Sunday, July 2, 2017

Pedang Bermata Dua (Firman Tuhan Untukku dan Untukmu)


Ev. Rio Tan

Ibrani 4:10-13
10  Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
11  Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.
12  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
13  Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Aturan dan Tanggung Jawab

                Saat mencoba memperhatikan tatanan hidup sebagai manusia, baik yang masih muda atau pun yang  sudah tua, maka seringkali kita bersinggunggan dengan berbagai aturan. Aturan-aturan itu melekat dengan berbagai aspek kehidupan. Contoh : setiap rumah tangga punya aturan. Saya teringat akan aturan di rumah di mana kalau sedang makan, tidak boleh ada yang memainkan gawai (gadget)  atau memegang telpon seluler, tidak boleh makan sambil menonton dll. Dalam arena yang lebih luas seperti saat menempuh pendidikan di universitas, ada aturan seperti bila 3 kali tidak hadir dalam kuliah maka tidak boleh mengikuti ujian akhir (UAS). Di kantor (perusahaan tempat kita bekerja) pun ada aturannya. Bahkan di luar, ketika berkendaraan di jalan ada aturan lalu lintas seperti kalau lampu sedang merah berarti harus kendaraan berhenti (bukan sebaliknya malah tancap gas) sedangkan bila lampunya telah hijau maka baru boleh jalan. Di gereja juga ada aturan. Seperti selama ibadah, telepon seluler harus dimatikan, saat ibadah berlangsung tidak boleh ngobrol atau tidur (terkadang waktu mendengar firman Tuhan menjadi waktu paling ‘indah’ untuk tidur), jemaat hadir sebelum ibadah dimulai.  Di gereja saya bila ibadah dimulai pk 10 maka jemaat yang hadir tepat pada pk 10 atau lebih dianggap telat (hadir sebelum pk 10 baru dihitung tidak telat). Jadi kalau mau tidak telat, datanglah ½ jam sebelumnya. Tadi saat hendak menyampaikan khotbah di tempat ini, saya usahakan berangkat secepatnya dari daerah Bumi Serpong Damai (BSD) sehingga bisa tiba di sini sebelum pk 9.30.
                Hidup kita diwarnai dengan aturan-aturan. Aturan itu bertujuan agar segala sesuatu bisa ditata dengan baik sehingga tujuannya bisa dicapai bersama-sama. Dalam hidup manusia, kita seringkali berkaitan dengan aturan. Manusia dituntut untuk bertanggung jawab untuk mentaati aturan yang dibuat demi suatu tujuan. Kita belajar dan diajar untuk bertanggungjawab. Jadi ada 2 hal yaitu aturan dan tanggung jawab yang ada di dalam hidup kita baik yang berusia tua maupun muda atau baik yang sudah bekerja bekerja maupun yang masih kuliah. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen (orang percaya) ada tanggung jawab yang harus dipikul seperti beribadah pada hari Minggu, ikut dalam pelayanan, berdoa kepada Tuhan. Sebagai orang percaya sekalipun diberi anugerah keselamatan dari Tuhan, kita punya tanggung jawab.
                Ibrani 4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ayat ini mengatakan dengan jelas  bahwa kita hidup sementara di dunia dan kita akan meninggalkan dunia ini. Suatu hari nanti  setiap orang tanpa kecuali harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Saat itu tidak ada lagi yang namanya hamba Tuhan dan pendeta yang membela. Yang ada hanya diri kita dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidup kita. Ketika kita hadir di dunia ini, dalam prosesnya hari demi hari, sampai mencapai akhir kehidupan kita, ternyata tidak berakhir begitu saja. Setiap orang tanpa kecuali akan mempertanggungjawabkan hidupnya. Masalahnya : bagaimana kita menjalani hidup kita hari lepas hari? Apakah kita bertanggung jawab dengan anugerah yang diberikan kepada kita? Apakah semakin hari kita semakin menikmati kasih Tuhan dan semakin memiliki pengenalan yang sempurna akan Tuhan? Kalau kita tidak bertanggung jawab dengan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan, maka kita melewati hari demi hari begitu-begitu saja. Setiap hari dimulai dengan bekerja di pagi hari, malam hari pulang bertemu keluarga. Begitu seterusnya. Kalau kita tidak bertanggunggung jawab, maka Tuhan mengatakan,”Aku tidak akan mengenalmu.” Kehidupan kita harus bertanggungjawab. Sebagai orang yang percaya , setelah diselamatkan, maka kita harus mengisi setiap hari dengan hal yang bermakna (bernilai) sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana mengisi hidup kita, kalau kita tidak punya waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Suatu saat kita harus mempertanggungjawabkan hal yang telah kita lakukan.

Firman Tuhan Menuntun Hidup Orang Percaya

                Maz 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Di dalam kehidupan kita yang singkat dan sementara, kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Mari kita isi dengan hal yang Tuhan mau kita lakukan. Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan kita  dan sebagai kebenaran yang menjadi penuntun hidup kita. Di dalam kehidupan kita, kita berpegang penuh dan setia pada kebenaran firman Tuhan. Satu hal yang kita syukuri sebagai orang percaya, kita menerima anugerah. Tuhan memberikan anugerah untuk kita semua. Tetapi anugerah itu bukan anugerah yang murahan. Ketika anugerah diberikan untuk kita semua, maka kita harus menyerahkan hidup kita, keberadaan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan agar Tuhan pimpin seluruh hidup kita. Jangan berpikir kita sudah punya kemampuan, kepintaran, uang , jabatan yang tinggi dll sehingga tidak bersandar pada Tuhan. Kalau menjalani hidup sendiri dengan kemampuan sendiri, maka kita tidak mampu menjalaninya. Kita butuh Tuhan untuk menuntun hidup kita. Kita butuh Firman Tuhan untuk menjalani hidup kita.
                2 hari lalu ada seorang jemaat yang ada datang kepada saya dan berkata,”Pak semakin hari hidup semakin susah.” Dia lihat berita bahwa Jumat lalu (30/6/2017), hanya berjarak 200 meter dari Markas Besar Polri, dua anggota polisi yang sedang menunaikan ibadah di Masjid Falatehan ditusuk oleh seorang pria. Padahal mesjid adalah tempat ibadah yang kudus. Dia melanjutkan,”Di tengah kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan. Kadang saya jualan dan laku. Kadang tidak laku dan tidak dapat uang sepeser pun. Sekarang tinggal di Indonesia makin susah.” Saya katakan, “Segala sesuatu bisa berubah di dunia ini. Hari ini kita bisa memiliki sesuatu besok kita bisa kehilangan. Hari ini kita bisa memiliki kesehatan namun di lain hari kita bisa kehilangan kesehatan itu.  Segala sesuatu bisa berubah. Yang tidak berubah adalah Tuhan mengasihi kita dan Ia berikan FirmanNya untuk menuntun hidup kita. Dengan semakin sulitnya kehidupan, maka apakah kita masih berpegang teguh pada firman Tuhan?”. Saya berkata,”Terkadang saya tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa, penyeselesaian apa yang harus dilakukan? Tetapi ketika kembali kepada firman Tuhan, Tuhan akan memberikan kekuatan, dan tidak tinggalkan saya. Ia memimpin hidup saya.”
                Hari ini masihkah kita berpegang teguh dan setia pada kebenaran firman Tuhan? Kalau kita gagal berpegang teguh pada firman Tuhan, maka kita gagal mengenal kebenaran Firman Tuhan. Kalau gagal mengenal kebenaran, kita gagal mengubah kehidupan kita dan menghasilkan buah. Firman Tuhan membawa kita mengerti kebenaran dan memperbarui kehidupan kita. Firman itu akan membuat kita mengerti bagaimana kita menghasilkan buah dalam hidup kita.
                Koko (kakak laki-laki) ipar saya menyenangi tanaman. Suatu kali ia melihat pekarangan rumah kami  yang kosong dan ia pun bermaksud memanfaatkan lahan kosong itu dengan menanam pohon mangga. Jadi ia mencari cangkokan pohon mangga yang baik. Kami berkomentar,”Apakah pohon mangganya bisa tumbuh?” karena pekarangan yang kosong hanya kecil saja sedangkan pohon mangga membutuhkan lahan yang luas. Namun koko ipar saya yakin pasti pohon mangganya bisa tumbuh. Dan ia mencoba menanam cangkokan pohon mangga tersebut. Kemudian ia merawat, menjaga, memperhatikan pohon itu melebihi perhatiannya kepada istri dan anaknya. Secara perlahan pohon itu mulai bertumbuh tinggi hingga akhirnya berhenti saat tingginya sebahu saya. Saya berkata, “Nah mana bisa pohon setinggi ini bisa menghasilkan buah?”. Setelah saya berbicara begitu, ternyata pohon mangga itu berbuah dan berbuahnya bukan saja 1 tapi 5 buah! Lalu buahnya dibungkus plastik agar tidak terlihat oleh tetangga. Koko ipar berkata, “Walaupun lahannya kecil namun dengan perawatan ternyata pohon mangga itu menghasilkan buah”. Bukan hanya sekali tapi berbuah berkali-kali. Sayangnya akhirnya pohon mangga itu ditebang saat rumah direnovasi. Ketika kita merawat dan menjaga sendiri terasa ada sensasi yang berbeda. Memetik , merawat dan makan sendiri. Ketika menanam sesuatu , kita ingin tanaman itu bisa bertumbuh dan pohon itu bisa menghasilkan buah. Tuhan rindu, ketika menyelamatkan kita, Tuhan merindukan, menantikan dan mengharapkan hidup kita bisa menghasikan buah dari kebenaran yang kita pelajari. Kita mendapatkan kebenaran dari firman Tuhan sendiri. Firman Tuhan diberikan kepada kita dan dengan kuasa Roh Kudus kita sungguh diubahkan sebagai orang percaya dan menghasilkan buah dalam hidup kita karena kita sungguh kembali pada pengenalan dan kebenaran firman Tuhan. Kita selalu bergumul menemukan kebenaran firman Tuhan dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita tidak bergumul dengan firman Tuhan , maka omong kosong kita bicara tentang kebenaran dan mustahil menghasilkan buah tanpa  tuntunan firman Tuhan dalam hidup kita.

Ciri Orang Kristen yang Bertumbuh

                Ada sebuah buku yang bertanya,”Apa ciri orang Kristen yang bertumbuh?” Ada yang mengatakan, orang Kristen yang bertumbuh adalah orang Kristen yang setia ikut beribadah dan persekutuan doa setiap minggu  (tidak pernah bolos), ikut mengambil bagian dalam pelayanan serta mengalami suka-dukanya. Terkadang kita terjebak dalam fenomena seperti itu. Pertumbuhan kerohanian Kristen tidak sekedar diukur seperti itu. Pertumbuhan kerohanian itu seharusnya diukur dari sejauh mana ia mengalami perubahan dan menghasilkan buah dalam hidupnya. Kehidupan kerohanian tidak bertumbuh dengan datang ke gereja. Ada orang Kristen yang setiap Minggu ke gereja tapi masih aktif melakukan dosa. Seharusnya saat kembali ke rumah, tempat kerja dan kuliah, orang bisa melihat perubahan nyata dalam hidupnya. Jangan kita kehilangan waktu belajar firman Tuhan dan menolak kebenaran firman Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Tim 4:3-4).  Apakah kita mencari kebenaran sekalipun menyanyat, menyakitkan , menusuk? Ataukah yang kita  cari adalah khotbah yang lucu, enak didengar dan hamba Tuhannya tidak marah-marah? Banyak orang biasanya mencari hal-hal yang belakangan itu.
                Suatu waktu saya diminta khotbah tentang perpuluhan. Saat itu saya membawakan tentang sikap hati dalam memberikan persembahan. Kalau kita punya sikap hati yang rindu maka kita akan memberikan yang terbaik pada Tuhan (termasuk dalam hal materi). Sebelum khotbah itu , bendahara gereja mengatakan, minggu lalu dalam kantong persembahan ditemukan uang Rp 2.000-an. Buat saya hal ini bukan masalah. Yang menjadi masalah uangnya diremes sampai kucel dan hitam. Yang parah, di dalamnya itu ada slip parkir yang menjelaskan bahwa bahwa uang yang diberikan itu adalah uang kembalian parkir. Rupanya saat parkir ia memberikan uang Rp 5.000 lalu dikembalikan Rp 2.000. Kalau kita punya sikap yang baik, maka kita tidak mungkin memberi uang yang diremes , kotor dan bau, tetapi diberikan dalam bentuk persembahan tanpa bon parkir. Siangnya ada seorang Bapak yang mengirim SMS kepada saya. Isinya,”Pak, seharusnya dalam khotbah tidak bicara seperti itu.” Saya bertanya, “Bagian yang mana?” Dijelaskan,”Itu lho Pak, kasih uang Rp 2.000 di kantung persembahan.” Saya bertanya lagi,”Memang orang yang memberikan uang Rp 2.000 itu Bapak?” Dijawab,”Bukan!” Saya dengan nada polos bertanya,”Lalu kenapa bapak mempermasalahkannya? Saya tadi bicara tentang sikap hati memberi persembahan ke Tuhan.” Bapak itu berkata,”Tapi saya tidak suka Bapak bicara seperti itu.” Saya bertanya lagi,”Jadi Bapak maunya yang bagaimana?” Ia pun menjawab,”Ya saya tidak tahu. Yang penting tidak bicara seperti itu!” Hanya hal seperti itu saja ada jemaat yang protes. Bagi dia hal itu terlalu pedas didengar dan menyakitkan. Ia ingin mendengar hal-hal yang baik. Rupanya banyak yang terbiasa mendengar, “Kalau kita kasih segini nanti Tuhan akan kasih 100 kali lipat.”

Pedang Bermata Dua

Firman Tuhan ibarat pedang bermata dua, yang menusuk ke bagian paling dalam diri manusia. Ia mengoreksi hidup kita, menilai kehidupan kita, mengeluarkan bagian yang tidak baik (jahat) untuk menjadi hal yang baik sesuai dengan yang Tuhan mau. Kebenaran seringkali pahit didengar. Tetapi kebenaran firman Tuhan tidak akan pernah sia-sia saat dilakukan dalam hidup kita. Tanggung jawab kita selain dipimpin oleh firman Tuhan, tanggung jawab yang diberikan, mengalami transformasi, menghasilkan buah, menjadi berkat dan berdampak pada orang lain. Kalau firman Tuhan memimpin hidup kita, berapa banyak waktu yang kita berikan untuk belajar firman Tuhan? Saya menangani persekutuan pemuda dan remaja. Jumlah jemaat remajanya ada sekitar 60 orang. Setiap bulan saya bertanya, “Siapa yang minggu ini setiap hari bersaat teduh?” Ada 2-3 orang remaja yang mengangkat tangan. Saya bertanya lagi,”Siapa yang bersaat teduh 5 kali dalam seminggu ini?” Ada 4 orang yang mengangkat tangan. Jadi total 7 orang. Saya kembali bertanya,”Siapa yang bersaat teduh 3 kali saja dalam seminggu?” Ada 3 orang remaja yang mengangkat tangan. Total 10 orang. Lagi-lagi saya bertanya,”Siapa yang minggu ini hanya bersaat teduh 1 hari dalam seminggu ini?” Ada 10 orang yang mengangkat tangan. Jadi sisanya (40 orang) tidak bersaat teduh. Satu hari pun tidak, sekalipun tidak. Alasannya klasik. Jemaat yang tidak bersaat teduh baik  di remaja, pemuda atau dewasa beralasan sibuk. Coba tanya kepada teman di gereja apakah bersaat teduh minggu ini? Ada yang menjawab,”Sibuk kerja”, “Sibuk cari pasangan hidup”, sibuk... sibuk... sibuk. ‘Sibuk’  menjadi kata yang tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan kita.
Sebuah buku menceritakan, seorang anak yang punya masalah  di sekolah datang ke mamanya, “Ma, saya mau cerita.” Namun mamanya hanya berkata, “Nanti ya, mama sedang sibuk jualan online”. Jadi ia pun datang ke papanya. “Papa, saya ada masalah tadi di sekolah.” Respon papanya, “Kamu ke mama saja!” Karena tidak ditanggapi, lalu ia datang ke guru sekolah minggu. Tapi guru tersebut berkata, “Gimana ya. Koko bukannya tidak mau bantu. Saya sedang sibuk pelayanan di gereja. Nanti kita cari waktu lain saja ya” Akhirnya ia melihat ada seorang panatua yang baik dan ia pun berkata kepadanya,”Pak saya mau cerita kepada Bapak karena orang lain tidak mau mendengar. Demikian juga dengan  koko.” Tetapi Panatua juga berkata, “Saya juga sibuk karena sedang sibuk persiapan untuk natalan.” Terkadang kalau kita diminta melakukan sesuatu , jawabannya : sibuk.. sibuk.. sibuk.. dan sibuk! Ketika kita begitu sibuk dengan kehidupan kita, tenggelam dalam kesibukan kita tanpa firman Tuhan, maka kesibukan itu menjadi tidak berarti dan tidak bernilai. Karena kita sibuk dalam banyak hal tapi kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup kita yaitu firman Tuhan yang memimpin hidup kita.
                Maka seringkali kita mengalami kegagalan karena kita tidak dipimpin oleh Firman Tuhan. Kita tidak menyediakan waktu untuk sungguh belajar firman Tuhan. Tidak peduli sudah menjadi orang Kristen sekian tahun atau  orangnya aktif melayani , tetapi pelayanan dan kehadiran kita tidak menjaminnya. Tetapi berapa lama sudah jadi percaya dan datang ke gereja, pertanyaan yang penting : “Apakah punya waktu untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan?” Jangan katakan belajarnya hanya di gereja pada hari Minggu. Karena kalau hal itu sudah pasti kecuali saat di gereja mengantuk. Kalau sungguh punya waktu untuk secara rutin belajar firman Tuhan agar dipimpin oleh kebenaranNya dan hidup kita diubahkan sehingga menghasilkan buah. Berikan waktu dan kesempatan untuk belajar firman Tuhan walau tidak mudah. Firman Tuhan yang didengar dan dibaca tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Karena Firman Tuhan hidup,  kebenaran Firman Tuhan itu akan mengubahkan , memulihkan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup kita. Ada sebuah kalimat dalam sebuah film rohani,”Hidup kita seperti perang. Ketika berperang ada perjuangan hidup. Untuk meraih kemenangan dalam peperangan hidup  tidak mudah. Kita butuh cara yang tepat dan sumber daya yang baik. Hidup kita sebagai anak Tuhan di dunia ini diwarnai peperangan hidup. Kita bisa menikmati peperangan ketika kita bisa berdoa dan kembali dipimpin oleh firman Tuhan.”

Penutup


Pada waktunya nanti ,tanpa kecuali kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup kita hari ini? Apakah kita bertanggung jawab sebagai orang percaya? Apakah kita sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, dituntun oleh firman Tuhan sehingga kita hidup dalam kebenaran,  menghasilkan buah dan akhirnya ketika kita datang ke hadapan Tuhan saat mempertanggungjawabkan hidup kita yang tidak mudah dan akhirnya Tuhan menyambut kita , membawa kita masuk dalam kebahagian yang diberikan Tuhan kepada kita? Biarlah hidup kita dipimpin oleh Firman Tuhan, menemukan kebenaran,  belajar kebenaran , melakukan dan membagikan kebenaran untuk orang lain. Amin.

Sunday, June 25, 2017

Allah Itu Nyata (Gereja Tidak Eksklusif dan Egois)


Ev. Natanael

Efesus 2:11-22
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu -- sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat," yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, --
12  bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
13  Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh," sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
15  sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
16  dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
17  Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat,"
18  karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
19  Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
20  yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
21  Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
22  Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Kol 3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Pendahuluan

                Hampir dua bulan di TV ada berita tentang kondisi di Suriah yang nyaris tidak ada gedung yang utuh. Kalaupun ada gedung, bentuknya sudah setengah hancur. Bisa kita membayangkan  apakah kita bisa ke gereja dalam kondisi seperti itu? Kita bersyukur hari ini kita tidak perlu ada kegelisahan dan ketakutan saat datang ke rumah Tuhan. Sehingga waktu datang ke rumah Tuhan seharusnya kita memberikan hati yang siap, hati yang mau menyembah dan hati yang mau taat. Kalau tidak memiliki hati seperti itu, kita datang ke gereja hanya karena rutinitas semata atau hanya kewajiban sebagai orang Kristen saja. Apa yang firman Tuhan katakan tentang gereja? Tema kita hari ini “Allah itu Nyata” (Gereja tidak eksklusif dan egois). Bicara tentang gereja, sekali lagi kita harus berpatokan pada apa itu gereja? Tanpa pengertian yang benar dan tanpa mengetahui gereja, maka kita tidak bisa menilai apakah gereja itu eksklusif atau egois.

Pengertian Gereja

Banyak di antara jemaat yang masih bingung , apa itu gereja? Jemaat di sini berkata,”Gereja saya adalah Gereja Kristen Kalam Kudus.” Itu nama gereja seperti ,”Saya dari Gereja Kristen Kebenaran.” Kalau saya katakan , “Apa itu gereja, kita harus bisa menilai apakah gereja saya ini eksklusif atau egois atau ada sesuatu yang lain?” Bila diperhatikan , gereja adalah  orang-orang yang diambil dari dunia yang gelap dan berdosa. Gereja itu dipanggil keluar (dipisahkan) dari dunia oleh karena kita sudah percaya Kristus. Jadi kita dipisahkan dari dunia, kita dikuduskan, kita dilayakkan dari berbagai macam suku dan agama.
Paling tidak ada 2 kisah (fenomena) di dalam Alkitab yang mengindikasikan bahwa gereja itu bukan milik sekelompok orang, yang dalam hal ini orang Yahudi yang merasa mereka adalah umat pilihan Allah, bangsa kudus, imamat yang rajani, sedangkan yang lain dianggap masyarakat kelas dua seperti orang Yunani, orang barbar (Skit) bahkan budak yang mungkin disetarakan dengan masyarakat kelas empat. Mereka beranggapan,”Saya umat pilihan Allah.”

1.     Pada Kisah Para Rasul 2 dikisahkan saat Pentakosta, ketika orang-orang percaya berkumpul di suatu rumah.  Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dan ada fenomena murid-murid berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang mengerti satu bahasa (bahasa Yahudi), tetapi saat itu mereka menggunakan berbagai macam bahasa yang ada dan orang-orang  Yahudi yang berasal dari segala bangsa di kolong langit yang hadir di sana mengerti. Ini mengindikasikan gereja mulai membuka diri pada bangsa yang lain.

2.     Pada Kisah Para Rasul 10 diceritakan bahwa ketika Petrus selesai bekerja sebagai nelayan dan merasa lelah lalu pergi ke bagian atas rumah untuk berdoa. Tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi dan ia mendapat penglihatan di langit turun berbagai jenis binatang yang menurut orang Yahudi tergolong binatang yang najis. Lalu ada suara yang mengatakan, "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!". Reaksi dari Petrus, "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir." Jangan kata makan, mungkin menyentuh saja harus cuci tangan berkali-kali. Tetapi Tuhan menyuruh makan sampai tiga kali. Saat itu Petrus tidak tahu bahwa penglihatan itu ditujukan untuk Kornelius, seorang perwira pasukan Roma (centurion) yang disebut pasukan Italia. Akhirnya Rasul Petrus membaptisnya sebagai anak Tuhan.

Dari 2 cerita ini jelas sekali bahwa gereja tidak diperuntukkan untuk satu bangsa saja. Bisa saja pengertian gereja bersifat eksklusif, tetapi jangan lupa perkataan Kristus,”Aku mengutus engkau dalam dunia. Jadilah terang dan garam. Setelah Aku memisahkanmu dari pendosa menjadi anak terang, Aku kembalikan kamu ke dalam dunia agar engkau menjadi terang dan garam di dalam dunia.” Dalam pengertian ini , jelas bahwa gereja bukan gedung. Gereja itu bukan fisiknya. Gereja itu adalah anda dan saya yang dikembalikan ke dunia. Tugas kita menjadi terang dan garam. Karena di dalam dunia, pasti kebalikannya. Dunia yang tadinya gelap dan busuk karena dosa, kamu datang untuk menjadi penawar dan menghambat pembusukan itu. Di mana pun gedung gereja itu ada tidak masalah. Yang menjadi soal adalah aksi kita ini di dalam dunia.

Saya belum pernah ke Tiongkok. Sekali waktu saya menonton film China Cry (1990) , sebuah  film misionaris. Hal ini sudah berlalu lama sekali yakni waktu saya masih kuliah di STT Iman. Saat menonton, tiba-tiba suaranya tidak ada. Saya merasa heran. Saya kira ada kerusakan atau masalah sound system. Mungkin teknisi nya sibuk. Ternyata bukan begitu. Dikisahkan orang-orang dalam film tersebut sedang merasa ketakutan luar biasa. Penyebabnya : kalau mereka ketahuan memuji nama Tuhan dan menyanyikan lagu gereja, maka tahu sendiri akibatnya. Akibatnya mereka ingin memuji Tuhan tetapi tidak bisa karena ketakutan kepada pemerintah. Gedung gerejanya  tidak sebagus di sini, dan mereka berada di bawah tanah. Saat kebaktian , hanya diterangi oleh 1 lampu saja. Cara membaca Alkitabnya beramai-ramai. 1 orang membaca 1 ayat secara bergilir lalu sharing apa yang didapat dari ayat yang dibaca. Kalau menyaksikan hal seperti itu, apakah hal ini memberi inspirasi bagi kita? Tuhan menciptakan gedung gereja ini supaya kita datang kepada Tuhan, ingin mendapatkan firman Tuhan, tidak menyia-nyiakan dan membiarkan diri kita hanyut pada firman Tuhan. Apakah hal ini menjadi kerinduan kita? Apabila dikatakan eksklusif terlebih lagi. Tuhan hadir tidak pilih-pilih. Dia datang ke dunia sebagai manusia, pasti ada bangsa yang Ia pilih. Ia ingin beritanya sampai ke semua bangsa. Bukan saja kepada orang-orang Tionghoa atau orang-orang Barat tetapi kepada semua manusia. Semua etnis, tanpa terkecuali. Kalau begitu, apakah gereja kita eksklusif , menyendiri, dan merasa lebih baik? Sifat eksklusif seperti itu keliru. Tidak benar bila merasa pelayaan saya lebih indah dari yang lain.

Tanpa mengurangi hormat ke gereja tertentu yang berbeda dengan gereja Injili, saat menjadi mahasiswa teologia, kami diminta untuk pergi studi banding ke gereja-gereja lain . Maka pada pagi hari saya ke gereja Katolik, sedangkan sorenya  ke gereja lain lagi. Saya konsentrasi dan mencatat apa yang saya dapati. Satu hal yang saya perhatikan terkait fenomena ini : mereka tidak aplikasi saja tanpa firman yang benar. Selama ini yang diekspose adalah emosi saja, namun sekarang dikombinasi dengan firman yang benar. Jadi bukan sekedar emosi saja seperti ber-‘jingkrak-jingkrak’ sampai jatuh, tetapi mau diisi dengan firman Tuhan yang benar. Gereja sekali lagi bukan soal gedung. Gereja itu anda dan saya. Kalau begitu, mari menilai diri kita masing-masing. Sejak Pilkada DKI, seolah-olah di antara rakyat Jakarta terjadi perpecahan sehingga timbul slogan :  Saya Indonesia, saya Pancasila. Artinya negara kita sedang berhati-hati. Kita ingin negara ini bersatu. Kalau negara ini ingin bersatu apalagi anak-anak Tuhan. Kalau negara ingin tidak pilih-pilih lagi tetapi Bhineka Tunggal Ika, apalagi anak-anak Tuhan. Siapa kita? Kita ditebus dengan darah Kristus dan Roh Kudus yang sama. Menjadi manusia yang baru tidak ada lagi tembok yang memisahkan. Tidak ada lagi yang mengatakan saya yang lebih baik.

Dalam hal ini ,kecenderungan kita menarik diri ini akan menjadi sesuatu yang kita perlu waspadai.Saya punya pengalaman suatu ketika sedang praktek di suatu gereja. Sebelum beribadah, saya berbicara dengan tukang sampah yang mau menagih uang iuran. Melihat hal itu ada teman saya bertanya , “Mengapa kamu berbicara dengan dia sih? Kita kan sudah mau beribadah. Ya tidak bolehlah.” Saya bertanya,”Mengapa?” Akhirnya saya paham karena tukang sampah dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Apakah seperti ini panggilan kita? Kita merasa lebih rohani. Kita merasa lebih baik dari panggilan dia. Seharusnya sebagai anak-anak Tuhan, Rasul Paulus sudah mengatakan, “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” (1 Tim 1:15).  Seharusnya panggilan kita adalah menarik mereka untuk menjadi satu dalam tubuh Kristus.

Panggilan dan tugas gereja

1.    Bersaksi.
Kalau kita merasakan kasih  dan pengorbanan Tuhan Yesus tetapi tidak berani bersaksi, tinggal 2 kemungkinan : apakah belum mengerti kasih Tuhan atau merasa mereka bukan bagian saya. Bersaksi tentang kasih Kristus dan bagaimana kita diselamatkan itu menjadi tantangan. Tiap kali melakukan kunjungan ke rumah jemaat (besuk), saya bertanya,”Apakah ada yang belum percaya?” Biasanya dijawab,”Oh ada. Mama atau papa saya.” Lalu saya catat namanya dan membawa dalam doa saya. Dua atau tiga kali saya kerjakan seperti ini. Bersyukur, tepat pada waktunya Tuhan memanggil mereka datang ke gereja, dan sekarang sudah dibaptis. Itu karena Tuhan yang hebat bukan saya. Saya ingin mereka merasakan kasih Tuhan. Kalau tidak mengakui kasih Tuhan, kita tidak akan pernah menyaksikan kasih Tuhan apalagi mau berkorban. Sebatas apa pengertian kita tentang kasih Tuhan? Apakah sekedar cerita Sekolah Minggu seperti  Tuhan Yesus lahir di Betlehen lalu mati di Golgota? Kalau benar, itu sangat dangkal sekali. Dia yang mati buat saya. Dia yang sudah menyelamatkan jiwa saya. Tadinya saya di dalam dunia yang berdosa sekarang saya sudah dipindahkan ke terangnya yang ajaib, saya mau menyaksikannya kepada dunia. Mungkin kepada keluarga , teman bisnismu atau tetanggamu. Kalau hal yang satu ini sulit dilaksanakan, saya yakin yang berikutnya lebih sulit lagi.

2.    Persekutuan.
Kita rindu untuk dikenyangkan oleh firman Tuhan. Berapa banyak kita datang ke gereja dengan antusias? Kita lebih takut untuk datang terlambat ke bandara. Untuk itu, 2 jam sebelumnya kita sudah hadir. Bagaimana dengan ke gereja?. Apakah kita rindu dikenyangkan dan hati kita ingin dipuaskan? Apakah seperti itu? Bersekutu untuk menikmati satu dengan yang lain. Tidak lagi ada tembok-tembok. Yang pemuda sendirian, pemuda dan orang tua tidak sambung. Siapa bilang? Apalagi Sekolah Minggu, dikatakan ini pelayanan anak kecil. Tidak ada hubungannya dengan orang dewasa. Apakah seperti itu? Gereja yang tidak punya Sekolah Minggu adalah  gereja yang tidak punya masa depan. Waktu kita datang ke gereja, apakah kita rindu Firman Tuhan? Saya ingin mendengarnya dan mau bersekutu dengan semua di dalam persekutuan?

3.    Melayani
Setelah kita rindu menyaksikan kasih Tuhan, dikenyangkan firman Tuhan dalam persekutuan atau ibadah lalu kita merasa rindu mau melayani (diakonia). Kalau begitu, minimal kita bisa menilai apakah saya, gereja yang eksklusif atau egois. Allah itu nyata. Justru di dalam kenyataan itu, wakilnya adalah kita. Itu wujud yang seharusnya gereja nyatakan dan harus terlihat. Masyarakat harus bisa merasakannya. Kehadiran saya harus bisa dirasakan oleh masyarakat.

Ketiganya harus dinyatakan. Sebagai manasia yang baru Firman Tuhan katakan, tidak ada lagi tembok-tembok pemisah. Di dalam Kristus, engkau adalah ciptaan yang baru. Luar bisa firman Tuhan. Siapa pun yang mau datang, silahkan datang beribadah pada Tuhan.

Di dalam hidupnya, Mahatma Gandhi, tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan India dengan cara damai, sering mengutip dari Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Seorang misionaris , E. Stanley Jones, bertemu dengan Gandhi dan bertanya,"Sekalipun Anda sering mengutip kata-kata Kristus, mengapa Anda kelihatannya dengan keras menolak untuk menjadi pengikutnya? Jawab Gandhi, "Saya tidak pernah menolak Kristus. Saya suka Kristus Anda. Tapi saya tidak suka dengan orang Kristen Anda." "Jika orang Kristen benar-benar hidup menurut ajaran Kristus, seperti yang ditemukan di dalam Alkitab, seluruh India sudah menjadi Kristen hari ini," katanya lagi. Kita akan mengerti mengapa Gandhi mempunyai pandangan itu jika kita melihat pada pengalamannya saat ia bekerja sebagai seorang pengacara di Afrika Selatan yang menjalani sistem apartheid pada waktu itu. Sebagai seorang anak muda, Gandhi sangat tertarik dengan Kekristenan dan ia mempelajari Alkitab dan ajaran-ajaran Kristus. Dia serius mempertimbangkan untuk menjadi seorang Kristen dan mencari sebuah gereja untuk dikunjungi yang dekat dengan tempat tinggalnya. Di pagi minggu saat ia mau melangkah masuk ke gereja, seorang penerima tamu menghalangi langkahnya. "Mau ke mana kamu orang kafir?" tanya seorang pria berkulit putih padanya dengan nada yang angkuh. Gandhi menjawab, "Saya ingin mengikuti ibadah di sini." Penatua gereja itu membentaknya dengan berkata, "Tidak ada ruang untuk orang kafir di gereja ini. Enyahlah dari sini atau saya akan meminta orang untuk melemparkan kamu keluar!" Suatu tindakan keangkuhan dari seorang yang seharusnya mewakili Kristus menghentikan langkah seorang Gandhi untuk mempertimbangkan kekristenan bagi dirinya, namun dia tidak dapat menyangkal kebenaran ajaran dan juga teladan hidup Kristus. Itulah yang membuatnya mengangkat hal-hal yang baik yang ditemukan di dalam ajaran dan kehidupan Kristus dan menerapnya sebagai falsafah kehidupannya.
Di dalam ucapannya kepada organisasi Misionaris Wanita (Women Missionaries) di tanggal 28 Juli 1925, Gandhi berkata, "...sekalipun saya bukan seorang Kristen, namun sebagai seorang pelajar Alkitab, yang mendekatinya dengan iman dan rasa hormat, saya ingin menyajikan pada Anda intisari dari Khotbah di Bukit." Di dalam ucapannya, Gandhi berkata bahwa terdapat ribuan pria dan wanita hari ini, yang sekalipun tidak pernah mendengar tentang Alkitab atau Yesus, namun memiliki iman dan lebih takut pada Tuhan ketimbang orang-orang Kristen yang mengenal Alkitab dan Sepuluh Perintah. Gandhi pernah berkata kepada seorang misionaris yang lain, "Cara paling efektif untuk penginjilan adalah hidup di dalam Injil, menjalaninya dari awal, pertengahan dan akhirnya. Bukan saja mengkhotbahkannya, tapi hidup menurut terang itu. Jika Anda melayani orang lain, dan Anda meminta orang lain untuk melayani, mereka akan mengerti. Tapi Anda mengutip Yohanes 3.16 dan meminta mereka untuk menyakininya, dan itu sama sekali tidak menarik bagi saya, dan saya yakin, orang lain juga tidak akan memahaminya. Injil itu lebih kuat kuasanya saat dijalani/dipraktik ketimbang dikhotbahkan." "Bunga mawar tidak perlu berkhotbah. Ia hanya menebarkan wewangiannya. Aroma itu adalah suatu khotbah tersendiri...aroma kesalehan dan kehidupan spiritual jauh lebih halus dari wewangian bunga mawar." Tidak ada orang Kristen yang mawas diri yang akan menyangkal kebenaran kata-kata Gandhi. Di lain pertemuan dengan seorang misionaris, Gandhi berkata, "Jika Yesus datang kembali ke bumi. Dia akan memungkiri banyak hal yang dilakukan di dalam nama Kekristenan."
Saat berbicara dengan misionaris Stanley Jones yang meminta saran dari Gandhi, Gandhi menyampaikan, "Pertama, saya menyarankan semua orang Kristen dan misionaris mulai hidup lebih mirip dengan Yesus Kristus. Kedua, praktikkan tanpa mengencerkan atau mengubahnya. Ketiga, jadikan kasih daya penggerak Anda, karena kasih adalah unsur sentral di dalam Kekristenan. Keempat, pelajarilah agama non-Kristen dengan lebih sistematis untuk menemukan kebaikan yang terkandung di dalamnya, agar kalian mempunyai pendekatan yang lebih simpatis." Gandhi melihat dengan tepat jantung permasalahan yang melanda umat Kristen pada umumnya. Sekalipun, beliau telah meninggal , tapi pengamatan masih berlaku sampai ke hari ini. Yang pasti, umat Kristen pasti akan dapat menjadi saluran kasih Tuhan yang lebih efektif jika kita mempertimbangkan sarannya.


                Ilustrasi tentang Gandhi ini menjadi tantangan buat kita bukan? Apakah kita justru membangun tembok-tembok itu kembali dan memisahkannya kembali? Herannya, terjadi di dalam tubuh Kristus. Rasul Paulus menyampaikan dalam 1 Kor 12:15-18,”Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh," jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?  Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh," jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.” Mari kita wujudkan semua dalam tubuh ini. 3 hal : bersaksi , bersekutu dan melayani. Kita akan bisa menilai apakah kehidupan kita ada dalam hal ini. 

Thursday, June 22, 2017

Mengapa Gereja di Eropa Sepi?


Oleh Pdt. Stephen Tong
Mengapa kekristenan sangat merosot di Eropa? Apakah kemakmuran membuat orang meninggalkan agama?

Saya percaya ada unsur paling sedikit 20 persen kemakmuran membuat orang merasa tidak perlu Tuhan. Tetapi kalau orang hanya perlu Tuhan karena penyakit dan kemiskinan, orang itu tidak beres imannya. Mungkinkah pada waktu miskin, engkau berdoa dengan tekun, mencari Tuhan dan memerlukan Tuhan? Sampai waktu kaya tetap mencari Tuhan , baru imannya benar. Waktu miskin berdoa, “Tuhan.. Tuhan !!” waktu kaya berkata ,”Hantu...Hantu”. Waktu sakit berdoa kepada Tuhan, waktu sehat cari pelacur. Ini tidak beres.  Seharusnya dalam situasi bagaimana pun miskin-kaya, sehat-sakit, berliku-liku sampai lancar hatinya stabil untuk Tuhan. Ini penting sekali.

Ibu saya waktu jadi janda merasa sedih sekali. Umurnya 33 tahun dengan 8 anak, saat ia ditinggalkan suaminya karena suaminya meninggal dunia. Waktu itu saya berumur 3 tahun dan adik saya terkecil berumur 21 bulan dan digendong di tangannya. Ia berlutut dan berdoa,”Tuhan saya minta 2 hal. Jangan membiarkan saya terlalu miskin. Karena saya takut kalau terlalu miskin, saya mencuri. Jangan membiarkan saya terlalu kaya, karena kalau demikian saya takut melupakan Engkau.” Doa itu didengarkan Tuhan. Sehingga saat keluarga kita sangat sulit , Tuhan pelihara.  Yang paling susah selama 48 hari sekeluarga tidak makan nasi dan hanya makan kulit ketela. Mama tertahan di tempat lain. Ia sedang pergi menjual kain di pulau lain untuk menghidupkan keluarga di zaman Jepang, karena putusnya hubungan dengan pulau itu. Keluarga ini tidak ada mama. Pembantu memakai kulit-kulit ketela untuk menghidupkan anak-anak selama 48 hari. Setelah itu tidak terlalu susah, masih bisa hidup baik-baik. Pada waktu anak sudah dewasa semua dapat pekerjaan yang baik. Honor saya saat berumur 17 tahun 2 kali lebih besar dari pendeta terbesar di gereja terbesar di Surabaya. Mendadak anak-anak dipanggil menjadi hamba Tuhan. Satu per satu meninggalkan jabatan. Dari 7 anak, 5 orang menjadi hamba Tuhan (pendeta). Semua mendadak tidak ada penghasilan. Keluarga menjadi merosot dan ekonomi susah sekali. Ibu saya berdoa,”Tuhan mengapa menjadi begini? Engkau memanggil anak-anak saya menjadi hamba Tuhan. Saya besok tua, siapa yang memelihara?” Tuhan mengingatkan,”Bukankah engkau berdoa, jangan terlalu kaya sehingga engkau melupakan Aku?” Caranya dengan anakmu menjadi hamba Tuhan sehingga engkau tidak terlalu kaya. Puji Tuhan! Tuhan menyisakan 2 orang anak untuk berdagang sehingga bisa menunjang Ibu. Akhirnya anak-anak dipimpin Tuhan. Sehingga waktu mama saya tua, 5 tahun terakhir ia hidup, ia bisa mengunjungi anak di sana-sini dan semuanya menyambutnya dengan baik. Karena Tuhan mendengar doa kita.

Di Eropa mereka menghindarkan diri dari segala kesulitan. Semua sudah mewah dan lancar sehingga merosot rohaninya. Ini hanya 20%. Yang lain tidak menginjili lagi. Ini kan masyarakat dan anak-anak Kristen. Anak-anak saya bila tidak saya ingatkan terus mungkin pelan-pelan juga lupa kekristenan itu apa. Juga cucu saya karena sudah lahir dalam keluarga Kristen dan merasa tidak perlu diinjili lagi.

3 tokoh Kristen di Indonesia. Yang pertama ibu Manaputi, ketua GPMI Ambon , bicara kepada saya. tolong datang ke Ambon untuk menginjili orang-orang muda. Kalau GPMI tidak diinjili lagi maka generasi muda akan jauh dari Tuhan. Pdt. Wenas tahun 1966 , waktu saya sedang berenang di laut, Wenas datang,”Stephen Tong silahkan datang ke Menado. Karena sudah lama kita sudah menjadi orang Kristen.  Kalau anak-anak Kristen tidak diinjili lagi maka gereja akan merosot. Saya iyakan dan saya mau. Eporus Purba , GKPS, di Simanlungun Raya bicara,”Silahkan datang ke Simalungun menginjili pemuda-pemudi supaya mereka jangan hilang. Saya mengunjungi Sumatra Utara, Minahasa dan Ambon berkali-kali. Terakhir di Ambon, yaitu beberapa bulan lalu 7.000 orang mendengar khotbah dan saya sakit. Melalui tayangan mereka tetap tenang mendengar firman Tuhan. Khotbah yang diputar di situ adalah khotbah yang saya sampaikan di Irian Jaya.  2 jam lebih tidak berhenti-henti. Semua duduk padahal tidak ada orang yang berkhotbah dan hanya lihat VCD saja. Akhirnya waktu hujan turun, saya berkata, “Jangan pergi! Anggaplah engkau sedang berenang di kolam renang di mana di atas sedang hujan. Basah tetapi tidak sakit kok”. Hebat , betul-betul dari 7.000 orang hanya beberapa orang bergerak dan semua tenang mendengar sampai selesai. Puji Tuhan!

Eropa merosot karena tidak lagi beribadat pada Tuhan dan tidak lagi mengabarkan Injil. Terlalu bersandar pada bijaksana manusia. Sigmund Freud dari Eropa. Orang-orang yang melawan Tuhan, Karl Marx dari Eropa. Darwin dari Eropa. Positivisme dari Eropa. Eksistensialisme dari Eropa. Karl Justice, Martin Heidegar, Nietszhe dari Eropa. Filsafat – filsafat yang melawan Tuhan yang akhirnya mereka menghina Tuhan.  Penginjilan –penginjilan tidak dilakukan, mengakibatkan mereka tidak lagi berfirman. Teologi-teologi modern yang tidak percaya mujizat, tidak percaya Yesus, salib Yesus dan kebangkitan Yesus, mengakibatkan iman mereka tumpul. Musik-musik yang meninggalkan Tuhan  menjadikan mereka sekuler dan menghujat Tuhan dalam musik. Salah satu musisi yang paling menghujat Tuhan adalah Karina Buranak. Tahun lalu ada yang mau menyewa gedung ini dan menyanyikan lagunya, saya tolak. Gedung ini dibangun untuk tidak menghujat Tuhan tetapi memuliakan Tuhan.  Ia (Karina Buranak) dari Eropa.

Eropa meninggalkan Tuhan maka Tuhan tinggalkan mereka. Selama 19 tahun, Ekonomi Tiongkok menanjak 2 digit. 15%, 13 %, 11% , 17%. Eropa hanya 1% pertumbuhan ekonominya dan akhirnya minus.
Mereka dengan mata merah melihat Tiongkok terus kaya, mereka makin miskin. Hatinya kecut sekali. Karena Eropa tidak mau bertobat maka Eropa akan makin lama makin rusak. Sejak puluhan tahun lalu sudah ada tempat di mana semua orang yang tidak berpakaian hidup bersama di sana . Katanya itu tubuh alamiah dan dunia modern. Bagi saya itu dunia binatang. Tidak ada binatang pakai pakaian. Tidak ada masyarakat manusia yang mau telanjang hidup bersama. Sekarang setelah 40 tahun, satu per satu tempat itu tidak laku dan tutup karena melanggar firman Tuhan. Karena pelan-pelan yang muda-mudi terus di situ. Pelan-pelan selama 40 tahun jadi tua. Yang muda tidak mau bercampur dengan orang jelek. Mereka tidak mau masuk. Sisanya yang jelek ketemu yang jelek. Makin lihat makin jelek. Tidak ada orang mau pergi ke sana. Satu-satu malu sendiri. Satu-satu pulang ke kampung sendiri. Sekarang tempat seperti itu sudah tidak laku lagi. Tuhan sedang menghukum Eropa.

Profesor Kiste Maker mengatakan di rumah saya, “Europe is finished.” Saya tidak percaya Eropa mutlak finished. Maksudnya iman Kristen di Eropa sudah mati. Mungkin besok kita harus mengutus orang ke Eropa memberi kebangunan rohani kepada mereka. Dari dulu sudah saya katakan, “Jangan  mengikuti Barat. Banyak orang sekolah di Barat dan pulang dari Barat tidak hormat kepada orang tua, melupakan usulnya dari mana.” Pokoknya yang penting Barat, Barat. Sekarang Barat mau belajar dari Timur. Peter Liuberg paling sedikit 8 kali berkata, “I learn from you.” Skillen berkata, I should learn from you.” Profesor Husmuis ,”We should send our student to learn from you.” Apa yang saya kerjakan 30 tahun lalu dihina, khususnya oleh lulusan Barat,”Stephen Tong mau apa?” 30 tahun kemudian gereja mereka merosot, tetapi gerakan ini bertumbuh terus. Saya tahan sabar, dihina dan diejek. Tetapi rencana untuk Tuhan tidak berubah. Jangan main-main.

Mengapa kekristenan merosot di Eropa? Karena di sana tidak ada lagi yang berdoa pada Tuhan. Di Amsterdam bila bertanya,”Are you Christian?” 10 yang ditanya, 9 menjawab,”No!” Di antara 10% orang Kristen yang bilang ”Yes”, ditanya, “Do you go to churh regularly?” . Di antara 10 orang, 9 bilang,”No!” Yang masuk gereja tidak sampai 1%. Jakarta 7,9% Kristen. Jabodebatek ada 21 juta orang. Jakpus mungkin 9-10 juta orang. Di antara 10 juta, paling sedikit kira-kira hampir 1 juta masuk ke gereja. Di antara 21 juta orang di Banten yang sedikit orang Kristennya, mungkin 1,7 juta orang yang masuk gereja. Mana lebih Kristen? Jerman , Amsterdem? Tidak! Jakarta lebih Kristen dari Eropa karena mereka melupakan Tuhan. Di sini mengejar ketuhanan.


Paradoks Kesulitan


Oleh Pdt. Stephen Tong

Bagaimana cara yang baik untuk mengalahkan kesulitan sehingga kita tidak takut pada kesulitan? Bagaimana memperalat kesulitan untuk memajukan kehidupan kita?

Waktu saya kelas 2 SMP ada 1 makalah yang mengatakan hal yang paradoksal bunyinya : kekuatan yang bergesek yang tidak licin, yang membuat kita tidak maju , justru itu yang memajukan manusia. Apa ini? Kalau berjalan di tempat yang tidak licin, karena tidak licin kita merasa tidak gampang maju. Tetapi justru pijakan yang tidak gampang maju itu justru menjadi pangkalan kita untuk bisa maju ke depan. Kita pijak di tempat yang tidak licin lalu maju lagi. Kalau kita berjalan di tempat yang licin, maka kita akan terjatuh. Apa beda maju dan jatuh? Jatuh berada di dalam kelicinan yang tidak menolong kita. Maju karena berada di pangkalan menjadi sesuatu yang sulit tetapi menjadi pondasi untuk menjadi ke depan. Saya membaca makalah ini sehingga mendapat inspirasi luar biasa.
Banyak orang terlalu cepat maju sehingga akhirnya licin dan jatuh. Banyak orang yang mengalami banyak kesulitan sehngga menjadikan dia terus berjuang. Ini paradok yang dibutuhkan. Mengapa bangsa di daerah yang susah hidup adalah bangsa yang maju? Contoh : Kanada, Perancis, Jerman, Norwegia mengalami musim dingin yang sangat dingin , susah tanam, susah mendapat hasil bumi tetapi mereka justru maju? Mengapa negara di Khatulistiwa (tropikal) dan Afrika tidak maju? Karena hidup terlalu enak. Kesulitan jangan dianggap musuh. Harusnya kita bersyukur . Kita dipersulit dan dipekerjakan oleh kesulitan atau kita menggunakan menggunakan kesulitan untuk menjadi bahan memajukan diri kita.

Jikalau ada 2 orang yang sama-sama tuanya dikunjungi dan ditanya apa pengalaman hidup mereka dan kebijaksanaan apa yang dapat ditarik dari pengalaman hidup mereka? Orang tua pertama mengatakan ,”Seluruh hidup saya : makan ,tidur, tidur, makan. Terus begitu. Mendengar hal ini kita tidak mendapat apa-apa. Orang tua kedua berkata,”Saya mengalamai peperangan, kelaparan, penyakit, patah hati, bahaya kecelakaan, lalu bagaimana saya satu per satu mengatasi dan menggeser sehingga saya sekarang saya tidak takut , perang, dingin dan sakit? Kita akan mengalaminya dan akhir berkata,’Terima kasih Bapak.’” Pergumulan yang dialami menjadi bekal saya untuk menghadapi kesulitan di depan. Celakalah mereka yang dilahirkan dalam kelancaran, kekayaan dan tidak pernah mengalami kesulitan. Berbahagialah mereka yang diancam oleh kesulitan , bahaya dan akhirnya bisa tetap hidup.


Tuhan tidak menciptakan manusia untuk hanya menikmati, tetapi Tuhan menciptakan manusia untuk berjuang, melintasi kesulitan dan akhirnya menikmati kemenangan setelah bergumul. Kita besyukur kepada Tuhan di mana kalau ada kesempatan kita bergumul , kalau ada kesulitan kita tempuh. Ini kesempatan untuk membuktikan anugerah itu cukup buat kita. Paulus memiliki satu duri sehingga berdoa, “Tuhan kalau bisa mencabut duri itu.” Tetapi Tuhan tidak mencabutnya. Malah Tuhan berkata, “AnugerahKu cukup.” Kalau duri dicabut tidak ada musiknya. Seperti piringan hitam bila tidak ada jarum yang tusuk dia maka tidak ada musik yang keluar. Saya dulu menikmati musik dengan jarum. Pertama-tama jarum ini kalau sudah rusak dibuang. Akhirnya saya membeli jarum dari berlian walau harganya mahal. Kalau perempuan pakai berlian, makin besar berliannya makin mahal tetapi untuk jarum makin kecil makin mahal. Makin kecil makin bisa masuk ke saluran piringan hitam. Tuhan terkadang memberikan jarum dan duri menusuk kita , membiarkan jarum itu mengukir dan menghasilkan suara yang indah. Orang yang mengalami kesulitan selalu memuji Tuhan dengan suara yang paling dalam. Orang yang hidupnya dangkal, selalu kalau bicara tentang anugerah Tuhan, kalimatnya tidak menyentuh sama sekali. Sama-sama memuji Tuhan, ada yang memuji dari bibir dan ada yang dari dalam batin. Ada yang memuji dengan teknik dan yang menyanyi dari pergumulan jiwa. Lain sekali . Padahal satu lagu yang sama dinyanyikan oleh dua orang yang rohani yang berbeda menghasilkan kekuatan yang sama sekali tidak sama.  

Sunday, June 18, 2017

Hati yang Berbelas Kasihan (Tidak Bisa Tidak, Hanya Memberitakan Kristus)


Ev. Airin Litasari

Mat 9:35-38
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
37  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
38  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Pendahuluan

                Tema hari ini adalah Hati yang Berbelas Kasih (Tidak bisa Tidak, Hanya Memberitakan Kristus). Kalau diperhatikan berita dalam media sosial, kenyataan yang kita hadapi, berita di TV dan lingkungan kita, kita bertanya-tanya, “Mau kemana dunia ini? Mengapa hari-sekarang ini makin mengerikan dan mengkhawatirkan?” Bencana alam terjadi di mana-mana, sakit penyakit yang tadinya musim-musiman sekarang tidak lagi menunggu musim tetapi muncul karena cuaca yang sangat ekstrim. Bahkan terorisme sekarang sudah masuk ke Indonesia atau ada di dekat kita. Kita melihat bagaimana kaum radikal berusaha menekan kaum minoritas yang ada di Indonesia seperti keturunan Tionghoa dan beragama Kristen khususnya. Melihat kondisi seperti ini tentu kita merasa sedih dan khawatir. Tetapi sebagai murid-murid Tuhan , anak-anak  Tuhan dan jemaat Kristus , kita yakin , percaya dan punya iman bahwa Tuhan akan menolong kita. Di tengah kondisi seperti itu, apa yang harus kita kerjakan untuk menyatakan kasih Tuhan?           Secara langsung dan tidak langsung, Tuhan rindu memakai kita sebagai alatnya, memberi penghiburan, perlindungan dan kekuatan, dan Tuhan rindu kita mengikuti Dia.

Pada Mat 9:35-38, Tuhan Yesus berkeliling dari kota dan desa untuk mengajar (berkhotbah) dan memberitakan Injil dan bahkan Tuhan Yesus menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tuhan Yesus digambarkan sebagai Mesias yang datang di tengah umatNya. Ia datang untuk menunaikan visi dan misi Allah yang diberikan kepadaNya. Ia datang untuk menyelamatkan manusia untuk menyatakan kasih Allah yang tiada batasnya. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah berbelaskasihan kepada manusia. Sejak zaman penciptaan dan kejatuhan manusia  ke dalam dosa, Allah terus menyatakan belas kasihanNya melalui nabi. Manusia sudah jatuh hingga Allah sendiri turun ke dalam dunia dan menjelma sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus hadir untuk menyatakan kasih Allah yang begitu besar. Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Saat Yesus datang ke dalam dunia, Ia mengajak para muridNya untuk melakukan hal yang sama yaitu memiliki hati yang berbelaskasihan bagi mereka yang terlantar, yang lelah dan bagi mereka yang memerlukan keselamatan. Hati yang bebelaskasihan yang bagaimana yang kita bisa miliki secara konkrit dan terlihat nyata dalam hidup untuk memberitakan siapa itu Yesus Kristus?

Ketika kita dikatakan memiliki rasa belas-kasihan, apa artinya?  Dalam bahasa Yunani, kata “belas kasihan” ialah “elios” atau “kane” dalam bahasa Ibrani yang berarti hati yang penuh rasa iba. Kita seringkali memahami belas kasihan secara umum yaitu perasaan iba, perasaan ingin menolong orang sekedarnya dan setelah itu lupa. Perasaan simpati, empati yang biasa saja. Menolong begitu saja setelah itu lupa. Tetapi Tuhan mengajarkan belas kasihan yang berbeda. Belas kasihan yang sungguh-sungguh ditaruh Allah dalam setiap hati orang percaya. Roma 9:15 Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati."  Berarti belas kasihan yang dunia berikan dengan yang Tuhan berikan sangatlah berbeda jauh yaitu belas kasihan yang mencari orang-orang  berdosa untuk percaya kepada Tuhan. 

Bagaimana kita memperoleh belas kasihan yang seperti Tuhan?

1.     Kita harus memiliki kesungguhan iman.

Banyak orang yang di-KTP tercantum beragama Kristen namun yang secara perbuatan bukan. KTP-nya Kristen tetapi tanpa pertobatan. Di sini Tuhan ingin kita bukan hanya sekedar membicarakan keselamatan kepada orang lain, tetapi diri kita saja imannya tidak bertumbuh. Ada pepatah berbunyi, tong kosong nyaring bunyinya. Kita berkata tapi perkataan kita tidak berisi. Kita tidak bertumbuh dan kerohanian tidak nyata dalam kehidupan kita. Matius 9:36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Dikatakan,”Lihat mereka seperti domba yang tidak bergembala” padahal pada waktu itu ada ahli agama dan hukum Taurat. Mengapa dikatakan demikian? Karena di tengah mereka ada orang yang seharusnya menjadi teladan yang mengayomi tetapi mereka tidak lakukan. Mereka hanya mementingkan diri sendiri, tetapi  tidak mengajarkan kebenaran yang diajakan dalam hukum Taurat dan para nabi. Mereka tidak memiliki teladan yang baik. Tetapi dengan kehadiran Tuhan Yesus di tengah mereka, Tuhan Yesus mempraktekkan visi dan misi Allah di tengah dunia yang berbeda dengan manusia yaitu menyatakan belas kasihan secara konkrit kepada manusia. Dengan cara : mengajar, melayani orang sakit , memberitakan firman Tuhan tentang Kerajaan Sorga dan Injil. Yesus sendiri mempraktekkan hal itu di tengah para muridNya yang nantinya akan  meneruskan tongkat estafet penginjilan ini di tengah dunia. Tuhan Yesus memberikan teladan dalam mengabarkan Injil supaya orang banyak melihat siapa Dia sesungguhnya. Supaya orang merasakan siapa Mesias itu, jamahan kasih Tuhan yang nyata dan begitu indah kepada mereka.

Orang Kristen rindu dipanggil sebagai murid Yesus. Kerinduan yang sama dari Tuhan : mari kita memilliki pertumbuhan dan kesungguhan iman yang nyata di hadapan Tuhan dan manusia agar apa yang dikatakan menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya. Kita bertumbuh melalui kebenaran firman Tuhan, dengan menerima Kristus secara pribadi sebagai satu-satunya Juruselamat.  Setelah itu, kita harus mengerti bagaimana kehidupan kita harus menyenangkan hati Tuhan, bertumbuh sesuai kebenaran firman Tuhan, membaca firman Tuhan setiap hari, berdoa di hadapan Tuhan, beribadah secara rutin dengan motivasi yang indah di hadapanNya. Supaya apa yang kita lakukan, kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan kita dan ketika kita keluar melayani Tuhan serta memberitakan Injil maka orang yang berhadapan dengan kita, merasakan kuasa Tuhan bekerja dan menjamah hati mereka. Tuhan memberikan kepada kita Amanat Agung yang merupakan perintah Tuhan “Pergilah, beritakanlah, baptislah!” Hal pertama yang paling penting dalam kehidupan kita agar menjadi berkat dan alat Tuhan dalam memberitakan Injil adalah kesungguhan dan pertumbuhan iman kita di hadapan Tuhan sehingga saat kita pergi menyatakan belas kasihan Allah melalui Yesus Kristus kepada orang lain adalah nyata dan benar adanya. Orang yang berdekatan dengan kita bisa merasakan pelayanan kita dan merasakan Yesus dan kasih Tuhan dalam hidup kita.

Ilustrasi Gadis Penjual Apel.  Beberapa waktu lalu sebuah kelompok penjual (salesman) menghadiri sebuah konferensi di Chicago. Mereka telah berjanji kepada istri masing-masing akan tiba di rumah pada hari Jumat malam untuk makan malam bersama. Hal ini membuat mereka terburu-buru mengejar pesawat mereka sambil membawa koper-kopernya. Namun saat menuju ruang pemeriksaan boarding pass untuk naik pesawat ,tanpa sengaja salah seorang salesman itu menyenggol sekotak apel yang tengah dijajakan. Kotak itu terguling dan apel-apel-nya berhamburan kemana-mana. Namun para salesman itu tetap bergegas mengejar pesawat mereka, karena jika tidak maka mereka akan terlambat. Tapi satu orang di antara mereka tiba-tiba berhenti. Dia merasa bimbang sejenak dan kemudian mengambil nafas dalam-dalam. Dia mencoba mendengarkan suara hatinya, dan ia merasakan belas kasihan pada gadis yang menjual apel-apel itu. Dia segera memberitahu teman-temannya untuk berangkat tanpa dirinya, dia meminta salah satu dari mereka untuk menghubungi istrinya bahwa ia akan terlambat pulang. Pria itu kemudian kembali ke lokasi dimana apel-apel tadi berhamburan ke lantai. Pria itu bersyukur telah membuat keputusan yang benar. Gadis penjual apel itu ternyata buta! Gadis itu menangis dan rasa frustasi terlihat jelas di wajahnya. Dia mencoba meraba-raba mencari apel-apelnya. Ia berseru meminta pertolongan untuk mengumpulkan barang dagangannya, namun tidak seorang pun yang peduli. Salesman itu berlutut memunguti apel itu bersama gadis itu. Setelah berhasil mengumpulkannya, ia membantu menatanya kembali di meja. Saat ia melihat banyak di antara apel itu yang rusak, ia pun memisahkannya. Usai melakukannya, ia berkata kepada gadis itu, “Ini uang 40 dolar, tolong ambil ini untuk mengganti kerusakan yang terjadi. Apakah kamu baik-baik saja?” Gadis itu menghapus air matanya. Pria itu kemudian berkata, “Aku harap apa yang kami lakukan tidak merusak harimu sedemikian buruk.” Ketika pria itu hendak pergi meninggalkannya, gadis buta itu memanggilnya kembali. ”Tuan..” Pria itu berbalik menatap gadis itu. ”Apakah engkau Yesus?” tanya gadis itu. Pria itu hanya tertegun dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Perlahan dia pergi ke arah penjual tiket untuk membeli tiket pulang ke rumahnya dengan penerbangan selanjutnya. Namun pertanyaan gadis itu terus terdengar di telinganya, “Apakah engkau Yesus?” Banyak orang di dunia ini seperti gadis itu, mereka dalam keadaan buta (gelalp) dan meraba-raba (membutuhkan pertolongan). Namun kita yang telah dicelikkan oleh Yesus Kristus jarang yang mau berhenti sejenak dan menolong mereka. Jika kita menyatakan mengenal Yesus, seharusnya kita berjalan dan hidup sebagaimana Tuhan Yesus hidup. Sehingga ketika kehidupan seseorang bersentuhan dengan hidup kita, dia dapat merasakan kasih Tuhan Yesus itu. Sudahkah hidup kita mencerminkan kehidupan Tuhan Yesus? Kebenaran firman Tuhan mengingatkan kita bahwa kesungguhan iman harus nyata dalam hidup kita terlebih dahulu supaya mata hati mereka dicelikkan dan melihat Tuhan dalam kehidupan kita dan selanjutnya mereka pun percaya kepada Tuhan secara langsung.

2.    Kita harus memiliki ketulusan.

Seorang tokoh misionaris Amerika Dwight L. Moody (1837-1899) berdoa, “Pakailah aku ,Juruselamatku, untuk apapun alasan dan cara yang Kau hendaki. Inilah hatiku yang miskin dan kosong, penuhilah dengan kasih karuniaMu.” Doa yang begitu indah. Dia rindu hatinya diisi oleh Tuhan dan dipakai oleh Juruselamatnya. Seorang misionaris yang penuh ketulusan memberikan hatinya untuk Tuhan untuk dipakai bagi orang lain. Ia siap untuk menerima kasih karunia Tuhan. Doa ini bisa memberi kita contoh, sehingga sebagai murid-murid dan anak-anak  Tuhan memiliki hati yang tulus seperti yang Tuhan mau dan lakukan. Pada Mat 9:35-38, kita membaca bagaimana Tuhan Yesus mengajar, memberitakan firman Tuhan dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Bukan sakit jasmani saja karena saat itu mereka sedang lelah, terlantar, putus atas. Sakit secara jasmani diderita akibat serangan dari bangsa lain saat itu.  Mereka mengalami tekanan sebagai pengikut Kristus, tetapi Yesus menyembuhkan kerohanian mereka dengan kedatanganNya sebagai Mesias saat itu. Tuhan Yesus melihat orang-orang yang dihormati seperti tokoh agama dan ahli Taurat tidak melakukan apa-apa. Yesus melihat keegoisan tokoh agama dan ahli Taurat. Tuhan Yesus melihat ada hal yang salah dalam kehidupan tokoh agama dan ahli Taurat ini. Dan mereka ditentang oleh Tuhan Yesus supaya murid-muridNya tidak melihat ‘keteladan’ dalam diri mereka. Tuhan Yesus mengajarkan nilai-nilai kerajaan surga. Supaya nilai ini sampai ke orang banyak dan dimengerti oleh murid-muridNya, maka Tuhan Yesus mengetuk hati murid-muridNya supaya tidak egois karena Tuhan Yesus menentang hal ini.

Kita seharusnya memiliki sifat yang  altruistik yaitu  tindakan sukarela yang yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang tanpa mengharapkan imbalan. Perbuatan yang menolong orang lain sehingga orang itu merasa diberkati oleh perbuatannya. Tindakan memberi bukan secara materi saja tetapi juga memberi waktu kepada orang itu sehingga menjadi berkat. Tuhan Yesus memberikan teladan kehidupan spiritual kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan . Hal ini telah dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Ia memberikan hidupNya dengan rela berada di atas kayu salib. Ia rela  untuk disiksa dan mati untuk menolong mereka yang berdosa. HidupNya dalam ketulusan untuk menyatakan belas kasihan Allah kepada mereka , yaitu suatu tindakan yang bukan hanya perasaan atau emosi sesaat saja, tetapi hidup dalam ketulusan adalah hidup yang bersandarkan kepada Allah , hidup yang mencari kehendak Allah dan menghidupi kebenaran, membangun relasi dengan Allah dan sesama (baik orang yang sudah percaya maupun belum mengenal Tuhan). Untuk menyatakan cinta kasih Tuhan, kepedulian kita kepada sesama kita dengan penuh kasih. Seperti yang diajarkan Tuhan Yesus ajarkan dalam hukum kasih. Mat 22:39b dikatakan ,”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”. Pribadi yang memiliki ketulusan hati adalah pribadi yang memiliki  kualifikasi Tuhan inginkan sebagai pekerja-pekerja Kristus nantinya. Yang Tuhan Yesus inginkan adalah estafet tongkat penginjilan diteruskan oleh murid-muridNya dan kepada kita saat ini. Hati yang tulus ini tidak akan pernah memiliki pikiran dan melakukan perbuatan yang jahat terhadap sesamanya. Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan. Memiliki hati yang berbelaskasihan sesuai kehendak Allah. Yesus mencari domba yang sesat dan hilang. Kita dipakai Tuhansebagai rekan untuk mencari domba seperti itu (orang-orang yang belum percaya). Yang sakit dipulihkan melalui kehadiran dan penghiburan kita. Yang sakit disembuhkan bukan saja secara kerohanian melalui mulut kita tetapi juga keberadaan kita sehingga mereka memperoleh kemenangan yaitu dengan melihat Krustus dalam hidup kita. Mereka percaya kepada Tuhan, Sang Juruselamat kita. Inilah yang menyukakan hati Allah dan membawa kemenangan bagi orang lain , baik secara jasmani maupun secara rohani.

Suatu kali saat melayani di luar kota, saya sedang berdiam diri. Tiba-tiba saya digerakkan oleh Tuhan untuk pergi ke suatu tempat dan saya pun pergi. Di situ saya bertemu dengan seorang remaja dan kami pun berdialog. Sang remaja berkata,”Saya ingin papa dan mama mau pergi ke gereja bersama saya, supaya kita bisa melayani dan membangun iman yang benar di dalam Tuhan.” Saya yakin dan percaya langkah saya untuk bertemu dengan remaja itu dan saya pun meminta alamatnya. Keesokan harinya saya pergi mengunjungi rumahnya. Setelah bertemu mamanya, Sang Mama menceritakan kesedihannya  karena masalah keluarga. Saya pun menyampaikan hiburan sebagai seorang teman dan sahabat. Dan dari sana saya masuk ke penginjilan. Akhirnya saya mengerti, Tuhan ingin memakai saya untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan ke ibu ini agar ia dimenangkan. Bahkan setelah sang mama percaya, akhirnya suaminya juga dimenangkan. Tidak berhenti sampai di situ, selanjutnya saya menindaklanjuti sampai mereka dibaptis di suatu gereja. Saya bersyukur karena Tuhan telah memampukan saya untuk memberikan ketulusan saat mencari ‘domba-domba’ itu.

3.    Kerendahan hati untuk berkomitmen di dalam menjalankan tugas dan pelayanan.

Kerendahan hati untuk melayani Tuhan dan pergi mencari jiwa-jiwa yang hilang. Tuhan Yesus ingin melihat hati murid-muridNya mengikuti Dia  bukan karena Tuhan Yesus melakukan perkara-perkara besar dan bisa mendapatkan makanan ketika melayani bersama-sama. Tidak! Yang Tuhan Yesus inginkan dalam kehidupan kita adalah mencari tuaian yang harus dituai. Ia mencari pekerja-pekerja  yang mengurus tuaian. Dikatakan, “Maka dari itu mintalah!”. Maksudnya mintalah hati yang seperti hati Kristus untuk melakukan keteladanan yang Tuhan Yesus telah contohkan dalam hadapan mereka. Minta agar hati kita siap dipakai Tuhan, mintalah kepada Tuan yang mempunyai tuaian. Saat mau mengabarkan Injil kepada keluarga dan orang-orang yang belum percaya (mengenal) kepada Tuhan maka berdoalah kepada Tuhan terlebih dahulu. Mintalah kehendak Tuhan yang jadi. Di sini Tuhan Yesus rindu, agar setiap kita sebagai murid mengobarkan api untuk melayani Tuhan, memiliki hati seperti Kristus, semangat yang teguh, berdiri teguh dan tidak goyah dalam memberitakan Injil. 1 Kor 15:58  Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.  


Giat dalam pekerjaan Tuhan bukan saja melayani dengan motivasi yang baik tetapi juga menjadi berkat bagi orang-orang yang belum mengenal Tuhan di tengah keluarga termasuk pasangan , anak atau orang tua yang belum mengenal Tuhan. Katakan kepada Tuhan, “Tuhan ini aku. Pakailah aku.” Jangan berkata,”Ini aku. Utuslah dia!” Bukan seperti itu. Mari kita penuh semangat melayani Tuhan di dalam gerejaNya  dan melayani Tuhan di luar sana karena ini juga tugas dari Allah. Tugas untuk bersaksi dan menjadi murid-murid Tuhan. Kerja buat Tuhan, Selalu manise. Biar pikul salib. Selalu manise. Ayo kerja buat Tuhan. Sungguh senang-senange. Dipanggil Tuhan. Selalu manise. Serahkan diri ke ladang Tuhan saudaraSerta Tuhan selalu manise (Lagu “Kerja Buat Tuhan”). Kerja buat Tuhan tidak bisa selalu mulus. Pasti banyak tantangannya. Saya juga pernah mengalami saat menyampaikan Injil. Ternyata mengerikan dan diteror. Setelah saya balik ke gereja , ternyata gereja nya di lempar. Siapkah kita? Kita harus siap. Itu yang Tuhan inginkan dalam hidup kita sebagai murid Tuhan, kita harus siap dan berani menjadi laskar Kristus. Sungguh indah firman Tuhan , biarlah setiap yang mendengarkan mendapat berkat, biarlah kita memiliki hati yang berbelaskasihan seperti Krsitus, dengan terus bertumbuh dalam iman yang benar. Dengan hati yang tulus dalam melihat mereka yang sakit dan terhilang . Supaya mereka percaya kepada Tuhan, kita harus serius memiliki hati yang rendah hati dalam melayani Tuhan (komitmen di hadapan Tuhan) agar banyak jiwa dimenangkan dalam Tuhan dan kita berani follow up mereka dan mereka bisa hadir di gereja , menjadi bagian dalam Kerajaan Allah dan melayani bersama kita.