Monday, June 1, 2015

Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan




Pdt. Bubby Ticoalu

Yoh 15:12-15
12  Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
14  Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.
15  Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Pendahuluan

                Dalam kehidupan berumah tangga, ada istri yang kurang senang dengan ayat  Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan (Efesus 5:22) karena “terlalu merendahkan wanita”. Dengan kalimat lain dikatakan,“Hai istri pahamilah suamimu!” Dalam pernyataan ini sepertinya derajat suami lebih tinggi dibanding istri. Namun kalau kita membaca lebih lanjut dikatakan, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25).  Artinya istri taat kepada suami yang sebaliknya mengasihi istrinya seperti Tuhan Yesus. Hal ini berarti pengorbanan yakni rela memberi dirinya demi orang-orang yang dikasihiNya yakni engkau dan saya. Tema “Kukasihi Kau dengan Kasih Tuhan” membuat saya takut karena menyangkut pengorbanan. Yoh 15:13-14  Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kata “sahabat” di sini menuju kepada Tuhan Yesus. Pada ayat 14 ada kewajiban atau respon (Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu). “Apa yang kuperintahkan” balik lagi ke ayat 12 (Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu).
                Saya mantan dosen SAAT. Dahulu selama bertahun-tahun kami , para dosen SAAT, melakukan wawancara bagi calon mahasiswa yang akan masuk SAAT. Pertanyaannya macam-macam. Misalnya : “Apa tujuan kamu mau masuk seminari dan menjadi seorang hamba Tuhan?” Banyak calon mahasiswa yang sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan ini di rumah. Macam-macam jawabannya, bahkan ada yang menjawab, “Saya melihat ada cahaya dari surga dan ada orang yang melambai-lambai.” Jawaban seperti ini bisa benar bisa juga tidak, namun intinya apakah calon mahasiswa ingin menjadi hamba Tuhan karena panggilan?  Untuk mencari calon mahasiwa teologi, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan baik. Akhirnya kami bertanya 1 pertanyaan, “Mengapa kamu memilih kuliah di SAAT?” Jawabannya ada yang mengejutkan saya karena selama 30 tahun di SAAT saya tidak pernah mendengarnya. “Bagaimana ya, bapak-ibu dosen. Bagaimana mendefinisikan yang namanya jatuh cinta?” Calon mahasiswa ini luar biasa.  Pernyataannya membuat kami memandang satu dengan lain sambil tersenyuml. “Saya jatuh cinta dengan SAAT, bagaimana menjelaskannya?” Dengan pernyataannya itu, ia diterima! Sayangnya cintanya hanya seumur jagung dan akhirnya tidak melanjutkan kuliah di SAAT. Memang mendefinisikan cinta itu sulit. Dari anak kecil sampai orang dewasa, mempertanyakan “What is love?” (apa itu cinta?).


What is love?

                Titik Puspa (78) dalam lagunya Jatuh Cinta mengatakan “Jatuh cinta berjuta rasanya”. Pertanyaan “what is love?” di tengah dunia yang sangat kompleks yang bergerak bergitu cepat sangat sulit dijawab. Apa yang dimaksud dengan cinta itu? Glynn Wolfe (1908-1997), seorang pendeta Baptis dari California saat usia 89 tahun telah menikah 29 kali atas dasar cinta. Terakhir ia menikah dengan seorang bernama Linda Wolfe yang memegang rekor dunia kategori wanita dengan telah menikah sebanyak 23 kali saat berusia 68 tahun. Namun pemegang rekor keseluruhan adalah Kamaruddin Mohammaed (meninggal 2007) yang di saat usianya 72 tahun telah menikah 53 kali! Apakah itu yang disebut cinta? 


Ada juga Yan Zheng Ming (94 tahun) yang melangsungkan pernikahan dengan Zhou Su Qing (90 tahun) di desa Qu Xia, Provinsi Si Chuan. Pernikahan seperti ini luar biasa. Maukah kita seperti mereka? 


Ada juga sepasang kakek-nenek yang dengan begitu mesra memainkan computer dengan teknologi touch screen (layar sentuh). Kalau memperhatikan hal seperti ini membuat kita iri hati karena melihat betapa mesranya mereka.


                Namun sekarang apa yang terjadi di dunia? Ada sepasang pengantin pria (gay) yang diberkati pernikahannya di gereja oleh seorang pendeta wanita. Mereka juga mengatakan bahwa mereka saling mencintai dan hanya maut yang bisa memisahkan mereka berdua. Bila didefinisikan, cinta mereka seperti apa? Apakah ini juga berarti mengasihi engkau seperti kasih Tuhan? 


Ada juga pernikahan sepasang wanita di gereja yang diberkati oleh seorang pendeta pria. 


Dan yang lebih menyedihkan ada seorang pendeta pria yang menikah dengan kekasih prianya dan diberkati. Bukan sang pendeta yang memberkati tetapi justru dialah yang diberkati dalam pernikahan “kudus”. Ini adalah sesuatu yang sedang dihadapi dunia ini yang mau mengartikan apa itu cinta.
                Menurut pandangan seorang ahli setelah melalui penelitian mengatakan bahwa saat jatuh cinta terjadi suatu reaksi kimiawi yang sangat kompleks dan mempengaruhi mood, tingkah laku, perasaan dan seluruh kehidupannya.  Itu menunjukkan the power of love (kekuatan cinta) itu luar biasa. Kekuatan cinta tidak pandang bulu. Tidak ada aturan pemerintah yang melarang orang menikah karena mencintai adalah hak asazi manusia. Proses yang terjadi itu proses yang luar biasa. 


Rasul Paulus mengatakan bahwa kasih Kristus luar biasa sekali karena seluruh penderitaan dan pelayananNya (tidak menghiraukan nyawaNya sedikit pun). Hamba Tuhan yang setia, rela melayani bahkan menjadi martir sekalipun karena the power of love. Orang Kristen belajar dari Yesus Kristus Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Demikian juga dengan Rasul Yohanes yang mencatat perkataan Yesus, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Dia memberikan anakNya yang tunggal. Sehingga didapat satu defisini, kasih tidak diukur dari apa yang diterima, tetapi diukur dari apa yang kita beri. Kasih itu bukan berarti mengasihi orang yang sempurna, tetapi kasih itu mengasihi yang tidak sempurna dengan kasih yang sempurna. Itulah apa yang telah dilakukan Yesus Kristus. Kita tidak sempurna, memberontak, berdosa dan mendukacitakan hati Tuhan, tetapi karena Allah mengasihi dunia ini, maka ia mengutus Yesus Kristus yang mengatakan,”Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” yaitu bagi engkau dan saya. Itu menunjukkan kasih yang begitu membakar kehidupan, menguasai mood dan hati kita.
                Kalau orang Kristen saat bekerja dan hamba Tuhan ‘terbakar’ dengan kasih yang demikian , maka kita akan melihat hal yang luar biasa. Yang mengerikan apa yang terjadi sehingga Rasul Yohanes mencatatnya, Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (Wahyu 2:2-4). Kasih yang dulu pernah engkau nyatakan tapi sekarang sudah tidak lagi. Engkau telah meninggalkan itu. Pdt. Stephen mengarang 1 lagu Bila Ku Pernah Cinta Yesus (1961), Bila kau pernah cinta Yesus, m'ngapa tak cinta Dia s'karang? Meski kau t'lah menjauhkan Dia, kasih-Nya tak b'rubah. O, dengarlah panggilan-Nya, harap kau lekas pulang, bila kau pernah cinta Yesus, haruslah lebih cinta. Dengan berjalannya waktu, cinta bisa berubah. Yesus mengatakan , Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Kita harus bisa mengasihi satu dengan lain seperti Yesus mengasihi kita. Pada puncaknya di atas kayu salib Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34b) Padahal orang yang didoakan Yesus tidak pernah meminta pengampunan. Itulah orang-orang yang telah memberontak kepada Dia, menyiksa Dia dan tidak meminta pertobatan. Mereka tidak berkata, “Maaf, saya menyesal”. Kepada mereka itulah, Yesus berdoa, “Ampuni mereka”. Adalah mudah sekali mengampuni orang yang baik, asal mereka meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Adalah mudah mengampuni orang yang menyenangkan dan melakukan apa yang kita mau, namun untuk mengampuni orang yang tidak layak?

Kekudusan Tuhan

                Kalau Tuhan Yesus mengasihi kita, mengapa Ia harus mati di kayu salib? Bukankah Tuhan berkuasa untuk mengampuni dosa? Bukankah kita tinggal berkata, “Tuhan, saya minta maaf”, sudah beres. Mengapa Tuhan Yesus datang dari surga dan mati di kayu salib?  Di sini kita sering terjebak karena hanya berpikir, Allah adalah Allah yang maha murah, pengampun dan penuh anugerah. Itu betul, tetapi dibalik itu ada gambaran tentang kesucian Allah yang tidak bisa bertentangan dengan kasih Allah. Kasih Allah adalah kasih yang suci yang tidak mementingkan hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri, tetapi kasih yang tidak berkontradiksi dengan kesucian Allah. Allah itu maha, tetapi Allah tidak ada di dalam dosa. Allah Maha Kuasa, tetapi Allah tidak berkuasa berbuat dosa. Oleh karena kesucian Allah tidak boleh bertentangan dengan yang lainnya seperti ketulusan Allah. Saat Dia mengasihi manusia, Dia memberikan diriNya ke kayu salib. Jadi tidak sekedar mengatakan “Aku mengasihi manusia, tetapi itulah keseriusan.”
                Pernyataan “harus mengampuni orang lain” adalah betul namun pada waktu orang tidak mau bertobat dan terus bergelimang dosa, kita harus menjaga kesucian (jadi harus menjaga kekudusan). Seringkali kita lupa  bahwa Tuhan maha baik dan penuh anugerah tapi lupa bahwa Tuhan juga maha kudus. Mengapa ada korupsi yang melibatkan anak Tuhan? Mengapa ada perselingkuhan dalam kehidupan anak Tuhan bahkan hamba Tuhan terlibat?. Karena tidak memandang kekudusuan Allah! Dari renungan “Our Daily Bread” saya belajar tentang cara menyapa yang lain. Sapaannya bukan “Apa kabar?” tetapi “Apakah anda suci hari ini?” Bila disapa demikian, apakah ada yang berani berkata, “Amin saya suci!” Adakah pikiran, perasaaan, relasi tidak memiliki kepahitan dengan orang lain dan kebencian dalam hati kita? Walau kita menjawab tidak, Tuhan tahu yang sebenarnya. Saat ditanya “Are you holy  today?”, apa yang harus kita jawab?” Di situlah menunjukkan keseriuan kekudusan Allah yang seringkali ditutupi dengan “kukasihi kau dengan kasih Tuhan”, padahal  di balik itu ada hawa nafsu, kepentingan sendiri dan cari popularitas. Kalau kita mengasihi Tuhan seperti di atas kayu salib maka kekudusan Allah digenapkan. Kasih di dalam Alkitab, ada kasih yang kudus, yang tidak kompromi dengan dosa.  Bukankah kasih itu menutupi segala sesuatu? Tidak. Tetapi kasih itu membimbing orang untuk datang kepada kekudusan (bukan menutupi). Kasih menutupi segala sesuatu sepreti Tuhan Yesus menutupi dosa kita melalui pengorbanannya. Ini menunjukkan sesuatu yang tidak mudah. “Kukasihi kau dengan kasih Tuhan” bisa menjadi bahasa rohani yang terlalu bagus di luar tetapi lain di dalam.
                Saat orang Kristen ditanya, “Boleh berbohong?” dijawab “Tidak!” tapi prakteknya ? Kita berbohong. Di dalam Alkitab, dalam bahasa yang diterjemahkan secara baik, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa pada waktu kita berbicara bohong kita sedang bicara dengan bahasa asli (our own language), bahasa kita yang paling dasar. Bahasa asli kita bukan bahasa Betawi atau Mandarin, tetapi bahasa bohong. Itu yang benar. Seorang yang bernama Aiden Wilson Tozer (1897 –1963) mengatakan orang Kristen tidak berbohong. Tetapi orang Kristen pergi ke gereja untuk menyanyikan kebohongan.  Contoh : saat beribadah kita menyanyikan lagu “Kurindu firmanMu”, “Kuserahkan segala-galanya”, “Inilah hidupku”. Apakah yang dinyanyikan itu benar dilakukan atau hanya berpura-pura? AW Tozer mengatakan, “Orang Kristen tidak berbohong tapi datang ke gereja untuk menyanyikan kebohongan” Orang Kristen ikut bernyanyi. “Holy..holy..holy” padahal hidupnya najis. Di sini kita belajar mengasihi seperti Allah yaitu kasih kudus, kasih yang tidak terdistorsi untuk kepentingan diri tetapi kasih yang memberikan nyawaNya bagi kita.
                Pada 1 Kor 13 dikatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1 Kor 13:4). Dalam tata bahasa baku bahasa Indonesia, kelas kata terbagi menjadi tujuh kategori yakni kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata ganti, kata bilangan dan kata tugas. Kata “sabar”, “murah hati” dan “cemburu” adalah kata sifat (adjective). Padahal dalam bahasa Yunani, yang digunakan bukan kata sifat melainkan kata kerja. Jadi “baik” bukan bersifat yang pasif tetapi dinamis dan dinyatakan dalam tindakan (in action, dikerjakan). Omong kosong kalau kita datang ke undangan , lalu disambut dengan kata-kata, “Kenyangkanlah dirimu” tapi tidak disajikan apa-apa. Dalam kitab Yohanes , kata “kasih” itu dalam bentuk kata kerja seperti dalam kalimat “aku mengasihi kamu”. 1 Kor 13 satu-satunya ayat yang tidak diterjemahkan dalam bahasa yang bisa dimengerti , tetapi diterjemahkan dalam kata sifat. Seharusnya arti in action seperti aku mengasihi kamu dengan memberikan nyawaku. Berarti kerelaan tangan terulur untk menolong hidup orang lain. 


Tangan yang berulur bagi mereka yang memerlukan. Tangan Yesus dari surga datang untuk menjemput tangan kita. Saat berada di jurang yang dalam, tangan Tuhan datang menariknya. Itulah kasih Tuhan yang begitu besar. Adakah kasih itu membakar? Pada waktu Petrus akan tenggelam, segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus  dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14:31) Sebelumnya ia merasa percaya sehingga ia datang kepada Yesus dengan berjalan di atas air. Namun lama-kelamaan datang ombak sehingga ia menjadi khawatir dan tenggelam. Lalu tangan Yesus mengangkatnya. Momen ini tidak pernah ia lupakan. Pada waktu aku tenggelam, dalam jurang dosa, tanganMu yang suci memegangku.  Itu momen yang luar biasa. Seperti Dia telah mengulurkan tanganNya, tetapi seringkali kita tidak meneruskannya. Kita suka dicintai, dikasihi, ditolong dan dipuji tetapi kita enggan untuk mengulurkan tangan, menerima dan mengasihi. Jikalau kamu sahabatku yang betul menerima apa yang Aku berikan dalam kasih yang begitu besar, akan  ada reaksi kimia yang begitu besar , itulah kasih Bapa saat melayani manusia. Saat kita melayani , ada kidung pujian dalam hati kita. Lalu mengapa rasa cinta itu bisa luntur? Kalau cinta kita luntur, siapakah saya? Seharusnya kita terbakar dengan kasih Tuhan yang dengan rela mengulurkan tangan kita.


                Pada waktu lemah, Engkau memberikan tangan bagi mereka yang lapar dan membutuhkan kasih. Ini kenyataan, tidak semua kita dipanggil seperti Mother Theresa. Tetapi bentuk kepedulian dan kerelaan untuk mengulurkan tangan itulah panggilan. Ada kisah tentang Mother Theresa. Saat berhadapan dengan anak-anak yang sekarat, ia mengambil anak yang paling parah dan kemudian membersihkannya. Namun akhirnya anak itu meninggal. Tetapi saat meninggal, ia meninggal dengan tersenyum sebagai tanda bahwa  ia berterima kasih. Setidaknya anak itu pernah merasakan kasih. Begitu banyak orang yang memerlukan kasih. Mengasihi seperti Tuhan tidak mudah, itu menyangkut pengorbanan dan penyangkalan diri. Dalam pelayanan kami di Betzata, ada anak-anak yang kurang beruntung. Tidak mudah, namun kami tidak berani seperti mother Theresa.  Bagaimana kita mengasihi yang tidak sempurna dengan kasih yang sempurna seperti Tuhan Yesus. Bapa gereja Agustinus mengatakan, “Seperti apa kasih itu? Kasih itu mempunyai tangan untuk menolong orang-orang lain, mempunyai kaki untuk bersegera menuju kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Kasih mempunyai mata untuk melihat kemalangan dan kebutuhan. Kasih mempunyai telinga untuk mendegar keluh-kesah dan kesedihan manusia. Seperti itulah kasih.” (What does love look like? It has the hands to help others. It has the feet to hasten to the poor and needy. It has eyes to see misery and want. It has the ears to hear the sighs and sorrows of men. That is what love looks like. That’s love look like). Itulah kasih. Kita tidak mungkin mengasihi dan menolong semua orang yang membutuhkan, Tapi ada orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan. Kamu adalah sahabatku. Bila berbuat apa yang kuperintahkan. Saling mengasihi seperti Aku mengasihimu.

Penutup


                Pada awal tahun 2015, ada artikel di media massa tentang Masha, seekor kucing liar yang menyelamatkan seorang bayi dari mati akibat kedinginan di jalanan Rusia. Masha menggunakan bulunya yang lebat untuk mendekap si bayi sambil mengeong sekeras-kerasnya. Seperti dilaporkan oleh Central European News, Masha secara tidak sengaja menyandung boks yang di dalamnya terdapat bayi yang berusia kurang dari 12 bulan di Obninsk, Rusia. Entah karena naluri keibuannya, Masha langsung masuk ke dalam kotak tersebut dan mendekap si bayi. Masha lantas mengeong mencari perhatian orang-orang yang lewat di sekitar situ. “Bayi berada di jalanan itu beberapa jam dan terimakasih buat Masha, kucing itu tidak merusak kotak itu,” ujar seorang juru bicara rumah sakit kepada Central European News. Bayi itu kemudian dilarikan ke rumah sakit setempat—dan kemudian dikabarkan bahwa bayi tersebut benar-benar sudah sehat—tapi Masha tampak tidak bahagia meninggalkan bayi laki-laki tersebut. “Masha bahkan mencoba mengikuti ambulan yang mengangkut si bayi,” lapor Ruptly Video Agency. Warga sekitar juga mengatakan, Masha menunggu di jalan untuk beberapa jam sampai ambulan kembali. Di sini terlihat bahwa pada waktu manusia tidak melakukan kewajiban (dalam hal ini, ibu sang bayi seharusnya memperhatikan anaknya), Tuhan bisa memakai kucing. Waktu manusia tidak mau memperhatikan atau membuang bayi, maka Tuhan bangkitkan kucing. Seperti Tuhan memakai keledai saat Bileam mau memberontak terhadap perintah Tuhan (Bilangan 22-23). Juga Tuhan memakai ikan besar saat Yunus tidak mau mematuhi perintah Tuhan. Kucing di atas lebih baik dari seorang mama. Masha mempermalukan kita. Kalau kita tidak mau membahasakan kasih Tuhan maka Tuhan akan mempermalukan kita.

                Kita berdoa agar kita memiliki kasih yang kudus (bukan nafsu dan kompromi dengan dosa), untuk membawa orang yang berdosa dan gagal. Orang yang gagal kita bawa untuk datang kepada Sumbernya (Penciptanya). Kiranya kita bisa memiliki kasih yang kudus dalam kehidupan antara suami-istri, orang tua dan anak, antara saudara seperti kasih Tuhan. Itulah kehidupan bagi sahabat-sahabat Kristus.

Tuesday, May 26, 2015

Arogan dan Minder

Ev. Fuk Sen

Yeremia 1:4-8,Ester 3:1-6

Pendahuluan

                Kita semua pasti tidak suka kalau ada yang mengatakan kepada kita, “Kamu orangnya sombong ya!” Mendengar kalimat itu, kita akan menunjukkan reaksi tidak suka dan hati kita menjadi panas. Karena sombong (arogan) identik dengan sikap yang negatif. Sebaliknya kita lebih suka kalau ada yang berkata, “Kamu orangnya rendah hati ya.” Maka hati kita akan berbunga-bunga mendengarnya. Kita bukan hanya tidak suka disebut orang sombong, tapi kita seringkali tidak menyadari bahwa sebenarnya kita memang orang sombong.

Sombong, Penyebab dan Bahayanya

                Sombong  (arogan) adalah sikap yang memandang rendah, atau mengecilkan usaha, pemikiran atau apa saja yang dicapai orang lain, kemudian timbul kecenderungan untuk membandingkan usaha orang lain dengan sisi keberhasilan yang telah dicapainya, tetapi menutupi kekurangan diri sendiri.
                Haman tidak sadar bahwa ia sombong. Bukan hanya Haman, tidak ada manusia yang menyadari bahwa ia orang yang sombong. Itulah bahaya orang yang sombong. Kalau seseorang bersikap sombong, berarti ada sesuatu yang membuatnya begitu. Tidak mungkin orang menjadi sombong tanpa ada alasannya. Orang menjadi sombong karena punya kelebihan dibanding orang lain. Misalnya : ia punya uang yang lebih banyak, lebih pintar, lebih berkuasa , lebih tampan / cantik  dari orang lain dan lain-lain. Untuk bisa sombong harus punya sesuatu yang membuat seseorang begitu.
                Pada Ester 3:1-2a dikatakan   Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, Haman menjadi sombong karena diangkat menjadi pejabat di atas pembesar lainnya oleh raja. Raja menetapkan bahwa semua pegawai raja yang ada di pintu gerbang istana raja harus sujud kepadanya.  Sebelum diangkat jadi pejabat seperti itu, ia tidak menuntut orang lain untuk bersikap hormat kepadanya. Tetapi begitu diangkat, muncullah sikap sombong apalagi ia diangkat melebihi pejabat lainnya, sehingga ketika ia berjalan, pegawai pintu gerbang harus bersujud menyembahnya. Tapi ada satu orang yang tidak mau berlutut kepadanya yaitu Mordekhai (Ester 3:2b tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud).
                Karena kesombongannya, Haman tidak mau ada pegawai lain di kerajaan yang lebih tinggi daripadanya. Bila ada , ia merasa disaingi oleh orang tersebut. Semua dosa (kejahatan) lainnya biasanya menyatukan para pelakunya. Misalnya  tukang gosip akan bergabung dengan penggosip lainnya. Orang yang mabuk akan berkumpul dengan pemabuk, orang berjudi berkumpul dengan penjudi dan lain-lain. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di tengah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.” Namun demikian kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan (kesombongan adalah perseteruan), bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.  Orang sombong tidak pernah berkumpul dengan orang sombong lainnya karena punya sikap bersaing dengan orang lainnya . Itu yang terjadi pada Haman yang ingin dirinya lebih dari orang lain. Ia ingin di kerajaan semua orang harus sujud kepadanya. Ketika ia berjumpa dengan orang yang tidak bersujud kepadanya, maka ia tidak suka dengan orang tersebut.
                Orang sombong karena ketampanan, kehebatan, kekayaan atau apa yang dipunya. Begitu ada orang lain yang sombong, maka ia tidak suka. Begitu melihatnya, maka ia tidak akan suka. Suatu kali Haman melihat Mordekhai tidak menyembah dia padahal semua orang lainnya sujud. Haman yang sombong ketika melihat Mordekhai tidak menghormati seperti yang diinginkannya (berlutut dan bersujud kepadanya), maka ia menganggap Mordekhai sombong dan ia tidak suka hal itu.
                Ada seorang penyanyi yang bisa menyanyi dengan begitu merdu. Sehingga setelah ia menyanyi, banyak orang yang bertepuk tangan.  Lalu tampil penyanyi lain yang menyanyi dengan luar biasa, begitu merdu dan tenang sehingga penonton berdiri dan bertepuk tangan. Penyanyi yang pertama melihat penyanyi kedua  yang melebihinya sehingga ia tidak menyukainya. Kita sebetulnya terjepit oleh sikap sombong hanya kita tidak menyadari kesombongan kita. Itu yang terjadi pada Haman yang tidak menyadari kesombongannya.  Demikian juga dengan jemaat di gereja.  Jika kita datang ke gereja lalu suatu kali ada yang tidak menyapa maka kita menganggapnya sombong dan tidak suka kepadanya. Apa bedanya? Mordekhai tidak menyembah kepada Haman. Haman melihatnya sebagai orang sombong dan setelah menilai begitu sesungguhnya ia sendiri orang yang sombong yang menuntut orang lain untuk hormat kepadanya.
                CS Lewis (seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia) mengatakan bahwa “Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.” Orang sombong melihat orang lain sombong dan tidak menyukai kesombongan orang lain. Orang Singapore punya kia-su (dialek Hokian artinya takut kalah atau kehilangan). Kiasu bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan : takut kalah dalam persaingan, pertandingan atau peperangan.  Misal : kita merasa diri kita hebat. Lalu ada lagi yang lebih hebat. Kita menganggap yang lebih hebat itu kecil dan tidak ada apa-apanya. Buat apa kita menjadi begitu tinggi di atas orang lain sehingga akhirnya jatuh? Kesombongan kepada Allah adalah kehancuran. Haman yang sombong akhirnya mati di tiang gantungan.
                Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan hadir dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.
                Di samping itu ada juga sombong rohani. Hal ini seringkali dialami oleh orang-orang yang merasa telah melayani Tuhan. Ciri-ciri orang yang sombong rohani, antara lain : suka menghakimi, suka mencela orang lain, dan dia merasa bahwa hanya dirinyalah yang paling tahu dan paling pintar. Dalam Matius 7:21-22 Tuhan Yesus mengatakan : "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu semua pembuat kejahatan!" dan "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (Obaja 4)


Minder

                Seorang minder karena menganggap diri lebih rendah dari orang lain. Yeremia adalah orang seperti itu. Tuhan menjadikannya seorang nabi. Ketika ia dipanggil menjadi nabi, ia berkata, "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (Yer 1:6). Yeremia mendengar panggilan Allah dan berkata “Jangan! Aku masih muda dan tidak pandai bicara.” Begitu rendah diri (minder) dan ia merasa tidak bisa apa-apa.  Tuhan tidak menginginkan orang begitu tinggi dibandingkan orang lain. Dan Tuhan tidak menginginkan orang merasa begitu rendah dibanding orang lain, Tuhan ingin orang menjadi seimbang dengan orang lain.
               “Dibalik kerendahan dan kekecilanmu, engkau yang kupilih. Saya mau memakai kamu dan akan menyertai engkau.”, begitu kata Allah. Orang tidak sadar akan prinsip ini.  Kita seharusnya merasa luar biasanya Tuhan yang memakai kita dan mnyertai kita. Orang sombong seperti Haman berakhir di tiang gantungan, yang minder ditegur TUhan. Yeremia 1:7-8  Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.   Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Penutup

                Tuhan bisa mengubah orang yang sombong dan minder.  Mintalah kepada Tuhan, “Tuhan ini aku orang yang sombong atau minder, ubah aku.” Maka Tuhan bisa memulihkan. Maukah? Gereja tidak membutuhkan orang yang sombong.  Keberhasilan, karir yang menanjak, studi yang berhasil atau harta kekayaan kita adalah anugerah Tuhan saja. Tidak seharusnya kita membanggakan diri dan menjadi angkuh. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Jika bukan Tuhan tak mungkin kita dapat mempertahankan keadaan kita. Yang kita miliki hari ini belum tentu esok masih ada. Tanpa Tuhan kekayaan dan kejayaan dengan sekejap dapat lenyap. "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." 1 Petrus 5:6
                Gereja juga tidak menginginkan jemaatnya menjadi minder. Gereja ingin jemaat Tuhan yang sehat rohani. Lihatlah pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Apa kita mau menjadi seperti Yeremia? Padahal walau masih muda, tapi Tuhan menyertainya. Dengan kemampuan kita, bila Tuhan tidak menyertai kita maka tidak ada gunanya!


Kenapa Ada Curiga di Antara Kita


Ev. Susan Kwok

Bilangan 12:1-6, 11-16
1   Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.
2  Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
3  Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
4   Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.
5  Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.
6  Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.
11  Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami.
12  Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."
13  Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."
14  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."
15  Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.
16  Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Mengapa ada perasaan curiga?

I.      Aspek-aspek di luar diri manusia

1.     Situasi saat ini yang penuh kriminalitas tinggi. Sehingga jika ada orang yang membutuhkan pertolongan, kita malah menjadi curiga dengannya. Hal ini tidak mengherankan karena saat mendengar berita di media masa (televisi dll), kita melihat orang yang menolong malah menjadi korban, karena ‘korbannya’ banyak yang hanya berpura-pura saja.
2.     Mengenal baik seseorang. Misalkan orang tersebut suka berbohong, sehingga bila ia tiba-tiba mengatakan sesuatu, kita menjadi curiga.

II.   Aspek dalam diri manusia.

Curiga biasanya timbul karena dampak dari sesuatu yang terjadi atas diri kita, antara lain :

1.     Iri hati.

Iri hati membuat seseorang curiga terhadap orang lain. Kasus Miryam, Harun dan Musa berawal dari kecurigaan dan berakhir dengan hukuman dari TUHAN. Musa adalah adik dari Miryam dan Harun. Musa diangkat menjadi seorang tokoh dan lebih dikenal dibanding Miryam dan Harun. Miryam dan Harun menyatakan suatu realita : Musa mengambil seorang perempuan Kush untuk dijadikan seorang istri, Miryam dan Harun mempunyai alasan untuk menyatakan hal yang jelek mengenai Musa karena
a.     Orang Kush itu adalah orang Etiopia, orang yang berkulit hitam (bukan orang Israel).
b.     Musa sudah mempunyai istri ( Zipora )

Apakah Miryam dan Harun bersalah dengan menegur Musa ? Tidak salah. Namun mengapa malah mereka dihukum oleh TUHAN ? Yang menjadi permasalahan adalah dalam ayat ke 2, dituliskan Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
Ketiga orang ini (Musa, Miryam dan Harun) adaah orang-orang yang sama-sama melayani TUHAN, lalu mengaapa hanya Musa yang dipakai TUHAN ? Miryam dulu menjaga Musa di sungai Nil, bahkan bertaruh nyawa hingga membawa Musa dapat menemui Ibu kandungnya, tapi kenapa Musa yang dipakai TUHAN ? Ada nada iri dalam kalimat yang diucapkan oleh Miryam. Harun ,pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir, menjadi seorang juru bicara bagi Musa karena Musa waktu itu menyatakan ketidaksanggupannya untuk berbicara sehingga Harun yang ditunjuk menjadi seorang juru bicara bagi Musa. Hal-hal seperti inilah yang membuat Miryam dan Harun menjadi curiga kepada Musa (karena iri hati). Mereka mencurigai TUHAN dalam memilih dan memakai orang. Mereka curiga akan kedaulatan ALLAH dan curiga akan kebaikan TUHAN. Pada kisah Saul dan Daud, Daud memenangkan peperangan-peperangan, dipuji-puji banyak orang dengan ”Daud mengalahkan berlaksa-laksa musuh dibandingkan dengan Saul yang mengalahkan beribu-ribu musuh” Daud saat itu adalah orang yang dipuji-puji sehinggaSaul selalu curiga akan Daud.
Miryam dan Harun curiga kepada Musa dan kepada TUHAN karena iri hati. ALLAH tidak pernah menyetujui dosa, walau tidak tertulis di Alkitab, tapi hal itu tidak berarti ALLAH menyetujui. ALLAH tetap tidak setuju akan dosa.
Pernahkah kita curiga karena iri hati ? Mencurigai kebaikan TUHAN, mencurigai jalan-jalan TUHAN.

2.     Terlalu cepat menghakimi (tidak mengetahui / mengenal permasalahan dengan baik). Terlalu cepat menyimpulkan bisa menaburkan kecurigaan di tengah-tengah jemaat.

3.     Membiasakan diri berpikir negatif
Bila melihat orang yang ramah, orang yang curiga  biasanya menyebutnya sebagai cari muka. Jangan membiasakan diri berpikir negatif bahwa semua orang hanya berpura-pura saja (mencari muka) dll

Bahaya dari Rasa Curiga

1.     Rusaknya relasi yang baik
Ada 1 kisah mengenai keluarga kulit hitam yang mempunyai seorang anak bernama Misty. Karena tidak dikaruniai seorang anak, maka mereka pergi ke sebuah panti asuhan dan mengadopsi seorang anak bernama Christine. Suatu hari Christine mencuri ban mobil dan diletakkan di gudang belakang rumah Misty. Setelah melalui proses penyelidikan, mereka semua ditangkap. Namun pada akhirnya terbongkar bahwa Christine lah yang melakukan kejahatan tersebut walau Christine tidak bisa menerima hal ini. Setelah 3 bulan keluar dari penjara, Christine menjadi orang yang penuh rasa curiga. Kemudian ia  mengajak 3 orang temannya yang sama-sama di penjara dan mereka mengajak Misty pergi ke suatu tempat, lalu  membunuh Misty di sana. Bayi Misty pun juga dibunuh dan dibuang di suatu tempat. Seorang istri yang tidak percaya kepada suami malah akan mengakibatkan sang suami untuk melakukan hal-hal yang dituduhkan tsb.

2.     Tidak bisa mencapai 1 tujuan yang maksimal.
Jika ada kecurigaan, maka tujuan bersama tidak akan tercapai

3.     Munculnya orang-orang dengan karakter yang jelek
Akan muncul orang-orang dengan sifat keras kepala, mau menang sendiri, apatis, sinis, bahkan terhadap hal-hal yang baik sekalipun.

Cara Mengatasi Rasa Curiga

Jawabannya ada di Filipi 4:8 8  Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Pikirkanlah hal-hal yang positif dan baik.
1.     Self control (penguasaan diri)
2.     Berani terbuka dalam suatu komunikasi
3.     Jadilah orang yang bisa dipercaya ( sehingga orang lain tidak perlu curiga kepada kita )



Sunday, May 10, 2015

Gosip Subur di Gereja


Pdt. Peter Lau

Efesus 5:1-21
1   Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
2  dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
4  Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
5  Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6  Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
7  Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8  Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
9  karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,
10  dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11  Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
12  Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.
13  Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14  Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
15  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
16  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
17  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
18  Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
19  dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
20  Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
21  dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Pendahuluan

                Gosip seringkali atau terkadang terjadi di gereja. Gosip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mempergunjingkan sesuatu hal tentang seseorang secara negatif. Gosip mempergunjingkan kelemahan seseorang. Gosip belum tentu dan seringkali tidak benar, sehingga termasuk dalam kategori fintah dalam KBBI. Fitnah itu bisa lebih kejam daripada membunuh.

Penyebab Gosip Terjadi di Gereja

1.     Tidak disengaja. Karena orang menyampaikan sesuatu dengan tidak bijaksana dalam :  
-          bercanda.
-          menyampaikan pokok doa. Misalnya : “Saudara-saudara, mari  kita berdoa untuk Ibu A yang sedang bersedih hari ini karena suaminya selingkuh. Suaminya selingkuh bukan hanya dengan 1 wanita tapi dengan 3 wanita!” Ini jadi gosip di gereja. Mungkin maksudnya baik, tapi orang yang mendengar akan berpikir ada 3 orang selingkuhannya dan akhirnya tersebarlah  gosip.
-          menyampaikan warta. Contoh : “Saudara-saudara sekalian, kali ini anggaran paskah kita hanya Rp 2 juta. Sebenarnya panitia mengajukan Rp 3 juta tapi majelis memotongnya menjadi Rp 2 juta.” Cara penyampain seperti ini bisa menjadi gosip sehingga membaca warta harus berhati-hati.
-          kesaksian : ada orang yang menyampaikan kesaksian dengan tidak bijak sehingga timbul gosip di gereja.

2.     Dengan sengaja. Ada orang yang sengaja bergosip di gereja. Seharusnya sebagai anak Tuhan, kita jangan membiarkan gosip tumbuh di gereja. Karena gossip selalu mempunyai akibat tidak baik. Gosip bukan hanya mencemarkan seseorang, tetapi bisa menghancurkan bahkan membunuh seseorang! Seorang istri yang digosipkan berselingkuh padahal tidak, bisa-bisa sang suami marah dan membunuh istrinya tersebut dan pria yang dikira selingkuhannya padahal mereka tidak berselingkuh. Itulah sebabnya gosip adalah fitnah yang jahat. 

Bagaimana menghentikan gossip di gerja?

                Agar gosip tidak bertumbuh subur di gereja tentang hamba Tuhan, majelis, pengurus dan para jemaat , bagaimana menghentikannya? Rasul Paulus memberi nasehat dalam Efesus 5:1-21. Kota Efesus terletak di pantai barat Asia. Saat ini berada di kota Selcuk (Turki). Efesus merupakan kota Yunani kuno bertaraf internasional, kota pusat perdagangan dunia yang kaya & berbudaya tinggi (contoh : teater Odeon  dengan kapasitas 1.500 orang,dibangun tahun 150 M & ada teater terbuka dengan,kapasitas 44.000 orang). Pada tahun 133 SM, Efesus menjadi pusat propinsi Romawi untuk daerah Asia & memiliki otonomi sendiri (Kis. 19:39). . Efesus terkenal dengan kuil Dewi Arthemis (dibangun + 550 SM dan dibangun selama 220 tahun dan terkenal sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno). Di sana ada orang percaya yang terdiri dari  orang Yahudi dan non Yadudi (termasuk orang Yunani). Baik orang Yahudi dan Yunani tersebut dulunya bukan orang Kristen. Mereka adalah orang yang hidup dalam penyembahan berhala. Setelah mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Paulus mereka kemudian percaya. Rasul Paulus tinggal kira-kira 3 tahun di kota ini, dalam penginjilannya di sana, ia punya jemaat yang kemudian dinamakan jemaat Efesus. Situasi mereka sama yaitu mereka dulu penyembah berhala dan kemudian menjadi orang percaya, yang tentu membutuhkan tuntunan Tuhan dalam hidupnya. Di antara mereka timbul isu. Maka Rasul Paulus saat di penjara di Roma memikirkan jemaat Efesus dan merasa perlu mengirim surat yang ditulisnya sekitar tahun 63 M. Surat ke jemaat Efesus  menjelaskan konsep penggembalaan di sana. Pada 1 - 4 Rasul Paulus membicarakan tentang konsep keselamatan , bagaimana mereka diselamatkan oleh kasih karunia Allah (di dalam & melalui Kristus) sehingga statusnya sebagai hamba dan anak Allah. Sedangkan pasal 5 dan 6 merupakan landasan pedoman untuk berjalan sebagai orang percaya (jemaat Tuhan) dan tujuan hidup orang percaya

Cara Menghentikan Gosip di Gereja (Efesus 5:1-21)

1.     Setiap orang percaya mengerti untuk hidup sebagai Penurut Allah (Efesus 5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih). Sebagai orang yang telah ditebus harus hidup sebagai penurut Allah. Penurut Allah kata aslinya berarti imitator (imitasi Allah). Seluruh hidup orang percaya baik dari perkataan, perbuatan, pikiran dan  lakukan harus meniru Allah.  Seluruh hidup kita mencerminkan,  melihat dan meniru Allah. Allah adalah Bapa kita, sebagai seorang anak, kita harus hidup menjadi penurut Allah. Segala hal yang dilaukan harus mencerminkan Allah karena kita membawa identitas Allah. Gosip berhenti kalau mengerti bahwa kita adalah peniru Allah. Ketika bicara tentang penurut Allah berarti meniru setiap tindakan Allah. Kita hidup mengikuti cara-cara Allah. Seluruh hidupnya menaati maksud dan kehendak Allah.

Implikasi Hidup sebagai Penurut (Imitator) Allah :
Ay.2 hiduplah di dalam kasih sebagaimana KRISTUS YESUS …
Ay.3 tidak ada percabulan & rupa-rupa  kecemaran,
Ay.4 tidak ada perkataan kotor & kosong atau yang sembrono…
Ay.5-7 Tidak berkawan dengan orang berdosa,
Ay. 8-9 hiduplah sebagai anak-anak terang (terang di dalam TUHAN),
Ay.10 ujilah apa yang berkenan kepada TUHAN...
Ay.11-12 jangan mengambil bagian  dalam perbuatan kegelapan…
Ay. 17 usahakan supaya kamu mengerti kehendak TUHAN,
Ay.18 penuh dengan ROH…,
Ay.19 bersoraklah bagi TUHAN,
Ay. 20 ucapkan syukur…..
Ay.21  di dalam takut akan KRISTUS

Orang-orang demikian akan sungguh hidupnya bercermin pada Allah sehingga perkataan , pikiran, tindakan yang keluar bukanlah tindakan dunia tapi merupakan standar Allah. Gosip adalah tindakan dunia, pikiran dunia untuk menjatuhkan lawan. Ketika seorang hidup sebagai penurut Allah maka ia tidak akan melakukan fitnah. Ef 5:2 hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Orang percaya hidup bukan berfokus pada dunia tapi fokusnya pada Allah. Ayat demi ayat Rasul Paulus berbicara “jangan meniru cara dunia”. Kita bercermin dan mengikuti cara Allah. Setiap orang yang hidup dan berkomitmen mengikuti Allah maka ia akan menjadi orang yang mulutnya tidak mengatakan gosip. Orang yang mengikuti Allah , sepenuhnya hidup dalam Kristus. Sehingga menjadi penurut Allah berarti Allah menjadi landasarn hidup, pikiran dan perkataan. Gosip bisa timbul karena tidak melihat pada pikiran Allah. Seringkali gosip timbul karena tidak melihat dari kacamata Allah. Misalnya : Ada orang lewat di depan kita dengan menunduk dan tidak menyapa kita lalu kita berpikir orang ini sombong, lalu ia bercerita kepada temannya bahwa si A sombong sekali karena waku melihat saya tidak menegur. Mari kita berpikir dari apa yang Allah pikir. Coba melihat seperti Tuhan melihat. Padahal Yesus melihat banyak orang yang hidupnya banyak yang tidak baik dan Yesus merasa  kasihan pada mereka sehingga Yesus menginjili, mendekati dan melayani mereka. Kalau kita tidak mampu melakukannya, maka dalam pikiran kita timbul gosip. Orang yang hidupnya tidak menjadi penurut Allah maka dirinya dikuasai , dipengaruhi oleh diri dan iblis. Sehingga kalau tidak mengikuti, meniru Allah, maka ia akan meniru dunia (segala pikiran dipenuhi oleh pikiran dunia dan keangkuhan hidupnya). Melihat orang tidak menegurnya, ia mengatakan mengapa “tidak menghargai saya?”. Hidup demikian akan menjadi gosip. Tetapi bila seluruh hidup orang itu diserahkan dalam otoritas Tuhan,(pikiran, perkataan dan hidupnya dikuasai Allah), maka dalam dirinya tidak akan timbul fitnah dan gosip (gosip mati dan tidak timbul dalam diri dia).

Penurut Allah (be imitators of God) akan mewujudkan Allah melalui :
a.     Standar tindakan, perbuatan , perkataan dan moralitas sepreti standard Allah.
b.     Pikiran dan hati yang murni seperti Allah.
Sudahkah kita hidup sebagai penurut Allah, setelah sekian tahun ke gereja?

2.     Setiap orang percaya berkomitmen menjaga hidup sebagai anak-anak terang Menjadi penurut Allah bicara tentang pondasi. Harus praktekkan keluar dan jaga status sebagai anak Allah. Sebagai status hidup sebagai imitator Allah, kita hari ini hidup sebagai anak dan lahir dari Allah sehingga seluruh apa yang keluar serupa dengan Allah. Status kita sebagai manusia baru (Yoh.1:12 : anak-anak ALLAH, 1 Yoh.3:9,”lahir dari ALlah) identitas kita lahir dari Allah. Ketika menjaga komitmen ini, dari mulut kita tidak keluar gosip. Melihat orang lain, kita mengasihinya dan tidak hidup dalam perkataan sia-sia.  Orang yang mempunyai dan menjaga identitas sebagai anak Tuhan maka ia tidak menyampaikan dan menghasilkan gosip. Bila kita mau hidup mengikuti dan menjaga identitas sebagai anak-anak terang. Bila tidak maka dari pikiran kita akan keluar yang jahat. Seharusnya perkataan kita bukanlah fitnah. Kalau kita mendengar gosip maka melalui diri kita gosip akan berhenti.
Hidup di dalam status & identitas sebagai anak-anak terang berarti :
a.        Hidup di dalam kasih (ay.1)
b.       Jangan hidup dalam hal yang tidak baik (perkataan kotor, percabulan, rupa-rupa kecemaran, perkataan kosong dan sembrono, perbuatan kegelapan, dosa, ay.3-12)
c.        Mau hidup dengan bijaksana dalam memakai waktu, hidup dalam ibadah & ucapan syukur. (ay.15-21)

Setiap perkataan orang percaya, harus menceriminkan :
a.        Ciptaan baru, bukan manusia lama.
b.       Hamba kebenaran, bukan habma dosa.
c.        Anak-Anak Allah, bukan anak-anak gelap
d.       Menghasilkan kehidupan bukan kematian

Gosip tidak pernah menghasilkan berkat, sehingga kita harus berhenti dari gosp. Gosip menghancurkan manusia, sehingga gosip jangan menjadi bagian dalam hidup kita.  Contoh : tanaggal 21 April 2015 bintang film Taiwan , Cindy Yang bunuh diri (umur 24 tahun lahir 4 Des 1990) karena tidak tahan gosip tentang dirinya. Gosip itu begitu jahat dan bisa membunuh orang. Ada begitu banyak contoh tentang  gosip dan fitnah yang begitu jahat dan tidak baik. Sebagai orang percaya maka kita menghasilkan berkat dan memberikan hal yang baik. Ilustrasi tentang 2 gelas air yang sama-sama bening warnanya. Namun bila yang satu diminum akan menghasilkan kehidupan yang baik (karena berisi air minum) sedangkan yang satu lagi tidak menghasilkan kehidupan (karena merupaan air cuka karena orang yang meminum air cuka segelas maka ia akan masuk rumah sakit dan bisa mematikan). Penampilan fisik kita boleh sama, tetapi hidup orang percaya jangan menjadi asam cuka yang mematikan orang. Jangalah perkataan, perbuatan kita menghancurkan orang. Tetapi biarlah hidup orang percaya, tamapak sungguh baik dan menghasilkan berkat bagi orang.  

Penutup

                Adakah Engkau mau berjuang dalam : hidup sebagai penurut Allah dan berkomitmen hidup menjaga status dan identitas sebagai anak-anak Allah? Bila iya, maka gosipl tidak akan tumbuh subur di gereja!  Ingatlah bahwa kita adalah surat Kristus (2 Kor 3:1-3) sehingga hidup kita mencerminkan kemuliaan Tuhan (2 Kor 3:18). Gosip tidak mencerminkan hidup dalam Tuhan. Perkataan orang percaya harus memiliki motivasi ingin selalu menjadi saluran berkat Allah bagi sesamanya.. Sebaliknya kita mengerti bahwa gosip tidak pernah menjadi berkat.  Perkataan orang percaya, tindakan, pikirannya seharusnya menjadi identitas dan karakter Allah . Gosip tidak pernah merefleksikan Allah.  
                Mari kita berkomitmen hidup menghentikan gossip dari diri kita. Kalau dengar gosip jangan mengompori (jangan tambah minyak supaya tambah besar tetapi biarlah saat dengar gosip maka gosip akan berhenti di kita (meniadakan gosip itu). Jangan hidup yang bergosip. Marilah kita menjadi berkat dalam perkataan, pikiran dan perbuatan kita.


Sunday, May 3, 2015

Saya Sulit Bekerja Sama?


Pdt. Hery Kwok

Filipi 2:1-11
1  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

                Minggu lalu , saya dan shi mu (istri) diundang untuk melayani di Tegal. Waktu itu kami diajak makan oleh majelis pendamping dari gereja yang kami layani yang berprofesi sebagai dokter. Di kota kecil seperti Tegal, sekolah dan pekerjaan masih berlangsung di hari Sabtu. Di tengah kesibukannya sebagai dokter, ia menyempatkan diri untuk mengajak kami makan. Ia menceritakan 2 buah kisah kepada saya. Yang pertama, ia mempunyai rekan seorang dokter hewan yang membuka praktek di Jawa Timur.  Menangani pasien berupa hewan bukan merupakan perkara yang mudah karena hewan tidak bisa berbicara dengan bahasa yang dimengerti manusia. Dokter hanya bisa mengetahui gejala penyakit  hewan tersebut dari pemiliknya misalnya : anjingnya mencret, kucingnya tidak nafsu makan dan lain-lain. Dokter hewan ini kemudian memiliki kerinduan melayani Tuhan sehingga akhirnya ia mengambil kursus-kursus di sekolah Alkitab agar bisa dibekali dengan pengetahuan Alkitab. Setelah mengikutinya, lama-lama hatinya terpanggil. Lalu salah satu dosen di sekolah Akitab tersebut menawarkannya untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu (full-time). Setelah bergumul akhirnya ia masuk ke sekolah Alkitab dan menjadi hamba Tuhan. Padahal sebagai dokter hewan , ia bisa memasang tarif yang mahal dan pemilik hewan yang sakit rela membayar mahal. Mantan dokter hewan ini kemudian menjadi hamba Tuhan dan bertemu dengan majelis yang mentraktir saya yang kemudian menanyakan pengalaman dokter hewan tersebut setelah menjadi hamba Tuhan. Mantan dokter hewan tersebut berkata, “Saat menjadi dokter hewan, saya tidak mengalami kesulitan dalam melayani hewan. Setelah menjadi hamba Tuhan ternyata tidak mudah melayani manusia.” Manusia sulit diajak bekerjasama dan berinteraksi satu dengan lain. Binatang lebih mudah dilayani daripada manusia. Ini sangat memprihatinkan. Seharusnya binatang yang lebih sulit karena hewan tidak mengetahui pikiran, perasaan dan pribadi manusia. Manusia tahu pribadi, pikiran dan perasaan orang lain. Dalam hati saya merasa tertampar, “Jangan-jangan itu saya”.
                Yang kedua, ia memiliki seorang teman yang bekerja seorang kepala bagian pemasaran di suatu perusahaan besar di Jawa dan mengepalai 150 orang tenaga penjual. Ini bukan jumlah yang kecil. Pada hari Minggu ia melayani Tuhan di gereja. Temannya ini berkata, “Lebih mudah mengatur 150 tenaga penjual daripada mengatur orang-orang di gereja.” Memang tidak mudah bekerjasama dengan baik. Di gereja jangankan mengatur 150 orang, 10 (segelintir) orang saja sangat sulit. Janji pk 9 tapi pk 10.30 baru datang atau kalau janji lupa ditepati karena ada urusan dengan keluarga.. Demikian pula dengan yang saya alami. Dulu sewaktu menjadi pengacara lebih mudah. Suatu kali ada seorang pendeta mau bercerai dengan istrinya , saya bisa dengan mudah mengatakan “Kamu gila!” Sekarang bila saya menegur jemaat dengan mengatakan “Kamu gila!” maka orang yang dinasehati bisa marah.

Penyebab Sulitnya Bekerjasama

1.     Tidak mau merendahkan diri

Kerjasama bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan sehingga seringkali kesulitan banyak dialami oleh gereja karena tidak adanya kerjasama. Gereja paling banyak mengalami kendala dalam kerjasama karena terkait dengan karakter manusia karena di dalam gereja kita bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karater yang belum tentu dikuduskan Allah. Karakter dibentuk oleh kebudayaan, keluaraga dan lingkungannya sehingga saat berada di gereja manusia membawa adatnya sendiri. Saya sering mengatakan ke pemuda-pemudi yang mau menikah agar tidak menikah dengan orang yang karakternya tidak jelas. Karena untuk mengubah karatker tidak mungkin dilakukan dalam waktu sehari alias perlu waktu lama untuk mengubahnya. Saya pernah melayani di gereja yang sangat besar dengan majelis yang berkedudukan sebagai ceo (pengelola) atau pemilik perusahaan. Namun tidak berarti seorang ceo atau pemilik perusahaan memiliki pikiran yang baik. Ada yang berkata majelis itu pintar dan melakukan terobosan-terobosan yang  canggih, tapi saat bekerjasama orangnya tidak mau mengerti orang lain. Bahkan ada juga majelis yang mengatakan bahwa hamba Tuhan juga sama. Karena berbicara tentang karakter, siapa pun kalau tidak mau dikuduskan dan merendahkan diri maka tidak mudah untuk berinteraksi dengan sesama.

2.     Merasa benar dalam pandangan sendiri, semua dianggap sederajat.

          Kita berada di zaman post modern. Waktu zaman modern, ada nuansa bahwa kalau manusia dipimpin oleh seseorang maka orang yang dipimpinnya tidak mau pusing dan ia akan mengikutinya. Sedangkan dalam  zaman post modern, orang memiliki anggapan bahwa ia benar dalam pandangannya. Orang menentukan kepercayaannya berdasarkan apa yang diyakininya benar. Seperti pada zaman Hakim-Hakim, orang-orang melakukan apa yang diyakini benar. Dalam zaman teknologi, apa yang dilihat seseorang bisa dijadikan contoh. Saat ini tidak mudah menjadi seorang guru. Kalau guru memukul murid, maka sang murid mengatakan bahwa ia merasa di-bully. Ada seorang guru yang ingin mengundurkan diri karena merasa sulit menjadi guru. Saat ia melotot kepada seorang anak murid, dikatakan bahwa ia telah mem-bully siswa tersebut sehingga sang anak merasa takut dan gementar. Pada malam hari ia mengigau dan terkencing-gencing. Dalam zaman post modern semuanya dianggap sederajat. Orang merasa tidak perlu memiliki pandangan bahwa “kita sedang bekerjasama satu dengan lain sehingga masing-masing perlu merendahkan diri.” Rasul Paulus memberi nasehat penting kepada jemaat di Filipi yang mengalami kesulitan dalam bekerjasama. Fil 2:1-2  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

          Rasul Paulus mengatakan karena di dalam Kristus kita dipersatukan, bisa berada bersama-sama dan bisa melayani. Kita bisa mempunyai saudara walau berbeda suku, derajat dan banyak hal tapi dalam Kristus kita adalah satu. Dalam Dia ada nasehat dan persekutuan, sehingga kita seharusnya mencerminkan Yesus Kristus. Jadi hendaklah kita semua sehati. Perkara kerjasama dimulai dengan kata sehati dan sepikir. Pada ayat 5 dikatakan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Istilah “menaruh pikirian’ berbeda dengan menaruh barang karena kalau barang ada obyek yang bisa diraba (disentuh). Saya mencoba memikir dan merenungkan istilah “menaruh pikiran”. Saya dan shi mu menikah 1997. Dalam menjalani kehidupan pernikahan juga ada gesekan, percekcokan walau sama-sama hamba Tuhan. Itulah manusia. Kalau marah maka ayat terlupa. Saya pernah mengunjungi rumah jemaat saat ribut sehingga terlontar nama-nama binatang. Jadi itu adalah gambaran ekspresi manusia. Sebelum peneguhan pernikahan Sdr. Hary – Sdri. Julia, saya diingatkan untuk memotong rambut. Biasanya Guo shi mu yang mengguntingkannya namun karena shi mu sedang sibuk menyiapkan pakaian untuk padus Jubilate maka saya menggunting rambut sendiri karena tidak ingin merepotkannya.  Namun akhirnya shi mu tahu saat melihat ceceran rambut di lantai dan mempertanyakannya. Shi mu sempat kesal walau sudah disampaikan alasannya agar tidak menyibukannya. Kalau saya tidak mau ribut maka saya harus menaruh pikiran saya kepada shi mu. Saya harus setuju dengan pikirannya dan saya harus merendahkan diri.  Saat menaruh pikiran, saya harus benar-benar seperti Kristus menaruh pikiranNya dengan merendahkan diri dan Bapa mengutus AnakNya , Yesus Kristus yang  tidak menganggap kesetaraan diri untuk dipertahankan , Dia mengambil rupa menjadi manusia, tidak menganggap diriNya harus menang dan Ia mau manusia memperoleh keselamatan.

Penutup

                Rasul Paulus memberikan berita yang hebat. Allah adalah pribadi mulia yang m,enciptakan langit dan bumi dan kalau nafas hidup kita ditarikNya, maka tamatlah riwayat manusia. Seorang teman saya yang baru kembali dari perjalanan ke Bandung, bermain badminton. Saat bermain badminton, ia meninggal di lapangan. Apabila ia tidak jadi bermain badminton, apakah ia tidak jadi meninggal? Omong kosong!. Tuhan Yesus yang mempunyai kedaulatan, keagungan dan kemuliaan, Dia mau merendahkan diri, agar kita diselamatkan. Keselamatan itu anugerah. Kitab suci membicarakan keselamatan dari Allah. Maka kita harus menaruh pikiran kita seperti Kristus yang merendahkan diri, sehingga kita harus satu hati, satu pikiran, satu kasih, jiwa dan satu tujuan. Pdt. Joshua Lie awalnya seorang jemaat Gereja Petamburan dan menganggap saya adiknya. Ia berbicara tentang esensi dan hakekat gereja. Ada yang bertanya, “Ko Lie mengapa di gereja banyak pertengkaran dan percekcokan?” Pdt. Joshua Lie menjawab, “Teman-teman memahami gereja apa? Apakah kumpulan orang-orang yang kudus? Bukan! Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa, yaitu saya (jangan tunjuk orang lain). Saya adalah orang berdosa! Itu sebabnya natur dosa saya muncul. Waktu saya tidak suka dengan seseorang maka saya bisa pakai cara saya dan saya tidak mau dipimpinnya.” Kumpulan orang berdosa ada di geraja. Kumpulan orang berdosa yang dikuduskan oleh Kristus Artinya tiap hari Yesus Kristus mau memproses agar kita mengalami pembaruan karakter dan budi sehingga bisa bekerja sama satu dengan yang lain.
                Kita dikumpulkan di gereja supaya kita bisa memuliakan  dan meninggikan Allah dalam keterbatasan, melalui karyaNya dan interakasi, karena ada Yesus Kristus ada di dalam diri dan ada kerendahan diri. Orang yang berada di dalam Yesus Kristus mau dibentuk. Sehingga dalam keseharian, saat melihat orang lain ia akan menyambut dan mengucapkan salam (seperti  “Selamat pagi” dll). Ia akan melihat kelebihan orang lain walau setiap orang punya kelemahan. Ia punya pikiran yang diletakkan kepada Yesus Kristus.