Sunday, March 1, 2015

Harga Sebuah Jiwa

Ev. Susan Maqdalena

Matius 16:21-26
21  Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22  Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
23  Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
24   Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
25  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Lukas 15:1-4,7
1   Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
3  Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Kej 1:26-27
26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.     

Pendahuluan

                Berapa harga sebuah jiwa (nyawa) manusia? Di mass media seperti televisi dan surat kabar kerapkali muncul berita terbunuhnya manusia. Seolah-olah tidak ada penghargaan atas nyawa manusia. Hanya demi uang sebanyak Rp 2.000, nyawa manusia bisa melayang. Bukan itu saja, nilai dari jiwa manusia dipandang rendah sehingga karena nafsu manusia bisa melakukan hal yang membuat kerusakan dan turunnya nilai dari jiwanya. Pada suatu malam, seorang hamba Tuhan ribut dengan istrinya dan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Saat melewati lokasi prostitusi, untuk melampiaskan rasa amarahnya ia masuk ke dalamnya. Walau ia dalam keadaan marah dengan istrinya, ia tidak tega bersetubuh dengan lawan jenis sehingga ia memilih   seorang pelacur pria dan berhubungan intim dengannya. Ia kemudian tertidur di sana. Saat pagi hari , ia terbangun dan terkejut saat menyadarinya. Ia menyesal namun sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Sekitar 2 tahun kemudian , ia menderita penyakit yang tidak diketahui jenisnya dan istrinya pun menyarankan agar ia memeriksa darah. Hasil lab-nya mengejutkan karena ternyata ia terkena HIV postif! 3 bulan kemudian ia memeriksa ulang dan hasilnya semakin menguatkan hasil lab yang pertama. Yang membuatnya menyesal adalah setelah peristitwa itu, setengah tahun kemudian istrinya mengandung sehingga ia meminta agar istri dan anak yang dikandungnya juga diperiksa. Saat melakukannya dulu, hamba Tuhan ini mungkin tidak berpikir lagi harga dari penebusan Kristus di kayu salib dan panggilannya sebagai hamba Tuhan. Semuanya dianggap tidak ada nilainya  sehingga ia melakukan tindakan yang akhirnya merugikan istri, anak, jemaat yang dipimpin dan orang-orang di sekelilingnya. Ada juga berita tentang akibat cemburu buta seorang suami menyiram wajah istri dengan air keras lalu mengambil pisau di dapur dan menggorok leher istrinya! Nyawa manusia sepertinya tidak berharga sama sekali!

Harga Jiwa

                Orang Kristen (orang percaya) seringkali menganggap harga nyawanya begitu “tinggi” sampai-sampai mengorbankan nyawa Tuhan Kristus dengan mengikuti hal-hal duniawi dan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Ada juga orang Kristen yang demi kesuksesan karir melepaskan imannya dan pindah agama.  Hal itu sama dengan tidak menyadari arti sebuah jiwa yang bukan sekedar nafas kehidupan tetapi kehidupan yang dianugerahkan Kristus yang telah mati untuk menggantikan kita. Pada Matius 16 Yesus memberitahukan penderitaanNya untuk pertama kali kepada para muridNya. Alkitab mencatat pemberitahuan tentang penderitaan Yesus sebanyak 4 kali (Mat 16:21-23, Mat 17:22-23, Mat20:17-19, Mat 26:1-2). Yesus memberitahu bahwa Dia akan mengalami penderitaan, dibunuh dan dibangkitkan. Mendengar itu Petrus menarik Yesus ke samping dan menegorNya, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Mat 16:22). Petrus berkata demikian karena belum memahami seutuhnya tujuan kehadiran (kedatangan) Gurunya di dunia. Apa yang dikatakan Petrus pada Mat 16:22 mengindikasikan bahwa ia tidak akan sanggup menghadapi penderitaan di taman Getsemani dan akhirnya menyangkal Yesus 3 kali. Ia mau kehidupan yang stabil, nyaman dan bisa menikmatinya.  Sebagai tanggapannya Yesus berpaling dan menegur Petrus dengan keras, walau tidak menyuruh Petrus “Diam!” atau “Tidak boleh ngomong begitu”. Tetapi pada ayat 23 dikatakan "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Itu teguran yang keras. Suatu ketidaksetujuan atas perkataan Petrus yang sama sekali tidak benar. Yesus sudah memberitahu ke murid-muridNya untuk apa Dia ada di dunia ini, namun Petrus dan murid-murid lainnya tidak bisa menerima bahwa Yesus datang menjadi “anak domba” yang akan digantung di kayu salib menggantikan dosa manusia.

                Mat 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Pikiran orang dunia untuk menikmati hidup dengan sebaik, seenak dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, mengambil kenikmatan apa yang ditawarkan dunia sebanyak-banyaknya. Sehingga tawaran dunia dan apa yang ditawarkan Yesus merupakan 2 konsep yang bertabrakan. Pikiran Yesus berbeda dengan pikiran dunia sehingga Yesus berkata,”Kamu tidak sanggup berjalan dengan Aku”. Orang Kristen yang hidup untuk diri sendiri, tidak hidup lurus dan hanya mau enak saja, tidak siap dan sanggup menjalani hidup yang sulit bersama Yesus. Yesus memberikan komparasi, “Kalaupun kamu menyangkal Aku, supaya nyawamu bisa selamat, aku ingin katakan bahwa kamu akan kehilangan nyawamu selama-lamanya”.  Mat 16:25  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Banyak orang menjual dan menyangkal imannya dengan menghalalkan cara demi bisa bertahan, sukses , menikmati hidup dan mendapatkan apa yang ditawarkan dunia ini.

                Dalam masa pra-Paskah ketika diingatkan tentang harga nyawa (jiwa) manusia, Yesus mengingatkan, “Apa gunanya kamu menikmati apa yang ditawarkan dunia ini, sehingga memejamkan mata di atas kasur yang enak tapi kehilangan keselamatan, keselamatan itu adalah hal yang penting dan tidak bisa ditukarkan apa pun  juga.” Yesus menegur Petrus dengan keras dan berkata, “Pergi kamu iblis!”. Kalau Tuhan menegur kita dengan kalimat seperti itu, bagaimana reaksi kita? Kalimat “kamu Iblis” artinya Tuhan tidak main-main, Tuhan tidak pernah main-main ketika bicara tentang keselamatan yang dimiliki karena penderitaan Yesus Kristus.

                Lukas 15 memberikan pemahaman lain lagi tentang harga sebuah jiwa. Yesus sedang memperbandingkan bagaimana Allah yang penuh kasih dan tidak pernah menyepelekan 1 jiwa manusia pun  yang ingin bertobat. Demi satu jiwa Allah rela mendatangkan anakNya ke tengah dunia. Lukas 15:1-7 menggambarkan peristiwa di mana pemunugut cukai dan orang berdosa makan dan minim, ngobrol bersama Yesus. Hal ini dipandang tidak baik oleh ahli Taurat, orang Farisi dan orang-orang yang belajar firman Tuhan. Artinya orang yang menganggap dirinya rohani atau baik secara moral, tidak membenarkan dan tidak suka Yesus bersahabat dengan orang-orang kelas bawah. Mereka tidak senang kalau Yesus makan, mengajar dan menawarkan keselamatan untuk orang yang hina dan tidak layak. Bukankah seharusnya orang yang belajar Alkitab dan  mendengarkan firman Tuhan memiliki hati yang lebih luas untuk menerima bahwa keselamatan ditawarkan dan diceritakan kepada orang-orang yang belum percaya? Itu sebabnya Yesus menegur orang-orang yang mengangap dirinya rohani. Petrus ditegur karena menganggap dirinya bijaksana, mengikuti pendapat umum dan seakan-akan ia berkata,”Tuhan, Guru janganlah berbeda agar tidak susah!”. Sedangkan yang kedua Yesus menegur sekelompok orang yang menganggap dirinya baik yaitu ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus memberikan teguran yang berbeda lewat perumpamaan  (cerita).

                Pernahkah kita belajar peka? Pernahkah kita merasa Tuhan sedang mengajarkan kita? Hidup kita terus-menerus dipenuhi keinginan dan kerinduan akan “kapankah Tuhan memperlancar hidup, memberi sukses, atau menyembuhkan saya”? Kalau bisa Tuhan jangan lama-lama dalam menyembuhkan saya. Minggu lalu saya berada dalam kondisi sakit karena saat buang air kecil berdarah sehingga malam-malam saya pergi ke dokter. Jadi waktu membesuk orang sakit, saya juga sedang bergumul dengan penyakit saya. Ada juga yang sedang ujian dan berharap lulus. Tetapi pernahkan kita bertanya, “Apakah hari ini Tuhan memarahi saya tidak? Tuhan mengajar saya tidak?” Kalau iya, Dia mengajar seperti mengajar Petrus dengan teguran yang sangat keras supaya saya sadar atau Tuhan menegur saya dengan sederhana lewat cerita dan pengalaman orang lain. Intinya apakah Tuhan sedang menegur saya dengan keras atau cukup menegur dengan halus (cara yang berliku) supaya saya sadar? Kadangkala Tuhan menegur kita dengan keras , tapi bisa juga Dia menegur cara yang berbeda, supaya kita memahami diri kita dan arti penebusan Kristus. Maka Dia menegur ahli Taurat dan orang Farisi dengan cerita. “Siapa di antaramu yang punya 100 domba lalu ada 1 yang hilang dan tidak mencarinya?” Yesus cukup berani menanyakan ini ke pendengarnya. Kalau ada pengusaha etnis Tionghoa mungkin ia akan mengambil kalkulator untuk menghitung untung ruginya. Misal : kalau domba tersebut jaraknya telah jauh maka akan menghabiskan banyak bahan bakar,  kemungkinan pecah ban, rasa capek, kalau hujan dan angin bisa sakit sehingga harus ke dokter. Jadi dihitung untung-ruginya. Akhirnya domba yang hilang dibiarkan saja. Karena hanya 1 yang hilang, masih ada 99 ekor lagi. Hati manusia seperti itu. Tuhan Yesus bukannya tidak tahu hati manusia dan ahli Taurat. Ia juga mengenal orang Yahudi yang pelit luar biasa dan sudah memperhitungkan segalanya. Yesus langsung mengatakan, “Gembala yang baik akan mencari yang 1 karena yang 99 sudah aman di kandang. Yang 1 ia tetap cari.” Artinya gembala yang baik tidak pernah menyepelekan harga 1 jiwa dan ia akan mencari dan menyelamatakan . Sukacita surga itu luar biasa, ketika 1 orang bertobat dibandingkan 99 orang “benar” yang tidak memerlukan pertobatan. Dalam perumpamaan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan 1 orang dengan 99 orang. Tetapi yang dibandingkan adalah 99 orang yang menganggap dirinya benar dan tidak perlu pertobatan yaitu orang Farisi dan ahli Taurat. Ritual yang dilakukan tidak membuat mereka bersuka. Tetapi akan ada sukacita surgawi saat 1 orang bertobat (Lukas 15:7) yaitu pemungut cukai . Yesus mati untuk saya. Apakah kita menyadari bahwa Kristus mati untuk saya ,domba yang hilang, itu? Ia begitu menghargai jiwa 1 orang dan mau berkorban untuk saya

Berharga di Mata Tuhan (Kej 1:26-27)

                Manusia adalah ciptaan Allah yang adalah gambar dan rupa Allah (Imago Dei, Kej 1:26). Harga inilah yang tidak bisa ditawar-tawar dan dianggap remeh. Allah membentuk dan menciptakan manusia dengan khsusus. Ia menjadikan manusia seperti diriNya sendiri. Ia tidak menjadikan hewan dan tumbuhan seperti diriNya. Kendatipun banyak kelebihan pada hewan dan ciptaan lain, tapi hanya manusia yang spesial karena serupa Allah. Manusia walau tidak sekuat kuda tapi Allah mengasihi manusia. Manusia tidak bisa mengalahkan kecepatan larinya kuda dan tingginya elang terbang tetapi Allah menghargai manusia lebih tinggi. Elang diciptakan dengan mata yang bisa melihat hal terkecil sampai puluhan kilometre sedangkan manusia terbatas (bahkan terkadang harus dibantu kacamata) tetapi Allah menghargai dan mengasihi kita lebih dari elang yang matanya begitu tajam. Elang bukan rupa dan gambar Allah, tetapi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya. Allah mengasihi manusia melebihi ciptaan yang indah seperti merak yang punya ‘jubah’ yang indah.  Namun manusia dikasihi dan dihargai Allah melebihi merak walaupun pakaian kita compang-camping, atau tidak cantik/tampan karena kita aadalah gambaran rupa Allah. Walaupun tidak banyak atribut yang luar bisa, tetapi Allah menghargai kita lebih dari burung merpati yang memiliki kepekaan yang luar biasa. Maka dikatakan hendaklah engkau tulus seperti merpati (Mat 10:16). Kadangkalah hati manusia lebih keras dari singa , tidak tulus seperti merpati dan kita menjadikan Allah “pembantu”, tetapi Allah mau mengasihi kita lebih dari ciptaan yang lain.

Penutup

                Mari kita belajar dari teguran Yesus kepada Petrus. Katakan TIDAK terhadap tawaran dunia dan segala bentuk kompromi demi kenikmatan yang ditawarkan dunia kepada kita. Cermati dan koreksi kompromi apa pun yang telah kita lakukan dengan alasan demi hidup, kesuksesan  dan demi apapun juga. Kadangkala pikiran saya dicela orang, tapi tetap saya pegang. Saya seringkali katakan kepada teman yang punya kedudukan tinggi di perusahaan, “Apa artinya ibadah hari Minggu untukmu? Sejauh mana ibadah hari Minggu bisa dikompromikan? Kalau kamu menganggapnya penting, maka segala bentuk pelatihan outbound jangan menggunakan hari Minggu karena itu pekerjaan kantor!” Perkataan saya ini menimbulkan perdebatan. Banyak pemikiran saya yang ditentang dan dicela atas hal-hal yang dikompromikan demi alasan yang sepertinya masuk akal. Akhirnya kembali kepada pertanyaan ,”Seperti apa kita memprioritaskan diri kita kepada Tuhan?” Adakah sukacita saat 1 orang yang bertobat, dibanding 99 orang yang mengaku Kristen tetapi tidak bertobat? Kita hidup dalam pembaharuan setiap hari. Allah tidak bersukacita dengan aktivitias rohani yang begitu banyak dan yang merasa dirinya sudah baik . Charles Haddon Spurgeon (1834-1892, pengkhotbah dari Inggris) mengakan ,”Moralitas yang baik menghindarkan anda dari penjara. Tetapi hanya darah Yesus yang mampu membebaskan anda dari neraka!” Moralitas itu penting , tetapi kepentingan moralitas itu untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Terakhir. saya berharga seharga darah Kristus, jadi saya tidak boleh sembarangan. Orang lain berharga seharga darah kristus jadi tidak boleh memperlakukan orang lain secara sembarangan. Semua berharga di mata Kristus. Saya berharga dan orang lain juga berharga! 


Monday, February 23, 2015

Mitos vs Kebenaran Firman


Pdt. Paulus Daun

Mat 4:10b Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
Yoh 4:24 24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Pendahuluan

                3 hari yang lalu pada  tanggal 19 Februari 2015 (Kamis) orang Tionghoa merayakan tahun baru Imlek. Biasanya orang Tionghoa saat hari raya Imlek bertemu dan mengucapkan恭喜发财(Gōng xǐ fā cái, selamat semoga rezekinya berlimpah) 万事如意 (wàn shì rú yì, semoga segala masalah akan sesuai dengan yang dikehendaki atau semoga beruntung). Sebagai orang Kristen Tionghoa, apakah boleh megucapkan kalimat ini? Sebenarnya bukan boleh atau tidak, tapi kurang tepat. Karena kalimat ‘gong xi fa cai’ menggambarkan seolah-olah uang di atas segalanya atau seolah-olah makna dan tujuan kita hanya untuk uang saja. Jadi nuansa keduniawiannya agak lekat sehingga sebagai orang Kristen Tionghoa,kurang tepat bila mengucapkan ‘gong xi fa cai’. Wan shi ru yi bukannya tidak boleh tetapi juga kurang tepat. Karena seolah-olah segala sesuatu yang dicapai dengan kehendak sendiri padahal seringkali kehendak kita salah sasaran karena adanya dosa. Seharusnya “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi"(Lukas 22:42b). Oleh karena itu ucapan “gong xi fa cai” dan “wan shi ru yi” kurang tepat. Sebagai gantinya ucapan sederhana新年快乐 (xin nian kuai le, selamat tahun baru), 新年蒙恩! (Xin Nian Meng En, semoga mendapat berkat di tahun baru) lebih tepat.

                Timbul permasalahan sebagai orang Kristen Tionghoa apakah boleh mengikuti perayaan tahun baru Imlek ? (karena ada pendeta yang melarang jemaatnya merayakan tahun baru imlek). Sebenarnya bukan saja boleh malah harus merayakannya. Argumentasi : setiap suku bangsa di dunia ini masing-masing punya tahun baru demikian pula dengan orang Tionghoa yang punya tahun baru (Imlek). Sebagai orang Tionghoa bukan saja sekedar ikut merayakan malah harus merayakannya. Hanya ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perayaannya. Tahun baru Imlek tidak dirayakan hanya 1 hari tapi 3 minggu berturut-turut yakni 1 minggu sebelum Imlek dan 2 minggu sesudahnya dan puncaknya hari raya cap go me (元宵节Yuan Xiao Jie). Kata cap go me berasal dari dialek Hokkian dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Selama 3 minggu perayaan itu banyak sekali acara dan upacara . Di sinilah sebagai orang Kristen Tionghoa perlu memperhatikannya karena ada upacara yang boleh kita ikuti dan ada juga yang tidak!

Mitos Seputar Tahun Baru Imlek

Dari mitos-mitos seputar tahun baru Imlek yang ada berikut beberapa mitos di antaranya :

1.    Sembahyang dewa dapur

          Satu minggu sebelum tahun baru Imlek (tanggal 23 bulan 12 kalender Tionghoa) ada upacara yang dinamakan hari raya mengantar dewa dapur (灶神Zao Shen ) naik ke langit yakni upacara ‘menyogok’ dewa dapur sebelum naik ke langit. Dikatakan menyogok karena orang Tionghoa percaya, dewa dapur mendapat mandat dari dewa langit untuk tinggal di tengah keluarga dengan tugas untuk mengawasi setiap anggota keluarga.  Dari hari pertama sampai hari terakhir dalam setahun , apa saja yang mereka pikir-lihat- dengar-katakan-lakukan diawasi lalu secara cermat ditulis di bukunya. Satu tahun sekali dewa dapur naik ke langit dan melaporkan ke dewa langit segala sesuatu yang dilakukan di setiap anggota keluarga. Lalu dewa langit menurunkan hukuman atau memberikan keberuntungan (hoki) kepada anggota keluarga tersebut. Orang Tionghoa takut bila dewa dapur melaporkan hal-hal yang negatif, sehingga sebelum dewa dapur naik ke langit diadakan sembahyang dengan sesajian berupa penganan manis supaya dewa dapur mulutnya menjadi ‘manis’ sehingga yang disampaikan ke dewa langit juga manis (hal-hal yang baik). Kue keranjang (年糕Nian Gao) disajikan ke dewa dapur karena memiliki bahan perekat sehingga dengan memakannya dewa dapur akan sulit buka mulut dan laporannya menjadi kurang jelas.

          Saat mendengarkan kepercayaan ini kita merasa lucu, namun banyak orang yang mempercayai hal ini . Bukan saja penduduk kampung yang buta huruf bahkan penduduk kota yang pendidikannya tinggi sampai S3. Saat ditanya kenapa percaya hal ini, dijawab tidak tahu. Hal ini dilaksanakan karena orang tua melakukan demikian sehingga mereka mengikuti saja. Kebudayaan Tionghoa yang dijabarkan dalam bentuk tradisi kehidupan sehari-hari lebih didominasi oleh tahayul (mempercayai sesuatu yang tidak diketahui). Walaupun upacara menyogok dewa dapur itu tidak masuk akal , tetapi kepercayaan ini membuktikan apa yang dikatakan Alkitab yakni semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sadar maupun tidak, betapa pun tingginya standard moral mereka, dalam setahun mereka mengakui pernah melakukan kesalahan. Mereka takut dilaporkan dewa dapur ke dewa langit. Ketakutan ini membuktikan :

1.     orang Tionghoa mengakui sepanjang tahun mereka pernah melakukan kesalahan. Ini membuktikan sekalian manusia sudah berdosa tidak terkecuali orang kaya-miskin, berpendidikan- tidak, apa pun status sosial di tengah masayarakat, mereka mengakui telah membuat kesalahan.
2.     Mereka juga mengakui upah dosa itu maut. Orang Tionghoa mengakui bahwa mereka membuat kesalahan dan kesalahan akan mendatangkan hukuman. Pada Ibrani 9:27 dikatakan manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi. Orang Tionghoa tahu bahwa dosa akan mendatangkan hukuman.
3.     Melalui cara mneyogok dewa dapur, menggambarkan kerinduan orang Tionghoa yang ingin mendapatkan kelepasan. Istilah teologisnya ingin mendapatkan keselamatan agar terhindar dari hukuman itu. Namun kesalahannya adalah menggunakan kepintaran sendiri untuk mendapat keselamatan. Karena orang Tionghoa mementingkan uang ,maka orang Tionghoa bekerja pagi, siang, sore  dan kalau perlu juga malam bekerja. Suami dan istri bekerja untuk uang. Karena uang bisa membuat setan melakukan segala hal. Hal ini membuat orang menjadi mata duitan dan ganas. (saudara juga bisa disikat habis karena uang). Dengan uang bisa melakukan segala sesuatu termasuk menyogok dewa dapur agar lepas dari hukuman!

          Kalau benar di dunia ini ada dewa dapur dan bisa ‘disogok’ oleh manusia berarti ia telah mengkhianati kepercayaan dewa langit yang telah memberi tugas kepadanya. Kalau dewa langit ada, masa ia baru tahu tentang kondisi manusia setelah diberi laporan oleh dewa dapur? Kalau dewa langit ada, masakan ia tidak tahu laporan yang disampaikan kepadanya itu benar atau salah. Yang dikatakan ALkitab tentang Allah tidak demikian. Pada Maz 139, Allah yang dikatakan dalam Alkitab bukan saja Maha Kuasa dan Maha Ada dan Dia juga adalah Allah yang Maha Tahu. Ada yang melaporkan atau tidak, Allah tahu karena Dia tidak hanya melihat bagian luar kita tapi juga sampai ke lubuk hati kita. Sehingga kita tidak bisa menyembunyikan apapun juga. Dia melihat segala sesuatu karena ia Allah Maha Tahu! Sehingga yang bersalah tidak luput dari hukuman. Yoh 3:16 16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Bukan dengan cara menyogok manusia bisa melepaskan diri dari hukuman tetapi melalui Yesus Kritsus! Yesus Kristus datang lalu mati di atas kayu salib bukan karena kesalahanNya karena Dia orang kudus, tetapi Dia di salib untuk mengantikan kita supaya manusia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Banyak orang Tionghoa ingin melepaskan diri dari dosa. Mereka tidak tahu bahwa keselamatan satu-satunya hanya ada di dalam Tuhan Yesus. Tugas kita memberitahu mereka khususnya keluarga kita yang belum percaya.

2.    Menyapu (Bebersih) saat Imlek

          Menjelang tahun baru Imlek, orang Tionghoa membersihkan rumah sebersih-bersihnya. Orang juga dibersihkan dari ujung rambut sampai kaki menjadi baru. Orang Tionghoa percaya kalau bawa barang lama maka tidak beruntung. Kebiasaan orang Tionghoa tidak suka membawa hutang ke tahun baru karena ‘bo hoki’ (tidak mendatangkan keberuntungan). Setelah melunasi hutang baru masuk tahun baru. Orang Kristen boleh berhutang tapi harus bayar hutang. Orang Tionghoa , selesaikan hutang sebelum memasuki tahun baru. Orang Tionghoa percaya, tidak boleh bersih-bersih dan sapu-menyapu selama Imlek. Rumah kotor tidak boleh disapu, karena kalau menyapu sampah ke luar berarti menyapu hoki keluar rumah (membuang keberuntungan). Sehingga menyapu sampah ke dalam agar hoki tidak keluar. Alkitab mengatakan, di dalam keluarga ada hoki atau tidak, bukan karena sapu menyapu tetapi adakah Tuhan di dalam rumah? Kalau di dalam rumah tidak ada Tuhan pasti tidak ada hoki.

          Kalau di dalam rumah ada Tuhan dan di dalam hati suami-isitri-anak  ada Tuhan, maka mereka tidak akan berani berbuat yang tidak-tidak. Tetapi sebaliknya bila di dalam hati suami-istri-anak tidak ada Tuhan maka kacau balaulah keluarga itu. Keluraga berantakan (termasuk kawin–cerai) karena suami bisa mendapatkan istri baru. Demikian juga dengan istri. Sepertinya kawin-cerai menjadi hal yang biasa. Mereka melupakan satu hal yaitu anak-anak mereka. Tidak ada anak yang suka dengan ayah atau ibu baru. Papa saya lebih tua dibanding ibu sehingga saat papa meninggal ibu menjadi seorang janda yang masih muda dan cantik. Setelah papa meninggal, banyak pria  mendekati ibu saya untuk menjadikannya istri. Saya baru berusia sekitar 7 tahun. Setiap kali ada pria yang mendekati ibu, saya menangis. Tidak ada anak yang mau papa baru. Menurut psikolog, anak dari keluarga broken-home tidak baik perkembangannya. Di tengah masyarakat terjadi tendensi perceraian, karena di dalam hati tidak ada Tuhan. Kalau ada Tuhan maka keluarga akan hidup harmonis. Diharapkan keluarga Kristen bisa menjadi contoh.

          Saya menikah tahun 1972 sekarang telah berlangsung 40 tahun lebih!  Kami dikaruniakan 3 orang  anak (2 laki-laki dan 1 perepuan). Satu per satu mereka berkeluarga dan meninggalkan kami sehingga di rumah hanya ada saya (72 tahun) dan istri (71 tahun). Secara manusiawi  makin sering melihat semakin bosan dan jelek. Namun karena ada Tuhan dalam keluarga dan hati kami, maka kami memegang komitmen yang disatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Walau sudah jelek dan tua, kasih Tuhan terus melingkupi kami. Anak-anak kami sampai saat ini belum pernah melakukan hal yang memalukan papanya yang pendeta dan Tuhan. Yang hebat Tuhan mengawasi mereka. Cucu saya ada 2 orang (1 perempuan 10 tahun dan 1 laki-laki 5 tahun). Waktu cucu perempuan saya berusia 6 tahun, dia sudah bisa bicara empat bahasa (Inggris, Hokkian, Mandarin dan Indoneisa). Di sekolah sewaktu menghadapi ujian bahasa Mandarin ditanya apakah takut? Dijawabnya, “Saya takut setengah mati. Tapi saya datang ke Tuhan, lalu berdoa agar hanya pelajaran-pelajaran  yang saya pelajari yang keluar sedangkan yang tidak jangan keluar. Puji Tuhan, yang saya pelajari keluar semuanya, sehingga dapat 100. Lalu saya datang ke Tuhan Yesus mengucapkan terima kasih karena sudah mendengar doa saya.” Jawabannya lucu, tetapi itu merupakan jerih payah orang tua bagaimana mengajar anak untuk takut kepada Tuhan! Hatinya ada Tuhan dan saat mengikuti ujian ia tidak pernah nyontek. Sehingga hoki ada di rumah bukan karena sapu-menyapu. Banyak sanak saudara kita yang tidak tahu rahasia ini. Kewajiban kita memberitahu bahwa hoki sejati diperoleh hanya dalam Tuhan Yesus.

3.    Te-pai dalam acara kumpul keluarga

          Malam tahun baru ada acara kumpul dan makan keluarga. Semua anak bahkan dari luar kota dan luar negeri diusahakan kumpul dan makan yang biasanya didakan di restoran. Di dalamnya ada acara penting te-pai yakni anakdan cucu berlutut menyuguhkan teh lalu orang tua menerima dan minum. Upacara ini sangat penting artinya untuk membutuktikan bakti anak terhadap orang tua. Banyak keluarga Kristen tidak mengerti. Karena dilakukan dengan cara berlutut lalu ditolak, sehingga suasananya jadi kurang enak. Orang tua dalam hati merasa sakit, lalu menganggap anaknya yang Kristen tidak berbakti. Sehingga agama Kristen dianggap mengajar anak-anak jadi kurang ajar. Ini salah. Acara te-pai boleh bahkan harus diikuti. Dengan momen ini ingin dibuktikan bahwa walau telah menjadi Kristen tetap menjadi anak berbakti. Te-pai tidak ada hubungannya dengan penyembahan.

4.    Sembahyang arwah leluhur

          Biasanya pagi hari saat tahun baru imlek ada upacara sembahyang untuk arwah leluhur. Saat ini disediakan beraneka makanan seperti daging babi sam can, ikan bandeng, ayam, manisan, buah-buahan. Lalu anak, cucu dan  cicit berbaris di depan meja sembahyang , mengambil hio untuk sembahyang sebanyak 3 buah dan selanjutnya meminta kepada arwah orang tua, kakek atau buyutnya yang sudah meninggal. Acara ini tidak boleh diikuti karena berkaitan dengan penyembahan. Di kalangan orang Tionghoa banyak upacara yang bersifat tradisional. Upacara tradisional ini harus dipilah apakah termasuk kultural (kebudayaan) atau ritual keagamaan (penyembahan). Kalau tergolong kultural boleh dilakukan tetapi berkaitan dengan ritual tidak boleh dilakukan.

          Untuk membedakan apakah upacara itu bersifat ritual atau tidak, dapat dilihat  apakah yang disembah berbentuk roh atau tidak. Kalau berbentuk roh maka tidak boleh dilakukan, karena Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24). Allah, setan dan malaikat itu roh. Ritual yang terkait dengan roh tidak boleh dilakukan! Sembahyang ke arwah leluhur bersifat ritual sehingga tidak boleh dilakukan. Sedangkan pada acara te-pai, objeknya adalah orang tua atau dengan perkataan lain objeknya berbentuk bukan roh karena masih hidup. Acara ini bersifat kultural. Dengan pengetahuan ini, kita bisa menempatkan diri dengan baik sehingga kita jangan menjadi batu sandungan tapi berkat.

5.    拜年 ( Bai nian)

Anak muda suka ikut berkunjung ke tempat orang yang lebih tua karena senang mendapat ang pao (紅包 hóng bāo amplop merah). Sebagai orang Tionghoa boleh ikut dan harus bai nian (memberikan ucapan selamat Imlek). Itu baik. Kalau orang Kristen diberi ang pao boleh diterima. Waktu menerimanya,kita ucapkan terima kasih. Lalu sebagai balasnya, kita juga menghadiahkan barang seperti buku rohani, traktat atau CD rohani. Mungkin waktu bacaan tersebut diberikan belum dibaca, tapi nanti waktu dibaca , maka benih Injil masuk dan membuka hatinya untuk percaya. Saya menerima Injil bukan karena mengikuti KKR atau ada misionari yang memberikan traktat dan tidak ada yang membimbing, tetapi Injil membimbing saya menjadi orang Kristen bahkan menjadi pendeta. Penerima ang pao adalah orang yang belum menikah (yang menikah tidak menerima angpao). Saat memberikan ang pao, jangan pelit-pelit memberinya. Kalau kedatangan anak muda, kita beri ang-pao sambil katakan,”Ini angpao berkat Tuhan” lalu kasih pesan, “jangan lupa hari Minggu datang ke gereja”.

6.    Anak perempuan yang baru menikah tidak boleh pulang dahulu sewaktu imlek

          Anak perempuan yang baru menikah pada waktu tahun baru imlek tidak boleh pulang. Karena ada kepercayaan ini, anak perempuan Kristen yang menikah kalau orang tua nya punya kepercayaan seperti ini, jangan pulang untuk menghormatinya karena bila tetap pulang maka sepanjang tahun orang tuanya bisa tidak tenang apalagi kalau tahun itu ada malapetaka. Tapi saya tidak memiliki kepercayaan seperti itu, maka pada tahun baru imlek, semua anak harus pulang semua. 1 hari sebelum tahun baru imlek, anak perempuan harus pulang bersama  suami-anak dan boleh memberi ang-pao. Menantu Kritsten waktu pulang bukan saja bawa istri dan anak tapi juga memberi ang pao kepada mertua dalam jumlah yang cukup agar tidak dipandang rendah oleh mertua. Maksudnya bukan untuk menyogok, tetapi dengan memberi angpao yang lebih banyak menimbulkan hati yang lebih hormat (segan) dari mertua kepada kita. Sehingga suatu hari bila gereja mengadakan ibadah untuk menyambut tahun baru dan mengundangnya, maka mertua akan datang. Kalau kita pelit maka akan dilecehkan. Logikanya , mertua telah menginvestasikan uangnya pada  istri (9 bulan mengandung, kasih makanan sehat (吃补Chī bǔ atau cia po dalam dialek Hokkian), membayar uang untuk sekolah dan kuliah, semuanya  merupakan investasi mertua pada diri istri dalam jumlah besar. Sebagai suami bawa ang-pao besar, anggap saja seolah-olah membayar pajak kepada mertua, sehingga mertua mempunyai hati yang segan. Hal itu menjadi harga dari uang yang ada di dunia. Sehingga suatu kali sang mertua bertobat dan Alkitab berkata, “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat." (Lukas 15:10).

Penutup


                Setiap tahun kita merayakan Imlek dan saat merayakannya kita bertemu dengan mitos-mitos yang berkaitan dengannya. Namun setelah memahami kehendak Allah dalam Alkitab, Imlek dapat menjadi momen untuk membagikan berkat dan rencana Allah bagi umat manusia agar dapat memperoleh keselamatan sejati. 

Sunday, February 15, 2015

Bukan untuk Diri Sendiri (sosialisasi)


Ev. Lisiani Helena

Filipi 2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Galatia 6:9-10 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.


Anak Tuhan Harus  Tampil Beda

                Sifat dasar manusia adalah egois (melihat dari kepentingan diri sendiri). Misalnya : ketika melihat foto, yang pertama-tama kita cari dan lihat adalah apakah di foto tersebut ada diri kita. Kalau tidak ada maka  kita kurang tertarik untuk melihatnya.  Contoh lain : ada seorang anak berusia 3 tahun yang diberikan 5 butir permen. Lalu saat neneknya minta satu butir tidak diberinya padahal tidak mungkin dia diajarkan seperti itu oleh orang tuanya. Hal ini memperlihatkan bahwa sejak kecil anak sudah belajar egois. Ada peribahasa Tionghoa yang berkata, “Jangan hanya menyapu salju di depan rumah sendiri dan tidak mau tahu orang lain”.  Karena banyak orang yang menyapu bersih salju di atap rumahnya sendiri sedangkan salju di atap rumah tetangganya dibiarkan. Kita bersyukur memiliki Allah yang tidak egois. Karena bila demikian, maka Ia tidak akan memberikan Yesus Kristus kepada kita mengingat dengan kedatanganNya ke dalam dunia, Yesus Kristus kemudian dihina, disiksa dan disalibkan di kayu salib. Jadi bila Allah egois, maka semua orang di muka bumi ini akan masuk ke neraka. Ia tidak pernah menyimpan suatu kebaikan bagi kita. Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia telah menciptakan dunia dengan dengan segala isinya terlebih dahulu (termasuk tumbuh-tumbuhan, hewan di darat , burung-burung dan ikan-ikan). Kalau sebaliknya, maka manusia akan kelaparan. Tidak ada yang suka dengan orang yang egois. Orang yang egois dihindari oleh orang lain. Karena kita anak-anak Tuhan yang percaya kepada Tuhan Yesus, maka kita harus tampil beda dengan orang duniawi. Jadi bila melihat orang yang miskin dan mengalami kesusahan maka kita tidak hanya mengatakan Tuhan akan memberkati sehingga engkau cukup, namun kita sendiri juga mengulurkan tangan kita. Bila tidak maka iman kita adalah iman yang mati. Dalam firman Tuhan dikatakan , Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.(Yak 2:14).


Anak Tuhan Harus Memiliki Hati yang Baik

                Ada seorang ahli bintang (astronom) yang menyelidiki bintang-bintang di langit. Suatu kali ia ingin melihat bintang di luar kota. Karena tidak mengenal kondisi tempatnya, saat mengamati bintang ia terjatuh ke dalam sumur. Lalu ia berteriak-teriak, “Tolong..tolong!” Ada seorang yang mendengar teriakannya, lalu bertanya, “Mengapa engkau jatuh ke dalam sumur?” Lalu ia pun menceritakannya. Orang yang mendengar teriakan itu hanya bertanya, “Mengapa engkau terus saja melihat ke atas dan tidak melihat ke bawah sehingga jatuh?” Jadi ia tidak memberi pertolongan.  Iman kita tidak menggantung tinggi di langit dan menganggap firman Tuhan hanyalah sekedar kata-kata yang tidak perlu dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus memiliki hati yang baik. Melakukan kebaikan adalah kewajiban, tetapi melakukan kebaikan harus punya hati yang bijaksana dan peka akan keadaan kalau tidak akan mendatangkan kecelakaan bagi diri sendiri. Saya pernah mengalami peristiwa ini dan hal ini sangat menyusahkan. Suatu kali saya ingin menolong seseorang agar karirnya berhasil, namun ternyata ia malah menipu saya. Saya juga pernah menerima SMS dari seseorang yang ingin meminjam Rp 500.000 untuk membayar uang kos. Saya teringat perkatan Pdt. Sung bahwa saat ada orang ingin meminjam, maka bila mampu berikan saja tanpa memikirkan untuk dikembalikan. Lalu saya balas SMS nya dan menyampaikan pesan bahwa saya hanya bisa menimjamkan Rp 200.000. Setelahnya , orang itu sampai saat ini tidak pernah ada kabarnya. Pernah juga saat saya kembali ke gereja setelah berkhotbah dengan tema tentang memberi di suatu gereja, ada seorang perempuan yang menggendong anak yang sakit panas datang menemui saya.  Saya kemudian mengusulkan agar anaknya dibawa ke puskesmas terdekat. Di samping itu saya juga memberikan uang yang saya terima dari gereja tempat saya berkhotbah tadi.  Tanggal 9-10 Februari kemarin, terjadi banjir besar di Jakarta. Pdt. Hery Kwok datang sendiri ke rumah-rumah jemaat untuk menolong mereka dan menelpon jemaat untuk menguatkan. Terkadang Tuhan mengijinkan terjadinya bencana agar umatNya bisa memperhatikan orang lain. Pdt Sung sering berkata,”Kita tidak mungkin menolong orang satu kampung, sehingga perlu dibuat prioritas  yakni menolong orang-orang yang dekat dengan kita terlebih dahulu.

                Saya tidak suka tinggal di apartemen karena kecil, mahal dan sulit mengenal tetangga. Sehingga sewaktu pindah dari pastori, saya tinggal di Karawaci di dalam lingkungan di mana saya mengenal semuanya (para tetangga dan petugas keamanan). Sedangkan di Mangga Besar, saya sudah tinggal 30 tahun, tapi satpam di sini tidak mengenal saya. Berbeda dengan satpam di Karawaci yang kerapkali menegur saya. Waktu berbelanja di pasar, saya teringat untuk membelikan mereka kue atau minuman kotak. Demikian pula dengan tukang sampah bila datang dan saya kebetulan memiliki sesuatu yang dapat diberikan, maka akan saya membaginya. Suatu kali saat saya pergi ke mal, tiba-tiba hujan lebat turun. Saya teringat dengan jemuran yang belum diangkat sehingga pulang cepat-cepat. Ternyata saat sampai di rumah rak jemuran saya sudah dipindah ke tempat yang aman. Saya tahu itu pasti tetangga di seberang rumah sehingga saya datangi dan ucapkan terima kasih. Jadi dalam hidup bertetangga, janganlah ribut dan bertengkar dengan mereka. Kita harus baik dengan mereka sehingga mereka pasti membantu kita. Bila punya hati yang baik , kita pasti mendapat balasan yang baik.

                Di program TV Kick Andy tanggal 23 Januari 2015 lalu ada 46 orang konglomerat yang mendapat piagam  penghargaan padahal di Indonesia terdapat banyak konglomerat tapi yang terpilih hanya 46 orang itu saja karena mereka memenuhi kriteria yang ditentukan. Pada acara itu yang diundang hadir hanya 3 orang saja yang ketiganya orang Kristen yakni 1 orang pemimpin di group perusahaan Astra, pemilik Sido Muncul dan seorang dokter yang bekerja di bisnis asuransi. Yang pertama, bos Astra mengatakan bahwa waktu kecil, keluarganya sangat miskin sekali sehingga orang –orang di sekelilingnya memandang hina. Ia kemudian berkata dalam hatinya bahwa suatu hari kalau Tuhan mengijinkan, dengan hartanya dia ingin menolong orang-orang miskin. Dan benar sekarang saat ia sangat kaya, ia pun menolong karyawan-karyawannya sehingga mereka tidak pernah demo. Ia mengatakan bahwa selama masih hidup di dunia ini, saya pasti melakukan sesuatu yang berguna. Yang kedua, bos Sido Muncul. Suatu kali Andy F. Noya menelpon bos Sido Muncul dan meminta pertolongan. Dijawabnya, “Baik. Ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya.” Kemudian Andi F. Noya bertanya, “Apakah dengan terus memberi, uangmu habis?” Yang dijawab,”Belum pernah habis!”, Tuhan tidak pernah membuatnya kekurangan. Dia sudah membuat banyak jaringan untuk menolong orang-orang yang membutuhkan termasuk menolong anak-anak yang terkena penyakit kanker, memberi beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu, mendirikan rumah sakit untuk pengobatan gratis bagi yang tidak mampu.   Perkataannya ada yang mengutip firman Tuhan, "Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu" (Mat 6:3) dan Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. (Fil 4:5) yang disampaikan menjadi “apa yang diperbuat tangan kananmu agar diketahui tangan kirimu”. Andi F. Noya kemudia bertanya.”Mengapa?” Dijawab, “Kalau tangan kanan kita berbuat baik maka tangan kiri tahu , hal ini dimaksudkan  agar orang kaya lain melihat dan melakukannya juga”. Yang ketiga adalah dokter Lie yang dulunya pernah ditolak masuk fakultas kedokteran di universitas di Indonesia karena dianggap tidak punya bakat menjadi dokter. Akhirnya ia pergi ke Jerman untuk sekolah kedokteran dan belajar cukup lama di sana. Dia kemudian melewati hari-harinya di sana dengan baik. Lalu Andi bertanya, “Mengapa engkau mau pulang ke Indonesia?”. Ia pun menjawab, “Saya lahir di Indoensia dan saya melihat di Indonesia banyak orang yang perlu pertolongan”. Ia kemudian memakai kapal laut untuk terus pergi ke kota-kota kecil dan menolong orang-orang yang membutuhkan di sana. Ia melakukan operasi di kapal dan semuanya dilakukan gratis. Ditanyakan tentang dana untuk operasionalnya dia menjawab, “Tuhan tidak pernah memberi kekurangan kepadanya”.
                2 minggu yang lalu saya berbicara ke seorang saudari yang beribadah di gereja Betel.  Ketika kami ngobrol, pendetanya di Banten punya beban untuk memberitakan Injil! Di sana ia beli tanah seluas 12 ha. Saya bertanya ,”Untuk apa tempat sebesar itu”. Rupanya ia ingin membuka sekolah dan rumah sakit yang gratis. Tuhan telah menggerakkan orang-orang ini untuk memperhatikan orang lain. Tuhan kita memperhatikan dan menjaga orang-orang miskin.

God is Good

Ulangan 15:11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu." . Di dalam bahasa Indonesia, kata “perintah” adalah suatu keharusan untuk dilakukan. Sedangkan di dalam bahasa Mandarin digunakan kata “pesan”. Di dalam Kitab Suci, orang miskin dari dulu sampai sekarang pasti (tidak putus-putusnya) ada.
Kel 23:10-11 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya,  tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.
Tuhan kita adalah Tuhan yang sangat baik karena setelah  6 tahun engkau bercocok tangan maka pada tahun ke-7 engkau harus berhenti agar orang miskin bisa makan.
Imamat 19:9-10   Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu.  Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu.  Ketika mau mengambil tunaian, jangan disabit dan diambil sampai habis agar sisanya bisa diambil oleh orang miskin. Ini adalah perkataan Tuhan Yehova. Kalau kita ikut perintah Tuhan , Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Tuhan kita sangat baik!

Menjadi “Tongkat”

                Minggu lalu sepulang dari gereja dan balik ke rumah, kaki saya merasa sakit. Saya mencoba berjalan ke sana ke sini sampai malam, namun kaki saya tidak membaik. Hari berikutnya, kaki saya terasa sakit sekali. Hal ini disebabkan oleh asam urat. Setelah itu saya tidak bisa berjalan. Akhirnya putrid saya, Yuli, menemani saya ke rumah sakit. Yuli  menjadi tongkat saya. Saya memegang tangannya  sebagai tongkat dan berjalan selangkah demi selangkah. Ketika orang lain lemah, apakah kita telah menjadi tongkat baginya? Ketika iman orang lain sedang lemah, apakah kita bisa menopangnya dengan menjadi tongkatnya? Bila ada siswa SMA 3 yang sudah lulus tapi tidak bisa melanjutkan kuliah ke universitas karena tidak cukup uang, apakah kita mau menjadi tongkat baginya? Apakah kita mau menolong agar ia bisa maju terus. Asal kita mau, kita bisa menjadi tongkat bagi orang lain.  Jangan hanya menyapu salju di depan rumah sendiri dan tidak mau tahu orang lain. Di musim salju kita harus memberi kayu bakar kepada orang yang perlu / miskin. Ketika melihat orang mengalami kesusahan, kita dengan cepat menolong dia. Injil bukan untuk diri sendiri saja, karena bila tidak akan ada orang yang gagal dalam percintaan dan ekonomi bunuh diri karena tidak mengenal Tuhan Yesus Kristus. Siapa yang dapat menolong mereka? Kita harus pergi menolong mereka. Kita harus menyampaikan Injil kepada mereka. Apakah seisi rumah, saudara dan teman sudah percaya pada Tuhan? Kita sekarang berada di gereja dan percaya kepada Tuhan Yesus, pasti ada orang lain yang membawa kita. Mengapa kita tidak membawa orang-orang yang belum percaya untuk datang ke gereja? Ini kewajiban kita semua.


Sunday, February 8, 2015

(Perubahan Evolusioner) – Berubah dalam Karakter


Pdt. Abdiel Angkasa

Mat 5:48  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
2 Kor 4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
Rm 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Yak 1:2-4   Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,   sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Pendahuluan

                Lagu “Waktu Kuserahkan Semua” (Aku berubah, sungguh ku berubah, waktu ku s’rahkan semua) mengindikasikan perlunya perubahan hidup orang percaya setelah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Yang berubah bukan iman percaya kepada Tuhan Yesus tetapi hidup kita harus berubah dari hari ke hari sehingga menyerupai Tuhan Yesus. Minggu lalu sudah dibicarakan tentang perubahan revolusioner (besar) yakni dulu kita belum percaya dan sekarang sudah percaya dan menjadi milik Kristus. Mat 5:68 memberitahukan bahwa haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Setelah percaya Kristus, kita belum langsung sempurna dan kita belum banyak berubah. Kita perlu berubah agar menjadi sempurna dan menyerupai Kristus. Manusia sekarang lebih suka yang serba instan (cepat). Contoh  kopi “3 in 1” yang rasanya cukup enak.  Namun jika kita mengolah, menyeduh dan memasaknya sendiri akan terasa lebih asli dan enak karena sesuai dengan selera yang kita inginkan (misalnya : ingin gula atau susu yang banyak) jadi perlu proses yang lebih lama. Kopi “3 in 1” sangat murah kalau dibanding kopi yang kita beli di coffee shop. Manusia sekarang inginnya serba cepat (tergesa-gesa) dan sempurna namun kenyataannya tidak bisa begitu.  Masalahnya manusia terlalu sibuk dan tergesa-gesa. Bagaimana cara mengatasinya? Ada berita di surat kabar yang menyampaikan bahwa Jakarta merupakan kota yang paling macet di dunia. Suatu kali ada seorang asing yang diajak temannya tinggal di apartemen yang tinggi. Sewaktu melihat kemacetan dari atas apartemen ia berkata kepada temannya, “Saudaraku saya sangat kagum dengan kota Jakarta. Saya melihat orang di mana-mana memarkir mobilnya.” Hal ini dikatakannya karena kendaraan pada berhenti saat macet sehingga seperti sedang parkir. Jakarta penuh dengan manusia dan kendaraan sehingga macet. Manusia terus berusaha dengan cepat untuk mencapai tujuan. Tetapi dalam iman kepada Tuhan Yesus, kita perlu mengalami dan menikmati perubahan sedikit demi sedikit.

Sedikit demi Sedikit Berubah (Perubahan Evolusioner)

                2 Kor 4:16 mengatakan Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Kita perlu sedikit demi sedikit mengalami pembaharuan. Tubuh fisik manusia bisa menjadi lemah dan semakin lemah dengan bertambahnya usia, tapi manusia batiniah kita harus makin maju dan seharusnya sedikit demi sedikit semakin baik. Secara lahiriah mata kita tidak bisa melihat proses pembaharuan tubuh kita dari hari ke hari. Namun kenyataannya semakin berusia, tubuh fisik kita makin merosot. Sebenarnya tubuh kita secara biologis terus berubah. Menurut penelitian, tubuh kita memiliki sekitar 100 miliar sel, jadi sel yang kecil tersebut sangat banyak jumlahnya. Fakta mengatakan bahwa dalam 1 hari ada sekitar 300 juta sel tubuh kita yang mati. Jikalau tidak ada sel baru untuk menggantikan sel yang mati tersebut, maka tubuh kita menjadi sumber penyakit dan membusuk. Tapi kita bersyukur Allah kita sangat ajaib. Kita kehilangan 300 juta sel sehari  tetapi 300 juta sel baru menggantikannya. Secara otomatis tubuh kita mengalami pembaharuan. Tetapi Rasul Paulus dalam 2 Kor 4:16 mengatakan bahwa bukan hanya lahiriah yang merosot dan mengalami perubahan, tetapi batiniah kita harus mengalami perubahan. Tubuh kita berubah dan rohani kita juga mengalami perubahan. Rm 12:2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Di sini dikatakan jangan serupa dengan dunia. Sejak kamu percaya Yesus Kristus jangan lagi menjadi serupa dengan dunia tetapi jangan berhenti di situ saja. Rasul Paulus memberitahu agar kita setiap hari mengalami pembaharuan. Pembaharuan ini bukan sekali terjadi lalu selesai  , tetapi berjalan terus menerus. Ibarat membersihkan dan menyapu rumah, tidak mungkin dilakukan hanya setahun sekali tapi setiap hari karena bila tidak debu dan kuman akan begitu banyak sehingga lebih sulit dibersihkan. Bahkan ada orang yang sangat peka terhadap kebersihan sehingga menyapu rumah bisa 3 kali sehari. Namun umumnya menyapu dilakukan sehari sekali. Demikian juga dengan pembaharuan tubuh kita yang perlu dilakukan setiap hari karena bila tidak, tubuh kita menjadi kotor. Ini mengingatkan kita bahwa kita perlu mengalami perubahan sedikit demi sedikit.

Bagaimana Mengalami Perubahan Evolusioner?

1.     Sedikit demi sedikit membaik. Kita harus mengikuti kehendak Allah. Apa yang baik adalah apa yang memenuhi kehendak Allah. Karena bila mengikuti kehendak manusia, apa yang baik bagi kamu belum tentu baik bagi saya dan sebaliknya. Bagimu seseorang dikatakan tampan ataucantik, tetapi bagi saya belum tentu. Standar manusia itu tidak pasti. Kebenaran dunia ini seringkali sudah terbalik. Sekarang orang naik motor sembarangan dan melawan arah. Ini  tidak benar. Bagi dunia ini benar karena dengan melawan arah, pengemudi motor bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuannya. Hal ini mencerminkan bahwa banyak hal sudah terbalik. Jika tidak punya pegangan dalam menjalani hidup, maka kita akan jatuh dalam dosa. Untuk itu kita harus memegang teguh firman Tuhan, karena tidak akan pernah salah. Firman Tuhan mengajarkan bagaimana kita menjadi manusia, apa yang benar dikatakan benar dan bila salah dikatakan salah, tidak ada posisi di tengah-tengah. Maka kita harus mengandalkan firman Tuhan  untuk mengatakan mana yang benar dan mana yang salah. Sayang sekali kalau setelah jatuh dalam dosa dan pencobaan baru kita sadar bahwa kita sudah bersalah! Jauh lebih baik waktu kita menyadari sesuai dengan firman Tuhan mana yang benar dan mana yang salah agar kita dapat mengatasinya. Maka kita perlu menjadi lebih baik. Bagaimana melakukan dengan baik? Apapun yang kita katakan dan lakukan , lakukanlah dengan baik. Kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Mulailah dari diri sendiri. Sedikit demi sedikit dan hari demi hari. Jika hari ini  belum baik, besok harus lebih baik. Bila besok belum juga, lusa harus lebih baik. Itu tergantung bagaimana kita membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Contoh sederhana adalah bagaimana kita berterima kasih. Ucapan terima kasih merupakan hal yang baik. Ada kebiasaan orang Indoneisa yang cukup baik yaitu ucapan terima kasih (di luar negeri jarang). Kita mengucapkan terima kasih bukan pada orang yang kita suka (orang tertentu) saja. Memang ada orang tertentu yang membuat kita susah mengucapkan terima kasih. Saat kita mengemudikan mobil dan membayar tol, apakah kita mengucapkan terima kasih kepada petugas tol karena ia telah melayani kita? Jarang karena siapa yang mau berpikir tentang mereka yang bertugas dari dalam kotak kecil dan terus mencium asap mobil dengan pekerjaan yang sangat membosankan? Jikalau kita mengucapkan terima kasih kepadanya bagaimana responnya? Saya mencoba melakukan kebiasaan seperti itu. Saat diberi tiket tol saya mengucapkan terima kasih. Minggu lalu ada respon dari penjaga tol yang berkata, “Wah bapak putih sekali!” Apakah kita mendatangkan berkat kepadanya saat mengucap terima kasih? Apakah hal kecil ini sudah kita lakukan? Sedikit demi sedikit menjadi baik.

2.     Sedikit demi sedikit menjadi sempurna. Apakah mungkin kita menjadi orang sempurna? Yesus mengatakan haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. Artinya kita melakukan yang baik itu menuju kepada yang sempurna. Kebaikan yang kita lakukan terus menjadi semakin baik dan sempurna. Bagaimana menjadi sempurna? Yaitu kita menjadi sempurna dengan kesungguhan dan ketulusan hati.  Kita harus menghadapi ke depan dan terus makin berkenan kepada Tuhan. Oleh karena itu kita harus melihat Tuhan kita. Untuk menjadi sempurna tidak bisa mengandalkan diri sendiri karena kita terbatas. Sedangkan Allah tidak terbatas dan Ia sempurna sehingga kita harus mengandalkanNya. Oleh sebab itu kita harus terus mendalami bagaimana kita harus menjadi sempurna. Yak 1:2-4   Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,   sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Kita perlu mengalami ujian. Kalau motivasi benar maka kita akan menuju ke yang sempurna. Orang Kristen hari ini saat mengalami ujian mengomel dan mengeluh. Dikatakan ujian terhadap iman kita menghasilkan ketekunan dan bila matang kita menjadi sempurna. Jikalau mengalami ujian kita bersyukur karena kita ingin menjadi sempurna. Seperti siswa sekolah bila tidak mengalami ulangan, maka  tidak mungkin mereka bisa naik kelas. Padahal waktu kecil maunya kalau bisa tidak ikut ujian karena pusing. Bagaimana kita naik kelas, kalau tidak mau ujian? Kalau kita ikut ujian, kita bisa naik kelas. Sehingga kita bersyukur pada Tuhan waktu kita ikut ujian dan naik kelas. Demikian juga batiniah kita harus ikut ujian dan naik kelas. Orang yang tidak pernah diuji Tuhan mungkin orang itu tidak hidup, karena orang hidup selalu mengalami ujian. Sehingga kalau kita mengalami ujian kita merasa syukur karena kita bisa naik tingkat. Ucapkan terima kasih dan puji kepada Tuhan saat kita naik kelas. Sempurna artinya naik kelas! Sedikit demi sedikit menjadi sempurna.

3.     Sedikit demi sedikit berkenan kepada Allah. Setelah mengetahui bagaimana menjadi baik dan sempurna, kita jangan lupa menuruti kehendak Allah. Apakah kehendak Allah sudah kita lakukan? Jikalau kita hanya melakukan apa yang baik tapi tidak berkenan pada Tuhan sama saja sia-sia. Oleh sebab itu kita kembali kepada Firman Tuhan (Alkitab), kita maju selangkah lalu kita bertanya kepada diri sendiri, “Apakah hal yang dilakukan itu merupakan kehendak Allah?” Waktu saya berada pada semester terakhir kuliah di sekolah teologia, seorang dosen bertanya kepada semua siswa di kelas,”Menurut kamu semua apa artinya kehendak Allah?” Semua mahasiswa terdiam. Dalam hidup kita, yang paling tinggi adalah kehendak Tuhan. Semua yang kita lakukan seharusnya sesuai kehendak Tuhan. Oleh sebab itu sang dosen memberikan kata yang menghiburkan, “Sesungguhnya kehendak Allah itu sederhana. Kehendak Allah seperti hukum yang utama. Dan itu yang paling penting dan itulah kehendak Allah.  ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:37 dan 39)’”. Kehendak Allah supaya kita mengasihi Allah karena kita diciptakan oleh Allah sehingga kita menyerahkan segalanya kepadaNya. Namun di dunia kita hidup dengan orang lain. Oleh sebab itu Tuhan mengatakan agar selain mengasihi Allah di dunia ini harus mengasihi orang lain. Orang yang sungguh berkenan kepada Allah adalaah orang yang mengasihi Tuhan dan sesama. Namun tidak ada manusia yang dapat menilai apakah seorang benar-benar mengasihi Tuhan. Namun manusia tetap ingin menilainya dengan melihat apakah seseorang mengasihi sesama-nya. Oleh karena itu kita harus mengasihi Allah dan sesama. Mengasihi sesama bukan hanya pada orang yang kita suka saja seperti orang tua, anak, keluarga (suami-istri) tetapi juga orang yang duduk di sebelah kita dan bukan hanya di gereja saja. Tatkala seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, "Dan siapakah sesamaku manusia?" (Luk 10:29). Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik (Lukas 10:30-37). Jadi orang yang menentang dan tidak sependapat dengan kita juga termasuk sesama kita (bukan saja orang yang baik kepada kita yang menjadi sesama kita). Mengasihi sesama  lebih mudah dikatakan daripada dipraktekkan. Jauh lebih mudah mengasihi orang yang baik daripada orang yang sulit dikasihi. Untuk ini kita harus sedikit demi sedikit berubah dan kita perlu melakukannya dengan penuh ketekunan supaya kita berkenan kepada Allah. Kita yang hidup di dunia ini perlu mengalami proses perubahan sedikit demi sedikit dan yang paling utama adalah kita harus mengasihi Tuhan (itu harus dilakukan lebih dahulu). Kata-kata , pikiran, perasaan dan hati kita dipusatkan kepada tujuan untuk berkenan kepada Tuhan. Sehingga kita perlu mengalami pembaharuan sedikit demi sedikit baru kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. Dengan mengasihi sesame, kita bisa memancarkan kasih Tuhan. Kita juga bersyukur akan keberadaan orang lain. Untuk mengasihi sesama harus ada orang sehingga kita bersyukur pada Tuhan, kita bisa mengasihi Tuhan dan sesama. 
               
Penutup


                Mari kita melihat orang-orang di sekeliling kita. Apakah kita menghargai sesama seperti yang diperintahkan Tuhan?  Seorang pengkhotbah asal Taiwan mengatakan kalimat yang sangat berarti bagi sesama ,”Ada engkau sangat baik”. Kita harus meghargai keberadaan orang. Dan di dalam diri orang itu kita bisa memancarkan kasih Allah. Saya juga mengatakan kepada para jemaat muda,”Saya bersyukur dengan keberadaan kalian!” Apakah kita bisa mengatakan, “Ada kamu saya bersyukur. Ada kamu sangat baik”. Tatkala kita menghargai orang lain , maka respon (senyuman) orang itu akan  muncul dan berkat atas pujian itu bisa kita nikmati bersama. Kiranya Tuhan menolong kita sehingga sedikit demi sedikit kita menjadi baik, sempurna dan berkenan kepada Allah.

Tuesday, February 3, 2015

(Perubahan Revolusioner) - Kristus Memberi Aku Hidup


Pdt. Hery Kwok

Filipi 1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Pendahuluan

                Suatu kali saya mencari obeng kecil di toko perlengkapan modern Ace Hardware. Obeng tersebut saya perlukan untuk memperbaiki baut kacamata saya yang sudah kendur (longgar) karena sering dipakai dan dilepaskan. Sayangnya, saya tidak menemukan alat itu. Obeng yang dibutuhkan khusus karena berukuran kecil. Di toko itu ada obeng tapi ukurannya lebih besar dari yang saya perlukan. Karena tidak ada pilihan, saya bermaksud mengambil obeng tersebut. Namun penjaga tokonya berkata, “Kalau membutuhkan obeng kecil, jangan membeli obeng yang lebih besar, karena bila obeng yang kebesaran (tidak cocok) dipakai maka baut kacamata akan rusak. Kata-kata si penjaga toko tersebut membuat saya terkesima. Kalau spesifikasinya tidak cocok (ukuran obeng bukan untuk baut yang kecil) akan mengakibatkan baut menjadi rusak. Rasul Paulus ingin menyampaikan ke pembaca umumnya dan jemaat Filipi bagaimana menjalani hidup di dunia dan apakah kita hidup sesuai tujuan yang Allah tentukan. Ibarat obeng, bila ukurannya tidak tepat akan merusak bautnya. Pembuat spidol saat menciptakannya ditujukan untuk dipakai oleh dosen atau pemakainya untuk menulis di white board. Tapi ketika digunakan untuk menulis di dinding maka fungsinya menjadi tidak sesuai dan merusak. Ada hal yang membuat kita menjalani hidup ini tidak sesuai tujuan. Mungkin kita hidup tetapi kita tidah tahu mengapa kita hidup dan kemana (arah) hidup kita.

Hidup yang Memuliakan Allah

                Pada Filipi 1:22 , Rasul Paulus mengatakan bahwa ia tahu untuk apa ia harus hidup (ia tahu apa yang harus ia lakukan), sehingga ia mengatakan “jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah”. Dalam buku Katekismus Kecil Westminster (ditulis pada 1640-an oleh para pemimpin gereja di Inggris dan Skotlandia) terdapat pertanyaan yang paling terkenal (terutama di kalangan Presbyterian) “Apakah tujuan akhir manusia?” Jawaban atas pertanyaan ini : tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya. Tujuan ini tidak boleh bergeser! Tujuan kita memuliakan Allah selama hidup dan setelah dipanggil pulang kita menikmati Allah selama-lamanya. Rasul Paulus menununjukkan bagaimana cara memuliakan Allah. Sebelum berjumpa dengan Kristus, Saulus (Rasul Paulus) adalah  seorang Farisi yang sangat luar biasa gigih dalam melakukan Taurat. Secara manusiawi, Rasul Paulus adalah seorang yang melakukan ajaran agamanya dengan baik. Ia melakukan hukum Taurat dan 10 Perintah Allah dengan mutlak, bagimana sabat harus dilakukan, mengasihi Allah dari hukum pertama sampai keempat, memberikan perpuluhan, berdoa dll. Tetapi yang dilakukan Saulus adalah sesuatu yang dilakukan berdasarkan suatu tujuan untuk menyenangkan hati dan pemikirannya sendiri sehingga ia merasa hidupnya sebelum berjumpa Kristus adalah hidup yang tidak berarti. Sewaktu membaca firman Tuhan tentang kehidupan Rasul Paulus, ternyata ia bukanlah orang duniawi dan ia berusaha melakukan hukum agamawinya. Ia melakukannya dengan ketat dan rinci. Tetapi apa yang dilakukannya berorientasi pada diri sendiri. Itulah manusia berdosa yang tidak mungkin memuliakan Allah walaupun perbuatan secara moral dan etika baik tetapi semuanya berfokus ke aku dan aku ditinggikan. Sehingga Allah mengoreksinya saat menyampaikan kotbah di buktit, “jangan kamu seperti ornag Farisi yang sepertinya mencari Allah tetapi bukan”. Karena orang Farisi merasa “harusnya aku ditinggikan dan dikatakan sebagai rohaniawan yang saleh”. Mengerikan sekali apa yang dilakukan sebelum manusia mengenal Tuhan. Tetapi sewaktu Allah memberikan anugerah tanpa syarat , lalu Saulus berjumpa dengan Allah dan terjadi suatu perubahan dalam diri Saulus. Perubahan yang sifatnya dikerjakan oleh Allah dan tidak bisa dikerjakan oleh manusia. Perubahan ini disebut sebagai perubahan revolusioner. Yang dilakukan dari orang yang berdosa yang tidak mengenal Allah menjadi mengenal dan melakukan kehendak Allah supaya Allah ditinggikan. Perubahan ini terjadi dalam diri Rasul Paulus waktu ia menulis Filipi 1: 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kristus membuat nya mengerti arti dan tujuan hidupnya (Aku tahu bagaimana Tuhan menempatkan aku supaya memberitaku Injil supaya banyak orang bertobat dan mengenal Allah). Inilah tujuan hidup yang kita tahu saat kita menjumpai Kristus secara pribadi. Ini yang membuka Rasul Paulus tahu mengapa Allah menghadirkan kita di dunia ini dan di lingkungan kita.

                Sewaktu sekolah mengadakan retreat kemarin saya diminta oleh panitianya untuk menyampaikan khotbah dengan tema “To be Salt and Light” (menjadi garam dan terang). Panitia berkata tentang tujuannya agar para siswa memiliki hidup yang berdampak dan berarti karena kondisi para siswa yang belum mengerti arti hidup mereka. Mereka seringkali diperlakukan dengan tidak baik. Banyak siswa yang disiksa (di-‘bully’) dan disakiti oleh teman-temannya sehingga mereka merasa hidupnya hambar. Waktu mendengar hal tersebut,  saya menggumuli apa yang akan saya sampaikan. Kemudian saat khotbah, saya menjelaskan bagaimana Allah telah mengasihi, menebus, menempatkan kita dan memberi dampak bagi orang lain. Saat altar-call saya bertanya, “Siapa yang mau dipulihkan dan dipergunakan Tuhan?” Ada 2 orang gadis yang menangis dengan keras. Saya bingung melihatnya dan bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka menangis. Kemudian saya menunggu mereka di ruang makan. Saat bertemu, kedua siswi SMA itu kemudian menyampaikan bahwa mereka merasa hidupnya tidak berarti. Setiap hari mereka menjalani hidup secara rutin saja. Bangun tidur, sekolah, pulang sekolah, belajar, tidur lalu bangun tidur lagi dan terus berulang. Mereka berdua mengalami pelecehan dalam banyak hal. Sewaktu mendengar Allah mengasihi dan membuat arti dan tujuan hidup, barulah hati mereka dibukakan, sehingga mereka menangis.  Mereka merasa selama ini hidup mereka sia-sia. Pada Filipi 1:21-22 dikatakan bahwa  karena hidup adalah Kristus maka saat aku hidup di dunia, maka aku harus memberi buah. Setiap ciptaan Allah mempunyai tujuan yang khusus dalam hidup. Allah mengubah kita dari orang berdosa menjadi dibenarkan supaya Allah dipermuliakan dan hal  itu dimungkinkan dalam Kristus. Jadi apa yang kita lakukan bertujuan untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus mengerti dan menempatkan diri sebagai alat Tuhan maka kemudian ia melayani secara efektif.

                Kalau kita mengenal Tuhan, bagaimana mungkin Allah Pencipta yang luar biasa, tidak memberikan tujuan kepada kita yang telah ditebus melalui AnakNya? Bagaimana mungkin kita yang telah ditebus melakukan hidup secara rutinitas belaka seperti orang dunia dan tidak mengerti yang Allah inginkan? Ada 2 penekanan dari hidup dalam bahasa Yunani yakni :

1.     Bios – hidup sehari-hari yang normal dari  Senin sampai Minggu berjalan secara alamiah. Orang  yang tidak mengenal Tuhan Yesus, menjalani begitu saja dari hari ke hari. Bios adalah hidup yang dimiliki oleh semua mahluk hidup, baik manusia, binatang, dan tumbuhan. Dari kata ini dikenal istilah “biologi”. Kata bios digunakan untuk menunjukkan bentuk kehidupan yang dimiliki setiap orang, yaitu kehidupan biologi yang dipertahankan dengan makanan, udara, dan air, tetapi pda akhirnya berakhir dengan kematian.

2.     Zoe. Contoh : Yohanes 1:4  Dalam Dia ada zoe (hidup) dan zoe (hidup) itu adalah terang manusia atau 1Yohanes  5:12  Barangsiapa memiliki Anak(Yesus), ia memiliki hidup(Zoe); barangsiapa tidak memiliki Anak(Yesus), ia tidak memiliki hidup(Zoe). Zoe sangat berbeda dengan bios. Zoe adalah hidup dengan segala kekayaan dan kualitas hidup sebagai manusia yang sesungguhnya. Zoe adalah hidup yang membawa arti, bukan hanya arti yang bisa dirasakan orang lain, tetapi membawa arti untuk kekekalan. kata zoe digunakan untuk menunjukkan kehidupan rohani, yaitu jenis kehidupan yang diberikan Allah dan bersifat kekal ketika seseorang dilahirkan kembali (lahir baru)..Allah memberikan momentum dalam setiap aspek hidup manusia dan merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin diulang. Pengacara mempunyai kesulitan non-teknis saat ingin menang dalam menangani perkara. Kalau ia tidak memberi uang kepada hakim, maka umumnya sang pengacara akan kalah karena pihak lawan akan melakukannya. Saat saya menangani suatu kasus di Tangerang, panitera sudah mengatakan bahwa hakim “titip salam”. Saya tahu itu merupakan sinyal yang artinya “kamu mau kasih berapa agar bisa menang?” Saya bergumul untuk memenuhi permintaan sang hakim dan akhirnya saya putuskan tidak memberi. Ini merupakan kesempatan untuk memuliakan Allah. Kesempatan itu tidak akan datang lagi pada hari-hari di masa mendatang. Untuk memuliakan Allah, hidupku harus Zoe yang memanfaatkan kesempatan-kesempatan demi memuliakan Tuhan yang belum tentu terulang kembali.

                Sewaktu Yohanes Pembaptis membaptis orang, ia berkata, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 3:2). Ada pemungut cukai yang bertanya tentang cara bertobat. Ia berkata bahwa sewaktu melakukan tugasmu jangan mengambil lebih dari apa yang diharuskan. Karena pemungut cukai yang harusnya mengambil 10 dinar biasanya mengambil lebih besar misalnya 50 dinar di mana 40 dinar diambil untuk dirinya sendiri. Muliakanlah Allah melalui pekerjaan yang dilakukan! Sewaktu kita hidup, muliakan Dia melalui pekerjaan. Tujuan hidup bagi Rasul Paulus, para rasul dan nabi adalah melakukan kebenaran Allah di tempat di mana mereka dan kita berada. Untuk memuliakan Tuhan harus terjadi dalam diri kita. Jangan melakukan pemisahan (dikotomi) antara melakukan sesuatu  di gereja tapi tidak dilakukan di luar gereja. Sebagai akuntan, mari berlaku dengan baik. Muliakan Allah. Kalau diminta melakukan pembukuan ganda , katakan tidak bisa! Jangan takut kalau dikeluarkan  nanti akan susah dapat pekerjaan. Pergumulan adalah ketegangan yang terjadi dalam diri orang percaya sewaktu berkata, “Tuhan saya ingin memuliakan Tuhan”. Waktu dipanggil sebagai pedagang , buruh  dan apapun, Rasul Paulus mengatakan Allah sudah menyelamatkan kita dan memberikan kekuatan untuk kita melakukannya.
                 
Penutup

                Marilah kita melakukan apa yang Allah telah percayakan kepada kita dalam hidup ini. Apakah hidup kita hanya untuk menyenangkan diri , memuaskan diri dan berorientasi untuk diri sendiri dan bukan untuk memuliakan Tuhan? Pengenalan akan Allah bukan hanya secara kongnitif tapi harus memiliki pengalaman rohani bersamaNya. Ia memberi kesempatan kepada kita untuk bergumul dan dalam pergumulan itu Dia yang menolong kita sehingga kita bisa memiliki pengenalan sejati akan Tuhan. Yang harus digumuli adalah bila kita sudah mengenal Tuhan dan mengalami kelimpahan tapi tidak memuliakanNya.                 Kalau Kristus sudah memberi hidup, apa yang harus kita lakukan? Gereja dimana kita berjemaat seharusnya menjadi tempat kita melayani.