curiga dalam diri manusia licik sekali. Ia membuat jebakan dalam pertanyaan"Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"(Kej 3:1b). Ia memberikan lemparan / pancingan dengan memutarbalikkan perkataan Allah, “semuanya tidak boleh dimakan bukan.?” Waktu si jahat memberikan pertanyaan umpan dan diharapkan diresponsi oleh manusia. Ternyata manusia memberi respon. "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (Kej 3:2-3). Lalu iblis memberi pancingan kedua, Sekali-kali kamu tidak akan mati (Kej 3:4b), “Itu kecurigaan Allah saja! Dia tidak mau kamu sejajar dengan Allah.” Iblis menaruh bibit kecurigaan manusia kepada Allah dan bibit ini menjadi sangat subur saat manusia tidak takut dan menolak kehendak Allah yang kekal. Ada seorang hamba Tuhan membuat pernyataan, “Kala saya melayani di suatu gereja lalu jemaat mulai curiga maka saya tidak mau bicara. Kalau sudah curiga, maka seluruh pikiran kita yang baik tidak akan ditangkap dan diterima.” Dan ini merupakan penolakan jelas terhadap kehendak Allah. Berbeda antara hamba Tuhan yang menggembalakan jemaat dengan penginjil yang datang sebentar lalu pindah lagi terletak dalam respon jemaat. Pada waktu penginjil datang mengegor dosa jemaat hingga menangis, lalu penginjil itu tidak pusing setelah ia tidak ada lagi. Tapi waktu seorang hamba Tuhan yang merawat dan memberikan nasehat rohani lalu dicurigai maka jemaat tidak pernah menangkap pesannya dalam kehidupan rohani. Kecurigaan ini adalah bentuk penolakan terhadap apa yang baik. Perintah Allah adalah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, namun iblis menaruhkan kecurigaan pada kehendak Allah yakni supaya manusia menikmati kebahagiaan bersama Allah (bagaimana manusia menyembah pada Allah yang layak disembah). Waktu Tuhan Yesus bergumul di Taman Getsemani, pergumulanNya luar biasa berat. Yesus Kristus tidak takut secara fisik akan disalib , lambung ditusuk, tangan diikat, dimahkotai duri dan berdarah. Dia tidak takut. Kegentaran Dia adalah bagaimana Dia harus melakukan kehendak Allah untuk menebus manusia berdosa. Maka Yesus Kristus melakukannya dengan baik, karena Dia tahu kehendak BapaNya itu yang baik supaya manusia yang diciptakan dikembalikan dalam kondisi seperti Allah.
          Seberapa jauh kita menolak kehendak Allah? Banyak sekali! Manusia sering melihat apa yang diajarkan Kitab Suci selalu mencoba memplintir dan memberi toleransi terhadap apa yang Tuhan ajarkan. Hidupnya tidak berdasarkan firman Allah. “Tuhan bisinis ini harus ada di tangan saya, saya yang menentukan caranya.” Orang tua saya lumpuh sehingga ia bekerja serabutan. “Yang penting tidak mencuri” begitu prinsipnya. Lalu ia meribakan uang. Jadi saya lahir dalam keluarga yang lumpuh dan bunga uang. Saya berkata,”Pa jangan meribakan uang. Itu tidak boleh, karena Dia mencukupkan kita dan memelihara kita.” Papa saya menjawab, “Kamu sok tahu! Saya tidak mencuri. Kamu hidup dan sekolah saya yang biayai. Apa yang Allah kehendaki tidak benar.” Saya tidak bisa bicara, lalu Allah mengijinkan ia sakit sehingga uangnya tidak bisa lagi digunakan untuk biaya cuci darah. Kehendak Allah itu ada di dalam Kitab Suci. Kehendak Allah itulah yang harus kita lakukan. Kalau kehendak Allah sudah jelas, kita jangan menolak. Seringkali kali kita tidak melakukannya karena kehendakNya tidak sama dengan kehendak kita. Contoh : waktu mencari jodoh carilah sesuai kehendak Allah. Jangan mengandalkan matamu yang hanya melihat fisik semata karena Dia memberikan yang baik.
          Tujuan Allah menyatukan kita. Dua karakter dan budaya yang berbeda, segalanya berbeda, supaya dalam keberbedaan itu mempunyai kebahagiaan. Itu kehendak Allah dalam pemahaman tentang Kristus. Agama Kristen dan Katolik berbeda. Waktu kehendak Allah dinyatakan, orang muda sering menolak dan tidak mengaplikasikannya dalam hidup dan bisnis. Kita kagum dengan gereja yang membangun tanpa menyogok supaya ijin bangunan lolos walau dengan mengikuti prosedur maka memakan waktu terlalu lama. Kita berpikir apa yang kita mau. Ini membuat kita menolak kehendak Allah yang sedemikian baik. Suatu kali saya ditilang di Jawa Tengah. Saya kalau mengemudi kendaraan di luar kota agak kencang karena bila lambat bisa ditabrak truk dan bus. Di Muntilan, Jawa Tengah saya diberhentikan polisi yang mengatakan saya menyerobot lampu merah. Berdebat dengan polisi saya tidak menang dan  saya akan ditilang. Saya bertanya,”Apakah bisa diberi pengampunan untuk tidak ditilang?” Sang polisi menjawab,”Ada caranya. Masukkan uang ke dalam amplop!” Saya keberatan. “Kamu mau ditilang? SIM kamu SIM  Jakarta tapi kamu harus ikut persidangan di sini!” sang polisi menambahkan.  Saya berkata, “Saya bisa kirim uang ke adik ipar karena itu tidak sesuai dengan hati saya. Saya mengajar jemaat untuk tidak menyogok masa saya menyogok?” Namun akhirnya saya ditilang dan saya putuskan untuk buat lagi di Jakarta. Waktu itu saya mengurusnya di SAMSAT Daan Mogot. Di sini saya ditanya, “Mengapa buat SIM lagi?” Saya menjawab apa adanya bahwa SIM saya ditilang. Sang polisi bertanya,”Kamu mau ditolong tidak? Kamu kasih duit nanti saya kasih kode!” Saya tidak mau sehingga sang polisi berkata,”Ya sudah!”. Saya lalu mengikuti tes teori. Peserta lainnya ada yang tukang bajaj dan supir mikrolet yang tidak mengetahui arti rambu lalu lintas!. Waktu sedang menunggu ternyata tukang bajaj lulus, saya pikir saya juga akan lulus. Saya terus menunggu. Akhirnya saya bertanya, “Mengapa saya belum dapat hasilnya?” Ternyata saya dikatakan tidak lulus!  Saya pun protes, “Tukang bajaj saja lulus padahal ia bertanya kepada saya. Kenapa saya tidak?” Sempat terpikir “Mengapa saya tidak kasih uang saja. Kan sederhana? Tapi saya memutuskan :  TIDAK!” Lalu saya maju lagi dan bertanya di bagian computer,”Saya guru. Guru kalau ditanya siswa tentang nilai maka akan saya beritahu. Sekarang saya ingin bertanya mengapa saya gagal?” Seumur hidup, mungkin belum pernah ada yang bertanya seperti itu kepadanya. Setelah melihat di computer, akhirnya ia berkata, “Sdr. Heri kamu diluluskan!” Waktu saya bertahan untuk tidak menyogok itu dilemma. Waktu pikirkan apa yang Allah ajarkan tentang kehendak Allah, kita akan belajar.
          Kehendak Allah ditolak oleh Adam dan Hawa dan itu yang dilakukan oleh manusia. Mari belajar supaya kita jangan mencurigai dan menolaknya. Allah sumber hidup dan terang dan di dalam Dia ada terang dan kehidupan. Kalau tidak percaya kehendak Dia dan tidak melakukannya kita hidup dalam kegelapan dan kematian. Sehingga dosa manusia adalah menolak kehendak Allah.

3. Manusia ingin Menggantikan Allah

          Manusia ingin menggantikan Allah sebagai pencipta dalam hidup manusia. Pada ayat 5 dikatakan tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."  Di sini manusia akan menjadi penentu mana yang baik dan mana yang jahat (bukan Allah yang menentukan). Pada zaman hakim-hakim, dosa terjadi karena manusia melakukan sesuatu yang menurut hatinya benar. Tolok ukurnya adalah diri sendiri. Manusia menjadi penentu dan bukan Allah. Jadi yang mengatakan baik atau tidak bukanlah Allah., Kalau saya katakan baik maka akan saya lakukan dan menikmatinya. Ini yang sangat berbahaya, karena kita terbatas dalam hikmat bijaksana dan segala hal. Dalam keterbatasan kita, kita menentukan sesuai kehendak kita, menjadi hakim dalam diri kita, maka kita menjadi Tuhan atas diri kita, ingin sama seperti Allah. Waktu Lucifer jatuh menjadi setan, ia tidak pernah mau untuk menjadikan Allah sebagai pusat untuk menerima penghormatan dan pusat segala-galanya dan ia ingin sama seperti Allah. Ia ingin sejajar dan duduk bersama dengan Allah dan menjadi penentu dan penguasa. Dosa ini  mengerikan!  Allah bukan lagi Allah. Waktu keunggulan manusia dalam otak diagungkan, manusia menentukan diri sebagai Allah. Itu dibuktikan dalam sejarah gereja, mereka menjadi allah dalam hidupnya bukan sebagai mahluk yang memberikan penyembahan kepada Allah.

Penutup


                Waktu kita belajar tentang dosa mari kita belajar tentang Allah dengan baik. Filipi 3:10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,. Kalau mengenal Allah maka  kita akan mengenal kehendak , rencana dan kebaikanNya dalam hidup kita. Mari kita mengenalNya supaya Dia menjadi Tuhan dan Allah dalam hidup, bisnis, dan masa depan kita.          

Dosa Akhan


Pdt. Albert Sutanto

Yosua 7:1-6,12,21
1   Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.
2  Yosua menyuruh orang dari Yerikho ke Ai, yang letaknya dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dan berkata kepada mereka, demikian: "Pergilah ke sana dan intailah negeri itu." Maka pergilah orang-orang itu ke sana dan mengintai kota Ai.
3  Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."
4  Maka berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana; tetapi mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai.
5  Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat.
6   Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.
12 Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.
21 aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

Pendahuluan

                Banyak orang yang membuat definisi  tentang dosa. Ada orang yang berkata bahwa dosa adalah membunuh atau dosa adalah mencuri atau dosa adalah berdusta dan lain-lain. Di dalam perikop Yosua 7:1-6 dosa adalah berubah setia kepada Tuhan sehingga manusia terjerumus dalam dosa mencuri, perzinahan, pembunuhan dan lain sebagainya. Yosua 7:1b Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu. Jadi karena orang Israel berubah setia kepada Allah maka mereka mengambil barang yang dikhususkan itu dan melakukan dosa. Ini adalah dosa yang dilakukan orang Israel sewaktu masuk ke tanah Kanaan. Waktu itu mereka melewati sungai Yordan dan mereka diperintahkan untuk menghancurkan kota Yerikho dengan catatan bahwa “jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya.  Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN." (Yosua 6:18-19). Tapi ada Akhan yang mengambil barang-barang yang dikhususkan itu karena ia berubah setia. Bila orang berubah setia kepada Tuhan, maka ia tidak taat dan peduli lagi kepada firman Tuhan dan ia pun melanggar perintah Allah. Setelah itu murka Tuhan turun atas Akhan, keluarganya dan seluruh bangsa Israel. Bila ada yang bertanya , “Apakah adil satu orang berbuat salah maka satu bangsa mendapat hukuman?” Jawabannya adil! Karena Tuhan tidak pernah tidak adil (Tuhan sudah mengingatkannya sebelumnya). Hal serupa juga terjadi saat Tuhan berkata kepada Adam, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej 2:16-17). Mengapa Tuhan menaruh buah tersebut di taman Eden? Tidak semua rencana Allah kita mengerti. Tuhan punya hak untuk menaruhnya di sana. Namun satu hal yang harus dipercaya bahwa Allah tidak pernah merancangkan sesuatu yang menyusahkan anak-anakNya (Yeremia 29:11  Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan). Cara yang digunakanNya adalah urusan Allah. Pada waktu kita menghadapi sesuatu (masalah), kita jangan suka bertanya, “Mengapa?” Ubahlah pertanyaan itu dengan bertanya “Apa maksudnya?”

                Karena menderita sakit stroke yang sangat berat beberapa tahun lalu, cara berjalan saya masih tertatih sehingga di tempat yang belum saya kenal, istri saya menuntun saya untuk naik tangga. Saya tidak bertanya kepada Tuhan “Mengapa?” tetapi  saya bertanya “Apa maksudnya?” Setelah stroke, saya masih keluar kota dan keluar pulau untuk memimpin KKR di atas kursi roda. Saya bertanya, “Apa maksud Tuhan?” Saat terkena stroke, 4 pembuluh darah pecah dan sudah tidak bisa lagi ditangani oleh dokter. Dokter tidak jadi mengoperasi karena darah sudah penuh di kepala, namun puji Tuhan kepala saya masih “original” sampai saat ini. Saya tidak pernah masuk ruang ICU karena dokter berkata bahwa “tidak ada harapan”. Jadi saya hanya dimasukan ke  ruang isolasi saja. Saya tetap bersyukur dan tidak pernah berkecil hati. Setelah pulang, setiap hari saya hanya minta tolong orang-orang di rumah untuk bangkit dari posisi berbaring di tempat tidur dan kemudian berdiri di mimbar kecil yang ditaruh di samping tempat tidur. Di situ saya memandang kamar saya dan tersenyum. Saya tahu Tuhan punya rencana yang sangat indah, sehingga kita tidak perlu bertanya “Apakah adil?” Akhan berbuat dosa dan semua orang Israel dihukum itu menunjukkan  Tuhan punya rencana bagi Israel. Sikap kita harus bagaimana? Taat sepenuhnya! Kalau kita kembali ke peristiwa pada dosa yang dilakukan Akhan, orang seringkali mengelompokkan dosa Akhan sebagai dosa tamak.

                Tamak (serakah, rakus) mencakup banyak hal dan ketamakan itu sangat berbahaya. Orang yang serakah kemudian menjadi kikir. Orang yang mengutamakan uang, hidupnya hanya mengejar keuntungan. Kalau disimpulkan tamak berarti menginginkan sesuatu yang melebihi apa yang menjadi kebutuhan (keinginan melebihi kebutuhan). Di dalam hidup, kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau keinginan dijadikan kebutuhan maka kita akan terjerumus masuk ke dalam dosa tamak. Maka kalau mau beli sesuatu  pikirkanlah terlebih dahulu : ini kebutuhan atau keinginan? Kalau itu keinginan maka jangan paksakan diri (katakan tidak!). Bila tidak, setelah dibeli lalu mau taruh di mana di rumah? Paling diterlantarkan saja.

Arti Ketamakan

Bicara tentang ketamakan kita perlu tahu dahulu bahwa :

1.     Ketamakan itu sesuatu kebodohan. Lukas 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Hidup kita tidak tergantung pada kekayaan. Jadi mengapa harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri? Maka ketamakan itu kebodohan. Bukan berarti saya tidak setuju orang mencari uang yang banyak. Saya berdoa agar Tuhan memberkati kalau perlu berlimpah-limpah dengan cara yang benar dan kemudian memakainya dengan benar untuk kemuliaan Tuhan. Kalau sudah seperti itu, harta sebanyak apapun tidak membuat orang menjadi tergantung pada kekayaannya.

2.     Ketamakan berarti orang tidak bersandar lagi pada Tuhan. Janji Tuhan banyak. Contoh : "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yes 41:10), “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan  engkau.” (Yosua 1:5) , "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b),   “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:25-26)  dll. Ini berarti kalau kita tidak yakin dengan firman Tuhan, maka kita akan bertindak sebaliknya. Itu akan masuk ke dalam kelompok ketamakan, tidak bersandar pada Tuhan dan hidup kita bergantung pada apa yang kita punya. Kita butuh semua dan Tuhan menyuruh kita mencarinya untuk bisa mendukung perjalanan hidup kita dan apa yang bisa kita perbuat di tengah di dunia bagi sesame, kita  dan Tuhan. Tetapi jangan punya konsep kekayaan itulah yang membuat kita bisa hidup di tengah dunia.

3.     Ketamakan itu sama dengan dosa penyembahan berhala. Tuhan Yesus berkata,  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Lukas 16:13) Kalau kita menjadikan uang segala-galanya maka kita akan mencari uang terlebih dahulu daripada mencari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri kita sudah ada ketamakan. Saya punya  3 orang anak dan 6 orang cucu. Sejak kecil saya sudah menanamkan suatu kebenaran bahwa di dalam hidup ini ada 2 harga. Harga supermarket dan harga kaki lima. Harga supermarket tidak bisa ditawar. Begitu masuk, harga sudah tertera. Maka saya katakan ke  anak-anak dan jemaat bahwa  dalam hidup ini ada 2 harga salah satunya harga tetap (harus dilakukan) yaitu setiap hari Minggu harus berbakti dan sebagai orang Kristen kita harus melayani Tuhan. Ini harga mati. Saya bersyukur, walau sesibuk apapun mereka tidak melupakan hal ini. Senin sampai Jumat boleh banting-tulang bekerja, hari Sabtu untuk keluarga dan hari Minggu untuk Tuhan. Apa yang saya inginkan mereka taati. Walau 5 hari kita bekerja, jangan sampai uang dan harta menjadi tuan dalam hidup kita. Carilah uang dengan cara yang halal sehingga Tuhan akan memberkati dan memakai semuanya itu untuk keluarga, sesama dan Tuhan. Saya takut sebagai pendeta salah berbicara bawah kalau Tuhan memberkati engkau pakailah semua untuk Tuhan karena hal itu tidak mungkin.  Kalau engkau kasih semua ke gereja maka engkau akan menyusahkan gereja karena engkau tidak punya apa-apa lagi sehingga bagian diakonia gereja harus mengurus kamu. Tuhan tahu kebutuhan kita, Kita bisa berkarya untuk sesama dan berbuat yang terbaik untukNya.

4.     Ketamakan membuat manusia menyimpang dari iman. Saya mencoba melihat janji Allah yang “Ya dan amin”. Pada tahun 1976, saya dan istri (saat itu masih calon istri) diwisuda di SAAT. Setelah berunding dengan calon istri, di hari wisuda itu juga saya berkata ke papa saya, “Papi mulai hari ini jangan dukung saya.” Padahal sebagai seorang kontraktor dan  pengusaha hotel, ia mampu mendukung saya. Saya belajar firman Tuhan dan saya sadar tidak boleh bersandar pada apapun tetapi harus beriman sungguh-sungguh. Papi saya heran sehingga bertanya,”Kamu tidak salah?” Saya berkata,”Tidak salah Pa!”. Lalu setelah itu selama 40 tahun saya hidup dengan beriman. Saya selalu melihat janji Tuhan digenapi. Di Gereja Kehidupan Rohan (jalan Gedong no. 5) setelah melayani 3 bulan, majelis bertanya, “Apakah Pa Albert sudah punya calon istri? Saya jawab, “Sudah!” Calon istri saya bisa berbahasa Mandarin karena dari Tiongkok dan bisa Bahasa Khe. Lalu ditanya, “Bagaimana kalau Pa Albert menikah saja?” Saya pikir baru masuk ladang 3 bulan dan uang belum cukup, tetapi majelis sudah mendorong. Saya kira nanti ada dukungan, padahal tidak! Kita sama-sama baru keluar melayani selama 3 bulan dan kita berjalan dengan imam. Pimpinan Tuhan luar biasa. Uang kami hanya bisa membeli tempat tidur dan meja rias yang sampai sekarang masih ada . Tempat tidur beli di pasar Senin (pinggir jalan) dan terbuat dari kayu jati walau tipis. Ada jemaat yang ingin menghias kamar tapi tidak bisa karena tidak ada kasur. Sampai hari pernikahan tidak ada kasur. Saya hanya berkata, “Baik untuk tulang belakang”. Keluarga saya datang dan mereka marah, “Kamu membuat malu keluarga!” Papa saya seorang kontraktor dan perhotelan, masa anaknya gara-gara tulang belakang tidur tanpa kasur?. Saya hanya menjawab, “Papi, saya sudah katakan bahwa saya mau berjalan dengan iman.” Terbukti bahwa akhirnya semua indah pada waktunya. Saya ingin melayani seluruh Indonesia dari desa dan kota besar, saya ingin melayani di 5 benua namun saya juga ingin anak-anak saya hidup layak. Kalau kita berani melangkah dengan iman, bukan berarti tanpa melibatkan pemikiran kita. Kita sebagai manusia harus berpikir dan berjuang sebagai manusia. Tetapi percayalah, orang yang bersandar padaNya, Tuhan tidak akan permalukan!

Proses Terjadinya Dosa Ketamakan

Kita perlu belajar dari proses yang dialami oleh Akhan sampai berubah setia dan mengambil barang-barang yang dikhususkan karena hal itu bisa terjadi di dalam diri kita juga. Yosua 7:21 aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

1.     Dosa Akhan dimulai dengan melihat. Dalam hidup orang mulai dengan memperhatian dan melihat. Barang-barang jualan diatur sedemikian rupa sehingga menarik orang untuk membelinya.
2.     Akhan berkata, “Aku melihat, setelah itu aku mengingininya.” Ini proses. Artinya dari mata turun ke hati. Lihat dahulu setelah itu muncul keinginan mengambil. Artinya ia melihat  jubah indah , emas dan perak sehingga hatinya tergerak.
3.     Lalu melakukannya (Akhan mengambil).
4.     Setelah itu Akhan tahu bahwa ia bersalah namun ia bersembunyi. Padahal mungkinkah manusia menyembunyikannya di hadapan Tuhan? Ada satu lagu Sekolah Minggu yang berjudul “Mata Tuhan Melihat:. Liriknya berbunyi Mata Tuhan melihat apa yang engkau perbuat. Baik yang baik maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat, Tuhan melihat.

Cucu saya kalau bersalah akan menyembunyikan mukanya tapi bagian belakangnya tetap kelihatan oleh saya. Demikian pula saat kita berdosa. Kita lupa bahwa Tuhan tahu dosa yang kita lakukan. Maka biarlah ayat 21 memberikan peringatan kepada kita, bahwa dosa dilakukan melalui proses : melihat, timbul keinginan, bertindak lalu bersembunyi.


Kita mungkin belum melakukan dosa Akhan, tetapi waspadalah! Kalau kita pernah melakukan dosa , sadarilah dan jangan terulang lagi. Di Lubang Buaya ada patung jenderal-jenderal yang dibunuh oleh PKI. Di tengahnya ada patung Jendral Ahmad Yani yang mengangkat tangannya dan  di bawahnya tertulis “Jangan terulang lagi!” 

Monday, June 29, 2015

Gereja: Kepanjangan Tangan Tuhan


Pdt. Suryawan Edi

Kis 2:41-47
41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42   Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43  Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45  dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46  Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47  sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Pendahuluan

                Ketika berbicara tentang gereja, kita seringkali  terjebak dengan menganggap gereja sekedar gedung geraja saja. Sekitar seminggu lalu , saya baru kembali dari Israel dan di sana saya sempat melihat banyak gereja yang bagus-bagus. Pemandu kami mengatakan,”Ini dulu tempat kelahiran Yesus Kristus di Betlehem (Luk 2 : 1 – 6)  dan kemudian didirikan  Gereja Nativity”, “Ini dulu synagoge rumah Imam Agung Kayafas, tempat dimana Yesus diadili dan dipenjara dan kemudian didirikan Gereja St.Peter Gallicantu (Mat 26 : 57 – 67)”, “Ini dulu tempat di mana Yesus terangkat ke surga dan kemudian didirikan Chapel of Ascension ( Kis 1 : 6 – 11)”, “Ini dulu tempat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami (Luk 11 : 2 – 4) dan kemudian didirikan Pater Noster Church”; “Ini dulu tempat Yesus dimakamkan (Yoh 19 : 16 – 27) dan kemudian didirikan Gereja Makam Kudus”, “Ini Gereja Warta Suka Cita atau Church of Announciation ( Luk 1 : 26-38) yang dulunya tempat Maria mendapat kabar suka cita tentang kelahiran Yesus Kristus” , “Ini Gereja Kana ( Yoh 2 : 1 – 11 ) dulunya merupakan  tempat Yesus mengadakan mukjijat pertama kali dengan mengubah air menjadi anggur” dan lain-lain. Hampir semua tempat zaman Yesus Kristus yang ada di Alkitab dijadikan gereja. Di sana begitu banyak gereja tetapi orang Israel yang memandu tidak mau percaya Yesus. Mengapa? Kalau semua gereja itu hilang atau hancur apakah orang Israel di sana sedih? Mungkin sedih karena tidak ada lagi pemasukan uang karena biasanya seluruh orang di dunia datang untuk melihat tempat itu dengan menghabiskan uang mereka di sana.  Jadi seharusnya para pemandu dan orang Israel harus percaya Yesus kalau ditinjau dari untung yang mereka terima.

                Di Indonesia juga terdapat banyak gereja ,baik yang ada di ruko atau di gedung yang begitu besar. Suatu kali saya berdiri di depan gereja yang saya gembalakan dan bertanya, “Kalau suatu kali gereja ini tiba-tiba hilang, apakah penduduk di sekitar sini akan menangis dengan sedih  atau tidak?” Dengan kata lain apakah ada pengaruh bagi penduduk di sana bila gereja hilang? Seharusnya gereja menjadi kepanjangan tangan Tuhan. Jadi yang penting bukan gedung gereja yang megah atau gereja yang isinya ribuan jemaat. Tapi yang terpenting dengan hadirnya gereja di dunia, apakah lingkungan di sekitarnya melihat bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan mengasihi mereka juga.

Beberapa prinsip Alkitab agar gereja menjadi perpanjangan tangan Tuhan

1.     Dekat dengan Tuhan (rindu beribadah dan bersekutu)

          Kis 2:41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa Rasul Petrus berkhotbah dan orang-orang yang mendengarnya tersentuh hatinya sehingga ada 3.000 orang yang dibaptis. Saat ini seorang pendeta yang membaptis 30 orang saja badannya sudah pegal. Saat itu murid Tuhan Yesus ada 12 orang sehingga bila semuanya membaptis maka setiap murid membaptis 250 orang. Saat ini pendeta mana yang sekali berkhotbah membuat banyak orang bertobat? Di Perjanjian Lama ada nabi Yunus yang disuruh Tuhan berkhotbah di kota Niniwe. Nabi Yunus tidak rela bangsa Niniwe bertobat karena menganggap mereka jahat. Tetapi akhirnya dia pergi ke sana, karena kalau ia tidak berkhotbah maka bangsa Niniwe akan binasa. Saat ia berkhotbah ada 120.000 orang (1 kota) bertobat! Kisah ini lebih hebat dari kisah di Perjanjian Baru. Kunci pertobatan bukan  manusianya yang hebat tapi Roh Kudus yang hebat yang memakai Yunus yang ogah-ogahan untuk memberitakan Injil. Demikian juga dengan Rasul Petrus yang sebelumnya pernah menyangkal Yesus Kristus. Jadi kalau mau dipakai Tuhan, titik pertama harus mengakui bahwa kita (gereja) tidak ada apa-apanya, tetapi Tuhan yang pimpin sehingga menjadi berkat. Walau banyak orang pintar , tapi Roh Kudus yang memimpin dan menjadi berkat.

          Kis 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Bertekun artinya konsentrasi (fokus). Orang yang mula-mula bertobat, rindu sekali mendengar firman Tuhan dan rindu sekali berkumpul dan memecahkan roti. Johanes (John) Calvin (1509-1564,teolog dan seorang pemimpin gerakan reformasi gereja di Swiss) mengatakan istilah “memecahkan roti” pada ayat 42 artinya perjamuan kudus dan perjamuan kudus dilakukan sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus untuk mengingat bagaimana “Yesus mencintai engkau”. Jadi prinsip pertama, harus rindu bersekutu dan dekat dengan Tuhan sendiri, rindu mendengar firman Tuhan, melakukan persekutuan dan perjamuan kudus. Saat kita dekat dengan Tuhan, kita merasakan Tuhan memeluk dan menyatukan kita. Indah sekali rasanya.

          Kis 2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.  Takut di sini tidak diterjemahkan dalam konteks sebagai akibat melihat sesuatu yang mengerikan sehingga semua bergetar, namun takut karena kagum, takhluk, merasa tidak ada apa-apanya dan  terpesona. Mendengar lagu Hallelujah oleh George Frederick Handel (1685-1759), hati kita menjadi terharu dan tergerak luar biasa, bahkan ada yang merasa bulu kuduknya merinding karena Allah begitu luar biasa ditinggikan! Itu makna dari ketakutan di sini. Alkitab menuliskannya dengan begitu baik. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Ada 2 hal yang berbeda tentang mujizat. Ada yang berpikir “bila ada mujijat maka baru gentar dan takut pada Tuhan”, maka ada gereja yang memakai mujizat sebagai alat promosi “datanglah ke gereja, ada kesembuhan ilahi” . Sedangkan gereja injili banyak khotbah tapi sedikit mujizatnya. Ada gereja yang berpromosi “Di sini orang miskin awalnya naik sepeda, berapa bulan kemudian naik motor lalu tahun depan naik mobil”. Gereja mula-mula tidak seperti itu. Itu 2 hal yang berbeda. Mereka takut dan kagum bukan karena melihat mujizat. Mujijzt memang terjadi, tetapi sebelum terjadi mereka sudah kagum terlebih dahulu. Mereka melihat 3.000 orang bisa bertobat padahal orang-orang yang bertobat itu mungkin dulunya adalah orang-orang yang tidak benar, brengsek, malas, tidak sayang keluarga, tidak mau bayar utang, pembohong dan lain-lain, lalu mengapa mereka bisa bertobat dan berubah? Mereka kemudian rindu sekali bersekutu dan berada di bait Allah. Hal ini membuat orang banyak tidak bisa berkata-kata dan kagum. Dulu ada yang sudah dinasehati dan ditegur begitu lama tapi tidak berubah, tapi sejak Tuhan menyentuh hati mereka, mereka pun berubah! Maka semua yang menyaksikannya takut, kagum dan hormat. Setelah itu baru dikatakan, “sedang (bukan sebab ) rasul-rasul juga buat mujizat lain”.

          Sung shi mu tadi memberi tantangan, “Cucu-cucunya pada kemana? Apakah sudah bangun? Cucu saya di lantai 4 walau belum tahu apa-apa, tapi sudah bersekutu”. Cucunya memang belum tahu apa-apa namun sedang bersekutu dengan gereja Tuhan dan merasakan indahnya pelukan Tuhan di gereja ini. Semenjak kecil hidup dalam Tuhan maka semakin besar hidupnya tidak jauh dari Tuhan. Ini tantangan dari prinsip pertama, merasakan tangan Tuhan untuk kita bersekutu. Saya bersyukur dan merasa terharu kalau melihat orang tua datang dan rajin beribadah. Di gereja kami, jemaat usia indah yang datang beribadah mencapai 150 orang dan usianya 70-80 tahun. Mereka datang dengan menyeret tubuh dan ada yang dipapah untuk mendengarkan firman Tuhan. Ada juga yang sudah susah jalannya, dipapah naik namun ternyata tidak bisa mendengar dan matanya kabur! Lalu untuk apa datang ke gereja padahal tidak bisa mendengar, melihat dan berjalan? Setiap ada persekutuan dan ibadah tiap minggu, ia datang. Dalam hati saya merasa terharu sekali. Alasannya ia datang hanya satu yaitu “Saya hanya ingin bersekutu dengan saudara-saudara seiman”. BIla orang yang tidak percaya mendengarnya, maka mereka akan bertanya, “Allah macam apakah di rumah Tuhan sampai orang yang tidak mengerti dan begitu terbatas tetap  rindu dan mencariNya?” “Allahnya dahsyat sekali sehingga orang yang susah, terbatas dan menderita sakit punya niat yang kuat untuk mencari Tuhan!” Kita merasa hangat saat bersatu, bersekutu dan  mempunyai keluarga besar sehingga orang-orang akan melihat dan merasakan Tuhan di GKKK Mangga Besar.

2.     Suka berbagi.
Kis 2:44-45  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.Gereja mula-mula mau dan rindu membagi apa yang mereka punya (berbagi apa yang sudah didapat dari Tuhan). Salah satu ciri orang yang lahir baru adalah suka memberi. Orang yang sudah bertobat dan diperbarui Tuhan tidak pelit lagi tapi suka berbagi dan bukan orang yang suka meminta-minta. Seperti pada Lukas 19:8 dikatakan “Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." Orang yang sudah lahir baru rindu berbagi. Kita tidak perlu bicara besar, mau berbagi apa dengan orang lain. Mari cermati dari hal yang kecil. Ada orang yang saat belanja membeli sayur-sayuran (baik di depan rumah dan di pasar) sukanya tawar-menawar dengan begitu pintar. Ia mentawar terus sampai penjualnya merasa kalah dan berkata, “ya sudah ambillah”. Lalu dengan bangga dia membawa sayurnya pulang. Padahal beda harganya hanya Rp 500 tapi menawarnya hampir 30 menit! Jumlah yang tidak berarti dibanding ketika kita masuk WC umum dan membayar Rp 2.000 untuk sekali buang air. Hal ini menandakan hati yang tidak berbagi dengan orang lain.  Padahal tukang sayurnya dari subuh sudah bangun tidur lalu mengumpulkan sayur, kepanasan di siang hari hingga baunya tidak karuan di sore hari dan orang terkadang masih mau menawar gila-gilaan. Kenapa tidak sebaliknya bertanya, “Pa ini sayur satu ikat berapa?” Saat dijawab Rp 10.000 agar bisa membuat orang itu senang pembeli berkata “Rp 12.000 boleh tidak?” Membuat orang menjadi senang itu berkat. Mengapa kita tidak bisa berbagi dengan orang? Padahal di gereja sering memberi persembahan tapi untuk lingkungan apakah mereka tahu bahwa kita orang yang suka berbagi atau tidak. Jadi suatu kali bila orang di gereja hilang karena diangkat Tuhan, apakah tukang sayur tidak peduli dan berkata, “Syukurin!” Kalau orangnya pelit, tidak ada yang sedih dan menangis saat dia tiada. Mari kita beraksi sebelum FPI datang baru kita bagi-bagi sembako, karena itu berarti sudah telat. Gereja mula-mula tidak begitu. Gereja mula-mula suka berbagi dan memberi. Sehingga semua orang senang.

3.    Bergaul dengan masyarakat dan menjadi berkat
Kis 2:46  Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati. Bagian 1 dari ayat 46 dikatakan “mereka berkumpul di dalam bait Allah”, sedangkan pada bagian 2 dikatakan “mereka pulang ke rumah masing-masing memecahkan roti”.  Memecahkan roti pada ayat 46b dengan ayat 42 berbeda. John Calvin mengatakan bahwa memecahkan roti pada ayat 42 merupakan perjamuan kudus karena dilakukan di rumah Tuhan. Sedangkan pada ayat 46b bukan perjamuan kudus tapi perjamuan kasih dan persekutuan di rumah masing-masing. Hal ini berarti kalau kita mau menjadi perpanjangan tangan Tuhan maka kita tidak hanya merasa sukacita di gereja saja, tetapi kita juga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa suka-cita dan bersekutu dalam keluarga kita. Jadi ada keseimbangan di dalam dan di luar gereja. Ini yang seringkali orang Kristen tidak memperhatikannya. Ada yang sibuk sekali melayani di gereja sehingga keluarga di rumah ditelantarkan dan tetangga dilupakan. Seorang majelis gereja mengatakan “Papa saya sudah berusia 78 tahun dan sampai hari ini tidak mau percaya Tuhan Yesus karena ia merasa ragu. Ia melihat anak-anaknya semenjak kecil, remaja, pemuda dan dewasa rajin ke gereja sampai tidak ada waktu untuk papa dan mamanya. Jadi mereka merasa gereja telah merebut anak-anaknya. Ia merasa gereja tidak memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan keluarganya. Saat keluarga mau berkumpul tidak bisa karena ada rapat dan pelayanan di gereja.  Sampai papanya bertanya, ‘kamu anak gereja atau anak saya?’ Ingat bahwa kamu masih punya orang tua!”. Gereja sering terjebak dengan kesibukan yang tidak jelas. Gereja sepertinya tidak bisa melihat kalender merah kosong. Begitu ada tanggal merah lalu dibuat berbagai acara dan dibagi antara komisi anak, remaja, pemuda dan dewasa. Bahkan pendeta di gereja tidak punya waktu untuk keluarga hingga istri sang pendeta berbicara, “Saya senang kalau suami saya berkhotbah dan saya duduk dengan tenang. Tapi saya tidak senang kalau ia turun dari mimbar selesai khotbah. Karena kalau ia sedang khotbah berarti ia sedang bicara dengan saya, ada waktu untuk bicara dengan saya dan jemaat. Tapi begitu pulang ke rumah sulit bicara karena tidak ada waktu.” Suatu kali ada 2 orang anak pendeta yang sudah dewasa datang ke gereja dan sengaja masuk lewat pintu depan dengan berpakaian rapi. Lalu mereka berkata dengan sopan, “Permisi. Boleh kami bertemu dengan pendeta?” Oleh pekerja gereja dijawab,”Kamu kan anaknya mengapa harus permisi?’ Akhirnya mereka diantar ke ruang pendeta. Mereka tidak langsung masuk namun mengetuk pintu terlebih dahulu. Begitu masuk, keduanya berkata, “Pak Pendeta kami berdua mau konseling karena papa kami tidak punya waktu di rumah. Kalau kami mau mengajaknya berbicara tidak bisa karena papa kami sangat sibuk. Sehingga kami harus memakai status sebagai jemaat baru bisa untuk bicara dengan papa.” Mendengar itu, papanya menangis. Kita seringkali terlalu sibuk dengan segala urusan pelayanan di gereja dan tidak menyeimbangkan antara kepentingan keluarga, pekerjaan dan gereja. Sehingga orang-orang di sekitarnya tidak merasa Tuhan itu baik dan mau menolong mereka. Mereka merasa tangan Tuhan hanya melingkari pagar gereja dan sampai di sana saja. TanganNya tidak menjangkau rumah, keluarga dan masyarakat. Padahal pada ayat 47  dikatakan “sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” Itulah gereja mula-mula.

Penutup

                Jemaat gereja mula-mula disukai semua orang. Jemaatnya diberkati dan tiap hari ditambahkan jumlahnya karena mereka bersekutu begitu dekat dengan Tuhan dan mereka punya semangat berbagi dengan orang lain. Mereka keluar dan bergaul dengan masyarakat dan menjadi berkat dan semua orang di sekelilingnya suka dengan mereka sehingga Tuhan memberkati dan menambah jumlahnya. Tuhan kita paling tahu tentang kita. Tuhan paling tahu gerejaNya. Tuhan paling tahu gereja mana yang paling siap dititipi domba-dombaNya. Kalau kita berdoa, “Tuhan tolong tambahkan jiwa untuk mengisi banyak bangku yang kosong.” Doa seperti ini tidak salah, tetapi pertanyaan balik dari Tuhan,”Apa kamu sudah siap kalau Aku tambahkan jemaat?” Tuhan sayang sekali dengan domba-dombaNya. Ia tidak mau domba yang dititipinya kemudian disakiti, diacuhkan dan mendapat masalah-masalah.  Jadi kita harus berdoa dan menyiapkan diri dengan baik. Bila kita jadi gereja yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan,  maka gereja akan dibangunkan luar biasa. Kiranya Tuhan memakai GKKK Mabes.


Tuesday, June 23, 2015

Tantangan Gereja atas Ajaran Sesat


Pdt. Jois Efendi

Matius 7:15-23
15  "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.
16  Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
18  Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
19  Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
20  Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
22  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
23  Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Pendahuluan

                Kekristenan saat ini berkembang di sebuah lingkungan yang tidak mudah, karena jumlah penganutnya relatif sedikit (kaum minoritas) dan adanya orang-orang yang berusaha menekan (cukup banyak orang Kristen dianiaya, mengalami penindasan bahkan dikucilkan dalam lingkungannya). Itu adalah kondisi luar kekristenan. Di samping itu saat ini kekristenan juga mengalami serangan dari dalam. Banyak hamba Tuhan yang sengaja mengajarkan hal yang keliru (menyesatkan). Mereka mengutip ayat-ayat Alkitab dan menyitirnya untuk mencari keuntungan sendiri. Kekristenan dan gereja saat ini sedang menghadapi ajaran-ajaran yang sepertinya benar tetapi sebenarnya sesat. Ibarat sekarang ini banyak barang palsu seperti beras plastik, tas KW (tidak original, palsu) dll.

Latar Belakang Masuknya Ajaran Sesat  

                Ketika orang memalsukan sesuatu pasti ada motif (tujuan) tertentu dibaliknya. Yang pertama, mereka memiliki kepentingan pribadi (ada kepentingan yang ingin mereka tuju). Ada  juga karena harganya mahal sehingga barangnya dipalsukan agar bisa terjangkau khalayak kebanyakan. Sehingga muncullah tas KW dan sebagainya. Banyak juga orang yang ingin tampil cantik sehingga menjalani operasi plastik. Hidung yang pesek dimancungkan. Padahal hidung adalah sesuatu yang baik yang Tuhan berikan kepada kita. Tetapi seringkali kita menganggap Tuhan tidak baik, dan ingin hidung kita lebih mancung lagi. Hal-hal seperti Ini membuat kita tidak waspada akan ajaran sesat yang kemudian masuk dalam hidup kita. Kita menganggap ajaran sesat adalah hal yang biasa. Ajaran sesat dianggap biasa seperti barang palsu.

Ajaran Sesat dan hamba Tuhan Palsu

                Ajaran Yesus bukanlah ajaran sesat. Siapa yang memberikan ajaran yang berbeda dengan ajaran Tuhan Yesus bisa sesat dan menyesatkan. Kita harus berhati-hati dalam menerima ajaran yang diberikan oleh orang yang tidak siap dan mengajarkannya secara keliru karena kita bisa tersesat. Seperti apa yang dikatakan pada Matius 7:15  "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Saat ini sudah banyak ajaran yang menyesatkan dan palsu. Kita sulit membedakan ajaran dan pendeta yang palsu dengan yang sejati (benar). Kalau ada orang yang memakai jas dan dasi lalu berbicara di mimbar, ia bukanlah seorang pendeta yang benar kalau ia tidak mengajarkan Alkitab. Jadi jangan katakan pendeta ini luar biasa ajarannya karena penampilannya padahal ajarannya menyimpang. Domba dengan serigala mudah dibedakan dari penampilan luarnya, tetapi pengajar sesat biasanya tidak tampil seperti serigala. Mereka seringkali datang seperti domba yang sepertinya tidak punya masalah. Bisa jadi mereka mengatakan, “Tuhan memberkatimu” dan mereka bisa berlaku baik tetapi belum tentu dia adalah seorang pengajar yang baik dan pendeta yang benar. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa  kita harus berhati-hati karena mereka bisa saja menarik kita dengan apa yang mereka tampilkan tetapi bukan apa yang dimau oleh Tuhan Yesus seperti yang ditulis dalam Alkitab.

Cara Mengenali Ajaran Sesat

                Matius 7:16  Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Maksudnya Tuhan Yesus adalah ketika kita mau memetik buah anggur harusnya dari pohon anggur bukan dari semak belukar. Tetapi di sini orang bisa mengeluarkan sesuatu yang “benar” tetapi bukan berdasarkan firman Tuhan.  Mat 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Yohanes 15:1-2 1  "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Maksudnya “membersihkan pohon anggur” adalah membersihkan kita dari pandangan dan tradisi yang salah dalam hidup kita. Misalnya walau sudah percaya kepada Tuhan Yesus, saat mengadakan pernikahan anak mencari-cari hari dan bulan yang “baik”. Misalnya ada yang beranggapan bahwa waktunya harus bulan Mei karena menganggap bulan Mei itu adalah bulan yang baik dan tidak boleh diadakan pada bulan Juli atau Oktober tanpa diketahui alasannya. Dalam tradisi Jawa juga dilakukan seperti itu. Anaknya mau menikah yang ribut orang tuanya. Kalau mau diadakan hari Sabtu, dikatakan jangan karena semua orang keluar rumah sehingga nantinya tidak ada yang datang di resepsi pernikahannya. Hari Sabtu dianggap bukan hari yang baik karena lebih percaya tradisi dan keyakinan lama sehingga mereka tidak bisa memberikan  ajaran yang benar. Dan kalau masih menganggap seperti itu, kita perlu belajar lagi firman Tuhan. Tidak ada hari yang tidak baik, dari hari Senin sampai hari Minggu. Tetapi kalau menganggap hari yang baik adalah hari Sabtu saja, maka kita masih percaya pada tradisi, dan jangan-jangan kita berada dalam ajaran sesat. Kita tidak usah bicara tentang saksi Yehova, Mormonisme atau ajaran sesat lainnya. Karena jika kita memegang tradisi yang keliru, itu sama saja. Jadi firman Tuhan mengatakan  bahwa ketika kita mau belajar dan menghalau ajaran sesat kita harus melihat buahnya. Kalau ada hamba Tuhan yang berkata, “Kasihilah orang lain” tetapi dalam hidupnya tidak ada kasih maka jangan-jangan ia hanya bisa bicara saja dan itu bukan dimaui oleh Tuhan Yesus. Jadi dari buahnya kita bisa mengerti mana ajaran yang sesat.

Akibat Ajaran Sesat

Kalau kita ingin mengetahui ajaran sesat kita perlu mengenali karakteristik dan akibatnya yakni :

1.     Ajaran sesat bisa membuat perpecahan, karena masing-masing ingin mempertahankan ajarannya sebagai ajaran yang benar. Bila ada yang mengatakan “ajaranmu keliru dan perlu belajar” itu bisa berarti jangan-jangan ia sedang mengajarkan ajaran sesat. Karena di dalam Alkitab, tidak ada yang mengajarkan bahwa kita harus berpisah tetapi kita harus bersatu agar kita bisa melakukan apa yang Tuhan inginkan.
2.     Ajaran sesat itu tidak ada gunanya. Sepertinya baik tetapi membawa kehancuran.  Kita jangan bilang orang lain sesat. Mari lihat diri kita sendiri. Jangan-jangan kita bilang orang lain sesat namun kita masih tidak percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi lebih percaya kepada tradisi-tradisi. Beberapa waktu lalu, Tuhan memberi berkat sehingga kami membuat rumah kecil. Lalu developer (pengembang perumahan) memberitahukan bahwa pintu depan dan pintu belakang tidak boleh segaris letaknya.  Bila memasangnya segaris maka berkatnya akan lalu (hilang) begitu saja. Saya pun membuat rumah saya sesuai dengan arahan developer. Masalahnya bukan saya mengikuti feng sui sehingga berkatnya mengalir. Karena kalau lebih percaya hal seperti itu daripada Yesus Kristus berarti kita masih dalam ajaran sesat.

Definisi Sesat

                Definisi sesat adalah bila seseorang tidak percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ajaran yang tidak mengakui Yesus sebagai satu-satunya jalan itu pasti ajaran sesat, karena Yesus adalah satu-satunya jalan. Pada Matius 14:6  Yesus berkata, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Walau orangnya baik sekali, suka memberi sumbangan tetapi kalau tidak percaya Tuhan Yesus atau tidak mempercayai Yesus satu-satunya jalan, maka ia tidak akan mendapat keselamatan. Kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri karena nanti ia akan masuk ke dalam neraka. Orang yang sudah matang akan menghasilkan buah yang baik dan siap bertemu Tuhan Yesus. Bukan berarti saya mengharapkan cepat mati , tetapi kita harus berhati-hati dan saat tua kita tidak masuk ke dalam ajaran sesat. Karena itu berbahaya sehingga kita perlu mengatasinya agar di masa tua kita tetap memegang ajaran yang benar. Jadi selama hidup sampai saat ini kita tidak hidup sia-sia. 

Cara Mengatasi Ajaran Sesat

1.     Waspada. Kita harus tetap waspada setiap saat. Biasanya kalau sudah menua, manusia suka lupa (pikun). Saat mendengar atau membaca firman Tuhan ketiduran. Kalau ketiduran saat mendengar khotbah maka firman Tuhan yang didengar akan sepotong-potong dan itu membahayakan! Pada ayat 15 Tuhan Yesus mengatakan,”Waspadalah!” Mungkin kita mengatakan “Tidak apa-apa sebentar lagi, saya akan mati” atau “hal itu kecil karena aku sudah mengerti dan selama  52 minggu saya tidak pernah absen ke gereja sehingga diberi predikat jemaat yang setia”, namun apakah menjamin kita tidak terserang ajaran sesat? Bisa saja kita lebih yakin terhadap ajaran kita sendiri (menganggap aku sudah benar atau aku sudah tua, kamu masih muda tahu apa?) sehingga hal itu bisa dipakai iblis untuk menjatuhkan kita. Seperti dikatakan pada ayat 21, Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Ada orang yang selalu datang ke gereja dan ia menyebut “Tuhan,Tuhan” tetapi saat pulang sudah lupa (Tuhan itu di gereja, kalau di rumah aku Tuhannya karena aku adalah orang tua). Oleh karena itu kita perlu hati-hati. Yang ditekankan Allah di sini , “dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”.

2.     Membangun hubungan yang erat bersama Tuhan. Saya punya nenek. Setiap hari ia selalu membaca Alkitab. Meskipun ia membaca sore hari dan aminnya pagi hari karena ketiduran. Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tugas melakukan firman Tuhan dalam hidup berlaku untuk semua usia. Kalau Tuhan katakan harus waspada maka kita harus waspada terhadap ajaran sesat. Kita juga perlu memperhatikan ajaran yang diajarkan ke anak-anak. Jangan mengajarkan sesuatu yang tidak kita tahu lalu kita katakan “tidak baik untuk dilakukan.” Misalnya kita mengatakan “tidak baik harinya” tanpa mengetahui alasannya. Itu menunjukkan kita tidak percaya terhadap pemeliharaan Tuhan. Setiap orang yang tidak percaya atas pemeliharaan Tuhan dan kepada Tuhan, bisa dikategorikan sebagai pengikut ajaran sesat. Di sini Tuhan Yesus mengatakan banyak orang yaitu hamba Tuhan yang sudah banyak berkhotbah , bernubuat dan mengadakan mujizat tapi Tuhan tidak mengenalinya karena dia tidak mempunyai hubungan dengan Tuhan. Mari milikilah hubungan yang baik dengan Tuhan dan bacalah firman Tuhan. Inilah kebenaran yang kita miliki dan bukan catatan-catatan dan buku-buku yang lain atau tradisi-tradisi yang dimiliki tetapi kembali kepada Allah kita

3.     Terus belajar. Jangan mengatakan, “Aku sudah tua dan tidak perlu belajar karena sudah tahu semuanya.” Rencanakan untuk terus membaca firman Tuhan walaupun sudah lelah. Karena disitulah dasarnya dan bukan ajaran orang lain , apa yang kita pikirkan, tradisi, uang atau tampilan fisik kita tetapi pemahaman Alkitab dan hubungan baik dengan Tuhan.