Sunday, July 6, 2014

Misi : Ujung Tombak yang Tumpul


Pdt. Hery Kwok

Kisah 8:1b-8
1b Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
2  Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
3  Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
4   Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.
5  Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
7  Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
8  Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

Pendahuluan

                Seorang filsuf Tiongkok terkenal pernah difilmkan tahun 2010 dan diperankan oleh Chow Yun Fat yakni Confucius (Kong Hu Cu, 551 SM – 479 SM). Ada 5 ajaran yang sangat ditekankan oleh Confusius, agar setiap orang yang mau hidup bahagia dan seimbang minimal harus mengamalkan 5 keutamaan yakni  :
1.   Ren (kemanusiaan)  contoh : peduli, empati, simpati, kasih sayang.
2.   Yi (moral, keadilan dan nilai atau harga diri). Dalam Yi terkandung pula zhong (loyalitas, kesetiaan dan kesadaran diri) dan shu (altruism, pemaaf dan tenggang rasa). Kebajikan ini sangat dikenal dengan ungkapan “Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada diri kita, janganlah kita lakukan pada orang lain”.
3.   Li (sopan-santun). Keutamaan ini mengajarkan tentang perilaku yang tepat dalam konteks hubungan yang berlainan, misalnya perilaku anak terhadap orang tua, rasa hormat terhadap otoritas. Keutamaan ini juga mengajarkan tentang perilaku yang sesuai dalam menjalankan upacara dan penyembahan (doa)
4.   Zhi (ilmu pengetahuan, kehati-hatian & kebijaksanaan yang akan dapat diperoleh dengan mempelajari kitab klasik & belajar dari orang lain)
5.   Xin (Integritas) yang menjadi dasar tumbuhnya rasa percaya (trust)

                Yang akan diangkat untuk tema hari ini hanya 1 yaitu ren (keutamaan kemanusiaan). Dalam diri manusia ada sesuatu yang penting yakni kepedulian, empati, simpati, rasa kasih sayang terhadap sesama. Ajaran ini ribuan tahun yang lalu. Tetapi kalau diperhatikan, apa  yang disampaikan tentang ren ini sudah pudar dalam perjalanan hidup manusia. Kalau bicara tentang kebutuhan manusia dengan manusia yang hilang maka kita membicarakan tentang kasih yang sudah dingin. Yesus Kristus pernah berkhotbah tentang akhir zaman di Mat 24:12 karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Artinya dunia ini dihuni oleh orang yang cinta diri sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain. Karena itulah Confucius menentang keutamaan untuk orang bahagia kalau orang itu hanya memperhatikan diri sendiri. Confucius tidak mengenal Yesus tetapi pengajaran yang disampaikan ada kemiripan dengan kebenaran firman Tuhan. Pada waktu orang mementingkan (kebutuhan) diri sendiri maka keutamaan dalam diri orang itu sudah hilang. Itu yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada orang bilang gereja adalah tempat dimana kita mendapat kasih satu dengan lain tapi yang dijumpai adalah ketidakpedulian satu dengan lain.  Gereja hampir tidak berbeda dengan tempat-tempat di dunia ini seperti mal. Kalau kita pergi ke mal dan bertemu dengan orang yang tidak dikenal kita tidak bertanya siapa namanya dan berkata, “Bu, senang bisa bertemu.” Kalau kita melakukannya, maka orang itu pergi ke satpam dan berkata, “Pa tolong saya! Orang itu mengganggu saya!” Sehingga kita datang ke mal, jalan ke suatu tujuan dan tidak peduli dengan orang di sekeliling kita.  Demikian juga di gereja, ada yang datang dan pulang tanpa dipedulikan oleh oleh hamba Tuhan, majelis dan aktivis. Saya pernah bergereja di daerah Jatinegara. Waktu saya hadir di gereja itu sampai pulang , tidak ada orang yang tahu. Lalu saat saya menjadi hamba Tuhan dan menceritakan bahwa saya dulu pernah berjemaat dan beribadah di gereja ini, mereka terkejut dan tidak menyangka. Dunia sedang mencetak , mengarahkan kita untuk hidup bagi diri sendiri. Ini sesuatu yang bermasalah dalam hidup bersama. Orang bisa hidup, tidak perlu orang lain, asal punya computer, laptop, hidup diam berjam-jam meskipun di sebelahnya ada orang lain. Dulu watu saya kecil, bila melewati orang lain akan berkata, “Permisi” lalu dengan badan sedikit membungkuk melewatinya. Sekarang kita jumpai orang berjalan dengan memegang gadget dan tidak peduli dengan orang lain. Itu sebabnya saat berbicara tentang “misi : ujung tombak yang tumpul”,kita bertemu dengan masalah yang paling dasar.

Misi = Bersaksi

                Kata misi di sini berbeda dengan misi dan visi yang disampaikan oleh calon presiden (capres) kita. Kalau misi yang disampaikan capres merupakan sesuatu yang dilakukan (sesuatu yang konkrit) dari visi (sesuatu yang abstrak). Misi dalam konteks kekristenan adalah bersaksi. Apa yang disaksikan oleh seseorang yaitu ia mengalami betapa Tuhan menyelamatkan dan mengampuni dosanya sehingga ia menjadi orang yang diselamatkan.  Keselamatan yang luar biasa, agung dan mulia dan membuat dia bersuka-cita dibagikan ke orang lain supaya orang lain juga mengalami sukacita itu. Itu sebabnya kalau kita baca dalam kitab suci, kita menemukan bagaimana para rasul diselamatkan , punya kepastian masuk ke sorga dan mereka menceritakan sukacita itu kepada orang lain.

Di dalam Perjanjian Baru ada 3 tingkat yang menekankan bagaimana orang bersaksi.
1.     Saat bersaksi ia membuat pernyataan kepada seseorang. Pernyataan itu berisi kebenaran-kebenaran  Injil secara lisan dalam bentuk fakta yang dialami. Misal Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu fakta yang disampaikan.  Pernyataan untuk menyatakan kebenaran tentang Injil yang membuka kenyataan tentang siapa manusia. Saat orang bersaksi, ia juga menyatakan bahwa ia juga orang berdosa. Jadi waktu menyatakan sebagai orang berdosa dan diampuni, dia sampaikan kepada orang lain dalam bentuk pernyataan.
2.     Sebuah hubungan antara si pemberita dengan orang yang diberitakan. Jadi waktu bersaksi saya menyampaikan fakta dan pernyataan kemudian membangun relasi (jembatan hubungan) dengan orang yang diberitakan untuk membawa kebenaran Injil. Membangun relasi ini disebut kepedulian karena ingin orang itu diselamatkan. Oleh sebab itu dalam bersaksi ada hal yang perlu dibayar (dikorbankan) dimana kita bertemu dengan orang itu, lalu dia pergi ke tempat di mana ia akan menyampaikannya.
3.     Aktualisasi diri (penjelmaan) kita terhadap apa yang dipahami yang hidup dan karakter saya yang diihat oleh orang lain. Bersaksi dalam bahasa sederhana berarti mengalami perubahan hidup dimana orang di sekeliling bisa melihat perbedaannya. Kalau begitu misi adalah sesuatu yang penting dan urgent yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya. Saya terkadang merasa heran, setelah orang makan di satu restoran dia cerita ke temannya, kalau mau makan kepiting soka di sana paling jempol. Saya heran karena masalah makanan yang dia rasa enak dia bagikan ke orang , padahal itu hanya makanan. Seharusnya keselamatan yang begitu luar biasa besar tidak menutup kita untuk menyampaikan ke orang lain tentang karya Allah dalam hidup kita.

Mengapa misi menjadi ujung tombak yg tumpul

Misi yang harusnya menjadi ujung tombak yang tajam menjadi tumpul karena :

1. Tujuan keselamatan yang Allah kerjakan dalam diri kita kurang dihayati/dihidupi dlm diri kita. Apa Tujuan Allah menyelamatkan kita? Salah satunya adalah supaya kita menyaksikan kebaikan Allah kepada setiap orang sehingga orang tersebut mengalami kasih Allah yg besar itu. Kis 8:1b,4-6 Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Kita menemukan orang-orang yang diselamatkan pada Kis 8 begitu bersemangat bersaksi. Dan kalau diperhatikan mereka bersaksi bukan dalam kondisi makmur dan tidak mengalami kesusahan.  Mereka bersaksi justru dalam penganiayaan fisik dan mental oleh orang Romawi dan orang yang menentang Tuhan Yesus. Sering orang Kristen berkata, “Nantilah saya akan melakukan misi setelah keluarga mapan, oke, anak-anak tidak perlu lagi diperhatikan”. Ungkapan itu akan membuat kita tidak pernah bermisi sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. Padahal Alkitab berbicara tentang mereka yang bersaksi tentang Tuhan Yesus di tengah-tengah yang lain. Alasan ujung tombak tumpul karena kepedulian terhadap sesama sudah dingin. Kalau kita mengetahui harga manusia,,kita akan pergi kepada mereka yang belum percaya. Saya terkadang tercengang saat Yesus membandingkan antara dunia dengan harga orang . Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat 16:26).  Ini merupakan perbandingan yang hebat. Kalau saya memperhatikan debat capres yang coba menggambarkan Indonesia yang kaya, ini merupakan pernyataan yang tepat.   Contoh : emas di tanah Papua tidak habis dan jumlahnya luar biasa kalau dikonversi ke dalam rupiah.  Jadi bagaimana mungkin manusia dibandingkan dengan kekayaan alam, itu saja tidak sebanding. Apalagi kalau bicara laut, ikan, kekayaan dunia hebat sekali. Jemaat mula-mula tidak pernah tahan hatinya untuk tidak menceritakan Injil agar jangan orang-orang mati dengan sia-sia. Kalau kepedulian kita semakin dingin, di situlah kita tidak lagi bermisi. Ada artikel tentang Ani,gadis kos yang sedang mengerjakan tugas akhir tinggal di kosnya yang banyak penghuninya. Satu malam ia mendengar suara seperti tangisan bayi yang merintih minta tolong dari balik jendelanya. Imaginasinya : jangan-jangan ada orang yang menaruh bayi di sana dan meninggalkannya atau jadi-jadian (setan). Lalu ia berdiam dan mendengarkan lagi. Suara yang seperti bayi sekarang seperti suara kucing yang kesakitan. Dia tahu di kosnya banyak kucing. Sehingga ia biarkan saja dan mengerjakan tugas akhir sampai pagi. Esok hari dia bangun dan mendapat informasi dari pembantu di tempat kosnya bahwa ada anak kucing yang tercebur dan menangis di sebelah jendela kamarnya. Karena tidak ada yang menolong, maka anak kucing itu mati terlelap di got. Ani merasa bersalah karena tidak punya kepedulian terhadap mahluk yang sedang membutuhkan bantuan. Binatang yang membutuhkan bantuan , berteriak, apalagi manusia yang sedang menuju neraka.  Mari kita pikirkan tentang kepedulian tentang sesama. Kitab suci yang bila dibaca dengan baik punya titik dimana tujuan Allah menyelamatkan kita, yaitu untuk menyaksikan kasih Allah . Allah bisa memakai apa saja  , tapi Dia memakai kita untuk memberitakan tentang kesalamatan. Seperti juga Allah memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain. Coba kita hayati dan benar-benar hidup dalam keselamatan di dalam kita, maksudnya keselamatan bukan sekedar konsep dan pengetahuan. Konsep hanya ada di kepala kita. Tapi kalau keselamatan dihidupi, betapa luar biasanya untuk memberikan gairah untuk menyaksikan karya keselamatan Allah.

2.  Mengabaikan perintah Tuhan untuk mengabarkan Injil sebagai Amanat Agung. Waktu Tuhan mau naik ke sorga Dia berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20)
          Seorang hamba Tuhan berkata,”Kalau kita tidak memberitakan njil maka kita berdosa walau secara pasif”. Dosa pasif artinya kalau tidak melakukan (menyampaikan) , sepertinya tidak apa-apa. Yang penting saya tidak membunuh orang, bergosip, melakukan praktek bisnis yang kotor atau tidak melakukan yang jahat. Yeremia ayat 48:10   Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah! Artinya saat Tuhan menyuruh orang namun tidak dilakukan , maka orang itu menjadi terkutuk. Jangan berpikir, waktu lalaikan perintah Tuhan kita tidak bersalah. Nabiah Debora pada  Hak 5:23 berkata,   "Kutukilah kota Meros!" firman Malaikat TUHAN, "kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan."  Ada ilustrasi tikus dan perangkap tikus. Waktu tikus mengintip sebuah rumah, si petani pemilik rumah membeli perangkap tikus. Karena tahu itu berbahaya, ia menceritakan pada teman-temannya agar tidak terperangkap dan meminta kepada teman-teman untuk memberitahukan kepada yang lainnya. Ayam, kambing dan sapi yang diminta untuk memberitahu ke teman-teman lainnya, menolak untuk melakukannya. Mereka mengabaikannya karena bagi merasa tidak mungkin dengan badan yang lebih besar dari tikus dapat terperangkap. Suatu malam, istri sang petani mendengar bunyi di dalam perangkat tikus sehingga ia datang untuk melihat binatang apa yang ada. Karena gelap, si istri tidak tahu bahwa ada ular berbisa dan mematuk tangan si istri sehingga jatuh sakit. Petani yang melihat istrinya sakit, mencoba untuk membuat masakan. Ayamnya diambil dan dipotong untuk diberikan ke sang istri. Kemudian saudara-saudara  petani mendengar berita ini dan datang membesuk. Maka petani mengambil kambing untuk disajikan ke saudara-saudaranya. Ternyata istrinya tidak sembuh bahkan mati sehingga orang-orang sekampung datang untuk menyatakan belasungkawa. Seusai tradisi, ia harus menyediakan makanan. Melihat orang banyak datang, maka ia mengambil sapi dan memotongnya.  Saat tikus bilang agar hati-hati terhadap perangkap tikus, tidak ada yang memperhatikannya. Ayam, kambing dan sapi berpikir tidak akan mati, namun ternyata dipotong dan mati. Jadi jangan berpikir dosa pasif tidak berakibat pada kita.

Kesimpulan


                Apakah kita mau menjadi gereja yang tidak mau menjalankan Amanat Agung (misi) dengan baik? Apakah kita hanya mau menjadi Gereja yang pentingkan diri sendiri? Kiranya pertanyaan ini dijawab dalam hati. Kalau misi itu sesuatu yang luar biasa untuk dikerjakan, jangan menjadikan ujung tombak (misi) yang tajam menjadi tumpul! 

No comments:

Post a Comment