Sunday, August 17, 2014

Bebas dari Belenggu


Pdt. Netty Lintang

Markus 5:1-20
1   Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa.
2  Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.
3  Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai,
4  karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya.
5  Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu.
6  Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya,
7  dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!"
8  Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!"
9  Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak."
10  Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu.
11  Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,
12  lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!"
13  Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.
14  Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.
15  Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.
16  Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.
17  Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.
18  Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.
19  Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"
20  Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Pendahuluan

                Ada orang yang tidak percaya bahwa di dunia ini ada setan, padahal baik setan maupun Allah keduanya ada. Ada juga yang percaya ada Allah tapi setan tidak ada.  Namun Alkitab memberitahukan bahwa bukan saja setan ada, tapi jumlahnya juga banyak!

Pekerjaan Setan adalah Membinasakan Manusia dan Mengganggu Pekerjaan Allah

                Pada Markus 5:1-20 dicatat ada seorang yang dirasuki roh-roh jahat (setan) yang jumlahnya banyak sekali (Legion) dan ini adalah fakta ada. Orang yang kerasukan roh jahat ini berubah (berbeda) dan kuat sekali (ayat 3  Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai). Orang yang kerasukan roh jahat tidak tinggal di rumah tapi tinggal di kuburan dan sangat ganas sekali sehingga orang sering merantai dan membelenggunya, namun rantainya diputuskan dan belenggunya dimusnahkan. Tidak ada seorang pun lagi yang mampu mengikatnya sekalipun dengan rantai (ayat 4).

                Kalau ada ancaman bom, maka pemerintah akan memanggil spesialis bom yang dengan teliti menjinakkannya supaya bom ini tidak meledak. Namun bagi orang yang dirasuki setan ini, tidak ada seorang pun yang cukup kuat menjinakkannya karena ia sangat kuat sekali. Siang dan malam , ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak memukul dirinya dengan batu dan tidak memakai pakaian. Walau tidak berpakaian, orang yang dirasuk setan tidak merasa malu. Orang ini punya keluarga tapi keluarganya tidak mampu mengatasinya lagi. Kalau ia tinggal di rumah pasti diikat karena merepotkan dan menakutkan banyak orang. Ia tidak mengenal diri sendiri. ia dikuasai dan dirasuki roh-roh jahat. Rantai besi tidak bisa mengikatnya, karena ada kekuatan yang lebih besar dari rantai yang menguasai dia. Mungkin  ada 2.000 roh jahat yang tinggal dalam diri dia (sebanyak kawanan babi pada ayat 13). Seseorang yang dirasuki 1 setan memiliki kekuatan yang luar biasa apalagi ini dirasuki 2.000 setan sehingga kekuatannya tidak bisa kita bayangkan.  Roh jahat - roh jahat itu menista orang tersebut. Orang ini mempunyai kekuatan yang sangat merusak bahkan membinasakan. Hal ini bisa dilihat waktu setan-setan itu  keluar dari orang itu dan merasuki babi-baki, lalu babi-babi itu kemudian terjun ke jurang! Juga pada aat 5, orang ini memukul dirinya dengan batu, artinya orang yang merusak dan membinasakan diri sendiri! Ia bukan memukul orang lain tapi memukul diri sendiri, karena ia tidak mengenal dan tidak bisa menguasai diri sendiri. Ke-2.000 setan itu terus menguasai dia. Semua pekerjaan setan-setan adalah untuk membinasakan manusia. Semua pekerjaan setan untuk menggerecok / mengganggu pekerjaan Tuhan.

                Markus 9:14-27, ada seorang anak dirasuki roh (setan) yang membuatnya bisu. Ia tidak lahir bisu tapi menjadi bisu karena ada setan merasukinya. Roh itu seringkali menyeretnya ke dalam air / api untuk membinasakannya. Tujuan setan adalah membinasakan manusia yang diciptakan Allah. Setan itu memusuhi Allah. Allah bekerja dan  setan menggerecokinya (mengganggunya). Demikian juga pada Kisah Para Rasul 16:16-18 Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan."  Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: "Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu.  Kisah 13:6-12 mencatat saat Rasul Paulus untuk pertama kalinya memberitakan Injil. Ia datang ke tempat yang disebut Pafos. Ada seorang tukang sihir yaitu Baryesus (Elimas). Ia menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi banyak orang. Waktu Rasul Paulus datang ke Pafos, ia bertemu dengan gubernur (Sergius Paulus). Rasul Paulus ingin memberitakan Injil kepada gubernur ini. Kalau gubernur ini percaya Yesus, maka pengaruhnya besar. Setan tahu hal ini sehingga Elimas, si tukang sihir, berusaha menghalang-halanginya.  Namun Elimas dibuat buta oleh Rasul Paulus dalam nama Yesus. Pekerjaan roh jahat membinasakan manusia dan memusuhi Allah. Pepatah orang Tionghoa “Ajaran yang benar (bagus) kalau diukur tingginya 1 meter, sedangkan ajaran sesat (iblis) itu tingginya 10 meter.” Artinya kalau kamu hebat (baik) maka yang jahat berusaha untuk lebih hebat lagi. Setan memang ingin bertentangan dengan Allah.

Pada Markus 5:2  orang yang menyambut Yesus itu kerasukan roh jahat sehingga tidak ada orang yang mau berurusan dengan dia. Papa-mamanya dan saudara-saudaranya tidak bisa lagi menanganinya. Ia tidak ada harapan sama sekali. Dia berada dalam kegelapan. Tapi puji Tuhan, Allah bukan saja menciptakan manusia, tetapi Allah juga mengasihi orang yang diciptaNya sehingga Alkitab mengatakan suatu kali Tuhan Yesus datang ke tempat itu (Markus 5:1). Tuhan Yesus tahu sekali ada orang yang dirasuki setan di Gerasa dan sangat mengasihaninya. Oleh sebab itu waktu Tuhan Yesus turun dari perahu, orang ini langsung datang kepadaNya. Ini hal yang sangat baik. Orang yang begitu ganas tapi menyembah Tuhan Yesus membuktikan bahwa Tuhan Yesus lebih hebat dari setan. Dia ada permintaan khusus di ayat 7 (Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!). Permintaan ini karena Yesus sudah mengatakan kepadanya untuk keluar dari orang ini. Yesus menyuruh roh jahat keluar dari orang itu. Setan ini meminta agar kalau disuruh keluar, agar ia tetap wilayah tersebut. Setan itu melihat ada sejumlah besar babi yang sedang mencari makan dan lalu meminta kepada Yesus, "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!" (ayat 12).  Yesus memenuhinya. Tuhan Yesus ingin menjelaskan kepada kita, sesungguhnya nilai dari seorang manusia jauh lebih tinggi dari harga 2.000 ekor babi. Setan itu adalah roh dan sangat menginginkan tubuh. Ia suka tinggal di tubuh manusia. Kalau tidak mendapat tubuh manusia, ia minta tubuh babi. Namun setelah roh-roh jahat setelah merasuki babi-babi, lalu babi-babi itu terjun ke jurang bunuh diri. Tuhan Yesus lebih memilih kerugian 2.000 babi daripada seorang manusia. Karena jauh lebih mahal nilainya, jiwa 1 manusia dibanding 2.000 babi. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya (Markus 8:36).

Bebas dari Belenggu Kuasa Setan

                Kalau kita memperoleh dunia, tetapi kehilangan jiwa betapa besar kerugiannya! Kita melihat orang yang dirasuki setan dan setelah setan diusir maka ia menjadi sembuh (normal kembali), merasa lapar dan makan. Awalnya ia tidak menggunakan pakaian karena tidak mengerti. Setelah setan keluar dan mengerti kembali, lalu ia memakai pakaian dan duduk tenang. Ada lirik sebuah nyanyian : “Tatkala Yesus datang, kuasa setan hancurlah!”. 1 Yoh 3:8 mengatakan, “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu”.  Perbuatan-perbuatan iblis itu kita sudah lihat : orang itu mengambil batu ingin membinasakan diri. Tujuan setan ingin membinasakan manusia, menghambat manusia mendengar dan percaya Yesus. Pekerjaannya adalah terus mengikuti dan menguasai orang.  Kita sering mendengar orang-orang di daerah terbelakang banyak dirasuki setan. Bulan depan saya akan ke pedalaman dekat Palu (ibukota Sulawesi Tengah). Ada seorang  hamba Tuhan yang sudah 2 tahun melayani di sana, minta didoakan karena di sana banyak sekali roh jahat. Banyak anak SD dirasuki setan sehingga berani menantang guru dan hamba Tuhan. Dengan kuasa dari Roh Allah , hamba Tuhan mengusir setan. Kita juga menyiapkan diri jangan sampai dirasuki setan. Di tempat yang beradab, banyak orang yang berpendidikan tinggi tidak percaya setan. Walau tidak percaya setan, dia tetap punya kuasa. Di perabadan sekarang, setan menguasai manusia dengan berbagai cara :
-        obat-obatan terlarang. Orang yang sa-kaw (sakit karena ketagihan obat terlarang) bergulingan di lantai. Dari mata dan mulutnya, keluar busa dan air. Waktu sudah sa-kaw, walaupun perempuan, pakaian terbuka tidak merasa malu. Kalau beritakan injil kepadanya, pikirannya tidak bisa menerimanya.
-        penyimpangan seksual (homo-lesbian). Untuk beritakan injil kepada manusia ini tidak mudah. Kalau mereka percaya Yesus pun, iman mereka bisa jadi problem besar. Lesbian/homo sangat sulit sekali percaya dan besandar pada Yesus.
-        hipnotis. Di TV kita sering menonton hipnotis. Biasanya rahasia yang disimpan di dalam hati dan tidak mau dikeluarkan, sewaktu dihipnotis dikeluarkan semua. Sering juga orang menggunakanan hipnotis ini untuk menguasai manusia lainnya lalu melakukan apa yang dikehendakinya.
-        pikiran kegagalan. Sudah gagal dan tidak bisa bangun lagi. Ada hamba TUhan yang demikian pula. Ada yang bisa bangun kembali ada juga yang tidak Karena kuasa roh tersebut menuduh dia sudah gagal. Bahkan juga mengganggu manusia melalui perasaan bersalah.
-        iri hati. Tidak bisa lagi mengalah karena rasa iri hati.
-        tidak mau memaafkan orang seperti yang dikatakan Alkitab (hatinya tidak mampu mengalahkan kebencian terhadap orang). Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk mengalahkan dosa / maut / iblis dan seharusnya kita dngan rendah hati datang kepada Yesus, dan berkata, “tidak mampu menguasai diri kita dari belenggu dosa”. Ada dosa tertentu yang menguasai kita. Pada salah satu KKR yang dipimpin oleh Pdt. Stephen Tong, ada orang yang dirasuki setan. Sangat ganas sekali! Sebelum khotbah dimulai, ia berteriak-teriak sehingga bulu kudus berdiri sehingga dibawa ke lantai dasar (basement).  Lalu para hamba Tuhan berdoa dan membantu dia mengusir setan. Ternyata orang ini sering dimasuki setan. Kadang setan keluar dan dipikir sudah baik ternyata muncul lagi. Rupanya dia sering dimasuki setan. Setelah diselidiki teranyata dalam hati ada kebencian dan kegetiran. Dia tidak bisa melepaskan kebencian yang mengikatnya. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk melepaskan kita dari belenggu dosa yang mengikat. Roma 10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Apa yang diserukan? Beritahukan Yesus , saya takut dan ada dosa ini-itu (misal : hatiku membenci orang dan minta Tuhan lepaskan). Di dalam 1 Yoh 1:9 mengatakan, “ Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jikalau ada masalah apapun, kebiasaan apapun yang menguasai perlu dilepaskan. Seperti film porno. Ada orang Kristen yang kelihatan cinta Tuhan dan giat di gereja, tetapi di kamarnya tersimpan film porno. Bahkan pelayan-pelayan Tuhan naik di mimbar jadi penerjemah dan anggota koor melakukan itu. Baik tua maupun muda. Iblis begitu licik dan memakai segala cara. Tuhan sudah memerdekakan kita, janganlah membiarkan diri kita dibelenggu dosa lagi. Yesus datang ke dalam dunia menyatakan diri untuk menyelamatkan jiwa kita.

                Di Brooklyn New York ada gereja orang hitam yang terkenal. Pendetanya orang kulit putih. Jemaat-nya kebanyakan orang hitam. Dulu sebelum percaya Yesus, mereka disebut sampah masyarakat. Orang jenis apapun ada di dalamnya. Mantan pemakai dan pengedar narkoba, homo /lesbi, perampok, pembunuh, pencuri dll. Tetapi setelah ditemukan Tuhan Yesus, hidup mereka berubah. Mereka sungguh-sungguh sudah dibebaskan dan disucikan oleh darah Yesus menjadi orang kudus. Di antara mereka, ada yang kemudian mengeluarkan album rohani. Mereka tidak bisa membaca not balok, tapi sangat pintar dan sering diundang untuk menyampaikan puji-pujian. Ada di antaranya mantan homo dengan peranan sebagai perempuan. Sangat cantik tapi laki-laki. Ia berdarah Mexico. Waktu kecil ia miskin sekali dan mengalami pelecahan seksual oleh orang dewasa. Dia awalnya dipaksa, terpaksa dan akhirnya biasa menjadi homo. Lalu ia terkena AIDS yang tidak ada obatnya. Saat itu dia mendengar tentang Tuhan Yesus dan bertobat. Setelah percaya Tuhan Yesus, tidak lagi menjadi homo dan memakai pakaian wanita sehingga kemudian ia memakain baju pria dan orangnya tampan. Tapi dia sudah biasa berjalan dan bertingkah seperti wanita. Orang yang memberitakan Tuhan Yesus kepada dia kemudian mengajar dia menjadi pria sejati. Waktu ia bejalan seperti wanita, ia diingatkan kembali. Roh Tuhan menolong dia. Lalu ia menikah. Kedua suami-istri ini sangat giat melayani Tuhan dan akhirnya ia meninggal. Sebelum meninggal, hatinya damai karena ia tahu akan pergi ke mana. Ia sudah pergi memberitakan Injil ke mana-mana dan pengalaman hidupnya bisa dilihat pada DVD.

Kesimpulan


Sesungguhnya anak Allah datang uantuk menyelamatkan manusia dari dosa. Hari ini,kita memperingati HUT kemerdekaan RI ke 69 dari penjajahan. Namun negeri ini masih dikuasai dan diikat oleh kuasa iblis. Kita bukan saja memperingati kemerdekaan Indonesia, tapi kita juga harus memberitakan kuasa Tuhan Yesus kepada saudara-saudara kita. Setelah orang kerasukan setan di atas sembuh, hatinya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus dan bermaksud menyertai  Tuhan Yesus seperti murid-murid yang lain. Tetapi Tuhan Yesus punya maksud lain dengan orang itu. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"   Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.(Mark 3:19-20). Kita adalah orang yang telah diselamatkan Tuhan Yesus juga, biarlah kita belajar seperti orang ini pulang ke rumah dan memberitakan Injil ke pada orang-orang di rumah. 

Sunday, August 10, 2014

Ibadah Nyata dalam Tingkah Laku


Pdt. Samuel Budi

Yak 1:26-27
26  Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
27  Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Pendahuluan

                Manusia di dalam dunia ini cenderung untuk melihat hal-hal yang bernuansa mewah dan menggelegar sebagai sesuatu yang bagus. Cara menilai seperti itu sangat biasa dalam kehidupan kita. Sesuatu yang besar dan mewah itulah yang dinamakan ‘hebat’. Demikian juga gereja. Gereja yang hebat dan luar biasa adalah gereja yang besar dengan jemaat yang sangat banyak sekali. Di AS ada gereja –gereja yang jumlah jemaatnya begitu besar. Contoh : Center Church (gereja injili) di New York (Amerika Timur) yang digembalakan Rev. Timothy Keller yang awalnya dimulai dengan 5 jemaat dan sekarang sudah mencapai 5.000 orang. Gembalanya dikenal sebagai Clive Staples Lewis (1898 – 1963, seorang penulis buku terkenal seperti "The Chronicles of Narnia") abad 21. Demikian juga dengan Saddleback Church yang begitu besar di Amerika sebelah Barat dan digembalakan oleh Pastor Rick Warren (penulis buku Purpose Driven Life yang menuntun kepada tujuan hidup manusia ini dan telah terjual sebanyak 30 juta copi). Di Asia (Korea Selatan) pernah ada gereja besar yang dipimpin oleh Rev. Paul Yonggi Cho (sekarang David Yonggi Cho, pendiri Yoido Full Gospel Church). Dari semua gereja yang disebutkan sebagai gereja yang besar itu (terutama gereja-gereja di Amerika Serikat) dilakukan penelitian terhadap jemaatnya. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa semua kegiatan yang sangat banyak dan dikatakan sebagai rahasia mereka menjadi besar ternyata keliru. Keberhasilan gereja itu menjadi besar bukan karena kegiatan atau programnya begitu banyak karena jemaat yang disurvei mengatakan semua program itu tidak menyentuh hati mereka.  Sehingga mereka mulai menyadari bahwa percuma program yang memakan begitu besar sekali tetapi tidak menyentuh hati dari jemaatnya. Tetapi sampai hari ini gereja-gereja seringkali memikirkan ingin menjadi gereja yang besar dengan program yang banyak namun tidak memikirkan apakah program itu menyentuh hati jemaatnya.  Ibarat pohon yang dinilai adalah buah atau bunga yang dihasilkan pohon itu, sehingga ada orang yang ahli dalam menata dan menjual bunga (florist) atau yang ahli dalam buah (fruit expert). Namun anehnya tidak ada orang yang ahli tentang akar pohon padahal buah dan bunga yang baik berasal dari akar yang sehat. Gereja yang bertumbuh dengan baik memiliki ‘akar’ yang sehat dan kuat.  Ibadah itu adalah akar dari suatu gereja. Jangan mulai memikirkan program yang begitu banyak tetapi melupakan ibadah yang penting.

Pentingnya Beribadah

                Kalau kita dapat beribadah kepada Tuhan , itu merupakan suatu yang indah dan patut disyukuri. Ibadah itu penting karena :

1.     Ibadah adalah pemberian Tuhan kepada manusia. Sebelumnya manusia tidak tahu bagaimana beribadah, tetapi Allah menciptakan system (cara) bagaimana beribadah sebagaimana yang Tuhan kehendaki. Maka Allah dalam 10 Perintah Allah mengajarkan umatNya untuk tidak melupakan hari Sabat. Sebab hari Sabat diciptakan oleh Tuhan untuk kepenitngan  umatNya beribadah kepada Tuhan. Memang Allah menciptakan selama 6 hari ,tetapi pada hari ke-7 Allah beristirahat. Waktu berisitirahat itu juga ciptaan Tuhan. Jadi sebenarnya Allah menciptakan sampai hari ke-7. Karena sampai hari ke-7 Allah menciptakan hari ibadah itu. Kesibukan selama 6 hari diijinkan Allah untuk bekerja. Tapi pada hari ke-7, Allah menciptakan ibadah, persekutuan yang penting antara manusia dengan Allah. Oleh karena itu Allah sangat menantikan hari sabat itu untuk jemaatNya berjumpa denganNya. Saat hari sabat , Tuhan menunggu kita. Bukan manusia yang menunggu Tuhan, tetapi Tuhanlah yang menunggu kita karena itulah yang diciptakan Tuhan untuk melakukan pertemuan itu. 

2.     Ibadah itu sendiri adalah hal yang sangat indah karena Tuhan berkenan untuk dijumpai manusia. Tidak ada satu manusia pun bisa menjumpai Allah. Hanya karena Allah yang membuka dan memperkenalkan diri , maka manusia bisa  mengenal Allah. Maka ketika Allah menunggu umatNya untuk menemuniNya, itu merupakan kesempatan yang luar biasa karena kita bisa bertemu dengan Tuhan . Jadi sungguh-sungguh hal yang disesali, bila kita bisa bertemu tapi tidak bertemu. Sehingga kita seharusnya rindu setiap hari minggu untuk bertemu Tuhan. Di Eropa, gereja-gereja mulai mati dan tidak ada gairah. Namun saya masih menjumpai di kota kecil Sparkenbuch (?), gereja injili yang jemaatnya masih sangat banyak. Mereka masih mempertahankan kebiasaan yang sangat baik saat beribadah. Pada hari minggu tidak ada orang yang berjualan sama sekali. Mereka memasak masakan untuk hari minggu pada hari Sabtu dan mereka memakannya pada hari minggu (dikenal sebagai Sunday Meal). Sedangkan di Indonesia ada jemaat yang terlambat ke gereja gara-gara menyiapkan makanan. Jemaat mereka bahkan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan pada hari Minggu (Sunday dress) sehari sebelumnya. Bukan pakaian khusus tetapi pakaian biasa. Usai kebaktian , mereka berdua atau bertiga datang bertamu. Mereka sambil minum kopi dan makan  sedikit biscuit mereka mendiskusikan khotbah yang baru disampaikan di ibadah tadi. Mereka mendiskusikan bagaimana khotbah itu diterapkan dalam kehidupan. Lalu mereka pulang makan siang di rumah masing-masing. Setelah itu mereka memutar musik rohani dan membaca majalah rohani Kristen. Sorenya mereka ke gereja lagi. Dan khotbah sore adalah khotbah tentang penerapan dari khotbah pagi hari (bagaimana iman Kristen diterapkan dalam kehidupan sehari-hari). Saya bertanya, “Mengapa beribadah 2 kali pada hari minggu?” Jawabnya,”Hari Minggu merupakan hari ibadah maka harus dipakai untuk itu. Saya datang mendengar untuk menerapkannya dalam kehidupan saya”. Saya pikir ini kehidupan berjemaat yang luar biasa. Saya bertanya,” Bagaimana kalian mengambil waktu bersama keluarga?” Dijawab, “Itu dilakukan pada hari Sabtu. Pada hari Minggu kami khusus ingin bertemu dengan Tuhan. Jadi kita tahu betapa ibadah itu merupakan ucapan syukur dan penuh kerinduan untuk bertemu Tuhan. Dari ibadah itu pula , mereka sungguh menerima janji-janji Tuhan yang meneguhkan mereka. Sehingga mereka sungguh dikuatkan untuk menghadapi satu pekan ke depan.

Arti Ibadah

                Surat yang ditulis Yakobus ingin mengajak kita kembali merenungkan arti ibadah. Ibadah di sini dimaksudkan sebagai :

1.      Mendengar. Mendengar adalah sesuatu yang penting sekali dalam proses ibadah kita. Oleh karena itu diawali dari ayat 19, Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.  Jadi dalam ibadah ada unsur yang paling penting dan tidak boleh dilupakan yaitu menjadi pendengar yang baik. Mana yang lebih dulu mendengar atau berbicara? Banyak orang berbicara dulu baru mendengar. Tetapi Yakobus ingin mengajak untuk mendengar dulu baru berbicara. Kita punya 2 telinga dan 1 mulut, jadi seharusnya banyak mendengar daripada berbicara. Dalam tradisi orang Yahudi, orang terpelajar dan bijaksana dapat dibagi menjadi 4 macam yaitu :
-        orang yang cepat mendengar dan cepat lupa. Orang ini sensitif dalam mendengar apapun tapi cepat dilupakan.
-        Orang yang lambat mendengar dan lambat lupa. Jadi orang ini sulit untuk mendengar (diberitahu juga sulit), tetapi lambat melupakan apa yang telah didengarnya. Ini lumayan. 
-        orang yang cepat mendengar dan lambat lupa. Jadi cepat sekali mendengar (semua didengar) tapi lambat lupa. Ini adalah orang yang bijaksana.
-        orang yang lambat mendengar tapi cepat lupa. Jadi sulit sekali mendengar begitu masuk sedikit, lupanya cepat. Kata orang Yahudi , itu orang jahat. Jadi orang jahat, sulit untuk mendengar ,tapi begitu ingat sedikit langsung lupa.
Oleh karena itu, Yakobus ingin mengajak agar orang cepat mendengar firman Tuhan dengan baik (dengar terus firman Tuhan) baru berbicara.  Apa yang mempersulit kita untuk mendengar dengan baik? Gereja kita sudah 33 tahun. Mungkin ada jemaat yang sudah lama (dari awal ada) dan sudah mendengar firman Tuhan selama 33 tahun. Apakah masih mengingat firman Tuhan? Saya berharap terus ingat dan jangan cepat lupa.
          Pada ayat 21, Yakobus mengatakan, Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Dan kejahatan yang begitu banyak. Kata “buanglah” artinya terlucuti. Semuanya dilepas. Kata “kotor” berasal dari bahasa yunani, rupos. Rupos dalam epimotologi (asal kata) dunia kedokteran artinya kotoran kuping. Jadi Yakobus benar, supaya kuping bisa mendengar dengan baik, maka kita harus membuang semua rupos.  Jadi kejahatan-kejahatan itu seperti kotoran dalam telinga yang menghambat kita mendengar firman Tuhan dengan baik. Jadi kalau kita tidak menyingkirkan kebiasan jelek itu (kotoran) akan menghambat kita menjadi pendengar yang baik. Jadi bukan tidak mendengar , tetapi kebiasaan yang jelek yang menghambat kita mendengar dengan baik. Sehingga banyak orang Kristen terus begitu, seolah-olah firman Tuhan tidak berarti dalam dirinya. Bukan dia tidak mendengar , tapi ada yang menghalangi dia untuk mendengar. Itu seperti kotoran dalam telinga yaitu kejahatan dan kebiasaan hidup yang tidak berubah. Sehingga reaksi kita menjadi lain saat mendengar firman Allah. Itu yang menjadi kerinduan Yakobus supaya menjadi pendengar yang baik

2.     Menjadi pelaku dari firman Tuhan. Tidak cukup dalam ibadah untuk menjadi pendengar baik. Jangan mengaminkan begitu saja apa yang kita dengar. Tidak cukup kita hanya berkesan terhadap apa yang kita dengar. Tetapi biarlah firman Tuhan yang kita tangkap itu sungguh-sungguh dilakukan. Kita bisa melupakan pembicara setelah dia berkhotbah, tetapi firman Tuhan jangan dilupakan. Pelaku firman Tuhan adalah orang yang mengingat firman Tuhan.  Ini yang dirindukan Yakobus agar kita menjadi pelaku firman Tuhan seperti yang ditulisnya pada ayat 22-23, Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Pada zaman dulu tidak ada cermin (kaca). Jadi yang dimaksud kaca adalah logam yang dihaluskan dan selalu harus digosok keras  supaya mengkilat sehingga sewaktu bercermin tidak begitu jelas (tidak kelihatan detilnya dan hanya lihat bayang-bayangan). Saat itu, mereka tidak punya waktu untuk mejeng. Setelah melihat sebentar langsung pergi. Hal berbeda dengan zaman sekarang di mana ada orang yang berlama-lama melihat di cermin. Pada ayat 26, Yakobus mengatakan,”Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”. Jadi bila lidah tidak dikekang, ibadah menjadi sesuatu yang sia-sia (tidak ada artinya). Jadi ibadah yang murni dan tidak bercacat harus melakukan firman Tuhan secara adil terhadap manusia (yang paling penting melakukan terhadap sesama manusia). Sebab ibadah kita punya hubungan dengan dunia ini. Jadi tidak cukup hanya ibadah dalam gedung gereja, tapi juga keluar gedung gereja untuk melakukannya. Kalau gereja hanya diisi kebenaran firman Tuhan tanpa melakukannya, ia seperti menara gading. Bila jemaat gereja tidak melakukan sesuatu di luar , maka hal ini menjadi masalah besar. Masalah besar kemudian melahirkan pribadi seperti Carl Marx (1818-1883), seorang tokoh komunis dari Jerman yang sangat keras sekali dalam mengkritik gereja. Ia beranggapan orang Kristen tidak peduli kepada orang lain. Sehingga ia berkata, “Untuk apa ke gereja dan menjadi orang Kristen, karena tidak memikirkan orang yang banyak menderita di luar sana”. Dan tokoh yang lebih ekstrim Friedrich Nietzsche (1844-1900). Ia sampai mengatakan bahwa Tuhan harus dibunuh. Ia benci sekali orang percaya , bergantung dan selalu mencari Tuhan tapi tidak menjadi orang “kuat”. Orang yang mencari dan berserah tidak berani menghadap kenyataan yang sulit dalam hidup ini. Supaya orang itu berani hadapi kenyataan maka kebergantungan kepada Tuhan harus disingkirkan. Kritikannya sangat dihargai, walau logika pikirannya salah tapi mengingatkan kita hari ini bahwa kalau kekristenan hanya menjadi pendengar tanpa melakukan maka kritikan mereka benar. Oleh karena itu gerjea tidak boleh menjadi pendengar yang baik , tetapi menjadi pelaku di luar sana. Di dalam ibadah itu, kita juga harus menjadi pelaku firman, karena semua yang dilakukan ditujukan kepada Tuhan. Tidak boleh disimpan. Tidak boleh hanya disembunyikan. Kebenaran Injil yang didengar di gereja harus disebarluaskan ke banyak orang, supaya banyak orang mendengar tentang kasih Kristus. Itulah yang dinamakan bersaksi. Mat 25:14-30 berbicara tentang talenta. Ada hamba-hamba yang mendapat kepercayaan 5, 2 dan 1 talenta dari tuannya yang akan bepergian ke luar negeri. Hamba yang mendapatkan 1 talenta , apakah korupsi? Ketika tuannya  pulang dia berikan kembali 1 talenta (padahal  yang diberi 5 talenta mengembalikan 10 talenta dan yang diberi 2 talenta mengembalikan 4 talenta). Penerima 1 talenta menyembunyikan talentanya. TIdak dikembangkan lebih lanjut dan tidak dipakai untuk melakukan usaha. Itu seperti orang yang mendengar dan mempercayai firman Tuhan tapi tidak menyebarkannya. Itu kegagalan gereja. Kita menjadi penikmat sejati dan tidak pernah membagikan kepada orang lain. Ini tugas kita untuk membagian firman Tuhan yang sudah didengar. Melakukan berarti kita yang sudah dibentuk melalui firman Tuhan harus mengabarkan kepada orang lain. Keteladanan hidup kiriten seharusnya begitu nyata.

Kesimpulan


                Di Indonesia terakhir-akhir ini terdapat banyak istilah menarik. Saat ada penumpang yang naik bus umum di Jakarta, kondektur mengatakan, “Yang Gayus turun.” Maksudnya sang kondektur adalah penumpang yang mau turun di kantor pajak dipersilahkan siap-siap untuk turun. Padahal Gayus adalah salah satu nama orang di Alkitab yang rohani tetapi sekarang  orang mengenal nama Gayus sebagai koruptor. Nama yang awalnya bagus sekarang menjadi jelek. Ada juga nama Markus yang merupakan salah seorang penulis Injil tetapi di Indonesia menjadi singkatan dari makelar kasus. Demikian juga nama Petrus yang merupakan  murid Tuhan Yesus. Di Indonesia merupakan singkatan dari penempak misterius. Ini ada unsur kesengajaannya. Nama kekristenan dipakai untuk hal yang jelek sehingga ingin disimpulkan bahwa orang-orang Kristen itu sama jeleknya. Itu kegagalan orang-orang Kristen melaksanakan kebenaran. Mari kita menjadi pendengar dan pelaku firman Tuhan yang baik sehingga menjadi ibadah yang sejati. Mari kita lanjutkan perjalanan gereja ini, karena perjalanan gereja merupakan perjalanan dari para pewarta dan pelaku Firman. 

Monday, August 4, 2014

Beribadah...? Kalau Sempat...!!


Pdt. Hery Kwok

Maz 42:1-5
42:1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah.
42:2 Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.
42:3 Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
42:4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
42:5 Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

Pendahuluan

                Rumah saya terletak di daerah perkampungan dan dikelilingi oleh sekitar 5 mesjid. Karena dekat mesjid, maka setiap pk 4 subuh mereka akan memanggil umat mereka. Suatu kali, ada seorang imam (pendakwah) berkata,”Aduh anak muda sulit sekali sholat. Ayo anak-anak muda cepat datang ke mesjid karena kita akan mulai sholat subuh.” Lalu dikeluarkan komentar menarik, “Mari kita sholat sebelum kita disholatin.” Hal ini menarik untuk direnungkan. Pendakwah itu ingin mengajak umatnya agar sembahyang (berdoa) selama masih diberi waktu untuk itu dan jangan menunda sehingga akhirnya karena tidak sempat dan sudah meninggal , orang-orang lainlah yang justru berdoa untuk kita. Berarti sudah terlambat bagi kita untuk berdoa. Analog dengan hal tersebut, bagi orang Kristen berlaku, “Ayo pergi ke gereja (beribadah) sebelum engkau diibadahkan!”  Selama bulan Agustus kita akan merenungkan tentang ibadah.

Mengapa Ibadah Tidak Menjadi Prioritas dalam Hidup Orang Kristen?

Hal ini disebabkan oleh konsep ibadah itu sendiri yang dilihat dari segi :
1.    Praktis. Saya pernah melayani di berbagai gereja dan ada yang berkata :
-     suasana gereja kering sekali seperti sumur tidak berair sehingga saya merasa tidak nyaman bergereja di sana.  Hal ini berbeda dengan gereja tetangga yang gegap gempita
-     Lagu-lagunya kuno (tidak tahu dari abad ke berapa) dan tata ibadahnya monoton (tidak meledak-ledak) 
-     Khotbahnya bisa menghantar tidur yang nyenyak (orang datang ke gereja, duduk, diam sejenak lalu “istirahat” dengan tenang.
-     Suasananya tidak hangat (akrab) dan hidup. Saya datang dan pulang tidak ada yang tahu (peduli). 
2.  Tujuan. Seringkali tujuannya berpusat dari diri manusia yaitu memuaskan dirinya baik telinga maupun perasaannya (kalau telinga dan perasaan dipuaskan baru mau ke gereja) atau memenuhi kebutuhannya (saya beribadah untuk mendapat kesehatan, berkat dalam usaha dan pekerjaan dll. Kalau tidak dapat, maka saya tidak ke gereja.  Hal ini membuat jemaat sulit untuk setia). 
Konsep beribadah sebagian jemaat sudah bergeser sehingga beribadah (ke gereja) tidak lagi menjadi prioritas.

Arti Ibadah dalam Konsep Alkitab

                Alkitab mengajarkan konsep arti beribadah yang baik. Baik dalam bahasa aslinya (Ibrani dan Yunani) konsepa (intinya) sama.  Ibadah adalah suatu sikap dari seorang yang diselamatkan (percaya) yang menyembah pada Allah yang hidup.  Sikap penyembahan kepada Allah adalah bentuk penghormatan, kekaguman karena Allah layak menerimanya dari ciptaanNya. Sejarahnya umat Israel menyembah kepada Allah  dengan konsep Allahlah yang harus disenangkan.  Unsurnya : focus kepada Allah (semata-mata hanya untuk kepentingan Allah). Karena Allah yang harus ditinggikan, maka mereka harus mempersiapkan dengan kesungguhan hati untuk bertemu dengan Allah. Kekaguman dan hormat mereka lahir dari hubungan yang dekat dengan Allah yang telah menyelamatkan mereka. Dari Kitab Keluaran, Imamat, Bilangan , Ulangan kita melihat sikap Musa waktu datang kepada Allah. Dari hubungan relasi Musa kepada Allah , Musa mengakui Allah layak menerima penyembahan.  Hal ini berbeda dengan konsep beribadah yang telah bergeser seperti yang disebutkan sebelumnya.

Konsep Beribadah dalam Mazmur 42

                Mazmur 42 ditulis oleh bani Korah (dari suku Lewi) saat bangsa Israel dibuang ke Babel oleh Raja Nebukadnezar (2 Raja-Raja 24-25) dan mereka menemukan kesulitan mereka di negeri asing tersebut.  Di Babel, orang Israel tidak bisa beribadah ke bait Allah seperti saat mereka masih di Israel di mana mereka bebas datang ke sinagoge. Pada kitab Daniel disaksikan bahwa orang Israel yang ketahuan beribadah akan dihukum mati.  Dahulu waktu Allah memberi kesempatan untuk beribadah, mereka menyimpang dan berdosa. Waktu dihukum Allah, baru mereka mengerti betapa berharganya kesempatan beribadah.   Kadang-kadang hidup itu ironi (bertabrakan). Waktu dikasih kelimpahan, kita lupa menghayati kelimpahan itu.  Dalam kelimpahan orang hidup sembrono dan tidak taat aturan.  Tetapi waktu hidup susah, tidak ada kesempatan, baru kita mengerti betapa mahalnya arti kesempatan.  2 hari lalu saya dan shi mu berkunjung ke jemaat Ketapang yang menderita sakit kanker payudara. Ia terbarang dengan kondisi yang menyedihkan.  Dulu ia aktif melayani Tuhan dan hidupnya didedikasikan buat pelayanan. Saat terbaring sakit, ia tidak bisa lagi pergi beribadah dan pelayanan. Saat berkunjung di rumah sakit, saya sering mendengar pasien berkata, “Kalau Tuhan menyembuhkan, maka saya akan datang ke rumah Tuhan”.  Itulah ironi yang digambarkan di Mazmur 42 karena mereka sekarang tidak bisa beribadah dengan bebas di negeri asing. Bahkan pada ayat 4,  orang Babel menghina mereka dengan sindiran, “Di mana Allahmu (yang membuat mereka sekarang terhukum di negeri Babel)? Kepercayaan bangsa Israel dihina, iman mereka ditantang dan mereka berada dalam kondisi yang sulit sekali. Namun di dalam kondisi yang sulit inilah, pemazmur menulis syair yang bagus tentang ibadah. Dalam kondisi tidak bebas beribadah, mereka keluarkan mutiara rohani yang tercantum dalam ayat-ayat di Mazmur.

                Mazmur 42, ayat 2-3 menggambarkan kerinduan pemamur untuk berjumpa dengan Allah. Kerinduan tersebut digambarkan seperti seorang yang sedang membutuhkan hal-hal yang jasmani seperti air. Kata merindukan merupakan kata yang abstrak tapi pemazmur bisa menjelaskan seperti seekor rusa yang merindukan air, demikian kerinduanku untuk bertemu dengan Allah.  Manusia bisa tidak makan selama 3-4 hari dan masih sehat , tapi kalau tidak minum manusia bisa pingsan. Oleh karena air kebutuhan hidup yang paling hakiki sehingga tubuh kita akan mengalami kesulitan untuk menjalani hidup tanpa air. Maka pemazmur  menggambarkan dengan tepat kerinduan ini seperti rusa yang merindukan air. Rusa adalah bintang yang sangat membutuhkan air. Itu sebabnya ia mempertaruhkan hidupnya pergi ke sungai walau di sungai ada pemangsa seperti buaya, karena rusa tahu air adalah kebutuhan hidup. Kerinduan pada hal-hal yang rohani yaitu bertemu dengan Allah. Kerinduan rohani ini muncul dalam diri pemzamur. Waktu Rasul Paulus menulis surat ke jemaat di Roma, ia mengatakan, “Biarlah rohmu menyala-nyala!” (Roma 12:11b). Rasul Paulus mengungkapkan supaya ada kerinduan rohani yang muncul untuk berjumpa dengan Allah. Tetapi kerinduan rohani itu menjadi pudar karena berbagai faktor yang dihadapi dalam hidup ini. Pada waktu bertumbuh dan tidak mendapat pekerjaan begitu rindu Allah, begitu diberi pekerjaan sering lupa untuk beribadah.  Seringkali kerinduan rohan pudar saat digerogoti sehingga kehilangan esensi tentang ibadah. Ada orang yang usahanya diberkati Tuhan luar biasa, dan mengakibatkan kerinduannya beribadah kendur dan terkikis. Pada waktu mungkin ber-rumah tangga, rindu kehadiran anak. Tetapi begitu diberikan, maka kesulitan mengatur waktu dan tidak beribadah lagi dengan baik. Pemazmur pada ayat 2-3 mengingatkan kita apakah kerinduan untuk beribadah masih ada pada diri kita? Mari kita melihat diri kita, sejauh mana saya dengan Tuhan punya letupan rohani yang kuat?  Atau mungkin saya mulai kehilangan gairah untuk mencari perkara-perkara rohani.  Rasul Yohanes berkata, “Waktu engkau mencintai dunia engkau tidak mencintai Allah”. Saat engkau terhisap dunia, maka hilalglah kehausan akan Allah. Pemzamur seperti rusa “Aku ingin datang padamu Tuhan karena aku rindu. Pemahanan pemazmur akan kerinduan pada Allah seperti air. Kalau Allah merupakan sumber hidup maka tidak akan lalai untuk datang kepadaNya.  Waktu tahu harta benda dan usaha bukan sumber hidup maka kita akan giat mencari Allah. Pemahaman pemzamur menggambarkan sumber damai dan sejahtera dari Allah maka dikatakan , “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (ayat 3b). Ayat dalam kitab Bilangan berkata, “Allah memalingkan wajahNya kepadamu”.  Di dalam ayat ke 3b  perkataan “Bilakah aku melihat Allah?” menggambarkan apakah Allah yang sumber berkat itu memberikan berkat berlimpah kepada manusia. Berkat baik materi dan non materi. Misal kesehatan, kesempatan itu kasih karunia Allah. Kalau Allah berikan itu tidak ada yang bisa mengambil. Dalam ayat 3-4 Pemazmur menggambarkan kerinduan akan Allah dalam dirinya.

                Pada Maz 42 ayat ke 5 digambarkan kemungkinan besar hari raya Pondok Daun. Bisaanya di Israel diadakan sekitar bulan September, dan dirayakan cukup ramai . Ada dua frasa yang menarik yaitu :
-        Pemazmur adalah orang yang sangat senang / rindu jika bisa datang ke rumah Allah. Kerinduan kepada Allah digambarkan dalam bagian kalimat “berjalan maju dalam kepadatan manusia”. Di Jakarta, kita mengerti arti macet (padat). Kadang melihat kepadatan manusia, kita merasa tidak perlu ngoyo “ biarlah toh besok masih ada kesempatan”. Tetapi pemzamur berkata “Aku akan berjalan maju di antara kepadatan manusia”. Waktu saya ke Israel , kami masuk ke tempat di mana Tuhan Yesus lahir. Tempat itu menjadi primadona bagi orang Kristen dan banyak orang melihat sehingga susah masuk ke sana dan membuat kita minta dialihkan ke tempat lain. Pemamur mengatakan, “Aku mendahulu mereka melangkah ke rumah Allah” artinya benar-benar mendahului mereka dengan cepat. Apakah kita datang beribadah punya langkah seperti berusaha cepat datang dan mendahului supaya aku berjumpa Allah?  
-        Pemazmur rindu memuliakan Allah dalam ibadah (kosep ibadah : focus untuk Allah). Di dalam ayatnya ke 5 bagian akhir dikatakan, “(Aku) melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan”. Orang Israel datang dari Utara jauh sekali ke Yerusalem tetapi mereka datang dengan kerinduan tinggi dan penuh suka cita.  Bukan untuk memuaskan telinga dan hati, walau Allah akan memberikan kepuasan, tetapi tujuannya Allahlah yang aku puaskan.

Kesimpulan


                Di beberapa negara seperti Tiongkok dan Kirgiztan (di perbatasan Tiongkok dan Rusia) orang Kristen sulit untuk beribadah. Namun umat Tuhan di sana justru beribadah dengan penuh antusias (semangat), walau saat beribadah mereka hanya bisa bernyanyi tanpa suara walau mulutnya bergerak. Mereka sulit untuk mengekspresikan diri karena takut ditangkap. Ironisnya di Indonesia, kita punya banyak kesempatan beribadah dan memuji Tuhan tapi tidak digunakan. Mari kita renungkan bagaimana kita beribadah kepada Allah. Jadikan ibadah prioritas dalam hidup kita. 

Monday, July 14, 2014

Jangan Memancing Ikan di Kolam Orang


Ev. Vera Agnes

Kis 11:1-18
1  Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
2  Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.
3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."
4  Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:
5  "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.
6  Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
7  Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
8  Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
9  Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
10  Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
11  Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
12  Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
13  dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
14  Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
15  Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"
18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Pendahuluan
               
                Ada cerita menyedihkan dari seorang hamba Tuhan.  Dia mengisahkan tentang jemaatnya yang telah dibina secara rohani sejak sekolah minggu, tunas remaja sampai remaja pindah ke gereja lain karena ditarik oleh hambaTuhan dari gereja lain. Awalnya di sekitar wilayah Pademangan-Rajawali tempat gerejanya berada, ada forum komunikasi hamba Tuhan yang beranggotakan hamba-hamba Tuhan dari sekitar 50 gereja. Suatu kali para hamba Tuhan tersebut membahas tentang jemaat-jemaat mudanya. Banyak hamba Tuhan menyampaikan bahwa para jemaat muda mereka meninggalkan gereja asalnya. Untuk memberi masukan, kemudian bertempat di satu  gereja diundang hamba Tuhan yang diberkati untuk memberikan sharing, namun saat itu sudah ada banyak hamba Tuhan yang sudah sakit hati karena jemaatnya dicuri. Sehingga kami setiap sabtu berkeliling gereja-gereja untuk  berdoa dan saling menyemangati. Ada hamba Tuhan dari luar yang datang dengan menawarkan kasih, namun akhirnya mengambil jemaat gereja lain. Ini yang sedang mewarnai gereja saat ini dan “luka” yang ditimbulkan masih belum tersembuhkan. Ada juga hamba Tuhan yang katanya non gereja ingin membagi berkat di gereja. Mereka mengajari cara menginjili, KKR dll. Mereka dengan sangat bersemangat melakukan koordinasi dalam pembagian tugas dan mereka begitu terkoordinasi sehingga membuat kami tertarik apalagi jemaat muda. Setelah dicoba lagi, ternyata ada maksud lain sehingga perlu diwaspadai. Mereka mendata orang-orang yang datang, terutama yang dilayani (termasuk yang disembuhkan) sehingga mereka punya alamat lengkap dari jemaat, dan setelah itu mereka mengunjunginya. Ternyata kunjungan mereka sangat rutin dan terus menerus mengajak ke gereja mereka. Akibatnya para hamba Tuhan tempat jemaat tersebut berasal menjadi terluka lagi. Ini mengajarkan kepada gereja-gereja yang di satu sisi ingin bersatu, namun hal seperti ini merusak dan membuat ketidaknyamanan. Akibatnya hamba Tuhan dari gereja asal menutup diri walau mereka gencar mendatangani gereja dan hamba Tuhan. Bahkan ada gereja yang sangat marah dengan cara mereka. Mereka yang begitu militan, terdiri dari orang-orang yang bekerja, hidupnya dipersembahkan ke Tuhan, masuk ke wilayah-wilayah tertentu dan melayani jemaat dari gereja-gereja yang ada dan membutuhkan “perhatian” (apalagi disediakan kendaraan jemputan). Ini tantangan bagi gereja yang telah berdiri lama. Tantangan ini berasal dari orang-orang yang berlatar belakang “cinta kasih” dan ingin memenangkan jiwa tapi yang dilirik adalah “kolam” yang sudah ada dan “ikan” yang terpelihara. Walaupun mereka berkata dari jemaat ini yang dibawa adalah jemaat baru. Padahal tidak mudah untuk mengajak jiwa baru bagi mereka. Pembahasan tentang ini dilatari bahwa bulan ini adalah bulan misi dan gereja haruslah menjadi gereja yang bermisi.

Gereja yang Bermisi

1.     Gereja yang bermisi mencegah perpecahan tapi menjaga persatuan. Pada Kis 11:2-3, Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." Jadi saat itu Rasul Petrus disalahmengerti namun sebagai pemimpin, ia bisa mempertahankan diri dengan memberi alasan mengapa ia melayani orang bersunat. Ia tidak menggunakan haknya sebagai seorang pemimpin atau langsung mengatakan bahwa apa yang dilakukannya benar. Tetapi ia memberikan penjelasan tentang segala sesuatunya secara berurutan (Kis 11:4). Rasul Petrus melihatnya sebagai  persoalan peka. Walau dikatakan bahwa Injil untuk semua orang, jemaat belum terbiasa bergaul dengan orang yang tidak bersunat. Rasul Petrus melayani golongan yang tidak bersunat dan memberikan penjelasan sampai jemaat Tuhan mengerti sehingga ia tetap bisa mempertahankan kesatuan umat Tuhan. Ini adalah sikap yang baik. Terhadap jemaat yang suka mengkritik dan menyadari bahwa dalam jemaat timbul perbedaan, Rasul Petrus memberi penjelasan dan pengertian. Sehingga bila masalah timbul dalam gereja, kita bisa belajar dari Rasul Petrus. Kita selesaikan dan atasi bersama. Sikap pemimpin penting dalam menjaga kesatuan gereja. Rasul Petrus menjelaskan bahwa ia mendapat wahyu ilahi saat berdoa kepada Tuhan (ayat 4-10) dan menerima perintah Tuhan (ayat 11-12). Jadi ada persiapan ilahi baik untuk dia maupun orang yang akan dilayani. Allah sendiri yang berkerja. Allah mengasihi orang “kafir” (non Yahudi) alias semua orang padahal orang Yahudi selama ini meyakinkan bahwa pilihan hanya untuk mereka sehingga sulit menerima orang “kafir” masuk untuk diinjili. Tetapi akhirnya mereka menerima penjelasan Rasul Petrus (ayat 18). Ketika persoalan dapat diatasi, maka di sana ada penyembahan kepada Tuhan dan ada keutuhan gereja Tuhan yang dipertahankan. Jadi di bulan misi kita digerakan untuk memberitakan Injil , tetapi akan banyak pertentangan bahkan di rumah sendiri. Saya senang dengan capres yang mengatakan bahwa semua masalah bisa diselesaikan, semua yang terlibat bisa diajak bicara. Jika jemaat melihat ada yang tidak nyaman, sampaikan ke hamba Tuhan dan hamba Tuhan (pemimpin) harus punya hati yang besar untuk menjelaskan ke jemaat dan memuliakan Tuhan.

2.     Sesungguhnya jiwa-jiwa itu Tuhan yang menyediakan. Sebagai murid Kristus, kita menerima tugas Amanat Agung yaitu perintah untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk. Tetapi bukan berarti kita sembarangan. Karena tidak semua orang yang kita temui, kita beritakan Injil. Pelayanan penginjilan sungguh ada di dalam rencana Tuhan. Sebagaai jemaat yang taat pada perintah Tuhan harus punya hubungan intim melalui doa-doa kepada Tuhan yang rindu agar jiwa-jiwa diselamatkan. Indah sekali yang dialami Rasul Petrus karena melalui apa yang dialaminya, jelas bahwa Injil harus diberitakan juga ke orang non Yahudi. Ia melihat bagaimana Tuhan mempersiapkannya. Begitu ia selesai berdoa, sudah ada orang yang menunggu. Kita berdoa untuk orang-orang yang belum percaya dan perlu dikasihi, tetapi untuk orang yang sudah punya gereja dan malas ke gereja, kita harus hati-hati. Jangan sampai kita menjadi gereja yang merebut anggota (domba) dan memancing ikan di kolam (gereja) lain. Masih begitu banyak jiwa yang memerlukan Injil. Jangan dengan alasan jemaat gereja lain tidak (kurang) diperhatikan sehingga dibawa supaya bisa bertumbuh. Ini merusak hubungan antar gereja. Ada yang berpromosi, “Gereja di sini enak, bisa minum bebas. Di gereja sana tidak ada”. Memindahkan jemaat dari 1 gereja ke gereja lain, itu bukan penginjilan! Tapi maling ‘ikan’ (ikannya ada di kolam). Harusnya yang menjadi sasaran adalah membawa jiwa-jiwa baru (yang disebut kafir), itu jiwa yang disiapkan Tuhan. Kita membawa jiwa baru tersebut ke persekutuan wilayah agar dapat bertumbuh. Itulah yang menjadi sasaran pelayanan kita. Saat mau membawa jiwa, apakah sudah ada nama yang akan dibawa? Didoakan terus. Tuhan mempersiapkan kita dan jiwa yang akan dibawa. Bawalah berita Injil kepada orang itu dan kepada keluarganya. Setiap hari berdoa untuk mereka agar semua dipersiapkan sehingga pada waktunya Tuhan akan siapkan. Jadi mereka yang dilayani adalah jiwa yang belum percaya pada Tuhan, bukan jiwa yang kurang dilayani gereja. Ada gereja yang kurang visitasi ke jemaatnya tetapi bukan mereka yang menjadi sasaran melainkan jiwa yang belum percaya kepada Tuhan. Yang dihadapi bukan hamba Tuhan yang militan melalui KKR, tetapi ada juga yang rutin mengunjungi dari rumah ke rumah. Sebelum jam kebaktian, mereka datang ke rumah jemaat dan mereka siap memberitakan firman Tuhan. Ini yang membuat gereja asal jemaat menjadi resah. Mereka lebih berani lagi bergerak sehingga ada hamba Tuhan di gereja asal jemaat yang bermaksud untuk mengusir mereka. Kita harus waspada terhadap mereka walau semangat mereka perlu ditiru. Semangat mereka memenangkan jiwa begitu tinggi. Banyak gereja yang menjadi lesu, karena semangat penginjilan lesu. Jemaat tidak terlibat dalam penginjilan. Maka bulan misi mengingatkan kita untuk jiwa-jiwa yang akan binasa. Kitalah yang diutus untuk mencari jiwa mereka bagi Tuhan. Kita adalah orang yang pernah mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Rasul Petrus mengajarkan bahwa berita Injil itu tidak eksklusif tetapi bagi semua orang. Sebagai gereja, kita melihat sekeliling kita. Tuhan menyediakan orang (jiwa) tetapi banyak yang dibiarkan binasa. Seharusnya setiap hari kita mendoakan mereka, menyediakan waktu khusus untuk jiwa yang belum percaya. Kita seperti tidak merasa salah kalau tidak membawa jiwa. Gereja harus terus memberitakan Injil dengan semangat. Kiranya gereja bangkit berdoa untuk jiwa-jiwa yang belum percaya (anak didik, teman, rekan, saudara, dan tetangga kita). Percayalah Roh Kudus akan bekerja. Seringkali kita berkata susah banget. Terkadang kita hanya berkata, “Ayu ke gereja yuk”. Seringkali Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa, hanya kita tidak melihatnya. Lebih baik kita menggumuli satu jiwa daripada banyak tapi tidak dilayani. Yesus rela tidak mengkonsentrasikan (focus) untuk  jumlah yang banyak saja, tetapi kita dilatih untuk melayani jemaat yang kecil juga. Mungkin kita sering diajarkan PI (penginjilan) pribadi, tapi karena tidak dipratekkan kita lupa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kesimpulan

                Jangan sampai orang di sekitar kita binasa tanpa Yesus. Kita memang memerlukan lagi kobaran semangat untuk memberitakan Injil. Jagalah kesatuan gereja maka kita bisa selesaikan apapun juga. Bila ada masalah, kita atasi dengan baik maka gereja bisa mempraktekkan kehidupan yang bersukacita. Kita menyadari jiwa-jiwa itu disedikaan bagi kita. Tuhan pemilik jiwa, maka kita akan mengerti , kepada siapa dan kapan waktu yang tepat untuk menginjil dan Roh Kudus pun bekerja. Pengalaman Rasul Petrus merupakan pengalaman yang indah. Walau banyak rintangan (karena banyak jemaat yang rapuh mudah terpengaruh) marilah kita dengan mudah saling menyemangti. Sehingga dalam pemberitaan Inji, penyertaan Roh Kudus dinyatakan dan Injil diberitakan dengan semakin semangat. Para misionari menghadapi banyak tantangan dalam memberitakan Injil namun mereka semakin berkobar dan bergairah. Kiranya jemaat Tuhan bertumbuh dewasa , dalam mengatasi masalah dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang Tuhan sedikan, bukan pada orang yang sudah percaya, belum dibaptis atau belum sungguh-sungguh  percaya. Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa dan dengan pertolongan Roh Kudus coba buktikan hal tersebut. Maka sebagai anak dan murid Tuhan, kita akan lebih bergairah. Mungkin di gereja tidak ada api dan gairah, tetapi melalu kelompok kecil dan kelompok penginjilan  pribadi, Tuhan akan memberikan jiwa kepada kita. Sadarilah ada jiwa yang Tuhan sediakan! Hari-hari ini menunggu kesaksian kita. Kalau belum ada berdoalah, agar mereka disediakan Tuhan untuk mendengarkan kesaksian kita.



Sunday, July 6, 2014

Misi : Ujung Tombak yang Tumpul


Pdt. Hery Kwok

Kisah 8:1b-8
1b Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
2  Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
3  Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
4   Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.
5  Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
7  Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
8  Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

Pendahuluan

                Seorang filsuf Tiongkok terkenal pernah difilmkan tahun 2010 dan diperankan oleh Chow Yun Fat yakni Confucius (Kong Hu Cu, 551 SM – 479 SM). Ada 5 ajaran yang sangat ditekankan oleh Confusius, agar setiap orang yang mau hidup bahagia dan seimbang minimal harus mengamalkan 5 keutamaan yakni  :
1.   Ren (kemanusiaan)  contoh : peduli, empati, simpati, kasih sayang.
2.   Yi (moral, keadilan dan nilai atau harga diri). Dalam Yi terkandung pula zhong (loyalitas, kesetiaan dan kesadaran diri) dan shu (altruism, pemaaf dan tenggang rasa). Kebajikan ini sangat dikenal dengan ungkapan “Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada diri kita, janganlah kita lakukan pada orang lain”.
3.   Li (sopan-santun). Keutamaan ini mengajarkan tentang perilaku yang tepat dalam konteks hubungan yang berlainan, misalnya perilaku anak terhadap orang tua, rasa hormat terhadap otoritas. Keutamaan ini juga mengajarkan tentang perilaku yang sesuai dalam menjalankan upacara dan penyembahan (doa)
4.   Zhi (ilmu pengetahuan, kehati-hatian & kebijaksanaan yang akan dapat diperoleh dengan mempelajari kitab klasik & belajar dari orang lain)
5.   Xin (Integritas) yang menjadi dasar tumbuhnya rasa percaya (trust)

                Yang akan diangkat untuk tema hari ini hanya 1 yaitu ren (keutamaan kemanusiaan). Dalam diri manusia ada sesuatu yang penting yakni kepedulian, empati, simpati, rasa kasih sayang terhadap sesama. Ajaran ini ribuan tahun yang lalu. Tetapi kalau diperhatikan, apa  yang disampaikan tentang ren ini sudah pudar dalam perjalanan hidup manusia. Kalau bicara tentang kebutuhan manusia dengan manusia yang hilang maka kita membicarakan tentang kasih yang sudah dingin. Yesus Kristus pernah berkhotbah tentang akhir zaman di Mat 24:12 karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Artinya dunia ini dihuni oleh orang yang cinta diri sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain. Karena itulah Confucius menentang keutamaan untuk orang bahagia kalau orang itu hanya memperhatikan diri sendiri. Confucius tidak mengenal Yesus tetapi pengajaran yang disampaikan ada kemiripan dengan kebenaran firman Tuhan. Pada waktu orang mementingkan (kebutuhan) diri sendiri maka keutamaan dalam diri orang itu sudah hilang. Itu yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada orang bilang gereja adalah tempat dimana kita mendapat kasih satu dengan lain tapi yang dijumpai adalah ketidakpedulian satu dengan lain.  Gereja hampir tidak berbeda dengan tempat-tempat di dunia ini seperti mal. Kalau kita pergi ke mal dan bertemu dengan orang yang tidak dikenal kita tidak bertanya siapa namanya dan berkata, “Bu, senang bisa bertemu.” Kalau kita melakukannya, maka orang itu pergi ke satpam dan berkata, “Pa tolong saya! Orang itu mengganggu saya!” Sehingga kita datang ke mal, jalan ke suatu tujuan dan tidak peduli dengan orang di sekeliling kita.  Demikian juga di gereja, ada yang datang dan pulang tanpa dipedulikan oleh oleh hamba Tuhan, majelis dan aktivis. Saya pernah bergereja di daerah Jatinegara. Waktu saya hadir di gereja itu sampai pulang , tidak ada orang yang tahu. Lalu saat saya menjadi hamba Tuhan dan menceritakan bahwa saya dulu pernah berjemaat dan beribadah di gereja ini, mereka terkejut dan tidak menyangka. Dunia sedang mencetak , mengarahkan kita untuk hidup bagi diri sendiri. Ini sesuatu yang bermasalah dalam hidup bersama. Orang bisa hidup, tidak perlu orang lain, asal punya computer, laptop, hidup diam berjam-jam meskipun di sebelahnya ada orang lain. Dulu watu saya kecil, bila melewati orang lain akan berkata, “Permisi” lalu dengan badan sedikit membungkuk melewatinya. Sekarang kita jumpai orang berjalan dengan memegang gadget dan tidak peduli dengan orang lain. Itu sebabnya saat berbicara tentang “misi : ujung tombak yang tumpul”,kita bertemu dengan masalah yang paling dasar.

Misi = Bersaksi

                Kata misi di sini berbeda dengan misi dan visi yang disampaikan oleh calon presiden (capres) kita. Kalau misi yang disampaikan capres merupakan sesuatu yang dilakukan (sesuatu yang konkrit) dari visi (sesuatu yang abstrak). Misi dalam konteks kekristenan adalah bersaksi. Apa yang disaksikan oleh seseorang yaitu ia mengalami betapa Tuhan menyelamatkan dan mengampuni dosanya sehingga ia menjadi orang yang diselamatkan.  Keselamatan yang luar biasa, agung dan mulia dan membuat dia bersuka-cita dibagikan ke orang lain supaya orang lain juga mengalami sukacita itu. Itu sebabnya kalau kita baca dalam kitab suci, kita menemukan bagaimana para rasul diselamatkan , punya kepastian masuk ke sorga dan mereka menceritakan sukacita itu kepada orang lain.

Di dalam Perjanjian Baru ada 3 tingkat yang menekankan bagaimana orang bersaksi.
1.     Saat bersaksi ia membuat pernyataan kepada seseorang. Pernyataan itu berisi kebenaran-kebenaran  Injil secara lisan dalam bentuk fakta yang dialami. Misal Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu fakta yang disampaikan.  Pernyataan untuk menyatakan kebenaran tentang Injil yang membuka kenyataan tentang siapa manusia. Saat orang bersaksi, ia juga menyatakan bahwa ia juga orang berdosa. Jadi waktu menyatakan sebagai orang berdosa dan diampuni, dia sampaikan kepada orang lain dalam bentuk pernyataan.
2.     Sebuah hubungan antara si pemberita dengan orang yang diberitakan. Jadi waktu bersaksi saya menyampaikan fakta dan pernyataan kemudian membangun relasi (jembatan hubungan) dengan orang yang diberitakan untuk membawa kebenaran Injil. Membangun relasi ini disebut kepedulian karena ingin orang itu diselamatkan. Oleh sebab itu dalam bersaksi ada hal yang perlu dibayar (dikorbankan) dimana kita bertemu dengan orang itu, lalu dia pergi ke tempat di mana ia akan menyampaikannya.
3.     Aktualisasi diri (penjelmaan) kita terhadap apa yang dipahami yang hidup dan karakter saya yang diihat oleh orang lain. Bersaksi dalam bahasa sederhana berarti mengalami perubahan hidup dimana orang di sekeliling bisa melihat perbedaannya. Kalau begitu misi adalah sesuatu yang penting dan urgent yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya. Saya terkadang merasa heran, setelah orang makan di satu restoran dia cerita ke temannya, kalau mau makan kepiting soka di sana paling jempol. Saya heran karena masalah makanan yang dia rasa enak dia bagikan ke orang , padahal itu hanya makanan. Seharusnya keselamatan yang begitu luar biasa besar tidak menutup kita untuk menyampaikan ke orang lain tentang karya Allah dalam hidup kita.

Mengapa misi menjadi ujung tombak yg tumpul

Misi yang harusnya menjadi ujung tombak yang tajam menjadi tumpul karena :

1. Tujuan keselamatan yang Allah kerjakan dalam diri kita kurang dihayati/dihidupi dlm diri kita. Apa Tujuan Allah menyelamatkan kita? Salah satunya adalah supaya kita menyaksikan kebaikan Allah kepada setiap orang sehingga orang tersebut mengalami kasih Allah yg besar itu. Kis 8:1b,4-6 Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Kita menemukan orang-orang yang diselamatkan pada Kis 8 begitu bersemangat bersaksi. Dan kalau diperhatikan mereka bersaksi bukan dalam kondisi makmur dan tidak mengalami kesusahan.  Mereka bersaksi justru dalam penganiayaan fisik dan mental oleh orang Romawi dan orang yang menentang Tuhan Yesus. Sering orang Kristen berkata, “Nantilah saya akan melakukan misi setelah keluarga mapan, oke, anak-anak tidak perlu lagi diperhatikan”. Ungkapan itu akan membuat kita tidak pernah bermisi sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. Padahal Alkitab berbicara tentang mereka yang bersaksi tentang Tuhan Yesus di tengah-tengah yang lain. Alasan ujung tombak tumpul karena kepedulian terhadap sesama sudah dingin. Kalau kita mengetahui harga manusia,,kita akan pergi kepada mereka yang belum percaya. Saya terkadang tercengang saat Yesus membandingkan antara dunia dengan harga orang . Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat 16:26).  Ini merupakan perbandingan yang hebat. Kalau saya memperhatikan debat capres yang coba menggambarkan Indonesia yang kaya, ini merupakan pernyataan yang tepat.   Contoh : emas di tanah Papua tidak habis dan jumlahnya luar biasa kalau dikonversi ke dalam rupiah.  Jadi bagaimana mungkin manusia dibandingkan dengan kekayaan alam, itu saja tidak sebanding. Apalagi kalau bicara laut, ikan, kekayaan dunia hebat sekali. Jemaat mula-mula tidak pernah tahan hatinya untuk tidak menceritakan Injil agar jangan orang-orang mati dengan sia-sia. Kalau kepedulian kita semakin dingin, di situlah kita tidak lagi bermisi. Ada artikel tentang Ani,gadis kos yang sedang mengerjakan tugas akhir tinggal di kosnya yang banyak penghuninya. Satu malam ia mendengar suara seperti tangisan bayi yang merintih minta tolong dari balik jendelanya. Imaginasinya : jangan-jangan ada orang yang menaruh bayi di sana dan meninggalkannya atau jadi-jadian (setan). Lalu ia berdiam dan mendengarkan lagi. Suara yang seperti bayi sekarang seperti suara kucing yang kesakitan. Dia tahu di kosnya banyak kucing. Sehingga ia biarkan saja dan mengerjakan tugas akhir sampai pagi. Esok hari dia bangun dan mendapat informasi dari pembantu di tempat kosnya bahwa ada anak kucing yang tercebur dan menangis di sebelah jendela kamarnya. Karena tidak ada yang menolong, maka anak kucing itu mati terlelap di got. Ani merasa bersalah karena tidak punya kepedulian terhadap mahluk yang sedang membutuhkan bantuan. Binatang yang membutuhkan bantuan , berteriak, apalagi manusia yang sedang menuju neraka.  Mari kita pikirkan tentang kepedulian tentang sesama. Kitab suci yang bila dibaca dengan baik punya titik dimana tujuan Allah menyelamatkan kita, yaitu untuk menyaksikan kasih Allah . Allah bisa memakai apa saja  , tapi Dia memakai kita untuk memberitakan tentang kesalamatan. Seperti juga Allah memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain. Coba kita hayati dan benar-benar hidup dalam keselamatan di dalam kita, maksudnya keselamatan bukan sekedar konsep dan pengetahuan. Konsep hanya ada di kepala kita. Tapi kalau keselamatan dihidupi, betapa luar biasanya untuk memberikan gairah untuk menyaksikan karya keselamatan Allah.

2.  Mengabaikan perintah Tuhan untuk mengabarkan Injil sebagai Amanat Agung. Waktu Tuhan mau naik ke sorga Dia berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20)
          Seorang hamba Tuhan berkata,”Kalau kita tidak memberitakan njil maka kita berdosa walau secara pasif”. Dosa pasif artinya kalau tidak melakukan (menyampaikan) , sepertinya tidak apa-apa. Yang penting saya tidak membunuh orang, bergosip, melakukan praktek bisnis yang kotor atau tidak melakukan yang jahat. Yeremia ayat 48:10   Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah! Artinya saat Tuhan menyuruh orang namun tidak dilakukan , maka orang itu menjadi terkutuk. Jangan berpikir, waktu lalaikan perintah Tuhan kita tidak bersalah. Nabiah Debora pada  Hak 5:23 berkata,   "Kutukilah kota Meros!" firman Malaikat TUHAN, "kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan."  Ada ilustrasi tikus dan perangkap tikus. Waktu tikus mengintip sebuah rumah, si petani pemilik rumah membeli perangkap tikus. Karena tahu itu berbahaya, ia menceritakan pada teman-temannya agar tidak terperangkap dan meminta kepada teman-teman untuk memberitahukan kepada yang lainnya. Ayam, kambing dan sapi yang diminta untuk memberitahu ke teman-teman lainnya, menolak untuk melakukannya. Mereka mengabaikannya karena bagi merasa tidak mungkin dengan badan yang lebih besar dari tikus dapat terperangkap. Suatu malam, istri sang petani mendengar bunyi di dalam perangkat tikus sehingga ia datang untuk melihat binatang apa yang ada. Karena gelap, si istri tidak tahu bahwa ada ular berbisa dan mematuk tangan si istri sehingga jatuh sakit. Petani yang melihat istrinya sakit, mencoba untuk membuat masakan. Ayamnya diambil dan dipotong untuk diberikan ke sang istri. Kemudian saudara-saudara  petani mendengar berita ini dan datang membesuk. Maka petani mengambil kambing untuk disajikan ke saudara-saudaranya. Ternyata istrinya tidak sembuh bahkan mati sehingga orang-orang sekampung datang untuk menyatakan belasungkawa. Seusai tradisi, ia harus menyediakan makanan. Melihat orang banyak datang, maka ia mengambil sapi dan memotongnya.  Saat tikus bilang agar hati-hati terhadap perangkap tikus, tidak ada yang memperhatikannya. Ayam, kambing dan sapi berpikir tidak akan mati, namun ternyata dipotong dan mati. Jadi jangan berpikir dosa pasif tidak berakibat pada kita.

Kesimpulan


                Apakah kita mau menjadi gereja yang tidak mau menjalankan Amanat Agung (misi) dengan baik? Apakah kita hanya mau menjadi Gereja yang pentingkan diri sendiri? Kiranya pertanyaan ini dijawab dalam hati. Kalau misi itu sesuatu yang luar biasa untuk dikerjakan, jangan menjadikan ujung tombak (misi) yang tajam menjadi tumpul!