Saturday, June 28, 2014

Allah Mencarimu, di Manakah Engkau?


Pdt. Gunar Sahari

Kej 3:1-10
1   Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4  Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5  tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
6   Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
7  Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
8  Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
9   Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
10  Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

Maz 139,7-12
7   Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
8  Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
9  Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
10  juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
11  Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
12  maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Pendahuluan

                Ada pepatah mengatakan, “Mau jadi apakah anda nanti tergantung dengan siapa anda berjalan hari ini”. Jadi kalau mau jadi pengusaha (pendeta) di ujung perjalanan anda, berjalanlah dengan pengusaha (pendeta). Demikian juga dengan Adam dan Hawa kalau mau terus berada bersama dengan Tuhan, maka seharusnya mereka terus menerus berjalan dengan Tuhan. Namun kenyataannya berbeda. Pada pasal 1 dan 2, mereka berjalan bersama Tuhan, namun pada pasal 3 mereka berjalan dengan iblis sehingga hubungan manusia dan Tuhan terputus. Maka jangan sekali-kali melibatkan iblis dalam pembicaraan apapun juga karena iblis memberi pengaruh dalam hidup kepada kita. Di samping itu ada juga pepatah yang mengatakan, “Adalah penting bagi kita untuk mengenal siapakah sesama kita tetapi yang lebih penting adalah mengetahui siapakah diri kita (seringkali banyak waktu kita habiskan untuk memikirkan tentang tentangga kita atau orang lain namun kita tidak tahu diri kita sendiri) dan adalah penting mengetahui diri kita, tetapi lebih penting lagi untuk mengetahui siapa Allah kita (karena akan mendatangkan perubahan)”. Pengenalan akan Allah mempunyai dampak besar dalam diri kita. Jadi dari kedua pepatah tersebut, maka seharusnya kita (terus) berjalan bersama Tuhan dan kita mengetahui siapakah Allah kita.

Allah mencarimu!

                Allah mencari manusia, namun kontrasnya manusia bersembunyi. Allah adalah Allah yang Maha Tahu. Pasal 3 ada peristiwa yang sangat tragis dibanding pasal 1 dan 2. Pada saat penciptaan Allah melihat ciptaanNya baik (pasal 1 ayat 4, 10, 12, 18, 21, 25, pasal 2:9 dan sangat baik pasal 1:31). Tetapi pasal 3 ternyata yang baik pada pasal 1 dan 2 berubah total karena manusia jatuh dalam dosa dan bergaul dengan iblis. Padahal Adam dan Hawa berada di taman Eden yang indah dengan beraneka buah-buahan yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Mereka boleh makan apa saja, hanya 1 yang tidak boleh dimakan (Kej 2:17). Tapi justru mereka jatuh di tempat yang sangat indah itu. Sedangkan di Perjanjian Baru (Matius 4:1-11, Yesus setelah 40 hari dan malam berpuasa di padang gurun lalu dicobai oleh iblis sebanyak 3 kali. Yesus berada di tempat yang sulit tetapi Dia sanggup memenangkan godaan. Adam dan Hawa berada di tempat yang menyenangkan dan indah tetapi justru mereka kalah. Artinya kita harus berhati-hati berada di tempat yang nyaman (comfortable zone termasuk di gereja). Kalau di gereja suasananya enak (AC yang sejuk), ada jemaat yang  tertidur. Hati-hati ada di tempat yang aman, usaha yang berjalan baik karena kemungkinan kita tidak lagi bergantung pada Tuhan tapi bergantung pada diri sendiri. Yang terjadi kemudian manusia jatuh dan mengalami dosa dalam banyak hal yang dialami manusia.

                Seorang guru Sekolah Minggu (SM) yang memberikan tugas kepada anak-anak SM untuk melukiskan seperti apa Allah. Ada anak yang melukis langit dan bumi karena Allah itu Sang Pencipta. Ada yang mengambarkan telapak tangan karena Allah menciptakan semua ini, Allah yang berbuat, berkarya dan terus bekerja. Ada juga yang menggambar Allah sebagai mata yang besar sekali, dengan alasan Allah melihat dimana pun kita berada. Sembunyi di manapun juga, Allah pun tahu. Termasuk Adam dan Hawa.        Ada juga artikel tentang seorang pengacara yang sangat terkenal. Di belakang meja kantornya ada tulisan “God is nowhere” (Allah tidak berada di manapun juga) dan ia berkata , “Oleh karena itu jangan berdoa”. Sang pengacara punya seorang anak berusia sekitar 4-5 tahun. Anaknya datang ke  kantor ayahnya dan diminta untuk menyalin tulisan yang ada di belakang mejanya. Secara perlahan anaknya mengeja dan menulis kalimat tersebut dan kemudian memberikan kepada ayahnya. Sang ayah pun membaca tulisan anaknya dan terkejut. Ternyata walau semua huruf ada, tapi kalimatnya menjadi berbeda maknanya karena sang anak menulis “God is now here” (Allah sekarang ada di sini).  Anak yang baru bisa mengeja itu memberikan rasa takut kepada kita dengan tulisannya bahwa Allah selalu ada di sini. Allah tahu persis pergumulan gereja dan rumah tangga kita. Allah yang dikatakan “tidak tahu dimana” tapi “now here” (ada di sini). Kalau dikatakan “Allah mencarimu” sebetulnya Allah tidak pernah kehilangan, karena Allah ada di sini. Dengan yakin “Allah ada disini” banyak hal yang bisa dikerjakan karena Allah terus memberi motivasi kepada semua orang untuk terus melayani. Keberadaan Allah juga bisa dilihat pada Maz 139:7-12.

                Kalau kita memperhatikan kasus di kitab Kejadian saat Tuhan bertanya “Di manakah engkau?”, seakan Tuhan tidak tahu apa yang terjadi pada Adam dan Hawa karena memang lebih indah diceritakan seperti itu. Padahal Allah tahu persis (bukan karena Dia tidak tahu) tapi supaya manusia mengatakan yang sebenarnya. Setiap kali berdosa, manusia cenderung tidak mengaku dan mencari kambing hitam. Misalnya Adam menjawab pertanyaan Allah tentang apakah apakah ia memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (Kej 3:12) dan saat Allah bertanya kepada Hawa,” "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Dijawab "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kej 3:13).  Ada sebuah artikel tentang seorang pendeta yang berkhotbah pada sebuah KKR dan mengatakan, “Bapak-ibu yang dikasihi Tuhan. Tuhan kasih tahu saya bahwa di sini ada 5 orang yang berselingkuh dengan wanita lain. Bila yang bersangkutan tidak mengaku dan memberi persembahan Rp 1 juta maka akan saya umumkan.” Ternyata setelah diedarkan kantong kolekte dan dihitung ternyata ada 20 amplop berisi Rp 1 juta! Ada juga yang diamplopnya tertulis, “Pak maaf baru Rp 500.000 dulu, sisanya minggu depan.” Ada asumsi dosa lebih kecil dari realitanya. Adam dan Hawa sudah berdosa bukan sekedar mereka makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat saja, tapi ada banyak hal yang dilakukan dan ditutupi dan itu mendatangkan dosa. Asumsi lain : kebenaran selalu lebih besar dibandingkan realita. Kalau dikatakan ada 100 orang benar di tempat ini realitanya tidak ada 100 orang. Contoh lain : waktu Abraham bertanya kepada TUHAN jumlah orang yang benar di Sodom Gomora (Kej 18) bagaimana bila ada 50 orang benar (ayat 24), kemudian diturunkan menjadi 45 orang (ayat 28), 40 orang (ayat 29), 30 orang (ayat 30) dan akhirnya diturunkan menjadi 10 orang (ayat 32).  Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita melakukan banyak kesalahan (dosa) tetapi anugerah Tuhan lebih dari semuanya ini. Allah adalah pribadi yang peduli kepada Adam dan Hawa (manusia) sekalipun sudah jatuh dalam dosa. Maka pertanyaan “Di manakah engkau?” merupakan bukti kepeduliaan Allah kepada orang yang sedang dicari. Biasanya orang yang sudah dikecewakan, tidak peduli lagi. Saat Adam mengatakan, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."  implikasinya , ia menyalahkan Allah. Seakan-akan Adam mengatakan, “Coba kalau Allah tidak memberikan Hawa”. Demikian juga Hawa yang menyalahkan ular (seakan-akan Hawa berkata, “Coba kalau tidak ada ular, aku tidak jatuh dalam dosa”). Mudah bagi kita untuk menyalahkan orang lain dan iblis. Ada sms yang sering kali beredar judulnya “iblis minta pensiun dini”. Dikatakan, iblis berkata,”Hai Lucifer, aku mau pensiun dini karena pekerjaanku sudah digantikan manusa. Dulu aku menggoda mereka untuk korupsi sekarang mereka lebih ahli dan justru mereka pamer ke mana-mana. Aku disalah-salahkan dan yang enak manusia.” Terlalu sering kita menyalahkan orang lain, iblis dan Allah atas perbuatan yang kita lakukan. Namun tidak ada indikasi Allah begitu marah kepada Adam dan Hawa. Allah bertanya kepada Adam, "Di manakah engkau?", "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" dan kepada Hawa "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Adam dan Hawa memberi alasan. Tetapi iblis tidak ditanya Tuhan alasan ia menggoda Hawa. Karena Dia sudah tahu jawaban iblis, “Tuhan lupa ya, pekerjaanku adalah menggoda manusia agar jatuh dalam dosa.” Sehingga jangan pernah bergaul dengan iblis. Iblis yang paling “baik” tetap jahat. Tidak ada jin atau tuyul yang baik. Namanya tuyul tetap saja tidak baik. Jadi iblis tidak perlu dikonfirmasi.

                Maksud Tuhan mengkonfirmasi agar manusia mengaku bahwa ia bersalah. Apapun kesalahan kita, pengakuan itu yang sangat diperlukan. Kita bisa berdosa dengan berjuta cara, namun hanya ada 1 cara untuk mendapatkan pengampunan yaitu pengakuan. Jadi Tuhan diskusi dengan Adam dan Hawa agar mereka mengakuinya. Apapun kesalahan kita, Tuhan merindukan agar kita mengakui dosa kita. Asumsi dosa itu lebih sedikit dibanding realtianya. Ada banyak dosa yang kemungkinan belum kita akui. Tapi Tuhan peduli dan mencari dan menginginkan kita mengakui. Allah mencari kita, karena Dia ingin menyelesaikan masalah itu. Setelah jatuh dalam dosa, mereka sembunyi tetapi Allah mencari mereka sampai menemukannya. Allah juga mencari Yunus sampai menemukannya. Yunus disuruh khotbah ke Niniwi namun dia ingin lari sejauhnya yakni ke Eropa. Dari Israel. Tetapi Allah mencari dan menemukan dia. Itu kepedulian Allah kepada manusia. Saya senang dengan kalimat di sebuah buku teologi, “Yesus yang ada di atas turun ke bawah untuk mencari saya, dan ibu-bapak sekalian yang ada di dunia ini  agar kita bisa naik ke atas dan dipermuliakan.” Itu beda Kristen dan agama. Agama adalah cara dan usaha manusia mencari Allah, tetapi kekristenan adalah cara Allah mencari manusa. Banyak cara orang yang mencari Allah. Satu orang punya cara sendiri untuk mencari Allah. Kalau ada 100 orang, maka ada 100 cara untuk mencari Allah. Allah punya 1 cara untuk mencari miliaran manusia. Padahal manusia menggunakan miliaran cara untuk mencari Allah. Kekristenan berbeda sekali. Allah pasti sanggup mencari kita. Walau persoalan dan pergumulan mungkin coba kita tutupi, tetapi Allah sanggup mencari kita sekalian. Apakah kita seperti Adam dan Hawa yang sedang sembunyi karena kegagalan dan dosa? Allah peduli, memperhatikan dan menemui kita dan memberikan jalan keluar. Pada ayat 15 dikatakan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Manusia diberi pengharapan. Manusia jatuh karena iblis, namun Tuhan memberikan penghiburan , “Jangan takut dan khawatir”. Di kampung anak kecil suka berkelahi. Ada anak nakal yang memukul saya sehingga saya mengadu ke kakak. Kakak saya berkata,”Tenang saja” maka saya jadi tenang. Seakan-akan dia berkata, nanti aku akan selesaikan. Pernyataan Allah membawa kita ke pemikiran tentang keselamatan. Ini pertama kali Allah mendeklarasikan adanya keselamatan (mengevakuasi dan menyelamatkan kita). Jangan pernah takut kalau kita dicari Allah.  Allah sanggup mencari kita. Petemuan kita dengan Allah itu jalan keluarnya! Allah tidak bermasalah dengan kita yang punya masalah tapi tidak mau datang dan ditemui Allah. Allah adalah pribadi yang selalu memberikan jalan keluar apapun masalah dan persoalannya. Allah sangat proaktif mencari. Allah pribadi lepas pribadi bertemu dengan kita.


                Ada kisah menarik. Suatu saat ada perlombaan menghias gereja saat natal. Pemenangnya adalah orang (tim) yang mendekorasi gereja dengan patung Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Tetapi setelah dirayakan , patung Yesus tersebut hilang. Tahun depannya, ada perlombaan yang sama dan kali ini bayi Yesus dilapis emas sehingga menarik luar biasa. Awalnya perlombaan ini akan dibatalkan karena khawatir akan hilang. Namun orang (tim) yang mendekorasi berkata kepada panitia untuk tetap diadakan perlombaan dekorasi dan ia mengatakan, “Nanti kalau hilang lagi, ia siap bertanggung jawab.” Tim ini ternyata memang lagi. Setelah perayaan patung Yesus hilang lagi! Tim penyandang dana mengatakan , “Kita kehilangan banyak”. Untuk tahun ketiga, perlombaan ini dibatalkan. Tetapi orang yang mendekorasi lagi-lagi berkata, “Pa tolong diadakan lagi. Kita akan pasang GPS di patung Yesus untuk cari tahu siapa yang curi.” Ternyata setelah menang, lagi-lagi patung Yesus hilang! Ternyata pertanyaannya, yang hilang itu sebenarnya patung Yesus atau kita? Yang hilang kita! Bukankah yang dicari kita? Maka GPS diganti menjadi God Positioning System supaya Allah bisa menemukan kita karena ada GPS  di dalam hidup kita. Sehingga kita akan ditemukan dimanapun kita berada. Tidak ada satu orang pun dari kita yang terhilang. Ada yang bersembunyi karena persoalan, namun Allah tetap mencari kita. Bagi yang menutupi persoalan, Allah mencari kita. Adam dan Hawa menggunakan daun pohon ara untuk menutupi kesalahan tetapi Allah berbeda dengan manusia. Allah bisa marah luar biasa karena mereka tidak taat kepadaNya. Untuk menyelamatkan manusia harus ada pengorbanan, dan Allah membuat “pakaian dari kulit binatang” untuk menutupi dosa kita. Allah mencari kita untuk diselamatkan  dan diberkati.  

Sunday, June 15, 2014

Belajar dari Keluarga Yosua


Ev. Susan Guo

Yosua 24:14-15, 29
14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.
15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
29 Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.

Pendahuluan

                Hari ini kita memperingati hari ayah internasional dan tema hari ini adalah “Belajar dari Keluarga Yosua”. Beberapa minggu lalu ada sebuah berita yang unik. Seorang kakek berusia 70an meninggal di salah satu kamar hotel. Setelah diperiksa dokter, ternyata dia meninggal akibat mengkonsumsi obat kuat sebelum bermain dengan seorang wanita tuna susila. Sangat tragis sekali, orang setua ini yang seharusnya memberi dan menabur contoh yang baik tetapi didapati meninggal karena hal yang tidak baik. Orang-orang yang mengenalnya akan mengenang peristiwa itu sehingga keluarga dekatnya (orang tua, istri, anak dan cucunya) akan dicemooh. Contoh : “Oh itu  yang engkongnya meninggal karena obat kuat”. Tentu hal ini sangat menyedihkan dan mengecewakan orang-orang dekatnya. Dari sini, seharusnya kita belajar agar tidak melakukan hal seperti itu. Kita tidak boleh seperti dia.
                Beberapa tahun yang lalu, saat saya bersama mu shi berjalan-jalan sore di Ancol ada pemandangan yang tidak biasa. Seorang kakek berusia sekitar 65 tahun sedang bercengkerama mesra dengan seorang gadis berusia sekitar 22 tahun yang bukan merupakan cucunya. Isyarat tubuh sang kakek menunjukkan perlakuan mesra yang tidak sepantasnya kepada sang gadis. Hal tidak seharusnya ini mungkin biasa terjadi di lapangan. Namun kita akan belajar hal yang benar dari keluarga Yosua.

3 Hal yang Dipelajari dari Yosua

                Sebagai pemimpin bangsa Israel dan keluarganya, Yosua telah memimpin dengan baik. Walau di dalam Alkitab tidak banyak diceritakan tentang Yosua dan keluarganya , tetapi Yosua bukanlah pribadi yang sembarangan. Sejak muda sampai tua, ia sangat baik secara rohani (moral dan mental). Buktinya dapat dilihat di ayat 24:14-15 dan 29 yang merupakan perkataan-perkataan Yosua menjelang meninggal. Ada 3 poin yang bisa kita pelajari :

1.     Tantangan terakhir.

Apa yang Yosua katakan merupakan suatu tantangan dan warisan terakhir bagi orang Israel sebelum ia meninggal. Ia tidak punya banyak kesempatan lagi sehingga pada pasal sebelumnya dikatakan bahwa ia mengumpulkan tua-tua, ayah-ayah dan pemimpin Israel. Pada ayat 15, ia mengatakan, “jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah”. Itu adalah pernyataan sekaligus tantangan Yosua kepada Israel yang selama ini “turun-naik” dalam mengikuti Tuhan. Sebelum mati, ia ingin memberi kepastian (konfirmasi) agar Israel memilih Allah yang sejati. Ini pilihan yang diarahkan. Dengan pilihan yang diberikan Yosua, bangsa Israel harus berpikir dan menyelidiki secara pribadi (jangan dengar kata orang, bukan karena tradisi, keturunan, tapi pertobatan pribadi). Namun sayangnya kekristenan di mana pun merupakan kumpulan orang Kristen tradisi di mana pertobatan, perjumpaan, iman pribadi kepada Allah tidak jelas sama sekali. Ke gereja hanya dengar khotbah begitu saja dan pulangnya tidak ada yang membuatnya termotivasi untuk berbuat apa-apa. Dari generasi ke generasi, secara pribadi tidak berjumpa dengan Tuhan. Ini berbahaya! Yosua ingin agar secara pribadi, setiap bangsa Israel menyelidiki hati masing-masing : apakah benar-benar sudah menerima Tuhan? Karena secara kolektif , bangsa Israel adalah umat Allah tetapi secara pribadi apakah benar orang pilihan? Yosua memberi tantangan kepada umat Israel. Dalam kehidupan sekarang, tantangan dan pertanyaan apa yang akan diberikan kepada anak-cucu yang mengorek hati mereka agar mereka benar-benar mengikut Tuhan. Seorang Ibu yang berada mempunyai 13 orang anak (4 perempuan dan sisanya laki-laki). Sebelum meninggal, dia sudah dinasehati untuk membuat warisan yang jelas dan tertulis agar nantinya anak-anaknya tidak ribut dan pecah. Sang ibu berkata tidak perlu karena ia bersama suaminya yang mencari harta, untuk apa mengurus pembagian harta mereka (biarkan saja kalau anak-anaknya ribut). Rupanya dia kecewa, dalam kondisi sehat saja anak-anaknya  sudah meributkan harta warisan. Apalagi saat ia sakit! Ternyata 3 tahun lalu dia meninggal dan anak-anak serta para mantunya benar-benar ribut. Apa tantangan (warisan, pertanyaaan) terakhir yang akan kita berikan kepada orang-orang di sekeliling kita?

2.    Memprioritaskan hal Rohani

    Dalam bahasa sehari-hari Yosua berkata, “tetapi sekarang aku akan kasih tahu, aku sendiri pilih apa. Aku dan seisi rumahku , kami akan beribadah kepada Tuhan (Yahwe, Yehova, Allah). Yosua adalah kepala keluarga yang memprioritaskan hal rohani. Kalimat ini mungkin klise di telinga kita, namun hal yang dianggap sepele seringkali tidak dilakukan dalam hidup kita. Yosua mengambil otoritas dia sebagai ayah, suami, kakek, untuk mengumpulkan ,mengarahkan dan membangun keluarga untuk memprioritaskan hal-hal yang rohani. Yosua dan seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan! Istri, anak, menantu, cucu semua beribadah kepada Tuhan. Bagaimana dengan keluarga Kristen hari ini? Apakah kita memprioritaskan hal rohani? Banyak orang tua yang memaksa anaknya belajar, tetapi terkadang tidak seimbang untuk tidak memaksa anaknya beribadah kepada Tuhan. Terkadang anak dipaksa dalam memilih jurusan di SMA atau universitas walau tidak sesuai hatinya, tetapi kalau (tidak) pergi ke gereja, dikatakan itu hak asasi masing-masing (terserah). Padahal itu adalah hal penting yang harus diarahkan sejak kecil karena orang tua adalah mandataris Allah untuk mengarahkan keluarganya dan itu bukan masalah HAM. Selama menjadi anak kita, ia harus diarahkan, dipupuk, dipelihara, dibangun dalam jalan yang benar untuk beribadah. Saat menghadai banyak ulangan, banyak orang tua yang mengatakan, “Tidak usah ke gereja, belajar saja!” Seolah-olah pergi ke gereja akan menggangu belajar. Ini salah. Kita tidak melihat buahnya sekarang, tapi akan terlihat nanti. Kalau kegiatan gerejawi (seperti latihan) bisa diatur ulang bila ujian, tetapi perintah untuk tidak ke gereja dan beribadah merupakan hal yang sangat salah. Kita harus meletakkan konsep nilai yang benar kepada anak kita sejak kecil. Perintah untuk tidak beribadah berkonotasi beribadah itu tidak penting dan itu akan mewarnai cara belajar anak kita, sikap hidup, keputusan yang akan diambilnya. Itu bukan kesalahan anak yang memupuk nilai  dan memprioritaskan hal yang salah. Ibadah (avodah atau abodah dalam bahasa Ibrani) artinya hormat, taat, tunduk kepada Tuhan. Pergi ke gereja merupakan suatu seremoni yang tidak bisa ditinggalkan, tapi yang lebih penting adalah harus ada sikap ibadah yang ditanamkan. Ibadah tidak akan  berguna kalau hanya sebagai aspek seremonial. Dengan sikap ibadah yang benar, maka kita akan  tunduk kepada Tuhan melalui puji-pujian, firman dll. Sehingga kalau kita tidak mengajar anak sikap beribadah yang benar dan hanya menganggap seremoni saja, maka ibadah akan dihapus dari tata nilai anak kita dan  itu berbahaya!

3.     Konsistensi Iman

     Yosua 24:29 Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun. Sesuah peristiwa-peristiwa ini, Yosua seakan-akan berkata, “kamu yang akan jadi saksi atas ucapanmu”, lalu matilah Yosua bin Nun ketika berumur 110 tahun. Berarti ia memiliki konsistensi iman dan berkesinambungan terus-menerus (dari muda sampai tua dan meninggal).  Iman Yosua dapat kita lihat pada peristiwa runtuhnya tembok Yerikho saat bangsa Israel mau memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua. Ia mengajak bangsa Israel mengelilingi tembok Yerikho sekali selama 6 tari dan pada hari ke tujuh 7 kali dan akhirnya runtuhlah tembok Yerikho. Kalau imannya tidak kuat, Yosua bertanya, “Untuk meruntuhkan tembok Yerikho kenapa hanya berkeliling saja?”. Itulah peran seorang pemimpin untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya untuk percaya dan melakukan hal itu. Jauh sebelum itu, hanya Yosua dan Kaleb (2 dari 12 pengintai yang diutus ke tanah Kanaan) yang membawa berita yang optimis yang muncul dari iman yang percaya. Mereka yakin bahwa Allah yang mengutus dan membawa ke tanah Kanaan bukan Allah yang menipu. Tetapi 10 orang pengintai lainnya membuat takut dengan berkata bahwa “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."(Bil 13:31), "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya . Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bil 13:32-33).” Mereka lupa bahwa mereka akan diberikan tanah Kanaan. Tetapi Yosua dan Kaleb berkata, “Janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bil 14:9) " Itu Yosua saat usianya masih muda. Apakah kita punya konsistensi iman dari muda dan terus-menerus ikut Tuhan? Dalam perjalanan hidup mungkin kita gagal, tetapi dengan konsistensi itu, kita balik lagi percaya Tuhan. Jadi jangan waktu muda aktif tetapi setelah tua meninggalkan Tuhan.

Kesaksian

                Papa saya konsisten dalam iman percaya kepada Tuhan. Saya sangat mengidolakan papa saya. Tetapi suatu kali ia pernah gagal. Waktu saya remaja, papa selingkuh dengan orang lain dan itu membuat saya marah dan benci. Saya paling meledak dalam keluarga dan tidak bisa terima hal ini. Sehingga saya bilang ke mama saya, “Ma tinggalkan dia. Kita saja anak-anak hidup berempat. Tidak usah urus dia”. Bagi saya, ia tidak hanya menghianati mama saja tapi juga saya. Lalu saya bilang, “Mama diajak ngomong tidak mau jawab. Ambil keputusan sekarang!”. Hari itu mama diam saja dan baru 1 minggu kemudian, mama saya berkata, “Kalau papa kamu salah, kita belajar untuk menolong dia supaya dia tidak terus jatuh dalam kesalahannya”. Saya menanggapinya,”Terserah mama. Tapi kalau saya, baju, celana panjang, makan-minuman dia bukan urusan saya lagi”.  Memang sejak SD VI saya sudah biasa cuci baju, pergi ke pasar karena saya diajar mama begitu. Tetapi dengan peristiwa itu, saya berprinsip “Pokoknya mulai hari ini saya tidak mau urusin hal tentang dia”. Mama yang berkata, “Mama yang akan urus”. Hari itu saya bilang, “Mama saya bodoh amat. Kalau saya perempuan saya tidak mau begitu.” Selama 3 tahun yakni saat  SMP kelas 1 sampai kelas 3, walau hidup serumah dengan papa, saya tidak mengurusi makanan-pakaian papa. Saya anggap dia tidak ada di antara kami walau secara fisik ada. Hati saya tawar dan dingin. Saya tidak marah lagi. Namun di kelas 1 SMA saya bertobat dan belajar mengampuni papa saya. Padahal waktu ketahuan selingkuh, papa hanya pacaran saja. Begitu papa melihat betapa bijaknya mama, ia sangat menyesal. Ia melihat sikap mama yang mengampuni yang luar bisa. Waktu 1 SMA saya baru bisa mengampuni papa. Awalnya saya bilang, “Saya benci papa”. Papa saya hanya diam. Semua perasaan saya keluar. Papa saya menangis, sehingga saya ikut menangis. Papa berkata, “Setiap malam, Papa nangis sejak kamu tidak urus papa lagi. Papa tidak membencimu, karena tahu papa salah”. Sampai mati ia tidak melakukan kesalahan yang sama. Ada saat di mana kita gagal. Kegagalan itu tidak membuat kita tertidur dalam kegagalan. Sebagai ayah , suami, istri , anak kita ada kegagalan. Mari kita tidak hidup dalam kegagalan. Kita belajar dan bangkit. Karena Yosua meninggalkan perlajaran yang luar biasa, sampai meninggal, ia hidup dalam iman dan pilihannya tidak salah! 

Monday, June 9, 2014

Generasi X, Y , Z

Generasi X, Y, Z

Ev. Lie Wei Jien

Lukas 16:1-8
1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.
2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.
3  Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.
4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.
5  Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?
6  Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.
7  Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

8  Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

Generasi X, Y dan Z

                Dalam sejarah umat manusia, generasi berubah setelah sekian tahun. Dahulu lamanya satu generasi antara 40-50 tahun sehingga orang tua dan anak berada dalam 1 generasi. Kemudian perubahan lamanya satu generasi bertambah cepat.  Sekarang generasi berubah hanya dalam waktu 10 tahun sehingga generasi orang tua sudah pasti bukan generasi anaknya. Orang-orang yang ada saat ini, berasal dari beberapa generasi yakni :
1.     Generasi yang mengalami Perang Dunia II. Ini adalah generasi yang sudah lama berlalu.
2.     Generasi sesudah PD II dikenal sebagai generasi baby-boomer (banyak anak kecil).  Pada jaman perang banyak orang mati,  tapi setelah perdamaian tercapai terjadi banyak kelahiran.  Umur mereka sekarang 48-65 tahun. Ini adalah orang-orang yang harus membangun negara setelah perang. Saat kecil mereka harus bekerja keras. Tetapi makin lama ekonomi mereka membaik.
3.     Generasi X yaitu anak-anak  dari baby-boomer. Mereka lahir tahun antara 1963-1980. Umurnya sekarang 30-50 tahun. Mereka adalah generasi yang sangat cuek. Tidak mau mengurus orang, seringkali menghindari tanggung jawab. Tidak punya komitmen, tidak focus pada sesuatu. Seringkali bertanya mengapa harus saya? Karena seperti itu, generasi seperti ini sering mengalami perceraian. Meskipun begitu mereka bisa menerima perbedaan (bangsa dan agama dll). Bahkan mereka bisa menerima orang-orang yang mempunyai orientasi seksual yang berbeda seperti LGBT (lesbian, gay, bisex, transgender) yang ditolak oleh generasi yang lebih tua.
4.     Generasi Y yang disebut generasi yang malas. Mereka lahir tahun 1981-1994. Jadi saat ini yang berumur 20-30 tahun masuk generasi ini. Mereka punya pikiran, “Kalau bisa tidak kerja kenapa harus kerja?” Mereka adalah generasi yang berutang. Bukan utang sembarang utang, tapi utang dengan kartu kredit. Kalau mau makan enak, makan dulu bayarnya bulan depan. Generasi-generasi sebelumnya berusaha untuk menabung kalau ingin sesuatu.  Tetapi generasi Y bilang, “Ambil dulu siapa tahu besok mati.” Kalau butuh mobil, gunakan kredit asal uang muka cukup. Bahkan kenikmatan pun bisa didapat sebelum bayar. Generasi sebelumnya kalau mau jalan-jalan, mereka menabung dahulu. Generasi Y akan bilang, “Pergi dulu jalan-jalan, setelah pulang baru bayar.”  Generasi ini ingin mendapat kepuasan segera.  Segala sesuatu harus instan (segera) alias tidak sabar menunggu. Mereka kecanduan internet dan dibesarkan dengan teknologi, gadget dsbnya. Mereka harus on-line 24 jam/hari, 7 hari/minggu, 365 hari/tahun. Mereka selalu berusaha mengikuti teknologi.
5.     Generasi Z. Mereka yang lahir tahun 1995-2009. Umur mereka sekarang 5-20 tahun. Waktu mereka lahir, internet sudah ada. Mereka sulit hidup tanpa mesin pencari (engine search) seperti Google. Mereka menganggap internet sebagai kebutuhan dasar seperti air, listrik yang tidak bisa tidak ada. Mereka lahir dengan fokus teknologi. Seorang ibu yang anaknya baru berumur 7 tahun, tidak memberi anaknya ponsel karena khawatir digunakan untuk main game seharian. Anaknya hanya boleh main setelah papa-mamanya pulang dengan meminjam ponsel papa-mamanya. Jadi setiap papa atau mamanya pulang, ia berseru,”Papa, mama pulang. Handphone…handphone…!” Setelah ia dapat ponsel, akhirnya ia pun bermain. Anak ini akrab dengan teknologi. Suatu kali neneknya punya ponsel baru. Saat ia kebingungan menggunakannya karena terlalu banyak fitur yang ada (biasanya hanya digunakan untuk telpon dan SMS saja), sang anak membantu dengan mempelajari cara memakainya. Hanya dalam waktu beberapa menit, sang anak sudah bisa memakai dan mengajarinya. Itu yang disebut lahir dengan fokus teknologi. Tapi generasi ini belum bekerja karena usianya masih di bawah 20 tahun. Jadi tidak tahu nanti setelah dewasa mereka menjadi apa. Namun diprediksi , mereka akan bergaya hidup dan berkoneksi tinggi dengan high-tech. Mereka sangat ahli menggunakan perangkat media sosial seperti Facebook, Twitter dll
6.     Generasi Alpha yang lahir tahun 2010 – sekarang. Mereka umurnya baru 4 tahun.

Apapun Generasinya, Perlu Penebusan Dosa!

                Generasi berubah semakin cepat dan kita hidup dengan generasi yang berbeda dengan kita. Kita perlu melihat generasi ini dari 2 hal yang berbeda. Kita harus membedakan, apa yang kelihatan dan apa yang menjadi isi sesungguhnya. Kita bisa melihat apa yang disebut generasi yang berubah-ubah dan ciri-ciri generasi ini dari “kemasan” yang dapat dilihat dari luar.  Makin ke depan, generasi akan berubah makin cepat. Namun isi dari manusia, kebutuhan manusia dari tiap generasi tidak akan berubah. Setiap generasi dari jaman dulu sampai Tuhan datang untuk kedua kalinya, punya kebutuhan yang sama yakni untuk ditebus dari dosa! Seorang penulis, Dr. Richard Pratt dari Reformed Theological Seminary, mengatakan bahwa manusia sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah yaitu lahir dalam dosa dan hidup di dalamnya. Sehingga kebutuhan mereka akan Tuhan tidak berubah yaitu untuk mengenal Yesus dan diselamatkan. Generasi boleh berubah tapi kebutuhan manusia akan Kristus adalah tetap. 

Pelajaran dari Bendahara yang Tidak Jujur

                Lukas 16:1-8 mengisahkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Pada ayat 8, tuannya  memberi pujian kepada bendaharanya yang cerdik karena ia bisa melewati masa kesusahannya dengan baik. Kita belajar beberapa hal dari kecerdikan (bukan ketidakjujuran) sang bendahara.
Pertama, bendahara ini dapat mengetahui kondisi yang dihadapi yakni apabila ia dipecat sebagai bendahara oleh tuannya (ayat 4). Kalau hal itu terjadi, ia tidak akan punya pekerjaan lagi. Dalam aplikasi, sebagai orang tua kita perlu belajar tentang perbedaan generasi saya dan generasi berikutnya. Dengan mengetahuinya, bisa berguna bagi orang yang memerlukan.

                Kedua, bendahara ini bisa memprediksi masa depan . Dia tidak akan mendapat pekerjaan lagi yang sama dengan sekarang. Jaman itu situasinya berbeda dengan sekarang. Dulu kotanya kecil dan semua orang saling mengenal. Kalau ia dipecat semua orang di kota akan tahu, sehingga tidak akan ada yang mau memperkerjakan dia yang tidak jujur. Itu sebabnya bendahara ini tidak berpikir bekerja di tempat lain. Ia berpikir, yang saya bisa lakukan adalah betani tetapi ia tidak bisa mencangkul. Itu kerja keras yang tidak bisa dilakukan. Itu sebabnya ia tiba ke alternatif yang kedua yakni  mengemis atau meminta-minta, tapi dia malu melakukannya. Dia bisa melihat masa depannya  ada dalam kondisi yang sangat kritis. Demikian juga kita, ketika kita menjadi orang tua atau kakek-nenek, kita perlu melihat generasi di bawah kita. Orang tua harus memikirkan bahwa generasi anak bukan generasinya. Sehingga kita tidak bisa mendidik anak kita dengan megatakan, “Mama dulu…. (begini-begitu).” Atau “Kalau mama sudah ngomong begini harus ikut…” Karena generasi sekarang berbeda. Apa yang dialami dulu sering dianggap kuno sekarang. Meskipun begitu kita perlu ingat apa yang efektif untuk kita belum tentu efektif untuk anak. Jaman dulu kalau dipletotin papa-mama, kita akan ketakutan. Kalau sekarang orang tua melotot, maka anak pura-pura tidak melihat. Dan kita tidak bisa melakukan cara-cara yang dulu kita lakukan kepada anak-anak kita. Bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita? Ini yang menjadi kesulitan bagi sang bendahara namun ia pintar. Dia mengambil strategi yang baik. Dia pecahkan masalah dengan tepat. Bukankah kita bisa belajar dari bendahara ini? Kita bisa mencari cara bagaimana kita menggunakan cara-cara yang beda. Ciri-ciri dari setiap generasi adalah hal yang kelihatan seperti baju yang bisa berubah setiap waktu. Yang tidak berubah adalah kebutuhan akan Kristus. Bagaimana dengan generasi yang muda membutuhkan Kristus seperti orang tuanya juga?
Karena itu gunakanlah kekuatan jaman untuk memberi isi pada tiap keadaan. Misalnya, kita akan bicara tentang generasi Z yang hidup dengan internet dan gadget (media sosial sangat penting bagi mereka). Bagaimana mengajarkan ke anak-anak tersebut bahwa Kristus penting untuk mereka.  Kita bisa menggunakan media sosial dan mereka mengikutinya sedemikian rupa sehingga anak kita mendengar banyak kesaksian, sehingga mereka merasakan bagaimana hidup di dalam Kristus bisa menerima itu sebagai kekuatan. Kita perlu memikirkan cara yang efektif agar anak bisa menerima Tuhan Yesus Kristus.

____
Bekerja di Yayasan Eunike yang bergerak dalam bidang pembinaan keluarga dan guru. Bersama orang tua mengajarkan bagaimana orang tua bisa berperan dalam membangun anak-anak mereka. Ul 6: yang memegang peran iman untuk mewariskan iman ke anak adalah orang tuanya. Bergereja di GKY Green Ville.

Sunday, June 1, 2014

Salib dalam Keluarga : Salah Siapa?


Pdt. Hery Guo

2 Kor 4:8-11
8   Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
9  kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.
10  Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
11  Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

Markus 8:31-34
31  Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
32  Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
33  Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
34  Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.


Pendahuluan

                Beberapa hari yang lalu, ada artikel tentang seorang kakek yang meninggal di kamar hotel karena minum obat kuat. Artikel ini berbicara tentang sepak terjang orang tua yang secara usia harusnya menjadi teladan, tapi malah ia melakukan tindakan tidak terpuji. Ada juga seorang siswa sekolah yang menyontek, tertangkap lalu didiskualifikasi oleh gurunya dan dinyatakan tidak lulus. Kalau orang Kristen melakukan hal-hal seperti ini, jangan berpikir itu salib karena itu bukan salib tetapi kebodohan dan ia harus bertobat.  Dalam tema “Salib dalam Keluarga : Salah Siapa?”, perlu diluruskan pemahaman tentang salib, namun tidak menyinggung cara mengatasi kesulitan (seperti di-PHK, anak korban narkoba)  yang menjadi salib dalam keluarga.  Saat orang Kristen yang saleh , setia, rajin beribadah mengalami masalah iman lalu bagaimana kita memandang Allah? Karena seringkali dalam hidup timbul pertanyaan yang sulit dijawab setelah mengikuti apa yang dikehendaki Allah. Ada seorang aktivis yang rajin melayani tapi kemudian divonis kanker getah bening, lalu dalam waktu singkat ia meninggal. Ada juga seorang anak Tuhan yang dedikasinya baik kepada Tuhan, lalu mengalami kelumpuhan karena hancur urat belakangnya saat terjebur di kolam. Pertanyaannya : mengapa Tuhan ijinkan hal ini terjadi?, Tidak ada jawaban sempurna yang bisa memuaskan, seandainya kita mengalami hal itu. Bagaimana sudut pandang Kitab Suci tentang Allah dalam hal ini?

Memikul Salib untuk Mengenal Allah

                Markus 8:34  Yesus berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Ayat ini berlatar belakang peristiwa saat Yesus menyatakan bahwa Dia akan disalib dan dibunuh lalu Petrus menolak pemikirian itu. Bagi Petrus konsep Tuhan Yesus itu keliru. Bagaimana mungkin Mesias yang mereka puja harus disalib? Dalam kondisi sekarang, “Bagaimana dengan mengikuti Tuhan lalu menderita?” Padahal pada pasal sebelumnya, Yesus memberi makan kepada 5.000 orang sampai kenyang. Sepertinya keindahan dalam mengikuti Yesus, pupus saat Yesus bicara tentang kematianNya di kayu salib.  Itu sebabnya Petrus menegor Yesus, “Jangan kamu bicara begitu , karena itu bukan perkataan yang benar.” Dan setelah memarahi Petrus, Tuhan Yesus berkata kepada semua orang, “Siapa mau mengikuti Aku harus memikul salib”. Salib dalam pemahaman kitab suci adalah sesuatu yang hina dan tidak ada harapan, melambangkan kematian dan mencerminkan penderitaan. Di dalam konsep seperti itulah Yesus berkata, “Siapa yang mau mengikuti Aku harus memikul salibnya.” Melalui salib itulah , kita dibawa Tuhan untuk semakin mengenal Dia. Seorang anak Allah yang tidak masuk ke dalam salib, maka ia tidak akan mengenal anak Allah. Reformasi Calvin mengatakan, “Untuk mengenal Allah maka kenallah Dia yang mati di kayu salib!” Ayat 34 berarti saat engkau memikul salib maka engkau semakin mengenal Anak Allah. Petrus dan murid-murid lainnya tidak mengenal Yesus dengan baik saat Yesus melakukan penyembuhan dan mujizat-mujizat lainnya. Setelah Yesus disalibkan, mati dan  bangkit, murid-murid baru mengenal Yesus. Allah mengijinkan salib itu ada, supaya kita mengenalNya. Ternyata salib itu kunci supaya kita mengenal Allah yang kita sembah. Seluruh kitab suci membawa kita kepada pengenalan kepada anak Allah. Waktu Yohanes Pembaptis dipenjarakan oleh Raja Herodes, ia bertanya kepada Tuhan Yesus melalui kedua muridnya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?" (Lukas 7:19b). Selanjutnya dalam salibnya, barulah Yohanes Pembaptis mengenal Anak Allah. Melalui salib, mungkin iman kita ditantang dalam berbagai masalah. Tapi dilihat dari sudut pandang Allah , Dia ingin membawa kita mengenalNya dengan baik. Ayub yang hidup sejaman atau lebih lama dari Abraham berkata, “Aku mengenal Allah dari orang dan cerita, tapi waktu mengalami penderitaan, baru  aku mengenal Allah dengan baik.”  Saat akan melahirkan, istri dari adik saya terkena virus Toxoplasma. Akibatnya waktu lahir, anaknya cacat. Namun kerohanian adik saya mengalami pertumbuhan yang luar biasa, saat ia mengalami hal itu dan membuatnya mengenal Allah dengan baik. Kalau Allah mengijinkan hal itu terjadi , maka Allah ingin membawa kita mengenalNya dengan baik. Pengenalan akan Allah sangat dibutuhkan oleh orang percaya.

Salib Membuat Kita Tergantung pada Tuhan

Pada 2 Kor 4  Rasul Paulus menyampaikan,”Kami senantiasa memberitakan kematian Tuhan Yesus di kayu salib”.  Ia berbicara tentang salib dalam kehidupan Tuhan Yesus. Salib adalah lambang tidak adanya kemampuan dan harapan sehingga hanya ada harapan yang sepenuhnya lahir dari Allah. Allah ijinkan salib ada, supaya kita tidak berharap pada diri kita (manusia) tetapi semata-mata kepada Allah. Itu sebabnya ayat 8-9 dikatakan Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Setiap dosa yang diperbuat manusia, minimal membuat kita merasa bersalah. Misalnya : saat menyontek, berbohong atau menggelapkan uang perusahaan, hati merasa dag-dig-dug ketakutan karena bersalah.  Atau kita tidak setia pada pasangan atau berbuat tidak senonoh, dosa membuat kita merasa bersalah dan tertuduh. Namun ada 1 dosa yang membuat kita tidak merasa bersalah yaitu dosa kesombongan. Kesombongan adalah musuh Allah karena tidak mau bergantung, tidak mencari dan mengandalkan Allah. Kesombongan bisa lahir , saat kita merasa mapan, bisa sendiri dan tidak membutuhkan Allah. Banyak manusia sombong di hadapan Allah. Itu sebabnya waktu kita menyadari tidak mampu, papa dan tidak punya kekuatan, saliblah yang membuat kita tergantung pada Tuhan. Kalau kita diijinkan mengalami salib, maka kita akan berdoa. Saat salib itu melanda keluargamu, maka kita akan berteriak kepada Allah dalam doa. Saat kita merasa usaha dan keluarga sudah porak poranda, kita akan mencari dan berdoa dalam iman. Itu sebabnya dalam ayat ke 10 dikatakan, Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Aku terlebih suka memandang salib karena disitulah aku bergantung pada Allah. Bila terdapat banyak saldo di rekening bank maka kita harus hati-hati dan tetap bergantung pada Tuhan. Orang percaya harus memikul salib. Karena salib itulah yang membuat kita kenal Dia. Salib itu membuat kita bergantung total kepadaNya. Mungkin kita tidak mengalami salib yang memberatkan, tapi kalau salib itu datang, lihatlah dari sudut pandang kitab suci, Allah yang baik akan membawa kita mengenalNya.

Kesaksian

                Ada seorang ibu yang saleh dan telah melayani Tuhan sejak masa mudanya. Sampai usianya di atas 60 tahun,  ia masih melayani di salah satu panti wreda (tempat perawatan orang-orang tua). Dia tidak dikaruniai anak dalam pernikahannya. Sehingga semasa hidupnya, ia dan suaminya memiliki hubungan yang sangat dekat sekali. Suaminya sangat menjaga kesehatannya dengan baik. Namun tidak terduga, suaminya meninggal terlebih dahulu. Saat peti suaminya akan ditutup, ia memberikan kata sambutan., Dia berkata, “Tuhan lebih sayang suami saya  dari saya itu sebabnya Tuhan memanggilnya lebih dahulu”.  Mendengar hal tersebut saya merasa luar biasa sekali imannya. Walau terkadang dia merasa kesepian setelah ditinggalkan suaminya, ia merasa dikuatkan melalui komentar terakhir. itulah salah satu cara Tuhan supaya bisa menguatkannya. Saat mencapai titik nadir dan tidak punya kekuatan lagi, saat itulah kekuatan rohani muncul. 

Sunday, May 25, 2014

Belajar Dari Orang Samaria yang Baik Hati


Pdt. Hendra G Mulia

Lukas 10:25-37
25  Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
26  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
27  Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
28  Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
29  Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"
30  Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.
31  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.
32  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
33  Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
34  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
35  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
36  Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
37  Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Pendahuluan

                Pada kitab Kejadian dicatat bahwa saat jatuh ke dalam dosa dan mendapatkan diri telanjang, Adam dan Hawa langsung mengambil daun pohon ara, menyambung-nyambung (menyemat) nya  untuk menutupi diri karena mereka telanjang (Kej 3:7). Kejadian pasal 3 merupakan sikap manusia dalam relasinya dengan Tuhan : setelah jatuh dalam dosa , apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal dan mengatasi dosa yang dilakukan? Mereka melanggar firman Tuhan dengan memakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, sehingga mereka jatuh dalam dosa (Kej 3:6). Apa yang harus dilakukan supaya aku peroleh hidup kekal dan mengatasi persoalan dosa? Tetapi usaha manusia tidak akan pernah berhasil. Waktu Tuhan Allah datang, mereka sembunyi sehingga daun pohon ara tidak bisa menutupi dosa dan rasa malu mereka . Pada akhir Kejadian 3, Tuhan kemudian memakaikan jubah dari kulit binatang (Kej 3:21). Itu melambangkan Kristus yaitu kita diselamatkan tidak berdasarkan perbuatan kita, tetapi karena pekerjaan Tuhan. Pada Kejadian 3, Tuhan memberikan jubah kulit binatang. Binatang yang kulitnya diambil untuk jubah, harus disembelih (mati dulu) baru kulitnya dipakai. Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Kematian Yesus Kristus dipakai untuk memperoleh hidup kekal.  Pergumulan manusia dari dulu sampai sekarang selalu sama , “Apa yang harus diperbuat untuk mendapat hidup kekal?” Sehingga tidak mengherankan, ahli Taurat bertanya, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"(Lukas 10:25).

Apa yang Diperbuat Setelah Selamat (Percaya) ?

                Sebagai orang yang sudah percaya, saat meninggal kita akan masuk sorga. Namun sebelum masuk sorga, dari sekarang sampai nanti meninggal, apa yang harus diperbuat? Kelemahan kaum Injili, kita mendapat sesuatu yang sudah tepat :  dengan percaya Tuhan Yesus, maka kamu akan diselamatkan (Yoh 3:16 16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal). Jadi yang harus diperbuat untuk hidup kekal adalah “percaya kepadaNya!”. Setelah percaya, kita punya “karcis” ke surga. Dari sekarang sampai masuk surga, apa yang dilakukan? Orang Injili berkata, “Trust ini Jesus”. Tetapi setelah selamat? Kita kembali ke pertanyaan, “Apa yang saya perbuat?” 2 minggu lalu, saya memimpin retreat guru Sekolah Minggu ada lagu “Baca Kitab Suci” yang liriknya :
Baca kitab suci, Doa tiap hari     3x
Baca kitab suci,Doa tiap hari, Kalau mau tumbuh
Kalau mau tumbuh    2x Glory Haleluya
Baca kitab suci, Doa tiap hari, Kalau mau tumbuh
Kalau tidak baca kitab suci, tidak bertumbuh. Inti berbagai khotbah adalah 5 hal yaitu : baca kitab suci, berdoa tiap hari, jangan malas ke gereja tiap minggu, ikut pelayanan dan memberi persembahan.  Kelimanya apa yang kita lakukan. Untuk bertemu Tuhan Yesus, kita lakukan apa? Kita sibuk berdoa, melakukan pelayanan, pergi ke gereja, melakukan persembahan, penginjilan, misi dan lain-lain. Kerja dan kerja terus. Orang yang baru datang diminta untuk melakukan ini dan itu.  Sekarang hal ini tidak mudah dilakukan. Dulu doa pagi dilakukan pk 6-7 karena berangkat dari gereja pk 7 sampai di kantor pk 7.45. Sekarang, kalau berangkat pk 6, maka lalu lintas sudah macet. Anak didik saya tinggal di Alam Sutera kerja di Sudirman. Berangkat pk 6 sampai di kantor pk 8.30 sehingga ia berangkat pk 5.30 dan sampai di kantor pk 6.30.

                Ahli Taurat bertanya apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"(Lukas 10:25). Yesus menjawab, "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" (Luk 10:26). Ahli Taurat pun menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Luk 10:27). Dari sebanyak 600 lebih peraturan hukum Taurat lalu diringkas menjadi 2 yaitu kasihilah Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia. Agustinus mengatakan Love God dan do what you like (Kasihi Tuhan dan lakukan apa yang kau sukai – karena dengan mengasihi Tuhan maka kamu akan melakukan apa saja yang Tuhan kehendaki). Kalau sudah mengasihi Tuhan, tidak mungkin kita ke nite club karena yang akan dilakukannya “the law of love” (Mat 22:37-39). Yang paling penting dalam hidup: cinta Tuhan dan sesama. Dasar semuanya : cinta Tuhan. Ahli Taurat mengetahui hal ini dengan tepat. Dia hapal ayat-ayat kitab Taurat. Ia mengetahui hukum kasih. Tapi waktu datang ke Tuhan Yesus, ia bertanya, “Apa yang harus kuperbuat?” dan dijawab Tuhan Yesus dengan tepat. Namun setelah itu untuk membenarkan dirinya, dia bertanya lagi, “Siapakah sesamaku manusia?” karena dia ingin menjelaskan hukum yang kedua dengan terminology dari kacamata orang Yahudi. Sebab ia tahu bahwa Tuhan Yesus bergaul dengan pemungut cukai, pelacur dll yang menurut ahli Taurat dan imam, mereka adalah orang-orang najis. Dalam benaknya Tuhan menciptakan surga dan neraka dan  Tuhan menciptakan surga untuk orang Yahudi sedangkan orang non Yahudi masuk neraka. Bagi ahli Taurat semua orang di luar Yahudi adalah orang kafir dan menjadi bahan bakar neraka. Mereka (bangsa Israel) adalah bangsa yang diselamatkan, sedangkan lainnya menjadi penghuni neraka. Sehingga dalam pandangan mereka Tuhan hanya mengasihi orang Yahudi saja. Tapi Tuhan Yesus menjawabnya dengan bercerita bahwa  ada seorang Yahudi turun dari Yerusalem ke Yerikho yang berjarak sekitar 27 km. Dengan kecepatan jalan normal 5 km/jam,  maka dalam waktu hampir 6 jam orang tersebut akan sampai ke Yerikho. Jalanannya menurun karena  Yerusalem terletak di daratan tinggi (800 m di atas permukaan laut) sedangkan  Yerikho di daerah rendah (400 m di bawah permukaan laut), dengan perbedaan sekitar 1.200 m. Dalam perjalanan banyak gurun dan rampok, Orang tersebut dirampok, dipukul dan tergeletak di jalan. Lalu pada ayat 31, dikatakan kebetulan ada seorang imam turun. Begitu korban tersebut melihat ada imam, maka hal tersebut baginya bukan kebetulan karena berarti Tuhan menolong. Lalu ia berteriak minta tolong. Namun digambarkan bahwa si imam ini berjalan di seberang jalan karena sang imam sengaja menjauhkan diri dari si korban. Padahal imam itu dalam masyarakat saat itu, adalah orang suci. Yang kedua adalah orang Lewi yang membantu di bait Allah. Ternyata sama dengan sang imam, orang Lewi melakukan hal yang sama yaitu menyeberang jalan. Kedua orang yang dianggap orang suci, tidak menolong! Setelah itu datang orang Samaria.  Pada Yoh 4:9 dikatakan orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Hal ini sudah berlangsung selama ratusan tahun (dari zaman nabi Ezra dan nabi Yeremia). Tahun 721 SM Israel ditahlukkan Asyur lalu semuanya diangkut ke Asyur untuk dijadikan budak, sedangkan yang lemah , bodoh dan cacat ditinggalkan. Kemudian datang orang Arab, lalu terjadi kawin-mengawin sehingga muncul orang Samaria yang merupakan campuran antara orang Yahudi dan non Yahudi. Waktu orang Yahudi menyalibkan Yesus tahun 30, karena mereka tidak bertobat akhirnya di buang. Mereka berdosanya lebih lagi sehingga dibuang 1.800 tahun (hampir 2.000 tahun dibuang) baru kembali lagi. Merupakan keajaiban bahwa mereka bisa kembali.

                Setelah tanah Israel kosong, orang Arab masuk. Inilah orang Palestina. Mereka sudah ribuan tahun menetap di sana. Lalu orang Israel balik waktu zaman zionisme. Tahun 1948 akhirnya Israel menjadi Negara merdeka. Orang Palestina dan Israel tidak bisa cocok, seperti orang Israel dan Samaria. Imam dan Lewi mengambil sikap untuk jauh-jauh dari orang Samaria. Lalu datanglah orang Samaria. Orang yang menjadi korban kejahatan tidak berharap orang Samaria menolong. Tapi justru orang Samaria ini turun, diminyaki untuk menghentikan pendarahan. Lalu disiram anggur sebagai disinfektan. (Lukas 10:34-35  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.  Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali). Yesus bertanya,” Siapa yang sesamamu manusia dari 3 orang itu?”. Saking tetap bencinya ahli Taurat itu tidak menjawab. Ahli Taurat tetap tidak mau ngomong bahwa jawabannya orang Samaria yang baik hati itu. Ahli Taurat hanya mengatakan Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya (Luk 10:37). Yesus kemudiaan berkata, “Pergilah dan berbuatlah kebaikan”. Inti ceritanya? Apakah bisa kita menjadi orang Samaria? Setelah jadi orang Kristen bisa jadi orang Samaria? Kita tolong korban bencana biasanya dengan memberi pakaian bekas, mengirim supermie lalu “pajang” bahwa  kita sudah baik hati. Itu namanya main sinterklas-sinterklasan. Bagi-bagi pakaian bekas yang memang kita mau buang karena jijik dan bagi supermie, apakah kita telah menjadi orang Samaria. Orang samaria, begitu melihat orang itu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Kalau menolong hanya untuk menunjukkan kamu hebat, itu hanya sinterklas-sinterklasan. Tergerak hati oleh belas kasihan. Untuk bisa tergerak , hanya bisa kalau hanya mengasihi Tuhan. Setelah mengasihi Tuhan baru bisa berbelas kasihan karena punya hati Tuhan Yesus.

Kesimpulan


                Setelah percaya, bukan apa yang kita perbuat yang penting. Berbuat , membaca kitab suci dan berdoa setiap hari hanya menjadikan kita “imam” dan “orang Lewi” yang tidak punya hati. Yang penting adalah cinta Tuhan (love God). Kalau cinta Tuhan , maka kamu pasti akan berdoa. Bukan seperti dalam mulut berkata “sayang anak”, tapi bisa tidak saling berbicara selama sebulan (katanya sayang anak tapi bisa tidak komunikasi). Kalau bilang “cinta Tuhan” tetapi tidak baca Alkitab, itu tidak benar. Apalagi kalau tidak berdoa. Kalau cinta Tuhan, maka Tuhan akan bentuk kita menjadi “orang Samaria”. Intinya : cinta Tuhan. Hanya dengan cinta Tuhan, maka bisa jadi orang Samaria yang baik hati.  Menjadi orang Samaria yang baik hati, tidak bisa melalui mendengar khotbah sebanyak 1.000 kali. Apakah engkau mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatanmu? Kalau sunguh-sungguh mengasihi Tuhan , kamu bisa jadi orang Samaria yang baik hati. 

Monday, May 19, 2014

Allah yang Mencukupi


Ev. Susan Kwok

Kel 15:22-27
22  Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air.
23  Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.
24  Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?"
25  Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,
26  firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau."
27  Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.

Pendahuluan

                Allah yang mencukupi bukan hanya dari segi materi semata, tapi juga dari segi non materi. Di tengah kesulitan, Dia membuat kita masih berdiri (tidak jatuh). Bahkan saat jatuh kita diberi kekuatan untuk bangkit kembali. “Dialah Segalanya Dia Bagiku” merupakan salah satu lagu Sekolah Minggu yang diinspirasi dari bagian ayat ini.
Dialah segalanya Dia bagiku, Dialah segalanya besar dan kecil
Korbankan diriNya dan slamatkanku, Dialah segalanya Dia bagiku
Sperti air madu dari batu karang, Dicicip air madu yang manis
Oh lihatlah Tuhan Yesus baik, Dicicip air madu yang manis

                Ada seorang ibu pedagang tempe yang berjualan di pasar sehari-hari. Ia membuat sendiri tempe yang dijualnya. Selama ini ia tidak pernah gagal membuat tempe. Suatu malam ia membuat tempe seperti biasa. Namun pagi hari waktu bangun dan ingin membawa tempe tersebut ke pasar, ternyata tempenya belum jadi. Masih berbentuk kacang kedelai dan tidak menyatu. Ia heran mengapa bisa begitu karena alat, bahan, proses, waktunya sama. Merasa Ia sedih karena selama puluhan tahun berdagang tempe, hasil penjualan setiap hari langsung dipakai untuk kebutuhannya sehari-hari dan membeli bahan untuk diolah jadi tempe lagi. Jadi tidak ada hasil yang berkelebihan. Mungkin ia punya sedikit tabungan, tapi tidak besar. Jadi kalau ia gagal menjual tempe, maka terpaksa ia mengambil tabungannya yang sedikit. Lalu ia berdoa dalam hatinya agar Tuhan menolongnya agar ada pembeli tempenya. Walau di hatinya ada harapan tapi ia tidak punya ada keyakinan 100% akan ada yang membeli tempenya. Kenyataannya memang para pelanggan yang datang tidak jadi membeli. Hari makin siang dan pasar akan tutup. Tiba-tiba ada seorang ibu yang berpakaian mewah datang. Ia tergopoh-gopoh dan bertanya ke sana-kemari. Rupanya dia ingin membeli tempe, namun karena sudah siang para penjual tempe sudah pulang. Tinggal si ibu penjual tempe yang belum jadi tempenya dan sedang bersiap-siap pulang. Setelah si ibu kaya tersebut menghampiri penjual tempe, ia tercengang , karena justru tempe yang belum jadi tersebut yang diperlukan untuk membuat jenis masakan daerah tertentu. Akhirnya tempe yang belum jadi tersebut habis diborong. Uniknya, begitu banyak pelanggannya yang tidak jadi membeli, dan  tiba-tiba ada pembeli yang membutuhkan tempe yang belum jadi! Mungkin ada yang mengatakan hal tersebut kebetulan. Tapi dalam iman,  hal yang  seperti yang kebetulan tersebut dipakai Tuhan untuk mencukupi. Tuhan kreatif dan tidak pernah memakai 1 cara saja untuk mencukupi kebutuhan anakNya. Allah berdaulat untuk memilih cara.

                Terkadang di tengah ketidaktahuan kita, Allah bisa mencukupkan. Pada tahun 2009 saya punya kesempatan untuk pergi ke Israel bersama rombongan. Saya tidak mengetahui untuk berpergian ke luar negeri, masa berlaku paspor yang dipakai harus sedikitnya 6 bulan sebelum tanggal perjalanan. 1 minggu sebelum keberangkatan, saya dipanggil penyelenggara tour yang mengatakan bahwa kemungkinan saya bisa tidak jadi pergi karena ternyata paspor saja hanya berlaku untuk beberapa minggu lagi. Ia berkata, “Kalau nanti di bandara ditahan dan tidak boleh masuk, jadi ibu tidak jadi berangkat.” Masalahnya : kalau di bandara Cengkareng lolos, bisa jadi di bandara Dubai belum tentu. Saya juga khawatir karena hanya pernah ke Malaysia dan Singapore, di samping itu sedikit khawatir karena nama saya ada huruf “q” nya yang biasanya dicurigai sebagai teroris atau penyelundup. Akhirnya daripada saya membuat rombongan susah, saya bermaksud membatalkan kepergian. Namun penyelenggara tour berkata,”Kita coba saja. Kita berdoa saja. Mengingat kita rombongan bersar, periksanya tidak terlalu detil. Tapi kalau sampai disuruh pulang, kita sudah siapkan tiketnya”. Akhirnya saya jadi berangkat. Namun setiap kali transit, hati dag-dig-dug karena khawatir pulang sendiri. Akhirnya semua berjalan lancar. Mungkin orang lain berkata, petugas imigrasinya “kelilipan” matanya  atau karena dengan rombongan maka periksanya tidak teliti. Tapi apapun alasannya, Tuhan ijinkan saya berangkat di tengah ketidaktahuan saya. Hari itu saya berserah, tidak berangkat tidak apa. Kalau berangkat dipulangkan saya pusing. Kalau pulang dari Cengkareng , saya masih mudah. Kalau di Dubai, saya pusing. Saya berharap kalau sampai tidak lolos, sebaiknya di Cengkareng saja. Bagi saya, Allah itu mencukupi, seperti Dia mencukupi ibu penjual tempe.

Jehova Jireh

                Pada Kel 15:22  Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka sudah kehabisan air. Berarti mereka masih punya persediaan air, tetapi persediaannya semakin menipis karena tidak ada air untuk mengisi kembali persediaan air di kirbat mereka. Mungkin mereka minum dengan irit sekali di tengah padang gurun karena khawatir  kalau tidak dapat air juga, maka air habis, mereka pingsan lalu mati. Sewaktu berangkat dari Mesir, mereka diingatkan untuk membawa macam-macam (termasuk roti dan air minum). Allah tahu apa yang harus dipersiapkan umatNya. Jadi pasti ada persediaan air, tetapi makin lama jumlahnya makin sedikit. Mereka tiba di suatu tempat pada hari ke 3 dan mereka mendapat air. Tapi waktu mau diminum, ternyata airnya tidak bisa diminum karena airnya pahit. Itu sebabnya tempat itu dikatakan Mara, yang artinya pahit. Seperti Naomi pada kitab Rut, yang kehilangan suaminya ELimelekh dan kedua anaknya Mahlon dan Kilyon sehingga ia mengatakan, “Jangan sebut aku Naomi tetapi Mara karena Tuhan membuat hatiku pahit”. Bangsa Israel khawatir bahwa mereka akan kehausan setelah di hari ketiga mereka tidak mendapat air. Kesan yang akan didapat dari kisah ini sepertinya bangsa Israel tidak salah karena khawatir yang memuncak secara manusiawi. Jadi yang salah siapa? Tuhan yang menuntun mereka? Persoalan yang dihadapi oleh bangsa Israel tidak sepele. Namun masalah Isarel tidak lepas dari kejadian sebelumnya. Kel 14:21-22 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.  Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Kejadian ini baru terjadi 3 hari yang lalu. Walaupun saat mereka berkemah di seberang laut Teberau, berselang 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun kemudian mujizat Kel 14:21 tidak mudah dilupakan. Saat itu Tuhan membelah Laut Teberau semalam-malaman. Jadi mujizat yang terjadi berjam-jam dan dinikmati oleh sekitar 2 juta orang Israel (dari bayi sampai orang dewasa). Mereka berjalan di tanah yang kering semalam-malam. Artinya ketika Tuhan menguak laut semalam-malaman dengan angin timur, ternyata 3 hari tidak dapat air minum, membuat mereka kalang kabut seperti tidak pernah mengalami mujizat sebelumnya. Kekhawatiran membuat mata mereka tertutup dan mujizat itu terlupakan. Hal ini juga terjadi dengan kita. Ketika tabungan kita menipis dan gaji tidak naik-naik, lalu ada saja pengeluaran yang tiba-tiba, sehingga kita khawatir. Seperti kita sudah jatuh tertimpa tangga. Ketika melihat teman sekolah makin luar biasa bisa rumah yang beli rumah seharga Rp 10-12 miliar, sedang kita hanya membeli rumah seharga kurang dari Rp 1 miliar, kita khawatir bagaimana dengan anak saya bisa bersaing dengan mereka? Saat gereja ditinggalkan oleh penyandang dana, majelis khawatir kenapa dia yang tinggalkan gereja? Sehingga kita tidak lagi mampu melihat pemeliharaan Tuhan.

                Seringkali kita lupa , Allah sudah memberikan kita hidup, keselamatan, kesehatan hari ini untuk bisa ke gereja, bekerja, berdagang dll. Kita diberi pikiran yang jernih sehingga bisa melihat itu adalah cara Allah. Pada ayat yang ke 24, Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" Bangsa Israel bersungut menyalahkan dan memberikan desakan yang kuat. Mereka tidak mempercayai kepemimpinan Musa. Mereka malah ingin membunuh Musa dan mereka bermaksud kembali ke Mesir. Akhirnya dalam ayat ke 25 Tuhan mengijinkan air yang pahit itu menjadi manis (Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis). Kita melihat Allah mengijinkan air yang pahit menjadi manis. Karena Israel sudah tidak tahan sehingga Allah ijinkan hal itu. Karena di dalam ayat yang ke 27 sesudah minum air yang manis, mereka minum dengan air yang banyak di kirbat (kantong) mereka. Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu. Mereka berjalan 3 hari tanpa air, setelah bersungut-sungut Tuhan memberi minuman. Tapi dari Mara ke Elim hanya ½ hari perjalanan. ½ hari itu mereka tidak merasakan lelah karena mereka sudah minum yang banyak. Ketika mereka lihat ada pohon korma dan mata air, suka cita mereka bisa mencapai 100%? Tidak. Pertolongan Tuhan tidak begitu dirasakan di Elim, karena persediaan air masih banyak. Ibarat orang haus disuguhi minuman yang pahit lalu diberi yang manis, maka mereka akan merasa alangkah manisnya. Kalau kita menghadapi permasalahan , setelah tahu apa artinya jalan keluar, kita akan merasa sukacita penuh karena pertolongan Tuhan. Kalau memaksa, lalu dikasih, maka tidak merasakan sukacita yang penuh. Tuhan memberi bangsa Israel kebaikan, tetapi mereka komplain terus. Inilah manusia tidak pernah bersyukur.

Kesimpulan

                Jehova Jireh, Allah yang mencukupi, Allah yang memberikan, mungkin tidak berkelimpahan tetapi cukup, memberi kekuatan untuk menghadapi hidup. Ada 3 orang anak yatim piatu yang masing-masing berusia 12, 8 dan 4 tahun. Karena tidak ada makanan mereka berdoa. Awalnya jemaat membawa makanan untuk mereka. Setelah sebulan, jemaat sudah tidak lagi rajin memberi makanan sehingga mereka kelaparan. Mereka merengek lapar dan perutnya kembung karena kebanyakan minum air. Mereka terus menangis sampai tengah malam. Yang kecil sudah tidak mau minum air putih. Anak yang kedua mengusulkan untuk berdoa Doa Bapa Kami. Saat tiba pada kalimat “Berilah kami makanan kami yang secukupnya”, mereka tidak dapat melanjutkannya. Mereka menangis karena merasa tidak sesuai dengan kondisi mereka saat itu. Mereka akhirnya ketiduran. Keesokan paginya, pintu diketuk. Ada seorang ibu datang untuk memberikan singkong rebus. Di samping itu anak yang tertua diberi tawaran untuk menjadi penjaga toko kelontong. Sampai besar, ia hidup dengan sederhana. Karena rajin , gereja menyekolahkan dia dan ternyata akhirnya ia menjadi rektor sekolah teologi di Taiwan!  Allah Israel itu Jehova Jireh. Allah yang mencukupi setiap orang , dengan cara yang berbeda-beda. Musa kurang bisa berbicaara, tapi dicukupkan dengan Harun yang pintar bicara. Apa yang kurang, dicukupkanNya Kalau tidak pandai bicara akan diberi rekan yang cakap berbicara. Rasul Paulus pun pernah berdoa agar Tuhan mengangkat penyakitnya supaya pelayanannya lebih maju. Tapi Tuhan bilang cukup, Dia memberikan kekuatan yang cukup sehingga Rasul Paulus bisa pelayanan. Tuhan ingin agar Rasul Paulus melayani dengan kekuatan yang diberikan. Raja Hizkia diberi tambahan usia 15 tahun. Cara yang digunakan Tuhan untuk Rasul Paulus, Musa, Raja Hizkia berbeda. Apakah Allah tetap memberi yang cukup dalam hidup kita?
                Beberapa tahun lalu, saya pernah merasa lelah secara mental dan fisik dalam pelayanan. Sehingga saya mau berhenti pelayanan dan beristirahat. Saya kadang kala berkata mau berdagang saja. Tahun 2002, saya jatuh dari lantai 2 ke bawah. Seharusnya saat jatuh , saya bisa memegang tangganya, tapi karena panik tidak terpegang  sehingga saya jatuh ke belakang yang mengakibatkan saya susah berjalan karena lumbar tulang belakang yang ke tiga dan lima patah, dan dikhawatirkan tidak bisa berjalan dengan baik. Setelah cek jantung dll, saya dipersiapkan untuk operasi. Awalnya saya tidak merasa takut. Namun di ICU, ada seorang Bapak yang berteriak setelah ia menjalani operasi yang sama di tulang  pinggang. Akhirnya ia duduk di kursi roda. Karena itu saya jadi takut. Dalam keadaan yang mendesak, saya berdoa, “Tuhan tolong saya agar jangan dioperasi. Ketemukan saya dengan dokter yang mengatakan saya tidak perlu operasi.” Dokter berkata, hasil ronten akan selesai 2 hari lagi. Di tempat tidur, saya diingatkan karena tidak mau pelayanan dan maunya dagang. Akhirnya saya tetap ikut pelayanan. Maka sampai hari ini saya berkata tidak mau pedagang, ganti profesi. Tuhan cukupkan dengan banyak cara. Tuhan memberikan banyak anugerah ke rel yang seharusnya.