Thursday, December 3, 2015

Iman Sadrakh, Mesakh dan Abednego


Ev. Susan Kwok

Daniel 1:3-7
3  Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan,
4  yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim.
5  Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja.
6  Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya.
7  Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego.

Daniel 3 : 13-27
13  Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja,
14  berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
15  Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
16  Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
17  Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
18  tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
19  Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.
20  Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
21  Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
22  Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
23  Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
24  Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"
25  Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"
26  Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
27  Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka.




Pendahuluan

                Kita mungkin tidak bisa memiliki iman seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun kita tahu bahwa kita memiliki Tuhan yang sama yang memberikan pertolongan pada anak-anakNya. Ada orang yang berkata beriman adalah tanda bahwa orang itu lemah , bodoh dan tidak punya pikiran. Orang non Kristen, cenderung melihat orang Kristen sebagai orang yang lemah dan bodoh. Itulah dunia. Di sisi lain ada juga orang Kristen yang malu untuk mengakui atau menyatakan imannya. Jadi orang tersebut dengan sengaja justru menyembunyikan imannya. Jadi ada orang yang mau menyatakan iman tetapi dianggap bodoh tetapi ada juga yang tidak mau menyatakan imannya karena malu dsbnya. Di samping itu ada juga orang Kristen yang menyatakan iman sebatas di gereja dan aktivitas rohani.
                Ada seroang petani di suatu pedesaan yang akan pindah ke desa yang lebih jauh. Setelah memasukkan barang terakhir ke dalam truk yang akan membawanya pindah tempat, anaknya yang terkecil bertanya kepadanya, “Papa di sana ada gereja tidak?” Papanya menjawab,”Mungkin tidak ada anakku.” Anaknya bertanya kembali, “Di sana ada sekolah minggu tidak?” Papanya menjawab,”Sepertinya juga tidak ada, anakku.” Lalu sang anak masuk ke kamarnya dan menulis di atas suatu kertas. Ia menulis sesuatu dan menaruh tulisannya itu di atas meja. Suratnya ditujukan untuk Tuhan, di mana ia menulis,”Tuhan di tempat yang baru tidak ada gereja dan sekolah minggu. Jadi pasti tidak ada Tuhan di sana. Karena itu selamat tinggal Tuhan! Selamat jalan Tuhan!” Gawat kalau orang Kristen sudah berkata seperti itu. Seperti anak kecil itu yang berpikir, “Tuhan hanya ada dalam gereja atau dalam aktivitas rohani saja”.

Iman Sadrakh, Mesakh dan Abednego

                Hari ini kita melihat siapa Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka adalah orang Yahudi yang menjadi tawanan dari Raja Nebukadnezar (Raja Babel) dan mereka telah meninggalkan bait suci, komunitas dan tanah air mereka. Apakah mereka berkata (seperti anak kecil di atas), “Di Babilonia tidak ada bait Allah, oleh karena itu selamat tinggal Tuhan!”. Siapa mereka? Pada kitab Daniel 1:3-7, minimal terdapat 2 hal yang luar biasa dalam diri Sadrakh, Mesakh dan Abednego :

1.     Mereka berusia muda dan produktif.
          Mereka mempunyai kekuatan dan masa depan yang bagus. Masih ada harapan dalam diri anak muda seperti ini. Oleh sebab itu yang dibawa Raja Nebukadnezar ke Babel adalah  orang muda (belum terlalu tua) yang sehat dan masih kuat untuk bekerja. Karena Raja membutuhkan mereka untuk membangun negaranya. Nebukadnezar tidak mau membawa orang-orang tua, sakit-sakitan dan matanya rabun.

2.    Kecerdasan mereka melebihi rata-rata orang Babilonia.
          Mereka berintelektual tinggi alias pintar (bukan orang bodoh). Tetapi biar bagaimanapun mereka adalah tawanan.  Mereka berada dalam situasi yang sangat terjepit. Nama Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego diubah (menjadi nama Babel). Hanya Daniel yang kita kenal dengan nama aslinya yaitu Daniel. Tetapi nama Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah nama Babel (bukan Yahudi). Alkitab menjelaskan bahwa situasi mereka sebagai tawanan tidak mudah.  Pemerintah mencoba untuk memberikan jatidiri yang baru dengan mengubah nama mereka.
          Nama saya Susan Maqdalena (lebih dikenal sebagai Susan Kwok). Nama Maqdalena konotasinya kalau tidak Kristen atau Katolik. Kalau suatu kali nama saya diubah menjadi Susan Siti Nurhalizah. Ada huruf ‘Siti’-nya dan di depannya tidak ditambah penginjil tapi Hajjah. Suatu hari misalnya saya ditawan oleh orang Arab, dan diberikan nama Hajjah Siti Nurhalizah. Saya berkata saya belum hajjah. Pemerintah bilang haji atau tidak bukan urusan saya, tetapi supaya orang tahu bahwa kamu adalah tawanan saya. Ingat kamu adalah tawanan dan saya adalah penguasa. Kira-kira begitulah kondisi politik yang dihadapi Sadrakh ,Mesakh dan Abednego. Nama mereka menunjukkan siapa yang berkuasa secara politik. Kamu tidak bisa bebas , tetapi harus mengikuti perintah saya dan kamu harus menjado orang Babel sesuai dengan namamu. Seringkali hal ini menjadi kesulitan bagi Sadrakh, Mesakh dan Abednego.
          Kesulitan pertama yang dihadapi ketika Raja mengharuskan mereka untuk makan dan minum yang sudah dipersembahkan ke berhala, dan tidak boleh ada yang menolaknya karena status mereka sebagai tawanan. Apa yang mereka lakukan kemudian? Sebagai tawanan mereka berkata, “Ya sudahlah saya kan tawanan, saya ikut saja”? Tidak demikian! Mereka memberikan  usulan kepada penyaji makanan. “Tidak usah memberi kami  daging dan anggur tetapi sayur-syayuran dan air biasa, dan nanti kita lihat siapa yang lebih sehat. Di dalam Daniel 1, Sadrakh, Mesakh dan Abednego ternyata jauh lebih sehat dan bugar. Lebih kuat dari orang-orang yang makan–makanan raja yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Allah menolong mereka , memimpin mereka luar biasa, ketika mereka ingin terus belajar percaya kepada Allah. Bahkan di dalam ayat 17,19 dan 20, Alkitab mencatat mereka orang pandai, dan tidak ada yanga menyamai. Mereka 10 kali lebih cerdas daripada orang-orang muda di Babilonia. Mereka akhirnya dipekerjakan dengan kedudukan yang baik. Sepertinya situasi sudah tenang dan aman.  Apakah benar? Ternyata tidak demikian. Hidup ada saat tenang, tetapi ada saat di mana ada permasalahan besar datang. Mereka bekerja baik-baik, tidak mengganggu orang, menujukkan kualitas yang luar biasa, menunjukkan kesetiaan kepada pemerintah, namun tidak berarti tidak masalah. Tiba-tiba Nebukadnezar mendirikan patung yang sangat tinggi dan mengumumkan semua orang harus menyembah patung.  Ada orang Kasdim (orang Irak) yang tidak suka orang Yahudi dan mencari cara untuk menyalahkan orang Yahudi. Mereka menemukan bahwa Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak menyembah patung tersebut.
          Mengapa nama Daniel pada pasal 3 tidak disebutkan? Hanya Sadrakh, Mesakh dan Abednego lalu di pasal lain, hanya nama Daniel yang muncul (yang lainnya tidak ada). Tidak ada keterangan tentang hal itu. Jadi hanya bisa menerima , mereka sedang diceritakan secara khusus.  Ketika mereka tidak menyembah, maka Nebukadnezar menjadi sangat marah. Dalam ayat 16-18, ada perdebatan antara Sadrakh, Mesakh dan Abednego dengan raja Nebukadnezar. Nebukadnezar menyarankan mereka untuk menyembah patung dan Tuhan pasti mengerti . Nebukadnezar mengenal mereka karena mereka 10 kali lebih pintar. Ia coba membujuk mereka,” Ayo sembahlah. Kalau tidak sembah, mana kamu akan masuk ke dalam dapur api yang menyala-nyala dan dewa mana yang akan menolong kamu?” Ada kalanya iman kita dibenturkan seperti ini. Ada orang (teman kerja, keluarga) yang belum percaya mencoba melunturkan iman percaya kita. Mereka mencoba memasukkan pikiran-pikiran yang sepertinya masuk akal. Misalnya : Ambil saja tidak apa-apa walaupun bukan milikmu. Anakmu sedang sakit, Tuhan akan mengerti. Ada begitu banyak cara dunia yang ingin mengalihkan diri dari cara yang benar. Apalagi dihadapi pada pilihan hidup atau mati. Mereka bicara, “Tidak ada gunanya berdebat denganmu, karena biar bagaimana pun kami akan tetap menyembah Allah.” Kadang saya berpikir, bagaimana kalau saya yang berada pada situasi Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Kalau Sadrakh, Mesakh dan Abednego memikirkan masa depan, maka lebih baik mereka mengikuti saja kemauan Nebukadnezar. Pekerjaan baik, pemasukan okey, tidak usah dirongrong tentara dan  hidup bisa tenang. Tetapi saat itu mereka mampu untuk memilih apa yang terbaik dalam hidup mereka. Mereka melihat saat itu adalah momentum yang tepat untuk menyatakan, “Inilah iman saya”. Tidak semua orang bisa menangkap momentum seperti ini sehingga kita tidak bisa mengatakan, “Ini maunya  Tuhan untuk kita menyatakan iman”.

Mengapa kita susah menyatakan iman?

                Karena pikiran kita selalu dipenuhi hal-hal yang sifatnya jasmani yang enak-enak. Alih-alih pikiran dibuka dan dunia harus tahu posisi kita di mana. 24 jam kita sibuk mencari nafkah, memikirkan anak, keluarga dan pelayanan sehingga membuat kita tidak mampu menangkap momentum seperti itu. Sadrakh , Mesakh , Abednego juga punya pekerjaan yang bagus yang mendatangkan penghasilan yang banyak dan itu yang harus dipertaruhkan.  Tetapi mereka berkata, “Allah yang kami puja sanggup melepaskan kami.” Tapi mereka tidak berhenti saat itu.  “Allah yang kami puja juga sanggup tidak melepaskan kami”. Allah sanggup menolong dan membiarkan masalah terjadi dalam hidup saya. Apakah kita hanya punya satu sisi pemahaman, Allah sanggup menolong tetapi lupa yang lain bahwa ada kedaulatan Allah yang bisa membiarkan masalah terjadi. Ayat 18, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
                Kalau kita susah dan ditolong Tuhan, maka kita pasti menerimanya. Tetapi kita terkena masalah dan berdoa, dan Tuhan berkata “Aku tidak akan menolongmu keluar dari masalah ini” apakah kita terima? Itu yang terjadi pada Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka tidak tahu, Tuhan akan menolong mereka atau tidak. Dulu Tuhan menolong mereka, tapi dalam menghadapi masalah ini mereka tidak tahu apakah Tuhan akan menolong. Bukan mereka tidak tahu kebaikan Tuhan tapi mereka tidak tahu rencana Tuhan bagi mereka. Apakah Tuhan akan membiarkan mereka mati di Babilonia di atas perapian yang menyala-nyala. Ketika mereka menjawab, “Kami tetap tidak menyembah walaupun Tuhan tidak menolong kami”, maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar. Sehingga Nebukaknezar memerintahkan ”Panaskan 7 kali lipat. Bawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego masuk dan biarkan mereka mati”. Dalam sebuah drama, mungkin kita buat scenario di mana malaikat datang dan angkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego sehingga tidak terbakar. Orang Kristen pada umumnya ingin begitu ada masalah Tuhan langsung turun tangan menolong. Tetapi Tuhan tidak menolong dan membiarkan mereka masuk dapur api yang dipanaskan 7 kali lipat. Tetapi justru kita bisa melihat karya Allah terjadi di sana. Campur tangan Allah justru terjadi di sana. Sadrakh, Mesakh dan Abednego tidak minta umur panjang, tetapi akhirnya Tuhan kasih mereka. Waktu Salomo berdoa tidak minta kekayaan dan hanya minta hikmat, tetapi Tuhan berikan hikmat dan harta kekayaan. Terkadang saya pikir, apa kita perlu minta sesuatu kebalikannya. Saat ulang tahun minta agar sehat dan umur panjang. Kata Tuhan, “Karena kamu minta sehat dan umur panjang, bagaimana kalau saya kasih kamu sakit dan umur pendek?” Masih bisa beriman bila diberikan seperti itu? Kembali pada cerita Daniel. Walaupun 7 kali lebih panas, mereka bisa masuk lebih dalam ke dalam dapur perapian. Mereka masuk dengan selamat tetapi yang membawa mereka mati karena kena hawa panasnya. Itu mujizat yang Tuhan lalukan. Logikanya : yang membawa dan dibawa seharusnya mati kena panas karena Sadrakh , Mesakh dan Abednego tidak memakai baju anti api.  Yang masuk 3 orang dan yang berjalan-jalan ada 4. Allah menampakkan diriNya. Allah bersama anak-anakNya yang sedang dalam kesulitan. Saya pikir mudah saja kalau Tuhan mau tolong. Begitu Sadrakh, Mesakh dan Abednego, wajan menjadi dingin dan apinya mati. Tetapi Tuhan tidak melakukan hal itu. Tuhan biarkan dapur perapian tetap 7 kali lebih panas, tetapi dalam  kesulitan itu, Ia hadir bersama anak-anakNya yang sedang susah. Itulah Allah Immanuel, Allah yang beserta umatNya. Dalam ayat 27, saat mereka keluar, mereka tidak hangus terbakar dan tidak ada bau kebakaran sedikit pun.
                Apa yang menjadi dapur api kita? Apa yang menjadi masalah kita? Apa masalah itu membuat kita menjadi tidak beriman atau tambah beriman? Apakah masalah itu membuat kita menjadi tidak percaya atau membuat kita belajar. Masalah keluarga dan kesehatan, mungkin kita punya anak yang tidak bisa diharapkan dan menjadi sumber kekecewaan. Atau kita mempunyai hal yang menyakitkan kita dalam hubungan kita dengan orang lain. Banyak hal membuat iman kita runtuh dan hilang. Tetapi kalau kita sedang menghadapi dapur api kita, sebaiknya kita mengingat kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego.  Mereka menyerahkan 100% permasalahan mereka tanpa berusaha mendikte Allah. Mereka tidak pernah memaksa Allah. Kalau kita, tanpa sadar kita suka mendikte dan memaksa Allah. Kita sulit 100% membiarkan Allah bekerja sesuai kedaulatan, rencana, kebaikan dan misteriNya.  Itu sebabnya kita sulit melihat portolongan Allah.

Penutup


                Satu kalimat dari buku yang saya baca “Belajarlah setuju dengan Allah”. Saya baca, bangun, belajar setuju dengan Allah. Bukankah kita seringkali yang meminta Allah yang setuju dengan saya? Saya buat rencana ini-itu dan minta Allah tanda tangan agar menjadi lebih baik. Tuhan bilang, “Saya tidak setuju! Saya maunya seperti ini” Itu yang terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi buku itu mengajarkan “belajarlah setuju dengan Allah”. Allah yang menentukannya dan kita yang belajar setuju dengan Dia. Dengan demikian baru kita bisa melihat pertolongan Allah. Biarlah kita belajar untuk setuju dengan Allah dan jangan mau-maunya sendiri. Karena belajar setuju dengan Allah berarti kita memposisikan sebagai anak. Allah yang memberikan garis-garis yang baik , agar hidup kita juga menjadi baik. Jangan kita menjadi umat Tuhan yang selalu membangkang, melawan dan mau-maunya sendiri. 

Tenanglah, Aku ini Jangan Takut

Ev. Lily Suwandhi

Markus 6 : 45-52
45  Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
46  Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
47  Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
48  Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
49  Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
50  sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
51  Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
52  sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.

Pendahuluan

                "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!", ini adalah perkataan seorang Guru pada murid-muridNya. Tuhan Yesus melakukan mujizat dengan berjalan di atas air pada Markus 6 sedangkan manusia tidak bisa berjalan di atas air. Rasul Petrus dapat berjalan beberapa langkah di atas air. Namun karena merasakan tiupan angin yang begitu besar, ia menjadi  takut dan mulai tenggelam. Lalu ia berteriak, “Tuhan tolonglah aku!” (Mat 14:30). Hal ini terjadi setelah para murid melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air dan mengira Dia sebagai hantu sehingga Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya,” Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” yang menjadi tema khotbah.

Terdapat 3 bagian dari perkataan Tuhan Yesus ini yaitu :

1.     Jangan takut.

Setiap manusia memiliki rasa takut. Ada yang takut semakin gemuk, ada yang takut terlalu kurus, ada yang takut menjadi tua, tidak berguna, pelupa serta dilupakan orang. Saat tua jangan terlalu pantang sehingga tubuh tidak bertenaga dan otak kekurangan protein yang dibutuhkan. Yang penting asupan harus dijaga sehingga tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Jangan tiap hari hanya makan kangkung saja tapi harus makan yang seimbang.  Kesehatan perlu dipelihara karena tubuh kita adalah bait Allah. Banyak hal yang ditakuti manusia saat hidup di dunia.

Ada 3 hal yang paling ditakuti manusia di dunia yaitu :

a.        Takut miskin.

Ada yang beranggapan kalau manusia miskin, maka dibandingkan dengan anjing saja tidak layak. Anjing makan daging sedangkan manusia hanya makan pepaya.  Sekarang ini orang tua bekerja keras seperti kuda atau lembu agar anak-anaknya jangan sampai dihina sehingga anak-anaknya menjadi penunggang kuda atau lembu. Sedangkan ketika ia punya cucu, maka kuda atau lembu yang sudah tua dijual. Seorang anak berkata kepada orangtuanya, “Papa kenapa begitu pelit?” Ayahnya menjawab, “Karena papa pelit, maka papa baru bisa menyisakan uang untukmu. Kalau tidak , maka tidak tersisa uang sedikit pun”. Sehingga seorang anak harus menghargai kesulitan orang tuanya.

b.       Takut sakit. 

Karena bila sakit akan menghabiskan banyak uang. Kalau penyakit orang tua-nya  lama, maka anak-anak menjadi bosan dan tidak ada anak yang berbakti lagi kepadanya. Maka sebelum tua , orang tua harus menyisihkan uang. Menjadi orang tua juga harus ingat untuk  cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah (Yak 1:19).  Pada kisah 3 negara (sam kok) ada seorang jendral yang terkenal jago perang bernama Zhang Fei. Suaranya sangat besar (menggelegar). Setiap kali perang pasti menang. Suatu hari ia merasa tidak senang dan berkata bahwa ia tidak takut pada langit dan bumi. Waktu itu ada Zhuge Liang, seorang penasehat militer jenius, berkata,”Engkau tidak takut langit dan bumi? Coba lihat di dalam telapak tangan ada 1 huruf yang ditakuti.” Begitu Jendral Zhang melihat, dia terkejut dan matanya melotot karena ada huruf ping (sakit). Orang takut sakit karena bisa meninggal.

c.        Takut mati.
Sebagai orang Kristen jangan takut mati. Walaupun bisa mati, tetapi kita tahu bahwa kita pasti sampai kepada Tuhan sehingga dikatakan RIP (rest in peace, istirahat dalam damai). Tenang sekali karena kembali kepada Tuhan, sehingga kita tidak takut. Di dalam Alkitab ada 365 kali frasa “Jangan takut”. Tuhan Yesus juga mengatakan,”Jangan takut!” Pada Markus 6, Tuhan Yesus berada di atas bukit ketika berdoa. Dia melihat murid-muridnya mendayung dengan payah karena angin sakal. Mata yesus memandang mereka yang sedang kesusahan. Tetapi rombongan murid ini melihat ombak dan angin yang besar dan tidak melihat Tuhan. Ada kalanya kita tidak melihat, tetapi Tuhan Yesus melihat kita. Tenanglah, jangan takut!

2.    Aku ini

Melihat kesusahan murid-muridNya, Tuhan Yesus berjalan di atas air. Murid-muridNya melihat hal ini dan mengira Dia sebagai hantu.  Namun Tuhan Yesus tidak marah. Hal ini bila dialami oleh orang lain bisa salah sangka dan marah. Mengapa mereka melihat Yesus sebagai hantu? Karena mereka tidak mengerti! Saat Yesus khotbah di bukit, mereka mendengar firman Tuhan dari pagi sampai sore dengan sangat baik sehingga mereka lupa waktu dan lupa lapar. Murid-muridNya mengatakan, “Ini sudah sore biarlah mereka pulang saja”. Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Jangan! Kamu harus memberi mereka makan.” MuridNya berkata, “Tidak ada uang dan roti tersedia, darimana ada roti untuk memberi makan 5.000 orang laki-laki (di luar perempuan dan anak-anak)?. Tetapi Tuhan Yesus bertanya, “Apa yang ada padamu?”. Rasul Andreas berkata, "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yoh 6:9) . Kemudian Tuhan Yesus melakukan mujizat dari lima roti dan dua ikan itu sehingga semuanya mendapat makanan yang cukup dan masih ada sisanya! Jadi mujizat tidak dimulai dari apa yang tidak kita punya tetapi dari apa yang kita punya. Termasuk dalam hal melakukan renovasi gereja. Lakukan renovasi menurut apa yang kita punya dan dengan kasihNya Tuhan akan memberi pada kita. Para murid melupakan mujizat-mujizat yang pernah dilakukan Tuhan Yesus. Hati mereka keras, tetapi Tuhan Yesus memahami mereka dan berkata, “Beri mereka makan!”. Tuhan Yesus begitu hebat. Kita hanya duduk dan mendengar firman Tuhan , lalu dengan 5 roti dan 2 ikan fisik kita dikenyangkan. Maka mereka ingin mendukung Yesus sebagai raja. Tetapi Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk menjadi raja di dunia ini. Karena orang-orang  ini hanya mementingkan perkara makanan. Namun Tuhan Yesus bukan hanya menjaga kebutuhan fisik tapi juga rohani. Tuhan Yesus mengasihi kita dan kasihNya begitu besar. Kebutuhan fisik dan rohani kita dicukupkan dan Dia berkata,”Inilah Aku, jangan takut!”. Bagaimana dengan kasih kita?

Di New York ada 2 lapangan udara besar yakni :

- bandara internasional John F Kennedy (JFK). JFK adalah anak muda yang berwibawa. Ia tidak hanya tampan , tapi juga pintar.  John F Kennedy (191-1963) begitu terkenal namun akhirnya meninggal karena ditembak. Waktu diangkat sumpah sebagai presiden AS ke-35 pada siang 20 Januari 1961, ia mengatakan, "Jangan tanya apa yang bisa negara berikan untuk kalian; tanyalah apa yang bisa kalian berikan untuk negara." Saat ini berlaku juga untuk jemaat gereja.  "Jangan tanya apa yang bisa gereja berikan untuk saya; tanyalah apa yang bisa saya berikan untuk gereja".

- bandara LaGuardia (bahasa Italia, dibaca : ləˈɡwɑrdiə) untuk penerbangan domestik. Nama LaGuardia berasal dari nama Fiorello H. La Guardia  (1882-1947) walikota New York ke-99. Postur tubuh LaGuardia pendek (157 cm). Walau namanya berbau Itali, namun ia adalah seorang warga AS asli dan pernah menjadi juri di pengadilan. Suatu kali ada seorang ibu yang menjadi terdakwa karena mencuri roti. LaGuardia bertanya, “Ibu mencuri roti?” Sang Ibu menjawab,”Saya mencuri karena tidak punya uang.” LaGuardia bertanya,”Kalau Ibu tidak punya uang mengapa harus mencuri?” Sang Ibu menjawab lagi, “Karena di rumah saya punya 4 orang cucu yang lapar dan ingin makan.” “Di mana orang tua dari ke empat cucu Ibu?”. Lalu janda ini menarik nafas dan menjawab,”Anak dan menantu saya meninggal dalam kecelakaan mobil.” La Guardia bertanya lagi,”Ibu tahu bahwa mencuri itu melanggar hukum? Ada 2 pilihan hukumannya yakni ibu didenda 10$ atau Ibu masuk penjara 40 hari.” Akhirnya Sang Ibu berdiri dan berkata,”Saya pasti tidak bisa membayar 10$ itu. Bahkan roti seharga beberapa sen pun saya harus mencuri. Maka lebih baik saya masuk penjara.” LaGuardia lalu mengeluarkan uang dari kantongnya dan memberikan Janda ini 10$ karena bila Sang Ibu masuk penjara maka cucu-cucunya pasti mati. Lalu janda ini mengambil 10$ dan diberikan ke hakim. Masalah pun selesai. Tiba-tiba LaGuardia berdiri di depan banyak saksi dan pengunjung dan kemudian ia bertanya,”Apakah kalian tidak merasa kasihan dengan ibu ini?  Diharapkan semua Ibu dan Bapak bisa memberikan minimal 50 sen untuknya”. Setelah dilakukan donasi dan dihitung , ternyata terkumpul uang sebanyak 40 $ untuk Sang Ibu sehingga ia dapat melanjutkan hidup. Apa yang dikatakan dan dilakukan LaGuardia kemudian dimuat di surat kabar. Saat ini kita seharusnya mengasihi bukan dengan mulut dan bibir, tetapi juga dalam kehidupan kita dan dalam kebenaran. Ini tanggung jawab kita. “Aku ini, Jangan takut!”.

3.    Tenanglah

Istilah “tenanglah” di dalam bahasa Mandarin digunakan kata “ Fàng xīn” yang secara hurufiah berarti menaruh hati. Saat ini di mana kita menaruh hati kita? Ada yang menaruhnya pada pasangan. Bila suatu kali pasangan menyeleweng bagaimana? Ada juga yang menaruhnya pada anak-anak. Tapi akhirnya setelah orang tua sakit-sakitan dan menjadi pikun, anak-anak tidak menginginkan mereka lagi. Orang tua dipindah ke sana-sini seperti bola dalam pertandingan sepakbola.  Bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan menggendong kita.  Maka hati kita jangan ditaruh pada manusia. Kita juga jangan menyimpan hati pada harta kita karena beranggapan  “Ada uang semuanya lancar”. Contoh : kasus Cipaganti. Ada seorang dokter yang selama berpuluh tahun menaruh Rp 5 miliar di koperasi Cipaganti. Selama beberapa puluh tahun hasilnya baik sekali. Akhirnya ia menjual 3 rumah dan 2 mobil dan menaruhnya semua di Koperasi Cipaganti. Akhirnya semua uangnya hilang dan ia pun mengalami kelumpuhan. Memang harta bisa tumbuh sayap dan kemudian terbang menghilang. Tidak ada yang menyangka akan terjadi kasus Cipaganti. Harta kita paling aman ditaruh di sorga sehingga kita belajar untuk mempersembahkan. Kita bisa makan , minum dan punya rasa cukup itu semua berkat Tuhan.  Kita harus percaya kepada Tuhan, menyembah dan memuliakanNya. Janganlah kita mengeraskan hati dan tidak menyambutNya.  Saat ada gelombang besar, Tuhan Yesus berjalan di atas air lalu naik ke atas kapal dan ombak pun tenang. Bersyukurlah kepada Tuhan. Mujizat ini tidak saja tercatat pada Injil Markus, tetapi juga pada Injil Matius dan Yohanes. Sebenarnya ada 4 mujizat di sini yaitu Tuhan Yesus berjalan di atas air, Petrus berjalan di atas air, Tuhan Yesus menenangkan ombak, dan mereka segera mencapai titik tujuan. Kalau kita tenang maka  Tuhan akan memberkati kita.

Iman Perwira Kapernaum (The Faith of The Centurion)


Pdt. Trofimus Herry Susilo

Lukas 7 : 1-10
1   Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
2  Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
3  Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
4  Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,
5  sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
6  Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
7  sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
9  Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"
10  Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Pendahuluan

               Peristiwa penyembuhan hamba dari seorang perwira di Kapernaum  terjadi setelah Tuhan Yesus memberikan pengajaran (khotbah) di atas bukit. Peristiwa ini juga dicatat pada injil Matius pasal 8. Secara geografis jarak bukit di mana Yesus mengajar dengan kota Kapernaum sangat dekat. Kedua tempat ini berada di sekitar danau Galilea. Bila naik kendaraan sekitar 10 menit dari Kapernaum ke tempat Yesus kotbah di bukit. Kalau jalan kaki sekitar 25-30 menit. Kota Kapernaum sangat ramai saat itu. Bahkan mungkin menjadi pusat pemerintahan kecil. Matius menyebut 4 kali Yesus melayani di Kapernaum (Markus 3 kali, Lukas 4 kali dan Yohanes 5 kali). Ini menunjukkan aktivitas Tuhan Yesus di kota ini sangat banyak. Selain itu Alkitab mengatakan ada seorang perwira tinggi di kota itu. Hal ini menunjukkan kota Kapernaum penting bagi pemerintah saat itu. Selain itu ada juga sinagoga yaitu rumah doa orang Yahudi. Ini menunjukkan di kota itu terdapat banyak orang Yahudi. Di Israel sinagoga ada di Nazaret dan Kapernaum. Ini menunjukkan Kapernaum adalah kota penting saat itu, Lukas mencatat di Kapernaum seorang perwira non Yahudi mendemontrasikan imannya dan Tuhan Yesus mendemontrasikan kuasaNya.

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari iman perwira Kapernaum :

1.    Perwira ini merindukan hamba yang dikasihinya sembuh dari penyakitnya.

          Lukas 7:2 dikatakan Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati (=sekarat) Sebagai tuan , perwira ini menghargai hambanya dan ia merindukan hamba yang dikasihinya sembuh dari penyakitnya. Di sini kita belajar : iman bisa timbul karena kasih yang keluar dalam hidup seseorang. Apabila kita bisa melihat orang lain dengan kasih dan orang yang dikasihi tersebut sedang mengalami pergumulan dan persoalan (penyakit, masalah ekonomi, persoalan rumah tangga dll). Kalau bisa melihatnya dengan kasih, maka kita berdoa dengan iman sungguh-sungguh kepada Allah. Kalau tidak punya kasih, alih-alih berdoa dengan iman, malahan berdoa pun tidak. Bahkan kita mengharapkan “kalau bisa mati, biarlah mati” “kalau bisa bangkrut, maka bangkrutlah”, “kalau mau rusak keluarganya,  rusaklah” dll. Kalau punya kasih, kita bisa menangis. Perwira ini punya kasih dan mengharapkan kesembuhan hambanya yang sangat ia hargai. Karena kasih kita bisa punya iman.
          Ada sebuah kesaksian.  3 tahun lalu, suatu hari pagi—pagi sekali saya ditelpon untuk mendoakan seorang saudara yang sedang sakit di suatu rumah sakit. Setiba di rumah sakit, saya melihat saudara ini terengah-engah . Di hidungnya dipasang selang oksigen. Nafas terdengar satu-satu. Badannya kurus, tinggal kulit dan tulang. Keluarganya berkata, “Ia menderita sakit paru-paru.” Hasil ronsen memperlihatkan bahwa paru-parunya hanya berfungsi seperempat dan hari itu ia sedang kritis. Saya tidak tahan melihat penderitaannya. Lalu saya berbicara dan menyampaikan firman Tuhan. Ia mendengarnya. Saya kemudian mengajaknya menyanyikan lagu dari  Maz 123 (Tuhan adalah gembalaku). Hatinya mulai tenang dan bisa tidur. Ketika saya mau pergi, mendengar langkah saya keluar dia terbangun. Saya merasa orang ini sedang dalam keadaan gelisah. Saya kumpulkan keluarganya yang ada di rumah sakit. Keluarganya sedang kuatir tentang hidupnya. Rupanya saudara ini adalah ‘hanyalah’ anak angkat dan ada hubungan yang kurang harmonis dalam rumah tangga ini. Saya berkata kepada keluarganya, “Apakah kalian mengasihi orang ini? Karena tidak cukup membawanya ke rumah sakit.” Rupanya ada hubungan yang tidak harmonis di antara mereka dan hari itu terjadi pemulihan hubungan di antara mereka. Orang tua angkatnya bisa mengampuni dia, saudara angkatnya bisa mengasihinya. Ketika hubungan mereka pulih, mereka berdoa kepada Tuhan dan minta pertolongan Tuhan. Saudara ini sebelumnya divonis umurnya tidak panjang, tetapi ketika orang-orang yang mengasihinya berseru kepada Tuhan, orang ini bisa hidup 3 tahun lagi. Mujizat terjadi! Kalau bisa mengasihi orang lain, kita bisa berdoa dengan iman. Iman itulah yang bisa membuat orang yang kita doakan itu dijamah oleh Tuhan.

2.     Perwira ini mendengar tentang Yesus dan menyikapinya dengan benar.

          Lukas 7:3a dikatakan Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus. Ia memiliki iman karena mendengar tentang  Yesus. Dalam bahasa Yunani, kata “mendengar” berarti mengerti / memahami dengan efektif. Sehingga orang yang mendengarnya bisa melakukan apa yang didengarnya. Pendengaran tentang firman Tuhan yang benar dan efketif adalah kalau pendengarnya mampu melaksanakan firman itu dalam hidupnya. Firman itu memberi dampak efektif dan baik kepada orang yang mendengar dan meresponinya dengan sikap yang benar. Perwira ini bisa merespon dengan benar dari apa yang didengarnya tentang Yesus. Berbeda dengan orang Farisi dan ahli Taurat yang mendengar tentang Yesus dan pengajaranNya tetapi respon mereka negatif dan tidak benar. Oleh karena itu jangankan beriman, dekat dengan Yesus pun tidak. Kita perlu mendengar dengan baik, Roma 10:17 mengatakan, Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Ini sangat menarik untuk dicermati. Mungkin karena jabatannya sebagai perwira ia tidak berada di tengah-tengah orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus di atas bukit. Mungkin karena faktor politis, ia bukan orang Yahudi dan ia punya jabatan sehingga ia tidak ingin diketahui berada di sana. Oleh karena itu ia mengutus orang lain untuk menemui Yesus. Tetapi ia tetap percaya pada apa yang didengarnya. Saya berdoa, setiap kali mendengar firman dan tentang Yesus diberitakan, kita memiliki iman yang sama seperti Perwira Kapernaum. Ada ribuan orang yang mendengar Kristus.tetapi tidak semua orang percaya seperti Perwira ini. Ada banyak anak Tuhan mendengar firman Tuhan setiap minggu melalui ibadah yang diikuti. Ada orang Kristen yang mendengar firman Tuhan melalui radio setiap hari bahkan melalui televisi nasional dan internasional. Sekalipun demikian tidak semua orang Kristen memiliki iman yang sama seperti perwira Kapernaum. Perwira Kapernaum ini tidak diam melihat hambanya sakit. Apalagi hamba ini dihargai dan dikasihinya. Ia ingin hamba ini sembuh. Dengan jabatannya dan kekayaannya  dengan mudah ia sebenarnya bisa mengundang para tabib yang baik untuk datang. Sebelumnya imannya tertuju pada hal-hal lahiriah. Tetapi ketika ia mendengar tentang Yesus, ia mengalihkan imannya kepada Yesus (dari pengobatan alternatif kepada kuasa Yesus). Sehingga hari itu , ia mengutus orang untuk menjumpai Tuhan Yesus. Saya berdoa, setiap kali mendengar firman Tuhan Yesus, iman kita dibangkitkan, keyakinan dan kepercayaan kepada Yesus semakin kuat sehingga kita berani meletakkan pengharapan hanya kepada Yesus seperti perwira Kapernaum.

          Saya belajar mempercayai Tuhan Yesus saat SMP kelas 2. Saya berasal dari keluarga non Kristen. Tahun 1987 papa meninggal setelah percaya Tuhan Yesus. Setelah papa meninggal habislah harapan kami memiliki masa depan yang baik. Tetapi gereja mengajarkan firman yang baik. Mat 6:33  diajarkan dan saya yakini. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.Ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Saya sudah ke gereja tiap minggu namun yang dijanjikan tidak kunjung datang. Menghadapi hal seperti ini, banyak orang mengomel dan menggerutu. Sudah datang ke gereja, tetapi tetap seperti ini. Demikian pula dengan saya hari itu. Setelah papa meninggal rasanya masa depan kami suram. Setelah lulus SMP , saya berkata ke mama.”Saya harus masuk  SMA”. Tetapi mama saya berkata, “Tidak ada uang untuk kamu sekolah, jadi lebih baik tidak sekolah.” Tetapi hari itu saya berpikir, kalau saya tidak sekolah, maka saya tidak punya masa depan yang baik. Jadi saya tetap mendaftar sekolah walaupun tidak punya uang. Saya punya teman baik yang membayari formulir pendaftaran. Setelah diterima masuk sekolah, disampaikan biayanya Rp 137.500. Saya berkata ke mama yang berhutang ke paman (om). Mama berkata, “Utang mama sudah banyak.” Jadi harapan bersekolah hilang. Tahun itu saya sudah menjadi orang Kristen. Saya melayani sebagai tukang bersih di gereja. Hari itu hari jumat , hari terakhir pembayaran uang gedung. Sama seperti orang lain yang punya harapan, saya juga punya. Saya berharap Tuhan membuat mujiat. Saya berharap ada anak-anakNya datang ke gereja dan memberi uang untuk sekolah kepada saya. Namun setelah ditunggu-tunggu, tidak ada yang datang. Sampai pk 13 tidak ada yang datang sehingga saya lemas. Akhirnya saya melayani tanpa berpikir untuk sekolah. Sore hari, setelah menyelesaikan tugas dan saya mampir ke tempat teman saya. Tidak ada punya pikiran apa pun. Saya bertanya ke teman, “Kamu masuk SMA?” Ternyata ia masuk. Ia bertanya, “Apakah kamu diterima?” Saya berkata, “Saya diterima, tetapi saya tidak bersekolah karena tidak punya uang”. Ternyata omongan saya ini didengar maminya. Maminya berkata, “kamu tidak sekolah?” “Ya tante saya tidak sekolah.” “Mengapa?” “Tidak ada uang” jawab saya. Lalu ia masuk ke dalam dan setelah ke luar  ia memberi  saya Rp 100.000. Saya berkata, “Tante ini kurang dari Rp 137.500.  Tante ini berkata, “Kamu jalan dulu, kalau kurang tante tambah. Kemudian saya diantar teman saya. Ternyata pendaftaran sekolah sudah tutup. Uangnya saya titip ke mama. Setelah itu saya ikut retreat remaja. Di sana saya mendapat panggilan. Setelah kembali dari retreat, saya minta uang yang dititip ke mama, namun uangnya  sudah habis untuk adik saya masuk SMP. Jadi saya tidak sekolah. Setelah seminggu lewat, saat membersihkan gereja kakak rohani saya datang dan bertanya, “Kamu tidak sekolah? Yang lain sekolah kamu kenapa di sini?” Saya berkata, “Pendaftaran sekolah sudah tutup dan saya tidak bisa membayar uang untuk sekolah.” Kakak rohani saya berkata,”Ayo kita ke sekolah.” Saya diantar dan dibayari uang untuk masuk sekolah. Akhirnya saya sekolah walau telah lewat 1 minggu dan semua administrasi diselesaikan.  Saya pun menyelesaikan SMA, menamatkan kuliah S1. dan saya sekarang berada di sini. Firman Allah ya dan amin. Apakah saat mendengar firman Tuhan, kita percaya dengan sungguh-sungguh? Perwira Kapernaum mendengar firman Tuhan Yesus dan beriman. Setiap minggu saat mendengar firman Tuhan, saya berdoa agar kita punya iman seperti perwira Kapernaum itu.

3.     Perwira ini punya iman sekalipun tidak melihat.

          Lukas 7:3b mengatakan ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya dan pada Lukas 7:6b perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya. Mungkin perwira ini tidak ada di kumpulan orang-orang yang  mendengar khotbah Yesus di bukit. Ia tidak menjumpai Yesus secara pribadi dalam perjalanan ke rumahnya. Sekali pun ia tidak mendengar dan melihat Yesus secara langsung, tetapi ia menitip kata yang berani,”katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Saya berdoa sekalipun saya dan saudara tidak pernah melihat Yesus secara fisik, tetapi Ia adalah Tuhan dan Ia berkata, “Namaku adalah  jaminannya.” Alkitab mengatakan Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kis 4:12) dan Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu (Yoh 16:24). Sekalipun kita tidak melihat tetapi janjinya ya dan amin. Tuhan Yesus berkata kepada Thomas, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh 20:29). Perwira Kapernaum ini tidak melihat Yesus. Ia hanya mendengar tentang Yesus tetapi ia percaya kepada Yesus seutuhnya. Iman itulah yang mengagumkan tentang Yesus. Saya berdoa agar kita bisa percaya kepada Yesus sekalipun tidak melihat. Hal ini tidak mudah tetapi kalau sampai pada level ini, kita akan memiliki iman yang luar biasa!

                Pada bulan April 2014  saya diminta ikut pelayanan di Waingapu, Sumba Timur. Pada hari Minggu saya diminta untuk menyampaikan firman dan membaptis 15 orang. Ternyata itu baptisan pertama dalam persekutuan itu. Ketika mendengar hal itu, hati saya bergelora. Saya berkata kepada majelis, “Inilah jemaatmu”. Ternyata ada 1 orang dari mereka yang mempersembahkan tanah seluas 800 meter untuk gereja. Namun untuk membangunnya persoalan lain. Saya berkata  kepada majelis dan jemaat,”Tuhan percayakan ini kepada kita. Mari kita bangun rumah Tuhan di Sumbar TImur!” Saya kemudian minta untuk dihitung kebutuhan untuk pembangunannya. Ternyata sekitar Rp 400 juta. Waktu disampaikan , kami  berkata “WOW”. Tetapi saya berkata, “Kalau Tuhan ijinkan, maka Tuhan akan mencukupkannya. Mari kita kita lakukan bagian kita!” Maka kami pilih satu hari untuk mengumpulkan persembahan di Sumba Timur sehingga terkumpul dana Rp 160 juta. Untuk membangunnya mereka berakata, “Pak, tunggu setelah sampai terkumpul Rp 400 juta.” Saya berkata, “Dengan uang ini kita mulai dulu”. Kami pun mulai membangun dengan uang yang ada. Setelah memulainya, saya dapat telpon dari Kelapa Gading. Seorang pengusaha besi menelpon saya.  “Saya dengar Pak Trofimus membangun gereja di Sumba TImur. Coba kirimkan berapa luas dan tingginya.” Lalu ia membuat besi untuk keseluruhan bangunan. Dalam 2 bulan gereja itu jadi!  Bulan Mei 2015 diresmikan menjadi gereja di Sumba Timur. Kadang saat baru punya sedikit, ingin menunggu sampai banyak dulu baru jalan. Padahal berjalan dengan Tuhan adalah ketaatan. Saya berdoa agar kita berjalan dengan Tuhan maka selebihnya Tuhan yang akan bekerja. Iman timbul karena kasih, pendengaran akan firman Tuhan dan iman timbul tanpa melihat sebuah kenyataan.  Itulah yang dimiliki perwira Kapernaum ini.


Iman Yosua


Pdt. Hery Guo

Bilangan 14:5-10
5   Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.
6  Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,
7  dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.
8  Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
9  Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka."
10  Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

Yosua 1:9  Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."

Yosua 3:14-17
14   Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu.
15  Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu — sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai —
16  maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho.
17  Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan.

Yos 7:3  Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."

Pendahuluan

Nama imam Yosua muncul dalam sebagian kitab Pentateukh yang ditulis Musa yaitu pada kitab Keluaran, Ulangan dan Bilangan. Setelah itu Yosua menulis kitab yang diberi nama kitab Yosua. Pada kitab ini kita bisa belajar tentang kepahlawanan, keberanian dan iman Yosua. Hari ini kita belajar tentang iman Yosua. Perjalanan iman Yosua tidak berbeda dengan perjalanan iman kita dalam dunia sehari-hari. Jadi apa yang dituliskan dalam Alkitab memberi gambaran dari apa yang dilalui oleh orang percaya seperti juga Yosua dengan imannya berjalan dan menerima janji Allah yang diberikan kepada umat Israel.

Dalam kitab Bilangan 14, saat bangsa Israel bermaksud memasuki Tanah Perjanjian, diutus 12 orang pengintai untuk mengobservasi terlebih dahulu. Hasilnya 10 orang pengintai memberi laporan yang membuat bangsa Israel patah hati. . Mereka menyampaikan bahwa tanah tersebut dikuasai oleh orang yang besar, berkubu dan memiliki pasukan militer yang tidak mudah dikalahkan. Kesimpulan mereka : tempat tersebut tidak mungkin akan diperoleh bangsa Israel. Apa yang disampaikan membuat orang Israel tawar hati. Hanya Yosua dan Kaleb yang menyampaikan kabar baik. Dalam dunia ini, yang mayoritas mengalahkan yang minoritas. Padahal mayoritas belum tentu lebih baik dan benar dibanding minoritas. Mereka meragukan janji Allah, mereka tidak berani yakin bahwa Allah akan memberi tanah itu, sehingga mereka mengeluarkan pendapat negatif membuat bangsa Israel tawar hati. Namun Yosua berbicara tentang imannya yakni  :  

-        Iman Yosua tertuju kepada Allah yang berdaulat. Pada Bilangan 14:8 dikatakan Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.. Iman dari Yosua adalah iman yang tertuju kepada pribadi Allah yang berdaulat. Alkitab sudah membuktikan siapa Allah itu. Seringkali dasar kepercayaan kita tentang kedaulatan Allah tidak memiliki pijakan yang kokoh. Misal : muda-mudi Kristen dalam mencari pasangan tidak mengikuti Firman Allah seperti pada 2 Kor 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Muda-mudi bimbang dan akhirnya menentukan kriterianya berdasarkan patokan, rasio dan pertimbangan sendiri. Seharusnya rasio tunduk pada iman. Sebagai Allah yang berdaulat, TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Maz 37:23). Apakah kita mengimani bahwa Dia menentukan jalan hidup saya dan keluarga saya? Terhadap Allah berdaulat itulah Yosua menaruh  imannya. Seperti juga Abraham yang pergi ke suatu tempat yang akan diberikan kepadanya dan keturunannya. Yosua punya keyakinan  bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang berdaulat. Dia tidak punya kegentaran sedikitpun menyatakan kebenaran ini. Demikian pula pernyataan bahwa Allah berdaulat atas hidup keluarga kita seharusnya membawa keberanian untuk mempercayakan hidup kita kepada Allah. Kadang kita memisahkan Allah dari problem kita dan meragukan kedaulatan Allah (apa Allah bisa dan sanggup?). Padahal kedaulatanNya tidak pernah goyah. Ia mengerti ketetapanNya. Kepada Allah seperti itulah Yosua menaruh imannya.

-        Iman Yosua kepada Allah yang berkuasa. Pada Bilangan 14:9 dikatakan  Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka." Allah berkuasa mengalahkan orang-orang tersebut. Allah yang kita percayai , telah mengalahkan allah-allah orang asing (dewa dan roh-roh yang disembah mereka). Keyakinan kepada Allah yang berkuasa membuat Yosua menjadi berani sehingga orang-orang yang akan berhadapan dengan bangsa Israel sudah kalah terlebih dahulu.  Catatan ini ditemukan waktu mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Penduduk Yerikho gentar setelah mendengar tentang Yosua dan pasukannya yang dilindungi Allah yang berkuasa, Allah yang mampu melakukan segara perkara.  Tanggal 4 November 2015, A-yi Willy akan berusia 90 tahun. Saat dibesuk kalau ditanya mau nyanyi apa, dia selalu minta dinyanyikan lagu “Allah berkuasa melakukan segala perkara”. Hal ini dilandasi pengalamannya  bahwa selama ini Allah  telah dan akan terus menolong orang-orang yang dikenalnya. Dalam usia 90 tahun, ingatan tentang Allah kuasa tetap melekat di pikirannya. Sehingga waktu mengalami masa-masa  kritis, ia dapat melaluinya. Memang kalau Allah akan memberikan hidup maka a-yi Willy akan hidup . Dan sampai hari ini a-yi masih segar. Betapa iman terhadap Allah yang berkuasa, membuat orang tetap kuat dan semangat. Kalau tidak yakin Allah berkuasa, maka kita akan jatuh saat menghadapi tantangan hidup.

*    Apakah Yosua tidak pernah takut? Yosua ada rasa takut. Hal ini dapat dilihat pada kitab Yosua pasal 1. Berkali-kali Tuhan menguatkan Yosua dengan kalimat  “jangan takut…”

·       Yosua dipercayakan untuk memimpin umat Israel karena Musa telah meninggal. Yosua yang masih muda harus menggantikan Musa yang merupakan pemimpin besar bangsa Israel. Sehingga Allah berulang-ulang berkata, “Jangan takut, jangan gelisah , karena Aku menyertai engkau.” Yosua dalam kemanusiaannya mengalami masa sulit (imannya mengalami ujian).

·       “Ujian” masuk ke Tanah Perjnajian mirip seperti Musa membawa keluar bangsa Israel dari tanah Mesir melewati Laut Teberau sedangkan Yosua harus melewati sungai Yordan. Waktu Yosua memasuki tanah perjanjian, ia harus melewatinya. Ukuran sungai Yordan saat Yosua , lebarnya (normal) = 45 meter (150 kaki @ 30 cm) dalamnya 4,5 meter.  Kalau sedang meluap, maka ukurannya bisa 2 kali lebar normalnya.  Jadi bisa 90 meter (dan saat itu sedang meluap). Di utara, salju yang mencair menuju Laut Mati melaluinya. Sungai Yordan memiliki kuantitas dan kualitas air yang tidak berkurang pada zaman Yosua. Kalau hanyut di sungai tersebut, maka orang akan meninggal. Dengan demikian apa yang ditakuti bangsa Israel sewaktu masuk sungai Yordan tidak mengherankan.

-        Iman Yosua kepada Allah yang setia . Pada Yosua 1:5 dikatakan  Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Berbeda dengan manusia yang saat berjanji pada orang yang akan dibantu, dipengaruhi berbagai faktor. Misalnya : saat akan menolong, orang yang akan ditolong tingkahnya tidak berkenan maka kita jadi malas menolongnya. Seringkali malah kita yang mengecewakan orang yang mau ditolong. Berbeda dengan Yosua yang melihat kesetiaan Allah.

-        Iman Yosua kepada Allah yang hidup. Yosua berkata , "Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu (Yosua 3:10). Ayat ini disampaikan Yosua kepada orang Israel yang akan menginjakkan kakinya ke dalam sungai Yordan. Jumlahnya sekitar 3 juta orang melewati sungai yang deras airnya. Itu bukan perkara gampang. Namun bagi Allah yang hidup dan nyata (bukan berdasarkan konsep dan teori) hal itu terjadi! Saat perayaan Natal, selalu digambarkan Allah yang Immanuel dan tidak jauh dari kita. Ia bersama dengan kita dan dalam pergumulan hidup kita. Ia tahu pergumulan, kecemasan dan harapan-harapan kita. Kepada Allah yang hidup itulah, Yosua menggantungkan imannya, sehingga ia bisa mendapatkan kemenangan dalam pertempuran dengan musuh-musuhnya.
               
Kesimpulan

-        Iman kepada Allah jangan pernah dikalahkan dengan situasi/kondisi, besarnya masalahnya, kesulitan,logika untuk menemukan jawaban. Yosua mengalami kesulitan melihat derasnya air sungai Yerikho saat bangsa Israel ingin menyeberanginya. Ini masalah hidup mati. Ia memikul tanggung jawab yang berat. Ia menanggung pergumulan umat yang demikian besar. Seringkali kita kalah dalam iman kepada Allah dan menganggap masalah lebih besar dari Allah. Iman kita seringkali ditentukan kondisi. Waktu sehat kita beriman sebaliknya waktu sakit kendor. Waktu memiliki pekerjaan kita kuat, namun saat di-PHK iman kita kendor. Itu iman yang melihat kondisi. Janganlah iman dikalahkan oleh faktor-faktor dari luar.


-        Semakin sulit kondisi atau masalah ternyata semakin besar/kuat kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang percaya.  Rasul Paulus waktu minta duri dalam dagingnya dicabut, Tuhan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Kor 12:9a). Hal ini agar kita menyadari bahwa kita tidak punya apa-apa tetapi  Tuhan yang punya. Saat masalah makin besar, itu peluang kita mengenal Allah dengan luar biasa. Sesulit apapun, kita bisa melihat Allah dengan baik. 

Orang yang Mendua Hati tidak Tenang Hidupnya


Ev. Helen Sung

Yak 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Hos 10:2 Hati mereka licik, sekarang mereka harus menanggung akibat kesalahannya: Dia akan menghancurkan mezbah-mezbah mereka, akan meruntuhkan tugu-tugu berhala mereka.
Maz 119:113   Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai.

Pengertian Mendua Hati

Yak 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Dalam bahasa Mandarin orang yang mendua hati ditulis sebagai orang yang bimbang hatinya artinya orang yang tidak punya pendirian. Ibarat orang yang kakinya berdiri pada 2 perahu yang berbeda. Dalam bahasa Inggris orang yang mendua hati adalah orang yang tidak pasti atau ragu-ragu atau terpecah. Orang yang mendua hati = bimbang = ragu-ragu = tidak pasti.
Maz 119:113   Orang yang bimbang hati kubenci, tetapi Taurat-Mu kucintai . Orang yang bimbang hati itu berdosa. Orang yang mendua hati tidak disukai oleh Allah.

Dalam hal apa saja kita sering berbimbang hati?

1.     Pacaran / Mencari pacar
Ada orang yang bergelar playboy karena pandai mengatur waktu sehingga bisa berpacaran dengan beberapa orang misal : pagi dengan A, malam dengan B, besok dengan C dll. Padahal ada orang yang mencari satu pacar pun susah karena terlalu banyak memilih. Dalam mencari pacar,jangan sekedar mencari yang cantik / tampan karena fisik seseorang merupakan anugerah Tuhan semata sehingga kita mengucap syukur. Yang terlebih penting, mencari pasangan yang seiman dan takut akan Tuhan.

2.     Pernikahan.
Ada orang yang sudah menikah tapi masih Juga bergaul dengan suami / istri orang lain. Ada juga menikah dan bercerai berkali-kali.  Hal ini seperti perempuan Samaria yang punya 5 suami (Yohanes 4). Seharusnya setelah menikah, pasangan suami istri jangan mendua hati. Kalau mendua hati berarti mata keranjang. Orang yang mata keranjang tidak baik bagi pasangannya dan keluarganya tidak akan damai. Sebagai orang percaya hidup berfokus pada Tuhan dan keluarga sehingga rumah tangganya bisa rukun dan terurus dengan baik.

3.     Pekerjaan / Pelayanan.
Ada orang yang suka berpindah-pindah tempat pekerjaan (kucu loncat). Demikian juga dalam bergereja. Ada yang suka pindah-pindah gereja. Jangan karena motivasi gaji besar semata lalu pindah-pindah kerja.

4.     Pergaulan
Dalam hidup , kita membutuhkan teman. Untuk memiliki teman baik, jangan kita mendua hati. Kalau kita meragukan teman, maka lama-lama kita tidak punya teman.

5.     Iman kepercayaan.

      Jangan mendua hati terhadap Tuhan sehingga tidak menghormati dan memuliakanNya. Ada orang Kristen kalau hatinya senang, ia ke gereja dan bila tidak senang ia tidak ke gereja. Ia hanya ingat berdoa untuk meminta pertolongan kalau ada kesulitan. Orang demikian tidak sungguh-sungguh mengenal Allah. Orang seperti ini mencintai dunia juga mencintai Allah. Ia mencintai Allah untuk minta berkat saja. Saat sakit dan tidak sembuh, ia merasa Allah tidak mendengar doanya dan bertanya mengapa Tuhan tidak menyembuhkan sakitnya (seakan-akan Tuhan tidak peduli). Lalu ia dikenalkan pada orang-orang ‘pintar’. Kita jangan sampai mendua hati tetapi harus siap pikul salib seperti yang dikatakan pada lirik lagu berjudul “Pikul Salib”

Banyak yang mau masuk surga tak mau salibNya, Banyak yang rindu pahala serta dunia
Tak hiraukan tak hiraukan hanya mau berkat (2x)

Banyak yang mau kemuliaan tak mau yang hina. Bila Tuhan berkati dia puji NamaNya
Bila Tuhan minta dia ia menolaknya (2x)

Bagi yang mengasihi Dia tiada kan tanya, Bahkan jiwa yang berharga korban pun rela
B’rilah daku tekad hati pikul salibNya, B’rikan daku tekad hati setia padaNya.

Banyak yang mau masuk ke sorga, tetapi tidak mau pikul salib. Jangan katakan kita mau pikul salib, kalau saat merasa sedikit tidak enak badan dan pusing kepala , tidak mau datang karena berpikir bahwa minggu depan masih ada waktu. Hal itu berarti kita tidak menganggap menyembah Tuhan itu sebagai hal yang utama. Kalau menjadikanNya yang utama, bagaimana pun tidak enak badan, kita tetap akan menyembah dan mengasihi Tuhan. Ada orang yang pada hari minggu masih mau berbisnis dengan alasan ramai. Apa Tuhan kurang memberkati usahanya dari Senin-Sabtu? Saya mengharapkan setiap kita menjadikan hari Minggu sebagai harinya Tuhan. Setelah pulang dari gereja, barulah jalan-jalan.

Beberapa Tahun lalu saya dan Sung mu shi ke Amerika. Kami melihat orang-orang  di sana pada hari minggu jalan-jalan ke tempat wisata. Padahal 30 tahun lalu, mereka membawa keluarganya datang ke gereja. Bagaimana dengan kita? Banyak yang rindu pahala dan dunia. Kita suka pahala dari Tuhan tetapi godaan dunia, seringkali tidak bisa kita tolak. Ada orang yang tidak sungguh-sungguh mengikuti jalan Tuhan dan hanya mau berkat saja. Mungkin  dia tidak setiap minggu datang ke gereja. Menurutnya “Kita jangan menjadi orang Kristen yang ekstrim.” Seharusnya kita menyembah Tuhan seminggu sekali (Tuhan mau agar kita seminggu minimal sekitar 2 jam ke gereja). Orang seperti ini terkadang tidak membaca Alkitab dan berdoa setiap hari. Ia tidak peduli dengan urusan gereja. Apakah Tuhan akan memberkati orang seperti ini?

Orang yang dengan tulus hati mengasihi Tuhan ,saat menghadapi penderitaan dan kesusahan, tidak akan bertanya atau menyalahkan Tuhan (Tuhan mengapa begini atau begitu?). Karena darahNya yang berharga telah dipersembahkan untuk menebus dosa manusia. Di dalam kitab suci, murid-murid Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh iman rela mati bagiNya. Contoh : Rasul Paulus yang dianiaya, dipukul, di penjara, banyak sekali menghadapi pengujian. Orang-orang percaya ada yang digergaji, dipotong lehernya, dihukum dan mereka mengembara tidak menentu. Dunia ini sebenarnya tidak layak bagi mereka. Iman mereka terlalu agung. Mereka tidak pedulikan diri mereka dan kesulitan mereka. Bagi Tuhan mereka rela dan mau mati.  Mereka dengan setia mengikut Tuhan.


Berbeda dengan di Indonesia. Kita bisa dengan bebas ke gereja namun seringkali malas. Kebaktian doa hari Rabu pun tidak datang. Padahal kebaktian doa itu penting. Kita saat ini memiliki gedung gereja karena doa. Hamba Tuhan dan para jemaat terus berdoa. Sebulan sekali diadakan doa semalam suntuk. Para pemuda yang tidak punya uang, mulai menghemat dan tidak jajan. Uang yang terkumpul lalu dipersembahkan. 30 tahun lalu, para pemuda ini sangat beriman. Saya berharap pemuda sekarang juga beriman (iman yang tidak berubah). Walaupun menghadapi banyak kesulitan, bersandarkan Tuhan kita bisa lewati semua. Kiranya Tuhan memberikan tekad bulat (komitmen) kepada kita untuk setia, tidak mementingkan diri sendiri dan fokus pada Tuhan. Usaha yang kita lakukan (bekerja, berusaha, menempuh pendidikan,melakukan pekerjaan rumah tangga dll) untuk memuliakan Tuhan. Jadi baik orang tua dan anak melakukan pekerjaan semata untuk kemuliaan Tuhan. ibu-ibu masak di rumah,ke pasar dan melakukan pekerjaan rumah tangga juga untuk Tuhan. Jadi waktu masak, jangan melakukannya dengan marah-marah. Di dalam Tuhan, orang-orang  Kristen menjadi anak-anak Allah. Semua untuk Tuhan. Dengan demikian, barulah hidup kita di dunia ini berharga. Jadi jangan mendua hati. Khususnya dalam iman kepercayaan. Ketika ada kesulitan, penderitaan, sakit-penyakit berdoalah kepada Tuhan yang akan memberi kekuatan.