Monday, July 14, 2014

Jangan Memancing Ikan di Kolam Orang


Ev. Vera Agnes

Kis 11:1-18
1  Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
2  Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.
3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."
4  Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:
5  "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.
6  Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
7  Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
8  Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
9  Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
10  Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
11  Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
12  Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
13  dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
14  Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
15  Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"
18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Pendahuluan
               
                Ada cerita menyedihkan dari seorang hamba Tuhan.  Dia mengisahkan tentang jemaatnya yang telah dibina secara rohani sejak sekolah minggu, tunas remaja sampai remaja pindah ke gereja lain karena ditarik oleh hambaTuhan dari gereja lain. Awalnya di sekitar wilayah Pademangan-Rajawali tempat gerejanya berada, ada forum komunikasi hamba Tuhan yang beranggotakan hamba-hamba Tuhan dari sekitar 50 gereja. Suatu kali para hamba Tuhan tersebut membahas tentang jemaat-jemaat mudanya. Banyak hamba Tuhan menyampaikan bahwa para jemaat muda mereka meninggalkan gereja asalnya. Untuk memberi masukan, kemudian bertempat di satu  gereja diundang hamba Tuhan yang diberkati untuk memberikan sharing, namun saat itu sudah ada banyak hamba Tuhan yang sudah sakit hati karena jemaatnya dicuri. Sehingga kami setiap sabtu berkeliling gereja-gereja untuk  berdoa dan saling menyemangati. Ada hamba Tuhan dari luar yang datang dengan menawarkan kasih, namun akhirnya mengambil jemaat gereja lain. Ini yang sedang mewarnai gereja saat ini dan “luka” yang ditimbulkan masih belum tersembuhkan. Ada juga hamba Tuhan yang katanya non gereja ingin membagi berkat di gereja. Mereka mengajari cara menginjili, KKR dll. Mereka dengan sangat bersemangat melakukan koordinasi dalam pembagian tugas dan mereka begitu terkoordinasi sehingga membuat kami tertarik apalagi jemaat muda. Setelah dicoba lagi, ternyata ada maksud lain sehingga perlu diwaspadai. Mereka mendata orang-orang yang datang, terutama yang dilayani (termasuk yang disembuhkan) sehingga mereka punya alamat lengkap dari jemaat, dan setelah itu mereka mengunjunginya. Ternyata kunjungan mereka sangat rutin dan terus menerus mengajak ke gereja mereka. Akibatnya para hamba Tuhan tempat jemaat tersebut berasal menjadi terluka lagi. Ini mengajarkan kepada gereja-gereja yang di satu sisi ingin bersatu, namun hal seperti ini merusak dan membuat ketidaknyamanan. Akibatnya hamba Tuhan dari gereja asal menutup diri walau mereka gencar mendatangani gereja dan hamba Tuhan. Bahkan ada gereja yang sangat marah dengan cara mereka. Mereka yang begitu militan, terdiri dari orang-orang yang bekerja, hidupnya dipersembahkan ke Tuhan, masuk ke wilayah-wilayah tertentu dan melayani jemaat dari gereja-gereja yang ada dan membutuhkan “perhatian” (apalagi disediakan kendaraan jemputan). Ini tantangan bagi gereja yang telah berdiri lama. Tantangan ini berasal dari orang-orang yang berlatar belakang “cinta kasih” dan ingin memenangkan jiwa tapi yang dilirik adalah “kolam” yang sudah ada dan “ikan” yang terpelihara. Walaupun mereka berkata dari jemaat ini yang dibawa adalah jemaat baru. Padahal tidak mudah untuk mengajak jiwa baru bagi mereka. Pembahasan tentang ini dilatari bahwa bulan ini adalah bulan misi dan gereja haruslah menjadi gereja yang bermisi.

Gereja yang Bermisi

1.     Gereja yang bermisi mencegah perpecahan tapi menjaga persatuan. Pada Kis 11:2-3, Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." Jadi saat itu Rasul Petrus disalahmengerti namun sebagai pemimpin, ia bisa mempertahankan diri dengan memberi alasan mengapa ia melayani orang bersunat. Ia tidak menggunakan haknya sebagai seorang pemimpin atau langsung mengatakan bahwa apa yang dilakukannya benar. Tetapi ia memberikan penjelasan tentang segala sesuatunya secara berurutan (Kis 11:4). Rasul Petrus melihatnya sebagai  persoalan peka. Walau dikatakan bahwa Injil untuk semua orang, jemaat belum terbiasa bergaul dengan orang yang tidak bersunat. Rasul Petrus melayani golongan yang tidak bersunat dan memberikan penjelasan sampai jemaat Tuhan mengerti sehingga ia tetap bisa mempertahankan kesatuan umat Tuhan. Ini adalah sikap yang baik. Terhadap jemaat yang suka mengkritik dan menyadari bahwa dalam jemaat timbul perbedaan, Rasul Petrus memberi penjelasan dan pengertian. Sehingga bila masalah timbul dalam gereja, kita bisa belajar dari Rasul Petrus. Kita selesaikan dan atasi bersama. Sikap pemimpin penting dalam menjaga kesatuan gereja. Rasul Petrus menjelaskan bahwa ia mendapat wahyu ilahi saat berdoa kepada Tuhan (ayat 4-10) dan menerima perintah Tuhan (ayat 11-12). Jadi ada persiapan ilahi baik untuk dia maupun orang yang akan dilayani. Allah sendiri yang berkerja. Allah mengasihi orang “kafir” (non Yahudi) alias semua orang padahal orang Yahudi selama ini meyakinkan bahwa pilihan hanya untuk mereka sehingga sulit menerima orang “kafir” masuk untuk diinjili. Tetapi akhirnya mereka menerima penjelasan Rasul Petrus (ayat 18). Ketika persoalan dapat diatasi, maka di sana ada penyembahan kepada Tuhan dan ada keutuhan gereja Tuhan yang dipertahankan. Jadi di bulan misi kita digerakan untuk memberitakan Injil , tetapi akan banyak pertentangan bahkan di rumah sendiri. Saya senang dengan capres yang mengatakan bahwa semua masalah bisa diselesaikan, semua yang terlibat bisa diajak bicara. Jika jemaat melihat ada yang tidak nyaman, sampaikan ke hamba Tuhan dan hamba Tuhan (pemimpin) harus punya hati yang besar untuk menjelaskan ke jemaat dan memuliakan Tuhan.

2.     Sesungguhnya jiwa-jiwa itu Tuhan yang menyediakan. Sebagai murid Kristus, kita menerima tugas Amanat Agung yaitu perintah untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk. Tetapi bukan berarti kita sembarangan. Karena tidak semua orang yang kita temui, kita beritakan Injil. Pelayanan penginjilan sungguh ada di dalam rencana Tuhan. Sebagaai jemaat yang taat pada perintah Tuhan harus punya hubungan intim melalui doa-doa kepada Tuhan yang rindu agar jiwa-jiwa diselamatkan. Indah sekali yang dialami Rasul Petrus karena melalui apa yang dialaminya, jelas bahwa Injil harus diberitakan juga ke orang non Yahudi. Ia melihat bagaimana Tuhan mempersiapkannya. Begitu ia selesai berdoa, sudah ada orang yang menunggu. Kita berdoa untuk orang-orang yang belum percaya dan perlu dikasihi, tetapi untuk orang yang sudah punya gereja dan malas ke gereja, kita harus hati-hati. Jangan sampai kita menjadi gereja yang merebut anggota (domba) dan memancing ikan di kolam (gereja) lain. Masih begitu banyak jiwa yang memerlukan Injil. Jangan dengan alasan jemaat gereja lain tidak (kurang) diperhatikan sehingga dibawa supaya bisa bertumbuh. Ini merusak hubungan antar gereja. Ada yang berpromosi, “Gereja di sini enak, bisa minum bebas. Di gereja sana tidak ada”. Memindahkan jemaat dari 1 gereja ke gereja lain, itu bukan penginjilan! Tapi maling ‘ikan’ (ikannya ada di kolam). Harusnya yang menjadi sasaran adalah membawa jiwa-jiwa baru (yang disebut kafir), itu jiwa yang disiapkan Tuhan. Kita membawa jiwa baru tersebut ke persekutuan wilayah agar dapat bertumbuh. Itulah yang menjadi sasaran pelayanan kita. Saat mau membawa jiwa, apakah sudah ada nama yang akan dibawa? Didoakan terus. Tuhan mempersiapkan kita dan jiwa yang akan dibawa. Bawalah berita Injil kepada orang itu dan kepada keluarganya. Setiap hari berdoa untuk mereka agar semua dipersiapkan sehingga pada waktunya Tuhan akan siapkan. Jadi mereka yang dilayani adalah jiwa yang belum percaya pada Tuhan, bukan jiwa yang kurang dilayani gereja. Ada gereja yang kurang visitasi ke jemaatnya tetapi bukan mereka yang menjadi sasaran melainkan jiwa yang belum percaya kepada Tuhan. Yang dihadapi bukan hamba Tuhan yang militan melalui KKR, tetapi ada juga yang rutin mengunjungi dari rumah ke rumah. Sebelum jam kebaktian, mereka datang ke rumah jemaat dan mereka siap memberitakan firman Tuhan. Ini yang membuat gereja asal jemaat menjadi resah. Mereka lebih berani lagi bergerak sehingga ada hamba Tuhan di gereja asal jemaat yang bermaksud untuk mengusir mereka. Kita harus waspada terhadap mereka walau semangat mereka perlu ditiru. Semangat mereka memenangkan jiwa begitu tinggi. Banyak gereja yang menjadi lesu, karena semangat penginjilan lesu. Jemaat tidak terlibat dalam penginjilan. Maka bulan misi mengingatkan kita untuk jiwa-jiwa yang akan binasa. Kitalah yang diutus untuk mencari jiwa mereka bagi Tuhan. Kita adalah orang yang pernah mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Rasul Petrus mengajarkan bahwa berita Injil itu tidak eksklusif tetapi bagi semua orang. Sebagai gereja, kita melihat sekeliling kita. Tuhan menyediakan orang (jiwa) tetapi banyak yang dibiarkan binasa. Seharusnya setiap hari kita mendoakan mereka, menyediakan waktu khusus untuk jiwa yang belum percaya. Kita seperti tidak merasa salah kalau tidak membawa jiwa. Gereja harus terus memberitakan Injil dengan semangat. Kiranya gereja bangkit berdoa untuk jiwa-jiwa yang belum percaya (anak didik, teman, rekan, saudara, dan tetangga kita). Percayalah Roh Kudus akan bekerja. Seringkali kita berkata susah banget. Terkadang kita hanya berkata, “Ayu ke gereja yuk”. Seringkali Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa, hanya kita tidak melihatnya. Lebih baik kita menggumuli satu jiwa daripada banyak tapi tidak dilayani. Yesus rela tidak mengkonsentrasikan (focus) untuk  jumlah yang banyak saja, tetapi kita dilatih untuk melayani jemaat yang kecil juga. Mungkin kita sering diajarkan PI (penginjilan) pribadi, tapi karena tidak dipratekkan kita lupa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kesimpulan

                Jangan sampai orang di sekitar kita binasa tanpa Yesus. Kita memang memerlukan lagi kobaran semangat untuk memberitakan Injil. Jagalah kesatuan gereja maka kita bisa selesaikan apapun juga. Bila ada masalah, kita atasi dengan baik maka gereja bisa mempraktekkan kehidupan yang bersukacita. Kita menyadari jiwa-jiwa itu disedikaan bagi kita. Tuhan pemilik jiwa, maka kita akan mengerti , kepada siapa dan kapan waktu yang tepat untuk menginjil dan Roh Kudus pun bekerja. Pengalaman Rasul Petrus merupakan pengalaman yang indah. Walau banyak rintangan (karena banyak jemaat yang rapuh mudah terpengaruh) marilah kita dengan mudah saling menyemangti. Sehingga dalam pemberitaan Inji, penyertaan Roh Kudus dinyatakan dan Injil diberitakan dengan semakin semangat. Para misionari menghadapi banyak tantangan dalam memberitakan Injil namun mereka semakin berkobar dan bergairah. Kiranya jemaat Tuhan bertumbuh dewasa , dalam mengatasi masalah dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang Tuhan sedikan, bukan pada orang yang sudah percaya, belum dibaptis atau belum sungguh-sungguh  percaya. Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa dan dengan pertolongan Roh Kudus coba buktikan hal tersebut. Maka sebagai anak dan murid Tuhan, kita akan lebih bergairah. Mungkin di gereja tidak ada api dan gairah, tetapi melalu kelompok kecil dan kelompok penginjilan  pribadi, Tuhan akan memberikan jiwa kepada kita. Sadarilah ada jiwa yang Tuhan sediakan! Hari-hari ini menunggu kesaksian kita. Kalau belum ada berdoalah, agar mereka disediakan Tuhan untuk mendengarkan kesaksian kita.



No comments:

Post a Comment