Tuesday, May 9, 2017

Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama


Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama

Pdt. Hery Kwok

Yesaya 29:13  Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,

Pendahuluan

                Tema hari ini “Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama”. Tema ini diharapkan bisa mengoreksi ktia semua yang dalam perjalanannya dari waktu ke waktu bergereja hanya sebatas tuntutan agama belaka. Sebagai orang Kristen kita diharuskan pergi ke gereja setiap Minggu dan hari raya seperti Natal, Paskah, Jumat Agung dan Kenaikan Tuhan Yesus , apakah hanya sebatas itu saja atau tidak? Bila hanya begitu maka bisa saja secara  fisik kita mungkin hadir tapi hati kita tidak di gereja. Itu berbahaya karena akan terbukti dalam pertumbuhan rohani kita yang nyata terlihat dari karakter, hidup pelayanan serta dalam mengasihi sesama kita. Dalam  konteks bergereja pada Yesaya 29:13 dikatakan Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya (mereka datang dengan mulut yang memuji Tuhan dan bibir yang mengucapkan haleluya), padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan gereja mereka (ibadah yang dilakukan) kepada-Ku hanyalah perintah atau tuntutan manusia yang dihafalkan. Mereka datang dengan mulut dan bibir yang sepertinya beribadah tapi hatinya tidak di sana karena mereka hanya melakukan tuntutan (syariah) dari agama (hanya menghafal)  Seperti : ingat untuk membayar perpuluhan, datang hari Minggu (dikatakan sebagai Sabat) dan sebagainya. Sehingga menurut nabi Yesaya itu semua hanyalah perintah atau tuntutan dari manusia atau agama mereka.
Kita bersama-sama hidup di Indonesia dengan gejolak dinamika kehidupan sosial yang sangat kuat. Kalau diamati ada kelompok-kelompok tertentu yang melakukan (mengatasnamakan) ibadah agamanya yang dikatakan sebagai melakukan kehendak Allah. Ini tidak heran atau asing. Sehingga yang kita alami sendiri, ada kelompok yang dengan kuat dan berani mengatakan mereka sedang menjalankan agama dan ibadah mereka yang dilakukan dalam konteks kehendak Allah!! Ini yang kita rasakan dan alami. Sehingga pemimpin negara kita berpidato bahwa orang-orang tertentu yang mencoba mengatasnamakan agama dengan segala kegiatan-kegiatan agamanya dipandang sebagai ekstrimis atau radikal yang mengganggu ketertiban umum dan mencoba mengintimidasi perasaan (hati) orang-orang yang tidak sealiran atau seagama dengan orang-orang tersebut. Menyaksikan peristiwa ini , dalam hati kecil kita mungkin bertanya-tanya,”Mengapa begini?” Kita mencoba menganalisa dari sudut kita,”Kok mereka begitu ya? Apa mereka tidak tahu bahwa perbuatan mereka tidak benar?” Tetapi kalau kita hidup dan ada dalam kelompok itu, bisa jadi kita punya pemahaman yang sama dengan kelompok itu dan menganggap apa yang dilakukan sesuai kehendak Allah (yang berkenan di hadapan Allah).
Hal itu sudah dijelaskan dalam kitab Yesaya. Di kitab ini kita menemukan bahwa orang Israel dengan bangga , berani  dan puas sudah melakukan apa yang ditentukan dan  diminta oleh seluruh aturan agama mereka. Dengan melakukan hal-hal tersebut, mereka katakan bahwa mereka sudah beribadah  pada Allah mereka. Latar belakang Kitab Yesaya ditulis dalam kebobrokan rohani. Ada yang mencuri, berzina, mengintimidasi yatim piatu, janda diperas dan lain-lain. Namun apa pun yang dilakukan sehari-hari tersebut, mereka tetap beribadah pada Tuhan. Mereka datang dengan mulut dan bibirnya menaikan puji-pujian pada Allah. Yesaya 29:13 menjadi kritikan untuk kita. Bisa saja kita sama seperti mereka. Kita duduk di ruang ibadah menyanyikan pujian bagi  Tuhan seperti yang tertuang dalam lirik,”Aku membutuhkan Engkau setiap waktu.” Kita tersentuh dengan kalimat tersebut dan mengangkat tangan. Tetapi sebenarnya hanya mulut dan bibir saja. Yesaya sudah membuktikan apa yang mereka lakukan (terbukti dalam perbuatan sehari-hari berbeda). Katanya perlu Tuhan tiap hari tapi mengapa tidak mencari Tuhan? Katanya mengandalkan Tuhan tapi setiap hari bersandar pada kekuatan dan kekayaan sendiri. Sehingga Nabi Yesaya mengatakan bahwa hanya di mulut bibir saja tetapi perbuatan berbeda.
                Pada Perjanjian Baru, Rasul Paulus membawa kuasa dari imam-imam kepala , ia seorang berani dan bengis. Ia mengatakan ,”Aku orang kejam dan bengis.” Ia memang menyeret orang percaya dan memasukkan ke penjara. Bahkan ada orang percaya yang dianiaya dan dibunuh. Paulus menganggap tindakannya berkenan di hadapan Allah. Kalau dihubungkan dengan orang Kristen, apakah saat kita berbibadah hanya tuntutan agama belaka? Saya datang agar hati saya tidak merasa tuntutan. Itu sebabnya apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya dan disaksikan negara kita hanya merupakan penyakit orang beragama.

Ada 2 alasan (hal) yang menjadi penyakit orang beragama

1.    Menilai bahwa melakukan KEGIATAN AGAMA sudah hidup BERIBADAH  kepada ALLAH.  
Sepertinya saya menilai bahwa saya sudah melakukan kegiatan agama (hidup beribadah). Kalau kita tidak menyadari hal ini sebagai penyakit maka akan berbahaya sekali. Mereka mengira sudah melakukan apa yang dituntut oleh syariah mereka. Misal : kalau sudah bayar perpuluhan , sudah selesai. Jadi mau apa lagi? Semua yang dianggap harus dilakukan dalam kegiatan agama sudah dilakukan untuk Tuhan (seperti  waktu sudah ke tempat ibadah, dikatakan kita sudah beribadah). Bila tidak disadari penyakit ini akan membuat kita mati rasa (mati dalam kepekaan rohani).

2.    Menilai bahwa melakukan KEGIATAN AGAMA memuaskan hatinya (memberi rasa damai sejahtera dalam hatinya).
Rasanya puas. Itu merupakan penyakit juga. Yang mencoba menentramkan dirinya dan membuat dirinya enak. Saya khawatir penyakit ini sudah berurat-akar dalam diri kita, sehingga kita merasa sudah selesai tuntutannya dan merasa enak. Ada orang yang datang ke gereja setelah itu main judi. Bahkan bisa terjadi ia datang ke gereja untuk berdoa agar menang judi. Jadi ada kelompok tersendiri untuk bermain maco atau  poker. Sehingga ada orang yang group WA yang mengatakan itu. Begitu menang ia berkata karena Tuhan telah memberkati dia. Ada juga yang datang ke gereja di hari lain dan hal itu dianggap sudah bergereja.

Yang Allah kehendaki : Mengenal Dia

Apa esensi kita bergereja ? Yeremia 24:7 Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya. Di dalam konteks beribadah, yang Tuhan minta kepada orang Israel bukan karena sudah membakar korban ukupan ,memberikan persembahan binatang atau membawa perpuluhan. Bukan itu! Tuhan tidak minta hal itu waktu orang Israel ke luar dari Mesir. Tapi Tuhan minta supaya kita berelasi denganNya dan kita belajar pada Tuhan. Mengenal Tuhanlah itulah yang Tuhan mau. Supaya Ia menjadi Tuhan. Kita berkata, kita bertuhan pada Tuhan tapi sering kita tidak menjadikan Dia sebagai Tuhan. Waktu meminta sesuatu kepada Tuhan, kita perlakukan Ia seperti jongos . Tidak ada rasa hormat dan tidak percaya bahwa Ia memberikan yang terbaik. Dalam kitab Yeremia, Tuhan mengatakan bahwa,”Aku ingin agar kamu tahu bahwa Akulah Tuhan, Akulah penguasa dan milikmu.” Itulah yang diminta Tuhan agar aku mengenalNya. Apa saja yang dibuatNya tetap baik dan luar biasa.

Kemarin selepas rapat BPH Sinode GKKK, kami berkunjung ke rumah Pdt. Jusuf Citra. Ia salah satu hamba Tuhan yang melayani di GKKK Papua. Ia hampir menghabiskan seluruh masa mudanya di sana. Ia sangat dihormati di sana. Ia dikenal sebagai orang yang luar biasa baik. Ia pernah berkhotbah di GKKK Mabes. Waktu kami berkunjung, ia baru menjalani cuci darah di RS Siloam Karawaci. Ia melakukan cuci darah seminggu tiga kali agar darahnya bersih dari zat Kreatin. Waktu duduk bersaksi ia mengatakan bahwa waktu divonis cuci darah (ia hampir meninggal karena nafasnya sudah kembang kempis akibat tidak bisa menarik napas) dan racun sudah menguasainya darahnya. Ia pun disuntik agar kadar racunnya turun serta keluar airnya karena ginjal dan paru-parunya sudah terendam cairan. Di Penang ginjalnya dikatakan sudah parah. Ia berkata,”Saya bisa merasakan artinya minum cawan pahit itu. Sepertinya Tuhan meninggalkan saya! Saya meminta dan berseru tetapi Dia seakan tidak mendengarkan saya. Hati saya hancur. Saya sudah melayani Tuhan. Apa yang tidak saya lakukan untuk Tuhan? Saya korbankan keluarga untuk melakukan pekerjaan Tuhan.” Membandingkannya dengan diri sendiri, saya masih senang nonton film di bioskop dan jajan (menikmati kuliner). Waktu saya tidak banyak seperti dirinya yang berkeliling Papua. Saya merasa malu. “Tetapi saya mengalami suatu keputusasaan dan saya meragukan Tuhan,” sambung Pdt. Jusuf Citra. Saya terdiam. Yang mengatakan kalimat tersebut bukan orang kacangan. Ia sudah berkhotbah dan mengajar tetapi ia berkata bahwa ia meragukan Tuhan dalam kondisi itu. Kita tidak menjadikan Ia Tuhan. Selama ini bisa kita membuat Nya bukan Tuhan untuk diri kita. Seperti yang dikatakanNya dalam kitab Yeremia,”Aku ingin mereka mengenal Aku. Supaya mereka jadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka, supaya mereka bertobat dan mengikut Aku.” Itu ibadah kita di mana kita berjumpa dengan Allah yang membuat kita bertobat. Di mana mengatakan aku membutuhkan Engkau tanpaMu aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaimana Orang Percaya Memiliki Pengenalan akan Tuhan?

                Saya ingin agar kita datang ke gereja bukan karena tuntutan Allah tetapi karena ingin memiliki hubungan (relasi) dengan Tuhan, dan salah satu cara  yang baik adalah melalui pemuridan. Gereja Kristen Kalam Kudus mencanangkan diri untuk menjadi gereja pemuridan. Pemuridan itu ada berbagai bentuk. Seperti kebaktian saat ini merupakan pemuridan besar. Tetapi ada juga kelas Tiranus yang diadakan dengan topik tertentu juga merupakan pemuridan. Kita datang ke komsel pasutri yang membahas topik yang diceritakan pada khotbah dari hamba Tuhan dan di-sharing-kan mengapa kita tidak melakukan ibadah keluarga? Itu juga pemuridan. Tetapi ada juga pemuridan yang sifatnya intens seperti KTB yang setiap waktu anggota-anggotanya berkumpul membahas firman Tuhan dalam hidupnya.

                Ada sebuah pernyataan dari Pastor Edmun Chan. Permuridan adalah proses membawa seseorang kepada relasi yang benar dengan Allah, dan mengembangkan mereka kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus melalui strategi pertumbuhan yang terus menerus, sehingga mereka dapat menularkannya juga kepada orang lain. Kebaktian kelompok kecil bisa bertumbuh lalu memuridkan lagi . Sehingga bisa menginjili orang lain.
Ada 4 kalimat yang menjadi kunci dalam pemuridan

1.    Membawa orang pada relasi yang benar dengan Allah

Yoh 1:45-46 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Sewaktu Tuhan memanggil Natanael , ia mempunyai pikiran tidak baik (tidak ada yang baik datang dari Nazaret). Kemudian Tuhan Yesus meluruskan pikirannya. Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yoh 1:48-49).  Terjadi relasi antara Tuhan dengan Natanael dalam pemuridan sehingga Natanael pun bertobat dari pikiran negatif terhadap Allah.
Kita punya kecenderungan curiga pada Allah karena kita orang berdosa. “Kenapa begini Tuhan?” pertanyaan yang menunjukkan kecurigaan. Sewaktu A Hok kalah, kita tidak habis berpikir dan kita curiga. Relasi ini perlu dipulihkan. Tuhan Yesus juga memulihkan pemungut cukai Zakheus (Lukas 19:1-10) atas kepercayaannya pada harta. Ia menganggap harta adalah segalanya dan bisa menolong hidupnya. Setelah dimuridkan ia bertobat dari ketergantungan terhadap harta. Melalui pemuridan kita diharapkan bertobat yang terus terjadi atas berbagai hal buruk. Misal : bertobat terhadap pikiran negatif terhadap orang, ketergantungan pada uang (bila tidak ada duit hati tidak nyaman sehingga duit menjadi raja). Kalau tidak ada pertobatan itu dalam relasi, maka kita tidak akan mengerti arti beribadah kepada Tuhan. Murid-murid lain berkata kepada Tomas bahwa mereka telah bertemu dengan Tuhan namun Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25b). Delapan hari kemudian Tuhan Yesus muncul kembali dan berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Tomas pun menjadi percaya dan Tuhan Yesus pun berkata, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Ada yang berpendapat bahwa segala sesuatu harus ada dalam rasio, sehingga kalau tidak masuk akal tidak percaya. Itulah dosa yang mengerikan dan di sana relasi Zakheus dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Pada ujung kitab Yohanes dikatakan Petrus kembali menjadi nelayan. Tuhan Yesus datang ke Petrus di Danau Tiberias. Setelah Tuhan Yesus melakukan keajaiban yang membuat para murid memperoleh 153 ikan, Tuhan Yesus bertanya 3 kali kepada Petrus. "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari pada mereka ini)?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Maka sedihlah hati Petrus. Petrus menangis karena Tuhan Yesus membuat Petrus bertobat dari kesombongan rohani. Kita perlu pemulihan relasi dengan Allah. Banyak sekali relasi yang perlu dipulihkan. Caranya melalui pemuridan. Kebaktian, kelas Tiranus, persekutuan pasutri, KTB merupakan pemuridan untuk memulihkan karakter yang tidak benar.

2.    Mengembangkan mereka kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus.

Yoh 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Aku di dalam Engkau dan Engkau di dalam aku , itu adalah dewasa penuh. Bila Ia ada di dalam kita, maka seluruh pikiran kita dikuasai oleh Tuhan Yesus. Itu yang harusnya terjadi pada orang percaya termasuk rohaniwan. Waktu terjadi suatu peristiwa , apa langkah yang akan dijalani? Ingat apa ayat Tuhan berkata atas suatu peristiwa untuk meresponinya? Dewasa penuh berarti segala hal yang dilakukan dikuasai oleh firman, bukan lagi diri sendiri. Dalam kitab Kisah para Rasul, para rasul melayani Tuhan termasuk Petrus. Petrus datang ke orang bukan Yahudi untuk memberitakan Injil. Petrus diberikan makanan yang non halal, ia tidak mau. Tetapi Tuhan berkata, "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." (Kis 10:14). Di situ ia belum mengerti. Ternyata Tuhan memintanya datang ke suatu keluarga (rumah) Kornelius yang hendak ditobatkan. Setelah itu, ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.  mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."? (Kis 11:2-3). Petrus berkata, Aku ingat peristiwa Pentakosta. Aku ingat firman Tuhan” Firman Tuhan yang teringat dan itu dewasa penuh. Itu yang seharusnya terjadi dalam hidup kita. Kita juga mengalami pergumulan rohani yang terjadi di dalam rumah, pekerjaan dan lain-lain, namun dalam menghadapi pergumulan tersebut kita mendasarkannya pada firman Tuhan sehingga firman Tuhan tidak terpisah dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti itulah yang Tuhan mau.

3.    Melalui strategi pertumbuhan yang terus menerus.

Dalam pemuridan, strategi pertumbuhan yang terus menerus yang terjadi. Kalau ke gereja hanya karena butuh itu celaka. Dalam kelompok kecil perlu komitmen untuk bertumbuh. Sosok tubuh saya paling pendek di rumah sehingga saat berjalan dengan adik-adik dikira saya yang menjadi adik. Bila sosok tubuh kita tinggi, maka saat berjalan tidak merasa malu. Pertumbuhan fisik seringkali kita perhatikan, namun mengapa kita tidak memperhatikan pertumbuhan rohani? Karena hal itu membutuhkan komitmen dan prosesnya terus menerus. Dalam suatu sharing ada yang berkata, “Mengapa ya Bapak itu datang ke gereja hanya di saat-saat tertentu seperti saat ada bazar, natalan?” Kalau tidak secara konsisten dan terus-menerus membangun diri kita maka tidak akan terjadi pertumbuhan relasi yang baik dengan Tuhan.

4.    Pada akhirnya mereka harus bisa menularkan proses yang sama pada orang lain.

Itulah Amanat Agung dari Kristus. Gereja kita belajar untuk memuridkan melalui kelompok kecil yang dibangun sehingga terjadi kedewasaan penuh.

Penutup

Hidup bergereja seperti yang disampaikan oleh Ev. Harlevy adalah hidup di mana kita mengenal Allah dengan baik (kehendakNya, tujuanNya dalam hidup kita) dan  menikmati Allah dalam perjalanan orang percaya. Tuhan menyelamatkan kita karena ada tujuan yaitu mengenal apa yang Dia mau. Namun seringkali kita tidak mengenal Dia yang telah mati bagi kita. Kita melaksanakan perjamuan kudus untuk mengingatkan kita karyaNya di kayu salib.


Lirik lagu karangan Pdt. Stephen Tong, “Kumau cinta apa yang Dia cinta.” Betul tidak? Dia cinta jiwa-jiwa. Apakah kita cinta jiwa-jiwa? Kita lebih memikirkan diri kita dan lebih pusat keluarga. Kita sudah kehilangan orientasi dan ini berbahaya. Dalam hidup bergereja kita menikmati Allah dalam perjalanan. Allah tidak sekedar ingin kita mengenalNya tetapi kita menikmatNya kasihNya , kuasaNya dan kehadiranNya. Semua itu membuat hidup kita menjadi bergairah, dinamis dan merasakan rahmat Tuhan baru setiap hari. Kalau hidup bergereja seperti itu, maka kita akan antusias datang beribadah kepada Tuhan. Kita akan memberi prioritas hidup untuk beribadah kepada Tuhan. Kiranya firman Tuhan memampukan kita untuk menjadi orang-orang tebusanNya yang bertumbuh iman kerohanian dalam hidup. 

Monday, May 1, 2017

Perkataan yang Mengobarkan Hati


Pdt. Nindyo Sasongko

Lukas 24:13-35
13  Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17  Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19  Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23  dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24  Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28  Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29  Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30  Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31  Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32  Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
33  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
34  Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
35  Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Pendahuluan

                Situasi saat Yesus bangkit dari kematianNya, tidaklah mudah bagi para murid dan pengikutNya. Dengan bangkitnya Yesus Kristus, keadaannya tidak serta merta menjadi penuh sukacita. Lukas 24:13-35 merupakan perikop yang dilatarbelakangi Yesus telah bangkit dan kemudian menampakkan diriNya kepada dua orang murid yang sedang menuju ke kota Emaus. Belakangan ini muncul hashtag (kata atau frase tanpa spasi yang diawali dengan simbol hash "#") di medsos (seperti FB dan Twitter) yang bunyinya,  “belum bisa move on (bangkit, pindah ke lain hati, membuka diri)”. Kata-kata ini biasanya dipakai oleh anak-anak muda yang sedang patah hati. Muda-mudi ini mengungkapkan perasaan yang tidak enak sekali akibat diputus oleh pacar dan hati rasanya kalut, kelam, dukacita, gelap dan belum bisa move on. Berhari-hari status FB-nya dan gambar di instagram-nya kelam semua dipenuhi dengan  kalimat-kalimat yang pilu, sepilu lagunya alm. Eddy Silitonga “Biarlah Sendiri” (ciptaan Rinto Harahap). Pada tahun 1976 Eddy Silitonga (1950-2016) menyanyikan lirik lagunya, Biar, biarlah sedih, asalkan kau bahagia yang melejitkan namanya di dunia tarik suara. Ada juga lagu lain dengan genre  dangdut “Termiskin di Dunia” yang diciptakan dan dipopulerkan oleh ATT Hamdan yang liriknya berbunyi,” .... Aku merasa orang termiskin di dunia. Yang penuh derita bermandikan airmata ...”.  Intinya belum bisa move on.  Istilah ini kembali marak pasca 19 April 2017 setelah diketahuinya hasil hitung cepat pilkada DKI yang memenangkan pasangan calon gubernur Anies-Sandy. Kekecewaan terjadi di kalangan pendukung A Hok – Djarot dan hal ini wajar. Rasa khawatir dan takut adalah hal yang wajar.

Rasa Takut Setelah Mendengar Berita Kristus Sudah Bangkit

Ketakutan ini juga pernah dirasakan oleh para murid dan pengikut Yesus Kristus seperti yang dicatat oleh Alkitab. Kebangkitan Kristus tidak serta merta disambut oleh orang-orang yang mengenalNya. Pada Markus 16:8 dikatakan “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.” Para ahli Kitab Suci mengatakan bahwa sebenarnya inilah ayat terakhir dari kitab Markus sedangkan ayat-ayat selanjutnya ditambahkan agar Markus tidak terlalu negatif dalam menutup injilnya. Ayat ini memuat kata “takut”, padahal pasal 16 sedang berbicara tentang kebangkitan Kristus. Kristus sudah bangkit dan kuburNya sudah kosong. Hal ini sudah disaksikan sendiri oleh orang-orang yang dekat dengan Kristus namun mereka masih memiliki perasaan takut.
                Kitab Lukas juga tidak jauh berbeda. Pada Lukas 24:11 para murid mendapat kabar dari perempuan yang melihat kubur Yesus kosong namun mereka mengatakan hal itu omong kosong dan mereka tidak percaya. Demikian pula dengan Matius 28, setelah kebangkitan Kristus, para murid merasa ketakutan dengan orang-orang sekitar mereka. Yoh 20:19a Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Ini kebangkitan Kristus, kubur kosong dan mereka sudah melihat tetapi mereka merasa takut.
                Lukas 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem. Ayat ini dibuka dengan kata “pada hari itu juga”. Perikop ini didahului oleh cerita para perempuan yang melihat kubur kosong dan memberitahu para murid yang berkata bahwa hal itu omong kosong dan mereka tidak percaya. Pada hari yang sama ada kisah tentang 2 orang murid , yang satu namanya Kleopas dan yang lain namanya tidak diketahui. Lukas mungkin tidak ingat siapa nama sahabat dari Kleopas sehingga dibiarkan misterius (no name = NN). Mereka berdua meninggalkan Yerusalem karena ingin kembali ke kampungnya. Mereka memang berasal dari kampung dan mereka ikut urbanisasi (pindah ke kota) lalu sekarang balik kembali ke kampung halaman mereka. Mereka saat itu sedang berjalan menuju Emaus yang terletak 7 mil dari Yerusalem. Mereka sedang melakukan diskusi dan bertukar pandangan dengan intens. Saya coba membayangkan apa yang mereka pikirkan, ketakutan dan kecemasan mereka. Padahal sebelumnya mereka sudah tahu dan mendengar bahwa Kristus sudah bangkit, namun mereka tidak percaya. Maka lebih baik bagi mereka untuk pulang kampung, entah untuk mencangkul, memelihara ternak dan lain-lain. Mereka ingin hidup aman dan untuk itu tidak perlu di Yerusalem. Mereka tidak move on. Mereka kembali ke tempat mereka berasal dan pindah ke kampung halaman mereka kembali. Di tengah perjalanan itu ada seorang laki-laki muncul dan sosoknya misterius. Mereka tidak mengenalNya. Orang itu  bertanya apa yang sedang dipercakapkan. Kleopas dan temannya saling berpandangan karena merasa heran (masa orang ini tidak pernah mendengar apa yang telah terjadi?). Maka Kleopas bertanya, "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?". Mereka pun menceritakan peristiwa besar yang terjadi yaitu penyaliban Yesus Kristus. Mereka mengira Yesus adalah nabi yang berkuasa  yang akan menjadi raja dan menunggangbalikkan pemerintahan Roma namun ternyata Ia mati dan 3 hari kemudian ada berita tentang kebangkitanNya, namun para murid yang lain ada yang tidak percaya. Mendengarnya Orang Misterius itu berkata, “"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk 24:25b). Arti kata “bodoh” di sini adalah “kamu terlalu fokus pada masa lalu” atau “terlalu berpikir pada masalah yang sedang dihadapi” sehingga tidak melihat kembali apa yang dirancangkan (ada hal yang lebih besar). “Kamu terlalu bodoh dan memikikrkan masalah kamu. Betapa lambannya hatimu.” Sang Misterius itu kemudian menerangkan Kitab Suci dan berkata, “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (ayat 26).
                Kemudian hari mulai larut malam. Kegelapan menyapa dan Sang Misterius bermaksud meneruskan perjalananNya. Tetapi Kleopas dan temannya mencoba menahanNya agar Ia tinggal dengan mereka. Susana saat itu tidak ada penerangan dan jalan sangat gelap. Pada tahun 2009-2010 saya pernah tinggal di Etiopia. Kondisinya saat itu seperti Indonesia (Jakarta) 20 tahun sebelumnya. Tidak semua jalan diaspal dan punya penerangan. Kalau orang mau berjalan malam-malam berbahaya karena jalannya tidak rata, gelap dan dinginnya luar biasa. Hal ini tidak mengherankan karena kota Addis Ababa tingginya 2.400 m di atas permukaan laut. Sehingga pada pk 18 saja, orang-orang  tidak berani keluar di udara terbuka tanpa jaket dan orang harus memakai penutup telinga karena dinginnya luar biasa. Bayangkan di Israel pada zaman itu ada banyak begal dan perampok. Jadi Kleopas mencoba menahan Sang Misterius. Yang menarik Sang Misterius ini kemudian memecahkan roti. Begitu ia memecahkan roti, Kleopas dan temannya tiba-tiba terbuka matanya. Mereka berkata, "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk 24:32). Lalu mereka kembali ke Yerusalem. Mereka menceritakan bahwa sewaktu Orang Misterius itu memecahkan roti barulah mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan Yesus. Apa pentingnya ayat-ayat ini untuk kita? Apa pentingnya saat apa yang kita dambakan tidak mendapat jawaban? Apa pentingnya bila apa yang kita doakan terjadi tidak seperti yang kita harapkan? Di manakah Yesus Kristus? Saya merasa ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Dalam perikop Lukas 24:13-35 ini, Yesus dikenal sebagai orang asing oleh murid-muridNya sendiri. Kata yang dipakai di sini adalah xenos (ayat 18 Adakah Engkau satu-satunya orang asing?). Bagi para murid yang sedang kalut ini Yesus adalah orang asing. Biasanya kebanyakan manusia (termasuk kita) takut dengan orang asing. Jangan-jangan orang asing ini akan mengancam, membahayakan atau mencelakai kita. Kita hidup dalam suasana xenophobia (fobia atau ketakutan terhadap orang asing). Kita senang kalau berkumpul dengan orang-orang yang sudah kita kenal (misal : sesama Kristen, suku, latar belakang, hobi dll). Melihat orang-orang  di luar lingkungan, kita merasa takut (jangan-jangan ia akan begini-begitu dan mencelakai kita). Apalagi murid-murid sedang mengalami duka-cita dan sekarang ada orang asing. Bayangkan kalau kita hidup dalam trauma seperti yang dialami oleh murid -murid Tuhan Yesus karena kehilangan orang yang mereka kasih dan selama ini melindungi mereka.
                Pada tanggal 8 April 2017 saat kita mengenang Yesus masuk ke Yerusalem dengan sambutan meriah penduduk di sana”Hosana..hosana..!!” untuk memuji Tuhan. Di Mesir ada 2 gereja koptik (Gereja Koptik St. Markus di Iskandariyah dan Gereja Mar Gigris atau St. George di kota Tanta) dibom pada tanggal ini dan menyebabkan 24 orang meninggal dunia. Beberapa jam kemudian teman saya yang tinggal di Siprus mem-posting di status-nya foto  seorang pria paruh baya di mobil. Di sebelahnya duduk seorang pria yang di tangan kanannya bergelayutan seorang anak kecil yang masih balita, yaitu anaknya sendiri. Siapakah si Bapak itu? Ia adalah salah satu korban pemboman bunuh diri di gereja Santo Markus. Tempatkan diri kita seperti si anak kecil tersebut. Seorang anak balita yang kehilangan ayahnya yang tubuhnya hancur berkeping-keping karena bom. Bagaimana nantinya anak itu akan bertumbuh kalau melihat orang yang asing?

PerkataanNya Mengobarkan Hati

                Di antara kita pun banyak mengalami hal seperti itu dan membuat kita trauma dengan orang asing. Tetapi kisah ini memiliki akhir yang berbeda. Kleopas ternyata malah mengundang Orang Asing itu agar jangan pergi dan memintaNya untuk tinggal bersama mereka. Kleopas dan temannya adalah orang-orang Yahudi dan taat kepada firman Tuhan. Pada kitab Imamat  19 dikatakan bahwa bila ada orang asing maka ia harus ditampung dan diterima di rumah mereka. Apalagi hari mulai gelap dan senja , bahaya bisa mengancam sang tamu kapan saja. Tetapi yang menarik, selesai Orang Asing itu membagikan firman Tuhan, Ia kemudian memecahkan roti dan membagi-bagikannya. Ini yang tidak pernah atau jarang sekali terjadi. Biasanya yang memecah dan membagikan roti adalah tuan rumah atau orang yang mengajak. Jadi seharusnya Kleopas dan temannya, tetapi ternyata orang asing ini ‘ketertaluan’, Ia memecah roti dan membagikan ke Kleopas dan temannya. Bayangkan, bila kita kedatangan tamu lalu ia masuk ke dapur, mengeluarkan bahan makanan dari lemari dapur lalu memasak untuk kita. Setelah itu ia menyajikannya kepada kita untuk dimakan. Apa perasaan kita? Tentu kita berpikir, “Ini tamu kurang ajar!” Tamu ini seolah-olah menjadi tuan rumah-nya. Tetapi di sinilah rahasia kebangkitan Tuhan Kristus. Orang asing ini bukan saja menjadi sahabat, tetapi orang asing ini justru menjadi orang yang menjamu mereka. Orang asing yang biasanya ditakuti dan dicemaskan menjadi orang yang memecah roti. Orang asing yang menjadi sahabat mereka. Terjadi perubahan peran, Tamu justru menjadi tuan rumah dan menjamu. Apa artinya ini untuk kita? Perhatikan!  Mereka berkata,”PerkataanNya mengobarkan hati.” Ini tidak cukup. Bagaimana mereka bisa mengenal Yesus? Bagaimana murid yang takut bisa menyadari orang di depan mereka adalah Guru mereka, ketika Yesus memecah roti dan menyambut mereka? Orang ini dari seorang asing menjadi sahabat mereka!
                Ada 2 istilah sahabat dalam bahasa Inggris yaitu friend (teman, sahabat) dan companion (berasal dari kata Latin : com yang artinya bersama dan panis yang artinya roti, jadi companion artinya orang yang berbagi roti atau orang yang mau memecahan roti bersama-sama kita). Dalam perjalanan hidup kita melewati padang gurun yang gersang yang tidak ketahui ujungnya. Tetapi kita punya teman (sahabat) yang punya bekal. Ketika dia tahu kita sedang membutuhkan ia berkata, “Ini rotiku. Makanlah.” Melihat tindakan Sang Tamu, murid-muridNya tahu, “Ia adalah Yesus.” Dengan kata lain, apa pentingnya dan faedahnya bagi kita yang mungkin sedang ketakutan dan belum move on atas apa yang sedang terjadi? Apakah kita mempunyai companion yang mau memecah roti untuk dibagikan? Ia bersama murid-murid yang sedang kalut dan memilih kembali ke kampung mereka. Apakah kita sudah punya companion? Joseph M. Scriven pada tahun 1855 mengarang lagu “What A Friend We Have in Jesus”. Betapa luar biasa persahabatan yang kita miliki di dalam Kristus, sehingga semua dosa dan kekalutan kita bawa kepadaNya. What a friend we have in Jesus, All our sins and griefs to bear! What a privilege to carry. Everything to God in prayer! Ktai punya privilege yaitu hak istimewa untuk membawa seruan minta tolong kita dalam doa. Yesus disebut sahabat kita (our companion) yang memecahkan roti bersama kita. Kebangkitan Kristus mengubahkan manakala kita tahu  Dia tidak meninggalkan ktia, perkataanNya membangkitkan kita dan murid-muridNya di mana sebelumnya Yohanes, Yakobus , Andreas dan Petrus pulang kampung menjadi nelayan lagi karena merasa tidak ada lagi harapan. Namun Yesus datang kepada mereka, Ia makan ikan bersama mereka. Yesus menjadi companion bagi murid-muridNya.

Yesus Menjadi Companion

Kita bisa teguh dan berjuang bila kita dapat menjawab ‘iya’ atas pertanyaan sbb :
1.     Apakah Yesus menjadi companion kita? Apakah saat berada dalam kehidupan yang sulit dan belum move on, Yesus menjadi companion kita?
2.     Apakah kita mau menjadi companion buat orang lain? Apakah kita melihat wajah Kristus ada dalam wajah sahabat dan saudara kita bahkan pada orang yang berada di luar sana?
Dunia bukanlah rumah kita yang permanen karena kita menantikan surga. Semua orang di sini ‘brengsek’ dan membahayakan kita, benarkah demikian? Bukankah kita memiliki keluarga dan gereja? Kristus berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal (Mark 10:29-30).
Mama saya meninggal tahun 2015. Sebelumnya pada tahun 2013 saya meninggalkannya karena melanjutkan kuliah di sekolah teologia. Sebenarnya saya tidak ingin pergi karena mama sedang menderita gagal ginjal sehingga 2 minggu sekali harus menjalani cuci darah. Namun mama saya berkata menenangkan saya,”Kamu jangan mengkhawatirkan kondisi mama. Mama punya sahabat di rumah sakit. Mama punya keluarga di sekitar mama. Mama punya sahabat di gereja. Kamu pergilah.” Akhirnya saya pun berangkat melanjutkan kuliah. Ketika saya sedang kuliah ternyata frekuensi mama cuci darah harus ditambah. Dari 2 minggu sekali menjadi 1 minggu sekali kemudian naik lagi menjadi 1 minggu dua kali. Saya pun menelpon mama,”Besok saya akan pulang. Saya sudah minta izin ke dosen untuk pulang.” Mama menjawab, “Terima kasih Nak. Mama tahu kamu mencintai mama. Tetapi kalau pulang kamu bisa apa? Kamu bukan seorang dokter atau perawat. Kalau pulang, kamu malah akan sibuk dengan tugas-tugas kamu di gereja. Lebih baik kalau kamu bisa selesai lebih cepat.” Mendengar perkataannya, saya sadar bahwa saya memang tidak bisa berbuat banyak dalam proses penyembuhan mama.  Mama menyambung perkataannya lagi untuk mengingatkan,”Mama punya gereja, komunitas dan keluarga.” Dan saya yang mendengarnya menjadi termotivasi. Saya membalas,”Saya tidak hanya menyelesaikan dengan lebih cepat, namun juga  menjadi lulusan terbaik!” Namun pada 2015 mama dipanggil Tuhan. Saya menjadi sebatang kara karena saya anak tunggal dan papa sudah meninggal. Perkataan mama yang terus teringat dalam benak di mana pun saya berada. “Saya punya Yesus. Di mana pun saya berada, saya memiliki Kristus yang perkataanNya mengobarkan saya. Di mana pun saya punya sahabat yang di wajahnya ada Yesus!”

Pada peristiwa pemboman gereja di Mesir tadi , ada gambar seorang perwira polisi yang usianya 33 tahun dan di tangan kanannya ada seorang anak. Namanya Emad El-Rakiby.  Orang ini berusaha menghalangi pembom bunuh diri itu masuk ke ruang ibadah di mana orang-orang Kristen sedang beribadah. Tetapi usahanya gagal. Bom itu sudah keburu meledak. Ia seorang muslim yang mengorbankan dirinya untuk orang-orang Kristen. Kita mungkin sekarang berada di tengah suasana yang tidak menyenangkan, namun kita diajar untuk melihat bahwa tidak semua orang yang kita pandang buruk ingin mencelakai kita. Ada orang seperti Emad yang mau menjadi sahabat kita. Namun bagaimana anaknya bisa bertumbuh tanpa mengenal ayahnya? Kisah Emad mengingatkan kisah 17 tahun lalu pada tanggal 24 Desember 2000 saat diselenggarakannya ibadah malam Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto. Pada malam Natal itu, Riyanto menjadi salah satu dari empat orang Banser NU yang dikirim oleh GP Ansor Mojokerto untuk menjaga perayaan Natal di Gereja Eben Haezer. Semula ibadah malam Natal itu berlangsung dengan suasana hening. Namun saat ibadah baru berlangsung separuh jalan, sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bungkusan yang tergeletak tak bertuan di depan pintu masuk gereja. Riyanto pun memberanikan diri membuka bungkusan itu. Ia membongkar kantong plastik hitam itu di hadapan petugas keamanan Gereja Eben Haezer lainnya, termasuk seorang polisi dari polsek setempat. Di dalamnya tampak menjulur sepasang kabel. Tiba-tiba muncul percikan api sehingga Riyanto pun langsung berteriak sigap, “Tiaraaaapp!” dan kemudian terjadi kepanikan dalam Gereja. Riyanto segera keluar ruangan dan melemparkan bungkusan bom itu ke tong sampah, namun terpental. Ia kemudian berinisiatif mengamankan bom dengan memungut kembali untuk dilemparkan ke tempat yang lebih jauh lagi dari jemaat. Namun bom meledak dalam pelukan Riyanto sebelum sempat dilempar. Tubuh pria itu terpental, berhamburan. Sekitar 3 jam kemudian, sisa-sisa tubuh Riyanto baru ditemukan di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Jari dan wajahnya hancur, Riyanto pun meninggal seketika. Bom ini tampaknya tidak main-main. Ledakannya membuat roboh pagar tembok di seberang gereja. Bahkan kaca-kaca lemari dan etalase Studio Kartini yang berada tepat di depan gereja Eben Haezer hancur semua. Pria yang lahir dari pasangan Sukarnim dan Katinem ini banyak dipuji orang.

Penutup


Hidup memang tidak mudah. Tidak semua orang mau mencelakai kita. Bukankah pada mereka ada sosok Kristus? Emad dan Riyanto tidak jelas apakah mereka akan diijinkan Tuhan untuk masuk surga sesuai dengan kedaulatan Allah. Apakah kematian dan kebangkitan Kristus akan dirayakan dengan ketakutan terhadap orang-orang di luar sana? Karena kedatanganNya kita melihat wajah Kristus. Kita memegang sabda Kristus,”Aku bersama-sama engkau sampai kesudahan zaman. Aku tidak akan meninggalkan engkau. Aku tetap bersamamu.” Jadi move on lah! Bangkitlah! Semangatlah! Kobarkanlah semangat kita bersama Kristus yang sudah bangkit itu! Amin. 

Sunday, April 23, 2017

Kuasa Sorga & Bumi Ada di Tangan Yesus

Ev. Cici S. L.

Matius 28:18-20
16  Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
17  Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
18  Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Pendahuluan

                Banyak dari kita yang sudah tidak asing lagi dengan penggunaan media sosial (medsos) di dunia maya seperti Facebook, Instagram dan lain-lainnya. Biasanya dalam aplikasi medsos ini ada istilah yang dikenal sebagai  follow (mengikuti). Maksudnya dengan meng-klik lambang (icon) follow seseorang, berarti kita mengikuti perkembangan status yang ditulis oleh orang tersebut. Dengan demikian kita menjadi seorang pengikut (follower)-nya. Umumnya memilih akun medsos seseorang yang akan diikuti, dilakukan pemilahan akun milik orang-orang berdasarkan kriteria tertentu. Biasanya yang diikuti adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan (seperti kepintaran, kebaikan, kecakapan, kekayaan, kekuasaan, kepemimpinan, ketokohan dll), kesamaan minat atau hobi (penggemar buku, tanaman, film, fotografi, musik, drama, barang koleksi, binatang peliharaan dll), komunitas atau latar yang sama (teman sekolah, rekan kerja, teman gereja, saudara, keluarga dll). Singkatnya orang yang dipilih ini adalah orang yang bisa berguna atau memberikan pengaruh. Dalam mengikuti perkembangan status dari orang tersebut akan dipengaruhi oleh pengalaman dan kemampuan berpikir kita yang terus berkembang. Ketika ada sosok atau tokoh yang lebih spektakuler maka biasanya kita akan beralih ke sosok tersebut. Sayangnya tidak semua tokoh yang lebih spektakuler tersebut berasal dari orang yang sekepercayaan dan bisa sepenuhnya diandalkan. Manusia memang terbatas kuasa dan kebisaannya. Tetapi ada sosok yang tidak terbatas. Sosok itu adalah Yesus Kristus dan tema hari ini adalah “Kuasa Sorga & Bumi Ada di Tangan Yesus.”

Kristus Penguasa Sorga dan Bumi (Matius 28:16-20)

                Sorga dan bumi adalah 2 hal yang sering diperbincangkan oleh manusia. Manusia ingin menikmati keduanya. Biasanya kalau kita ingin menikmati suatu objek wisata pasti kita harus meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik atau penguasa tempat yang akan kita kunjungi. Kita harus bertemu dengan penguasa dan pemiliknya. Sorga dan bumi juga ada penguasa dan pemiliknya. Siapakah pemilik sorga dan bumi? Matius 28:18 mencatat,” Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Dengan demikian sorga dan bumi ada penguasanya dan itu adalah Yesus Kristus. Sorga dan bumi ada di tangan Tuhan Yesus.

Faedah (pengaruh, guna) ketika kuasa di bumi dan sorga ada di tangan Yesus.

1.    Pengharapan kita diteguhkan olehNya ketika percaya padaNya

Latar belakang dari perikop Matius 28:16-20 adalah Yesus Kristus telah mati dan disalibkan sehingga murid-MuridNya merasa sangat kehilangan. Sosok yang mereka kagumi dan selama ini selalu mereka ikuti telah pergi (mati). Bukan saja kehilangan dan berdukacita tetapi mereka juga merasa ketakutan karena mereka dikejar-kejar oleh bala tentara Romawi. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, mereka (kesebelas murid) pergi ke Galilea yaitu tempat yang ditunjukkan oleh Yesus kepada mereka. Namun seperti yang dikatakan Tuhan Yesus ternyata Ia telah mendahului murid-muridNya ke Galilea (Matius 26:32 Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea dan kata malaikat kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain,”Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."- Matius 28:7 .). Saat murid-muridNya melihat guru mereka, Tuhan Yesus, di sana maka mereka pun datang serta menyembah Yesus yang telah hidup. Tetapi ada di antara mereka yang merasa ragu-ragu. Keraguan yang mereka miliki ini tidak bisa ditebak. Dengan bertemu kembali dengan Tuhan Yesus mereka merasa bersuka cita. Pengharapan mereka yang sempat hilang, timbul kembali karena Yesus Kristus telah bangkit. Namun ada di antara murid-murid ini yang memiliki keraguan sehingga Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata yang tertera pada Mat 28:18. Mereka sangsi,”Apakah ini benar Yesus atau bukan? Orang mati bangkit kembali?” Murid-muridNya sedang berada dalam keadaan takut karena Yesus dikabarkan bangkit sedangkan tua-tua Yahudi menyebarkan berita bohong bahwa murid-muridNya mencuri jenazah Yesus. Matius 28:12-13 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Jadi tua-tua Yahudi menyebarkan fitnah bahwa Yesus bukan bangkit tetapi mayatNya dicuri.

Tuhan Yesus mengetahui keraguan hati murid-muridNya, sehingga Tuhan Yesus mendekati dengan tujuan untuk meneguhkan mereka dengan mengatakan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Dengan perkataan ini, Tuhan Yesus sedang memperkenalkan diriNya dan menegaskan statusNya,”Saya adalah Guru kalian dan Tuhan sungguhan.” Ia sedang mengekspresikan dirinya seperti yang tertera pada Daniel 7:14 yang berbunyi ,”Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” Tuhan Yesus mengatakan “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan bumi” untuk menguatkan murid-muridNya yang sedang berada dalam keraguan. “Kalau saat ini, kalian (murid-muridNya) sedang difitnah oleh penguasa-penguasa yang ada di bumi , oleh tua-tua Yahudi dan sedang dikejar-kejar, maka Saya jauh lebih berkuasa dari penguasa-penguasa di bumi saat ini. Saya jauh lebih berkuasa dari mereka.” Kuasa yang diberikan dan dimiliki Tuhan Yesus bukan pada satu aspek saja. Tetapi seluruhnya telah diterima oleh Tuhan Yesus. Segala kuasa telah diberikan. Ungkapan yang dikatakan Tuhan Yesus bukan sekedar wacana atau kalimat yang biasa-biasa saja. Tetapi yang disampaikanNya adalah kalimat yang telah terjadi, telah dimiliki, ada di tanganNya dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambil-alih dari genggaman tanganNya dan merebut dari diriNya.

2.    Kekuatan kita ada di dalamNya.

Setelah percaya kepadaNya maka kekuatanNya ada di dalam kita. Firman Nya menguatkan kita.  Tuhan Yesus yang mengatakan kepada kita dan untuk mengingatkan kembali pada murid-muridNya bahwa Dialah Tuhan yang berkuasa atas segalanya termasuk segala penguasa di bumi. Mana yang dipilih? Sebagai orang percaya kita tidak salah pilih dan salah mengenal Yesus Kristus. Sebagai penguasa Ia mengendalikan segala sesuatu baik yang di bumi dan di sorga yang dirindukan semua orang. Tuhan Yesus seolah-olah mengatakan,”Kamu tidak menyesal dan rugi mengenalKu dan percaya kepadaKu. Tugasmu sekarang adalah memperkenalkan Aku. Tugasmu melakukan regenerasi . Perkenalkan Aku dan ajarkanKu kepada siapa pun tanpa kecuali.” Tuhan Yesus mengatakan hal ini dalam kondisi sulit karena murid-muridNya sedang dikejar-kejar. Kamu harus memperkenalkan Aku sekalipun sedang dihalangi dan berada dalam kondisi sulit. Dan Ia menguatkan, “Kalian tidak perlu takut. Beranilah karena kekuatanmu ada di dalam pengenalan akan Aku.” Tuhan Yesus mengeluarkan perintah ini karena Ia datang dari sorga datang ke bumi untuk melakukan visi Allah yaitu menyelamatkan setiap kita yaitu orang-orang yang dipilih (percaya padaNya) dan tugasNya telah selesai ketika Ia bangkit. Ia mengajak kita untuk mempercayaiNya, memperkenalkan diriNya, mengajak orang untuk mengenal Yang dari Sorga itu dan percaya kepadaNya. Kuasa di bumi ada di tanganNya. Murid-murid saat itu dan kita saat ini yang menjadi murid-muridNya tidak perlu takut untuk memperkenalkan Dia. Karena Dialah yang ada di balik pengharapan dan kekuatan kita. Apa jadinya kalau bukan Dia yang menjadi kekuatan dan pengaharapan kita?

Pada tahun 2015 saya pulang kampung ke Pulau Nias karena setelah diwisuda dan praktek 1 tahun saya tidak boleh mengambil cuti untuk pulang. Jadi saya harus memaksa diri untuk pulang saat itu. Sebagai mahasiswa, saya mencari tiket promo dari Surabaya (bandara Juanda) ke Medan (bandara Kualanamu) dan setelah itu saya bermaksud mencari tiket promo dari Medan ke Nias. Tetapi tidak terpikir oleh saya bahwa orang Nias yang kebanyakan orang Kristen juga pada pulang. Jadi jangan harap dapat tiket promo malah harganya naik. Harga tiket yang normalnya Rp 450.000 naik menjadi Rp 1 juta lebih. Saya pikir nanti dapat tiket yang lebih murah beberapa hari lagi, namun ternyata tidak ada. Sehingga papa saya berkata, “Pulang saja walau harga tiketnya sudah naik.” Saya tetap bersikukuh menunggu karena merasa rugi kalau membeli tiket yang mahal dan mengatakan bahwa saya mau ke Danau Toba. Jadi saya memutuskan untuk naik mobil travel dari Medan ke Sibolga. Lamanya 8 jam. Saya minta bantuan paman (saya sudah menginap beberapa malam di rumah paman) dan kakek saya sudah marah dan berkata ,“Kalau mau nginap di sana kamu tinggal saja di sana.” Saya diajak untuk berangkat keesokan harinya bersama paman, tapi karena takut sudah kelamaan dan dimarahi lagi jadi saya putuskan berangkat saja (tidak menunggu lagi). Di mobil travel, saya duduk di tengah di samping jendela. Satu per satu penumpang lain naik sehingga kondisi di mobil padat sekali seperti ikan teri yang ditumpuk-tumpuk. Udaranya terasa panas dan AC mobil tidak dapat mengatasinya. Setelah beberapa saat mobil berjalan, saya bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa jalannya mobil perlahan sekali?” Saya pun berbincang-bincang dengan orang-orang di mobil itu. Ternyata para penumpang di mobil adalah orang Nias semua. Saya bertanya, “Kamu tahu jalan?” Dijawab tidak (mereka ada yang menjawab bahwa mereka pernah lewat tapi tidak tahu jalan). Mereka balik bertanya, “Kamu tahu jalan?” Saya jawab tidak. “Kamu dari mana?”, mereka balik bertanya. Saya menjawab,”Saya dari Malang”. Mereka merasa heran,”Mengapa kamu lewat sini?”. Saya menjawab,”Iya, saya mengambil jalan darat.” Mereka bertanya lagi,”Kamu tahu jalan?” Saya jawab tidak. Waktu kecil saya pernah lewat tapi saya tidak tahu jalan.”  
Saat dalam perjalanan, tiba-tiba supir mobil travel tersebut bertanya,”Ada yang tahu jalan di sini?” Rupanya ia baru saja pulang dan tidak tahu jalan. Ia hanya mengisi waktu kosong saja dengan menyetir sehingga ia tidak berani mengemudi dengan cepat. Jadi mobil travel yang saya tumpangi dilewati mobil-mobil yang lain terus-menerus. Saya sampai merasa khawatir akan tertinggal kapal. Apalagi ruas jalan yang dilalui bentuknya seperti jalan ular (melingkar) dan sempit sehingga harus hati-hati karena kalau salah sedikit bisa masuk jurang. Supirnya tidak tahu jalan sehingga ia berhati-hati dan mengikuti jalan saja secara perlahan-lahan. Dalam hati saya menangis,”Bagaimana ini?”. Saya menelpon papa dan mengabarkan sudah sampai di mana. Teman seperjalan berkata,”Sebentar lagi sampai” Papa saya tidak mau memberitahukan bahwa saat itu saya baru setengah jalan. Saya menelpon papa sambil menangis “Yang menyetir seperti putri Solo. Lama!” Akhirnya kami tiba juga di Sibolga dan dari jauh sudah terlihat pelabuhannya. Tetapi karena tidak tahu jalan akhirnya nyasar ke terminal kedatangan sehingga saya harus naik becak lagi untuk masuk ke terminal keberangkatan. Kejadian ini seperti orang buta sedang menuntun orang buta. Sama-sama tidak tahu. Ibarat orang mau pergi ke sorga tetapi tidak tahu jalan. Seperti halnya orang yang bukan dari tempat asal (tempat di situ) mengajak orang yang juga tidak tahu jalan ke situ. Ilustrasi ini seperti Tuhan Yesus yang dari surga mengajak orang untuk datang ke sorga. Karena Yesus berasal dari surga maka Ia tahu jalan pergi ke surga. Apa yang saya alami tepat seperti ilustrasi yang menggambarkan hal itu. Saya juga bercerita di rumah. Saya berkata,”Kalau kita mau ke sorga dan tidak tahu caranya bagaimana kita bisa sampai ke sorga? Puji Tuhan kita punya Tuhan Yesus yang tahu jalan untuk ke sorga. Kalau tidak lalu kita memilih jalan yang salah maka kita akan nyasar. Kalau kita memilih orang yang tidak tepat maka kita tidak sampai tempat tujuan, merasa bingung di jalan dan ketakutan pun akan melanda diri kita.

Penutup


Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita selama ini memiliki keyakinan dalam perjalanan hidup kita? Apakah dalam hidup ini kita punya pengharapan dan kekuatan yang diletakkan sungguh-sungguh pada Yesus ataukah kepada orang lain? Sehingga perasaan menyesal, kecewa dan marah ada di dalam kita? Apakah kita menaruh pengharapan pada sesama atau diri sendiri semata sehingga kekecewaan ada di dalam diri kita? Siapakah selama ini  yang kita cari saat kita membutuhkan pertolongan? Sesama kita atau Tuhan? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Ketika menaruh pengharapan kita pada sesama dan mau berjalan sendiri, maka kekecewaan ada dalam diri kita. Tetapi Tuhan Yesus lah yang mencari dan mengajak kita, bukan kita yang mencari Dia. Dalam konteks manusia, orang sakit yang mencari dokter bukan sebaliknya. Terbalik dengan Tuhan. Ia yang mencari kita walau sebenarnya Dia tidak membutuhkan kita. Tetapi karena kasihNya, Dia yang mau mencari kita yang membutuhkanNya.  Bagaimana dengan kita? Apakah selama ini kita benar-benar menaruh pengharapan padaNya dan sungguh-sungguh percaya padaNya? Apakah selama ini kita sungguh-sungguh mengenalNya? Jika selama ini pengharapan kita tidak jelas, karena pengharapan kita tidak diletakkan padaNya sehingga kehidupan kita menjadi sering goyah dan takut maka biarlah firman Tuhan ini menguatkan kita bahwa  kita bersyukur mengenal Tuhan Yesus dan iman percaya ada di dalam Dia dan kekuatan kita ada di dalam Dia. Karena  kuasa yang di sorga dan bumi ada di dalam tangan Tuhan Yesus  yang memberikan manfaat pada kita : pengharapan kita akan diteguhkan di dalamNya dan kekuatan kita berada di dalamNya. Tuhan Yesus memberkati! 

Tuesday, April 18, 2017

Kristus yang Tersalib


Ev. Mercy Matakupan

1 Kor 1:18-24
18  Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
19  Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."
20  Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?
21  Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.
22  Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
23  tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
24  tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
1 Kor 2:2 Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.
Gal 6:14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Pendahuluan

                Tema “Kristus yang Tersalib” adalah tema yang sangat indah dan agung. Paulus , rasul yang besar di Alkitab, mengatakan, Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan (1 Kor 2:2). Ia  adalah seorang ahhli Taurat, orang Farisi , murid Gamaliel yang paling pintar dan memiliki pengetahuan yang sangat inggi tapi ia membatasi diri dan menulis suatu surat yang begitu indah. Aku putuskan tidak akan mengkhotbahkan apapun selain Kristus yang disalib. Aku tidak akan memegahkan apapun. Tidak ada yang bisa aku banggakan selain Yesus yang disalib. Berapa kali hati kita sungguh-sungguh punya kerinduan untuk sekali lagi merenungkan khotbah tentang Kristus yang disalib? Semua orang Kristen tidak ada yang mau membuang konsep Kristus. Tidak ada yang berkata tidak percaya Kristus. Semua mengatakan bahwa saya percaya Kristus, itulah kekristenan. Tetapi seringkali dalam kekristenan, Kristus dipisahkan dari salib. Kita sangat menikmati Kristus yang memberikan 5 roti dan 2 ikan (bukan berarti tidak benar karena tercantum di Alkitab), membangkitkan orang mati atau melakukan banyak mujizat. Tetapi berapa orang di antara kita yang masih punya kerinduan berdoa untuk mendengar khotbah tentang Kristus yang disalib yang mungkin sudah ratusan kali kita dengar? Itulah tema khotbah yang aku kejar , khotbah yang menjadi jantung Injil dan inti dari 66 kitab Alkitab : Kristus yang Disalib!
2 Kor 11:4. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. Ada 3 hal di zaman Rasul Paulus yang dikhotbahkan di mimbar yaitu injil , Kristus dan Roh Kudus nya lain. Waktu hidup, Rasul Paulus mendengar pengkhotbah besar menghkhotbahkan Injil, Kristus dan Roh Kudus yang lain. Jangan kaget bila sekarang ada mimbar yang mengkhotbahkan Injil , Kristus dan Roh Kudus yang lain sama sekali. Di khotbah masih teriak Roh Kudus dan bicara tentang pekerjaan Roh  Kudus tetapi lain sekali. Tetapi yang disoroti Kristus yang lain sekali. Orang yang betul-betul anti Kristen dan benci Kristus , kita langsung jelas musuhnya siapa karena orang itu tidak mau percaya Yesus. Tetapi bukan itu yang paling menakutkan bukan saya tidak percaya Yesus. Tetapi yang paling menakutkan adalah Kristus dikhotbahkan di mimbar oleh hamba-hamba Tuhan dan pakai sebutan Yesus tetapi Yesus nya sama sekali lain dari yang dikatakan Alkitab. Rasul Paulus mengatakan, “Saya putuskan saya tidak akan mau tawar-menawar. Saya hanya mengkhotbahkan Kristus yang disalib.” Yang ditakutkan, kalau Yesusnya lain maka tidak ada kegentaran, kesungguhan dan kelimpahan orang mengkhotbahkan Yesus di atas kayu salib. Berapa banyak kita mendengar Kristus disalib, menjadi keindahan yang luar biasa? Itu satu-satunya dasar dari seluruh kebenaran iman Kristen. Begitu kebenaran ini bila ditarik maka rontoklah kebenaran iman dalam diri kita.

Kristus dan Salib

Kita memandang salib sebagai sesuatu yang remeh sekali. Orang Kristen bisa mengenakan kalung, anting atau sticker salib. Ada toko buku Kristen yang setelah masuk akhir bulan April- awal Mei ditulis ‘sale’ (diskon, dijual murah) semua tentang salib. Ada baju dan sticker salib yang murah. Salib dipandang murahan dan sesuatu yang remeh. Ada bando (ikatan rambut) anak-anak berwarna putih dan punya banyak gambar salib. Salib menjadi barang merchandise yang murah. Salib dilecehkan sedemikian. Sebetulnya gereja Tuhan sangat menyukai Yesus tetapi alergi dengan salibnya. Kalau kita menemukan salib mungkin kita sudah kebal. Kita mungkin menonton film Passion sebagai sesuatu yang biasa sekali karena telah menontonnya berulang kali. Lambang-lambang salib menjadi biasa sekali.
Di zaman konteks Alkitab, salib dipandang sebagai barang yang murahan dan sangat hina. Bagi orang Yahudi salib itu mengerikan (di kitab Ulangan dikatakan terkutuklah orang yang tergantung di atas kayu salib, tidak ada bagus-bagusnya salib itu). Jewish culture sangat tahu bahwa salib adalah tempat yang paling hina, tempat orang terkutuk dan tidak ada kebaikan di tengah-tengah salib. Cara menghukum orang secara mengerikan dan begitu menghinakan selain dengan dilempar batu adalah dengan disalib. Salib adalah lambang terkutuk. Orang Yahudi jijik dan sudah terbiasa melihat salib. Kuiktilrus Valrus (?) adalah gubernur Roma di daerh Siria yang senang menyalib orang-orang hukuman. Sehingga di jalan-jalan di Galilea tidak ada lagi kayu. Sudah habis kayu di sana karena ia begitu gila sekali dan kumpulkan semua kayu untuk menghukum. Hampir semua ‘penjahat’ Yahudi yang disalib dijadikan tontonan. 2 budaya zaman itu yang besar. Orang Yahudi memandang salib sebagai hina dan terkutuk menjadi kebal dan biasa. Gubernur ini  telah menyalib 2.000 orang di sepanjang jalan dan ini  tontonan orang yang berteriak-teriak. Dia punya the art of war (seni menikmati perang) dengan menyalibkan sekian banyak orang sampai tidak ada kayu lagi. Orang Yahudi hampir kebal dan mati rasa. Mungkin paman, istri, anak, suami mereka yang dijadikan tontonan sehingga mereka menjadi biasa.
Bagi budaya Romawi, salib lambang menjijikan dan mengerikan. Cicero atau Marcus Tullius Cicero (di Inggris dijuluki "Tully" 3 Januari 106 SM - 7 Desember 43 SM) adalah filsuf, orator yang memiliki keterampilan handal dalam retorika, pengacara, penulis, dan negarawan Romawi kuno yang umumnya dianggap sebagai ahli pidato Latin dan ahli gaya prosa. Cicero mengatakan bahwa orang Romawi bisa dihukum apa saja dengan memasukkan ke dalam lubang atau dengan kedua pasang kaki-tangannya ditarik berlawanan arah (sudut) oleh 4 kuda. Namun ada 1 hukum Romawi yang melarang orang Romawi dihukum salib karena terlalu hina-dina dan sangat menistakan. Itu seni perang yang membuat orang mati perlahan-lahan karena darahnya tercurah. Yesus butuh sekian jam disalib baru mati. Ini seni kejahatan. Kalau ditarik kuda dari 4 sisi, orang akan langsung mati. Tetapi di kayu salib, orang kehabisan darah dan mati pelan-pelan. Orang yang digantung di kayu salib bisa berhalusinasi dan meracau. Darah habis pelan-pelan sehingga otak kekurangan darah (oksigen). Ada juga orang yang menjadi gila dan mengeluarkan kalimat-kalimat umpatan. Tetapi ajaib sekali di atas kayu salib keluar 7 perkataan Yesus. Biasanya orang berteriak-teriak di kayu salib atau orang tertawa-tawa kesakitan. Orang dibunuh perlahan sampai mati. Orang Romawi katakan kalau orang Romawi mau dihukum apa saja kecuali tidak boleh di salib. Karena itu kelas untuk budak (bukan manusia). Salib lambang kehina, pecundang, aib dan kesalahan.
Tetapi orang Kristen sepanjang zaman selalu membuat lagu indah tentang karya Kristus di kayu salib. Seperti yang dikatakan syair lagu Bawalah Aku Dekat ke Salib : Maka ku tinggikan salibnya. Apa yang dihinakan oleh dunia, orang Kristen katakan tidak. Kamu anggap itu hina dan pecundang, tetapi itu tempat yang paling tinggi. Salibnya, salibnya, selama mulia. Dosaku disucikan oleh darah Yesus (lirik lagu  Bawalah Aku Dekat ke Salib / Jesus Keep Me Near the Cross. Lagu: William H. Doane Syair: Fanny J. Crosby). Masalahnya orang Romawi punya hobi menyalibkan orang dan orang Yahudi seringkali melihatnya. Tetapi salib kali ini menjadi berbeda karena orang yang tergantung sehingga membuat salib memiliki makna. Salib lambang yang hina, mengapa pencipta lagu menulis ribuan lagu tentang salib? Mengapa kita memberikan puji-pujian yang indah tentang salib? Apakah karena salib mempunyai kesaktian dan makna tertentu? Tidak! Salibnya tidak ada apa-apanya! Tetapi siapa yang tergantung di saliblah yang membuatnya bermakna. Salib yang kotor dan hina yang setelah itu dibakar dan dibuang menjadi memiliki nilai. Begitu juga dengan kita. Hidup kita seperti salib kosong (lambang kekalahan, kebodohan, hukuman) dan tidak ada artinya kecuali dibakar dan dibuang. Tetapi problemnya, siapa yang tergantung di tengah salib itu. Salib memberi nilai yang besar. Karena Dia yang tergantung di kayu salib memberi makna yang besar. Maka Rasul Paulus katakan, “Saya putuskan untuk mengkhotbahkan Kristus di kayu salib yang bagi dunia ini dianggap kebodohan. Pagi ini waktu berangkat ke GKKK Mabes saya menggunakan Grab. “Mengapa ke gereja?” kata supir Grab. Saya menjelaskan,”Ini hari besarnya orang Kristen. Ini hari Jumat yang berbeda. Ini disebut Jumat yang Agung karena Tuhannya orang Kristen pernah mati dan nanti bangkit.” Ia diam . Di tanggalan ditulis hari ini sebagai Jumat yang agung, karena ini Jumat paling agung dari Jumatan yang pernah dilakukan. Saya tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya.

Rasul Paulus didesak Orang Yahudi

Rasul Paulus katakan, “Yang aku sampaikan adalah berita bodoh. Bagaimana kita mempertaruhkan keselamatan kepada orang yang hampir telanjang dan menjadi tontonan orang-orang yang haus hiburan? Bagaimana bisa kita mempercayakan diri pada orang yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri?” Itu anugerah dan bijaksana Tuhan. Dia menyelamatkan kita dengan cara yang bodoh. Tetapi yang bodoh bagi dunia dipakai oleh Allah menjadi hikmat. Pola pikir dunia dibalik sekali. Rasul Paulus sadar, sewaktu berkhotbah ia didesak oleh 2 pihak. Pihak yang pertama adalah kelompok orang Yahudi yang ingin mendengarkan Paulus khotbah dan bertanya,”Kamu khotbah apa yang baru? Apalagi yang bisa baru. Kami punya nabi-nabi,  Musa yang besar?”  Maka Paulus katakan,”Aku didesak orang Yahudi yang mencari tanda.-tanda (simeon, mujizat).” Orang Yahudi pencinta mujizat. Kalau mau khotbah dan ajar apapun kepada Yahudi, mereka akan tanya,”Kamu mau khotbah apa ? Beri kami tanda bahwa kamu Mesias.” Yoh 6 waktu Yesus mau mengajar, orang Yahudi bertanya“Tanda apa yang Kamu buat? Kami punya Musa. kamu punya apa? Musa kasih kami makan 40 tahun secara gratis.” Waktu itu Yesus baru memberi makan 5.000 orang. Apa hebatnya? Musa memberi makan 1,5 juta orang selama 40 tahun. Kamu hanya kasih makan 5.000 orang. Apa hebatnya kamu? Kamu buat roti saja kamu katakan hebat, mau katakan kamu Mesias.” Yesus menjawab,”Bukan Musa yang memberi makan tetapi Bapaku. Kamu makan roti dari Musa , kamu akan mati tetapi Akulah roti hidup dan kalau makan roti ini, kamu akan hidup selama-lamanya”. Orang Yahudi ngamuk. Mereka semua lari tinggalkan Yesus, termasuk murid-muridNya. Mereka tidak habis pikir. Kamus siapa? Kamu adalah anaknya Yusuf dan Maria. Kita kenal orang tua kamu, keluargamu teman main kami. Mereka kembali bertanya,”Kamu siapa? Kamu baru membuat 1 muijzat saja sudah katakan ‘Akulah roti hidup dan akan punya hidup yang kekal. Kamu bicara apa?’”
                Kesulitan besar mengkhotbahkan orang-orang yang telah kebanjiran mujizat. Tetapi Rasul Paulus tahu ia didesak orang Yahudi dan berkata, “No! Tidak akan isi kebutuhan kamu. Tetapi saya putuskan akan khotbahhkan Kristus  yang mati di atas kayu salib.” Salib tidak ada mujzat. Salib itu sepi dan kering tanpa mujizat.  Bagaimana mungkin Yesus yang menyembuhkan banyak orang berteriak,”Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (lukas 23) tanpa ada guntur, petir dan pertolongan.  Setelah Yesus keluarkan kalimat itu, orang Yahudi semakin jahat dan semakin menertawakan dia. Di atas kayu salib tidak ada mujizat apapun. Kita akan kecewa kalau mengikut Yesus yang disalib kalau hanya menuntut mujizat. Di tempat itu kering mujizat. Orang Yahudi mencari tanda. Seperti sekarang ada tanda M yang ujungnya lancip berwarna orange. Itu tempat junk food. Ada tanda 50 meter. Orang Yahudi cari tanda namun tidak pernah sampai ke tempat tersebut. Tanda merah bertuliskan 50 meter tersebut menunjukkan adanya restoran Mc Donald. Orang Yahudi melihat tanda. Mereka menikmati tanda tapi tidak ‘makan ayamnya’. Mereka cari tanda tetapi tidak menikmati persekutuannya. Paulus katakan, “Saya tidak akan khotbahkan apapun kecuali Kristus di kayu salib”.
Mujizat tidak bisa mempertobatkan hati manusia, tidak bisa menyelamatkan manusia tetapi bisa dipakai untuk konfirmasi iman. Tetapi mujizat tidak bisa menyelamatkan manusia. Yang menyelamatkan manusia adalah Firman yaitu iman timbul dari pendengaran yaitu pendengaran akan firman Kristus. Mujizat terakhir yang paling akhir yang dilakukan Yesus , mujizat yang paling besar dan bombastis sewaktu Yesus membangkitkan Lazarus. Setelah itu Yesus masuk ke Yerusalem. Saat itu, Yesus hanya berkata 1 kalimat,”Lazarus keluar!” Kalau bilang ‘keluar’ saja tanpa menyebut nama Lazarus, maka semua mayat bisa keluar. Yoh 11 mencatat Yesus yang membangkitkan Lazarus. Yoh 12 mencatat bahwa orang-orang Yahudi itu punya kesepakatan jahat dan marah, “Benar tidak Lazarus bangkit. Mengapa ada orang mati dibangkitkan?. Kita akan bunuh bukan saja Lazarus tetapi juga Yesus!” Bagaimana mungkin orang keluar dari kubur tetapi hati manusia yang keras dan jahat tetap begitu? Mereka ingin membunuh bukan saja Lazarus tetapi juga pembuat mujizat. Mujizat tidak lakukan apapun. Mujizat bila terus diberikan bisa membuat egois. Kalau yang lain ditolong saya juga. Lagu itu bagus. Kemungkinan besar pengarang lagu untuk menyatakan kerinduan akan Tuhan. Tapi sekarang lagu dipakai untuk menyatakan,”Kalau dia disembuhkan saya juga, kalau dia ditolong harga mati Engkau harus tolong saya juga. Tidak bisa tidak” Alkitab menyatakan,”Tidak!” Kekuatan Injil terletak pada Yesus yang disalib, bukan Yesus yang melakukan mujizat, bukan Yesus mengisi kebutuhan fisik manusia. Mujizat itu membuat orang berani berteriak ‘Salibkan Dia!” Tidak semua mengubah hati manusia.

Rasul Paulus Didesak Orang Yunani

Rasul Paulus berkata, “Aku di desak  2 golongan. Orang Yahudi mencari tanda dan orang Yunani mencari hikmat. Orang Yunani mewakili orang Greeka, yang terkenal sebagai  filsuf. Pekerjaan para filsuf adalah berpkir. Bekerja adalah berpikir. Saat liburan baru mereka mabuk-mabukan. Hal ini kebalikan dengan kita. Kalau dikatakan, saya mau berpikir dan mencari teori yang baik. Suatu kali Rasul Paulus berkhotbah di aeropagus yang besar di bawahnya ada orang-orang Yunani. Saat itu sedikit sekali orang-orang Yunani yang bertobat, hampir tidak ada yang mau bertobat. Karena mereka berpikir, “Kamu khotbah apa sih? Yesus anaknya Yusuf-Maria. Tidak masuk akal. Bagi mereka hal ini sungguh tidak masuk akal. Bagi mereka hikmat, otak, rasio adalah segala-galanya. Buktikan dulu bagaimana bisa orang mati bisa bangkit? Buktikan dulu bahwa Dia Allah” Maka  mereka berdebat. Rasul Paulus harus pikirkan ilustrasi-ilustrasi  untuk menaklukkan otak mereka. Tetapi akhirnya Rasul Paulus mengatakan,”Tidak. Bagi kamu mungkin bodoh. Saya tidak akan mengikuti kemauan kamu. Saya tidak akan memberi tanda kepada kalian. Saya tidak akan memuaskan hikmat yang kamu cari. Saya hanya khotbahkan Kristus yang disalib.” Kristus yang disalib, itulah the power of God . Itulah kekuatan Allah, bijaksana Allah yang tinggi. Kristus yang disalib adalah gambaran. Melihat Yesus yang disalib, dalam film The Passion dan film lain , kita akan mengerti betapa seriusnya Alkitab melihat dosa. Dalam keberadaan Kristus di salib, bukan Kristus yang menyembuhkan banyak orang, salib tidak boleh dibuang dari keberadaan Kristus. Kita baru belajar betapa serius dosa, dan lemahnya manusia di hadapan Tuhan. Sampai menolong diri sendiri pun tidak bisa.

Di posisi kayu salib :

1.      kebodohan dan keboborkan manusia disingkapkan.

Melalui salib kita melihat esensi dosa. Alkitab tidak pernah melihat bahwa menipu, jealus, film porno itu sebagai dosa. Dari kecil saya mengajar,”Dosa itu bukan perbuatan seperti pukul teman , say sorry lalu ganti dengan perbuatan : memberi coklat dan dosa selesai.” Itu yang dipakai semua agama. Dosa adalah perubatan. Tidak! Itu bukan dosa. itu buah perbuatan dosa tetapi bukan esensi dosa. Adam dan mengambil mengambil 1 buah , setelah itu mengambil daun pohon ara untuk menutup seluruh tubuh mereka. 1 dosa diganti dengan perbuatan lain. Dosa ditutup dengan daun “perbuatan baik “, beramal, sudah ya Tuhan saya sudah tutupi dan tidak telanjang lagi. Tuhan tidak setuju. Tuhan tetap kejar. “Di mana engkau Adam?” Tuhan mencari Adam. Dosa bukan sekedar mencuri dan membunuh. Itu terlalu sederhana dan diselesaikan dengan perbuatan baik oleh agama dunia. Dosa ada pertaruhan. Saya tahu Tuhan di atas saya, saya tahu Dia baik, Dia pencipta sedangkan saya ciptaan. Di bawah kaki saya ada uang, binatang, benda mati. Saya tahu Tuhan baik. Tetapi iblis berkata, kalau makan buah ini kamu seperti Tuhan. Dosa adalah waktu Tuhan katakan,”Kamu makan kamu pasti mati” tetapi Iblis berkata,”Kamu tidak akan mati.” Dosa adalah saya jadi hakim atas diri sendiri, tuan atas diri sendiri. Maka saya perintahkan Tuhan turun dan iblis naik ke atas. Yang satu bilang mati dan yang lain tidak mati. Saya hakim dan allah kecil. Saya memutuskan Tuhan tidak layak dipercaya, Iblis yang layak dipercaya. Dosa melenceng dari standar Tuhan. Sekian mili saja. Dosa adalah tindakan. Saya tahu Tuhan baik tetapi saya memberontak padaMu. Saya pilih tidak , walau Tuhan itu baik.
   Tuhan selesaikan dosa bukan dengan perbuatan. Adam pikir dengan membuat baju sudah selesai, tetapi Tuhan katakan,”Tidak!” Tuhan katakan harga 1 dosa adalah pembunuhan pertama kali di taman Eden, ketika Tuhan membunuh seekor binatang darahnya tercurah. Di Taman Eden, ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, Ia membunuh binatang, kulitnya dipakaikan untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa. Dosa itu begitu serius. Manusia lemah, tidak bisa tolong diri sendiri karena manusia lemah, tidak bisa tolong dirinya sendiri. Kristus yang disalib, Tuhan ungkapkan kebobrokan manusia. Tuhan berkata,”Aku akan mengadakan permusuhan (Kej 3) antara engkau dan perempuan ini.” Waktu saya baca ayat ini saya terkejut. Saya berpikir dan mengucapkan terima kasih Tuhan. Bahkan untuk bermusuhan dengan setan pun tidak pernah keluar dari otak manusa. Untuk mengatakan ‘tidak’ ke iblis itu mutlak inisiatif Tuhan, bukan manusia. Adam tidak pernah berkata kepada ular, “Kamu tipu saya! Kamu jahat, gara-gara kamu saya dihukum Tuhan.” Inisiatif untuk permusuhan antara manusia dan iblis dari Tuhan  idenya dari Tuhan. Maka Aku yang adakan permusuhan. Kalau pilihan itu diberikan ke manusia, maka jujur kita akan memilih si jahat. Kita di gereja, tidak mungkin memilih setan di gereja. Kalau di gereja , kita akan pilih Yesus, Tuhan dan salib. So sweet, suasana rohani di gereja. Tetapi begitu kembali ke kehidupan sehari-hari, bila pilihan diserahkan ke kita, kita akan pilih iblis dan diri kita. Kita bersyukur keaktifan dimulai dari Allah. Yesus katakan,”Aku akan adakan permusuhan. Keturunan perempuan ini akan meremukkan kepala dari keturunan ular, dan keturunan ular meremukkan tumit keturunan perempuan.” Itu peperangan bukan di Taman Eden tapi di Kalvary. Yang membuat perang pertama kali adalah Tuhan. Kalau melihat keinginan daging, kita tahu kita manusia berdosa. Kalau diminta pilih antara pilih Tuhan dengan setan, kita pilih setan. Maka keagungan berita Kristus di kayu salib adalah sempurna. Kita tidak bisa menolong diri sendiri. Di atas kayu salib, baru kita bisa melihat jantung Injil. Di dunia ini tidak ada posisi netral. Ada orang yang mengatakan saya netral , tidak menolak dan tetapi saya belum bisa menerima Yesus. Setelah lihat salib, kita baru mengerti bahwa tidak ada pilihan yang netral yaitu saya mau berlutut di bawah kaki Dia atau meludah karena Dia orang gila. Bagaimana mungkin Dia di kayu salib mengatakan akan bangkit pada hari yang ketiga. Itu orang gila. Omong kosong katakan demikian. Maka waktu ketemu Yesus tidak ada posisi netral. Yesus waktu ketemu Zakheus , Zakheus tidak pernah mengundang Yesus. Tetapi Yesus berkata dengan otoritas, “Turun Aku mau datang ke rumahmu. Kayu salib juga tidak ada posisi natal. Waktu orang kaya ketemu Yesus, Yesus berkata,”Jual hartamu”. TuntutanNya tinggi. Ternyata orang itu balik belakangan. Ketika bertemu Yesus kita diberikan tuntutan tinggi. Percaya Yesus ada tantangan yang tinggi. Di atas kayu salib kita melihat harga yang harus dibayar. Begitu tinggi, agung dan mulia. Di atas kayu salib, kelemahan, kebodohan dan kebobrokan manusia disingkapkan.

2.    waktu memikirkan Kristus di kayu salib, kita baru mengerti kekuatan Allah yang sejati.

Rasul Paulus berkata,”Salib bagi dunia adalah kebodohan tetapi bagiku salib adalah kekuatan Allah”. Berapa di antara kita yang  masih berani cerita salib?  Berapa di antara kita punya kekuatan salib kalau bicara tentang Kristus?” Itulah kekuatan Allah. Kita pandang kekuatan dengan konsep Romawi, manusia yang hebat punya 3 TA yaitu harta , tahta dan wanita. Kalau tercukupi ketiganya, maka kau bisa menikmati hidup seperti Salomo. Ada 1.000 perempuan digilir setiap hari, satu tahun pun tidak habis. Saya menikmati Dia, begitu powerful. Sedangkan manusia melihat berapa kaya, kuasa, berapa jabatan orang. Saya pernah melihat kaos produk Yogya yang bertuliskan “Muda kaya raya, tua foya-foya, mati masuk sorga”. Hidup maunya kaya raya, foya-foya dan tidak perlu susah-susah untuk  masuk sorga. Saya mau hidup seperti itu. Tetapi dari Kristus dan salib kita akan belajar artinya kekuatan dan hikmat Allah. Seperti dikatakan Ibrani 12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Ia mengabaikan seluruh kehinaan, tekun memberi diri tekun memikul salib. Salib tidak ada dekat-dekatnya dengan gambar kekuatan. Salib tidak punya kekuatan tetapi looser (pecundang). Tetapi di situ kekalalahan iblis paling besar. Manusia diberi kemenangan paling besar yang tidak terpikirkan iblis. Di film The Passion ada gambaran iblis mahluk yang botak. Saat Yesus berkata, “Bapa ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” ada titik air. Itu gambaran di film. Air menetes jatuh dari atas, seperti menggambarkan kesedihan. Debu naik ke atas. Waktu langit gelap, iblis berteriak dan rambut palsunya copot. Iblis pikir cara mengalahkan Yesus dengan mematikanNya. Itu cara yang menurut dunia paling bodoh. Padahal di situ kita melihat kekuatan dan bijaksana Allah. Mereka berteriak dengan sukacita, mereka  berkata,”Menang! Menang!” Tetapi ditulis bahwa setelah itu saat mereka turun dari bukit, mereka menangis. Orang yang berteriak menang, turun dengan menangis. Bukankah keinginan mereka terpenuhi? Hati mereka begitu kosong sehingga mereka turun dengan menangis dan memukul-mukul dada. Itulah kekuatan Allah.

Apa yang dianggap manusia bodoh, di atas kayu salib, dosa itu jijik, tidak bisa diganti dengan perbuatan baik. Pilatus mengatakan , “Kalau kita menyalibkan orang tidak bersalah bagaimana?” Dijawab orang-orang beragama mengatakan, “Kalau pun kita menyalibkan orang yang tidak bersalah, tanggungkan kepada anak cucu kami.” Seharusnya kalau saya salah mematikan orang , maka kesalahannya tanggungkan ke saya sendiri. Jadi perkataan ini tidak gentle , karena ditanggungkan ke anak cucu. Betapa benci dan jahatnya manusia. Kekuatan Allah sejati, kekuatan untuk menyatakan kasih di tempat penuh kebencian. Tidak ada kekuatan seperti itu. Orang hanya tahu mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi di kayu salib, kita akan melihat kekuatan Allah menelanjangi dosa. Orang mengatakan saya menelanjangi Yesus. Tetapi justru Alkitab mencatat Allah menelanjangi dosa manusia. Jangan main-main, kita yang sepertinya begitu baik di gereja tetapi kalau Tuhan menarik anugerah, maka kita sejahat orang di kayu salib. Namun Tuhan masih pelihara. Kita tidak selingkuh, bukan karena kita setia, tetapi Tuhan menjaga luar biasa dan memagari (tidak memberi kesempatan. Kalau diberi kesempatan  kita mungkin cepat jatuhnya). Di atas kayu salib, kekuatan Allah begitu besar. Manusia pikir menelanjangi Yesus, tetapi di situ justru Yesus menelanjangi kebobrokan kita. Manusia pikir sudah mengalahkan Kristus tetapi Yesus yang menelanjangi manusia dan menunjukkan betapa miskin kita mengampuni orang, betapa manusia mencintai diri. Kalimat pertama di kayu salib adalah kalimat doa dari 7 kalimat di kayu salib. Menurut data kedokteran, ketika salib dinaikkan, 15menit pertama darah  akan paling banyak kekuar seperti semburan air. Sembilan menit kemudian baru keluar tetesan darah. Waktu dinaikan ke atas kayu salib, itu paling sakit karena robek tangannya dan saat itu doa yang dinaikkan paling agung. Yesus tidak berkata, “Kalau boleh cawan ini lalu” atau “Bapa beri Aku kekuatan” tetapi Yesus hanya memikirkan ,”Mereka. Mereka”. Ini darah paling banyak dan Bapa akan menghukum mereka. Malah Yesus mengatakan ,”Bapa ampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”.  Itu kekuatan kasih paling agung. Manusia tidak pernah belajar tentang pengampunan. Walaupun aku memuaskan murka engkau, Aku sudah tergantung di antara langit dan bumi, menanggung hukuman dosa, tidak ada cara lain untuk pengampunan dibutuhkan manusia. Di situ kita melihat kekuatan Allah, kekuatan bijaksana Allah, kekuatan yang melenyapkan kelemahan, kebencian, kemarahan dan dendam manusia.  Pada Jumat Agung kita bukan pecundang, kita diberi kebenaran, “Berhenti dendam, membenci, tawar hati. Cukup! Semua sudah ditanggung Yesus di kayu salib.” Tidak ada kesakitan kita yang lebih besar dari kesakitan di atas kayu salib.

3.    Yesus di kayu salib kita belajar bijaksana (hikmat) Allah tertinggi.

Hikmat Allah tertinggi disingkapkan kita belajar waktu Yesus di atas kayu salib. Di situ kita belajar bijaksana dan nilai-nilai kerajaan surga. Maka kita berdoa, “Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga.” Yang di bumi ditarik naik ke atas, supaya pola pikir di bumi mirip seperti di surga. Tetapi kita doanya,”Jadilah kehendakMu di sorga seperti di bumi.” Kita maunya sorganya turun ke bumi. Tidak ada air mata, sakit, tidak miskin, semua mau sehat kaya raya, kalau tua tidak mati-mati , panjang umur terus. Itu maunya kita yaitu buang salib. Tetapi Alkitab katakan ,”Tidak! Di atas kayu salib hidupmu baru bijaksana. Di atas kayu salib baru kamu bisa melihat cara dunia bekerja” Yang bumi naik ke atas seperti di sruga. Bukan surga dipaksa turun seperti di bumi. Dalam berita salib, bijakasana Tuhan bekerja. Kita akan melihat cara Allah bekerja. Kadang-kadang kita melihat sepertinya melihat ketidakadilan  mengalahkan kebenaran. Di atas kayu salib kita bisa bingung melihat pola kerja dunia. Seolah-olah kejahatan merajalela, tidak ada pertolongan dari langit, seolah Allah diam, yang jahat diberkati, yang benar sengsara. Itu salib. Di atas kayu salib, pergumulan di kayu salib, problem of evil dijawab dengan tuntas. Di atas kayu salib kita melihat,”Lho kenapa yang benar di hukum? Kenapa Allah kalah? Yang sendiri tolong orang lain tetapi tidak bisa tolong diri sendiri.” Itu kebingungan-kebingungan kita. Kebingunan Ayub, “Saya salah apa?” Temannya berkata, “Hayo kamu salah apa sehingga dihukum Allah?” Itu hikmat dunia. Hikmat dunia seperti murid-murid bertanya kepada Yesus, “Guru ini orang buta salah siapa? Dosa orang tuanya atau dirinya sendiri?” Itu hikmat dunia. Orang kaya raya diberkati, yang miskin dibuang Tuhan. Agama apapun mengatakan begitu seperti agama Islam, Buddha  dan Hindu. Untuk senang di dunia tidak perlu Kristen. Agama apa pun memberi gambaran seperti itu. Tetapi hikmat ini dibalik Tuhan dengan memakai cara-cara yang hina. Salib, mahkota, kubur, palungan  dan kandang binatang dipakai menghina hikmat dunia. Dibalik oleh Tuhan, kalau kita kaya lalu menolong orang lain tidak perlu hikmat. Itu sudah selayaknya. Kalau kita sehat lalu menjenguk orang sakit , semua agama di dunia bisa. Tidak perlu diajar. Tetapi hikmat surgawi mengajar kita berpikir paradoks. Orang tidak perlu menjadi kaya untuk menolong orang lain. Itu bijaksana dari Tuhan .
Ada seorang ibu yang sakit kanker yang menderita pendarahan terus menerus. Ibu ini suka buat pempek-pempek Ia tahu saya datang, ia membuatkan saya pempek. Orang sakit masih memikirkan orang lain. Saya merasa susah dan sudah menyiapkan amplop. Saya bilang, “Tidak usah repot-repot.” Dia membalas,”Saya tidak repot. Badan sakit pun saya bisa melayani bukan melayani saat saya sehat saja. Saya tidak sekedar kasih ini ke Zhuang Dao, saya lakukan ini untuk Tuhan. Zhuang Dau, jangan semua – semua dihargai dengan uang.” Dia mengembalikan amplop saya. Saya merasa malu hati. Saya pikir, “That’s it. Ini orang yang telah ditebus dengan kuasa kayu salib. Dia menghidupkan kebenaran salib dalam aplikasi yang sederhana sekali.” Apakah perlu sehat untuk membuat pempek sehingga 150 jemaat di GRII Palembang bisa makan?.” Walau saya sakit bisa melayani. Itu semuanya memalukan bagi saya. Itu memalukan saya. Tetapi bijaksana Tuhan yang diselipkan Tuhan di tengah dunia. Yesus katakan,”Tidak ada yang berdosa”. Yoh 6, “Dia diijinkan buta sejak lahir supaya pekerjaan-pekerjaan Tuhan dinyatakan dalam hidup orang buta ini.” Ha? Orang buta bisa berbuat apa untuk pekerjaan Tuhan? Itu pekerjaan Tuhan. Di atas kayu salib semua teriak,”Kamu bisa apa? Bisa tolong diri sendiri sudah bagus.” Tuhan berkata,”Apa yang bagi kamu yang tidak bisa, saya tanggung untukmu.” Di kantor, orang tipu sana-sini sehingga dia menjadi manajer lebih tinggi, saya tidak tipu tetapi karir tidak menanjak. Ini hikmat dunia, apanya yang hikmat? Jumat Agung dan Paskah membuat kita tenang. Di antara Jumat Agung dan Paskah ada hari yang terlupakan yaitu hari Sabtu, besok. Itu hari stress karena menunggu. Seperti orang yang istrinya pendarahan dan harus menunggu untuk dioperasi, buat stress. Dosa sudah ditebus, kemenangan belum dinyatakan. Harus tunggu 1 hari. Itu satu hari yang kita tunggu. Di antara salib yang kosong , kita menunggu. Yesus belum menyatakan kemuliaan. Kita masih menunggu sekian waktu lamanya sengsara di dunia . Kadang ada orang Kristen yang baik hidupnya lebih susah. Orang jahat hidupnya lebih makmur dari kita. Ada yang berkata saat akan demo 4 November 2016 lalu, “Bu boleh tidak berdoa agar Tuhan kirim hujan?” Saya berkata,”Boleh-boleh saja”, Jemaat itu berdoa dan hasilnya pk 6 hujan tetapi pk 6.30 terang. Demo jadi dilakukan. Dia menelpon dan , “Susah lihat jalan Tuhan. Masa minta hujan sedikit saja tidak terjadi.” Kita belajar, setelah lewat sekian bulan. Setelah tenangkan hati, kita selalu melihat yang jahat menang, yang teriak menang. Kita seperti menciut tidak bisa apa-apa. Doa sepertinya tidak dijawab. Tuhan berkata, “Ssst. Tenang, tidak pernah kejahatan menang atas kebaikan.” Kita pun berkomentar,”Sudah tahu Tuhan,  teori. Yang tidak enak adalah menunggunya. Tunggu membuat kesal, sakit dan menangis. Mayatnya ada belum bangkit dan ini yang membuat sakit sekali.” Tetapi kebangkitan Kristus mengatakan, enough is enough. Dia berteriak sudah genap. Tenang saja. Kita melihat kebangkitan itu memberi kekuatan untuk hidup di tengah dunia ini. Sepertinya orang Kristen kalah di tengah dunia. Sepertinya kanker mengerogoti dan akhirnya mati. Tapi tidak dari sudut pandang Tuhan. Kalau ambil gelas lalu taruh pensil dimasukkan sepertinya pensilnya patah. Itu dilihat dari sudut pandang manusia. Tenang, lihatlah dari sudut pandang Allah (atas) karena tidak patah. Tuhan pakai cara yang sepertinya biasa saja untuk menyatakan kebangkitan. Firaun membunuh banyak bayi. Ada banyak mayat bayi di sungai Nil. Tetapi ada 1 bayi dititipkan di isitana Firaun dibesarkan dengan pakai orang Firaun, dididik dengan caranya Firaun dan akhirnya memukul kalah Firaun. Kemenangan tetap Tuhan sediakan.

Penutup

Tuhan sudah menyediakan momen kemenangan. Problemnya di masa menanti, Jangan cepat marah kepada Tuhan. Karena dalam momen menanti ini bisa salah mengerti . Katanya Engkau menjawab doa, mengapa tidak sembuh-sembuh mengapa saya melihat mama saya yang mencintai Tuhan meninggal karena sakit kanker? Mengapa begini Tuhan. Lalu kita tawar hati  dan salah mengerti. Jangan begitu. Itu namanya kita menghakimi Tuhan. Kita mungkin melewati penuh kesulitan sepertinya tidak ada mujizat di atas kayu salib, tetapi sebenarnya Tuhan sedang bekerja. Jangan salah mengerti. Ada seorang anak berkata, “Mama saya ultah 17 tahun. Boleh tidak saya pakai lipstik?”. Mamanya melarangnya,”Tidak boleh!”. Sang anak tetap ngotot,”Tetapi mama , teman saya Jeniifer, Michele, Jesica umur 17 tahun sudah boleh pakai lipstik oleh mama mereka.” Mamanya tetap berkata,”Tidak boleh!” Anaknya pun merengek,”Ma, sekali ini saja. Pas 17 tahun pakai lipstiknya di rumah saja.” Kadang kita pikir kenapa sih tidak boleh? Kolot amat sih. Let it go. Tetapi kisah ini belum selesai. Dialognya belum selesai. Anaknya kembali minta, “Sekali ini saja. Lipstik sekali.” Lalu  mamanya berkata, “Johni .... Mama bilang tidak boleh pakai lipstik, tetap tidak boleh!” Ternyata hanya 1 infonya yaitu nama ‘Johni’. Kita langsung berkata, “Puji Tuhan. Memang Johni tidak boleh pakai lipstik.” Kalau kita ikuti dialog dari depan dan tengah sepertinya mamanya kejam. Tapi di akhir kisahnya tersimpan jawaban.  Berbahaya sekali kalau Johni (laki-laki) memakai lipstik. Kiranya kita menikmati momen Jumat Agung, menikmati anugerah yang merupakan inisiatif Allah bekerja, kita menikmati momen, hikmat (bijaksana) begitu limpah di lihat dari sudut pandang kayu salib.