Sunday, April 2, 2017

Yesus Sang Radikal



Pdt. Hery Kwok

Yohanes 2:13-25
13  Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.
14  Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.
15  Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.
16  Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."
17  Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku."
18  Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?"
19  Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."
20  Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?"
21  Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.
22  Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.
23 Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya.
24  Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua,
25  dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

Pendahuluan

                Semalam saya sharing dengan istri sebelum kami berangkat tidur. Saya menceritakan tentang Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) yang saya hadiri. Seminar ini diadakan oleh Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Kemayoran dengan pembicara Pdt. Dr. Stephen Tong. Karena tidak memiliki tiket sebelumnya dan baru membeli pada hari H-nya (Sabtu, 1 April 2017), maka saya harus mengantri. Saya berkata kepada istri, “Saya merasa merinding melihat orang banyak datang untuk mendengarkan firman Tuhan walau pun mereka harus membayar!” Saya teringat firman yang berkata, "Sesungguhnya, waktu akan datang," demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN.” (Amos 8:11).  Kalau kita datang ke kantor SAAT di Central Park ada tulisan yang diambil dari Perjanjian Lama itu. Memang saya benar-benar merinding melihat sedemikian banyak orang yang rela antri untuk membayar tiket demi mendengar firman Tuhan!. Biasanya kita rela mengantri panjang hanya untuk membeli barang diskon. Namun kali Ini orang-orang  mengantri untuk firman yang harus dibeli. Tiketnya untuk orang dewasa Rp 60.000/orang dan untuk mahasiswa Rp 40.000/orang. Kemarin baru pk 9 dan saya sudah tidak mendapat tempat duduk. Di Aula John Calvin dan Aula Mesias Kathedral saya tidak mendapat tempat duduk. Saya lalu dipersilahkan naik ke lantai atas (lantai 7) dan di sini pun tempat duduk sudah penuh bahkan ada orang yang duduk di undakan tangga. Akhirnya selama sekitar 5 jam, saya mendengar khotbah yang disampaikan sambil berdiri. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi kebaktian di sini, di mana jemaat dapat mendengar firman Tuhan dengan duduk sekitar ½ jam. Walau pun kaki terasa pegal karena berdiri cukup lama, namun saya merasa terharu dan merinding melihat orang sedemikian banyak yang benar-benar haus akan firman. Saya baru mengalami kebenaran firman bahwa orang akan berbondong-bondong mencari kebenaran firman. Ini adalah hal yang serius dalam hidup orang percaya. Bagaimana dengan kita? Bagaimana respon kita saat mendengar firman Tuhan? Pdt. Stephen Tong yang sangat mengagungkan Kristus mengatakan,”Di dalam Kristus, semua keagungan Allah itu nyata. Seluruh orang yang Tuhan ciptakan mengenal Tuhan yang sejati di dalam Kristus.” Sehingga pemahaman kita mengenai Kristus seharusnya menjadi kehausan dalam hidup setiap orang percaya.

Yesus Sang Radikal

                Tema hari ini adalah “Yesus Sang Radikal”. Kata ‘radikal’ seringkali dipandang dalam pengertian negatif. Contoh : sekelompok  orang yang mendemo gubernur dan presiden untuk memaksakan kehendaknya disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok itu sendiri dalam pikiran banyak orang dianggap negatif. Tema kali ini dilatarbelakangi buku Yesus Sang Radikal (Terjemahan dari buku Jesus the Radical: A Portrait of the Man They Crucified’ karya R.T. France). Yesus cocok disebut sebagai Sang Radikal. Istilah ‘radikal’ di sini tidak berbau ekstrim (salah) namun sebaliknya radikal di sini berarti secara mendasar kembali kepada hal-hal yang prinsip, benar atau pokok. Jadi buku ini membawa kita kepada tema Yesus Sang Radikal karena hanya Dialah yang bisa membawa kita kembali ke pokok yang benar, sehingga kita punya hidup yang benar bersamaNya.
                Dari kitab Yohanes kita belajar sesuatu yang luar biasa yang dicantumkan Yohanes tentang bagaimana tindak-tanduk Yesus dalam pelayanan selama 3,5 tahun hingga mati di kayu salib lalu bangkit dari kematian. Dalam masa pra paskah ke-5, kita disiapkan tentang kesengsaraan, kematian dan minggu kemenangan Paskah. Tokoh sentralnya adalah Kristus. Perikop Yoh 2:13-25 membawa kita kepada 3 poin yang melihat Yesus sebagai tokoh yang membawa manusia kembali kepada Allah. Yesus melakukan prinsip dasar yang Allah kehendaki agar terjadi dalam hidup orang yang telah dimenangkan.

1.     Jumat Agung memperingati Yesus mati di kayu salib

Mengapa Yesus mau mati di kayu salib? Ini pertanyaan dasar. Jawaban atas pertanyaan ini menjadi lirik dari lagu rohani yakni Ia rela mati untuk menebus dosa kita. Dalam lirik lagu Ribuan Malaikat dikatakan : Bukankah Dia dapat memanggil ribuan malaikat, (untuk) lepaskan Dia, Tapi (hal ini) tidak dilakukan-Nya, Ia rela mati untuk saya. Rasul Yohanes membawa kita pada pengertian yang pertama. Yesus berangkat ke Yerusalem pada hari Paskah. Itu memang sudah dipersiapkan Yesus. Sebagai tokoh yang radikal yang mengembalikan manusia kepada Allah, Dia akan memenuhi tuntutan Allah yaitu supaya Ia mati. KematianNya dipersiapkan dan direncanakan oleh Allah dan diresponi Yesus dengan taat. Yesus menjadi tokoh radikal karena taat pada Allah BapaNya untuk melakukan apa yang Allah minta pada Dia. Pada Luk 13:33 Yesus berkata, “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” Yesus memberi pernyataan bahwa nabi harus dibunuh di Yerusalem. Ini menggenapi rencana Allah bahwa Ia harus mati di Yerusalem. Itu sebabnya Yesus menyucikan bait Allah walau hal itu seperti tindakan konyol (saat orang-orang mau membunuhNya Ia malah datang ke Yerusalem). Kalau Yesus ingin senang dalam hidupNya atau bermain aman (safety player), maka Ia tidak perlu melakukan apa yang tertulis pada ayat 13 (Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem). Namun ayat 13 justru menunjukkan kebenaran bahwa  Ia datang untuk mentaati apa yang Allah tuntut dalam hidupNya.

Penyebab kegagalan manusia di Taman Eden adalah ketidaktaatan. Di Taman Eden, Adam dan Hawa hidup berkecukupan dan mapan. Segala yang dibutuhkan (termasuk makanan, binatang, buah dll) tercukupi. Seluruh keindahan alam semesta puas dinikmati. Saya tidak pernah ke manca negara yang jauh seperti ke Eropa dan Amerika. Namun berdasarkan apa yang saya ketahui, di sana kita bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Sehingga kalau ada uang lebih kita bisa pergi ke sana dan menikmati pemandangan indah dengan membuat swafoto (selfie) dan  kalau perlu dengan cara spektakuler seperti bergelantungan di Menara Eiffel. Jadi Adam dan Hawa berada di tempat yang sangat indah, namun di tempat itulah mereka jatuh dalam dosa karena ketidaktaatan. Ini dosa yang paling esensi (pokok) yang membuat manusia sampai saat ini tidak mau mencari Allah karena menganggap bahwa Allah adalah musuh saya. Itulah esensi dosa yaitu ketidaktaatan. Itulah yang harus dibayar dengan ketaatan Yesus Sang (Tokoh) Radikal yang melakukan tuntutan yang tidak bisa dipenuhi manusia. Orang percaya dimungkinkan untuk merayakan Jumat Agung dan Paskah karena Yesus sudah melakukan kehendak Allah Bapa dengan taat. Ia melakukan perjalanan ke Yerusalem yang merupakan perjalanan menuju kematian supaya kita semua bisa kembali ke Tuhan. Jangan berpikir sebagai seorang remaja kita tidak bisa taat sehingga terus menyontek. Siapa bilang kita tidak bisa berhenti menonton film porno atau menggosipkan orang karena Yesus sudah melakukan ketaatan itu. Ia adalah tokoh yang melakukan prinsip dasar Allah (taat).

2.    Yesus datang pada Hari Raya Paskah (ayat 13).

Perayaan Paskah sebelum Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi yang dipimpin oleh Jendral Titus pada tahun 70, ramainya diibaratkan seperti orang yang berbondong-bondong naik haji ke Kota Mekah karena jumlahnya sangat besar. Semua kaum laki Yahudi wajib untuk datang menghadirinya sedangkan kaum perempuan boleh datang atau tidak. Orang Yahudi datang dari berbagai  pelosok dunia dan harus kembali ke Palestina. Perayaan itu hebat sekali. Perayaan itu membuat pengunjung Yerusalem membludak berlipat kali dari jumlah penduduk di sana. Menurut catatan kuno yang hadir jumlahnya bisa 500.000 – 10 juta orang. Sekarang ini penduduk Yerusalem hanya berkisar 300.000 orang. Jadi yang hadir berlipat kali dari jumlah penduduknya. Yang datang  termasuk orang asing yang memeluk agama Yahudi. Hari Raya Paskah menjadi perayaan yang menghebohkan dan sangat besar. Pada hari raya ini, orang Yahudi mengingat akan cinta kasih Tuhan yaitu mereka terselamatkan dari kematian anak sulung . Itu yang diminta Tuhan untuk disampaikan kepada Firaun melalui Nabi Musa. Waktu orang Israel keluar dari Mesir mereka harus melakukan Paskah di mana Tuhan menyelamatkan orang Israel dari kematian anak sulung mereka. Di mana anak sulung orang dan raja Mesir sampai dengan anak sulung binatang mengalami kematian dengan perkataan lain kematian dialami oleh orang-orang di luar Israel. Penyelamatan ini menjadi sesuatu yang tidak bisa dilupakan dari perjalanan  hidup orang Israel. Peristiwa di mana Yesus menyelamatkan manusia dalam perayaan Paskah. Yesus tahu dengan tepat , kapan Allah akan menggenapi firmanNya. Pdt. Stephen Tong mengatakan, “Waktu mengenal Krsitus engkau mengenal kebenaran Allah dan dengan mengenalNya engkau tidak akan salah menyembah Allah yang benar. Semua agama mengklaim bahwa allah mereka adalah allah yang benar. Yang kedua, waktu bertemu Kristus, kita menemukan hikmat yang luar biasa. Mengapa ia menciptakan bumi dan sedemikian rupa? Dikisahkan tentang jarak matahari dan bumi sedemikian rupa dengan rinci. Termasuk mengapa nyamuk diciptakan dengan moncong yang kecil, kakinya sedemikian rupa disainnya sangat luar biasa, apalagi manusia. Mengapa manusia diciptakan sedemikan rupa? Mengapa lubang hidung manusia di bawah (tidak di atas) dll. Bagi saya, hikmat Allah di dalam Kristus membuat kita tercengang, terspesona dan merasakan Allah yang luar biasa dalam Kristus.

Ayat 13 berbicara tentang Yesus masuk ke Yerusalem pada hari Paskah, Yesus mau memberitakan tentang keselamatan manusia melalui diriNya. Penyelamatan yang dikerjakan Allah di dalam diri kita. Kalau kita memahaminya maka kita akan menjadi orang yang memahami bahwa kita berutang kepada Kristus dan utang itu tidak mampu kita lunasi seperti  yang dikatakan oleh Rasul Paulus. Ini yang membuat Paulus yang dulunya sampah (kotoran) dan selanjutnya menjadi giat luar biasa dalam melayani Tuhan Yesus. Kalau tidak mengalami Yesus dengan hebat, maka hidup kekristenan kita tidak nyata dengan hebat (hanya biasa-biasa saja). Maka saya sering iri dengan orang-orang dari Reformed. Orang-orangnya gigih mengenal Kristus. Gerakannya membuat jemaat-jemaatnya sangat ingin mengenal Yesus. Bagi mereka berlaku ketetapan bahwa “Engkau akan ditebus dengan hebat yang tidak bisa ditebus dengan apa pun”. Mereka tidak akan menukar keyakinannya  dengan harta, kedudukan dan pasangan hidup. Berbeda dengan orang-orang Kristen biasa saja yang berkata bahwa ia kepincut dengan gadis di luar Kristus lalu menukar keyakinannya. Sayang kita seringkali tidak melihat penebusanNya yang hebat. Adik saya beberapa waktu lalu berwisata ke pantai Karang Bolong. Di sana ia hampir mati digulung ombak. Mengapa bisa terjadi hal seperti itu? Rupanya sewaktu sedang mandi dan berpikir bahwa dia bisa berenang, maka ia mandi agak ke tengah laut sehingga ia digulung ombak ke tengah. Beruntung ada yang menolongnya yaitu penjaga pantai. Apa responnya atas apa yang dilakukan oleh penjaga pantai yang menyelamatkannya itu? Adik saya berkata, “Saya tidak akan pernah melupakan apa yang telah dilakukan penjaga pantai itu. Orang itu sungguh luar biasa, karena saya tidak jadi mati di pantai Karang Bolong.” Kalau Kritus tidak jadi mati untuk kita maka yang ada hanyalah kematian kekal. Yesus memang radikal. Ia melakukan apa  yang diperintahkan Allah.

3.    Terjadi dialog-dialog yang ingin memprotes apa yang dilakukan Kristus.


Yesus mau dibunuh tetapi membuat tindakan yang penuh konfrontasi di mana Ia mengobak-abrik pedagang. Seharusnya bila ingin aman, Ia melakukannya secara perlahan-lahan saja tapi hal ini tidak dilakukannya. Itulah tindakan radikal. Apakah Yesus mau pedagang itu berubah sikap mentalnya? Untuk mengubah orang tidak mungkin sekali. Kesulitan kami dalam pelayanan selama hampir  4 tahun di GKKK Mangga Besar adalah mengubah orang. Karena kadang kami harus marah-marah, kadang kami harus membelai. Kadang ada yang harus ‘dicambuk’ dan di lain saat harus diperlakukan dengan ‘lembut’. Apakah Yesus ingin mengubah? Terlalu naif tetapi yang dilakukan oleh Yesus merupakan suatu pelajaran untuk memberi motivasi dalam mencari Allah. Inilah motive yang seringkali hilang bahkan ada yang menukar ibadah dengan mencari uang. Mereka menukarnya dengan melakukan perdagangan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka mencari Allah dengan motivasi yang tidak baik. Itulah sebabnya Yesus melakukannya dengan tindakan yang luar biasa. Mungkin kita sama dengan pedagang Bait Allah itu dalam hal motivasi. Apa motivasi kita beribadah? Entah karena memiliki jabatan majelis, guru sekolah Minggu dll. Apakah kita datang untuk menyembah dan memujiNya? Bila benar, maka sikap kita datang beribadah sangat berbeda. Kita akan datang dengan sikap penuh kerinduan, karena itulah hari dimana kita berjumpa dengan Tuhan. Seperti seminar di GRII Kemayoran di atas, sebelum pk 9 tempat duduknya sudah terisi penuh. Mungkin kapasitas gedungnya bisa menampung 7.000 orang. Bayangkan pk 9 sudah penuh! Berbeda dengan di GKKK Mabes yang bangkunya penuh, namun orangnya kosong. Kita memikirkan ibadah kepada Tuhan. Apakah kita mengenal Kristus dengan baik? Apakah kita mengenal Dia yang telah mati untuk kita? Kalau benar, apa yang dilakukan Yesus dengan menanggung kematian dilakukan untuk membuat kita bisa kembali kepada Allah (menolong kita kembali kepadaNya). 

Monday, March 27, 2017

Pengurapan Tanda Penguburan (ada dalam konteks pemberitahuan ke empat tentang penderitaan Yesus)


Pdt. Arthur Lim

Yoh 12:1-11
1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
2  Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
3  Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
4  Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
5  "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
6  Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
7  Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.
8  Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."
9  Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati.
10  Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga,
11  sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Pendahuluan

                Tuhan baik pada saat kita merasa Tuhan itu baik. Tuhan juga baik saat kita merasakan Tuhan tidak baik. Tuhan baik walaupun kita merasakan kadang-kadang Tuhan baik atau kadang-kadang Tuhan tidak baik.  Kisah yang tercantum pada Yoh 12:1-11 (pengurapan tanda penguburan) berbeda dengan kisah pada Matius 26, Markus 14 dan Lukas 7. Ada cerita yang hampir mirip dengan kisah pengurapan ini namun sebenarnya berbeda. Pada kisah yang tercantum pada ketiga Injil Sinoptik lokasinya di rumah Simon penderita kusta sedangkan pada Yoh 12 Yesus diurapi oleh seorang perempuan yang namanya juga sama yaitu Maria (disebut sebagai Maria yang berdosa, Maria Magdalena , Maria yang menjadi pelacur). Maria Magdalena mengurapi kepala Yesus bukan kaki Yesus. Jadi cerita ini adalah cerita yang berbeda. Pada Yoh 12 peristiwa pengurapan oleh Maria (kakak perempuan dari Lazarus) terjadi di Betania bukan di Yerusalem. Maria kakak Larazus ini mengurapi kaki Yesus bukan kepala Yesus. Pengurapan tersebut untuk memperingati nanti penguburan Yesus jadi bukan untuk pengucapan syukur semata. Tema dengan nats ini untuk mempersiapkan hati jemaat dalam menyambut Jumat Agung dan Paskah karena banyak sekali orang Kristen yang hanya mempunyai ‘napas’ (natal dan Paskah) yaitu hanya datang pada saat Natal dan Paskah. Paskah itu jadi sangat penting untuk dipersiapkan.


Kehidupan Kristen yang bersifat paradox

Seringkali kehidupan kita berlawanan dengan apa yang harusnya terjadi. Kita seringkali menganggap bahwa kalau kita sudah menerima Tuhan Yesus seharusnya kehidupan kita akan penuh berkat. Seharusnya hidup kita penuh mujizat, hidup yang penuh sukacita dan kekayaan. Banyak orang berpikir demikian. Sehingga tidak heran banyak orang yang kecewa terhadap kekristenan. Saya tidak menolak bahwa di dalam kehidupan sebagai anak-anak Tuhan, kita pasti bisa mengalami mujizat. Karena sebelum masuk ke Yoh 12, pada pasal 11 Rasul Yohanes  bercerita tentang Lazarus yang dibangkitkan dari kematiannya. Yesus yang sudah tahu bahwa Lazarus yang sakit dan kemudian meninggal. Yesus sengaja menunda kedatanganNya ke Betania dan mengatakan bahwa ada rencana Tuhan dan Tuhan akan dimuliakan melalui mujizat yang terjadi. Jadi mujizat yang terjadi bisa mendatangkan kemuliaan nama Tuhan. Seringkali orang Kristen bisa mengalami mujizat tersebut dalam kehidupan. Kita seringkali berdoa dan  Tuhan menjawabnya. 2 hari lalu Bryan, anak saya yang kedua, menderita sakit. Saya berdoa, “Tuhan sembuhkanlah dia.” Malamnya masih belum sembuh. Lalu didoakan lagi. Besok paginya ternyata ia sembuh. Puji Tuhan! Tetapi ada kalanya setelah berdoa tidak terjadi kesembuhan. Hanya mujizat dalam kehidupan kita bisa terjadi. Tujuan terjadinya apa? Tujuannya adalah kemuliaan Allah!
Dalam pembahasan mengenai mujizat sebelum Yoh 11 dan 12 yakni di kitab Yohanes pasal 9 dan 5 ada 2 buah mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus. Pada  Yoh 9 , ada seorang yang sudah menjadi buta sejak masih kecil lalu disembuhkan. Pada Yoh 5 ada seorang lumpuh yang disuruh Tuhan untuk mengangkat tilam dan berjalan lalu hal ini pun dilakukannya. Kedua kisahnya memiliki hasil akhir yang berbeda. Di Yoh 9 setelah dicelikkan matanya oleh Yesus, kemudian orang ini ditanya oleh orang Yahudi siapa yang telah menyembuhkannya? Dia menyebut Yesus. Orang Yahudi tidak percaya dan bertanya lagi, “Kamu benar-benar buta dari kecil?” Yang dijawab,”Benar”. Tetapi orang Yahudi tidak percaya kemudian bertanya ke papa-mamanya yang menjadi ketakutan dan memintanya agar bertanya sendiri karena anaknya sudah dewasa. Lalu orang Yahudi bertanya kembali kepada ex-orang buta tersebut,”Apa benar kamu sudah buta sejak kecil? Dijawab, “Kamu lucu ya! Saya sudah sampaikan Dia yang menyembuhkan saya. Saya sudah bicara dari kecil saya sudah buta. Dari dulu sampai sekarang tidak ada orang yang bisa menyembuhkan orang yang sejak kecil buta. Engkau tahu bahwa Dia orang benar.” Orang ini membela Yesus mati-matian. Orang Yahudi membalasnya,”Kamu orang berdosa dan ingin mengajarkan kami?” Tapi di Yoh 5 seorang yang sakit lumpuh dan selesai disembuhkan Yesus, malah mengkhianati Yesus. Ia ditanya oleh orang Yahudi, “Siapa yang menyembuhkan kamu dan menyuruh kamu mengangkat tilam dan berjalanlah di hari Sabat?” Ia menjawab, “Saya tidak kenal Dia. Saya lihat Dia lewat, saya tidak kenal Dia, saya tidak tahu sekarang Dia di mana” Tidak lama kemudian Yesus bertemu dengan dia dan berkata, “Kamu jangan berdosa lagi.” Selesai itu ia langsung ke ahli Taurat dan orang Yahudi dan berkata,”Ini Dia yang menyembuhkan saya dan tangkaplah Dia!” Ini (tangkaplah Dia) tidak dikatakan di Alkitab, tapi begitulah motivasinya sehingga mengatakan,”Ini Dia orang yang menyembuhkan saya.” Mujizat tidak menyelamatkan kerohanian seseorang. Seringkali mujizat bisa membawa kita lebih dekat kepada Kristus. Namun tujuan mujizat terjadi adalah untuk kemuliaan Allah.
Seringkali kita ingin supaya kita mengalami mujizat dan kebaikan Allah. Kita ingin sekali Tuhan terus menerus membuat mujizat dan apa yang kita minta (doa kita) dikabulkan. Tetapi dalam kehidupan yang nyata tidak selalu demikian. Mengapa? Saya bertanya kepada diri saya sendiri juga mengapa? Saya mendapati dalam pembelajaran saya bahwa dalam kehidupan ini tentang jawaban-jawaban yang Tuhan berikan. Salah satunya dari Yoh 12 ini. Di Yoh 12  saat itu ada perayaan yang diadakan untuk Yesus (ayat 2) karena Yesus baru saja membangkitkan Lazarus dari antara orang mati. Dia menunjukkan kuasaNya atas maut. Semua orang kagum akan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Banyak orang datang berbondong-bondong untuk melihat Lazarus yang hidup. Yang tidak sempat untuk datang melihat Lazarus hidup , kembali lagi ke Betania untuk melihatnya. Jadi pada saat perayaan itu sangat ramai sekali orang. Ketika perayaan diadakan untuk kemenangan Yesus atas maut, tetapi Yesus mengatakan, "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.  Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." (Yoh 12:7-8). Saat itu semua orang ingin merayakan kemenangan Yesus atas maut, kehebatan, mujizat dan kuasa. Tetapi tiba-tiba Yesus mengatakan,”Aku akan menderita , mati dan dikubur! Saya sangat senang sekali kalau ada orang yang berkata, “Mengikut Yesus akan bahagia, kaya raya dan tidak akan mengalami kesulitan.” Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Yoh 10:10b Yesus berkata,”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kelimpahan ini bukan berarti kekayaan materi (tidak selalu untuk mengatakan hal-hal materi saja), tetapi selalu berbicara mengenai kelimpahan dalam kehidupan rohani kita. Banyak orang yang saat hidupnya susah, hubungan suami-istri akur kalau makan suap-suapan. Tetapi saat sudah kaya-raya , si suami mulai pelihara “perempuan lain” sehingga hubungan suami-istri menjadi tidak baik sama sekali.
Apakah kehidupan orang Kristen yang akan datang, untuk menjadikan kehidupan seperti ini? Pasti bukan! Kehidupan yang Yesus janjikan adalah kehidupan berkelimpahan dalam hidup itu sendiri  yaitu hidup yang dari dalam berkelimpahan dan mengalir keluar. Seperti yang terjadi pada wanita yang mengurapi kaki Yesus (Maria). Sehingga pertanyaannya,”Mengapa orang baik seringkali menderita?” Sebenarnya jawabannya sama seperti apa yang diberikan Martin Luther yaitu,”Orang percaya tidak bertanya kepada Tuhan , mengapa? Tetapi percaya!” Percaya apa? Percaya akan perkataan bahwa Allah itu baik. Allah baik! Saat manusia merasa Allah baik , Allah baik. Saat manusia merasa Allah kurang baik, Allah tetap baik. Allah baik walaupun kadang-kadang kita merasa Allah baik atau kadang-kadang merasa Allah tidak baik.  Allah selalu baik maka kita bisa bergantung pada Allah, berserah pada Tuhan dan taat kepadaNya. Itulah sebenarnya kekristenan yang sesungguhnya. Bukan berarti bahwa kalau keadaan baik baru kita menyembah Allah. Tetapi dalam semua keadaan kita tahu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Seringkali kita ingin hidup selalu lancar, “pesta” dan indah. Tetapi seringkali Tuhan ijinkan kesesakan terjadi dalam hidup kita. Supaya apa? Supaya kita mengalami Allah sendiri. Kita tidak berkata lagi kepada teman atau saudara bahwa Allah itu baik karena perkataan Guo Mu Shi, Guo Shi Mu atau pun perkataan Lin mu shi. Tetapi kita akan mengatakan Tuhan itu baik karena kita mengalaminya sendiri. Kapan kita mengalaminya? Saat kita mengalami kesesakan, kesulitan atau himpitan. Kita merasakan Tuhan setia dan tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan Ia akan memberikan jalan keluar supaya kita dapat menanggungnya. Sebagai orang Kristen kita seringkali mengalami kesulitan. Itu bukanlah hukuman Allah untuk kita melainkan suatu pengalaman yang Tuhan ijinkan agar kita mengalami Allah sendiri. Sehingga semakin hari makin serupa Yesus dan semakin mengasihi Allah.

Sikap hati Maria yang ‘boros’ dan Yudas yang ‘masuk akal’

Kalau menganalisa apa yang disampaikan oleh Yudas, perkataannya sangat masuk akal. Mengapa Maria memboroskan minyak narwastu seharga 300 dinar (mengapa minyak tersebut tidak dijual saja dan hasilnya diberikan ke fakir miskin). Sepertinya sangat masuk akal. Apalagi dituangnya bukan di kepala tetapi di kaki. Ini boros sekali. Untuk menyelidiki akan hal ini , saya mengajak istri saya ke Lippo Puri Mal untuk menanyakan berapa harga parfum yang paling mahal. Waktu saya masuk ke toko parfum, istri saya berkata, “Saya tidak butuh parfum.” Saya berkata,”Jangan ge-er dulu ya, saya bukan ingin membelikan parfum tapi ada tujuannya. Perhatikan saja.” Lalu saya bertanya ke pelayannya, “Di sini, mana parfum yang paling mahal?” Lalu saya dipukul oleh istri saya yang kemudian berkata, “Mengapa boros-boros?” Saya menjawab, “Kamu jangan ge-er dulu, saya tidak belikan untukmu.” Mendengar pertanyaan saya, mungkin pelayan mengira bahwa tamu yang datang ini adalah orang kaya, karena biasanya orang yang datang mencari parfum yang harganya paling murah. Lalu ia pun berlari , mengambil kunci dan membuka tempat penyimpanan minyak wangi. Setelah mengambil sebuah botol parfum, ia membuka tutup botolnya dan tanpa basa-basi ia mengambil kertas yang lalu disemprot minyak wangi dan hasilnya  disodorkan kepada saya untuk dicoba. Dia mengatakan, “Parfum ini kalau disemprot sekali maka dalam waktu 2 hari wanginya tidak akan hilang.” Saya memperhatikan tulisan tentang isi botol tersebut yang mencantumkan ukuran 100 ml. Dengan perkiraan sekali semprot akan keluar sekitar 1-2 ml maka satu botol minyak wangi berukuran 100 ml akan habis setelah disemprot 50-100 kali.
Bisa dibayangkan ketika Maria menuangkan minyak wangi sebanyak  345 gram maka wanginya ruangan akan seperti apa? Sampai-sampai Yudas berkata,”Minyak ini harganya bisa 300 dinar.” Tuhan Yesus pernah memberikan perumpamaan bahwa upah 1 hari di zaman itu sebesar 1 dinar, jadi minyak itu seharga 300 hari kerja. Karena dalam waktu 1 minggu mereka tidak bekerja pada hari sabat, maka Yudas ingin mengatakan kepada Maria bahwa kamu tahu tidak bahwa parfum nya bila dijual maka selama 1 tahun tidak usah bekerja. Tahun 2017 ini UMP DKI sebesar Rp 3,5 juta / bulan atau Rp 42 juta/tahun. Bandingkan waktu saya bertanya ke pelayan yang menjual wangi termahal seharga RP 3,5 juta dan bisa diberi potongan menjadi RP 3 juta untuk ukuran 100 ml. Kalau 500 ml harganya Rp 15 juta. Bandingkan dengan Maria yang memberikan Rp 42 juta punya. Saya setuju dengan  Yudas bahwa apa yang dilakukan Maria adalah pemborosan. Mengapa dia boros? Tetapi dalam pandangan Tuhan Yesus tidak. Karena Tuhan Yesus melihat hati Maria. Sebaliknya Yudas yang terkesan sangat masuk akal dan sangat benar sekali malah ditegur Yesus.
Hidup ini seringkali tidak bisa dinilai dengan uang. Pelayanan kita kepada Yesus Kristus tidak bisa dinilai pada apa yang tampak di luar, tetapi dari hati dan Tuhan melihat hati. Saya senang sekali dengan Sdr. Indra yang setia melayani para siswa yang belajar alat musik. Sulit sekali kalau kita bisa menilai sebuah pelayanan itu baik atau tidak. Apakah pelayanan di mimbar ini lebih penting dari pelayanan lainnya? Di mata Tuhan tidak! Di mata Tuhan, apakah engkau sudah memberikan yang terbaik dalam hidup dan hatimu? Jadi bukan soal masuk akal atau tidak. Bukan apa yang dilihat manusia, tetapi apa yang dilihat oleh Tuhan.

Penutup

Dalam memperingati Paskah , mari kita selidiki hati kita. Apakah hidup kita untuk dilihat orang? Apakah pelayanan kita untuk dilihat manusia? Apakah supaya semua terlihat masuk akal dan oke saja? Atau kita ingin menyukakan hati Tuhan? Berikanlah yang terbaik untuk Tuhan. Yang tahu hanya kita dan Tuhan. Saat merenungkan Yoh 12, ada 2 kenyataan yang sangat berbeda (paradox). 1 hati Maria yang tidak dapat dinilai benar di hadapan manusia, 1 hati Yudas yang secara manusia dia benar dan masuk akal, tetapi mari kita lihat apa yang Tuhan Yesus sukai. Tuhan Yesus suka semua hal yang orisinal dalam hati kita. Yudas bukan memperhatikan orang miskin tetapi hatinya sebenarnya jahat. Apakah kita memiliki hati seperti Yudas atau Maria? Hanya Tuhan yang tahu.
Dalam memasuki Paskah mari kita merenungkan hidup. Apakah hidup kita setiap hari hanya berisikan keluhan-keluhan kepada Tuhan?  Atau sebaliknya menjadi ucapan syukur kepada Tuhan? Sangat tidak mudah untuk kita memiliki hidup yang penuh ucapan syukur. Hidup seperti ini hanya bisa terjadi  saat kita merenungkan hidup ini dan bukan pada saat mujizat terjadi. Mujizat tidak membuat kita lebih dekat pada Tuhan tetapi sesuatu yang membuat kita merenungkan hidup itu sendiri akan membuat kita bersyukur. Karena saat merenungkan firman Tuhan, kita mulai mengerti bahwa hidup itu penuh dengan mujizat. Ada banyak hal yang bisa kita syukuri dalam hidup ini daripada kita banyak mengeluh mengenai hidup kita. Kalau melihat 10 tahun lalu, 5 tahun lalu dan saat ini, apa yang kita miliki? Kita tentu akan bisa mengucap syukur. Itu hanya bisa terjadi kalau kita duduk diam dan merenung. Saya mau mengusulkan agar kita minimum memberikan 1 persen waktu kita kepada Tuhan. Lebih bagus 2 persen dan lebih bagus lagi 4 persen. Kalau 1 hari terdiri dari 24 jam, maka bila kita memberikan 1 jam berikan kepada Tuhan berarti kita memberikan 4% dari waktu kita. Kalau dalam 1 hari kita hanya memberikan 15 menit saja berarti kita memberikan 1 persen dari waktu kita. Itu akan membuat hidup kita bisa mengucap syukur setiap hari. Saya rindu agar jemaat sepulang dari gereja, Tuhan saya perlu agar bisa hidup mengucap syukur setiap hari dan merenungkan firman Tuhan setiap hari minimum 15 menit/hari. Bukan hanya memikirkan mujizat saja. Memikirkan mujizat boleh, tetapi lebih baik bila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan setiap hari sehingga kita akan memiliki hati yang semakin mengasihi Tuhan dan semakin sadar betapa baiknya Tuhan. Kalau tidak maka tidak heran kalau kita tidak bisa memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Amin!


Sunday, March 19, 2017

Biji Gandum Harus Mati Baru Banyak Berbuah


Biji Gandum Harus Mati Baru Banyak Berbuah
(Ada dalam konteks pemberitahuan ke tiga tentang penderitaan Yesus)

Pdt Hery Kwok

Yoh 12:20-26
20  Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.
21  Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus."
22  Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.
23  Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.
24  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
25  Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.
26  Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Pendahuluan

                Apa yang dicatat Rasul Yohanes dalam pasal 12 menarik perhatian kita karena pada pasal-pasal selanjutnya (13-17) Yesus Kristus secara khusus melayani murid-muridNya untuk memberi pelajaran kepada mereka. Hal ini dimulai dengan Yesus membasuh kaki murid-muridNya. Sebelum memasuki pasal 13, Yesus memberitahukan kepada orang-orang yang menyertaiNya bahwa Ia akan mengikuti ketetapan Allah bahwa Ia harus mati di atas kayu salib! Pemberitahuan yang dicatat oleh Yohanes, muridNya ini,  sedikit berbeda dengan catatan ketiga kitab Injil lainnya. Yohanes mengangkat sesuatu yang secara khusus untuk meresponi apa yang akan Yesus perbuat untuk menebus dosa umatNya.
                Pada Yoh 12:20 dikatakan bahwa di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.  Pada waktu itu orang-orang Israel dari seluruh penjuru dunia datang berkunjung ke Yerusalem karena mereka ingin beribadah  untuk memperingati hari raya Paskah. Hari raya ini adalah satu di antara 3 hari raya besar orang Yahudi. Pada hari raya-hari raya ini orang-orang percaya harus menghadirinya. Umat pilihan Tuhan khususnya laki-laki harus datang. Walaupun mereka berada di tempat jauh dari Yerusalem, mereka harus datang ke Kanaan. Jadi perayaan Paskah merupakan hari raya penting. Pada Paskah pertama kali, Musa membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Saat itu orang Israel telah diperbudak secara fisik oleh bangsa Mesir selama 430 tahun. Perbudakan yang dialami oleh mereka adalah perbudakan yang sangat mengerikan dan kejam sehingga mereka menjerit kepada Tuhan karena mereka sudah tidak tahan lagi. Istilah yang digunakan pada kitab Keluaran  untuk menggambarkan penderitaan mereka adalah “mengerang” yang artinya mereka sudah tidak kuat lagi menderita atas perbudakan yang diterima dari orang Mesir. Sehingga mereka berseru dan berteriak kepada Tuhan sehingga Allah mengutus Musa untuk membawa mereka keluar orang Israel.
                Mereka berteriak kepada Tuhan untuk menolong mereka keluar dari perbudakan yang telah dialami selama 430 tahun. Dampak perbudakan yang dialami bukan saja secara fisik semata tetapi juga secara rohani di mana mereka sudah terbiasa menjadi penyembah berhala milik orang Mesir. Saat dibawa keluar ke padang gurun mereka masih menyembah berhala itu. Sehingga waktu Musa yang turun setelah menerima 10 perintah Allah menemukan mereka sedang menyembah anak lembu emas. Penyembahan berhala ala Mesir ini telah membentuk rohani mereka selama 430 tahun. Itulah sebabnya Musa menjadi tokoh yang dipakai Allah untuk membawa mereka keluar dari perbudakan fisik dan rohani. Sehingga perayaan Paskah menjadi kewajiban yang harus diulang setiap tahun, menjadi perayaan yang tidak boleh tidak, harus diikuti oleh orang Israel (menjadi ibadah yang harus dilakukan orang Israel).

Orang Kristen yang mencari Tuhan Yesus

                Rasul Yohanes mencatat bagaimana perayaan Paskah terjadi dan orang-orang yang menghadirinya. Pada ayat 20 diungkapkan bahwa dalam perayaan hari raya Paskah waktu itu terdapat beberapa orang Yunani. (Injil lain tidak mencatatnya). Ada orang Yunani yang menghadiri perayaan Paskah karena mereka percaya. Dalam catatan itu mereka ingin bertemu dengan Yesus Kristus. Saat menyiapkan khotbah ini, saya tertegun karena Yohanes memberitahukan respon orang-orang yang menerima pemberitahuan tentang kematian Yesus, orang Yunani mencari Yesus sedangkan orang Yahudi tidak. Alkitab yang diterbitkan LAI mencatat “Mengapa orang Yahudi tidak dapat percaya?” Jadi kontras.
Dalam menyikapi pemberitahuan tentang kematian Yesus ada 2 respon (kriteria) yang sangat kuat :
-        orang-orang Yunani mencari Yesus dan
-        orang-orang Yahudi (umat pilihan Allah) tidak mencari Yesus.
Hal ini menjadi bahan renungan kita karena bisa saja kita berada di antara keduanya. Mungkin saja , sikap kita seperti orang Israel. Mungkin sejak kecil kita sudah menjadi Kristen karena orang tua kita Kristen atau kita menjadi Kristen di tengah jalan perjalanan hidup kita karena motivasi tertentu. Pertanyaannya : apakah kita menjadi orang Kristen yang mencari Yesus atau tidak. Bila tidak mencari Yesus berarti sama seperti orang Yahudi dulu. Malah orang Yunani yang diibaratkan sebagai kayu yang digunakan agar api neraka menyala-nyala justru mereka mencari Yesus. Ada kehausan, kerinduan dan keinginan mereka untuk berjumpa dengan Yesus. Waktu merenungkan hal ini saya berpikir, “Apakah saya mencari Yesus dalam perjalanan saya menjadi orang Kristen? Apakah kita mencari Yesus atau tidak? Ataukah kita hanya berlabel Kristen tetapi hidup kita tidak haus mencari Kristus?” Ini hal yang berbeda. Ada yang menjadi orang Kristen tetapi tidak mencari Krsitus, padahal orang Yunani berkata ingin mencari Yesus.

Yesus harus mati agar orang percaya bisa hidup

                Yohanes memberi fakta yang memberi tamparan kepada kita yang mungkin sama seperti orang Yahudi. Kita menjadi orang Kristen yang dalam perjalanan kita tidak mencari Yesus alias kita  tidak fokus mencari Yesus. Dengan perkataan lain kesenangan dunialah yang kita cari dan lebih menggembirakan kita daripada Yesus. Yohanes membawa kita ke renungan dalam meresponi Paskah. Bagaimana respon kita terhadap Paskah? Apakah kita benar-benar menjadi orang percaya? Waktu Filipus dan Andreas mengatakan bahwa ada orang Yunani mencariNya, Yesus menanggapinya "Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:23-24).  Ilustrasi ini sangat dimengerti oleh orang-orang Yahudi saat itu. Yesus mengambil perumpamaan dari dunia yang akrab dengan mereka yaitu dunia pertanian. Kalau biji gandum mati maka ia akan bertumbuh dan menghasilkan banyak buah. Waktu biji gandum tidak mati di tanah, ia akan tetap satu biji gandum saja dan tidak menghasikan buah. Ini proses pertanian alamiah yang Tuhan ciptakan. Pohon akan berbuah setelah biji mati, bertumbuh dan menjadi berguna.
                Di rumah saya ada pohon mangga yang benihnya saya peroleh dari anak Tuhan sewaktu saya melayani di Gereja Kristus Ketapang. Ia tinggal di BPK Penabur di belakang Jl. Gajah Mada. Ia berkata, “Pak Hery di sini ada 2 buah tunas pohon mangga yang masih kecil. Saat dahulu jatuh ke tanah, ia mati, berproses dan sekarang tumbuh pucuknya. Saya berkata, “Saya mau sekali karena saya menyukai buah mangga”. Namun saya bingung memilih karena ada 2 tunas pohon mangga. Akhirnya yang satu saya ambil sedangkan yang lain saya tawari ke rekan guru di Sekolah Kristen Ketapang. Ternyata teman saya mendapat benih yang manis sehingga mendapat buah mangga yang manis. Saya mendapat benih yang asam sehingga buahnya juga asam. Pohon mangga saya berproses, ada buah yang jatuh ke tanah, mati lalu hidup  dan bertunas. Ilustrasi ini untuk menggambarkan bahwa Yesus Kristus harus mati. Itu  tidak bisa ditawar atau ditolak. Sehingga pada ayat 24 diungkapkan suatu kebenaran bahwa bila biji gandum tidak jatuh ke tanah , ia akan tetap satu biji saja, tetapi waktu sudah mati ia akan menghasilkan banyak buah. Artinya Yesus Kristus ditentukan Allah harus mati. Ini pernyataan yang Yesus sampaikan sebelum mengajar di pasal 13-18 dan seterusnya , Yohanes mencatat bagaimana Ia menghadapi proses kematian dengan cara begitu dinista dan disiksa oleh orang-orang yang jahat.
                Pada pasal 12 ini Yesus memberi pernyataan bahwa mau tidak mau Aku harus mati, karena dengan Aku mati maka engkau akan menjadi hidup. Itulah proses penebusan yang dilakukan oleh Yesus. Keharusan ini memang harus dijalani oleh Yesus. Oleh karena itulah kita diingatkan bahwa kita tidak akan memperoleh penebusan dosa , jika Yesus tidak mati di kayu salib. Proses ini dilakukan di dalam ketaatanNya untuk mengambil cawan yang mengerikan, cawan di mana saat berada di Taman Getsemani Ia berkata, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."(Mat 26:39). PenderitaanNya sangat luar bisa! Seharusnya penderitaan ini tidak diterimaNya tetapi dipikul oleh kita. Maka pada ayat 24 , Yesus berkata bahwa kalau Aku mati maka keselamatan untuk semua orang akan terjadi. Untuk orang-orang Yunani akan terjadi. Untuk orang-orang Yahudi yang hatinya keras akan terjadi. Terjadi untuk Yahudi atau Yunani, untuk orang pintar atau tidak pintar, rendah atau tidak rendah,  kalau Yesus mati maka Ia akan membuat orang-orang yang dahulu dihukum bisa memperoleh keselamatan.

Hidup orang Kristen harus keluar dari zona nyaman

                Sampai di sini kita bisa memahami karena kita bukan orang Kristen baru. Tapi pernyataan ini tidak berhenti dalam ayat 24. Tetapi harus diresponsi seperti yang tercatat pada ayat 25.   Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Dari pelajaran tentang pemberitaan tentang Yesus yang harus mati, orang percaya dituntut harus berani hidup untuk keluar dari zona nyamannya. Waktu kita memperoleh penebusan dari Yesus Kristsus, maka orang percaya harus berada hidup pada zona tidak nyaman. Waktu Matius menceritakan kisah tentang perjalanan Yesus ke Kaisarea, di situ Yesus bertanya kepada murid-muridNya, “Menurutmu Aku ini siapa? Ada yang bilang Elia, nabi-nabi yang lain tetapi menurut kamu Aku ini siapa?” Petrus mewakili murid-murid yang lain mengatakan “Engkau Mesias”. Yesus berkata “Berbahagialah engkau. Itu bukan engkau sendiri yang katakan tetapi Roh Kudus.” Baru saja Yesus berkata begitu tidak lama kemudian Petrus berkata, “Engkau tidak akan mati.” Yesus berkata, “Enyahlah engkau Iblis. Karena engkau memikirkan apa yang dipikirkan manusia.” Mengapa iblis tidak memikirkan apa yang dipikirkannya sendiri tetapi pikiran manusia? Sebelum manusia jatuh dalam dosa, Iblis menggoda manusia dengan cara berpikir manusia sendiri agar manusia tertarik. Pohon itu kalau dimakan menarik  dan kamu tidak akan mati. Itulah keinginan manusia. Iblis tahu pikiran manusia yang sangat kuat dalam diri orang berdosa. Pikiran untuk hidup dalam zona aman (hidup dalam konteks tidak menderita). Padahal konteksnya pada saat itu adalah orang percaya harus menderita (pada Kisah Para Rasul pasal 7 dan 8, kita menemukan bahwa orang-orang percaya yang hidup saat itu mengalami penganiayaan). Melalui pernyataanNya pada ayat 25, Tuhan Yesus mempersiapkan orang percaya saat itu agar harus berani meninggalkan zona kenyamanan  karena mereka akan mengalami penderitaan fisik karena namaNya (mereka harus meresponi dalam hidup untuk siap sengsara). Saat ini mungkin kita tidak didera secara fisik atau kalau pun ada berupa ketidaktegasan pemerintah lokal sehingga ada yang mengalami penganiayaan. Namun penganiayaan fisik secara menyeluruh tidak kita alami di Indonesia. Tidak ada satpam yang mencegah kita ke gereja. Bahkan waktu datang , kita ditanya orang-orang di sekeliling kita, “Mau kemana?” Lalu kalau dijawab,”Saya mau ke gereja.” Mereka akan menjawab lagi, “Oh selamat ya.” Kalau saya pergi ke pasar, tukang bensin tanya, “Pak mau ke mana?” Saya jawab ,”Mau ke pasar.” “Oh iya selamat ke pasar.” Kalau ke pasar melewati rumah Teguh, saya bertemu tukang bubur. Kalau lewat rumah Bahri akan ketemu dengan tukang singkong. Saya dikasih selamat ke pasar saat melewati mereka. Kita dikasih selamat waktu mau ke gereja, tidak disuruh untuk pulang lagi atau diancam,”Kalau ke gereja akan dibakar.”
                Namun hal ini membuat kita terlena sehingga hidup dalan zona nyaman. Apa yang disampaikan Yesus pada ayat 25 mengingatkan kita, “Kalau engkau Aku tebus, merdekakan, selamatkan maka engkau harus pikirkan baik-baik hidupmu. Waktu engkau mencintai nyawamu dan tidak berani menderita, maka engkau akan kehilangan nyawamu. Sekarang ini ada yang “menderita” bila dilihat dari suatu sudut. Terkadang saya bertanya ke jemaat yang biasa ikut kebaktian pagi alasan mereka tidak ikut ibadah. Ada yang tidak datang karena tidak bisa bangun pagi. Jadi waktu disarankan untuk pindah ke pk 10 juga tidak datang karena alasan yang sama. Itu baru penderitaan bangun pagi dan seharusnya untuk melawannya sudah sekali. Kalau hal itu saja tidak bisa, bagaimana nanti bila melawan penderitaan fisik? Ada juga, .yang tidak ke gereja karena tuntutan pekerjaan, dagang (bisnis) atau menyiapkan rumah tangga. Kalau seperti itu kondisinya akan makin susah. Ada yang karena alasan keluarga tidak datang ke gereja karena sayurnya belum matang atau tidak bisa ikut persekutuan doa di sore hari karena kecapaian. Ini yang saya dengar dari jemaat yang tidak ke gereja. Padahal penderitaan kita tidak setajam penderitaan orang abad awal, tetapi tetap ada yang tidak bisa datang. Ayat 25 menjadi peringatan bagi kita. Maka Tuhan berkata,”Kalau hidupmu ditebus oleh Tuhan maka hidupmu harus siap menderita.” Pada 2 Tim 3:12 dikatakan Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. Kata “akan menderita” disampaikan Rasul Paulus untuk orang percaya yang mau hidup beribadah  dan hidupnya sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Orang Kristen dituntut melayani Yesus ke mana pun Ia berada

Pasal 12:26  Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Penebusan Yesus bukan tanpa arah. Kita ditebus untuk melayani Dia. Kita menjadi orang Kristen yang percaya bahwa orang Kristen dituntut untuk melayani Dia seperti pada ayat 26. Yang dimaksud dengan “barang siapa melayani aku” adalah orang- orang yang telah mengalami ayat 24 yaitu Aku mati untuk kamu dan Aku telah menebus kamu. Dan tebusan yang Aku kerjakan untuk kamu adalah tebusan yang membawa orang percaya untuk melayani Tuhan. Jadi pelayanan kepadaNya bukan pilihan. Soal ujian ada yang berupa pilihan , tetapi kalau hidup yang telah ditebus oleh Yesus, maka kita harus melayani. Jadi jangan katakan saya mau melayani kalau kita sudah bisa dan punya waktu. Itu konsep yang kacau dan keliru. Itu membuat kita tidak bertumbuh dalam iman percaya kita kepada Tuhan. Konsep itu diikuti oleh banyak orang Kristen dan konsep ini berbahaya karena membuat kita menjauhi pelayanan. Kadang saya terharu dengan orang-orang yang melayani di daerah pedalaman yang seringkali menjumpai banyak kesulitan. Mereka jauh lebih susah daripada kita. Mereka harus berjalan (kaki) dengan menempuh jarak yang jauh. Di daerah NTT yang akan kita layani tahun depan dalam misi penginjilan, saya sudah bertanya tentang kondisi mereka. Mereka berada di daerah pedalaman yang daerahnya dingin. Dari kota mereka harus jalan kaki ke tempat yang akan kita layani nanti. Saya pikir jalannya sebentar. Ternyata sampai hari minggu ini ia juga belum kirim gambar yang saya minta sehingga saya tidak bisa menayangkannya sekarang. Hal ini karena mereka harus menempuh perjalanan jauh dari pedalaman. Kita di sini enak-enakan, fasilitas apa yang tidak ada? Tetapi mengapa tidak kita gunakan untuk melayaniNya? Kita diberikan talenta tapi tidak digunakan dengan baik. Hidup percaya kita harus menjadi hidup yang benar-benar dan dikoreksi terhadap penderitaan Yesus.
                Maka Yesus mengatakan bahwa kriteria orang yang melayaniNya adalah orang yang dimana Aku pergi, ke sana ia ikut Aku. Yesus ke Galilea, murid-muridNya ke Galilea. Yesus turun ke Yudea, mereka turun ke Yudea. Yesus melintasi Samaria, mereka ikut melintasi. Artinya kemana Aku ada, di situ pelayanKu harus ada. Kemana Aku pergi, di situ pelayanku harus menyertai. Prinsip pelayanan adalah prinsip di mana kita benar-benar memberikan buat Tuhan, ke mana Tuhan minta dan kasih , di situ kita harus ambil bagian. Kalau ini tidak dipegang teguh, maka penderitaan tentang Yesus yang hebat tidak menjadi pemberitaan yang hidup dalam kita. Itulah sebabnya kita menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja (bukan militan, bukan orang Kristen yang berdampak, bukan orang Kristen yang mempengaruhi orang sekeliling kita) karena kita tidak memahami .mengapa kita harus melayaniNya. Karena itu tuntutan yang Dia berikan kepada kita karena Ia telah menebus kita.

Penutup


                Mari kita memikirkan hidup percaya kita . Lagu Bawalah Aku Dekat ke Salib (Jesus Keep Me Near the Cross oleh William H. Doane dan syair oleh Fanny J. Crosby) merupakan lagu yang sangat menerpa saya. Bawalah aku Yesus, dekat ke salibMu. Air hidup dan darahMu, sucikan hatiku. Reff: Salibnya, salibnya, selama mulia, Dosaku disucikan,oleh darah Yesus; Imanku yang terkecil, Tuhan tak tinggalkan. Sinarilah hatiku,dengan Roh KudusMu; Salibmu sandaranku, kurindu kasihMu. Selama aku hidup,'ku mau taat padaMu. Saya bisa menjadi orang yang tidak dekat salibMu, bisa saja pelayanan saya menjadi luntur dan tidak bersemangat atau tidak fokus. Saya berbicara kepada diri saya sendiri bahwa saya bisa jadi seperti itu. Saya tertegur oleh Tuhan. Apakah engkau sangat dekat denganKu, Hery Kwok? Mari pikirkan dalam pra Paskah yang ketiga ini, perjalanan iman percaya kita kepada Tuhan. 

Monday, March 13, 2017

Duka Cita Berubah Suka Cita (Pemberitahuan ke Dua tentang Penderitaan Yesus)



Pdt. Paulus Daun

Yoh 16-16-20
Yoh 16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.
Mat 17:23b dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.

Pendahuluan

                Hari ini adalah minggu kedua bulan Maret yang merupakan  minggu penantian kita dalam penderitaan dan kesengsaraan Tuhan Yesus. Pada hari-hari ini sekitar 2.000 tahun lalu para murid Yesus merasakan duka-cita karena mereka tahu bahwa Guru mereka itu tak lama lagi akan meninggalkan mereka. Dapat dikatakan, hari-hari itu sangat menyedihkan mereka. Apakah benar, hari-hari itu merupakan hari-hari kesengsaraanNya? Ini adalah tema yang akan direnungkan hari ini.
                Yesus tahu hari-hari yang akan dilalui oleh murid-muridNya sangatlah menyedihkan karena Yesus telah mengungkapkannya secara terus terang. Tidak lama lagi Ia akan meninggalkan mereka melalui proses yang menyengsarakanNya yakni melalui kematian di kayu salib (via dolorosa). Dalam pandangan manusia, kejadian ini pasti membuat mereka sangat bersedih. Namun kalau kita melihat ucapan Tuhan Yesus kepada mereka , kita merasa hal ini sangat ajaib. Dia mengakui, hari-hari itu bagi murid-muridNya sangat sengsara, tetapi Ia tidak berhenti pada perkataan ini dan terus mengatakan bahwa “dukacitamu akan diubah menjadi sukacita”. Saya yakin perkataan Tuhan Yesus ini bukan sekedar merupakan gurauan atau untuk menghibur saja. Perkataan “Duka-cita akan diubah menjadi sukacita” mengandung arti yang sangat dalam. Tuhan Yesus ingin murid-muridNya mengerti mengapa dukacita akan diubah menjadi sukacita.

3 pokok yang harus pelajari agar dukacita menjadi sukacita

1.    KepergianNya akan mengakibatkan datangnya Roh Kudus (Penghibur)

Yoh 16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Mengapa Tuhan Yesus mengatakan waktu-waktu berdukacita akan diubah menjadi waktu-waktu bersukacita? Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas kepada murid-muridNya,”Saya pergi adalah berguna bagimu. Kalau Saya tidak pergi Saya tidak bisa mengutus Roh Kudus untuk datang ke tengah-tengahmu.” Mengapa kedatangan Roh Kudus berguna bagi mereka? Kalau Tuhan Yesus berada terus di tengah-tengah mereka, sangat baik untuk mereka, tetapi bagi kepentingan pekerjaan Tuhan hal ini merupakan kerugian. Kalau Tuhan Yesus tetap berada dalam posisi sebagai manusia di bumi ini maka sebagai manusia Dia sama seperti kita. Dia tetap menghadapi keterbatasan waktu dan ruangan. Seperti saya, saat ini saya berada di sini (GKKK Mabes) dan tidak berada di rumah. Sebaliknya kalau saya berada di rumah, pasti saya tidak bisa berada di sini, karena sebagai manusia saya dibatasi oleh waktu dan ruangan. Kalau Tuhan Yesus tetap berada dalam posisi sebagai manusia dan tetap berada di bumi, maka waktu dan ruangan akan membatasiNya. Akibatnya pekerjaan Tuhan akan terhambat. Sesungguhnya pekerjaan Tuhan itu bukan hanya terjadi di satu tempat saja. PekerjaanNya bukan hanya terjadi di daerah Palestina, Asia kecil , Eropa saja tapi terjadi di seluruh bumi. Kalau Tuhan Yesus tetap di bumi ini dan dibatasi oleh waktu dan ruangan, maka pekerjaanNya akan menjadi terbatas sekali. Dengan demikian , Dia tidak bisa menggenapi pekerjaan yang sudah ditentukan Tuhan di bumi.
Tuhan Yesus mengerti kebenaran ini sehingga Ia harus meninggalkan dunia ini. Kalau Dia tidak meninggalkan dunia ini, maka Dia tidak bisa menggenapi rencana pekerjaan Tuhan di bumi ini. Sedangkan dengan meninggalkan dunia ini, Ia akan mengutus Roh Kudus untuk datang. Keterbatasan waktu dan ruangan tidak ada lagi. Karena Roh Kudus berada di tempat  yang tidak ada Dia -nya. Dia dibatasi waktu dan ruangan. Selain di sini ,Ia juga berada di tempat lain. Di mana kita berada Roh Kudus juga ada. Bukan hanya kita saja yang beribadah saat ini, tetapi banyak sekali gereja yang sedang beribadah. Bukan saja ibadah berlangsung di GKKK Mabes, tetapi juga di Asia, Australia, Amerika, Eropa dan Afrika. Bagi Roh Kudus hal ini tidak ada masalah karena Ia tidak dibatasi  oleh waktu dan tempat. Ia bisa mendapati tempat ini dan juga tempat lainnya pada saat bersamaan. Dengan demikian rencana Tuhan di dunia ini akan berkembang. Maka Tuhan Yesus meninggalkan tempatNya di dunia ini. Ini bukan hal yang menyedihkan sekali.
Kalau memahami kebenaran ini, maka kita akan merasa Tuhan Yesus sangat baik. Secara manusiawi Tuhan Yesus merasa sangat sedh , tetapi dilihat dari konteks rencana Allah, Tuhan Yesus meninggalkan berita yang sangat baik. Maka Tuhan Yesus berbicara kepada mereka,”Kalian jangan sedih, bila Aku meninggalkanmu maka ada ‘hadiah’ yang menanti. Dengan Aku meninggalkanmu maka akan timbul sukacita selama-lamanya.” Kalau hal ini tidak dipahami orang-orang percaya maka ketika tahun ini kita menantikan kesengsaraan dan kebangkitan Tuhan Yesus, kita akan berada dalam suasana sangat menyedihkan seolah tanpa asa. Seharusnya sebaliknya yang terjadi karena melalui peristiwa ini kita dipenuhi pengharapan kepada Tuhan. Karena dengan meninggalkan Tuhan Yedus, Roh Kudus bisa dengan bebas datang di dunia ini. Dengan kedatangan Roh Kudus ke dunia ini, maka ada Tuhan menyertai kita. Tuhan Yesus bertemu dan melakukan perjanjian dengan orang-orang yang melakukan dosa. Perjanjian ini bagaimana bisa digenapi? Kalau Tuhan Yesus tetap di dunia ini, perjanjian ini tetap tidak digenapi. Dia mengutus Roh Kudus ke tengah-tengah kita. Dia bukan saja ada di tempat ini tapi juga di tempat lain. Pernyertaan Tuhan Yesus tidak ada batasnya. Bukan saja Dia menyertai. Bukan hanya sekarang Ia menyertai kita, tetapi juga di masa mendatang. Bukan hanya di dunia dia menyertai kita, tetapi Tuhan menyertai kita selama-lamanya.
Hal apa yang paling ditakutkan? Kalau kita berada sendirian? Saya sering berpikir, pernikahan saya dengan istri saya sudah berlangsung 40 tahun lalu. Tidak tahu kapan kami akan meninggalkan dunia ini. Sudah 40 tahun kami bisa bersama seperti ini tapi saya menyadari bahwa tidak bisa bersatu selama-lamanya, suatu kali salah satu pasangan akan meninggal. Saya tidak berani mengatakan hal ini. Saya sering mengatakan ke istri bahwa kalau kita berada di dunia ini, maka kita merasa takut kehilangan pasangan atau orang yang dikasihi yang ada di dunia ini. Namun Roh Kudus di dunia ini selamanya tidak akan meninggalkan kita, walau pun kita berada di mana pun. Berita ini bukan berita dukacita, maka seharusnya dukacitamu diubah menjadi sukacitamu.
.
2.    KepergianNya untuk menyediakan tempat bagi orang-orang percaya

Yoh 14:1-4 Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ. Di sini dikatakan, “Janganlah gelisah hatimu”. Mengapa Yesus mengatakan perkataan ini? Karena murid-muridNya tahu bahwa Guru mereka yang terkasih akan meninggalkan mereka. Dengar perkataan lain melalui perkataan ini berarti engkau harus bersukacita walau pun engkau tahu bahwa Aku akan meninggalkanmu. Tuhan Yesus tidak berhenti di sini  sehingga murid-muridNya tidak perlu terus berduka cita. “Karena Aku pergi menyediakan tempat bagimu. Aku akan datang untuk menjemputmu.” Kita akan berada di mana Tuhan Yesus berada. Kalau seseorang menjadi pendeta apa hal yang paling ditakuti? Bukan iblis atau majelis yang galak. Hal yang paling saya takuti adalah saat memikirkan kalau saya sudah tua. Ketika masih muda dan banyak enersi, saya berkhotbah dengan penuh semangat, terstruktur dan menguatkan iman. Majelis gereja yang melihat saya berkhotbah kemudian masih mengundang saya berkhotbah kembali. Begitu gereja mengundang saya, semua sudah beres. Tinggal datang berkhotbah.
Suatu kali saya beranjak tua dan khotbah saya sudah mulai ‘ngawur’. Saat sedang mendoakan suatu topik tanpa sadar beralih ke topik yang lain. Hal ini akan membuat jemaat bingung. 1 ayat Alkitab yang sederhana namun saat dibawakan dalam khotbah menjadi sulit sekali dimengerti. Ia akan susah naik mimbar. Begitu akan selesai  ternyata apa yang telah dikhotbahkan tidak jelas. Walau majelis punya hati yang mengasihi, kepada pendeta itu diberitahukan bahwa pendeta tua itu tidak perlu lagi berada di gereja ini lagi. Setelah pergi, gereja sudah tidak perlu mengundangnya lagi. Bagaimana menghadapi hari-hari lainnya?  Bagaimana kalau sudah tua saya tidak punya rumah? Bagi saya hal ini tidak masalah. Namun mengapa anak dan istri saya harus tidur bersama saya di pinggir jalan? Menghadapi hal ini saya tidak takut. Saya harus bersungguh-sungguh mencari rumah. Untuk itu perlu ada uang. Namun menjadi pendeta tidak mudah. Ingin mencari duit namun tidak bisa berdagang. Mau menjadi seorang pendeta / penginjil sudah tidak boleh. Penghasilan tiap bulan saya sisihkan untuk membeli rumah. Setiap bulan mendapatkan dana untuk membeli rumah. Namun setelah uang didapat, ternyata harga rumah sudah melambung tinggi. Rumah bagi setiap kita sangat penting sekali. Kalau tidak punya rumah, maka kita tidak bisa menghilangkan perasaan khawatir. Rumah yang memiliki nomor 4 dianggap rumah yang membawa kesialan (kematian). Kita tidak bisa menjual rumah seperti ini, kecuali dijual ke pendeta dengan syarat diberi potongan (diskon). Orang Tionghoa sangat takut dengan kematian karena ia tidak tahu setelah meninggal mau tinggal di mana? Tidak tahu di mana ada tempat tinggal. Menurut adat istidadat orang Tionghoa , setelah meninggal roh akan tinggal di suatu tempat. Untuk bisa hidup, roh akan mengandalkan anaknya. Namun bila anaknya tidak berbakti , maka roh orang tua tidak punya makanan dan tempat tinggal. Saya tidak bisa berbicara dengan rinci karena keterbatasan waktu.
Rumah itu penting sekali. Bukan hanya orang hidup perlu rumah tetapi Tuhan Yasus berjanji pada kita. Dia meninggalkan dunia itu untuk menyediaan  tempat bagi kita. Suatu hari setelah meninggalkan pelayanan di dunia, kita sudah punya rumah . Tahukah engkau rumah yang disediakan Yesus seperti apa? Kita sulit membayangkannya. Di dalam Kitab Wahyu Tuhan Yesus mengatakan kebenaran ini. Tuhan Yesus meninggalkan dunia ini , pasti menjadi berita sukacita. Mengapa saat itu murid-muridKu beberduka cita? Mengapa dukacita diubah menjadi sukacita?. Tuhan Yesus akan menyediakan tempat bagimu. Sebagai Alah Ia akan kembali menjemput agar di mana pun aku berada maka di situ pun Yesus berada. Tuhan Yesus meninggalkan kita bukan selama-lamanya. Tetapi hanya sementara saja. Kalau segalanya sudah dipersiapkan maka sudah separuh jalan menuju keberhasilan. Dalam teologi kegiatan, Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya (maranata). Tuhan Yesus yang naik ke surga, akan datang kembali ke bumi ini. Suatu hari Tuhan Yesus akan kembali. Kedatangan Yesus yang pertama dan kedua berbeda.

3.    Ketika Tuhan Yesus datang kembali, maka tubuh orang-orang percaya diubah menjadi baru.

Saat kedatanganNya yang kedua kali, seluruh bumi akan berlutut di hadapan dia. Waktu itu Tuhan akan menghakimi mereka. Maka kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali , walau bagi orang-orang percaya merupakan hal yang menakutkan sekali, tetapi ada sukacita di sampingnya. Ketika Yesus datang kembali, tubuhku dan tubuh mereka akan diubah menjadi tubuh kemuliaan. Bila ada orang yang naik pesaat , lalu pesawatnya jatuh maka  pesawat dan penumpangnya akan tenggelam di dasar laut dan menjadi santapan ikan-ikan. Tetapi bagi orang-orang percaya, hal itu tidak masalah. Tubuh yang fana dan dapat rusak akan diganti menjadi tubuh yang mulia. Bukan saja tubuh kita menjadi mulia, tetapi kita juga akan menjadi mulia sebagaimana Tuhan Yesus. Ketika melihat di surga begitu mulia, ada yang berkata “Kalau begitu mengapa di bumi, lebih baik ke surga.” Waktu orang Kristen meninggal maka sudah ditetapkan bahwa ia akan menikmati keabadian surga. Namun jangan sampai dengan kebenaran ini, engkau ingin pulang dan bunuh diri. Kalau diberi umur panjang, gunakanlah dengan baik. Gunakan waktu-waktu yang diberikan. Walaupun saya sudah pensiun bukan berarti tidak ada pekerjaan. Sekarang ini pekerjaan di rumah sangat banyak. Saya suka menulis buku. Sudah 48 buku yang saya tulis. Setiap selesai satu buku, saya lanjutkan buku lainnya. Kalau kita tidak mengerjakan, maka pekerjaan kita itu bisa dibatalkan dan diberikan ke orang lian. Jangan sia-siakan waktu yang sangat berharga.

Penutup

Kita tidak bisa memilih mana yang penting dan tidak. Firman Tuhan sangat berharga. Dengan rendah hati kita akan mengetahui bahwa firman Tuhan akan memberi terang. Ketika melihatnya walaupun dunia memberi dukacita, tapi kalau kita percaya Tuhan maka Tuhan akan mengubah dukacita menjadi sukacita. Apakah benar? Kalau tidak mempercayainya, hal ini tidak akan terjadi. Tetapi kalau engkau percaya, engkau akan melihat mujizat. Yang mengatakan hal ini bukan pendeta melainkan Tuhan Yesus mengatakanNya sendiri. Dukacitamu akan diubah menjadi sukaciata. Apa yang sedang kita hadapi hari ini? Apakah dunia ini tidak adil terhadap engkau? Tetapi semua ini jangan membuat engkau sedih. Kalau engkau percaya Tuhan maka Tuhan akan melakukan muijat dalam hidupmu. Dukacita akan diubah menjadi sukacita.