Friday, October 19, 2012

Bertumbuh, Mengasihi Allah & Sesama Melalui Komunitas



Ev. Yohanes Budhi,


Maz 1:1-6
1   Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
4   Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
6  sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Mat 22:37-40
37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Berbicara tentang pertumbuhan rohani, kita menyadari bahwa kerapkali pertumbuhan rohani kita berjalan begitu lambat. Atau bahkan mandeg. Saya dibesarkan sebagai seorang anak pendeta, sehingga dari kecil dari berada di gereja. Dan saat ini saya sudah dewasa dan papa saya masih tetap pendeta. Pada waktu saya kecil saya sering mendengar orang-orang di gereja berdoa. Dan kemudian saat saya jadi dewasa mereka menjadi tua. Ketika saya kembali ke rumah berbakti di rumah di gereja saya dulu, saya mendengar mereka berdoa tetap sama seperti waktu saya kecil dulu. Jadi saya berpikir seakan-akan berhenti lambat tidak maju-maju dari dulu sampai sekarang. Kemudian saya mengingat-ingat doa saya kembali, bagaimana saya berdoa untuk makan, bagaimana saya berdoa untuk tidur ternyata antara 10 tahun lalu dan saat ini sama saja. Terkadang itu seperti jadi kebiasaan, kalau tidak berdoa tidak enak. Tanpa memiliki suatu makna bersyukur atas makanan dan berkat pemerliharaanNya. Jadi ada begitu banyak orang Kristen pertumbuhan rohaninya bantet atau malah mengalami kemunuduran. Bagaimana, kita dapat bertumbuh dengan sehat, apa yang dibutuhkan untuk tumbuh dengan sehat?

Pada waktu kita berkata bertumbuh, kita akan bertumbuh kemana dan seperti apa? Kadang kita tidak mengerti kita bertumbuh seperti tokoh-tokoh yang kita kagumi. ATau tanpa kita sadari kita bertumbuh seperti papa mama kita. Tentunya ini merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan. Tetapi dalam kehidupan rohani kita perlu bertanya kita bertumbuh mau kemana? Melalui Maz dan Matius kita bisa melihat, inti dari pertumbuhan rohani itu apa? Dari Mat 22:37-40 , kita diberikan arah pertumbuhan kita. Yang dikehendaki Tuhan adalah kita bertumbuh dalam inti kehendak Tuhan. Apa itu? Kita bertumbuh dalam kasih, kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dan sesame kita seperti diri kita sendiri. Dunia ini waktu diciptakan adalah dunia yang penuh kasih. Manusia , Adam, mengasihi Allah dan Hawa, sesamanya seperti mengasihi diri sendiri. Tetapi setelah manusia jatuh dalam dosa, maka mengalami kerusakan. Manusia tidak lagi mengalami perdamaian dengan Tuhan. Manusia tidak lagi berdamai dengan sesamanya. Kita bisa melihat itulah pertengkaran suami istri yang pertama saat Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa. Adam menyalahkan Hawa, inilah penyebab kegagalanku. ITulah cikal0bakal ketidakharmoisan itu. Ternyata manusia tidak berdamai dengan diri sendiri. Manusia malu dengan dirinya sehingga menyemat daun utnuk menutupi dirinya. Ada di antara kita yang mungkin sulit berdamai dengan diri sendiri. Kita tidak merasa bangga dengan diri sendiri. Kita tidak merasa berharga , dicintai  dalam hidup ini. Kita tidak bisa bersyukur akan apa yang diberikan TUhan pada diri kita. Kita mungkin iri dengan orang lain mengapa orang lain lebih cantik, lebih kaya, lebih pintar dlsbnys daripada aku.Tetapi TUhan telah tebus kita melalui YK, melalui YK hubungan kita dnegan Allah dan sesame juga diri sendiri dipulihkan. Itulah karya dari penebusan YK. Karya ini belum mencapai kesempurnaannya dan kita dipanggil oleh T dari hari ke hari diperbarui ke Allah itu. Kita dipanggil Tuhan Allah kita untuk mengasihi dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Dan dipanggil mengasihi sesame kita seperti diri sendiri. Bagaimana kita bisa bertumbuh seperti Y yang wujud dari Allah itu. Y yang adalah model dari pertumbuhan kita. Yakni bagaimana kita bertumbuh dalam kasih. Maka kita melihat hal yang plainginti dalam pertumbuhan itu. Yang paling penting dalam suatu pertumbuhan adalah kita menempel pada sumber kehidupan. Allah memberikan gambaran kepada kita. Maz 1:3 dijelaskan bahwa tanaman bisa bertumbuh dengan baik jika ia sepewrti di tanam ditepi aliran air yang menghasilkan buah pada waktunya dan tidak layu, apa saja yang diperbuatnya berhasil. Jadi dari sini kita bisa melihat suatu gambaran dari ALkitab. Suatu tanaman bisa bertumbuh dengan baik bisa melekat pada sumbernya yakni aliran air. Pohon yang ditanam di tepi aliran air akan berbuah dan tidak layu. Bagaimana kita bisa bertumbuh dalam kasih, seperti K yang adalah wujud kasih, jika roh kitaditanam dalam aliran kasih sendiri, jikalau hidup kita dihangatkan oleh kasih. Jikalau hidup kita disegarkan oleh kasih. Jikalau kita hidup menikmati kasih. Kita bisa melihat lebih lanjut, perbedaan kontras antara orang benar dan fasik di pasal 1. Orang benar seperti pohon ditanam di tepi aliran air. Tetapi orang fasik seperti sekam ditiup angin. Orang fasik tidak menempel pada sumber kehidupannya sehingga ia tidak bisa bertumbuh dan berbuah.

Hal yang penting dalam pertumbuhan itu, selain menempel pada sumber kehidupannya. Ia bisa bertumbuh dengan baik bila ditanam pada lingkungan yang sehat. Bonsai adalah tanaman yang bisa berupa cemara yang 5 m tapi seumur hiudpnya hanya 15 cm. Mengapa bisa demikian, karena benih dari cemara, yang memungkinkan bertumbuh jadi 2 m ditanam di pot yang dibatasi sekali gizi makanannya. Demikian juga kita bisa bertumbuh dengan baik jika kita ditanam di tanah yang baik. Di dalam Maz 1 dijelaskan, orang benar bisa bertumbuh dengan baik, jika tidak ditanam dalam nasehat orang fasik, jikalau tidak ditanam di jalan orang berdosa , jikalau tidak ditanam di kumpulan pencemooh. Saya pernah memiliki teman SM yang berasal dari 1 keluarga sekolah Minggu. Waktu kecil rajin melayani TUhan, mereka berminat mengikuti program di sekolah, saat remaja bertumbuh , tapi tampaknya iman mereka gugur satu per satu. Kakak tertuanya pernah masuk ke Sekolah Teologi. Setelah lulus, ia undurkan diri dan hidupnya rusak. Mengapa? Karena ia tinggal di daerah lokalisasi pelacuran. Selain mempeljari FT ada banyak pengaruh lingkungan yang tidak bisa dibendung. INilah prinsip pertumbuhan. Kita tidak bisa bertumbuh dengan baik, jika kita ditanam dalam lingkungan buruk. Pertanyaan kita : bagaimana kita bisa mendapatkan lingkungan yang sehat itu? Dunia itu reruntuhan Eden. Darimana siraman kebaikan kita dapatkan , sehingga kita bertumbuh dengan baik. Dimana lingkungan yang sehat itu. Jika kita lihat dunia entertainment. Ada berapa banyak hiburan yang sehat? Bila bicara masyarakat yang baik, apakah mudah mendapatkan masyarakat yang bersih KKN, kita bertumbuh dalam reruntuhan Eden. Lingkungan yang tidak sehat itu, dimanalingkungan yang bisa tumbuh sehat? Jawaban ALkitab, di gereja. Gereja adalah wujud kehadiran dari Kristus itu. Kita bisa melihatnya 1 Pet 2:5, Mat 18:20. 1 Pet 2:5 : Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup bagi pembangunan rumah rohani. Untuk mempersembahkan suatu persembahan rohani yang karena YK berkenan kepada Allah. Jadi disini kita bisa melihat, kita adalah batu yang dususun untuk membangun Bait Allah itu. Melalui batu-batu itu Tuhan hadir di tengah kita. Jadi persekutuan, ikatan kasih kita adalah tempat dimana RK itu hadir di tengah-tengah kita. Kristus itu hadir di tengah kita. Mat 18:20 : Sebab dimana 2-3 orang berkumpul dalam namaKu, disitu AKu hadir di tengah mereka. Ayat ini mengaskan, jikalau 2-3 orang Kristen bersekutu dalam ikatan kasih, maka TUhan dengan segala kebaikan juga hadir di tengah kita. Kita juga bisa merasakan kehadiran Kristus, melalui kehadiran saudara-2 kita. Kita bisa mengalami pertolongan Kristus, melalui kebaikan saudara seiman kita. Darimana kita bisa mendapatkan semua itu? Martin Luther menjelaskan kepada kita, apakah peran sesungguhnya dari sebuah gereja? Gereja adalah seperti mama bagi orang percaya. Mama yang member kasihnya dan memberikan kehidupan pada anak-anaknya. Marilah kita menjadi mama bagi yang lainnya yang menyatakan kasih seorang kepada yang lainnya.

Yang menjadi permasalahan dalam kehidupan kita, kita terjebak dalam peraturan yang begitu banyak di gereja yang dibuat untuk suatu tujuan yang baik. Terkadang kita hanya terpaku pada peratauran itu dan melupakan prinsipnya. COntoh : di banyak tradisi gereja, diajarkan bahwa waktu ke gereja, kita harus pakai pakaian yang sopan, jangan pakai jin. Ini adalah sesuatu yang baik. Tetapi suatu saat , hujan , semua celana dan rok dijemur dan kita mau ke gereja, semuanya basah yang ketinggalan hanya jin, maka pilih ke gereja dengan celana jean atau tidak ke gerea? Saat kita pilih celana jean, semua mata akan menuduh kok kamu pakai celana jean sehingga kita harus menjelaskan satu per satu ke semua orang. Dlama banyak hal kita juga harus menjelaskan seperi itu. Saat mereka menjelaskan kelemahan mereka, apa kita siap mendengar tanpa menghakimi. Aku merasa bosan ke gereja, aku mau pindah gereja. Bagaimana menjelaskan? Atau seseorang menjelaskan hobinya, aku senang sekali nonton film. Dan aku senang Harry Porter. Bagaimana respon saudara seiman kita?Ngapain nonton HP itu kan tentang magic, setan. Lalu mereka berkata, malas ah aku ngomong seperti itu. Aku datang ke gereja dan bersekutu di permukaan saja. Dengan dmeikian maka persekutuan tidak lagi terbentuk, orang-orang di gereja nampaknya semua baik-baik saja. Kehidupan keluarganya sungguh ideal karena luka di dalamnya tidak pernah tersentuh. Setiap kali ditanya apa yang mau didoakan, supaya pelayanan lebih baik, dll yang positif. Berikutnya kesulitan yang membentuk persekutuan Kristen : kita menjadi orang yang tersendiri 1 dengan lain. Kita hidup di dunia yang individualis. Ddlaam suatu desa, kita mengenal 1 dengan lain. Tetapi di kota besar tidak demikian. Antara 1 tetangga dengan yang lain bisa jadi tidak saling mengenal. Kita semua dibebani pekerjaan dan tuntutan berat. Keinginan maju begitu tinggi. Sehingga kita merupakan orang disebelah kiri-kakan kita dan kita tidak perduli dengan semua itu. Kita melihat di gereja, ada orang yang pilih gereja yang besar, karena di gereja besar tidak perlu kenal 1 dengan lain. Mereka datang seperti melihat pertunjukan, bioskop, teater dllnya. Sebenarnya tidak terlalu pusing. Siapa orang di sebelah , bergumul apa? Untuk tumbuh dengan baik, kita perlu mengupayakan komunitas yang mendukung. Komunitas ini dimulai dari mana? Di mulai dari pribadi-2 kita sendiri. Kita berlajar menaruh kasih pada keluarga kita, kelompok komsel kita, gereja local kita lalu kita mendapat kasih dari mana? Kalau kita member terus tanpa menerima lama-lama kita menjadi kering. Kita habis karena kita tidak mendapat sumber kehidupan , kasih yang menghangatkan. Jawabannya : kita mendapatkan dari keluarga kita yang member masukan kasih kepada kita. Kita mendapatkan dari kelompok komsel kita. Kita mendapatkan dari gereja local kita. Demikian selanjutnya. Yang penting adalah kehidupan pribadi kita masing2 , kehidupan kasih yang dibangun dalam keluarga, kelompok kecil/komsel dan kehidupan kasih yang dibangun dalam gereja local. Karena memainkan peran kecil. Jika menama tumbuhan , hari ini dipot ini sebelum adaptasi yang baik dipindahkan ke pot yang lain lalu dipindahkan lagi ke pot yang lain lagi, apakah tumbuhan akan bertumbuh dengan baik? Kalau saya punya kura2 , hari ini ditaruh di akuarium depan, sebelum adapatasi di sana, saya pindah ke akuarium di bagian tengah, lalu dipindah ke bagian luar. Lalu saya cempulungkan ke kolam, saya masukan ke toples dan balikan lagi ke akuarium belakang. Apakah akan tumbuh sehat, bertelur? Tidak. Kita perlu ditanam di gereja local untuk mengalami pertumbuhan. Itu tidak mudah. Karena di gereja local kita berurusan kenal dengan kenal sehingga kita saling tahu borok. Kamu kadang menyenggol borokku dan sebaliknya. Tetapi pengalaman ini perlu untuk suatu pertumbuhan yang baik. Jadi kita bisa melihat inilah yang dibutuhkan dalam pertumbuhan yang baik.

Secara pribadi bgmn bisa kembangkan kasih? Kita harus terus menyadari kasih T dalam hidup kita, menikmati kasih Tuhan ternyata kasih Tuhan begitu nikmat bagiku dan aku mau membagikannya. Marilah kita belajar menyamnyikan lagu KasihNya seperti sungai.  Marilah kita belajar, hitung berkatmu satu per satu. Setelah kita mendapatkan berkat, kita ingin membagikan berkat itu dengan yang lain. Marilah kita membagikan sebagai suatu budaya. Untuk peduli dan perhatian untuk 1 dengan lain. Kita beljar mengerti selera orang di sekeliling kita. Pergumulan2 dan kelemahannya. Marilah belajar berbaik hati dalam kehidupan ini. Ramah thp orang di sekeliling kita. Inilah yang bisa kita lakukan.

Di keluarga, kita perlu membentuk persekutuan di meja makan. Kita memiliki waktu , berbicara dan mendengar satu dengan lainnya. Kecenderungan zaman sekarang dengan alat teknologi, kita seakan mudah berkomunikasi, tetapi dealam hidup keluarga komunikasi menjadi berkurang. Masing2 anggota keluarga, melihat siaran TV nya sendiri. Masing keluarga saat kumpul, bingung dengan BBM dan SMSnya sendiri sehingga persekutuan keluarga menjadi rapuh. Keluarga tidak lagi memberikan kehangat kasih. Pribadi di dalamnya menjadi kekurangan kasih. Sehingga kita kembangkan perskeutuan di meja makan, sambil makan ngobrol. Dalam kehidupan kita, kita bisa undang orang lain makan. Kita bisa melakukan open house, pintu rumah di buka. Pengalaman di gereja Belanda. Saya tinggal dengan 1 keluarga Kristen saat mereka makan malam, mereka selalu berbicang FT dan saling sharing 1 dengan lainnya, salin gmendoakan. Kemudian hari minggu, mereka mengundang jemaatnya untuk datang ke rumahnya. Sang papa mempersiapkan hidangan lezat untuk teman-temannya, mereka bisa bersendaru gurau, berbicang-bincang dengan bebas. Ini bisa diterapkan dalam suatu keluarga. Selain keluarga , kita perlu komunitas kecil. Dalam kelompok kecil, kita bisa memiliki Pembina rohani, bisa berkomunitas apa adanya, membagikan suka duka , membuat proyek-proyek ketaatan.  Misalnya : dalam kelompok kecil, bisa meminta ijin ke rumah sakit sewaktu di Belanda, kelompok kecil meminta ijin untuk membersihkan tempat TBC. Dalam proyek itu kita tumbuh bersama membagikan kasih kita. Kita membagikan dalam kelompok yang lebih besar. Jadi kita perlu ibadah seperti ini, dan program lainnya yang rileks seperti itu. Dengan demikain kita membuat komunitas orang percaya yang bertumbuh dalam kasih. DD masing2 dari ktia bertumbuh dalam kasih. Amin

Bangkitlah Komselku



Ev Jeffrie Lie

Kis 2:43-47


Pendahuluan
Komunitas di dalam gereja Tuhan seharusnya berbentuk lingkaran (circle), di mana kita melihat kebutuhan sesama orang percaya. Ada beberapa kesaksian di gereja tempat saya pelayanan. Ada seorang ibu yang bersaksi. Suatu malam suaminya sakit (sesak nafas) dan butuh pertolongan karena anak-anaknya belum terlalu besar. Entah kenapa ia mengangkat telepon dan menghubungi teman komselnya. Lalu teman itu cepat datang dan membawa suaminya ke rumah sakit. Inilah sebuah persekutuan di dalam Tuhan. Ada juga seorang ketua kelompok yang mengalami masalah dalam hidupnya. Ia stress berat dan ingin keluar dari persekutuan pemuda. Ia mengajukan banyak alasan. Kemudian saya kumpulkan semua ketua komsel yang saya didik dan ajak mereka makan bersama. Saya ceritakan pengalaman dan kekecewaan dalam pekerjaan saya. Saya membuka bagian-bagian yang mungkin saya malu ungkapkan untuk sharing. Akhirnya saya berkata, “Ini ceritaku, apa ceritamu?” Lalu mereka satu per satu cerita bergiliran sampai tiba di pemuda yang bermasalah itu. Usianya sepantaran saya. Ia pemuda yang sukses secara materi. Ia berjuang sendiri membuka usaha secara online. Usahanya sudah berjalan sehingga tidak perlu ia terus datang ke tempat usahanya namun cukup mengawasinya saja. Tetapi kemudian ia stress karena ia tidak punya pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan. Ia “tidak bekerja” tapi uang datang. Ia tidak memiliki teman yang dekat, sehingga ia menemukan hidupnya begitu hampa karena ia memiliki karakter yang agak berbeda dengan temannya yang lain. Ia stress karena tidak bekerja. Ia ceritakan semua masalahnya. Ia merasa tidak diterima teman-temannya sehingga berpikir untuk pindah ke komunitas lain. Yang menarik, solusi masalahnya tidak datang dari saya, tetapi dari teman-teman ketua kelompok kecil yang memberikan masukan yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Saya tidak dapat memberikan perspektif ini, tetapi teman yang lain bisa karena memandang dari sudut yang lain. Sehingga akhirnya ia berkata-kata, “Thank you teman-teman. Saya pikir ini komunitas yang saya cari, komunitas untuk berbagi hidup.” Itu komunitas yang berbentuk lingkaran.

Sekitar tahun 2000 ada film tentang seekor semut yang bernama Zee. Film ini dimulai dari keluhan Zee. Semut hidup berkoloni dan bekerjasama untuk menghidupi mereka semua. Tetapi Zee kemudian mengeluh. Kenapa aku harus bekerja untuk semua semut di koloni ini? Kenapa aku harus perhatikan kepentingan kelompok / koloni? Bagaimana dengan kebutuhanku? Ada 3 hal yang membuat komsel ada di dalam gereja tetapi seperti ada dan tidak ada. Ada programnya, tetapi mati segan hidup tidak mau. Tantangan pertama : individualisme (mementingkan diri sendiri). Kedua : mengisolasi diri (mengurung diri) ada orang yang tidak mau bersosialisasi dalam gereja. Ketiga : konsumerisme (gaya hidup yang terlalu berfoya-foya).

Individualisme
Dimulai dengan pertanyaan, “Bagaimana dengan kebutuhanku? Bagaimana dengan diriku?” Banyak orang datang ke gereja dengan pertanyaan ini. Kita bisa terjebak dengan pertanyaan ini. Kalau kebutuhan tidak diperhatikan, kita mulai berpikir untuk keluar dari gereja. Ini jadi penghambat. Rasul Paulus menghadapi masalah yang sama di Filipi. Pada Fil 2 dikatakan hendaklah kamu mengosongkan diri seperti Kristus. Alasannya : orang-orang di Filipi mulai berkata untuk “kepentinganku”. Rasul Paulus berkata, “Jangan pikirkan kepentingan diri sendiri tapi kosongkanlah diri”. Apakah waktu saya berkelompok kecil, saya tanggalkan kepentingan saya lalu saya tidak pernah berpikir kepentingan saya tetapi kepentingan teman kelompok kecil saya? Apakah berkomunitas itu berarti kematian bagi kepentingan individu? 

Tiga Jawaban atas Individualisme
1.       Kej 2:18. 7 kali dalam waktu penciptaan, Tuhan berkata, “baik, baik,baik… “ dan diakhiri dengan kata sangat baik setelah penciptaan manusia. Sampai penciptaan berakhir, pada Kej 2 Adam tidak menemukan teman yang sepadan (cocok) dengan dia.  Memang manusia tidak baik seorang diri bukan saja dalam kaitan dengan pasangan. Allah melihat tidak baik kita sendiri lalu ciptakan Hawa dan menutup dengan kalimat “sungguh amat baik”. Individualisme tidak baik sama sekali. Orang yang mementingkan diri sendiri membawa ketidakbaikan di tengah gereja. Kej 3: Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Adam mulai menyalahkan Hawa demi kepentingannya sendiri. Dosa masuk dalam dunia membuat manusia menjadi manusia yang egois karena berpusat pada kepentingan diri sendiri. Gereja bukan tempat orang-orang yang sempurna. Gereja isinya orang berdosa yang harusnya dididik. Bila ada orang berdosa masuk ke dalam gereja, maka ada keegoisan dalam gereja. Itu merusak persekutuan dalam gereja. Waktu datang ke gereja, apakah kita berpikir apa yang akan saya dapatkan? Kalau pertanyaan ini terus ditanyakan, kita terjebak dalam individualisme.
2.       Komunitas dan individu dalam jemaat mula-mula Kondisi jemaat mula-mula menjual hartanya lalu membagikannya kepada jemaat (Kis 2:44-46). Perlukah kita meniru jemaat mula-mula. Yang punya rumah 2, dijual 1 supaya bisa dibagika? Harta diserahkan ke gereja supaya tidak ada yang kaya atau miskin?. Tidak ada yang mau demikian. Andy White, sarjana Alkitab, melihat aspek sosiologis dari ayat ini. Jemaat mula-mula tidak menjual harta miliknya semua. Di Alkitab tertulis mereka masih berkumpul di rumah-rumah. Artinya ada yang masih punya rumah dan mereka bergantian berkumpul dari rumah ke rumah. Kalau dijual semuanya berarti tidak punya rumah. Mereka masih bekerja untuk mencukupkan kehidupan mereka. Tidak semua aspek itu untuk mereka semua. Sebagian mereka punya tanah yang luas, dijual lalu diserahkan ke rasul untuk dibagikan. Tapi mereka tidak menjual semua. Kita bertanggung jawab secara pribadi. Seperti  kata Paulus  “Kalau kamu tidak bekerja jangan makan”. Kalau ada yang tidak bekerja jangan dikasih makan, karena setiap orang harus bertanggung jawab atas kebutuhan biaya hidupnya masing-masing. Namun di pihak lain ada tempat untuk men-sharing-kan kebutuhan dengan orang lain. Sehingga realitas dari komunitas Kristen tidak meniadakan kebutuhan individu. Bukan sekedar komunitas yang jual semua miliknya lalu dibagikan bersama tetapi individu yang ada saling melengkapi. Kita bertanggung jawab atas kebutuhan masing-masing, dan kita saling melengkapi satu dengan lain. Bagaimana dengan kebutuhan teman kelompok kecilku? Maukah kita belajar mendengar kelompok kecil masing-masing lalu berani membagikan hidup kita bagi mereka? Jangan jadi orang Kristen yang tidak mau tahu. Kita tahu, tetapi berpikir, waktu kita akan terbuang dll, sehingga tidak mau tahu. Celakalah hidup seperti itu. Ada tempat bagi individu tetapi ada tempat untuk sharing satu dengan lain.
3.       Personal salvation yang tidak sempit. Waktu diselamatkan, hidup kita dialihkan dari personal ke orang lain. Sehingga fokus hidup bukan sekedar kekudusan, keintiman kita dengan Tuhan tetapi bagaimana membantu orang lain hidup kudus, hidup intim dengan Tuhan. Banyak orang datang ke gereja untuk menyembah Tuhan. Ia datang, menyanyi, duduk dengar Firman Tuhan, beri persembahan, lalu pulang. Hal seperti itu bisa dilakukan di rumah. Itu bisa dilakukan tanpa pergi ke gereja. Tetapi bukan untuk itu kita ke gereja tetapi bersekutu, bagaimana kita memperhatikan dan membantu mereka secara alamiah dan bertumbuh dalam Tuhan. Bukan personal salvation tidak penting. Orang bermain sepakbola tidak sekedar menendang dan memberikan umpan tetapi menyangkut karakter. Bagaimana pemain sepakbola bermain dengan sportif. Keselamatan itu tidak sekedar bersifat personal tapi lebih dari itu. Apakah itu berarti meniadakan bahwa dalam sepakbola, yang ada “menendang dan mengumpan”? Kekristenan berbicara personal salvation, tetapi kekristenan lebih dari sekedar itu.

Karl Barth menulis “Pemilihan di dalam Kristus”. Semakin menulis ia berpindah ke pemilihan yang terjadi dalam sebuah komunitas. Artinya untuk berada di dalam Kristus, kita harus menjadi bagian dari tubuh Kristus. Untuk memiliki hubungan dengan Allah , kita harus menjadi bagian dari keluarga Allah. Kalau ada orang datang ke gereja, tidak mau komunitas, sharing hidupnya, tidak mau perhatikan kebutuhan orang lain, orang itu menghidupi hubungan yang semu. Jika kita ingin benar-benar hidup sebagai orang Kristen yang punya hubungan baik dengan Allah maka kita harus jadi bagian dari keluarga Allah. Komunitas setiap minggu pergi ke gereja tidak cukup. Ibadah hari minggu dibuat untuk menguatkan jemaat hidup bagi Kristus. Tempat yang paling dalam dimana kita memiliki keintiman adalah dalam kelompok sel. Di situlah tempat di mana kita bisa nangis bersama, sharing, membagikan, memikirkan orang lain, tergerak empati meskipun kita harus mengorbankan uang dan waktu kita. Bukan saja menguatkan orang lain tetapi menguatkan hubungan kita dengan Tuhan. Tidak cukup 40-50% jemaat yang ikut dalam komsel.  Bill Donahoe dan Russ Robinson bergumul tentang  The Church with Small Group (gereja punya banyak program salah satunya kelompok kecil) or The Churh of Small Group (gereja yang ada karena terdiri atas kelompok kecil). Gereja yang secara keseluruhannya terdiri dari kelompok kecil-kelompok kecil, jadi semua orang ikut kelompok kecil. Sejak 1992-2002 hal ini dilakukan di gereja mereka. Hari ini gereja mereka menjadi the church of small group. Saya menantang untuk berpikir persekutuan pemuda di gereja mau dibawa kemana? Hal ini juga berlaku untuk PKS. Mau dibawa kemana gereja ini? Sebagai PKS mulailah sharing hidupmu. Saat berani menanggalkan kepentinganmu maka kelompok akan sharing hidup mereka. Sepulang saya berkelompok kecil, saya berdoa, “Tuhan malam ini saya lelah bersekutu tetapi sebagai pemimpin saya berkata, bukan saya tetapi kelompok kecil yang saling menguatkan.” Saya menemukan makin mencintai kelompok saya. Saya menemukan bahwa kelompok kecil yang ada memperkaya masing-masing. Itu dimulai dengan berani men-sharing-kan hidup saya. Saya rindu kelompok di GKKK , setiap kelompok berani mengambil langkah kecil untuk sharingkan hidup.

Kelompok Sel


Ev. Jeffrie Lie

Kis 2:41-47
41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42   Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43  Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45  dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46  Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47  sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.
Pengkh 4:7-11

Komunitas yang dipunya dalam gereja berupa line community (komunitas baris) atau berbentuk lingkaran (circle community) ?
Carl Owen (?) memikirkan topic ini.  Gereja biasanya membentuk garis lurus atau lingkaran. Berbentuk garis berarti kita duduk bersebelahan tapi hanya melihat punggung orang itu , kita tidak bergaul dengan orang itu. Tetapi kita seharusnya menciptakan komunitas berbentuk lingkaran, sehingga bisa saling melihat.  Sehingga saat saya sedang bicara dengan remaja yang dibina saya memintanya untuk melihat mata saya. Karena  hal itu berarti ia sedang memperhatikan saya. Komunitas yang berbentuk lingkaran adalah komunitas yang saling memperhatikan. Yang berbentuk garis , komunitas orang asing, hanya menunggu kapan giliran maju ke depan. Yang berbentuk lingkaran, komunitas terdiri dari teman yang kenal serta aktif bergaul. Ini yang banyak terjadi di gereja.

Gerakan komsel merupakan cikal bakal gereja Tanpanya gereja bukanlah gereja. Orang hanya datang hari  minggu lalu duduk di tempat nyaman yang ia sukai. Lalu menyanyi, mendengarkan firman Tuhan, berdoa sungguh-sungguh, setelah ‘amin’ lalu pulang tanpa mengenal orang yang ada di kiri, kanan, depan dan belakang. Itu bukanlah komunitas. Itu adalah komunitas semu. Komunitas yang benar, bukan saja dibangun atas dasar hubungan dengan Tuhan tetapi juga dengan sesama. Sebagian gereja menolak program kelompok kecil. Sebagian lagi mengadakan komsel tapi kurang peminat. Ada yang bilang karena bosan (lebih baik pergi dengan keluarga). Alasan lain, tidak nyaman kalau ada yang tanya hal pribadi kita (gua aja tidak tanya elu ngapain elu tanya gua, jangan tanya dong!) karena kita takut, detil hidup kita diketahui orang lain. Ketiga, alasannya kita berbeda satu dengan yang lain. Saya punya karakter, latar belakang yang berbeda dengan yang lain. Saya merasa tidak cocok dengan kelompok kecil dan mengundurkan diri dari kelompok kecil. Ada lagi yang berkata, apa untungnya ikut kelompok kecil? Bukannya cukup ibadah hari minggu? Masalahnya : bukan bagaimana kelompok kecil dirancang atau bagaimana bahannya karena bisa saja dicari-cari celah untuk katakan kelompok kecil di gereja tidak asik.

Persoalannya : Pada Kis 2:42. ada istilah persekutuan yang berkumpul. Istilah berkumpul (koinonia) artinya sekumpulan orang yang percaya Kristus. Dalam Yunani lawan katanya adalah pleonexia (sikap mau menang sendiri). Orang segan berkumpul karena kita egois (mementingkan diri sendiri). Jemaat mula-mula mampu mengalahkan keegoisan mereka. Sekarang hidup kita demikian. Saat buka Facebook, ada banyak teman. Saya punya teman 1.500 tapi sebagian tidak saya kenal. Anak muda banyak mencari koneksi dengan yang lain.  Tetapi mereka mencari komunitas semu. Mereka tidak suka komunitas yang nyata  (face to face). Beberapa kasus remaja yang fasih bicara waktu menggunakan media sosial.  Setiap kali mau berhubungan atau bertanya saya ajak untuk bertemu. Saya ingin mengajarkan, yang penting bukan yang maya tapi yang nyata. Jangan-jangan kita tidak mengikuti komsel karena kepentingan diri sendiri.

Dalam gereja mula-mula , ada kebangunan rohani yang terbesar dalam sejarah. Bagaimana 3.000 orang menerima Yesus lalu dibaptis, tapi tidak berhenti dan berkembang jadi 5.000 orang? (Kis 2:41; 4:4) Bersekutu – bertumbuh – bermultiplikasi. Caranya : tiap-tiap hari berkumpul dalam Bait Allah / Sinagoge. Mereka berkumpul bersama menyembah Tuhan juga selau berkumpul bersama di rumah-rumah (kelompok kecil). Mereka menyembah Tuhan selain di Bait Allah juga di rumah-rumah secara bergiliran. Inilah rahasia terbesar, mengapa dari 3.000 orang menjadi 5.000 orang. Karena mereka mau menanggalkan keegoisan mereka.

Dalam sejarah ada seorang tokoh gereja yang dipakai Tuhan untuk mengadakan kebangunan rohani di Inggris, namanya John Wesley (bapak munculnya gereja Metodis namun ia berasal dari gereja Anglikan). Ia merasa perlu sharing firman Tuhan dengan orang lain walau ia dilarang berkhotbah. Lalu ia berpikir bagaimana ia bisa berkhotbah. Satu-satunya tempat yang paling aman adalah berkhotbah di atas kuburan kakeknya. Karena siapa yang akan tangkap dia saat itu? Ternyata banyak yang datang memperhatikan dia dan mendengarkannya. Sewaktu meninggal di usia 87 tahun, ia telah berkhotbah 40.000 kali! Selama 60 tahun khotbah maka setiap tahunnya ia berkhotbah 667 kali artinya hampir 2 kali setiap hari ia berkhotbah. Warisan yang bermanfaat bagi gereja yaitu prinsip pemuridan dalam kelompok kecil (class meeting). Wesley bisa memiliki pandangan demikian karena ia dipengaruhi ibunya, Susannah Wesley yang mengajarinya disiplin yang artinya sikap yang selalu memberi tempat bagi segala sesuatu dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Ia juga dipengaruhi Pietisme (gerakan kesalehan dan kekudusan hidup dari Jerman). Baginya disiplin adalah kunci kesalehan dan kekudusan hidup. Tanpa disiplin rohani , seseorang tidak mungkin memiliki kekudusan. Orang yang baru bertobat (ibarat bayi) perlu dibimbing. Tanpa pemuridan maka 9 dari 10 petobat baru akan jatuh lagi pada dosa-dosa lamanya dalam waktu yang singkat. Di semintari tempat saya sekolah, kami membuat camp se-Sumatra (Jambi-Lampung) yang diikuti sekitar 350 anak muda. Saya memperhatikan fenomena yang terjadi. Ada banyak anak yang biasanya maju saat altar call untuk bertobat lalu dilayani secara rohani. Tahun depan ia ikut dan maju lagi saat altar call. Setiap KKR saya lihat anak yang sama. Saya dekati dan tanya masalahnya. Dia bertobat kepada Kristus , kembali ke gereja tapi tidak dibimbing dengan baik. Ia tidak punya komunitas untuk menolong dia menjaga komitmen. 9 dari 10 petobat yang enggan ikut komsel kembali kepada dosa yang lama.

Isi kelas muridan (class meeting) :
-          Mengusahakan kesalehan bersama
-          Berdoa dan membaca firman Tuhan bersama
-          Saling memperhatikan satu sama lain (berbagi cerita). Ada pengajaran Alkitab dan saling berbagi kehidupan (cerita kehidupan masing-masing).
-          Menguji keselamatan masing-masing dengan pertanyaan : adakah dosa yang telah anda perbuat 1 minggu yang lalu? Adakah pencobaan? Bagaimana mengatasinya? Adakah pemikiran, perkataan atau perbuatan yang menyimpang? Tanpa pertanyaan rinci ini, kita tidak akan mengalami pertumbuhan. Kita butuh orang lain menjaga kita. Pada youth ministry  yang saya layani sedang membangun kelompok kecil, dengan pertanyaan yang sampai ke masalah kecil. Disiplin rohani ini yang dibutuhkan dalam gereja. Bagaimana kalau bocor? Apa yang diceritakan bukan untuk dibicarakan tetapi menjadi pokok doa bersama dan saling mendukung. Mari memperhatikan kelompok kecil masing-masing.

Ada yang merasa, saya tidak cocok atau berbeda dengan yang lain. Seperti permainan catur dan dam (checkers). Permainan dam, semua pion memiliki peran yang sama, fungsi yang sama. Sedangkan permainan catur , masing-masing berbeda. Dalam kelompok kecil, kita saling memperlengkapi. Orang yang tetap tidak mau berkelompok kecil ibarat kanker. Sel kanker adalah sel yang berontak kepada otak. Sel yang memisahkan diri dari keutuhan tubuh kita. Jika kita tidak mau berkomunitas dalam kelompok kecil jangan-jangan kita menjadi kanker dalam gereja. Sel yang tidak ingin bersatu dan berontak terhadap gereja. Sel ini bahaya karena dapat mengancam keutuhan. Prioritas dalam hidup kita : disiplin rohani, usaha menyediakan ruang di mana di dalamnya Allah bekerja. Kita siapkan space, Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Bukan berarti Tuhan tidak bekerja kalau tidak sedikan space tetapi makin berusaha membuat space , kita akan melihat Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ada tahap pengudusan yang harus kita kerjakan setiap hari, disinilah peran disiplin rohani.

Tuesday, October 16, 2012

Bibliology (1) 
Ev Inawaty
Komsel Pemuridan 9 September 2012
Beberapa puluh tahun lalu, para ahli mengatakan bahwa tidak mungkin kitab Pentateukh (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan) ditulis Musa karena saat itu belum ada tulisan. Ternyata ditemukan bahwa pada 2500-3000 SM sudah ada tulisan. Padahal Musa menulis sekitar 1400 SM, jadi sesuatu yang wajar karena tulisan sudah ada. Apalagi Musa dididik di istana Mesir sehingga punya pengetahuan yang luar biasa. Pada zaman dulu orang menulis di batu. Contoh : Hamurabi Code dan Ten Commandment (Sepuluh Perintah Allah). Tetapi tulisan di batu tidak mungkin dibawa (karena berat), sehingga kemudian ditulis di tanah liat dan kayu. Yang relevan dengan Alkitab adalah tulisan pada kulit binatang, papyrus di Mesir , perkamen (kulit tipis yang bisa dijadikan gulungan kitab) seperti Paulus menggunakannya lalu kertas. PL dan PB ditulis di perkamen (gulungan-gulungan kitab). Mungkin 1 gulungan terdiri dari 1 kitab atau kurang (kalau tulisannya banyak). Susunan kitab di Alkitab tidak seperti sekarang ini sehingga ada ahli mengatakan penyusunan kitab seperti sekarang atau pasal dalam Alkitab dilakukan kemudian hari.

Kanonisasi PB 
Kanonisasi PL berbeda dengan PB. Kanon artinya standar (dipakai sebagai pengukur). Pada proses penyusunan kanon PB, sebelumnya sudah ada orang tertentu yang mengatakan bagian dari Alkitab. Dalam hal ini , gereja mengambil dari orang yang bernama, Athanasius dalam “The Thirty Ninth Pascal Letter of Athanasius”, surat yang mencakup ke 27 kitab PB. Pada tahun 267 Masehi , surat yang dituliskan oleh Athanasius diterima oleh gereja timur sebagai kitab (kanon). Baru pada tahun 397 M secara resmi dalam The Council of Carthage, gereja barat pun menerimanya. Seluruh kitab dituliskan pada abad pertama. Kitab Wahyu yang dituliskan oleh Rasul Yohanes dituliskan pada tahun 90an. Itulah alasan bapa gereja, saat muncul Injil Thomas, Barnabas, Magdalena dengan cepat menolak. Sekarang sepertinya injil baru bermunculan. Injil tersebut ditulis paling cepat abad kedua atau ketiga. Kitab diinspirasikan Tuhan dan dimasukkan ke dalam Alkitab bila memenuhi 3 syarat : 1. Kitab ditulis oleh rasul atau mendapat otoritas dari rasul. Tidak semua kitab ditulis oleh rasul. Contoh : Lukas (dekat dengan Paulus) menulis berdasarkan otoritas Paulus, Markus (dibawa Paulus pelayanan, lalu mogok pelayanan sehingga kedua kali mau ikut ditolak Paulus sehingga Paulus tidak sependapat dengan Barnabas) yang menulis dengan otoritas Petrus. 2. Harus sesuai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan para rasul. 3. Tulisan-tulisan itu sudah beredar dan diterima oleh gereja pada saat tulisan-tulisan itu muncul. Sehingga Injil Thomas tidak bisa diterima. Injil tersebut sudah ada tapi ditolak oleh bapak gereja. Ajarannya tidak sesuai (aneh) dari permulaan tidak diterima oleh gereja. Sehingga tidak benar gereja menindas (dengan menolak injil-injil baru). Dengan demikian kanon PB terwujud pada abad ke4.

Kanonisasi PL 
Kanonisasi PL berbeda, tidak ada konsili. Kitab di PL waktu ditulis itu adalah firman Tuhan dan kemudian diterima. Contoh : Pentateukh, ditulis Musa. Keluaran 24: 4. Musa menuliskan segala firman Tuhan. Ul 31:26. Saat seorang nabi menuliskan dan diterima sebagai firman Tuhan, maka aslinya diletakkan di samping tabut. Selain itu ada salinannya, karena tidak bisa sembarang orang melihat tabut. Kitab terus bertambah setelah Musa, lalu Yosua menulis kitab dan kemudian menaruhnya di samping tabut. Sehingga PL tidak diperdebatkan. Dalam Council of Jamnia AD 90/100 ditegaskan mengenai kanon PL. Tapi sebelumnya sudah ada kanon PL. Manuscript asli sudah tidak ada. Yang paling tua, adalah gulungan laut mati (dead sea scroll). Manuscript sekarang tidak setua gulungan laut mati Namun dibandingkan kitab itu, hanya ada kesalahan minor yang membuktikan kitab sekarang sangat akurat.

Proses Penyalinan Alkitab 
Masalah : tanpa adanya manuscript asli, bagaimana kita yakin bahwa Alkitab bisa dipercaya? Kita bersyukur dengan ahli taurat. Walau pada zaman Yesus, ahli taurat banyak dicela karena tidak punya belas kasihan. Tetapi mereka mempunyai sumbangsih besar dalam hal menyalin manuscript. Peraturan yang sangat ketat diberikan kepada orang yang menyalin kitab.
- Mereka hanya boleh memakai kulit binatang yang halal, Bahkan tali pengikat gulungan harus dari kulit binatang yang halal.
- Setiap kolom (?) harus di antara 48-60 baris.
- Kulitnya ada ukurannya.
- Memakai tinta yang hitam dari resep yang tertentu agar tahan lama
- Ketika menuliskan mereka harus menyuarakannya (untuk memastikan supaya jangan ngantuk, orang Yahudi kalau berdoa bersuara agar jangan sampai ketiduran. Hanna waktu berdoa dalam hati dipikir iman Eli mabuk).
- Setiap kali mereka menemukan kata YHWH (manuscript Ibrani tidak ada huruf hidup) mereka harus membersihkan pena dan seluruh tubuh mereka. Padahal nama YHWH (TUHAN / ALLAH) ada 6.000 buah lebih atau lebih banyak dibanding nama Elohim (Allah) yanag sekitar 2.500 buah dan Adonai (Tuhan). Sehingga untuk menyalin, mereka harus mandi 6.000 kali sehingga tidak akan ngantuk. Namun alasannya bukan karena tidak ngantuk melainkan untuk menunjukkan hormat kepada nama tersebut.
- Setiap huruf , kata dan paragraph harus dihitung. Nanti ditebak di tengah huruf apa. Kata di salinannya juga dihitung untuk dibandingkan ketepatannya. Hal ini menunjukkan betapa hati-hatinya.
- Tidak boleh ada 2 huruf yang bersambungan (berdempetan). Kalau ngantuk tulisan bisa jadi 1. Ketika dihitung, di titik tengahnya huruf apa dan akan dihitung.
- Tulisan harus dicek ulang dalam waktu 30 hari. Kalau dalam puluhan halaman (satu set) ditemukan 3 halaman yang perlu dikoreksi, maka keseluruhan dokumen dibuang. Karena berarti penulisnya tidak hati-hati - Manuscript tua tidak boleh dibuang ke tong sampah melainkan harus dikuburkan. Maka ditemukan dead sea scroll. Sehingga akhirnya ditemukan hasil galian manuscript tua. Sehingga Alkitab merupakan catatan ribuan tahun tapi penyalinannya sangat akurat.
- Perbedaan satu huruf dicatat dalam catatan huruf kaki. Kebanyakan hanya berupa perbedaan aksen dan vowel. Karena dalam bahasa Ibrani huruf hidupnya berubah ketika menjadi kalimat. Itu perbedaan yang tidak mengubah arti. Sehingga kita bisa percaya pada Alkitab kita.

Penterjemahan 
Septuaginta (LXX) Perjanian Lama diterjemahkan ke bahasa Yunani dan itu Alkitab yang digunakan oleh para rasul ,karena orang Yahudi tidak berbahasi Ibrani, Tuhan Yesus bahkan berbahasa Aram. Paulus , karena berpendidikan tinggi fasih berbahasa Yunani. Orang Israel tidak mempunyai kerajaan dari abad 6 SM , karena hancur. Saat itu dikuasai oleh Kerajaan Babel yang menggunakan bahasa Aram. Pada zaman Yesus, Isreal dikuasai oleh bangsa Romawi. Alexander Agung mempunyai cita-cita besar agar dunia menganut budaya Yunani yang akhirnya terwujud. Sehingga walau dikuasai bangsa Romawi, bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Yunani. Padahal bangsa Romawi menggunakan bahsasa Latin. Orang Yahudi menggunakan bahasa Aram sehari-hari. Sehingga Tuhan Yesus pun menggunakan bahasa Aram. Di Alkitab kita ada kata-kata Aram yang diterjemahkan seperti Eloi Eloi Lama Sabakhtani dan Talitakum. Dengan demikian saat berkhotbah, pembicara agar jangan terlalu menekankan bahasa yang digunakan. Contoh : Petrus sewaktu menjawab pertanyaan Yesus tentang apakah ia mengasihi Yesus, menjawab 3 kali. Dua yang pertama menggunakan kata agape dan yang ketiga phileo. Yohanes yang mencatatnya sering menggunakan kata sinonim. Apalagi Yesus memakai bahasa Aram, sedangkan para rasul banyak memakai septuaginta.

Septuaginta kemudian menjadi sangat penting. Karena diterjemahkan pada abad ke3 SM berarti lebih tua dari manuscript ibrani saat ini (yang paling tua 1 abad Masehi). Sumber Septuaginta lebih tua dari manuscript kita. Kita harus mengetahui bahwa urutan kitab kita berbeda dengan kitab orang Yahudi. Karena kita mengikuti Septuaginta dimana mencoba mengurutinya secara kronologis. Terutama catatan sejarah. Dari Pentateukh sampai sejarah maka kita gampang menghapal. Pentateukh, Yosua, Hakim-Hakim, Rut (terjadi pada zaman Hakim), Samuel, Raja, Tawarikh, Ezra , Nehemia , Ester (ketiganya kembali dari pembuangan, Kitab Ester bagi orang Israel yang tidak kembali dari pembuangan). Pembagian kitab Ibrani tidak demikian. Masuk kitab hikmat , puisi, Ayub. Kitab Ibrani terdiri dari :
- torah : kejadian , keluaran, imamat, bilangan, ulangan (5 kitab)
- nabi-nabi dibagi 2 : nabi awal (Yosua, hakim, Samuel, dan Raja-Raja yang keduanya digabung dalam1 kitab) dan nabi kemudian (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, kitab 12 nabi yang dikenal dari Hosea-Maleakhi) berjumlah 8 kitab.
- Ketubim (tulisan) 11 kitab : Mazmur, Ayub, Amsal, Rut, Kidung Agung, Pengkhotbah, Ratapan, Ester Daniel, Ezra , Nehemia dan terakhir Tawarikh. Jadi sebenarnya hanya 24 kitab tapi dipecahkan sehingga berjumlah 39. Kita harus mengerti agar mengerti apa yang TUhan Yesus katakan. Luk 24:44 (Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.") Artinya seluruh kitab PL. Tuhan Yesus tidak menggunakan urutan septuaginta melainkan kitab Ibrani.

Mat 23:34-35 (34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, 35 supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.) Habel dari kitab Kejadian, Zakaria dari kitab Tawarikh (2 Taw 24:20-21) yang merupakan kitab terakhir. Dengan demikian berarti nabi-nabi yang dibunuh dicatat di kitab pertama sampai kitab terakhir. Kita mencoba mengkronologiskan kitab-kitab (menyusun berdasarkan urutan kejadian). Gereja tidak masalah dengan penempatan kitab tersebut. Namun ada 2 kitab yang tidak boleh berubah urutannya yakni Kejadian (Penciptaan) dan Wahyu (New Creation bumi : dan langit yang baru).

Perbedaan Alkitab Kristen dan Katolik 
Pada Alkitab Katolik ada deuterokanonika (yang artinya kanon yang kedua). Kanon dilakukan tahun 397 M. Lalu Katolik menambahkan kanon yang kedua sesudah reformasi oleh Martin Luther, karena di dalam kitab itu ada yang bisa mendukung ajaran mereka. Seperti berdoa untuk orang yang meninggal. Contoh : di Kitab Makabe , setelah serdadu mati, Makabe mengajak keluarga berdoa untuk serdadu yang tewas di medan perang. Pada tahun 1546 The Council of Trent menambahkan deuteruokanonika karena adanya serangan bahwa ajaran mereka tidak Alkitabiah. Deuterokanonika tidak buruk alias buku baik yang menceritakan intertestament period (periode antara PL dan PB karena tidak ada di Alkitab). Padahal itu masa yang sangat penting, karena banyak pemikiran orang Yahudi dan karena Tuhan mempersiapkan mereka menantikan Tuhan Yesus. Kitab ini memberikan masukan tentang doktrin mereka. Sehingga kitab Makabe ada di Makabe 1,2. Kitab ini banyak membicarakan tentang Yahudi yang martir. Di masa itu tidak ada kerajaan Yahudi dan bangsa Yahudi dianiaya oleh bangsa Yunani. Kerajaan Yunani dibagi 4 setelah meninggalnya Alexander Agung. Ada 2 kerajaan yang dengan kejam bergiliran menindas bangsa Yahudi. Setelah keluarga Seleucid menguasai, ada Anchochus IV Epiphanes , raja yang sangat kejam karena mau menghapuskan budaya Yahudi dan menggantikannya dengan heleniasme. Contohnya tidak boleh sunat. Sehingga ada orang Yahudi yang mau membatalkan sunatnya. Orang disunat ketahuan karena kalau ikut olimpiade harus telanjang. Anchochus mendirikan mezbah untuk Zeus dan mempersembahkan babi. Ia memaksa orang Yahudi menyembah Zeus sehingga timbul pemberontakan. Kemudian keluarga Makabe mengambil alih bait Allah dan peristiwa ini dirayakan sebagai hari raya Hanukah. Namun aKhirnya keluarga Makabe ada yang tidak benar, sehingga dihancurkan oleh Romawi. Mereka berkuasa sekitar 100 tahun.

Apokrifa (tulisan di luar kanon yang dihubungkan dengan Kristus atau para rasul, atau bisa juga berarti sebagai keterangan mengenai Kristus atau para rasul) Deuterokanonika adalah buku baik untuk dibaca , tetapi kita tidak setuju dengan Katolik. Kita tidak menganggapnya sebagai kanon seperti buku apokrifa tidak pernah mengklaim sebagai firman Tuhan. PB tidak mengakui apokrifa. PB mengutip banyak PL (lebih dari 295 kali). Bukan berarti PL dan PB tidak pernah mengutip kitab lain, hanya tidak pernah memberi otoritas. Contoh pada kitab Yosua tertulis matahari berhenti (yang diambil dari kitab orang jujur). Juga ada kitab raja-raja. Tapi tentang kitab-kitab itu, di Alkitab tidak pernah dinyatakan “ada tertulis”. Alkitab tiddak pernah mengutip apokrifa. Pernah ada tulisan diluar apokrifa yang diakui Katolik. Kitab Yudas pernah mengutib I Henokh tapi tidak masuk deuterokanonika. PB tidak pernah menganggapnya sebagai firman Tuhan.

Doktrin Alkitab yang sangat penting yang berbeda antara Protestan dan Katolik 
Pada Protestan, yang menentukan kitab sebagai firman Tuhan adalah kitab itu sendiri. Karena itu gereja berada di bawah Alkitab sehingga gereja tidak bisa menentukan kitab sebagai Alkitab. Gereja hanya mengakui kitab itu sebagai firman Allah. Sedangkan pada Katolik, gereja menentukan kitab mana yang diinspirasikan Tuhan , sehingga mereka bisa menentukan deuteronika masuk dalam Alkitab. Protestan : kitab tidak diinspirasikan. Gereja ditempatkan di bawah firman Tuhan. Pada Katolik : gereja sejajar dengan firman Tuhan. Pada Katolik, kitab tradisi dan perkataan Paus berotoritas sedangkan pada Protestan : tradisi yang tidak alkitabiah dibuang. Banyak orang Yahudi rela martir daripada menyerah pada kekuasan jahat. Pada kitab Makabe ada kisah tentang seorang ibu dengan 7 orang anak, disuruh menyangkal Tuhan. Tapi mereka tidak mau. Anak-anaknya disuruh menyangkal, tapi mereka menolak. Akhirnya satu per satu anaknya dibunuh karena tidak mau menyangkal sampai akhirnya ibunya sendiri dibunuh. Mereka tidak menyangkal iman. Itu tidak diinspirasikan. Buku baik untuk misionari tetapi bukan kanon

Bagaimana bila ditemukan tulisan Paulus yang lain? 
Ada tulisan Paulus yang tidak termasuk dalam Alkitab. Di Alkitab, hanya ada 1 dan 2 Korintus. Sebenarnya ada 4 tulisan Paulus ke jemaat di Korintus. Kitab 2 Korintus di Alkitab seharusnya 4 Korintus. Kanon sudah dianggap ditutup. Kitab Wahyu 22:18. Memberi peringatan tidak boleh menambah dan mengurangi yang diaplikasikan ke seluruh Alkitab. Perkataan Yesus saja banyak yang tidak dicatat dalam Alkitab, karena bila semua dicatat seluruh dunia tidak cukup. Contoh : kalau kita membaca Mat 5-7 dalam waktu 10 menit sudah selesai. Padahal Tuhan Yesus berkhotbah seharian sampai orang yang mendengar kelaparan. Apakah Tuhan Yesus berbicara sangat lambat dalam 1 hari itu? Tidak mungkin. Itu hanya intisari saja, sebagian kecil yang Tuhan Yesus khotbahkan. Demikian juga dengan Paulus. Penulis Alkitab harus menyeleksi, memilih untuk apa yang dituliskan. Kita harus bertanya , kenapa kisah ini yang dimasukkan. Kalau ditemukan kanon lainnya tidak dimasukkan.
Bibliologi (2) 
Ibu Inawaty
Komsel Pemuridan 14 Oktober 2012  

Inspirasi secara Organik
Diinspirasikan Tuhan bukan berarti didikte (inspirasi secara mekanik) oleh Tuhan. Bisa saja Tuhan mendikte tetapi bukan itu pengertian inspirasi. Pengertian inspirasi secara organik, TUHAN memakai seluruh aspek penulis Alkitab termasuk kemampuan bahasa, logika dll (Paulus lebih terdidik dari Petrus) sehingga nuansa penulisnya penting. Penulis menghadapi jemaat yang berbeda, bisa membicarakan suatu kisah dengan perspekstif berbeda. Matius, Markus dan Lukas merupakan Injil sinoptik tetapi setiap penulisnya bisa menambahkan hal yang penting bagi dia walau tidak penting bagi yang lain. Contoh : Kebangkitan Tuhan Yesus secara verba tidak sama antara Mark 16:7 (Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.") dengan Mat 28:7 (Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."). Pada Markus 16:7 tertulis “kepada murid-muridNya dan kepada Petrus” walau Petrus juga termasuk murid-muridNya. Hal ini penting ditambahkan karena penulisnya ,Markus, mendapat kisah Injil dari Petrus. Perkataan itu penting bagi Petrus, walau bagi Matius tidak penting. Matius dan penulis Injil lain tidak menambahkan kata “Petrus”. Sebelum Tuhan Yesus disalibkan , Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Apakah Tuhan masih mau memakai dia? Penulis bisa menambahkan hal-hal yang penting bagi mereka. Tuhan menginspirasikan secara organic artinya memakai siapa diri mereka, hal-hal yang penting bagi mereka, teologi yang penting bagi mereka. Sehingga mereka bisa menuliskan secara berbeda. 

Seringkali Alkitab dilihat tidak konsisten karena ada perubahan-perubahan. Contoh : Perjanjian Tuhan dengan Daud. 2 Samuel 7:16 (Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.") dengan I Taw 17:14 (Dan Aku akan menegakkan dia dalam rumah-Ku dan dalam kerajaan-Ku untuk selama-lamanya dan takhtanya akan kokoh untuk selama-lamanya."). Ada kata penting yang diubah oleh penulis Tawarikh walau konteksnya sama yakni Tuhan mengadakan perjanjian dengan Daud. Pada 2 Sam 7 tertulis “keluarga dan kerajaanmu” (=keluarga dan kerajaan Daud) sedangkan pada 1 Taw 17:14 tertulis “kerajaanKu” (=kerajaan Allah). Penulis Tawarikh melihat Kerajaan Daud adalah Kerajaan Allah. Ia menggantikan apa yang dikatakan Tuhan supaya orang Israel mengerti bahwa mereka menantikan kerajaan Allah atau Mesias yang merupakan Raja keturunan Daud. Hal seperti ini mengakibatkan orang melihat Alkitab tidak konsisten. 

Inerrancy and infallibility
Inerrancy (err = salah) berarti fakta yang diberikan Alkitab tidak ada salahnya sedangkan Infallibility berarti Alkitab bisa dipercaya untuk apa yang hendak dinyatakannya. Keduanya berlaku untuk manuskrip asli. Tetapi kita percaya. walau manuskrip asli sudah tidak ada, ahli Taurat menyalinnya sangat hati-hati sehingga terjaga dengan baik.

Ada orang-orang yang menuduh adanya ketidakkonsistenan dalam Alkitab. Beberapa hal mengenai masalah yang dituduh dalam Alkitab.

- Masalah moral. Masalah ini lebih ke arah masalah teologi. Misalnya : • Kenapa Allah yang kasih bertindak dengan kejam menyuruh Israel membunuh orang Kanaan atau Allah yang kasih dan maha kuasa membiarkan orang benar menderita. Hal ini seperti menunjukkan ketidakkonsistenan dalam hal moral. Sepertinya : Allah menganakemaskan Israel. Allah menyuruh Israel mengambil tanah Kanaan dengan jalan membunuh orang Kanaan. Sekarang bila terjadi hal itu, PBB akan berteriak. Cara menjelaskannya : lihat Kej 15:16 (Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap."). Tuhan berkata kepada Abraham bahwa keturunannya akan ke mesir, dianiaya lalu keturunan yang keempat akan kembali penyebabnya kedurjanaan orang Amori belum genap. Orang Amori adalah salah satu orang Kanaan yang telah durjana. Tuhan menunggu 600 tahun sejak zaman Abraham sampai kedurjaan orang Amori genap, sebagai alat penghakiman Tuhan untuk menghukum orang Kanaan. Ini bukan tidak adil, ini menunjukkan Tuhan panjang sabar dengan menunggu 600 tahun. • Kenapa Tuhan memberikan hal-hal yang buruk? Contoh : 1Sam 16:14 (Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN). Ada tertulis roh jahat dari Tuhan datang ke Saul. Alkitab menganggap penyebab utama segala sesuatu adalah Tuhan. Yang lain penyebab yang kedua seperti iblis, musuh kita, diri sendiri ataupun penyebab yang lain . Sehingga dengan amblangnya penulis mengatakan roh jahat dari Tuhan yang tidak bisa apa-apa kalau Tuhan tidak mengijinkan. Contoh lain : sensus pada 2 Sam 24:1 (Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firman-Nya: "Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.") dan 1 Taw 21:1 (Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.) Pada 2 Sam 24:1 tertulis Ia menghasut Daud melawan mereka. Ia adalah Tuhan dan digunakan kata “menghasut” untuk Tuhan. Sedangkan pada 1 Taw 21:1 Iblis yang membujuk orang Israel menghitung orang banyak. Secara harafiah tidak konsisten. Namun dengan menggunakan dalil : iblis adalah penyebab kedua sedangkan Tuhan penyebab pertama maka bila iblis melakukan sama saja Tuhan melakukan. Tetapi Iblis hanya bisa melakukan yang Tuhan kehendaki. Bukan berarti Tuhan jahat seperti iblis. Iblis melakukan dengan motivasi yang jahat , Tuhan melakukan dengan motivasi yang baik untuk menghukum atau menguatkan umatNya. Tuhan bisa memberikan yang buruk karena banyak hal yang buruk terjadi. Tuhan memberikan hal yang buruk dalam kebaikan. Karena kita percaya Allah maha kuasa, menggunakan kejahatan iblis untuk menggenapi rencanaNya. Motivasi yang jahat dari iblis, manusia dipakai untuk menggenapi rencananya. Pada kejadian 50:20, ada rencana jahat dari saudara Yusuf namun rencana saudara-saudara Yusuf yang jahat, dipakai Allah untuk rencanaNya yang baik. Ketidakkonsistenan karena tidak mengerti doktrin dengan baik.

- Masalah sains. Contoh : perkataan “matahari terbit” dan “matahari terbenam” seharusnya bumi . Padahal dulu saat Galileo mengatakan “bumi mengelilingi matahari” dianggap sesat walaupun terbukti belakangan perkataannya benar. Namun istilah matahari terbit dan terbenam masih digunakan. Kenapa orang yang sudah mengetahui kebenaran masih menggunakan bahasa seperti itu. Ini dikatakan sebagai bahasa fenomena yakni bahasa dengan melihat apa yang kelihatan secara kasat mata. Orang yang tahu tetap ngomong matahari terbit dan matahari terbenam. Ini bukan masalah Tuhan tidak tahu, tetapi bahasa yang dipakai fenomena. Bahasa memiliki keterbatasan ungkapan dan bahasa ada genrenya seperti metaphore dll, Hal ini tidak masalah. Juga mengenai biji sesawi dikatakan sebagai biji yang paling kecil (Mat 13:31). Ternyata ada yang lebih kecil dari biji sesawi (bukan biji sesawi yang paling kecil). Ini yang disebut sebagai common experience (pengalaman yang umum). Ini merupakan bahasa yang kita pakai. Contoh : sewaktu melihat anak yang kecil, ada yang berkata, “Aduh ini anak yang paling kecil”, pernyataan ini bukan karena sudah melihat di seluruh dunia dia anak yang paling kecil. Hanya berdasarkan pengalaman dia, ini anak yang paling kecil. Juga perkataan kamu “paling cantik”. Kita suka menggunakan standar ganda. Sesuatu yang bisa dipakai dalam bahasa sehari-hari tidak dikatakan Alkitab tidak memakainya. Karena kalau tidak dipakai, sulit mengungkapkan sesuatu. Itu seharusnya tidak jadi masalah. Kemudian, Alkitab sering memakai angka pembulatan. Tuhan mengatakan keturunan Abraham akan dianiaya 400 tahun (Kej 15:13) tapi ada bagian Alkitab lain yang mengatakan 430 tahun (Kel 12:40), ini dibulatkan jadi 400 tahun. Alkitab bukan buku sains yang mendetilkan semua, sehingga tidak menjadi masalah.

- Masalah sejarah (historis). Puluhan tahun lalu orang mengatakan, nama raja yang dituliskan dalam Alkitab salah (tidak pernah ada), Tetapi galian arkeologi menunjukkan betapa data yang dalam ALkitab luar biasa akuratnya. Hal ini menunjukkan penulis Alkitab mengerti konteks sejarah saat itu. Contoh : Daniel 5 mengenai tulisan di dinding. Raja Belsyazar menawarkan kepada Daniel kalau ia dapat membaca dan mengartikan tulisan di dinding, Daniel diberikan kekuasaan sebagai orang ketiga (Daniel 5:15). Pengkritik Alkitab mengatakan tidak ada nama Raja Belsyazar dalam Babel. Ternyata Belsyazar bukan raja yang memerintah sendirian tetapi bersama-sama dengan ayahnya Nabonidus memerintah. Jadi Belsyazar orang nomor 2. Anaknya naik takta bersama dengan ayahnya. Sehingga Daniel orang nomor 3. Di samping itu dikatakan negeri Babel begitu cepat runtuhnya (Hari itu juga terbunuhlah Belsyazar). Kerajaan yang begitu hebat, rajanya terbunuh malam itu juga. Sejarah membuktikan Raja Babel kalah tanpa perlawanan. Kerajaannya terkenal karena benteng yang kuat sehingga walau sudah dikepung Persia, tetap diadakan pesta. Tanpa sadar, orang Persia menggali dan bisa masuk dalam kota tanpa orang Babel tahu sehingga kota itu bisa ditaklukkan dalam 1 hari. Kelihatannya tidak masuk akal, tapi itu yang terjadi. Persia menahklukkan Babel tanpa perlawanan. TIdak ada masalah dalam sejarah. Galian arkelologi menunjukkan Alkitab sangat akurat. Seringkali kita tidak mengerti tetapi sebenarnya apa yang dicatat itu benar.

- Ketidakkonsistenan. Contoh : silsilah Tuhan Yesus dalam Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38 berbeda mulai dari Daud. Setelah itu Lukas mencatatnya Natan sedangkan Matius mencatatnya Salomo. Ada yang mengatakan yang satu sisilah Yusuf (Matius) yang lain Maria (Lukas). Lukas memberikan silsilah secara biologis. Matius menunjukkan silsilah dari Raja sedangkan Lukas tidak (dari Daud langsung Natan). Jadi Yesus punya legal claim sebagai keturunan raja. Raja secara biologis dan hukum berbeda. Matius menunjukkan legal claim kepada tahta Daud, Lukas menunjukkan secara biologis. Kita tidak tahu secara persis. Tidak mungkin terjadi ketidakkonsistenan. Penulis bisa menekankan hal yang beda. Kerajaan Allah penting terutama dalam Injil Matius. Sedangkan silsilah menurut Lukas 3:38 anak enos, anak set, anak adam, anak Allah, mengarahkan Yesus kepada Anak Allah. Matius 1:1 menekankan hanya pada 2 keturunan yakni anak Daud dan anak Abraham. Sedangkan Lukas membawanya kepada anak Adam dan anak Allah. Perspektifnya berbeda. Matius menekankan legal claim ke raja Daud (klaim ke tahta). Hal ini dapat dilihat pada Mat 1:6 Isai memperanakan raja Daud. Yang aneh kata ‘raja’. Walau Salomo, Rehabeam dll adalah raja, namun hanya di depan nama Daud ada kata raja. Yesus yang lahir adalah anak Raja Daud yang ditunggu-tunggu. Penekanan Matius ke anak Daud. Hal ini dapat dilihat pada Matius 1:17 (Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus), Angka 14 sengaja ditekankan. Matius mencatat silsilah supaya masuk angka 14 (ada nama raja-raja yang tidak disebut). Angka 14 penting karena itu adalah angka Daud. Daud bahasa Yunaninya dvd dalam karakter ibraninya d-4 v-6 d-4 bila dijumlahkan 14. Sehingga 14 adalah angka yang penting. Jadi bukan tidak konsisten, namun setiap penulis menekankan perspektifnya (bisa menceritakan sesuatu dari perspektif yang berbeda bukan tidak konsisten). Kita harus mengerti inspirasi organik. Setiap penulis ada jemaatnya masing-masing , yang secara khusus perlu penekanan yang berbeda. Injil Matius ditujukan ke orang Yahudi. Sedangkan Injil Markus dan Lukas diberikan ke orang Yunani. Matius lebih menekankan Mesias yang ditunggu adalah anak Daud, sehingga Matius menulis “digenapilah apa yang dikatakan Kitab Suci”. Mesias menggenapi apa yang ditulis di PL. Penekanan beda karena jemaat beda. Lukas menekankan sekali orang-orang yang marginal sehingga ada hal-hal yang hanya ada di Lukas (misal : wanita pendarahan dll). Lukas tertarik pada orang-orang yang secara sosial tidak masuk perhitungan (dikesampingkan). Itu bukan soal Alkitab salah. Contoh lain : bagaimana Saul mati. 1 Sam 31 mencatat Saul menjatuhkan diri di atas pedang, sedangkan 2 Sam 1 mencatat bahwa orang Amalek membawa kabar kepada Daud bahwa Saul telah dibunuh oleh orang Amalek ini. Tidak mungkin mati dengan 2 cara yang berbeda. Apa ada yang salah karena kedua cerita yang tidak konsisten? Penjelasannya : orang Amalek berbohong karena ingin dianggap berjasa ke Daud yang dibenci Saul. Jadi bisa saja mereka mengatakan sesuatu yang tidak benar namun hal ini tidak berarti Alkitab salah, melainkan Alkitab mencatat apa yang dikatakan orang itu. Hal ini bisa juga dilihat pada Maz 14:1 (Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik). “Tidak ada Allah” adalah pernyataan yang salah. Tetapi orang bebal mengatakan begitu. Alkitab tidak salah. Kita harus percaya apa yang diceritakan oleh penulis. Penulis yang bercerita, diinspirsikan untuk menulis yang benar, bisa berkata dalam ketidaktahuan mereka. Apa yang dikatakan orang yang ditulis dalam Alkitab bisa salah. Contoh : Harun bisa berbohong. Pada Kel 32:22 dikatakan “Lalu aku berkata kepada mereka: Siapa yang empunya emas haruslah menanggalkannya. Mereka memberikannya kepadaku dan aku melemparkannya ke dalam api, dan keluarlah anak lembu ini.". ia kumpulkan emas, lempar dan keluar lembu emas. Ini tidak benar. Narator mengatakan “dengan pahat dibuatnya anak lembu tuangan” (dibuat dengan pahat) tidak muncul dengan ajaib. Karakter (orang yang diceritakan) bisa berbohong dan hal ini bukan berarti Alkitab yang salah. Ketika membaca Alkitab, kita bertanya siapa yang berfirman? Kalau Allah yang berfirman pasti betul. Tapi bila karakter yang berbicara kita harus memilah-milah, apakah yang dikatakan betul. Alkitab hanya mencatat apa yang dikatakan mereka. Kita hanya tidak tahu cara membaca Alkitab, bukan berarti Alkitab tidak konsisten. Contoh lain : ketika TUhan Yesus disalibkan ada 2 orang penyamun. Yang satu kemudian bertobat. Pada Mat 27:44 kedua penyamun mencelanya demikian juga. Ini berbeda dengan apa yang Lukas katakan. Luk 23:39 seorang penjahat menghujat tetapi yang lain menegurnya. Yang satu dua-duanya mencela, yang satu lain penyamun yang satunya bertobat. Bisa saja keduanya mencela lalu kemudian yang satu bertobat. Lukas mementingkan orang marginal sehingga menceritakan pertobatan penyamun. Penekanan yang berbeda. Koran-koran menceritakan hal yang sama tulisannya berbeda. Ada penekanan yang berbeda. Bisa diceritakan dari titik dan perspektif berbeda dan hal ini bukan berarti tidak konsisten.

- Masalah tata bahasa
. Ini tidak masalah. Tata bahasa itu buatan manusia. Bisa berubah dari 1 periode ke periode yang lain. Bahasa Yunaninya Paulus lebih baik dari Petrus. Bahasa Yunaninya Petrus seperti bahasa sehari-hari. Paulus seperti bahasa akademis. Tapi tidak berarti Petrus salah. Ini buatan manusia. Kita tidak boleh menilai penulis ALkitab mencatat seperti sekarang membuat paper. Kalau standar yang kita gunakan, penulis Alkitab seperti plagiat menulis tanpa mencantumkan sumber. Ini tidak masalah. Dulu tidak harus mencantumkan footnote. Peraturannya tidak seperti itu. Peraturan saat ini tidak bisa digunakan untuk menilai penulis Alkitab. Mereka menggunakan aturan di zamannya.

Tuduhan-tuduhan di atas sebenarnya tidak masalah. Ketika percaya Alktiab adalah firman Tuhan, yang penting bagaimana kita melihat Alkitab. Kalau kita melihat Alkitab “tidak ada salahnya”, kita bisa melihat tidak ada ketidakkonsistenan. Ada subjektifitas (tidak bisa orang membaca secara objektif, tapi subjektif). Bagaimana pemikiran kita secara subjektif sangat menentukan. Ada orang yang dikatakan salah hanya karena sudah tidak dipercaya.