Monday, May 19, 2014

Allah yang Mencukupi


Ev. Susan Kwok

Kel 15:22-27
22  Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air.
23  Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara.
24  Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?"
25  Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka,
26  firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau."
27  Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.

Pendahuluan

                Allah yang mencukupi bukan hanya dari segi materi semata, tapi juga dari segi non materi. Di tengah kesulitan, Dia membuat kita masih berdiri (tidak jatuh). Bahkan saat jatuh kita diberi kekuatan untuk bangkit kembali. “Dialah Segalanya Dia Bagiku” merupakan salah satu lagu Sekolah Minggu yang diinspirasi dari bagian ayat ini.
Dialah segalanya Dia bagiku, Dialah segalanya besar dan kecil
Korbankan diriNya dan slamatkanku, Dialah segalanya Dia bagiku
Sperti air madu dari batu karang, Dicicip air madu yang manis
Oh lihatlah Tuhan Yesus baik, Dicicip air madu yang manis

                Ada seorang ibu pedagang tempe yang berjualan di pasar sehari-hari. Ia membuat sendiri tempe yang dijualnya. Selama ini ia tidak pernah gagal membuat tempe. Suatu malam ia membuat tempe seperti biasa. Namun pagi hari waktu bangun dan ingin membawa tempe tersebut ke pasar, ternyata tempenya belum jadi. Masih berbentuk kacang kedelai dan tidak menyatu. Ia heran mengapa bisa begitu karena alat, bahan, proses, waktunya sama. Merasa Ia sedih karena selama puluhan tahun berdagang tempe, hasil penjualan setiap hari langsung dipakai untuk kebutuhannya sehari-hari dan membeli bahan untuk diolah jadi tempe lagi. Jadi tidak ada hasil yang berkelebihan. Mungkin ia punya sedikit tabungan, tapi tidak besar. Jadi kalau ia gagal menjual tempe, maka terpaksa ia mengambil tabungannya yang sedikit. Lalu ia berdoa dalam hatinya agar Tuhan menolongnya agar ada pembeli tempenya. Walau di hatinya ada harapan tapi ia tidak punya ada keyakinan 100% akan ada yang membeli tempenya. Kenyataannya memang para pelanggan yang datang tidak jadi membeli. Hari makin siang dan pasar akan tutup. Tiba-tiba ada seorang ibu yang berpakaian mewah datang. Ia tergopoh-gopoh dan bertanya ke sana-kemari. Rupanya dia ingin membeli tempe, namun karena sudah siang para penjual tempe sudah pulang. Tinggal si ibu penjual tempe yang belum jadi tempenya dan sedang bersiap-siap pulang. Setelah si ibu kaya tersebut menghampiri penjual tempe, ia tercengang , karena justru tempe yang belum jadi tersebut yang diperlukan untuk membuat jenis masakan daerah tertentu. Akhirnya tempe yang belum jadi tersebut habis diborong. Uniknya, begitu banyak pelanggannya yang tidak jadi membeli, dan  tiba-tiba ada pembeli yang membutuhkan tempe yang belum jadi! Mungkin ada yang mengatakan hal tersebut kebetulan. Tapi dalam iman,  hal yang  seperti yang kebetulan tersebut dipakai Tuhan untuk mencukupi. Tuhan kreatif dan tidak pernah memakai 1 cara saja untuk mencukupi kebutuhan anakNya. Allah berdaulat untuk memilih cara.

                Terkadang di tengah ketidaktahuan kita, Allah bisa mencukupkan. Pada tahun 2009 saya punya kesempatan untuk pergi ke Israel bersama rombongan. Saya tidak mengetahui untuk berpergian ke luar negeri, masa berlaku paspor yang dipakai harus sedikitnya 6 bulan sebelum tanggal perjalanan. 1 minggu sebelum keberangkatan, saya dipanggil penyelenggara tour yang mengatakan bahwa kemungkinan saya bisa tidak jadi pergi karena ternyata paspor saja hanya berlaku untuk beberapa minggu lagi. Ia berkata, “Kalau nanti di bandara ditahan dan tidak boleh masuk, jadi ibu tidak jadi berangkat.” Masalahnya : kalau di bandara Cengkareng lolos, bisa jadi di bandara Dubai belum tentu. Saya juga khawatir karena hanya pernah ke Malaysia dan Singapore, di samping itu sedikit khawatir karena nama saya ada huruf “q” nya yang biasanya dicurigai sebagai teroris atau penyelundup. Akhirnya daripada saya membuat rombongan susah, saya bermaksud membatalkan kepergian. Namun penyelenggara tour berkata,”Kita coba saja. Kita berdoa saja. Mengingat kita rombongan bersar, periksanya tidak terlalu detil. Tapi kalau sampai disuruh pulang, kita sudah siapkan tiketnya”. Akhirnya saya jadi berangkat. Namun setiap kali transit, hati dag-dig-dug karena khawatir pulang sendiri. Akhirnya semua berjalan lancar. Mungkin orang lain berkata, petugas imigrasinya “kelilipan” matanya  atau karena dengan rombongan maka periksanya tidak teliti. Tapi apapun alasannya, Tuhan ijinkan saya berangkat di tengah ketidaktahuan saya. Hari itu saya berserah, tidak berangkat tidak apa. Kalau berangkat dipulangkan saya pusing. Kalau pulang dari Cengkareng , saya masih mudah. Kalau di Dubai, saya pusing. Saya berharap kalau sampai tidak lolos, sebaiknya di Cengkareng saja. Bagi saya, Allah itu mencukupi, seperti Dia mencukupi ibu penjual tempe.

Jehova Jireh

                Pada Kel 15:22  Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Alkitab tidak mengatakan bahwa mereka sudah kehabisan air. Berarti mereka masih punya persediaan air, tetapi persediaannya semakin menipis karena tidak ada air untuk mengisi kembali persediaan air di kirbat mereka. Mungkin mereka minum dengan irit sekali di tengah padang gurun karena khawatir  kalau tidak dapat air juga, maka air habis, mereka pingsan lalu mati. Sewaktu berangkat dari Mesir, mereka diingatkan untuk membawa macam-macam (termasuk roti dan air minum). Allah tahu apa yang harus dipersiapkan umatNya. Jadi pasti ada persediaan air, tetapi makin lama jumlahnya makin sedikit. Mereka tiba di suatu tempat pada hari ke 3 dan mereka mendapat air. Tapi waktu mau diminum, ternyata airnya tidak bisa diminum karena airnya pahit. Itu sebabnya tempat itu dikatakan Mara, yang artinya pahit. Seperti Naomi pada kitab Rut, yang kehilangan suaminya ELimelekh dan kedua anaknya Mahlon dan Kilyon sehingga ia mengatakan, “Jangan sebut aku Naomi tetapi Mara karena Tuhan membuat hatiku pahit”. Bangsa Israel khawatir bahwa mereka akan kehausan setelah di hari ketiga mereka tidak mendapat air. Kesan yang akan didapat dari kisah ini sepertinya bangsa Israel tidak salah karena khawatir yang memuncak secara manusiawi. Jadi yang salah siapa? Tuhan yang menuntun mereka? Persoalan yang dihadapi oleh bangsa Israel tidak sepele. Namun masalah Isarel tidak lepas dari kejadian sebelumnya. Kel 14:21-22 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.  Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Kejadian ini baru terjadi 3 hari yang lalu. Walaupun saat mereka berkemah di seberang laut Teberau, berselang 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun kemudian mujizat Kel 14:21 tidak mudah dilupakan. Saat itu Tuhan membelah Laut Teberau semalam-malaman. Jadi mujizat yang terjadi berjam-jam dan dinikmati oleh sekitar 2 juta orang Israel (dari bayi sampai orang dewasa). Mereka berjalan di tanah yang kering semalam-malam. Artinya ketika Tuhan menguak laut semalam-malaman dengan angin timur, ternyata 3 hari tidak dapat air minum, membuat mereka kalang kabut seperti tidak pernah mengalami mujizat sebelumnya. Kekhawatiran membuat mata mereka tertutup dan mujizat itu terlupakan. Hal ini juga terjadi dengan kita. Ketika tabungan kita menipis dan gaji tidak naik-naik, lalu ada saja pengeluaran yang tiba-tiba, sehingga kita khawatir. Seperti kita sudah jatuh tertimpa tangga. Ketika melihat teman sekolah makin luar biasa bisa rumah yang beli rumah seharga Rp 10-12 miliar, sedang kita hanya membeli rumah seharga kurang dari Rp 1 miliar, kita khawatir bagaimana dengan anak saya bisa bersaing dengan mereka? Saat gereja ditinggalkan oleh penyandang dana, majelis khawatir kenapa dia yang tinggalkan gereja? Sehingga kita tidak lagi mampu melihat pemeliharaan Tuhan.

                Seringkali kita lupa , Allah sudah memberikan kita hidup, keselamatan, kesehatan hari ini untuk bisa ke gereja, bekerja, berdagang dll. Kita diberi pikiran yang jernih sehingga bisa melihat itu adalah cara Allah. Pada ayat yang ke 24, Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" Bangsa Israel bersungut menyalahkan dan memberikan desakan yang kuat. Mereka tidak mempercayai kepemimpinan Musa. Mereka malah ingin membunuh Musa dan mereka bermaksud kembali ke Mesir. Akhirnya dalam ayat ke 25 Tuhan mengijinkan air yang pahit itu menjadi manis (Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis). Kita melihat Allah mengijinkan air yang pahit menjadi manis. Karena Israel sudah tidak tahan sehingga Allah ijinkan hal itu. Karena di dalam ayat yang ke 27 sesudah minum air yang manis, mereka minum dengan air yang banyak di kirbat (kantong) mereka. Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu. Mereka berjalan 3 hari tanpa air, setelah bersungut-sungut Tuhan memberi minuman. Tapi dari Mara ke Elim hanya ½ hari perjalanan. ½ hari itu mereka tidak merasakan lelah karena mereka sudah minum yang banyak. Ketika mereka lihat ada pohon korma dan mata air, suka cita mereka bisa mencapai 100%? Tidak. Pertolongan Tuhan tidak begitu dirasakan di Elim, karena persediaan air masih banyak. Ibarat orang haus disuguhi minuman yang pahit lalu diberi yang manis, maka mereka akan merasa alangkah manisnya. Kalau kita menghadapi permasalahan , setelah tahu apa artinya jalan keluar, kita akan merasa sukacita penuh karena pertolongan Tuhan. Kalau memaksa, lalu dikasih, maka tidak merasakan sukacita yang penuh. Tuhan memberi bangsa Israel kebaikan, tetapi mereka komplain terus. Inilah manusia tidak pernah bersyukur.

Kesimpulan

                Jehova Jireh, Allah yang mencukupi, Allah yang memberikan, mungkin tidak berkelimpahan tetapi cukup, memberi kekuatan untuk menghadapi hidup. Ada 3 orang anak yatim piatu yang masing-masing berusia 12, 8 dan 4 tahun. Karena tidak ada makanan mereka berdoa. Awalnya jemaat membawa makanan untuk mereka. Setelah sebulan, jemaat sudah tidak lagi rajin memberi makanan sehingga mereka kelaparan. Mereka merengek lapar dan perutnya kembung karena kebanyakan minum air. Mereka terus menangis sampai tengah malam. Yang kecil sudah tidak mau minum air putih. Anak yang kedua mengusulkan untuk berdoa Doa Bapa Kami. Saat tiba pada kalimat “Berilah kami makanan kami yang secukupnya”, mereka tidak dapat melanjutkannya. Mereka menangis karena merasa tidak sesuai dengan kondisi mereka saat itu. Mereka akhirnya ketiduran. Keesokan paginya, pintu diketuk. Ada seorang ibu datang untuk memberikan singkong rebus. Di samping itu anak yang tertua diberi tawaran untuk menjadi penjaga toko kelontong. Sampai besar, ia hidup dengan sederhana. Karena rajin , gereja menyekolahkan dia dan ternyata akhirnya ia menjadi rektor sekolah teologi di Taiwan!  Allah Israel itu Jehova Jireh. Allah yang mencukupi setiap orang , dengan cara yang berbeda-beda. Musa kurang bisa berbicaara, tapi dicukupkan dengan Harun yang pintar bicara. Apa yang kurang, dicukupkanNya Kalau tidak pandai bicara akan diberi rekan yang cakap berbicara. Rasul Paulus pun pernah berdoa agar Tuhan mengangkat penyakitnya supaya pelayanannya lebih maju. Tapi Tuhan bilang cukup, Dia memberikan kekuatan yang cukup sehingga Rasul Paulus bisa pelayanan. Tuhan ingin agar Rasul Paulus melayani dengan kekuatan yang diberikan. Raja Hizkia diberi tambahan usia 15 tahun. Cara yang digunakan Tuhan untuk Rasul Paulus, Musa, Raja Hizkia berbeda. Apakah Allah tetap memberi yang cukup dalam hidup kita?
                Beberapa tahun lalu, saya pernah merasa lelah secara mental dan fisik dalam pelayanan. Sehingga saya mau berhenti pelayanan dan beristirahat. Saya kadang kala berkata mau berdagang saja. Tahun 2002, saya jatuh dari lantai 2 ke bawah. Seharusnya saat jatuh , saya bisa memegang tangganya, tapi karena panik tidak terpegang  sehingga saya jatuh ke belakang yang mengakibatkan saya susah berjalan karena lumbar tulang belakang yang ke tiga dan lima patah, dan dikhawatirkan tidak bisa berjalan dengan baik. Setelah cek jantung dll, saya dipersiapkan untuk operasi. Awalnya saya tidak merasa takut. Namun di ICU, ada seorang Bapak yang berteriak setelah ia menjalani operasi yang sama di tulang  pinggang. Akhirnya ia duduk di kursi roda. Karena itu saya jadi takut. Dalam keadaan yang mendesak, saya berdoa, “Tuhan tolong saya agar jangan dioperasi. Ketemukan saya dengan dokter yang mengatakan saya tidak perlu operasi.” Dokter berkata, hasil ronten akan selesai 2 hari lagi. Di tempat tidur, saya diingatkan karena tidak mau pelayanan dan maunya dagang. Akhirnya saya tetap ikut pelayanan. Maka sampai hari ini saya berkata tidak mau pedagang, ganti profesi. Tuhan cukupkan dengan banyak cara. Tuhan memberikan banyak anugerah ke rel yang seharusnya.



No comments:

Post a Comment