Sunday, January 8, 2017

Kristus = Paling Berharga


Pdt. Nindyo Sasongko

Lukas 2:25-35
25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
26  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
27  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
28  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
29  "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
30  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
31  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
32  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
33  Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
34  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
35   —  dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri  — , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Pendahuluan

                Saya pernah tinggal  setahun sebagai seorang misionaris di Ethiopia. Ethiopia adalah  sebuah negera di Afrika. Tidak pernah terlintas dalam benak sebelumnya bahwa saya akan tinggal di sana, karena saat mendengar nama Ethiopia yang terbayang adalah kemiskinan, kelaparan, kegersangan dan kekurangan lainnya. Pada awal 1980-an, siaran TV banyak menayangkan bencana kelaparan yang maha dahsyat dan kematian yang melanda Ethiopia. Pada tahun 2009 saya tinggal di Addis Ababa (ibukota Ethiopia) di bawah naungan suatu badan misi. Saya tinggal dengan jemaat yang sangat miskin. Gereja yang saya layani  belum memiliki gedung permanen dan masih menggunakan fasilitas yang sangat sederhana. Bangunannya hanya ditutup dengan kain terpal atau karung beras saja dan tiang-tiangnya masih dibuat dari kayu. Ubinnya belum permanen dan  hanya berupa tegel yang ditata berdempetan dan dialasi pasir (belum disemen karena gedungnya masih sementara). Namun yang luar biasa, semangat dari para jemaat di sana. Setiap Minggu jemaat di sana beribadah selama 3 jam! Sekitar 1 jam digunakan untuk puji-pujian, 1 jam untuk penyampaian firman Tuhan dan 1 jam lagi untuk pendalaman Alkitab. Pendalaman Alkitab (bible study) diadakan 1 jam sebelum ibadah yaitu pada pk 9 sedangkan ibadah dimulai pk 10. Yang menarik sebelum pk 9 , bahkan dari pk 7 ada jemaat yang sudah datang. Mereka bukan orang terkenal yang datang dengan mobil mewah melainkan mereka sangat sederhana dan miskin. Mereka adalah orang-orang tua atau ibu yang sudah senior dan mereka datang dari tempat yang jauh. Mereka kebanyakan tidak memiliki cukup uang untuk naik angkot (di sana dikenal sebagai taxi). Karena tidak punya uang sekitar Rp 4.000 maka mereka harus berjalan kaki. Sebelum pendeta datang, mereka telah datang untuk bersujud dan berdoa. Pk 8.30 -9.30 jemaat berdatangan dan pk 10 ibadah di mulai . Suatu kali saya bersama dengan ketua majelis datang lebih pagi yakni sekitar pk 8.30 sebelum pendalaman Alkitab (bible study) dimulai. Saat itu kami bertemu dengan seorang ibu tua . Dia datang menghampiri saya dan mencium (di sana hal ini merupakan simbul bahwa mereka menerima hamba Tuhan) dan berkata, “Pak Pendeta dan Bapak majelis , jangan pernah melupakan bahwa kekuatan gereja ini bukan hanya dari orang-orang yang punya uang atau harta dan bukan hanya orang-orang yang punya posisi yang baik di gereja. Tetapi lihat dan kenang selalu bahwa kekuatan gereja ini ada di lutut orang-orang tua  yang berlutut dan berdoa. Jangan pernah lupakan itu!” Perkataannya saya ingat dan terbukti hasilnya. Pada Juni 2010, 1 bulan sebelum saya tinggalkan gereja di sana, gedung gereja sudah tidak cukup menampung jemaat yang hadir. Dari 250 orang yang beribadah, setahun kemudian sudah bertambah menjadi 350-400 jiwa yang datang. Di mana letak kekuatan gereja?
Menghargai Orang-Orang Marjinal (Terabaikan)

                Pada saat membaca Lukas 2:25-35 kita akan menemukan seseorang yang bernama Simeon. Ia sudah lanjut usia dan tengah menantikan penggenapan janji Tuhan. Ada sebuah legenda yang tidak terdapat di Alkitab tapi patut direnungkan tentang Simeon sebagai pengganti Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis. Dikisahkan Zakharia tidak melanjutkan tugasnya karena terbunuh di tangan punggawa Raja Herodes dan Simeon terpilih menjadi imam dan tinggal di Bait Allah menggantikannya. Ada juga legenda kedua yang mengisahkan Simeon sebagai salah satu dari 70 orang yang menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani. Saat ia menerjemahkan firman Tuhan dan sampai pada Yesaya 7:14 yang mengatakan Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Pada bagian di mana LAI menerjemahkannya sebagai perempuan muda, dalam bahasa Yunani kata “perempuan muda” ini adalah gadis atau anak dara (virgin) alias  seorang perempuan yang belum dijamah laki-laki. Waktu Simeon menerjemahkan bagian ini kata aslinya bukan anak dara tetapi perempuan muda. Tetapi kenapa diterjemahkan di sini sebagai ‘anak dara’ (anak perempuan yang belum terjamah laki-laki)? Ia siap menghapusnya, namun konon malaikat menghardik dan memintanya agar jangan dihapus karena ada rencana Allah :  “Engkau sendiri akan melihat tanda (bukti) dari kata-kata itu.” Konon menurut legenda ini Simeon kemudian hidup 360 tahun lagi sampai ia melihat buktinya saat ia berjumpa dengan Kristus. Ini hanya legenda dan tidak perlu dipercayai tetapi ada kebenaran dibaliknya yakni ada penghargaan terhadap orang tua (mereka yang sudah sepuh). Ada sebuah penghargaan bagi banyak orang yang tidak ‘dianggap lagi atau bagi masyarakat terpinggirkan.

                Hal ini berbeda dengan tema-tema yang diusung oleh film sinetron pada stasiun-stasiun TV di Indonesia. Dalam film sinetron yang banyak ditampilkan adalah pemeran (artis) muda di mana mereka berpacaran, putus lalu cari lagi pacar yang baru serta kisah tentang memadu kasih antara yang kaya dan miskin. Yang dijual oleh media di masyarakat adalah anak-anak muda. Demikian pula dengan iklan kosmetik yang menampilkan orang-orang muda. Sedangkan tokoh dan pemeran orang (golongan) tua seolah –olah dipinggirkan dan tidak dianggap lagi. Mari menjelang natal dan tutup tahun, saya mengajak setiap kita untuk menyadari apakah selama ini kita telah meninggalkan dan melupakan orang yang disisihkan di masyarakat. Apakah gereja Tuhan juga demikian? Saya suka dengan bagian ini yakni ketika membaca Lukas yang penuh gambaran tentang orang-orang yang tidak berada di tempat yang hebat, bukan Raja Herodes, para imam, para orang muda yang hebat tetapi orang-orang yang terpinggirkan. Hal ini dapat dilihat pada pasal 2 di mana ‘konser pujian’ malaikat yang maha besar digelar bukan di gedung konser yang luar biasa megah melainkan di padang gurun Efrata dan di hadapan orang-orang pinggiran yaitu para gembala. Pada kitab Lukas ini, kita juga membaca ada seorang perempuan yang dipilih jadi ibunda Yesus Kristus yang berasal dari dusun dan tidak terpandang (tidak pernah dimasukkan di sejarah waktu itu) yaitu Maria yang usianya masih muda. Maria bukanlah seorang yang hebat. Kita juga melihat Zakharia dan Elizabet (Lukas 1) yang mandul , menanggung aib bertahun-tahun dan mendapat janji dari Tuhan. Mereka mendapat berkat yang hebat dari Tuhan walau dilupakan oleh manusia. Kalau dilanjutkan, kita akan menemukan nama Nabiah Hanna (Lukas 2:36), seorang  perempuan tua renta yang baik. Gereja kiranya tidak melupakan orang tua.

                Mari kita kembali melihat seorang tua bernama Simeon yang tinggal lama sekali di Yerusalem dan menantikan janji Allah dan menunggu kehadiran Sang Mesias. Ia sudah diberitahu oleh Roh Kudus bahwa ia akan melihat Allah. Kemudian ia menyambut Anak Itu, membopong dalam pelukannya dan berseru dari mulutnya melalui ucapan lagu yang istimewa, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu (Lukas 2:29) atau dalam bahasa Latinnya Nunc dimittis servum tuum, Domine,secundum verbum tuum in pace, quia viderunt oculi mei. Ia siap sekarang melihat tahta dan kemuliaan Allah. Ia siap memuliakan karena matanya telah melihat keselamatan. Orang yang digeser di masyarakat ini melihat keselamatan dari Tuhan. Bertahun-tahun ia sudah menantikannya. Bagaimana dengan kita? Apakah yang menjadi penantian kita? Minggu ini adalah minggu penantian (minggu kedatangan Tuhan yang keempat atau minggu adven terakhir). Gereja Tuhan telah diajak untuk menantikan Tuhan selama 4 minggu. Jemaat diajak menghadapinya kembali, “Di manakah pengharapan itu di tengah hidup tanpa harapan?.” “Di mana cinta kasih itu di tengah ketiadaan cinta, sukacita, damai sejahtera?” Yang terjadi hanyalah peperangan, musibah dan dunia yang carut marut. Mungkin saat ini kita merasa was-was sewaktu  meninggalkan tahun 2016 karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap kita. Mungkin masih tersembunyi ujung jalan yang akan kita tempuh. Banyak orang Kristen yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita, bukan hanya jemaat di Ethiopia. Bayangkan anak-anak yang kehilangan orang tua akibat pemboman di Aleppo (Suriah). Anak-anak yang tidak bisa duduk di ruang ibadah bersama orang yang mengasihi dan dikasihi mereka. Bagaimana dengan orang di Pidie Aceh? Saat ada gempa  6,4 skala Richter memporakporandakan di sana, ada banyak orang Kristen yang tidak bisa duduk dan menikmati perjamuan serta pesta Natal yang megah di gedung bagus seperti kita. Juga bayangkan dalam hati ketika kita mengingat perempuan-perempuan muda dari bagian Timur Indonesia yang dijual dan diberi janji muluk bahwa mereka akan mendapat uang yang banyak dengan bekerja di luar negeri. 2 hari yang lalu saya duduk bersama seorang teman dari NTT. Ia banyak bekerja untuk advokasi perempuan muda di sana. Sampai di penghujung tahun ini, ada 54 perempuan muda Indonesia dari NTT yang pergi dengan sukacita dengan penuh pengharapan namun pulang sebagai jenazah. Sebagian diperlakukan dengan tidak adil. Mereka kehilangan harapan. Bukan hanya dianiaya, ketika meninggal organ tubuh mereka dijual! Inilah dunia di mana tempat kita tinggal. Tidak perlu jauh-jauh, adakah orang di keluarga atau tetangga yang kita lupakan? Berapa banyak orang yang seperti Simeon yang telah lama menantikan kedatangan Mesias dan  hanya bisa mengerang, menanti dan akhirnya kecewa? Simeon akhirnya mendapatkan janji Tuhan. Simeon mendapat hak istimewa dari Tuhan. Bagi Simeon bayi kecil di gendongannya bukanlah bayi biasa. Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Dan dilanjutkan pada Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Simeon sudah melihat keselamatan dan rela melepaskan semua itu.

                Bagaimana kita mengisi Natal dan tahun baru ini? Saya bersyukur pernah tinggal di Ethiopia. Suasana Natal di sini berbeda dengan di sana. Di sini tanggal untuk memperingati Natal dekat dengan tahun baru. Di Ethiopia, Natal jatuh tanggal 7 Januari (setelah tahun baru). Karena sistem penanggalan di Ethiopia berbeda dengan kita. Kita sekarang sudah hampir memasuki tahun  2017 , sedangkan di sana masih 2009. Maka bila ada yang khawatir usia bertambah bisa pergi ke sana karena 8 tahun lebih muda. Penanggalannya berbeda karena tahun baru di Ethiopia jatuhnya tanggal 11 September. Setelah itu baru Natal 7 Januari. Saya memaknai Natal yang berbeda dengan kita. Pada perayaan Natal di kita , begitu banyak uang yang dihamburkan dan disia-siakan, sedangkan tahun barunya di sana jauh (berjarak 3 bulan lebih). Saat malam natal di sana, jemaat berkumpul untuk mengadakan ibadah dari pk 24 – pk 03 pagi. Setelah pk 3 mereka melayani satu dengan yang lain dengan saling mencuci kaki. Di sini ada tindakan yang luar biasa. Hakikat Natal di Ethiopia adalah saling melayani. Maka melalui renungan Lukas 2:25-35 saya mengajak agar kita memaknai Natal secara berbeda : kepada siapa saya harus melayani? Siapa yang telah saya lupakan dan belum layani? Saya mau pergi dan melayani mereka. Simeon mendapat anugerah besar dari Allah. Dari tahun 2003-2005 saya mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk melayani paduan suara  kaum tunanetra di Semarang . Saya menjadi pelatihnya. Itu pelayanan yang luar biasa agar saya punya memiliki hati gembala. Saya justru banyak dilayani oleh anggota paduan suara Efrata di Semarang. Tiap Jumat semua anggota paduan suara berkumpul. Ada saja anggota yang membagikan kisah sukacita maupun sedih. Kalau saya mengeluh dan merasa tidak ada pengharapan dan pertolongan mereka hadirkan melalui paduan suara Efrata. Bagaimana kita pulang menjelang Natal di tahun 2016 ini?

                Hidup kita sebenarnya hanya sementara saja. Kita punya kelengkapan hidup yang hebat dan normal, namun itu hanya sementara. Sewaktu kecil, kita menjadi orang yang ‘disable’ dan membutuhkan orang lain untuk memapah, menolong dan membesarkan kita. Sebentar lagi sebagian dari kita memasuki usia seniordan memasuki era di mana kita akan mengalami permanent disable. Itu berarti kemampuan dan normalitas saya sebentar lagi akan hilang dan juga kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Sebentar lagi saya kehilangan pandangan saya dan  kabur. Kita tidak bisa lagi berjalan secepat sekarang dan suka sakit-sakitan. Kapan waktunya? Saya tidak tahu. Menghayati kehidupan seperti ini dan berefleksi seperti Simeon : Apa yang sudah kita kerjakan untuk orang yang sudah lama dilupakan banyak orang? Marilah kita pulang dan kiranya dibimbing oleh Tuhan . Temukan orang yang  dekat dengan diri kita dan mungkin kita lupa melayani mereka. Tahun 2006, tahun kedua saya tidak berada bersama ibuda yang dipanggil Oktober 2005. Kalau saya pulang dari studi di Amerika, Ibu saya ingin melihat ijazah dan sertifikat saya dari luar negeri. Tetapi kehendak Tuhan berkata lain. Ibu saya belum sempat melihat ijazah saya. Tetapi saya mengucap syukur tahun lalu, penantian saya untuk kembali melihat ibunda diberi waktu bersama 1 bulan Tuhan penuhi. Waktu saya mau pergi ke luar negeri. Ibu saya menderita sakit gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah. Saya pergi ke luar negeri dengan berat hati, tapi ia yakinkan,”Kamu harus pergi karena Ibu masih punya saudara dan teman yang bisa menjaga Ibu . Ketika di luar negeri saya berjanji untuk menyelesaikan studi dengan baik. September lalu saya pulang dan pada bulan Oktober saya sudah punya rencana,”Sebentar lagi Natal dan saya akan merayakan Natal bersama Ibu.” Tetapi Tuhan memanggil dia. Sebelum kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita ingat mereka sekali lagi. Sebagai gereja yang dibesarkan Tuhan, mari kita lihat adakah orang yang dilupakan, yang merupakan soko guru dan tiang gereja dan yang menjadi kekuatan gereja ini. Bila ada orang yang tidak punya memiliki keluarga dan kita tergerak menolong mereka, mari nyatakan cinta kasih kita kepada mereka. Mari melayani mereka yang dilupakan masyarakat, Mari sekarang waktunya untuk menjadi terang Allah di dunia yang kehilangan pengharapan ini. Jika kita memiliki keyakinan bahwa Kristus yang  paling berharga dan terutama, maka kita datang seperti Kristus sudah datang kepada kita dan berkata, “Tuhan aku sudah melihat keselamatan Mu dan menjadi saksiMu demi namaMu” dan kiranya di akhir zaman Dia berkata,”Selamat datang hambaKu yang  baik dan setia.” Amin.


No comments:

Post a Comment