Wednesday, March 30, 2016

Di Salib-Mu Kubertelut

Pdt. Hery Kwok

Mat 26 : 39  Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Fil 2:5-11
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

                Allah peduli membuat kita mampu bertelut di salibNya. Ungkapan agung yang Yesus katakan adalah “melainkan seperti yang Engkau kehendaki”. Tema Jumat Agung kita hari ini DisalibMu Kubertelut. Pertanyaan yang mengawali tema ini, “Apa yang kita pahami dalam arti bertelut?

Apa arti Bertelut?
Orang Islam menyembah Allah mereka dengan berlutut. Kaki mereka menyangga badan lalu mereka menunduk kepada Allah. Gerakan di mana tubuh mereka bertelut memberikan gambaran (simbolis).  

Kenapa harus Bertelut? Ini jawaban yang harus ditemukan dalam renungan Jumat Agung.

Ilustrasi : Waktu negara Tiongkok dalam bentuk kerajaan maka kita mengenal adanya seorang RAJA. Rakyat menyembah (sujud/bertelut) kepada Raja. Bila raja hadir, maka semua rakyat harus berlutut dan tidak boleh melihat wajah sang raja. Karena mereka mempunyai pemahaman bahwa raja adalah sosok yang disebut sebagai raja langit atau anak dewa. Maka status dari kerajaan itu membuat ia layak disembah oleh rakyatnya. Ia berhak menerima penyembahan rakyatnya. Seluruh rakyat wajib menyembah. Dalam dunia kita, orang-orang yang menjadi rakyat di kerajaan mempunyai pemahaman bahwa raja adalah pribadi yang layak disembah karena dia punya status dan keberadaan sebagai raja langit. Kalau manusia saja memberikan gambaran yang luar biasa kepada raja, maka sebagai orang percaya, kita harusnya melebihi orang dunia. Karena Allah merupakan Pencipta Langit dan Bumi, Ia menciptakan manusia yang tidak ada dengan sendirinya seperti proses evaluasi di ilmu pengetahuan yang digusung oleh Darwin. Karena Allah menciptakan manusia, maka manusia wajib untuk menyembah Allah. Tetapi Alkitab memberi penekanan bahwa nenek moyang kita memberontak dan tidak mau menyembah Allah . Mereka mau menjadi Tuhan atas hidup mereka sendiri. Maka perlu dipikirkan mengapa manusia sulit, gagal dan tidak mungkin bertelut kepada Allah?

Bagaimana manusia dapat bertelut kepada Allah dalam seluruh hidupnya?

Sebagai pekerja di kantor (karyawan), pedagang atau pelaku bisnis apakah seluruh pekerjaan dan usaha terkait dengan usaha kita untuk menyembah Allah? Sebagai orang tua, suami-istri, anak dan orang yang ada di rumah apakah kita sungguh-sungguh hidup menyembah Allah? Sebagai siswa baik remaja yang sekolah dan pemuda yang kuliah, apakah studi kita merupakan penyembahan dalam seluruh keberadaan hidup kita?

Dalam Fil 2:5 Rasul Paulus ingin menasehatkan kita ,”Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” Rasul Paulus ingin agar kita mengikuti teladan , pikiran dan perasaan yang ada pada Kristus saat Ia mengatakan di Getsemani:  “Kehendak-Mu yang jadi”

Apa arti Kehendak-Mu?
1.       Di Getsemani : “KehendakMu yang jadi” Apa arti kehendakMu? Kalimat agung ini keluar. Secara pikiran, kehendak Allah seharusnya jadi dalam hidup kita. Kalau terjadi, apakah kita siap menerima dan bersyukur dan berkata, Engkau mulia, agung dan besar. Contoh : Ada seorang wanita Kristen yang baik dan saleh. Ia membaca Alkitab setiap hari, pagi hari bersaat teduh. Lalu Anna, wanita ini, menikah dengan Daniel yang juga orang percaya yang beribadah baik kepada Allah secara antusias. Tidak pernah bolos beribadah kepada Tuhan. Kalau tugas keluar kota, ia mencari Tuhan di hari perhentianNya. Anna kemudian dikaruniakan seorang bayi. Waktu mengandung , ia sangat bersuka cita dengan kehadiran buah hatinya. Namun kelahirannya bermasalah karena anaknya sung-sang. Ia tidak ingin anaknya dilahirkan secara Caesar. Dengan keyakinan imannya ia berdoa kepada Tuhan. Ia sangat berharap melahirkan normal. Dari keyakinannya dan Daniel yang hadir saat istri melahirkan untuk menguatkan Anna, Anna mendapat kekuatan dan bayinya lahir dengan baik secara normal. Ia sangat senang sekali. Mereka menjadi keluarga yang bahagia. Daniel berkata, “Saya merasa anak ini miliki kita. Anak ini bagian dari keluarga yang tidak boleh dipisahkan bahkan oleh Allah pun. Tetapi satu tahun sejak anaknya lahir, ia digendong Daniel berjalan di trotoar. Di pagi itu ada supir angkot yang menabrak mereka berdua. Hari itu juga keduanya meninggal. Anna sebagai istri dan ibu yang baru melahirkan, walau saat teduhnya yang baik, ibadahnya yang teratur, saat menerima kejadian ini imannya goyah. Imannya tidak bisa menerima. Tuhan kalau Engkau baik dan mengasihi saya, mengapa Engkau memberikan peristiwa ini?” Anna ingat akan dua orang yang dikasihi yang nyawanya direngut oleh supir yang ceroboh. Anna mengalami kesulitan iman , memahami Allah yang dikenal sebagai Allah yang baik yang menganugerahkan Daniel , suami yang bertanggung jawab , pendapingnya dan menguatkannya di kala susah. Hari yang dialami Anna adalah hari yang panjang. Ia berusaha beribadah tapi sulit memahami Allah, ia membaca Alkitab tapi tidak mampu mengenal Allah karena peristiwa kematian suami dan anaknya. Jadilah kehendakMu” berarti janganlah kita memikirkan pengalaman tentang peristiwa yang enak-enak saja. Saat Petrus berjalan bersama dengan Yesus dan Yesus bertanya , “Menurut kamu siapa Aku? Petrus menjawab, Engkaulah anak Allah, Mesias. Ia berbicara sedemikian lantang. Yesus berkata, “Bukan dari engkaulah perkataan itu tetapi dari Allah. Kemudian saat Yesus mengatakan bahwa Ia akan mati, Petrus mengatakan, “Sekali-kali hal itu tidak boleh terjadi. Jadi bicara tentang kehendakMu terjadi adalah hal yang memampukan kita bertelut kepada Allah, di situlah pengenalan kita kepada Allah terus berkembang. Saat Yesus memberi teladan di taman Getsemani, ikutlah pikiran dan perasaan Yesus. Karena ia mengikuti teladan Allah bukan kehendaknya yang terjadi. Waktu Yesus mengatakan demikian Ia memberikan kepada Allah seluas-luasnya hidupNya dan membiarkan Allah mengatur diriNya disitulah Yesus dapat bertelut dengan benar. Jangan kita berpikir kita sudah bertelut. Saat kita mengalami hal yang tidak bisa diterima, disitulah pergumulan yang sebenarnya terjadi. Bukan saat mengalami yang enak-enak. Saat mengalami kesulitan dalam dagang dan pekerjaan, keluarga yang kesulitan, perpecahan dan keributan, di situ kita bukan menjadi orang yang bertelut dan menyembah Allah, karena kita sulit menangkap Allah dalam pemahaman iman kita. Seringkali kita terbentur dan mengakui dan menerima seluruh yang Allah kerjakan. Waktu dikatakan kehendakMu yang terjadi, saat disalib, kita mengakui seluruh jalan Tuhan adil dan benar. Saat bertelut itu kita mengakui jalan yang adil dan benar. Mungkin hari ini kita mengalami tabrakan iman, tetapi kita mau belajar. Disitulah kita mengakui bahwa keagungan Allah ada dalam seluruh jalan dan peristiwa yang kita alami. Anna baru mengalami pemulihan setelah proses yang panjang. Tapi saat ia mengakui Tuhan sebagai Allah yang baik dan walaupun tidak bisa memahami, barulah disitulah ia memberikan kehidupan sebagai orang Kristen.  

2.       Di Salib : Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai Hak yang dipertahankan (ayat 6). Dikatakan, Dia tidak mempertahankan hakNya. Yesus Kristus adalah Allah sejati. Itulah Allah Tritunggal dan Allah yang Esa yang menyatakan diri dalam 3 pribadi. Ia memberikan hakNya untuk tidak dipertahankan saat bertanya, “Siapa yang mau melayani Aku?” Yesus mau. Pikiran dan perasaan Kristus yang nyata adalah kerendahan hati. Rendah hati tidak sombong. Itu pemahaman kita. Lawan rendah hati itu sombong. Apakah ramah itu tidak sombong? Ada orang yang ramah, supel luar biasa, senyum kiri dan kanan. Apakah itu rendah hati? Itu bukan kesimpulan yang benar. Ada yang tersenyum di luar tapi hatinya sombong (angkuh dalam hatinya). Defisini rendah hati adalah ingin kembali kepada Kristus. Ia mengambil rupa sebagai hamba dan taat sampai mati. Mati di kayu salib. Proses yang digambarkan oleh Rasul Paulus. FIl 2:7-8  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Allah mengaruniakan nama di atasnya supaya di bawah Yesus berlutut dan mengakui dia sebagai Allah yang rendah hati.

Kesimpulan

Di saliblah Kristus sudah melakukan dan menggenapi apa yang Tuhan mau melalui kerendahan hatiNya sehingga ia mengorbankan diriNya. Di salib, Kristus sudah melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh manusia : hidup untuk Allah (Hidup yang berpusat kepada Allah, hidup yang bergantung pada Allah dan hidup yang bertelut / menyembah pada Allah). Karena itu hanya oleh salib maka kita dapat hidup untuk Allah oleh karena pengorbanan Kristus.
Karena sudah pernah melakukannya (hidup untuk Allah), kita bisa melakukannya lagi. Kita sulit melakukannya, karena kita sombong dan mementingkan diri sendiri. Salib yang membuat kita beribadah. Salib membuat kita giat melayani Tuhan karena di sanalah kita bertemu dengan Tuhan. Apa yang akan kamu ingin perbuat, perbuatlah sesuai kehendak Allah.
               



Tuesday, March 29, 2016

Yudas : Cermin Kegagalan Umat Allah


Pdt. Tjen Benny

Matius 26:14-25
26:14 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot,  kepada imam-imam kepala. 26:15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak  kepadanya.
26:16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
26:17 Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi  datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: "Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah  bagi-Mu?"
26:18 Jawab Yesus: "Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku  hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku."
26:19 Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.
26:20 Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
26:21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku. "
26:22 Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"
26:23 Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.
26:24 Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia,  akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan."
26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia  itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?  " Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Di dalam kehidupan manusia ada 4 tahap :

1.   Bayi sampai anak sebelum masuk sekolah.
Kebenaran yang dipegang dan kata-kata yang dipegang adalah kata-kata dari orang tua

2.   Usia masuk sekolah hingga SMP 1.
Kebenaran yang dipegang adalah kata-kata dari guru

3.   Usia SMP 2 - SMA
Kebenaran yang dipegang adalah kata-kata teman.
Pada tahap ini, manusia bisa berkelahi dengan orang tua karena membela teman

4.   Kuliah - usia lanjut
Kebenaran yang dipegang adalah diri sendiri

Kebenaran-kebenaran dalam ke empat tahap ini bersifat relatif (bisa saja salah).

Kita bersyukur diberkati dengan adanya Firman Tuhan, kebenaran yang sungguh-sungguh benar dan sempurna, tidak pernah salah. Ya dan amin. Sehingga manusia seharusnya suka dengan Firman Tuhan. Dengan demikian manusia akan membaca, memikirkan dan melakukan Firman Tuhan.

Ada 2 jenis manusia :                                                                                                                                                                         
1. Manusia yang setia kepada Allah, mis : Abraham
2. Manusia yang tidak taat kepada Allah, mis : Yudas Iskariot

Yudas Iskariot ini adalah nama yang mencerminkan murid Tuhan yang gagal.
Penyebab kegagalan Yudas  

1.     Keserakahan akan uang
Matius 26:14-16 Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot,  kepada imam-imam kepala. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak  kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.
Pada Mat 26:14-15 disebutkan Imam Kepala dan orang Farisi adalah sebagai pihak yang tidak senang kepada Tuhan Yesus. Ayat 16 menyebutkan bahwa bukan imam kepala dan orang Farisi yang berinisiatif melainkan Yudas yang adalah murid dan sebagai "orang sendiri" yang mencari , menawarkan, menjual dan mengkhianati Tuhan Yesus. Imam kepala tidak menyia-nyiakan tawaran yang diberikan oleh Yudas. Yudas bertanya kepada imam-imam kepala,” Apa yang akan engkau berikan, jika aku memberikan Tuhan Yesus ?”. Apakah di sini ada tawar menawar? Tidak! Langsung ada nilai 30 keping uang perak, menunjukkan apa yang ada dalam hati dan pikiran Yudas adalah uang sebesar 30 keping uang perak. Hal ini sesuai Keluaran 21:32 Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal t  perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu. Jadi harga seorang budak, kalau diukur dengan kurs sekarang adalah sekitar Rp 3.300.000.
Begitu murahnya harga menjual Tuhan Yesus, menunjukkan begitu serakahnya manusia akan uang. Pertanyaan hari ini : Lebih penting mana antara Tuhan Yesus dengan uang ? Jaman sekarang segala sesuatu butuh uang (dulu maupun sekarang sama saja). Orang yang mengandalkan Tuhan, akan diberkati oleh Tuhan. Jangan seperti Yudas, semua diukur dengan uang. Yudas gagal karena terlalu rakus akan uang. Ia menjual Tuhan Yesus karena uang.  Kita menyembah Tuhan yang begitu kaya dan maha murah tapi kita begitu pelit kepada Tuhan. Jangan kita menjual iman.

2.     Tidak mau bertobat.
Mat 26:21-22. Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku. "  Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: "Bukan aku, ya Tuhan?"
Tuhan Yesus sudah menunjukkan siapa yang akan menjual Tuhan Yesus, tapi orang tersebut tidak mau bertobat. Anugerah sudah diberikan kepada manusia yang berdosa, jangan terus menerus menikmati dosa. Bertobatlah dan hidup kudus!
Firman Tuhan dikhotbahkan pada hari minggu, bertobatlah. Tuhan Yesus menegur Yudas saat makan, tetapi tidak digubris oleh Yudas. Ketika Tuhan katakan untuk bertobat maka bertobatlah dan jangan bermain-main dengan dosa

3.      Karena tidak mau memahami Allah.
Mat 26:25 26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia  itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?  " Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Ketika Yesus katakan ada yang mau menjual, murid-murid menjawab,”Bukan aku ya Tuhan? sedangkan Yudas menjawab, bukan aku ya Rabbi?” Rabbi artinya adalah guru, seorang manusia biasa. Ini menunjukkan bahwa Yudas tidak memahami siapa itu Tuhan dan menganggap Yesus hanya sebagai manusia biasa saja. Walaupun selama hampir 3.5 tahun bersama-sama, Yesus melakukan perbuatan-perbuatan besar, Yudas ada. Namun Yudas hanya memandang Yesus sebagai guru dan tidak bernilai.

Siapakah Tuhan Yesus ? Bagaimana dengan kita? Jangan gara-gara uang. tidak mau ditegur dan kita menjadi orang yang gagal. Orang yang datang ke dalam gereja hati-hati, Dari 12 murid saja ada yang tidak setia. Sedangkan orang yang mencintai Tuhan akan membuat gereja maju

Aku dan Kau, Orang Berdosa

Ev. William Andreas Sitinjak

Pendahuluan

                Hari Jumat lalu saya pergi untuk mengikuti seminar di UPH dengan menggunakan ojek. Saat itu hujan deras sehingga kami mengenakan jas hujan. Di kawasan Kota Lama lampu lalu lintas terlihat dari jauh berwarna hijau sehingga tukang ojek-nya ngebut. Namun ketika mendekat warna lampunya berubah menjadi merah sehingga harus berhenti mendadak.  Di tengah kebingunan saya berkata dalam hati, “Terus saja Pak!”. Akhirnya kami terus lewat dan saya menghadang pengemudi motor agar tidak menabrak kami. Itu dosa yang saya lakukan saat itu. Apakah kita manusia berdosa? Iya! Apa contoh konkritnya? Kesombongan di dalam diri. Tidak ada manusia yang tidak pernah sombong. Mungkin di antara kita tidak ada yang pernah membunuh manusia, tetapi manusia tidak ada yang tidak sombong. Sewaktu kuliah di SAAT, saya dibilang sombong. Hal ini membuat saya kesal walaupun akhirnya saya menyadari mengapa saya dikatakan sombong. C.S. Lewis mengatakan kejahatan yang terbesar adalah kesombongan. Kesombongan menghasilkan semua kejahatan lain : kesombongan adalah keadaan pikiran yang sepenuhnya melawan Allah.

Apa itu tindakan kesombongan ?
-          Memandang rendah orang lain, sampai-sampai kita tidak mempedulikan penilaian orang lain. Mis : Sdr. Irwan yang bermain piano dengan bagus, tiddak sombong. Kalau sombong dia memandang rendah saya dan dia tidak peduli apakah saya memuji dia atau tidak.
-          Mencintai diri secara berlebihan. Jika ada orang lain yang menyakiti maka orang itu menjadi musuhnya. Ia menjadi teman kalau ia setuju dengan pendapat kita.
-          Kesombongan           rohani adalah mengangap diri sendiri sebagai orang saleh yang benar dan orang-orang lainnya sebagai pendosa yang bersalah. Ilustrasi : ada seorang ahli rambut, yang memberi nasehat untuk memelihara rambut dengan memberi shampoo dan obat. Tapi ia sendiri lupa memelihara rambutnya sehingga rambutnya sendiri botak. Waktu wignya terlepas , maka semua pasiennya kabur semua. Terkadang kita juga seperti itu. Kita menasehati orang lain sedangkan diri kita sendiri tidak dirawat.
-          Dosa pertama Adam dan Hawa bukanlah hanya melanggar perintah Tuhan, tetapi kesombongan ingin hidup sama seperti Allah (Kej 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat) Motivasinya ingin seperti Allah. Maka CS Lewis mengatakan kejahatan terbesar adalah kesombongan yang menghasilkan semua kejahatan lain.

Dalam kejadian 3 kita melihat akibat melakukan dosa, Adam Hawa :
1.       Takut dengan kehadiran Tuhan Kejadian 3:10 “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” . Apakah karena dia telanjang, maka ia bersembunyi? Padahal Kej 2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Rupanya kata telanjang pada Kej 2:25 berbeda dengan Kejadian 3:10. Kata ‘telanjang ‘ pada Kej 2:25 berasal dari kata Ibrani ‘arom’ yang berarti ketelanjangan secara fisik. Adam tahu dan sadar telanjang secara fisik dan tidak merasa malu. Tetapi dalam Kej 3:10 digunakan kata ‘eirom’ yang berarti keterhinaan (Adam merasa diri hina karena telah melanggar firman Tuhan). Ketika kita jatuh dalam dosa, maka kita takut pada Tuhan dan orang sekitar kita.
2.       Menyalahkan Allah. Adam secara tegas langsung menjawab “perempuan yang Kau tempatkan di sisiku” (Kej 3:12). Sebenarnya ia menyalahkan Tuhan (Kau yang menempatkan perempuan itu di sisiku). Hal ini serupa saat menghadapi masalah, kita berkata, “Mengapa Tuhan memberi masalah ini kepadaku?”
3.       Manusia terus-menerus melakukan dosa.  Kain dan keturunannya sudah sangat berdosa (Kej 4:1-24), Kain membunuh Habel. Anaknya Lamekh juga membunuh. Siapa yang mengajarkan? Tidak ada. Tetapi dosa itu terus menerus ada di dalam manusia sejak kejatuhan Adam dan Hawa. Kecenderungan manusia hanya pada kejahatan (Kej 6:6). Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Maka saya bingung juga mengapa karena Adam semua manusia berdosa?

Michael Horton : “Kita (manusia) tidak hanya ikut bersalah karena dosanya Adam; kita juga bersalah sebagai pendosa di dalam Adam”. Jadi kita tidak hanya bisa menyalahkan Adam saja, tetapi kita sebagai pendosa yang aktif melakukan dosa. 
Roma 5:12  Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. .  Menjalar kepada semua orang karena satu orang, mengapa?
Michael Horton : Semua manusia telah berdosa karena dan di dalam Adam. Dasar ini ada pada konsep Yahudi tentang corporate solidarity: apa yang dilakukan satu orang mempengaruhi kelompok yang diwakilinya, begitu juga sebaliknya (Yos. 7:1). Dengan kata lain, dosa Adam mempengaruhi status dan natur keberdosaan semua manusia.
Karena satu orang (Akhan) maka seluruh umat Israel telah berubah setia. Sama seperti Adam (nenek moyang kita) yang jatuh dalam dosa dan kita semua pun orang berdosa. Dengan kata lain dosa Adam mempengaruhi status dan natur keberdosaan semua manusia.

Yakub Tri Handoko
Kaitan dosa Adam dan keberdosaan semua manusia pada tahap kerusakan natur saja. Natur manusia yang sudah rusak akibat dosa menyebabkan manusia pada akhirnya juga berdosa. Dosa Adam bukanlah penyebab langsung dari keberdosaan manusia.
Mazmur 51:5  Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Beda sekali dengan konsep agama lain. Bayi lahir dalam keadaan suci. Tetapi kekristenan mengatakan bayi naturnya berdosa. Jadi kita semua di dalam dosa.

Manusia rusak total dalam naturnya yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Tuhan (Roma 3:23) Manusia juga aktif melakukan dosa dan tidak dapat lepas dari ikatan dosa, sebelum mengenal Kristus. “non posse non paccare” (Tidak dapat tidak berbuat dosa) St. Agustinus.
Tetapi ketika menerima Kristus, tetap bisa berbuat dosa tapi dapat memilih untuk tidak berbuat dosa karena kita dikuasai oleh Roh Kudus.

Apa itu dosa?
-      Khatta’ [Bahasa Ibrani, pelanggaran] (keluaran 32:30). Mengungkapkan pikiran yang memilih jalan sesat. Gagal. Mirip Hamartia (salah sasaran). Saat GSRI Taman Sari ulang tahun , saya datang bersama dengan Lau Shi Vivi L yang naik gojek (saya naik motor).  Akhirnya gojek mengarahkan kami. Ada jalan 1 arah dan kami seharusnya tidak boleh melewatinya tetapi supir gojek menerabas saja. Dalam hati saya berkata, “Seharusnya saya tidak ikut.” tapi karena saya tidak tahu jalannya maka mau tidak mau saya mengikutinya. Lau shi Vivi sadar bahwa kita salah. Terkadang dalam hidup kita dipimpin oleh orang yang salah sehingga kita juga melakukan kesalahan. Mungkin sebagai orang tua kita mengarahkan anak secara salah sehingga anak berbuat salah juga dan itu dosa.
- Pesya (pemberontakan) yaitu memberontak terhadap kekuasaan yang sah (1 Raja 12:9; 2 Raja 8:20) atau pemberontakan terhadap hukum-hukum Tuhan (Hos. 8:1)
- Awon [perbuatan tidak senonoh] ( 1 Raja-Raja 17:18 ). Awon  mengacu pada rasa bersalah yang dihasilkan dosa.
- Asymâh, "melanggar", "berbuat kekhilafan, kesalahan”. Secara tidak sadar kita melakukan kesalahan. Saat lau shi Vivi berkata, “Saya agak gemuk” saya membantah dan mengatakan bahwa yang gemuk Calvin sehingga Calvin cemberut. Terkadang tanpa sadar dengan perkataan kita menyakiti orang.
- Râsyâ', "tidak mengindahkan perintah tuhan", "berbuat jahat", "maksiat", dsb., "Tidak melakukan ibadah“
Syegâgâh, "dosa" yang tidak disengaja, karena tidak hati-hati, karena tidak sadar dan tanpa diketahui
Secara umum dalam pl, dosa itu dimengerti sebagai “ketidaktaatan” umatnya kepada Tuhan.

Dosa adalah perasaan atau pikiran atau perkataan atau tindakan yang datang dari hati yang tidak menghargai/mencintai Tuhan melebihi dari segala sesuatu (John Piper). Kalau kita lebih mengasihi pacar atau anak  dibanding Tuhan, itu dosa. Pikiran kita kalau tidak kita arahkan kepada Tuhan. Itu salah (dosa). Begitu juga perkataan dan tindakan yang tidak menunjukkan perkataan dan tindakan Tuhan itu salah.

Dosa adalah membangun kehidupan dan makna hidup pada apapun juga, bahkan sesuatu yang sangat baik, melebihi pada Allah (Timothy Keller). Kita membangun sesuatu yang baik tetapi melebihi Tuhan. Misal : kita melayani Tuhan dan berlatih dengan baik tetapi dasarnya bukan pada Tuhan, maka kita melakukan dosa. Kita mencapai kesuksesan dalam bekerja mendapatkan uang dan kesuksesan melebihi Allah, itu dosa.

Terus apa yang harus aku dan kau lakukan ?
-          Sadari dan akui kita adalah manusia berdosa di hadapan Tuhan (1 Yoh 1:9) dan juga sesama. Bukti kasih Tuhan sudah Tuhan nyatakan dengan datang ke dunia, mati di kayu salib untuk kita orang berdosa. Kita sadari kita manusia berdosa, mari kita akui. Mungkin juga tidak kita sengaja. Mari kita akui.
-          Mulai waspada dengan dosa dan saling mengingatkan. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.  Contoh : missal kita punya anak yang dapat nilai jelek dan kita marah pada anak itu. Tapi kalau dia mencontek dapat 100 kita tidak marah. Seharusnya kita marah karena itu dosa. Mungkin kita risih kalau melihat orang tidak rapi bajunya, tetapi kita tidak risih saat orang berkumpul bersama bergosip. Kita mungkin kesal ketika pemain music suaranya besar sekali. Tetapi kita kesal dengan sahabat kita yang besar rasa kuatirnya dengan hari esok. Seharusnya kita menempatkan emosi dan marah  kita pada dosa bukan pada yang bukan dosa. Istri tidak balas SMS kita marah. Kalau istri selingkuh barulah kita harus marah.
-          Musa marah terhadap dosa yang dilakukan orang Israel (Kel 32:19-20) Saat turun dari gunung Sinai Musa melihat orang Israel menyembah lembu emas. Ia marah dan pecahkan loh batu itu dan lembu emas dilebur, dimasukkan ke air dan diberi minum kepada orang Israel satu per satu.
-          Nehemia marah ketika orang Yahudi melakukan dosa (Neh 13:25 Aku menyesali mereka, kukutuki mereka, dan beberapa orang di antara mereka kupukuli dan kucabut rambutnya dan kusuruh mereka bersumpah demi Allah, demikian: "Jangan sekali-kali kamu serahkan anak-anak perempuanmu kepada anak-anak lelaki mereka, atau mengambil anak-anak perempuan mereka sebagai isteri untuk anak-anak lelakimu atau untuk dirimu sendiri! Jadi Nehemia melihat orang Israel melakukan dosa, dipukuli, dicambuti rambutnya karena ia kesal. Yesus ketika melihat bait Allah menjadi sarang penyamun dibongkarnya. Itu dosa. Tapi kalau baju tidak rapi kita marah, tidak tepat meletakkan kemarahan.  Nilai anak kita jelek, tidak tepat kita marahi. Kalau mencontek kita marah.

.  Contoh. Bisa dikatakan dosa atau tidak dosa. Kita bisa memilih. Saat menghadapi marah, kita bisa memilih untuk marah atau tidak. Mengapa tidak diberikan senyuman? Mungkin teman dan sahabat kita jatuh dalam dosa dan kita hardik Kamu salah! Kalau dia bebal karena harus berkali-kali diberitahu di situ kita marah. Tetapi kalau dia sekali dan dua kali. Kita maafkan. Kita harus sadar, kita bersama adalah manusia berdosa. Tidak ada di antara kita yang tidak berdosa. Stop menghakimi. Kalau orang jatuh dalam dosa, stop bicarakan, mari bantu dia dengan senyuman. Kita manusia berdosa. Tuhan layak menghakimi kita. Tetapi dia datang dan mengasihi kita.  Manusia menajamkan sesamanya tetapi tidak harus dengan emosi. Semoga hidup kita berbahagia karena kita menyadari Allah mengasihi kita. Mari kita berelasi bersama dan saing mengasihi. 

Stand Up For Jesus


Ev. Mathindas Wenas

1 Kor 15:3-11
3  Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
4  bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
5  bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
6  Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
7  Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
8  Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
9  Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
10  Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
11  Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
Fil 3:10-11
10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
11  supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Untuk Apa Kita Berdiri Teguh untuk Tuhan (Stand up for Jesus) ?

Di dunia ini ada satu  pasukan (tentara) elit yang sangat terkenal asal Amerika Serikat yakni Navy Seal. U.S. Navy SEAL (The United States Navy Sea, Air and Land) adalah pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat, yang disiapkan untuk melakukan operasi tempur non konvensional, mempertahanan negeri AS, melakukan serangan langsung, kontra terorisme, dan operasi khusus lainnya. Untuk menjadi anggotanya, orang harus mendaftar dan melakukan banyak latihan. Salah satunya adalah apa yang disebut ‘5 hari neraka’ di mana selama 5 hari mereka tidak tidur , tidak diberi makan, tidak boleh minum  dan dibiarkan kedinginan dan kelaparan. Dalam air dingin dan kondisi haus serta lapar tanpa makanan , mereka harus menyelam dan berlari. Setelah menjadi anggota pasukan ini , bila ada peperangan di suatu tempat untuk hal-hal sulit,  mereka diutus paling depan dan mereka siap untuk mati. Mereka mempersiapkan diri, berlatih sampai sedemikian rupa untuk diutus kalau perlu sampai mati! Setelah itu selesai.  Coba bayangkan, ada hal seperti ini di tengah-tengah dunia ini. Di  di Arlington County, Virginia, Amerika Serikat ada kuburan Arlington National Cemetary. Di komplek perkuburan yang luasnya 253 hektare itu , ada satu bagian kuburan yang menjadi tempat bagi prajurit AS yang mati di medan perang tapi namanya tidak diketahui. Untuk memberi penghargaan kepada mereka, ada sepasukan prajurit yang menjaga kuburan tersebut siang-malam baik hujan maupun panas. Mereka menjaga kuburan orang-orang mati. Mereka berjaga karena mereka diperintahkan untuk itu.  Mari kita melihat diri kita sendiri. Ada orang berjaga pada kuburan orang mati sedangkan kita punya Tuhan Yesus yang hidup dan kuburan tidak bisa menahanNya karena Dia sudah bangkit (kita punya Tuhan yang hidup), bagaimana kita berdiri teguh di hahapanNya? Apa yang kita lakukan? Kalau untuk orang mati mereka bisa begitu, bagaimana dengan kita untuk pribadi Yesus yang hidup bagi kita?

Merespon dan Berdiri Teguh Bagi Tuhan

Ada 3 hal yang perlu untuk kita memahami bagaimana seharusnya kita berespon dan bisa berdiri teguh di hadapan Tuhan, menjadi prajurit dan alat anugerahNya yang dipakai untuk menjadi berkat di tempat yang Tuhan percayakan (termasuk gereja ini) kepada kita :

1.        Percaya dan mengalami kuasa kebangkitan Tuhan Yesus. Fil 3:10 Rasul  Paulus berkata,” Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Kita percaya Tuhan Yesus  bangkit. Bertahun-tahun kita diajarkan Yesus bangkit. Namun yang penting bukan sekedar percaya Kristus bangkit tetapi kita mengalami kuasa kebangkitanNya tidak. Kuasa kebangkitanNya sangat besar karena ia memberi hidup dan menstransformasi hidup. Kalau kuasa dunia ini adalah kuasa yang menghancurkan, tetapi kuasa Yesus yang bangkit adalah kuasa  yang memberi dan mentransformasi hidup. Kuasa Kristus berkuasa menyelamatkan jiwa kita.
Waktu Yesus meninggal, semua murid terpencar. Mereka tinggal di tempat yang tertutup dan terkunci (sembunyi). Tetapi ketika mereka bertemu dengan Yesus yang bangkit, satu per satu mengalami perubahan (transformasi) yang luar biasa. Tadinya mereka takut kepada prajurit Romawi, imam-imam dan orang-orang Farisi, tetapi ketika bertemu Yesus yang bangkit mereka mengalami kuasa kebangkitan Yesus. Akhirnya mereka dipakai oleh Tuhan untuk berani bersaksi tentang Yesus. Murid-murid mati demi kepercayaan mereka. Semua rasul mengalami penganiayaan dan mati karena mereka bertemu Yesus yang bangkit dan mengalami kuasa Yesus secara pribadi dan tidak takut lagi. Ada saudara Yesus yakni Yakobus tidak mau mengaku Yesus. Orang Yahudi menganggap Yesus tidak benar karena berani mengatakan bahwa Ia adalah Allah. Seluruh keluarga Yesus ketakutan. Daripada dihakimi oleh para imam dan ahli Taurat maka mereka pun menolakNya. Tetapi di dalam tradisi Kristen , saudara Yesus yakni Yakobus menjadi percaya kepada Yesus dan menjadi pemimpin gereja di Yerusalaem dan akhirnya dirajam sampai mati karena percaya pada saudaranya. Waktu hidup Yesus membuat banyak mujizat dan mereka menolakNya tidak percaya, tapi setelah Yesus mati mereka percaya. Karena mereka melihat Yesus tidak hanya mati tetapi bangkit pada hari ketiga. Dan itu disaksikan begitu banyak murid sampai 500 orang dan yang masih hidup begitu banyak pada zaman itu. Orang yang tidak percaya seperti  Paulus yang memimpin penganiayaan orang percaya, tetapi begitu ketemu Kristus ia mengalami kuasa kebangkitanNya. Ia menjadi sangat berani, tidak takut apapun, dari penganiaya ia menjadi pemberita Injil. Ia mati karena kepercayaannya bagi Kristus yang mati dan kemudian bangkit.

Terjadi perubahan yagn luar biasa di Yerusalem. Orang banyak yang menolak Yesus, sebagian besar mereka berkata, “Salibkan Dia!”. Ketika Rasul Petrus berkotbah, 3000 orang percaya. Orang yang tidak percaya menjadi percaya. Waktu orang Yahudi percaya pada Yesus, maka ia harus berubah seluruh tatanan sosialnya. Ia mengalami penolakan dari para imam – ahli Taurat dan dikucilkan. Tetapi banyak pengikut Yesus bertambah banyak. Karena Yesus tidak hanya mati tapi juga bangkit. Semua murid Yesus mengalami kuasa itu. Kalau orang sekarang percaya Yesus tapi tidak mengalami secara pribadi kuasa kebangkitan Yesus maka kita tidak memberi perubahan kepada dunia. Tetapi murid-murid bukan hanya percaya, tetapi mereka mengalami kuasa kebangkitan dan mereka tidak takut. Mereka memberi kesaksian untuk Yesus dan mereka siap mati untuk itu.

2.       Rasul Paulus mengerti bahwa ia harus mengalami kuasa kebangkitan Yesus. Ia harus mengerti bahwa untuk menjadi orang yang dipakai Tuhan, ia harus memahami penderitaan Yesus. Sehingga di Filipi ia katakan,” Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”. Rasul Paulus rindu mengalami penderitaan di dalam Kristus. Maksudnya, Rasul Paulus ingin merasakan apa yang Yesus alami di atas kayu salib. Seseorang yang hanya mengerti penderitaan (orang itu melakukan sesuatu untuk orang lain dan menderita), hanya akan kagum akan perbuatan orang itu. Tetapi Paulus melihat apa yang dilakukan Yesus itu untuk diriNya. Ini yang digambarkan pada Yoh 21:16-19   Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."   Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku.". Waktu Yesus berkata kepada Simon untuk ketiga kalinya, Simon sedih sekali, “Tuhan engkau juga tahu bagaimana aku mengasihi engkau dan kasarnya ia ingin berkata, “Engkau juga tahu aku menyangkal engkau 3 kali”. Tetapi pertanyaan itu untuk membawa Petrus ke pergumulan yang lebih dalam bahwa ternyata Yesus memanggilnya untuk menderita bagi Kristus. Kita tidak akan pernah mengalami dan memahami penderitaan Yesus kalau kita tidak mengerti bahwa bagaimana Kristus mengasihi kita. Di atas kayu salib, Kristus mati. Orang-orang di luar Kristen juga tahu bahwa Kristus mati. Tetapi mengapa kita berbeda? Karena kita tahu Dia mati bagi kita, karena Dia mengasihi, maka Dia mati untuk kita. Sehingga pada Yoh 3:16 dikatakan,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Apa maksud ‘mengaruniakan’? Mengaruniakan implikasinya membiarkan Yesus mati , menyerahkan Yesus untuk disalibkan di atas kayu salib.  Kasih yang besar itu dinyatakan melalui AnakNya yang menderita dan mati di atas kayu salib. Kita tidak mungkin mengerti arti penderitaan Yesus kalau tidak mengerti arti kasih Allah dalam hidup kita melalui kematian Yesus. Kalau kita mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang dan kalau ia menolak kasih kita, maka rasanya sakit. Kita sakit karena ada sesuatu yang hilang dalam diri kita. Kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Mari kita memahami kasih Allah di dalam Yesus Kristus : Allah mengasihi kita. Ketika Allah mengasihi dan kita menolak kasih Allah maka Allah merasa sakit. Ia sakit karena kehilangan sesuatu? Allah adalah sempurna. Self-sufficient tidak ada kekurang apa pun. Ketika Dia mengasihi dan kita menolak kasihnya, maka Allah sedih dan sakit bukan karena Dia kehilangan sesuatu tetapi karena kita yang kehilangan sesuatu. Waktu Dia memberi sesuatu, kita tolak. Seharusnya orang itu yang kehilangan sesuatu. Dia ingin membuktikan, bukan karena ia butuh sesuatu dari kita. Di dalam diriNya tidak ada yag kurang. Allah sempurna. Allah tidak mengasihi kita supaya jadi sempurna. Ia mengasihi karena Allah adalah kasih dan kasih dinyatakan di atas kayu salib. Ketika Yesus disalib, Yesus tahu bahwa Dia mati bagi orang-orang yang nanti akan mengkhianati dia. Yesus tahu Dia mati untuk orang yang lebih memilih harta, uang,  kekayaan dan jabatan daripada diriNya. Yesus tahu orang-orang yang ketika berhasil, sukses , kaya dan menjadi terkenal akan berkata, itu karena usahaku, jerih lelahku, kepintaranku dan pengalamanku semata. Yesus tahu kita sering mencuri kemuliaanNya. Yesus tahu tetapi Dia mati karena Dia mengasihi kita, bukan karena ada sesuatu dalam diri kita. Itulah kematian Yesus di atas kayu salib. Penderitaan itulah yang Rasul Paulus mau , ia mengalami penderitaan Yesus di atas kayu salib dalam hidupnya supaya ia tidak bermegah dalam hidupnya. Segala sesuatu yang dialami karena datang dari Tuhan bukan karena kehebatan dirinya. Kalau kita tidak mengerti arti kasih Allah dalam hidup kita, penderitaan Yesus tidak akan berguna bagi kita. Kalau kita tidak mengerti arti kasih Kristus di atas Kalvary, kita tidak akan pernah kita mengerti tentang pengorbanan Dia di atas kayu salib. Hanya karena kalau kita mengerti kasih Allah, kita bisa mengerti penderitaan Yesus : sungguh Dia mati dalam penderitaanNya untuk kita.

3.        Kita harus memiliki pengharapan (hope) dalam Kristus. Harapan adalah poin penting bagi dunia dan kekristenan saat ini. Seorang Amerika bertanya kepada warga Irak tentang kondisi Irak ,”Bagaimana sebelum dan sesudah AS datang di Irak?” Bagaimana kondisi Irak sebelum AS datang dan bagaimana setelahnya? Yang dijawab, “Sebelum Amerika datang kami sangat menderita, dan setelah Amerika datang kami tetap menderita tapi kami punya pengharapan”. Itulah yang kita lihat saat ini mengapa A Hok didukung oleh bukan orang Kristen yang memberikan tenaga, pikiran dan uang karena apa? Mereka melihat perubahan apa yang telah dilakukan oleh guberner-gubernur sebelumnya dan apa yang dilakukan A Hok selama 2 tahun ini memberi perubahan yang besar. Mereka melihat ada pengharapan bagi Jakarta ketika A Hok nanti terpilih lagi akan ada Jakarta yang lebih baik lagi.  Dia tidak sempurna dan bisa menyenangkan semua orang tetapi ada pengharapan. Di sanalah yang penting. Kita membutuhkan pribadi yang memberikan harapan dan pengharapan kita satu-satunya dalam Kristus. Rasul Paulus berkata, “Kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah  kepercayaan kita.” Rasul Paulus melihat bahwa pengharapan adalah sesuatu yang sangat penting sekali. Ketika Yesus mati di kayu salib, Dia mati untuk memberikan kita hidup yang kekal dan itu dinyatakan melalui kebangkitanNya. Janji dari orang mati tidak bisa dipegang. Tetapi janji dari Kristus yang hidup. Ketika Ia hidup dan naik ke surga lalu mengutus Roh Kudus untuk memberikan kita kepastian dan jaminan akan hidup yang kekal. Ef 1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. 2 Kor 1:21-22 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Allah di dalam Yesus Kristus mengutus Roh Kudus untuk memeteraikan kita menjadi milik Allah selama-lamanya sampai kita mendapatkan sepenuhnya ketika kita bertemu dengan Kristus. Yang menarik dikatakan bahwa Roh Kudus tinggal dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan. Hidup yang pasti diberikan kepada kita melalui jaminan di mana Roh Kudus tinggal dalam hati kita.

Mobil Bugatti Veyron harganya di atas Rp 40 miliar.
Koenigsegg CCXR Trevita harganya di atas Rp 50 miliar.
Lykan Hypersport harganya di atas Rp 60 miliar.
Lamborgini Veneno Roadster harganya di atas RP 70 miliar.
Maybach Exelero harganya di atas Rp 100 miliar.
De Beers Centenary, berlian 5 termahal harganya 100 juta $.
The Hope Diamond, diamond biru terbesar harganya 350 juta $.
The Cullinan , the star of Africa harganya 400 juta $
The Sancy Diamond harganya tidak bisa dinilai
The Koh-I-Noor harganya unestimated, harganya tidak bisa dinilai karena ada di atas mahkota Inggris yang diklaim oleh orang India untuk dikembalikan karena milik negara India. Memang didapatkan Inggris saat menjajah India.

Berapa harga kita? Firman Tuhan berkata Roh Kudus tinggal di dalam hatimu untuk menjamin keselamatan yang pasti. Berapa harga diri kita? Ini hanya sebagian kecil dari ciptaan Allah di dunia ini. Unestimated (tidak bisa dinilai). Hanya sebagian kecil. Tahukah kita bahwa kita membawa Roh Kudus tinggal di dalam hati kita ke manapun kita pergi, Pencipta Alam Semesta yang menciptakan barang yang unestimated itu tinggal di dalam hati kita. Seringkali kita tidak menyadari betapa berharganya kita ketika kita percaya kepada Yesus, maka Yesus rela mati bagi kita. Karena Dia mengasihi dan memberikan Roh Kudus untuk tinggal dalam diri kita. Ketika ada orang yang menghina dan merendahkan diri kita, kita tidak menjadi hina atau direndahkan karena perkataannya , karena apa yang ada dalam diri dan kita lebih dari segala sesuatu dalam dunia ini karena Yang Mencipta Dunia ini tinggal dalam hati kita. Itu luar biasa. Kita harus bersyukur.

Beberapa Aplikasi

1.       40 tahun lalu saat hari Minggu Paskah 1976, Ibu Bertha Adams (71 tahun) meninggal sendirian di West Palm Beach , Florida karena malnutrisi (kurang gizi). Untuk hidup sehari-hari, dia mengemis makanan dari tetangga. Pakaiannya adalah  sumbangan dari Bala Keselamatan. Melihat penampilannya, dia adalah janda miskin yang terlupakan. Setelah ia meninggal, saat membereskan rumahnya ditemukan 2 kunci SDB  (Safe Deposit Box). Saat SDB pertama dibuka ternyata berisi  100 sertifikat surat berharga (saham surat obligasi) dan setumpuk uang kontan dolar AS 200,000. SDB kedua berisi mata uang asing yang sneilai 600,000 dolar AS. Total harta wanita ini lebih dari 1  juta dolar AS (sekitar Rp 13 miliar). Ironisnya ia meninggal karena kurang gizi! Kita lihat dan refleksi dalam diri  kita. Ketika Roh Kudus ada dalam diri kita , hidup kita bernilai sekali. Tetapi waktu kita diminta terlibat pelayanan, seringkali kita bilang bahwa kita tidak bisa apa-apa. Padahal Roh Kudus bisa melakukannya. Jangan-jangan waktu kita mati kita seperti perempuan ini yang mati dengan harta Rp 13 miliar yang tidak ia pakai. Kita meninggalkan talenta yang tidak pernah digunakan. Artinya kita tidak mengalami kuasa kebangkitan Tuhan Yesus dan arti kasih Allah melalui penderitaanNya di atas kayu salib. Lalu apa arti hidup kita? Apa yang kita bisa lakukan untuk Tuhan? Stand up for Jesus!

2.       Di Jerman ada 1 desa terpencil di atas bukit. Di desa itu berdiri sebuah gereja yang memiliki pipe-organ yang sangat bagus yang dilindungi pemerintah sehingga untuk memainkannya harus mendapatkan ijin. Suatu waktu ada seorang pemain musik yang rindu memainkan pipe-organ ini. Ia  datang pada hari biasa dan mengetuk pintu dan dibukakan oleh penjaga gereja. Ia bertanya, “Apakah saya boleh masuk dan memainkan pipe-organ itu?” dan dijawab oleh penjaga tersebut, “Tidak boleh karena dilindungi pemerintah. Hanya orang tertentu yang punya ijin untuk memainkannya. Ia berkata, “Saya datang dari jauh dan saya ingin melihat pipe-organ dan memainkannya” dan tetap dijawab “tidak bisa”. Ia pun menawar,”Boleh saya lihat saja?” Karena kegigihannya sang penjaga menjawab,”Boleh, tapi jangan disentuh.” Pemain musik itu melangkah masuk dan melihat pipe-organ itu tangannya tidak tahan, “Masa ia sudah jauh datang tidak boleh memainkannya?”. Akhirnya ia meminta ijin untuk memainkan 10 menit saja. Setelah tawar menawar akhirnya ia diberi ijin 3 menit. Saat memainkannya, tanpa terasa 5 menit berlalu. 10 menit, 15 menit dan 30 menit berlalu. Ternyata sang pemusik bisa memainkan pipe-organ itu dengan luar biasa sampai penjaga lupa memberhentikannya. Ia bermain sampai 1 jam di mana ia sudah mengubah sebuah lagu. Selesai ia memainkannya, sang penjaga berkata kepadanya, “Pak , sepanjang saya menjaga puluhan tahun di gereja ini, saya belum pernah melihat ada tangan yang memainkan tuts pipe- organ ini dengan luar biasa dan memuliakan Tuhan. Baru kali ini saya melihat tangan yang tepat untuk memainkan pipe-organ ini. Penjaga itu kemudian bertanya, “Siapa kamu?” Pemusik itu menjawab, “Saya Felix Mendelssohn.” Ternyata ia adalah seorang komposer (penggubah lagu) yang luar biasa (1809-1847), pianis, organis dan konduktor periode Romatik awal. Tetapi ia berkata, “Saya bukan apa-apa.” Di dalam hidup kita sebagai orang percaya, setiap kita Tuhan percayakan untuk dapat memainkan tuts yang Tuhan ijinkan untuk dimainkan. Tuhan percayakan hidup yang luar biasa. Tuhan percayakan gereja ini kepada kita. Tuhan mempercayakan kepada kita untuk memainkan tuts-tuts tertentu untuk kita terlibat didalamnya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kalau kita tidak pernah melihat dan memainkan tuts tertentu maka kita tidak pernah ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja. Sehingga tiap tahun kita memperingati kebangkitan Yesus tapi kita tidak pernah mengalami Kristus yang bangkit. Kita lupa Kristus yang bangkit itu memberi kita hidup yang pasti yang tidak pernah diambil dari kita dan dijamin oleh Roh Kudus yang ada di dalam diri kita. Itu harta terbesar yang kita miliki selama kita hidup. Biarlah hidup kita boleh menjadi hidup yang Tuhan mau dan berkenan bagiNya. Ketika kita meninggal dan bertemu denganNya, kita bisa katakan, “Tuts yang dipercayakan Tuhan kepada saya, sudah saya mainkan.” Amin.


Monday, March 7, 2016

Salib : Muara Kutuk – Kasih Allah

Pdt. Hery Kwok

Matius 26:36-46
36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa."
37  Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
38  lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
39  Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
40  Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
41  Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
42  Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
43  Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.
44  Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
45  Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
46  Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Pendahuluan

                Muara adalah tempat berakhirnya aliran sungai yang dikenal dengan nama laut (pertemuan antara air tawar dan air asin). Dalam tema Salib : Muara Kutuk – Kasih Allah, salib merupakan  tempat pertemuan antara kasih Allah dan kutuk Allah.  John Robert Walmsley Stott (1921-2011, pengkhotbah, penginjil, dan penulis asal Inggris) dalam bukunya The Cross of Christ (2006 Salib Kristus) memberikan 2 pertanyaan :

1.       Mengapa Allah tidak langsung saja mengampuni kita, mengapa harus melalui Salib?
Pertanyaan ini menyinggung satu kebenaran dan membawa kita kepada pemikiran khususnya sewaktu Tuhan mengajarkan doa Bapa Kami, “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:9). Juga pada Mat 18:23-35 perumpamaan tentang hamba yang jahat yang diampuni raja dengan membebaskan utangnya sebesar 10.000 talenta (jumlah ini sangat besar dan tidak bisa dilunasi sampai mati).  Hamba yang jahat ini kemudian bertemu dengan orang yang berhutang kepadanya 100 dinar dan ia tidak bersedia membebaskannya saat orang itu tidak bisa membayarnya. Jumlah utang ini  tidak ada artinya bila dibandingkan dengan utangnya kepada raja. Setelah mengetahuinya, Raja berkata, “Hamba ini jahat dan patut dihukum.” Allah memberikan sebuah petunjuk bahwa kita saling mengampuni dan tidak ada keharusan ada yang mati. Tetapi kenapa Tuhan harus repot –repot dengan mati di kayu Salib? Mat 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.", Jadi pertanyaan ini bagus untuk dipikirkan karena makna pengajarannya dalam. Ia mengkhotbahkan tentang pengampunan tetapi Dia sendiri ‘tidak bisa’ melakukanNya.

2.       Mengapa pengampunan kita harus bergantung pada Salib Kristus?
Kalau berdasarkan akal sehat, pengampunan itu sebenarnya tidak harus melalui salib. Orang Islam mengajarkan tentang bagaimana beramal dan menimbun amal. Kebaikan akan ditimbang, dan bila pada neracanya kebaikan lebih berat dibanding kesalahannya maka akan seseorang akan diampuni . Jadi tidak tergantung pada Yesus. Maka berbuat baik dan beramal kepada manusia (seperti menolong janda, yatim piatu , menyumbang rumah ibadah) lebih masuk akal sehingga diampuni. Atau seperti pengikut Budha yang vegetarian, menyangkal diri dan berusaha tidak menyakiti orang lain bahkan binatang. Sehingga ajaran manusia seakan-akan lebih masuk akal dibanding ajaran Kitab Suci.

Kedua pertanyaan ini akan mengarahkan kita melihat tema di atas.  Menjawab apa yang John R.W. Stott tanyakan, kita akan masuk ke pemahaman tentang dosa.

Dosa adalah hal yang PALING MENGERIKAN

Apa pemahaman kita tentang dosa?
-          Suatu tindakan kejahatan? Tindakan kriminal seperti membunuh, memperkosa, merampok orang sehingga pelakunya disebut pendosa?
-          Satu perbuatan yang merugikan orang lain? Contoh : bolehkah menipu dan berbohong kepada orang? Sehingga ada yang mengatakan bahwa boleh sedikit berbohong (white lie) dengan alasan kalau orang lain rugi sedikit tidak apa daripada merugikan orang banyak atau kalau tidak sedikit berbohong maka bisa pecah rumah tangga.
-          Suatu sifat yang jahat dalam diri seseorang?  Misalnya : pendendam (kalau disakiti, tidak bisa pernah mengampuni sampai beberapa keturunan)  atau iri hati melihat orang bisa sukses sehingga cemburu dan tidak suka. Maz 73 pemazmur bilang aku melihat orang jahat semakin gemuk, sukses dan enak (tidak mengalami kerugian dan sakit). Istilahnya : berbuat jahat justru jadi enak. Padahal saya yang rajin ke gereja , beribadah dengan serius dan memberi persembahan dengan baik, tetapi tidak pernah mengalami kelimpahan materi seperti orang jahat itu.

Kalau tidak memahami dosa dengan benar, maka kita akan mempunyai anggapan seperti di zaman modern di mana secara sederhana dosa dianggap sebagai kelemahan manusia (khilaf atau alpa yang merugikan). Sehingga manusia tidak merasa ngeri saat berbuat dosa dan dosa bukan hal yang mengerikan.
Di TV, kita bisa menyaksikan saat KPK memanggil orang yang diduga korupsi miliaran bahkan  triliunan, orang tersebut tersenyum. Ia ingin orang memaklumi kelemahannya. Ia sempat makan dengan lahap. Berbeda dengan catatan Kitab Suci di mana orang yang mengalami pergumulan dosa, memukul diri dan memakai kain kabung. Dosa itu sangat berbahaya!
Uskup Agung Canterbury Anselmus (1033 – 1109, asal Inggris)  dalam bukunya Cur Deus Homo (Bahasa Latin, artinya "Mengapa Allah Menjadi Manusia”) mengatakan, “orang yang tidak memandang dosa sebagai hal yang serius / orang yang tidak melihat betapa beratnya bobot dosa”  maka  orang tersebut belum dapat mengerti kenapa Allah HARUS mengampuni dosa kita MELALUI SALIB.

Matius 26 :38 dikatakan (juga pada kitab Markus dan Lukas) lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Penulis Injil memunculkan ekspresi emosional dari Kristus, perasaan hatiNya sangat sedih seperti mau mati rasanya. Dalam Injil Lukas digambarkan kondisi Yesus seperti tidak mendapat kekuatan lagi dalam menghadapi tantangan. Mengapa Tuhan menyongsong dengan pergumulan sedemikian? Apa Dia tidak rela? Mengapa ia harus sedih dan seperti orang mau mati? Untuk dapat memahaminya , kalau kita juga pernah menghadapi peristiwa hampir mati. Saat banjir luar biasa tahun 2007 , saya dan beberapa pemuda dengan peralatan minim berusaha menolong orang yang kebanjiran dan saat itu saya hampir mati tenggelam. Takutnya banyak. Kalau hamba Tuhan mati tenggelam , bisa ada yang beranggapan “Ini hamba Tuhan yang jahat”. Kalau hamba Tuhan meninggal di mimbar gereja atau ladang misi, namanya harum luar biasa. Mengapa hati orang yang mau mati begitu mengerikan? Karena itu perasaan yang paling menyiksa.

Mengapa hati Tuhan sedih sedemikian? Apakah karena Dia takut akan penderitaan di kayu salib? Mel Gibson , sutradara film The Passion of The Christ, menggambarkan dengan jelas saat Yesus mau disalibkan (bagaimana dia disiksa dan dicambuk) sampai Dia tidak bisa mengangkat salibNya menuju Golgota. Kalau Yesus takut seperti itu berarti Yesus menyangkal pernyataanNya di Matius 16 “Kalau ada orang yang menyiksa, menyesah dan mengambil nyawamu, jangan takut.” Tidak mungkin Tuhan sakit secara fisik. Seluruh orang yang mengikuti Yesus Kristus seperti para rasul dan lainnya rela mati karena Kristus. Mati untuk Kristus merupakan kehormatan yang besar. Ia tahu akan dicambuk, tetapi ketakutanNya itu bukan ketakutan fisik. Dia tidak takut karena ditinggalkan murid-muridNya. Ia tahu itu semua. Ia tahu akan dicambuk. Atau bukan karena ia takut secara moral karena murid-muridNya akan meninggalkannya. Ia tahu itu semua. Ia sedih sampai penulis Injil mengangkat perasaan emosi ini, karena Tuhan Yesus tahu betapa menakutkannya penderitaan rohani di mana Dia memikul seluruh dosa manusia. Hal ini digambarkan sebagai cawan dimana Yesus Kristus berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat 26:39). Allah memandang dosa secara serius. Yesus memberi pelajaran penting dengan memandang dosa bukan sebagai hal yang main-main karena dengan disalib maka “Aku akan dikutuk Allah sebagai orang berdosa”. Sehingga penulis Alkitab menggambarkan ekspresi Yesus di Taman Getsemani sedemikian lengkap, jelas dan berarti. Kitab Suci menolong kita memandang dosa.

Alkitab menggunakan 5 kata dosa dalam  Bahasa Yunani 3 di antaranya :
1.       Hamartia = gagal mencapai target (seperti anak panah, yang bila meleset akan mati), tidak sampai sasaran. Allah suruh agar Adam dan Hawa tidak memakan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat tapi ternyata mereka makan, hal ini berarti gagal.
2.       Parabasis = pelanggaran atau melanggar batas yang diketahui.
Saat membangun rumah kalau mengambil batas rumah orang lain, maka bersalah karena berarti mengambil hak orang lain. Juga jangan mengambil hak janda yang seharusnya mendapat pertolongan. Tuhan marah dengan orang yang mengambil batas orang lain. Hal ini seperti koruptor dan penipu yang mengambil hak-hak orang.
3.       Anomia = pelanggaran hukum, atau perlawanan terhadap hukum yang diketahui.
Saya sendiri harus berjuang untuk tidak melewati jalur bus (busway) Trans Jakarta saat sedang terburu-buru. Apalagi sewaktu mau berkhotbah.
Dari ketiga kata tersebut, dosa adalah hal pelanggaran terhadap hukum terutama dan pertama (Mat 22:37-38   Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama) dan tidak mau bergantung kepada Allah. Manusia mengatur dirinya sendiri tanpa mau mengikuti aturan Allah. Manusia menjadi Raja/Tuhan atas dirinya sendiri.

Saat Adam memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, ia sadar untuk tidak mau bergantung kepada Allah. Itu dosa! Tidak mau bergantung pada Allah merupakan intisari dari ketiga kata itu. Di mana kita tidak mau diatur Allah , hanya mau mengatur diri sendiri. Saat diberi aturan, Allah memberikan diri dan karakterNya. Saat Allah  meminta,”janganlah kau makan buahnya” (Kej 2:27) di sini mengandung makna “siapa Allah”. Allah itu kudus , sungguh mengerti itu berbahaya dan berdaulat. Manusia sekarang tidak mau mengikuti aturan Allah (Manusia jadi Tuhan. Saya punya wibawa dan kuasa dan melakukannya sendiri). Waktu menggumuli tempat sekolah anak apakah kita menggantungkan diri pada Allah? Biasanya kita punya uang dan tidak mau bertanya kepada Allah.

Inti dosa: permusuhan terhadap Allah (Rom.8:7 Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya) sehingga salib harus terjadi. Seharusnya kita di sana (karena kita terkutuk), tapi ditimpakan kepada Kristus sehingga kutuk tidak dipikul oleh kita.

Allah adalah ALLAH YG MAHA KASIH & KUDUS

Ketika persepsi (cara pandang) kita tidak beres/benar mengenai Allah (KASIH DAN KUDUS, dua sifat Allah yang sepertinya bertabrakan tetapi tidak bertabrakan. Dia kudus tetapi mau menerima orang berdosa) dan memahami manusia (BERDOSA DAN JAHAT). Waktu pemahaman kita tepat dan benar, maka kita dapat melihat KEMULIAAN  ALLAH (ALLAH YANG KASIH DAN KUDUS) sehingga kita mengerti kenapa pengampunan HARUS MELALUI  SALIB. Waktu Musa ingin melihat Allah, Tuhan berkata, “Orang yang melihat Saya akan mati”. Melihat kemuliaan Tuhan, berarti melihat Dia hadar. Yesaya takut sekali melihat Allah karena Allah Maha Kudus (Yesaya 6). Kalau kita memahami Allah, kita tidak pernah salah mengapa pengampunan harus melalui Salib. Mat 26:39,42 dan 44  memberikan penekanan. KataNya : "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Ini memberikan pengajaran tentang cara pandang Allah yang tidak meleset. Yesus meletakkan seluruh rencana Allah agar dapat dijalaniNya. Jadi Dia benar-benar melihat Allah di dalam kedaulatanNya sehingga Dia berkata, “Bapa jadilah yang Engkau mau”. Itulah Allah yang Kitab Suci ajarkan. Tetapi Allah yang dikenal oleh orang-orang modern berbahaya sekali

3 Jenis ‘Allah’ yang menarik bagi orang modern :
1.       Allah yang toleransi terhadap kejahatan (kelemahan) saya. “Allah toleransi dong karena saya manusia yang lemah dan tidak berdaya”. Tetapi begitu dihukum, “Kenapa begitu saja langsung dihukum?” Manusia tidak suka akan hal itu. Allah yang menghukum dan memberi penalty tidak diterima.
2.       Allah yang lemah lembut dan baik hati.
3.       Allah yang menyesuaikan diri terhadap kondisi. Allah mengapa tidak melihat zaman yang sudah berbeda?
4.       Allah yang tidak akan memiliki reaksi-reaksi yang keras

Padahal Allah dalam Perjanjian Baru tidak berbeda dengan Allah dalam Perjalanan Lama , sama-sama Allah yang tegas yang menghukum dosa namun Allah yang menunjukkan kasihNya. Jangan sampai terjebak dalam pandangan tentang Allah di zaman modern ini. Zaman sekarang zaman LGBT (zaman di mana laki senang laki yang dikatakan,’Itu tidak salah, yang penting aman. Itu hanya kelainan seksual’). Allah mengapa tidak melihat zaman sudah berbeda? Dulu pada zaman Musa, Hakim-Hakim, Yesaya, Yeremia, tidak masalah bila Allah tidak setuju, tetapi apakah sekarang di abad 21, Allah tidak bisa mengerti? Kita senang Allah seperti itu. Sehingga gereja tidak lagi melihat Allah yang benar. Mengapa gereja membuka diri terhadap orientasi seks yang tidak benar? Apakah gereja berani berkata bahwa LGBT itu dosa? Allah memandang dan menghukumnya dengan serius. Apakah gereja berkata itu dosa? Allah memandang hal itu dengan serius dan menghukumnya dengan serius.

Allah yang Alkitab ajarkan adalah
-          Allah yang membenci kejahatan (muak/jijik, marah terhadap kejahatan).
-          Allah yg berbelas kasihan (Pengasih dan Penyayang) = Allah yang mencari jalan tertentu untuk mengampuni, membasuh dan menerima para pembuat kejahatan

SALIB yang dapat melakukan PENGHUKUMAN ALLAH terhadap dosa manusia dan sekaligus menerima orang berdosa untuk didamaikan dengan DIRI ALLAH.

Penutup : Respon yang Harus Terjadi dalam Diri Kita

Allah yang kita kenal dengan baik adalah Allah yang memberikan salib itu. Salib yang memampukan penghukuman Allah dilaksanakan. Melalui salib itulah, keadilan dijalankan terhadap dosa manusia. Salib juga sekaligus suatu pertanda dan tindakan di mana Allah menerima orang berdosa. Perbuatannya dihukum tetapi orang yang menyesali didamaikan dengan Allah.

Sebelum masuk ke perjamuan kudus, saya menantang saudara dengan 2 pertanyaan :
1.       Kalau kita belum menerima Tuhan Yesus dalam hidup kita dan menjadikan Tuhan yang memerintah  bukan lagi pikiran dan duit saya (tidak sadar bahwa kita orang berdosa) maka saatnya untuk minta ampun dan memohon belas kasihan Allah. Kalau ada yang belum dibaptis katakan, “ Tuhan saya mau menerima Engkau, saya mau dibaptis.” Hanya melalui saliblah kutukan Allah dilakukan dengan adil (menghukum saya yang berdosa sekaligus menerima saya orang yang diampuni).

2.       Kalau mengaku sudah percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi masih hidup dengan bermain-main dalam dosa, kita perlu pikirkan mengapa Dia melakukan jalan salib untuk kita? Janganlah bermain-main dengan dosa. Rasul Paulus berkata, “Kalau kamu sudah menerima Tuhan, maka kamu wajib hidup seperti Tuhan hidup.” Itulah salib yang kita bicarakan.