Sunday, July 23, 2017

Gali Firman, Jangan Cuma Mendengar Khotbah


Pdt. Alex Nanlohy

Kis 17:10-15
10  Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.
11  Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.
12  Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.
13  Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu, bahwa juga di Berea telah diberitakan firman Allah oleh Paulus, datang jugalah mereka ke sana menghasut dan menggelisahkan hati orang banyak.
14  Tetapi saudara-saudara menyuruh Paulus segera berangkat menuju ke pantai laut, tetapi Silas dan Timotius masih tinggal di Berea.
15  Orang-orang yang mengiringi Paulus menemaninya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Pendahuluan

                Tema hari ini “Gali Firman , jangan Cuma Mendengar Khotbah”. Pada Kisah 16 Tuhan memakai Rasul Paulus untuk memberitakan Firman di Filipi, Tesalonika dan Berea. Ketika melayani di Filipi Rasul Paulus bahkan sampai dipenjarakan, namun Tuhan secara ajaib melepaskan Rasul Paulus (dan Silas). Rasul Paulus di penjara karena memberitakan Firman. Setelah dilepaskan dari penjara, apa yang dilakukan Rasul Paulus? Biasanya orang yang baru dilepaskan dari penjara lebih memilih untuk pulang ke rumah beristirahat. Tetapi Rasul Paulus memilih untuk pergi ke Tesalonika dan melakukan lagi hal yang sama yaitu memberitakan Firman. 3 hari sabat berturut-turut Rasul Paulus berada di Tesalonika, banyak yang percaya namun juga banyak yang menentangnya. Lalu ia pindah lagi ke kota Berea. Apa yang dilakukan di Berea? Kembali ia memberitakan Firman . Itu yang ditulis di Kisah 17:10 Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.. Rasul Paulus datang ke kota-kota dengan masuk melalui ibadah orang Yahudi dan menjelaskan Perjanjian Lama ke mereka. Yang menarik dari orang-orang Yahudi di Berea pada Kisah 17:11 akan kita pelajari.

Ada 3 hal yang menjadi teladan dari orang Kristen Yahudi di Berea. Tema hari ini terjadi pada jemaat di Berea. Rasul Paulus memberitakan Firman dan mereka mendengarkan khotbah. Tetapi sikap rindu menggali firman Tuhan pada Kisah 17:11 (Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian).

1.    Semua orang menggali firman.

Yang menggali Firman bukan saja rohaniawan tetapi semua orang yang percaya seharusnya menggali firman Tuhan. Mereka punya kerinduan bukan saja mendengar khotbah tetapi mereka rindu menggali firman Tuhan. Tahun ini kita memperingati 500 tahun reformasi yang dilakukan Martin Luther pada tanggal 31 Oktober 1517.  Kita seharusnya menggali reformasi yang diutarakan Luther saat itu. Sebelum reformasi terjadi, gereja hanya menggunakan bahasa Latin dalam ibadahnya. Khotbahnya bahasa Latin, Alkitab-nya bahasa Latin, lagu-lagunya dalam bahasa Latin. Jadi banyak orang yang tidak mengerti bahasa Latin hanya datang, duduk dan lihat saja. Jadi waktu reformasi terjadi, proyek pertama Martin Luther adalah menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman sehari-hari. Terjemahan itu masih dipakai sampai hari ini di Jerman. Tidak heran semboyan reformasi adalah sola scriptura (hanya Kitab Suci). Semua orang bisa punya akses ke Kitab Suci , membaca dan menggalinya. Penggalian Alkitab bukan hanya untuk elit (kalangan) tertentu di gereja. Itu yang terjadi di gereja sebelum reformasi, yang bisa belajar adalah orang yang punya kemampuan bahasa Latin. Indah sekali saat ini kita bisa punya Alkitab dalam bahasa yang kita mengerti. Tetapi banyak orang yang berpikiran, “Yang menggali Alkitab adalah yang belajar teologia saja.”, tetapi perhatikan jemaat di Berea yang punya kerinduan itu.
Seberapa serius orang Kristen dengan Kitab Sucinya? Di kalangan Muslim, mereka punya kebiasaan untuk mendidik anaknya membaca Al Quran. Mereka bahkan punya istilah ‘hatam’ yang berarti telah selesai membaca seluruh Quran dan mengaji. Waktu saya pergi ke sebuah sekolah Kristen, saya bertanya, “Siapa yang sejak kecil sudah Kristen?”. Pertanyaan itu ditujukan ke anak-anak SMA kelas 2. Kira-kira 85% siswa mengangkat tangan. Mereka sudah menjadi Kristen sejak kecil. Saya meminta mereka mengangkat tangan yang tinggi. Saya bertanya lagi, “Siapa yang sudah menjadi Kristen dari kecil dan pernah membaca Alkitab selesai dari Kejadian sampai Wahyu? Bagi yang tidak pernah selesai membaca selesai Alkitab, turunkan tangannya pelan-pelan saja agar tidak malu.” Tinggal 3 anak yang masih mengangkat tangan. Kita pasti berpikir,”Hebat ya...” Tetapi ini bukan hebat. Seharusnya orang Kristen punya akses untuk membaca Alkitab dalam kehidupan mereka. Orang Muslim mempunyai kerinduan anaknya hatam Quran dan mengaji saat anaknya sekolah kelas 3 SMP. Jadi sejak kecil pulang sekolah , anaknya ke mesjid untuk mengaji. Sedangkan anak-anak orang-orang Kristen setelah pulang sekolah mengambil kursus. Tidak salah mengambil kursus. Itu kegiatan yang baik. Namun apakah kita serius mendidik generasi di bawah kita untuk mencintai Firman Tuhan? Mungkin karena namanya Kitab Suci terlalu suci sehingga tidak pernah dibuka. Tidak kebetulan nama gereja ini Kalam Kudus. Kalam adalah Firman. Seharusnya gereja ini menjadi teladan firman bagi gereja lain dalam mencintai Firman. Yang cinta Tuhan bukan hanya para hamba Tuhan tetapi semua jemaatnya mencintai Firman. Semua orang harusnya rindu menggali Alkitab.

2.    Menjaga Sikap Hati.

Pada Kisah 17:11a dikatakan “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika” Alasannya dijelaskan pada bagian ayat selanjutnya. karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati.  Apa yang dimaksud dengan hal itu? Mereka punya hati yang rindu mau terus dibentuk oleh Tuhan. Beberapa terjemahan bahasa Inggris menggunakan istilah noble heart ada juga open minded (punya pikiran yang terbuka untuk belajar). Mari kita mempunyai sikap hati seperti itu untuk rindu dan membentuk  kita. Mereka terbuka terhadap khotbah yang disampaikan oleh Rasul Paulus dan mereka juga kritis untuk belajar lebih dalam. Sikap hati itu melebihi program di gereja. Kalau sikap hatinya benar, ada program atau tidak, ia akan tetap belajar Firman. Kalau tidak punya sikap hati yang benar, meskipun ada program tidak ada yang datang. Sehingga ini menjadi hal yang penting untuk kita menjaganya  saat menggali firman. Perhatikan karena kerelaan hati , mereka melakukannya sampai setiap hari. Menyelidiki kitab suci setiap hari bukan hanya seminggu sekali. Dan tampaknya tidak dilakukan sendiri tapi bersama-sama dalam kelompok yang rindu menggali firman Tuhan. Tidak heran ditulis di Kisah 17:12, Banyak di antara mereka yang menjadi percaya; juga tidak sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani. Ini jemaat yang luar biasa, mereka punya hati yang punya kerinduan untuk membaca dan menggalinya setiap hari. Bagaimana dengan sikap hati kita? Tentu bukan menggali untuk menghadapi cerdas cermat Alkitab saja di mana otaknya penuh, tetapi hatinya kosong. Sebaliknya kerinduan hatinya agar menjadi kehidupan yang nyata.

3.    Bagaimana kita menggalinya?

Pada Kisah 17:11c (bagian terakhir) dikatakan , setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. Kata yang dipakai adalah  “ menyelidiki” . Dalam terjemahan lain yang lebih dekat bahasa aslinya, digunakan istilah “interogasi” Kata ini muncul saat Pilatus menginterogasi Kristus. Kalau yang muncul hanya interogasi tanpa sikap hati, maka orangnya seperti mau menguji apakah ini benar atau tidak. Kalau sikap hatinya benar, punya kerinduan mau tahu Tuhan berbicara apa (bukan untuk kritik). Mungkin dari sini banyak orang membuat PA (penyelidikan Alkitab termasuk pemahaman, pendalaman) itu untuk kelompok yang suka kitab suci. Bagaimana mempelajarinya seperti metode interogasi yakni dengan tanya jawab! Kalau mau menggali salah satu caranya, belajar bertanya. Bertanya itu seperti  sekop yang setiap kali menggali sesuatu berarti kita menggali lebih dalam.

Ada 3 pertanyaan yang bisa dipikirkan untuk menggali Alkitab lebih dalam agar kita boleh pulang menerapkan Kitab Suci :
a.       Apa yang ditulis?
b.      Apa arti (maksud)-nya?
c.       Apa artinya untuk saya? Apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya?
Menggali sendiri berarti lebih dalam dari sekedar mendengar khotbah. Dalam metode belajar, bila “menggali atau menemukan sendiri” maka mengingatnya lebih lama daripada “mendengar kata orang”. Tetapi harus dilakukan 3 langkah. Kalau hanya tahu poin “a” dan “b” nanti seperti orang Farisi yang banyak tahu tapi tidak melakukan. Mengapa harus dibedakan nomor “a” dan “b”? Kita harus sadar Alkitab dituliskan juga dalam konteks sejarah. Jadi ada 2 hal yakni Alkitab dituliskan dalam konteks sejarah, tetapi karena ini kitab suci maka berlaku kekal sepanjang zaman. Ini 2 sifat Alkitab : sejarah dan kekal. Karena itu penting untuk bertanya mulai dari “apa yang ditulis?” dan “apa maksudnya?”. Ada beberapa hal yang ditulis dalamm Kitab kita ternyata ada dalam konteks pada masa itu. Sebagai salah satu contoh : 1 Timotius 2:9-10 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal, tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah. Mungkin kalau dibaca yang ditulis, kita kaget kenapa ada masalah rambut yang berkepang-kepang. Kita harus bertanya lebih jauh apa maksudnya (apa konteks nya dalam sejarah waktu itu). Dalam beberapa literatur dikatakan masa itu, salah satu daya tarik seksual wanita adalah rambut. Maka wanita yang sopan pada waktu itu selalu menutup kepalanya. Wanita yang dianggap tidak sopan adalah wanita yang rambutnya diurai dan berkepang. Wanita yang mengurapi Yesus dianggap pelacur karena mengurai rambutnya dan  kalau sekarang diterapkan maka semua wanita yang terurai dan dikepang rambutnya dianggap sebagai pelacur semua? Karena itu adalah bagian di Korintus , wanita sebaiknya memakai kerudung. Kalau yang seperti ini harus kita gali (tanya lebih jauh) apa maksudnya. Baru kita tahu,”Oh konteksnya pada zaman itu adalah tutup kepala wanita”. Hal ini beda dengan kesopanan zaman kita. Misal : jangan pakai rok mini , itu ada dalam konteks zaman sekarang. Ada anak remaja berkata, “Tidak ada dikatakan di dalam Alkitab bahwa tidak boleh pakai rok mini, jadi saya pakai saja.” Banyak hal yang tidak ada ayatnya di Alkitab. Karena konteksnya berbeda tetapi prinsipnya sama. Sehingga waktu menggali kita selalu bertanya apa maksudnya. Mungkin kalau ada hal yang membingungkan mau bertanya kepada siapa? Tanya dengan orang-oang belajar, bertanya ke jemaat lain dan hamba Tuhan. Ketika mendengar khotbah yang disampaikan hamba Tuhan, kita melihat dan belajar bagaimana ia menggalinya. Dalam ibadah kita serius mendengar firman Tuhan apalagi kalau kita punya waktu untuk sama—sama belajar dan ada waktu PA besama. Yang biasa saat teduh tiap hari bisa memakai bahan renungan di mana penulisnya telah menggalinya untuk kita. Dia menggali dan menulisnya untuk memberitahu seperi apa.
Mari punya sikap hati yang rindu untuk terus menggali. Ini harta karun yang dirindukan untuk membentuk hidup kita dan seperti kata pemazmur Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Maz 119:105). Bila orang ditanya, “apa khotbah minggu lalu?”, berapa banyak yang bisa mengingatnya? Pengkhotbahnya pasti ingat karena ia yang menggali tetapi banyak jemaat yang datang, dengar dan selesai karena tidak digali (punya pemahaman yang lebih mendalam) akan firman Tuhan.

Kesimpulan

Mari membangun jemaat yang semuanya mencintai Firman dan memiliki sikap hati yang benar terhadap Firman. Mari membangun komunitas sehingga jemaat Gereja Kristen Kalam Kudus memiliki sikap yang benar terhadap Firman Tuhan. Bukan hanya Firman Tuhan digali oleh hamba Tuhan tapi juga oleh semua jemaatnya yang rindu bertumbuh. Pada akhirnya, bukan hanya pengetahuan, tetapi benar-benar kehidupan yang membawa banyak berkat bagi kehidupan umatnya dan sesama. Maukah kita menjadi seperti jemaat di Berea? Di mana mereka punya sikap yang serius dan sikap hati yang menggali firman Tuhan. Bulan ini kita banyak belajar tentang Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Kiranya bukan sekedar mendengar banyak khotbah bulan ini, tetapi setelah pulang memiliki sikap hati untuk terus belajar Firman Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita bukan hanya mendengar tetapi juga menggali dan menerapkan Firman Tuhan. Amin.


Monday, July 17, 2017

Disiplin Rohani dan Pertumbuhan Iman


Pdt. Jimmy Lucas

2 Petrus 1:3-9
3 Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
4 Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.
5  Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.

Pendahuluan

                Memiliki ketrampilan dan kompetensi tidak berarti sukses. Banyak orang yang punya ketrampilan dan kompetensi namun tidak berakhir di mana-mana. Anak pertama saya (Joan) adalah anak yang serba bisa. Usianya baru 8 tahun namun ia pandai bernyanyi, menari, melukis dan public speaking. Masalahnya Joan merasa ia bisa ini-itu sehingga kehilangan fokus. Ia tidak tahu mana yang harus didahulukan. Ia tidak tahu apa yang harus dikejar. Akibatnya ia kehilangan semangat. Ketika seseorang kehilangan tujuan hidup, maka ia akan menghabiskan sumber dayanya tidak untuk apa-apa. Ia tidak mampu mendisiplinkan dirinya sehingga ia tidak bisa menjadi apa pun. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan kerohanian.

Pertumbuhan Rohani

Berada dalam gereja yang baik bukan berarti kita mengalami pertumbuhan rohani. Mendengar khotbah yang baik bukan berarti kita mengalami pertumbuhan rohani. Bukan itu saja yang dibutuhkan untuk mengalami pertumbuhan rohani. Untuk mengalami pertumbuhan rohani kita membutuhkan disiplin rohani yang tinggi.
                Hal pertama yang perlu dipahami kalau kita tidak bertumbuh maka kita menjadi orang yang buta dan picik walau bukan berarti kita tidak diselamatkan. Mungkin kita diselamatkan tetapi kita menjadi buta dan picik. Tanpa bermaksud merendahkan orang buta,  orang buta adalah orang yang tidak bisa melihat apa-apa dan untuk melakukan sesuatu membutuhkan bantuan orang lain. Ia menjadi beban bagi orang sehat. Ketika orang tidak bertumbuh secara rohani maka ia menjadi buta rohani dan menjadi beban bagi orang sehat. Ia tidak mampu melihat visi dari Allah sehingga dalam kebutaan , ia meraba-raba dan membebankan orang lain. Orang yang tidak bertumbuh juga bisa menjadi orang yang picik. Picik bukan berarti bodoh. Orang yang picik bisa merupakan orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Orang yang picik adalah orang yang berpikir secara sempit. Hatinya ‘kecil’ tidak mampu menampung orang lain, tidak bisa melihat perbedaan (tidak bisa melihat sudut pandang yang berbeda). Ia merasa diri benar dan merasa diri baik sendiri, tidak memiliki rasa aman, marah ketika berhadapan dengan perbedaan. Sehingga orang picik bukan hanya menjadi beban bagi orang lain juga menjadi penghambat pertumbuhan orang lain. Gereja tidak rusak karena orang-orang di dalamnya tidak berpendidikan, tetapi gereja menjadi rusak karena orang-orang di dalamnya picik. Di dalam kepicikan ia menolak perubahan. Di dalam kepicikan ia menganggap diri benar dan menghambat pertumbuhan orang lain. Orang seperti ini lebih baik dijadikan ‘pondasi jembatan’ karena  tidak berguna dalam gereja. Tidak berguna adalah satu hal, tetapi menghalangi orang lain bertumbuh adalah hal yang lain. Kita tidak boleh menjadi orang yang buta dan picik. Itu sebabnya kita harus bertumbuh . Untuk bertumbuh kita membutuhkan disiplin rohani.

Defisini Disiplin Rohani


1.    Disiplin rohani adalah upaya yang bertujuan.

Tidak ada disiplin tanpa tujuan. Disiplin hanya tumbuh ketika ada tujuan. Maka berbicara tentang disiplin rohani berarti kita berbicara tentang tujuan kerohanian yaitu agar setiap orang percaya mengalami pertumbuhan rohani dalam dirinya. Kita menanggalkaan manusia lama dan mengenakan manusia baru hingga menyerupai Yesus Kristus. Kata ‘kenal’ berasal dari kata epiginosko (2 Petrus 1:8). Epiginosko (bahasa Yunani) artinya mengenal dengan penuh, jelas atau lengkap atau pengenalan secara wahyu. Epiginosko terdiri dari dua kata, yaitu epi yang berarti di atas, melampaui dan ginosko yang berarti mengetahui, mengerti. Dua kata ini digabungkan menjadi di atas dari ginosko, melampaui mengetahui atau mengatasi pengertian alamiah, melampaui pengetahuan atau pengalaman jasmani. Inilah pengenalan pewahyuan ilahi. Mirip seperti suami mengenal istrinya secara intim  dan sebaliknya itulah epiginosko. Dalam pengenalan ini kita berinteraksi secara intim hingga mengubah pribadi kita.
Sewaktu pelayanan di Surabaya, saya tinggal di rumah Om Han (majelis) dan Ai Mei Fang (staf tata usaha gereja). Mereka sepasang suami sitri yang sangat mesra dan romantis. Mereka telah berumah tangga selama bertahun-tahun. Mereka sangat mesra sehingga bila Om Han melirik maka Ai Mei Fang tahu suaminya mau apa, bahkan walau Om Han tidak bicara pun Ai Mei Fang sudah tahu maunya. Saya mau memiliki kehidupan rumah tangga seperti itu. Suatu kali saya melihat Ai Mei Fang cemberut sehingga saya bertanya, “Mengapa?” yang dijawabnya,”Tidak apa-apa.” Akhirnya saya langsung bertanya,”Ribut ya sama Om?” Ia pun membenarkan. Kemudian ia menambahkan,”Heran setelah bertahun-tahun menikah masih ada saja yang harus dipelajari.” Tetapi saya pikir itulah hakekat dari epiginosko. Itulah hakekat mengenal Allah. Di satu sisi kita seharusnya mengetahui apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita. Tetapi di sisi lain kita terus harus belajar mengenal Allah. Berada dalam hubungan ini terus menerus akan membuat kita dari hari ke hari semakin mengenal Allah sehingga karakter kita berubah dan mencerminkan Kristus. Inilah tujuan rohani.
          Banyak orang yang keliru berpikir bahwa  orang yang dewasa rohani adalah orang yang menduduki posisi di organisasi gereja. Jadi bila menjabat sebagai majelis, dianggap orang sudah dewasa rohani. Jadi pelayan (aktifis) berarti sudah dewasa rohani. Jadi pendeta berarti sudah dewasa rohani. Padahal kenyataannya tidak begitu! Kenyataannya majelis bisa jatuh dalam dosa. Hamba Tuhan bisa jatuh dalam dosa dan hidup dalam kedagingan. Majelis bisa jadi jelmaan iblis. Hamba Tuhan bisa jadi hamba uang. Jadi posisi rohani tidak identik dengan kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani tidak identik dengan aktivitas rohani. Orang yang sering terlibat dalam pelayanan tidak berarti dia dewasa rohani. Orang dewasa rohani pasti terlibat dalam pelayanan.
Di Malang ada seorang pendeta yang terpaksa ‘mengusir’ seorang ibu-ibu jemaat. Ibu ini setiap hari datang ke gereja. Persekutuan wanita ikut. Komsel ikut. Kebaktian Umum ikut. Pasutri ikut, walau suami tidak datang ia tetap ikut. Jadi semua ibadah ia ikut. Suatu kali Bapak Gembala ‘marah’ karena  ia ikut ibadah lagi. Dengan heran, saya bertanya,”Mengapa mushi melarang ia ikut ibadah?” karena berpikir seharusnya hamba Tuhan senang kalau melihat jemaatnya datang beribadah  dari Senin sampai Minggu. Seharusnya pendeta senang tetapi ternyata ia tidak bisa senang. Saya bertanya,”Mengapa mushi tidak senang?” Rupanya suami dari ibu tersebut datang kepada pendeta marah-marah dan bertanya di gereja ada apa. Suaminya berkata,”Saya tidak melarang istri saya ke gereja. Tetapi mengapa istri saya tidak memasak, mencuci piring dan mengurus anak dulu sebelum ke gereja?” Ternyata itu bukan pertumbuhan rohani atau disiplin rohani, tetapi itu namanya melarikan diri. Sang istri tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga ia kabur ke gereja.
Orang yang melakukan kegiatan rohani tidak berarti dewasa rohani. Untuk mengetahui orang sudah dewasa rohaninya  dilihat dari karakternya. Seberapa jauh karakter nya berubah menjadi serupa dengan Yesus. Setelah datang ke gereja selama lebih dari 20 tahun tapi karatkernya  tidak berubah serupa dengan Yesus atau datang ke gereja setiap Minggu hanya untuk ‘menghangatkan’ kursi gereja maka berarti ia belum dewasa rohani. Saat ke gereja seharusnya punya tujuan yaitu agar “Saya ingin berubah”. Ketika bicara tentang disiplin rohani, kita tidak bicara tentang kegiatan dan tujuan. Ketika bicara tentang disiplin rohani , kita berbicara tentang bagaimana menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.


               
2.    Disiplin rohani adalah upaya yang tersistematis.

Kita bukanlah petinju yang dengan sembarangan memukul. Kita bukan pelari yang berlari tanpa tujuan. Kita ibarat atlit yang punya tujuan dan mengikuti aturan main dalam pertandingan. Ini yang ditekankan oleh Petrus. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. (2 Petrus 1:5-7). Jadi ada fase atau tahapannya. Bukan karena kita mau bertumbuh maka kita pasti bertumbuh. Bukan berarti tujuan rohani menyerupai Kristus kita pasti jadi serupa Kristus. Ada tahapan yang harus dilalui.
Di rumah saya ada komunitas untuk remaja. Saya mendidik mereka untuk memiliki karakter Kristus melalui latihan bela diri. Latihan bela diri digunakan sebagai wadah untuk melakukan mentoring. Seorang anak remaja yang baru datang berlatih, diajarkan pukulan jab dan  cross . Ia pun berlatih dengan temannya dan kemudian dia pikir ia sudah siap untuk ikut pertandingan. Anak yang baru memiliki pukulan jab dan cross bila diikut-sertakan dalam pertandingan , apa jadinya? Jadi “tempe bongkrek”. Masuk utuh keluar berantakan. Mengapa? Sekalipun tujuannya ia bisa jadi atlet, tapi selama ia tidak mau mengikuti tahapan proses berlatih dari tingkat dasar, menengah dan mahir, maka ia tidak akan siap. Semua orang yang mau berlatih untuk pertandingan harus mengikuti proses. Untuk mencapai suatu tujuan memang ada prosesnya.
Joan senang bernyanyi. Ia tidak pandai beryanyi, namun ia senang beryanyi. Saya bertanya,”Joan, cita-citanya mau jadi apa?” Saya ingin menanamkan sense of goal kepadanya. Ia menjawab, “Saya mau menjadi artis.”  Lalu ia bernyanyi sambil menggoyangkan tubuhnya. Saya berkata,”Boleh tapi harus les balet.” Joan keberatan,”Tapi balet bisa seperti itu? Jangan balet, tapi modern dance - lah.” Saya menanggapi,”Ikut saja keduanya.” Tapi bernyanyinya tidak bisa. Ia pun saya kursusin. Di tempat kursus dikatakan,”Kelihataan ia berbakat.” Lalu oleh pembina sanggarnya, ia diikutkan menyanyi di mal. Buat Joan hal itu menyenangkan. Tetapi bagi anggota paduan suara terlatih sudah tahu bahwa Joan belum mencapai tahap di sana. Saya pun memaksa dia , “Joan ayo latihan. Ayo latihan.” Saya berdoa, “Tuhan beri dia kesempatan.” Suatu hari di gereja ada audisi untuk rekaman lagu Natal. Joan malu untuk ikut serta dalam audisi. Saya mendorongnya untuk maju. Saya benar-benar mendorongnya sehingga tubuhnya maju ke  depan dan berhenti di depan keyboard. Akhirnya dia langsung ikut audisi. Dua kali ikut audisi , keduanya lulus. Dia pikir bahwa dengan ikut audisi berarti dia sudah menjadi seorang penyanyi. Ia pun tidak mau mengolah vocal, dan hanya bersantai saja padahal ia harus menyanyikan lagu “Gloria in excelsis Deo” sendiri. Lagu ini tidak mudah dinyanyikan alias lagu yang sulit. Saat menyanyi lirik “Gloria in excelsis Deo” napas tidak boleh behenti di tengah-tengah dan di akhir kalimat nada harus turun. Tidak mudah karena selama ketukan itu nafas tidak boleh berhenti. Saya dengan ‘kejam’ menyalakan i-pad dan memperdengarkan lagu tersebut saat dibawakan oleh Andrea Bocelli. Ia pun ngambek. Mamanya berkata, “Jim , ia bernyanyi per kelompok. Santai saja lah. Orang tidak tahu siapa dia.” Saya berkata,”Tidak bisa! Jalan menuju ke atas adalah turun ke bawah. Kalau kita mau ke atas, kita harus turun ke bawah, lakukan apa yang harus kita lakukan.” Kalau seorang atlit perlu latihan push-up sebanyak 200 kali. Untuk penyanyi baru harus latihan olah vocal. Pengkhotbah yang mau berkhotbah dengan baik harus menyiapkan bahan khotbah seminggu sebelumnya. Joan mau menjadi seorang artis, maka ia harus latihan dari awal, mengikuti proses dan prosedur dari bukan apa-apa agar bisa menjadi siapa-siapa.
Pertumbuhan rohani kita harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan. Artinya bukan saja menjadi orang Kristen biasa tetapi melakukan kebajikan secara aktif. Tidak melakukan apa-apa sama dengan baik? Tidak melakukan apa-apa sama dengan tidak melakukan apa-apa. Hanya tidak melakukan apa-apa , bukan berarti baik bila hanya tidak merampok. Kalau mau jadi orang baik, lakukan perbuatan baik secara aktif. Kalau gereja ada kebutuhan untuk misi, ikut memberi persembahan secara aktif. Itu yang dimaksud dengan kebajikan pada 2 Petrus 1:5. Kalau khotbah tidak dicatat, tidak ikut kelas PA dll. bagaimana mau bertumbuh? 20 tahun ke gereja tidak membaca dan belajar Alkitab, bagaimana bisa bertumbuh rohani? Kalau bertemu dengan yang lebih muda ,ditanya usianya berapa? 40 tahun. Ia katakan masih muda  ya. Logikanya 40 tahun tidak muda dan yang bilang muda itu adalah ego. Seharusnya older but wiser Artinya tambah tua seharusnya tambah bijak. Kalau bertemu orang tua dan Kristen maka tetap harus dihormati. Kalau bukan orang Kristen bagaimana? Saya tidak mau bertambah tua, tetapi tidak bertambah bijaksana. Kalau kita bertambah tua, kita harus pastikan kita layak dihormati bukan karena kita ubanan. Bacalah banyak buku.
Mama saya sekolah dasar saja tidak tamat. Tetapi tiap kali datang ke rumah saya, buku saya ada yang hilang. Setiap kali mama pulang, saya harus hitung buku saya ada yang hilang tidak. Kalau ada, tidak usah dicari ke mana-mana, tetapi cari saja ke rumah mama pasti ketemu. Suatu kali mama saya pindah dari Gading Serpong ke daerah Cengkareng, ia berkata,”Jim, bawa pulang buku sekotak (besar). Itu barang kamu.” Rupanya mama kembalikan. Mama saya memang hobi membaca, sampai buku Anand Krishna juga ia baca. Akhirnya saya berkata, “Nanti kalau ambil buku saya bilang dulu ya.” Tetapi saya pikir, mama saya layak dihormati. Bukan karena tua tapi ia menambah pengetahuan dalam pikirannya (seperti kata Rasul Paulus : berusaha untuk menambahkan kepada kebajikan pengetahuan).  Dengan mengetahui apa yang harus dilakukan maka lakukanlah secara terus menerus. Jangan setelah mendengar khotbah tidak berubah. Jadi bukan 5D (Datang Duduk Diam Dengar Doang) tetapi harusnya ditambah “Do it” (lakukan terus menerus). Setelah itu dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
 Saleh itu bukan karena penampilan. Misal : ada yang memakai jenggot agar mirip gambaran Tuhan Yesus dahulu, tidak berarti ia menjadi orang saleh. Orang Kristen yang semakin bertambah saleh, maka hidup rohaninya makin tersembunyi di dalam manusia, tetapi makin nyata di hadapan Allah. Coba cari pola yang tepat, agar kita bisa bertumbuh. Bisa gunakan 2 Petrus 1 sebagai pola. Bisa juga menggunakan nats dari Gal 5:22-23 (buah-buah Roh Kudus) sebagai pola. Bisa juga menggunakan 10 hukum Taurat sebagai pola. Artinya kita melihat nats tersebut lalu membandingkan dengan diri kita sehingga kita tahu sudah di tahap mana.
Anak saya yang kedua dan berumur 4 tahun, Joshua, minta dibelikan mainan dokter-dokteran. Saya menjawab, “Tidak usah beli, cici dulu punya.” Saya pun membongkar gudang dan menemukannya. Sayangnya tidak ada stetoskop-nya, yang ada tinggal pisau bedah dan termometer. Joshua bertanya, “Ini apa?” Saya menyebutkan namanya yaitu termometer. Dia bertanya,”Gunanya untuk apa?” Saya pun menjelaskan fungsinya sebagai alat untuk mengukur panas. Lalu ia berkata, “Papa, Joshua jadi doker. Papa jadi orang sakit.” Joshua pun pura-pura memeriksa , memasukkan termometer ke tubuh saya dan berkata, “Papa panas. Harus diobatin.” Ia mengambil pisau bedah lalu dipotong. Apa yang sakit dipotong. Padahal untuk menentukan mana yang sakit hanya menggunakan termometer. Namun setidaknya ia belajar bahwa untuk mengukur kesehatan orang ada alat ukurnya. 10 Hukum Taurat, 2 Petrus 1:5, Gal 5 :22-23 adalah alat ukur kerohanian kita sudah sampai mana.
          Disiplin rohani artinya sebuah upaya untuk mencapai tujuan secara terstruktur. Dan disiplin rohani adalah kerja keras untuk mencapai tujuan. Rasul Paulus menggunakan kata “Tambahkan”. Itu berarti bahwa pertumbuhan rohani tidak terjadi dengan sendirinya dan secara instan, jadi kita harus bekerja keras untuk mengalaminya. Apa beda anak ayam dan anak orang? Bapak saya dulu memelihara anak ayam. Induk ayam awalnya dikasih makan. Induk ayam ini kemudian bertelur dan mengerami telur baru jadi anak ayam. Anak ayam tidak dikasih makan tapi dikeluarkan saja. Diumbar  saja sampai pulang sendiri. Setelah besar, maka ayam tersebut dipotong. Kalau anak orang diumbar maka tidak pulang-pulang. Karena itu membesarkan anak manusia harus terencana, untuk menumbuhkannya orang tua harus bekerja keras. Hidup kerohanian juga tidak tumbuh instan harus bekerja keras.

Penutup

       Sewaktu mengambil kuliah teologi, seorang kakak rohani bertanya,”Mengapa gereja karismatik mudah sekali bertumbuh, sedangkan gereja protestan tidak?” Ia tidak tahu jawabannya. Sewaktu ia mencoba datang ke gereja karismatik dan mendengar khotbah, ia merasa emosi,”Pegang saya Jim. Kalau tidak , mau saya lempar orang itu.” Kebetulan saya berasal dan dibaptis di gereja Pantekosta sebelum akhirnya saya menjadi anggota GKY. Saya mengerti mengapa gereja Pantekosta bertumbuh. Karena mereka membayar harga! Contoh : apakah kita punya persekutuan doa pagi? Hanya mushi dan shimu , sedangkan jemaat tidak ada yang datang. Cobalah pergi ke gereja karismatik dan pantekosta. Dari Senin sampai Sabtu mereka ada jadwal doa. Bahkan ada gereja karismatik yang punya menara doa. Itu tempat berdoa 24 jam di mana jemaat terus bergantian untuk berdoa di sana tidak putus-putusnya. Waktu masih di gereja Pantekosta, kami tidak boleh mengambil pelayanan kalau pada hari Kamis tidak ikut doa puasa. Jadi doa puasa itu wajib bagi aktifis. Waktu gembala saya mau melakukan buang jimat , ia berpuasa selama 10 hari dan hanya minum sedikit. Pada waktunya jimat disiram. Lalu saya mendengarnya berkata,”Dalam nama Tuhan Yesus hai iblis keluar!” lalu jimat itu terbakar! Mengapa gereja kita tidak mengalami hal seperti itu? Mengapa gereja Protestan tidak mengalami hal seperti itu? Bukan karena gereja kita tidak ada Roh Kudusnya, masalahnya kita tidak mau bekerja-keras untuk mencapai level kerohanian yang lebih tinggi. Disuruh doa puasa malah puasa doa dan suntuk. Nanti kalau sudah hidup susah ia berkata,”Ini rencana Tuhan.” Bagaimana bisa mengatakan hal itu? Jangan tutupi pertumbuhan rohani dengan kemalasan. Bayarlah harga dan disiplin rohani!

Saya mau kita mengalami Yesus. Allah yang kita sembah, adalah Allah yang hidup. Ia bangkit dari antara orang mati. Ia disebut Allah Imanuel , Allah beserta kita. Kalau sudah 30 tahun tidak mengalami Dia, selama ini ke gereja ngapain saja? Mengalami penghiburan Allah  hanya terjadi kalau kita merelakan diri memikul salib. Dengan cara ini kita mengalami hal yang lebih dalam. Disiplin rohani harus ada dalam diri dan kita harus bayar harga. Pada liburan bulan lalu ada kejadian menarik bagi saya, karena kami hampir tidak jadi liburan. Papa mertua saya diopname. Saya dan istri pulang ke Jambi untuk merawatnya. Hebatnya mertua dan papa saya, di hari yang sama dan jam saya diopname di rumah sakit. Yang satu mengalami stroke dan yang lain menderita diabetes. Papa saya memiliki postur tubuh yang bagus. Walau usianya sudah 60 tahun, tetapi perutnya berotot dan  otot tangannya sebesar paha saya. Namun ia mengalami stroke karena tidak disiplin mulut. Ia maunya makan enak terus. Papa mertua saya lain lagi. Mereka seusia, sama-sama shio kuda, sakitnya bareng dan masuk rumah sakit juga bareng. Papa mertua tidak perlu bekerja keras dalam hidupnya. Bahkan dalam keadaan sulit, dengan duduk saja ia mendapat Rp 20 juta. Satu-satunya olah raga adalah kalau jalan dari rumah ke hall (lapangan) bulutangkis miliknya juga. Hall nya ada 4 buah. Ia berkeringat kalau menyapu hall yang dilakukannya tidak sampai 1 jam. Setelah sapu, dia duduk di kursi malas sambil nonton TV siaran dari Taiwan. Ia tinggal berdua sehingga tidak masak. Saat makan, ia pergi berdua istri untuk membeli makanan enak-enak. Akhirnya ia terkena diabetes. Kalau kena diabetes, keluar keringat sebesar biji jagung dan rasanya seperti mau pingsan. Penderita diabet serba salah. Makan dan tidak makan salah. Umurnya baru 60an (tidak sampai 63). Saya bertanya ke adik ipar saya yang usianya 35 tahun. Ia seorang manajer, tidak punya istri atau pacar dan orangnya tampan. Selain badannya bagus, ia punya rumah dua dan mobil. Karena tidak punya istri dan anak, kerjanya fitness setiap hari. Dadanya dan tangannya besar. Saya bertanya, “Ti, di tempat fitnes- mu ada yang seumuran papa kita?” Dia menjawab,”Ada yang berumur 70 an dan masih menjadi private traniner (PT).” Saya jadi kagum dan ingin memastikan. Ipar saya menjawab,”Benar umur segitu masih menjadi seorang PT. Badannya lebih ‘kering’ dari saya. Lemaknya sudah tidak ada. Perutnya six pack.” Saya berkata,”Ti, kamu ingat papamu? Tetapkan dalam hati, saat kita seumurannya jangan seperti itu.” Kita harus menjadi orang tua yang sehat.” Saya mau jadi sehat dan menikmati jalan-jalan dengan cucu. Untuk mencapai tujuan itu, saya harus berolah raga setiap harinya. Saya tidak bangga dengan badan saya. Tetapi saya bangga punya otot yang bagus dibanding anak umur 18 tahun, itu karena melatih diri berlatih keras. Kalau tidak menetapkan tujuan tinggi, maka kita akan kehilangan arah, mengalami kepicikan rohani. Kita harus punya tujuan mengikut Yesus, mengikuci caranya dan bayar harga. Itulah pertumbuhan rohani dengan disiplin rohani. 

Monday, July 10, 2017

Firman Tuhan Sudah “Kuno”?

Ev. Susana Heng

2 Tim 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Matius 24:35 Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.
1 Petrus 1:24-25 Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,  tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

Firman Tuhan

                Firman Tuhan atau Alkitab adalah tulisan yang diilhamkan oleh Tuhan yang berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Firman Tuhan mengatakan langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataan Tuhan tidak akan berlalu. Apakah  benar Firman Tuhan sudah “Kuno”? Saya bertanya ke anak dan adik saya yang menanggapi bahwa Alkitab tidak pernah menjadi “kuno” bagi mereka. Bagi anak saya , hal ini jelas karena sudah saya ajarkan sejak kecil.
                Kemarin saya menonton TV tentang kuliner. Kemana-mana akan dicari makanan khas suatu daerah. Turis dari AS dan Eropa suka pemandangan yang bagus-bagus. Suatu kali ada seorang turis Amerika yang karena suka pemandangan , maka ia pergi ke daerah pedalaman yang belum tersentuh peradaban modern. Di sana ia naik kano menyusuri sungai yang kecil dan pinggirnya penuh pepohonan. Sewaktu melihat pemandangan itu ia melihat seorang Indian yang begitu kusuk membaca sebuah buku. Kemudian ia bertanya, “Buku apa yang sedang kamu baca?” Orang Indian itu berkata, “Alkitab!” Waktu mendengarnya, sang turis menjawab,”Kalau di tempat saya Alkitab itu sudah kuno dan orang tidak membaca lagi.” Lalu orang Indian itu membalas, “Kalau Alkitab sudah kuno maka kamu sudah berada di perut saya.” Artinya orang Indian itu dulunya adalah orang kanibal (pemakan orang). Tetapi karena Alkitab adalah firman Tuhan maka orang Indian itu telah mengubah kelakukan dan tidak makan orang lagi. Sehingga dengan perkataan ini, ia ingin menjawab orang Amerika itu bahwa kalau Alkitab sudah kuno maka orang Amerika itu sudah dibunuh dan dimakan hingga ada di perutnya. Alkitab adalah firman Tuhan yang bermanfaat untuk mengajar. Ini adalah Firnan Tuhan yang hidup dan saya mendapat data Alkitab adalah buku terlaris sepanjang masa.        

Buku Terlaris Sepanjang Masa

Menurut sebuah survei, buku yang terlaris di Indonesia adalah Al Quran. Hal ini disebabkan umatnya paling banyak tetapi secara keseluruhan di dunia buku yang paling besar penjualannya dan terlaris adalah Alkitab.
  Secara MENDUNIA dari masa ke masa dan dari zaman ke zaman, Alkitab adalah buku terlaris sepanjang masa (berdasarkan hasil penelitian: Alkitab yang telah dicetak antara tahun 1816 dan 1975 sebanyak  2,458 miliar).
·       Sebuah survei yang lebih baru, yang melakukan penelitian antara tahun 1972 sampai dengan 1992,
merujuk ke angka 6
miliar dan ditulis lebih dari 2.000 bahasa dan dialek.
Sekarang angkanya sudah melebihinya. Berapa pun angka yang pasti, Alkitab telah menjadi buku terlaris sepanjang masa. Sepanjang zaman Alkitab tetap laris dijual. Seorang rekan kuliah di SAAT yang sekarang lebih banyak melayani di Tiongkok. Ia pernah mengirim foto pelayanan dia di Tiongkok ke group Whatsapp teman kuliah seangkatan. Ia selalu mengambil foto dari belakang, karena di sana ibadah dilakukan agak tertutup. Sehingga ia tidak mengambil foto jemaatnya dari depan sehingga wajah orang itu bisa dilihat banyak orang. Pada pesan di group WA ia mengatakan bahwa  ia berkali-kali diundang untuk melayani KKR. Orang-orang  Kristen di sana sangat membutuhkan Alkitab. Dengan kondisi di Tiongkok seperti ini, maka jumlah Alkitab yang terjual sudah berlipat-lipat. Dari sini kita menyimpulkan bahwa Alkitab tidak pernah menjadi kuno. Orang tetap membaca dan membelinya.

Di dalam surat yanga ditulis oleh Rasul Paulus ke anak rohaninya, Timotius, (2 Tim 3:16) dikatakan firman Tuhan bermanfaat untuk :

1.    Mengajar

Alkitab itu tidak pernah menjadi kuno. Apa yang ditulis di dalamnya sampai hari ini masih mengajar kita. Sekarang ini, di Indonesia dan dunia banyak beredar berita bohong (hoax). Banyak orang yang menulis pesan palsu di multi media (seperti internet dan Whatsapp). Namun ajaran Alkitab di Yakobus 3:5 mengatakan Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Sampai sekarang ayat firman Tuhan ini masih sesuai dengan kondisi ini. Sedangkan pesan palsu dan hoax membuat orang bingung dan galau. Perkataan kuno berarti perkataan itu sudah ketinggalan zaman. Tetapi firman Tuhan sampai saat ini masih aktual sesuai zaman. Pernahkah di antara kita ada yang merasa sakit hati dengan perkataan orang lain? Bagi yang pernah, kita tahu kulit yang tergores pakai betadine bisa sembuh. Tetapi sakit hati ibarat lagu dangdut mengatakan “sakitnya tuh di sini” sambil menunjuk hati. Karena perkataan orang seringkali membuat orang lain merasa  sakit di hati baik secara sengaja maupun tidak. Pernah mendengar suami istri bertengkar? Contoh: istri berkata ke suami, “Kamu ingat tidak kamu ‘begini-begitu’ ?” Suami berkata, “Kapan?”. Waktu bertengkar perkataan Sang Suami 15 tahun lalu dikeluarkan lagi. Alkitab mengatakan perkataan orang membuat sakit di hati walau sudah mengampuni . Tetapi begitu ada pemicu maka teringat lagi dari awal sampai akhir. Berapa banyak yang masih menyimpan perkataan papa dan mamanya yang membuatnya ‘sakit hati’? Papanya pernah berkata,”Kamu anak bodoh dan tidak berguna!” Sampai besar anaknya masih mengingatnya walau pun hal itu tidak benar. Itu yang diajarkan Alkitab bahwa pada zaman dahulu , apa yang kita baca di Alkitab masih berlaku sampai sekarang. Apa yang diajarkan Alkitab masih aktual dan tetap berlaku. Apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan masih dirasakan sampai hari ini. Sehingga apa yang dikatakan Yakobus ini sering kita dengar sampai hari ini. Bahkan Presiden kita mengatakan,”Jangan menyebarkan hoax.”

2.    Menyatakan kesalahan

Firman Tuhan bukan hanya untuk mengajar tetapi juga untuk menyatakan kesalahan. Siapa orang yang senang ditegur? Kadang untuk sopan-santun, orang menggunakan perkataan basa-basi seperti saat bertemu orang pertama kali seringkali diucapkan,“Bila ada kesalahan mohon diajarkan dan dimaafkan” atau”Mohon petunjuk.” Tetapi saat kesalahan orang itu dinyatakan, bagaimana perasaannya? Pernah ditegur oleh rekan kerja? Apakah enak hati saat kesalahan kita ditegur? Kita melihat firman Tuhan itu seperti apa?  Sewaktu menbaca Firman Tuhan, sering kita ditegur oleh Firman Tuhan sehingga kita tahu kesalahan kita. Mis: jangan menghakimi orang lain.  Matius 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Yak 1:23-24 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.  Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.Sebelum ke luar rumah, kita suka bercermin dahulu. Mengapa kita melakukannya? Tadi saat makan bakmi di kantin, saya pesan agar tidak pakai daun bawang, karena setelah makan daun bawang sering tertinggal di gigi. Kalau terjadi hal tersebut, maka akan menarik perhatian jemaat. Jemaat akan memandang gigi saya dan ingin mengambil tisue agar saya dapat menyingkirkan daun bawang tersebut. Cermin itu menunjukkan apa yang tidak benar pada diri kita yang harus dibuang dan dibersihkan. Demikian juga dengan firman Tuhan seperti cermin, yang mengatakan ke kita, apa yang salah dari kelakuan kita sehingga diharapkan kita memperbaiknya. Pada segala zaman , cermin tidak pernah jadi kuno. Demikian juga firman Tuhan. Bila kita tidak suka orang lain menegur kita, lalu kapan kita bisa bertumbuh dan menjadi orang dewasa dan benar sehingga kita melihat Alkitab menyatakan kesalahan kita agar kita bisa mmperbaiki kesalahan kita. Alkitab mengajarkan banyak hal pada kita. Yang diajarkan Alkitab bukan yang sudah lalu (kuno), tetapi yang sampai hari ini bisa bermanfaat dalam hidup kita. Kita melihat Alkitab memperbaiki kelakuan kita. Kalau kita melihat di Alkitab, bagaimana Tuhan berfirman kepada Rasul Paulus  sehingga seluruh hidupnya berubah.

3.    Memperbaiki Kelakuan

Kalau kita mencari kesaksian dari orang bertobat dan Tuhan mengubah hidupnya sangat banyak. Bahkan ada seorang yang dulunya pemakai narkoba namun firman Tuhan telah mengubah hidupnya dan kemudian ia menjadi seorang hamba Tuhan. Alkitab bukan sekedar buku tetapi Firman Allah yang bisa mengubah seluruh hidup orang. Dia bisa mengubah hidup orang yang hancur menjadi sesuatu yang berguna. Apakah kita setiap hari membaca firman Tuhan? Kalau benar, kita sendiri akan mengalami bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita dan bisa mengubah cara pandang kita yang salah. Saya dulu menangani remaja dan biasanya setelah retreat atau KKR di sekolah , terkadang ada beberapa remaja yang menyampaikan kesaksian. Karena masih sekolah, kesaksiannya seputar masalah di sekolah dan umumnya mencontek. Kalau belum mengenal Tuhan, maka biasanya siswa suka mencontek. Sewaktu sekolah dulu format soal ujiannya benar atau salah. Teman saya yang suka mencontek menggunakan cara dengan pura-pura membuka jendela. Sekali berdiri untuk melakukannya, ia bisa melirik 10 soal. Sesudah percaya kepada Tuhan Yesus dan tahu itu salah, maka saat mau berdiri untuk membuka dan menutup jendala ia merasa salah, karena firman Tuhan sudah bekerja di hatinya dan memperbaiki kelakukannya. Bahkan bila ada temannya yang memberi jawaban atas pertanyaan di soal ujian, ia tidak berani membukanya lagi. Firman Tuhan akan menegur kesalahan dan memperbaiki kelakuan kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Namun sebaliknya ada orang yang walaupun sudah membaca Alkitab tiap hari tetapi tidak tenang hatinya. Ada juga pria yang sudah menikah tapi di luar mengaku masih jomblo dan berkata,”Semua orang juga melakukan hal itu.” Tetapi setelah mendengar dan membaca firman Tuhan apakah masih seperti itu? Karena Firman Tuhan akan memperbaiki kelakuan tersebut, tidak seperti orang lain yang melakukan sesuka-suka hatinya. Maka firman Tuhan tidak pernah kuno pada zaman ini.

4.    Mendidik orang dalam kebenaran

Selama hidup di dunia manusia harus terus belajar. Jikalau bisa berfungsi untuk mengajar dan mendidik, maka Firman Tuhan tidak pernah menjadi kuno. Ajaran Firman Tuhan sangat aktual dan isu-isu yang dibahas juga aktual. Saya pernah mengikuti seminar tentang bibliosexiology yang dibawakan oleh Dr. Andik yang berprofesi sebagai dokter dan pernah belajar teologia. Sekarang ini sedang ramai LGBT (lesbin, gay, bisexual and transgender). Seminar itu menyampaikan bahwa LGBT adalah salah. LGBT adalah isu yang booming. Ada yang menyetujui, bahkan ada negara yang sudah melegalkannya. Tetapi kalau kita baca di kitab Roma 1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.  Alkitab mengajarkan kebenaran maka bukalah Alkitab yang akan mengajarkan dengan jelas sekali. Alkitab yang mengajarkan kebenaran ini dari zaman ke zaman ia tetap aktual. Sehingga sewaktu saya berbicara dengan adik dan anak saya yang membaca Alkitab setiap hari, mereka mengatakan bahwa firman Tuhan selalu baru bagi mereka.
Saya ingat saat baru lulus SMA di Medan, saya berempat dengan teman dan sepupu saya berjalan-jalan ke air terjun yang katanya sangat bagus. Waktu itu, sepupu saya naik motor dengan temannya dan saya juga dengan teman yang lain naik motor juga ke tempat itu. Waktu itu saya tidak tahu bahwa jalan menuju air terjun melewati kebun sawit yang seperti hutan dan hanya ada beberapa desa kecil. Sewaktu pulang di sore hari, langit sudah agak gelap. Kami melewati desa yang mungkin sedang bertempur dan kami tidak tahu ada segerombolan orang membawa kayu dan wajahnya sedang marah. Saat melewati tempat itu, hati saya merasa takut bukan main. Saya melihat waktu sepupu saya lewat dan saya berdoa agar dia juga bisa lewat dengan selamat. Saat itu saya mengajar di sekolah Minggu dan  saya teringat sebuah lagu sekolah Minggu yang liriknya diambil dari kitab Mazmur (Waktu aku takut, aku berdoa kepadaMu). Kami melewati daerah itu dengan gerombolan orang-orang yang memegang kayu. Kalau mereka memukul kami sampai mati dan dilempar ke kebun kelapa sawit, maka tidak ada yang tahu. Sepanjang jalan saya pun bernyanyi. Puji Tuhan, kami tetap dapat lewat walau kayu yang diayunkan hampir mengenai kaki saya. Sampai di Medan, saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Firman Tuhan yang kita baca itu, saat kita mengalami sesuatu akan hidup dan berkumandang dalam hati kita karena firman Tuhan itu hidup dan kekal.
Saya mengenal seorang guru Mandarin di sekolah Metodis. Ia membagi cerita tentang masa hidupnya yang paling suram. Saat itu suaminya sakit keras dan berobat di Singapore. Ia berada seorang diri dan harus memikirkan biaya untuk pengobatan suaminya. Suaminya sedang di kamar operasi sedangkan ia berada sendirian di kamar dan AC di Rumah Sakit Singapore dingin sekali. Ia mengatakan karena bukan saja AC-nya dingin tetapi hatinya dingin karena berada sendirian tanpa mengetahui bagaimana hasil operasi suaminya. Tetapi dia mengatakan saat itu firman Tuhan yang menemani dan menguatkannya. Karena operasinya di Singapore maka banyak saudara dan teman yang tidak bisa menemaninya, tetapi ia mengatakan bahwa saat ia sendirian dan ketakutan, merasa begitu sedih dan down, firman Tuhan menguatkan dan menghiburnya. Firman Tuhan ini hidup. Melalui Firman Tuhan kita mengetahui penyertaan Tuhan yang  menguatkan kita. Bukan saja firman Tuhan tidak kuno karena isinya aktual, sesuai kebutuhan kita dan isu zaman ini, tetapi saya ingin mengatakan bahwa firman Tuhan itu kekuatan Allah bagi kita. Setiap kali sewaktu saya mengalami masalah, firman Tuhan menjadi kekuatan bagi saya. Maz 121:1 Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Firman Tuhan ini yang selalu menguatkan kita. Firman Tuhan adalah baru setiap pagi. Apakah kita membaca Alkitab setiap hari? Setiap hari, saya membaca Alkitab, dan setiap membacanya ada keajaiban , ada hal yang indah dan  manis yang mengajar saya. Sehingga saya rindu agar setiap kita membaca dan memperoleh berkat dari Tuhan. Sehingga kita bisa merasakan indahnya firman Tuhan itu, kita bisa mengecap manisnya firman Tuhan. Karena Tuhanlah pertolongan bagi kita. Ia tidak pernah menjadi kuno. Karena Ia hidup dan kekal. Biarlah firman Tuhan ini boleh mengingatkan kita dan kita boleh membacanya bukan hanya membeli Alkitab dan menaruhnya saja. Amin.


Sunday, July 2, 2017

Pedang Bermata Dua (Firman Tuhan Untukku dan Untukmu)


Ev. Rio Tan

Ibrani 4:10-13
10  Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
11  Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.
12  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
13  Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Aturan dan Tanggung Jawab

                Saat mencoba memperhatikan tatanan hidup sebagai manusia, baik yang masih muda atau pun yang  sudah tua, maka seringkali kita bersinggunggan dengan berbagai aturan. Aturan-aturan itu melekat dengan berbagai aspek kehidupan. Contoh : setiap rumah tangga punya aturan. Saya teringat akan aturan di rumah di mana kalau sedang makan, tidak boleh ada yang memainkan gawai (gadget)  atau memegang telpon seluler, tidak boleh makan sambil menonton dll. Dalam arena yang lebih luas seperti saat menempuh pendidikan di universitas, ada aturan seperti bila 3 kali tidak hadir dalam kuliah maka tidak boleh mengikuti ujian akhir (UAS). Di kantor (perusahaan tempat kita bekerja) pun ada aturannya. Bahkan di luar, ketika berkendaraan di jalan ada aturan lalu lintas seperti kalau lampu sedang merah berarti harus kendaraan berhenti (bukan sebaliknya malah tancap gas) sedangkan bila lampunya telah hijau maka baru boleh jalan. Di gereja juga ada aturan. Seperti selama ibadah, telepon seluler harus dimatikan, saat ibadah berlangsung tidak boleh ngobrol atau tidur (terkadang waktu mendengar firman Tuhan menjadi waktu paling ‘indah’ untuk tidur), jemaat hadir sebelum ibadah dimulai.  Di gereja saya bila ibadah dimulai pk 10 maka jemaat yang hadir tepat pada pk 10 atau lebih dianggap telat (hadir sebelum pk 10 baru dihitung tidak telat). Jadi kalau mau tidak telat, datanglah ½ jam sebelumnya. Tadi saat hendak menyampaikan khotbah di tempat ini, saya usahakan berangkat secepatnya dari daerah Bumi Serpong Damai (BSD) sehingga bisa tiba di sini sebelum pk 9.30.
                Hidup kita diwarnai dengan aturan-aturan. Aturan itu bertujuan agar segala sesuatu bisa ditata dengan baik sehingga tujuannya bisa dicapai bersama-sama. Dalam hidup manusia, kita seringkali berkaitan dengan aturan. Manusia dituntut untuk bertanggung jawab untuk mentaati aturan yang dibuat demi suatu tujuan. Kita belajar dan diajar untuk bertanggungjawab. Jadi ada 2 hal yaitu aturan dan tanggung jawab yang ada di dalam hidup kita baik yang berusia tua maupun muda atau baik yang sudah bekerja bekerja maupun yang masih kuliah. Dalam kehidupan sebagai orang Kristen (orang percaya) ada tanggung jawab yang harus dipikul seperti beribadah pada hari Minggu, ikut dalam pelayanan, berdoa kepada Tuhan. Sebagai orang percaya sekalipun diberi anugerah keselamatan dari Tuhan, kita punya tanggung jawab.
                Ibrani 4:13 Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ayat ini mengatakan dengan jelas  bahwa kita hidup sementara di dunia dan kita akan meninggalkan dunia ini. Suatu hari nanti  setiap orang tanpa kecuali harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Saat itu tidak ada lagi yang namanya hamba Tuhan dan pendeta yang membela. Yang ada hanya diri kita dengan Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidup kita. Ketika kita hadir di dunia ini, dalam prosesnya hari demi hari, sampai mencapai akhir kehidupan kita, ternyata tidak berakhir begitu saja. Setiap orang tanpa kecuali akan mempertanggungjawabkan hidupnya. Masalahnya : bagaimana kita menjalani hidup kita hari lepas hari? Apakah kita bertanggung jawab dengan anugerah yang diberikan kepada kita? Apakah semakin hari kita semakin menikmati kasih Tuhan dan semakin memiliki pengenalan yang sempurna akan Tuhan? Kalau kita tidak bertanggung jawab dengan kesempatan hidup yang diberikan Tuhan, maka kita melewati hari demi hari begitu-begitu saja. Setiap hari dimulai dengan bekerja di pagi hari, malam hari pulang bertemu keluarga. Begitu seterusnya. Kalau kita tidak bertanggunggung jawab, maka Tuhan mengatakan,”Aku tidak akan mengenalmu.” Kehidupan kita harus bertanggungjawab. Sebagai orang yang percaya , setelah diselamatkan, maka kita harus mengisi setiap hari dengan hal yang bermakna (bernilai) sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana mengisi hidup kita, kalau kita tidak punya waktu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Suatu saat kita harus mempertanggungjawabkan hal yang telah kita lakukan.

Firman Tuhan Menuntun Hidup Orang Percaya

                Maz 119:105 Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Di dalam kehidupan kita yang singkat dan sementara, kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Mari kita isi dengan hal yang Tuhan mau kita lakukan. Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan kita  dan sebagai kebenaran yang menjadi penuntun hidup kita. Di dalam kehidupan kita, kita berpegang penuh dan setia pada kebenaran firman Tuhan. Satu hal yang kita syukuri sebagai orang percaya, kita menerima anugerah. Tuhan memberikan anugerah untuk kita semua. Tetapi anugerah itu bukan anugerah yang murahan. Ketika anugerah diberikan untuk kita semua, maka kita harus menyerahkan hidup kita, keberadaan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan agar Tuhan pimpin seluruh hidup kita. Jangan berpikir kita sudah punya kemampuan, kepintaran, uang , jabatan yang tinggi dll sehingga tidak bersandar pada Tuhan. Kalau menjalani hidup sendiri dengan kemampuan sendiri, maka kita tidak mampu menjalaninya. Kita butuh Tuhan untuk menuntun hidup kita. Kita butuh Firman Tuhan untuk menjalani hidup kita.
                2 hari lalu ada seorang jemaat yang ada datang kepada saya dan berkata,”Pak semakin hari hidup semakin susah.” Dia lihat berita bahwa Jumat lalu (30/6/2017), hanya berjarak 200 meter dari Markas Besar Polri, dua anggota polisi yang sedang menunaikan ibadah di Masjid Falatehan ditusuk oleh seorang pria. Padahal mesjid adalah tempat ibadah yang kudus. Dia melanjutkan,”Di tengah kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan. Kadang saya jualan dan laku. Kadang tidak laku dan tidak dapat uang sepeser pun. Sekarang tinggal di Indonesia makin susah.” Saya katakan, “Segala sesuatu bisa berubah di dunia ini. Hari ini kita bisa memiliki sesuatu besok kita bisa kehilangan. Hari ini kita bisa memiliki kesehatan namun di lain hari kita bisa kehilangan kesehatan itu.  Segala sesuatu bisa berubah. Yang tidak berubah adalah Tuhan mengasihi kita dan Ia berikan FirmanNya untuk menuntun hidup kita. Dengan semakin sulitnya kehidupan, maka apakah kita masih berpegang teguh pada firman Tuhan?”. Saya berkata,”Terkadang saya tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa, penyeselesaian apa yang harus dilakukan? Tetapi ketika kembali kepada firman Tuhan, Tuhan akan memberikan kekuatan, dan tidak tinggalkan saya. Ia memimpin hidup saya.”
                Hari ini masihkah kita berpegang teguh dan setia pada kebenaran firman Tuhan? Kalau kita gagal berpegang teguh pada firman Tuhan, maka kita gagal mengenal kebenaran Firman Tuhan. Kalau gagal mengenal kebenaran, kita gagal mengubah kehidupan kita dan menghasilkan buah. Firman Tuhan membawa kita mengerti kebenaran dan memperbarui kehidupan kita. Firman itu akan membuat kita mengerti bagaimana kita menghasilkan buah dalam hidup kita.
                Koko (kakak laki-laki) ipar saya menyenangi tanaman. Suatu kali ia melihat pekarangan rumah kami  yang kosong dan ia pun bermaksud memanfaatkan lahan kosong itu dengan menanam pohon mangga. Jadi ia mencari cangkokan pohon mangga yang baik. Kami berkomentar,”Apakah pohon mangganya bisa tumbuh?” karena pekarangan yang kosong hanya kecil saja sedangkan pohon mangga membutuhkan lahan yang luas. Namun koko ipar saya yakin pasti pohon mangganya bisa tumbuh. Dan ia mencoba menanam cangkokan pohon mangga tersebut. Kemudian ia merawat, menjaga, memperhatikan pohon itu melebihi perhatiannya kepada istri dan anaknya. Secara perlahan pohon itu mulai bertumbuh tinggi hingga akhirnya berhenti saat tingginya sebahu saya. Saya berkata, “Nah mana bisa pohon setinggi ini bisa menghasilkan buah?”. Setelah saya berbicara begitu, ternyata pohon mangga itu berbuah dan berbuahnya bukan saja 1 tapi 5 buah! Lalu buahnya dibungkus plastik agar tidak terlihat oleh tetangga. Koko ipar berkata, “Walaupun lahannya kecil namun dengan perawatan ternyata pohon mangga itu menghasilkan buah”. Bukan hanya sekali tapi berbuah berkali-kali. Sayangnya akhirnya pohon mangga itu ditebang saat rumah direnovasi. Ketika kita merawat dan menjaga sendiri terasa ada sensasi yang berbeda. Memetik , merawat dan makan sendiri. Ketika menanam sesuatu , kita ingin tanaman itu bisa bertumbuh dan pohon itu bisa menghasilkan buah. Tuhan rindu, ketika menyelamatkan kita, Tuhan merindukan, menantikan dan mengharapkan hidup kita bisa menghasikan buah dari kebenaran yang kita pelajari. Kita mendapatkan kebenaran dari firman Tuhan sendiri. Firman Tuhan diberikan kepada kita dan dengan kuasa Roh Kudus kita sungguh diubahkan sebagai orang percaya dan menghasilkan buah dalam hidup kita karena kita sungguh kembali pada pengenalan dan kebenaran firman Tuhan. Kita selalu bergumul menemukan kebenaran firman Tuhan dalam hidup kita. Sebaliknya kalau kita tidak bergumul dengan firman Tuhan , maka omong kosong kita bicara tentang kebenaran dan mustahil menghasilkan buah tanpa  tuntunan firman Tuhan dalam hidup kita.

Ciri Orang Kristen yang Bertumbuh

                Ada sebuah buku yang bertanya,”Apa ciri orang Kristen yang bertumbuh?” Ada yang mengatakan, orang Kristen yang bertumbuh adalah orang Kristen yang setia ikut beribadah dan persekutuan doa setiap minggu  (tidak pernah bolos), ikut mengambil bagian dalam pelayanan serta mengalami suka-dukanya. Terkadang kita terjebak dalam fenomena seperti itu. Pertumbuhan kerohanian Kristen tidak sekedar diukur seperti itu. Pertumbuhan kerohanian itu seharusnya diukur dari sejauh mana ia mengalami perubahan dan menghasilkan buah dalam hidupnya. Kehidupan kerohanian tidak bertumbuh dengan datang ke gereja. Ada orang Kristen yang setiap Minggu ke gereja tapi masih aktif melakukan dosa. Seharusnya saat kembali ke rumah, tempat kerja dan kuliah, orang bisa melihat perubahan nyata dalam hidupnya. Jangan kita kehilangan waktu belajar firman Tuhan dan menolak kebenaran firman Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” (2 Tim 4:3-4).  Apakah kita mencari kebenaran sekalipun menyanyat, menyakitkan , menusuk? Ataukah yang kita  cari adalah khotbah yang lucu, enak didengar dan hamba Tuhannya tidak marah-marah? Banyak orang biasanya mencari hal-hal yang belakangan itu.
                Suatu waktu saya diminta khotbah tentang perpuluhan. Saat itu saya membawakan tentang sikap hati dalam memberikan persembahan. Kalau kita punya sikap hati yang rindu maka kita akan memberikan yang terbaik pada Tuhan (termasuk dalam hal materi). Sebelum khotbah itu , bendahara gereja mengatakan, minggu lalu dalam kantong persembahan ditemukan uang Rp 2.000-an. Buat saya hal ini bukan masalah. Yang menjadi masalah uangnya diremes sampai kucel dan hitam. Yang parah, di dalamnya itu ada slip parkir yang menjelaskan bahwa bahwa uang yang diberikan itu adalah uang kembalian parkir. Rupanya saat parkir ia memberikan uang Rp 5.000 lalu dikembalikan Rp 2.000. Kalau kita punya sikap yang baik, maka kita tidak mungkin memberi uang yang diremes , kotor dan bau, tetapi diberikan dalam bentuk persembahan tanpa bon parkir. Siangnya ada seorang Bapak yang mengirim SMS kepada saya. Isinya,”Pak, seharusnya dalam khotbah tidak bicara seperti itu.” Saya bertanya, “Bagian yang mana?” Dijelaskan,”Itu lho Pak, kasih uang Rp 2.000 di kantung persembahan.” Saya bertanya lagi,”Memang orang yang memberikan uang Rp 2.000 itu Bapak?” Dijawab,”Bukan!” Saya dengan nada polos bertanya,”Lalu kenapa bapak mempermasalahkannya? Saya tadi bicara tentang sikap hati memberi persembahan ke Tuhan.” Bapak itu berkata,”Tapi saya tidak suka Bapak bicara seperti itu.” Saya bertanya lagi,”Jadi Bapak maunya yang bagaimana?” Ia pun menjawab,”Ya saya tidak tahu. Yang penting tidak bicara seperti itu!” Hanya hal seperti itu saja ada jemaat yang protes. Bagi dia hal itu terlalu pedas didengar dan menyakitkan. Ia ingin mendengar hal-hal yang baik. Rupanya banyak yang terbiasa mendengar, “Kalau kita kasih segini nanti Tuhan akan kasih 100 kali lipat.”

Pedang Bermata Dua

Firman Tuhan ibarat pedang bermata dua, yang menusuk ke bagian paling dalam diri manusia. Ia mengoreksi hidup kita, menilai kehidupan kita, mengeluarkan bagian yang tidak baik (jahat) untuk menjadi hal yang baik sesuai dengan yang Tuhan mau. Kebenaran seringkali pahit didengar. Tetapi kebenaran firman Tuhan tidak akan pernah sia-sia saat dilakukan dalam hidup kita. Tanggung jawab kita selain dipimpin oleh firman Tuhan, tanggung jawab yang diberikan, mengalami transformasi, menghasilkan buah, menjadi berkat dan berdampak pada orang lain. Kalau firman Tuhan memimpin hidup kita, berapa banyak waktu yang kita berikan untuk belajar firman Tuhan? Saya menangani persekutuan pemuda dan remaja. Jumlah jemaat remajanya ada sekitar 60 orang. Setiap bulan saya bertanya, “Siapa yang minggu ini setiap hari bersaat teduh?” Ada 2-3 orang remaja yang mengangkat tangan. Saya bertanya lagi,”Siapa yang bersaat teduh 5 kali dalam seminggu ini?” Ada 4 orang yang mengangkat tangan. Jadi total 7 orang. Saya kembali bertanya,”Siapa yang bersaat teduh 3 kali saja dalam seminggu?” Ada 3 orang remaja yang mengangkat tangan. Total 10 orang. Lagi-lagi saya bertanya,”Siapa yang minggu ini hanya bersaat teduh 1 hari dalam seminggu ini?” Ada 10 orang yang mengangkat tangan. Jadi sisanya (40 orang) tidak bersaat teduh. Satu hari pun tidak, sekalipun tidak. Alasannya klasik. Jemaat yang tidak bersaat teduh baik  di remaja, pemuda atau dewasa beralasan sibuk. Coba tanya kepada teman di gereja apakah bersaat teduh minggu ini? Ada yang menjawab,”Sibuk kerja”, “Sibuk cari pasangan hidup”, sibuk... sibuk... sibuk. ‘Sibuk’  menjadi kata yang tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan kita.
Sebuah buku menceritakan, seorang anak yang punya masalah  di sekolah datang ke mamanya, “Ma, saya mau cerita.” Namun mamanya hanya berkata, “Nanti ya, mama sedang sibuk jualan online”. Jadi ia pun datang ke papanya. “Papa, saya ada masalah tadi di sekolah.” Respon papanya, “Kamu ke mama saja!” Karena tidak ditanggapi, lalu ia datang ke guru sekolah minggu. Tapi guru tersebut berkata, “Gimana ya. Koko bukannya tidak mau bantu. Saya sedang sibuk pelayanan di gereja. Nanti kita cari waktu lain saja ya” Akhirnya ia melihat ada seorang panatua yang baik dan ia pun berkata kepadanya,”Pak saya mau cerita kepada Bapak karena orang lain tidak mau mendengar. Demikian juga dengan  koko.” Tetapi Panatua juga berkata, “Saya juga sibuk karena sedang sibuk persiapan untuk natalan.” Terkadang kalau kita diminta melakukan sesuatu , jawabannya : sibuk.. sibuk.. sibuk.. dan sibuk! Ketika kita begitu sibuk dengan kehidupan kita, tenggelam dalam kesibukan kita tanpa firman Tuhan, maka kesibukan itu menjadi tidak berarti dan tidak bernilai. Karena kita sibuk dalam banyak hal tapi kehilangan sesuatu yang penting dalam hidup kita yaitu firman Tuhan yang memimpin hidup kita.
                Maka seringkali kita mengalami kegagalan karena kita tidak dipimpin oleh Firman Tuhan. Kita tidak menyediakan waktu untuk sungguh belajar firman Tuhan. Tidak peduli sudah menjadi orang Kristen sekian tahun atau  orangnya aktif melayani , tetapi pelayanan dan kehadiran kita tidak menjaminnya. Tetapi berapa lama sudah jadi percaya dan datang ke gereja, pertanyaan yang penting : “Apakah punya waktu untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan?” Jangan katakan belajarnya hanya di gereja pada hari Minggu. Karena kalau hal itu sudah pasti kecuali saat di gereja mengantuk. Kalau sungguh punya waktu untuk secara rutin belajar firman Tuhan agar dipimpin oleh kebenaranNya dan hidup kita diubahkan sehingga menghasilkan buah. Berikan waktu dan kesempatan untuk belajar firman Tuhan walau tidak mudah. Firman Tuhan yang didengar dan dibaca tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Karena Firman Tuhan hidup,  kebenaran Firman Tuhan itu akan mengubahkan , memulihkan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup kita. Ada sebuah kalimat dalam sebuah film rohani,”Hidup kita seperti perang. Ketika berperang ada perjuangan hidup. Untuk meraih kemenangan dalam peperangan hidup  tidak mudah. Kita butuh cara yang tepat dan sumber daya yang baik. Hidup kita sebagai anak Tuhan di dunia ini diwarnai peperangan hidup. Kita bisa menikmati peperangan ketika kita bisa berdoa dan kembali dipimpin oleh firman Tuhan.”

Penutup


Pada waktunya nanti ,tanpa kecuali kita akan mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan. Bagaimana kita menjalani hidup kita hari ini? Apakah kita bertanggung jawab sebagai orang percaya? Apakah kita sungguh-sungguh belajar firman Tuhan, dituntun oleh firman Tuhan sehingga kita hidup dalam kebenaran,  menghasilkan buah dan akhirnya ketika kita datang ke hadapan Tuhan saat mempertanggungjawabkan hidup kita yang tidak mudah dan akhirnya Tuhan menyambut kita , membawa kita masuk dalam kebahagian yang diberikan Tuhan kepada kita? Biarlah hidup kita dipimpin oleh Firman Tuhan, menemukan kebenaran,  belajar kebenaran , melakukan dan membagikan kebenaran untuk orang lain. Amin.