Sunday, November 18, 2012

Buah Penginjilan



Ev Tina Woen

Roma 1:11-21
11  Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,
12  yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.
13  Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu — tetapi hingga kini selalu aku terhalang — agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.
14  Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
15  Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
17  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."
18  Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
20  Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
21  Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Salah satu kerinduan Paulus untuk datang ke tengah jemaat Roma, adalah untuk melihat bagaimana mereka sebagai orang percaya menghasilkan buah dalam hidupnya. Hal ini bukan hanya bicara tentang buah penginjilan tetapi buah yang seharusnya ada pada anak-anak Tuhan, orang yang hidup sesuai firman dan kehendak Tuhan.

Kerinduan Rasul Paulus untuk Memberitakan Injil
Pada ayat 9, ada ungkapan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma tentang kerinduannya yang  luar biasa untuk memberitakan Injil (dalam doaku aku selalu mengingat kamu). Juga pada ayat 11 tertulis “aku ingin melihat kamu”. Ini merupakan kerinduan Rasul Paulus untuk bertemu jemaat di Roma. Pada ayat 13, Rasul Paulus berkata “aku telah sering berniat “. Berniat..artinya benar-benar mau menunjukkan passion yakni kerinduan yang luar biasa dari Rasul Paulus untuk memberitakan Injil Tuhan pada orang Yahudi dan bukan Yahudi, terpelajar dan tidak. Ini kerinduan yang luar biasa, karena Rasul Paulus telah mengalami sendiri bagaimana indahnya bersama Tuhan. Beberapa tahun lalu saat melayani di GKKK Bandung, saya mengenal sebuah keluarga yang tinggalnya bertetanggaan dengan saya. Walau mereka tidak ke GKKK, tetapi mereka keluarga Kristen yang cukup saleh. Terkadang saya datang mengunjungi dan mendoakan mereka. Ketika hubungan kami makin dekat, saya baru tahu bagaimana mereka menjadi Kristen. Salah seorang anak mereka ada yang bersekolah di sekolah Kristen di Bandung, Semua anggota keluarga mereka belum Kristen. Tidak ada yang percaya Tuhan. Anak ini belajar dari kecil tentang Tuhan Yesus dan saat di SMP dia menjadi percaya Tuhan Yesus dan dibaptis. Kemudian ia menderita penyakit berat dan tidak bisa disembuhkan. Sebelum meninggal, ia mengumpulkan semua anggota keluarganya yakni papa-mama, kakek-nenek dan paman-bibinya. Lalu ia berpesan agar sebelum meninggal, ia minta semua anggota keluarga percaya Kristus. Ia teringat bahwa anggota keluarganya belum ada yang percaya sedangkan ia tahu kalau meninggal, ia akan masuk sorga. Maka ia minta keluarganya percaya . Akhirnya mereka percaya Kristus. Ada seorang bibinya yang muslim. Sewaktu datang ke gereja , ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya ingat anak ini berkata “Datang saja ke gereja.” Sekarang mereka sungguh percaya, ada yang menjadi hamba Tuhan dan menjadi majelis. Itulah kisah seorang anak remaja yang sudah mau meninggal , namun masih mengingat keluarga yang belum percaya dan akhirnya membawa banyak orang kepada Tuhan.

Rasul Paulus juga memiliki kerinduan untuk memberitakan Injil kepada orang lain :
1.       Ia punya keyakinan yang kokoh. Injil itu kekuatan Allah, satu-satunya jalan. Orang yang sungguh-sungguh bertobat, diselamatkan dan dilahirkan kembali, hanya melalui Injil dan darah Kristus. Sebelum Rasul Paulus menjadi pengikut Kristus, ia orang beragama, sangat ketat ibadahnya. Sebagai orang Yahudi, ia menjalankan taurat luar biasa, tetapi akhirnya menyadari, “bukan menjalankan taurat yang menyelamatkan, bukan soal beragama yang menyelamatkan tetapi iman kepada Kristus.” Orang benar hidup karena iman. Melalui Injil orang dibenarkan dan diselamatkan. Maka Ia rindu mengabarkan Injil. Tidak ada jalan manusia keluar dari dosanya, kecuali melalui Kristus.
2.       Ayat 18-21 (bila dilanjutkan sampai ayat 32), Rasul Paulus menggambarkan tentang kondisi manusia. Manusia yang dalam keadaannya yang begitu buruk, hidup dalam kecemaran (ayat 18), kefasikan dan kelaliman. Mereka tahu tentang Allah tapi tidak hidup mengucap syukur, hatinya gelap dan bodoh. Ini menggambarkan kondisi manusia pada zaman itu. Dalam budaya Romawi yang begitu maju, kejahatan manusia begitu luar biasa, Paulus melihatnya sebagai sesuatu yang mengerikan. Orang yang hidupnya tidak takut pada Allah, maunya keinginan sendiri, penuh keserakahan, perselisihan, sehingga dengan ulahnya itu manusia akan binasa. Kejahatan mereka merupakan dosa dan kejijikan di hadapan Allah. Manusia hidup di bawah murka Allah. Hanya Kristus yang bisa membebaskan mereka. Itu sebabnya, Rasul Paulus begitu gigih mengabarkan Injil. Supaya orang-orang ini bisa diselamatkan dan sungguh-sungguh mengenal dan percaya kepada Yesus. Manusia begitu jahat dan akan dibinasakan, maka Paulus mengabarkan Injil. Mereka membutuhkan Injil Tuhan. Ssejak dulu sampai sekarang, kejahatan, kecemaran, perselisihan dan pembunuhan makin parah. Apalagi di zaman komunikasi yang begitu cepat, kejahatan di mana-mana. Dulu 1 minggu berita baru sampai , sekarang apa yang terjadi di sini langsung tersebar. Beberapa hari lalu saat di Surabaya, saya membaca berita pembunuhan di Jatinegara. Ibu hamil 4 bulan dan anaknya 4 tahun ditemukan bersimbah darah di kamar mandi dengan kondisi sudah meninggal (ditusuk-tusuk). Pembunuhnya adalah mantan pegawainya di toko yang baru kerja selama 3 bulan. Mereka sakit hati karena dimarahi dan dipecat.  Akhirnya ketika ada kesempatan mereka datang membunuh mantan majikan dan keluarganya. Saat dikuasai emosi, manusia bisa melakukan hal yang luar biasa jahat. Kita melihat pertikaian yang terjadi, antar suku-sekte di Lampung, dan Madura.  Banyak urusan kecil dibesar-besarkan sehingga saling membunuh . Ini sifat alami manusia yang berdosa. Ketika dibiarkan maka manusia makin tenggelam dan binasa. Paulus berbelas kasihan. Dunia makin jahat. 2 minggu lalu ada seorang anak muda membunuh teman papanya dan temannya sendiri karena cemburu, iri, kenapa keluarga temannya lebih kaya. Ternyata ia berniat merampok dan membunuh karena terinspirasi  dengan adegan di komik jepang. Dunia sedang mempengaruhi kita, iblis dengan berbagai cara, membuat manusia semakin jahat, makin tenggelam dalam kebusukan. Komik dan game mempengaruhi anak.  Kita tidak bisa melarang anak untuk menonton TV dan game online. Tetapi tanpa kita sadari, iblis menancapkan pikiran dalam generasi muda. Mereka semakin jahat. Mereka merasa “membunuh adalah sesuatu yang biasa”. Tidak menghargai nyawa orang karena pengaruh di sekitarnya. Pegawai dan anak tadi usianya masih muda. Sangat mengerikan. Oleh karena pengaruh dunia yang begitu kuat, dengan ajaran yang tidak sehat, membuat pemahaman anak bertumbuh dalam ajaran tidak sehat. Saya punya anak saya berumur 4 tahun yang sering saya tinggal pelayanan. Suatu kali ia berkata sewaktu main, “Mama kalau nakal ta tembak.” Kenapa anak kecil tahu tembak? Dia melihat film, game-game dari kakak-kakaknya. Anak yang berusia 2-4 tahun , tahu hal demikian. Ketika remaja bila tersinggung / iri hati sedikit, ia bisa melakukan kekerasan. Ini keadaan manusia yang mengerikan. Ini membuat Rasul Paulus merasa harus sungguh-sungguh mengabarkan Injil. Sebagai anak-anak Tuhan , kita harus mempunyai kerinduan seperti Rasul Paulus. Sebagian orang Kristen yang sudah menerima Kristus dalam hidupnya, merasa aman dan memiliki tiket ke surga, kita tidak perduli lagi. Yang penting saya sudah diampuni, diselamatkan dan jadi anak Tuhan. Yang lain gua ga peduli. Memangnya gua pikirin. Itu bukan urusan saya. Bahkan termasuk aktivis, hamba Tuahn , GSM tidak lagi mencari jiwa-jiwa. Yang sudah hilang dibiarin saja. Yang baru dan lama tidak dicari.

Untuk memiliki passion, kerinduan dan hati seperti Rasul Paulus yang ingin menginjil pada orang lain :
1.       Berdoa. Ini langkah awal yang mudah. Kalau kita tidak bisa melakukannya, sudah keterlaluan. Kita berdoa untuk keluarga yang belum percaya atau  orang-orang yang belum tersentuh Injil. Doakan kursi gereja yang masih kosong, agar jiwa datang. Kita berdoa, supaya hati kita sungguh-sungguh merindukan jiwa-jiwa  agar diselamatkan, tidak binasa di tangan iblis.
2.       Memiliki hati yang merasa berhutang (ayat 14 - Aku berhutang). Supaya kita mempunyai buah penginjilan, mari mulai merasakan apa yang Rasul Paulus rasakan, yakni merasa berhutang. Kita sudah diselamatkan Tuhan, sehingga kita mempunyai hutang Injil. Kalau kita berhutang, logisnya harus bayar. Kita merasa telah menerima banyak dari Tuhan , jadi kita harus peduli kepada orang lain. Saat remaja saya ingat, pendeta gereja kami sangat menekankan penginjilan. Alkitab berkata, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16). Menginjil itu keharusan. Itu mendorong kami, anak remaja untuk memikirkan apa yang harus dilakukan. Pertama-tama untuk menginjili keluarga. Kita menginjili dan bersikap baik untuk membawa keluarga. Karena itu sesuatu yang harus dilakukan. Kita berhutang, karena Tuhan sudah membayar lunas semua hutang (dosa) kita.
3.       Kita harus belajar bagaimana cara menginjil. Ada yang melalui teladan hidup yakni dengan menjadi orang yang  baik, sopan, jujur dan lurus, sehingga orang melihat “Ini orang Kristen. Ini anak Tuhan. Saya ingin seperti ini.” Ini penginjilan secara tidak langsung. Tetapi kita juga harus belajar bagaimana menginjili sesungguhnya. Melalui metode EE (explosive evangelism), 4 hukum rohani, pendekatan persahabatan, mengirim ayat-ayat melalui sms, mendoakan mereka saat mereka kesusahan, bersaksi bagaimana Tuhan menopang kita dalam masalah dan walau hidup susah Tuhan selalu memberi kita penghiburan. Dengan cara demikian , kita menginjil dan menyadarkan bahwa mereka membutuhkan Yesus. Penginjilan dilakukan setiap saat. Seorang teman mengingatkan saya bahwa 43 hari lagi, kita akan meninggalkan tahun 2012.  Ini mengingatkan kita semua bahwa tahun 2012 akan lewat, sudah berapa jiwa yang kita bawa kepada Tuhan? Kita sudah bersaksi pada berapa orang? Kita mendoakan siapa saja, supaya mereka dibawa mengenal kepada Tuhan? Jangan sampai tahun ini lewat, kita sama sekali tidak pernah memberitakan tentang Kabar Baik, menyaksikan tentang Kristus, dan membawa jiwa untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Jangan sampai setelah menerima berkat dari Tuhan dan keselamatan yang cuma-cuma kita tidak pernah bagikan ke orang lain. Biarlah sebelum tahun ini berlalu mulailah dengan berdoa. Minta ke Tuhan, siapa yang akan didoakan tahun ini, supaya diselamatkan, tidak tenggelam dalam binasa.

Monday, November 12, 2012

Pertanyaan Coaching untuk PKS

Pertanyaan-pertanyaan Coaching untuk Pemimpin Kelompok Kecil (Small Group Leader)

Dr. Paulus Kurnia, CBA
Coaching yang Menumbuhkembangkan
Helping people help themselves

Seringkali seorang pemimpin kelompok kecil menjalankan peranan yang cukup besar sehingga dia membutuhkan seorang coach untuk membuatnya melayani lebih efektif lagi. Coach dapat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan kunci sebagai berikut :
1.       Apa kerinduan (passion)Anda sebagai pemimpin kelompok kecil?
2.       Apa yang Anda lihat selama ini tentang kelompok kecil yang Anda pimpin?
3.       Apa saja kebutuhan-kebutuhan yang sangat khas dari anggota kelompok kecil Anda?
4.       Bagaimana Anda menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut?
5.       Apakah yang para anggota kelompok kecil sangat rindukan dengan keterlibatan mereka di kelompok kecil?
6.       Pertanyaan apa saja yang Anda miliki sehubungan dengan pengelolaan dan pelayanan kelompok kecil yang belum terjawab?
7.       Kira-kira peralatan (tool) apa yang Anda butuhkan untuk menolong kelompok kecil – dari sisi, misalnya : kehangatan relasi sesame anggota, bahan atau materi pemahaman Alkitab, kesetiaan anggota, dan partisipasi anggota untuk saling menopang dan menolong sesamanya di dalam kelompok?
8.       Dampak yang seperti apa yang Anda harapkan bisa dihasilkan dari kelompok kecil Anda?
9.       Bagaimana Anda mewujudkan dampak tersebut? Targetnya apa saja? Strategi yang mau dipakai seperti apa, dan bagaimana langkah-langkah tindakan nyatanya?
10.    Apa persoalan-persoalan yang muncul di dalam kelompok kecil Anda yang belum terselesaikan? Bagaimana Anda mengatasi persoalan tersebut? Siapa-siapa saja yang bisa Anda libatkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada?
11.    Dalam skala 1-10 , berapa nilai kepuasan Anda dalam penyelenggaraan kelompok kecil Anda secara keseluruhan? Apa yang Anda akan lakukan bila Anda dan anggota kelompok Anda kurang merasa puas?
12.    Bagaimana penilaian Anda dan para anggota kelompok tentang materi pemahaman Alkitab yang dipakai selama ini? Mengapa? Apa antisipasi Anda bila ternyata bahan tersebut kurang dianggap sesuai dengan harapan Anda semua?
13.    Bagaimana pendapat semua orang tentang metode dan cara membawakan pemahaman Alkitab di kelompok kecil Anda? Apa lagi yang lebih baik bisa diupayakan?
14.    Bagaimana Anda mengukur keberhasilan sebuah kelompok kecil? Dan bagaimana hasilnya di kelompok kecil Anda?
15.    Apakah tindakan-tindakan yang Anda pandang perlu untuk memajukan kelompok kecil Anda?


Sunday, November 11, 2012

Buah Persembahan

Ev. Lisiani Helena

2 Kor 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Fil 4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. 19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Kita harus bertumbuh dalam hal kerohanian, hidup kita harus berubah menjadi orang yang sudah dilahirkan baru (diselamatkan). Karakter, sikap, hobi, pikiran harus mengalami perubahan. Setiap hari kita harus melakukan meditasi, berdoa  dan membaca Alkitab. Melalui Firman Tuhan, baru kita bisa mengerti Allah. Dalam hidup , kita harus mengalami Allah. Inilah yang dinamakan bertumbuh. Kalau ada yang bilang , di satu gereja tidak mengalami pertumbuhan, maka ada kemungkinan ke gereja mana pun tidak bisa mengalami pertumbuhan. Kita harus mengejar pertumbuhan rohani kita. Kalau kerohanian makin bertumbuh, otomatis kita akan melayani Tuhan. Jadi kolektan, penyambut, liturgis , anggota paduan suara , pendoa syafaat, pemerhati, pembesukan dll.

Topik tentang persembahan tidak mudah dibicarakan. Ada 3 aspek persembahan :

1.       Persembahan tubuh. Pada Roma 2, Rasul Paulus berkata agar kita memprsembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Sebagai anak Allah kita otomatis mempersembahkan tubuh kita. Persembahan yang hidup, bukan yang mati.  Kalau dalam kondisi mati, sudah habis tidak bisa dipersembahkan lagi. Tuhan masih berikan kita hidup, agar kita menjadi saksi di dunia ini untuk memuliakan namaNya. Kita persembahkan mulut dan perkataan kita untuk membangun orang lain. Seperti perkataan Tuhan Yesus memberkati orang lain, sehingga kita harus menjaga perkataan kita. Kita persembahkan mulut jadi berkat buat orang lain. Persembahkan kaki-tangan, mata dan anggota tubuh kita kepada Tuhan, Orang tua harus sungguh-sungguh mengajar anak-anak dari kecil dan berikan waktu untuk mereka. Saat kita belajar atau sekolah, lakukan untuk Tuhan sehingga kita belajar dengan baik, tidak menyontek. Waktu kelas 6 SD, saya nyontek dan dapat nilai 90 lebih, tapi sia-sia (tidak ada gunanya). Waktu itu sudah percaya , tapi belum berubah. Saya menyesal, bertobat, minta Tuhan ampuni saya. Saat kita bekerja di suatu tempat, maka harus bekerja dengan jujur dan setia. Persembahkan semuanya untuk Tuhan.

2.       Seluruh hidup. Orang yang mempersembahkan hidup menjadi hamba Tuhan sangat langka sehingga kita harus sungguh-sungguh mendukung hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan tidak mudah bisa menyelesaikan jalan salib. Tanpa panggilan yang jelas, seseorang tidak akan menjadi hamba Tuhan. Bila tidak jelas, bila jadi penginjil, hanya dilakukan setengah jalan. Kalau jelas panggilan Tuhan, masuklah sekolah teologia saat masih muda karena kalau sudah tua lebih susah belajar. Padahal untuk ulangan kita belajar dari buku yang tebal. Bila umur 60 tahun persembahkan diri untuk Tuhan dan jelas pangilan Tuhan , harus masuk sekolah teologia. Tanpa sekolah tidak bisa jadi hamba Tuhan yang baik. Seperti dokter yang tidak belajar di fakultas kedokteran, tidak dipercaya. Seorang penginjil harus masuk sekolah teologia. 1,5 bulan lalu , ada adik saya yang datang. Saya temani dia cari sin-she. Adik perempuan saya seorang pendeta dan temannya juga hamba TUhan. Ia bilang sakitnya sembuh. Sin-shenya keturunan dari generasi ke generasi. Obatnya 1 macam. Karena ingin saya sehat, maka ia ajak saya ke sana. Obatnya ada 2 macam, harganya Rp 1,5 juta/minggu. Makan obatnya seluruh tubuh jadi sakit. Saya terkejut sekali. Saya bilang jangan baik. Belajar dan tidak belajar berbeda.

3.       Harta kekayaan. Di dalam Ul 16 dikatakan , jangan menghadap Tuhan dengan tangan yang hampa. Tuhan kita sangat baik sekali. Bawalah persembahan tanpa paksaan, menurut apa yang Tuhan berikan.  Di Perjanjian Lama (Maleakhi) dikatakan  kita harus memberikan perpuluhan. Kita bukan hanya beri perpuluhan, tapi lebih banyak karena kita hidup dengan anugerah. Ada kapten yang melihat ada anak muda yang bisa diajar. Ia ajarkan membuat sabun detergen. Kapten kapal berkata, kalau Tuhan berkati kamu harus berikan perpuluhan. Setelah dieberkati, ia berikan 90% bagi Tuhan, Ialah pemilik colgate. Ada seorang saudari berkata, kalau gaji saya sejuta, saya berikan Rp 100.000 sebagai perpuluhan. Setelah itu gajinya naik jadi Rp2 juta perpuluhannya menjadi Rp 200.000, lalu naik menjadi Rp 3 juta, Ia berpikir, sementara ini tidak kasih persembahan karena ragu-ragu memberi dalam jumlah besar. Namun saat ia tidak memberikan perpuluhan, pengeluarannya lebih besar ibarat kantongnya bocor (misal : mobil ditabrak, anak sakit dll). Pada tahun 1986, kami beribadah di sekolah, aulanya dijadikan pihak sekolah untuk tempat beribadah. Kami mengharapkan GKKK Mabes tempat kami melayani punya tempat ibadah sendiri. Saat mengumpulkan dana bagi gereja dan jemaat memberikan janji iman, Pdt Sung yang tidak tahu besar tunjangan yang diberikan pihak gereja, lalu menulis besarnya persembahan yang akan diberikan kepada gereja. Persembahannya sekitar 50% dari gaji yang diterima setiap bulan. Saya tidak berani menghalang-halangi.  Kemudian di tahun itu (1998), di Taiwan ada kongres CCOWE. Kongresnya diadakan 5 tahun sekali. Pdt Sung bertanya apakah ingin ikut pergi. Saya bilang “Tidak punya uang bagaimana bisa pergi?”. Lalu Pdt Sung berdoa. Seminggu kemudian, ada yang telpon dan bertanya apakah Pdt Sung mau pergi ke Taiwan.  Pdt Sung diberi tiket gratis, se mu bayar 25%. Tahun itu kami pergi ke Taiwan.  Jangan anggap persembahan banyak  sebagai kerugian. Saat tidak punya uang, kita berdoa agar Tuhan mengirim uang. Waktu buat gereja GKKK Mabes perlu uang Rp 2 miliar. Di samping itu, persekutuan pemuda berharap punya tempat ibadah sendiri, saya pun mengajak para jemaat pemuda sebulan sekali berdoa. Ada 30 orang permuda. Mereka berdoa puasa dengan sungguh-sungguh. Kita tahu kebutuhan dan bangun bersama. Apabila ada doa puasa, saya ikut doa puasa. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

Sunday, November 4, 2012

Buah Perkataan

Pdt. Liem Ie Liong
Ibrani 13:15; Ef 4:29: Mat 5:6

Ibr 13:15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.
Ef 4:29  Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Mat 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Sebelum Tuhan Yesus naik ke surga , Dia memberi Amanat Agung kepada murid-muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus (bukan untuk menjadi orang Kristen). Menjadi murid Kristus berarti Tuhan Yesus bukan hanya selama-lamanya menjadi Juruselamat tapi juga Guru Agung kita, agar hidup kita terus diperbarui sehingga semakin serupa dengan Tuhan Yesus. Setelah saya percaya, kehidupan saya ditransformasi. Hidup saya bukan untuk diri sendiri. Yesus sebagai pusat , bukan lagi saya. Dalam hidup, kita harus senantiasa ditransformasi, khususnya dalam perkataan dan karakter.

Pohon dikenal dari buahnya. Pohon mangga pasti berbuah mangga dan kalau sudah masak ada yang asam dan manis. Sedangkan karakter kehidupan kita tercermin dalam tutur kata. Sebagai murid , hidup kita harus menyerupai Kristus (hidup kita memiliki karakter Kristus). Dietrich Bonhoeffer mengatakan, kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus. Perkataan ini perlu direnungkan. Murid harus mau menjadi sama seperti guru. Kalau kita murid Kristus, kita mau serupa Kristus termasuk dalam perkataan kita. Dengan mengikuti firman Tuhan akan terjadi transformasi iman sehingga ada buah perkataan. Buah ini berasal dari iman karena ada transformasi iman. Rom 12:2 mengatakan :  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Hidup yang memiliki buah perkataan
1.       Ibr 13:15 (perkataan ucapan syukur). Melalui bibir , kita mengucap syukur kepada Tuhan (memuliakan Tuhan dengan mengucap syukur). Baik senang-susah kita mengucap syukur (1 Tes 5:18). Itulah kehidupan kita yang harus berubah dari yang dulu ke yang sekarang. Kalau dulu sering mengeluh, sekarang mengucap syukur selalu. Waktu masih kecil saya pergi ke sekolah minggu yang jaraknya cukup jauh yakni sekitar 15-20 menit berjalan kaki dari rumah. Suatu kali dalam perjalanan saya melihat ada seorang ibu berumur 60 tahun yang tersandung hampir jatuh, namun dengan spontan ia berkata ,”Puji Tuhan”. Dulu saya tidak mengerti mengapa tersandung tapi mengucapkan “Puji Tuhan”. Di samping itu, ada juga seorang ibu yang pergi ke pasar. Ia tidak melihat besi di pinggir jalan sehingga tersandung dan terluka. Ibu ini kemudian memaki-maki! Dua hal yang berbeda. Sebagai orang Kristen, kalau ingin memuliakan Tuhan, ucapkanlah selalu syukur. Pdt Peter Law memberikan kesaksian tentang sepasang muda-mudi yang sebentar lagi akan menikah. Sang pemuda mengalami kecelakaan sehingga lumpuh total dan sulit bicara (karena gangguan otak) tapi 4 tahun kemudian sang pemudi tetap menikahi pemuda ini. Pernikahannya dirayakan dengan penuh sukacita di gereja dan diberkati pendeta. Setiap hari sang pemudi harus memberikan obat dan menyuapi makan suaminya. Ada satu hal yang dilakukan sang pemudi setelah ia menjadi istri. Setiap hari ia menulis di atas kertas yang berisikan ucapan syukur yang kemudian ditempel di papan tulis yang besar. Begitulah ia menjalani kehidupannya. Ia merasa bahagia, karena selalu ada ucapan syukur.

2.       Perkataan kita harus membangun. Jangan menggunakan perkataan yang kotor. Pada Ef 4:29 dikatakan,” Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Perkataan yang baik membangun artinya memberi semangat kepada orang lain. Bukan sebaliknya melemahkan orang lain. Sebagai murid Kristus, dalam komunitas gerejawi kita harus menggunakan perkataan yang saling membangun, menguatkan, mendorong dan memberikan semangat. Kita datang ke gereja dengan sukacita dan penuh semangat karena ketemu dengan orang yang saling membangun. Pernah suatu kali ada sebuah masalah yang saya sampaikan melalui telepon kepada seseorang, namun karena perkataan saya disalahmengerti timbuh masalah baru dan ia menjadi marah. Jika perkataan kita tidak saling mendukung, maka bukannya  menciptakan damai sejahtera melainkan perselisihan. Dalam Ef 6:19, Rasul Paulus meminta agar didoakan supaya mulutnya mempunyai perkataan-perkataan benar. Rasul Paulus berperan memberitakan Injil sehingga perkataannya tidak boleh salah. Demikian juga sebagai hamba Tuhan saya juga ingin menyampaikan perkataan yang benar sesuai firman Tuhan agar bisa membangun dan memberikan damai sejahtera. Saya menyadari kita bisa mengucapkan perkataan yang salah. Tapi kita belajar untuk memiliki perkataan yang membangun bukannya melemahkan dan memberikan damai bukan perselisihan karena ada buah perkataan.

3.       Buah perkataan firman Tuhan. Lawannya perkataan dari si jahat yang seringkali menipu kita dengan tipu muslihat iblis sehingga perkataan kita tidak baik. Perkataan kita bukan firman Tuhan. Yosua waktu memimpin bangsa Israel menuju tanah Kanaan yang dijanjikan (Yos 1:8), berpesan, “Jangan melupakan Taurat Tuhan. Tetapi renungkanlah siang dan malam supaya engkau bertindak hati-hati sehingga perjalananmu berhasil dan engkau beruntung.” Agar buah perkataan ada firman Tuhan, kita membaca dan merenungkan firman Tuhan. Kalau ingin memperkatakan firman Tuhan dan tidak melupakannya, maka kita harus membaca dan merenungkannya setiap hari. Setelah dibaptis perlu membaca firman Tuhan setiap hari agar menjadi makanan rohani sehingga boleh bertumbuh dalam iman. Kalau kita hanya ke gereja seminggu sekali, bagaimana perkataan kita bisa mencerminkan firman Tuhan? Setelah berpuasa 40 hari 40 malam, datanglah iblis mencobai Yesus yang sedang lapar, “Jika Engkau Anak Allah, ubahlah batu menjadi roti.” Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Kata “ada tertulis” artinya ada firman Allah yang dicatat dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus membaca dan menerima firman TUhan. Ketika dicobai, Tuhan Yesus memakai firman itu. Manusia hidup dari setiap firman yang keluar dari Allah. Ini membuktikan, hidup kita tidak hanya membutuhkan makanan saja, tetapi kita membutuhkan firman Tuhan.  Biarlah kita merenungkan firman itu. Maz 1:2 kesukaanku adalah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam. Orang yang merenungkan firman Tuhan siang dan malam, suka firman Tuhan, ia seperti pohon yang tumbuh di tepi aliran sungai. Daunnya begitu lebat dan berbuah pada musimnya. Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Waktu membaca firman Tuhan, maka hidup kita akan berhasil. Yosua juga mengatakan kepada bangsa Israel , jangan lupa memperkatakan firman Tuhan maka perjalananmu akan berhasil, engkau akan beruntung. Tuhan Yesus mengatakan berbahagialah orang yang haus dan lapar akan firman Tuhan karena akan dipuaskan. Agar kita menjadi berkat bagi orang lain, menjadi murid Kristus yang serupa Kristus. Kita bisa mengatakan buah perkataan bukan hanya hamba Tuhan, tetapi kita juga bisa kalau kita selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan. Kita dapat memuliakan Tuhan dengan perkataan kita yang mengucap syukur, membangun dan menjadi berkat bagi yang lain.

Biarlah kita belajar memiliki buah perkataan dalam keluarga, gereja dan di manapun berada. Ada perkataan yang memuliakan Tuhan sehingga orang lain mempunyai kasih karunia , menjadi berkat dan orang lain menerima kasih karunia Allah. Kita boleh bersyukur menerima kasih karunia Tuhan. Yang sudah dibaptis dapat menyatakan imannya dan bersaksi memuliakan Tuhan, bukan saja bertobat tapi menjadi murid Yesus.