Sunday, March 22, 2015

Mati Tanpa Kristus!

Pdt. Johni Setiawan

Efesus 2:1-5
1   Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
2  Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
3  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
4  Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,
5  telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  — 

Pendahuluan

                Dalam surat Rasul Paulus ke jemaat di Efesus, kita mendapat gambaran tentang bagaimana orang  yang mati tanpa Kristus. Kita patut mensyukuri bahwa kita tidak seperti itu. Kita tidak mati tanpa Kristus, tetapi kita telah mendapatkan rahmat dan kasih karunia dari Tuhan. Kita telah dihidupkan bersama Kristus. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita telah diselamatkan oleh anugerah Allah dan Kristus telah menyediakan tempat yaitu surga di mana kita akan tinggal bersamaNya.

Pengertian Mati

Kata “mati” mengandung 3 pengeritan :
1.     Mati secara jasmani. Saat mati, roh akan meninggalkan jasad (tubuh secara fisik) nya. Saat itu fungsi tubuhnya sudah rusak alias tidak berfungsi lagi dan segera akan membusuk, sehingga harus dikuburkan.
2.     Mati selama-lamanya (kekal) yaitu kematian setelah kematian jasmani. Jika seseorang belum percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima pengampunan dari Tuhan Yesus maka ia akan binasa selama-lamanya. Dia akan mati terpisah dari Kristus, dibuang ke dalam neraka dan akan mengalami penderitaan selama-lamanya.
3.     Mati secara rohani. Kematian ini seperti yang dikatakan dalam Ef 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Mati Tanpa Kristus

Berarti :

1.    Mati secara rohani

Pada Kejadian pasal 1 dikatakan ketika manusia diciptakan, Allah memberikan segala sesuatu yang baik. Tetapi ketika melanggar perintah Allah, manusia mengalami kematian rohani. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, lalu dari tulang rusuk Adam diciptakan Hawa (Kej 2:22). Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (Kej 2:23).  Adam begitu bersukacita mendapat Hawa sebagai mitra dalam hidupnya. Saat itu Adam senang berjumpa dengan penciptaNya. Tapi begitu jatuh dalam dosa, manusia menjadi takut dengan Allah. Pada Kej 3:7-8 dikatakan Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Manusia menjadi tidak suka dengan Allah dan menyembunyikan diri dari Allah. Manusia tidak lagi menggantungkan diri pada Allah tetapi bergantung pada pohon. Manusia yang mati secara rohani tidak suka membaca Alkitab dan beribadah. Ada orang yang berkata, agama-agama yang ada di dunia membawa keselamatan . sehingga disimpulkan bahwa semua agama itu sama seperti pepatah mengatakan “banyak jalan menuju Roma”. Padahal jalan menuju surga hanya melalui Yesus Kristus. Banyak orang yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Yesus tetapi disertai dengan keyakinan pada pohon dan daun yang kemudian disematkan ke tubuhnya. Saya memiliki 2 orang anak laki-laki. Setiap kali saya pulang pelayanan atau berpergian, mereka akan berteriak dengan suaranya yang lucu, “Papi pulang! Papi pulang! Papi saya bawakan tasnya ya” atau “Papi pulang bawa makanan” (Terkadang saya pulang membawa makanan cap-cai, martabak, puyunghai dll). Suatu kali, saat pulang saya tidak mendengar suara mereka menyambut saya. Saya agak heran dan menyimpan dalam hati lalu bertanya kepada istri, “Apakah anak-anak sudah tidur? Mengapa tidak ada suaranya?” Istri saya menjawab,”Ada masalah. Mereka telah menjatuhkun barang dari meja kamu!” Memang saya suka berpesan ke anak-anak agar jangan bermain-main dan menjatuhkan sesuatu di meja saya. Dengan jatuhnya barang dari meja saya sehingga rusak mereka menjadi takut untuk bertemu saya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri mereka sehingga tidak berani bertemu saya. Mereka seakan-akan menyembunyikan diri dan mereka tidak mau datang kepada saya. Bukankah ini yang terjadi pada manusia setelah manusia jatuh dalam dosa dan tidak mau bertemu Allah? Mereka menjadi takut dengan Allah! Ini yang terjadi bila manusia melakukan dosa. Ada perasaan tidak damai bila bertemu.

Gus Dur, presiden Indonesia yang keempat adalah orang yang santai (easy-going). Ia banyak melontarkan humor, berikut salah satunya:
Tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha sedang berdebat. Gus Dur sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Buddha menjawab duluan,“Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap beribadah kita memanggil Tuhan dengan mengucapkan ‘Om’ (omitohud,red). Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”
Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta
“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.
“Kenapa tidak?Agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil Tuhan itu ‘Bapa’. Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.
Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.
“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.
“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan Tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.
Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat  justru agama saya malah paling jauh dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.
“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.
“Gimana tidak, lah wong kalau di agama saya, kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.

Hal Ini hanya terjadi di Indonesia, setiap subuh orang di mesjid memanggil jemaahnya untuk sembahyang dengan pengeras suara. Di AS dan Singapore tidak boleh berteriak-teriak memanggil jemaah untuk beribadah, sedangkan di Indonesia ada kultur melalui pengeras suara berbagai berita (termasuk berita kematian) diumumkan. Di dalam gurauan Gus Dur itu, ada sesuatu yang tersirat tentang betapa pentingnya kita dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang percaya firman Tuhan, merenungkannya siang dan malam, hidupnya seperti tanaman di tepi aliran air sehingga selalu segar dan subur (Maz 1:1  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil). Orang yang hidup bahagia akan dekat dengan Tuhan sedangkan yang jauh menunjukkan ia mati rohaninya. Di dalam kehidupan kita, apakah kita orang yang hidup dekat dengan Tuhan? Kadang saya suka risih bila melihat jemaat yang suka duduk di kursi yang sama setiap minggu. Kalau ia biasa duduk di belakang , ia akan terus duduk di belakang, yang duduk di pojok akan duduk di pojok terus dan tidak mau berubah. Kenapa tidak mau duduk di depan? Padahal kalau ada orang yang baru pertama kali datang, ia biasanya duduk di belakang dan sungkan duduk di depan karena malu semua melihat dia. Oleh karena itu kita harus memberikan kesempatan agar orang-orang yang baru datang bisa duduk di belakang, di samping itu kursi di bagian depan juga tidak kosong. Waktu dekat dengan Tuhan, maka kita akan merasa sukacita kalau bertemu dengan Tuhan.

2.     Mati sebagai hamba Kristus. Kita adalah hamba kebenaran atau hamba Kristus. Bila mati tanpa Kristus maka kita hidup tapi tidak sebagai hamba Kristus lagi. Ef 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Ketika Adam jatuh dalam dosa, dia menyembunyikan diri dari Allah, sehingga ketidaktaatan akan mendatangkan ketidaktaatan lain. Dosa yang satu berkembang menjadi dosa yang lain. Hidup kita bukanlah hidup yang menjadi hamba Kristus lagi tetapi kita menjadi hamba dosa. Kita menjadi hamba setan. Saat kita mengikuti setan, Tuhan Yesus berbicara pada orang yang menolak Dia (termasuk orang Farisi dan Saduki). Yesus berkata,   Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.(Yoh 8:43-44). Iblis pembunuh manusia sejak dulu. Ia tidak hidup dalam kebenaran sebab di dalamnya tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri karena ia pendusta dan bapak segala pendusta. Kalau iblis menjadi tuan kita, iblis yang menjadi pembohong maka hidup kita pun akan terjebak , hidup kita akan mengikuti iblis menjadi pembohong. Rasul Paulus mengatakan pada Roma 12: 2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Iblis dengan kebohongannya membuat banyak manusia mengikutinya. Iblis yang memberontak kepada Allah membuat banyak orang juga memberontak kepada Allah. Iblis yang tidak mau taat kepada Allah membuat banyak orang tidak mau taat kepada Allah sehingga Rasul Paulus mengatakan “yaitu orangorang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Kor 4:4). Orang buta tidak bisa melihat. Saya pernah menyaksikan seorang tunanetra yang berjalan dengan tongkat. Ia kelihatannya sangat percaya diri. Awalnya ia berjalan secara perlahan, namun semakin lama semakin cepat. Pada waktu itu saya sedang naik taxi di Singapore. Orang buta ini berjalan makin cepat , namun tiba-tiba terkejut karena ia membentur sesuatu dan terjatuh. Setelah itu ketika mulai berjalan, ia melakukannya secara perlahan kembali. Hal ini terjadi karena ia tidak bisa melihat. Walaupun orang lain yang melihatnya berteriak,”Awas!” dia tidak tahu. Kalau pikiran kita dibutakan, maka kita tidak menganggap Allah itu penting. Begitu banyak orang takut dengan setan, tetapi tidak takut dengan Tuhan. Ada kebiasaan  di Indonesia, bila ada gua atau pohon besar seringkali diberikan sesajen. Mereka tidak pernah lupa memberikan sesajen itu. Mereka menyediakan persembahan yang terbaik. Suatu kali saya pernah pelayanan di Kaltim dan saya  menempati rumah kos.  Di sana ada sebuah aquarium yang tidak terisi air karena walaupun aquariumnya tertutup di bagian atasnya tapi bagian sampingnya terbuka. Di situ diletakkan banyak patung yakni patung Buddha, patung Yesus, patung Maria, patung Kwan Im, patung Kwan Kong dan di sampingnya juga ada foto leluhur dari pemilik kos. Setiap hari di depan patung dan foto itu disediakan buah-buahan yang mahal dan terbaik. Saya tinggal di tingkat kedua (loteng), setiap hari saat melewati lantai bawah saya perhatikan persembahannya sudah berganti. Kelihatannya sangat enak. Tante kos itu menyajikannya kepada semua patung itu. Pada hari ketiga dan keempat, tante itu akan memanggil dan bertanya apakah saya mau buah-buahan? Saya bertanya, “Apakah ada lebih?” Dijawabnya, “Bukan lebih, tetapi yang tadinya ditaruh di depan patung sekarang bisa dimakan.” Dalam hati saya berkata,”Mengapa yang sudah busuk baru dikasih? Untuk apa makanan seperti itu?” Saya menolak secara halus. Saya ingin yang baru. Sang pemilik kos memberikan yang terbaik, bagaimana dengan kita?

Saya senang bila melihat jemaat tidak terlambat datang beribadah. Senang juga melihat walaupun terlambat tetap jemaat mau datang. Tetapi ibadah adalah mendengarkan undangan dari Tuhan yang menjadi Pencipta dan Penebus kita. Kalau Tuhan yang mengundang apakah kita bersikap hormat? Kita bisa datang sebelum ibadah mulai? Kita berikan hidup kita yang terbaik. Jangan datang dalam keadaan sudah mengantuk. Saya terkadang merasa sedih kalau ada jemaat saat khotbah dia terus terkantuk-kantuk (matanya meram terus). Hal ini berarti ia tidak mendengarkan firman Tuhan. Ada yang mengatakan saya datang ke gereja tapi tidak dapat apa-apa. Yang salah siapa? Apakah orang Kristen boleh menonton sepakbola? Boleh! Tetapi tengah malam sampai pagi dinihari masih menonton juga dan berteriak-teriak, “Gol!” Hal ini kemudian mengakibatkan sesampainya di gereja yang ber-AC, ia awalnya duduk tegak , lama-lama merosot sedikit demi sedikit dan akhirnya tertidur. Apakah ini sikap yang benar? Kalau mengikuti Bapa Sorgawi tidak boleh sembarangan. Hati-hati dengan iblis, bapak pendusta! Ia bisa menyamar sebagai malaikat terang dan sepertinya baik. Ajaran gereja harus berdasarkan norma Alkitab. Siapa yang patut dimuliakan , ditinggikan dan diandalkan? Hanya Yesus Kristus! Akhir-akhir ini banyak orang Kristen disesatkan. Lagu-lagu hymne yang baik dikatakan kuno tetapi kalau dipakai lagu-lagu yang “ramai” dan ada hiburannya, seringkali anak muda ke sana. Padahal suasananya bukan suasana ibadah tapi suasana pesta atau konser. Sangat menyedihkan. Ada juga banyak jemaat yang datang ke gereja tertentu, yang mengajarkan perjamuan kudus seperti “jimat” danmenjadikan minyak urapan sebagai sandaran. Sampai ada kesaksian bahwa minyak urapan dapat menyelamatkan! Saat kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501, ada yang memberikan kesaksian di media massa, “Saya selamat tidak jadi naik pesawat itu karena minyak urapan!” Kita harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya tempat bersandar bukan jimat. Tetapi hari ini ajaran setan menarik orang-orang sehingga tersesat.

3.     Mati dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Ef 2:33  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Dulu kita hidup dalam hawa nafsu, kita seringkali memikirkan hawa nafsu kedagingin. Kalau datang ke gereja dan mengantuk, sebagai orang percaya kita langsung berdoa, “Tuhan, ampuni saya. Roh berkehendak tapi tubuh lemah, jadi maafkan saya!” namun minggu depan begitu lagi. Bukankah hal itu seperti perbuatan orang-orang di dunia? Alkitab memberikan penjelasan pada Gal 5 : 19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu  —  seperti yang telah kubuat dahulu  —  bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ini kehendak daging dan membuat hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. Setiap kali kita melakukan dosa dan melakukan perbuatan daging, maka kita membuat hati Tuhan terluka. Jangan berpikir bahwa kita sebagai orang yang sudah diampuni boleh berbuat seenaknya. Seharusnya hidup kita diubahkan. Maka dikatakan pada Gal 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Kita adalah orang-orang yang mengalami penebusan dan kita tidak akan mati dalam dosa kita. Karena kita sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak akan mati tanpa Kristus karena Kristus telah menyertai kita. Kita sudah diselamatkan, tetapi ingatlah bahwa banyak jiwa yang masih belum mengenal Kristus. Kita perlu memikirkan jiwa-jiwa yang masih terhilang. Sekarang kalau anak-anak kecil ditanya apa yang menjadi cita-citanya, mereka akan berkata bahwa mereka ingin menjadi dokter, sarjana hukum, arsitek, pejabat, bahkan presiden. Padahal saat ini sekolah-sekolah teologia sedang mengalami dilema. Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia, meminta hamba Tuhan yang berasal dari etnis Tionghoa, namun semakin hari semakin sulit dipenuhi. Banyak orang tua tidak rela anaknya menjadi hamba Tuhan karena tidak memiliki hati yang ingin menjangkau jiwa-jiwa.  Hampir 2 tahun yang lampau , saya ditugaskan di Singapore. Tiba-tiba anak saya yang sudah bekerja (lulus S1 dari universitas di Bandung, 1 tahun belajar komunikasi massa di Singapore, di Amerika Serikat 6 tahun, lalu dia bekerja di Singapore) bertanya, “Apakah ia bisa mendaftar sebagai mahasiswa teologia walaupun telat?” Jelas bisa! Yang penting adalah latar dan motivasinya. Pernah saat diinterview dosen “Mengapa kamu mau sekolah teologia?” ada calon mahasiswa yang menjawab “Biasanya sekolah teologia masih menerima, karena sekolah lain tidak ada yang mau terima saya!” Banyak yang seperti itu. Ada juga yang menjawab, “Disuruh mami!” Jelas tidak diterima. Saya bertanya balik ke putra saya,”Ada apa kamu bertanya seperti itu? Selama ini saya bertanya. ‘Kris, kamu tidak mau melayani Tuhan?’” DIa hanya menjawab, “Saya sudah melayani. Saya hidup bagi Tuhan, untuk apa saya melayani secara full-time? Saya melayani di bidang apa saja” Dia berbeda dengan kakaknya yang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan dengan  masuk sekolah teologia dan melayani. Waktu itu saya bertanya kepadanya, “Apa yang engkau pikirkan?” Dia menjawab,”Saya mau mepersembahkan hidup untuk Tuhan. Saya sedang mempertimbangkan mau sekolah teologia di mana.” Istri saya begitu terperanjat. Kamu dari dulu tidak mau mempersembahkan diri. Kamu sudah sekolah dan bekerja. Mami hanya punya 2 anak, yang pertama 100% melayani dan yang kedua 50%. Orang kalau di panggil Tuhan jangan sekolah (sekuler,red)” Saya berkata,”Kita harus bersyukur bahwa Tuhan mau memanggil kedua putra kita. Mereka tidak berorientasi menjadi kaya. Tetapi mereka memikirkan bagaimana melayani Tuhan dan mencari jiwa. Bukankah ini berharga?” Firman Tuhan berkata, “satu jiwa berharga”. (Lukas 15:7a Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat). Saya merasa dan berharap jemaat di sini dapat memenangkan jiwa kalau kita mau bicara dan menginjili orang lain.


No comments:

Post a Comment