Monday, July 14, 2014

Jangan Memancing Ikan di Kolam Orang


Ev. Vera Agnes

Kis 11:1-18
1  Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
2  Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.
3 Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."
4  Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:
5  "Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.
6  Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
7  Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
8  Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
9  Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
10  Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
11  Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
12  Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
13  dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
14  Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
15  Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
16 Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
17 Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?"
18 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: "Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup."

Pendahuluan
               
                Ada cerita menyedihkan dari seorang hamba Tuhan.  Dia mengisahkan tentang jemaatnya yang telah dibina secara rohani sejak sekolah minggu, tunas remaja sampai remaja pindah ke gereja lain karena ditarik oleh hambaTuhan dari gereja lain. Awalnya di sekitar wilayah Pademangan-Rajawali tempat gerejanya berada, ada forum komunikasi hamba Tuhan yang beranggotakan hamba-hamba Tuhan dari sekitar 50 gereja. Suatu kali para hamba Tuhan tersebut membahas tentang jemaat-jemaat mudanya. Banyak hamba Tuhan menyampaikan bahwa para jemaat muda mereka meninggalkan gereja asalnya. Untuk memberi masukan, kemudian bertempat di satu  gereja diundang hamba Tuhan yang diberkati untuk memberikan sharing, namun saat itu sudah ada banyak hamba Tuhan yang sudah sakit hati karena jemaatnya dicuri. Sehingga kami setiap sabtu berkeliling gereja-gereja untuk  berdoa dan saling menyemangati. Ada hamba Tuhan dari luar yang datang dengan menawarkan kasih, namun akhirnya mengambil jemaat gereja lain. Ini yang sedang mewarnai gereja saat ini dan “luka” yang ditimbulkan masih belum tersembuhkan. Ada juga hamba Tuhan yang katanya non gereja ingin membagi berkat di gereja. Mereka mengajari cara menginjili, KKR dll. Mereka dengan sangat bersemangat melakukan koordinasi dalam pembagian tugas dan mereka begitu terkoordinasi sehingga membuat kami tertarik apalagi jemaat muda. Setelah dicoba lagi, ternyata ada maksud lain sehingga perlu diwaspadai. Mereka mendata orang-orang yang datang, terutama yang dilayani (termasuk yang disembuhkan) sehingga mereka punya alamat lengkap dari jemaat, dan setelah itu mereka mengunjunginya. Ternyata kunjungan mereka sangat rutin dan terus menerus mengajak ke gereja mereka. Akibatnya para hamba Tuhan tempat jemaat tersebut berasal menjadi terluka lagi. Ini mengajarkan kepada gereja-gereja yang di satu sisi ingin bersatu, namun hal seperti ini merusak dan membuat ketidaknyamanan. Akibatnya hamba Tuhan dari gereja asal menutup diri walau mereka gencar mendatangani gereja dan hamba Tuhan. Bahkan ada gereja yang sangat marah dengan cara mereka. Mereka yang begitu militan, terdiri dari orang-orang yang bekerja, hidupnya dipersembahkan ke Tuhan, masuk ke wilayah-wilayah tertentu dan melayani jemaat dari gereja-gereja yang ada dan membutuhkan “perhatian” (apalagi disediakan kendaraan jemputan). Ini tantangan bagi gereja yang telah berdiri lama. Tantangan ini berasal dari orang-orang yang berlatar belakang “cinta kasih” dan ingin memenangkan jiwa tapi yang dilirik adalah “kolam” yang sudah ada dan “ikan” yang terpelihara. Walaupun mereka berkata dari jemaat ini yang dibawa adalah jemaat baru. Padahal tidak mudah untuk mengajak jiwa baru bagi mereka. Pembahasan tentang ini dilatari bahwa bulan ini adalah bulan misi dan gereja haruslah menjadi gereja yang bermisi.

Gereja yang Bermisi

1.     Gereja yang bermisi mencegah perpecahan tapi menjaga persatuan. Pada Kis 11:2-3, Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka." Jadi saat itu Rasul Petrus disalahmengerti namun sebagai pemimpin, ia bisa mempertahankan diri dengan memberi alasan mengapa ia melayani orang bersunat. Ia tidak menggunakan haknya sebagai seorang pemimpin atau langsung mengatakan bahwa apa yang dilakukannya benar. Tetapi ia memberikan penjelasan tentang segala sesuatunya secara berurutan (Kis 11:4). Rasul Petrus melihatnya sebagai  persoalan peka. Walau dikatakan bahwa Injil untuk semua orang, jemaat belum terbiasa bergaul dengan orang yang tidak bersunat. Rasul Petrus melayani golongan yang tidak bersunat dan memberikan penjelasan sampai jemaat Tuhan mengerti sehingga ia tetap bisa mempertahankan kesatuan umat Tuhan. Ini adalah sikap yang baik. Terhadap jemaat yang suka mengkritik dan menyadari bahwa dalam jemaat timbul perbedaan, Rasul Petrus memberi penjelasan dan pengertian. Sehingga bila masalah timbul dalam gereja, kita bisa belajar dari Rasul Petrus. Kita selesaikan dan atasi bersama. Sikap pemimpin penting dalam menjaga kesatuan gereja. Rasul Petrus menjelaskan bahwa ia mendapat wahyu ilahi saat berdoa kepada Tuhan (ayat 4-10) dan menerima perintah Tuhan (ayat 11-12). Jadi ada persiapan ilahi baik untuk dia maupun orang yang akan dilayani. Allah sendiri yang berkerja. Allah mengasihi orang “kafir” (non Yahudi) alias semua orang padahal orang Yahudi selama ini meyakinkan bahwa pilihan hanya untuk mereka sehingga sulit menerima orang “kafir” masuk untuk diinjili. Tetapi akhirnya mereka menerima penjelasan Rasul Petrus (ayat 18). Ketika persoalan dapat diatasi, maka di sana ada penyembahan kepada Tuhan dan ada keutuhan gereja Tuhan yang dipertahankan. Jadi di bulan misi kita digerakan untuk memberitakan Injil , tetapi akan banyak pertentangan bahkan di rumah sendiri. Saya senang dengan capres yang mengatakan bahwa semua masalah bisa diselesaikan, semua yang terlibat bisa diajak bicara. Jika jemaat melihat ada yang tidak nyaman, sampaikan ke hamba Tuhan dan hamba Tuhan (pemimpin) harus punya hati yang besar untuk menjelaskan ke jemaat dan memuliakan Tuhan.

2.     Sesungguhnya jiwa-jiwa itu Tuhan yang menyediakan. Sebagai murid Kristus, kita menerima tugas Amanat Agung yaitu perintah untuk memberitakan Injil kepada semua mahluk. Tetapi bukan berarti kita sembarangan. Karena tidak semua orang yang kita temui, kita beritakan Injil. Pelayanan penginjilan sungguh ada di dalam rencana Tuhan. Sebagaai jemaat yang taat pada perintah Tuhan harus punya hubungan intim melalui doa-doa kepada Tuhan yang rindu agar jiwa-jiwa diselamatkan. Indah sekali yang dialami Rasul Petrus karena melalui apa yang dialaminya, jelas bahwa Injil harus diberitakan juga ke orang non Yahudi. Ia melihat bagaimana Tuhan mempersiapkannya. Begitu ia selesai berdoa, sudah ada orang yang menunggu. Kita berdoa untuk orang-orang yang belum percaya dan perlu dikasihi, tetapi untuk orang yang sudah punya gereja dan malas ke gereja, kita harus hati-hati. Jangan sampai kita menjadi gereja yang merebut anggota (domba) dan memancing ikan di kolam (gereja) lain. Masih begitu banyak jiwa yang memerlukan Injil. Jangan dengan alasan jemaat gereja lain tidak (kurang) diperhatikan sehingga dibawa supaya bisa bertumbuh. Ini merusak hubungan antar gereja. Ada yang berpromosi, “Gereja di sini enak, bisa minum bebas. Di gereja sana tidak ada”. Memindahkan jemaat dari 1 gereja ke gereja lain, itu bukan penginjilan! Tapi maling ‘ikan’ (ikannya ada di kolam). Harusnya yang menjadi sasaran adalah membawa jiwa-jiwa baru (yang disebut kafir), itu jiwa yang disiapkan Tuhan. Kita membawa jiwa baru tersebut ke persekutuan wilayah agar dapat bertumbuh. Itulah yang menjadi sasaran pelayanan kita. Saat mau membawa jiwa, apakah sudah ada nama yang akan dibawa? Didoakan terus. Tuhan mempersiapkan kita dan jiwa yang akan dibawa. Bawalah berita Injil kepada orang itu dan kepada keluarganya. Setiap hari berdoa untuk mereka agar semua dipersiapkan sehingga pada waktunya Tuhan akan siapkan. Jadi mereka yang dilayani adalah jiwa yang belum percaya pada Tuhan, bukan jiwa yang kurang dilayani gereja. Ada gereja yang kurang visitasi ke jemaatnya tetapi bukan mereka yang menjadi sasaran melainkan jiwa yang belum percaya kepada Tuhan. Yang dihadapi bukan hamba Tuhan yang militan melalui KKR, tetapi ada juga yang rutin mengunjungi dari rumah ke rumah. Sebelum jam kebaktian, mereka datang ke rumah jemaat dan mereka siap memberitakan firman Tuhan. Ini yang membuat gereja asal jemaat menjadi resah. Mereka lebih berani lagi bergerak sehingga ada hamba Tuhan di gereja asal jemaat yang bermaksud untuk mengusir mereka. Kita harus waspada terhadap mereka walau semangat mereka perlu ditiru. Semangat mereka memenangkan jiwa begitu tinggi. Banyak gereja yang menjadi lesu, karena semangat penginjilan lesu. Jemaat tidak terlibat dalam penginjilan. Maka bulan misi mengingatkan kita untuk jiwa-jiwa yang akan binasa. Kitalah yang diutus untuk mencari jiwa mereka bagi Tuhan. Kita adalah orang yang pernah mengalami kasih Tuhan yang luar biasa. Rasul Petrus mengajarkan bahwa berita Injil itu tidak eksklusif tetapi bagi semua orang. Sebagai gereja, kita melihat sekeliling kita. Tuhan menyediakan orang (jiwa) tetapi banyak yang dibiarkan binasa. Seharusnya setiap hari kita mendoakan mereka, menyediakan waktu khusus untuk jiwa yang belum percaya. Kita seperti tidak merasa salah kalau tidak membawa jiwa. Gereja harus terus memberitakan Injil dengan semangat. Kiranya gereja bangkit berdoa untuk jiwa-jiwa yang belum percaya (anak didik, teman, rekan, saudara, dan tetangga kita). Percayalah Roh Kudus akan bekerja. Seringkali kita berkata susah banget. Terkadang kita hanya berkata, “Ayu ke gereja yuk”. Seringkali Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa, hanya kita tidak melihatnya. Lebih baik kita menggumuli satu jiwa daripada banyak tapi tidak dilayani. Yesus rela tidak mengkonsentrasikan (focus) untuk  jumlah yang banyak saja, tetapi kita dilatih untuk melayani jemaat yang kecil juga. Mungkin kita sering diajarkan PI (penginjilan) pribadi, tapi karena tidak dipratekkan kita lupa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kesimpulan

                Jangan sampai orang di sekitar kita binasa tanpa Yesus. Kita memang memerlukan lagi kobaran semangat untuk memberitakan Injil. Jagalah kesatuan gereja maka kita bisa selesaikan apapun juga. Bila ada masalah, kita atasi dengan baik maka gereja bisa mempraktekkan kehidupan yang bersukacita. Kita menyadari jiwa-jiwa itu disedikaan bagi kita. Tuhan pemilik jiwa, maka kita akan mengerti , kepada siapa dan kapan waktu yang tepat untuk menginjil dan Roh Kudus pun bekerja. Pengalaman Rasul Petrus merupakan pengalaman yang indah. Walau banyak rintangan (karena banyak jemaat yang rapuh mudah terpengaruh) marilah kita dengan mudah saling menyemangti. Sehingga dalam pemberitaan Inji, penyertaan Roh Kudus dinyatakan dan Injil diberitakan dengan semakin semangat. Para misionari menghadapi banyak tantangan dalam memberitakan Injil namun mereka semakin berkobar dan bergairah. Kiranya jemaat Tuhan bertumbuh dewasa , dalam mengatasi masalah dan memberitakan Injil kepada orang-orang yang Tuhan sedikan, bukan pada orang yang sudah percaya, belum dibaptis atau belum sungguh-sungguh  percaya. Tuhan sudah siapkan jiwa-jiwa dan dengan pertolongan Roh Kudus coba buktikan hal tersebut. Maka sebagai anak dan murid Tuhan, kita akan lebih bergairah. Mungkin di gereja tidak ada api dan gairah, tetapi melalu kelompok kecil dan kelompok penginjilan  pribadi, Tuhan akan memberikan jiwa kepada kita. Sadarilah ada jiwa yang Tuhan sediakan! Hari-hari ini menunggu kesaksian kita. Kalau belum ada berdoalah, agar mereka disediakan Tuhan untuk mendengarkan kesaksian kita.



Sunday, July 6, 2014

Misi : Ujung Tombak yang Tumpul


Pdt. Hery Kwok

Kisah 8:1b-8
1b Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
2  Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
3  Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
4   Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.
5  Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
7  Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
8  Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.

Pendahuluan

                Seorang filsuf Tiongkok terkenal pernah difilmkan tahun 2010 dan diperankan oleh Chow Yun Fat yakni Confucius (Kong Hu Cu, 551 SM – 479 SM). Ada 5 ajaran yang sangat ditekankan oleh Confusius, agar setiap orang yang mau hidup bahagia dan seimbang minimal harus mengamalkan 5 keutamaan yakni  :
1.   Ren (kemanusiaan)  contoh : peduli, empati, simpati, kasih sayang.
2.   Yi (moral, keadilan dan nilai atau harga diri). Dalam Yi terkandung pula zhong (loyalitas, kesetiaan dan kesadaran diri) dan shu (altruism, pemaaf dan tenggang rasa). Kebajikan ini sangat dikenal dengan ungkapan “Apa yang kita tidak ingin orang lain lakukan pada diri kita, janganlah kita lakukan pada orang lain”.
3.   Li (sopan-santun). Keutamaan ini mengajarkan tentang perilaku yang tepat dalam konteks hubungan yang berlainan, misalnya perilaku anak terhadap orang tua, rasa hormat terhadap otoritas. Keutamaan ini juga mengajarkan tentang perilaku yang sesuai dalam menjalankan upacara dan penyembahan (doa)
4.   Zhi (ilmu pengetahuan, kehati-hatian & kebijaksanaan yang akan dapat diperoleh dengan mempelajari kitab klasik & belajar dari orang lain)
5.   Xin (Integritas) yang menjadi dasar tumbuhnya rasa percaya (trust)

                Yang akan diangkat untuk tema hari ini hanya 1 yaitu ren (keutamaan kemanusiaan). Dalam diri manusia ada sesuatu yang penting yakni kepedulian, empati, simpati, rasa kasih sayang terhadap sesama. Ajaran ini ribuan tahun yang lalu. Tetapi kalau diperhatikan, apa  yang disampaikan tentang ren ini sudah pudar dalam perjalanan hidup manusia. Kalau bicara tentang kebutuhan manusia dengan manusia yang hilang maka kita membicarakan tentang kasih yang sudah dingin. Yesus Kristus pernah berkhotbah tentang akhir zaman di Mat 24:12 karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin. Artinya dunia ini dihuni oleh orang yang cinta diri sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain. Karena itulah Confucius menentang keutamaan untuk orang bahagia kalau orang itu hanya memperhatikan diri sendiri. Confucius tidak mengenal Yesus tetapi pengajaran yang disampaikan ada kemiripan dengan kebenaran firman Tuhan. Pada waktu orang mementingkan (kebutuhan) diri sendiri maka keutamaan dalam diri orang itu sudah hilang. Itu yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada orang bilang gereja adalah tempat dimana kita mendapat kasih satu dengan lain tapi yang dijumpai adalah ketidakpedulian satu dengan lain.  Gereja hampir tidak berbeda dengan tempat-tempat di dunia ini seperti mal. Kalau kita pergi ke mal dan bertemu dengan orang yang tidak dikenal kita tidak bertanya siapa namanya dan berkata, “Bu, senang bisa bertemu.” Kalau kita melakukannya, maka orang itu pergi ke satpam dan berkata, “Pa tolong saya! Orang itu mengganggu saya!” Sehingga kita datang ke mal, jalan ke suatu tujuan dan tidak peduli dengan orang di sekeliling kita.  Demikian juga di gereja, ada yang datang dan pulang tanpa dipedulikan oleh oleh hamba Tuhan, majelis dan aktivis. Saya pernah bergereja di daerah Jatinegara. Waktu saya hadir di gereja itu sampai pulang , tidak ada orang yang tahu. Lalu saat saya menjadi hamba Tuhan dan menceritakan bahwa saya dulu pernah berjemaat dan beribadah di gereja ini, mereka terkejut dan tidak menyangka. Dunia sedang mencetak , mengarahkan kita untuk hidup bagi diri sendiri. Ini sesuatu yang bermasalah dalam hidup bersama. Orang bisa hidup, tidak perlu orang lain, asal punya computer, laptop, hidup diam berjam-jam meskipun di sebelahnya ada orang lain. Dulu watu saya kecil, bila melewati orang lain akan berkata, “Permisi” lalu dengan badan sedikit membungkuk melewatinya. Sekarang kita jumpai orang berjalan dengan memegang gadget dan tidak peduli dengan orang lain. Itu sebabnya saat berbicara tentang “misi : ujung tombak yang tumpul”,kita bertemu dengan masalah yang paling dasar.

Misi = Bersaksi

                Kata misi di sini berbeda dengan misi dan visi yang disampaikan oleh calon presiden (capres) kita. Kalau misi yang disampaikan capres merupakan sesuatu yang dilakukan (sesuatu yang konkrit) dari visi (sesuatu yang abstrak). Misi dalam konteks kekristenan adalah bersaksi. Apa yang disaksikan oleh seseorang yaitu ia mengalami betapa Tuhan menyelamatkan dan mengampuni dosanya sehingga ia menjadi orang yang diselamatkan.  Keselamatan yang luar biasa, agung dan mulia dan membuat dia bersuka-cita dibagikan ke orang lain supaya orang lain juga mengalami sukacita itu. Itu sebabnya kalau kita baca dalam kitab suci, kita menemukan bagaimana para rasul diselamatkan , punya kepastian masuk ke sorga dan mereka menceritakan sukacita itu kepada orang lain.

Di dalam Perjanjian Baru ada 3 tingkat yang menekankan bagaimana orang bersaksi.
1.     Saat bersaksi ia membuat pernyataan kepada seseorang. Pernyataan itu berisi kebenaran-kebenaran  Injil secara lisan dalam bentuk fakta yang dialami. Misal Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu fakta yang disampaikan.  Pernyataan untuk menyatakan kebenaran tentang Injil yang membuka kenyataan tentang siapa manusia. Saat orang bersaksi, ia juga menyatakan bahwa ia juga orang berdosa. Jadi waktu menyatakan sebagai orang berdosa dan diampuni, dia sampaikan kepada orang lain dalam bentuk pernyataan.
2.     Sebuah hubungan antara si pemberita dengan orang yang diberitakan. Jadi waktu bersaksi saya menyampaikan fakta dan pernyataan kemudian membangun relasi (jembatan hubungan) dengan orang yang diberitakan untuk membawa kebenaran Injil. Membangun relasi ini disebut kepedulian karena ingin orang itu diselamatkan. Oleh sebab itu dalam bersaksi ada hal yang perlu dibayar (dikorbankan) dimana kita bertemu dengan orang itu, lalu dia pergi ke tempat di mana ia akan menyampaikannya.
3.     Aktualisasi diri (penjelmaan) kita terhadap apa yang dipahami yang hidup dan karakter saya yang diihat oleh orang lain. Bersaksi dalam bahasa sederhana berarti mengalami perubahan hidup dimana orang di sekeliling bisa melihat perbedaannya. Kalau begitu misi adalah sesuatu yang penting dan urgent yang harus dilakukan oleh orang yang dipercaya. Saya terkadang merasa heran, setelah orang makan di satu restoran dia cerita ke temannya, kalau mau makan kepiting soka di sana paling jempol. Saya heran karena masalah makanan yang dia rasa enak dia bagikan ke orang , padahal itu hanya makanan. Seharusnya keselamatan yang begitu luar biasa besar tidak menutup kita untuk menyampaikan ke orang lain tentang karya Allah dalam hidup kita.

Mengapa misi menjadi ujung tombak yg tumpul

Misi yang harusnya menjadi ujung tombak yang tajam menjadi tumpul karena :

1. Tujuan keselamatan yang Allah kerjakan dalam diri kita kurang dihayati/dihidupi dlm diri kita. Apa Tujuan Allah menyelamatkan kita? Salah satunya adalah supaya kita menyaksikan kebaikan Allah kepada setiap orang sehingga orang tersebut mengalami kasih Allah yg besar itu. Kis 8:1b,4-6 Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Kita menemukan orang-orang yang diselamatkan pada Kis 8 begitu bersemangat bersaksi. Dan kalau diperhatikan mereka bersaksi bukan dalam kondisi makmur dan tidak mengalami kesusahan.  Mereka bersaksi justru dalam penganiayaan fisik dan mental oleh orang Romawi dan orang yang menentang Tuhan Yesus. Sering orang Kristen berkata, “Nantilah saya akan melakukan misi setelah keluarga mapan, oke, anak-anak tidak perlu lagi diperhatikan”. Ungkapan itu akan membuat kita tidak pernah bermisi sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. Padahal Alkitab berbicara tentang mereka yang bersaksi tentang Tuhan Yesus di tengah-tengah yang lain. Alasan ujung tombak tumpul karena kepedulian terhadap sesama sudah dingin. Kalau kita mengetahui harga manusia,,kita akan pergi kepada mereka yang belum percaya. Saya terkadang tercengang saat Yesus membandingkan antara dunia dengan harga orang . Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? (Mat 16:26).  Ini merupakan perbandingan yang hebat. Kalau saya memperhatikan debat capres yang coba menggambarkan Indonesia yang kaya, ini merupakan pernyataan yang tepat.   Contoh : emas di tanah Papua tidak habis dan jumlahnya luar biasa kalau dikonversi ke dalam rupiah.  Jadi bagaimana mungkin manusia dibandingkan dengan kekayaan alam, itu saja tidak sebanding. Apalagi kalau bicara laut, ikan, kekayaan dunia hebat sekali. Jemaat mula-mula tidak pernah tahan hatinya untuk tidak menceritakan Injil agar jangan orang-orang mati dengan sia-sia. Kalau kepedulian kita semakin dingin, di situlah kita tidak lagi bermisi. Ada artikel tentang Ani,gadis kos yang sedang mengerjakan tugas akhir tinggal di kosnya yang banyak penghuninya. Satu malam ia mendengar suara seperti tangisan bayi yang merintih minta tolong dari balik jendelanya. Imaginasinya : jangan-jangan ada orang yang menaruh bayi di sana dan meninggalkannya atau jadi-jadian (setan). Lalu ia berdiam dan mendengarkan lagi. Suara yang seperti bayi sekarang seperti suara kucing yang kesakitan. Dia tahu di kosnya banyak kucing. Sehingga ia biarkan saja dan mengerjakan tugas akhir sampai pagi. Esok hari dia bangun dan mendapat informasi dari pembantu di tempat kosnya bahwa ada anak kucing yang tercebur dan menangis di sebelah jendela kamarnya. Karena tidak ada yang menolong, maka anak kucing itu mati terlelap di got. Ani merasa bersalah karena tidak punya kepedulian terhadap mahluk yang sedang membutuhkan bantuan. Binatang yang membutuhkan bantuan , berteriak, apalagi manusia yang sedang menuju neraka.  Mari kita pikirkan tentang kepedulian tentang sesama. Kitab suci yang bila dibaca dengan baik punya titik dimana tujuan Allah menyelamatkan kita, yaitu untuk menyaksikan kasih Allah . Allah bisa memakai apa saja  , tapi Dia memakai kita untuk memberitakan tentang kesalamatan. Seperti juga Allah memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi orang-orang lain. Coba kita hayati dan benar-benar hidup dalam keselamatan di dalam kita, maksudnya keselamatan bukan sekedar konsep dan pengetahuan. Konsep hanya ada di kepala kita. Tapi kalau keselamatan dihidupi, betapa luar biasanya untuk memberikan gairah untuk menyaksikan karya keselamatan Allah.

2.  Mengabaikan perintah Tuhan untuk mengabarkan Injil sebagai Amanat Agung. Waktu Tuhan mau naik ke sorga Dia berkata, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20)
          Seorang hamba Tuhan berkata,”Kalau kita tidak memberitakan njil maka kita berdosa walau secara pasif”. Dosa pasif artinya kalau tidak melakukan (menyampaikan) , sepertinya tidak apa-apa. Yang penting saya tidak membunuh orang, bergosip, melakukan praktek bisnis yang kotor atau tidak melakukan yang jahat. Yeremia ayat 48:10   Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah! Artinya saat Tuhan menyuruh orang namun tidak dilakukan , maka orang itu menjadi terkutuk. Jangan berpikir, waktu lalaikan perintah Tuhan kita tidak bersalah. Nabiah Debora pada  Hak 5:23 berkata,   "Kutukilah kota Meros!" firman Malaikat TUHAN, "kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan."  Ada ilustrasi tikus dan perangkap tikus. Waktu tikus mengintip sebuah rumah, si petani pemilik rumah membeli perangkap tikus. Karena tahu itu berbahaya, ia menceritakan pada teman-temannya agar tidak terperangkap dan meminta kepada teman-teman untuk memberitahukan kepada yang lainnya. Ayam, kambing dan sapi yang diminta untuk memberitahu ke teman-teman lainnya, menolak untuk melakukannya. Mereka mengabaikannya karena bagi merasa tidak mungkin dengan badan yang lebih besar dari tikus dapat terperangkap. Suatu malam, istri sang petani mendengar bunyi di dalam perangkat tikus sehingga ia datang untuk melihat binatang apa yang ada. Karena gelap, si istri tidak tahu bahwa ada ular berbisa dan mematuk tangan si istri sehingga jatuh sakit. Petani yang melihat istrinya sakit, mencoba untuk membuat masakan. Ayamnya diambil dan dipotong untuk diberikan ke sang istri. Kemudian saudara-saudara  petani mendengar berita ini dan datang membesuk. Maka petani mengambil kambing untuk disajikan ke saudara-saudaranya. Ternyata istrinya tidak sembuh bahkan mati sehingga orang-orang sekampung datang untuk menyatakan belasungkawa. Seusai tradisi, ia harus menyediakan makanan. Melihat orang banyak datang, maka ia mengambil sapi dan memotongnya.  Saat tikus bilang agar hati-hati terhadap perangkap tikus, tidak ada yang memperhatikannya. Ayam, kambing dan sapi berpikir tidak akan mati, namun ternyata dipotong dan mati. Jadi jangan berpikir dosa pasif tidak berakibat pada kita.

Kesimpulan


                Apakah kita mau menjadi gereja yang tidak mau menjalankan Amanat Agung (misi) dengan baik? Apakah kita hanya mau menjadi Gereja yang pentingkan diri sendiri? Kiranya pertanyaan ini dijawab dalam hati. Kalau misi itu sesuatu yang luar biasa untuk dikerjakan, jangan menjadikan ujung tombak (misi) yang tajam menjadi tumpul! 

Saturday, June 28, 2014

Allah Mencarimu, di Manakah Engkau?


Pdt. Gunar Sahari

Kej 3:1-10
1   Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4  Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5  tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
6   Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
7  Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
8  Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
9   Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"
10  Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."

Maz 139,7-12
7   Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?
8  Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.
9  Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,
10  juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.
11  Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,"
12  maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Pendahuluan

                Ada pepatah mengatakan, “Mau jadi apakah anda nanti tergantung dengan siapa anda berjalan hari ini”. Jadi kalau mau jadi pengusaha (pendeta) di ujung perjalanan anda, berjalanlah dengan pengusaha (pendeta). Demikian juga dengan Adam dan Hawa kalau mau terus berada bersama dengan Tuhan, maka seharusnya mereka terus menerus berjalan dengan Tuhan. Namun kenyataannya berbeda. Pada pasal 1 dan 2, mereka berjalan bersama Tuhan, namun pada pasal 3 mereka berjalan dengan iblis sehingga hubungan manusia dan Tuhan terputus. Maka jangan sekali-kali melibatkan iblis dalam pembicaraan apapun juga karena iblis memberi pengaruh dalam hidup kepada kita. Di samping itu ada juga pepatah yang mengatakan, “Adalah penting bagi kita untuk mengenal siapakah sesama kita tetapi yang lebih penting adalah mengetahui siapakah diri kita (seringkali banyak waktu kita habiskan untuk memikirkan tentang tentangga kita atau orang lain namun kita tidak tahu diri kita sendiri) dan adalah penting mengetahui diri kita, tetapi lebih penting lagi untuk mengetahui siapa Allah kita (karena akan mendatangkan perubahan)”. Pengenalan akan Allah mempunyai dampak besar dalam diri kita. Jadi dari kedua pepatah tersebut, maka seharusnya kita (terus) berjalan bersama Tuhan dan kita mengetahui siapakah Allah kita.

Allah mencarimu!

                Allah mencari manusia, namun kontrasnya manusia bersembunyi. Allah adalah Allah yang Maha Tahu. Pasal 3 ada peristiwa yang sangat tragis dibanding pasal 1 dan 2. Pada saat penciptaan Allah melihat ciptaanNya baik (pasal 1 ayat 4, 10, 12, 18, 21, 25, pasal 2:9 dan sangat baik pasal 1:31). Tetapi pasal 3 ternyata yang baik pada pasal 1 dan 2 berubah total karena manusia jatuh dalam dosa dan bergaul dengan iblis. Padahal Adam dan Hawa berada di taman Eden yang indah dengan beraneka buah-buahan yang menjadi kebutuhan pokok manusia. Mereka boleh makan apa saja, hanya 1 yang tidak boleh dimakan (Kej 2:17). Tapi justru mereka jatuh di tempat yang sangat indah itu. Sedangkan di Perjanjian Baru (Matius 4:1-11, Yesus setelah 40 hari dan malam berpuasa di padang gurun lalu dicobai oleh iblis sebanyak 3 kali. Yesus berada di tempat yang sulit tetapi Dia sanggup memenangkan godaan. Adam dan Hawa berada di tempat yang menyenangkan dan indah tetapi justru mereka kalah. Artinya kita harus berhati-hati berada di tempat yang nyaman (comfortable zone termasuk di gereja). Kalau di gereja suasananya enak (AC yang sejuk), ada jemaat yang  tertidur. Hati-hati ada di tempat yang aman, usaha yang berjalan baik karena kemungkinan kita tidak lagi bergantung pada Tuhan tapi bergantung pada diri sendiri. Yang terjadi kemudian manusia jatuh dan mengalami dosa dalam banyak hal yang dialami manusia.

                Seorang guru Sekolah Minggu (SM) yang memberikan tugas kepada anak-anak SM untuk melukiskan seperti apa Allah. Ada anak yang melukis langit dan bumi karena Allah itu Sang Pencipta. Ada yang mengambarkan telapak tangan karena Allah menciptakan semua ini, Allah yang berbuat, berkarya dan terus bekerja. Ada juga yang menggambar Allah sebagai mata yang besar sekali, dengan alasan Allah melihat dimana pun kita berada. Sembunyi di manapun juga, Allah pun tahu. Termasuk Adam dan Hawa.        Ada juga artikel tentang seorang pengacara yang sangat terkenal. Di belakang meja kantornya ada tulisan “God is nowhere” (Allah tidak berada di manapun juga) dan ia berkata , “Oleh karena itu jangan berdoa”. Sang pengacara punya seorang anak berusia sekitar 4-5 tahun. Anaknya datang ke  kantor ayahnya dan diminta untuk menyalin tulisan yang ada di belakang mejanya. Secara perlahan anaknya mengeja dan menulis kalimat tersebut dan kemudian memberikan kepada ayahnya. Sang ayah pun membaca tulisan anaknya dan terkejut. Ternyata walau semua huruf ada, tapi kalimatnya menjadi berbeda maknanya karena sang anak menulis “God is now here” (Allah sekarang ada di sini).  Anak yang baru bisa mengeja itu memberikan rasa takut kepada kita dengan tulisannya bahwa Allah selalu ada di sini. Allah tahu persis pergumulan gereja dan rumah tangga kita. Allah yang dikatakan “tidak tahu dimana” tapi “now here” (ada di sini). Kalau dikatakan “Allah mencarimu” sebetulnya Allah tidak pernah kehilangan, karena Allah ada di sini. Dengan yakin “Allah ada disini” banyak hal yang bisa dikerjakan karena Allah terus memberi motivasi kepada semua orang untuk terus melayani. Keberadaan Allah juga bisa dilihat pada Maz 139:7-12.

                Kalau kita memperhatikan kasus di kitab Kejadian saat Tuhan bertanya “Di manakah engkau?”, seakan Tuhan tidak tahu apa yang terjadi pada Adam dan Hawa karena memang lebih indah diceritakan seperti itu. Padahal Allah tahu persis (bukan karena Dia tidak tahu) tapi supaya manusia mengatakan yang sebenarnya. Setiap kali berdosa, manusia cenderung tidak mengaku dan mencari kambing hitam. Misalnya Adam menjawab pertanyaan Allah tentang apakah apakah ia memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." (Kej 3:12) dan saat Allah bertanya kepada Hawa,” "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Dijawab "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kej 3:13).  Ada sebuah artikel tentang seorang pendeta yang berkhotbah pada sebuah KKR dan mengatakan, “Bapak-ibu yang dikasihi Tuhan. Tuhan kasih tahu saya bahwa di sini ada 5 orang yang berselingkuh dengan wanita lain. Bila yang bersangkutan tidak mengaku dan memberi persembahan Rp 1 juta maka akan saya umumkan.” Ternyata setelah diedarkan kantong kolekte dan dihitung ternyata ada 20 amplop berisi Rp 1 juta! Ada juga yang diamplopnya tertulis, “Pak maaf baru Rp 500.000 dulu, sisanya minggu depan.” Ada asumsi dosa lebih kecil dari realitanya. Adam dan Hawa sudah berdosa bukan sekedar mereka makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat saja, tapi ada banyak hal yang dilakukan dan ditutupi dan itu mendatangkan dosa. Asumsi lain : kebenaran selalu lebih besar dibandingkan realita. Kalau dikatakan ada 100 orang benar di tempat ini realitanya tidak ada 100 orang. Contoh lain : waktu Abraham bertanya kepada TUHAN jumlah orang yang benar di Sodom Gomora (Kej 18) bagaimana bila ada 50 orang benar (ayat 24), kemudian diturunkan menjadi 45 orang (ayat 28), 40 orang (ayat 29), 30 orang (ayat 30) dan akhirnya diturunkan menjadi 10 orang (ayat 32).  Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita melakukan banyak kesalahan (dosa) tetapi anugerah Tuhan lebih dari semuanya ini. Allah adalah pribadi yang peduli kepada Adam dan Hawa (manusia) sekalipun sudah jatuh dalam dosa. Maka pertanyaan “Di manakah engkau?” merupakan bukti kepeduliaan Allah kepada orang yang sedang dicari. Biasanya orang yang sudah dikecewakan, tidak peduli lagi. Saat Adam mengatakan, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."  implikasinya , ia menyalahkan Allah. Seakan-akan Adam mengatakan, “Coba kalau Allah tidak memberikan Hawa”. Demikian juga Hawa yang menyalahkan ular (seakan-akan Hawa berkata, “Coba kalau tidak ada ular, aku tidak jatuh dalam dosa”). Mudah bagi kita untuk menyalahkan orang lain dan iblis. Ada sms yang sering kali beredar judulnya “iblis minta pensiun dini”. Dikatakan, iblis berkata,”Hai Lucifer, aku mau pensiun dini karena pekerjaanku sudah digantikan manusa. Dulu aku menggoda mereka untuk korupsi sekarang mereka lebih ahli dan justru mereka pamer ke mana-mana. Aku disalah-salahkan dan yang enak manusia.” Terlalu sering kita menyalahkan orang lain, iblis dan Allah atas perbuatan yang kita lakukan. Namun tidak ada indikasi Allah begitu marah kepada Adam dan Hawa. Allah bertanya kepada Adam, "Di manakah engkau?", "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" dan kepada Hawa "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Adam dan Hawa memberi alasan. Tetapi iblis tidak ditanya Tuhan alasan ia menggoda Hawa. Karena Dia sudah tahu jawaban iblis, “Tuhan lupa ya, pekerjaanku adalah menggoda manusia agar jatuh dalam dosa.” Sehingga jangan pernah bergaul dengan iblis. Iblis yang paling “baik” tetap jahat. Tidak ada jin atau tuyul yang baik. Namanya tuyul tetap saja tidak baik. Jadi iblis tidak perlu dikonfirmasi.

                Maksud Tuhan mengkonfirmasi agar manusia mengaku bahwa ia bersalah. Apapun kesalahan kita, pengakuan itu yang sangat diperlukan. Kita bisa berdosa dengan berjuta cara, namun hanya ada 1 cara untuk mendapatkan pengampunan yaitu pengakuan. Jadi Tuhan diskusi dengan Adam dan Hawa agar mereka mengakuinya. Apapun kesalahan kita, Tuhan merindukan agar kita mengakui dosa kita. Asumsi dosa itu lebih sedikit dibanding realtianya. Ada banyak dosa yang kemungkinan belum kita akui. Tapi Tuhan peduli dan mencari dan menginginkan kita mengakui. Allah mencari kita, karena Dia ingin menyelesaikan masalah itu. Setelah jatuh dalam dosa, mereka sembunyi tetapi Allah mencari mereka sampai menemukannya. Allah juga mencari Yunus sampai menemukannya. Yunus disuruh khotbah ke Niniwi namun dia ingin lari sejauhnya yakni ke Eropa. Dari Israel. Tetapi Allah mencari dan menemukan dia. Itu kepedulian Allah kepada manusia. Saya senang dengan kalimat di sebuah buku teologi, “Yesus yang ada di atas turun ke bawah untuk mencari saya, dan ibu-bapak sekalian yang ada di dunia ini  agar kita bisa naik ke atas dan dipermuliakan.” Itu beda Kristen dan agama. Agama adalah cara dan usaha manusia mencari Allah, tetapi kekristenan adalah cara Allah mencari manusa. Banyak cara orang yang mencari Allah. Satu orang punya cara sendiri untuk mencari Allah. Kalau ada 100 orang, maka ada 100 cara untuk mencari Allah. Allah punya 1 cara untuk mencari miliaran manusia. Padahal manusia menggunakan miliaran cara untuk mencari Allah. Kekristenan berbeda sekali. Allah pasti sanggup mencari kita. Walau persoalan dan pergumulan mungkin coba kita tutupi, tetapi Allah sanggup mencari kita sekalian. Apakah kita seperti Adam dan Hawa yang sedang sembunyi karena kegagalan dan dosa? Allah peduli, memperhatikan dan menemui kita dan memberikan jalan keluar. Pada ayat 15 dikatakan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Manusia diberi pengharapan. Manusia jatuh karena iblis, namun Tuhan memberikan penghiburan , “Jangan takut dan khawatir”. Di kampung anak kecil suka berkelahi. Ada anak nakal yang memukul saya sehingga saya mengadu ke kakak. Kakak saya berkata,”Tenang saja” maka saya jadi tenang. Seakan-akan dia berkata, nanti aku akan selesaikan. Pernyataan Allah membawa kita ke pemikiran tentang keselamatan. Ini pertama kali Allah mendeklarasikan adanya keselamatan (mengevakuasi dan menyelamatkan kita). Jangan pernah takut kalau kita dicari Allah.  Allah sanggup mencari kita. Petemuan kita dengan Allah itu jalan keluarnya! Allah tidak bermasalah dengan kita yang punya masalah tapi tidak mau datang dan ditemui Allah. Allah adalah pribadi yang selalu memberikan jalan keluar apapun masalah dan persoalannya. Allah sangat proaktif mencari. Allah pribadi lepas pribadi bertemu dengan kita.


                Ada kisah menarik. Suatu saat ada perlombaan menghias gereja saat natal. Pemenangnya adalah orang (tim) yang mendekorasi gereja dengan patung Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Tetapi setelah dirayakan , patung Yesus tersebut hilang. Tahun depannya, ada perlombaan yang sama dan kali ini bayi Yesus dilapis emas sehingga menarik luar biasa. Awalnya perlombaan ini akan dibatalkan karena khawatir akan hilang. Namun orang (tim) yang mendekorasi berkata kepada panitia untuk tetap diadakan perlombaan dekorasi dan ia mengatakan, “Nanti kalau hilang lagi, ia siap bertanggung jawab.” Tim ini ternyata memang lagi. Setelah perayaan patung Yesus hilang lagi! Tim penyandang dana mengatakan , “Kita kehilangan banyak”. Untuk tahun ketiga, perlombaan ini dibatalkan. Tetapi orang yang mendekorasi lagi-lagi berkata, “Pa tolong diadakan lagi. Kita akan pasang GPS di patung Yesus untuk cari tahu siapa yang curi.” Ternyata setelah menang, lagi-lagi patung Yesus hilang! Ternyata pertanyaannya, yang hilang itu sebenarnya patung Yesus atau kita? Yang hilang kita! Bukankah yang dicari kita? Maka GPS diganti menjadi God Positioning System supaya Allah bisa menemukan kita karena ada GPS  di dalam hidup kita. Sehingga kita akan ditemukan dimanapun kita berada. Tidak ada satu orang pun dari kita yang terhilang. Ada yang bersembunyi karena persoalan, namun Allah tetap mencari kita. Bagi yang menutupi persoalan, Allah mencari kita. Adam dan Hawa menggunakan daun pohon ara untuk menutupi kesalahan tetapi Allah berbeda dengan manusia. Allah bisa marah luar biasa karena mereka tidak taat kepadaNya. Untuk menyelamatkan manusia harus ada pengorbanan, dan Allah membuat “pakaian dari kulit binatang” untuk menutupi dosa kita. Allah mencari kita untuk diselamatkan  dan diberkati.  

Sunday, June 15, 2014

Belajar dari Keluarga Yosua


Ev. Susan Guo

Yosua 24:14-15, 29
14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.
15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
29 Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun.

Pendahuluan

                Hari ini kita memperingati hari ayah internasional dan tema hari ini adalah “Belajar dari Keluarga Yosua”. Beberapa minggu lalu ada sebuah berita yang unik. Seorang kakek berusia 70an meninggal di salah satu kamar hotel. Setelah diperiksa dokter, ternyata dia meninggal akibat mengkonsumsi obat kuat sebelum bermain dengan seorang wanita tuna susila. Sangat tragis sekali, orang setua ini yang seharusnya memberi dan menabur contoh yang baik tetapi didapati meninggal karena hal yang tidak baik. Orang-orang yang mengenalnya akan mengenang peristiwa itu sehingga keluarga dekatnya (orang tua, istri, anak dan cucunya) akan dicemooh. Contoh : “Oh itu  yang engkongnya meninggal karena obat kuat”. Tentu hal ini sangat menyedihkan dan mengecewakan orang-orang dekatnya. Dari sini, seharusnya kita belajar agar tidak melakukan hal seperti itu. Kita tidak boleh seperti dia.
                Beberapa tahun yang lalu, saat saya bersama mu shi berjalan-jalan sore di Ancol ada pemandangan yang tidak biasa. Seorang kakek berusia sekitar 65 tahun sedang bercengkerama mesra dengan seorang gadis berusia sekitar 22 tahun yang bukan merupakan cucunya. Isyarat tubuh sang kakek menunjukkan perlakuan mesra yang tidak sepantasnya kepada sang gadis. Hal tidak seharusnya ini mungkin biasa terjadi di lapangan. Namun kita akan belajar hal yang benar dari keluarga Yosua.

3 Hal yang Dipelajari dari Yosua

                Sebagai pemimpin bangsa Israel dan keluarganya, Yosua telah memimpin dengan baik. Walau di dalam Alkitab tidak banyak diceritakan tentang Yosua dan keluarganya , tetapi Yosua bukanlah pribadi yang sembarangan. Sejak muda sampai tua, ia sangat baik secara rohani (moral dan mental). Buktinya dapat dilihat di ayat 24:14-15 dan 29 yang merupakan perkataan-perkataan Yosua menjelang meninggal. Ada 3 poin yang bisa kita pelajari :

1.     Tantangan terakhir.

Apa yang Yosua katakan merupakan suatu tantangan dan warisan terakhir bagi orang Israel sebelum ia meninggal. Ia tidak punya banyak kesempatan lagi sehingga pada pasal sebelumnya dikatakan bahwa ia mengumpulkan tua-tua, ayah-ayah dan pemimpin Israel. Pada ayat 15, ia mengatakan, “jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah”. Itu adalah pernyataan sekaligus tantangan Yosua kepada Israel yang selama ini “turun-naik” dalam mengikuti Tuhan. Sebelum mati, ia ingin memberi kepastian (konfirmasi) agar Israel memilih Allah yang sejati. Ini pilihan yang diarahkan. Dengan pilihan yang diberikan Yosua, bangsa Israel harus berpikir dan menyelidiki secara pribadi (jangan dengar kata orang, bukan karena tradisi, keturunan, tapi pertobatan pribadi). Namun sayangnya kekristenan di mana pun merupakan kumpulan orang Kristen tradisi di mana pertobatan, perjumpaan, iman pribadi kepada Allah tidak jelas sama sekali. Ke gereja hanya dengar khotbah begitu saja dan pulangnya tidak ada yang membuatnya termotivasi untuk berbuat apa-apa. Dari generasi ke generasi, secara pribadi tidak berjumpa dengan Tuhan. Ini berbahaya! Yosua ingin agar secara pribadi, setiap bangsa Israel menyelidiki hati masing-masing : apakah benar-benar sudah menerima Tuhan? Karena secara kolektif , bangsa Israel adalah umat Allah tetapi secara pribadi apakah benar orang pilihan? Yosua memberi tantangan kepada umat Israel. Dalam kehidupan sekarang, tantangan dan pertanyaan apa yang akan diberikan kepada anak-cucu yang mengorek hati mereka agar mereka benar-benar mengikut Tuhan. Seorang Ibu yang berada mempunyai 13 orang anak (4 perempuan dan sisanya laki-laki). Sebelum meninggal, dia sudah dinasehati untuk membuat warisan yang jelas dan tertulis agar nantinya anak-anaknya tidak ribut dan pecah. Sang ibu berkata tidak perlu karena ia bersama suaminya yang mencari harta, untuk apa mengurus pembagian harta mereka (biarkan saja kalau anak-anaknya ribut). Rupanya dia kecewa, dalam kondisi sehat saja anak-anaknya  sudah meributkan harta warisan. Apalagi saat ia sakit! Ternyata 3 tahun lalu dia meninggal dan anak-anak serta para mantunya benar-benar ribut. Apa tantangan (warisan, pertanyaaan) terakhir yang akan kita berikan kepada orang-orang di sekeliling kita?

2.    Memprioritaskan hal Rohani

    Dalam bahasa sehari-hari Yosua berkata, “tetapi sekarang aku akan kasih tahu, aku sendiri pilih apa. Aku dan seisi rumahku , kami akan beribadah kepada Tuhan (Yahwe, Yehova, Allah). Yosua adalah kepala keluarga yang memprioritaskan hal rohani. Kalimat ini mungkin klise di telinga kita, namun hal yang dianggap sepele seringkali tidak dilakukan dalam hidup kita. Yosua mengambil otoritas dia sebagai ayah, suami, kakek, untuk mengumpulkan ,mengarahkan dan membangun keluarga untuk memprioritaskan hal-hal yang rohani. Yosua dan seisi rumahnya beribadah kepada Tuhan! Istri, anak, menantu, cucu semua beribadah kepada Tuhan. Bagaimana dengan keluarga Kristen hari ini? Apakah kita memprioritaskan hal rohani? Banyak orang tua yang memaksa anaknya belajar, tetapi terkadang tidak seimbang untuk tidak memaksa anaknya beribadah kepada Tuhan. Terkadang anak dipaksa dalam memilih jurusan di SMA atau universitas walau tidak sesuai hatinya, tetapi kalau (tidak) pergi ke gereja, dikatakan itu hak asasi masing-masing (terserah). Padahal itu adalah hal penting yang harus diarahkan sejak kecil karena orang tua adalah mandataris Allah untuk mengarahkan keluarganya dan itu bukan masalah HAM. Selama menjadi anak kita, ia harus diarahkan, dipupuk, dipelihara, dibangun dalam jalan yang benar untuk beribadah. Saat menghadai banyak ulangan, banyak orang tua yang mengatakan, “Tidak usah ke gereja, belajar saja!” Seolah-olah pergi ke gereja akan menggangu belajar. Ini salah. Kita tidak melihat buahnya sekarang, tapi akan terlihat nanti. Kalau kegiatan gerejawi (seperti latihan) bisa diatur ulang bila ujian, tetapi perintah untuk tidak ke gereja dan beribadah merupakan hal yang sangat salah. Kita harus meletakkan konsep nilai yang benar kepada anak kita sejak kecil. Perintah untuk tidak beribadah berkonotasi beribadah itu tidak penting dan itu akan mewarnai cara belajar anak kita, sikap hidup, keputusan yang akan diambilnya. Itu bukan kesalahan anak yang memupuk nilai  dan memprioritaskan hal yang salah. Ibadah (avodah atau abodah dalam bahasa Ibrani) artinya hormat, taat, tunduk kepada Tuhan. Pergi ke gereja merupakan suatu seremoni yang tidak bisa ditinggalkan, tapi yang lebih penting adalah harus ada sikap ibadah yang ditanamkan. Ibadah tidak akan  berguna kalau hanya sebagai aspek seremonial. Dengan sikap ibadah yang benar, maka kita akan  tunduk kepada Tuhan melalui puji-pujian, firman dll. Sehingga kalau kita tidak mengajar anak sikap beribadah yang benar dan hanya menganggap seremoni saja, maka ibadah akan dihapus dari tata nilai anak kita dan  itu berbahaya!

3.     Konsistensi Iman

     Yosua 24:29 Dan sesudah peristiwa-peristiwa ini, maka matilah Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, ketika berumur seratus sepuluh tahun. Sesuah peristiwa-peristiwa ini, Yosua seakan-akan berkata, “kamu yang akan jadi saksi atas ucapanmu”, lalu matilah Yosua bin Nun ketika berumur 110 tahun. Berarti ia memiliki konsistensi iman dan berkesinambungan terus-menerus (dari muda sampai tua dan meninggal).  Iman Yosua dapat kita lihat pada peristiwa runtuhnya tembok Yerikho saat bangsa Israel mau memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua. Ia mengajak bangsa Israel mengelilingi tembok Yerikho sekali selama 6 tari dan pada hari ke tujuh 7 kali dan akhirnya runtuhlah tembok Yerikho. Kalau imannya tidak kuat, Yosua bertanya, “Untuk meruntuhkan tembok Yerikho kenapa hanya berkeliling saja?”. Itulah peran seorang pemimpin untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya untuk percaya dan melakukan hal itu. Jauh sebelum itu, hanya Yosua dan Kaleb (2 dari 12 pengintai yang diutus ke tanah Kanaan) yang membawa berita yang optimis yang muncul dari iman yang percaya. Mereka yakin bahwa Allah yang mengutus dan membawa ke tanah Kanaan bukan Allah yang menipu. Tetapi 10 orang pengintai lainnya membuat takut dengan berkata bahwa “Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."(Bil 13:31), "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya . Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami." (Bil 13:32-33).” Mereka lupa bahwa mereka akan diberikan tanah Kanaan. Tetapi Yosua dan Kaleb berkata, “Janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka. (Bil 14:9) " Itu Yosua saat usianya masih muda. Apakah kita punya konsistensi iman dari muda dan terus-menerus ikut Tuhan? Dalam perjalanan hidup mungkin kita gagal, tetapi dengan konsistensi itu, kita balik lagi percaya Tuhan. Jadi jangan waktu muda aktif tetapi setelah tua meninggalkan Tuhan.

Kesaksian

                Papa saya konsisten dalam iman percaya kepada Tuhan. Saya sangat mengidolakan papa saya. Tetapi suatu kali ia pernah gagal. Waktu saya remaja, papa selingkuh dengan orang lain dan itu membuat saya marah dan benci. Saya paling meledak dalam keluarga dan tidak bisa terima hal ini. Sehingga saya bilang ke mama saya, “Ma tinggalkan dia. Kita saja anak-anak hidup berempat. Tidak usah urus dia”. Bagi saya, ia tidak hanya menghianati mama saja tapi juga saya. Lalu saya bilang, “Mama diajak ngomong tidak mau jawab. Ambil keputusan sekarang!”. Hari itu mama diam saja dan baru 1 minggu kemudian, mama saya berkata, “Kalau papa kamu salah, kita belajar untuk menolong dia supaya dia tidak terus jatuh dalam kesalahannya”. Saya menanggapinya,”Terserah mama. Tapi kalau saya, baju, celana panjang, makan-minuman dia bukan urusan saya lagi”.  Memang sejak SD VI saya sudah biasa cuci baju, pergi ke pasar karena saya diajar mama begitu. Tetapi dengan peristiwa itu, saya berprinsip “Pokoknya mulai hari ini saya tidak mau urusin hal tentang dia”. Mama yang berkata, “Mama yang akan urus”. Hari itu saya bilang, “Mama saya bodoh amat. Kalau saya perempuan saya tidak mau begitu.” Selama 3 tahun yakni saat  SMP kelas 1 sampai kelas 3, walau hidup serumah dengan papa, saya tidak mengurusi makanan-pakaian papa. Saya anggap dia tidak ada di antara kami walau secara fisik ada. Hati saya tawar dan dingin. Saya tidak marah lagi. Namun di kelas 1 SMA saya bertobat dan belajar mengampuni papa saya. Padahal waktu ketahuan selingkuh, papa hanya pacaran saja. Begitu papa melihat betapa bijaknya mama, ia sangat menyesal. Ia melihat sikap mama yang mengampuni yang luar bisa. Waktu 1 SMA saya baru bisa mengampuni papa. Awalnya saya bilang, “Saya benci papa”. Papa saya hanya diam. Semua perasaan saya keluar. Papa saya menangis, sehingga saya ikut menangis. Papa berkata, “Setiap malam, Papa nangis sejak kamu tidak urus papa lagi. Papa tidak membencimu, karena tahu papa salah”. Sampai mati ia tidak melakukan kesalahan yang sama. Ada saat di mana kita gagal. Kegagalan itu tidak membuat kita tertidur dalam kegagalan. Sebagai ayah , suami, istri , anak kita ada kegagalan. Mari kita tidak hidup dalam kegagalan. Kita belajar dan bangkit. Karena Yosua meninggalkan perlajaran yang luar biasa, sampai meninggal, ia hidup dalam iman dan pilihannya tidak salah! 

Monday, June 9, 2014

Generasi X, Y , Z

Generasi X, Y, Z

Ev. Lie Wei Jien

Lukas 16:1-8
1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.
2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.
3  Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.
4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.
5  Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?
6  Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.
7  Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

8  Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

Generasi X, Y dan Z

                Dalam sejarah umat manusia, generasi berubah setelah sekian tahun. Dahulu lamanya satu generasi antara 40-50 tahun sehingga orang tua dan anak berada dalam 1 generasi. Kemudian perubahan lamanya satu generasi bertambah cepat.  Sekarang generasi berubah hanya dalam waktu 10 tahun sehingga generasi orang tua sudah pasti bukan generasi anaknya. Orang-orang yang ada saat ini, berasal dari beberapa generasi yakni :
1.     Generasi yang mengalami Perang Dunia II. Ini adalah generasi yang sudah lama berlalu.
2.     Generasi sesudah PD II dikenal sebagai generasi baby-boomer (banyak anak kecil).  Pada jaman perang banyak orang mati,  tapi setelah perdamaian tercapai terjadi banyak kelahiran.  Umur mereka sekarang 48-65 tahun. Ini adalah orang-orang yang harus membangun negara setelah perang. Saat kecil mereka harus bekerja keras. Tetapi makin lama ekonomi mereka membaik.
3.     Generasi X yaitu anak-anak  dari baby-boomer. Mereka lahir tahun antara 1963-1980. Umurnya sekarang 30-50 tahun. Mereka adalah generasi yang sangat cuek. Tidak mau mengurus orang, seringkali menghindari tanggung jawab. Tidak punya komitmen, tidak focus pada sesuatu. Seringkali bertanya mengapa harus saya? Karena seperti itu, generasi seperti ini sering mengalami perceraian. Meskipun begitu mereka bisa menerima perbedaan (bangsa dan agama dll). Bahkan mereka bisa menerima orang-orang yang mempunyai orientasi seksual yang berbeda seperti LGBT (lesbian, gay, bisex, transgender) yang ditolak oleh generasi yang lebih tua.
4.     Generasi Y yang disebut generasi yang malas. Mereka lahir tahun 1981-1994. Jadi saat ini yang berumur 20-30 tahun masuk generasi ini. Mereka punya pikiran, “Kalau bisa tidak kerja kenapa harus kerja?” Mereka adalah generasi yang berutang. Bukan utang sembarang utang, tapi utang dengan kartu kredit. Kalau mau makan enak, makan dulu bayarnya bulan depan. Generasi-generasi sebelumnya berusaha untuk menabung kalau ingin sesuatu.  Tetapi generasi Y bilang, “Ambil dulu siapa tahu besok mati.” Kalau butuh mobil, gunakan kredit asal uang muka cukup. Bahkan kenikmatan pun bisa didapat sebelum bayar. Generasi sebelumnya kalau mau jalan-jalan, mereka menabung dahulu. Generasi Y akan bilang, “Pergi dulu jalan-jalan, setelah pulang baru bayar.”  Generasi ini ingin mendapat kepuasan segera.  Segala sesuatu harus instan (segera) alias tidak sabar menunggu. Mereka kecanduan internet dan dibesarkan dengan teknologi, gadget dsbnya. Mereka harus on-line 24 jam/hari, 7 hari/minggu, 365 hari/tahun. Mereka selalu berusaha mengikuti teknologi.
5.     Generasi Z. Mereka yang lahir tahun 1995-2009. Umur mereka sekarang 5-20 tahun. Waktu mereka lahir, internet sudah ada. Mereka sulit hidup tanpa mesin pencari (engine search) seperti Google. Mereka menganggap internet sebagai kebutuhan dasar seperti air, listrik yang tidak bisa tidak ada. Mereka lahir dengan fokus teknologi. Seorang ibu yang anaknya baru berumur 7 tahun, tidak memberi anaknya ponsel karena khawatir digunakan untuk main game seharian. Anaknya hanya boleh main setelah papa-mamanya pulang dengan meminjam ponsel papa-mamanya. Jadi setiap papa atau mamanya pulang, ia berseru,”Papa, mama pulang. Handphone…handphone…!” Setelah ia dapat ponsel, akhirnya ia pun bermain. Anak ini akrab dengan teknologi. Suatu kali neneknya punya ponsel baru. Saat ia kebingungan menggunakannya karena terlalu banyak fitur yang ada (biasanya hanya digunakan untuk telpon dan SMS saja), sang anak membantu dengan mempelajari cara memakainya. Hanya dalam waktu beberapa menit, sang anak sudah bisa memakai dan mengajarinya. Itu yang disebut lahir dengan fokus teknologi. Tapi generasi ini belum bekerja karena usianya masih di bawah 20 tahun. Jadi tidak tahu nanti setelah dewasa mereka menjadi apa. Namun diprediksi , mereka akan bergaya hidup dan berkoneksi tinggi dengan high-tech. Mereka sangat ahli menggunakan perangkat media sosial seperti Facebook, Twitter dll
6.     Generasi Alpha yang lahir tahun 2010 – sekarang. Mereka umurnya baru 4 tahun.

Apapun Generasinya, Perlu Penebusan Dosa!

                Generasi berubah semakin cepat dan kita hidup dengan generasi yang berbeda dengan kita. Kita perlu melihat generasi ini dari 2 hal yang berbeda. Kita harus membedakan, apa yang kelihatan dan apa yang menjadi isi sesungguhnya. Kita bisa melihat apa yang disebut generasi yang berubah-ubah dan ciri-ciri generasi ini dari “kemasan” yang dapat dilihat dari luar.  Makin ke depan, generasi akan berubah makin cepat. Namun isi dari manusia, kebutuhan manusia dari tiap generasi tidak akan berubah. Setiap generasi dari jaman dulu sampai Tuhan datang untuk kedua kalinya, punya kebutuhan yang sama yakni untuk ditebus dari dosa! Seorang penulis, Dr. Richard Pratt dari Reformed Theological Seminary, mengatakan bahwa manusia sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah yaitu lahir dalam dosa dan hidup di dalamnya. Sehingga kebutuhan mereka akan Tuhan tidak berubah yaitu untuk mengenal Yesus dan diselamatkan. Generasi boleh berubah tapi kebutuhan manusia akan Kristus adalah tetap. 

Pelajaran dari Bendahara yang Tidak Jujur

                Lukas 16:1-8 mengisahkan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Pada ayat 8, tuannya  memberi pujian kepada bendaharanya yang cerdik karena ia bisa melewati masa kesusahannya dengan baik. Kita belajar beberapa hal dari kecerdikan (bukan ketidakjujuran) sang bendahara.
Pertama, bendahara ini dapat mengetahui kondisi yang dihadapi yakni apabila ia dipecat sebagai bendahara oleh tuannya (ayat 4). Kalau hal itu terjadi, ia tidak akan punya pekerjaan lagi. Dalam aplikasi, sebagai orang tua kita perlu belajar tentang perbedaan generasi saya dan generasi berikutnya. Dengan mengetahuinya, bisa berguna bagi orang yang memerlukan.

                Kedua, bendahara ini bisa memprediksi masa depan . Dia tidak akan mendapat pekerjaan lagi yang sama dengan sekarang. Jaman itu situasinya berbeda dengan sekarang. Dulu kotanya kecil dan semua orang saling mengenal. Kalau ia dipecat semua orang di kota akan tahu, sehingga tidak akan ada yang mau memperkerjakan dia yang tidak jujur. Itu sebabnya bendahara ini tidak berpikir bekerja di tempat lain. Ia berpikir, yang saya bisa lakukan adalah betani tetapi ia tidak bisa mencangkul. Itu kerja keras yang tidak bisa dilakukan. Itu sebabnya ia tiba ke alternatif yang kedua yakni  mengemis atau meminta-minta, tapi dia malu melakukannya. Dia bisa melihat masa depannya  ada dalam kondisi yang sangat kritis. Demikian juga kita, ketika kita menjadi orang tua atau kakek-nenek, kita perlu melihat generasi di bawah kita. Orang tua harus memikirkan bahwa generasi anak bukan generasinya. Sehingga kita tidak bisa mendidik anak kita dengan megatakan, “Mama dulu…. (begini-begitu).” Atau “Kalau mama sudah ngomong begini harus ikut…” Karena generasi sekarang berbeda. Apa yang dialami dulu sering dianggap kuno sekarang. Meskipun begitu kita perlu ingat apa yang efektif untuk kita belum tentu efektif untuk anak. Jaman dulu kalau dipletotin papa-mama, kita akan ketakutan. Kalau sekarang orang tua melotot, maka anak pura-pura tidak melihat. Dan kita tidak bisa melakukan cara-cara yang dulu kita lakukan kepada anak-anak kita. Bagaimana kita akan mendidik anak-anak kita? Ini yang menjadi kesulitan bagi sang bendahara namun ia pintar. Dia mengambil strategi yang baik. Dia pecahkan masalah dengan tepat. Bukankah kita bisa belajar dari bendahara ini? Kita bisa mencari cara bagaimana kita menggunakan cara-cara yang beda. Ciri-ciri dari setiap generasi adalah hal yang kelihatan seperti baju yang bisa berubah setiap waktu. Yang tidak berubah adalah kebutuhan akan Kristus. Bagaimana dengan generasi yang muda membutuhkan Kristus seperti orang tuanya juga?
Karena itu gunakanlah kekuatan jaman untuk memberi isi pada tiap keadaan. Misalnya, kita akan bicara tentang generasi Z yang hidup dengan internet dan gadget (media sosial sangat penting bagi mereka). Bagaimana mengajarkan ke anak-anak tersebut bahwa Kristus penting untuk mereka.  Kita bisa menggunakan media sosial dan mereka mengikutinya sedemikian rupa sehingga anak kita mendengar banyak kesaksian, sehingga mereka merasakan bagaimana hidup di dalam Kristus bisa menerima itu sebagai kekuatan. Kita perlu memikirkan cara yang efektif agar anak bisa menerima Tuhan Yesus Kristus.

____
Bekerja di Yayasan Eunike yang bergerak dalam bidang pembinaan keluarga dan guru. Bersama orang tua mengajarkan bagaimana orang tua bisa berperan dalam membangun anak-anak mereka. Ul 6: yang memegang peran iman untuk mewariskan iman ke anak adalah orang tuanya. Bergereja di GKY Green Ville.