Tuesday, December 10, 2013

Aku adalah Hamba Tuhan



Ev. Daesy Sanger

Luk 1:26-38
26  Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
29  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
30  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
34  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
35  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
36  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
38  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Pendahuluan
Di kebaktian saat diminta, “Siapa di sini yang hamba Tuhan angkat tangan!”,  ternyata jarang (bahkan tidak ada) jemaat yang mengangkat tangannya. Umumnya hamba Tuhan dikonotasikan dengan penginjil atau pendeta. Padahal kalimat “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” bukan dikeluarkan oleh seorang imam, nabi, pemimpin rumah ibadah (gereja), tetapi keluar dari mulut seorang perempuan muda biasa, yang sangat sederhana seperti kebanyakan.

Siapa yang dimaksud hamba Tuhan?
Waktu masih mengikuti kelas Sekolah Minggu, saya punya keinginan bermain drama memerankan tokoh Maria, ibu Yesus. Hal ini karena Maria digambarkan sebagai wanita cantik memakai jubah panjang, kerudung merah muda dan menggendong bayi Yesus. Sebagai seorang anak kecil, kita tidak mengerti, menjadi Maria tidak mudah, penuh dengan kesulitan. Setelah dewasa, belum tentu kita mengerti beratnya pergumulan Maria. Karena kita terpesona oleh kepopuleran Maria. Maria adalah seorang perempuan muda yang dipilih Tuhan yang dari mulutnya keluar satu kalimat, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan.” (ayat 38a). Pada ayat 26-27  dikatakan, “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret” kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria., Pada ayat-ayat  tersebut, jelas sekali bahwa Allah sudah memberikan sebuah petunjuk yang sangat tepat tentang waktu, tempat dan orangnya yang membuktikan bahwa ini adalah fakta sejarah. Bulan keenam yang dimaksud adalah bulan keenam dari saat Elizabeth mulai mengandung. Ini dua peristiwa yang mencengangkan yang tidak masuk akal (tidak bisa diterima oleh medis). Bagaimana mungkin seorang perempuan tua yang mandul, bisa mengandung dan punya anak? Tetapi Tuhan sudah menyediakan sebuah rencana yang begitu besar (hebat) nya , walau bagi kebanyakan orang sungguh tidak masuk akal.

Siapa Maria?
Alkitab mengatakan, ia seorang perawan, tunangan dari Yusuf, keturunan Daud dan tinggal di Nazaret Galilea. Jadi tidak kebetulan ia yang dipilih, karena Tuhan sudah merencanakannya. Artinya segala sesuatu yang terjadi atas Maria, ia sudah dipilih menjadi hamba Tuhan, walaupun ia bukanlah seorang imam atau pemimpin agama, tetapi ia mempunyai kerohanian yang baik. Kondisi Maria mengingatkan kita akan nubuatan Allah pada Yesaya 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Sebuah rencana Allah , jauh sebelum Maria lahir, sudah diberitahukan. Alasan Maria yang dipilih walaupun ia  bukan seorang imam atau rohaniawan :
1.     Maria dipilih karena ia telah memperoleh kasih karunia. Ini adalah kedaulatan Allah dalam memilih orang, Allah mengasihi dan memilih Maria. Seperti juga halnya Tuhan memilih kita dari orang yang berdosa, penuh kejahatan , harus dihukum mati, dan kita dipilih menjadi anak Tuhan, itu adalah kasih karunia. Maria memperoleh kasih karunia dari Allah, sama seperti Nuh pernah menerimanya. Kej 6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Jika tidak pernah merasakan kasih karunia itu, sunguh sulit untuk memahami bahwa kita dikasihi dan dipanggil menjadi hambaNya sehingga kita tidak berani berkata bahwa kita hamba Tuhan.
2.     Maria seorang yang hidup berkenan kepada Allah. Tuhan memilih dan memberi kasih karunia lalu Maria meresponinya dengan melakukan hal yang berkenan. Alkitab mencatat Maria adalah orang yang berkenan kepada Allah. 2 Tim 2:21 Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud mulia, ia dikuduskan, ia dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan mulia. Ini merupakan nasehat Rasul Paulus kepada Timotius. Setiap orang yang dipanggil Tuhan, tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Ini merupakan respon. Kalau kita tidak berusaha menyucikan diri dan meninggalkan perbuatan jahat, kita tidak bisa menjadi perabot rumah Tuhan serta tidak dipandang untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Maria dipilih karena kasih karunia dan berkenan di hadapan Tuhan sehingga pekerjaan yang mulia sebagai ibu Yesus di dunia diberikan kepada Maria. Bagaimana kita bisa jadi hamba Tuhan kalau tidak menyadari hal ini?  Jangan pernah berpikir bahwa dengan masuk dan belajar di sekolah Alkitab (bahkan sampai S2) sudah membawa kita kepada karakter hamba Tuhan. Tidak! Banyak hamba Tuhan bergumul dengan karakter-karakternya. Artinya untuk bisa menjadi hamba TUhan kita perlu berusaha, menerima kasih karunia, berjuang untuk berkenan di hadapan Allah seperti Maria.

Kunjungan Malaikat kepada Maria
Ayat 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau"  (“Greeting* you who are higly favored! The Lord is with you”). Kunjungan Malaikat kepada Maria merupakan puncak (peristiwa yang sangat dahsyat). Saya kesulitan mendapat gambar yang mewakili ayat ini. Biasanya gambar di google, lengkap dengan sinar yang terang (berkilau-kilau) dan ini berbeda dengan apa yang dilukiskan Lukas. Lukas tidak mencatat bahwa Maria dikunjungi mahluk yang bersinar menakutkan dan membuat Maria merasa ngeri. Sewaktu menjadi guru Sekolah Minggu, saya membuat kesalahan menggambarkan malaikat dengan lingkaran halo di kepala dan membawa tongkat berujung bintang seperti pada kisah Pinokio. Padahal Alkitab mencatatnya begitu alami (biasa). Saat penampakan malaikat di hadapan Maria, Lukas tidak mencatat seperti apa fisik malaikat tersebut seperti Lukas mencatat di bagian lain yang menceritakan malaikat sebagai sosok yang bersinar. Seperti pada Lukas 2:9 , Lukas mencatat, Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lukas adalah penulis yang sangat detil dan akurat sehingga tidak mungkin dia lupa mencatat malaikat yang bersinar-sinar ketika bertemu Maria. Jadi bukan sinarnya yang penting tetapi salamnya yang penting, karena itu ditulis dalam Alkitab pada ayat 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu, Maria terkejut mendengar perkataan itu (bukan terkeju dengan fisiknya malaikat) yakni Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Kata salam berasal dari kata khah’eero (chario yang artinya gembira / merasakan sukacita). Kata chairo sangat erat kaitannya dengan kata grace (anugerah).  Chairo merupakan sebuah perasaan gembira karena anugerah Allah. Maria terkejut karena perkataan malaikat itu. Dia merasa dia orang biasa (kebanyakan), tetapi didatangi malaikat yang berkata, “Salam (chairo /greeting)”. Dengan penuh kerendahan hati Maria mengatakan, “Siapa saya, sampai mendapat salam yang begitu memuliakannya”. Itu membuatnya terkejut. Dia tidak mengerti apa arti salam itu. Seorang hamba Tuhan begitu rendah hati. Ia menyadari dirinya orang biasa yang sebenarnya tidak layak. Tetapi Allah melayakkan. Allah memberikan chairo untuk dia, sebuah salam yang tidak biasa. Berapa banyak dari kita yang tersinggung ketika kita melayani di gereja sebagai aktivis, majelis gereja, guru sekolah minggu bahkan hamba Tuhan dan kita merasa kurang dihargai oleh orang lain. Kita perlu belajar dari Maria. Maria merasa dirinya tidak layak dapat salam itu. Bukankah kita dipilih jadi hamba Tuhan? Ini benar-benar karena Allah melayakkan kita. Bukan karena kita pintar, baik, karena Tuhan bisa pakai siapa saja yang bukan kita. Waktu Yesus masuk Yerusalem naik keledai orang banyak mengambil pohon palm mulai memulikan Allah, “Hosana..Hosana.”. Prajurit dan ahli taurat tidak suka. Mereka meminta orang banyak diam. Tetapi Yesus bilang, “kalau mereka diam batu bisa memuji”. DI surga ada sepasukan malaikat yang melayani tetapi Allah mau memakai dan menghargai kita seperti Maria yang bersedia untuk taat, hidup berkenan dan kasih hidupnya untuk Tuhan. Semuanya dikasih termasuk harga diri, masa depan dan pernikahannya.

Waktu malaikat menyampaikan pesan, Maria tidak mengerti, sehingga ia bertanya lalu Allah memberikan jawabanNya. Ayat 30-33 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Allah memberitahukan Maria , seorang hamba Tuhan, tentang rencananya yang begitu agung. Kepada Maria malaikat mengatakan, “Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia adalah Yesus”. Maria tetap tidak memahami. Untuk itu ia bertanya, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Ketidakmampuan Maria untuk memahami rencana Allah tidak membuat Allah tidak memilih dia. Allah bersedia memberi jawaban. Ini membuktikan kerendahanan hati Maria. Salah satu ciri rendah hati adalah terus bertanya pada Tuhan tentang apa yang Tuhan mau saya berikan. Dan Tuhan memberikan jawaban. Kali ini malaikat berkata, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Waktu saya menyiapkan bagian ini, saya mencoba berada pada posisi Maria. Saya membayangkan bagaimana Maria bisa menerima kondisi seperti ini? Benar-benar membutuhkan kepercayaan atas perkataan Allah karena belum kelihatan bayinya dan belum tahu siapa Yesus. Hanya mendengar dan dia percaya. Itulah hamba Tuhan. Berapa banyak yang mengaku hamba Tuhan tapi tidak bisa percaya pada Tuhan serta perkataan dan janjiNya. Maria tidak begitu. Tetapi Tuhan tetap bisa memberikan banyak peneguhan padanya. Ada peristiwa ajaib sebelum ia mengandung Yesus. Saudaranya, seorang perempuan yang sudah tua dan mandul, ternyata bisa hamil. Tuhan memakai Elizabet untuk bisa menjadi contoh (teladan) dan malaikat mengatakan,” Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.”  Tuhan mengerti pergumulan Maria. Tuhan memberikan peneguhan demi peneguhan. Memberikan orang-orang di sampingnya untuk meneguhkan Maria sehingga muncullah perkataan,”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan”. Hamba Tuhan bukan selalu orang yang masuk sekolah Alkitab tetapi orang-orang yang mengerti pilihan, kasih karunia Allah, bersedia hidup berkenan kepada Allah, memberikan dirinya pada Tuhan menjadi perabot rumah Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Maria memberikan pelajaran yang berharga buat kita. Apakah kita bersedia menjadi hamba Tuhan ? Apa kita bersedia mengambil resiko? Maria mengambil resiko!, Kalimat yang diltulis Lukas tidak berhenti pada, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan” namun ada tambahannya, “; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Perkataan yang mana? Perkataan Allah yang dikatakan malaikat. Artinya Maria bersedia masuk dalam rencana Allah dengan segala resiko mungkin bisa dirajam mati karena hamil di luar nikah, kehilangan Yusuf, gagal pernikahan, dan sebagainya. Maria bersedia mengambil resiko karena ia percaya Allah, dia tahu Allah memberikan rencana hidup yang luar biasa.

Mari kita sama-sama memikirkan apakah kita bersedia menjadi hambaNya? Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Dengan apa yang Tuhan sudah berikan pada kita (materi, talenta, karakter dan seluruh keberadaan kita). Biarlah kita bisa menjadi seperti Maria yang bisa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu.”

No comments:

Post a Comment