Monday, August 1, 2016

Makin Dipangkas Makin Berbuah


Pdt. Arganita Saragih

Yoh 15:1-8
1   "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.
2  Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.
3  Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
5  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
6  Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
7  Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.
8  Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."

Pendahuluan

                Perikop tentang pokok anggur yang benar (Yoh 15:1-9) diberikan oleh Tuhan Yesus pada perjamuan makan malam terakhir di ruang atas, di mana esoknya Ia ditangkap dan disalibkan. Saat itu Ia sebagai Guru Agung yang akan meninggalkan para murid memberi pesan yang bermakna dan berdampak kepada para muridNya. Ranting yang tidak berbuah akan dipangkas dan dipotong, dan hanya ranting yang berbuah saja akan dibersihkan. Tuhan Yesus sudah tahu bahwa pasca kenaikanNya ke surga, para murid harus berjuang dalam imannya (selama ini para murid didampingi Sang Guru dalam menghadapi permasalahan). Permasalahan yang dihadapi para murid kemudian bukanlah perkara yang mudah karena sampai para murid menyerahkan nyawa untuk mempertahankan iman mereka. Memang untuk menjadi murid Yesus tidak mudah, karena yang harus dipertaruhkan sampai pada nyawa. Jadi kalau kita belum sampai menyerahkan nyawa atau disesah sampai mati berarti kita belum benar-benar menderita. Martin Luther berkata, “Tidak ada penderitaan yang sampai puncaknya sebelum menghadapi kematian.” Sebagai orang yang telah ditebus dari dosa kita harus mengerjakan iman selama hidup di dunia ini. Menjadi orang Kristen berarti memperjuangkan iman seumur hidup.

                Tantangan kita adalah ‘isme-isme’ yang lahir dari filsafat dunia seperti  individualisme, utilitarianisme, pantheisme, liberalisme telah masuk dalam hidup orang percaya dan tanpa disadari telah memegang dan menjadikannya pedoman hidup sehingga orang Kristen sekarang menjadi tidak berbuah. Berdasarkan buahnya, orang Kristen terbagi menjadi :
1.       Orang Kristen yang tidak berbuah
2.       Orang Kristen yang berbuah sedikit
3.       Orang Kristen yang berbuah banyak
Jadi berbuah saja tidak cukup. Ayat 2 dikatakan orang yang tidak berbuah akan dipotong (dipangkas). Orang yang berbuah akan dibersihkan. Kata dipotong dalam bahasa Yunani airo yang artinya diangkat (to raise up, to lift) sedangkan dibersihkan dalam bahasa Yunai kathairo (to cleanse). Jadi ada kesamaan akar kata (airo) di antara keduanya. Keduanya sama-sama ‘dibersihkan’. Bedanya yang satu orang pilihan yang lain bukan. Pada zaman Musa, orang Israel memasuki tanah Kanaan setelah 40 tahun bukannya 40 hari yang seharusnya diperlukan untuk membersihkan orang Israel dan mendapatkan orang-orang pilihan. Selama 40 tahun bangsa Israel diperlihatkan siapa Tuhan dengan menghadapkannya pada masalah hidup. Sehingga mana orang Israel yang murni , bangsa pilihan dan mana yang bangsa campuran. Bangsa Israel menghadapi hujan badai, panas, tidak ada air, ular beludak, orang Enak (orang raksasa) dan akhirnya orang Israel yang masuk tanah Kanaan bukanlah orang yang dari pernikahan campur tetapi orang pilihan. Orang Kristen sekarang banyak yang mengutip ayat Alkitab dan mengirimkannya melalui pesan elektronik padahal bukan ayat Alkitab semata tapi tingkah lakunya harus sesuai dengan ayat tersebut. Bukannya tingkah laku harus diubahkan kalau tidak akan menjadi batu sandungan? Urusan memangkas dan membersihkan ‘ranting’ adalah urusan Tuhan.

Progressive Santification

Bagaimana Tuhan menolong kita menghadapi airo dan kathaio. Bukan dipangkas tapi dibersihkan. Bagian yang layak dipotong pelan-pelan. Apa yang dipotong? Perubahan hidup manusia lama menjadi manusia baru, tidak otomatis secara otomatis saat orang menjadi percaya. Istilah yang digunakan progresssive sanctification (pengudusan terus menerus). Rasul Paulus mengatakan untuk dibersihkan harus minta tiap hari kepada Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya berhati-hati dengan ilah zaman ini dan nabi-nabi palsu . Namun bukan berarti orang yang sudah diselamatkan jadi tidak diselamatkan. Tetapi ini berlaku agar kita menghargai pilihan Tuhan bagi kita. Menghadapi kehidupan yang sulit, kepedihan, kekecewaan yang dirasakan merupakan proses pembersihan dari Tuhan,  pemberantasan dari hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan agar orang kembali lagi kepada Tuhan.

                Beberapa hari lalu saya menulis artikel dengan tema ‘Melepaskan Jangkar’. Setelah jangkar dilepas, maka kapal akan diarahkan ke tempat tujuan. Ketika dalam menjalani hidup kita menghadapi banyak topan-badai yang menghantam, maka hal itu  kita dipakai Tuhan membawa kita untuk mengikuti dan berfokus pada tujuan hidup kita. Saat hidup kita dihantam lalu kita menderita stres, depressi  dan kecewa maka terdapat 2 hal yang bisa dilakukan : be still dan silent. Still adalah tindakan kita berdiam diri, sedangkan  silent mulut kita terkatup diam , tidak berbicara apapun  serta merenungkan diri di hadapan Tuhan : apa yang harus diperbaiki dan diikuti dalam hidup kita. Setelah angin badai mereda, ambil kompas. Lalu fokuskan dan lanjutkan kembali hidup kita. Ini terkadang sulit dilakukan. Hari ini orang-orang  post-modern dalam menghadapi kesulitan hidup tidak duduk diam di hadapan Tuhan dan mencari penyelesaian. Bagi orang percaya , tidak ada penyelesaian lain di luar Tuhan. Segala sesuatu yang tidak berfokus pada Tuhan (pokok anggur) akan mati. Jadi kalau ada maslaah carilah pertolongan kepada Tuhan  karena tidak ada yang sanggup lagi menolong. Masalah yang sedikit akan bertambah banyak kalau kita berada di luar Tuhan. Kalau Tuhan ijinkan badai terjadi dalam kehidupan kita, Dia mau menolong kita agar kerohanian kita semua naik ‘kelas’. Oleh karena itu jangan pernah lepas dari pokok anggur (keluar dari Tuhan). Keluarga, teman, pekerjaan, pasangan , anak bisa mengecewakan. Tetapi Tuhan tidak. Jangan pernah meninggalkan Tuhan.

                Sutu kali ada seorang ibu datang kepada saya. Ia marah dan kecewa pada Tuhan karena ia terus dipukuli oleh suaminya. Saya menanggapi, “Yang punya masalah adalah suaminya bukan Tuhan. Mengapa kecewa pada Tuhan?” Seringkali iblis membuat kita kehilangan pandangan yang benar. Marah dengan seseorang tetapi kecewanya kepada Tuhan. Itulah pengaruh orang-orang dari zaman post-modern. Saat orang menjadi marah, kecewa dan meninggalkan Tuhan, maka dalam hal ini bukan Tuhan yang rugi. Pak Ahok berkata,”Kalau jakarta tidak memilih saya, Jakarta yang rugi.” Saya sangat setuju dengan ucapannya. Ia punya kualitas, kredibiitas, integristas, leadership dan mental yang bagus untuk menghadapi Jakarta yang keras. Jadi Jakarta yang rugi kalau Ahok tidak terpilih. Demikian pula kalau kita tinggalkan Tuhan, maka kita yang rugi, karena apa lagi yang akan pegangan kita? Semuanya semu di dunia ini. Apa yang mau dipegang? Suami (pasangan), pendnta, pekerjaan, kekayaan, kesehatan semua akan pergi. Oleh karena itu peganglah Tuhan! Bersama Tuhan, ketika proses pembersihan itu terjadi, kita akan kuat bertahan. Kita tetap kembali fokus pada Tuhan. Kalau kita berfokus pada diri kita maka Tuhan akan ijinkan badai kehidupan terjadi. Kalau berfokus pada keluarga (anak), harta, aktualisasi diri kita, maka tunggu saja akan terjadi ‘begini-begitu’. Jadi seharusnya Ia yang menjadi sumber kita.

                Sekarang ini orang yang mempunyai banyak masalah malahan berfokus pada masalah. Yang dipikirkan adalah sakit hati, kerugian dan penderitaannya. Maka tidak heran, jasa psikolog dan psikiater semakin laku karena orang sekarang semakin banyak yang stres dan depresi. Saat stres kita kembali kepada siapa? Tuhan! Pada Filipi 1, saat membangun gereja dan pelayanan Rasul Paulus mengalami kesulitan. Teman-temannya lalu membantunya. Setelah gereja Filipi menjadi besar, Rasul Paulus difitnah oleh temannya sehingga ia dipenjarakan. Padahal sama-sama melayani tapi temannya menginginkan posisi. Filipi 1 ditujukan untuk orang-orang yang menderita. Rasul Paulus berkata,”Kalau aku boleh memilih, rasanya aku ingin cepat pulang ke rumah Bapa di sorga. Karena orang-orang yang bersamaku melayani menusuk dan memfitnah aku karena iri.” Secara psikologi, keinginan untuk mati menunjukkan penderitaan yang dalam sehingga Rasul Paulus sampai tertekan dan ingin ke rumah Bapa di surga. Tapi Rasul Paulus menyadari bahwa,”Aku diberikan waktu oleh Tuhan untuk memberitakan Injil di dunia. Jadi biarkan aku menderita, sakit di penjara, asal orang yang memfitnahku tetap memberitakan firman Tuhan dan injil tersebar.” Biarkan kita menderita karena fokus kita adalah Tuhan. Asalkan Injil Tuhan terberitakan maka penderitaan terasa kecil. Rasul Paulus luar biasa. Biarkan aku menderita, asal Injil tetap diberitakan. Fokusnya bukan penderitaannya di penjara tetapi Tuhan. Ini proses pembersihan yang dialami Rasul Paulus. Ia terus dibersihkan Tuhan sampai Tuhan memandang dia layak.

Berdampak Banyak bagi Orang Lain dan  Berani Menderita

                Saya tidak mengecilkan aliran air mata dalam menghadapi badai hidup, namun kita harus berfokus pada Tuhan dan kemuliaanNya. Buang semua yang membuat fokus menjauh dari Tuhan. Kecewa dan fitnah adalah hal yang biasa. Sedangkan orang post-mo dan pengajaran ‘isme-isme’ menjadikannya tidak biasa. Semua ingin tenang dan nyaman dan  itu membuat kita ‘mati’. Seperti Eutikhus yang duduk terkantuk-kantuk di lantai 3 waktu mendengar khotbah Paulus yang lama lalu tertidur lelap dan jatuh mati (Kis 20:9). Tuhan tidak mau kita dibuang karena tidak berguna. Seberapa jauh hidup kita bermakna bagi orang lain? Jangan berfokus pada fitnah, kekcewaan, sakit atau luka hati karena itu mudah dibalut oleh Tuhan, tetapi yang terutama fokus pada apa yang Tuhan mau bersihkan dalam hidup kita.

                Tidak mudah bagi saya melewati satu demi satu pelayanan. Badai terakhir yang datang berupa perkataan yang tidak benar tentang diri saya. Dalam menghadapi gelombang kehidupan, don’t be offensive and defencive (Jangan menyerang dan membela diri alias berdiam saja). Dan itu terjadi dalam hidup saya. Satu hal yang saya belajar dari masalah itu adalah ketaatan. Melihat hidup saya ke belakang, betapa luar biasa karya Tuhan! Saat membersihkan , Tuhan mau membawa saya. Seumur hidup kita akan terus menghadapi progressive sanctification. Tahun lalu, saya tidak jadi bergabung di sebuah universitas terkenal di Indonesia karena pimpinan Tuhan jelas sekali. Lalu saya menyerahkan karya tulis ke UNS Singapore (NUS) untuk jadi fellow researcher. Kami tergabung dalam menulis di Facebook untuk mencerdaskan bangsa. Tuhan pimpin pelayanan saya tidak berada dalam lingkungan kecil. Walau kemampuan saya terbatas tetapi saya ikut pimpinan Tuhan saja. Perlawanan terhadap pelayanan tulisan itu semakin berat dan mendapat perlawanan dari cendekiawan agama lainnya. Kemudian saya juga masuk ke lembaga pendidikan Kristen yang bertugas untuk mendampingi sekolah Kristen di seluruh Indonesia. Tetapi sebelum masuk ke sana pembersihan nya berat. Saya dihancurkan dan terus bertahan (terus maju dan berjalan, Life must goes on) sampai di ujung nanti, Tuhan melihat kita baik dan cukup. Kami ingin mendampingi sekolah krsiten di seluruh Indonesia, dengan syarat mau berubah. Hal ini karena ada sekolah Kristen yang keluar dari filsafat Kristen. Saya merekrut trainer Kristen karena dukungan dana sudah datang dari luar ngeri. Apa yang kita lakukan harus besar dan berdampak dalam kehidupan kita. Saat itu mungkin dampaknya kecil dan menyakitkan. Jeleknya lagi, ini akan dipangkas dan dibuang. Menurut psikologi modern : aktualisi orang tercapai dari karya yang menghasilkan uang yang banyak. Sedangkan Alkitab datang dari self image (konsep diri) dan seberapa bermakna bagi orang lain. Kalau tidak, tidak akan mengalami aktualiasi diri.

                Berdampak banyak bagi orang dan berani menderita, orang seperti ini akan memberikan kesaksian hidup dan bersama-sama dengan Tuhan yang akan mengubah dan menghiburkan orang lain membuat orang lain bangkit. Tulisan di Facebook messenger akan penuh. Follower baru masuk. Saya pilih kasus yang harus saya tangani. Ada yang kritis dan krusial yang perlu dibantu. Orang tidak fokus lagi pada Tuhan tapi masalah. Firman Tuhan mengingatkan kita kembali pada pokok anggur yang benar. Bersatu dalam Yesus, bersatu dalam sesuatu yang tidak tergoyahkan agar airo kita mengalami kita kuat, tidak lagi lihat kekuatiran, kenayaman diri kita tapi hany a berfokus pada Tuhan. Selamat dibersihkan. Bersyukurlah kita diberishkan, sakit hati, ketika kita bersih. Agar hidup kita berdampai bagi orang lain. Pikirkanlah bagiamana hidup kita berdampak di kantor, tempat kuliah, lingkungan , gereja dan Indonesia serta dunia. Jadilah orang yang punya visi besar dan terus dibersihkan dan dipangkas. Berbuah banyak dan dinikmati oleh orang-orang tanpa pusingkan orang yang jahat, mau menghancurkan kita. Karena fokus kita hanya pada pokok anggur yang benar, jangan sampai tidak berubah, karena akan dipotong. Atau berbuah sedikit saja. Mungkin hidup saya 20 tahun lagi,  kalau tidak pian sui, banyak orang yang hancur-hancuran, saya akan mati. 20 tahun lagi tidak terasa. Kita mau apa ? menangsi pembersihan dan penderitaan. Suatu kali nanti kita akan kembali pada Tuhan. Buku kita akan dibuka untuk menentukan mahkota yang akan kita pegang. Rasa malu yang tinggi, di pengadilan , kesalahan kita dibacakan di hadapan Tuhan. Siapkah kita dibacakan ? Berapa tahun lagi kita hidup? Kembalilah pada Tuhan dan berdiri teguh dalam menghadapi kesulitan





Sunday, July 24, 2016

Inner Beauty (Keindahan dari Dalam)


Ev. Ester Kurniawati

Amsal 4:23  Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Amsal 20:5  Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya.
Filipi 4:8   Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Galatia 5:22-23a  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri.

Pendahuluan

                Tema hari ini “Keindahan yang dari Dalam (Inner Beauty)”. Banyak kali di dunia ini kita menemukan keindahan itu ada di dalam (inner). Namun ada banyak keindahan yang ada hanya di luar saja. Ketika mama saya masih bersama kami, ia membeli kacang dalam kemasan (bungkusan) yang indah sekali. Saat dibuka dan dimakan ternyata  kacangnya banyak yang kosong. Maka mama saya lebih suka mencari makanan dalam kemasan lama yang sederhana tapi kualitasnya bagus. Banyak barang seperti itu (kemasannya bagus tetapi isi dan mutunya tidak bagus). Di dalam hidup, banyak yang dikatakan aspal (asli tapi palsu). Tema hari ini mengingatkan agar kita menjadi orang Kristen yang asli (bukan aspal) karena mutu (kualitas) yang bagus dilihat dari dalam bukan dari kemasannya. Kalau beli mobil, bukan hanya melihat luarnya saja yang bagus, tetapi yang penting adalah mesinnya bagus atau tidak. Tuhan juga demikian. Tuhan ingin melihat yang di dalam (hati) lebih dari yang di luar. Dalam hati kita seperti ada pusat pemerintahan (tahta) karena dari hati itulah kita mengeluarkan banyak hal.

Sehat di Dalam

                Pada Amsal 4:23 dikatakan Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Kita diminta menjaga hati kita karena dalam hati terdapat banyak hal : pikiran, keinginan, keyakinan, pertimbangan. Kadang dari kecil , sampai dewasa bahkan tua keinginan itu belum terpenuhi. Banyak hal yang terpendam dalam pikiran dan hati yang paling dalam. Kalau kita baca Amsal 20:5  dikatakan Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya. Dalam bahasa aslinya kata ‘rancangan’ di dalam Amsal 20:5 bukan sekedar rancangan tetapi lebih dalam (luas,  ada keinginan dan cita-cita).  Bisa ada yang kacau-balau. Mungkin dari kecil kita tidak puas. Saat beranjak dewasa ada yang menyakitkan kita dan membuat kita berpikir mau membalas atau tidak (seperti mengapa kita direndahkan oleh teman kita) sehingga perasaan kita bisa kacau. Bentuknya bisa bermacam-macam (banyak sekali).Hal itu  pada Amsal 20:5 digambarkan seperti sebuah sumur. Semua pikiran dan keinginan yang ada sangat banyak seperti sumur yang dalam. Kalau kita belajar ilmu psikologi (ilmu jiwa manusia) hal ini digambarkan sebagai puncak gunung es di atas permukaan laut di mana ujung atasnya kecil sedangkan bagian bawahnya yang jauh lebih besar terbenam di bawah permukaan laut. Dalam ‘gunung es di bawah permukaan laut’ itu tersimpan banyak pikiran dan perasaan kita. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menggambarkan orang Farisi seperti kuburan. Matius 23:27  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Ada satu gambaran lagi yang bisa digunakan yaitu pohon. Suatu kali saya punya pohon yang saya kira ‘sehat’. Tetapi ada teman yang ahli tumbuh-tumbuhan berkata, “Pohon ini tidak sehat karena akarnya tidak sehat.” Saya tidak melihat akarnya tapi bagian luar pohonnya yang bagus. Dia mengambil akarnya serta menunjukkannya kepada saya serta menjelaskan alasannya. Saya terkejut mendengarnya apalagi mengetahui bahwa kalau akarnya tidak sehat maka ia tidak bisa menyerap sari makanan sehingga suatu kali ia akan mati. Penggambaran apapun hendak menunjukkan bahwa yang di dalam itu jauh lebih penting.

                Pada Amsal 20:5 dikatakan bahwa orang yang pandai tidak menyimpan rancangan di dalam hatinya tapi ia tahu menimbanya. Ketika kita menumpuk di dalam pikiran, perasaan dan emosi, Alkitab katakan kita harus membongkarnya (digunakan istilah ‘menimba air’). Setiap hari selain mengajar, tugas saya melakukan konseling. Konseling seperti menolong orang menimba ada apa di dalam batinnya. Misalnya : klien bercerita,”Bu Ester saya sering pusing , kepala tegang dan malas melakukan banyak hal. Mengapa ya?” Ada mahasiswa datang dan mengatakan, “Mengapa saya makin malas belajar dan menyelesaikan kuliah?” Atau ada yang lain berkata, “Saya takut sekali, jadi tinggal di rumah saja. Karena kemana-mana takut.” Untuk tahu penyebabnya kita harus masuk ke dalam dan menggali ada apa di dalam hati kita. Termasuk ketika hidup rohani kita hari ini bila tidak semangat melayani Tuhan, ada apa di dalam? Kalau kita ragu-ragu terhadap firman Tuhan, ada apa di dalam diri kita? Jadi “di dalam” itu penting sekali untuk kita sadari. Di dalam itulah yang Tuhan inginkan agar kita membuatnya lebih indah (beauty). Bagaimana caranya?

Membuat Inner Beauty

1.    Sesuatu yang indah di dalam Tuhan (kita dapat menjadi indah dari dalam) karena Tuhan yang mengerjakannya.
Orang di luar Tuhan Yesus berusaha sendiri menjadi semakin baik. Hatinya yang dikuasai oleh dosa  berusaha untuk mengubahnya sendiri. Tetapi orang yang di dalam Kristus berbeda. Di dalam Kristus dikatakan, “Kristuslah yang melahirbarukan kita”. Orang yang di luar Kristus, sudah mati rohaninya walau jasmaninya hidup. Ia bisa makan dan minum, tetapi rohaninya tidak bisa mendekat kepada Tuhan. Tuhan ingin mengubah agar kita tidak mati rohani tetapi hidup sehingga bisa bersekutu dengan Tuhan. Apa bedanya menjadi orang Kristen? Bukan hanya dulu tidak ke gereja dan sekarang ke gereja. Bukan hanya berbeda karena memakai kalung salib dan di rumahnya banyak salib. Tetapi yang penting Kristus di dalam diri kita mengubah diri kita. Ketika Tuhan memberi hati yang baru, kita bisa meresponi dan mentaatinya. Apakah inner beauty itu pasti bisa tercapai? Pasti bisa! Bukan moga-moga (maybe yes or no). Pasti bisa bahkan sampai kesempurnaan ketika Tuhan Yesus datang kedua kali.

2.     Ketika kita diubahkan maka kita punya hati yang baru. Pikiran kita bisa dilatih menjadi baru.
Kalau Tuhan tidak mengubah hati kita, kita tidak bisa punya hati yang baru. Tetapi sekarang kita punya pikiran yang baru. Apa pikiran yang baru itu? Filipi 4:8   Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Pikian yang belum diubahkan Tuhan tidak bisa memikirkan hal ini. Pikiran pertama yang didapat waktu kita lahir tidak dapat memikirkan hal ini. Itu kelahiran kita yang pertama. Tetapi orang percaya lahirnya 2 kali. Maka ketika lahir yang kedua (lahir rohani), kita dimungkinkan untuk memikirkannya. Jadi pikiran kita sebenarnya sudah pikiran sorga. Kadang kita tidak menyadarinya. Kita mengira pikiran kita sama dengan orang dunia. Padahal pikiran kita sudah diubah sehingga bisa memikirkan surga. Kita dibuat bisa mengerti Tuhan dari surga. Kita bisa membedakan pikiran dari Tuhan dan pikiran dari dunia yang memikirkan diri dan keuntungan sendiri. Seperti : bagaimana mengalahkan orang lain? Bagaimana menjadi nomor satu? Tetapi pikiran yang baru dikerjakan dari dalam. Roh Kudus yang mengerjakannya. Bisakah pikiran kita dilatih menjadi pikiran yang mulia, adil, suci, manis, sedap didengar dll? Kalau kita melatih pikiran seperti itu dan bekerjsama dengan Roh Kudus, maka tiap-tiap  hari kita memikirkannya. Maka dari dalam semakin indah. Itulah inner beauty. Roh Kudus bukan hanya mengubah pikiran kita tetapi juga  hati dan perasaan kita. Dulu kalau mengalahkan orang lain kita senang, sekarang Roh Kudus ada di dalam hati dan bekerja sehingga kalau mengalahkan orang lain kita sedih dan gelisah padahal kita mendapat keuntungan yang banyak. Siapa yang menggelisahkan kita? Roh Kudus! Karena hati kita sudah diubah oleh Roh Kudus dari dalam. Semakin kita taat memperhatikan hati kita maka hati itu semakin dibuat indah. Itu yang dikatakan sebagai buah Roh Kudus. Pada Gal 5:22-23a ada 9 rasa buah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri. Coba bayangkan kita penuh kasih, sukacita dan damai maka akan indah sekali. Lalu 3 lagi  : kesabaran, kemurahan dan kebaikan terhadap orang lain. Orang melakukan kejahatan kita balas dengan kebaikan. Kita mendoakan musuh kita. Orang dipenuhi dengan kemarahan, kita dipenuhi dengan kedamaian. Siapa yang kaya atau miskin kalau ada orang yang marah pada kita? Kalau kita balas dengan kebaikan, siapa yang kaya dan siapa yang miskin? Kalau kita mengampuni orang, siapa yang kaya dan siapa yang miskin? Orang yang bisa mengalah, mengampuni, membalas kejahatan dengan kebaikan itu yang lebih kaya.  Bukan kaya uang tetapi kaya ketenangan. Bukan kaya harta, tetapi kaya kedewasaan. Kita lebih kaya dengan kasih. Kita kaya dengan anugerah Tuhan. Kita kaya dengan kedamaian sejati. Kita memberi kasih , kedamaian karena kita punya banyak (kita lebih kaya). 3 rasa buah yang terakhir : kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri dalam keadaan yang sulit.

Kalau pikiran kita indah, hati damai maka indah sekali di dalam diri kita. Pertanyaannya : apakah itu mungkin? Apakah kita bisa mengusahakannya? Pasti bisa! Bahkan ujungnya sampai pada kesempurnaan. Perjuangan kita tidak akan sia-sia dalam Kristus. Karena anak Tuhan (ciptaan yang baru) tidak mungkin gagal sampai ujung. Tuhan yang mengubahkan , Tuhan yang menuntun dan menyempurnakan sampai ujungnya. Maka akan ada 2 macam orang Kristen :
1.       Orang Kristen yang berjuang bersama Tuhan. Tuhan bekerja dan ia meresponi.
2.       Orang Kristen yang tidak taat dan mengabaikan Tuhan. Ia tidakmengalami hidup bersama Tuhan.
Yang menjamin kita menang sampai ujung (akhir) bukan kita sendiri tetapi Tuhan Yesus. Kalau kita tidak berjuang maka kita akan rugi karena tidak mengalami kuasa Tuhan. Tuhan ingin kita taat, meresponi, bekerja bersama Tuhan. Ketika ‘di dalam’ banyak diubah maka ‘di luarnya’ juga berubah. Kalau kita punya sahabat kita ingin sahabat itu tulus, sejati dan tidak hanya pura-pura saja di luar. Tuhan ingin kita baik dan murni dari dalam.

Penutup

Seorang teman mempunyai mobil yang bagus sekali. Mobilnya dirakit di Jerman dan mesinnya sangat bagus. Papanya  berkata,”Rawatlah mesinnya. Secara berkala kamu harus membawanya ke bengkel secara teratur.” Tetapi sebagai anak muda, dia hanya memperhatikan luarnya saja. Dia membeli banyak peralatan untuk mendukung penampilannya. Lambat laut mesinnya terbengkalai. Suatu kali mobilnya rusak dan teknisi bengkel berkata, “Ongkos gantinya bisa lebih mahal daripada harga mobil baru.” Sementara ia mendapat informasi bahwa mesin seperti itu bila dalam kondisi baik bernilai mahal. Dia hanya bisa menangis saja dan papanya berkata, “Kamu tidak percaya apa yang saya katakan.” Iblis ingin menipu seperti ini. Iblis selalu mengarahkan kita melihat luarnya saja seperti penampilan, gaya, harta dan lainnya. Iblis ingin kita mengabaikan ‘yang di dalam’ (hati kita). Sehingga kita tidak sungguh-sungguh memperhatikan buah roh Kudus dalam hati kita. Maka ‘yang di dalam’ itu semakin rusak, semakin tidak berarti dan hancur. Padahal Tuhan sudah mengubahnya dari dalam. Tuhan bekerja dari dalam. Tuhan mengubah manusianya , baru Tuhan memakainya. Sehingga kita sesuai disebut keluarga Surga, bukan produk dunia ini tetapi produk surga. Karena dalam hati kita sudah ada meterai sorga. Dunia bisa melihat kita sebagai produk sorga yang di dalamnya dan luarnya sudah diubahkan. Sedangkan iblis ingin menipu kita karena dia bapa segala dusta. Mari kita menolak dan tidak mendengarkannya. Dengarkanlah hanya Tuhan! Tuhan berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Ada seorang nenek yang berkata, “Bu Ester mengapa pikiran saya begini? Kenapa perasaan saya seperti itu? Itu kenapa ya? Tuhan inginnya saya seperti apa ya?” Dia selalu bertanya, “Tuhan inginnya seperti apa? Bagaimana pikiran dan perasaan saya seperti yang Tuhan mau?” Dia juga bertanya tentang cucunya : “Bagaimana menjaga cucunya?” Ia mau cucunya punya hati seperti Tuhan. Kalau kita bertemu, nenek ini sangat sederhana. Penampilannya bersih dan sederhana sekali, tetapi hatinya penuh dengan mutiara. Jiwanya indah. Kalau cucunya nakal, dia memanggilnya sehingga cucunya patuh dan tunduk, padahal suaranya pelan dan tenaganya sudah tidak kuat. Kalau mama dan papanya yang memarahinya, anak itu tetap nakal. Tetapi begitu sang nenek berkata (walau pelan sekali) cucunya diam. Saya berkata kepada nenek ini, “Tuhan meredakan lautan dan oma meredakan cucu-cucu”. Bagaimana seorang nenek bisa menertibkan cucu-cucunya? Karena cucunya mengalami dalam hati neneknya ada hal yang indah dan menenangkan. Biarlah Tuhan memberkati sehingga kita bisa menenangkan dunia yang bergolak ini. Dari hati kita keluar hal-hal yang damai dan penuh keindahan Tuhan. Tuhan memberkati. 

Sunday, July 17, 2016

Jadilah Ahli Waris Rohani


Ev. Susan Kwok

2 Tim 1:3-5
3  Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.
4  Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.
5  Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Maz 78:1-8
1 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.
2  Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala.
3  Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,
4  kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya.
5  Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka,
6  supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka,
7  supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya;
8  dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.

Pendahuluan

                Ada sebuah lelucon yang mungkin terjadi dalam kehidupan yang nyata. Lelucon ini mengisahkan tentang wawancara seorang mahasiswa UI dengan seorang pengemis. Seorang mahasiswa baru (maba) terlihat sedang asyik berbicara dengan seorang Pengemis di sebuah halte bus di depan kampus Universitas Indonesia ( UI ) Depok.
Mahasiswa         : "Sudah lama mengemis di sini Pak ?"
Pengemis            : "Kurang lebih sudah 30 tahun , Nak!"
Mahasiswa         : “Wah, Bapak senang dengan pekerjaan mengemis di sini ya?”
Pengemis            : “Ya, bagaimana lagi? Saya sudah tidak punya pekerjaan lain”.
Mahasiswa         : "Sehari biasanya dapat uang berapa Pak ?"
Pengemis            : "Lumayanlah untuk keluarga..."
Mahasiswa         : “Memang Bapak  punya anak berapa?”
Pengemis            : “Ada 3”
Mahasiswa         : “Apakah dengan mengemis bisa membiayai ketiganya?”
Pengemis            : “Oh bisa”
Mahasiswa         : "Ngomong-ngomong anak Bapak ada di mana ?"
Pengemis            : "Yang ke-1 di UGM Yogja , yang ke-2 di ITB Bandung dan yang ke-3 di IPB Bogor..."
Mahasiswa         : “Wah hebat ya anak Bapak. Di sana jadi apa?Jadi dosen, dekan atau administrasi?”
Pengemis            : ”Oh tidak. Ya semuanya jadi pengemis seperti saya”
Mahasiswa         : "????!!???"

Jadi menurut pengemis ini tanda sukses adalah menjalani profesi seperti yang dilakukannya. Prinsipnya :  “Anak akan menjadi orang yang berhasil kalau ia melakukan pekerjaan sesuai dengan pekerjaan, harapan dan cita-cita orang tua”. Kalau pekerjaan orang tua seorang dokter, maka anak-nya juga harus menjadi dokter dan menganggap pekerjaan lain tidak sebaik pekerjaan dokter. Demikian juga anak seorang pengusaha yang diharapkan meneruskan usaha orang tuanya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tidak memiliki pekerjaan yang tetap. Itu sebabnya orang tua sibuk dan berusaha mewujudkan impiannya. Itu tidak salah. Yang salah, kalau kita kembali ke tema kita “Jadilah Ahli Waris Rohani”. Warisan yang ini seringkali dilupakan. Harapan dan cita-cita dalam hal materi penting namun jangan melupakan warisan yang bersifat rohaniah yang tidak kalah penting-nya.

Warisan Hal-Hal Rohani

                Orang tua tentu tidak bisa begitu saja menjadikan anaknya seperti yang diinginkan tanpa menanamkan pondasi yang baik.  Orang tua tidak mungkin bisa memberikan rumah atau perusahaan yang bagus tapi tidak bisa dikelola dengan baik. Tanpa dasar yang baik, pengajaran yang kokoh, pengetahuan dan ketrampilan yang memadai tidak mungkin anaknya melanjutkan dengan baik. Orang tua yang takut akan Tuhan tidak boleh melupakannya. Setiap orang Kristen yang sudah dewasa baik yang sudah punya anak atau tidak atau hanya punya keponakan mempunyai tugas untuk mewarisi hal-hal rohani dari Bapa. Itu sebabnya dalam perikop 2 Tim 1:3-5 (Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam.  Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku.   Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu) Rasul Paulus memuji Timotius “Setiap kali terkenang akan pelayanan dan airmatamu, saya ingin bertemu denganmu.” Di dalam diri Timotius yang masih sangat muda, Rasul Paulus melihat ada sesuatu yang luar biasa baik. Pelayanannya yang murni dan hati yang berbelaskasihan kepada orang-orang yang belum percaya sampai Timotius meneteskan air mata. Bagaimana bisa ada anak muda seperti dirinya?

Membandingkan ayat 4-5 dengan kondisi anak muda sekarang berbeda. Masa kini sedikit sekali orang yang kagum melihat karakter, kepribadian dan kerohanian. Jarang ada pemuda seperti yang dikatakan Rasul Paulus di atas. Yang ada sekarang justru kebalikannya. Anak muda yang identik dengan kekuatan, daya kreativitas yang tinggi, sesuatu yang luar biasa, sepertinya tidak punya kesan dan pengaruh apa-apa. Malah dunia atau orang-orang generasi di atasnya, melihat anak muda sekarang anak muda yang ingin mudahnya saja dan hura-hura. Anak muda yang tidak fokus di dalam pekerjaan dan pelayanan. Saat bekerja atau melayani malah ada yang bermain Pokemon dan games lainnya. Anak muda yang tidak menitikkan air mata ketika melihat orang lain gagal atau melihat jiwa-jiwa yang belum  mengenal Kristus dan hidupnya ingin bersenang-senang tanpa berpikir panjang. Namun sebagai orang tua tidak bisa menyalakan anak itu sepenuhnya. Mengapa orang tua tidak mengajar dan mendidik mereka dan menunjukkannya dalam perbuatan dan tingkah laku? Seperti Rasul Paulus menunjukkannya dengan perbuatannya di samping  mengajar dengan perkataan. Rasul Paulus memuji  iman Timotius seperti juga iman neneknya Lois dan ibunya  Eunike (ayat 5). Di ayat ini tidak disinggung tentang ayahnya yang mungkin saja sudah meninggal. Orang-orang dewasa bukan mendidik agar secara fisik sehat , secara akademis pintar tapi agar anak-anak muda memiliki kerohanian yang baik dalam hidupnya. Itulah pondasi yang diberikan nenek dan ibu Timotius. Rasul Paulus melihat keluarga inti Timotius yang luar biasa dan memberi warna kehidupan pada Timotius.

                Bagaimana keluarga inti sekarang mempengaruhi kemampuan anak dalam bidang akademi dan fisik? Dalam hal ini mungkin baik. Walau tetap harus diwaspadai. Akhir-akhir ada berita tentang vaksin palsu yang telah beredar sejak 13 tahun lalu (dari 2003) sehingga membuat orang tua menjadi khawatir. Karena secara prinsip orang tua pasti ingin memberikan anak-anaknya yang terbaik. Tetapi pernahkah orang tua dengan sungguh-sungguh menyuntikkan hal-hal rohani kepada anak-anak? Biasanya hal-hal rohani hanya terjadi kepada diri anak-anak secara alamiah dan tidak disengaja. Di sini orang tua sering alpa.

Pengajaran Asaf

Mazmur  78 merupakan nyanyian pengajaran dari Asaf. Asaf bersama Heman dan Yedutun merupakan 3 kelompok orang yang membawahi bidang ibadah di Israel saat itu. Yang cukup terkenal adalah Asaf karena ia adalah kepala paduan suara. Paduan suara penting karena puji-pujian menyatakan kehadiran dan kekuatan Allah. Asaf mewarisi kerohanian Gerson, ayahnya yang berasal dari  keturunan orang Lewi. Warisan iman dan pelayanan di keluarga ini dilakukan secara turun temurun hingga akhirnya dipegang oleh Asaf dan anak-anaknya. Maz 78:1-2 Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. 2  Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. Pada perikop ini, Asaf  dengan sengaja memberi pelajaran kepada generasi di bawahnya. Ia seakan-akan berkata, “Hai generasi di bawahku, dengarkan dan sendengkanlah telingamu pada pengajaran tentang Allah. Aku mau mengajarmu. Aku mau meluangkan waktu mengajarmu. Aku ingin sungguh-sungguh memberi pengetahuan rohani kepadamu. Aku mau bayar harga untuk memberi pengajaran kepadamu tentang apa yang telah kuperbuat.” Hari ini berapa banyak orang yang sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk mengajar generasi yang ada di bawahnya? Yang terjadi hari ini orang (terutama orang kota) mengatakan, “Aku tidak punya waktu untuk mengajar hal-hal rohani kepada anak-anak.”

                Ayat 3-5, Asaf mengatakan Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,  kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. 5  Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka. Asaf ingin menceritakan apa yang sudah didengarnya seperti ia juga mendengarnya dari nenek moyang dan sekarang ia mau mengajarkannya kepada generasi di bawahnya. Seharusnya kita belajar bahwa  Adam mewarisi dosa dan kemurkaan Allah dan seharusnya saat itu selesai hidup manusia. Tetapi Kristus yang adalah Adam rohani mewarisikan iman yang harus kita warisi kepada generasi di bawah kita. Tanggung jawab sebagai orang yang menerima warisan rohani tidak hanya diam tetapi “Aku sudah menerima warisan rohani dan aku mau mengajarkannya kepadamu.: Ayat 6-8 Asaf mempunyai tujuan agar Allah dikenal oleh angkatan yang kemudian. Anak-anak yang lahir menceritakannya kepada anak-anak yang lahir nantinya sehingga tidak putus dan mandeg. Tidak ada jarak antara satu generasi dengan yang lainnya. Maka orang dewasa harus menceritakannya. Jangan sampai kita menganggapnya tidak penting. Saya sering minta agar jemaat membaca Alkitab agar kita mewariskan apa yang Tuhan ingin kita wariskan yaitu supaya Allah dikenal dan anak-anak kita percaya dan memegang perintah-perintahNya (ayat 7) karena Asaf tahu bahwa dunia semakin lama semakin jahat dan tidak mengenal Allah. Maka warisan rohani harus ditanamkan pada generasi berikutnya.

Lirik lagu “Bagi Tuhan Tak Ada yang Mustahil” mengatakan :

Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu

Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu

Reff:
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya

Saat menyanyikannya, apakah kita bersungguh-sungguh? Saat menyanyi terkadang saya merasa ngeri (apakah benar apa yang kita nyanyikan). Ada singer dan pemusik yang merasa kata-katanya bermakna terlalu dalam. Menurutnya, “Belum tentu kita bisa melakukannya.” Jadi setiap baris syairnya kita tambahkan dengan kata: “Benar?” Banyak orang tua yang malah mewarisi kebencian misal karena diperlakukan tidak adil oleh anggota keluarga yang lain. Padahal saat bernyanyi mengucapkan kata-kata : “Kudiangkat dan dipulihkanNya.” sehingga yang diwariskan adalah hati yang dipenuhi kebencian. Ayat 8 mencatat, “dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah. Pada ayat ini dikatakan sebagai “angkatan yang tidak setia jiwanya”. Asaf ingin generasi hari ini belajar dari generasi sebelumnya. Karena biasanya kalau sudah  makmur dan sibuk sedikit maka ia melupakan Tuhan. Asaf ingin generasi yang tetap hatinya.

Penutup

                Pertanyaannya sekarang : Apa yang kita wariskan? Apa yang kita pentingkan selain warisan uang, nama, asuransi (kesehatan dan pendidikan) atau tabungan? Apa kita mewariskan hal rohani sama pentingnya seperti hal-hal jasmani? Perjalanan hidup kita akan memperlihatkan apakah kita menghargai atau tidak warisan rohani. Amin. 

Sunday, July 10, 2016

Keluargaku = Ladangku


Ev. Daesy Sanger

Kejadian 1:26-27
26   Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
28  Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kis 18:1-28
1   Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus.
2  Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka.
3  Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.
4  Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.
5  Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias.
6  Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain."
7   Maka keluarlah ia dari situ, lalu datang ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang beribadah kepada Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat.
8  Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.
9  Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!
10  Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini."
11  Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka.
12   Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan.
13  Kata mereka: "Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat."
14  Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: "Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu,
15  tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya; aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian."
16  Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan.
17  Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu; tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
18  Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia.
19  Lalu sampailah mereka di Efesus. Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan berbicara dengan orang-orang Yahudi.
20  Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya.
21  Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus.
22  Ia sampai di Kaisarea dan setelah naik ke darat dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia.
23  Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid.
24  Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.
25  Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.
26  Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.
27  Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya.
28  Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Pendahuluan

                Ladang berada di daerah pertaninan. Istilah ladang, sawah dan kebun sudah tidak asing walau kita tinggal di kota. Kita banyak mengetahuinya karena hidup di negara agraris. Sekarang bayangkan kita berada di sebidang ladang. Aktivitas apa yang dilakukan orang di ladang? Menanam. Menanam artinya mempersiapkan ladang garapan  mulai dari menggali tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur dan bisa ditanami. Ada aktivitas menaburkan benih dan memberi pupuk. Ketika tunas bertumbuh ada aktivitas merawat di mana tanaman yang rusak dipotong sehingga ulat-ulatnya tidak merusak tanaman-tanaman di ladang. Setelah tanaman menghasilkan buah maka akan dipanen. Setelah itu hasilnya bisa dinikmati dalam keluarga sendiri. Untuk seorang pengusaha agronomi, dia akan menjual buah yang dipanen tersebut sehingga orang lain bisa menikmati.

                Keluarga ku = ladangku berarti ada aktivitas yang harus dilakukan agar keluarga ‘menghasilkan’. Tujuan mengolah  ladang adalah untuk menghasilkan buah, produk atau sesuatu yang bisa dimakan dan menghasilkan kesegaran. Sekarang banyak yang memakai produk-produk pertanian hidroponik dan makan yang sehat. Visi gereja ini agar mempunyai pengajaran yang sehat. Sehat yang bisa dinikmati dan tidak menjadi buah yang busuk. Untuk itu jemaat harus belajar dari firman Tuhan dan firman yang diberitakan di atas mimbar. Mengapa pelayanan harus melalui keluarga? Tidak cukupkah di gereja saja? Tidak cukupkah aktivitas di gereja atau sekolah Kristen? Kita masih ingat kalau orang bertanya, “Tuhan menciptakan keluarga atau gereja terlebih dahulu?” Keluarga! Keluarga yang diciptakan pertama kali mempunyai peranan yang penting dan tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia. Kalau Tuhan menciptakan keluarga berarti keluarga itu penting, berguna dan Tuhan punya maksud dan tujuan saat menciptakanNya.

Beberapa Landasan Firman Tuhan terkait Keluargaku = Ladangku

-        Tuhan meletakan misi dalam keluarga (Kej 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi).
Bicara tenang misi berarti kita berbicara tentang keluarga Kristen dengan kata lain berarti Tuhan punya misi dalam keluarga. Waktu Tuhan menciptakan Adam dan Hawa bukan sekedar untuk bersenang-senang saja (piknik dan liburan keluarga menjadi bagian penting dalam keluarga). Misi manusia diciptakan Allah : beranak cucu dan bertambah banyak. Sehingga tidak mengherankan pasangan yang sudah menikah cepat-cepat ingin punya anak. Tugas regenerasi : beranak cucu dan bertambah banyak. Sekarang program keluarga berencana membatasi jumlah kelahiran anak karena lahan tempat hidupnya terbatas. Ketika semua anak sudah menjadi dewasa dan meninggalkan rumah, maka rumah menjadi sepi. Sekarang kalau keluarga mempunyai  4-5 anak repot mengurusnya tapi setelah mereka dewasa, rumah menjadi sepi. Manusia harus melaksanakan misi itu. Penuhi bumi, taklukkanlah itu, berkuasalah atas semua binatang. Ini mandat budaya dalam keluarga. Ada hal yang harus diwariskan ke anak-cucu karena Allah telah menetapkannya. Hal ini harus dilaksanakan walau tugas Allah ini berat.

-        Allahpun bermisi melalui sebuah keluarga  

Alkitab luar biasa karena diilhami Allah. Allah membuat keluarga untuk melaksanakan dan memakai misiNya. Yesus lahir melalui keluarga Yusuf dan Maria. Allah sangat konsisten. Pertama Allah menciptakan keluarga. Waktu Allah mau bermisi dan mengutus anakNya yang tunggal dalam dunia ini, Allah menggunakan keluarga. Bisa tidak Yesus datang tidak melalui keluarga? Anak Sekolah Minggu yang ditanya menjawab : Bisa! Misal : bisa datang dari luar angkasa. Apa alasannya? Karena Yesus adalah Tuhan, Dia mau jadi apapun bisa! (bisa karena Dia adalah Tuhan). Terkadang sebagai orang dewasa kita tidak sanggup berpikir seperti anak Sekolah Minggu itu. Di sini kita melihat Allah tetap memilih lembaga keluarga untuk lahir dan dibesarkan. Lukas 2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Ketika berumur 12 tahun, Yesus sebagai keturunan Yahudi mengikuti ajaran Yahudi. Usia 12 tahun dianggap cukup besar untuk pergi ke rumah Tuhan. Orang Yahudi datang ke Yerusalem 3 kali setahun. Jarak dari Nazaret (tempat Yesus dan keluarganya berdomisili) ke Yerusalem cukup jauh. Kalau berjalan kaki atau menunggang keledai membutuhkan waktu 3 hari. Sebagai orang Yahudi, Yesus mengikuti semua tata cara itu. Seorang Allah yang merendahkan diri dalam kondisi dan nilai keluarga Yahudi dibentuk untuk 3 kali setahun pergi ke Yerusalem bersama papa-mama Nya. Keluarga adalah ladangku itu tugas kita dalam keluarga. Bukan sekedar memberi makanan, menyekolahkan anak tetapi melihat apa yang Tuhan Yesus lakukan. Mereka memsiapkan anak mereka.

Walau Yesus adalah Allah sejati tetapi ia mengikuti proses dalam keluarga. Itulah pentingnya sebuah keluarga. Alkitab bukanlah buku tentang keluarga  (family book) yang menulisi bagaimana menjadi keluarga sehat tetapi Alkitab berbicara tentang manusia dan menyentuh hidup kita dalam keluarga. Oleh karena itu kalau punya anak, janganlah membesarkannya tanpa Allah. Kita ikuti perkembangan anak. Kita harus marah kalau anak tidak datang ke Sekolah Minggu. Yesus pernah tertinggal di Bait Allah  dan orang tuanya pun kembali lagi. Yang menarik ketika Maria bertanya, “Mengapa Engkau melakukan ini Nak?” Yesus pun menjawab,”Memang Aku harus tinggal di rumah Bapaku.” Ayat 51, Yesus pulang bersama keluargaNya ke Nazaret dan tetap hidup dalam asuhan (nurturing) mereka. Yesus mengikuti proses dalam keluarga. Anak tukang kayu dibesarkan dalam keluarga tukang kayu. Papanya mengajarkan tentang pertukangan kayu dan itu diajarkan oleh keluarga Yahudi yang menurunkan ketrampilan ke anak. Yesus sebagai anak dilibatkan dalam ibadah. Jangan takut kalau anak mengganggu dalam ibadah. Beberapa gereja ada ruang bayi. Kalau yang tidak punya, agak susah untuk beribadah. Kami berdua membawa anak-anak kami ke ruang  ibadah yang tidak punya ruang bayi dan mendidikan anak untuk tidak mengganggu ibadah. Kalau ada orang yang tidak konsentrasi karena anak berisik, itu karena kurang konsentrasi saja. Saya ingat suami saya mendisiplinkan anak ketika rewel , dia dibawa keluar dan ditanya, “Kamu mau ikut ibadah atau di luar?” Maka anak itu menjawab, “Mau ikut ibadah” . Anak-anak melihat papa-mama yang begitu ‘besar’, harus tetap duduk tenang mengikuti pemberitaan firman. Berarti ada yang lebih ‘besar’ dari papa-mama nya yaitu Allah.

-        Tuhan juga menggunakan lembaga keluarga untuk melayaniNya

1 Taw 25:6 Mereka ini sekalian berada di bawah pimpinan ayah mereka pada waktu menyanyikan nyanyian di rumah TUHAN dengan diiringi ceracap, gambus dan kecapi untuk ibadah di rumah Allah dengan petunjuk raja. Demikianlah keadaan bani Asaf, Yedutun dan Heman.
Di Mamur kita juga menemukan nama Asaf, Yedutun dan Heman di mana mereka menjadi pimpinan pujian. Mereka melayani sebagai singer. Anak Heman dan Yedutun melayani dalam persekutuan bersama. Mereka butuh biduan. Dalam 1 Tawarikh 25:6 dikatakan keluarga terlibat dalam sebuah pelayanan. Papa dan anak melayani bersama. Tidak semua orang bisa bermusik, tapi bisa melayani dalam bentuk apa saja. Anak saya melayani sebagai pianis. Awalnya kami memaksa anak-anak kami  untuk belajar memainkan alat musik. Waktu kecil mereka  berkata, “Jangan paksa kami untuk mengajar di Sekolah Minggu.  Sepertinya saya tidak bisa mengajar anak-anak Sekolah Minggu.” Waktu menikah saya sudah berdoa agar anak-anak kami punya talenta rohani untuk melayani. Talenta itu kemudian diberikan. Saya berdoa bersama dengan suami,”Berikan talenta khusus kepada anak-anak sehingga bisa dipakai untuk melayani Tuhan.” Mama saya sekarang hadir mengikuti ibadah di sini. Mama mengajarkan kami melayani. Mama memberikan rumahnya untuk dipakai anak-anak Sekolah Minggu, saya dan adik-kakak saya melayani. Jadi saya begitu takut saat anak berkata, “Jangan suruh saya mengajar Sekolah Minggu karena  saya tidak punya bakat mengajar.” Saya ingat waktu umur anak saya 7 bulan  sampai umur batita (di bawah 3 tahun) saya sengaja berhenti bekerja. Waktu saya menyanyikan lagu “nina bobo”, anak saya bisa mengikuti nada saya tanpa nada fals. Mungkin musik yang menjadi talentanya. Jadi saya pikir dan berkata,”Papa dan mama bantu kamu untuk menemukan bakatmu”. Ia mengamuk dan menjawab, “Mama terlalu terobsesi.” Namun setelah besar (17 tahun) ia berkata,”Bersyukurlah mama cukup strong. Mama terima kasih sudah meminta saya belajar piano.” Pernah saya ada pelayanan dan saya mengajak anak perempuan saya (Abigail) untuk ikut melayani karena saya pikir kurang efektif kalau hanya dengan bicara saja. Maka kami akan berkolaborasi pergi berdua sebagai tim. Ia yang bermain musik.

-        Keluarga dipakai Tuhan untuk mempersiapkan para pelayan misi (Keluarga Musa, Yohanes dan Timotius)

2 Tim 1:5  Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
Pernahkah seorang ibu membayangkan ketika sedang menggendong dan menyuapi anak-anaknya : mungkin kita sedang mempersiapkan seorang misionaris. Biarlah kita menjadi bagian untuk memperlengkapi dan mempersiapkan para pelayan misi seperti hamba Tuhan. Bukan hanya misi di mimbar tapi pelayan Tuhan di mana saja. Mungkin saya banyak berdoa untuk hal-hal yang tidak didoakan orang lain. Selain berdoa untuk talenta anak-anak kami, saya dan suami juga berdoa agar anak-anak kami mengambil salah satu dari 3 profesi yang bersentuhan dengan jemaat (manusia). Kami berdoa, “Tuhan boleh tidak anak kami menjadi hamba Tuhan, guru (dosen) atau dokter?” Tuhan kalau boleh anak saya menjadi salah satu dari ketiga profesi tersebut. Saya pikir ini misi dan menyentuh jiwa manusia. Jadi kalau ada anak yang menjadi hamba Tuhan bersyukurlah (give thanks) karena kita dipilih dalam keluarga yang menginvestasi anak untuk pelayanan kepada Tuhan. Seorang mama seharusnya merasa senang dan bangga kalau anaknya bisa menjadi hamba Tuhan. Dulu mungkin orang tua akan berkata,”Tidak usah menjadi hamba Tuhan karena miskin.” Seharusnya kita bersyukur kalau membesarkan anak yang bisa menjadi hambaNya. Kami membawa anak-anak kami  ke sekolah Alkitab di mana kami pernah menjalani pendidikan. “Ini lho dulu papa sekolah di sini (di bandung). Mama dulu S2 juga di sini”, kata saya.  Anak saya berespon,”Jadi kami harus bersekolah di sin?” Kami juga mengajak anak-anak saya untuk melihat sekolah Alkitab di luar negeri seperti tempat tantenya bersekolah di SBC. Saya berkata, “Di luar negeri juga banyak sekolah teologia.” Saya ingin anak-anak kami  melihatnya. Yang besar akhirnya berkata, “Ma saya mau sekolah Alkitab tapi tidak sekarang.” Yang pertama memilih bidang medis. Hati saya bersyukur, lalu saya mengusulkan agar anak-anak mengambil sekolah Alkitab agar seimbang antara fisik, mental dan rohani. Anak-anak belum selesai pendidikannya sekarang, tetapi ini adalah bagian ladang yang harus diselesaikan. Tokoh Alkitab seperti Musa, Yohanes dan Timotius juga dididik dalam keluarganya.

Keluarga melayani dalam persepektif Kisah Para Rasul

-     Rumah (baca keluarga) menjadi perluasan dari Bait Allah dalam peberitaan Injil dan pelayanan (band. dengan kehidupan jemaat mula-mula Kis 2).

Pernah bayangkan keluarga kita menjadi perluasan dari gereja kita? Di gereja ada hamba Tuhan dan guru Sekolah Minggu, tapi di rumah kita juga ada ladang kecil yang hasilnya bisa dipasok ke gereja. Keluarga perluasan dari Bait Allah .

-        Dampak keselamatan pada seluruh isi rumah

(Kis 16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.").
Satu orang percaya semua diselamatkan. Tetapi keselamatan bukan warisan seperti kalau Papa percaya maka semua anak jadi selamat. Namun pengertiannya : iman ditularkan, diperbincangkan sehingga anggota keluarga lainnya berespon dan menjadi percaya. Keluarga kami bukan berasal dari keluarga Kristen tetapi Tuhan mengasihi keluarga kami. Popo saya yang sudah tua tidak bisa datang ke gereja sendiri sehingga mama menemaninya setiap minggu. Karena mendengar firman Tuhan, akhirnya mama menjadi percaya. Mama orang pertama yang percaya sedangkan papa hidupnya hanya untuk bekerja. Setelah mama bertobat, ia ingin anak-anaknya menjadi anak-anak Tuhan. Ia tahu agar anak Kristen seharusnya dimasukkan ke sekolah Kristen. Jadi kami dibesarkan dalam sekolah Kristen dan mengikuti Sekolah Minggu yang baik. Sehingga waktu tumbuh besar, kami punya kerohanian yang baik. Papa juga mulai percaya walau masih jatuh bangun. Rumah kami dijadikan ladang pelayanan. Saudara kami menjadi ladang kami. Di daerah , kami menjadi satu-satunya keluarga Kristen. Kami tidak tinggal dalam kompleks keluarga Kristen.  Rrumah kecil kami menjadi tempat iman diperbincangkan , dibagikan dan diberitakan. Hasilnya dari keluarga mama yang berjumlah sembilan orang, ada 8 orang yang dimenangkan dengan paket lengkap (anak-cucu semua menjadi percaya). Keluarga adalah ladang pelayanan. Jadi bukan hanya keluarga kami, tetangga kami juga menikmati. Bahkan tetangga jauh datang menikmati persekutuan.

-        Contoh keluarga yang memuliakan Tuhan

Diteladankan oleh keluarga Akwila - Priskila (Kis 18:1-28; Roma 16:3-5 3  Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.  Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.  Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus , 1 Kor 16:19 Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu).
Akwila dan Priskila adalah orang awam. Memang ada orang-orang  awam yang melayani sesuai profesi. Seperti Akwila  dan Priskila yang menjadi wiraswasta (membuat kemah) dan pasti cukup kaya. Mereka melayani secara holistik yang bukan saja melalui pemberitaan firman tetapi melayani dalam berbagai hal (termasuk finansial). Mereka menjadi teman sekerja Rasul Paulus dalam melayani. Mereka melayani Tuhan dalam konteks keluarga (suami-istri). Pada ayat 24-26 ada Apolos pengkhotbah besar. Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.  Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.  Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.
Keluarga ini dipakai Tuhan untuk mengajar pengkhotbah besar yang bernama Apolos. Ini hebat sekali. Dalam keterbatasan, mereka dipakai Tuhan. Mereka menjelaskan tentang Injil , jalan Tuhan, tentang apa yang Yesus lakukan. Akwila dan Priskila tidak setenar Paulus karena bukan rasul tapi pelayanannya dicatat oleh Lukas. Mereka mungkin tidak terkenal. Banyak orang yang memang dipakai di belakang layar. Orang yang tidak bisa berkhotbah bukan berati kiamat dan tidak bisa melayani. Karena banyak bagian yang bisa dipakai dalam memuliakan Tuhan. Mama saya menjadi ‘marketing’ kami. Karena tidak bisa berkhotbah , ia melayani dengan caranya yang unik. Kalau ada orang tua berbelanja di tokonya dengan membawa anak-anaknya, mama akan bertanya kepada anak-anak tersebut,”Kamu Minggu ngapain? Nanti hari Minggu kamu datang ke rumah belajar nyanyi bersama Didi dll ya.” Mama menjadi anggota paduan suara  dan dia suka menyanyi di toko. Ada anak-anak yang berkata,”A-yi kok aneh ya. Sudah tua suka menyanyi.” Mama kemudian bertanya,”Memang kamu tidak bisa menyanyi?” Si anak menjawab,”Tidak bisa”. Mama kemudian berkata lagi,”Nanti hari Minggu datang ya  untuk belajar menyanyi.” Jadi siapapun bisa dipakai untuk melayani ‘ladang’ dan menghasilkan buah.
Roma 16:4  mereka menampung orang-orang untuk datang ke rumah. Mereka membuka rumah mereka sebagai tempat ibadah. Saya diberkati melalui teks tentang Akwila dan Priskila dan mengalami bagaimana keluarga bisa menjadi ladang yang subur .