Sunday, January 8, 2017

Kesetiaan yang Teruji


Pdt. Irwan Hidayat

Filipi 2:1-11
1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

                Saat kita melakukan perjalanan atau bila ada orang mengajak kita bepergian maka tujuan (destinasi) adalah hal pertama yang menjadi perhatian kita Mau kemana? Pertanyaan ini penting karena kalau tahu kemana kita akan pergi maka kita bisa membayangkan tempat yang dituju. Apakah tempat itu indah, menarik ,nyaman atau tidak? Misal : Papua, kita bisa membayangkan medan seperti apakah di sana. Bila kita bisa membayangkan tempat itu maka kita bisa membuat persiapan dan membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Misalnya : kita akan membawa obat nyamuk. Bila destinasinya Bali maka kita membayangkan tempat yang indah dengan pantai dan pemandangan yang begitu bagus. Atau bila kita berpikir tentang India, mungkin ada kesan akan ada banyak orang, banyak orang berdagang, berlalu-lalang dan tempat yang kotor penuh sesak. Ketika kita tahu tempat yang dituju, maka kita bisa membayangkan tempat itu dan bisa mengambil keputusan-keputusan penting terkait tempat itu.
                Demikian pula dengan Tuhan Yesus saat diutus turun ke dunia. Tahukah Tuhan Yesus ke mana Ia akan melangkah? Apakah ia mempunyai gambaran tentang dunia yang ke dalamnya Ia akan datang? Tentu Tuhan Yesus tahu. Ia akan datang ke dalam dunia yang digambarkan oleh Alkitab sebagai tempat yang cemar oleh dosa, dunia yang oleh Penginjil Yohanes dihuni oleh orang-orang yang justru akan menolakNya, dunia di mana Ia tidak akan mengalami kenyaman, namun Ia akan datang melalui kandang yang hina, kotor  dan jorok. Dunia yang membuat Tuhan Yesus tidak tidur di atas ranjang yang empuk tetapi di palungan yang busuk. Dunia dimana Tuhan Yesus tidak akan tinggal di istana mulia tetapi ia akan akan tinggal menuju ke palang yang hina. Tuhan Yesus tahu persis tentang gambaran kemana ia akan pergi. Pertanyaan selanjutnya : mengapa Ia mau? Ia tahu di mana penghuni dunia akan menolakNya, dunia yang penuh kekotoran dan penuh penghinaan , penderitaan dan di mana Ia akan mengalami kematian. Bila tempat yang dituju tidak seusai dengan yang dibayangkan maka sebelum pergi, kita dapat membatalkannya daripada pergi ke sana dan menderita. Tetapi mengapa Tuhan Yesus mau meneruskan perjalananNya, jika Ia tahu tempat yang akan dituju? Apakah memang Tuhan Yesus harus datang? Apakah ada keharusan bagiNya untuk datang ke dalam dunia? Tidak ada! Tidak ada sebuah keharusan atau kewajiban bagi Tuhan Yesus untuk datang ke dalam dunia. Kita akan terus mengejar, “Mengapa Ia masih meneruskan perjalanan dan rencanaNya datang ke dalam dunia?” Jawabannya jelas, karena Ia maunya begitu! Mengapa Ia maunya begitu? Mengapa Ia putuskan begitu?

Alasan Tuhan Yesus Tetap Datang ke Dunia

                Melalui nats Alkitab Filipi 2:1-11, kita mau menggalinya. Walaupun sampai mati, kita tidak akan paham 100% tetapi pada bagian ini, kita akan menemukan alasan-alasan setidaknya sebagai manusia kita bisa sedikit memahami. Tetapi sebetulnya apa yang terjadi lebih daripada apa yang sanggup kita pahami

1.     Yesus datang ke tempat yang akan menolaknya dan penuh kehinaan dan penderitaan  karena kesungguhan cintaNya.

Rasul Paulus menggambarkan tentang Tuhan Yesus pada Filipi 2:1-11 ini dan kita menyebut bagian ini sebagai kristologinya Rasul Paulus (pada Filipi pasal 2  banyak deskripsi / keterangan tentang Tuhan Yesus). Pada Filipi 2:6 dikatakan “yang walaupun dalam rupa Allah (ov en morfh yeou, ov en morfh yeou)”.  Siapa Tuhan Yesus itu? Rasul Paulus secara straight to the point mengatakan “Yesus yang dalam rupa Allah”.

Dalam Bahasa Yunani ada 2 istilah yang berarti “rupa” yaitu morfh-morfh dan schma-schma. Schma bicara tentang  sesuatu yang kelihatan di luar dan morth natur yang tidak terlihat di luar (hanya bisa dilihat dari dalam). Ada orang yang bisa dilihat dari luar (misal : pipinya tembem, rambutnya keriting, kulitnya), itu yang dikatakan schma, rupa yang dilihat dari luar. Tetapi Rasul Paulus tidak memakai kata schma pada Fil 2:6 tetapi kata morfh yaitu rupa yang tidak kelihatan dan disebut sebagai natur (kodrat). Rasul Paulus pada bagian ini mengatakan secar gamblang siapa Yesus itu sebenarnya yaitu Yesus adalah Allah karena Ia mempunyai natur Allah dan kodrat Ilahi bahwa sesungguhnya Ia adalah Allah. Rasul Yohanes mulai dari pasal 1:1 sudah berbicara banyak tentang Yesus yang adalah Allah : Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Rasul Yohanes menegaskan apa yang dikatakan Rasul Paulus dan menggambarkan bahwa Yesus adalah Allah yang pada mulanya Ia bersama Allah dan pada karya penciptaan dunia, Yesus hadir. Yesus adalah Allah sendiri. Pada Filipi dikatakan Yesus mempunyai hal-hal yang setara dengan Allah artinya kalau kita mengenal Allah sebagai Bapa yang maha kuasa maka Yesus juga punya atribut yang berkuasa dalam kualitas yang sama dengan Bapa. Kalau Bapa adalah Maha yang maha suci, maka Yesus sebagai Allah punya atribut kesucian yang sama dengan yang dimiliki oleh Bapa. Ada pernyataan Rasul Paulus mengatakan “yang walaupun dalam rupa Allah” menegaskan bahwa Yesus yang sebetulnya adalah Allah tetapi ia tidak menganggap semua itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Itu milikNya, kodrat ilahi adalah milikNya. Kalau itu milik, siapa yang mau kehilangan milik baik besar atau kecil , baik mahal atau tidak? Manusia tidak mau  atau tidak rela kehilangan milik seperti mobil, berlian dan yang lainnya. Kita diingatkan tidak ada orang yang mau kehilangan milkinya. Tetapi pada bagian ini Yesus mengambil keputusan yang berbeda dengan keputusan yang manusia (kita) ambil. Kalau kita kehilangan milik, kita mungkin marah. Yesus memiliki hal-hal yang dimiliki Allah tetapi menganggap semua milkNya bukanlah hal yang harus dipertahankan melainkan (sebaliknya) Yesus mengosongkan diriNya. Mengosongkan diri diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris Jesus made himself nothing. Yesus yang mempunyaI segala sesuatu (Jesus ,Lord of Everything, made himself nothing. Ini pernyataan yang luar biasa. Ia yang memiliki segalanya membuat diriNya tidak punya apapun supaya manusia yang sudah kehilangan segala sesuatu dalam dosanya sekarang dapat everything di dalam Dia Hal ini dilakukanNya karena satu hal. Yesus tetap menempuhnya dengan setia sampai akhir karena cintaNya kepada manusia. Tidak peduli manusia menolakNya, Dia tanggalkan  kemuliaan dan kedudukanNya karena cintaNya kepada manusia.

Cinta tidak pernah memberi yang sisa. Saat berpacaran (mencintai pacar) maka kita akan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan. Pada dia berulang tahun, maka kita tidak akan memberikan kerupuk yang dijual di luar tetapi coklat yang lebih berharga (bernilai). Cinta selalu mendorong orang memberi yang paling baik yang bisa diberi. Itulah yang diberikan Tuhan Yesus untuk kita semua. Walaupun Ia tahu seperti apa dunia ini, namun Ia tidak membatalkan kedatanganNya.  Walau punya hak untuk membatalkan , tetapi Ia tetap datang karena Ia mencintai kita. Dalam cintaNya Ia tidak memberi kepada kita alasanNya. Berbicara tentang kesetiaan Tuhan karena cintaNya pada kita, maka kita perlu merenungkan apakah kita cinta pada Dia. Sepanjang 2016 yang hampir selesai, bila digambarkan dalam bentuk grafik, seperti apa grafik cinta kita kepada Tuhan? Kita tidak berbicara tentang cinta yang emosional seperti janji muluk di dalam KKR. Tetapi seberapa cintakah kepada Tuhan yang teruji di dalam waktu yang selalu bersedia memberi terbaik kepada Tuhan yang terlebih dahulu mencintai kita. Keinginan untuk sampai umur tua tetap memikul salib mungkin tidak akan menjadi kenyataan, kita tidak kuat memegang salib Kristus sampai pada akhirnya. Cinta kita pada Tuhan mudah sekali pudar. Badai hidup, ajakan teman-teman, godaan-godaan, cuaca yang panas, penderitaan atau kesenangan menyebabkan orang bisa kehilangan kesetiaan cintaNya kepada Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah bertindak demikian kepada kita. Jadi tema kesetiaan yang teruji bila dikaitkan dengan Tuhan Yesus, maka kita tidak perlu meragukannya. Tetapi tema ini dikaitkan dengan diri kita maka perlu dipertanyakan apakah kesetiaan dan cintaku kepadaMu Tuhan teruji oleh waktu? Apakah orang yang sudah komitmen dalam pelayanan dan komitmen memberi talenta yang Tuhan berikan dalam diri kita akan teruji sampai masa kini dan sampai selamanya? Itu menjadi sebuah tanda tanya. Tetapi di hari natal ini kita punya suatu model, model kesetiaan yang teruji atas nama cinta yaitu Tuhan Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraannya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Melainkan dalam cintaNya Dia mau datang untuk kita.

2.    Yesus datang karena taat

Yesus mau datang juga dilihat dari hubungan Yesus dengan Bapa. Ia mau datang dan tetap datang, mengapa tidak membatalkan jadwalNya? Kita bisa melakukan itu, ketika mengetahui tempat yang akan dituju tidak nyaman. Orang mau datang, di tempat yang orang demo kita, maka kita tidak akan datang. Tetapi mengapa Yesus meneruskanNya bahwa melalui pintu kehinaan (bukan pintu kemuliaan)? Dalam dimensi hubungan dengan Allah maka kita bicara tentang penundukan (submisi) taat pada kehendak Bapa. Filipi 2:7 mengatakan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Jesus made himself nothing. Yesus sendiri yang membuat dirinya tidak ada apa-apanya. Jadi keputusan untuk berada dalam keadaan nothing adalah keputusanNya. Lalu mengapa Ia memutuskan seperti itu dalam bentuk tidak menganggap kesetaraan pada Allah sebagai milik yang harus dipertahankan? Kesetaraan yang dipertahankan dalam bahasa Yunai disebut huparchon. Huparchon dalam bahasa aslinya berarti rampasan. Saya pernah melihat adegan rampasan di area tempat jualan makanan di Green Ville. Di situ penuh dengan mobil yang parkir karena banyak orang yang sedang makan. Suatu siang di hari kerja, dari kampus saya mencari makan dan melewati daerah Green Ville tersebut . Ada sepasang suami-istri berusia hampir 60 tahun baru selesai makan. Awalnya mereka bergandengan tangan dan Sang Isti memegang tas dengan tangan lainnya. Suaminya kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Istrinya masih di luar karena pintu mobil tidak bisa dibuka karena menunggu suaminya memajukan mobil. Ketika menunggu di tempat yang ramai itu dengan kondisi kendaraan berjalan merayap , tiba-tiba 2 orang laki-laki muncul mengendarai sepeda motor yang melaju kencang dan mencoba merampas tas Sang Istri (a-yi). Ayi ini secara spontan berteriak, membungkukan tubuhnya  lalu mempertahankan tasnya yang mau dirampas. Terjadilah adegan (seperti di film) tarik-menarik antara perampok dengan ayi tersebut. Tetapi kedua laki-laki kemudian menodongkan pistol ke kepala, maka terpaksa ayi ini melepaskan tasnya. Saat milik pribadi akan dirampas, tidak akan ada orang yang berkata,”Silahkan ambil” malah  ada refleks untuk mempertahankan agar milkiknya jangan sampai terlepas. Kalau tidak pakai pistol, ayi akan terus menarik tasnya.

Dalam konotasi rampasan ada yang harus dipertahankan (dipegang) mati-matian. Kata huparchon ini yang dipakai Rasul Paulus, namun  Yesus tidak mengangagap kesetaraan dengan Allah seperti rampasan dan sebagai hal yang harus dipertahankan, dipegang erat-erat . Melainkan Yesus justru dengan rela memberikan. Ini agak aneh. Saat orang dirampas tidak ada yang mau memberi. Tetapi Yesus tidak memperlakukan hal-hal yang sama dengan Allah yang dimilikinya sebagai rampasan tetapi Dia justru memberikannya dengan rela. Mengapa Ia memberikannya dengan rele begitu saja? Kita mengetahui mengapa Yesus datang ke dunia yaitu karena dari awal Ia sudah menyatakan, Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh 4:34).  Ia tahu walau dunia tidak enak, orang akan menolak, Ia akan disalahpamahi , dibenci, dihianati oleh orang terdekat, tetapi Ia melakukannya dengan kesadaran bahwa makananku adalah melakukan kehendak Dia (Kalau ini yang Bapak kehendaki, Aku akan terus melalui jalan ini). Kalau berbicara kesetiaan Tuhan Yesus teruji oleh waktu, mulai ketika ia datang ke dunia ini sampai ke kayu salib, tak pernah sekali pun Ia berpaling dari jalan yang diambilNya. Dalam konteks cinta (yang pertama) dan yang kedua dalam konteks ketaatan. Kesetiaan dan ketekunanNya melakukan sampai akhir. Ia belajar tunduk dan taat kepada Bapak. Kalau hal ini diberikan pada kita, kita tahu kegunaannya. Tapi apa yang membuat kita tidak setia dan kesetiaan kita tidak teruji? Jangan-jangan kita tidak mampu setia bahkan dalam pelayanan dan komitmen karena ketundukan kita kepada Bapa begitu rendah. Ada banyak kali kita mengerti “ini yang Tuhan mau” tapi kita tidak belajar taat. Ada banyak kali kita meninggalkan ladang pelayanan walau kita tahu bahwa “itu yang Bapa mau” karena kita tidak mau taat dan tunduk pada kehendak Tuhan.  Pada hari Natal ini kita berpikir tentang kesetiaan bukan  hanya ikut (percaya) dan melayani Tuhan tetapi kita belajar berada di tempat di mana Tuhan tempatkan dan di mana kita tunduk pada tempatnya dan terus bertekun sampai akhirnya. Mother Theresa, secara manusia kalau disodorkan pilihan : misal melayani rumah sakit kusta , TBC , banyak yang luka – miskin – bau -jorok atau pergi dan melayani di biara yang bersih dan tertata rapi. Secara manusia mungkin ia akan memilih yang lebih enak. Tetapi dalam kedudukannya pada apa yang ia mau : bukan apa yang aku mau tetapi apa yang Bapa mau. Maka Mother Theresia mengambil keputusan, dengan orang kusta mengerjakannya sampai selesai seperti Yesus mengatakan Tetelestai yang artinya sudah selesai Dalam bahasa Jawa ada kata enteh (habis). Apakah seruan Tuhan Yesus di atas kayu salib dimaknai dengan enteh? Tidak. Apanya yang selesai? Kehendak (rancangan) Allah untuk keselamatan Hidup sudah genap. Yesus sudah setia dan teruji oleh waktu. Sepanjang hati kita taat , maka kita akan tetap setia. Memang kesetiaan akan tahan uji.

3.     Bicara tentang kesiapan hati. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Fil 2:8). Perjalanan Yesus menempuh 3 step yang makin ke bawah menurun. Step pertama Yesus punya hal-hal yang sama dengan Allah. Downgrade (turun grade) ia punya hal yang sama dengan Allah lalu menjadi manusia (downgrade-nya Ia menjadi manusia seperti ciptaan. Itu beda (turun) kelas. Tetapi Rasul Paulus tidak berhenti sampai disitu menjelaskan tentang kerendah-hatian  Yesus. Bukan hanya mengirim,  mengambil rupa budak atau hamba (doulos) yang dalam masyarakat Yahudi berarti manusia yang sudah kehilangan kemanusiaan. Budak lebih di bawah manusia pada umumnya. Itu yang diambil Yesus mula-mula. Allah yang merendahkan diri, Allah punya segala sesuatu yang rela membuat diriNya nothing, membuatnya dirinya rendah, dari kekal masuk kefanaan yang transenden jadi permanen yang luar biasa jadi terbatas. Ini menunjukkan (mengekspresikan) kerendahan hati Yesus.

Penutup

Hari ini kita diajak untuk merefleksikan model dan teladan Tuhan Yesus. Apakah kesetiaanku kepada Tuhan, karena karakter kerendahan hati yang ada di dalam diriku atau ketaatan atau karakter / kerendahan hati dalam diriku, apakah akan teruji atau tidak. Jawabannya? Tergantung masing-masing. Amin.

                

No comments:

Post a Comment