Sunday, January 8, 2017

Pudarkah Harapanmu?


Pdt. Hery Kwok

Amsal 18:14 Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?
Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
Habakuk 1:2-3, 6-7, 3:17-19
2  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
3  Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
6  Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.
7  Bangsa itu dahsyat dan menakutkan; keadilannya dan keluhurannya berasal dari padanya sendiri.
17  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
19  ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Pendahuluan

                Penulis kitab Amsal mencatat pada Amsal 18:14 bahwa Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?? Pasangan hidup, anak, keluarga, teman? Tidak ada yang dapat melakukannya! Ibarat kayu yang patah, maka sulit menyambungnya kembali. Demikian pula semangat yang sudah menguap. Pada tahun baru ini, bila punya semangat, maka kita bisa menanggung semua hal selama  365 hari x 24 jam! Kalau tidak ada, akan sulit. Selanjutnya Yesaya menulis dalam Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Amsal 18:14 dan Yesaya 40:29 merupakan dua ayat yang bertalian. Bagi orang yang semangat patah, maka akan  susah dipulihkan. Namun untuk orang-orang yang memiliki pengharapan kepada Tuhan, maka Dia akan memberikan kekuatan bila mereka lelah dan tiada berdaya.

                Di kelas pra-remaja  (kelas untuk anak-anak yang telah melewati Sekolah Minggu namun belum sesuai ke persekutuan remaja) tanggal 23 Desember kemarin, saya ditelpon oleh seorang rekan hamba Tuhan (penginjil) yang bertanya apakah ada jemaat GKKK Mangga Besar yang bisa membantunya untuk main keyboard mengiringi musik pada ibadah kedukaan seorang jemaat GKK (Gereja Kristus Ketapang) yang telah meninggal. Jemaat GKKK Mabes (200 orang) yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding jemaat GKK (sekitar 2.000 orang) tentu tidak memiliki pemain musik sebanyak mereka. Sehingga tidak ada pemusik yang bisa membantu karena semuanya sibuk mengikuti gladi-resik. Rupanya yang meninggal adalah salah satu anggota keluarga dari pemilik pabrik pakaian merk BOSS dan usianya ‘baru’ 49 tahun. Hal ini mengejutkan karena usia ini tergolong muda apalagi ia rutin melakukan general check-up dan sudah memesan tiket untuk liburan. Alasan meninggalnya tidak ditahui pasti karena hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia selama ini sehat. Namun ternyata ia tidak bisa memasuki tahun 2017. 3 hari sebelumnya juga ada seorang rekan pelayanan di GKK yang usianya 53 tahun yang meninggal saat ia menapaki tangga ke ruang kantornya. Tinggal tersisa 3 anak tangga sampai ke ruang kantornya namun tidak tercapai karena ia keburu meninggal dalam posisi jatuh terduduk. Jadi kalau kita bisa masuk tahun 2017, hal ini bukan terjadi secara kebetulan namun merupakan anugerah Allah semata.

                Saat saya mengikuti ibadah tutup tahun di GRII, Pdt Stephen Tong menyampaikan bahwa kita diberikan dua buah harta oleh Tuhan. Yang pertama adalah waktu yang merupakan harta terbesar, namun kita sering tidak menggunakannya dengan baik. Berbeda dengan orang sukses yang dapat menggunakan harta ini. Yang kedua adalah tempat (di mana kita berada, di situ kita berkarya). Memasuki tahun 2017 , kita diberikan waktu untuk kita berjuang dan tempat di mana kita menjalani hidup kita. Saat memasuki tahun 2017, kit melakukannya dengan harapan dan keberanian apa? Ini pertanyaan yang penting karena ada orang yang bisa masuk tahun 2017 namun belum tentu memiliki kekuatan dan semangat seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal.

Apa yang dicari orang saat menjelang pergantian tahun?

Ramalan! Banyak artikel yang menyampaikan hal-hal yang harus menjadi perhatian saat memasuki tahun 2017 (tahun ayam). Bagaimana dengan ramalan di tahun ayam? Mengapa orang mencari-cari “sesuatu yang akan terjadi pada tahun depan”? Karena ia ingin memiliki HARAPAN. Ada sesuatu yang ingin didapat, dan hal itu membuatnya bersemangat. Semangat ibarat bahan bakar yang membuat seseorang berusaha sekuat tenaga seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal (bila ada semangat, sesusah apapun hidupnya bisa dihadapi). Sehingga saat memasuki 2017, ada orang-orang yang dengan serius mencari tahu hal-hal yang akan terjadi pada tahun 2017, agar punya semangat dan kekuatan untuk berusaha. Tanpa harapan kita tidak punya kemampuan menghadapinya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan harapan?

1.    Faktor eksternal (faktor dari luar diri kita)

Sewaktu kita datang untuk melakukan general check-up, bila dokter yang membaca hasilnya mengernyitkan alis maka walau belum disampaikan secara lisan oleh sang dokter membuat hati kita menjadi was-was.  Lalu ia mengatakan, “Setelah saya melihat hasil check-up dengan berat hati saya sampaikan bahwa saudara terkena kanker stadium 4.” Apa tanggapan kita? Harapan kita memasuki tahun 2017  menjadi hancur setelah sang dokter memberitahukan hasil pemeriksaan kesehatan kita. Namun ternyata beberapa hari kemudian, Sang Dokter menelpon dan mengabarkan, “Maaf itu hasil pemeriksaan orang lain sedangkan hasil pemeriksaan anda  bagus.” maka kita akan merasakan kelegaan dan langsung mengeluarkan kalimat “Puji Tuhan” karena faktor eksternal yang kedua ini membuat kita bersemangat lagi. Waktu divonis menderita kanker tahap terakhir, dunia seperti runtuh,  suram dan langit seperti tembaga yang keras. Apalagi membayangkan anak kita masih kecil, istri tidak bekerja, orang tua hidupnya tergantung kita, kalimat “kanker stadium 4” bisa menggocangkan kita. Melihat dunia yang akan kita jalani pada tahun 2017 dengan mengikuti dan melihat faktor eksternal sepertinya tidak mudah. Kemarin saat mengikuti doa syafaat di GRII pokok doanya hanya dua yaitu terkait dengan politik. Walau hanya dua, tetapi doanya berlangsung lama sekali. Kondisi politiknya sulit dan membuat hati dag-dig-dug sehingga membuat pengusaha bersikap wait and see. Saat dunia yang dihadapi mengalami halangan dan gangguan dari faktor eksternal , membuat harapan kita padam. Sepertinya tidak ada faktor eksternal yang membuat kita punya harapan.

2.    Faktor internal (faktor dari dalam diri kita).

Ada sebuah buku menarik yang mencoba memberikan masukan kepada pembacanya tentang pergumulan penulisnya (orang Perancis) yang mengambil bagian pada Perang Dunia Pertama dalam menaklukkan rasa khawatir. Hal yang tidak mudah diatasi. Dia menulis resep untuk menaklukan rawa khawatir yang ditemukan dalam saku bajunya setelah ia meninggal dunia. Dia mengatakan,”Ada hal yang pasti terjadi, entah ditempatkan di garis terdepan atau ditugaskan di gugus belakang yang paling aman. Pasti terjadi di antara keduanya, jadi terima saja. Di antara kedua hal itu, hanya ada 1 yang pasti terjadi. Jika menghadapi bahaya hanya 2 kemungkinan yang terjadi : entah saudara terluka atau anda sama sekali tidak terluka. Jika terluka ada 2 kemungkinan tapi 1 hal yang pasti terjadi : anda pulih kembali atau anda mati. Jadi mau bicara apa? Kesimpulan : jika kamu pulih maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Sebaliknya bila saudara mati, maka saudara tidak punya khawatir lagi.” ‘Resep’ itu menjadi rahasia dia bertahan di medan tempur. Faktor internal ini banyak diajarkan oleh para motivator sekarang ini. Kalimat motivasi seperti ini sering lebih menggerakan daripada firman Tuhan. Faktor dimana kita berfikir positif menjadi kekuatan menghadapi masalah. Sepertinya hal ini baik, menarik dan mempunyai solusi saat menghadapi kesulitan tanpa harapan. Kalimat yang disampaikan seorang motivator yang hebat berindikasi harus menang (tidak akan kalah). Faktor ini membuat kita seperti menjadi Tuhan. Ini berbahaya karena gerakan dari orang yang memotivasi hanya berdasarkan pemikiran  (logika)  yang memang masuk akal lalu membentengi diri dengan kekuatan dari dalam. Ini tidak baik. Ini ibarat kita menjadi Tuhan atas diri kita.

3.    Faktor iman.

Habakuk 1:2 mengatakan  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?  Hal ini mengindikasikan adanya pergumulan yang dihadapi penulis kitab Habakuk. Ia berada di tempat , kondisi dan waktu dimana kesusahan menghampirinya. Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi (Habakuk 1:3). Kalimat ini memberitahukan kita tentang adanya pergumulan iman dari penulisnya.  Faktor iman mungkin bisa keliru. Orang percaya, termasuk Habakuk, sepertinya melihat kesulitan : mengapa sudah percaya kepada Tuhan tetapi mengalami kelaliman dan seperti tidak ada jalan keluar?  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang (Hab 3:17). Penulis kitab Habakuk tengah mengalami kesulitan dan pergumulan. Dalam kondisi sekarang pergumulannya mungkin berupa : “mengapa sampai saat ini tidak dapat pekerjaan, mengapa suami tidak diubahkan, mengapa istri makin cerewet” walau kita sudah beriman. Orang yang berkata dengan iman  mungkin punya konsep iman yang keliru. Kita menganggap Tuhan seperti sarana yang dibutuhkan. Kalau kita menghadapi masalah , Ia harus menjawabnya. Ini konsep yang keliru. Di talent fair Januari 2017 akan  dikumpulkan orang-orang yang ingin mendedikasikan talenta-nya buat Tuhan. Mungkin ada yang bisa menjadi pembesuk orang sakit. Biasanya saat dibesuk, orang yang menderita sakit ada yang berkata ‘kalau sembuh mau melayani Tuhan dan pergi ke gereja’. Ini kalimat yang sering diucapkan. Ini doa atau ungkapan, kalau saya mau beriman harus begitu. Kitab Habakuk melihat kekejaman dalam kacamata seperti itu. Orang Kristen yang memiliki pandangan seperti Habakuk keliru. Kita melihat Tuhan sebagai sarana untuk mencapai kemauan. Kalau hal ini terjadi maka harapan orang Kristen sama seperti harapan orang dunia. Dengan merenungi kitab Habakuk, orang yang tengah menggumuli iman saat menghadapi tantangan dan masalah yang berat, apakah kita akan beriman seperti itu atau tidak. Walaupun dalihnya iman dan sudah percaya Kristus tapi bisa jadi kita menempatkan Dia menjadi sarana saat kita bermasalah. Tuhan bukannya menjadi fokus. Seharusnya kita menyadari bahwa Ia adalah sasaran dan Ia baik.

Pada Ayat 17 Habakuk berkata, sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah , hasil pohon zaitun mengecewakan dan ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan. Ia menyampaikan hal-hal yang sulit. Gara-gara orang Kasdim , orang yang saat itu berkuasa secara tidak adil, maka pohon zaitun tidak ada dan binatang terhalau dari kandang yang berarti kondisinya tetap sulit.  Ayat 18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Dalam kondisi sulit ternyata Habakuk bisa tetap semangat, memiliki harapan dan bersorak-sorai. Inilah Habakuk yang imannya berproses hingga ia mengenal Allah dalam kebenaranNya dan ia yakin bahwa Tuhan tetap baik (Akulah yang hari ini dan besok yang tidak berubah). Yesus yang tidak berubah dan yang memberi jaminan untuk kita terus berfokus padanya. Proses iman ke Tuhan itu perlu waktu dalam segala hal dan Ia tetap Tuhan yang baik. Sifat dan tindakanNya tetap baik. Di situlah Habakuk punya pergumulan iman yang baik.

Penutup


Mari di tahun 2017 kita mempunyai komitmen untuk (lebih) mengenal Tuhan agar dalam proses yang dijalani iman kita bisa bertumbuh. Kalau tidak, kita sama dengan orang dunia, hanya kita berjubah iman, yang bila permohonannya dijawab akan menjadi sukacita, namun bila tidak dijawab merengut. Bila keinginannya dikabulkan senang, bila tidak akan ngambek. Iman sejati kita seharusnya mengenal Kristus yang tidak berubah dan segalaNya baik. Sehingga apapun yang sedang terjadi dihadapi dengan harapan dan iman yang tidak goyah. Harapan yang pudar bisa berubah menjadi baik sewaktu kita berani diproses oleh Tuhan. Berproses dalam mengenal Tuhan , ingin mengetahui kebaikan Tuhan dan merasakan segala perjalanan hidup yang hebat bersamaNya. Kalau itu menjadi bagian dan pengalaman yang hebat, maka kita akan menjadi jemaat yang kokoh dan kuat. Gereja kita ingin bertumbuh dalam pengenalan terhadap Tuhan. Untuk itu kita perlu berproses dan dengan setia membaca Kitab Suci , melayani dan beribadah dengan baik. Kiranya kita dimampukan Tuhan untuk memiliki keberanian berjalan bersama Tuhan untuk lebih mengenalNya. Kalau hanya bergantung pada faktor eksternal dan internal saja, kita akan sulit. Nabi Yesaya memberikan semangat pada orang yang sungguh-sungguh bergantung padaNya. Disitulah harapan menjadi kuat. 

No comments:

Post a Comment