Thursday, December 3, 2015

Iman Yosua


Pdt. Hery Guo

Bilangan 14:5-10
5   Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.
6  Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,
7  dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.
8  Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
9  Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka."
10  Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

Yosua 1:9  Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Yosua 3:14-17
14   Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu.
15  Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu — sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai —
16  maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho.
17  Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan.

Yos 7:3  Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."

Pendahuluan

Nama imam Yosua muncul dalam sebagian kitab Pentateukh yang ditulis Musa yaitu pada kitab Keluaran, Ulangan dan Bilangan. Setelah itu Yosua menulis kitab yang diberi nama kitab Yosua. Pada kitab ini kita bisa belajar tentang kepahlawanan, keberanian dan iman Yosua. Hari ini kita belajar tentang iman Yosua. Perjalanan iman Yosua tidak berbeda dengan perjalanan iman kita dalam dunia sehari-hari. Jadi apa yang dituliskan dalam Alkitab memberi gambaran dari apa yang dilalui oleh orang percaya seperti juga Yosua dengan imannya berjalan dan menerima janji Allah yang diberikan kepada umat Israel.

Dalam kitab Bilangan 14, saat bangsa Israel bermaksud memasuki Tanah Perjanjian, diutus 12 orang pengintai untuk mengobservasi terlebih dahulu. Hasilnya 10 orang pengintai memberi laporan yang membuat bangsa Israel patah hati. . Mereka menyampaikan bahwa tanah tersebut dikuasai oleh orang yang besar, berkubu dan memiliki pasukan militer yang tidak mudah dikalahkan. Kesimpulan mereka : tempat tersebut tidak mungkin akan diperoleh bangsa Israel. Apa yang disampaikan membuat orang Israel tawar hati. Hanya Yosua dan Kaleb yang menyampaikan kabar baik. Dalam dunia ini, yang mayoritas mengalahkan yang minoritas. Padahal mayoritas belum tentu lebih baik dan benar dibanding minoritas. Mereka meragukan janji Allah, mereka tidak berani yakin bahwa Allah akan memberi tanah itu, sehingga mereka mengeluarkan pendapat negatif membuat bangsa Israel tawar hati. Namun Yosua berbicara tentang imannya yakni  :  

-        Iman Yosua tertuju kepada Allah yang berdaulat. Pada Bilangan 14:8 dikatakan Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.. Iman dari Yosua adalah iman yang tertuju kepada pribadi Allah yang berdaulat. Alkitab sudah membuktikan siapa Allah itu. Seringkali dasar kepercayaan kita tentang kedaulatan Allah tidak memiliki pijakan yang kokoh. Misal : muda-mudi Kristen dalam mencari pasangan tidak mengikuti Firman Allah seperti pada 2 Kor 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Muda-mudi bimbang dan akhirnya menentukan kriterianya berdasarkan patokan, rasio dan pertimbangan sendiri. Seharusnya rasio tunduk pada iman. Sebagai Allah yang berdaulat, TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Maz 37:23). Apakah kita mengimani bahwa Dia menentukan jalan hidup saya dan keluarga saya? Terhadap Allah berdaulat itulah Yosua menaruh  imannya. Seperti juga Abraham yang pergi ke suatu tempat yang akan diberikan kepadanya dan keturunannya. Yosua punya keyakinan  bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang berdaulat. Dia tidak punya kegentaran sedikitpun menyatakan kebenaran ini. Demikian pula pernyataan bahwa Allah berdaulat atas hidup keluarga kita seharusnya membawa keberanian untuk mempercayakan hidup kita kepada Allah. Kadang kita memisahkan Allah dari problem kita dan meragukan kedaulatan Allah (apa Allah bisa dan sanggup?). Padahal kedaulatanNya tidak pernah goyah. Ia mengerti ketetapanNya. Kepada Allah seperti itulah Yosua menaruh imannya.

-        Iman Yosua kepada Allah yang berkuasa. Pada Bilangan 14:9 dikatakan  Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." Allah berkuasa mengalahkan orang-orang tersebut. Allah yang kita percayai , telah mengalahkan allah-allah orang asing (dewa dan roh-roh yang disembah mereka). Keyakinan kepada Allah yang berkuasa membuat Yosua menjadi berani sehingga orang-orang yang akan berhadapan dengan bangsa Israel sudah kalah terlebih dahulu.  Catatan ini ditemukan waktu mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Penduduk Yerikho gentar setelah mendengar tentang Yosua dan pasukannya yang dilindungi Allah yang berkuasa, Allah yang mampu melakukan segara perkara.  Tanggal 4 November 2015, A-yi Willy akan berusia 90 tahun. Saat dibesuk kalau ditanya mau nyanyi apa, dia selalu minta dinyanyikan lagu “Allah berkuasa melakukan segala perkara”. Hal ini dilandasi pengalamannya  bahwa selama ini Allah  telah dan akan terus menolong orang-orang yang dikenalnya. Dalam usia 90 tahun, ingatan tentang Allah kuasa tetap melekat di pikirannya. Sehingga waktu mengalami masa-masa  kritis, ia dapat melaluinya. Memang kalau Allah akan memberikan hidup maka a-yi Willy akan hidup . Dan sampai hari ini a-yi masih segar. Betapa iman terhadap Allah yang berkuasa, membuat orang tetap kuat dan semangat. Kalau tidak yakin Allah berkuasa, maka kita akan jatuh saat menghadapi tantangan hidup.

*    Apakah Yosua tidak pernah takut? Yosua ada rasa takut. Hal ini dapat dilihat pada kitab Yosua pasal 1. Berkali-kali Tuhan menguatkan Yosua dengan kalimat  “jangan takut…”

·       Yosua dipercayakan untuk memimpin umat Israel karena Musa telah meninggal. Yosua yang masih muda harus menggantikan Musa yang merupakan pemimpin besar bangsa Israel. Sehingga Allah berulang-ulang berkata, “Jangan takut, jangan gelisah , karena Aku menyertai engkau.” Yosua dalam kemanusiaannya mengalami masa sulit (imannya mengalami ujian).

·       “Ujian” masuk ke Tanah Perjnajian mirip seperti Musa membawa keluar bangsa Israel dari tanah Mesir melewati Laut Teberau sedangkan Yosua harus melewati sungai Yordan. Waktu Yosua memasuki tanah perjanjian, ia harus melewatinya. Ukuran sungai Yordan saat Yosua , lebarnya (normal) = 45 meter (150 kaki @ 30 cm) dalamnya 4,5 meter.  Kalau sedang meluap, maka ukurannya bisa 2 kali lebar normalnya.  Jadi bisa 90 meter (dan saat itu sedang meluap). Di utara, salju yang mencair menuju Laut Mati melaluinya. Sungai Yordan memiliki kuantitas dan kualitas air yang tidak berkurang pada zaman Yosua. Kalau hanyut di sungai tersebut, maka orang akan meninggal. Dengan demikian apa yang ditakuti bangsa Israel sewaktu masuk sungai Yordan tidak mengherankan.

-        Iman Yosua kepada Allah yang setia . Pada Yosua 1:5 dikatakan  Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Berbeda dengan manusia yang saat berjanji pada orang yang akan dibantu, dipengaruhi berbagai faktor. Misalnya : saat akan menolong, orang yang akan ditolong tingkahnya tidak berkenan maka kita jadi malas menolongnya. Seringkali malah kita yang mengecewakan orang yang mau ditolong. Berbeda dengan Yosua yang melihat kesetiaan Allah.

-        Iman Yosua kepada Allah yang hidup. Yosua berkata , "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu (Yosua 3:10). Ayat ini disampaikan Yosua kepada orang Israel yang akan menginjakkan kakinya ke dalam sungai Yordan. Jumlahnya sekitar 3 juta orang melewati sungai yang deras airnya. Itu bukan perkara gampang. Namun bagi Allah yang hidup dan nyata (bukan berdasarkan konsep dan teori) hal itu terjadi! Saat perayaan Natal, selalu digambarkan Allah yang Immanuel dan tidak jauh dari kita. Ia bersama dengan kita dan dalam pergumulan hidup kita. Ia tahu pergumulan, kecemasan dan harapan-harapan kita. Kepada Allah yang hidup itulah, Yosua menggantungkan imannya, sehingga ia bisa mendapatkan kemenangan dalam pertempuran dengan musuh-musuhnya.
               
Kesimpulan

-        Iman kepada Allah jangan pernah dikalahkan dengan situasi/kondisi, besarnya masalahnya, kesulitan,logika untuk menemukan jawaban. Yosua mengalami kesulitan melihat derasnya air sungai Yerikho saat bangsa Israel ingin menyeberanginya. Ini masalah hidup mati. Ia memikul tanggung jawab yang berat. Ia menanggung pergumulan umat yang demikian besar. Seringkali kita kalah dalam iman kepada Allah dan menganggap masalah lebih besar dari Allah. Iman kita seringkali ditentukan kondisi. Waktu sehat kita beriman sebaliknya waktu sakit kendor. Waktu memiliki pekerjaan kita kuat, namun saat di-PHK iman kita kendor. Itu iman yang melihat kondisi. Janganlah iman dikalahkan oleh faktor-faktor dari luar.


-        Semakin sulit kondisi atau masalah ternyata semakin besar/kuat kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang percaya.  Rasul Paulus waktu minta duri dalam dagingnya dicabut, Tuhan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Kor 12:9a). Hal ini agar kita menyadari bahwa kita tidak punya apa-apa tetapi  Tuhan yang punya. Saat masalah makin besar, itu peluang kita mengenal Allah dengan luar biasa. Sesulit apapun, kita bisa melihat Allah dengan baik. 

Orang yang Mendua Hati tidak Tenang Hidupnya


Ev. Helen Sung

Yak 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Hos 10:2 Hati mereka licik, sekarang mereka harus menanggung akibat kesalahannya: Dia akan menghancurkan mezbah-mezbah mereka, akan meruntuhkan tugu-tugu berhala mereka.
Maz 119:113   Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.

Pengertian Mendua Hati

Yak 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Dalam bahasa Mandarin orang yang mendua hati ditulis sebagai orang yang bimbang hatinya artinya orang yang tidak punya pendirian. Ibarat orang yang kakinya berdiri pada 2 perahu yang berbeda. Dalam bahasa Inggris orang yang mendua hati adalah orang yang tidak pasti atau ragu-ragu atau terpecah. Orang yang mendua hati = bimbang = ragu-ragu = tidak pasti.
Maz 119:113   Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai . Orang yang bimbang hati itu berdosa. Orang yang mendua hati tidak disukai oleh Allah.

Dalam hal apa saja kita sering berbimbang hati?

1.     Pacaran / Mencari pacar
Ada orang yang bergelar playboy karena pandai mengatur waktu sehingga bisa berpacaran dengan beberapa orang misal : pagi dengan A, malam dengan B, besok dengan C dll. Padahal ada orang yang mencari satu pacar pun susah karena terlalu banyak memilih. Dalam mencari pacar,jangan sekedar mencari yang cantik / tampan karena fisik seseorang merupakan anugerah Tuhan semata sehingga kita mengucap syukur. Yang terlebih penting, mencari pasangan yang seiman dan takut akan Tuhan.

2.     Pernikahan.
Ada orang yang sudah menikah tapi masih Juga bergaul dengan suami / istri orang lain. Ada juga menikah dan bercerai berkali-kali.  Hal ini seperti perempuan Samaria yang punya 5 suami (Yohanes 4). Seharusnya setelah menikah, pasangan suami istri jangan mendua hati. Kalau mendua hati berarti mata keranjang. Orang yang mata keranjang tidak baik bagi pasangannya dan keluarganya tidak akan damai. Sebagai orang percaya hidup berfokus pada Tuhan dan keluarga sehingga rumah tangganya bisa rukun dan terurus dengan baik.

3.     Pekerjaan / Pelayanan.
Ada orang yang suka berpindah-pindah tempat pekerjaan (kucu loncat). Demikian juga dalam bergereja. Ada yang suka pindah-pindah gereja. Jangan karena motivasi gaji besar semata lalu pindah-pindah kerja.

4.     Pergaulan
Dalam hidup , kita membutuhkan teman. Untuk memiliki teman baik, jangan kita mendua hati. Kalau kita meragukan teman, maka lama-lama kita tidak punya teman.

5.     Iman kepercayaan.

      Jangan mendua hati terhadap Tuhan sehingga tidak menghormati dan memuliakanNya. Ada orang Kristen kalau hatinya senang, ia ke gereja dan bila tidak senang ia tidak ke gereja. Ia hanya ingat berdoa untuk meminta pertolongan kalau ada kesulitan. Orang demikian tidak sungguh-sungguh mengenal Allah. Orang seperti ini mencintai dunia juga mencintai Allah. Ia mencintai Allah untuk minta berkat saja. Saat sakit dan tidak sembuh, ia merasa Allah tidak mendengar doanya dan bertanya mengapa Tuhan tidak menyembuhkan sakitnya (seakan-akan Tuhan tidak peduli). Lalu ia dikenalkan pada orang-orang ‘pintar’. Kita jangan sampai mendua hati tetapi harus siap pikul salib seperti yang dikatakan pada lirik lagu berjudul “Pikul Salib”

Banyak yang mau masuk surga tak mau salibNya, Banyak yang rindu pahala serta dunia
Tak hiraukan tak hiraukan hanya mau berkat (2x)

Banyak yang mau kemuliaan tak mau yang hina. Bila Tuhan berkati dia puji NamaNya
Bila Tuhan minta dia ia menolaknya (2x)

Bagi yang mengasihi Dia tiada kan tanya, Bahkan jiwa yang berharga korban pun rela
B’rilah daku tekad hati pikul salibNya, B’rikan daku tekad hati setia padaNya.

Banyak yang mau masuk ke sorga, tetapi tidak mau pikul salib. Jangan katakan kita mau pikul salib, kalau saat merasa sedikit tidak enak badan dan pusing kepala , tidak mau datang karena berpikir bahwa minggu depan masih ada waktu. Hal itu berarti kita tidak menganggap menyembah Tuhan itu sebagai hal yang utama. Kalau menjadikanNya yang utama, bagaimana pun tidak enak badan, kita tetap akan menyembah dan mengasihi Tuhan. Ada orang yang pada hari minggu masih mau berbisnis dengan alasan ramai. Apa Tuhan kurang memberkati usahanya dari Senin-Sabtu? Saya mengharapkan setiap kita menjadikan hari Minggu sebagai harinya Tuhan. Setelah pulang dari gereja, barulah jalan-jalan.

Beberapa Tahun lalu saya dan Sung mu shi ke Amerika. Kami melihat orang-orang  di sana pada hari minggu jalan-jalan ke tempat wisata. Padahal 30 tahun lalu, mereka membawa keluarganya datang ke gereja. Bagaimana dengan kita? Banyak yang rindu pahala dan dunia. Kita suka pahala dari Tuhan tetapi godaan dunia, seringkali tidak bisa kita tolak. Ada orang yang tidak sungguh-sungguh mengikuti jalan Tuhan dan hanya mau berkat saja. Mungkin  dia tidak setiap minggu datang ke gereja. Menurutnya “Kita jangan menjadi orang Kristen yang ekstrim.” Seharusnya kita menyembah Tuhan seminggu sekali (Tuhan mau agar kita seminggu minimal sekitar 2 jam ke gereja). Orang seperti ini terkadang tidak membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Ia tidak peduli dengan urusan gereja. Apakah Tuhan akan memberkati orang seperti ini?

Orang yang dengan tulus hati mengasihi Tuhan ,saat menghadapi penderitaan dan kesusahan, tidak akan bertanya atau menyalahkan Tuhan (Tuhan mengapa begini atau begitu?). Karena darahNya yang berharga telah dipersembahkan untuk menebus dosa manusia. Di dalam kitab suci, murid-murid Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh iman rela mati bagiNya. Contoh : Rasul Paulus yang dianiaya, dipukul, di penjara, banyak sekali menghadapi pengujian. Orang-orang percaya ada yang digergaji, dipotong lehernya, dihukum dan mereka mengembara tidak menentu. Dunia ini sebenarnya tidak layak bagi mereka. Iman mereka terlalu agung. Mereka tidak pedulikan diri mereka dan kesulitan mereka. Bagi Tuhan mereka rela dan mau mati.  Mereka dengan setia mengikut Tuhan.


Berbeda dengan di Indonesia. Kita bisa dengan bebas ke gereja namun seringkali malas. Kebaktian doa hari Rabu pun tidak datang. Padahal kebaktian doa itu penting. Kita saat ini memiliki gedung gereja karena doa. Hamba Tuhan dan para jemaat terus berdoa. Sebulan sekali diadakan doa semalam suntuk. Para pemuda yang tidak punya uang, mulai menghemat dan tidak jajan. Uang yang terkumpul lalu dipersembahkan. 30 tahun lalu, para pemuda ini sangat beriman. Saya berharap pemuda sekarang juga beriman (iman yang tidak berubah). Walaupun menghadapi banyak kesulitan, bersandarkan Tuhan kita bisa lewati semua. Kiranya Tuhan memberikan tekad bulat (komitmen) kepada kita untuk setia, tidak mementingkan diri sendiri dan fokus pada Tuhan. Usaha yang kita lakukan (bekerja, berusaha, menempuh pendidikan,melakukan pekerjaan rumah tangga dll) untuk memuliakan Tuhan. Jadi baik orang tua dan anak melakukan pekerjaan semata untuk kemuliaan Tuhan. ibu-ibu masak di rumah,ke pasar dan melakukan pekerjaan rumah tangga juga untuk Tuhan. Jadi waktu masak, jangan melakukannya dengan marah-marah. Di dalam Tuhan, orang-orang  Kristen menjadi anak-anak Allah. Semua untuk Tuhan. Dengan demikian, barulah hidup kita di dunia ini berharga. Jadi jangan mendua hati. Khususnya dalam iman kepercayaan. Ketika ada kesulitan, penderitaan, sakit-penyakit berdoalah kepada Tuhan yang akan memberi kekuatan. 

Mengapa di Saat Genting Sulit Mempercayai Allah?


Pdt. Rusdi Japri

Yesaya 40:27-31
27  Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?"
28  Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.
29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
30  Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,
31  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Pendahuluan

                Dalam menempuh perjalanan hidup di dalam dunia, Tuhan tidak pernah menjanjikan orang percaya bahwa langit akan selalu berwarna biru dan jalan akan selalu lurus atau tidak berbatu. Tetapi yang dijanjikan saat kita menghadapi permasalahan hidup, Tuhan akan senantiasa menyertai kita. Kita semua pernah menghadapi masalah. Ada masalah yang dirasakan begitu berat sehingga kita tidak sanggup menanggungnya dan merasa putus asa.  Masalah ibarat beban yang akan diangkat. Kalau ringan, kita merasa punya kekuatan untuk mengangkatnya. Tetapi ketika beban semakin berat, maka kita merasa tidak berdaya. Seringkali saat menghadapi masalah, kita akan menilai masalah tersebut : apakah masalahnya dan sanggupkah kita menanggungnya? Contoh : Peristiwa memilukan  terjadi di India. Sepasang suami istri nekat bunuh diri. C.N. Madanraj, seorang pria berusia 67 tahun bersama istrinya, Tarabai (63), ditemukan telah tidak bernyawa di rumah mereka di pinggiran Hyderabad, India selatan. Kakek-nenek itu tidak sanggup menahan kesedihan atas kematian anjing kesayangan mereka. Pasangan lanjut usia yang tidak memiliki anak itu gantung diri di kamar tidur mereka. Menurut kepolisian setempat, pasangan tua itu baru saja mengadakan upacara pemakaman anjing mereka yang sudah 13 tahun tinggal bersama mereka. Suami istri itu sangat kehilangan atas kepergian anjing yang diberi nama Puppy tersebut. Yang menarik, sebelum gantung diri, pasangan tanpa anak itu sempat mengadakan pesta untuk teman-teman mereka. Ternyata itu merupakan pesta perpisahan. Hal ini berbeda dengan kita. Kematian anjing kesayangan kita anggap sebagai masalah ringan. Walau kita sedih, tapi pasti tidak sampai mati bunuh diri. Tetapi bagaimana kalau kita mengalami apa yang dialami Ayub? Dalam satu hari  ia kehilangan segalanya baik harta kekayaan maupun anak-anaknya. Kalau berada dalam posisi Ayub, bagaimana sikap kita? Ada yang berkata, “Mungkin saya akan mati bunuh diri!”  Hal ini dianggap wajar karena masalahnya begitu berat. 
                Jadi sewaktu menghadapi masalah, kita memilahnya menjadi 2 aspek yakni masalah yang dihadapi seperti apa (masalah berat atau ringan)? Dan Apakah kita sanggup atau tidak menanggungnya? Contoh : kalau sakit, saya sakit apa? Kalau sakitnya flu saya sanggup. Kalau kehilangan satu jenis kekayaan saja saya anggup tapi kalau seluruh kekayaannya hilang, kita tidak sanggup. Ada berbagai cara orang dalam menghadapi masalah :

1.       Masalah yang besar anggaplah sebagai masalah yang kecil.
Kalau ada masalah yang besar, jangan dibesar-besarkan tetapi dikecilkan saja. Masalah itu seperti kapas. Kelihatan mengelembung tapi saat ditekan ia akan menjadi kecil. Kadangkala metode ini ada benarnya juga. Ada seorang ibu yang begitu khawatir dan ketakutan. Lalu ia menelpon seorang pendeta. Keduanya saling tidak mengenal.  Ibu ini menceritakan kekawatirannya. “Pak kalau saya tua, saya takut tidak ada yang merawat saya.” Pak pendeta bertanya, “Apakah anak ibu tidak peduli dengan ibu?” Sang Ibu menjawab “Bukan Pak, saya takut menantu saya tidak peduli dengan saya!” Pendeta bertanya lagi, “Bu, apakah anak ibu sudah menikah?” “Belum!” Pendeta terus menggali informasi dan bertanya lagi,”Bu, apakah anak ibu sudah bekerja?” Yang mengejutkan Ibu itu menjawab,”Anak saya ada di samping saya dan sedang tidur.” Ternyata anaknya masih kecil. Sang Ibu mengira setelah nanti anaknya besar, bekerja, menikah, mendapat istri akan seperti apa. Dia pikirkan kejadian di depan yang belum tentu terjadi. Banyak masalah yang dihadapi yang kelihatannya besar tapi sebenarnya kecil dan mungkin tidak ada. Tetapi karena ketakutan, kekhawatiran dan  keraguan kita terhadap Tuhan menyebabkan masalah kecil menjadi besar. Ibarat mengupas bawang waktu mau dimasak. Kupas lapisan pertama dan kedua sampai bisa digunakan. Seringkali masalah yang dihadapi  seperti itu. Kita harus mengupas kekhawatiran dan ketakutan, sehingga kita mendapat realita sesungguhnya. Apakah cara dan metode mengatasi ini bisa menjawabnya (masalah yang besar anggap saja sebagai masalah kecil)? Dalam hal tertentu bisa menjawab. Kadangkala masalah besar sebenarnya masalah kecil (menjadi besar hanya karena ketakutan dan kekhawatiran). Tapi seringkali dalam hidup kita, ada realita yang harus dihadapi. Kita menderita sakit-penyakit. Mungkin divonis kanker. Hal ini tidak bisa kita katakan,”Ah ini masalah kecil.” Saat laporan keuangan menunjukkan kerugian, tidak bisa dikatakan yang minus (rugi) seharusnya plus (untung). Karena itu adalah realita yang harus dihadapi. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir dan mereka dikejar pasukan Firaun di depan mereka ada laut Teberau yang mereka harus lewati agar selamat. Tidak bisa orang Israel berkata “Ini hanya sungai kecil”. Mereka menghadapi laut yang begitu luas. Saat Daniel dilemparkan ke gua singa dan berhadapan dengan singa-singa lapar, tidak bisa dikatakan “Ah itu hanya kucing saja”. Atau saat Daud menghadapi Goliat yang tinggi besar ,tidak bisa ia mengatakan “Itu orang biasa dengan kekuatan biasa saja”. Itu kenyataan yang sebenarnya. Dalam kehidupan kita, ada masalah yang kelihatan besar karena ketakutan dan kekhawatiran , tetapi ada realita yang harus dihadapi, memang seperti itulah fakta yang dihadapi. Mungkin kita kesulitan ekonomi atau menghadapi masalah kehidupan pernikahan, sakit –penyakit, fakta itulah yang kita hadapi. Metode penyelesaian masalah seperti ini tidak bisa menangkap realita yang dihadapi.

2.       Walau kekuatan kita kecil anggaplah kita memiliki kekuatan yang besar.
Mengapa seringkali saat menghadapi kesulitan hidup, kita merasa tidak berdaya?  Karena kita tidak menyadari kita punya potensi (kekuatan) yang luar biasa dan belum kita gunakan. Ilustrasi bagi orang yang punya pemahaman seperti ini. Ada seorang ibu yang kekuatan fisiknya terbatas dan tidak mengangkat barang yang berat. Tapi ketika benda berat menimpa anaknya, maka demi menolong anaknya, tenaga ibu itu mejadi berlipat-lipat sehingga ia mampu mengangkat benda tersebut. Contoh lain : saat berlari pagi, biasanya kita hanya kuat bila lari dengan santai. Untuk berlari cepat, biasanya kita tidak terlalu kuat. Tetapi saat dikejar anjing galak, tiba-tiba kita berlari dengan cepat lebih dari biasa. Artinya manusia punya potensi (kekuatan) luar biasa yang belum digali. Maka para pakar (motivator) saat memimpin seminar motivasi, menyuruh jalan peserta di bara api dan mengatakan bahwa “Kamu bisa… kamu bisa”. Waktu peserta tersebut mencoba, ternyata dia benar-benar bisa! Artinya manusia punya potensi dan kekuatan yang luar biasa yang bila dikembangkan secara maksimal. Maka bila potensinya digali secara optimal, ia akan menjadi pengusaha yang sukses, bila jadi pegawai ia jadi pegawai yang sukses karena potensinya digali secara optimal. Bahkan ada yang mengatakan bahwa manusia hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan otak. Ada juga mengatakan kita adalah Galileo Galilei (1564-1642) yang belum sadarkan diri. Galileo Galilei adalah seorang ilmuwan, seniman, pematung yang punya bakat luar biasa. Kita pun demikian, kita punya bakat yang belum dikembangkan. Sebab itu kembangkan bakat dan kemampuanmu. Bila bisa dikembangkan maka kita akan sanggup untuk melewati masalah yang dihadapi. Mungkin kita buntu dalam usaha, tetapi dengan menggali otak secara optimal maka masalah bisnis bisa diselesaikan. Apakah jawaban ini alkitabiah dan bersumber kebenaran firman Tuhan? Tidak! Setiap kita diberi karunia yang berbeda satu dengan lainnya. Kita tidak memiliki semua karunia yang ada. Tetapi kita hanya diberi beberapa karunia. Kita terbatas sehingga memerlukan orang lain. Sebagai ciptaan Allah, kita memiliki kemampuan yang terbatas. Yang tak terbatas itu milik Tuhan. Ketika bangsa Israel melewati Laut Teberau (Kel 14:1-31) mereka menyadari mereka tidak bisa berenang di Laut Teberau. Saat Daniel dilempar ke gua singa, ia menyadari keterbatasannya dalam menghadapi singa. Ketika Daud menghadapi Goliat, ia menyadari dirinya yang kecil menghadapi musuhnya yang besar dan kuat. Sebagai manusia kita memiliki kekuatan yang terbatas. Ada masalah-masalah hidup yang begitu besar dan berat dan sebagai manusia, kita tidak sanggup menanggung masalahnya.

3.       Bukan hanya masalah saya apa, sebesar apa, apa saya sanggup mengangkatnya, tetapi biarlah kita diajar untuk memandang siapa Tuhan.
Orang biasa berlatih di tempat fitness agar ototnya kuat. Untuk menjadi lebih kuat maka bebannya harus ditambah. Kalau tidak kuat ada instruktur di belakang yang membantu mengangkatnya dan dilatih agar semakin kuat. Dalam menghadapi masalah kehidupan, maka fakta yang dihadapi adalah kita menyadari tidak sanggup mengangkat (menanggung) masalah yang besar. Itu membuat kita putus asa dan tidak berdaya (sanggup). Tetapi Tuhan mengajar kita untuk mengandalkannya. Ketika Musa dipanggil untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, ia menyadari dirinya terbatas dan merasa rendah diri untuk berbicara pada Firaun dan tua-tua Israel.  Sehingga ia berkata,”Tuhan jangan aku, pilih yang lain. Aku tidak pandai bicara dan berat lidah” Musa merasa tidak sanggup. Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."  (Kel 4:11-12). Ketika Musa menyadari dirinya tidak pandai bicara. Tuhan mengajar Musa, “Jangan lihat dirimu. Jangan lihat tugasmu yang begitu berat tapi lihatlah Aku yang sanggup bicara kepada Firaun”. Rasul Paulus berkata, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.   Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Fil 4:12-13) Rasul Paulus menghadapi masalah dengan tidak tanggung-tanggung. Masalah apa yang tidak sanggup untuk diatasi? Rasul Paulus dalam pelayanannya mengalami penderitaan dan kesulitan yang sangat. Ia dilempar baru, mengalami kapal tenggelam, tidak tidur, mengalami kelaparan, dirajam, dipukuli dan dihukum, bahkan ingin dibunuh tetapi Rasul Paulus berkata “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.
Dalam Maz 23:1-4 Daud mengatakan TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;   Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.   Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Daud tahu, pemeliharaan dan penjagaan Tuhan dalam hidupnya.
Yesaya 40:27-31  Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.   Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. Ayat ini  ditulis saat bangsa Israel ada di negara lain menjadi tawanan. Dalam kesulitan mereka berkata, “Hidup kami tersembunyi dan hak kami tidak diperhatikan Tuhan.” Mereka berteriak, seolah-olah Tuhan tidak peduli pada mereka.  Dijawab, “TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu.” Bangsa Israel diajar Tuhan. Bangsa Israel pernah menjadi tawanan di Mesir tetapi Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir dengan memberi tulah kepada bangsa Mesir. Bangsa Israel yang sedang tertawan mendengar bahwa Allah itu adalah Allah yang besar. Kalau Allah mengatakan maka Ia mewujudkannya.

Pertanyaannya : mengapa waktu kita menghadapi masalah yang genting, kita sulit mempercayai Allah?
1.    Kita mengira Tudah tidak peduli dan berdaya (sanggup). Seringkali kita melihat Tuhan seperti seorang manusia. Ketika sakit pilek kita pergi ke dokter karena kita yakin dokter sanggup sembuhkan. Sedangkan bila sakitnya berat, dokter mungkin tidak sanggup menolong. Kita melihat Tuhan dengan kacamata demikian. Padahal baik sakit bisul ataupun kanker, Tuhan sanggup menolong. Tuhan bahkan sanggup membelah Laut Teberau! Ketika tidak berdaya, seringkali kita katakan bahwa Tuhan itu terbatas.

2.  Kurang sabar  Waku kita bukan waktunya Tuhan. Seharusnya bila kita mengikuti Tuhan ada jalan keluar. Kta harus menghahapi masalah dengan sabar. Seperti ketika Yusuf dijanjikan Allah menjadi orang besar, ia harus menjadi budak dan tertawan (masuk penjara) terlebih dahulu. Biarlah saat menghadapi masalah, kita bersandarkan waktunya Allah. Demikian juga dengan Abraham yang baru memiliki anak saat usianya sudah 100 tahun. Jadi kita harus sabar. Dia bersama kita menghadapi masalah dan memberikan kita kekuatan baru untuk menanggungnya. Ada jalan keluar untuk masalah-masalah kita (seolah udara segar). Kita punya Tuhan yang lebih besar dari semua masalah kita. Saat memohon kepada Tuhan, kita mendapat kekuatan yang baru. Menurut ukuran manusia, mungkin kita sanggup mengangkat dan menghadapi masalah. Tetapi kalau Tuhan memberi kekuatan, kita akan disanggupkan. 

Yang Kelihatan yang Mudah Dipercaya vs Yang Tidak Kelihatan Tidak Dipercaya


Pdt. Agung Gunawan

Ibrani 11:1-7
1  Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2  Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
3  Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
4  Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
5  Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.
6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
7 Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Pendahuluan

                Manusia cenderung  untuk mempercayai apa yang kelihatan. Sebaliknya manusia cenderung tidak mempercayai apa yang tidak terlihat. Kalau kita memberitahukan sesuatu belum tentu yang lain percaya sebelum melihatnya sendiri. Itulah orang-orang dunia. Berbeda dengan orang-orang Kristen (orang percaya). Kita mempercayai Pribadi yang tidak (pernah) kita lihat. Itulah yang disebut sebagai iman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Iman itu berarti kita percaya kepada sesuatu yang tidak kita lihat dengan memakai mata jasmani kita. Iman meyakini bahwa di balik kehidupan ini ada Pribadi yang dapat dipercaya yaitu Allah yang kita sembah dan percaya.

Manfaat Iman bagi Orang Kristen

Ada 3 manfaat utama yang penting ketika kita memiliki iman

1.     Memberikan yang Terbaik bagi Tuhan (Sedia Berkorban untuk MelayaniNya)

Ibarni 11: 4  Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
Penulis Ibrani saat bicara tentang iman memberi contoh dari Habel. Dalam kitab Kejadian ditulis Habel bersaudara dengan Kain. Kain seorang yang sebenarnya cukup rajin bercocok tanam. Pada suatu ketika mereka berdua memberikan persembahan. Kain mempersembahkan hasil bumi,  sedangkan Habel memberi persembahan berupa kambing domba.  Persembahan Kain ditolak dan persembahan Habel diterima Tuhan. Hal ini membuat Kain marah dan iri hati. Akhirnya Kain membunuh adiknya sendiri. Tuhan menerima persembahan Habel karena Habel mempersembahkan lebih baik daripada Kain. Di dalam bahasa aslinya dikatakan ia memberikan yang terbaik. Ia tidak sekedar (asal-asalan) memberi. Berbeda dengan Kain yang memberi secara sembarangan, Habel memilih kambing domba yang tidak cacat, jantan dan tambun. Habel memberikan yang terbaik bagi Tuhan karena ia punya iman walaupun ia tidak melihat Allah tapi ia tahu (percaya) bahwa Allah ada. Demikian juga dengan kita. Ketika memiliki iman, maka kita memberikan yang terbaik (hidup kita) untuk dipakai Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Rasul Paulus mendorong jemaat di Roma untuk mempersembahkan tubuhnya kepada Tuhan untuk dipakai bagi pekerjaan Tuhan. Itu iman. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberikan (mempersembahkan) hidup kita yang terbaik untuk Tuhan? Kalau yakin Allah itu ada, maka kita akan melayaniNya dan mempersembahkan hidup kita dengan baik. Melayani Tuhan bukan pilihan (tapi keharusan). Baik sebagai hamba Tuhan, guru Sekolah Minggu, pengurus gereja, tim visitasi, anggota padus, pendoa atau lainnya.
          Banyak pelayanan yang bisa dilakukan, pertanyaannya maukah kita melayani? Mengapa kita melayani? Ada yang melayani karena sungkan ditelepon terus oleh hamba Tuhan. Bila motifnya seperti itu, maka  pelayanan tidak akan lama. Kalau kecewa dengan hamba Tuhannya, maka ia tidak akan melayani lagi. Ada juga yang melayani karena ditakut-takuti oleh hamba Tuhan (kalau tidak melayani akan dikutuk oleh Tuhan sehingga toko sepi, bisa kecelakaan, rumah tangga hancur dll). Seharusnya melayani bukan karena takut. Ada juga anak muda yang ikut paduan suara karena ingin mendekati seorang gadis, akhirnya mundur karena cintanya ditolak. Jadi melayani Tuhan bukan dengan motivasi keliru (sungkan, takut atau motivasi lain). Rasul Paulus mengatakan, “Demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu untuk melayani”. Demi kemurahan Allah artinya Tuhan sudah terlebih dahulu melayani kita. Kita orang yang tidak punya harapan dan berdosa harusnya dihukum dalam api neraka. Tapi karena kasih Allah kepada kita, Dia mengorbankan anakNya yang Tunggal mati di kayu salib untuk membebaskan kita dari kuasa maut. Itulah kemurahan Allah! Itulah alasan kita harus melayani. Karena kita melayani Tuhan yang telah lebih dulu melayani. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengambil bagian? Gereja membutuhkan kita untuk melayani. Tidak bisa mengandalkan hamba Tuhan agar gereja bertumbuh. Mereka terbatas. Kalau semua bergandengan tangan, maka GKKK Mabes akan diberkati.  Itu akan terjadi bila kita punya iman, percaya Allah yang telah lebih dahulu mengasihi dan melayani maka kita melayani.
          Dalam pelayanan membutuhkan pengorbanan. Kalau tidak mau berkorban, jangan melayani. Ada orang Kristen yang tidak mau melayani  karena menganggap “Itu pekerjaan hamba Tuhan” atau “Saya sibuk (tidak punya waktu)” Intinya tidak mau berkorban waktu , pikiran, tenaga dan uang kita. Yoh 3:16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Karena kasih Allah yang begitu besar, Ia telah mengaruniakan , mengutus dan mengorbankan anakNya yang tunggal. Karena kasihNya kita bisa berkorban. Tanpa kasih maka tidak ada pengorbanan. Orang yang jatuh cinta bisa berkorban secara luar biasa.  Sewaktu pacaran, kemana-mana diantar. Setelah menikah, istrinya sakit dan minta diantarkan disuruh naik ojek sendiri. Mengapa? Karena cintanya mulai habis. Orang kalau punya cinta, akan mau berkorban.
Ada seorang siswa SMA (A Liong) baru pulang sekolah. Mamanya yang sedang membuat kue dalam suasana natal berkata,”A Liong, tolong antarkan roti ini ke ibu XX. Kalau kamu naik motor pulang pergi hanya 30 menit.” A Liong menjawab, “Mama saya baru pulang sekolah. Saya capai. Sore ini  saya mau latihan olahraga jadi mau istirahat.” Waktu A Liong mau tidur, ada tamu mengetuk pintu rumah. Mamanya membuka pintu. Ternyata Amoi, pacar A Liong. “Selamat siang A-yi. A Liong ada?” Mamanya berkata, “Ada. Tapi ia mau istirahat karena kecapaian. Apa perlu A-yi panggilkan?” “Tidak perlu, A-yi. Kasih tahu saja kalau saya datang.” Ternyata A Liong belum tidur. Mendengar suara Amoi, ia melompat dari tempat tidur dan keluar kamar. Lalu ia bertanya, “Apa yang perlu saya bantu?” Amoi berkata, “Koko, kalau capai tidak perlu. Nanti sore, ada teman saya berulang tahun jadi saya mau ke salon. Jaraknya sekitar 30 menti ditambah bonding, cuci rambut dll pulang pergi perlu waktu 3 jam.” A Liong menjawab, “TIdak apa, saya antarkan” dan ia pun langsung berangkat. Sewaktu iminta mamanya 30 menit tidak mau karena capai, tapi diminta pacarnya 3 jam langsung jalan. Hal ini karena ada kasih. Kalau ada kasih pada Allah yang tidak kelihatan, maka kita semua mau melayani Tuhan dan mempersembahkan hidup bagi Tuhan.

2.       Menggantungkan Hidup Sepenuhnya pada Tuhan (Sumber Berkat) dan Bergaul denganNya

Ibrani 11: 5  Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Henokh tidak mengalami kematian dan diangkat Allah. Siapa Henokh? Pada Kejadian 5:22 dikatakan Henokh hidup bergaul dengan Allah. Apa artinya? Tiap hari ia berjalan dengan Allah, artinya dia menggantungkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Walaupun ia tidak melihat Allah, tetapi menggantungkan hidupnya (rumah tangga, pekerjaan, kebutuhan hidup dll) setiap hari pada Allah karena ia percaya Allah bisa diandalkan.. Walaupun tidak melihat, ia percaya (mengimani) bahwa Allah yang memiliki dunia ini merupakan Sumber Kehidupan dan Berkat. Ini luar biasa! Di tengah kehidupan dunia, kita mengalami berbagai masalah (ekonomi , keluarga, sakit-penyakit dll) dan pilihan yang sulit (banyak orang yang stress dan gila. Untuk menghadapinya, kita tidak bisa berdiri sendiri. Kita butuh Pribadi yang kuat dan tidak kelihatan , tapi kita imani Ia ada dan berdauluat. Dengan iman, kita percaya, menggantungkan hidup kita pada Tuhan, Sumber Berkat sehingga sekarang banyak orang Kristen yang menikmati hidup dengan baik. Tetapi banyak juga orang Kristen stress karena menggantungkan diri pada hal yang salah (pada berkat bukan pada Sumber Berkat yang tidak kelihatan). Berkat seperti uang bisa habis, dan nilai uang bisa merosot sehingga tidak bisa diandalkan. Usaha juga tidak bisa diandalkan. Hari ini banyak orang Kristen yang mengeluh bisnis susah (toko sepi, pabrik tidak produksi) dan stress. Walau tidak kelihatan , kita yakin Allah Maha Kuasa dan Ia  mampu memenuhi kebutuhan kita.
          Alkisah di suatu desa di Beijing, ada seorang janda tua yang tidak punya anak dan tinggal seorang diri. Suatu hari ia kehabisan hartanya kecuali seekor bebek. Ia ingin menjual bebeknya di pasar. Dari uang yang diperoleh, ia mau membeli makanan dan setelah habis uangnya, ia tidak tahu lagi bagaimana hidupnya. Pagi-pagi ia pergi ke pasar. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang bapak tua yang kurus kering dan sedang meminta-minta. Bapak itu kemudian berkata,”Bu, kasihanilah saya. Sudah beberapa hari saya tidak makan.” Ibu ini berkata,”Pa, maaf saya tidak punya apa-apa. Saya tidak punya uang. Saya hanya punya seekor bebek yang mau saya jual untuk membeli makan. Mungkin setelah itu saya bisa jadi seperti bapak menjadi pengemis.” Sang Bapak menjawab,”Tidak apa Ibu tidak punya uang. Tolong masakan bebek saja untuk saya.” Ibu ini luar biasa baik dan ia langsung pulang ke rumah. Lalu ia membuat bebek panggang dan memberi makan Bapak tua yang mememakannya dengan lahap. Ia sendiri tidak makan dan hanya melihatnya saja. Ia sudah puas karena bisa menolong orang lain. Setelah selesai makan, Bapak itu mengucapkan terima kasih dan berkata,”Ibu sudah memberikan saya makanan sehingga saya tidak mati kelaparan. Saya sebenarnya bukan pengemis. Saya utusan dari atas (dari surga)  untuk melihat apakah di dunia ini masih ada orang yang peduli terhadap orang lain. Ternyata masih ada. Ibu walau tidak berpunya, merasa kasihan pada orang lain yang tidak mampu. Sebelum saya pulang ke surga, Ibu boleh meminta kepada saya apa saja, karena saya akan mengabulkannya dengan menggunakan sumpit ini” Sang Bapak berkata sambil mengeluarkan sepasang sumpit ajaib. Ibu ini berkata, “Saya tidak minta apa-apa”. Tapi Sang Bapak mendesaknya, “Ibu harus minta.”  Akhirnya Sang Ibu berkata,” Kalau begitu saya minta sumpitnya saja.” Ibu ini pintar sekali . Kalau dapat uang atau makanan pasti suatu kali akan habis. Tetapi kalau minta sumpitnya, maka  tidak akan habis karena sumpit ajaib itu adalah sumbernya. Tetapi saat ini banyak orang Kristen yang bodoh. Karena tidak mengandalkan Sumber Berkat tapi mengandalkan berkatnya  (seperti kekayaan) sehingga depresi. Henokh mengandalkan Tuhan karena ia punya iman. Walau tidak melihat, ia yakin Allah itu Maha Kuasa, Pemilik Dunia dan segala isinya. Maka ia mengandalkan hidupnya pada Tuhan. Ia bergaul dengan Tuhan sehingga ia berkenan pada Tuhan. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita menggantungkan diri pada sesuatu yang kelihatan yang bisa habis dan lenyap? Atau apakah kita mengandalkan diri pada Allah yang tidak terlihat? Apapun masalah dan pergumulan kita, tidak ada yang mustahil bagi Allah! Mari mengandalkan Allah dalam kehidupan kita.

3.     Hidup Menyenangkan hati Tuhan

Ibrani 11: 7 Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. Nabi Nuh hidup pada zaman bobrok dan dunia yang rusak yang menyakiti hati Tuhan. Sehingga Ia menghukum orang-orang yang berdosa itu dengan air bah. Yang menarik, Nuh tidak sama atau dipengaruhi orang-orang lainnya. Walau hidup dalam lingkungan yang penuh dosa, kejahatan dan amoralitas, Nuh berbeda sehingga Tuhan memilih Nuh untuk diselamatkan. Nuh diminta membangun bahtera yang besar untuk menyelamatkan keluarganya waktu air bah datang. Nuh diselamatkan oleh Allah karena ia memiliki iman. Dengan iman ia melihat walau Allah tidak terlihat, Allah mengawasi dan memperhatikan hidup manusia. Walau tidak terlihat. Allah seperti kamera CCTV yang mengawasi hidup kita (apakah hidup kita berbeda dengan dunia atau tidak). Dengan memiliki iman, Nuh takut akan Tuhan. Ia menyenangkan hati Tuhan, dengan hidup berbeda dengan orang-orang lainnya yang berdosa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita benar-benar hidup dengan iman takut akan Tuhan (berbeda dengan dunia)? Jangan sama dengan dunia yang mengajarkan yang tidak benar seperti :

-   materialisme (yang penting uang sehingga manusia mencari uang dengan segala cara) sehingga banyak orang Kristen ikut korupsi. KPK saja mau dilemahkan karena korupsi di Indonesia merajalela. Dimana-mana terdapat korupsi dan siapa pun (termasuk polisi, jaksa dan hakim) bisa korupsi. Ada yang mengatakan bahwa di dunia ada 3 negara korupsi terbesar yakni Tiongkok, India dan Indonesia. Tiongkok nomor 1 tetapi pemerintah Tiongkok tegas. Kalau terbukti korupsi, maka pelakunya akan dihukum mati. Sehingga korupsi tidak dilakukan terang-terangan (di bawah meja).  Di India , korupsi dilakukan terang-terangan. Semua bisa disuap (korupsi). Di India korupsi dilakukan di atas meja. Di Indonesia, semeja-mejanya dikorupsi. Itulah Indonesia, dunia kita. Banyak anak Tuhan dan hamba Tuhan yang korupsi (termasuk korupsi uang gereja).
-   hedonisme yang mengutamakan kesenangan (kenikmatan). Yang penting senang, berdosa tidak apa-apa. Hari ini banyak anak muda Kristen jatuh dalam dosa perzinahan dan percabulan. Anak Tuhan (remaja-pemuda gereja) jatuh dalam dosa free-sex.  Guru Sekolah Minggu hamil di luar nikah (belum menikah sudah punya anak). Banyak keluarga berantakan karena suami (bahkan juga istri) selingkuh. Hati-hati dengan godaan walau rajin ke gereja. Ada yang berkata, “laki-laki kalau tidak selingkuh ketinggalan zaman” apalagi kalau punya banyak uang. Bukan berarti tidak boleh kaya (kalau kaya bersyukurlah pada Tuhan). Tapi hati-hati  terhadap godaan yang datang dari kekayaan. Ada seorang ibu yang minta pendetanya berdoa, “Doakan suapaya toko suami saya sepi” alasannya “Suami saya kalau tokonya ramai bisa berbuat macam-macam sampai mempunyai wanita simpanan.” Inilah zaman kita, sama dengan zaman Nabi Nuh.

Tanpa iman,maka kita hidup dalam dosa. Tapi kalau punya iman, maka  Allah mengawasi kita. Rm 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Bagaimana dengan kita? Hati-hati! Godaan di luar begitu luar bisa. Kalau kita tidak ikut-ikutan dianggap gila. Seperti Nuh, yang membuat bahtera dianggap tidak waras. Seringkali bila kita tidak ikut dunia, maka kita dianggap tidak waras oleh dunia. Padahal dunia kita yang tidak waras. Saat mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa,  ada orang-orang tidak waras berdiri. Saat melewati mereka, saya ditertawai. Saya khawatir wajah saya kotor sehingga saya membersihkan muka saya. Setelah itu, saat melewati mereka kembali, mereka bertambah keras tertawanya. Saya bertanya kepada penjaganya, “Mengapa saat saya lewat, mereka tertawa?” Sang penjaga menjawab,”Mereka melihat Bapak berbeda dengan mereka. Bapak menyisir rambut dan baju dikancing dengan rapi. Mereka tidak menyisir dan mengancing baju secara sembarangan. Jadi Bapak dianggap gila. Makanya mereka mentertawai bapak. Padahal yang tidak waras adalah mereka!” Seringkali kita tidak dianggap waras oleh dunia karena kita berbeda dengan dunia. Yang penting kita waras di hadapan Allah. Dengan iman, kita berani berbeda dengan dunia  Allah tidak kita lihat tapi Allah ada, mengawasi hidup kita.

Kesimpulan


                Firman Tuhan membuat kita percaya dan beriman . Dengan iman kita persembahkan hidup dengan baik kepada Allah, hidup bergaul dengan Allah dan mengandalkan Tuhan dalam hidup kita (segala kebutuhan hidup, kita serahkan pada Tuhan). Dengan iman kita bisa hidup berbeda dengan dunia. Hidup di bawah kasih karunia Tuhan. Hidup yang menyenangkan hati Tuhan. 

Rasio dan Iman

Pdt. Hery Guo

Maz 94:8-11
8  Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?
9  Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?
10  Dia yang menghajar bangsa-bangsa, masakan tidak akan menghukum? Dia yang mengajarkan pengetahuan kepada manusia?
11  TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.

Ibrani 11:1-6
1   Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
2  Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.
3  Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
4   Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
5  Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.
6  Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Pendahuluan

                Ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya “Nak, kamu harus belajar yang pintar. Jadi kalau sudah besar, kamu mudah mencari pekerjaan dan mendapat uang. dan bila uangmu sudah banyak kamu akan hidup bahagia.” Pernyataan bahwa “harus belajar untuk menjadi pintar” ada yang bilang benar (pernyataan ini masuk akal atau mempunyai dasar yang kokoh). Tetapi ada juga yang tidak setuju dengan pernyataan ini (argumentasinya : ada yang jadi pintar tanpa belajar dan bila tidak mau belajar berarti tidak menggunakan otak yang diberikan Tuhan dengan baik). Pernyataan bahwa “banyak uang akan hidup bahagia” juga tidak benar karena ada orang kaya yang tidak bahagia. Kalau pernyataan itu benar berarti kebahagiaan ditentukan oleh uang. Ada sebuah film Tiongkok yang inspiratif. Di film itu dikisahkan seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan sehingga otaknya tidak bisa berfungsi dengan optimal. Namun ia bisa menggunakan tenaga fisiknya dengan baik sehingga bisa memuat kayu ke atas truk dengan cepat dan dibayar 50 yuan. Ibunya berwajah cantik dan bekerja di kota. Sayangnya setelah kembali dari kota ibunya menjadi tidak waras. Anaknya kemudian ditanya,”Menurut kamu kebahagiaan itu apa?” Sang anak menjawab, “Saya bahagia bila mama sembuh dari penyakit gilanya.” Jadi kebahagiaan diperoleh tidak semata dari uang. Berikutnya “Orang itu harus pintar. Kalau tidak pintar, tidak akan hidup menghadapi segala macam tantangan dan bisa mati.” Pernyataan ini juga tidak benar. Apakah hidup itu ditentukan oleh kepintaran? Siapa bilang kalau orang pintar akan terus hidup? Ada yang pintar tapi usianya tidak panjang. Artinya pernyataan yang sering kita dengar, itu lahir dari konsep (ide) yang diteorikan dari peristiwa nyata yang ditemui. Lalu dengan konsep itu, manusia menjalankan hidupnya. Contoh : dengan konsep “kebahagian dari uang”, maka orang akan mati-matian mencari uang. Rasul Paulus menghadapi orang dengan konsep seperti itu sehingga ia menulis,”Karena akar dari kejahatan adalah cinta akan uang” (1 Timotius 6:10).

                Dalam tema “Rasio dan Iman’, kita menemukan ‘pertentangan’. Ada yang berkata, “Saya harus hidup sesuai rasio saya” atau “Agama memperbodoh kita dan membuat kita tidak bekerja dengan giat (tidak mau berjuang)”. Ada juga yang berkomentar, “Jangan lama-lama di gereja”. Hal ini ada benarnya karena setiap orang punya pekerjaan. Jadi kalau kamu tidak menggunakan rasiomu maka kamu sendiri yang akan mengalami kesulitan. Dalam kelompok yang mendukungnya, rasio sangat berkuasa. Sedangkan di sisi  lain, dikatakan “rasio itu berbahaya” atau “rasio adalah musuh yang membuat manusia tidak mencari Tuhan”. Pertentangan ini membuat kita perlu untuk memikirkannya  dengan Alkitab sebagai nara sumbernya.

Rasio vs Iman

              Manusia memiliki konsep karena manusia bisa berpikir. Pada Maz 94:9  Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang? Allah yang menciptakan kita secara keseluruhan termasuk otak, masakan Ia anti terhadap rasio yang ditaruh di dalam kepala kita? Waktu kita diciptakan menurut peta dan teladan Nya, manusia memiliki sesuatu yakni  iman dan akal budi. Prof Rush berkata manusia memiliki struktur dan kemampuan untuk mengerti dan berpikir. Sehingga manusia punya konsep dan pengertian dari peristiwa yang konkrit lalu dijadikan pandangan hidupnya. Itu yang membedakan manusia  dengan binatang. Itu sebabnya saat kita berkata pada kucing,”Pergi!” ia tidak pergi karena ia tidak mencium adanya ikan (makanan kesukaannya). Ia tidak tahu bahwa kita kesal. Binatang tidak punya struktur dan kemampuan dalam otak untuk mengerti.

                Prof. Dr..Stephen Tong berkata, “Manusia yang adalah gambar dan peta Allah diberikan hak khusus yakni hak memiliki rasio. Kalau manusia meniadakan dan tidak menganggap penting rasio, maka manusia menjual hak yang penting dalam hidupnya.” Firman Allah dalam Alkitab tidak pernah mengenyampingkan rasio. Allah memberikan otak di dalam diri kita dan kemampuan otak itu luar biasa. Bahkan Prof. Habibie berkata, “Kita hanya memakai 10% dari kemampuan otak kita.” Jadi masih ada 90% kemampuan otak yang tidak dikembangkan dalam diri kita. Dengan 10% saja, manusia bisa sampai ke planet Mars dan menemukan bahwa  kemungkinan ada kehidupan di Mars karena ditemukan air. Dengan kata lain, Alkitab tidak anti dengan rasio.

                 Permasalahannya dalam Maz 94:8  ditulis, “Perhatikanlah, hai orang-orang bodoh di antara rakyat! Hai orang-orang bebal, bilakah kamu memakai akal budimu?”  Apakah pemazmur sedang meniadakan rasio? Bukan! Ia mempermasalahkan manusia yang telah jatuh dalam dosa dan melanggar perintah Allah, tetapi malah menuhankan rasio! Semua tindakan diyakini berdasarkan rasio. Pada zaman lalu muncul filsuf, Descrates, yang  mengatakan cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Pikiran saya yang mengendalikan dan mengontrol saya. Pikiran saya akan menentukan langkah yang saya perbuat. Apakah dalam kekristenan  kita hidup seperti orang yang mengandalkan rasio? Apakah rasio digunakan sebagai Tuhan , dewa dan digunakan dalam hidup yang tidak mencari Allah. Itu yang dibahas Alkitab. Bukan Alkitab benci dan anti rasio, tetapi justru rasio yang diberikan dalam diri manusia, seharusnya digunakan untuk kemuliaan Allah, Sehingga rasio harus sesuai kehendak Allah. Orang yang hidupnya hanya dengan kekuatan rasio, mereka memungkiri kebenaran bahwa rasio diciptakan Tuhan. Waktu diciptakan, ciptaan itu terbatas dan tidak sama dengan Pencipta. Otaknya tidak sama dengan otak Pencipta yang maha tahu. Kalau kita mengandalkan rasio, ada keterbatasannya yaitu alam semesta. Kita bisa pikirkan alam semesta (termasuk planet Mars, Pluto dan seluruh yang bisa dipikirkan, ada di bawah langit). Di atas langit tidak ada yang bisa menerobos dan memikirkan. Pada waktu mengandalkan kekuatan sendiri, ternyata manusia jatuh (manusia terbatas dalam cakrawala, alam semesta ini) dan ia tidak bisa mendapat jawaban saat menghadapi masalah yang sulit. Saat pergumulan terjadi, manusia tidak yakin adanya mujizat (contoh : kalau orang jatuh dari tempat tinggi dan selamat , dianggap itu hanya kebetulan saja). Dia tidak memecahkan masalah yang ia lihat di bawah kolong langit yang tidak bisa ditembus rasionya. Berbicara tentang rasio, rasio hanya bisa dikalahkan saat ditaklukkan oleh iman kita. Orang percaya diberikan rasio namun harus tunduk dalam pimpinan iman.

Iman

1.    Tahu kepada siapa aku percaya

          Rasul Paulus berkata pada Timotius pada 2 Tim 1:12  Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. Rasul Paulus mengungkapkan hal yang luar biasa. Aku mengerti, tahu dan paham kepada siapa aku percaya. “Aku percaya” itu merupakan pernyataan iman. Apa yang aku imani, aku paham (tahu). Rasul Paulus berbicara tentang “iman yang dianugerahkan supaya aku percaya” bahwa aku mengerti tentang iman itu. Ibrani 11: 3  Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Iman tidak pernah menindas dan meniadakan rasio tapi menuntun rasio pada pengertian sejati. Rasul Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya yaitu Allah yang menyelamatkan aku”. Iman itu bukan sekedar aku mau percaya atau saya cukup percaya saja. Tetapi di dalam iman, kita harus beranjak dengan mengetahui apa yang dipercaya. Itu berarti iman menuntun rasio. Ada orang Kristen yang diajarkan “Sudahlah yang penting percaya!” tetapi apa yang dipercaya tidak dimengerti. Saya tidak tahu (mengerti) mengapa saya menjadi orang Kristen. Saya hanya tahu bahwa saya diselamatkan karena percaya Tuhan, namun apa yang menjadi isi dari keselamatan tidak jelas. Lalu apa yang kita lakukan adalah apa yang dunia tuntun yakni hanya mencari kekayaan, kemewahan dan kenikmatan duniawi. Hal ini terjadi karena kita tidak mengerti apa yang dipercaya. Disatu sisi, puji Tuhan karena percaya kepada Tuhan. Allah yang membuatnya percaya dan itu kebenaran yang tidak bisa ditolak. Namun menjadi pergumulan untuk bertanya, “Tuhan saya ingin tahu apa yang saya percayai”. Rasul Paulus berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya” dan pengertiannya membuatnya menjadi hamba Tuhan (anak Tuhan,  orang percaya) yang hidupnya berbuah. Jadi bukan sekedar label “percaya”. Iman bukan sekedar pengertian dalam otak kita dan tidak ada tindak lanjutnya. Iman bukan sekedar pengertian dan berada di dalam otak namun tidak punya aplikasi dan bukti. Karena bila demikian sebenarnya kita sedang berbohong. Saya pernah jadi guru agama di sekolah.  Saya memberi ujian kepada siswa dan bisa dijawab oleh mereka. Ada yang mendapat nilai “A”,”A-“, “B+” yang berarti para siswa tahu apa yang ditanya dalam soal. Pertanyaannya adalah apa yang siswa tersebut tahu  ada kelanjutannya dalam hidupnya? Bisa jadi dalam hidup ia tidak mempraktekkannya  dan ia tidak yakin saat melakukannya (termasuk saat pacaran). Jadi hanya ada dalam otak tapi tidak ada kelanjutan. Kita seharusnya mengaplikasikan dalam hidup kita yang mengamini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Iman harus sampai pada tahap menerima, mengakui apa yang kita mengerti. Itu yang disampaikan oleh penulis kitab Ibrani.

2.    Menerima dan mengakui iman percaya kepadaNya

          Ibarni 11;1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.. Saat berdiri dalam iman, kita menerima dan mengakui apa yang kita mengerti pada Dia. Karena Dialah kebenaran. Yoh 14:6  Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Kita yang beriman pada Dia dibawa pada tahap menerima dan mengakui apa yang kita mengerti dalam iman percaya padaNya. Iman di sini sangat luar biasa. Ia bisa melihat segala sesuatu yang tidak kita lihat. Luar biasa iman yang kita percaya. Bila sungguh-sungguh hidup dalam apa yang kita percaya dan bergumul bersama Allah, maka kita bsia melihat apa yang tidak terlihat. Bila otak buntu, iman bisa melampauinya. Rasul Paulus berani berkata, Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita (Roma 8:37). Hidup dalam iman memampukan kita menerobos apa yang buntu. Itulah iman. Melihat terhadap sesgala sesuatu yang belum dilihat. Iman itulah menerobos bukti yang belum ada.

          Minggu sore setelah pelayanan di Tegal, saya dan shi mu diajak makan oleh majelis yang bergilir mendampingi hamba Tuhan. Majelis ini adalah anak dari seorang pengusaha bawang. Papanya pernah berjaya dan menjadi konglomerat yang hidup dari bawang merah. Ia termasuk 10 orang terkaya di Tegal. Keluarganya mewarisi perusahaan teh (teh Tong Tji, teh Sosro dll). Papanya adalah orang Kristen yang saleh dan anak-anaknya melayani sebagai majelis. Dulu waktu papanya menjadi orang Kristen dan rajin beribadah, usahanya berhasil. Sekolahnya pintar dan ia bisa mengelola pertanian dengan baik sehingga panen bawang tidak pernah gagal. Keuntungan usahanya 100 % dari modal yang ditanam. Bila mengeluarkan Rp 100 juta maka akan mendapat hasil Rp 100 juta. Selama 7 tahun ia mengajak orang untuk investasi dalam usahanya. Selama 7 tahun emas itu, semua yang dilakukan ayahnya berhasil sehingga ia sangat dihormati. Pegawai yang bekerja di perkebunannya banyak. Ia menikmati masa kejayaannya. Ia sudah punya video betamax dan punya mobil tahun 80-an. Lalu ia berkata kepada istri dan anak-anaknya, “Kita sudah punya uang dan kekayaan. Kita harus menikmatinya. Jangan tiap minggu terus di gereja. Mari kita nikmati” Lalu dia tidak ke gereja secara rutin. 7 tahun ia menikmatinya. Namun mulai tahun ke delapan ia mengalami kegagalan dan bangkrut. Ia punya utang di mana-mana. Walau dengan kepintarannya memutar uang dengan system voucher mem bayar pegawainya, namun toko yang menerima voucher tersebut tidak percaya (karena vouchernya tidak dibayar). Hidupnya susah bahkan untuk makan saja ia minta dari gereja. Sebenarnya ia punya emas yang didapat saat menikah.  Ia ingin menjualnya untuk membayar upah para pegawainya. Sayangnya emas itu tidak dilengkapi dengan tanda terima dari toko sehingga tidak ada toko emas yang mau menerimanya (takut dikira menjadi penadah barang curian). Ia pun berada dalam ambang krisis. Suatu malam papanya bertobat . Ia berkata, “Saya sudah tinggalkan Tuhan secara total. Beribadah sudah tidak serius, melayani sudah tidak mau.” Setelah gagal ia bertobat dan berkata kepada anak-anaknya, “Saat papa melawan Tuhan ibarat memukul tembok. Yang ada hanya tangan yang sakit.” Tapi waktu bertekuk lutut bertobat, Tuhan membukakan jalan baginya. Ada orang yang datang mencarinya. Ia saat itu sedang menjaga toko sendirian karena tidak ada pegawai. Ia mengenakan pakaian yang sederhana. Orang yang mencarinya berkata, “Saya mau bertemu dengan pemilik toko. Saya mau membayar utang karena dulu saya pernah berhutang. Ini bon-bonnya” Papanya terkejut sekali. Orang yang berutang mau membayarnya merupakan suatu keajaiban karena biasanya orang yang berutang malah sembunyi (tidak mau membayar). Dari pelunasan utang tersebut, papanya dapat membayar karyawan dan makan. Itu kisah iman yang menerobos rasio saat pikiran (rasio) sudah tidak berdaya. Di situ ia benar-benar bertobat dan sekarang ia melayani dan anak-anaknya menjadi majelis.

Penutup


Mari belajar dari Alkitab. Belajar firman Tuhan yang mengubah konsep, cara pandang dan hidup kita. Firman Tuhan mengubah kita. Saat percaya dan mengandalkan Dia, kita tidak takut menghadapi hidup. Juga jangan takut saat memberi persembahan pada Tuhan karena Allah tidak pernah behutang. Kita harus ke gereja dan melayani. Bila tidak, kita sendiri yang rugi. Jangan pernah takut, waktu kita percaya padaNya. Ada orang yang menahan harta tapi miskin tapi orang yang terus menabur harta tetap kaya. Jikalau bukan Tuhan yang membangun, walau kita bekerja dari pagi sampai malam rejekinya hilang dan pundi-pundinya bolong (bisa saja kesehatan merosot dan investasinya hilang) Kebenaran ini diajarkan Kitab Suci. Mari kita belajar punya iman sejati dari firman Tuhan. Waktu kebenaran ada, Dia memerdekakan kita dari ketakutan dan kekhawatiran hidup.