Sunday, January 8, 2017

Hidup Hanya Untuk Hari Ini


Ev. Susan Kwok

Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya.
1 Raja-Raja 15:11-13
11  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.
12  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.
13  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron.
1 Raja-Raja 22:41-43
41 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel.
42  Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.
43  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.
2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Pendahuluan

                Yang dimaksud kalimat pada tema kali ini “Hidup Hanya untuk Hari Ini”  sebenarnya merupakan kalimat sindiran atau  peringatan untuk mengevaluasi diri : apakah kita adalah orang-orang yang hanya memikirkan hidup sebatas hari ini saja? Tema ini sebaliknya hendak mengingatkan bahwa kita harus mempersiapkan hari-hari mendatang dan generasi-generasi penerus kita. Ini bukan pekerjaan mudah. Hanya dengan pertolongan Tuhan kita dapat melakukannya. Tema GKKK Mabes 2017 adalah generasi yang sehat dan kuat. Siapakah generasi itu? Dia adalah anak-anak kita. Dia adalah anak-anak didik kita. Dia adalah orang-orang yang bekerja dan melayani bersama-sama kita. Mereka adalah orang-orang yang hidup bersama kita dan suatu hari akan menggantikan kita. Apa yang akan kita persiapkan untuk mereka? Pondasi apa yang akan kita tanamkan untuk mereka? Apa dasar yang kuat, teguh dan kokoh yang kita tanamkan untuk mereka? Dalam hal iman, kehidupan sosial, moral, pekerjaan, mental yang baik, apa yang kita tanamkan? Apa pengaruh yang kita berikan? Oleh karena itu kita mau melihatnya dari Alkitab dan belajar dari sejarah yang ada di dalamnya.

Yosua : Teladan dalam Mengikut Allah bersama keluarganya serta Menyaksikannya.

                Yosua adalah orang muda yang mempertahankan imannya sampai tua. Dia memimpin suatu bangsa yang tidak mudah ditangani. Suatu bangsa yang selalu ingin hidup seenaknya sendiri. Berkali-kali Yosua harus mengingatkan orang-orang ini. Sampai kemudian dia menjadi tua dan akan meninggal. Sebelum meninggal ia mengeluarkan kalimat yang tertera pada Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  Ia memberikan suatu tantangan dan pilihan pada umat Israel. Kamu mau beribadah pada Allah siapa : allah orang Amori , allah bangsa lainnya atau kepada Allah orang Israel? Israel harus membuat suatu  keputusan untuk dirinya sendiri, karena iman tidak bisa ikut-ikutan (hanya meniru-niru saja), tetapi iman itu harus diputuskan dari dalam diri sendiri. Sama seperti kalau mempunyai anak, kita tidak bisa memutuskan iman anak kita harus kepada siapa demikian juga Yosua tidak bisa memutuskan iman bangsa Israel. Namun dia melakukan hal-hal untuk memberikan pondasi selama perjalanan hidupnya agar umat Israel bisa melihat dan dapat memberikan hatinya kepada Allah. Jadi Yosua memberikan teladan hidup. Ia memberikan contoh dan model bagaimana dan seperti apa orang yang takut akan Tuhan (lihat diriku, perbuatanku dan kata-kataku). Inilah contoh orang yang percaya pada Tuhan. Pada suatu hari Yosua berharap orang Israel memilih Tuhan sebagai Allah orang Israel. Demikian pula kita harapkan anak –anak kita memilih iman kepercayaan yang tepat dengan menjadi model atau contoh (teladan).

Yang kedua yang dilakukan Yosua adalah  walaupun ia memberikan pilihan pada Israel tetapi dengan tegas ia menyatakan kepada bangsa Israel bahwa pilihanku adalah kepada Allah. Ketegasan ini harus nyata dalam diri Yosua. Sebagai seorang pemimpin, senior dan  orang tua biasanya diikuti oleh yang lebih muda, sehingga Yosua mengatakan “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". Itu yang harus kita lakukan kepada keluarga kita. Meskipun tidak bisa mengambil keputusan bagi anak-cucu kita untuk percaya, tapi dengan teladan kita menunjukkan pilihan kita. Itu sebabnya Yosua menjadi tokoh iman yang luar biasa bagi bangsa Israel. Ia mempersiapkan generasi Israel dalam masa sukar untuk memilih Allah yang benar.

Asa : Pengaruh Orang Tua Penting Pada Anak-Anaknya

Yang kedua lihat 1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya. Salah seorang putra Raja Daud adalah Salomo yang punya kemudian berputra Rehabeam. Selanjutnya Rehabeam mempunyai anak yang bernama Abiam. Daud sangat terkenal akan hatinya yang lembut sehingga kalau dia berbuat dosa dan ditegur Allah, langsung ia bertobat. Sebagai orang tua Daud pasti telah mengajarkan anak-anaknya bagaimana ia hidup di hadapan Allah. Tetapi beberapa anak dari beberapa istrinya ada yang ikut dan ada juga yang tidak ikut jalan Tuhan. Anaknya Salomo pada awalnya sangat mencintai Tuhan. Waktu Salomo ditanya olehTuhan, “Kamu mau meminta apa Salomo? Kamu meminta apa saja akan Saya kasih.” Suatu kali kalau Tuhan datang dan bertanya kepada kita,”Kamu mau minta apa?” Pasti ada yang mau ini, ada yang mau itu. Namun permintaan Salomo berbeda. Ia berkata,”Tuhan saya tidak minta uang yang banyak dan umur yang panjang.” Keduanya merupakan hal yang kalau ditanya menjadi jawaban banyak orang : “Tuhan aku mau umur panjang, sehat , makmur, kaya serta uangnya banyak”. Tetapi Salomo berkata,”Tuhan aku tidak minta uang dan umur panjang. Ya Tuhan jadikan aku orang yang bijaksana dan berhikmat.” Diminta keduanya karena dengan hikmat dan bijaksana ia akan bisa memimpin kerajaan dan keluarga dengan baik. Bila punya uang tapi tidak bijaksana maka kerajaan atau keluarga bisa bubar. Punya usia panjang, tetapi tidak pintar dan bijakasana, juga bisa bubar. Tetapi bila berhikmat dan bijaksana bisa berusia panjang dan langgeng kerajaan dan keluarganya. Sayangnya Salomo jatuh dalam dosa seks. Ia memperistri orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, sehingga hatinya berubah kepada Tuhan. Akhirnya kejahatan demi kejahatan dia mulai lakukan. Itu yang dia perlihatkan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mencontoh apa yang telah diperbuatnya. Sehingga Rehabeam menjadi anak yang jahat.  Demikian pula dengan Abiam, anaknya Rehabeam yang ternyata juga jahat. Jadi dua generasi di bawah Salomo adalah raja yang jahat. Rehabeam dan Abiam membawa bangsa Israel menjadi bangsa yang jahat juga, tetapi anugerah Tuhan ada untuk bangsa Israel.

1 Raja-Raja 15:11-13  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron. Siapa Raja Asa? Asa adalah anak dari Abiam. Allah melindungi Bangsa Israel. Ketika menggantikan Abiam, Asa banyak melakukan reformasi (perubahan). Yang pertama, Ia menghapus pelacuran bakti yakni persetubuhan yang diijinkan dilakukan oleh kepada siapapun dan dianggap sebagai persembahan kepada dewa.  Hal ini seperti yang terjadi beberapa puluh tahun lalu di mana dunia kekristenan digegerkan oleh satu bentuk agama yang membolehkan orang yang selesai ibadah melakukan hubungan seks dengan siapa pun, karena itu dianggap sebagai salah satu bentuk liturgi penyembahan. Betapa jahat yang dilakukan manusia dengan begitu bebas melakukan hubungan seks. Itu sebabnya ketika Asa menjadi raja ia bertekad menghapus pelacuran bakti. Nenek kandungnya sendiri kemudian dipecat sebagai ibu suri karena ia membangun patung Asyera. Apakah Asa kurang ajar? Bukan! Hal ini dilakukan karena neneknya kurang ajar kepada Tuhan yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir sehingga Asa memecatnya.
Asa memiliki seorang anak yang juga seorang reformator alias  pembawa pembaharuan. 1 Raja-Raja 22:41-43 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel. Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Asa seorang reformator yang melahirkan anak yang juga melakukan pembaharuan. Ia melakukan apa yang benar seperti ayahnya. Tadi Abiam juga melakukan apa yang jahat seperti ayahnya. Hal ini berarti apa? Berarti orang tua mempunyai pengaruh penting terhadap anaknya seperti apa di masa depannya. Tentu hal ini bukan bermaksud menyalahkan orang tua seratus persen, karena ada faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan anak seperti media dan lingkungan (pergaulan). Namun yang penting sebagai orang tua, kita  harus  mengevaluasi diri apakah kita sudah menjadi orang tua dan memberi contoh yang baik. Kita tidak bisa mengawasi anak 24 jam, tidak menutup gelombang perkembangan teknologi, namun yang dilakukan di dalam rumah sendiri atau saat sedang berada bersama, maka saat itu kita bertanggung jawab atas anak-cucu kita.

Timotius : Pengaruh dari Ibu dan Nenek

                2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
Rasul Paulus sangat menghormati , sangat bangga dan bersyukur akan ibu dari Timotius. Kemungkinan ayah Timotius sudah meninggal sehingga tidak dibicarakan pada nats ini. Pengaruh nenek dan ibu membuat Timotius mempunyai dasar yang kuat sebagai seorang anak. Sehingga ketika Timotius bertemu Rasul Paulus ,seorang profesor yang hebat di bidang teologi, maka Timotius bisa terasah dengan baik.

Tanpa pondasi yang baik, generasi mendatang jadi tidak baik

Raja, orang tua,  pemimpin yang hidup hanya untuk hari ini (tidak pikir panjang untuk masa depan), mereka akan mencetak generasi-generasi yang tidak baik. Tetapi orang tua, pemimpin dan generasi yang takut akan Tuhan akan memikirkan bagaimana hidup generasi ke depan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah memberikan pondasi yang kuat untuk generasi penerus kita supaya nanti mereka lebih baik dari kita? Ada 2 jenis pekerjaan yang sangat menyadari pentingnya regenerasi (kelanjutan pekerjaan). Yang pertama adalah orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan yang kedua adalah orang yang berkecimpung dalam politik. Orang yang berkecimpung dalam bisnis, apalagi bisnis keluarga, maka ia sebisa mungkin mendidik generasi penerusnya agar hartanya tidak beralih. Segala macam cara dilakukan. Bagi anak berasal dari keluarga yang sangat kaya, sebelum penikahan dibuat perjanjian pra nikah. Untuk berjaga-jaga agar kalau orang tuanya meninggal atau bercerai maka hartanya tidak jatuh ke tangan orang lain. Kalau Di Indonesia dikenal sebagai harta gono-gini. Misalnya : pengusaha sepatu. Bila usaha sepatunya sudah berkembang  dan merambah ke seluruh dunia, maka ia ingin anaknya yang meneruskan dan berharap anaknya jauh lebih berkembang. Anaknya akan dididik segala hal tentang sepatu. Supaya anaknya ini bisa menggantinya. Demikian juga dengan seorang politikus. Politikus identik dengan dunia kotor walaupun tidak semuanya kotor. Orang tua yang berkecimpung dalam dunia politik akan mencoba mewariskan pengetahuan kepada anaknya dengan tujuan, minimal kalau sudah tidak menjabat lagi maka kekayaan dan kesalahan saya tidak dikutak-katik. Itu sering terjadi di negara kita. Pengusaha dan politikus sangat mementingkan regenerasi. Bagaimana dengan keluarga dan gereja kita? Bagaimana kita mempersiapkan (menganggap penting) iman dalam hal regenerasi ini?
                Ada seorang teman yang tahun lalu anak perempuan satu-satunya yang pintar sekali ternyata jatuh cinta pada seorang supir taksi. Bukan masalah pada pekerjaan supir taksi. Masalahnya : ayahnya yang aktifis gereja serius dalam pelayanan. Anaknya juga serius dalam pelayanan. Namun begitu cinta datang maka tahi  kucing terasa coklat (irasional, tidak masuk akal, otaknya tidak jalan). Dia sudah seperti lupa akan Tuhan yang sudah menyelamatkannya dan lupa pada pelayanan yang sudah diambil. Dia mulai pakai ATM dengan limit yang tidak kira-kira. Papanya tahunya ia kuliah tetapi ternyata ia tidak kuliah dan ia pergi jalan dengan cowonya. Suatu kali ia pergi dan tidak pulang-pulang. Papanya bingung , telepon tidak diangkat-angkat. Tetapi tagihan kartu kredit jalan terus. Akhirnya oleh bapaknya diblokir. Ternyata ia berada di salah satu pelosok terpencil di Sukabumi , mereka hidup bersama. Pasangannya muslim dan jelas ia tidak ke gereja. Papanya coba cari dengan membawa pendeta, malah pendetanya mau dipukul oleh cowonya. Akhirnya papanya marah besar dan memutuskan hubungan. Beberapa bulan kemudian, ia mendengar kabar, anaknya sudah hamil 6 bulan. Tambah pusing papanya. Masing-masing orang harus punya keputusan sendiri. Orang tua memberikan pondasi tetapi anak harus memutuskan sendiri. Jangan bilang itu ujian dari Tuhan. Bukan, itu penyakit yang dicari sendiri.
Contoh kedua. Seorang teman meminta tolong, karena suaminya sedang tergila-gila. Awalnya saya pikir gila judi ternyata gila perempuan. Mereka sebenarnya sudah punya anak. Tetapi ia tergila-gila pada seorang perempuan muda yang jauh beda usianya. Apa yang terjadi? Siapa perempuan muda itu? Saya waktu mendengarnya terkejut. Sebagai hamba Tuhan saya juga merasa ditampar. Ternyata anak perempuan itu adalah anak dari pendeta. Saya tidak salahkan bapaknya yang tidak saya kenal. Ternyata sang bapak, istrinya lebih dari 1 alias ada 3 tetapi bisa jadi pendeta. Buat malu saja. Perempuan masih muda anak pendeta, ternyata pendeta itu punya istri 3. Kita sebagai orang Kristen malu. Saya sebagai hamba Tuhan merasa malu. Apa kata Tuhan itu yang penting. Tidak mau berpikir, mereka berdua hanya hidup untuk hari ini, kesenangan hari ini, kepuasan hari ini. Tidak berpikir anak-cucu dan bagaimana nantinya. Kalau dengan gereja bagaimana?
Saya punya pengalaman tidak enak berkaitan dengan gereja. Lebih dari 10 tahun lalu, ketika terjadi peralihan pimpinan, pemimpin sebelumnya tidak dipersiapkan oleh gereja untuk menerima saya yang lebih muda. Semua yang saya lakukan dianggap salah. Kemudian terjadi sedikit permasalahan di tengah jemaat. Karena jemaat merasa bahwa kehadiran saya untuk meniadakan pelayanan si Bapak Tua itu. Waktu itu usia saya masih cukup muda dan mengikuti emosi anak muda. Saya langsung marah dan langsung berkata, “Kalau memang begitu, hari ini juga saya berhenti. Saya tidak mau gereja ribut.” Akhirnya setelah beberapa hari, saya seperti ditegur oleh Tuhan. Mengapa kamu pakai emosi seperti itu? Coba adakan pertemuan dengan pusat. Akhirnya diadakan pertemuan dengan pusat dan semua hamba Tuhan hadir dan bicara. Semua dibukakan dan diketahui bahwa regenerasi di dalam gereja tidak disiapkan dengan baik. Peralihan kepemimpinan tidak dipersiapkan dengan baik. Orang yang akan diganti dan akan mengganti tidak diberitahu dengan baik. Akhirnya saya menangis karena kesal, sedih dan kecewa. Tiba-tiba hamba Tuhan itu menangis juga dengan suara kencang. Saya sampai terkejut. Yang membuat saya kaget , dia menghampiri saya dan memeluk saya seakan-akan saya anaknya. Langsung kemarahan dan kekecewaan saya hilang. Saya menyesal mengapa saya marah-marah dengan dia. Sesudah itu pelayanan jadi indah karena saling mendukung satu dengan lain. Itu regenerasi yang baik.

Penutup


Bagaimana dengan jemaat GKKK Mabes? Bulan Januari 2017 di pelataran parkir digelar acara talent fair yakni pameran talenta (pelayanan) yang bertujuan untuk mencari dan mempersiapkan kader agar pergantian pelayanan berjalan mulus (tidak terjadi kepincangan dalam usia). Contoh : pelatih paduan suara Hosana ,Sung shimu, sudah harus berpikir bahwa  tidak selamanya shi mu bisa hidup dan memimpin latihan paduan suara. Siapa penerusnya di paduan suara Hosana. Sehingga Sung shi mu harus mempersiapkan pelatih yang lebih muda untuk mengambil alih tugasnya. Pengganti anggota paduan suara Hosana juga perlu disiapkan. Suatu kali anggota paduan suara Jubilate (paduan suara anak muda)  akan menjadi tua dan menggantikan asuk-asuk di Hosana. Anggota Jubilate harus mempersiapkan anak-anak remaja di bawahnya. Sedangkan para remaja akan meninggalkan masa remaja dan menjadi anggota Jubilate. Anak-anak sekolah minggu akan menggantikan remaja. Talent fair untuk segala usia. Majelis dan rohaniawan memikirkan harus ada regenerasi yang baik di GKKK Mabes. Gereja ini tidak boleh berjalan secara tidak jelas urutan dan tujuannya. Itu sebabnya saat ini saya bersusah-susah dalam mengikuti kuliah bahasa Mandarin. Saya baru tahu kata ‘de’ ada 3 macam. De yang harus ada di belakang kata benda, kata kerja dan di belakang menyusul kata kerja. Supaya tidak salah dalam hal pemakaian dan terutama dalam tulisan. Kita harus ada regenerasi juga dalam hal pemusik (termasuk pianis) dan pengurus sound system harus mendidik juniornya. Siapa yang harus menggantikan mereka? Pengertian regenerasi tidak boleh terbalik, di mana yang tua menggantikan yang muda. Gereja bisa saja berpikir tidak perlu pusing tentang penyanyi, pemusik, sound system, operator LCD karena untuk menggantikannya dengan menyewa orang. Tetapi itu hal yang paling jelek yang bisa dilakukan oleh gereja. Kalau sudah begitu, gereja tidak berdiri di atas kaki jemaat melainkan di atas uang. Suatu kali Tuhan tidak kasih uang, bagaimana gereja mau berjalan bila tidak ada generasi yang disiapkan? Oleh karena itu hidup hanya untuk hari ini adalah hidup yang mempersiapkan generasi dalam segala hal. Amin.

No comments:

Post a Comment