Monday, March 30, 2015

Siapa yang Mau Aku Utus?


Pdt. Richard Hutabarat

Yesaya 6:1-10
1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.
2  Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"
4  Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.
5  Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
6  Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.
7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."
8  Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"
9  Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!
10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh."

Pendahuluan

                Pada Yes 6:8 ditulis Lalu aku mendengar suara  "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Suara ini sangat jelas, gamblang dan berlaku untuk setiap kita. Yesaya menjawab"Ini aku, utuslah aku!” Dari sekitar 16.680 seluruh suku bangsa di dunia, banyak yang belum terjangkau oleh Injil. Untuk itu gereja kami menetapkan target sampai tahun 2020 ada 50 orang misionari yang akan diutus. Sekarang baru 26 orang misionari yang telah diutus. Di negeri ini saja , ada 63 suku yang bukan saja belum dijangkau Injil tapi bahkan belum ada misionaris yang pergi ke sana. Dalam perumpamaan tentang penabur benih berarti belum ada firman Tuhan yang ditabur. Pada Yes 6:1-10, dikisahkan ada seorang bangsawan yang pandai dan aman secara keuangan. Saat itu dunia sedang mengalami krisis karena Raja Uzia meninggal setelah 52 tahun berkuasa. Dunia dilanda krisis ekonomi karena tergangtung pada raja tersebut. Lalu terjadi krisis spiritual sehingga terjadi perpecahan. Dengan terjadinya krisis, orang muda dan cerdas seperti Yesaya bisa saja mencari aman. Tapi ia tidak bisa memungkiri dirinya sendiri. Ada rasa muak dalam dirinya. Ia melihat dirinya hari demi hari begitu saja, penuh rutinitas. Sebagai bangsawan dan anak muda yang punya banyak mimpi, ia tidak mempunyai rasa aman. Ada kesunyian dalam dirinya. Dalam harian Chicago Tribune ada kisah anak keturunan orang kaya yang tiba-tiba merasa muak dengan kekayaannya. Fransiskus Assisi (1182-1226) merasa muak dengan pengejaran kekayaan. Rupanya  dibalik kekayaan, ada kesyunyian dalam dirinya. Jadi di luar penampilan dirinya yang luar biasa, di dalam dirinya ada kekosongan. Ada pertanyaan, “Apa tujuan ia hidup?” Yesaya menemukan tujuan yang agung itu sehingga ia mengalami perubahan yang menakjubkan. Dari menikmati hari-hari yang nyaman, berada di comfort-zone, berpikir untuk diri saja, kemudian ia berubah total. Setelah ia menghampiri dan menemukan Allah, tujuannya menjadi untuk menemukan jiwa-jiwa lain untuk memperoleh keselamatan. Temuilah Allah dengan baik agar bisa menemukan maksud Allah yang mulia! Sehingga seperti Yesaya saat mendengar pertanyaan “Siapa yang mau Kuutus?”, ia merespon dengan baik dan mendapatkan nilai yang mulia.

5 Kata Kunci untuk Dapat Mengerti Panggilan (Maksud) Allah

1.     Mengerti . Ada yang berkata,”Tak peduli apa yang dimengerti tapi yang penting adalah apa yang saya lakukan” atau “Apa doktrinnya tidak penting, yang penting apa yang saya perbuat”. Pernyataan ini tidak benar. Kita harus mengerti tentang Allah baru mengerti tentang diri kita. Yesaya 6:1-3. Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.  Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"  Tempat saat menghadapi krisis bukanlah di mal-mal dengan  men-cuci mata, karena setelah selesai melakukannya sesampainya di rumah tetap menghadapi krisis yang belum selesai dan masih menghela nafas. Menghadapi krisis juga bukan dengan jalan-jalan ke luar negeri atau ke mana pun karena setelah berjalan berhari-hari dan uang habis, sesampai di rumah tetap menghela nafas dan menunggu ‘mati’. Sedangkan Yesaya saat menghadapi krisis, ia ke Bait Allah , menjadi milik Tuhan dan berkata, “Kadosh,kadosh,kadosh (bahasa Ibrani)” artinya “Kudus,kudus,kudus. Seluruh bumi penuh kemuliaannya.” Kita harus mengerti siapa itu Allah sesungguhnya, baru kita mengerti panggilanNya seperti Yesaya mengerti dan menyadari siapa Allah. Kata “Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang” berarti satu-satunya pribadi yang berotoritas dan berdaulut penuh adalah Allah. Satu-satunya pribadi yang mulia dan agung adalah Allah! Dalam kata-kata “ujung jubahNya memenuhi Bait Suci”, Yesaya memperlihatkan betapa agung dan mulianya Tuhan, pribadi yang berdaulat penuh satu-satunya dengan para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya. Saat membaca kalimat ini, hati saya merasa gentar, “Siapakah saya? Tuhan, Engkau begitu mulia!” Sama seperti dua sayap Serafim yang menutupi muka dan dua sayap menutupi bagian depan (kaki) mereka yang menggambarkan menutupi ketidaklayakan. Kata “kudus”  diulang 3 kali maksudnya Allah  sungguh absolute kudus (sangat mutlak suci adanya). Habakuk 1:12 berkata, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.” Sebelum Adam berbuat dosa Allah berkata, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej 2:16-17). Dosa Adam sepertinya tidak teramat berat. Ia ‘hanya’ makan buah pengetahuan yang baik dan jahat dan  itupun karena Hawa.  Namun kata mati itu fatal. Ketika makan buah itu, Allah begitu najis melihat dosa dan pemberontakan. Ketika Adam memakan buah itu, terjadi keterpisahan! Dosa itu begitu keji. Kalau makan buah itu, kau akan mati!  Ef 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Pengertian mati di sini bukan mati suri yang setelah lewat beberapa waktu akan hidup kembali. Jadi kata mati sangat fatal. Ayat 2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Ayat 3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Pada Ef 2:1 kamu berdosa, kamu najis. Tanpa kebenaran dan kesucian manusia pasti binasa. Kita menganggap 1.000 km jauh sekali sedangkan 1 mm tidak ada apa-apanya. Dalam standard kesucian, 1 mm yang sepertinya kecil tapi telah melanggar kesucian sama dengan 1.000 km. Allah begitu suci (kudus). Sekarang ini menyedihkan sekali. Banyak orang Kristen yang main dan kompromi dengan dosa dan terikat kebiasaan buruknya sehingga bagaimana mungkin orang bisa menerima panggilan mulia untuk diutus Tuhan? Begitu banyak orang Kristen yang sudah lama menjadi orang Kristen  dan tidak bisa mengenali panggilan Allah yang mulia, karena ia kompromi dengan dosa! Termasuk dalam dosa adalah tindakan amoral. Contoh : mengakses internet untuk melihat hal-hal porno adalah keji di hadapan Tuhan. Dalam pengertian kata kadosh ada 2. Intinya kad (to cut) yang berarti memotong sehingga terpisah dari hal yang tidak suci menuju kepada kesucian. Itu bukan saja berkaitan dengan moral tapi juga gairah (meluap dengan Allah , intim dengan Allah). Pada Wahyu 2:1-5 dikatakan "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. Pada jemaat Efesus tidak ditemukan dosa moral dan jemaatnya aktif melayani tetapi ditegur Tuhan karena telah kehilangan kasih mula-mula (kasih di mana hatimu dekat dengan Allah). Orang Kristen sekarang tidak merasa apa-apa kalau tidak merasa dekat dengan Allah dan tidak bergairah membaca Alkitab. Hati orang Kristen begitu keras (tidak lembut lagi). Allah itu begitu agung dan mulia sehingga para Serafim menutup muka, kaki dan berkata, “Kudus..kudus,kuduslah Tuhan semesta alam.” Harga ketidakkudusan mengerikan karena akan binasa selama-lamanya.  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) Roma 6:23  Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Dosa bukanlah hal yang main-main Ef 2:1-3  Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Waktu sekolah, menyontek dan titip absen sama-sama berdosa (sudah wisuda namun hasil menyontek). Harga ketidakkudusan begitu mahal yakni binasa selama-lamanya. Kej 6:6-7 maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka." Yer 2:19 Kejahatanmu akan menghajar engkau, dan kemurtadanmu akan menyiksa engkau! Ketahuilah dan lihatlah, betapa jahat dan pedihnya engkau meninggalkan TUHAN, Allahmu; dan tidak gemetar terhadap Aku, demikianlah firman Tuhan ALLAH semesta alam. Harga kesucian terlalu mahal. Supaya manusia bisa disucikan, Yesus harus meninggalkan kemuliaanNya , menderita di kayu salib, dan berteriak “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” ( Markus 15:34 ). Hal ini karena dosa manusia ditimpakan seluruhnya kepadaNya.

2.     Menyadari diri sebagai orang berdosa. Begitu mengerti Allah yang sesungguhnya, Yesaya menyadari dosa yang dilakukannya dan reaksinya begitu spontan (tidak ditutup-tutupi lagi). Ayat 5 Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." Karena bangsaku pendosa maka  aku (Yesaya) juga pendosa. Setiap orang yang melihat cermin sesungguhnya Allah akan timbul kesadaran bahwa  saya adalah pendosa dan menjijikkan. Ketika Petrus tidak dapat hasil saat menangkap ikan (Lukas 5:1-11), Tuhan Yesus menghampirinya dan berkata, "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." (Luk 5:4). Yesus meminta Petrus menebarkan jala, padahal hari sudah mulai siang. Yesus yang merupakan anak tukang kayu menyuruh anak nelayan dalam menangkap ikan. Bagaimana bisa? Tampilan nelayan dan anak tukang kayu berbeda. Setelah menebarkan jalanya, akhirnya Petrus mendapat banyak ikan sehingga jalanya mulai koyak. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." (Luk 5:8). Petrus  menyadari bahwa ia adalah orang yang tidak layak. Bagaimana dengan kita? Siapakah saya? Demikian juga dengan Ayub yang terkenal saleh. Kesalehan Ayub ketika Tuhan perlihatkan diri sepenitas saja, Ayub yang terkenal saleh dan jujur (Ayub 1:1) berkata, Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Daud suatu kali berdosa dan meratap, "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu. Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. (Maz.51:6-8). Bangsa Israel kena hukum, dan Daud kena teguran keras oleh Allah, Daud tersadar dan bertobat. Ia menyoyak jubah kerajaannya, melemparkan mahkotanya, dan masuk ke dalam debu, dengan hati yang hancur, meremas-remas debu tanah dan menaburi kepalanya dengan itu: “Ampuni aku Allahku... aku tidak tahu diri... aku pandir.. aku sombong... aku lupa bahwa aku ini hanyalah orang yang memperoleh belas kasihanMu... tanpa belas kasihanMu, aku ini tak lebih dari debu tanah..” Demikian pula dengan  Yohanes yang sangat mencintai Tuhan. Ketika Yohanes dihadapkan pada cermin Allah yang begitu mulia, Yohanes rebah seperti orang mati. Wahyu 4:8-11  Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." Dari apa yang kita lihat dan alami sampai sekarang, Kalau kita tidak punya pengalaman dengan Tuhan maka kita tidak akan menyadari dosa dan tidak membaca Alkitab. Saya sudah melayani selama 37 tahun dan Tuhan memberi rasa haus sehingga terus membaca Alkitab dan sekarang sudah selesai membaca dari awal sampai akhir sebanyak 187 kali. Kalau tidak mengerti Allah, maka kita akan lebih suka berada di mal dibanding membaca Alkitab. Banyak yang berkata, “Apa yang kita pikir dan katakan ,Tuhan akan ampuni!” Padahal dosa adalah kekejian dan ada pemberontakan di hadapan Tuhan sehingga Tuhan Yesus meninggalkan sorga untuk datang ke tempat yang terkutuk.

3.     Mengakui dosa. Setelah mengerti Tuhan Allah yang begitu mulia dan suci adanya, menyadari dosanya lalu Yesaya mengakui dosa.  Pada ayat 5 Yesaya berteriak spontan, tidak menutup-nutupi dan membuka keluar isi hatinya. "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." Yesaya mengakui terus terang akan dosanya dengan blak-blakkan dan jelas. Hal ini berbeda dengan kita yang suka mencoba menutupi-nutupi.  Daud seorang raja, tapi ia berlutut di depan orang dan mengambil debu tanah dan mengaku, “terhadap Tuhan nyata benar aku berdosa.” Maz 66:18 Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar. Ada niat jahat saja dalam hati kita tidak layak.  Banyak yang menganggap dosa itu manusiawi. Bila diibaratkan dosa benjolan atau bisul, berapa banyak benjolan dan bisul kita? Jangan meremehkan dosa! Amsal 28:13 Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. 1 Yoh 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Maz 32:5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Bila kita tidak mau mengakui dosa, kita melanggar Amanat Agung. Seorang anak rohani saya di Hainan berkata,”Kalau ada Amanat Agung berarti ada dosa agung.” Tetapi banyak yang merasa tidak bersalah bila melanggar Amanat Agung. Begitu dingin. Ketika Allah berkata “Pergi! Pergilah memberitakan Firman! Jangkau dan selamatkan mereka yang berdosa!” Responnya bukan”Utuslah aku” tetapi  “Utuslah mereka”. Hal itu ibarat saya punya 2 orang pembantu. Lalu saat saya minta, “Mbak tolong sapu!” lalu dijawab, “Bapa saja yang nyapu!” Bukan saja kita tidak melihat dan menyadari bahwa kita tidak mengakui dosa tetapi kita juga tidak menemukan nilai Tuhan yang mulia (hanya numpang lewat saja). Saya terkadang merasa tercekam karena dosa dan  merasa tidak pantas. Terkadang setelah menyampaikan khotbah lalu pulang mengemudi saya menghentikan mobil di pinggir jalan dan menangis. Mengapa saya ada perkataan sombong dan menambah-nambah? Tuhan mengapa saya kompromi terhadap dosa? Tuhan, ampuni saya karena rahmat Tuhan begitu sempurna! 1 Pet 1:15 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

4.     Mengalami penyucian. Ayat 6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Bagi Allah selalu ada jalan keluar untuk masalah dosa. Segala prestasi dan rencana baik kita tidak dapat menyucikan kita. Segala moralitas Yesaya, tidak bisa menyucikannya. Hanya Allah saja yang bisa menyucikan kita. Cara Allah menyucikan bukan dengan uang yang banyak supaya kita bisa beramal baik tetapi melalui Tuhan Yesus. Maz 9  cara apapun yang kita buat tidak memadai kecuali darah Yesus. Allah telah mengutus anakNya yang tunggal mati di kayu salib dan yang dijemur di bawah matahanri yang panas sebelum pk 12. Lalu dari pk 12 sampai pk 15 terjadi kegelapan dan  itu bukan gerhana matahari, karena gerhana hanya sebentar saja. Seakan alam tidak bisa melihat Sang Pencipta menderita. Mengapa Allah menderita untuk menebus dosa kita? Supaya kita disucikan dan dilayakkan! Dia tidak lahir dan tidak pernah berbuat dosa. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Mar 53:6). Kita disucikan oleh darah Kristus.


5.     Mengambil Tantangan. “Siapakah yang mau Kuutus?  Tuhan mengasihi semua orang, maka Ia berteriak “Siapa yang mau Kuutus?” Mengerti, menyadari, mengakui, mengalami penyucian dan mengambil tantangan. Itu merupakan respon yang  sungguh-sungguh akan kerinduan pada kekudusan Tuhan. Yesaya menghadapi tantangan ayat 8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" Mengapa Allah harus bertanya, “Siapa yang mau pergi untuk Aku?” Karena Allah mengasihi dunia dan Ia rindu dan menghendaki semua orang diselamatkan. Yoh 3:16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ketika bicara tentang kasih, Ia berbicara kasih kepada dunia, ia mengasihi setiap suku bangsa setiap harinya sehingga Yesus mati di Golgoga. Lalu Ia bertanya “Siapa yang mau Kuutus?” Kadang kita mudah memilah orang, hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan Yesus. Matius 9:35-38. 35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus pergi dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Pada ayat 36 Yesus melihat orang banyak yang lelah seperti domba tak bergembala. Pada ayat 37 dikatakan tuaian memang banyak namun persoalannya pekerja sedikit. Yesus pergi dari desa ke desa dan dari kota ke kota, di sana Ia menemukan macam-macan orang termasuk Yudaisme. Berbagai macam penganut agama dan orang-orang dengan sifat fanatik ada di sana. Setiap orang menjadi objek untuk pemberitaan Injil, objek potensial untuk diselamatkan. Allah rindu setiap orang diselamatkan. Bila dipilih, suku Batak mungkin tidak pantas diselamatkan. Hal ini pertama disebabkan orang Batak adalah orang yang sangat fanatik dan merasa unggul dengan budayanya. Kedua, orang Batak tukang makan orang.  2 misionaris (Samuel Munson dan Henry Lyman) pernah diutus dan dimakan. Orang batak walau sudah kenyang bisa makan orang, dengan cara apa yang sudah dimakan dimuntahin dulu. Kita seringkali memilih-milih orang  dan berprasangka, hal itu tidak bagus. Kami punya gereja rumah di Aceh, beranggota mantan GAM. Di Padang tidak bisa membangun gereja, sehingga dibangun 9 gereja rumah. Kami membangun gereja di paling ujung Papua ke orang paling barbar. Dari Serui ke Yapen naik perahu kecil dan penduduk di sana besar-besar. Badannya bau karena menggunakan minyak babi. Saat di sana kami disuguhkan makanan yang terbaik menurut mereka yakni babi yang sudah dibusukin dan di tanam lama, kalau menolak makanan tersebut atau muntah akan mati. Jadi saya berkata kepada istri, “Saat memakannya, bayangkan saja makan kuaci.” Kami juga membuka pelayanan di Pakistan, Myanmar , Turki, Laos, Kamboja. Ada 26 orang misionaris yang diutus. Karena manusia adalah objek belas kasihan Tuhan maka setiap orang harus tahu “Siapa Yesus”. Itu bukan kritenisasi tapi kasih Allah untuk setiap etnis. Sedikitnya 1.161 etnis yang belum mengenal Yesus, tapi orang Kristen bertopang tangan dan meminta orang lain diutus. Kenapa dikatakan, “siapa mau diutus?” karena Allah mengasihi dunia. 2 Pet 2 : 9 Allah ingin semua orang diselamatkan. Allah tidak ingin satu pun binasa.  Siapa yang mau pergi? Penyebab kedua karena berita Injil keselamatan (firman Allah) harus disampaikan. Ini bukan fanatik agama. Siapa mau pergi? Injil harus diberitakan! Roma 10:13-15 (Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?  Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!). Am 24;14 selamatkan mereka yang terhuyung-hyung menuju neraka pembantaia. Yud Rampas mereka  Mat 28:19-20 (Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman), Makrus 16:15 (Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk) , Luks 24:47 ( dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.) Yoh 20:21 (Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu). Dari awalnya ada 7 orang di kelompok kecil sekarang jemaat kami sudah 3.800 orang ,mayoritas dari muslim dan Konghucu. Dan setelah 3 tahun langsung mengutus misionaris ke Madeleine di Columbia tempat pusatnya narkoba. Lalu buka  di Malyasia, Pakistan, Thailand, Myanmar dengan total 14 negara. Injil harus diberitakan, siapa yang mau pergi dari kota ke kota dan dari desa ke desa, lintas propinsi dan bangsa. Kata pergi berarti “just to do” (lakukanlah), bukan hanya berdoa saja. Jangan takut untuk bermisi. Untuk misi di gereja kami tahun lalu dibutuhkan dana Rp 3,2 miliar dan setelah terkumpul dan digunakan ternyata masih tersisa Rp 600 juta sehingga dibagi ke gereja-gereja lain. Lalu tahun ini kita mulai lagi mengumpulkan dana misi Rp 3,9 miliar. Minggu lalu terkumpul dana misi sebesar Rp 1,9 miliar. Karena misi adalah segala-galanya, dan tidak pernah kekurangan! Bukan untuk dana misi saja tapi juga dibutuhkan dana untuk orang kelaparan Rp 720 juta. Bila jemaatnya 4.000 orang, kalau saja ada 1.500 orang memberikan perpuluhan minimal Rp 200.000 maka jumlahnya lumayan.  Maka sisihkanlah dana spesial untuk misi. Ada panggilan kudus dan mulia, “siapa mau pergi?” karena ada belas kasihan untuk seluruh dunia. Lihatlah sekelilingmu! Identifikasikan orang-orang dunia yang mati selamanya. Injil harus diberitakan! 

Sunday, March 22, 2015

Mati Tanpa Kristus!

Pdt. Johni Setiawan

Efesus 2:1-5
1   Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
2  Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
3  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
4  Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,
5  telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  — 

Pendahuluan

                Dalam surat Rasul Paulus ke jemaat di Efesus, kita mendapat gambaran tentang bagaimana orang  yang mati tanpa Kristus. Kita patut mensyukuri bahwa kita tidak seperti itu. Kita tidak mati tanpa Kristus, tetapi kita telah mendapatkan rahmat dan kasih karunia dari Tuhan. Kita telah dihidupkan bersama Kristus. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita telah diselamatkan oleh anugerah Allah dan Kristus telah menyediakan tempat yaitu surga di mana kita akan tinggal bersamaNya.

Pengertian Mati

Kata “mati” mengandung 3 pengeritan :
1.     Mati secara jasmani. Saat mati, roh akan meninggalkan jasad (tubuh secara fisik) nya. Saat itu fungsi tubuhnya sudah rusak alias tidak berfungsi lagi dan segera akan membusuk, sehingga harus dikuburkan.
2.     Mati selama-lamanya (kekal) yaitu kematian setelah kematian jasmani. Jika seseorang belum percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima pengampunan dari Tuhan Yesus maka ia akan binasa selama-lamanya. Dia akan mati terpisah dari Kristus, dibuang ke dalam neraka dan akan mengalami penderitaan selama-lamanya.
3.     Mati secara rohani. Kematian ini seperti yang dikatakan dalam Ef 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Mati Tanpa Kristus

Berarti :

1.    Mati secara rohani

Pada Kejadian pasal 1 dikatakan ketika manusia diciptakan, Allah memberikan segala sesuatu yang baik. Tetapi ketika melanggar perintah Allah, manusia mengalami kematian rohani. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, lalu dari tulang rusuk Adam diciptakan Hawa (Kej 2:22). Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (Kej 2:23).  Adam begitu bersukacita mendapat Hawa sebagai mitra dalam hidupnya. Saat itu Adam senang berjumpa dengan penciptaNya. Tapi begitu jatuh dalam dosa, manusia menjadi takut dengan Allah. Pada Kej 3:7-8 dikatakan Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Manusia menjadi tidak suka dengan Allah dan menyembunyikan diri dari Allah. Manusia tidak lagi menggantungkan diri pada Allah tetapi bergantung pada pohon. Manusia yang mati secara rohani tidak suka membaca Alkitab dan beribadah. Ada orang yang berkata, agama-agama yang ada di dunia membawa keselamatan . sehingga disimpulkan bahwa semua agama itu sama seperti pepatah mengatakan “banyak jalan menuju Roma”. Padahal jalan menuju surga hanya melalui Yesus Kristus. Banyak orang yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Yesus tetapi disertai dengan keyakinan pada pohon dan daun yang kemudian disematkan ke tubuhnya. Saya memiliki 2 orang anak laki-laki. Setiap kali saya pulang pelayanan atau berpergian, mereka akan berteriak dengan suaranya yang lucu, “Papi pulang! Papi pulang! Papi saya bawakan tasnya ya” atau “Papi pulang bawa makanan” (Terkadang saya pulang membawa makanan cap-cai, martabak, puyunghai dll). Suatu kali, saat pulang saya tidak mendengar suara mereka menyambut saya. Saya agak heran dan menyimpan dalam hati lalu bertanya kepada istri, “Apakah anak-anak sudah tidur? Mengapa tidak ada suaranya?” Istri saya menjawab,”Ada masalah. Mereka telah menjatuhkun barang dari meja kamu!” Memang saya suka berpesan ke anak-anak agar jangan bermain-main dan menjatuhkan sesuatu di meja saya. Dengan jatuhnya barang dari meja saya sehingga rusak mereka menjadi takut untuk bertemu saya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri mereka sehingga tidak berani bertemu saya. Mereka seakan-akan menyembunyikan diri dan mereka tidak mau datang kepada saya. Bukankah ini yang terjadi pada manusia setelah manusia jatuh dalam dosa dan tidak mau bertemu Allah? Mereka menjadi takut dengan Allah! Ini yang terjadi bila manusia melakukan dosa. Ada perasaan tidak damai bila bertemu.

Gus Dur, presiden Indonesia yang keempat adalah orang yang santai (easy-going). Ia banyak melontarkan humor, berikut salah satunya:
Tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha sedang berdebat. Gus Dur sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Buddha menjawab duluan,“Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap beribadah kita memanggil Tuhan dengan mengucapkan ‘Om’ (omitohud,red). Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”
Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta
“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.
“Kenapa tidak?Agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil Tuhan itu ‘Bapa’. Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.
Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.
“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.
“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan Tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.
Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat  justru agama saya malah paling jauh dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.
“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.
“Gimana tidak, lah wong kalau di agama saya, kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.

Hal Ini hanya terjadi di Indonesia, setiap subuh orang di mesjid memanggil jemaahnya untuk sembahyang dengan pengeras suara. Di AS dan Singapore tidak boleh berteriak-teriak memanggil jemaah untuk beribadah, sedangkan di Indonesia ada kultur melalui pengeras suara berbagai berita (termasuk berita kematian) diumumkan. Di dalam gurauan Gus Dur itu, ada sesuatu yang tersirat tentang betapa pentingnya kita dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang percaya firman Tuhan, merenungkannya siang dan malam, hidupnya seperti tanaman di tepi aliran air sehingga selalu segar dan subur (Maz 1:1  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil). Orang yang hidup bahagia akan dekat dengan Tuhan sedangkan yang jauh menunjukkan ia mati rohaninya. Di dalam kehidupan kita, apakah kita orang yang hidup dekat dengan Tuhan? Kadang saya suka risih bila melihat jemaat yang suka duduk di kursi yang sama setiap minggu. Kalau ia biasa duduk di belakang , ia akan terus duduk di belakang, yang duduk di pojok akan duduk di pojok terus dan tidak mau berubah. Kenapa tidak mau duduk di depan? Padahal kalau ada orang yang baru pertama kali datang, ia biasanya duduk di belakang dan sungkan duduk di depan karena malu semua melihat dia. Oleh karena itu kita harus memberikan kesempatan agar orang-orang yang baru datang bisa duduk di belakang, di samping itu kursi di bagian depan juga tidak kosong. Waktu dekat dengan Tuhan, maka kita akan merasa sukacita kalau bertemu dengan Tuhan.

2.     Mati sebagai hamba Kristus. Kita adalah hamba kebenaran atau hamba Kristus. Bila mati tanpa Kristus maka kita hidup tapi tidak sebagai hamba Kristus lagi. Ef 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Ketika Adam jatuh dalam dosa, dia menyembunyikan diri dari Allah, sehingga ketidaktaatan akan mendatangkan ketidaktaatan lain. Dosa yang satu berkembang menjadi dosa yang lain. Hidup kita bukanlah hidup yang menjadi hamba Kristus lagi tetapi kita menjadi hamba dosa. Kita menjadi hamba setan. Saat kita mengikuti setan, Tuhan Yesus berbicara pada orang yang menolak Dia (termasuk orang Farisi dan Saduki). Yesus berkata,   Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.(Yoh 8:43-44). Iblis pembunuh manusia sejak dulu. Ia tidak hidup dalam kebenaran sebab di dalamnya tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri karena ia pendusta dan bapak segala pendusta. Kalau iblis menjadi tuan kita, iblis yang menjadi pembohong maka hidup kita pun akan terjebak , hidup kita akan mengikuti iblis menjadi pembohong. Rasul Paulus mengatakan pada Roma 12: 2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Iblis dengan kebohongannya membuat banyak manusia mengikutinya. Iblis yang memberontak kepada Allah membuat banyak orang juga memberontak kepada Allah. Iblis yang tidak mau taat kepada Allah membuat banyak orang tidak mau taat kepada Allah sehingga Rasul Paulus mengatakan “yaitu orangorang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Kor 4:4). Orang buta tidak bisa melihat. Saya pernah menyaksikan seorang tunanetra yang berjalan dengan tongkat. Ia kelihatannya sangat percaya diri. Awalnya ia berjalan secara perlahan, namun semakin lama semakin cepat. Pada waktu itu saya sedang naik taxi di Singapore. Orang buta ini berjalan makin cepat , namun tiba-tiba terkejut karena ia membentur sesuatu dan terjatuh. Setelah itu ketika mulai berjalan, ia melakukannya secara perlahan kembali. Hal ini terjadi karena ia tidak bisa melihat. Walaupun orang lain yang melihatnya berteriak,”Awas!” dia tidak tahu. Kalau pikiran kita dibutakan, maka kita tidak menganggap Allah itu penting. Begitu banyak orang takut dengan setan, tetapi tidak takut dengan Tuhan. Ada kebiasaan  di Indonesia, bila ada gua atau pohon besar seringkali diberikan sesajen. Mereka tidak pernah lupa memberikan sesajen itu. Mereka menyediakan persembahan yang terbaik. Suatu kali saya pernah pelayanan di Kaltim dan saya  menempati rumah kos.  Di sana ada sebuah aquarium yang tidak terisi air karena walaupun aquariumnya tertutup di bagian atasnya tapi bagian sampingnya terbuka. Di situ diletakkan banyak patung yakni patung Buddha, patung Yesus, patung Maria, patung Kwan Im, patung Kwan Kong dan di sampingnya juga ada foto leluhur dari pemilik kos. Setiap hari di depan patung dan foto itu disediakan buah-buahan yang mahal dan terbaik. Saya tinggal di tingkat kedua (loteng), setiap hari saat melewati lantai bawah saya perhatikan persembahannya sudah berganti. Kelihatannya sangat enak. Tante kos itu menyajikannya kepada semua patung itu. Pada hari ketiga dan keempat, tante itu akan memanggil dan bertanya apakah saya mau buah-buahan? Saya bertanya, “Apakah ada lebih?” Dijawabnya, “Bukan lebih, tetapi yang tadinya ditaruh di depan patung sekarang bisa dimakan.” Dalam hati saya berkata,”Mengapa yang sudah busuk baru dikasih? Untuk apa makanan seperti itu?” Saya menolak secara halus. Saya ingin yang baru. Sang pemilik kos memberikan yang terbaik, bagaimana dengan kita?

Saya senang bila melihat jemaat tidak terlambat datang beribadah. Senang juga melihat walaupun terlambat tetap jemaat mau datang. Tetapi ibadah adalah mendengarkan undangan dari Tuhan yang menjadi Pencipta dan Penebus kita. Kalau Tuhan yang mengundang apakah kita bersikap hormat? Kita bisa datang sebelum ibadah mulai? Kita berikan hidup kita yang terbaik. Jangan datang dalam keadaan sudah mengantuk. Saya terkadang merasa sedih kalau ada jemaat saat khotbah dia terus terkantuk-kantuk (matanya meram terus). Hal ini berarti ia tidak mendengarkan firman Tuhan. Ada yang mengatakan saya datang ke gereja tapi tidak dapat apa-apa. Yang salah siapa? Apakah orang Kristen boleh menonton sepakbola? Boleh! Tetapi tengah malam sampai pagi dinihari masih menonton juga dan berteriak-teriak, “Gol!” Hal ini kemudian mengakibatkan sesampainya di gereja yang ber-AC, ia awalnya duduk tegak , lama-lama merosot sedikit demi sedikit dan akhirnya tertidur. Apakah ini sikap yang benar? Kalau mengikuti Bapa Sorgawi tidak boleh sembarangan. Hati-hati dengan iblis, bapak pendusta! Ia bisa menyamar sebagai malaikat terang dan sepertinya baik. Ajaran gereja harus berdasarkan norma Alkitab. Siapa yang patut dimuliakan , ditinggikan dan diandalkan? Hanya Yesus Kristus! Akhir-akhir ini banyak orang Kristen disesatkan. Lagu-lagu hymne yang baik dikatakan kuno tetapi kalau dipakai lagu-lagu yang “ramai” dan ada hiburannya, seringkali anak muda ke sana. Padahal suasananya bukan suasana ibadah tapi suasana pesta atau konser. Sangat menyedihkan. Ada juga banyak jemaat yang datang ke gereja tertentu, yang mengajarkan perjamuan kudus seperti “jimat” danmenjadikan minyak urapan sebagai sandaran. Sampai ada kesaksian bahwa minyak urapan dapat menyelamatkan! Saat kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501, ada yang memberikan kesaksian di media massa, “Saya selamat tidak jadi naik pesawat itu karena minyak urapan!” Kita harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya tempat bersandar bukan jimat. Tetapi hari ini ajaran setan menarik orang-orang sehingga tersesat.

3.     Mati dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Ef 2:33  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Dulu kita hidup dalam hawa nafsu, kita seringkali memikirkan hawa nafsu kedagingin. Kalau datang ke gereja dan mengantuk, sebagai orang percaya kita langsung berdoa, “Tuhan, ampuni saya. Roh berkehendak tapi tubuh lemah, jadi maafkan saya!” namun minggu depan begitu lagi. Bukankah hal itu seperti perbuatan orang-orang di dunia? Alkitab memberikan penjelasan pada Gal 5 : 19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu  —  seperti yang telah kubuat dahulu  —  bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ini kehendak daging dan membuat hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. Setiap kali kita melakukan dosa dan melakukan perbuatan daging, maka kita membuat hati Tuhan terluka. Jangan berpikir bahwa kita sebagai orang yang sudah diampuni boleh berbuat seenaknya. Seharusnya hidup kita diubahkan. Maka dikatakan pada Gal 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Kita adalah orang-orang yang mengalami penebusan dan kita tidak akan mati dalam dosa kita. Karena kita sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak akan mati tanpa Kristus karena Kristus telah menyertai kita. Kita sudah diselamatkan, tetapi ingatlah bahwa banyak jiwa yang masih belum mengenal Kristus. Kita perlu memikirkan jiwa-jiwa yang masih terhilang. Sekarang kalau anak-anak kecil ditanya apa yang menjadi cita-citanya, mereka akan berkata bahwa mereka ingin menjadi dokter, sarjana hukum, arsitek, pejabat, bahkan presiden. Padahal saat ini sekolah-sekolah teologia sedang mengalami dilema. Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia, meminta hamba Tuhan yang berasal dari etnis Tionghoa, namun semakin hari semakin sulit dipenuhi. Banyak orang tua tidak rela anaknya menjadi hamba Tuhan karena tidak memiliki hati yang ingin menjangkau jiwa-jiwa.  Hampir 2 tahun yang lampau , saya ditugaskan di Singapore. Tiba-tiba anak saya yang sudah bekerja (lulus S1 dari universitas di Bandung, 1 tahun belajar komunikasi massa di Singapore, di Amerika Serikat 6 tahun, lalu dia bekerja di Singapore) bertanya, “Apakah ia bisa mendaftar sebagai mahasiswa teologia walaupun telat?” Jelas bisa! Yang penting adalah latar dan motivasinya. Pernah saat diinterview dosen “Mengapa kamu mau sekolah teologia?” ada calon mahasiswa yang menjawab “Biasanya sekolah teologia masih menerima, karena sekolah lain tidak ada yang mau terima saya!” Banyak yang seperti itu. Ada juga yang menjawab, “Disuruh mami!” Jelas tidak diterima. Saya bertanya balik ke putra saya,”Ada apa kamu bertanya seperti itu? Selama ini saya bertanya. ‘Kris, kamu tidak mau melayani Tuhan?’” DIa hanya menjawab, “Saya sudah melayani. Saya hidup bagi Tuhan, untuk apa saya melayani secara full-time? Saya melayani di bidang apa saja” Dia berbeda dengan kakaknya yang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan dengan  masuk sekolah teologia dan melayani. Waktu itu saya bertanya kepadanya, “Apa yang engkau pikirkan?” Dia menjawab,”Saya mau mepersembahkan hidup untuk Tuhan. Saya sedang mempertimbangkan mau sekolah teologia di mana.” Istri saya begitu terperanjat. Kamu dari dulu tidak mau mempersembahkan diri. Kamu sudah sekolah dan bekerja. Mami hanya punya 2 anak, yang pertama 100% melayani dan yang kedua 50%. Orang kalau di panggil Tuhan jangan sekolah (sekuler,red)” Saya berkata,”Kita harus bersyukur bahwa Tuhan mau memanggil kedua putra kita. Mereka tidak berorientasi menjadi kaya. Tetapi mereka memikirkan bagaimana melayani Tuhan dan mencari jiwa. Bukankah ini berharga?” Firman Tuhan berkata, “satu jiwa berharga”. (Lukas 15:7a Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat). Saya merasa dan berharap jemaat di sini dapat memenangkan jiwa kalau kita mau bicara dan menginjili orang lain.


Tuesday, March 17, 2015

Akibat Dosa : TIdak Tahu Membedakan Tangan Kanan dari Tangan Kiri (Belajar dari Kegagalan Niniwe)


Ev. William Andreas

Yunus 4:1-11
1   Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
2  Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.
3  Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup."
4  Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?"
5  Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.
6  Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.
7  Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.
8  Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehiNiningga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."
9  Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati."
10  Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.
11 “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Pendahuluan

                Di dalam dunia ini terdapat pengajaran yang mengatakan bahwa “manusia pada dasarnya baik, lingkunganlah yang membuat manusia jatuh dalam dosa.” Hal ini sebenarnya kurang tepat. Sewaktu saya SMA dan akan menempuh ujian ulangan umum, saya diminta oleh guru untuk sepakat menyontek bersama agar nilainya bagus. Saya pulang dan memberitahukan hal ini mama saya, “Mama , saya disuruh guru untuk menyontek!” Mama saya yang melihat saya jarang belajar menanggapi, “Iya sudah menyontek saja!” Tapi saya memutuskan untuk tidak menyontek. Dari semua mata pelajaran yang diuji, terdapat 3 yang nilainya harus di atas 5 yaitu matematika, bahasa Ingris dan bahasa Indonesia. Untuk bahasa Inggris dan bahasa Indonesia saya tidak menemui kesulitan sedangkan untuk matematika , saya baru menjawabi 5 soal saat waktu yang tersisa tinggal ½ jam lagi! Saya berdoa, “Tuhan tolong saya!” Namun karena takut gagal, akhirnya  saya terpaksa menyontek. Apakah lingkungan membuat kita jatuh dalam dosa? Tidak! Saat menyontek saya menyadari apa yang saya sedang lakukan. Ravi Zacharias (seorang hamba Tuhan) bercerita. Di suatu negara ada seorang Bapak yang membawa anaknya ke negara tetangganya. Ia mengatakan kepada anaknya, “Tujuan hidupmu adalah membunuh orang-orang di negara sana!” Akhirnya ia diajari cara memegang dan menggunakan senjata dan cara merakit bom sehingga akhirnya sang anak menjadi teroris. Joseph Stalin (1879-1953, seorang diktator negeri Rusia) meminta prajuritnya membunuh 30 juta penduduknya sendiri. Apakah itu bukan tanggung jawab saya ketika saya melakukan tindakan dosa? Dalam Roma 3:23 dikatakan Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Agustinus (salah seorang Bapak Gereja) mengatakan Non Pose Non Peccare yang berarti semua manusia tidak bisa tidak berbuat dosa.
                 
Apa akibat dosa?

2 hal yang akan dibahas mengenai akibat dosa :

1.       Dosa membuat kita memberontak terhadap Tuhan. Memberontak bisa melalui tindakan dan pikiran.

a.       Memberontak secara tindakan. Nabi Yunus memberontak melalui tindakan. Yunus 1:1-3   Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:  "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Letak kota Niniwe (ibukota kerajaan Asyur, musuh Israel) jauh dari Tarsis. Yunus tidak konsisten karena jabatannya seorang nabi. Nabi seharusnya menjadi penyambung lidah Allah untuk menyampaikan firman Tuhan. Nama Yunus dalam bahasa Ibrani artinya merpati.  Orang dulu menganggap nama sebagai sesuatu yang sangat berarti.  Merpati merupakan sosok yang tulus, baik dan setia. Jadi Yunus tidak konsisten dalam menjalankan tugasnya.

Ada kisah tentang seseorang yang bernama Untung Jaya tapi hidupnya selalu tidak beruntung. Dia punya sebuah mobil. Saat pencuri mau membawa mobilnya kabur, ia mencoba menahan mobil tersebut dengan berdiri di depannya. Namun akhirnya ia ditabrak pencurinya sehingga meninggal. Jadi nasibnya berbeda dengan arti namanya. Zaman dulu arti nama sangat penting dan dharapkan orang ini seperti arti namanya.  Singkat ceritanya, Yunus masuk ke kapal , dilempar ke laut dan dimakan ikan besar.  Setiap orang memiliki rasa takut menghadapi cara kematian tertentu. Contohnya : saya takut mati terlelap air walau bisa berenang.  Saya pernah pelayanan  di kota Palu. Di sana saya suka melakukan snorkelling (kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel yakni  selang berbentuk huruf J dengan pelindung mulut di bagian ujung sebelah bawah).  Saat melakukan snorkelling, saya melihat batu karang yang indah sekali, sampai saya tidak menyadari berada di pkealung laut. Tiba-tiba kegelapan melanda saya dan selang snorkel  yang saya kenakan kemasukan air laut.  Saya kelabakan dan kemasukan air. Bersyukur, Tuhan menolong saya yang hampir meninggal. Saya beruntung ada batu karang yang sangat tinggi dan saya berdiri di sana sehingga selamat. Saat dilempar ke laut, Yunus pun sangat ketakutan, akhirnya ikan besar menelannya.  Tuhan tetap memaafkan dia. Ini adalah memberontak secara tindakan.

b.       Memberontak secara pikiran. Dalam Yun 4:2 dikatakan “Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Dia seakan ingin beragumen dengan Tuhan, karena ia tahu Tuhan pasti mengampuni Niniwe sehingga ia lari ke Tarsis. Ia ingin berargumen. Benar apa yang dikatakan Roma 1:21b Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.. Dalam bahasa teologia, dosa telah merasuki pikiran dan hati manusia sehingga manusia tidak dapat lagi tidak berbuat dosa. Jadi pikiran kita tidak bakal sampai dengan pikiran Tuhan , kita tidak mengerti maksud dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita tidak melihat lagi Tuhan yang berotoritas.

Di kampus SAAT, mahasiswa tidak dibolehkan menggunakan laptop di kamar dan HP (ponsel) di luar asrama. Saya selaku salah seorang anggota senat mahasiswa, memperjuangkan agar laptop boleh dipakai di kamar dan HP boleh dibawa keluar asrama, namun  dosen tidak setuju.  Kemudian saya menceritakan kejadian yang menimpa saya. Setiap hari Sabtu perpustakaan kampus hanya dibuka sampai pk 13. Suatu kali saya sedang mengetik di perpustakaan. Karena sedang asyik mengetik saya lupa ketentuan tersebut dan berada di ruang perpustakaan sampai lebih dari pk 13. Ketika tersadar saya cepat-cepat berlari keluar tapi ternyata pintunya terkunci. Padahal petugas perpustakaan itu punya pelayanan pada hari Sabtu dan Minggu di luar kota seperti Surabaya.  Saya tidak berdaya karena tidak ada ponsel sehingga tidak bisa menghubungi ke luar. Dalam pikiran , bila saya tidak bisa keluar ruang perpustakaan saya akan minum dari air keran di toilet perpustakaan. Entah mengapa saya terus menunggu saja. Kebetulan sekali ada orang yang datang sehingga saya bisa keluar. Saya bersyukur atas pertolongan mereka. Sewaktu membebaskan saya, mereka sempat merekam. Akhirnya saya memberitahukan  dosen hal tersebut sehingga mereka menyetujui usulan saya. Dibuatlah keputusan bahwa dalam kondisi mendesak, para siswa diperbolehkan menghidupkan dan menggunakan ponsel.  Di sini kami bukan memberontak tapi berargumen. Dosen sebagai pemegang otoritas tertinggi akhirnya mengabulkan permintaan kami. Namun Nabi Yunus dan kita adalah manusia terbatas dan memiliki pikiran yang sia-sia sehingga bagaimana kita mau berargumen dengan Tuhan yang sempurna? Ketika ada masalah dan  pergumulan, kita bertanya mengapa rencana yang disusun tidak berhasil? Padahal menurut kita rencana yang disusun adalah rencana yang terbaik. Lalu kita mulai berargumen dengan Tuhan. Ini sebenarnya pemberontakan secara pikiran.

2.     Dosa membuat kita buta akan the beauty of God (keindahan/kemuliaan Tuhan). Dalam lirik lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan” (lagu Swedia Syair: O store Gud, Carl Gustaf Boberg, 1886. Diterjemahkan E. L. Pohan Shn, 1968) dikatakan,

Bila kulihat bintang gemerlapandan bunyi guruh riuh kudengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heranmelihat ciptaanMu yang besar.
Refrain: Maka jiwakupun memujiMu:“Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwakupun memujiMu:“Sungguh besar Kau, Allahku!”

Ada juga lagu dari Sidney Mohede ,pemimpin pujian dan pengarang lagu, dalam lagunya yang berjudul Mengenalmu (album Giving My Best). Dalam liriknya berkata,

Bila ku buka mataku dan lihat wajahMu ku terkagum

Inilah wahyu umum. Di dalam keteraturan dunia ini, dia ingin menyatakan bahwa ada Tuhan yang menciptakannya, namun dosa membuat kita buta. Apa itu kemuliaan Tuhan? Yunus 4:2: Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Nabi Yunus mengetahui Allah itu mengasihi, Allah itu panjang sabar, berlimpah kasih setia, namun Yunus marah. Ketika tahu bahwa Allah itu pengasih, seharusnya kita kagum dan bangga kepadaNya.  Itulah dosa yang membuat kita buta akan keindahan Allah. Allah menjawab, "Layakkah engkau marah?"(Yunus 4:4)

Singkat cerita, Yunus ditegur Tuhan melalui pohon jarak yang tumbuh dan mati dalam waktu sehari. Melihat hal itu Yunus marah lagi dan minta mati. Tetapi Tuhan berkata"Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.“Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (Yunus 4:10-11). Ia lupa bahwa Tuhan tidak menginginkan kematian orang fasik tapi pertobatannya.


Ibarat secarik kertas yang digambar sebuah lingkaran dengan tulisan bahwa lingkaran itu adalah bola ping pong, lalu kertas tersebut diremas menjadi sampah. Secara substansi ia tetap kertas. Jadi walaupun di atasnya digambar apapun, ia tetap kertas! Walaupun diremas tetap ia merupakan kertas. Berbeda dengan bola ping pong yang sebenarnya. Jadi harus dibedakan kertas dengan bola ping pong. Terkadang kita melihat sesuatu bagian yang mencolok dan kita tidak lagi melihat secara utuh karena pikiran kita sudah dicemari dosa. Mungkin yang kita fokuskan adalah keberdosaan orang, kelemahan kita, atau masalah yang kita hadapi. Tetapi kita lupa Tuhan mengerjakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita bisa datang ke gereja, bisa berdoa, menyanyi-memuji Tuhan, mendengar khotbah, tetapi kita bisa bosan. Saat berdoa, kita berpikir,”anakku nanti makan apa?” dan kita bisa menjadi bosan saat berdoa. Itulah akibat dosa di mana suatu penyembahan dibuat oleh pikiran kita menjadi sesuatu yang tidak menarik. Hal ini perlu diwaspadai. Maka saya terus berusaha saat bernyanyi, saya menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Tetapi anugerah Tuhan itu cukup untuk kita. Walaupun Niniwe merupakan bangsa pembunuh tetapi tetap mendapat anugerah Tuhan. Kiranya kita menyadari keberdosaan kita dan tidak lupa memohon ampun pada Allah yang telah mati di kayu salib menggantikan kita.  

Sunday, March 8, 2015

Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka


Pdt. Peter Lau

2 Sam 12:1-14
1   TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
2  Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
3  si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
4  Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."
5  Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
6  Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."
7  Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.
8  Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.
9  Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.
10  Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
11  Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.
12  Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."
13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
14  Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."

Pendahuluan

Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya, kita menghadapi 3 buah fakta .
1.     Dilahirkan dalam belenggu (kuk) dosa. Maz 51:5 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Suka tidak suka kita lahir di dalam, diikat dan berjalan di dalam dosa.
2.     Pengampunan Kristus di atas kayu salib. 1 Tim. 1:15  “Kristus Yesus datang ke dalam dunia menyelamatkan orang berdosa.” KPR 13:39, “…di dalam DIA-lah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa… Allah mencari dan menebus kita, orang yang terhilang, untuk oleh hidup di dalam dunia. Firman Tuhan mengatakan Kristus telah memerdekakan kita dari kuk perhambaan dengan mati di kayu salib
3.     Orang percaya dipercayakan ALLAH ikut bertanggung jawab menjalankan kehidupannya. Fil.2:12-15 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, Dalam perjalanan hidup sampai akhirnya, Tuhan memberi kita tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab untuk tidak hidup dalam dosa.

Apa akibatnya ketika orang percaya dalam Yesus Kristus bila menjalani hidup yang berdosa ?

Sebagai umat Allah , Daud membawa umat Israel sebagai bangsa yang jaya, tetapi kemudian ia jatuh dalam dosa. Natan menyampaikan keputusan Allah yang murka kepada Daud karena “…hal yang dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN. .. (2 Sam.11:27b) dan mendatangkan dosa bagi dirinya. Natan menegur Daud sebagai umat yang ditebus Allah tetapi jatuh ke dalam dosa. Daud melakukan dosa demi dosa. Daud telah melakukan minimal 3 dosa :
a.     Melakukan pembunuhan (2 Sam.11:15). Hal ini  melanggar hukum ke-6 dari 10 Hukum Taurat (Perintah Allah). Uria mati karena dirancang demikian.  Uria dipanggil pulang tetapi ia tidak bersenang-senang menikmati waktu bersama istrinya (2 Sam 11:9 dan 11). Melihat itu, Daud meminta Yoab menaruhnya di lini peperangan terdepan, dihadapkan ke musuh yang paling kuat dan ditinggalkan supaya Uria mati terbunuh. Jadi Daud terlibat dalam pembunuhan Uria.
b.     Melakukan perzinahan (2 Sam.11:4). Hal ini  berarti melanggar hukum ke 7 dari 10 perintah Allah. Ia melihat Batsyeba binti Eliam, isteri Uria bawahannya sendiri Ia memanggil Batsyeba datang kepadanya lalu mereka melakukan hubungan intim dan Batsyeba pun hamil.
c.     Mengingini milik sesama (2 Sam.11:4) yang berarti melanggar hukum ke 10.
Dari satu dosa melahirkan dosa yang lain. Daud sunguh-sungguh jahat di mata Tuhan, sehingga Tuhan murka dengan Daud. Sebagai orang yang ditebus Tuhan, Nabi Natan menyampaikan ke Daud apa yang akan dilakukan Tuhan kepada Daud. Ketika kita berdosa sepertinya Allah diam, tapi sebenarnya Dia memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat.

I.    Akibat DOSA :

Akibat yang ditanggung bukan hanya oleh Daud sendiri tapi oleh seluruh keturunannya sampai hari ini.
1.     DOSA membawa KEHANCURAN & DAMPAK PERMANEN (2 Sam.12:10-14). Orang percaya yang melakukan dosa akan menghancurkan hidupnya dan membawa dampak permanen ke dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
a.     Saling membunuh antar anggota keluarga
Tuhan berkata, “Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. (2 Sam 12:10) Artinya antara anak sendiri akan saling membunuh. Anggota keluarga Daud dibunuh oleh anggota keluarga sendiri.
b.     Perzinahan akan terus terjadi dalam keluarganya. 2 Sam 12:11-12  Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan." Semua orang akan melihat hubungan antara mama dan anak. Itu hukuman bagi Daud.
c.     Kematian anak pertamanya dari Batsyeba. Salomo bukan anak pertama dari Batsyeba, tapi anak hasil perselingkuhan Daud dengan Batrsyeba yang akan mati.  Daud berpuasa dan memohon agar jangan sampai anak itu mati tetapi anak itu tetap mati.
d.     Perpecahan Israel Akibat dosanya Daud sebagai orang percaya, maka setelah Daud dan Salomo ada perebutan kekuasaan dan saling membunuh lalu terpecahlah antara Israel Utara dan Israel Selatan. 12 suku Israel akhirnya hancur. 10 suku bangsa di Israel Utara (termasuk Manasye, Efraim dan sebagian suku Lewi) tahun 722 SM hancur di tangan bangsa Asyur. Setelah itu 2 suku lainnya (Benyamin, Yehuda dan sebagian suku Lewi) di Israel Selatan hancur di tangan Raja Babel tahun 587 SM. Di kitab Daniel tercatat, Daniel dan teman-temannya dibawa ke Babel.
e.      Zaman inkarnasi Kristus (waktu Yesus Kristus hadir ke dunia) Israel kehilangan 10 suku (Ruben, Simeon, Zebulon, Ishakar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf –Efraim & Manasye, suku Lewi Israel Utara) dan  suku Israel tinggal sisa yaitu Yehuda, Benyamin dan suku Lewi Israel Selatan. Israel tidak memilki kerajaan  lagi karena sudah hancur. Saat itu Israel dikuasai Romawi..

Dosa membawa kehancuran permanen. Saya pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang anak remaja perempuan yang masih kelas 7. Keluarganya sudah Kristen, namun papanya berselingkuh dengan wanita lain. Akhirnya mamanya membalas dengan berselingkuh dengan 4 pria (dari Indonesia sampai Tiongkok). Pria yang keempat dibawa pulang ke rumah dan mamanya meminta anaknya untuk memanggil orang tersebut sebagai “papa”. Sewaktu ditanya “Bagaimana perasaanmu memanggil orang yang bukan papamu sebagai papa?” Yang mengejutkan ia menjawab, “Tidak apa-apa. Saya akan memanggil siapa pun ‘papa’ bila orang itu memberi saya uang!” Sebagai orang tua mendengar hal itu membuat saya terperanjat  karena berarti ia membiarkan tubuhnya ditiduri yang penting uang. Tidak diketahui kapan dampak perselingkuhan orang tuanya terhadap anak perempuan ini akan berhenti. Dampak ini akan permanen dan terekam dalam otaknya. Saya tidak yakin ia bisa menjadi istri yang baik karena tidak punya panutan yang baik. Dampak dosa membawa kehancuran untuk hidup orang percaya. Apa yang dilakukan Daud satu kali, tetapi dosa itu menghancurkan Israel dan keturunannya.

II.   Bagaimana orang percaya dapat terbebas dari kejatuhan dosa?

Dalam Alkitab, ada kisah tentang anak-anak imam Eli ,Hofni dan Pinehas, yang tidak menghormati Allah akhirnya mati (1 Sam 4:17). Dampak dosa menghancurkan hidup orang itu bahkan seluruh keturunannnya. Seorang papa yang selingkuh, bukan hanya berdampak pada dirinya tetapi juga anaknya.  Sehingga tiap orang percaya harus berusaha untuk bebas dari dosa, agar mampu menjaga diri dan tidak hancur. Dalam seluruh hidupnya, Daud bisa jatuh dalam dosa. Begitu Daud menyingkirkan Allah dan hanya hidup dari kemauannya, maka ia akan jatuh ke dalam dosa. Untuk lepas dari dosa, Daud  dan orang-orang percaya harus menjadikan Allah LANDASAN & PUSAT KEHIDUPAN. Bila tidak demikian, maka orang percaya akan jatuh dalam dosa.
Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya ke jemaat Galatia namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku(Gal. 2:20) dan ke jemaat Filipi Karena bagiku, hidup adalah KRISTUS…”(Fil. 1:21)
Ini yang menjadi landasan hidupku. Hidupku tertuju kepada Kristus dan hidupku adalah Kristus. Sebagai orang berdosa , hidup kita dikuasai oleh Iblis. Hidup kita diatur oleh iblis, iblis jadi bapa kita. Fokus dan tujuan hidupnya mengikuti kehendak dan pengaturan iblis. Landasannya : kemauan iblis dan dosa. Untuk lepas dari dosa,  seluruh hidup kita harusnya dalam otoritas Allah. Orang percaya harusnya menjadikan Allah fokus hidup. Seluruh hidup kita dibungkus dalam otorritas Allah dan Allah menjadi sentral hidup kita, baru kita terhindar dari dosa.

Allah sebagai pusat kehidupan berarti  :
1.     Memiliki sikap hidup “takut akan ALLAH” . Takut akan Allah dan membiarkan Allah mengatur dan menaklukkan hidup kita.
2.  Menyerahkan seluruh   HIDUP ke dalam PENAKLUKAN ALLAH seperti BEJANA . Dia penjunan  dan kita adalah tanah liatnya.
3.    Mendapatkan kekuatan  “hidup dalam komitmen  SETIA kepada ALLAH”.
Orang seperti ini akan setia dan komitemen kepada Allah sehingga menjauhkannya dari dosa. Kalau tidak dosa akan menguasainya. Untuk itu jadikan Allah sebagai sentral.
Dalam kehidupannya Yusuf juga dicobai (Kej 39:1-23). Bukan hanya 1 kali digoda oleh istri Potifar. Dalam kediaman Potifar, dari hari ke hari Yusuf dicobai, tetapi Yusuf tidak jatuh! Hal ini disebabkan seluruh hidup Yusuf dikuasai Allah. Pikirannya : Allah yang paling penting dan Yusuf menaklukkan diri kepadaNya seperti yang dikatakannya pada Kej.39:9 “Bagaimanakah mungkin aku melakukan KEJAHATAN yang besar ini dan berbuat DOSA terhadap ALLAH? Agar kita tidak berdosa dalam korupsi, perjinahan dan dosa lainnya, maka kita harus menjaga diri. Apakah kita hidup menjadikan Allah sebagai pusat? Bila tidak, kita akan jatuh ke dalam dosa dan  tidak punya kekuatan menghadapi dunia ini.

Dari kisah DAUD kita  belajar ada 3 kategori orang di dunia :
1.     Hamba DOSA : Hidup di dalam & dikuasai DOSA (Manusia diluar KRISTUS). Orang ini harus datang kepada Yesus.
2.     HAMBA KEBENARAN (Orang yang menjadi ciptaan baru jadi milik Allah) namun masih hidup melakukan DOSA (Manusia di dalam KRISTUS). Mengasihi Tuhan, namun seringkali tidak berkomitmen dan tidak mau taaat kepada Allah. Orang ini harus berhenti berbuat dosa!
3.     HAMBA KEBENARAN YANG BAIK & SETIA: Semakin hari semakin serupa KRISTUS (Manusia di dalam KRISTUS). Orang seperti ini tetaplah berjuang dan hidup berkomitmen untuk menjadikan Allah pusat dalam hidupnya dan menakulukkan diri di hadapan Allah.
Orang percaya seringkali tidak mampu terbebas dari dosa karena TIDAK BERKOMITMEN menempatkan ALLAH (MENDENGAR & TAAT) sebagai PUSAT KEHIDUPAN.
Namun bila sampai hari ini masih hidup dalam dosa,mari kita berani berhenti berbuat dosa. Seringkali kita berdosa dan Allah menuntut keadilan. Setiap kali kita datang kepada Tuhan, Dia akan memberikan pengampunan. Dosa kita diampuni Tuhan, tapi akibat dosa ditanggung Tuhan. Kalau kita hidup masih berdosa, mari berhenti. Seperti bapa yang ingin melihat anak kita hidup benar. Allah ingin kita hidup benar. Dosa mendatangkan kehancurn. Saat kita berdosa, hati Allah hancur. Mari mengasihi Tuhan dengan menjadi hamba yang baik dan terus berjuang.
Ketika harus memilih antara firman Tuhan dan jalan dunia : berkomitmenlah untuk senantiasa memilih jalan yang sesuai hati & kehendak ALLAH.

Penutup

Ketika bertobat, percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Allah akan memimpin hidup orang percaya kepada keselamatan (bukan kepada kehancuran). Kehidupan orang percaya bukanlah atribut, aksesoris atau pun aktivitas belaka namun kehidupan orang percaya merupakan kehidupan rohani yang menuntut adanya perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru melalui KRISTUS YESUS dan dalam kehidupan  selanjutnya menjadi orang percaya harus tunduk dan taat pada kehendak ALLAH (menjadi penurut Allah).  Pada 2 Sam 12:1-14 terlihat bahwa  dosa membawa KEHANCURAN dan merupakan  JALAN KEBINASAAN, sedangkan Jalan TUHAN membawa KEHIDUPAN yang mendatangkan BERKAT.Tuhan Yesus akan memberkati kehidupan kita setiap hari bila kita berjalan bersama ALLAH dan hidup kita BERSERAH kepada ALLAH seperti yang tertuang dalam lirik lagu “Aku Berserah” :

Berserah kepada YESUS
Tubuh, Roh dan Jiwaku
Aku ingin s’lalu hidup
Bagi Yesus Tuhanku
Aku berserah, aku berserah
Pada Yesus, Juru S’lamat
Aku berserah
Berserah kepada YESUS
dikakiNya ku sujud
Nikmat dunia kutinggalkan
Tuhan, t’rimalah aku
Aku berserah, aku berserah
Pada Yesus, Juru S’lamat
Aku berserah