Tuesday, May 26, 2015

Arogan dan Minder

Ev. Fuk Sen

Yeremia 1:4-8,Ester 3:1-6

Pendahuluan

                Kita semua pasti tidak suka kalau ada yang mengatakan kepada kita, “Kamu orangnya sombong ya!” Mendengar kalimat itu, kita akan menunjukkan reaksi tidak suka dan hati kita menjadi panas. Karena sombong (arogan) identik dengan sikap yang negatif. Sebaliknya kita lebih suka kalau ada yang berkata, “Kamu orangnya rendah hati ya.” Maka hati kita akan berbunga-bunga mendengarnya. Kita bukan hanya tidak suka disebut orang sombong, tapi kita seringkali tidak menyadari bahwa sebenarnya kita memang orang sombong.

Sombong, Penyebab dan Bahayanya

                Sombong  (arogan) adalah sikap yang memandang rendah, atau mengecilkan usaha, pemikiran atau apa saja yang dicapai orang lain, kemudian timbul kecenderungan untuk membandingkan usaha orang lain dengan sisi keberhasilan yang telah dicapainya, tetapi menutupi kekurangan diri sendiri.
                Haman tidak sadar bahwa ia sombong. Bukan hanya Haman, tidak ada manusia yang menyadari bahwa ia orang yang sombong. Itulah bahaya orang yang sombong. Kalau seseorang bersikap sombong, berarti ada sesuatu yang membuatnya begitu. Tidak mungkin orang menjadi sombong tanpa ada alasannya. Orang menjadi sombong karena punya kelebihan dibanding orang lain. Misalnya : ia punya uang yang lebih banyak, lebih pintar, lebih berkuasa , lebih tampan / cantik  dari orang lain dan lain-lain. Untuk bisa sombong harus punya sesuatu yang membuat seseorang begitu.
                Pada Ester 3:1-2a dikatakan   Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, Haman menjadi sombong karena diangkat menjadi pejabat di atas pembesar lainnya oleh raja. Raja menetapkan bahwa semua pegawai raja yang ada di pintu gerbang istana raja harus sujud kepadanya.  Sebelum diangkat jadi pejabat seperti itu, ia tidak menuntut orang lain untuk bersikap hormat kepadanya. Tetapi begitu diangkat, muncullah sikap sombong apalagi ia diangkat melebihi pejabat lainnya, sehingga ketika ia berjalan, pegawai pintu gerbang harus bersujud menyembahnya. Tapi ada satu orang yang tidak mau berlutut kepadanya yaitu Mordekhai (Ester 3:2b tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud).
                Karena kesombongannya, Haman tidak mau ada pegawai lain di kerajaan yang lebih tinggi daripadanya. Bila ada , ia merasa disaingi oleh orang tersebut. Semua dosa (kejahatan) lainnya biasanya menyatukan para pelakunya. Misalnya  tukang gosip akan bergabung dengan penggosip lainnya. Orang yang mabuk akan berkumpul dengan pemabuk, orang berjudi berkumpul dengan penjudi dan lain-lain. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di tengah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.” Namun demikian kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan (kesombongan adalah perseteruan), bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.  Orang sombong tidak pernah berkumpul dengan orang sombong lainnya karena punya sikap bersaing dengan orang lainnya . Itu yang terjadi pada Haman yang ingin dirinya lebih dari orang lain. Ia ingin di kerajaan semua orang harus sujud kepadanya. Ketika ia berjumpa dengan orang yang tidak bersujud kepadanya, maka ia tidak suka dengan orang tersebut.
                Orang sombong karena ketampanan, kehebatan, kekayaan atau apa yang dipunya. Begitu ada orang lain yang sombong, maka ia tidak suka. Begitu melihatnya, maka ia tidak akan suka. Suatu kali Haman melihat Mordekhai tidak menyembah dia padahal semua orang lainnya sujud. Haman yang sombong ketika melihat Mordekhai tidak menghormati seperti yang diinginkannya (berlutut dan bersujud kepadanya), maka ia menganggap Mordekhai sombong dan ia tidak suka hal itu.
                Ada seorang penyanyi yang bisa menyanyi dengan begitu merdu. Sehingga setelah ia menyanyi, banyak orang yang bertepuk tangan.  Lalu tampil penyanyi lain yang menyanyi dengan luar biasa, begitu merdu dan tenang sehingga penonton berdiri dan bertepuk tangan. Penyanyi yang pertama melihat penyanyi kedua  yang melebihinya sehingga ia tidak menyukainya. Kita sebetulnya terjepit oleh sikap sombong hanya kita tidak menyadari kesombongan kita. Itu yang terjadi pada Haman yang tidak menyadari kesombongannya.  Demikian juga dengan jemaat di gereja.  Jika kita datang ke gereja lalu suatu kali ada yang tidak menyapa maka kita menganggapnya sombong dan tidak suka kepadanya. Apa bedanya? Mordekhai tidak menyembah kepada Haman. Haman melihatnya sebagai orang sombong dan setelah menilai begitu sesungguhnya ia sendiri orang yang sombong yang menuntut orang lain untuk hormat kepadanya.
                CS Lewis (seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia) mengatakan bahwa “Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.” Orang sombong melihat orang lain sombong dan tidak menyukai kesombongan orang lain. Orang Singapore punya kia-su (dialek Hokian artinya takut kalah atau kehilangan). Kiasu bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan : takut kalah dalam persaingan, pertandingan atau peperangan.  Misal : kita merasa diri kita hebat. Lalu ada lagi yang lebih hebat. Kita menganggap yang lebih hebat itu kecil dan tidak ada apa-apanya. Buat apa kita menjadi begitu tinggi di atas orang lain sehingga akhirnya jatuh? Kesombongan kepada Allah adalah kehancuran. Haman yang sombong akhirnya mati di tiang gantungan.
                Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan hadir dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.
                Di samping itu ada juga sombong rohani. Hal ini seringkali dialami oleh orang-orang yang merasa telah melayani Tuhan. Ciri-ciri orang yang sombong rohani, antara lain : suka menghakimi, suka mencela orang lain, dan dia merasa bahwa hanya dirinyalah yang paling tahu dan paling pintar. Dalam Matius 7:21-22 Tuhan Yesus mengatakan : "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu semua pembuat kejahatan!" dan "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah firman TUHAN." (Obaja 4)


Minder

                Seorang minder karena menganggap diri lebih rendah dari orang lain. Yeremia adalah orang seperti itu. Tuhan menjadikannya seorang nabi. Ketika ia dipanggil menjadi nabi, ia berkata, "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (Yer 1:6). Yeremia mendengar panggilan Allah dan berkata “Jangan! Aku masih muda dan tidak pandai bicara.” Begitu rendah diri (minder) dan ia merasa tidak bisa apa-apa.  Tuhan tidak menginginkan orang begitu tinggi dibandingkan orang lain. Dan Tuhan tidak menginginkan orang merasa begitu rendah dibanding orang lain, Tuhan ingin orang menjadi seimbang dengan orang lain.
               “Dibalik kerendahan dan kekecilanmu, engkau yang kupilih. Saya mau memakai kamu dan akan menyertai engkau.”, begitu kata Allah. Orang tidak sadar akan prinsip ini.  Kita seharusnya merasa luar biasanya Tuhan yang memakai kita dan mnyertai kita. Orang sombong seperti Haman berakhir di tiang gantungan, yang minder ditegur TUhan. Yeremia 1:7-8  Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.   Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Penutup

                Tuhan bisa mengubah orang yang sombong dan minder.  Mintalah kepada Tuhan, “Tuhan ini aku orang yang sombong atau minder, ubah aku.” Maka Tuhan bisa memulihkan. Maukah? Gereja tidak membutuhkan orang yang sombong.  Keberhasilan, karir yang menanjak, studi yang berhasil atau harta kekayaan kita adalah anugerah Tuhan saja. Tidak seharusnya kita membanggakan diri dan menjadi angkuh. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Jika bukan Tuhan tak mungkin kita dapat mempertahankan keadaan kita. Yang kita miliki hari ini belum tentu esok masih ada. Tanpa Tuhan kekayaan dan kejayaan dengan sekejap dapat lenyap. "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." 1 Petrus 5:6
                Gereja juga tidak menginginkan jemaatnya menjadi minder. Gereja ingin jemaat Tuhan yang sehat rohani. Lihatlah pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Apa kita mau menjadi seperti Yeremia? Padahal walau masih muda, tapi Tuhan menyertainya. Dengan kemampuan kita, bila Tuhan tidak menyertai kita maka tidak ada gunanya!


Kenapa Ada Curiga di Antara Kita


Ev. Susan Kwok

Bilangan 12:1-6, 11-16
1   Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.
2  Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
3  Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.
4   Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga.
5  Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.
6  Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi.
11  Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami.
12  Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya."
13  Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."
14  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."
15  Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.
16  Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Mengapa ada perasaan curiga?

I.      Aspek-aspek di luar diri manusia

1.     Situasi saat ini yang penuh kriminalitas tinggi. Sehingga jika ada orang yang membutuhkan pertolongan, kita malah menjadi curiga dengannya. Hal ini tidak mengherankan karena saat mendengar berita di media masa (televisi dll), kita melihat orang yang menolong malah menjadi korban, karena ‘korbannya’ banyak yang hanya berpura-pura saja.
2.     Mengenal baik seseorang. Misalkan orang tersebut suka berbohong, sehingga bila ia tiba-tiba mengatakan sesuatu, kita menjadi curiga.

II.   Aspek dalam diri manusia.

Curiga biasanya timbul karena dampak dari sesuatu yang terjadi atas diri kita, antara lain :

1.     Iri hati.

Iri hati membuat seseorang curiga terhadap orang lain. Kasus Miryam, Harun dan Musa berawal dari kecurigaan dan berakhir dengan hukuman dari TUHAN. Musa adalah adik dari Miryam dan Harun. Musa diangkat menjadi seorang tokoh dan lebih dikenal dibanding Miryam dan Harun. Miryam dan Harun menyatakan suatu realita : Musa mengambil seorang perempuan Kush untuk dijadikan seorang istri, Miryam dan Harun mempunyai alasan untuk menyatakan hal yang jelek mengenai Musa karena
a.     Orang Kush itu adalah orang Etiopia, orang yang berkulit hitam (bukan orang Israel).
b.     Musa sudah mempunyai istri ( Zipora )

Apakah Miryam dan Harun bersalah dengan menegur Musa ? Tidak salah. Namun mengapa malah mereka dihukum oleh TUHAN ? Yang menjadi permasalahan adalah dalam ayat ke 2, dituliskan Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.
Ketiga orang ini (Musa, Miryam dan Harun) adaah orang-orang yang sama-sama melayani TUHAN, lalu mengaapa hanya Musa yang dipakai TUHAN ? Miryam dulu menjaga Musa di sungai Nil, bahkan bertaruh nyawa hingga membawa Musa dapat menemui Ibu kandungnya, tapi kenapa Musa yang dipakai TUHAN ? Ada nada iri dalam kalimat yang diucapkan oleh Miryam. Harun ,pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir, menjadi seorang juru bicara bagi Musa karena Musa waktu itu menyatakan ketidaksanggupannya untuk berbicara sehingga Harun yang ditunjuk menjadi seorang juru bicara bagi Musa. Hal-hal seperti inilah yang membuat Miryam dan Harun menjadi curiga kepada Musa (karena iri hati). Mereka mencurigai TUHAN dalam memilih dan memakai orang. Mereka curiga akan kedaulatan ALLAH dan curiga akan kebaikan TUHAN. Pada kisah Saul dan Daud, Daud memenangkan peperangan-peperangan, dipuji-puji banyak orang dengan ”Daud mengalahkan berlaksa-laksa musuh dibandingkan dengan Saul yang mengalahkan beribu-ribu musuh” Daud saat itu adalah orang yang dipuji-puji sehinggaSaul selalu curiga akan Daud.
Miryam dan Harun curiga kepada Musa dan kepada TUHAN karena iri hati. ALLAH tidak pernah menyetujui dosa, walau tidak tertulis di Alkitab, tapi hal itu tidak berarti ALLAH menyetujui. ALLAH tetap tidak setuju akan dosa.
Pernahkah kita curiga karena iri hati ? Mencurigai kebaikan TUHAN, mencurigai jalan-jalan TUHAN.

2.     Terlalu cepat menghakimi (tidak mengetahui / mengenal permasalahan dengan baik). Terlalu cepat menyimpulkan bisa menaburkan kecurigaan di tengah-tengah jemaat.

3.     Membiasakan diri berpikir negatif
Bila melihat orang yang ramah, orang yang curiga  biasanya menyebutnya sebagai cari muka. Jangan membiasakan diri berpikir negatif bahwa semua orang hanya berpura-pura saja (mencari muka) dll

Bahaya dari Rasa Curiga

1.     Rusaknya relasi yang baik
Ada 1 kisah mengenai keluarga kulit hitam yang mempunyai seorang anak bernama Misty. Karena tidak dikaruniai seorang anak, maka mereka pergi ke sebuah panti asuhan dan mengadopsi seorang anak bernama Christine. Suatu hari Christine mencuri ban mobil dan diletakkan di gudang belakang rumah Misty. Setelah melalui proses penyelidikan, mereka semua ditangkap. Namun pada akhirnya terbongkar bahwa Christine lah yang melakukan kejahatan tersebut walau Christine tidak bisa menerima hal ini. Setelah 3 bulan keluar dari penjara, Christine menjadi orang yang penuh rasa curiga. Kemudian ia  mengajak 3 orang temannya yang sama-sama di penjara dan mereka mengajak Misty pergi ke suatu tempat, lalu  membunuh Misty di sana. Bayi Misty pun juga dibunuh dan dibuang di suatu tempat. Seorang istri yang tidak percaya kepada suami malah akan mengakibatkan sang suami untuk melakukan hal-hal yang dituduhkan tsb.

2.     Tidak bisa mencapai 1 tujuan yang maksimal.
Jika ada kecurigaan, maka tujuan bersama tidak akan tercapai

3.     Munculnya orang-orang dengan karakter yang jelek
Akan muncul orang-orang dengan sifat keras kepala, mau menang sendiri, apatis, sinis, bahkan terhadap hal-hal yang baik sekalipun.

Cara Mengatasi Rasa Curiga

Jawabannya ada di Filipi 4:8 8  Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Pikirkanlah hal-hal yang positif dan baik.
1.     Self control (penguasaan diri)
2.     Berani terbuka dalam suatu komunikasi
3.     Jadilah orang yang bisa dipercaya ( sehingga orang lain tidak perlu curiga kepada kita )



Sunday, May 10, 2015

Gosip Subur di Gereja


Pdt. Peter Lau

Efesus 5:1-21
1   Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
2  dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
3 Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
4  Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono — karena hal-hal ini tidak pantas — tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
5  Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.
6  Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka.
7  Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka.
8  Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,
9  karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,
10  dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
11  Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
12  Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan.
13  Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
14  Itulah sebabnya dikatakan: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
15  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
16  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.
17  Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
18  Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,
19  dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.
20  Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
21  dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.

Pendahuluan

                Gosip seringkali atau terkadang terjadi di gereja. Gosip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah mempergunjingkan sesuatu hal tentang seseorang secara negatif. Gosip mempergunjingkan kelemahan seseorang. Gosip belum tentu dan seringkali tidak benar, sehingga termasuk dalam kategori fintah dalam KBBI. Fitnah itu bisa lebih kejam daripada membunuh.

Penyebab Gosip Terjadi di Gereja

1.     Tidak disengaja. Karena orang menyampaikan sesuatu dengan tidak bijaksana dalam :  
-          bercanda.
-          menyampaikan pokok doa. Misalnya : “Saudara-saudara, mari  kita berdoa untuk Ibu A yang sedang bersedih hari ini karena suaminya selingkuh. Suaminya selingkuh bukan hanya dengan 1 wanita tapi dengan 3 wanita!” Ini jadi gosip di gereja. Mungkin maksudnya baik, tapi orang yang mendengar akan berpikir ada 3 orang selingkuhannya dan akhirnya tersebarlah  gosip.
-          menyampaikan warta. Contoh : “Saudara-saudara sekalian, kali ini anggaran paskah kita hanya Rp 2 juta. Sebenarnya panitia mengajukan Rp 3 juta tapi majelis memotongnya menjadi Rp 2 juta.” Cara penyampain seperti ini bisa menjadi gosip sehingga membaca warta harus berhati-hati.
-          kesaksian : ada orang yang menyampaikan kesaksian dengan tidak bijak sehingga timbul gosip di gereja.

2.     Dengan sengaja. Ada orang yang sengaja bergosip di gereja. Seharusnya sebagai anak Tuhan, kita jangan membiarkan gosip tumbuh di gereja. Karena gossip selalu mempunyai akibat tidak baik. Gosip bukan hanya mencemarkan seseorang, tetapi bisa menghancurkan bahkan membunuh seseorang! Seorang istri yang digosipkan berselingkuh padahal tidak, bisa-bisa sang suami marah dan membunuh istrinya tersebut dan pria yang dikira selingkuhannya padahal mereka tidak berselingkuh. Itulah sebabnya gosip adalah fitnah yang jahat. 

Bagaimana menghentikan gossip di gerja?

                Agar gosip tidak bertumbuh subur di gereja tentang hamba Tuhan, majelis, pengurus dan para jemaat , bagaimana menghentikannya? Rasul Paulus memberi nasehat dalam Efesus 5:1-21. Kota Efesus terletak di pantai barat Asia. Saat ini berada di kota Selcuk (Turki). Efesus merupakan kota Yunani kuno bertaraf internasional, kota pusat perdagangan dunia yang kaya & berbudaya tinggi (contoh : teater Odeon  dengan kapasitas 1.500 orang,dibangun tahun 150 M & ada teater terbuka dengan,kapasitas 44.000 orang). Pada tahun 133 SM, Efesus menjadi pusat propinsi Romawi untuk daerah Asia & memiliki otonomi sendiri (Kis. 19:39). . Efesus terkenal dengan kuil Dewi Arthemis (dibangun + 550 SM dan dibangun selama 220 tahun dan terkenal sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno). Di sana ada orang percaya yang terdiri dari  orang Yahudi dan non Yadudi (termasuk orang Yunani). Baik orang Yahudi dan Yunani tersebut dulunya bukan orang Kristen. Mereka adalah orang yang hidup dalam penyembahan berhala. Setelah mendengar firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Paulus mereka kemudian percaya. Rasul Paulus tinggal kira-kira 3 tahun di kota ini, dalam penginjilannya di sana, ia punya jemaat yang kemudian dinamakan jemaat Efesus. Situasi mereka sama yaitu mereka dulu penyembah berhala dan kemudian menjadi orang percaya, yang tentu membutuhkan tuntunan Tuhan dalam hidupnya. Di antara mereka timbul isu. Maka Rasul Paulus saat di penjara di Roma memikirkan jemaat Efesus dan merasa perlu mengirim surat yang ditulisnya sekitar tahun 63 M. Surat ke jemaat Efesus  menjelaskan konsep penggembalaan di sana. Pada 1 - 4 Rasul Paulus membicarakan tentang konsep keselamatan , bagaimana mereka diselamatkan oleh kasih karunia Allah (di dalam & melalui Kristus) sehingga statusnya sebagai hamba dan anak Allah. Sedangkan pasal 5 dan 6 merupakan landasan pedoman untuk berjalan sebagai orang percaya (jemaat Tuhan) dan tujuan hidup orang percaya

Cara Menghentikan Gosip di Gereja (Efesus 5:1-21)

1.     Setiap orang percaya mengerti untuk hidup sebagai Penurut Allah (Efesus 5:1 Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih). Sebagai orang yang telah ditebus harus hidup sebagai penurut Allah. Penurut Allah kata aslinya berarti imitator (imitasi Allah). Seluruh hidup orang percaya baik dari perkataan, perbuatan, pikiran dan  lakukan harus meniru Allah.  Seluruh hidup kita mencerminkan,  melihat dan meniru Allah. Allah adalah Bapa kita, sebagai seorang anak, kita harus hidup menjadi penurut Allah. Segala hal yang dilaukan harus mencerminkan Allah karena kita membawa identitas Allah. Gosip berhenti kalau mengerti bahwa kita adalah peniru Allah. Ketika bicara tentang penurut Allah berarti meniru setiap tindakan Allah. Kita hidup mengikuti cara-cara Allah. Seluruh hidupnya menaati maksud dan kehendak Allah.

Implikasi Hidup sebagai Penurut (Imitator) Allah :
Ay.2 hiduplah di dalam kasih sebagaimana KRISTUS YESUS …
Ay.3 tidak ada percabulan & rupa-rupa  kecemaran,
Ay.4 tidak ada perkataan kotor & kosong atau yang sembrono…
Ay.5-7 Tidak berkawan dengan orang berdosa,
Ay. 8-9 hiduplah sebagai anak-anak terang (terang di dalam TUHAN),
Ay.10 ujilah apa yang berkenan kepada TUHAN...
Ay.11-12 jangan mengambil bagian  dalam perbuatan kegelapan…
Ay. 17 usahakan supaya kamu mengerti kehendak TUHAN,
Ay.18 penuh dengan ROH…,
Ay.19 bersoraklah bagi TUHAN,
Ay. 20 ucapkan syukur…..
Ay.21  di dalam takut akan KRISTUS

Orang-orang demikian akan sungguh hidupnya bercermin pada Allah sehingga perkataan , pikiran, tindakan yang keluar bukanlah tindakan dunia tapi merupakan standar Allah. Gosip adalah tindakan dunia, pikiran dunia untuk menjatuhkan lawan. Ketika seorang hidup sebagai penurut Allah maka ia tidak akan melakukan fitnah. Ef 5:2 hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. Orang percaya hidup bukan berfokus pada dunia tapi fokusnya pada Allah. Ayat demi ayat Rasul Paulus berbicara “jangan meniru cara dunia”. Kita bercermin dan mengikuti cara Allah. Setiap orang yang hidup dan berkomitmen mengikuti Allah maka ia akan menjadi orang yang mulutnya tidak mengatakan gosip. Orang yang mengikuti Allah , sepenuhnya hidup dalam Kristus. Sehingga menjadi penurut Allah berarti Allah menjadi landasarn hidup, pikiran dan perkataan. Gosip bisa timbul karena tidak melihat pada pikiran Allah. Seringkali gosip timbul karena tidak melihat dari kacamata Allah. Misalnya : Ada orang lewat di depan kita dengan menunduk dan tidak menyapa kita lalu kita berpikir orang ini sombong, lalu ia bercerita kepada temannya bahwa si A sombong sekali karena waku melihat saya tidak menegur. Mari kita berpikir dari apa yang Allah pikir. Coba melihat seperti Tuhan melihat. Padahal Yesus melihat banyak orang yang hidupnya banyak yang tidak baik dan Yesus merasa  kasihan pada mereka sehingga Yesus menginjili, mendekati dan melayani mereka. Kalau kita tidak mampu melakukannya, maka dalam pikiran kita timbul gosip. Orang yang hidupnya tidak menjadi penurut Allah maka dirinya dikuasai , dipengaruhi oleh diri dan iblis. Sehingga kalau tidak mengikuti, meniru Allah, maka ia akan meniru dunia (segala pikiran dipenuhi oleh pikiran dunia dan keangkuhan hidupnya). Melihat orang tidak menegurnya, ia mengatakan mengapa “tidak menghargai saya?”. Hidup demikian akan menjadi gosip. Tetapi bila seluruh hidup orang itu diserahkan dalam otoritas Tuhan,(pikiran, perkataan dan hidupnya dikuasai Allah), maka dalam dirinya tidak akan timbul fitnah dan gosip (gosip mati dan tidak timbul dalam diri dia).

Penurut Allah (be imitators of God) akan mewujudkan Allah melalui :
a.     Standar tindakan, perbuatan , perkataan dan moralitas sepreti standard Allah.
b.     Pikiran dan hati yang murni seperti Allah.
Sudahkah kita hidup sebagai penurut Allah, setelah sekian tahun ke gereja?

2.     Setiap orang percaya berkomitmen menjaga hidup sebagai anak-anak terang Menjadi penurut Allah bicara tentang pondasi. Harus praktekkan keluar dan jaga status sebagai anak Allah. Sebagai status hidup sebagai imitator Allah, kita hari ini hidup sebagai anak dan lahir dari Allah sehingga seluruh apa yang keluar serupa dengan Allah. Status kita sebagai manusia baru (Yoh.1:12 : anak-anak ALLAH, 1 Yoh.3:9,”lahir dari ALlah) identitas kita lahir dari Allah. Ketika menjaga komitmen ini, dari mulut kita tidak keluar gosip. Melihat orang lain, kita mengasihinya dan tidak hidup dalam perkataan sia-sia.  Orang yang mempunyai dan menjaga identitas sebagai anak Tuhan maka ia tidak menyampaikan dan menghasilkan gosip. Bila kita mau hidup mengikuti dan menjaga identitas sebagai anak-anak terang. Bila tidak maka dari pikiran kita akan keluar yang jahat. Seharusnya perkataan kita bukanlah fitnah. Kalau kita mendengar gosip maka melalui diri kita gosip akan berhenti.
Hidup di dalam status & identitas sebagai anak-anak terang berarti :
a.        Hidup di dalam kasih (ay.1)
b.       Jangan hidup dalam hal yang tidak baik (perkataan kotor, percabulan, rupa-rupa kecemaran, perkataan kosong dan sembrono, perbuatan kegelapan, dosa, ay.3-12)
c.        Mau hidup dengan bijaksana dalam memakai waktu, hidup dalam ibadah & ucapan syukur. (ay.15-21)

Setiap perkataan orang percaya, harus menceriminkan :
a.        Ciptaan baru, bukan manusia lama.
b.       Hamba kebenaran, bukan habma dosa.
c.        Anak-Anak Allah, bukan anak-anak gelap
d.       Menghasilkan kehidupan bukan kematian

Gosip tidak pernah menghasilkan berkat, sehingga kita harus berhenti dari gosp. Gosip menghancurkan manusia, sehingga gosip jangan menjadi bagian dalam hidup kita.  Contoh : tanaggal 21 April 2015 bintang film Taiwan , Cindy Yang bunuh diri (umur 24 tahun lahir 4 Des 1990) karena tidak tahan gosip tentang dirinya. Gosip itu begitu jahat dan bisa membunuh orang. Ada begitu banyak contoh tentang  gosip dan fitnah yang begitu jahat dan tidak baik. Sebagai orang percaya maka kita menghasilkan berkat dan memberikan hal yang baik. Ilustrasi tentang 2 gelas air yang sama-sama bening warnanya. Namun bila yang satu diminum akan menghasilkan kehidupan yang baik (karena berisi air minum) sedangkan yang satu lagi tidak menghasilkan kehidupan (karena merupaan air cuka karena orang yang meminum air cuka segelas maka ia akan masuk rumah sakit dan bisa mematikan). Penampilan fisik kita boleh sama, tetapi hidup orang percaya jangan menjadi asam cuka yang mematikan orang. Jangalah perkataan, perbuatan kita menghancurkan orang. Tetapi biarlah hidup orang percaya, tamapak sungguh baik dan menghasilkan berkat bagi orang.  

Penutup

                Adakah Engkau mau berjuang dalam : hidup sebagai penurut Allah dan berkomitmen hidup menjaga status dan identitas sebagai anak-anak Allah? Bila iya, maka gosipl tidak akan tumbuh subur di gereja!  Ingatlah bahwa kita adalah surat Kristus (2 Kor 3:1-3) sehingga hidup kita mencerminkan kemuliaan Tuhan (2 Kor 3:18). Gosip tidak mencerminkan hidup dalam Tuhan. Perkataan orang percaya harus memiliki motivasi ingin selalu menjadi saluran berkat Allah bagi sesamanya.. Sebaliknya kita mengerti bahwa gosip tidak pernah menjadi berkat.  Perkataan orang percaya, tindakan, pikirannya seharusnya menjadi identitas dan karakter Allah . Gosip tidak pernah merefleksikan Allah.  
                Mari kita berkomitmen hidup menghentikan gossip dari diri kita. Kalau dengar gosip jangan mengompori (jangan tambah minyak supaya tambah besar tetapi biarlah saat dengar gosip maka gosip akan berhenti di kita (meniadakan gosip itu). Jangan hidup yang bergosip. Marilah kita menjadi berkat dalam perkataan, pikiran dan perbuatan kita.


Sunday, May 3, 2015

Saya Sulit Bekerja Sama?


Pdt. Hery Kwok

Filipi 2:1-11
1  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

                Minggu lalu , saya dan shi mu (istri) diundang untuk melayani di Tegal. Waktu itu kami diajak makan oleh majelis pendamping dari gereja yang kami layani yang berprofesi sebagai dokter. Di kota kecil seperti Tegal, sekolah dan pekerjaan masih berlangsung di hari Sabtu. Di tengah kesibukannya sebagai dokter, ia menyempatkan diri untuk mengajak kami makan. Ia menceritakan 2 buah kisah kepada saya. Yang pertama, ia mempunyai rekan seorang dokter hewan yang membuka praktek di Jawa Timur.  Menangani pasien berupa hewan bukan merupakan perkara yang mudah karena hewan tidak bisa berbicara dengan bahasa yang dimengerti manusia. Dokter hanya bisa mengetahui gejala penyakit  hewan tersebut dari pemiliknya misalnya : anjingnya mencret, kucingnya tidak nafsu makan dan lain-lain. Dokter hewan ini kemudian memiliki kerinduan melayani Tuhan sehingga akhirnya ia mengambil kursus-kursus di sekolah Alkitab agar bisa dibekali dengan pengetahuan Alkitab. Setelah mengikutinya, lama-lama hatinya terpanggil. Lalu salah satu dosen di sekolah Akitab tersebut menawarkannya untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu (full-time). Setelah bergumul akhirnya ia masuk ke sekolah Alkitab dan menjadi hamba Tuhan. Padahal sebagai dokter hewan , ia bisa memasang tarif yang mahal dan pemilik hewan yang sakit rela membayar mahal. Mantan dokter hewan ini kemudian menjadi hamba Tuhan dan bertemu dengan majelis yang mentraktir saya yang kemudian menanyakan pengalaman dokter hewan tersebut setelah menjadi hamba Tuhan. Mantan dokter hewan tersebut berkata, “Saat menjadi dokter hewan, saya tidak mengalami kesulitan dalam melayani hewan. Setelah menjadi hamba Tuhan ternyata tidak mudah melayani manusia.” Manusia sulit diajak bekerjasama dan berinteraksi satu dengan lain. Binatang lebih mudah dilayani daripada manusia. Ini sangat memprihatinkan. Seharusnya binatang yang lebih sulit karena hewan tidak mengetahui pikiran, perasaan dan pribadi manusia. Manusia tahu pribadi, pikiran dan perasaan orang lain. Dalam hati saya merasa tertampar, “Jangan-jangan itu saya”.
                Yang kedua, ia memiliki seorang teman yang bekerja seorang kepala bagian pemasaran di suatu perusahaan besar di Jawa dan mengepalai 150 orang tenaga penjual. Ini bukan jumlah yang kecil. Pada hari Minggu ia melayani Tuhan di gereja. Temannya ini berkata, “Lebih mudah mengatur 150 tenaga penjual daripada mengatur orang-orang di gereja.” Memang tidak mudah bekerjasama dengan baik. Di gereja jangankan mengatur 150 orang, 10 (segelintir) orang saja sangat sulit. Janji pk 9 tapi pk 10.30 baru datang atau kalau janji lupa ditepati karena ada urusan dengan keluarga.. Demikian pula dengan yang saya alami. Dulu sewaktu menjadi pengacara lebih mudah. Suatu kali ada seorang pendeta mau bercerai dengan istrinya , saya bisa dengan mudah mengatakan “Kamu gila!” Sekarang bila saya menegur jemaat dengan mengatakan “Kamu gila!” maka orang yang dinasehati bisa marah.

Penyebab Sulitnya Bekerjasama

1.     Tidak mau merendahkan diri

Kerjasama bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan sehingga seringkali kesulitan banyak dialami oleh gereja karena tidak adanya kerjasama. Gereja paling banyak mengalami kendala dalam kerjasama karena terkait dengan karakter manusia karena di dalam gereja kita bertemu dengan manusia-manusia yang memiliki karater yang belum tentu dikuduskan Allah. Karakter dibentuk oleh kebudayaan, keluaraga dan lingkungannya sehingga saat berada di gereja manusia membawa adatnya sendiri. Saya sering mengatakan ke pemuda-pemudi yang mau menikah agar tidak menikah dengan orang yang karakternya tidak jelas. Karena untuk mengubah karatker tidak mungkin dilakukan dalam waktu sehari alias perlu waktu lama untuk mengubahnya. Saya pernah melayani di gereja yang sangat besar dengan majelis yang berkedudukan sebagai ceo (pengelola) atau pemilik perusahaan. Namun tidak berarti seorang ceo atau pemilik perusahaan memiliki pikiran yang baik. Ada yang berkata majelis itu pintar dan melakukan terobosan-terobosan yang  canggih, tapi saat bekerjasama orangnya tidak mau mengerti orang lain. Bahkan ada juga majelis yang mengatakan bahwa hamba Tuhan juga sama. Karena berbicara tentang karakter, siapa pun kalau tidak mau dikuduskan dan merendahkan diri maka tidak mudah untuk berinteraksi dengan sesama.

2.     Merasa benar dalam pandangan sendiri, semua dianggap sederajat.

          Kita berada di zaman post modern. Waktu zaman modern, ada nuansa bahwa kalau manusia dipimpin oleh seseorang maka orang yang dipimpinnya tidak mau pusing dan ia akan mengikutinya. Sedangkan dalam  zaman post modern, orang memiliki anggapan bahwa ia benar dalam pandangannya. Orang menentukan kepercayaannya berdasarkan apa yang diyakininya benar. Seperti pada zaman Hakim-Hakim, orang-orang melakukan apa yang diyakini benar. Dalam zaman teknologi, apa yang dilihat seseorang bisa dijadikan contoh. Saat ini tidak mudah menjadi seorang guru. Kalau guru memukul murid, maka sang murid mengatakan bahwa ia merasa di-bully. Ada seorang guru yang ingin mengundurkan diri karena merasa sulit menjadi guru. Saat ia melotot kepada seorang anak murid, dikatakan bahwa ia telah mem-bully siswa tersebut sehingga sang anak merasa takut dan gementar. Pada malam hari ia mengigau dan terkencing-gencing. Dalam zaman post modern semuanya dianggap sederajat. Orang merasa tidak perlu memiliki pandangan bahwa “kita sedang bekerjasama satu dengan lain sehingga masing-masing perlu merendahkan diri.” Rasul Paulus memberi nasehat penting kepada jemaat di Filipi yang mengalami kesulitan dalam bekerjasama. Fil 2:1-2  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

          Rasul Paulus mengatakan karena di dalam Kristus kita dipersatukan, bisa berada bersama-sama dan bisa melayani. Kita bisa mempunyai saudara walau berbeda suku, derajat dan banyak hal tapi dalam Kristus kita adalah satu. Dalam Dia ada nasehat dan persekutuan, sehingga kita seharusnya mencerminkan Yesus Kristus. Jadi hendaklah kita semua sehati. Perkara kerjasama dimulai dengan kata sehati dan sepikir. Pada ayat 5 dikatakan “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Istilah “menaruh pikirian’ berbeda dengan menaruh barang karena kalau barang ada obyek yang bisa diraba (disentuh). Saya mencoba memikir dan merenungkan istilah “menaruh pikiran”. Saya dan shi mu menikah 1997. Dalam menjalani kehidupan pernikahan juga ada gesekan, percekcokan walau sama-sama hamba Tuhan. Itulah manusia. Kalau marah maka ayat terlupa. Saya pernah mengunjungi rumah jemaat saat ribut sehingga terlontar nama-nama binatang. Jadi itu adalah gambaran ekspresi manusia. Sebelum peneguhan pernikahan Sdr. Hary – Sdri. Julia, saya diingatkan untuk memotong rambut. Biasanya Guo shi mu yang mengguntingkannya namun karena shi mu sedang sibuk menyiapkan pakaian untuk padus Jubilate maka saya menggunting rambut sendiri karena tidak ingin merepotkannya.  Namun akhirnya shi mu tahu saat melihat ceceran rambut di lantai dan mempertanyakannya. Shi mu sempat kesal walau sudah disampaikan alasannya agar tidak menyibukannya. Kalau saya tidak mau ribut maka saya harus menaruh pikiran saya kepada shi mu. Saya harus setuju dengan pikirannya dan saya harus merendahkan diri.  Saat menaruh pikiran, saya harus benar-benar seperti Kristus menaruh pikiranNya dengan merendahkan diri dan Bapa mengutus AnakNya , Yesus Kristus yang  tidak menganggap kesetaraan diri untuk dipertahankan , Dia mengambil rupa menjadi manusia, tidak menganggap diriNya harus menang dan Ia mau manusia memperoleh keselamatan.

Penutup

                Rasul Paulus memberikan berita yang hebat. Allah adalah pribadi mulia yang m,enciptakan langit dan bumi dan kalau nafas hidup kita ditarikNya, maka tamatlah riwayat manusia. Seorang teman saya yang baru kembali dari perjalanan ke Bandung, bermain badminton. Saat bermain badminton, ia meninggal di lapangan. Apabila ia tidak jadi bermain badminton, apakah ia tidak jadi meninggal? Omong kosong!. Tuhan Yesus yang mempunyai kedaulatan, keagungan dan kemuliaan, Dia mau merendahkan diri, agar kita diselamatkan. Keselamatan itu anugerah. Kitab suci membicarakan keselamatan dari Allah. Maka kita harus menaruh pikiran kita seperti Kristus yang merendahkan diri, sehingga kita harus satu hati, satu pikiran, satu kasih, jiwa dan satu tujuan. Pdt. Joshua Lie awalnya seorang jemaat Gereja Petamburan dan menganggap saya adiknya. Ia berbicara tentang esensi dan hakekat gereja. Ada yang bertanya, “Ko Lie mengapa di gereja banyak pertengkaran dan percekcokan?” Pdt. Joshua Lie menjawab, “Teman-teman memahami gereja apa? Apakah kumpulan orang-orang yang kudus? Bukan! Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa, yaitu saya (jangan tunjuk orang lain). Saya adalah orang berdosa! Itu sebabnya natur dosa saya muncul. Waktu saya tidak suka dengan seseorang maka saya bisa pakai cara saya dan saya tidak mau dipimpinnya.” Kumpulan orang berdosa ada di geraja. Kumpulan orang berdosa yang dikuduskan oleh Kristus Artinya tiap hari Yesus Kristus mau memproses agar kita mengalami pembaruan karakter dan budi sehingga bisa bekerja sama satu dengan yang lain.
                Kita dikumpulkan di gereja supaya kita bisa memuliakan  dan meninggikan Allah dalam keterbatasan, melalui karyaNya dan interakasi, karena ada Yesus Kristus ada di dalam diri dan ada kerendahan diri. Orang yang berada di dalam Yesus Kristus mau dibentuk. Sehingga dalam keseharian, saat melihat orang lain ia akan menyambut dan mengucapkan salam (seperti  “Selamat pagi” dll). Ia akan melihat kelebihan orang lain walau setiap orang punya kelemahan. Ia punya pikiran yang diletakkan kepada Yesus Kristus.

                

Wednesday, April 29, 2015

Integritas Pelayan Tuhan


(Kelas Pembinaan Tiranus kedua. 26 April 2015)

Pdt.  Irwan Hidayat

1 Kor 9:24-27
24   Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
25  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
26  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.
27  Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.
1 Tim 4:12-16
12  Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
13  Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.
14  Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.
15  Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.
16  Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Pendahuluan

                Topik ini tidak mudah diwujudkan dan dilakukan dalam hidup kita. Kita bicara tentang integritas dalam konteks pelayan Tuhan. Sebagai pelayan Tuhan , kita dituntut untuk memenuhi banyak kualifikasi (harus punya kecapakan, menguasai berbagai hal). Kualifikasi ini baik, namun satu hal yang paling dituntut dari seorang pelayan TUhan akhirnya adalah integritas.

Integritas

                Definisi integritas menurut KBBI adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Bicara integritas berarti berbicara tentang aspek kehidupan kita secara utuh. Apa yang dipikir, diucapkan , dipercaya dan dilakukan adalah satu (utuh). Dalam kamus bahasa Inggris (Oxford) defisininya : the state of being whole and undivided. Suatu kondisi menyeluruh sebagai satu kesatuan dan tidak terbagi / terpecah. Tanpa integritas kita tidak bisa melayani dengan baik. Apa yang dipikirkan sama dengan apa yang diucapkan dan dilakukan,. sama saat di gereja, di kantor atau di mana pun. Kegagalan pelayan Tuhan bukan karena kekurangan skill atau kemampuan. Skill bisa diajarkan dan dikuasai, kemampuan bisa dilatih namun integritas menyangkut karakter. Orang yang tidak berintegritas akan sulit dihadapi. Di Jawa Tengah ada istilah jarkoni (iso ujar ora iso ngelakoni yang berarti bisa bicara tapi tidak bisa melaksanakan). Kamu bisa mengajar tapi tidak bisa melakukan (hidupmu tidak begitu). Kamu bilang seorang pelayan Tuhan ketika melayani Tuhan harus melayani begini-begitu tapi kamu sendiri kenapa tidak melakukan seperti itu. Beberapa hamba Tuhan yang besar dan pengkotbah yang sangat baik dan talented jatuh karena tidak punya integritas. Khotbah yang paling baik adalah hidup sang pengkhotbah sendiri (bukan apa yang disampaikan di mimbar). Khotbah di mimbar untuk durasi 20-40 menit persiapannya lebih mudah dan jauh lebih sulit adalah hidupnya. Khotbah paling asli adalah apakah dia menghidupi apa yang dia ajarkan, apa yang dia lakukan, apa yang dia minta lakukan pada jemaatnya. Banyak hamba Tuhan tidak dihargai jemaat dan rekan junior nya karena tidak punya integritas. Di mimbar bagus, tapi di bawah mimbar jangan tanya. Di mimbar memukau,  di bawah mimbar  Wallahu A'lam(Allahlah yang Maha Mengetahui atau Allah yang lebih tahu). Itu tidak punya integrtias.

Seorang pelayan Tuhan terkait dengan beberapa pihak dari pelayanannya.
a.     Diri Sendiri
b.     Orang lain (rekan kerja, yang dilayani)
c.     Pekerjaan pelayanan
d.     Allah yang dilayani

1.    Integritas Nampak di Dalam Diri

a.     Hidupnya adalah pelayanannya.

      Sendiri harus bisa mengurus dirinya. Integritas harus terlihat di dalam diri sendiri. Hidup seorang pelayan Tuhan adalah pelayanannya. Kita tidak bisa memisahkan antara diri sebagai pelayan Tuhan dengan hidup kita. Misal : di gereja saya sebagai hamba Tuhan dan di sekolah teologi sebagai dosen. Boleh tidak suatu kali saya sedang cuti lalu saya berpikir, “Waktu saya di Bali saya tidak sedang menjadi pendeta (hamba Tuhan). Karena saya sedang cuti maka saya akan dugem, minum-minum, mabuk-mabukan sampai teler, mumpung sedang tidak jadi pendeta. Setelah cuti selesai, baru saya jadi pendeta lagi?” Tidak mungkin! Kadang ada yang berkata, “Tidak bisa menjadi seorang hamba Tuhan full-time” ini salah. Karena berbicara tentang hidup orang yang melayani Tuhan adalah pelayanannya. Status pelayanannya tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Jadi seorang guru sekolah minggu, pengurus, majelis , ke mana pun mereka berada status sebagai pelayan Tuhan terbawa. Kehidupan dia adalah panggung pelayanannya. Bukan saja saat berada di gereja pada hari Minggu tapi seluruh kehidupannya adalah panggung pelayanannya.

-   Hidup kesehariannya (life style)
Bagi seorang hamba Tuhan yang berintegritas “seluruh kehidupanku adalah pelayananku”. Tidak bisa ia mengatakan, “Yang ini bagian pelayanan saya sedangkan yang itu bukan!”. Status sebagai hamba Tuhan tetap terbawa. Kalau majelis bekerja dengan cara kotor, tidak jujur dan suatu kali orang non gereja melihatnya, maka kelakuannya akan  dikaitkan dengan statusnya “Katanya majelis gereja, tapi kalau kerja kotor benar!” Ketika memutuskan menjadi seorang hamba Tuhan maka ia sudah memperhatikan life style (gaya hidup) nya. Di sekolah teologi , mahasiswa diajar untuk melihat dirinya sebagai hamba Tuhan. Mahasiswa tidak boleh pakai kaus dan sandal (apalagi sandal jepit). Semua memakai sepatu walau di perpustakaan. Ada yang berkata, “Bukankah yang penting pakai baju? Apa bedanya?” Ini bukan masalah kain atau kerah tapi bagaimana seorang hamba Tuhan membawa diri. Bagaimana kesan jemaat bila hamba Tuhan pada hari minggu memakai kaos dan saat rapat majelis memakai sandal? Hal ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seharinya sebagai hamba Tuhan. Bagaimana membawa diri sebagai hamba Tuhan adalah hal yang penting. Dalam pelayanan maka kita harus hati-hati karena status kita sebagai pelayan Tuhan tidak terpisah dari kehidupan kita. Di mana saja kita berada, kita tetap seorang pelayan Tuhan. Perkataan dan cara berpakaian kita dikaitkan dengan status kita sebagai pelayan Tuhan.
Rasul Paulus dalam 1 Kor 9:27 mengatakan Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. Ketika berbicara tentang tubuh, Rasul Paulus tidak bermaksud mengatakan hanya tubuh jasmani saja yang merupakan lambang kehadiran (keberadaan kita dimanifestasikan melalui tubuh). Menguasai tubuhku berarti menguasai hidupku supaya setelah memberitakan Injil jangan aku sendiri ditolak. Bila ada pengkhtobah yang sangat bagus penggembalaannya luar biasa, tapi cara hidup sehari-harinya tidak sesuai dengan firman Tuhan maka kita akan menolaknya. Karena itu perhatikanlah cara kita hidup!

-   Pergaulan, komunitas.
Kita boleh dan harus bergaul dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan. Namun bagaimana bergaul dan punya komunitas mempengaruhi keberadaan kita sebagai hamba (pelayan) Tuhan. Saya pernah melayani di sebuah gereja. Saat mendengar khtobah pendeta di gereja itu, saya merasa sangat bagus dan saya ingin seperti dia. Namun sayangnya sang pendeta punya satu kumpulan teman-teman yang rupa-rupanya menarik dia melakukan sesuatu yang tidak benar sehingga akhirnya ia tersangkut paut dengan bisnis kayu illegal yang disimpannya di gereja. Begitu digrebek polisi, gereja yang digeledah dan para majelis diinterogasi! Dengan siapa kita bergaul perlu dipertimbangkan, mengingat status kita sebagai seorang pelayan Tuhan. Jangan sampai orang tidak mau datang ke gereja, karena kita tidak punya integritas dalam keseharian (pergaulan dan komunitas) kita.

-          Performance (kerapiahan, kesompanan, kesahajaan).
Setiap gereja punya gaya, aturan (tertulis atau tidak tertulis) tentang bagaimana seorang hamba Tuhan membawa dirinya, kostum dan kesehariannya. Waktu kami remaja, saat pembinaan dikatakan bahwa, “Kamu boleh memakai baju dan model apa saja karena uangnya punya kamu sendiri. Memang boleh tetapi pikirkan satu hal! Pikrikan prinsip Rasul Paulus dalam Roma 14:20-21  Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu. Saat remaja, ada yang bertanya,”Mengapa sih saya yang belum tua tapi kalau ke gereja tidak boleh memakai celana jean bolong, rok yang ‘kurang kain’, dan pakai tangan buntung ke gereja. Itu kan hak saya, duit saya, badan saya. Apa urusannya dengan anda?” Waktu menyerahkan diri sebagai seorang pelayan, berarti menyerahkan hak kita kepada Tuhan. Yang sebetulnya kalau kita mempersoalkan hak, apakah kita punya hak? Seharusnya kita sudah binasa, sehingga apakah kita punya hak? Waktu diangkat dari jurang kebinasaan kita seharusnya tidak punya hak. Kita menyerahkan hak kita sebagai pelayan Tuhan. Kita harus menjaga dan melihat hidupku, caraku, pergaulanku, apa yang kukenakan, kehidupanku seluruhnya adalah pelayanan agar Tuhan dipermuliakan. Mari kita jaga! Ketika bicara tentang ‘integritas dalam diri kita’ harusnya hal itu nampak dalam diri kita.

b.    Integritas dalam perkataan, perbuatan, pikiran/perasaan (motif)

Saya pernah diutus untuk melayani sebuah gereja di semarang sehingga saya pernah melayani 18  tahun di Semarang dan 5 tahun di Surabaya. Padahal saya lahir dan besar di Jakarta. Untuk beradaptasi di Semarang saya merasa sulit karena orang di jawa Tengah sangat tertutup. Contoh : saat hati seseorang kesal, ia masih bisa bertanya, “Pak apa kabar?” Hatinya tidak mau mengungkapkan kekesalannya. Kalau mau menegur seseorang, maka perkataannya akan berputar panjang (tidak straight to the point). Ssaya kalau berbicara langsung ke masalah sedangkan orang Jawa Tengah bicaranya harus berputar-putar sehingga suatu kali saya mendapat kesan, “Ini yang di mulut berbeda dengan di pikiran dan di hati. Orang bisa senyum padahal hatinya dongkol. Orang bisa cool padahal ternyata menusuk dari belakang. Itu kesan awal. Setelah lama melayani saya akhirnya paham. Integritas sebagai pelayan Tuhan berkaitan dengan diri sendiri karena orang lain (teman dan rekannya) tidak tahu hanya engkau dan Tuhan yang tahu. Kita punya satu kesatuan (undivided), apa yang kulakukan, pikirkan dan rasakan, tidak terpisah. Tanpa integritas ini, maka akan terjadi kemunafikan. Orang yang munafik, ngomongnya A padahal di dalam hatinya B. Kita ajarkan A, kalau tidak terlihat yang dilakukan B. Ada guru sekolah minggu yang berkata,”Anak-anak harus rajin baca Alkitab.” Padahal dia sendiri tidak baca. Rick Warren berkata, “Orang lebih tertarik untuk pagi-pagi baca Koran daripada baca Alkitab. Koran lebih dicintai dan bisa dibawa-bawa ke ruang pribadi seperti kamar mandi karena tidak ingin ketinggalan berita.” Kita dalam proses berjuang untuk memiliki integritas. Kalau saya mengkhotbahkan sesuatu yang tidak saya lakukan, alarm di dalam hati saya berbunyi, “munafik kamu.” Saya berdoa, “Ajari saya Tuhan agar melakukan apa yang akan saya khotbahkan.” Bicara integritas harus sinkron antara pikiran, perasaaan, perkataan dan perbuatan . sehingga tidak ada yang menuduh kita. Tuhan memberikan kita hati nurani sehingga ketika ada yang tidak sesuai, maka alarmnya akan bunyi. Contoh : ketika menjadi pelayan Tuhan di gereja, laku keesokan harinya melakukan sesuatu yang tidak cocok dengan firman Tuhan, maka alarmnya berbunyi.

c.     Kredibilitas (keuangan, dll)
2 Tim 2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.
Salah satu ujian bagi kredibilitas seseorang (apakah orang dapat dipercaya atau tidak) adalah dalam hal keuangan. Kalau ia kredibel dalam hal keuangan, hampir dipastikan ia kredibel dalam hal lain. Suatu kali, saya berkhotbah di sebuah gereja dan  majeslinya berpesan, “Pak, kami serahkan viaticum Bapak setelah kebaktian 1. Bapak harus berhati-hati menyimpannya” Ternyata pengkhotbah minggu lalu mendapat viaticum di ku 1 lalu menaruh di tasnya yang diletakkan di ruang konsistori (ruang untuk para panatua). Ketika KU II selesai dan mau pulang, ia memasukkan Alkitabnya ke dalam tas , amplop viaticumnya sudah hilang. Padahal sewaktu mau kebaktian, pintu konsistori sudah di tutup. Jadi tidak mungkin ada orang luar yang masuk dan konsistori dilengkapi kamera CCTV. Ternyata setelah diputar rekamannya diketahui panatuanya yang mengambil. Di gereja tempat kami melayani dulu, saat menghitung uang kolekte oleh banyak orang, ternyata ada yang sambil menghitung, uang dimasukkan ke kantong sendiri dengan cepat. Orang mungkin tidak tahu. Tetapi seorang pelayan Tuhan yang tidak kredibel, dipastikan tidak punya integritas. Dalam 2 kasus di atas, keduanya jatuh. Imun (kebal) untuk pendeta dan pengurus? Tidak.! Ketika dulu melayani di salah satu jemaat, ada pengurus komisi yang membuat laporan tanpa kwitansi. Gereja umumnya menjadi tempat yang sangat mudah  untuk melakukan hal seperti ini. Karena kita didasarkan pada kepercayaan. Kita punya tidak integritas dalam hal itu (bisa dipercaya)?. Maka saya tidak mau membantu menghitung uang kolekte. Setelah selesai khotbah saya menyingkir dari ruang itu, karena menurut saya tidak baik. Keredibilitas kita dipertaruhkan.

d.    Spritualitas (Christian values – fruits of the Spirit)
Seorang yang punya integrits terlihat dari spiritualitasnya. Nyata adalam kehidupan kreohaniannya. Ada nilai Kristen yang nampak dari hidupnya. Ini tidak bisa dipungkiri. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri. (Galatia 5:22-23). Kejujuran dan kebenaran akan nyata dalam hidup pribadinya.

2.    Integritas akan terlihat dalam kerekanan
.
a.     Partner atau saingan

-        Iri hati
Bagaimana kita memandang rekan kerja? Sebagai partner atau rival? Bagi guru Sekolah Minggu senior yang tiba-tiba didatangi guru Sekolah Minggu baru, maka kalau tidak terlalu menonjol maka menganggapnya sebagai pendatang baru biasa. Namun kalau orangnya sangat berbakat dan disukai anak-anak, maka sangat mungkin muncul rasa iri hati, tidak suka atau tidak senang. Sebelum pindah ke STT, selama 18 tahun saya pelayanan di GKI Surabaya. Kami (saya dan adik kelas kelas saya bernama Samuel) melayani berdua di gereja tersebut. Setelah 3,5 tahun tidak memiliki pendeta, kami masuk dan diteguhkan berdua menjadi pendeta di gereja tersebut. Saya kemudian berbicara dengan Samuel . Ia mengatakan “Passion saya bukan di mengajar dan berkhotbah. Jadi kamu yang lebih banyak di mengajar dan berkhotbah. Saya akan focus ke penggembalaan saja.” Saya menanggapi, “Saya bukan gembala yang baik. Jujur saya bukan tipe gembala yang bisa menyebutkan nama orang sambil memberi salam dan menghafal nama anak cucu jemaat.  Saya tidak sanggup seperti itu. Saya  tidak fokus ke penggembalaan ,pembesukan dan konseling. Kebetulan saya lemah di situ. Passion saya mengajar.” Dengan demikian di antara kita berdua tidak ada masalah. Lalu kami berdua sampaikan ke rapat majelis. “Saya focus banyak mengajar yakni 18 sesi, sedangkan Samuel mengajar 2. Saya akan besuk, tapi Samuel yang berangkat dahulu, lalu saya menyusul. Saya fokus ke pembinaan. Karena seorang pendeta tidak semua bisa. Pendeta tidak bisa unggul dalam semua hal, kalau begitu pendeta umurnya pendek.” Majelis setuju. Kami senang karena antara pendeta bisa saling mengerti. Tapi ketika saya banyak berhotbah dan Samuel sedikit berkhotbah , ada jemaat yang bertanya kepada saya, “Mengapa Samuel tidak dikasih khotbah? Apa khotbahnya putar-putar dan saya tidak mengerti?”. Sebaliknya ada juga jemaat yang dibesuk Samuel yang berkata, “Pak terima kasih sudah dibesuk. Bapak penuh perhatian sedangkan Pak Irwan kurang perhatian.” Untung antara kami terjaga komunikasinya sehingga kita saling memberi informasi. Jemaat yang memuji saya dan merendahkan rekan saya itu atau sebaliknya tidak masalah. Kadang muncul perasaan ini sainganku dan perbandingan, hal itu wajar. Tetapi masalahnya kalau dibanding-bandingkan (beda dengan membandingkan).  Karena sangat mungkin kita bisa injak kepala rekan kita suapaya kita lebih tinggi. Saya keluar dari gereja di semarang dengan menangis, saya tidak ribut dengan rekan dan jemaat. Waktu saya keluar gereja dalam kondisi seperti orang habis berperang. Kami pendeta bertujuh. Yang senior merasa tidak nyaman, dengan kehadiran yang yunior. Saya pikir , “Ada apa sih? Kalau Hamba Tuhan disharmoni, maka tanggal 31 Desember malam saat orang sedang enak makan di restoran menjelang pergantian tahun, kami mengikuti rapat. (setelah kebaktaian pk 7 malam). Makannya ribut sambil gebrak meja, sampai majelis terpecah dua. Sebagian panatua keluar dan exodus ke gereja lain.” Akarnya kolegitas merasa rekan bukan partner tapi saingan. Kalau seorang pelayan Tuhan punya integritas, ia akan tunjukan ke rekannya sebagai mitra.

-        self – glorification (memuliakan diri)
Kalau membuat Kritus dimuliakan maka kita akan senang. Ketika dalam pelayanan, kita mencari self-glorfication tetapi bukan soli deo Gloria (artinya hanya Tuhan yang dimuliakan atau pujian hanya bagi Tuhan) tapi soli daku Gloria (kemuliaan  hanya untuk aku), maka ujung-ujungnya gereja pecah.

b.     Saling (banyak kata saling dalam Alkitab). Ini menjadi hal yang penting. To each other.

c.     Kenosis
Fil 2:1-7 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,   melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Sebagai seroang pelayan Tuhan yang berintegritas apakah kita sanggup mengosongkan diri kita supaya Tuhan saja (bukan aku) dan  tidak menganggap diri kita yang utama, kita pikirkan orang lain.

d.     Mindset “satu” team building , kita satu tim dan tidak menonjolkan diri.
Ef 4:4-6 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,  satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,   satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
1 Kor 12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.

3.     Tunjukkan Integritas dalam Mengerjakan Pekerjaan Pelayanan (Profesionalisme)
 
a.      Seperti untuk Tuhan
(Kol 3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.) 
-     yang terbaik bukan asal.
Ada banyak definisi tentang profesionalisme. Memanggil pemusik professional terkait bayaran. Ada suatu tingkat kualitas terbaik. Bicara tentang pelayanan gerejawi, seringkal kita tidak bisa mengerjakan secara professional dan berkata,”Ini kan hanya untuk gereja saja!”. Apakah kalau untuk gereja kualitasnya KW2? Apa memberi ala kadarnya? Kalau punya integritas, dia tahu memberi yang terbaik. Waktu mengerjakan pelayanannya, akan meiakukan dengan sebaik-baiknya. Terkadang kalau khotbah “yang dengar hanya anak kecil” anggapannya tidak perlu disiapkan padahal Tuhan Yesus duduk di kelas dan mendengarkan. Sedih kalau pekerjaan sekuer dilakukan secara professional tapi yang rohani kehilangan profesionalisme.
-        disiplin (waktu pekerjaan)

b.     persistence / perseverenace (ketekunan)
(Rm 5:3-4  Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.)
Mendengar hamba Tuhan mogok melayani bukan sesuatu yang baru. Ada hamba Tuhan yang berdoa, “Tuhan susah sekali pelayanan ini, saya tidak suka dengan orang itu. Saya lebih baik keluar.” Seperti Abaraham dan Lot, saya ke sini kamu ke situ. Akhirnya banyak orang yang dalam melayani putus di tengah jalan. Kelihatan sekali tidak professional. Kalau saya senang, akan saya lakukan. Sebaliknya kalau saya tidak senang, saya tinggal. Begitukah pelayanan yang sebenarnya? Apakah itu orang yang punya integritas? Kalau dia punya integritas dan dinyatakan dalam pelayanannya, maka ia akan punya ketekunan.

c.   kesetiaan sampai akhir (2 Tim 4:8)
Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

d.  rahasia jabatan.
Sebagai pelayan professional maka kita harus menjaga rahasia jabatan. Apa yang dibicarakan di rapat, tidak menjadi siaran berita. Mungkin banyak orang yang punya talenta jadi presenter Silet (sebuah program informasi hiburan di TV). Rapat majelis baru diadakan semalam, besok paginya isi rapat sudah ketahuan. Seakan-akan tembok rapat ada kupingnya. Itu bukan tembok. Apa yang dibicarakan di rapat majelis, tidak boleh diceritakan kepada pasangan (istri atau suami). Pasangan juga jangan bertanya “Apa yang dibicarakan saat rapat?”  Biasanya kia suka merohanikan, “Eh jangan bilang-bilang, jangan kasih tahu orang. Saya hanya kasih tahu ke kamu.” Karena itu berarti ia sudah memberi tahu ke 10 orang kalimat rohani ,” mohon didoakan”. Rick Warren menulis,  “Domba meninggalkan gembala bukan karena serigala tapi oleh sesama domba.” Kita jaga profesionalisme dalam pelayanan.

4.    Berintegritas di Hadapan Tuhan

a.     Fulfilling Gods’ Will
.
Tuhan Yesus sedang berdoa untuk muridi-muridNya (judul perikop doa Yesus untuk murid-muridNya). Ada 1 ayat “nyelip”, Yoh 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. I’ve glofied you by fulfilling pekerjaan yang engkau suruh aku kerjakan. Suatu kali mampukan mengatakan, Tuhan saya sudah selesai. Tetapi permisi tanya, ukuran selesai apa? Selesai masa jabatan. Selesai emeritus baru bisa ngomong. Makananku adalah melakuakan kehendak dia yang mengutus aku. Ukuran selesai (membawa kemulian buat TUhan0 bukan ukuran masa jabatan , waktu sudah emertisu karena sangat mungkin walau sudah emeritus belu melakukan kehendak Tuhan. Majelsi selesai masa ajbatan, pedneta emeritus belum melakuakn kehendak Tuhan. Ini yang saya takutkan, Tuhan jagan sampai waktu habis, umur tua, saya emertitus tapi kehendak Tuhan belum terlaksana. Satu hal yang kita bisa tunjukkan, kita ingin TUhan senang, berkenan atas pelayanan kita. APa ayng paling Tuhan kehendaki? Filospfi : dari Cat and Dog theology (Bob Sjorgren) Keesaran diri ditandai dari Berapa banyakkah orang usdah aku layani. Tuhan yesus : ekbesaran diri seseroang tidak terleteak pada berapa banyak orang yang melayani tapi terletak pada berapa banyak orang yang dia layani sewaktu hidup. Waktu bisa selesai kapan saja , oleh karena ini kita harus punya hati yang jujur untuk melayani lebi hbanyak .

b.    Tuhan senang, puas berkenan,
Terhadap pihak ini kita akan memikirkan integritas semacam apa yang harus dimiliki pelayan Tuhan.

QA

1.     Bagaimana bila ada yang berkata, “lebih baik saya tidak melayani daripada menjadi batu sandungan” ?
Hal ini harus diselidiki, apakah punya alasan yang kuat dan cukup prinsip. BIla iya maka kita bisa menerimanya. Tapi kalau hanya karena ia merasa saja dan bukan hal yang prinsip, maka kita harus berikan dorongan pada orang itu. Apakah pelayanan menuntut kesempurnaan? Mari kita melayani dalam keterbatasan. Memang ada orang yang dalam pertimbangan yang matang  mengatakan,”tidak melayani dulu kalau tidak jadi batu sandungan”.

2.     Bagaimana bila menghadapi seorang guru SM yang mengatakan , “Sudah cape tidak mau melayani.”?
Harus dikasih tahu bahwa “Tuhan tidak pernah capai”. Pasti ada sesuatu dengan kerohanian orang itu sehingga merasa kering dan jenuh. Harus didorong mengapa akan berhenti? Persoalan harus dibereskan dengan spiritualitas. Ada yang ingin cuti sebulan karena cape dan jenuh. Kadang orang butuh sesuatu untuk melihat sesuatu berbeda. Perlu berhenti sejenak untuk berjalan lebih jauh. Terkadang memang dibutuhkan hal seperti itu. Guru SM saat saya ikut persekutuan SM sekarang masih jadi GSM sampai saat ini.  Selama kebutuhan wajar maka menurut saya masuk akal untuk memahami kebutuhan seperti itu. Kalau karena capai , harus didorong untuk tetap melayani.

3.     Kadang saat diminta melayani sebagai penterjemah, saya merasa tidak mampu. Saya merasa seminggu pergumulan berat sekali. Jadi atau tidak. Jadi rasa gelisah selama seminggu.  Jadi harusnya bagaimana?
Kadang kita merasa harus melakukan sesuatu dengan standard kita. Padahal yang diminta dari kita tidak seperti itu. Saat ujian kita merasa ujian berat sekali karena standard itu, padahal yang membuat berat karena kita memikirkannya berat. Menjadi translator adalah menjadi penyambung lidah, orang yang tidak paham bahasa diterjemahkan. Targetnya membuat orang mengerti. Ada banyak orang yang mengemas kata-kata lebih bagus. Tetapi ada standard tinggi yang ditetapkan diri sehingga menjadi beban. Dulu saya merasa khotbah saya harus seperti ini itu karena banyak pendeta emeritus datang, sehingga beban mental. Jadi saya harus siapkan yang excellent. Padahal bila tidak ada pendeta senior apa jadi tidak excellent? Kita jadi diri kita , do out best and let God do the rest. Kita lakukan yang terbaik agar tidak terbebani diri sendiri sehingga tidak damai sejahtera.

4.     Bagaimana bila ada hamba Tuhan yang diundang menilai jemaat suam-suam kuku dan merasa terjebak? 
    Dijawab : itulah sebabnya kami undang Bapak. Itu gunanya Tuhan mengutus hambaNya untuk menegur, mendorong jemaatNya lebih baik. Memang kalau jemaat sudah cukup baik dan sempurna hamba Tuhan baru mau ke sana? Tuhan Yesus saja berkata, “Aku datang bukan untuk orang sehat melainkan untuk orang sakit”. Hamba Tuhan diutus ke gereja yang membutuhkan pelayanannya, untuk itulah dia diundang.

5.     Apa indicator pelayan tuhan yang suam-suam kuku?
Kitab Wahyu : suam kuku tidak panas dan dingin. Apakah orang ini tidak percaya? Bukan tidak percaya, karena mengaku Kristen. Meayani tetapi tidak setia dalam pelayanan. Itu seperti suam-suam kuku maka “Aku akan memuntahkan engkau”. Hidup kita sebagai pelayan Tuhan punya nilai yang jelas supaya tidak suam-suam tapi sungguh-sungguh berkomitmen.

6.     Hasil rapat besoknya bocor. Orang yang bocorkan, ia ingin kasih tahu bahwa ia tahu. Bagaimana menghadapinya?
Menghadapi orang yang tidak dewasa , ada orang yang cepat berkata dan lambat mendengar (terbalik dari Alkitab), orang yang suka menceritakan sesuatu yang tidak patut , apalagi terkait dengan orang, hal itu harus diingatkan. Apalagi orang yang melayani dalam struktur kepengurusan , kemajelisan. Indikatornya seorang hamba Tuhan adalah ia bisa menjaga rahasia. Karena bila tidak, celakalah karena tidak ada jemaat yang mau konseling. Karena bahan konseling bisa jadi ilustrasi khotbah.

7.     Ada gereja yang mau pelayanan harus dilatih bahkan diaudisi dulu, ada juga yang coba dulu. Bagaimana bersikap?
Rick Warren berkata lihat SHAPE anda saat dipanggil untuk melayani. Spiritual gift, Heart (keinginan hati), Ability (kemampuan), Personality, Experiences. Tuhan waktu menciptakan dan membentuk kita dengan 5 unsur itu. Shape itu menentukan bidang pelayanan kita. Efe 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Maka waktu Dia ciptakan kita tidak sembarang. Supaya SHAPE itu sesuai pekerjaan. Kalau kita sudah yakin dengan SHAPE kita, kita tidak perlu coba. Ada juga setelah coba, kita tahu bidang kita apa. Kalau kita belum yakin SHAPE kita apa, untuk mengetahui SHAPE kita dengan mencobanya. Jadi tidak ada yang benar dengan mutlak. Mencoba ada baiknya untuk tahu SHAPE kita. Setelah tahu bidang kita apa, kita tahu apa yang kita kerjakan. Saya paling berat disuruh pelayanan ke anak-anak. Suatu kali saya diminta menjadi pembina SM, untuk pimpin KKR anak-anak. Saya paling susah bicara dengan anak-anak yang saat kita bicara di depan, mereka malah goyang sana-sini. Saya bisa bertobat. Suatu kali saya di Bandiung diminta pimpin persiapan SM di suatu gereja (kebetulan waktu itu sedang stay di Bandung cukup lama). Saya tidak focus untuk persiapan pelayanan anak. Paling hanya dapat eksposisi dari ayat yang digunakan. Tentang bagaimana pernak-perniknya saya menyerah. Jadi lebih baik jangan undang saya karena banyak hamba Tuhan  yang fokusnya untuk anak-anak. Bukan saya tidak peduli karena saya tidak focus ke situ. Untuk eksposisi ayat , ada yang bisa arahkan. Saat diminta coba saya katakan tidak. Saya tahu SHAPE saya bukan disitu. Dalam hal itu saya tidak perlu coba. Tapi kalau masih mau mencoba, tidak ada salahnya.

Bisa juga kita mengambil dari sisi : “gereja besar punya source banyak sehingga bisa select, gereja kecil bisa coba-coba kalau tidak, bisa tidak jalan. Bisa jadi, hukum tentang SHAPE tidak kaku “saya hanya mau di sana tidak di tempat lain”, ketika mendesak dan dibutuhkan , kita tetap harus melakukan sesuatu di luar SHAPE kita karena itu kebutuhan. Bukan harga mati yang tidak bisa dibargain lagi. Karena kita melayani  di tempat yang tepat.

8.     Bagaimana untuk penempatan orang dalam kepantiaan?
Tidak ada salahnya untuk mencoba karena untuk mengetahui SHAPE bisa dari orang lain. Ada orang yang diberi kesempatan dan ternyata bagus . Bagaimana mengetahui orang lain punya kemampuan seperti dia kalau tidak diberi kesempatan. Mencoba orang untuk ditempatkan apakah mahir di bidang tertentu tidak ada salahnya dengan pertimbangan tertentu.

Tentang empat jendela, semua orang tahu , kedua saya tahu orang lain tidak tahu. Ketiga yang tahu dirinya sendiri tidak tahu orang lain tahu. Keempat  hanya Tuhan yang tahu. Kalau kita lihat orang bisa, tetapi ia merasa tidak bisa, maka kita bisa mengajak. Bagaimana tahu kalau tidak pernah mencobanya. Ijinkan untuk memberi kesempatan apakah tempatku di sana atau tidak. Berikan kesempatan pada diri sendiri. Apakah betul tempatnya di situ. Tapi bisa juga orang merasa saya bisa di sekolah minggu tapi saya tidak sanggup.

9.     Bagaimana pandangan tetnang pelayan yang non full-time yang dibayar karena profesionalisme?
Kalau undang orang dari luar dibayar. Sedangkan dari dalam tidak. Ini kembali ke teologia dan budaya gereja tertentu. Secara tradisi  dan culture , ada sifat pelayanan yang volunteer sukarela, seperti GSM, paduan suara, pengurus dan jiwa itu menjadi jiwa pelayanan yang sungguh bukan karena motif yang lain. Dalam kemajuannya ada orang yang profesionalisme diundang lalu dibayar (hired). Ini terjadi karena kekurangan resources, tapi gereja-gereja lain bukan saja kekurangan resoures, namun menjadikannya budaya mereka. Artinya banyak sources dan dibayar. Secara pribadi, saya belum mau masuk ke sana. Sebab kalau demikian maka kita masuk ke dalam suatu system yang diberlakukan secara menyeluruh. Begitu satu dibegitukan maka yang lain sama. Lalu lama-lama orang melakukan sesuatu di gereja ini karena di-hire. Gereja jadi perusahaan. Orang bekerja dan contribute dan mendapat kompensasi. Beda dengan bantuan transportasi. Dalam jumlah memadai untuk transport saja karena ada yag harus bolak balik ke gereja dalam seminggu sehingga mendapat bantuan dalam transportasi. Saya okey saja. Tapi kalau judulnya di-hire maka akhirnya main berapa jam dan pemain music bisa mengatakan “kami juga cape”. Lalu anggota padus komentar,”Apa kami tidak capai?” Majelis juga bisa berpikir yang sama. Kami rapat sampai malam, bagaimana? Ini harus dikaji. Maka secara pribadi belum ke sana.

10. Bagaimana menanggapi cara orang berkata-kata karena kata-katanya bisa terdengar tidak biasa bagi yang lainnya?
Untuk perkataan, harus kenal culture. Karena kultur di satu kota beda dengan yang lain. Bisa saja oke di satu gereja bisa tidak oke di gereja lain seperti Timotius dikatakan “jadilah teladan dalam perkataanmu”. Jangan sampai setelah memberitakan Injil lalu ditolak. Betapa penting perkataan diperhatikan.