Sunday, October 26, 2014

FirmanMu Mengubahku


Ev. Susan Kwok

1 Kor 15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
Efesus 3:8 Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,
1 Tim 1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

Pendahuluan

                Beratus tahun lalu John Henry Newton (24 Juli 1725- 21 Desember 1807) mengarang sebuah lagu yang dikenal sampai saat ini yakni Amazing Grace . Amazing Grace, how sweet the sound,that saved a wretch like me. I once was lost but now am found, was blind, but now I see. Newton lahir di London dan ia putra seorang komandan kapal dagang yang berlayar di Mediterania.  Waktu kecil ia aktif ke Sekolah Minggu berkat ibunya, seorang yang hidup dekat dengan Tuhan. Namun sang ibu meninggal ketika Newton berumur 7 tahun.  Ayahnya kemudian menikah lagi.  Pada usia 11 tahun, Newton meninggalkan sekolah dan menjadi seorang pelaut.  Ia tinggal di tepi pantai barat Afrika untuk mengumpulkan budak-budak lalu menjualnya ke Amerika.  Selama pelayaran yang dilakukan, ia sering melakukan cara hidup yang sangat menjijikkan. Sebelum para budak sampai ke tangan majikannya, ia meniduri mereka terlebih dahulu. Ia juga sering mabuk-mabukan dan melakukan banyak tindakan kriminal.  Pada tahun 1748, ketika akan pulang ke Inggris, kapalnya diserang badai. Nampaknya seluruh kapal akan tenggelam beserta penumpangnya, tetapi akhirnya mereka selamat.  Seusai pengalaman itu, ia mulai membaca buku “Teladan Kristus”, buku  yang sangat memikatnya.  Pengalaman melalui badai maut dan isi buku tersebut ternyata dipakai oleh Roh Kudus untuk menanam benih pertobatan di dalam hatinya sehingga mau menerima Kristus sebagai Juruselamat.  Selama tahun-tahun berikutnya, Newton tetap menjadi kapten di kapal pengangkut budak-budak tetapi gaya hidupnya telah berubah.  Tiap hari Minggu, ia mengadakan kebaktian dengan 30 awak kapalnya.  Akhirnya Newton meninggalkan pekerjaan sebagai pedagang budak karena ia menyadari usaha itu tidaklah manusiawi.  Kemudian ia ingin menjadi hamba Tuhan dan mulai belajar.  Pada umur 39 tahun, ia diangkat menjadi pendeta di Olney, Inggris.  Sering ia bercerita tentang bagaimana Tuhan menangkap dirinya.  Tahun 1780 Newton menjadi rektor dari Woolnoth St Maria, St Mary Woolchurch, di London.  Di sana ia menarik dan mempengaruhi banyak orang, di antaranya William Wilberforce, yang kemudian menjadi pemimpin dalam kampanye untuk menghapus perbudakan.  Newton terus berkhotbah sampai akhir hidupnya, meskipun dia telah buta! Bagaimana mungkin orang seperti Newton bisa berubah kalau bukan karena firman Tuhan yang bekerja? Demikian pula dengan Rasul Paulus (3–67 M). Ia seorang Yahudi dari suku Benyamin yang berkebudayaan Yunani (helenis) dan warga negara Romawi. Ia lahir di kota Tarsus tanah Kilikia (sekarang di Turki), dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi. Mulanya ia seorang penganiaya orang Kristen (saat itu bernama Saulus), dan sesudah pengalamannya berjumpa Yesus di jalan menuju kota Damsyik (Kis 9:1-22), ia berubah menjadi seorang pengikut Yesus Kristus.
                Firman Tuhan sanggup mengubah manusia dari tidak percaya menjadi percaya. Itulah salah satu karya Roh Kudus yang bisa kita nikmati saat ini. Karya Roh Kudus yang mengubah orang tidak percaya menjadi percaya adalah karya evangelistis (penginjilan). Itu sebabnya John Newton , Saulus dan kita bisa bertobat. Tetapi karya Roh Kudus bukan hanya karya penginjilan. Karya penting dari Roh Kudus lainnya adalah karya pengajaran. Roh Kudus mengajar dan memimpin sehingga setelah orang menjadi percaya maka ia akan berubah tingkah lakunya.  Ibarat seorang guru yang mengajar muridnya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Demikian juga Roh Kudus berkarya sehingga orang yang percaya kepada Tuhan melakukan perubahan dalam dirinya baik dalam kata, pikiran, tingkah laku dan dari semua aspek kehidupannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Gal 5:25). Seorang yang tidak mau dipimpin Roh Kudus tidak akan pernah mau berubah. Mungkin dia berubah dari tidak percaya menjadi percaya tapi tidak berubah dalam hal karakter dan mental yang jelek. Itu sebabnya kita sering menemukan, banyak orang yang sudah puluhan tahun mengikut Tuhan, tetapi tutur kata yang jelek dan menjijikkan tetap ada dalam dirinya!

Rasul Paulus Berubah dalam Karakter Setelah Bertobat!

                1 Kor 15:9, Efesus 3:8 dan 1 Tim 1:15 adalah 3 bagian firman Tuhan yang membuktikan bahwa Rasul Paulus juga berubah dalam karakter (cara berkata, berpikir dan berbuat) setelah bertobat! Sebelum Saulus betobat, ia adalah seorang tokoh yang pintar, terkenal saleh dan baik, pandai berkhotbah di lingkungan jemaat agama Yahudi dan sangat pintar beradu argumentasi. Tidak banyak orang yang bisa berdebat dengan Rasul Paulus. Ia sangat dihormati banyak orang. Tetapi sewaktu ia mengetahui bahwa  apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan yang Tuhan mau, Saulus pun bertobat. Namun setelah bertobat , tidak menjamin ia berubah. Masih ada hal-hal  yang perlu dipergumulkan dan berargumentasi dengan hamba Tuhan lain sebelum ia berubah.
                1 Kor 15:9 (Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah) ditulis Rasul Paulus pada waktu ia memulai pelayanan setelah ia baru bertobat dalam perjalanan ke Damsyik.  Di sini ia membandingkan dirinya dengan para rasul, orang-orang yang punya panggilan khusus. Jadi di antara orang panggilan Tuhan, ia orang yang paling hina.
                Tapi pada Efesus 3:8 yang ditulisnya 6 tahun kemudian ia mengatakan,”Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu” Di sini ia menulis bahwa ia adalah orang yang paling hina dari antara orang kudus yaitu jemaat gereja (jemaat pada umumnya, orang awam yang tidak sekolah teologia). Jadi dalam perjalanan pelayanan bertahun-tahun, ia mulai menyadari dirinya dan ia melihat dirinya tidak lagi dengan angkuh dan mendapatkan bahwa “aku adalah yang paling hina di antara lingkungan jemaat”.
                Tetapi  pada 1 Tim 1:15 ia menuliskan , Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tuhan  Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa (baik orang kaya, miskin, pintar, bodoh dll) dan di antara orang-orang berdosa itu, akulah (Paulus) yang paling berdosa. 
                Dalam bahasa sehari-hari pada 1 Kor 15:9 Rasul Paulus masih membandingkan dirinya, “Aku paling miskin di antara 10 orang terkaya di dunia.”  atau aku nomor 11 di antara yang terkaya di dunia. Pada Efesus 3:8 ia sedang membandingkan seolah-olah, “Aku paling miskin di antara 10 orang terkaya di Indonesia”. Berarti sekarang nomor 11 terkaya di Indonesia. Tetapi dalam 1 Tim 1:15, ia membandingkan dirinya dan seolah-olah berkata“Aku miskin. Di antara orang-orang yang paling miskin, aku lebih miskin.” 
                Perbedaan ini terjadi setelah Rasul Paulus melewati proses waktu bertahun-tahun. Tidak ada yang instan terjadi waktu mengikut Tuhan. Kita harus bersedia dikorek, dipukul dan dibentuk sampai menjadi sesuatu yang indah. Kalau kita mengatakan, “Saya adalah orang yang paling sabar di antara orang yang paling marah berarti belum sabar.” Oleh sebab itu Rasul Paulus harus melewati tahun demi tahun untuk tiba pada ayat 1 Tim 1:15 (Aku adalah orang yang paling berdosa di antara orang berdosa). Itu adalah suatu perubahan dari dalam. Ia berani mengakui keberadaan diri sendiri. Tidak semua orang dapat melakukannya. Sulit menyampaikan hal yang paling memalukan dalam diri kita pada dunia. Kita berusaha menutupi dan memoles supaya orang mendapat kesan berbeda dari aslinya. Itu sebabnya banyak sekali orang Kristen munafik. Kekristenan yang tidak berubah dari dalam tapi berusaha memoles apa yang dari luar. Apa yang bisa membuat kita berubah? Firman Tuhan yang kita baca setiap hari dengan tekun, itu adalah cara Tuhan untuk mengubah kita. Firman Tuhan mempunyai pengaruh mengubah kita, kalau kita hidup dalam firman Tuhan. Tetapi bila firman Tuhan hanya dibaca terburu-buru, jangan harap firman Tuhan akan bekerja. Firman Tuhan akan berkuasa dan menjadi bagian dalam diri kita, untuk itu kita harus punya waktu yang cukup untuk membaca dan membiarkan Firman Tuhan mempengaruhi kehidupan kita. Kalau tidak , maka kita hanya menjadi orang Kristen yang kelihatan baik di luar.
                Ada seorang misionaris yang memberikan kitab Amsal ke seorang pedagang di kota Srilangka. Seminggu kemudian, pedagang ini mencari hamba Tuhan tersebut dan mengembalikannya. “Saya kembalikan karena saya tidak suka membaca kitab Amsal ini,” katanya. “Mengapa?” tanya sang misionaris. “Karena kitab Amsal ini mengoreksi cara saya berdagang, jadi saya tidak suka.”jawab si pedagang. Memang di kitab Amsal banyak tegoran, peringatan dan nasehat, sehingga pedagang ini tidak suka. Kalau demikian bagaimana Firman Tuhan akan mempengaruhi? Selain tidak punya waktu yang cukup untuk membaca, kita juga suka memilih-milih bagian Alkitab yang akan kita baca. Karena saya suka ayat-ayat yang menguatkan saya, dan tidak suka ayat-ayat  yang menyentil kehidupan saya. Ayat seperti ini, nanti saja dibacanya karena tidak ada waktu. Kekristenan itu harus dari dalam ke luar, baru bisa firman Tuhan mengubahkan. Karena firman Tuhan itu , saya punya cukup waktu untuk membacanya dan membiarkan Alkitab mengoreksi saya dan menuntun hidup saya. Kalau Rasul Paulus tidak punya kehidupan yang indah dengan firman Tuhan tidak mungkin ia berubah dari tahun ketika ia menulis 1 Kor ke tahun ketika ia menulis 1 Tim. Dari tidak percaya menjadi percaya, itu baru permulaan. Tetapi setelah hidup di dalam Kristus, harus ada proses yang nyata dalam perubahan karakter.  Firman Tuhan itu adalah alat ukur yang tepat. Perkataan orang belum tentu tepat. Firman Tuhan pasti tepat. Seringkali orang percaya tidak percaya dengan alat ukur yang tepat itu tetapi  dia lebih percaya, pada apa kata orang lain.
                Suatu hari ada seseorang yang ingin membeli sepatu. Lalu ia mulai mengukur dari tumit ke jari kaki yang paling panjang dan kemudian mengukur lebarnya dengan menggunakan seutas tali. Begitu sampai ke toko, ternyata tali yang tadi dipotong sesuai ukuran kakinya tertinggal. Lalu ia berkata ke penjaga toko, “Sebentar ya. Jangan tutup toko dulu. Saya mau ambil tali ukuran kaki saya.” Penjaga toko bingung, “Mengapa orang tersebut  tidak mengukur kaki dengan sepatunya saja? Kenapa harus pulang dulu? Bukannya kakinya ada?” Lucu bukan? Tetapi itu yang sering terjadi dalam hidup kita. Firman Tuhan adalah alat ukur yang tepat, tetapi kalau firman Tuhan memberitahukan kesalahan, maka kita marah dan tidak suka.

Penutup

                Saat berkhotbah di suatu KKR Dwight Lyman Moody (1837-1899), tokoh kebangunan rohani gelombang ketiga di Amerika Serikat pada abad ke-19 dan seorang pengkhotbah ulung yang sering mengadakan KKR, didatangi oleh seorang doktor teologia (S3). Doktor ini datang dengan satu tujuan yakni mempermalukan D.L.. Moody karena ia tahu Moody bukan seorang sarjana. Ia dulunya seorang pembuat sepatu. Pada tahun 1860, ia memutuskan untuk menjadi penginjil penuh waktu, tanpa pernah menempuh pendidikan teologi formal. Jadi doktor ini datang untuk mencari kesalahan-kesalahan yang akan disampaikan D.L. Moody dalam khotbahnya. Namun apa yang terjadi? Setelah selesai KKR, doktor ini mendatangi D.L. Moody dengan menangis. D.L. Moody bertanya, “Mengapa kamu menangis?” Sang doktor pun menjelaskan, “Saya malu. Saya datang untuk mendengarkan kesalahan-kesalahan dalam khotbah yang kamu sampaikan, sebab saya tahu kamu bukan seorang sarjana sedangkan saya seorang doktor dalam bidang teologia. Namun dari awal sampai akhir khotbah, saya tidak menemukan kesalahan, tetapi saya menemukan firman Tuhan luar biasa keluar dari mulut kamu. Saya minta maaf dan saya tidak akan pernah melakukan ini lagi kepada siapapun!” Moody mengatakan, “Ketika engkau datang kepada Tuhan, jangan engkau datang untuk mengkritik Tuhan. Biarkan Tuhan mengkritik kamu. Ketika engkau membaca Alkitab , jangan engkau membaca dengan keinginan untuk mencari kesalahan Tuhan. Cobalah belajar untuk membiarkan Firman Tuhan mengkoreksi kamu!” Karena Firman Tuhan adalah alat ukur yang paling tepat.  Itu sebabnya saya sering berkata, “Ucapan hamba Tuhan bisa salah, ucapan jemaat bisa salah, hanya ucapan Tuhan yang tidak pernah salah.” Bagaimana jemaat GKKK Mabes dapat diubahkan oleh Firman Tuhan? Hanya kalau Firman Tuhan menjadi satu dengan hidup dan diri kita. Banyak orang Kristen malas dan tidak suka membaca firman Tuhan. Kalau begitu bagaimana mungkin bisa berubah? Biarlah kita menjadi jemaat GKKK Mabes yang tahun demi tahun ada perubahan dalam diri kita. Mungkin hari pertama bertobat, kita adalah orang yang bengis, tetapi setelah 10 tahun bertobat, kita sudah harus bisa meninggalkan kebengisan itu. Waktu kita baru bertobat, kita orang yang suka gossip, tetapi dalam perjalanan dengan Tuhan, seharusnya kesukaan bergosip itu hilang.  Ketika mengenal  Tuhan pertama kali, kita mungkin orang yang masih berpikiran negatif. Tetapi kemudian , kita berubah menjadi orang yang berpikiran positif. Hal ini dimungkinkan bila seperti kata pemazmur pada Maz 1:1-2  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.


Sunday, October 19, 2014

Alkitab adalah Firman Allah


Pdt. Stevri  Indra Lumintang

Lukas 24:27
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

Pendahuluan

                Sudah sering kita mendengar kalimat Alkitab adalah Firman Allah. Tema ini sebenarnya lebih cocok disampaikan dalam bentuk seminar karena perlu disertai dengan sesi tanya jawab.
                Latar belakang nas Lukas 24:27 (Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi) adalah saat Tuhan Yesus sedang melayani murid-murid yang tidak percaya akan firman Tuhan. Sebelum kematian , Tuhan Yesus berkata, Ia akan bangkit setelah mati (Matius 16:21). Tetapi setelah peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid mencari Yesus dan mereka tidak menemukanNya dan menganggap Yesus hilang (mayatnya dicuri). Mereka tidak ingat bahwa Tuhan Yesus bangkit. Dengan kergaguan ini, Tuhan Yesus berfirman Lukas 24:27.
                Kita melihat Alkitab dengan kagum. Buku apakah yang paling banyak dibenci oleh orang beragama? Alkitab! Buku mana yang paling banyak dibakar oleh orang-orang beragama? Menurut laporan buku yang paling banyak dibakar dengan penuh kemarahan adalah Alkitab!. Buku mana yang menyebabkan banyak orang dibunuh? Alkitab! Karena orang memegang , membaca dan percaya Alkitab, maka dibunuhlah dia. Di satu sisi bagi orang yang tidak percaya Yesus Kristus, Alkitab adalah hal yang sangat mengganggu mereka.  Di mata orang yang tidak percaya Yesus Kristus, Alkitab merusak kehidupan. Bagi mereka, Alkitab adalah buku yang harus dimusnahkan. Tapi di mata orang percaya, Alkitab adalah satu-satunya harta kekayaan yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun.  Kita bersyukur masih ada Alkitab di gereja dan di tangan orang. Sekalipun sejak Alkitab ditulis, dari abad 1 sampai 21 , Alkitab ini berkali-kali ingin dimusnahkan, dihancurkan dan dibakar orang. Banyak orang membenci Alkitab, tapi luar biasa Alkitab tetap ada! Malah semakin banyak diterjemahkan dan didistribusikan,. Makin dibenci justru semakin banyak. Inilah keistimewaan Alkitab. Alkitab memang adalah hal yang istimewa bagi gereja Tuhan. Keistimewaan gereja adalah Alkitab bukan pimpinan gereja karena agama lain pun punya pemimpin. Juga bukan gedungnya, karena agama lain punya gedung yang lebih besar dan baik. Tetapi sesungguhnya keistimewaan gereja adalah Alkitab, karena Alkitab adalah firman Allah. Salah 1 dari 95 dalil yang ditempelkan Martin Luther di  pintu Gereja Kastil di Wittenberg, Jerman, 31 Oktober 1517 tertulis bahwa Alkitab adalah satu-satunya harta kekayaan gereja. Gereja tidak banyak harta, namun hanya 1 harta yaitu Alkitab. Tetapi sayang pada masa kini, warga gereja dan pemimpin gereja mengubah harta itu. Alkitab bukan lagi harta gereja melainkan tanah gereja dan gedung gereja yang gampang dibakar. Banyak gereja yang bertengkar karena harta-harta yang semu (palsu) ini. Jarang terdengar gereja bertengkar karena Alkitab. Bahkan tidak terdengar orang berkelahi karena Alkitab, padahal Alkitba adalah satu-satunya harta gereja. Sayangnya harta ini jarang dibaca orang. Orang tidak menggunakan harta ini.  Harta satu-satunya ini hanya dipegang dan dilihat, dibaca tanpa dimengerti.  Dan banyak orang Kristen mati miskin rohani sambil memegang Alkitab.  Makin miskin rohani makin tidak mengerti perkara rohani dan waktu meninggal ada Alkitab di tangannya.  Saya berasal dari Menado yang mayoritasnya orang Kristen, bila ada kematian pasti keluarga meletakkan Alkitab di atas mayat yang meninggal di peti jenazah. Pengkhotbahnya hanya hiasan dan hanya mengatakan bahwa ia orang Kristen. Padahahl sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengerti Alkitab dan hanya pegang, lihat, cari mana bagian Alkitab yang menguntungkan. Cari ayat untuk bisnis yang lancar, bahkan mencari ayat untuk jodoh bagi anaknya. Alkitab diabaikan, sama dengan orang Indonesia. Harta kekayaan bangsa Indonesia sangat luar biasa , tetapi anak bangsa disuruh cari kerja di luar negeri sampai dianiaya. Banyak orang yang tidak membaca Alkitab, harta kekayaan yang luar biasa. Yang dibaca hanyalah kitab lain. Makin baca kitab lain, makin stress hidupnya. Makin banyak buku yang dibaca makin stress hidupnya. Boleh baca buku apa saja, setelah membaca Alkitab. Di sisin lain, banyak orang salah menggunakan Alkitab. Ada orang yang menggunakan Alkitab untuk maksud magis dan hal-hal yang sifatnya supra natural. Di daerah mayoritas Kristen, ada seorang dukun yang menyembuhkan dengan menyentuhkan Alkitab pada bagian yang sakit. Bahkan ada yang membuka Alkitab secara acak  untuk mencari nama orang yang menjadi jodoh anaknya. Ada juga yang menggunakan Alkitab untuk kepentingan ekonomi. Pendetanya berkhotbah dengan menggunakan Alkitab supaya jemaatnya banyak dan persembahan banyak. Ada juga pendeta yang mengirim SMS ayat Alkitab yang ujung-ujungnya minta uang. Tema khotbahnya di gereja adalah cara menjadi kaya dan bahagia. Itu bukan tema utama Alkitab.  Dan jemaat yang “gila-gila” suka mendengar khotbah seperti itu dari pendeta yang “gila”. Memang ada tema tentang rahasia hidup bahagia, tapi itu bukan tema utamanya. Tema utamanya, “Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Tema utamanya tentang Tuhan Yesus, bukan cara menjadi kaya, agar tidak sakit, agar kalau sakit tidak perlu operasi.   Ada juga orang yang menggunakan Alkitab untuk kepentingan politik, mempengaruhi orang-orang untuk memilih calon presiden tertentu padahal yang dipilih tidak percaya Alkitab! Terlalu banyak orang mempermainkan Alkitab. Saat ini sedang terjadi sekelurisasi ayat Alkitab.  Alkitab yang suci tapi karena dijadikan mainan maka tidak sakral lagi.  Bukan kalam kudus lagi tapi jadi kalam kudis. Karena Alkitab dipakai untuk apa saja bahkan mata pencaharian pendeta.

Perlakuan Salah Orang Kristen terhadap Alkitab

1.     Harta yang luar biasa ini tidak disentuh orang Kristen. Orang Kristen menganggap sepi harta yang luar biasa ini, malahan orang Kristen mencari harta dari buku-buku lain, pembicara rohani handal dll. Banyak orang Kristen membaca banyak buku tapi tidak membaca Alkitab, sumber segala buku.

2.     Membaca Alkitab tapi menggunakannya dengan salah. Kalau Alkitab adalah satu-satunya harta gereja, maka sesungguhnya kita mendahulukan Alkitab sebagai prioritas bahan bacaaan. Boleh baca surat kabar atau majalah tapi sebagai bacaan tambahan karena  bacaan utama adalah harta gereja satu-satunya. Alkitab adalah firman Tuhan, semua buku lain adalah firman manusia. Hati-hati membaca firman manusia karena terlalu banyak firman manusia yang merusak manusa. Belum ada firman Allah yang merusak manusia yang ada firman manusia yang merusak karena manusia tidak membaca firman Allah terlebih dahulu. Alkitab itu luar biasa, namun anehnya manusia tidak tertarik dengan Alkitab. Alkitab harus menjadi prioritas kalau dikatakan Alkitab adalah firman Allah, karena buku adalah firman manusia. Mari kita membaca firman Allah baru baca firman manusia agar tidak disesatkan oleh manusia. Alkitab adalah firman Allah , artinya semua firman yang disampaikan Allah secara verbal yang disampaikanNya pada orang tertentu pada tempat tertentu tapi bukan untuk orang tertentu saja pada waktu tertentu melainkan dapat dibaca oleh segala orang di segala zaman. Maka ia memiih orang tertentu untuk menuliskan firman Allah.
Ada sekitar 40 orang penulis Alkitab dan Alkitab ditulis dalam kurun waktu sekitar 1.500 tahun. Ini keajaiban. Alkitab ditulis banyak orang, tapi tidak bertentangan satu dengan lain. Dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu tidak ada pertentangan. Inilah konsistensi Alkitab. Inilah keajaiban Alkitab! Banyak juga hamba Tuhan yang membaca Alkitab karena tugas. Alkitab adalah firman Allah satu-satunya, tidak ada yang lain. Allah tidak pernah berfirman di luar Alkitab. Di luar Alkitab tidak ada firman Allah tetapi firman manusia, orang yang pura-pura menjadi nabi. Kalau kita mendapat surat dari presiden akan disimpan seumur hidup karena merasa istimewa. Alkitab itu firman Allah yang jauh luar biasa!

Alasan Alkitab adalah Firman Allah

Tidak ada kata “Alkitab” dalam Alkitab.  Dari mana kita tahu Alkitab adalah firman Allah?
Di dalam Alkitab, Yesus seringkali berkata, “Ada tertulis” (Mat 4:4, 4:7, 4:10, 11:10, 21:13,26:24, 26:31, 26:56, Mrk 7:6, 9:12, 9:13, 11:17, 14:21, 14:27, Luk 4:4, 4:8, 4:10,19:46, 24:44, Yoh 2:17, 6:45, 8:17, 10:34, 15:25). Apa yang dikatakan Tuhan Yesus tersebut pasti tentang Perjanjian Lama berarti Dia selalu merujuk pada Alkitab Perjanjian Lama. Di samping itu ada sekitar 2.650 kutipan Perjanjian Baru dari Perjanjian Lama, yaitu sekitar 350 kutipan langsung dan 2.300 kutipan tidak langsung atau persamaan bahasa. Lalu timbul pertanyaan, “Itu kan Perjanjian Lama , bagaimana dengan Perjanjian Baru?” Yesus adalah berita Perjanjian Baru. Maka setiap pengajaran dan perbuatan Yesus dicatat oleh penulis Perjanjian Baru. Firman Yesus yang ditulis dalam Perjanjian Baru, karena itu Perjanjian Baru adalah firman Yesus dan firman Allah. Jadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah  firman Allah. Banyak tulisan yang mencatat “Allah berfirman”, “Yesus mengajar”, “Yesus berkata”. 2 Tim3 : 16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Alktiab adalah tulisan yang diilhamkan Allah. Inilah alasan bahwa Alkitab adalah firman Allah.

4 Pilar Alkitab adalah Firman Allah

1.     Alkitab adalah alat anugerah Allah sehingga orang mengenal Allah hanya melalui Alkitab, dan Yesus Kristus adalah “jantungnya” Alkitab. Lukas 24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Banyak orang berkata, “Alkitab adalah buku science (ilmu pengetahuan), buku mencari jodoh, kitab kebahagiaan dll” namun itu semua salah. Alkitab bukan buku sciende tapi buku tentang Yesus Kristus. Science itu hanya akibat dan merupakan bagian kecil dari Alkitab karena kuncinya adalah Tuhan Yesus. Seluruh Alkitab tentang seseorang yang sangat luar biasa yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dia adalah Allah dan Juruselamat. Kitab agama lain tidak ada yang bicara tentang Allah dan Juruselamat, namun hanya memuat petuntuk untuk bertemu Juruselamat. Tetapi Yesus berkata "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6).  Ini hal mendasar tapi sering dilupakan gereja.
2.     Alkitab adalah firman Allah menyatakan kehendak Allah. Alkitab adalah firman Allah, firman Allah adalah kehendak Allah. Berarti Alkitab mengungkapkan apa saja maunya Tuhan. Apa kehendak Tuhan di dunia ini, untuk gereja, bangsa Indonesia, pendeta, bisnis, keluarga dan segenap aspek hidup. Tuhan Yesus berkata, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh 4:34). Luar biasa! Makanan (apa yang dikonsumsi) adalah hal pokok, utama, primer. Yang terutama dalam kehidupanku adalah melaksanakan kehendak Tuhan. Itulah artinya Alkitab adalah firman Allah. Jangan berkata “Alkitab adalah firman Allah” kalau tidak berkata, “makananku adalah melakukan kehendak Allah”. Jadi pendetapun adalah kehendak Allah dan bukan kehendak ayah karena mau mewariskan gerejanya ke anaknya. Apa saja kerja kita adalah karena kehendak Allah.
3.     Allah adalah firman Allah, firman Allah adalah kuasa Allah (the power of God). Sayang sekali arti kuasa Allah ini dikerdilkan, disusutkan oleh banyak orang Kristen termasuk banyak pendeta masa kini. Kuasa Allah hanya sejauh kesembuhan daging. Kuasa Allah hanya sejauh orang bangkrut berhasil kembali. Kuasa Allah hanya sejauh dari miskin menjadi kaya. Ini yang dibicarakan gereja sekarang. Maka tiba-tiba ada gereja yang jemaatnya penuh karena transfer jemaat dari gereja lain. Banyak orang Kristen yang hanya mau mendengar tema-tema yang maenarik seperti “yang miskin menjadi kaya”, “yang sakit sembuh”, “yang sehat tidak mati-mati”. Tema tentang salib Yesus, kematian Yesus, penebusan oleh karya Yesus, Allah Bapa, Allah Anak hampir tidak terdengar lagi di gereja. Karena nama itu dianggap kurang popular.

4.     Alkitab adalah firman Allah. Firman Allah adalah senjata orang percaya. Pada waktu Tuhan Yesus dicobai di padang gurun, senjata Tuhan Yesus adalah Alkitab. Dia berkata, “Ada tertulis”. Ia benar-benar orang yang berorientasi hidupNya pada firman Allah. Kekuatan manusia menghadapi musuh adalah firman Allah. Boleh jadi Negara Indonesia akan menjadi negara kaya raya dan angka kemiskinan merosot jauh, tetapi bisa jadi akan muncul orang ateis di Indonesia. Sekarang saja ada orang  di Indonesia yang mengatasnamakan Allah  untuk kepentingan politik. Orang menggunakan nama Tuhan untuk mencari kekuasaan. Bagaimana kehidupan nanti setelah Indonesia menjadi makmur? Orang seperti ini tidak akan tertarik paa Tuhan. Di Eropa banyak orang  ateis. Beberapa waktu lalu saya berbicara  di Belanda. Ada yang berkata, “Kamu masih bicara Tuhan di masa kini?”  Mari berdoa agar nantinya rakyat Indonesia tidak menjadi ateis. Kalau ada gelagat kemunculan ateis di Indonesia, kalau bisa Indonesia jangan menjadi jaya. Melainkan dengan kekayaan, Indonesia bangkit untuk menjangkau  dan memuliakan Tuhan. Alkitab adalah satu-satunya kekayaan di Indonesia. Tidak ada yang bisa mengubah  Indonesia menjadi apa yang Tuhan mau. Presiden, MPR, DPR hanya mensejahterakan Indonesia secara  lahiriah, tetapi Alkitab mensejahterakan Indonesia walaupun tanpa partai-partai. Kebenaran mendorong kita menyampaikan kebenaran Allah. Yang menjadikan sejahtera bangsa Indonesia hanyalah firman Allah. Saya berdoa agar kita makin bergelora dan semakin bersemangat untuk Injil dan firman Allah. Kiranya firman Tuhan menjadikan kita mengasihi Allah dan mencintai firman Tuhan. 

Monday, October 13, 2014

Alkitab vs Games/Kesibukan/Entertainment


Pdt. Hery Guo

2 Tim 4:13 Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
2 Tim 3:15-16
15  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
1 Tim 4:13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.

Pendahuluan

                Tema hari ini adalah Alkitab dibandingkan dengan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti games (permainan), kesibukan dan entertainment (hiburan). Seringkali ditemukan bahwa Alkitab tidak benar-benar menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari karena manusia lebih mementingkan hal-hal lain. Suatu kali saya diundang seorang sahabat untuk menghadiri perayaan ulang tahun cucunya yang pertama. Kami datang ke sebuah restoran dan menikmati sukacita karena cucunya berulang tahun. Pada waktu akan selesai, saya sampaikan kepada papa anak tersebut bahwa saya akan berdoa untuk anaknya agar ia diberkati dari kecil hingga dewasa. Sebelum saya berdoa, papa anak tersebut menggendong anaknya lalu datang ke sebuah meja yang di atasnya telah ditaruh beberapa barang. Barang-barang tersebut adalah telpon seluler, uang dolar dan beberapa barang elektronik  lainnya. Dia berkata ke anak tersebut, “De, ini ada barang-barang. Dede ambil yang Dede mau.” Lalu saya bertanya ke papanya, mengapa ia mengatakan hal tersebut ke anaknya. Ia berkata, “Nanti apa yang diambil anak saya, maka nantinya ia akan menjadi seperti itu.” Saya berpikir kalau di sana ada pisau atau golok, maka kalau sudah besar ia bisa menjadi pembunuh. Anak itu kemudian mengambil suatu barang dan semua orang pun bertepuk tangan. Yang diambil ternyata telepon seluler dan papanya berseru, “Hore!!! Kerjanya nanti TI (teknologi informasi). Saya bertanya-tanya dalam hati, “Apa hubungannya telepon seluler dengan menjadi pekerja di bidang TI? Kemudian papanya berkata lagi, “Ayo Ade ambil lagi apa yang kamu mau.” Lalu sang anak mengambil dolar dan semua orang bertepuk tangan. Dikatakan , “Nanti kalau sudah besar bisa menjadi taipan.” Saya tergelitik dan betanya dalam hati “Apakah benar anak itu akan menjadi sesuai dengan barang yang diambilnya.  Ini tradisi dari mana, yang mencoba memprediksikan orang akan menjadi apa di masa depan dengan melihat pilihan barang yang diambil? Anak satu tahun ini tidak tahu apa yang dipikirkan orang tuanya. Waktu ia mengambil telepon seluler , ia tidak bermkasud kalau sudah besar akan menjadi pekerja TI. Atau waktu mengambil uang dolar, ia tidak mengira akan menjadi bankir atau konglomerat. Anak satu tahun tidak punya pikiran seperti orang dewasa. Apa yang menarik dalam pandangan anak kecil, itu yang diambilnya.

Yang Utama Lebih Penting dari Yang Menarik

                Berbicara tentang Alkitab versus games, kesibukan dan entertainment, akan ditemukan perbandingan mana yang lebih menarik di antara keduanya. Ada yang bilang, yang menarik games karena Alkitab tidak menarik. Hal ini dapat diuji dari pertanyaan sederhana ,”Selama menjadi orang Kristen, siapa yang telah membaca Alkitab dari kitab Kejadian sampai  kitab Wahyu sebanyak satu kali? Dua kali? Tiga kali?” lalu bandingkan dengan pertanyaan “Siapa yang sampai saat ini, sekalipun belum pernah bermain games atau menikmati entertainment (contoh : ke bioskop, pesta)?” Ada juga yang menikmati membaca Alkitab karena bisa tidur dengan cepat! Ada perbedaan yang sangat penting antara yang utama dengan yang menarik. Dunia menarik kita, memberikan kita suatu hal yang sangat luar bisa yakni kemenarikan sehingga orang memilih yang menarik. Setelah Tuhan Yesus berpuasa 40 hari, Dia digoda iblis 3 kali (Lukas 4, Matius 4) yakni untuk mengubah batu menjadi roti, menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah dan kemegahan kerajaan dunia.  Iblis menawarkan hal yang menarik supaya orang mengambilnya. Pada Kitab Kejadian pasal 3, saat manusia pertama jatuh ke dalam dosa, iblis menawarkan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Saat itu perkataan Tuhan (Kej 2:16-17) tidak menarik dalam pandangan Adam-Hawa tapi perkataan iblis menarik yaitu saat iblis mengatakan, bahwa mereka tidak akan mati kalau memakannya (Kej 3:4-5). Jadi dunia sedang membawa orang-orang yang hidup di dalamnya untuk mengambil hal-hal yang menarik dan mengikuti penawarannya. Namun apa yang menarik dalam dunia berbahaya. Contoh : saat jatuh cinta, apa yang membuat orang jatuh cinta dan menikah? Karena ada yang menarik dalam pasangannya. Ada yang mengatakan,”Saya ingin menikah karena ia ganteng (cantik) dan menarik”. Waktu dunia menetapkan apa yang menarik itu berbahaya sekali karena begitu suami (istri) sudah tidak menarik, maka akan ditinggalkan. Itu sebabnya dunia membawa orang untuk terus mencari yang menarik sehingga orang terus mencari “daun muda”.
                Kalau kita bicara tentang games, kesibukan dan entertainment, maka yang ada dalam telepon seluler termasuk BB, ipad dan gadget lainnya itu adalah sesuatu yang menarik. Alkitab itu ditinggalkan karena seperti nya tidak menarik.  Tes singkat untuk membuktikannya, kalau kita ketinggalan Alkitab di gereja, maka biasanya kita kembali lagi ke gereja untuk mengambilnya karena minggu depan pasti ketemu dan tidak akan ada yang mengambil, sehingga tidak perlu balik lagi. Tapi kalau ketinggalan telepon seluler dan di jalan baru teringat, maka kita akan kembali. Karena itu yang menarik kita. Menarik karena dimasukkan hal-hal yang bersifat kebutuhan dalam hidup kita. Waktu dulu kecil , saya memperhatikan tukang tape yang menjajakan barang dagangannya. Saat ia membuka daun yang membungkus tape, aromanya harum dan lalat pun terbang mengelilinginya. Tapi sekarang tape dibungkus dengan menarik dan dijual di pasar swalayan, maka orang akan membelinya di pasar swalayan dibanding membelinya di tukang tape. Dalam sistem dunia, hal yang dibutuhkan dikemas dengan menarik sehingga orang mencarinya. Yang menarik belum tentu yang utama, ini yang menjadi masalah dalam hidup. Orang senang dengan yang menarik sampai kecanduan, sehingga ada yang terus bermain games tanpa  menghiraukan waktu. Kemarin ada berita seorang anak SD jatuh dari lantai 4 karena ia takut ada razia telepon seluler gurunya. Sekolahnya  melarang siswa membawa telepon seluler  tapi dilanggar karena menarik dalam hidup anak sekolah. Itu sebabnya ia rela melanggar aturan sekolahnya. Saat guru menerangkan pelajaran, ada siswa yang sepertinya menyimak padahal sedang memencet tombol di telpon selulernya atau bermain games.. Saat ibadah berlangsung, saya suka duduk di antara jemaat. Sementara pembicara berkhotbah, ada jemaat yang sibuk main telepon seluler. Saya melihat hal yang menarik dunia mengalahkan yang utama. Itu sebabnya saya menghimbau jemaat, kalau ke gereja sebaiknya membawa Alkitab, kecuali bisa mendisiplinkan diri untuk membaca Alkitab di telepon seluler (tidak tergoda untuk melihat pesan). Godaannya waktu buka Alkitab di telepon seluler adalah pada saat bersamaan ada pesan masuk. Karena dikira ada order dari pembeli yang masuk, maka ia tergoda untuk membukanya.
                Pengusaha tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapat order. Ini tidak mudah karena merupakan sesuatu yang menarik diminati dunia ini. Hal ini berbeda dengan apa yang diteladankan Rasul Paulus ke Timortius.  Dalam 2 Tim 4:13 Rasul Paulus yang sedang di penjara menulis surat ke Timotius Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu. Rasul Paulus hanya mau 2 hal yaitu  jubah dan kitab-kitab (perkamen) yang dibutuhkan. Ia meminta jubah karena secara fisik ia kedinginan sehingga ia butuh jubah untuk menutupi badannya. Tetapi kebutuhnan jiwa dan rohaninya diperhatikan supaya ia dibawakan kitab-kitab untuk memenuhi kebutuhan rohani. Saat saya menjadi pengacara dan mengadakan pelawatan ke penjara, saya melihat banyak orang datang membesuk keluarganya yang di penjara. Ada seorang ibu yang membawa rantang yang cukup besar yang berisi daging rendang dan jengkol kesukaan suaminya. Bagi sang suami daging rending dan jengkol merupakan makanan yang penting. Waktu yang utama itu menjadi fokus maka yang lain tidak menjadi fokus.  Semenarik apapun, maka yang lain tidak diperhatikan lagi. Kita tidak akan mengabaikan yang utama demi yang menarik saja. Rasul Paulus seorang Rasul Tuhan yang rohaninya luar biasa, tapi ia tetap membutuhkan Kitab Suci. Itu sebabnya dalam 1 Tim 4:13, ia mengatakan, Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Kata bertekun di sini dalam bahasa aslinya mengandung arti Rasul Paulus mendesak (mendorong) Timotius. Rasul Paulus menganggap membaca Kitab Suci hal yang penting dan mendesak supaya Timotius membaca Kitab Suci sejak kecil. Karena dalam 2 Tim 3:15 dikatakan bahwa sejak kecil Timotius mengenal Kitab Suci dan Rasul Paulus mendesaknya untuk terus membaca Kitab Suci. Rasul Paulus menekankan peran penting Alkitab dalam kehidupan rohani sehingga yang lain tidak menjadi yang utama.

Kitab Suci : Sumber Hikmat

                Kitab Suci memberi hikmat kepada orang yang membacanya. Waktu Salomo hidup, ia mengenal firman Tuhan dan ia diberi hikmat untuk membedakan mana ibu yang asli dan palsu (1 Raja-Raja 3:16-27). Melalui Kitab Suci yang dibaca Salomo, diberikan pikiran yang luar biasa dan berhikmat. Tapi pada masa tuanya, ia tidak lagi membaca Kitab Suci, dan ia lebih percaya kepada Baal yang disembah istrinya, sehingga ia tidak lagi menjadi cemerlang. Kepemimpannya menjadi hancur. Waktu kita membaca Kitab Suci secara teratur , maka Allah akan memberi hidikmat.  Kitab Suci dapat memberi hikmat yang demikian agung dan mulia, karena Kitab Suci diberikan Allah melalui orang yang diutusNya supaya mengatakan apa yang ingin disampaikan. Kitab Suci sebagai sumber hikmat, sehingga bila membacanya kita juga penuh hikmat.
                Ada pepatah yang disampaikan orang Tionghoa : jangan pernah bergaul dengan orang bodoh, karena nanti kamu jadi bodoh, tetapi bergaullah dengan orang yang pintar sehingga kamu menjadi pintar. Saat bergaul dengan orang berhikmat maka kita akan mendapat hikmat. Terdapat 7 hal penting yang diajarkan kepada katekisan dalam membaca Kitab Suci yaitu katekisan belajar membaca Alkitab, belajar melalui alam, belajar dari orang yang memberontak, Yesus menebus dosa manusia, Roh Kudus menyertai orang percaya, gereja tempat orang percaya menjadi tubuh Kristus, malaikat dan setan.   
                Mengapa kita diberi Alkitab oleh Tuhan? Mengapa kita harus membaca Alkitab setiap hari? Supaya orang digerakkan oleh Roh Kudus . sehingga kita mengenal Wahyu Allah (tindakan Allah yang menyatakan sesuatu yang tersembunyi yang tidak mungkin diketahui tanpa dinyatakan). Allah menyatakan diri melalui firman Allah yang ditulis oleh orang yang dipimpinNya. Waktu membaca Kitab Suci, kita juga menemukan Allah yang mengasihi dan tidak membuang orang berdosa. Seberdosa dan sejahat apapun kita, Allah mau mengampuninya. Ini berita yang luar bisa, yang disampaikan Kitab Suci kepada kita. Sehingga yang utama menjadi sesuatu yang sangat penting  agar Timotius membaca kitab suci. Origenes, salah satu bapa gereja (sebutan bagi para teolog dan filsuf yang berpengaruh dan hidup di era awal Gereja Kristen), mengatakan, “Tujuan utama manusia adalah mengenal Tuhan dan  berhubungan secara terus menerus denganNya.” Waktu kita mengenal Dia dalam hubungan yang terus menerus dengan Dia, maka kita akan mengetahui tujuan kita. Pdt. Dr. Stephen Tong (74, pendiri Gereja Reformed Injili Indonesia), mengatakan, “Banyak orang yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, kenapa ia lahir dan ada di dunia. Ia hanya mengatakan bahwa ia lahir karena papa-mama dan itu dianggap cukup.” Tapi Kitab Suci menjelaskan mengapa kita hadir di dunia. Pastor Rick Warren (60, pendiri dan pendeta senior dari Saddleback Church) mengatakan, “Digerakkan oleh tujuan membuat kita menekankan hal yang sama waktu kita tahu apa tujuan hidup kita.” Orang cari duit pintar, tapi tidak tahu apa tujuan hidupnya. Kalau tujuan hidupnya cari uang, maka waktu mati tidak bisa membawa uang. Itu konsekuensi logis, apa yang dicari harusnya bisa dibawa pulang. Waktu melihat orang mati, kita tidak melihat ada orang mati menggenggam uang, padahal manusia giat mencari uang dan tidak mencari Tuhan. Kitab Suci lah yang menjelaskan tentang tujuan hidup kita. Allah menghadirkan kita, agar kita hidup menyenangkan dan taat kepada Dia. Karena Dialah yang menciptakan kita sehingga kita harus sungguh-sungguh menyenangkan hatiNya. Di dalam Kitab Suci kita akan dibawa ke pemikiran rohani yang benar.
                2 Tim 3:1616  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Orang bisa diperbaiki kelakuannya waktu ia menerima firmanNya dan diubahkan. Kita adalah orang berdosa. Hal itu dikatakan Kitab Suci. Namun kalau ada yang berkata kita adalah orang jahat dan berdosa, maka kita marah. Masa orang tua dikatakan orang jahat dan berdosa? Kitab Suci mengatakan hati orang berdosa akan  berubah karena firman Allah berkuasa untuk mengubah hati manusia. Firman Allah untuk menyadarkan manusia bahwa ia membutuhkan Tuhan. Nabi Yesaya menulis,”Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yes 55:11). Firman Allah yang membawa hidup orang-orang suci berarti dalam dunia ini. Tagi pagi saya membaca renungan dari Ibrani 11 tentang saksi-saksi iman yaitu tokoh yang dikisahkan di Kitab Suci yang punya pergumulan dan merenunginya agar dapat menjadi pemenang, karena mereka memiliki iman kepada Allah yang besar. Dari Allah yang menyatakan diriNya dalam Kitab Sucilah mereka dapat menjadi pemenang. Membaca Kitab Suci kita dibawa ke pemahaman  bahwa Allah Maha Besar dan berdaulat atas semua orang. Ia mempunyai kepedulian yang penuh dan menentukan orang-orang. Kesadaran itu membawa orang saleh (contoh : Daniel) tidak takut saat berhadapan dengan gua singa (Daniel 6:16). Bagaimana Daniel berkata bahwa ia tetap ikut Tuhan dan ia dengan berani masuk ke gua singa. Karena kerohanian Daniel bertumbuh dari Kitab Suci yang dibacanya tiap hari. Pergumulan saat membaca Kitab Suci yang membuat kita bertumbuh. Tantangan kita tidak jauh dari pergumulan. Kita mencari uang supaya bisa memberi makanan kepada keluarganya. Hampir sebagian besar uang digunakan untuk makan dalam hidup kita. Sehingga dikatakan “Jangan kawatir. Karena Bapa di surga pasti memelihara kita seperti juga burung-burung di udara (Mat 6:25-26). Saat membacanya kita dapat penghiburan luar biasa, karena kita dipeliharaNya. Sehingga Kitab Suci harus terus dipelihara. Kita tidak tahu seberapa jauh kita dengan semangat membaca Kitab Suci yang merupakan perkataan Tuhan yang sangat berharga. Waktu mengalami hidup baru dan percaya kepada Tuhan, TUhan membiarkan agar kita tetap bisa berkomunikasi denganNya. Dia berikan firman untuk menyertai dan menolong hidup kita. Tanpa memahami, kita akan merasa Alkitab membosankan dan rasanya enggan untuk dibaca. Itu sebabnya Alkitab dianggap seperti obat tidur yang bila tidak bisa tidur tinggal membacanya. Terkadang zaman teknologi yang agak jadul (kuno) dapat membuat kita mengerti arti hubungan. Terkadang teknologi yang canggih tidak membuat kita menjadi romantis dan bahkan tidak membuat hati kita mengekspos perasaan hati kita. Perasaan itu tidak bisa diterjemahkan melalui pesan di telpon seluluer. Tapi waktu kita bisa menulis surat dengan kata-kata dan mengungkapkan isi hati kita, maka yang membacanya bisa berbunga-bunga. Karena surat yang dibaca adalah perkataan hati si penulis untuk menyatakan isi hatinya kepada kekasih.  Saya waktu pacaran membuat surat-surat yang bila dikumpulkan bisa menjadi 1 novel. Apa yang ada di hati, kita tulis dan sampaikan dan waktu dibaca senangnya minta ampun. Kalau merasakan firman Tuhan seperti surat kepada kita, dan itu sangat indah maka kita akan senang membacanya. Karena itulah yang utama dalam hidup rohani kita. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata, manusia tidak hidup dari roti saja tapi dari perkataan yang keluar dari firman Tuhan (Mat 4:4). Perkataan Allah yang digerakkan manusia untuk menulisnya disebut Kitab Suci. Kita dikuatkan dan diingatkan bahwa yang utama adalah firman Allah. Kalau yang utama menjadikan hal-hal yang lain tidak penting, itu membawa kita semangat membaca Kitab Suci.

Penutup


                Kalau dalam sehari kita membaca sekitar 4 pasal maka kita akan selesai membaca Alkitab dalam waktu setahun. Alkitab bisa dibaca dari manapun, ada yang membaca dari kitab Mazmur, kitab-kitab Perjanjian Baru atau bisa juga membaca dari kitab Kejadian sampai Wahyu agar berurutan. Bacalah terus firman Tuhan dan bila ada bagian yang tidak dimengerti dicatat terlebih dahulu untuk ditanyakan ke rohaniawan. Ada ilustrasi yang menggambarkan hal ini. Kalau makan ayam, kita makan dagingnya (bukan tulangnya). Jadi bila bertemu bagian yang “keras” saat membaca Alkitab maka tanyalah rohaniawan. Ada seorang jemaat yang bertanya tentang Saul yang meminta perempuan pemanggil arwah di En-Dor untuk memanggil arwah Samuel (1 Sam 28), apakah roh yang dipanggil itu roh Samuel atau bukan? Setelah mempelajarinya terlebih dahulu, saya katakana bukan, karena orang mati tidak mungkin kembali ke dunia tapi kembai ke Penciptanya, itu bukan Samuel tapi  roh jahat. Hal tentang orang mati tidak mungkin ke dunia orang hidup, kita ketahui dari Kitab Suci (Lukas 16:26). Ada orang yang mencaritahu dari cerita yang mengatakan bahwa roh orang yang meninggal kembali ke rumahnya setelah meninggal. Sehingga ada orang yang tetap sembahyang kepada orang mati setelah meninggal. Padahal Kitab Suci memberi jawaban yang absout (pasti) tentang hal ini dan itu yang utama yang harus menjadi bagian dalam hidup kita. Waktu kita tahu yang utama, maka “yang menarik” tidak menjadi perhatian lagi. 

Sunday, October 5, 2014

Bersama Melayani


Pdt. Karyanto Gunawan

Efesus 4:1-8
1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
3  Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:
4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,
5  satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,
6  satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
7  Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.
8 Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia."

Pendahuluan

                Dalam sebuah konser musik (pagelaran orkestra) terdapat banyak musisi, penyanyi dan alat musik yang beraneka ragam seperti alat musik tiup (aerophone - woodwind & brass), gesek (chordophone - strings) dan  pukul (timpani dan  perkusi). Kalau setiap pemain musik memainkan alatnya tanpa mengikuti arahan dirigennya, maka tidak akan dihasilkan suara yang indah. Alunan suara nan indah terdengar kalau semua musisi dan penyanyi yang tampil bekerjasama sesuai dengan arahan. “In concert” artinya bersama-sama. Di Alkitab Rasul Paulus menggunakan tubuh manusia dalam ilustrasinya. Sebagai orang percaya, setiap kita adalah organ tubuh Kristus. Ada yang berperan sebagai tangan , kaki, hidung, mata , mulut, jantung dll  tapi semuanya adalah satu kesatuan tubuh Kristus dengan Kristus sebagai kepala. Tidak bisa tangan berkata, “Saya adalah organ yang paling penting.” Di dalam satu tubuh Kristus semuanya penting, baik yang tua atau muda, laki-laki atau perempuan semuanya penting. Kita semuanya keluarga besar (satu tubuh Kristus). Mahub Junaidi (81, kolumnis dari kalangan NU) menulis. Suatu ketika organ-organ tubuh mengadakan rapat penting. Di dalam rapat itu, masing-masing organ menyombongkan diri. Mata berkata, “Kalau tidak ada saya, hidupmu hambar. Kalian tidak bisa menikmati bunga di taman yang berwarna-warni dan cantik. Tanpa saya, apa artinya hidup?” Lalu hidung berkata, “Tanpa saya, kamu juga tidak bisa menikmati aroma semerbak bunga di taman.” Singkat cerita, setelah masing-masing membanggakan dirinya, si jantung berkata dengan tenang, “Apalah artinya kalian semua, kalau saya berhenti bekerja maka tamatlah hidupmu!” Lalu mata, hidung, telinga, dan semuanya terdiam. Karena mereka sadar, kalau jantung benar-benar berhenti bekerja, maka dokter akan memastikan bahwa hidup sudah berakhir. Kemudian bubarlah rapat itu dan masing-masing pulang. Dubur (anus) yang hanya diam saja dalam rapat tersebut merasa kecewa dan memutuskan untuk mogok bekerja. Hari pertama, si tubuh bangun pagi. Setelah minum air segelas, tubuh masuk ke kamar mandi untuk buang air besar, namun dubur tidak melakukan tugasnya. Keesokan harinya juga sama. Hari ketiga, perut mulai mulas-mulas dan terasa kembung, Setelah makan papaya, tetap tidak bisa buang air besar. Hari kelima mata mulai berkunang-kunang, telinga sedikit tuli dan kepala sedikit pusing. Lalu diadakan rapat untuk mencari tahu  penyebabnya. Rupanya dubur tidak terima kalau disepelekan begitu saja. Ia melakukan protes dengan tidak mau bekerja. Akhirnya organ-organ lain datang, meminta maaf dan mengakui bahwa peran dubur pun penting.
               
Hal-Hal Penting agar Dapat Melayani Bersama

                Di dalam satu gereja ada rohaniawan dan kaum awam, ada pengurus dan jemaat biasa. Alkitab mengatakan bahwa semuanya penting. Bukan saja rohaniawan dan majelis yang akan diteguhkan, namun juga ada jemaat yang mengangkat kursi  semuanya mulia dengan tugas kita masing-masing. Baik singer, operator LCD dan anggota paduan suara, semuanya berharga di mata Tuhan kalau kita melakukannya dengan hati yang dipersembahkan kepada Tuhan. Tanpa ada orang “yang menyiapkan dan mengangkat kursi” maka suasananya lain. Semuanya penting di mata Tuhan. Efesus 4 memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita bisa menjadi satu keluarga dalam melayani dan semua mengambil bagian dalam pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita :

1.     Rendah hati (tapeinophrosunês). Ada sebuah ilustrasi tentang kerendahan hati (lowliness). Di Katolik terdapat banyak ordo. Suatu kali, seorang rohaniawan Katolik dari suatu ordo berkata kepada temannya, “Secara intelektual kita harus mengakui kalangan Jesuit sangat mumpuni dan berasal dari kalangan akademisi. Dalam hal pelayanan kita akui kehebatan ordo Fransiskan yang pergi ke daerah-daerah  terpencil untuk melayani Tuhan. Namun kalau berbicara tentang kerendahan-hati, tidak ada yang bisa menandingi ordo kami.” Pernyataan tersebut merupakan sebuah paradox karena saat kita mengakui diri sendiri rendah-hati, maka pada saat itulah kita menyatakan diri sebagai orang yang tinggi hati. Sebagai anggota tubuh Kristus, syarat agar bisa sama-sama melayani adalah kerendahan hati. Jemaat yang pendidikannya doktor (S3) harus  rendah hati karena di gereja ada yang tidak berpendidikan. Demikian juga jemaat yang kaya harus rendah hati karena di gereja ada jemaat yang hidupnya sangat sederhana. Kalau semua jemaat yang datang kaya-kaya (tidak ada yang miskin), perlu dipertanyakan alasannya (mengapa orang miskin tidak mau datang?). Di Sulawesi ada satu-satunya gereja Tionghoa sehingga berkumpullah para pengusaha kaya di daerah itu (pengusaha pertambangan, grosir, pariwisata dll). Saat saya dijemput majelis dan  hamba Tuhan dari gereja tersebut majelisnya berkata, “Pak, gereja kita susah karena tidak ada yang mau mengalah. Rapat bisa berjam-jam tanpa ada hasil. Hal ini disebabkan karena mereka adalah orang-orang kaya semua. Ada teman saat kuliah S1, ia dikenal rendah hati. Saat ia mendapat kesempatan mengambil S2 dan lulus, ia menjadi berbeda. Ternyata gelar bisa mengubah orang. Seharusnya semakin berisi padi itu makin merunduk karena berat. Semakin bergelar tinggi seharusnya semakin sadar bahwa terdapat  semakin banyak yang tidak diketahui. Realita di kehidupan kita, semakin banyak gelar, orang semakin angkuh. Hal yang tidak boleh tidak ada, kalau ingin mau melayani bersama-sama adalah kerendahan hati (bukan rendah diri). Tuhan menentang orang yang congkak dan tinggi hati , tetapi mengasihani orang yang rendah hati (Yak 4:6) . Kalau hidup kita ditentang Tuhan, maka celakalah hidup kita. Kalau hidup kita dikasihani Tuhan, adakah hal di dunia ini yang membuat kita gelisah? Tidak ada. Karena Tuhan mengasihani orang yang rendah hati. Lalu saya katakan ke majelis dan hamba Tuhan, saya pernah melihat sendiri ada gereja di Jakarta dimana seorang direksi BCA berjemaat. Tugasnya di gereja adalah mengedarkan kantong kolekte. Jarang ia maju ke depan dan berbicara atau berpidato. Sewaktu ia menyodorkan kantong kolekte, jemaat lain tidak enak hati. Faktanya : semakin orang rendah hati walau berpendidikan tinggi, orang menjadi segan menghadapinya. Orang kaya yang rendah hati membuat orang tetap hormat kepadanya. Tapi bila ada gelar Ph.D. (S3), professor atau karena kekayaan, lalu orang menjadi arogan (sombong) maka orang lain tidak akan menghormatinya.

2.     Lemah Lembut (praotêtos).  Meekness is not weakness. Kelemahlembutan (meekness) bukanlah kelemahan (weakness). Kalau ada orang  yang suka emosi (marah dan suka menuding-nuding), mungkin ia ingin menyembunyikan kelemahannya dengan kemarahan (kepada keluarga, orang yang lebih rendah atau rekan kerja). Kalau ada orang yang bisa mengendalikan dirinya agar tetap lemah lembut, maka ia pasti bukan orang yang sembarangan. Orang yang lemah lembut tidak mudah melukai orang lain dan terlukai.  Menjadi orang yang tidak mudah terlukai penting dalam melayani.

3.     Sabar (makrothumias, longsuffering). Setiap orang berbeda dengan diri kita. Perlu waktu dan proses untuk melatih dan membina orang lain.  Untuk memiliki pemahaman yang sama perlu kesabaran.

4.     Kasih (agape,love). Pelayanan kita, pengorbanan kita, apapun yang kita lakukan bagi pekerjaan Tuhan haruslah muncul dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia mencari Petrus dalam segala kegalauannya. Setelah bertemu Ia bertanya, “Petrus, apakah engkau mengasihi Aku?” Dasar yang paling penting dalam melayani adalah kasih kepada Tuhan dan sesama.
         
Penutup

                Sewaktu kuliah saya aktif dalam kegiatan mahasiswa. Suatu kali ada masalah sehingga kami, para aktivis, dipanggil menghadap pembantu rektor. Ia mengatakan kepada kami, “Anak-anakku di dalam satu keluarga saja, kita bisa berbeda pendapat (konflik). Apalagi kita di sini  tidak ada yang berasal dari darah daging (keturunan) yang sama. Latar belakang kita berbeda-beda. Marilah kita selesaikan konflik di antara kita.” Itu kalimat yang puluhan tahun saya tidak lupakan. Di gereja ini terdapat banyak orang. Bayangkan saja bila ada  100 jemaat dengan  100 otak, maka kemauan, pikiran dan pendapatnya tentu berbeda-beda sehingga diperlukan kasih, kerendahanhati, kelemahlembutan dan kesabaran untuk menyatukannya. Kalau tidak ada yang mau mengalah dan semuanya ingin menonjol sendiri, maka kita tidak akan mendapatkan ‘alunan musik’ yang indah. Musik indah hanya bisa dihasilkan kalau semua musisi dengan instrumen musiknya berperan sesuai dengan pengarahan dirigen. Jika semua jajaran hamba Tuhan,  aktivis dan jemaat bekerjasama melayani Tuhan, maka gereja akan terus berkembang dan menjadi berkat buat sesama.


Sunday, September 28, 2014

Kobarkan Kasih yang Mula-Mula

Ev. Susana Heng

Wahyu 2:1-7
1   "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
3  Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
4  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
6  Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
7  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

1 Kor 13:1-3
1   Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
2  Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
3  Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Pendahuluan

                Sewaktu SMA, tepat di depan saya duduk seorang anak laki-laki. Sepanjang pelajaran kepalanya dimiringkan dan ia seringkali menoleh ke belakang. Karena berada di belakangnya , tingkah lakunya mengganggu saya. Ternyata hal tersebut dilakukan karena ada teman sekelas yang ditaksirnya. Hal tersebut dilakukan dari hari ke hari, walau akhirnya ia tidak melakukannya lagi. Saat jatuh cinta, orang akan melakukan hal-hal yang memerlukan pengorbanan dan dengan rela melakukannya. Ada pemuda yang baru lewat di  depan rumah pemudi yang ditaksirnya, hatinya sudah gemetaran. Padahal ia belum mengetuk pintu, bertemu bahkan belum berbicara dengan sang pemudi, tapi hatinya sudah gemetar. Saat manusia jatuh cinta, ia merasakan adanya getaran seperti arus listrik (magnit) untuk terus bisa berada bersama kekasihnya. Itulah perasaan yang manusia rasakan saat jatuh cinta dengan orang lain dan juga kepada Tuhan!

Tuhan Melihat Hati

                Saat pertama kali mengenal dan percaya, orang tidak pernah bosan berada dekat dengan Tuhan. Ada yang membaca seluruh bagian Alkitab dalam waktu beberapa bulan saja. Karena di dalam hatinya ada Kristus. Pada Wahyu 2:2-3 ada pujian kepada jemaat di Efesus yang dibangun oleh Rasul Paulus yang kemudian mengembangkan penginjilan di sana.  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.  Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Jemaat ini dipuji di ayat 2 sebagai jemaat yang tekun, tidak mengenal lelah , tidak sabar terhadap orang jahat dan pendusta, sabar menderita karena nama Tuhan. Berbeda dengan kondisi kita saat ini.  Sedikit dari kita yang menderita karena nama Tuhan. Kita bebas datang ke gereja. Tapi pada ayat 4 dikatakan, Tuhan mencela mereka. Walaupun jemat Efesus giat melayani Tuhan dan rela menderita karena nama Tuhan tapi mereka dicela Tuhan karena telah meninggalkan kasih yang semula! Jadi walaupun mereka rela mengorbankan semuanya termasuk tubuh, namun semuanya sia-sia. Tuhan melihat hati. Berbeda dengan kita yang melihat keaktifan (kegiatan) dan menganggap apa yang dilakukan sama dengan apa yang ada di hati.
                Banyak di antara kita sudah menikah. Pada awal pernikahan, ada suami yang saat bangun pagi memberi kecupan kepada istrinya , pulang kerja dan kembali ke rumah tepat waktu dan terus melakukannya bertahun-tahun kemudian. Namun suatu kali sang istri menemukan buku harian sang suami yang mengatakan bahwa dia bosan setiap hari melakukan kegiatan rutin seperti itu dan sudah merasa hambar dalam hubungannya dengan sang istri. Dulu saat menyentuh tangan istri seperti ada getaran, tapi setelah bertahun-tahun sang suami melakukannya karena rutinitas dan takut kalau tidak melakukannya, sang istri akan mengajukan keberatan. Jadi sang suami merasa terpaksa melakukannya. Setelah sang istri membacanya, dia mungkin bertanya-tanya dalam hatinya apakah dia sudah kurang cantik sehingga tidak ada setruman lagi. Bila suami tidak sayang setelah bertahun-tahun, apakah akan dibiarkan saja? Sebagai istri, kita tentu ingin cinta suami sampai maut memisahkan. Kalau tidak seperti itu, kita akan merasa sedih dan akan terus berdoa agar suami tetap mengasihi kita. Tuhan melihat hati. Tuhan bukan sekedar melihat apakah setiap  minggu kita datang ke gereja, duduk di tempat yang sama di gereja, terus menyanyi walau suaranya sudah serak, rutin mengikuti jadwal besuk dll. Tapi kalau Tuhan melihat hal-hal tersebut sebagai suatu kegiatan dan tidak ada kasih , maka Tuhan akan mencela seperti yang disampaikannya kepada jemaat di Efesus. Tuhan tidak mau kita melayani karena tidak enak dengan pendeta, atau datang ke gereja supaya tidak dibesuk dll. Tuhan tidak menghendaki hal seperti itu. Tuhan tidak melihat kegiatan di gereja tapi melayani dengan hati yang tertuju kepadaNya karena Allah adalah kasih.

Pentingnya Kasih

                Tuhan menegur jemaat di Efesus bukan karena tidak rajin melayani tapi karena kehilangan kasih yang semula. Kasih (semula) itu sangat penting. Kebanyakan yang dibicarakan orang sekarang adalah kepentingan pribadi. Bagaimana saya berhasil walau membuat orang lain menderita? Bagaimana saya tetap baik dan membiarkan orang lain menderita? Bagaimana saya berkuasa walau menginjak orang lain? Kita melihat hal seperti ini di mana-mana. Allah mengatakan Allah adalah kasih, supaya kita mengasihi Tuhan dengan sunguh-sungguh  dan kasih itu dipancarkan ke dunia karena dunia sudah kehilangan kasih. Hari Jumat lalu, kita melihat para politikus yang hanya memikirkan kepentingan mereka. Dunia mementingkan kuasa, sehingga harus kembali kepada kasih mula-mula. Di antara kita , mungkin ada yang telah mendengar firman Tuhan ribuan kali dan bahkan sudah hapal. Tetapi apakah kasih itu masih ada dalam hati kita dan membara dalam hidup kita? Tanpa kasih, saat datang ke gereja , hanya duduk saja, banyak mencela dan merasa tidak diperhatikan. Tetapi jikalau kita mengasihi Tuhan, maka kita akan berpikir tentang apa yang akan saya berikan kepada Tuhan.
                Saat saya dulu melayani di komisi remaja GKKK Madu, setiap 2 tahun sekali diadakan retreat. Berbeda dengan retreat orang tua yang diwarnai dengan keluhan seperti kamar tidak cocok, makanan tidak enak, susah naik-turun tangga dll. Anehnya dulu waktu retreat remaja setiap kali kekurangan dana, para anak muda mencari  dana sendiri. Suatu kali ada 1 dari 2 bus yang ditumpangi saat retreat mogok di Puncak Pass, saat itu saya sudah sampai di lokasi. Komunikasi saat itu juga belum secanggih sekarang. Anak-anak muda di bus yang mogok perlu diberi makan. Setelah bus yang tidak bermasalah sampai di lokasi retreat dan pengemudinya diminta untuk menjemput penumpang bus yang mogok, ia tidak bersedia. Akhirnya setelah diberi uang, barulah ia mau menjemput. Akhirnya pk 20 penumpang bus yang mogok baru sampai. Mereka turun dari bus dan mengangkat barang-barang berat sendiri. Tidak ada satu pun yang mengeluh. Mereka melayani Tuhan dengan tulus. Ssaya merasakan persekutuan remaja  itu sebagai rumah saya. Ada sukacita saat melihat anak muda melayani dengan tulus. Hati saya tersentuh. Mereka tidak mencela walau banyak kekurangan. Menghadapi masalah dan kesulitan, kita berdoa bersama. Tidak ada yang komplain bahwa panitia mencari bus yang murahan. Saat itu, peserta memakan apa yang disediakan begitu saja tanpa protes, karena mereka dengan sukacita dan tulus hati melayani Tuhan. Bila hati merasa tidak ada kasih di gereja, kita harus introspeksi apakah kita sendiri memiliki kasih. Kalau ada kasih, kita akan menangis dan berdoa untuk tempat ini. Walaupun gereja kecil dan punya masalah , maka kita akan berdoa karena ada kasih Tuhan dan kasih persaudaraan di gereja. Jemaat tidak hanya datang ke gereja, mendengar khotbah lalu pulang dan merasa tanggungjawab sebagai orang Kristen sudah selesai. Kita mendengar firman Tuhan bukan dengan otak saja tapi dengan hati yang siap menerimanya. Mungkin pembicara yang berkhotbah bukan orang yang fasih lidah, tetapi setiap firman bisa berbicara. Kita sudah mendoakan dan mengerjakan bersama-sama , karena kita mengasihi gereja Tuhan di tempat ini. Bukan gedung gereja besar yang membuat kita bersuka cita. Ada yang pindah gereja, karena merasa kurang, padahal di gereja lain juga akan mengalami masalah. Kalau kita mengasihi gereja kita, kita adakan berdoa di dalam doa pribadi kita. Itu yang Tuhan inginkan dalam gereja. Bukan banyak acara (program) di gereja yang membuat kita bersukacita. Acara itu seperti casing telepon seluler. Kalau hanya casing saja maka tidak bisa digunakan untuk menelepon. Perkataan bahwa “Tuhan melihat kamu baik karena orang lain yang mengatakan” hanyalah  casing saja. Tuhan bilang baik kalau ada kasih di dalamnya. Hari ini Tuhan tidak minta macam-macam dari kita. Jemaat Efesus yang rela menderita memiliki satu kesalahan yakni  meninggalkan kasih yang mula-mula dan Tuhan menegurnya keras sekali dan menyuruhnya bertobat. Tuhan mau agar ada kasih dalam hati dan membuat kita merasa nyaman di gereja. Saat melayani persekutuan remaja di tempat ini, setiap minggu tanpa weker saya bisa bangun, karena ingin bertemu dengan para remaja dan ingin melayani bersama-sama. Walau kekurangan dana, tapi ada kasih yang ingin melayani Tuhan. Saat saya sharing tentang kesulitan yang dihadapi, semua mendukung. Itu yang Tuhan mau di antara kita. Kita bersatu di dalam kasih, baru bisa mengorbankan kasih yang mula-mula.

Penutup

                Pada 1 Yoh 4:10  dikatakan Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita sehingga wajar bila kita mengasihi Tuhan. Kita telah melihat kasih Tuhan yang rela berkorban dan mati bagi kita, sehingga kita juga mengasihi gereja dan jemaatNya. Dia berkata, “kembalilah kepada kasih semula”. Kita perlu kembali kepada kasih semula. Tanpa kasih ,semua yang kita lakukan sia-sia. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat 22:37). Kita datang beribadah bukan karena hal yang lain, kita duduk di gereja karena kita mengasihi Tuhan!




Sunday, September 21, 2014

Dunia Membencimu, Jangan Takut


Ev Susan Maqdalena (Kwok)

Daniel 3 : 16-23, 27
16  Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17  Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.
20  Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
21  Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22  Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23  Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
27  Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.

Pendahuluan

                Dunia tidak akan membenci kita bila kita mengikuti cara-cara dunia. Namun setiap orang percaya akan merasakan pertentangan yang mengganggu dan “menakutkan”, saat ingin melakukan kebenaran firman Tuhan. Karena ada banyak cara dunia membuat kita beralih dari iman percaya kepada Tuhan Yesus. Suatu kali di kantor imigrasi saya bertemu dan berbicang-bincang dengan seorang Kristen yang mempunyai 2 KTP. Dalam KTP yang satu agamanya tertulis Kristen sedangkan yang lain non Kristen. Hal ini dilakukan karena berdasarkan pengalaman, dia ditolak saat melamar pekerjaan karena beragama Kristen. Sehingga teman-temannya memberi nasehat agar bila pergi ke tempat yang berlatar non Kristen, ia mengeluarkan KTP yang beragama non Kristen dan sebaliknya. Dia akhirnya bisa sukses dengan cara tersebut. Hal ini membuktikan bahwa selama mengikuti cara dunia, maka ia akan sukses. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pekerjaan dan jabatan tertentu dikhususkan untuk warga yang non Kristen. Hal ini membuat orang Kristen tergoda untuk membuat 2 KTP atau lebih. Karena bila tidak demikian, maka dia sepertinya tidak akan punya karir dan uang untuk membiayai keluarganya. Bukankah kebencian dunia mengakibatkan kita yang ingin hidup dalam kebenaran menjadi “takut”? Ketakutan ini membuat kita tidak tahu bagaimana harus berbuat saat menghadapi kebutuhan hidup. Contoh : ketika anak harus membayar uang kuliah (sekolah) dan  kita tidak punya uang , membuat kita takut. 

Jangan Takut bila Dunia Membencimu, Tetaplah Setia Mengikuti Tuhan Yesus

                Sadrakh Mesakh dan Abedengo menghadapi tantangan antara hidup dan mati saat hidup dalam pembuangan di kerajaan Babel yang dipimpin oleh Raja Nebukadnezar, Hal ini disebabkan oleh keinginan raja untuk mengokohkan pemerintahannya dengan membangun patung dirinya yang tinggi besar dan mengharuskan setiap penduduk menyembah patung tersebut. Barang siapa tidak mau menyembahnya, maka orang itu akan dibunuh. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dimasukkan ke  perapian karena mereka tidak mau sujud menyembah patung tersebut. Bahkan dalam kemarahan, raja membuat perapian itu tujuh kali lebih panas dari biasa. Apa yang harus diperbuat kalau kita menghadapi kondisi seperti itu?
                Ada video di dunia maya tentang seorang anggota Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)  yang memengggal wartawan Amerika James Foley pada bulan Agustus 2014 dengan luar biasa sadisnya. Ada banyak orang yang dihadapkan pada keputusan antara hidup dan mati (dengan pedang ditodong ke leher bila tidak melakukan hal yang dikehendaki sang pengancam). Bila kita yang menghadapinya, mungkin kita berpikir tidak ingin mati (dipenggal) karena ada anak, cucu dan keluarga yang tergantung pada kita. Sebagai orang yang tidak menghadapi kondisi tersebut secara langsung, mungkin kita berkata, tidak akan mengikuti kehendak sang pengancam untuk mengubah kepercayaan kita. Ternyata wartawan Amerika itu setelah mengikuti kehendak sang pengancam agar tetap hidup, akhirnya tetap dibunuh.  Itulah kebencian dunia yang bisa membuat kita kadangkala tidak kuat.
                Alkitab mengajarkan kita untuk tetap setia setia kepada Tuhan saat dihadapi hukuman mati, Pada ayat 16-17 dikatakan, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: " Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja.” Dalam keadaan nyaman kita bisa mengucapkan kalimat seperti ini, tetapi saat terpuruk (menghadapi kematian, penyakit menahun) apakah kita masih sanggup mengatakannya? Mereka percaya Allah sanggup melepaskan mereka, karena mereka punya pemahaman yang jelas tentang Allah melalui penyelidikan Kitab Suci dan pengenalan kepada Allah. Firman Tuhan menguatkan hati mereka dan memunculkan iman bahwa Allah pasti sanggup menolong mereka.
                Tetapi di dalam ayat 18 dikatakan, “tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Kalimat yang diikuti dengan kata “tetapi” menunjukkan prasyarat yang tidak dipenuhi sehingga akhirnya apa yang ingin dilakukan batal. Namun kata “tetapi” yang dimaksud oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego, tidak seperti itu malah yang dimaksud mereka memperkuat keyakinan mereka bahwa Allah sanggup tapi Allah tidak harus mengerjakannya. Hal ini seperti kalimat “Allah sanggup menyembuhkan penyakit saya tetapi tidak harus menyembuhkan” karena Allah mempunyai otoritas, Allah sanggup melepaskan Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari dapur api tetapi tidak harus melakukannya. Ini pemahaman yang luar biasa yang harus dimiliki dalam perjalanan kita dengan Tuhan. Allah yang punya hak, bukan saya. Allah bukan pembantu kita, melainkan kita yang derajatnya lebih rendah. Sehingg segala sesuatu terserah Allah. Itu sebabnya mereka sanggup mengucapkan kalimat bahwa mereka tidak akan menyembah patung sang raja walau harus mati terbakar di dapur api. Apa yang menjadi dapur api kita? Mungkin kesehatan, ekonomi atau  anak kita. Tetapi saat menghadapi dapur api, kita percaya Allah sanggup menolong walau belum jelas pertolongan Tuhan. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dengan kerendahan hati mengatakan, “Walaupun Tuhan tidak menolong, engkaulah tetap Allah yang saya percaya.” Yang sering terjadi dalam kehidupan kita seringkali sebaliknya. Allah itu dijadikan seperti pembantu kita walau dengan “cara halus”. Misalnya dalam doa berkata, “Tuhan, tolong saya. Kalau tidak minggu depan saya tidak mau ke gereja lagi (atau tidak mau memberi perpuluhan., tidak mau melayani lagi). Sadrakh, Mesakh dan Abednego justru sebaliknya. “Kalau pun Allah tidak mau melepaskan, saya akan tetap percaya, melayani Dia dan tidak mau sujud menyembah kepada patung”. Inilah keteguhan iman. Keteguhan iman akan menghasilkan sikap rela menanggung kesusahan. Iman akan menjadi teguh saat menghadapi kesulitan, itu sebabnya orang yang diproses Tuhan, akan rela memikul kesulitan.
                Allah ingin kita konsisten (stabil) dalam mengikuti Dia. Mungkin ada pasang surut dan jatuh bangun tetapi tetap di dalam Dia. Sadrakh, Mesakh dan Abednego  percaya Tuhan dan melayani Tuhan dari kecil sampai dewasa dan selamanya. Dari orang yang tidak punya apa-apa sampai punya semuanya tetap percaya kepada Tuhan. Itulah konsisten. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dipersulit dalam ibadah, tetapi tetap mau beribadah. Kita yang bebas beribadah, seringkali sulit beribadah. Ada 1001 alasan yang kita kemukakan untuk tidak beribadah. Mereka mengalami kesulitan namun di tengah kesulitan mereka tetap melayani. Kita yang bebas beribadah namun tidak mau melayani, perlu mengevaluasi diri kita.

Penutup


                Apa kebencian dunia yang membuat kita sebagai orang Kristen takut?  Ketika ingin melakukan usaha dengan jujur, dunia bisa membenci kita. Kita harus berhati-hati , tetapi jangan takut. Karena kesuksesan dan keberhasilan adalah berkat yang diberikan Tuhan kepada anak-anakNya sesuai takaran masing-masing. Ada orang muda yang takut karena tidak punya teman hidup setelah lama mencari sehingga sembarangan memilih. Seharusnya setiap orang muda berhati-hati dan jangan takut. Setiap orang dipanggil dengan cara berbeda-beda.  Ada orang yang dipanggil untuk menikah dan ada juga yang tidak. Sebagai karyawan di perusahaan (kantor) , kita juga harus berhati-hati, tetapi jangan takut. Selama kita menunjukkan suatu pekerjaan yang baik, dan setia, percayalah Tuhan akan menyertai. Ada artikel singkat tentang belajar dari semut. Amsal 30:25 semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas,. Semut mempersiapkan hari depannya dengan mencari makanan, sehingga ketika musim dingin tiba mereka siap menyambutnya. Bagaimana dengan kita? Ketika musim kesusahan tiba, apakah kita siap? Seharusnya kita belajar seperti semut. Berusaha dengan tidak mengenal lelah untuk mencari kekayaan dan kebenaran rohani. (yang sudah Allah sediakan di dalam firman). Hidup tidak selalu rata dan terkadang kita terpuruk ke dalamnya, itulah hari kesusahan. Apakah kita siap menghadapinya?