Tuesday, February 3, 2015

(Perubahan Revolusioner) - Kristus Memberi Aku Hidup


Pdt. Hery Kwok

Filipi 1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Pendahuluan

                Suatu kali saya mencari obeng kecil di toko perlengkapan modern Ace Hardware. Obeng tersebut saya perlukan untuk memperbaiki baut kacamata saya yang sudah kendur (longgar) karena sering dipakai dan dilepaskan. Sayangnya, saya tidak menemukan alat itu. Obeng yang dibutuhkan khusus karena berukuran kecil. Di toko itu ada obeng tapi ukurannya lebih besar dari yang saya perlukan. Karena tidak ada pilihan, saya bermaksud mengambil obeng tersebut. Namun penjaga tokonya berkata, “Kalau membutuhkan obeng kecil, jangan membeli obeng yang lebih besar, karena bila obeng yang kebesaran (tidak cocok) dipakai maka baut kacamata akan rusak. Kata-kata si penjaga toko tersebut membuat saya terkesima. Kalau spesifikasinya tidak cocok (ukuran obeng bukan untuk baut yang kecil) akan mengakibatkan baut menjadi rusak. Rasul Paulus ingin menyampaikan ke pembaca umumnya dan jemaat Filipi bagaimana menjalani hidup di dunia dan apakah kita hidup sesuai tujuan yang Allah tentukan. Ibarat obeng, bila ukurannya tidak tepat akan merusak bautnya. Pembuat spidol saat menciptakannya ditujukan untuk dipakai oleh dosen atau pemakainya untuk menulis di white board. Tapi ketika digunakan untuk menulis di dinding maka fungsinya menjadi tidak sesuai dan merusak. Ada hal yang membuat kita menjalani hidup ini tidak sesuai tujuan. Mungkin kita hidup tetapi kita tidah tahu mengapa kita hidup dan kemana (arah) hidup kita.

Hidup yang Memuliakan Allah

                Pada Filipi 1:22 , Rasul Paulus mengatakan bahwa ia tahu untuk apa ia harus hidup (ia tahu apa yang harus ia lakukan), sehingga ia mengatakan “jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah”. Dalam buku Katekismus Kecil Westminster (ditulis pada 1640-an oleh para pemimpin gereja di Inggris dan Skotlandia) terdapat pertanyaan yang paling terkenal (terutama di kalangan Presbyterian) “Apakah tujuan akhir manusia?” Jawaban atas pertanyaan ini : tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia untuk selama-lamanya. Tujuan ini tidak boleh bergeser! Tujuan kita memuliakan Allah selama hidup dan setelah dipanggil pulang kita menikmati Allah selama-lamanya. Rasul Paulus menununjukkan bagaimana cara memuliakan Allah. Sebelum berjumpa dengan Kristus, Saulus (Rasul Paulus) adalah  seorang Farisi yang sangat luar biasa gigih dalam melakukan Taurat. Secara manusiawi, Rasul Paulus adalah seorang yang melakukan ajaran agamanya dengan baik. Ia melakukan hukum Taurat dan 10 Perintah Allah dengan mutlak, bagimana sabat harus dilakukan, mengasihi Allah dari hukum pertama sampai keempat, memberikan perpuluhan, berdoa dll. Tetapi yang dilakukan Saulus adalah sesuatu yang dilakukan berdasarkan suatu tujuan untuk menyenangkan hati dan pemikirannya sendiri sehingga ia merasa hidupnya sebelum berjumpa Kristus adalah hidup yang tidak berarti. Sewaktu membaca firman Tuhan tentang kehidupan Rasul Paulus, ternyata ia bukanlah orang duniawi dan ia berusaha melakukan hukum agamawinya. Ia melakukannya dengan ketat dan rinci. Tetapi apa yang dilakukannya berorientasi pada diri sendiri. Itulah manusia berdosa yang tidak mungkin memuliakan Allah walaupun perbuatan secara moral dan etika baik tetapi semuanya berfokus ke aku dan aku ditinggikan. Sehingga Allah mengoreksinya saat menyampaikan kotbah di buktit, “jangan kamu seperti ornag Farisi yang sepertinya mencari Allah tetapi bukan”. Karena orang Farisi merasa “harusnya aku ditinggikan dan dikatakan sebagai rohaniawan yang saleh”. Mengerikan sekali apa yang dilakukan sebelum manusia mengenal Tuhan. Tetapi sewaktu Allah memberikan anugerah tanpa syarat , lalu Saulus berjumpa dengan Allah dan terjadi suatu perubahan dalam diri Saulus. Perubahan yang sifatnya dikerjakan oleh Allah dan tidak bisa dikerjakan oleh manusia. Perubahan ini disebut sebagai perubahan revolusioner. Yang dilakukan dari orang yang berdosa yang tidak mengenal Allah menjadi mengenal dan melakukan kehendak Allah supaya Allah ditinggikan. Perubahan ini terjadi dalam diri Rasul Paulus waktu ia menulis Filipi 1: 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kristus membuat nya mengerti arti dan tujuan hidupnya (Aku tahu bagaimana Tuhan menempatkan aku supaya memberitaku Injil supaya banyak orang bertobat dan mengenal Allah). Inilah tujuan hidup yang kita tahu saat kita menjumpai Kristus secara pribadi. Ini yang membuka Rasul Paulus tahu mengapa Allah menghadirkan kita di dunia ini dan di lingkungan kita.

                Sewaktu sekolah mengadakan retreat kemarin saya diminta oleh panitianya untuk menyampaikan khotbah dengan tema “To be Salt and Light” (menjadi garam dan terang). Panitia berkata tentang tujuannya agar para siswa memiliki hidup yang berdampak dan berarti karena kondisi para siswa yang belum mengerti arti hidup mereka. Mereka seringkali diperlakukan dengan tidak baik. Banyak siswa yang disiksa (di-‘bully’) dan disakiti oleh teman-temannya sehingga mereka merasa hidupnya hambar. Waktu mendengar hal tersebut,  saya menggumuli apa yang akan saya sampaikan. Kemudian saat khotbah, saya menjelaskan bagaimana Allah telah mengasihi, menebus, menempatkan kita dan memberi dampak bagi orang lain. Saat altar-call saya bertanya, “Siapa yang mau dipulihkan dan dipergunakan Tuhan?” Ada 2 orang gadis yang menangis dengan keras. Saya bingung melihatnya dan bertanya-tanya dalam hati mengapa mereka menangis. Kemudian saya menunggu mereka di ruang makan. Saat bertemu, kedua siswi SMA itu kemudian menyampaikan bahwa mereka merasa hidupnya tidak berarti. Setiap hari mereka menjalani hidup secara rutin saja. Bangun tidur, sekolah, pulang sekolah, belajar, tidur lalu bangun tidur lagi dan terus berulang. Mereka berdua mengalami pelecehan dalam banyak hal. Sewaktu mendengar Allah mengasihi dan membuat arti dan tujuan hidup, barulah hati mereka dibukakan, sehingga mereka menangis.  Mereka merasa selama ini hidup mereka sia-sia. Pada Filipi 1:21-22 dikatakan bahwa  karena hidup adalah Kristus maka saat aku hidup di dunia, maka aku harus memberi buah. Setiap ciptaan Allah mempunyai tujuan yang khusus dalam hidup. Allah mengubah kita dari orang berdosa menjadi dibenarkan supaya Allah dipermuliakan dan hal  itu dimungkinkan dalam Kristus. Jadi apa yang kita lakukan bertujuan untuk memuliakan Allah. Rasul Paulus mengerti dan menempatkan diri sebagai alat Tuhan maka kemudian ia melayani secara efektif.

                Kalau kita mengenal Tuhan, bagaimana mungkin Allah Pencipta yang luar biasa, tidak memberikan tujuan kepada kita yang telah ditebus melalui AnakNya? Bagaimana mungkin kita yang telah ditebus melakukan hidup secara rutinitas belaka seperti orang dunia dan tidak mengerti yang Allah inginkan? Ada 2 penekanan dari hidup dalam bahasa Yunani yakni :

1.     Bios – hidup sehari-hari yang normal dari  Senin sampai Minggu berjalan secara alamiah. Orang  yang tidak mengenal Tuhan Yesus, menjalani begitu saja dari hari ke hari. Bios adalah hidup yang dimiliki oleh semua mahluk hidup, baik manusia, binatang, dan tumbuhan. Dari kata ini dikenal istilah “biologi”. Kata bios digunakan untuk menunjukkan bentuk kehidupan yang dimiliki setiap orang, yaitu kehidupan biologi yang dipertahankan dengan makanan, udara, dan air, tetapi pda akhirnya berakhir dengan kematian.

2.     Zoe. Contoh : Yohanes 1:4  Dalam Dia ada zoe (hidup) dan zoe (hidup) itu adalah terang manusia atau 1Yohanes  5:12  Barangsiapa memiliki Anak(Yesus), ia memiliki hidup(Zoe); barangsiapa tidak memiliki Anak(Yesus), ia tidak memiliki hidup(Zoe). Zoe sangat berbeda dengan bios. Zoe adalah hidup dengan segala kekayaan dan kualitas hidup sebagai manusia yang sesungguhnya. Zoe adalah hidup yang membawa arti, bukan hanya arti yang bisa dirasakan orang lain, tetapi membawa arti untuk kekekalan. kata zoe digunakan untuk menunjukkan kehidupan rohani, yaitu jenis kehidupan yang diberikan Allah dan bersifat kekal ketika seseorang dilahirkan kembali (lahir baru)..Allah memberikan momentum dalam setiap aspek hidup manusia dan merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin diulang. Pengacara mempunyai kesulitan non-teknis saat ingin menang dalam menangani perkara. Kalau ia tidak memberi uang kepada hakim, maka umumnya sang pengacara akan kalah karena pihak lawan akan melakukannya. Saat saya menangani suatu kasus di Tangerang, panitera sudah mengatakan bahwa hakim “titip salam”. Saya tahu itu merupakan sinyal yang artinya “kamu mau kasih berapa agar bisa menang?” Saya bergumul untuk memenuhi permintaan sang hakim dan akhirnya saya putuskan tidak memberi. Ini merupakan kesempatan untuk memuliakan Allah. Kesempatan itu tidak akan datang lagi pada hari-hari di masa mendatang. Untuk memuliakan Allah, hidupku harus Zoe yang memanfaatkan kesempatan-kesempatan demi memuliakan Tuhan yang belum tentu terulang kembali.

                Sewaktu Yohanes Pembaptis membaptis orang, ia berkata, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 3:2). Ada pemungut cukai yang bertanya tentang cara bertobat. Ia berkata bahwa sewaktu melakukan tugasmu jangan mengambil lebih dari apa yang diharuskan. Karena pemungut cukai yang harusnya mengambil 10 dinar biasanya mengambil lebih besar misalnya 50 dinar di mana 40 dinar diambil untuk dirinya sendiri. Muliakanlah Allah melalui pekerjaan yang dilakukan! Sewaktu kita hidup, muliakan Dia melalui pekerjaan. Tujuan hidup bagi Rasul Paulus, para rasul dan nabi adalah melakukan kebenaran Allah di tempat di mana mereka dan kita berada. Untuk memuliakan Tuhan harus terjadi dalam diri kita. Jangan melakukan pemisahan (dikotomi) antara melakukan sesuatu  di gereja tapi tidak dilakukan di luar gereja. Sebagai akuntan, mari berlaku dengan baik. Muliakan Allah. Kalau diminta melakukan pembukuan ganda , katakan tidak bisa! Jangan takut kalau dikeluarkan  nanti akan susah dapat pekerjaan. Pergumulan adalah ketegangan yang terjadi dalam diri orang percaya sewaktu berkata, “Tuhan saya ingin memuliakan Tuhan”. Waktu dipanggil sebagai pedagang , buruh  dan apapun, Rasul Paulus mengatakan Allah sudah menyelamatkan kita dan memberikan kekuatan untuk kita melakukannya.
                 
Penutup

                Marilah kita melakukan apa yang Allah telah percayakan kepada kita dalam hidup ini. Apakah hidup kita hanya untuk menyenangkan diri , memuaskan diri dan berorientasi untuk diri sendiri dan bukan untuk memuliakan Tuhan? Pengenalan akan Allah bukan hanya secara kongnitif tapi harus memiliki pengalaman rohani bersamaNya. Ia memberi kesempatan kepada kita untuk bergumul dan dalam pergumulan itu Dia yang menolong kita sehingga kita bisa memiliki pengenalan sejati akan Tuhan. Yang harus digumuli adalah bila kita sudah mengenal Tuhan dan mengalami kelimpahan tapi tidak memuliakanNya.                 Kalau Kristus sudah memberi hidup, apa yang harus kita lakukan? Gereja dimana kita berjemaat seharusnya menjadi tempat kita melayani.
               


No comments:

Post a Comment