Monday, March 27, 2017

Pengurapan Tanda Penguburan (ada dalam konteks pemberitahuan ke empat tentang penderitaan Yesus)


Pdt. Arthur Lim

Yoh 12:1-11
1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
2  Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
3  Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
4  Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
5  "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
6  Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
7  Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.
8  Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."
9  Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.
10  Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,
11  sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Pendahuluan

                Tuhan baik pada saat kita merasa Tuhan itu baik. Tuhan juga baik saat kita merasakan Tuhan tidak baik. Tuhan baik walaupun kita merasakan kadang-kadang Tuhan baik atau kadang-kadang Tuhan tidak baik.  Kisah yang tercantum pada Yoh 12:1-11 (pengurapan tanda penguburan) berbeda dengan kisah pada Matius 26, Markus 14 dan Lukas 7. Ada cerita yang hampir mirip dengan kisah pengurapan ini namun sebenarnya berbeda. Pada kisah yang tercantum pada ketiga Injil Sinoptik lokasinya di rumah Simon penderita kusta sedangkan pada Yoh 12 Yesus diurapi oleh seorang perempuan yang namanya juga sama yaitu Maria (disebut sebagai Maria yang berdosa, Maria Magdalena , Maria yang menjadi pelacur). Maria Magdalena mengurapi kepala Yesus bukan kaki Yesus. Jadi cerita ini adalah cerita yang berbeda. Pada Yoh 12 peristiwa pengurapan oleh Maria (kakak perempuan dari Lazarus) terjadi di Betania bukan di Yerusalem. Maria kakak Larazus ini mengurapi kaki Yesus bukan kepala Yesus. Pengurapan tersebut untuk memperingati nanti penguburan Yesus jadi bukan untuk pengucapan syukur semata. Tema dengan nats ini untuk mempersiapkan hati jemaat dalam menyambut Jumat Agung dan Paskah karena banyak sekali orang Kristen yang hanya mempunyai ‘napas’ (natal dan Paskah) yaitu hanya datang pada saat Natal dan Paskah. Paskah itu jadi sangat penting untuk dipersiapkan.


Kehidupan Kristen yang bersifat paradox

Seringkali kehidupan kita berlawanan dengan apa yang harusnya terjadi. Kita seringkali menganggap bahwa kalau kita sudah menerima Tuhan Yesus seharusnya kehidupan kita akan penuh berkat. Seharusnya hidup kita penuh mujizat, hidup yang penuh sukacita dan kekayaan. Banyak orang berpikir demikian. Sehingga tidak heran banyak orang yang kecewa terhadap kekristenan. Saya tidak menolak bahwa di dalam kehidupan sebagai anak-anak Tuhan, kita pasti bisa mengalami mujizat. Karena sebelum masuk ke Yoh 12, pada pasal 11 Rasul Yohanes  bercerita tentang Lazarus yang dibangkitkan dari kematiannya. Yesus yang sudah tahu bahwa Lazarus yang sakit dan kemudian meninggal. Yesus sengaja menunda kedatanganNya ke Betania dan mengatakan bahwa ada rencana Tuhan dan Tuhan akan dimuliakan melalui mujizat yang terjadi. Jadi mujizat yang terjadi bisa mendatangkan kemuliaan nama Tuhan. Seringkali orang Kristen bisa mengalami mujizat tersebut dalam kehidupan. Kita seringkali berdoa dan  Tuhan menjawabnya. 2 hari lalu Bryan, anak saya yang kedua, menderita sakit. Saya berdoa, “Tuhan sembuhkanlah dia.” Malamnya masih belum sembuh. Lalu didoakan lagi. Besok paginya ternyata ia sembuh. Puji Tuhan! Tetapi ada kalanya setelah berdoa tidak terjadi kesembuhan. Hanya mujizat dalam kehidupan kita bisa terjadi. Tujuan terjadinya apa? Tujuannya adalah kemuliaan Allah!
Dalam pembahasan mengenai mujizat sebelum Yoh 11 dan 12 yakni di kitab Yohanes pasal 9 dan 5 ada 2 buah mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Pada  Yoh 9 , ada seorang yang sudah menjadi buta sejak masih kecil lalu disembuhkan. Pada Yoh 5 ada seorang lumpuh yang disuruh Tuhan untuk mengangkat tilam dan berjalan lalu hal ini pun dilakukannya. Kedua kisahnya memiliki hasil akhir yang berbeda. Di Yoh 9 setelah dicelikkan matanya oleh Yesus, kemudian orang ini ditanya oleh orang Yahudi siapa yang telah menyembuhkannya? Dia menyebut Yesus. Orang Yahudi tidak percaya dan bertanya lagi, “Kamu benar-benar buta dari kecil?” Yang dijawab,”Benar”. Tetapi orang Yahudi tidak percaya kemudian bertanya ke papa-mamanya yang menjadi ketakutan dan memintanya agar bertanya sendiri karena anaknya sudah dewasa. Lalu orang Yahudi bertanya kembali kepada ex-orang buta tersebut,”Apa benar kamu sudah buta sejak kecil? Dijawab, “Kamu lucu ya! Saya sudah sampaikan Dia yang menyembuhkan saya. Saya sudah bicara dari kecil saya sudah buta. Dari dulu sampai sekarang tidak ada orang yang bisa menyembuhkan orang yang sejak kecil buta. Engkau tahu bahwa Dia orang benar.” Orang ini membela Yesus mati-matian. Orang Yahudi membalasnya,”Kamu orang berdosa dan ingin mengajarkan kami?” Tapi di Yoh 5 seorang yang sakit lumpuh dan selesai disembuhkan Yesus, malah mengkhianati Yesus. Ia ditanya oleh orang Yahudi, “Siapa yang menyembuhkan kamu dan menyuruh kamu mengangkat tilam dan berjalanlah di hari Sabat?” Ia menjawab, “Saya tidak kenal Dia. Saya lihat Dia lewat, saya tidak kenal Dia, saya tidak tahu sekarang Dia di mana” Tidak lama kemudian Yesus bertemu dengan dia dan berkata, “Kamu jangan berdosa lagi.” Selesai itu ia langsung ke ahli Taurat dan orang Yahudi dan berkata,”Ini Dia yang menyembuhkan saya dan tangkaplah Dia!” Ini (tangkaplah Dia) tidak dikatakan di Alkitab, tapi begitulah motivasinya sehingga mengatakan,”Ini Dia orang yang menyembuhkan saya.” Mujizat tidak menyelamatkan kerohanian seseorang. Seringkali mujizat bisa membawa kita lebih dekat kepada Kristus. Namun tujuan mujizat terjadi adalah untuk kemuliaan Allah.
Seringkali kita ingin supaya kita mengalami mujizat dan kebaikan Allah. Kita ingin sekali Tuhan terus menerus membuat mujizat dan apa yang kita minta (doa kita) dikabulkan. Tetapi dalam kehidupan yang nyata tidak selalu demikian. Mengapa? Saya bertanya kepada diri saya sendiri juga mengapa? Saya mendapati dalam pembelajaran saya bahwa dalam kehidupan ini tentang jawaban-jawaban yang Tuhan berikan. Salah satunya dari Yoh 12 ini. Di Yoh 12  saat itu ada perayaan yang diadakan untuk Yesus (ayat 2) karena Yesus baru saja membangkitkan Lazarus dari antara orang mati. Dia menunjukkan kuasaNya atas maut. Semua orang kagum akan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Banyak orang datang berbondong-bondong untuk melihat Lazarus yang hidup. Yang tidak sempat untuk datang melihat Lazarus hidup , kembali lagi ke Betania untuk melihatnya. Jadi pada saat perayaan itu sangat ramai sekali orang. Ketika perayaan diadakan untuk kemenangan Yesus atas maut, tetapi Yesus mengatakan, "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.  Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." (Yoh 12:7-8). Saat itu semua orang ingin merayakan kemenangan Yesus atas maut, kehebatan, mujizat dan kuasa. Tetapi tiba-tiba Yesus mengatakan,”Aku akan menderita , mati dan dikubur! Saya sangat senang sekali kalau ada orang yang berkata, “Mengikut Yesus akan bahagia, kaya raya dan tidak akan mengalami kesulitan.” Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Yoh 10:10b Yesus berkata,”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kelimpahan ini bukan berarti kekayaan materi (tidak selalu untuk mengatakan hal-hal materi saja), tetapi selalu berbicara mengenai kelimpahan dalam kehidupan rohani kita. Banyak orang yang saat hidupnya susah, hubungan suami-istri akur kalau makan suap-suapan. Tetapi saat sudah kaya-raya , si suami mulai pelihara “perempuan lain” sehingga hubungan suami-istri menjadi tidak baik sama sekali.
Apakah kehidupan orang Kristen yang akan datang, untuk menjadikan kehidupan seperti ini? Pasti bukan! Kehidupan yang Yesus janjikan adalah kehidupan berkelimpahan dalam hidup itu sendiri  yaitu hidup yang dari dalam berkelimpahan dan mengalir keluar. Seperti yang terjadi pada wanita yang mengurapi kaki Yesus (Maria). Sehingga pertanyaannya,”Mengapa orang baik seringkali menderita?” Sebenarnya jawabannya sama seperti apa yang diberikan Martin Luther yaitu,”Orang percaya tidak bertanya kepada Tuhan , mengapa? Tetapi percaya!” Percaya apa? Percaya akan perkataan bahwa Allah itu baik. Allah baik! Saat manusia merasa Allah baik , Allah baik. Saat manusia merasa Allah kurang baik, Allah tetap baik. Allah baik walaupun kadang-kadang kita merasa Allah baik atau kadang-kadang merasa Allah tidak baik.  Allah selalu baik maka kita bisa bergantung pada Allah, berserah pada Tuhan dan taat kepadaNya. Itulah sebenarnya kekristenan yang sesungguhnya. Bukan berarti bahwa kalau keadaan baik baru kita menyembah Allah. Tetapi dalam semua keadaan kita tahu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Seringkali kita ingin hidup selalu lancar, “pesta” dan indah. Tetapi seringkali Tuhan ijinkan kesesakan terjadi dalam hidup kita. Supaya apa? Supaya kita mengalami Allah sendiri. Kita tidak berkata lagi kepada teman atau saudara bahwa Allah itu baik karena perkataan Guo Mu Shi, Guo Shi Mu atau pun perkataan Lin mu shi. Tetapi kita akan mengatakan Tuhan itu baik karena kita mengalaminya sendiri. Kapan kita mengalaminya? Saat kita mengalami kesesakan, kesulitan atau himpitan. Kita merasakan Tuhan setia dan tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan Ia akan memberikan jalan keluar supaya kita dapat menanggungnya. Sebagai orang Kristen kita seringkali mengalami kesulitan. Itu bukanlah hukuman Allah untuk kita melainkan suatu pengalaman yang Tuhan ijinkan agar kita mengalami Allah sendiri. Sehingga semakin hari makin serupa Yesus dan semakin mengasihi Allah.

Sikap hati Maria yang ‘boros’ dan Yudas yang ‘masuk akal’

Kalau menganalisa apa yang disampaikan oleh Yudas, perkataannya sangat masuk akal. Mengapa Maria memboroskan minyak narwastu seharga 300 dinar (mengapa minyak tersebut tidak dijual saja dan hasilnya diberikan ke fakir miskin). Sepertinya sangat masuk akal. Apalagi dituangnya bukan di kepala tetapi di kaki. Ini boros sekali. Untuk menyelidiki akan hal ini , saya mengajak istri saya ke Lippo Puri Mal untuk menanyakan berapa harga parfum yang paling mahal. Waktu saya masuk ke toko parfum, istri saya berkata, “Saya tidak butuh parfum.” Saya berkata,”Jangan ge-er dulu ya, saya bukan ingin membelikan parfum tapi ada tujuannya. Perhatikan saja.” Lalu saya bertanya ke pelayannya, “Di sini, mana parfum yang paling mahal?” Lalu saya dipukul oleh istri saya yang kemudian berkata, “Mengapa boros-boros?” Saya menjawab, “Kamu jangan ge-er dulu, saya tidak belikan untukmu.” Mendengar pertanyaan saya, mungkin pelayan mengira bahwa tamu yang datang ini adalah orang kaya, karena biasanya orang yang datang mencari parfum yang harganya paling murah. Lalu ia pun berlari , mengambil kunci dan membuka tempat penyimpanan minyak wangi. Setelah mengambil sebuah botol parfum, ia membuka tutup botolnya dan tanpa basa-basi ia mengambil kertas yang lalu disemprot minyak wangi dan hasilnya  disodorkan kepada saya untuk dicoba. Dia mengatakan, “Parfum ini kalau disemprot sekali maka dalam waktu 2 hari wanginya tidak akan hilang.” Saya memperhatikan tulisan tentang isi botol tersebut yang mencantumkan ukuran 100 ml. Dengan perkiraan sekali semprot akan keluar sekitar 1-2 ml maka satu botol minyak wangi berukuran 100 ml akan habis setelah disemprot 50-100 kali.
Bisa dibayangkan ketika Maria menuangkan minyak wangi sebanyak  345 gram maka wanginya ruangan akan seperti apa? Sampai-sampai Yudas berkata,”Minyak ini harganya bisa 300 dinar.” Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan bahwa upah 1 hari di zaman itu sebesar 1 dinar, jadi minyak itu seharga 300 hari kerja. Karena dalam waktu 1 minggu mereka tidak bekerja pada hari sabat, maka Yudas ingin mengatakan kepada Maria bahwa kamu tahu tidak bahwa parfum nya bila dijual maka selama 1 tahun tidak usah bekerja. Tahun 2017 ini UMP DKI sebesar Rp 3,5 juta / bulan atau Rp 42 juta/tahun. Bandingkan waktu saya bertanya ke pelayan yang menjual wangi termahal seharga RP 3,5 juta dan bisa diberi potongan menjadi RP 3 juta untuk ukuran 100 ml. Kalau 500 ml harganya Rp 15 juta. Bandingkan dengan Maria yang memberikan Rp 42 juta punya. Saya setuju dengan  Yudas bahwa apa yang dilakukan Maria adalah pemborosan. Mengapa dia boros? Tetapi dalam pandangan Tuhan Yesus tidak. Karena Tuhan Yesus melihat hati Maria. Sebaliknya Yudas yang terkesan sangat masuk akal dan sangat benar sekali malah ditegur Yesus.
Hidup ini seringkali tidak bisa dinilai dengan uang. Pelayanan kita kepada Yesus Kristus tidak bisa dinilai pada apa yang tampak di luar, tetapi dari hati dan Tuhan melihat hati. Saya senang sekali dengan Sdr. Indra yang setia melayani para siswa yang belajar alat musik. Sulit sekali kalau kita bisa menilai sebuah pelayanan itu baik atau tidak. Apakah pelayanan di mimbar ini lebih penting dari pelayanan lainnya? Di mata Tuhan tidak! Di mata Tuhan, apakah engkau sudah memberikan yang terbaik dalam hidup dan hatimu? Jadi bukan soal masuk akal atau tidak. Bukan apa yang dilihat manusia, tetapi apa yang dilihat oleh Tuhan.

Penutup

Dalam memperingati Paskah , mari kita selidiki hati kita. Apakah hidup kita untuk dilihat orang? Apakah pelayanan kita untuk dilihat manusia? Apakah supaya semua terlihat masuk akal dan oke saja? Atau kita ingin menyukakan hati Tuhan? Berikanlah yang terbaik untuk Tuhan. Yang tahu hanya kita dan Tuhan. Saat merenungkan Yoh 12, ada 2 kenyataan yang sangat berbeda (paradox). 1 hati Maria yang tidak dapat dinilai benar di hadapan manusia, 1 hati Yudas yang secara manusia dia benar dan masuk akal, tetapi mari kita lihat apa yang Tuhan Yesus sukai. Tuhan Yesus suka semua hal yang orisinal dalam hati kita. Yudas bukan memperhatikan orang miskin tetapi hatinya sebenarnya jahat. Apakah kita memiliki hati seperti Yudas atau Maria? Hanya Tuhan yang tahu.
Dalam memasuki Paskah mari kita merenungkan hidup. Apakah hidup kita setiap hari hanya berisikan keluhan-keluhan kepada Tuhan?  Atau sebaliknya menjadi ucapan syukur kepada Tuhan? Sangat tidak mudah untuk kita memiliki hidup yang penuh ucapan syukur. Hidup seperti ini hanya bisa terjadi  saat kita merenungkan hidup ini dan bukan pada saat mujizat terjadi. Mujizat tidak membuat kita lebih dekat pada Tuhan tetapi sesuatu yang membuat kita merenungkan hidup itu sendiri akan membuat kita bersyukur. Karena saat merenungkan firman Tuhan, kita mulai mengerti bahwa hidup itu penuh dengan mujizat. Ada banyak hal yang bisa kita syukuri dalam hidup ini daripada kita banyak mengeluh mengenai hidup kita. Kalau melihat 10 tahun lalu, 5 tahun lalu dan saat ini, apa yang kita miliki? Kita tentu akan bisa mengucap syukur. Itu hanya bisa terjadi kalau kita duduk diam dan merenung. Saya mau mengusulkan agar kita minimum memberikan 1 persen waktu kita kepada Tuhan. Lebih bagus 2 persen dan lebih bagus lagi 4 persen. Kalau 1 hari terdiri dari 24 jam, maka bila kita memberikan 1 jam berikan kepada Tuhan berarti kita memberikan 4% dari waktu kita. Kalau dalam 1 hari kita hanya memberikan 15 menit saja berarti kita memberikan 1 persen dari waktu kita. Itu akan membuat hidup kita bisa mengucap syukur setiap hari. Saya rindu agar jemaat sepulang dari gereja, Tuhan saya perlu agar bisa hidup mengucap syukur setiap hari dan merenungkan firman Tuhan setiap hari minimum 15 menit/hari. Bukan hanya memikirkan mujizat saja. Memikirkan mujizat boleh, tetapi lebih baik bila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan setiap hari sehingga kita akan memiliki hati yang semakin mengasihi Tuhan dan semakin sadar betapa baiknya Tuhan. Kalau tidak maka tidak heran kalau kita tidak bisa memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Amin!


No comments:

Post a Comment