Sunday, November 27, 2016

Bersimpuh di Kaki Tuhan (Refleksi dari Maria)


Ev. Cici S. Larosa

Lukas 10: 38-42
38  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.
39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya,
40  sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
41  Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,
42  tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."

Yoh 11:1-2 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.  Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

Yoh 12:1-8
1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.
2  Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.
3  Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
4  Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:
5  "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
6  Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
7  Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.
8 Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu."

Pendahuluan

                Bersimpuh mungkin bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Bersimpuh adalah cara duduk di mana kedua kaki ditekuk , dilipat ke belakang lalu ditindih oleh berat badan. Cara duduk seperti ini tidak nyaman. Jarang ada orang yang senang dengan cara duduk seperti ini. Kecuali pada saat tertentu seperti saat seperti penahbisan majelis, peneguhan pendeta dll, namun tidak dilakukan secara penuh (bersimpuh) melainkan lututnya yang menjadi tumpuan (setengah berlutut). Tetapi di dalam Alkitab, dikisahkan ada seorang perempuan (Maria) yang duduk bersimpuh dekat kaki Tuhan. Perikop Lukas 10:38-42 diberi judul oleh LAI : Maria dan Marta. Firman Tuhan ini menceritakan bagaimana Maria dengan setia datang  duduk bersimpuh di hadapan Tuhan Yesus dan mendengarkan firmanNya. Siapakah Maria ini? . Maria adalah orang yang pernah mengurapi Tuhan Yesus, yang kisahnya akan kita renungkan hari ini secara mendalam. Kisah Maria yang mengurapi kaki Tuhan Yesus ditulis pada 3 kitab Injil (kecuali yang ditulis pada Injil Lukas). Namun kali ini hanya akan diambil dari Yoh 12:1-8 (Perikop LAI : Yesus Diurapi di Betania).
Jika kita mengingat kronologi dari kisah ini yang dicatat oleh kitab Injil Yohanes, Tuhan Yesus sedang duduk bersama Lazarus. Ia adalah  saudara laki-laki Maria dan Marta dan  pernah menderita penyakit kusta lalu mati. Setelah itu ia dibangkitkan Yesus. Peristiwa ini membuat Tuhan Yesus dikejar-kejar oleh  ahli Taurat , orang-orang Farisi dan Yahudi saat itu. Karena tidak berhasil mengejar, maka dikeluarkan perintah agar siapa yang menjumpai Tuhan Yesus agar dibawa kepada ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka tidak senang karena peristiwa itu membuat orang Yahudi percaya pada Tuhan Yesus. Namun perintah ini tidak menjadi halangan bagi Lazarus untuk menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan sehingga ia mengadakan perjamuan makan kepada Tuhan Yesus di rumahnya. Ia tidak takut dengan penguasa saat itu.
Peristiwa ini terjadi di Betania, sebuah kota yang menurut catatan Markus  11:1 terletak di bukit Zaitun terletak di lereng gunung dan berjarak beberapa mil dari Yerusalem. Saat itu tepat 6 hari sebelum orang Yahudi merayakan (ibadah) Paskah mereka yang tentunya diadakan di Yerusalem. Tuhan Yesus berada dengan murid-muridNya di sana. Penduduk kota ini cukup ramah dibanding dengan penduduk kota Yerusalem dalam menerima Tuhan Yesus sehingga Tuhan Yesus aman di sana. Perjamuan ini diadakan untuk menghormati Tuhan Yesus, padahal  para imam yang saat itu bersama-sama dengan orang Yahudi sedang mengeluarkan perintah untuk membawa Tuhan Yesus. Dengan demikian Lazarus sedang melawan perintah penguasa (duniawi). Saat itu Marta melayani sedangkan Maria tidak demikian. Luk 10:38-42 Maria datang dan duduk bersimpuh dekat kaki Tuhan Yesus dan mendengar perkataanNya. Apa yang dimiliki Maria sehingga ia mampu melakukan hal ini (bersimpuh dekat kaki Tuhan Yesus) ? Tindakannya ini bahkan dipuji oleh Tuhan Yesus sendiri. Itu karena ia memiliki hati seperti apa?

Hati Maria

1.    Maria memiliki hati yang mengasihi yang menimbulkan tindakan yang menakjubkan dan tidak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendorongnya melakukan tindakan ini. Ia melakukannya dengan tulus hati. Saudaranya Marta sedang melayani, mempersiapkan di dapur hal-hal yang dibutuhkan oleh tubuh jasmani. Berbeda dengan Marta, ia mengambil setengah kaki minyak narwastu murni yang mahal harganya. Sedangkan Matius mencatat sebagai buli-buli pualam yang berisi minyak wangi. Minyak narwastu hanyalah sebuah nama produk saja. Markus mencatat  hal yang sama dengan Matius. Bedanya Markus menyebut nama minyak wangi (sama seperti yang disebut oleh Yohanes) yakni minyak narwastu yang murni dan mahal harganya. Dari kalimat yang kita baca, ada disebutkan kaki. Kati merupakan ukuran atau takaran berat yang digunakan oleh orang Romawi saat itu. Bila disesuaikan dengan ukuran (timbangan) yang sekarang dipakai di Indonesia yaitu 1 kaki = 6,25 ons , jadi kalau 1/2 kati beratnya  sama dengan 3 ons lebih. Itu minyak yang dimiliki Maria saat itu. Menurut tradisi Yahudi, minyak narwastu adalah minyak yang paling berharga dimiliki seorang gadis kala itu. Baunya sangat wangi dan digunakan sewaktu seorang gadis mengadakan pesta pernikahannya. Minyak wangi ini dituangkan ke wajah perempuan. Minyak wangi yang begitu harum dan berkualitas, harganya mahal. Seperti yang dikatakan Yudas,”Harga dari sebuah minyak narwastu kira-kira 300 dinar (1 dinar = nilai upah seorang pekerja harian dalam sehari, bila upah 300 dinar maka besarnya 1 x 300 dinar. Bila upah harian Rp 50.000 maka berarti 300 dinar x Rp 50.000 / hari atau seharga Rp 15 juta). Itu kalau Rp 50.000 namun sekarang lebih tinggi dari itu. Jadi minyak wangi setengah kati ini sangat mahal. Seorang gadis yang belum mampu membelinya, dia pasti menabung entah berapa tahun demi minyak ini sebagai persiapan pesta pernikahan. Ini satu-satunya barang berharga yang dimiliki gadis Yahudi seperti halnya Maria. Dengan tindakannya Maria menunjukkan kasihnya kepada Tuhan Yesus.

2.    Hati yang rela, hati yang iklas melakukan apapun tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Itu yang dilakukan Maria. Kendatipun Tuhan Yesus dikejar-kejar orang Farisi saat itu, tetapi ia tidak mau menghiraukannya. Tetapi Maria mau mengambil minyak dan memberikannya pada Tuhan Yesus. Ia memberikanNya dengan tindakan membuka minyak yang dimiliki dan melakukan urapan pada saat itu. Ia meminyaki Tuhan Yesus saat itu. Ada yang mengatakan dimulai dari kepalaNya. Injil ada yang mencatatnya dari kepala dan ada juga yang mengatakan dari kaki. Ketiga Injil  mencatat dan saling melengkapi. Intinya Maria mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak yang mahal. Minyak yang sedemikian rupa, satu-satunya dimiliki dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Ia tidak memikirkan minyak ini sebagai barang yang dibeli dengan cara mengampilkan. Padahal minyak ini dibeli dengan harga mahal dan lama sudah ia mengumpulkan uang untuk membelinya. Tetapi Maria mau memberikannya kepada Yesus. Tidak berhenti di situ saja. Setelah melakukan pengurapan, ia menyeka kaki Tuhan Yesus, melap kakiNya dengan menggunakan rambutnya. Bagaimana dengan kita? Jangankan kaki orang lain, ada yang rela membersihkan kaki dengan rambutnya. Padahal rambut adalah sesuatu yang sangat berharaga. I Kor 11:15 adalah kehormatan bagi perempuan untuk memiliki rambut panjang. Rambut adalah anggota tubuh yang sangat berharga bagi dirinya, tetapi Maria mau menggunakan untuk melap kaki Tuhan Yesus.
Minyak Narwastu yang satu-satunya barang berharga yang berguna untuk pesta di masa depannya diberikan pada Tuhan Yesus dan rambutnya adalah bagian tubuh yang dimiliki, direlakan dan digunakan untuk Tuhan Yesus. Ia tidak memikirkan harga yang mahal dan rambutnya yang begitu penting. Tetapi ia merelakannya. Ia tidak memikiran apa yang menjadi kemuliaan Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus lebih mulia dari diriNya. Maria lebih memilih dan mengambil kesempatan untuk bersama dengan Tuhan Yesus dan juga untuk mendengarkanNya (Lukas 10). Maria telah mengambil kesempatan yang baik yang hanya ada saat itu (di saat lain belum tentu ia mendapatnya). Ia memberikan apa yang dimiliki pada Tuhan Yesus. Maria yang mengasihi Tuhan Yesus membuat ia memiliki hati yang rela untuk memberikan apa yang dimilikinya ke Tuhan Yesus. Melalui kisah Maria ini, kita dibawa pada kesadaran akan kasih itu sendiri yaitu kasih yang memiliki totalitas, kasih yang rendah hati dan sadar tidak akan mementingkan diri sendiri.

Penutup

                Dalam tradisi Jawa keraton, ada abdi dalam di sebuah kerajaan (keraton) dan melayani dalam keraton tersebut. Mereka berjalan bukan dengan cara biasa. Mereka berjalan sambil bersimpuh. Betapa mereka menghormati junjungannya. Mereka hidup sederhana dan tidak digaji mahal. Banyak dari mereka ingin melayani. Karena sebuah kebanggaan bagi mereka menjadi abdi dalam. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi abdi dalam.
Di sebuah gereja kecil di kota Roma (Skala Santa) , ada tangga kudus. Ini mengingat masa kesengsaraan Tuhan Yesus. Melambangkan Tuhan Yesus sebelum disalib pernah menaiki sebuah gunung. Ada gambar Tuhan Yesus disalib dan bejana tabernakel yang terbuat dari emas. Lalu cara menaiki tidak dengan berjalan tetapi bersimpuh. Mereka mau melakukannya karena mereka mengasihi dan ada sosok yang dikasihi seperti Tuhan Yesus. Mungkin banyak motivasi yang mereka miliki. Mereka membawa pergumulan dan berdoa. Mereka memberi diri dengan cara seperti itu dan mereka mau datang kepada Tuhan walaupun kita tidak setuju dengan cara seperti ini. Mereka datang dan memberikan waktu dan diri mereka untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus.
                Kita bisa melihat ilustrasi bagaimana mereka mengorbankan diri mereka pada orang yang dikasihi. Sebagai orang percaya kita bisa melakukan hal yang lebih dari ini. Karena hidup untuk mengasihi Tuhan terus menerus. Tetapi terkadang diri kita terlalu egois. Kita sering memikirkan diri kita. Bagaimana kalau saya mengambil pelayanan dalam waktu saya? Bagaimana setiap pagi harus melakukan renungan padahal harus sibuk memasak? Tetapi firman Tuhan mengingatkan kita kembali. Mari kita bersama mengasihi Tuhan , memberikan waktu kita untuk mendengarkan Tuhan melalui doa pribadi dan saat teduh kita. Waktu kita hanya utnuk Tuhan. Sudahkah kita memiliki hati yang mengasihi Tuhan seperti Maria? Sudahkan kita memiliki hati yang mau mengasihi atau seperti Marta? Apakah sekarang kita tidak mampu mengasihi Tuhan oleh karena dunia yang sedang menindas kita dan membuat iman kita jauh dari hadapan Tuhan? Apakah kita telah dikalahkan dunia atau sebaliknya kita mengalahkan dunia yang sedang berkuasa saat ini? Adakah kita lebih mengasihi apa yang lebih berharga yang kita miliki daripada mengasihi Tuhan  dan mengobankan apa yang dimiliki pada Tuhan? Dengan cara apa? Dengan cara mengasihi sesama kita juga. Apakah pernah kita menyia-nyiakan kesempatan yang kita miliki untuk menunjukkan kasih kita kepada Tuhan dengan mengasihi orang lain juga? Atau kita tidak mau melepaskan apa yang sedang kita idamkan padahal di kala ada orang yang jauh lebih membutuhkan kasih kita. Mari kita merenungkan hal itu.             Jika kita masih belum, maka mintalah ke Tuhan agar Dia memampukan kita agar kita memiliki hati yang mau mengasihi sehingga kita memiliki hati yang rela sehingga orang lain bisa melihat totalitas dari hati tersebut dalam kerendahan hati. Mari bersama kita memilih mendengarkan firman Tuhan lebih utama dari yang lain dan menerapkannya dalam hidup kita. Setelah pulang, mari kita siap menjadi orang yang telah bersimpuh di kaki Tuhan dan yang olehNya kita mampu memiliki hati yaitu hati yang mengasihi dan hati yang rela. Sebelum mengasihi manusia, jangan pernah kita katakan bahwa kita sudah mampu mengasihi Tuhan dan memberikan apa yang kita miliki kepada Tuhan. Kualitas dan kemampuan kita mengasihi Tuhan bisa dilihat dari tindakan kita sehari-hari. Kiranya setelah pulang dari kebaktian kita mampu mengalahkan dunia yang ingin mengatur kita dan kita katakan kepada dunia bahwa engkau seharusnya di bawah kendali kami. Amin.
                

Tuesday, November 8, 2016

Kisah Seorang Penabur


Ev. Susan Kwok

Mat 13:1-23
1  Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
2  Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
3  Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
4  Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
5  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
6  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
7  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
8  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
9  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
10  Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
11  Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
12  Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
13  Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
14  Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
15  Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
16  Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.
17  Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.
18  Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
19  Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
20  Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
21  Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
22  Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
23  Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Pendahuluan

                Agar mudah mengingat firman Tuhan yang tercantum pada Mat 13:1-23 (perikop paralel Markus 4:1-20 dan Lukas 8:4-15), kita dapat menyanyikan lagu Kisah Seorang Penabur.

Ada tanah yang keras di pinggir jalan. Ada tanah berbatu-batu.
Ada tanah yang penuh belukar duri. Hingga benih tak dapat tumbuh
O Tuhan jadikanlah hatiku lembut. Sperti tanah yang baik dan subur
Agar benih FirmanMu. Dapat bertumbuh – berbunga dan berbuah lebat

Perumpamaan tentang penabur adalah satu di antara sejumlah perumpamaan yang dicatat dalam ketiga Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas]. Benih yang ditaburkan adalah “firman tentang Kerajaan” (Matius13:19), “firman” (Markus 4:14) atau “firman Allah” (Lukas 8:11).

                Saat berdoa saya menyampaikan hal yang merupakan isi hati saya,”Selama menjadi orang percaya, saya mungkin sudah mendengarkan kisah ini lebih dari 20 kali. Saat membacanya, saya sering bertanya dalam hati, ‘Apalagi yang Tuhan mau ajarkan kepada saya? Kalau Tuhan mau mengajar 20 kali, bagaimana respon hati saya?’” Ada empat respon yang mungkin diambil yakni : 1. Mendengar-lupa;  2. Mendengar - bertumbuh sebentar - lalu lupa; 3.  Mendengar – ingat - melakukan tetapi saat mengalami kesusahan, dikatakan bahwa firman ini tidak cocok untuk saya; 4. Saya terus berjuang untuk melakukan firman ini. Mungkin saya bisa berdiri di antara semak belukar atau bertumbuh di semak duri karena  di ladang gandum juga ada lalang. Ataukah saya akan setia sampai mati? Ketika membaca firman Tuhan, apa yang kita mengerti tentang firman Tuhan? Sebelum Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang penabur , pada Mat 13:2a dikatakan Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia. Berarti pada saat itu banyak orang yang mengerumuni, mencari dan bertanya pada Dia. Apa motivasi mereka? Orang yang mengikut Tuhan Yesus banyak sekali. Di pasal-pasal sebelumnya dicatat Tuhan Yesus sudah membuat begitu banyak mujizat dan perkara ajaib di mana orang yang buta menjadi celik, yang lumpuh berjalan, yang terikat kuasa gelap dilepaskan. Semua orang senang melihatnya dan tidak ada orang yang mau melihat hal-hal yang tidak baik. Itu sebabnya semua orang yang melihatnya kemudian mengikuti dan mengerumuni Yesus. Alasannya hanya satu yaitu mereka ingin terus melihat mujizat-mujizat dan mengalami hal-hal yang baik dan mengherankan dari Tuhan. Di antara orang – orang yang berbondong-bondong itu ada yang sedang sakit atau bermasalah. Mereka ingin agar mereka ditolong oleh Tuhan. Hal tersebut tidak ada salahnya. Yang salah kalau motivasi ikut Tuhan berhenti sampai di sana. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi banyak perumpamaan. Mereka kemudian berharap Tuhan memberikan mujizat yang lain karena yang sebelumnya tidak cukup. Sehingga Tuhan marah dan menegur mereka,”Kamu ini angkatan dan generasi yang jahat. Kamu sudah melihat tapi hatimu tidak percaya. Kamu hanya sekedar melihat, kamu tidak bertumbuh dari orang yang biasa saja menjadi orang yang militan bagi Tuhan.” Sehingga Tuhan berkata, “Kepada mereka hanya diberikan tanda Yunus.” Nabi Yunus yang membangkang dihajar oleh Tuhan melalui ciptaan-ciptaan yang lain. Dengan demikian kita melihat bahwa perumpamaan tentang penabur ini adalah cerita yang Tuhan Yesus sampaikan untuk mengeritik , mengorek, menegur hati mereka sekaligus untuk menguatkan hati orang-orang yang sudah percaya. Tuhan mengajak kita untuk mengintrospeksi diri. Hatimu seperti apa saat mendengar firman Tuhan? Setiap minggu kita datang ke gereja dan menanyakan hal yang sama, sesudah mendengar firman untuk apa dan sesudah mendengarnya lalu apa? Lebih bertumbuh, berhikmat dan lebih mencintai Tuhan?

1.    Menabur benih yang jatuh di pinggir jalan

          Mari melihat kisah ini pada Matius 13:3-4. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Pada ayat 18-19, Yesus memberi pengertian bahwa benih yang jatuh di pinggir jalan adalah orang yang mendengar firman, tapi tidak bertumbuh dan iblis dengan mudah mengambilnya dan benihnyapun mati. Benih itu tidak sempat tumbuh karena firman Tuhan betul-betul tidak mendapat tempat di dalam hatinya sehingga firman Tuhan tidak masuk dan berakar. Sebagai orang Kristen, kapan firman tidak mendapat tempat dalam diri kita? Ketika kita berkata, “Khotbah itu bukan untuk diri saya tapi untuk orang lain. Itu tidak relevan untuk saya tapi untuk dia.” atau “Hamba Tuhan-nya terlalu sombong rohani sehingga tidak cocok untuk saya. Firman nya tidak cocok untuk saya sehingga tidak mendapat tempat dalam hati saya.” Kalau tidak merasa cocok, bagaimana mungkin membaca  firman Tuhan, melakukan saat teduh dan mempelajarinya? Bagaimana keluarga bisa mencintai Tuhan? Bagaimana mungkin sebagai pekerja di kantor mau menceritakan tentang Tuhan? Seharusnya hidupnya memperlihatkan ciri-ciri sebagai orang yang percaya Tuhan. Kalau firman tidak tumbuh maka ia akan mati.

2.     Menabur benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu.
          Matius 13:5-6  Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Benih itu jatuh di tanah yang berbatu-batu yang permukaan tanahnya tipis sehingga benih itu cepat bertumbuh. Dia tidak perlu berjuang keras untuk menembus tanah karena tanahnya tipis. Tetapi ketika matahari mulai terbit dan terik (pk 11-12) karena akarnya tidak kuat, maka membuat dia tidak tahan sehingga menjadi layu dan mati. Tuhan Yesus memberitahu arti benih yang jatuh ke tanah berbatu-batu. Mat 13:21  Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.  Orang yang menerima firman Tuhan dengan gemibira tetapi mereka tidak mengerti ada harga yang harus dibayar untuk pertumbuhan yang baik. Setelah menerima firman, ia menganggap sudah selesai. Easy-going terhadap hal-hal yang bersifat rohani. Dia bertumbuh sebentar lalu mati. Rasul Pualus berkata, “Ketika gereja harus mencari seorang penatua, majelis atau pelayan jangan mencari orang yang baru betobat.” Apakah Rasul Paulus menganggap bahwa orang yang baru bertobat tidak rohani? Rasul Paulus ingin agar orang yang baru bertobat menjadi matang dan dewasa terlebih dahulu. Saat betobat, sukacitanya luar biasa.  Saat mendengar firman Tuhan, ia berkonsentrasi penuh dan cepat menangkap maksudnya. Kalau tidak paham, langsung mencari hamba Tuhan dan bertanya apa maksudnya. Keitka hamba Tuhan memberinya buku rohani , langsung dibaca karena ingin tahu. Pertobatan hanyalah awal perjalanan karena masih harus menjalani proses pembentukan. Mengapa ada orang yang baru 2 tahun dibaptis lalu pindah kepercayaan? Rasul Paulus tidak bermaksud mengecilkan orang yang bertobat. Itu bagus tapi harus dimatangkan. Tanah yang berbatu-batu tetap punya potesi untuk tumbuh. Masalahnya harus dibarengi dengan menggali firman Tuhan . Ibarat benih di tanah berbatu-batu, tanah hatinya tidak mau digarap, tidak mau repot untuk menginvestasikan hal-hal yan bersifat rohani. Zaman sekarang kita diperhadapkan pada semangat untuk berinvestasi fisik lebih tinggi dibanding memikirkan hal-hal yang bersifat rohani.

3.    Menabur benih yang jatuh di pinggir jalan

          Matius 13:7  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.  Benih jatuh di tanah yang bersemak belukar. Tanahnya cukup baik, tetapi benih tidak dapat bersaing dengan semak belukar sehingga mati. Pada Matius 13:18-19, Tuhan Yesus memberi arti bahwa orang ini mendengar firman Tuhan tapi tidak berbuah. Penderitaan dan kekecewaan menghimpit proses pertumbuhannya. Saya suka menanam di ladang yang kecil. Tiap malam tumbuh tanaman yang tidak saya tanam. Mungkin berasal dari ada benih tanaman lain yang tertiup angin. Sehingga saya selalu memperhatikan tanaman yang merusak saya cabut, supaya tanaman yang saya tanam tidak mati. Ketika firman Tuhan ditaburkan di tanah, memang tidak selalu tanahnya bebas dari semak duri dan belukar. Benihnya bisa bertumbuh, tetapi semak itu bisa mengalahkan benih yang baik. Tantangan dari dalam bisa menjadi ‘semak belukar’ dan menghimpit pertumbuhan iman seseorang. Eka Darmaputera (1942-2005), seorang pendeta yang sangat dihargai di lingkungan gereja di Indonesia (di GKI benar-benar diakui), merupakan seorang hamba Tuhan yang semasa hidupnya mengamati hal-hal terkait politik di negara kita. Saya pernah bertemu dengannya di suatu kebaktian penghiburan. Ia seorang yang pintar namun ketika itu ia tengah menderita kanker stadium 4. Walau tidak kenal baik, saya senang membaca bukunya. Ketika malam itu berjumpa saya bertanya, “Pak, bangaimana kesehatannya?” Kepada orang yang tidak benar-benar beriman, belum tentu saya berani bertanya, “Ada kemungkinan sembuh?” Dia menjawab, “Secara logika tidak mungkin sembuh.” Saya bertanya lagi,”Lalu apa kegiatan setelah menjalani kemoterapi?” Dia lalu berkata, “Yang mungkin saya bisa hadapi akan saya hadapi. Tetapi puji Tuhan sampai hari ini saya tetap berjuang dan berhasil menerima kondisi saya dan tetap berkarya dan pergi pelayanan.” Sebulan kemudian ia meninggal. Hidup itu penuh belukar dan semak duri yang selalu ada di sekitarnya. Kadang kebencian terhadap orang lain bisa menjadi semak duri dan belukar itu. Semura orang melakukannya, padahal itu tidak sesuai dengan firman Tuhan. Bisa jadi eksklusifme (yang paling penting diri sendiri). Menurut Pak Eka, “Justru tantangan dari diri sendiri hanya pikirkan diri sendiri. Itu jauh lebih berbahaya.”

4.    Menabur benih yang jatuh di tanah yang baik.

Matius 13: 28 8  Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Benih jatuh di tanah yang baik akan bertumbuh dengan subur dan berbuah berlipat-lipat. Tanah yang baik dan bertumbuh adalah orang yang mendengar firman , belajar mengerti firman (mungkin tidak semua dia mengerti) dan melaksanakannya. Ketiganya sepertinya mudah dan ada di proses pertumbuhannya. Saat kita tidak mengerti , kita mau menggali dan bertanya. Kita tidak menjadi jemaat yang acuh saja. Jangan berpikiran, “Untuk apa buang waktu supaya mengerti dan mau melakukannya?” Apakah selalu kita harus melakukannya? Itu bukan bagian saya (saya tidak termasuk). Saya merasa tidak bisa untuk membuka diri untuk melakukannya. Karena dengan membuka diri berarti ada hal yang harus dibayar dan dikorbankan. Hasilnya tidak mengarah ke hal yang bersifat materi. Kalau hati kita tanah, maka tanah hati kita seperti apa? Apa serta merta tanah menjadi lebih baik? Tidak. Kalau tanah ialah tanah di pinggir batu maka kita selalu mengalah pada dunia. Terkadang dengan mengalah kita mengorbankan hal-hal yang benar.
Contoh praktis : Ketika anak seorang aktifis gereja masuk kuliah saya bertanya,”Mengapa kamu ingin menyekolahkan anakmu di sana?” Ia terdiam. Ia punya tujuan untuk memberikan sekolah yang bagus untuk anaknya. Ia menjawab,”Supaya anak saya bisa bertemu dengan siswa-siswi yang berlatar belakang keluarga yang berada, keren dan beken sehingga mungkin diangkat jadi menantu”. Bagaimana kalau ada aktifis menjawab seperti tadi? Mengikuti aktivitas gerejawi tidak pernah menjamin kerohanian seorang aktifis. Kita jangan lagi tertipu untuk mengikuti aktivitas rohani. Kita harus ingat bahwa Tuhan tidak bisa ditipu dengan mengucapkan 1.001 macam alasan. Ia tidak bisa ditipu dan disogok. Ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan ini mereka bertanya, “Guru mengapa Engkau memberikan perumpamaan?” Orang sekarang ada yang mendengar khotbah merasa berat sekali dan bisa jatuh tertidur. Apalagi, kalau dengar firman tidak masuk ke dalam hati. Ia hanya menangkap sekedar kesaksian tentang hidup. Hati-hati dengan spirit ini. Suatu hari kita bisa tertipu. Lalu Tuhan Yesus mengatakan, “Begini muridku. Dari zaman dulu, mereka sudah dikasih tahu. Namun mereka masih tidak mau menerima. Buktinya walau Tuhan Yesus sudah membuat banyak mujizat mereka masih tidak percaya dan hatinya tertutup. Maka “hanya orang yang mau belajar mengerti dan bersedia diajar yang dapat menerima firman” Jangan sampai orang yang mendengar tidak bisa mengerti. Cahaya yang sudah diberikan itu mereka tutup sehingga sinarnya tidak kelihatan.

                Kisah seorang penabur ini sebenarnya menggambarkan hati kita. Bagaimana kita harus berespon sepanjang hidup? Saat jatuh harus berdiri lagi dan berbicara pada Tuhan. Ada seorang penulis Kristen yang digantung oleh Adolf Hiler (1889-1945). Ia menulis, “Orang Kristen merasakan anugerah. Anugerah Kristus dalam hidup bukan murahan. Tetapi yang berharga adalah menciptakan orang Kristen yang tidak manja/cengeng/tidak berani berjuang dan murah hati. Seringkali kita membuat diri kita menjadi orang Kristen yang murahan. Pdt Eka Darmaputera, “Mungkin dalam banyak hal kita tidak bisa mengalahkan dunia dan merasa kecil  bila dibandingkan orang lain. Minimal untuk diri sendiri harus sehat. Kita harus tahu apa spirit dunia ini supaya hati terus digarap oleh Dia.”

Kesimpulan

Kisah Seorang Penabur merupakan perumpamaan yang menceritakan tentang seorang penabur benih yang menaburkan benihnya. Yesus sendiri yang menjelaskan tentang perumpamaan ini kepada murid-muridNya saja. Penabur yang menaburkan benih adalah orang yang menaburkan Firman Tuhan. Benih yang jatuh ke tanah adalah "firman tentang Kerajaan Sorga" yang masuk ke hati manusia. Benih yang ditaburkan jatuh ke empat jenis tanah (melambangkan jenis hati manusia):
1.     pinggir jalan. Benih yang jatuh di sini diinjak orang (Injil Lukas) dan dimakan habis oleh burung. Hal ini melambangkan hati orang yang tidak mengerti firman yang dikabarkan dan datanglah si jahat (iblis) yang merampas firman tersebut dari hatinya, "supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan" (Injil Lukas)
2.     tanah yang berbatu-batu. Benihnya bertumbuh dengan cepat tetapi segera layu dan kering karena tidak berakar (Injil Matius dan Markus) dan tidak mendapat air (Injil Lukas). Hal ini melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut dan menerimanya, namun ia tidak tahan pencobaan, dan apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
3.     semak duri. benih di tengah semak duri terhimpit hingga mati dan tidak berbuah (Injil Markus). Hal ini melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut tetapi terbuai oleh hal-hal duniawi (kekuatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, kenikmatan hidup) menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

4.   tanah yang baik. benih di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat (Injil Matius dan Markus), ada yang tiga puluh kali lipat (Injil Matius dan Markus). Hal ini melambangkan hati orang yang mendengar firman tersebut dan mengerti (Injil Matius) atau menyambut (Injil Markus) firman tersebut dan menyimpannya dalam hati (Injil Lukas) dan mengeluarkan buah. 

Kembali ke Alkitab (Back to Bible)


Pdt. Jonathan Lo

Mat 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
Lukas 8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."
Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

Pendahuluan

                Besok (31 Oktober) kita akan memperingati pembaruan (reformasi) yang dilakukan oleh Tuhan pada abad 16  (tahun 1517). Gerakan Reformasi ini dimulai di Jerman dan diprakarsai oleh Martin Luther (1483-1546). Pengalaman Martin Luther diharapkan menjadi pengalaman hidup kita juga.
Khotbah ini diawali dengan pertanyaan sederhana yang seringkali saya tanyakan kepada diri sendiri,”Mengapa kita ke gereja?” Mungkin sebagain orang menjawab, “Saya ke gereja untuk menyembah Tuhan.” Jawaban ini tidak salah. Tetapi apakah setelah kita ke gereja, hidup kita telah mengalami perubahan? Apakah setelah ke gereja , membuat hidup kita lebih baik, lebih mengenal dan mencintai Tuhan? Faktanya, banyak orang yang telah bertahun-tahun ke gereja tetapi hidupnya tidak mengalami perubahan. Saya pernah menghadiri sebuah ibadah kedukaan di mana orang tuanya belum percaya kepada Tuhan Yesus dan saya baru tahu saat itu dan kemudian saya bertanya ke teman yang berada di samping saya. Saya tahu orang yang meninggal ini anaknya sudah lama percaya kepada Tuhan Yesus dan bahkan sudah memberitakan firman Tuhan. Mengapa orang tuanya tidak percaya Tuhan? Memang percaya Tuhan adalah kedaulatan Tuhan. Tetapi mengapa anaknya bertahun-tahun hidup bersama orang tuanya namun orang tuanya tidak percaya? Teman itu menjawab, Begitulah. Bahkan mamanya pernah berkata, ‘Jikalau Tuhan Yesus adalah Tuhanmu maka seumur hidup saya tidak akan percaya kepada Tuhan!’” Mengapa mamanya berkata begitu? Hidup anaknya tidak mencerminkan hidup Yesus dalam hatinya. Mamanya melanjutkan, “Jikalau Tuhan Yesus tidak mampu mengubah hatimu, buat apa percaya kepada Tuhan?” Seminggu lalu, saya berdialog dengan seorang yang telah bertahun-tahun ke gereja dan mampu memberitakan firman Tuhan. Ia berkata, “Saya punya kebencian terhadap orang ini. Dan sekarang saya bertemu dengan orang yang mirip orang itu lagi. Dan orang itu melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang yang saya benci itu. Maka saya membenci orang itu” Saya berkata, “Doakan dia.” Dia menjawab,”Tidak bisa Pak! Masih sulit sekali” Saya berkata, “Jikalau hatimu membenci orang lain bagaimana engkau bisa melayani orang lain?” Itu realita. Seringkali kita ke gereja, tetapi tidak mengalami perubahan dalam hidup kita.  Seringkali apa yang kita tahu hanya berada dalam wilayah otak saja, tetapi tidak menyentuh ke dalam hati kita. Kalau kita sudah lama ke gereja, banyak hal yang sudah kita ketahui. Tetapi yang menjadi persoalan, apakah benih firman Tuhan itu jatuh ke tanah yang subur, kemudian berbuah dan menghasilkan berlipat-lipat. Itulah perumpamaan Tuhan Yesus terhadap orang banyak yang mendengarkan firman Tuhan. Belum tentu hidupnya diubahkan oleh firman Tuhan, kecuali firman yang jatuh di tanah yang subur. Dari perumpamaan Tuhan Yesus, ada beberapa hal yang sama, tetapi ada juga yang berbeda dan hasilnya pun berbeda.

Firman yang Mengubah Hidup

                Tuhan Yesus mengatakan ada penabur yang menaburkan benih yang jatuh di tempat yang berbeda-beda. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di semak dan ada yang jatuh di tanah yang subur. Pada perumpamaan ini hal yang pertama diketahui adalah benihnya memiliki kualitas yang baik. Penabur tidak memilih-milih benih. Karena kualitas benih hanya dipercayakan ke penabur. Benih itu adalah firman. Tuhan mengajarkan firman dan itulah benih yang baik dan berasal  dari Tuhan yang nantinya menghasilkan yang baik. Penaburnya juga sama. Penabur yang sama, benih yang baik tetapi menghasilkan buah yang berbeda. Yang menjadi persoalan ialah tanah yang berbeda. Ada bebatuan, ada tanah yang subur dan ada yang tidak punya tanah. Tanah adalah diri kita dan Matius menjelaskan ada orang yang mendengar dan mengerti firman. Lukas mengatakan mereka yang mendengar dan menerima (menyambut) firman Tuhan. Itulah tanah yang subur yaitu orang yang punya kerendahan hati, dan hati yang terbuka untuk mendengar firman Tuhan sehingga firman itu masuk ke dalam hidupnya dan menyatu dengan dia. Hasilnya ada buah yang sesuai benihnya. Apa yang ditabur, itulah hasilnya. Tidak mungkin menabur apel tumbuhnya pepaya atau nanas. Apa yang ditabur, kualitas hasilnya sesuai dengan   benih yang ditaburkan. Hasilnya adalah dari benih itu hanya bentuknya berbeda. Baik Matius, Markus maupun Lukas mencatat, “Kalau hidup ada firman, maka firman akan mengubah kita dan menghasilkan buah yang hidup sesuai dengan firman. Bukan buah kita tetapi buah firman. Apa yang dari benih sudah menyatu dari firman maka otomatis hidup kita akan keluar dari benih firman itu. Itu yang mengubah hidup seseorang.
                Jemaat Berea adalah suatu jemaat yang masih baru pada waktu Rasul Paulus memberitakan Injil kepada mereka. Alkitab mengatakan bahwa mereka percaya pada firman Tuhan. Pengertiannya sama dengan yang dicatat oleh Lukas. Mereka percaya. Percaya artinya menyambut dan menerima. Setelah percaya, mereka pulang ke rumah, meyelidiki firman dan hidup buat di dalam firman. Saat ada penganiayaan mereka tidak pernah takut karena firman meneguhkan hati mereka. Jemaat Tesalonika juga seperti itu. Rasul Paulus 3 minggu berturut-turut berkhotbah pada mereka. Mereka menyambut firman Tuhan dengan sukacita. I Tes 2:13  Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi  —  dan memang sungguh-sungguh demikian  —  sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya. Apa yang terjadi? Di tengah jemaat Tesalonika, setelah 3 minggu mereka menerima firman Tuhan dan belum dibaptis, belum menjadi pengurus gereja dan menjadi pemberita firman.  tetapi hidup mereka berdiri teguh dengan firman Tuhan walau ada penganiayaan. Rasul Paulus mengatakan bahwa firman dikerjakan oleh Roh Kudus di tengah-tengah penindasan yang kamu alami. Yang membuat orang tahan uji, karena kehadiran Roh Kudus  dan firman dalam hati kita. Membuat hidup kita bukan lagi si aku yang hidup tetapi Kristus yang telah berkuasa dalam hidup saya. Itulah hidup yang diubahkan oleh firman Tuhan.
                Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Rasul Paulus mengatakan,”Perkatan Kristus adalah rhema. Banyak orang Kristen salah mengerti tentang rhema. Rhema adalah firman yang tertulis dan dihidupi oleh Roh Kudus dan firman itu menjadi milikku. Banyak orang yang berdoa dan bermimpi lalu Tuhan berbicara kepadanya dan itu dikatakan sebagai rhema. Itu bis amenyesatkan. Mimpi itu sesuatu yang bersifat subjektif yang tidak bertanggung jawab terhadap keyakinan mereka bahwa Tuhan berbicara kepada mereka. Rhema kuasa firman yang bekerja menghidupkan firman yang tertulis dan firman itu bukan firman yang di memimpin dan luar hidup saya tetapi bergabung dan menyatu dengan hidup saya. Pada waktu orang memiliki firman , orang tersebut memiliki iman. Waktu orang memiliki firman maka orang itu memiliki sukacita dan harapan yang ada di dalam Kristus. Firman merupakan segalanya dalam hidup kita. Oleh karena itu Rasul Paulus mengatakan firman itu berdiam dan  berdiam itu bukan pasif tetapi menguasai kita. Berdiam itu bukan sesuatu yang hanya menduduki suatu tempat tetapi tidak punya pengaruh. Berdiam berarti firman berotoritas dan tertuang dalam hidup kita sehingga hidup kita berubah. Seringkal kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai hamba dan bukan tuan. Kita menghendaki Tuhan Yesus melakukan sesuatu (apa) yang kita mau , jadi Tuhan Yesus itu seorang hamba. “Tuhan Yesus aku mau ujian besok tetapi tidak mempersiapkan dengan baik, Tuhan Yesus tolongalah.” Kalau tidak mau tolong lalu ngambek. “Tuhan saya mau usaha. Tuhan Yesus tolong buat aku berhasil.” Tuhan Yesus menjadi hamba untuk memenuhi apa yang kita kehendaki. Kita tidak boleh memerintah Tuhan Yesus, karena firmanitu  berdiam dalam hati, Firman mengambil tempat dan menguasai hati. Firman itu mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan. Dengan kehadiran firman itu maka hidup kita bukan lagi sebagai tuan melainkan firmanTuhan. Kehadiran firman membuat kita menyangkal diri dan memikul salib. Yang mengendalikan saya adalah firman Tuhan yang  mengubah saya.

Kesukaanku adalah Firman Tuhan

Pada dasarnya hati kita tidak suka pada firman. Pada dasarnya human nature kita tidak pernah mau mencintai firman Tuhan. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan selalu berlawanan dengan apa yang kita kehendaki  dan apa yang dipikirkan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita pikirkan, kita tidak pernah mencintai Tuhan kecuali Roh Kudus bekerja dalam hati kita. Pemazmur pada Maz 1 berkata, “Kesukaanku adalah firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam”. Itu adalah manusia baru. Hidup manusia baru yang sudah memiliki firman , maka hidupnya dipimpin firman Tuhan. Yang menciptakan kerinduan hati  dan pikiran yang dikuasai oleh firman Tuhan. Itu baru manusia baru. Manusia lama menghendaki hidup kita menurut daging, menurut manusia dan tidak pernah suka pada firman Tuhan. Untuk mengevaluasi jemaat bertumbah di dalam firman Tuhan atau tidak, yaitu sampai seberapa jauh mereka merindukan, mencintai dan hidup dalam firman Tuhan. Setiap pagi bangun , yang dipikirkan seberapa banyak untung yang didapat. Itu pikiran masih duniawi, walau kita memang perlu uang untuk hidup. Saat bangun pagi kita sibuk dengan HP dan SMS dsbnya dan tidak pernah ingat bahwa hidup kita setiap hari membutuhkan firman Tuhan. Kita mengutamakan HP dalam hidup kita atau yang lainnya dan bukan firman Tuhan. Kalau firman di dalam hati, firman itu akan mendorong kita mencintai Tuhan
                Lihat perumpamaan Tuhan Yesus kepada dua anak yang dipanggil papanya untuk berkeja. Anak yang pertama, “Anakku ke mari. Pergi kerja di ladangku” yang dijawab, “Iya Papa” tapi ia tidak pergi. Ia tahu secara rasional apa yang diperintahkan oleh papanya. Secara fenomena , di luarnya saja dia taat tetapi dalam kehendaknya dia menolak apa yang diperintahkan papanya. Artinya perkataan papanya hanya berhenti di otak tetapi tidak turun ke hatinya sehingga ia tidak pergi  sesuai perkataan papanya tetapi sesuai kehendaknya sendiri. Absennya firman Tuhan dalam hidup kita menyebabkan manusia hidup menurut apa yang kita kehendaki , bukan apa yang Tuhan hendaki. Banyak orang yang hanya mengerti firman di dalam wilayah otak bukan di wilayah hidup. Ada majelis yang terpilih  bertahan-tahun. Ia aktif di pelayanan misi. Kalau mendengar dia bicara tentang misi dan pekerjaan misi pendeta pun kalah. Ia begitu rohani. Suatu saat, saya baru tahu. Sebagai pemborong, cara ia mendirikan rumah sangat duniawi. Apa yang dijanjikan tidak pernah dipenuhi. Apa yang dituntut tidak mau. Yang dicari adalah uang. Yang dilakukan tidak beres. Orang bilang, “Urusan dengan orang ini sekali untuk selama-lamanya.” Berbicara dengan orang ini seperti bicara dengan patung. Tetapi pikiran terhadap misi luar biasa, kebenaran firman Tuhan tidak masuk ke dalam hidupnya. Ini anak yang pertama. Anak yang kedua. Di luar sepertinya kurang ajar tetapi di dalam terjadi perubahan. Papanya kasih perintah, “Anakku pergi ke ladangku.” Di luar ia menolak dan tidak mau. Pikirannya tahu apa yang diberikan papanya, tapi ia tidak mau dan tinggalkan papanya. Sesuai dengan apa yang ia mau juga seperti anak pertama. Tetapi di tengah jalan anak itu menyesal dan pergi sesuai dengan perintah papanya. Saya yakin anak yang kedua ini  menerima papanya menolak dan kemudian perintah papanya terbawa terus dalam hidupnya. Waktu ia meninggalkan papanya, ia bergumul dan suatu saat ia mengatakan bahwa ia keliru, perintah papanya benar, ia menaklukan dirinya tidak lagi mengikuti kehendaknya tetapi mengikut kehendak papanya, ia menyesal dan pergi. Terjadi suatu proses yaitu perkataan papanya masuk dalam pikirannya, digumulkan dan dihidupi terus menerus lalu masuk ke dalam kehendaknya dan mengubah kehendak itu. Artinya orang yang menerima firman itu, menyambut firman itu dan hidupnya diubah oleh firman Tuhan. Seringkali kita menganggap bahwa firman Tuhan perintah yang sulit sekali dihidupi. Sulit kalau firman itu diluar diri kita. Gampang bila firman itu dalam hati kita. Musa berkata, “Jangan kau pikir firman itu di gunung sehingga engkau mencapainya,jangan pikir firman itu di laut dalam sehingga engkau coba untuk menyelaminya. Tidak! Firman Tuhan bukan sesuatu standar yang telarlu tinggi sehingga kita harus memanjatnya dengan kekuatan kita. Firman Tuhan itu dekat di mulutmu dan hatimu, artinya firman itu bergabung dengan dirimu. Jika firman bersatu dengan hidup saya akan menghasilkan buah walau di tengah pergumulan yang berat.
                Ada sepasang pemuda-pemudi yang sedang jatuh cinta. Sang pemuda berkata ingin mengunjungi sang pemudi setiap hari. Mengirim pesan untuk mengingatkan pasangannya untuk melakukan sesuatu yang positif. Walaupun tinggalnya jauh sekali di Jakarta Selatan, ia naik motor ke tempatnya walau hujan besar sekalipun. Yang penting bisa bertemu. Mengapa? Karena dalam hati ada cinta. Kalau hati ada cinta jarak tidak jadi masalah. Tetapi kalau dalam hati tidak ada cinta maka tetangga pun tidak dikunjungi. Jangankan ada banjir, walaupun cuaca yang baikpun tidak dikunjungi. Karena tidak ada cinta dalam hati. Kalau cinta ada dalam diri kita, maka kita akan hidupi. Orang yang jatuh cinta tidak sulit memberikan sesuatu pada orang yang dicintainya. Tidak terlalu sulit untuk menyenangkan orang yang dicintai dan berkorban untuk memberikan ke orang yang dicintainya. Karena cinta hidupnya berubah. Demikain juga firman Tuhan , firman itu dekat dengan kita. Seberapa dekat? Karena firman menyatu dan hidup dalam diri kita.
Dalam suatu group bible study saya sharing. Minggu itu saya juga berkhotbah di gereja itu dan hari Rabunya ada beberapa orang  berkata, “Pak Jonathan, minggu itu khotbahnya luar biasa baiknya tetapi sulit pak melakukannya. Hidup kita masih jauh. Apa yang Pak Jonathan katakan bagus sekali tetapi tidak bisa saya melakukannya.” Persoalannya dimana?” Di dalam  hati. Memang ada tuntutan firman Tuhan yang belum sampai dalam hidup kita. Tetapi kita terus bergumul yaitu bagaimana kita menundukkan hati kita di bawah otoritas firman dan kita belajar hidup dikuasai oleh Firman Tuhan. Waktu sebagai dosen di STTA, pagi hari saya sampai kantor , seorang siswi datang dan menangis, “Pak , saya hari ini saat teduh tentang mengasihi sesama. Baru selesai saat teduh, saya ke dapur , makan, cuci piring, lalu berantem dengan teman. Dia berkata saya benar dia yang salah dan sebaliknya. Dia dan saya saling menyalahkan. Pikirannya ingat firman Tuhan untuk  saling mengasihi. Tetapi baru baca firman Tuhan, saya sudah berantem dengan teman saya. Saya berdosa dan salah. Saya harus bagaimana Pak?” Saya tahu orang ini sudah berubah. Saya berkata, “Kamu tahu apa yang harus kamu perbuat.” Saya bertanya balik, “Kira-kira kamu mau berbuat apa?” Dia berkata, “Nanti saya akan pergi untuk meminta maaf kepadanya. Tanpa mempercakapkan siapa yang salah.” Saya berkata,”Lalukan!” Siangnya dia balik dan berkata,”Saat istirahat saya bertemu teman saya. Saya hampiri dia sendirian. Dia takut, dia pikir saya mau pukul dia. Saya minta maaf dan dia pun minta maaf lalu kami pelukan dan baikan kembali dan kami menjadi teman kembali. Itulah sukacita yang ada di dalam hati saya.” Itulah kita belajar firman Tuhan, kita mengasihi tidak pernah sempurna, tetapi melalui ketidaksempurnaan kita belajar mencapai kesempurnaan kasi itu . Untuk melakukan dan hidup dalam firman Tuhan perlu pergumulan , perjuangan dan meletakkan ego kita dan meletakkan otoritas firman Tuhan di atas segalanya walaupun itu sulit.

Penutup


                Biasanya bapak pernah bertengkar dengan istrinya. Hari ini bertengkar dan keesokan harinya baik kembali. Pendeta yang paling rohani pun pernah bertengkar dengan istrinya. Kecuali ia menjadi malaikat yang tidak berkeluarga. Siapapun pernah bermasalah dengan itu tetapi tidak terus bermasalah. Tetapi saat bermasalah kita selesaikan dengan baik. Suatu saat di kebaktian doa, istri saya duduk di samping saya. Di tengah kebaktian doa, saya ambil catatan saya dan mencatatnya. Dia tidak tahu saya mencatat apa dan merasa tidak enak terhadap saya.  Saya tidak tahu istri saya tidak enak terhadap saya. Malamnya, ia berkata, Kamu tadi pagi kamu mencatat-catat. Itu menganggu hati saya dan kamu sebagai pendeta mengganggu orang lain semuanya.” Saya menjawab,”Sebagai pendeta saya hanya duduk tenang mendengarkan, tidak boleh catat sesuatu ? Saya mencatat firman Tuhan. Waktu teringat sesuatu saya mencatatnya karena saya takut lupa setelah bertemu banyak orang. Sesuatu yang nanti saya pelajari lagi. Saya tidak mencatat yang lain. Apa yang dikhotbahkan boleh saya catat. Bahkan mungkin lebih jauh ,mencatat apa yang saya pikirkan lebih jauh lagi. Saya tidak merasa bersalah walaupun mereka melihat saya mencatat.  Tidak apa-apa. Tuhan yang tahu hati saya kan?” Istri berkata,”Kamu tidak boleh begitu. Kamu salah.” Saya membalas,”Tidak.” “Kamu yang salah” kata istri saya. Saya membalas,”Ya tidak. Pokoknya tidak. Kamu yang salah. Hati nuranimu menjadi lemah untuk hal seperti itu hatimu menjadi tersandung.” Usai argumentasi saya naik ke loteng dan tidur. Sebenarnya mau doa bersama tetapi tidak jadi. Saya tidur di atas. Istri saya tidur di bawah. Karena anak tidur di bawah jadi saya tidak bangunkan lagi. Dengan hati yang tenang dan sombong saya naik ke atas loteng. Lalu saya berlutut dan berdoa. Dalam hati saya mulai ajukan pertanyaan dalam hati,”Mengapa kamu merasa dirimu benar? Kamu benar dan istrimu salah? Ya. Mungkin dia tidak mengerti. Argumentasi terus.” Dalam hati saya mengatakan, “Seandainya kamu benar, kamu melukai hati istrimu. Itu pun sudah tidak benar” Saya menangis. Saya ingat Matius 6. Bila kamu merasa bersalah pada seseorang maka datanglah kepadanya untuk damai. Waktu itu saya sangat susah sekali karena telah melukai hati istri saya. Saya turun ke bawah selesai doa ternyata istri saya sudah tidur. Besok pagi , saya turun dan pertama kali minta maaf dan istri saya juga minta maaf, tidak bicara lagi siapa yang salah atau benar. Tidak bicara bahwa saya sebagai kepala keluarga, ego saya lebih tinggi  dan istri saya harus minta maaf. Tidak Saya belajar mengasihi dan dia pun juga. Kami pelukan dan baikan kembali. Lain kali  melihat istri, kalau di gereja saya tidak mau membuat catatan lagi. Saat dia ada di samping saya, kalau terpaksa mau catat saya bilang ke dia, “Saya mau mencatat ya?” Ia pun menjawab,”Oh iya silahkan”. Belajar mengasihi karena fiman Tuhan. Kalau ego saya tinggi sekali di dalam hati saya, saya benar dan istri salah, maka saya akan menunggu istri saya untuk minta maaf. Itu namanya saya jadi raja. Saya selalu benar dan kamu salah kan? Saya selalu benar dan kamu selalu salah. Pengetahuan saya begitu banyak dan kamu kurang. Hidup seperti ini bukan cinta kasih dari Tuhan.  Melalui firman Tuhan menguasai hidup seseorang. Jikalau hati kita ada firman Tuhan maka kita akan kembali hidup oleh firman Tuhan. Back to the Bible. Jika hati kita ada firman, kita belajar hidup menghasilkan buah firman bukan aku, tetapi buah yang mendatangkan kesukaan bagi Tuhan. Karena kuasa firman Tuhan bekerja. Apakah selama ini ke gereja, ada firman Tuhan yang telah mengubah hidup kita? Atau firman Tuhan ada di otak saja? Apakah firman yang kita dengar itu dihimpit oleh berbagai hal tipu daya, kekayaan dan segala sesuatu dari dunia ini sehingga kita mengabaikan keutamaan firman dalam hidup kita. Apakah kita menyambut firman Tuhan itu hanya di luar saja? Sehingga firman tidak berakar. Sehingga saat kesusahan datang kita cepat meninggalkan gereja dan persekutuan orang kudus. Terkadang lihat di gereja jemaat pendiriannya cepat berubah. Kalau pendeta tidak membesuknya, marah-marah dan tidak ke gereja. Pendeta lupa menyalaminya lalu ia mengambek. Itu belum dianiaya. Kalau di gereja , orang ngomong sesuatu lalu hatinya tersinggung, sakit hatinya 10 tahun. Orang yang membuat sakit hati tersinggung pun tidak tahu. Persoalan bukan orang lain tapi diri kita. Memang ada orang yang sengaja membuat orang lain hidupnya susah tetapi hatinya tetap baik kepada orang yang membuatnya susah. Karena hatinya yang menentukan kualitas hidupnya. Jikalau ada firman , firman itu berotoritas, berkuasa dan kita hidup oleh firman, ke gereja baru indah karena kuasa firman mengubahkan hidup kita. Amin.

Sunday, October 23, 2016

Hancurkan Hati yang Keras

Pdt. Arthur Lim

1 Samuel 15:13-21
13  Ketika Samuel sampai kepada Saul, berkatalah Saul kepadanya: "Diberkatilah kiranya engkau oleh TUHAN; aku telah melaksanakan firman TUHAN."
14  Tetapi kata Samuel: "Kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ke telingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu?"
15  Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas."
16  Lalu berkatalah Samuel kepada Saul: "Sudahlah! Aku akan memberitahukan kepadamu apa yang difirmankan TUHAN kepadaku tadi malam." Kata Saul kepadanya: "Katakanlah."
17  Sesudah itu berkatalah Samuel: "Bukankah engkau, walaupun engkau kecil pada pemandanganmu sendiri, telah menjadi kepala atas suku-suku Israel? Dan bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas Israel?
18  TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.
19  Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?"
20  Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas.
21  Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal."
22  Tetapi jawab Samuel: "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.
23  Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."
24  Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka.
25  Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN."
26  Tetapi jawab Samuel kepada Saul: "Aku tidak akan kembali bersama-sama dengan engkau, sebab engkau telah menolak firman TUHAN; sebab itu TUHAN telah menolak engkau, sebagai raja atas Israel."
27  Ketika Samuel berpaling hendak pergi, maka Saul memegang punca jubah Samuel, tetapi terkoyak.
28  Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: "TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.
29  Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal."
30  Tetapi kata Saul: "Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu."
31  Sesudah itu kembalilah Samuel mengikuti Saul. Dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN.

2 Samuel 12:1-14
1   TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
2  Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
3  si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
4  Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."
5  Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
6  Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."
7  Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.
8  Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.
9  Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.
10  Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
11  Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.
12  Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."
13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
14  Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."

Pendahuluan

                Saat diundang menjadi pembicara, saya diinfomasikan kemudian bahwa tema yang diberikan kepada saya adalah “Hancurkan Hati yang Keras”. Setelah mengetahui temanya, saya jadi banyak berpikir dan merenung. Bagaimana caranya menghancurkan hati yang keras? Pakai apa menghancurkannya? Mengapa seseorang mempunya hati yang keras? Setiap ada waktu luang atau saat mengemudi, saya memikirkan hal-hal tersebut. Alkisah, bulan lalu saya berkesempatan membeli mesin pembuat roti. Awalnya ada seorang teman dalam KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang bercerita bahwa ia memiliki mesin pembuat roti. Cara membuatnya sederhana. Hanya perlu memasukkan saja bahan-bahannya, tekan tombol di mesin itu lalu biarkan saja mesinnya bekerja saat tidur dan paginya roti sudah jadi. Saya tertarik dan bertanya, “Berapa harganya?” Dia menyebutkan suatu angka. Setelah mengetahui harganya, saya mengatakan,”Tidak mau beli.” Dia berkata, “Kamu tahu tidak kalau pakai mesin ini tidak perlu pengental, pengawet, pemutih , dan ini-itu?” Mendengar hal tersebut, saya berkata dalam hati,”Wah perlu nih.” Saya pun mencarinya di internet. Akhirnya dapat juga barangnya dengan harga termurah yakni  sepertiga dari harga teman saya. Saya pun memesannya. Setelah mesinnya datang, saya dan istri bergegas ingin membuat roti. Kami pun memasukan tepung, gula dan bahan-bahan lainnya,  kemudian menutupnya dan menekan tombolnya lalu tidur. Keesokan pagi rotinya sudah jadi! Tapi teksturnya sangat keras seperti tongkat satpam (seperti french toast yang kerasnya seperti tongkat pemukul maling. Bedanya hanya bentuknya yang seperti roti). Saya berkata ke istri, “Segera datangi rumah teman KTB. Tanyakan bagaimana caranya membuat roti yang teksturnya lembut, tanpa pemanis. Mengapa roti yang kita buat keras seperti tongkat satpam?” Singkat cerita, istri saya belajar dari pembantu dari teman KTB. Sorenya, kami membuat roti lagi. Saya ingin melihat proses pembuatannya dan bermaksud tidak tidur. Namun istri saya berkata, “Tenang. Kali ini rotinya tidak seperti tongkat satpam. Karena tadi pagi saya sudah membuatnya di rumah teman kita dengan memakai bahan-bahannya sehingga saya tahu letak kesalahannya.” Lalu kami memasukan bahan-bahan ke mesin dan menekan tombol pemrosesnya lalu tidur. Keesokan paginya saya bangun lebih awal dan memeriksa hasilnya. Puji Tuhan teksturnya lembut. Saya pun bertanya ke istri saya, “Apa yang membuat roti yang kemarin keras dan sekarang bisa menjadi lembut seperti ini?” Istri saya menjawab, “Ada beberapa perbedaan. Yang pertama tergantung dari bahannya. Kedua : tergantung cara kita menaruh bahan-bahan tersebut. Ketiga : tergantung dari cara kita menyetel mesinnya. Kalau kita sudah melakukannya dengan benar, pasti berhasil.” Saya berkata dalam hati, “Kalau roti dari keras bisa menjadi lembut, bagaimana dengan hati yang keras?” Saya pun bertekad memakai metode yang sama dengan cara yang dipakai istri saya yakni dengan cara membandingkan dan melihat bagaimana perbedaan antara hati yang keras dan yang lembut. Untuk itu kita bisa membandingkan 2 bagian Alkitab. Mengapa yang satu keras sedangkan yang lain bisa lembut?

Saul dan Daud

                Tuhan menyuruh kaum Israel membasmi bangsa Amalek karena mereka pernah menghalangi bangsa Israel waktu mau memasuki tanah Kanaan dan ‘menyikat’ bangsa Israel dari belakang serta menghalangi bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Tuhan ingin membasmi orang Amalek dari yang paling besar sampai yang paling kecil, dari yang paling tua sampai yang yang paling muda, bahkan ternak pun dibasmi. Tetapi Saul tidak mendengarkan firman Tuhan. Saul memang membasmi semua orang Amalek tetapi dia menyisakan raja Agag (raja orang Amalek) yang dibiarkan  hidup dan semua kambing, domba dan lembu yang bagus dan besar disimpannya. Sehingga Tuhan marah dan menyuruh nabi Samuel untuk datang kepada Saul. Begitulah kisah nyata-nya pada  1 Samuel 15 (Saul) dan 2 Samuel 12:1-14 (Daud). Saya menyebut cerita-cerita  ini sebagai ‘roti yang keras’. Kita melihat baik Saul maupun Daud sama-sama raja Israel, sama-sama berdosa kepada Tuhan , sama-sama menista Tuhan dan sama-sama diangkat from nothing to someone. Kisah Daud terjadi setelah ia mengambil istri Uria, perwiranya sendiri (orang Het). Ia berzina dengan Batsyeba dan membunuh Uria dengan menempatkannya di medan peperangan paling depan hingga mati terbunuh kemudian mengambil Batsyeba sebagai istrinya. Ini menista Tuhan dan Tuhan pun memanggil nabinya untuk menegur Daud. Apa perbedaan hati yang keras dengan yang lembut? Daud dan Saul sama-sama raja dan awalnya tidak ada artinya. Tetapi kemudian diangkat Allah menjadi raja orang Israel. Keduanya sama-sama melakukan dosa yang menista Tuhan. 2 cerita yang hampir sama. Tetapi perbedaannya : yang satu (Saul) hatinya keras dan yang satu lagi (Daud) hatinya lembut dan bertobat.

                Pada 1 Samuel 15, kita melihat bagaimana cara Saul menjawab Samuel. Ayat 20-21 Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. 21  Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal." 24  Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Saul selalu berdalih. Banyak orang yang ketika ditawarkan keselamatan melalui  pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib sebenarnya mau menerima namun ada kata “tetapi” nya. Ketika kita ditegur oleh Tuhan lalu memberi respon, “Tuhan, saya mau bertobat tetapi... (akhirnya tidak jadi bertobat)”. Banyak yang mengatakan , “Tuhan itu Allah yang baik dan setia.” Tetapi Tuhan telah menebus dosa manusia, dimulai dari hati yang mau bertobat. Kita tidak bisa datang kepada Tuhan Yesus dengan mengatakan, “Tuhan hari ini saya telah berzina dan telah berdosa. Besok kalau saya berzina lagi, tolong ampuni saya lagi ya..” atau  “Hari ini saya sudah korupsi sekian ratus ribu. Besok kemungkinan akan korupsi sekian juta. Tolong ampuni saya ya”. Semua pengampunan dosa dimulai dari pertobatan yang sejati. Yaitu ketika dulu kita mengakui dosa lalu bertobat dan berbalik kepada Yesus Kristus. Banyak orang tidak menyadari bahwa ketika kita menerima anugerah Tuhan Yesus, kita pertama-tama sungguh-sungguh bertobat.

Hati yang Keras (Saul)

Tadi saya datang ke GKKK Mabes naik grab-bike dari Cengkareng. Namun saya terlambat pada kebaktian pertama karena keasyikan ngobrol dengan pengemudinya. Saya memang paling senang kalau mengabarkan Injil kepada tukang ojeg. Karena kalau mengabarkan Injil kepada tukang bajaj susah karena harus berteriak-teriak akibat mesinnya yang ribut. Kalau dengan tukang ojeg mudah karena telinganya di depan mulut saya. Jadi saya sampaikan,”Kita ini orang berdosa.” Setelah itu kita melakukan diskusi dalam perjalanan hingga ke topik dosa. Dia berkata,”Saya sebenarnya mau bertobat Pak. Tetapi saya seringnya  bertobat ‘sambal’. Maksudnya hari ini makan sambal sampai tidak tahan kepedasan dan kapok tidak mau lagi. Tetapi ternyata besoknya makan sambal lagi. Itulah pertobatan saya.” Saya menanggapi, “Di dunia ini banyak orang seperti bapak yang tidak mau bertobat sungguh-sungguh.” Kenapa bisa begini ? Karena hatinya keras dan tidak mau menerima anugerah Tuhan yang cuma-cuma. Hatinya tidak mau berbalik kepada Tuhan sehingga banyak mengajukan dalih dan alasan. “Saya mau bertobat, tetapi...” Banyak sekali orang seperti ini. Yang kedua membuat hati orang keras ada di ayat 25. Maka sekarang, ampunilah kiranya dosaku; kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN." Apakah ini sikap orang yang mau bertobat? Bukan! Ini orang yang mengajukan syarat (kalau mau A maka harus B). Banyak orang tidak mau bertobat karena kebanyakan syaratnya. Misalnya : kalau Tuhan mengubah dulu istri saya agar tidak cerewet lagi. Kalau istri saya tidak bawel, saya mau mengasuh dan merawat istri saya. Saya akan mengasihi istri saya. Saya akan mengasuh dan merawatnya seperti Kristus mengasuh dan merawat jemaat.” Banyak orang yang ingin bertobat namun masih dibumbui dengan perkataan “tetapi” (banyak syarat). Ini bukan hati orang yang mau bertobat. Banyak juga orang yang merasa bisa menutupi dosa dengan kegiatan keagamaan seperti Saul mengatakannya  pada ayat 15. 15  Jawab Saul: "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." Banyak orang yang merasa kalau sudah masuk ke gereja berarti dosanya telah  diampuni tetapi tidak mau mengubah hatinya dan tidak mau menerima Tuhan dalam hatinya. Ayat 30. Tetapi kata Saul: "Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada TUHAN, Allahmu." Hidupnya tidak memikirkan kerajaan Allah melainkan hidupnya sendiri dan keegoisannya. Maka orang berdosa seperti ini akan terus berdosa.

Secara umum sebuah dosa yang dilakukan  saat kita mengeraskan hati akan membimbing kita ke dosa yang lain. Dosa yang satu membimbing kita ke dosa yang lain. Contoh : korupsi. Kalau kita korupsi dan keraskan hati tidak mau ditegur, maka akan masuk ke dosa berbohong. Demikian juga dosa selingkuh. Selingkuh kalau tidak mau bertobat saat ditegur akan masuk dosa berbohong dan memimpin dosa yang lain untuk menutupi dosa ini. Misalnya istri bertanya ,”Papa di mana?” Sang suami menjawab,”Sedang di kantor”. “Kenapa sudah malam tidak pulang?” istrinya bertanya lagi. “Sedang rapat.” Jawab sang suami.  Istri yang penasaran kembali bertanya, “Sedang rapat dengan siapa?” Sang suami menjawab tanpa berpikir,”Dengan bos!” Istrinya bingung, “Bukannya kamu bos-nya?” Barulah sang suami menyadari,”Oh iya... saya bosnya!” Sebuah dosa bila kita tidak mau bertobat, maka kita dibimbing ke dosa lain. Sampai kita benar-benar bertobat dan menerima Tuhan Yesus, baru dosa itu bisa dipatahkan. Sehingga kita bisa mengatakan ‘no (tidak)’ pada dosa itu. Bapak gereja (Agustinus) mengatakan bahwa terdapat 4 kondisi (status) manusia yang disampaikannya dalam bahasa Itali yang terdiri dari 3 kata saja yaitu  pose (artinya bisa), peccare (berdosa) dan non (artinya tidak). Kondisi pertama waktu manusia diciptakan Allah (sebelum jatuh dalam dosa) : bisa berdosa (posse peccare), tidak dapat tidak berdosa (non posse non peccare). Manusia kemudian memilih untuk berdosa dan manusia masuk ke kondisi yang kedua yaitu non posse non peccare (tidak dapat tidak berdosa) sehingga semakin tidak mau berbohong nyatanya semakin banyak berbohong, semakin tidak mau korupsi/selingkuh malahan semakin korupsi /selingkuh. Manusia tidak bisa bebas dari dosanya, sampai manusia menerima Yesus Kristus dalam hati. Ketika Yesus masuk dalam hati kita maka kita punya kondisi yang ketiga : bisa berdosa (posse peccare) dan dapat tidak berdosa (posse non peccare). Kita  bisa mengatakan tidak pada yang berdosa dan yang jahat. Ada kondisi yang keempat saat kita diangkat Kristus selama-salamanya yaitu non posse peccare (tidak bisa berdosa). Sebelum bersama-sama Tuhan Yesus, kita masih bisa berdosa. Hanya saat memiliki hati Kristus, kita bisa mengatakan “no” kepada dosa. Bagaimana dengan orang yang keras hatinya? Dia akan selalu mengatakan dan punya alasan untuk tidak bertobat. Selalu ada kata “tetapi”. Orang yang keras hatinya berkata,”Sebenarnya saya begini, tetapi...” lalu ia menutupi dosanya dengan kegiatan keagamaan. Sayangnya tujuannya bukan untuk menyukakan hati Tuhan namun untuk memberangus hati nuraninya agar tidak terus bicara dan agar bisa hidup dalam dosa.

Hati yang Lembut (Daud)

2 Samuel 12:7  Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. 9  Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. 13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.   Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."
Bagaiamana dengan Saul dan Daud? Bagaimana dengan hati yang keras dan lembut? Hati yang keras selalu berkata dengan kata “tetapi”. Sedangkan hati yang lembut mengatakan,”Aku telah berdosa kepada Tuhan”. Hanya sesingkat itu, tidak berdalih (bersyarat) dan tidak mau lagi hidup dalam dosa itu terus menerus. Itulah pertobatan sejati. Allah tidak pernah kompromi terhadap dosa. Tetapi Tuhan memberi akomodasi. Ketika Saul berdosa, Tuhan menghukum Saul . Ketika Daud berdosa, sekalipun Daud sudah bertobat , ia tetap menerima akibatnya. 2 Samuel 12:13b-14  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.  Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati." Daud sungguh-sungguh puasa supaya anak yang akan dilahirkan dari perzinahan dengan Batsyeba tidak mati. Tetapi akhirnya anak itu tetap mati karena Allah tidak pernah kompromi terhadap dosa. Ia juga tidak memberi kesempatan kita untuk berdosa. Salib Kristus bukanlah kesempatan kita untuk hidup dalam dosa. Tetapi kesempatan untuk mengatakan “tidak “ pada dosa. Kita punya kekuatan dan kemampuan yang menyalibkan dosa. Allah tidak pernah kompromi pada dosa.

Yang Tuhan kehendaki bukan harta tetapi hati kita, bukan korban sembelihan atau korban bakaran tetapi hati kita. Semua harta kekayaan kita berasal dari Tuhan. Ada yang beranggapan kalau sudah ke gereja, sudah cukup untuk menghapus dosa kita. Saya katakan jika belum ada Yesus Kristus dalam hatiamu, maka belum ada keselamatan dan belum benar-benar betobat. Yang Tuhan kejar adalah hati manusia. Kalau hatinya sudah diberikan maka Tuhan akan memakainya. Ketika engkau memberikan hatimu maka engkau pasti akan memberikan hartamu, waktumu, gelarmu, familimu dan seluruh keberadaanmu untuk Tuhan pakai menjadi kemulaan bagi nama Tuhan. Hidup menjadi sangat berarti, kalau kita mempersembahkan hati kita. Kalau kita terus mengeraskan hati kita, maka yang terjadi seperti akhir cerita dari Saul.

Akhir hidup Saul dan Daud sama seperti roti yang keras dan lembut. 1 Samuel pasal terakhir (pasal 31) merupakan akhir cerita dari Saul. Saul mati di arena peperangan dengan panah di tubuhnya dan luka-luka yang parah. Tetapi ia belum mati. Akhirnya ia bunuh diri dengan menggunakan pedangnya sendiri. Pedang di taruh di bawah dan menjatuhkan dirinya sendiri di atas pedangnya. Kemudian kepalanya dipancung oleh musuhnya (orang-orang Filistin). Mayatnya dipakukan mereka di tembok kota Bet-Sean bersama dengan mayat anak-anaknya (termasuk Yonatan, Abinadab dan Malkisua). Tetapi orang Israel (penduduk Yabesh-Gilead) yang gagah perkasa mengambil mayat Saul yang sudah tidak berkepala , membawanya ke Israel dan membakar mayat-mayat mereka di Yabesh. Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sedangkan kematian Daud dicatat pada 1 Raja-raja.  Bagaimana  matinya Daud? Dia memberikan pesan terakhir pada anaknya Salomo, anak hasil hubungannya dengan Batsyeba. Artinya Tuhan benar-benar mengasihi Daud. Saya ingin sekali meninggalkan pesan seperti itu. Daud mati dengan tenang sebagai raja yang besar dan dikenal namanya sampai sekarang.  Sampai sekarang orang masih menyebut Kota Daud yakni nama yang diberikan oleh orang Israel untuk daerah pemukiman tertua di Yerusalem. Pada Kisah Para Rasul 13:22 dikatakan: “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku. Ibrani 11:32-33 Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa.

Penutup

                Saul menghina Tuhan dan ditegurNya. Tetapi ia mengeraskan hati dan tidak mau ditegur sehingga hidupnya sia-sia. Sedangkan Daud hidupnya dikenal sepanjang masa. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah ada dosa yang disembunyikan dalam hidup kita? Apakah hari ini roh Allah diganti dengan allah lain? Saatnya hari ini untuk datang kepada Tuhan. Tidak dengan kata kalau saya mau hidup terus dalam dosa tetapi mau menerima anugerah Tuhan. Kita datang kembali seperti Daud saat berdosa. Kita beroda, “Tuhan, saya memang lemah tetapi engkau Tuhan akan menjadi Juruselamat dalam hidupku dan Engkau akan mengarahkan hidupku sehingga  ada anugerah Allah”.