Sunday, July 2, 2017

Pedang Bermata Dua (Firman Tuhan Untukku dan Untukmu)


Ev. Rio Tan

Ibrani 4:10-13
10  Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
11  Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.
12  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
13  Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Aturan dan Tanggung Jawab

                Saat mencoba memperhatikan tatanan hidup sebagai manusia, baik yang masih muda atau pun yang  sudah tua, maka seringkali kita bersinggunggan dengan berbagai aturan. Aturan-aturan itu melekat dengan berbagai aspek kehidupan. Contoh : setiap rumah tangga punya aturan. Saya teringat akan aturan di rumah di mana kalau sedang makan, tidak boleh ada yang memainkan gawai (gadget)  atau memegang telpon seluler, tidak boleh makan sambil menonton dll. Dalam arena yang lebih luas seperti saat menempuh pendidikan di universitas, ada aturan seperti bila 3 kali tidak hadir dalam kuliah maka tidak boleh mengikuti ujian akhir (UAS). Di kantor (perusahaan tempat kita bekerja) pun ada aturannya. Bahkan di luar, ketika berkendaraan di jalan ada aturan lalu lintas seperti kalau lampu sedang merah berarti harus kendaraan berhenti (bukan sebaliknya malah tancap gas) sedangkan bila lampunya telah hijau maka baru boleh jalan. Di gereja juga ada aturan. Seperti selama ibadah, telepon seluler harus dimatikan, saat ibadah berlangsung tidak boleh ngobrol atau tidur (terkadang waktu mendengar firman Tuhan menjadi waktu paling ‘indah’ untuk tidur), jemaat hadir sebelum ibadah dimulai.  Di gereja saya bila ibadah dimulai pk 10 maka jemaat yang hadir tepat pada pk 10 atau lebih dianggap telat (hadir sebelum pk 10 baru dihitung tidak telat). Jadi kalau mau tidak telat, datanglah ½ jam sebelumnya. Tadi saat hendak menyampaikan khotbah di tempat ini, saya usahakan berangkat secepatnya dari daerah Bumi Serpong Damai (BSD) sehingga bisa tiba di sini sebelum pk 9.30.
                Hidup kita diwarnai dengan aturan-aturan. Aturan itu bertujuan agar segala sesuatu bisa ditata dengan baik sehingga tujuannya bisa dicapai bersama-sama. Dalam hidup manusia, kita seringkali berkaitan dengan aturan. Manusia dituntut untuk bertanggung jawab untuk mentaati aturan yang dibuat demi suatu tujuan. Kita belajar dan diajar untuk bertanggungjawab. Jadi ada 2 hal yaitu aturan dan tanggung jawab yang ada di dalam hidup kita baik yang berusia tua maupun muda atau baik yang sudah bekerja bekerja maupun yang masih kuliah. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen (orang percaya) ada tanggung jawab yang harus dipikul seperti beribadah pada hari Minggu, ikut dalam pelayanan, berdoa kepada Tuhan. Sebagai orang percaya sekalipun diberi anugerah keselamatan dari Tuhan, kita punya tanggung jawab.
                Ibrani 4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ayat ini mengatakan dengan jelas  bahwa kita hidup sementara di dunia dan kita akan meninggalkan dunia ini. Suatu hari nanti  setiap orang tanpa kecuali harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Saat itu tidak ada lagi yang namanya hamba Tuhan dan pendeta yang membela. Yang ada hanya diri kita dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidup kita. Ketika kita hadir di dunia ini, dalam prosesnya hari demi hari, sampai mencapai akhir kehidupan kita, ternyata tidak berakhir begitu saja. Setiap orang tanpa kecuali akan mempertanggungjawabkan hidupnya. Masalahnya : bagaimana kita menjalani hidup kita hari lepas hari? Apakah kita bertanggung jawab dengan anugerah yang diberikan kepada kita? Apakah semakin hari kita semakin menikmati kasih Tuhan dan semakin memiliki pengenalan yang sempurna akan Tuhan? Kalau kita tidak bertanggung jawab dengan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan, maka kita melewati hari demi hari begitu-begitu saja. Setiap hari dimulai dengan bekerja di pagi hari, malam hari pulang bertemu keluarga. Begitu seterusnya. Kalau kita tidak bertanggunggung jawab, maka Tuhan mengatakan,”Aku tidak akan mengenalmu.” Kehidupan kita harus bertanggungjawab. Sebagai orang yang percaya , setelah diselamatkan, maka kita harus mengisi setiap hari dengan hal yang bermakna (bernilai) sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana mengisi hidup kita, kalau kita tidak punya waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Suatu saat kita harus mempertanggungjawabkan hal yang telah kita lakukan.

Firman Tuhan Menuntun Hidup Orang Percaya

                Maz 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Di dalam kehidupan kita yang singkat dan sementara, kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Mari kita isi dengan hal yang Tuhan mau kita lakukan. Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan kita  dan sebagai kebenaran yang menjadi penuntun hidup kita. Di dalam kehidupan kita, kita berpegang penuh dan setia pada kebenaran firman Tuhan. Satu hal yang kita syukuri sebagai orang percaya, kita menerima anugerah. Tuhan memberikan anugerah untuk kita semua. Tetapi anugerah itu bukan anugerah yang murahan. Ketika anugerah diberikan untuk kita semua, maka kita harus menyerahkan hidup kita, keberadaan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan agar Tuhan pimpin seluruh hidup kita. Jangan berpikir kita sudah punya kemampuan, kepintaran, uang , jabatan yang tinggi dll sehingga tidak bersandar pada Tuhan. Kalau menjalani hidup sendiri dengan kemampuan sendiri, maka kita tidak mampu menjalaninya. Kita butuh Tuhan untuk menuntun hidup kita. Kita butuh Firman Tuhan untuk menjalani hidup kita.
                2 hari lalu ada seorang jemaat yang ada datang kepada saya dan berkata,”Pak semakin hari hidup semakin susah.” Dia lihat berita bahwa Jumat lalu (30/6/2017), hanya berjarak 200 meter dari Markas Besar Polri, dua anggota polisi yang sedang menunaikan ibadah di Masjid Falatehan ditusuk oleh seorang pria. Padahal mesjid adalah tempat ibadah yang kudus. Dia melanjutkan,”Di tengah kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan. Kadang saya jualan dan laku. Kadang tidak laku dan tidak dapat uang sepeser pun. Sekarang tinggal di Indonesia makin susah.” Saya katakan, “Segala sesuatu bisa berubah di dunia ini. Hari ini kita bisa memiliki sesuatu besok kita bisa kehilangan. Hari ini kita bisa memiliki kesehatan namun di lain hari kita bisa kehilangan kesehatan itu.  Segala sesuatu bisa berubah. Yang tidak berubah adalah Tuhan mengasihi kita dan Ia berikan FirmanNya untuk menuntun hidup kita. Dengan semakin sulitnya kehidupan, maka apakah kita masih berpegang teguh pada firman Tuhan?”. Saya berkata,”Terkadang saya tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa, penyeselesaian apa yang harus dilakukan? Tetapi ketika kembali kepada firman Tuhan, Tuhan akan memberikan kekuatan, dan tidak tinggalkan saya. Ia memimpin hidup saya.”
                Hari ini masihkah kita berpegang teguh dan setia pada kebenaran firman Tuhan? Kalau kita gagal berpegang teguh pada firman Tuhan, maka kita gagal mengenal kebenaran Firman Tuhan. Kalau gagal mengenal kebenaran, kita gagal mengubah kehidupan kita dan menghasilkan buah. Firman Tuhan membawa kita mengerti kebenaran dan memperbarui kehidupan kita. Firman itu akan membuat kita mengerti bagaimana kita menghasilkan buah dalam hidup kita.
                Koko (kakak laki-laki) ipar saya menyenangi tanaman. Suatu kali ia melihat pekarangan rumah kami  yang kosong dan ia pun bermaksud memanfaatkan lahan kosong itu dengan menanam pohon mangga. Jadi ia mencari cangkokan pohon mangga yang baik. Kami berkomentar,”Apakah pohon mangganya bisa tumbuh?” karena pekarangan yang kosong hanya kecil saja sedangkan pohon mangga membutuhkan lahan yang luas. Namun koko ipar saya yakin pasti pohon mangganya bisa tumbuh. Dan ia mencoba menanam cangkokan pohon mangga tersebut. Kemudian ia merawat, menjaga, memperhatikan pohon itu melebihi perhatiannya kepada istri dan anaknya. Secara perlahan pohon itu mulai bertumbuh tinggi hingga akhirnya berhenti saat tingginya sebahu saya. Saya berkata, “Nah mana bisa pohon setinggi ini bisa menghasilkan buah?”. Setelah saya berbicara begitu, ternyata pohon mangga itu berbuah dan berbuahnya bukan saja 1 tapi 5 buah! Lalu buahnya dibungkus plastik agar tidak terlihat oleh tetangga. Koko ipar berkata, “Walaupun lahannya kecil namun dengan perawatan ternyata pohon mangga itu menghasilkan buah”. Bukan hanya sekali tapi berbuah berkali-kali. Sayangnya akhirnya pohon mangga itu ditebang saat rumah direnovasi. Ketika kita merawat dan menjaga sendiri terasa ada sensasi yang berbeda. Memetik , merawat dan makan sendiri. Ketika menanam sesuatu , kita ingin tanaman itu bisa bertumbuh dan pohon itu bisa menghasilkan buah. Tuhan rindu, ketika menyelamatkan kita, Tuhan merindukan, menantikan dan mengharapkan hidup kita bisa menghasikan buah dari kebenaran yang kita pelajari. Kita mendapatkan kebenaran dari firman Tuhan sendiri. Firman Tuhan diberikan kepada kita dan dengan kuasa Roh Kudus kita sungguh diubahkan sebagai orang percaya dan menghasilkan buah dalam hidup kita karena kita sungguh kembali pada pengenalan dan kebenaran firman Tuhan. Kita selalu bergumul menemukan kebenaran firman Tuhan dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita tidak bergumul dengan firman Tuhan , maka omong kosong kita bicara tentang kebenaran dan mustahil menghasilkan buah tanpa  tuntunan firman Tuhan dalam hidup kita.

Ciri Orang Kristen yang Bertumbuh

                Ada sebuah buku yang bertanya,”Apa ciri orang Kristen yang bertumbuh?” Ada yang mengatakan, orang Kristen yang bertumbuh adalah orang Kristen yang setia ikut beribadah dan persekutuan doa setiap minggu  (tidak pernah bolos), ikut mengambil bagian dalam pelayanan serta mengalami suka-dukanya. Terkadang kita terjebak dalam fenomena seperti itu. Pertumbuhan kerohanian Kristen tidak sekedar diukur seperti itu. Pertumbuhan kerohanian itu seharusnya diukur dari sejauh mana ia mengalami perubahan dan menghasilkan buah dalam hidupnya. Kehidupan kerohanian tidak bertumbuh dengan datang ke gereja. Ada orang Kristen yang setiap Minggu ke gereja tapi masih aktif melakukan dosa. Seharusnya saat kembali ke rumah, tempat kerja dan kuliah, orang bisa melihat perubahan nyata dalam hidupnya. Jangan kita kehilangan waktu belajar firman Tuhan dan menolak kebenaran firman Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Tim 4:3-4).  Apakah kita mencari kebenaran sekalipun menyanyat, menyakitkan , menusuk? Ataukah yang kita  cari adalah khotbah yang lucu, enak didengar dan hamba Tuhannya tidak marah-marah? Banyak orang biasanya mencari hal-hal yang belakangan itu.
                Suatu waktu saya diminta khotbah tentang perpuluhan. Saat itu saya membawakan tentang sikap hati dalam memberikan persembahan. Kalau kita punya sikap hati yang rindu maka kita akan memberikan yang terbaik pada Tuhan (termasuk dalam hal materi). Sebelum khotbah itu , bendahara gereja mengatakan, minggu lalu dalam kantong persembahan ditemukan uang Rp 2.000-an. Buat saya hal ini bukan masalah. Yang menjadi masalah uangnya diremes sampai kucel dan hitam. Yang parah, di dalamnya itu ada slip parkir yang menjelaskan bahwa bahwa uang yang diberikan itu adalah uang kembalian parkir. Rupanya saat parkir ia memberikan uang Rp 5.000 lalu dikembalikan Rp 2.000. Kalau kita punya sikap yang baik, maka kita tidak mungkin memberi uang yang diremes , kotor dan bau, tetapi diberikan dalam bentuk persembahan tanpa bon parkir. Siangnya ada seorang Bapak yang mengirim SMS kepada saya. Isinya,”Pak, seharusnya dalam khotbah tidak bicara seperti itu.” Saya bertanya, “Bagian yang mana?” Dijelaskan,”Itu lho Pak, kasih uang Rp 2.000 di kantung persembahan.” Saya bertanya lagi,”Memang orang yang memberikan uang Rp 2.000 itu Bapak?” Dijawab,”Bukan!” Saya dengan nada polos bertanya,”Lalu kenapa bapak mempermasalahkannya? Saya tadi bicara tentang sikap hati memberi persembahan ke Tuhan.” Bapak itu berkata,”Tapi saya tidak suka Bapak bicara seperti itu.” Saya bertanya lagi,”Jadi Bapak maunya yang bagaimana?” Ia pun menjawab,”Ya saya tidak tahu. Yang penting tidak bicara seperti itu!” Hanya hal seperti itu saja ada jemaat yang protes. Bagi dia hal itu terlalu pedas didengar dan menyakitkan. Ia ingin mendengar hal-hal yang baik. Rupanya banyak yang terbiasa mendengar, “Kalau kita kasih segini nanti Tuhan akan kasih 100 kali lipat.”

Pedang Bermata Dua

Firman Tuhan ibarat pedang bermata dua, yang menusuk ke bagian paling dalam diri manusia. Ia mengoreksi hidup kita, menilai kehidupan kita, mengeluarkan bagian yang tidak baik (jahat) untuk menjadi hal yang baik sesuai dengan yang Tuhan mau. Kebenaran seringkali pahit didengar. Tetapi kebenaran firman Tuhan tidak akan pernah sia-sia saat dilakukan dalam hidup kita. Tanggung jawab kita selain dipimpin oleh firman Tuhan, tanggung jawab yang diberikan, mengalami transformasi, menghasilkan buah, menjadi berkat dan berdampak pada orang lain. Kalau firman Tuhan memimpin hidup kita, berapa banyak waktu yang kita berikan untuk belajar firman Tuhan? Saya menangani persekutuan pemuda dan remaja. Jumlah jemaat remajanya ada sekitar 60 orang. Setiap bulan saya bertanya, “Siapa yang minggu ini setiap hari bersaat teduh?” Ada 2-3 orang remaja yang mengangkat tangan. Saya bertanya lagi,”Siapa yang bersaat teduh 5 kali dalam seminggu ini?” Ada 4 orang yang mengangkat tangan. Jadi total 7 orang. Saya kembali bertanya,”Siapa yang bersaat teduh 3 kali saja dalam seminggu?” Ada 3 orang remaja yang mengangkat tangan. Total 10 orang. Lagi-lagi saya bertanya,”Siapa yang minggu ini hanya bersaat teduh 1 hari dalam seminggu ini?” Ada 10 orang yang mengangkat tangan. Jadi sisanya (40 orang) tidak bersaat teduh. Satu hari pun tidak, sekalipun tidak. Alasannya klasik. Jemaat yang tidak bersaat teduh baik  di remaja, pemuda atau dewasa beralasan sibuk. Coba tanya kepada teman di gereja apakah bersaat teduh minggu ini? Ada yang menjawab,”Sibuk kerja”, “Sibuk cari pasangan hidup”, sibuk... sibuk... sibuk. ‘Sibuk’  menjadi kata yang tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan kita.
Sebuah buku menceritakan, seorang anak yang punya masalah  di sekolah datang ke mamanya, “Ma, saya mau cerita.” Namun mamanya hanya berkata, “Nanti ya, mama sedang sibuk jualan online”. Jadi ia pun datang ke papanya. “Papa, saya ada masalah tadi di sekolah.” Respon papanya, “Kamu ke mama saja!” Karena tidak ditanggapi, lalu ia datang ke guru sekolah minggu. Tapi guru tersebut berkata, “Gimana ya. Koko bukannya tidak mau bantu. Saya sedang sibuk pelayanan di gereja. Nanti kita cari waktu lain saja ya” Akhirnya ia melihat ada seorang panatua yang baik dan ia pun berkata kepadanya,”Pak saya mau cerita kepada Bapak karena orang lain tidak mau mendengar. Demikian juga dengan  koko.” Tetapi Panatua juga berkata, “Saya juga sibuk karena sedang sibuk persiapan untuk natalan.” Terkadang kalau kita diminta melakukan sesuatu , jawabannya : sibuk.. sibuk.. sibuk.. dan sibuk! Ketika kita begitu sibuk dengan kehidupan kita, tenggelam dalam kesibukan kita tanpa firman Tuhan, maka kesibukan itu menjadi tidak berarti dan tidak bernilai. Karena kita sibuk dalam banyak hal tapi kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup kita yaitu firman Tuhan yang memimpin hidup kita.
                Maka seringkali kita mengalami kegagalan karena kita tidak dipimpin oleh Firman Tuhan. Kita tidak menyediakan waktu untuk sungguh belajar firman Tuhan. Tidak peduli sudah menjadi orang Kristen sekian tahun atau  orangnya aktif melayani , tetapi pelayanan dan kehadiran kita tidak menjaminnya. Tetapi berapa lama sudah jadi percaya dan datang ke gereja, pertanyaan yang penting : “Apakah punya waktu untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan?” Jangan katakan belajarnya hanya di gereja pada hari Minggu. Karena kalau hal itu sudah pasti kecuali saat di gereja mengantuk. Kalau sungguh punya waktu untuk secara rutin belajar firman Tuhan agar dipimpin oleh kebenaranNya dan hidup kita diubahkan sehingga menghasilkan buah. Berikan waktu dan kesempatan untuk belajar firman Tuhan walau tidak mudah. Firman Tuhan yang didengar dan dibaca tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Karena Firman Tuhan hidup,  kebenaran Firman Tuhan itu akan mengubahkan , memulihkan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup kita. Ada sebuah kalimat dalam sebuah film rohani,”Hidup kita seperti perang. Ketika berperang ada perjuangan hidup. Untuk meraih kemenangan dalam peperangan hidup  tidak mudah. Kita butuh cara yang tepat dan sumber daya yang baik. Hidup kita sebagai anak Tuhan di dunia ini diwarnai peperangan hidup. Kita bisa menikmati peperangan ketika kita bisa berdoa dan kembali dipimpin oleh firman Tuhan.”

Penutup


Pada waktunya nanti ,tanpa kecuali kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup kita hari ini? Apakah kita bertanggung jawab sebagai orang percaya? Apakah kita sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, dituntun oleh firman Tuhan sehingga kita hidup dalam kebenaran,  menghasilkan buah dan akhirnya ketika kita datang ke hadapan Tuhan saat mempertanggungjawabkan hidup kita yang tidak mudah dan akhirnya Tuhan menyambut kita , membawa kita masuk dalam kebahagian yang diberikan Tuhan kepada kita? Biarlah hidup kita dipimpin oleh Firman Tuhan, menemukan kebenaran,  belajar kebenaran , melakukan dan membagikan kebenaran untuk orang lain. Amin.

No comments:

Post a Comment