Sunday, January 8, 2017

Kesetiaan yang Teruji


Pdt. Irwan Hidayat

Filipi 2:1-11
1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan

                Saat kita melakukan perjalanan atau bila ada orang mengajak kita bepergian maka tujuan (destinasi) adalah hal pertama yang menjadi perhatian kita Mau kemana? Pertanyaan ini penting karena kalau tahu kemana kita akan pergi maka kita bisa membayangkan tempat yang dituju. Apakah tempat itu indah, menarik ,nyaman atau tidak? Misal : Papua, kita bisa membayangkan medan seperti apakah di sana. Bila kita bisa membayangkan tempat itu maka kita bisa membuat persiapan dan membawa perlengkapan yang dibutuhkan. Misalnya : kita akan membawa obat nyamuk. Bila destinasinya Bali maka kita membayangkan tempat yang indah dengan pantai dan pemandangan yang begitu bagus. Atau bila kita berpikir tentang India, mungkin ada kesan akan ada banyak orang, banyak orang berdagang, berlalu-lalang dan tempat yang kotor penuh sesak. Ketika kita tahu tempat yang dituju, maka kita bisa membayangkan tempat itu dan bisa mengambil keputusan-keputusan penting terkait tempat itu.
                Demikian pula dengan Tuhan Yesus saat diutus turun ke dunia. Tahukah Tuhan Yesus ke mana Ia akan melangkah? Apakah ia mempunyai gambaran tentang dunia yang ke dalamnya Ia akan datang? Tentu Tuhan Yesus tahu. Ia akan datang ke dalam dunia yang digambarkan oleh Alkitab sebagai tempat yang cemar oleh dosa, dunia yang oleh Penginjil Yohanes dihuni oleh orang-orang yang justru akan menolakNya, dunia di mana Ia tidak akan mengalami kenyaman, namun Ia akan datang melalui kandang yang hina, kotor  dan jorok. Dunia yang membuat Tuhan Yesus tidak tidur di atas ranjang yang empuk tetapi di palungan yang busuk. Dunia dimana Tuhan Yesus tidak akan tinggal di istana mulia tetapi ia akan akan tinggal menuju ke palang yang hina. Tuhan Yesus tahu persis tentang gambaran kemana ia akan pergi. Pertanyaan selanjutnya : mengapa Ia mau? Ia tahu di mana penghuni dunia akan menolakNya, dunia yang penuh kekotoran dan penuh penghinaan , penderitaan dan di mana Ia akan mengalami kematian. Bila tempat yang dituju tidak seusai dengan yang dibayangkan maka sebelum pergi, kita dapat membatalkannya daripada pergi ke sana dan menderita. Tetapi mengapa Tuhan Yesus mau meneruskan perjalananNya, jika Ia tahu tempat yang akan dituju? Apakah memang Tuhan Yesus harus datang? Apakah ada keharusan bagiNya untuk datang ke dalam dunia? Tidak ada! Tidak ada sebuah keharusan atau kewajiban bagi Tuhan Yesus untuk datang ke dalam dunia. Kita akan terus mengejar, “Mengapa Ia masih meneruskan perjalanan dan rencanaNya datang ke dalam dunia?” Jawabannya jelas, karena Ia maunya begitu! Mengapa Ia maunya begitu? Mengapa Ia putuskan begitu?

Alasan Tuhan Yesus Tetap Datang ke Dunia

                Melalui nats Alkitab Filipi 2:1-11, kita mau menggalinya. Walaupun sampai mati, kita tidak akan paham 100% tetapi pada bagian ini, kita akan menemukan alasan-alasan setidaknya sebagai manusia kita bisa sedikit memahami. Tetapi sebetulnya apa yang terjadi lebih daripada apa yang sanggup kita pahami

1.     Yesus datang ke tempat yang akan menolaknya dan penuh kehinaan dan penderitaan  karena kesungguhan cintaNya.

Rasul Paulus menggambarkan tentang Tuhan Yesus pada Filipi 2:1-11 ini dan kita menyebut bagian ini sebagai kristologinya Rasul Paulus (pada Filipi pasal 2  banyak deskripsi / keterangan tentang Tuhan Yesus). Pada Filipi 2:6 dikatakan “yang walaupun dalam rupa Allah (ov en morfh yeou, ov en morfh yeou)”.  Siapa Tuhan Yesus itu? Rasul Paulus secara straight to the point mengatakan “Yesus yang dalam rupa Allah”.

Dalam Bahasa Yunani ada 2 istilah yang berarti “rupa” yaitu morfh-morfh dan schma-schma. Schma bicara tentang  sesuatu yang kelihatan di luar dan morth natur yang tidak terlihat di luar (hanya bisa dilihat dari dalam). Ada orang yang bisa dilihat dari luar (misal : pipinya tembem, rambutnya keriting, kulitnya), itu yang dikatakan schma, rupa yang dilihat dari luar. Tetapi Rasul Paulus tidak memakai kata schma pada Fil 2:6 tetapi kata morfh yaitu rupa yang tidak kelihatan dan disebut sebagai natur (kodrat). Rasul Paulus pada bagian ini mengatakan secar gamblang siapa Yesus itu sebenarnya yaitu Yesus adalah Allah karena Ia mempunyai natur Allah dan kodrat Ilahi bahwa sesungguhnya Ia adalah Allah. Rasul Yohanes mulai dari pasal 1:1 sudah berbicara banyak tentang Yesus yang adalah Allah : Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Rasul Yohanes menegaskan apa yang dikatakan Rasul Paulus dan menggambarkan bahwa Yesus adalah Allah yang pada mulanya Ia bersama Allah dan pada karya penciptaan dunia, Yesus hadir. Yesus adalah Allah sendiri. Pada Filipi dikatakan Yesus mempunyai hal-hal yang setara dengan Allah artinya kalau kita mengenal Allah sebagai Bapa yang maha kuasa maka Yesus juga punya atribut yang berkuasa dalam kualitas yang sama dengan Bapa. Kalau Bapa adalah Maha yang maha suci, maka Yesus sebagai Allah punya atribut kesucian yang sama dengan yang dimiliki oleh Bapa. Ada pernyataan Rasul Paulus mengatakan “yang walaupun dalam rupa Allah” menegaskan bahwa Yesus yang sebetulnya adalah Allah tetapi ia tidak menganggap semua itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Itu milikNya, kodrat ilahi adalah milikNya. Kalau itu milik, siapa yang mau kehilangan milik baik besar atau kecil , baik mahal atau tidak? Manusia tidak mau  atau tidak rela kehilangan milik seperti mobil, berlian dan yang lainnya. Kita diingatkan tidak ada orang yang mau kehilangan milkinya. Tetapi pada bagian ini Yesus mengambil keputusan yang berbeda dengan keputusan yang manusia (kita) ambil. Kalau kita kehilangan milik, kita mungkin marah. Yesus memiliki hal-hal yang dimiliki Allah tetapi menganggap semua milkNya bukanlah hal yang harus dipertahankan melainkan (sebaliknya) Yesus mengosongkan diriNya. Mengosongkan diri diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Inggris Jesus made himself nothing. Yesus yang mempunyaI segala sesuatu (Jesus ,Lord of Everything, made himself nothing. Ini pernyataan yang luar biasa. Ia yang memiliki segalanya membuat diriNya tidak punya apapun supaya manusia yang sudah kehilangan segala sesuatu dalam dosanya sekarang dapat everything di dalam Dia Hal ini dilakukanNya karena satu hal. Yesus tetap menempuhnya dengan setia sampai akhir karena cintaNya kepada manusia. Tidak peduli manusia menolakNya, Dia tanggalkan  kemuliaan dan kedudukanNya karena cintaNya kepada manusia.

Cinta tidak pernah memberi yang sisa. Saat berpacaran (mencintai pacar) maka kita akan memberikan yang terbaik yang bisa kita berikan. Pada dia berulang tahun, maka kita tidak akan memberikan kerupuk yang dijual di luar tetapi coklat yang lebih berharga (bernilai). Cinta selalu mendorong orang memberi yang paling baik yang bisa diberi. Itulah yang diberikan Tuhan Yesus untuk kita semua. Walaupun Ia tahu seperti apa dunia ini, namun Ia tidak membatalkan kedatanganNya.  Walau punya hak untuk membatalkan , tetapi Ia tetap datang karena Ia mencintai kita. Dalam cintaNya Ia tidak memberi kepada kita alasanNya. Berbicara tentang kesetiaan Tuhan karena cintaNya pada kita, maka kita perlu merenungkan apakah kita cinta pada Dia. Sepanjang 2016 yang hampir selesai, bila digambarkan dalam bentuk grafik, seperti apa grafik cinta kita kepada Tuhan? Kita tidak berbicara tentang cinta yang emosional seperti janji muluk di dalam KKR. Tetapi seberapa cintakah kepada Tuhan yang teruji di dalam waktu yang selalu bersedia memberi terbaik kepada Tuhan yang terlebih dahulu mencintai kita. Keinginan untuk sampai umur tua tetap memikul salib mungkin tidak akan menjadi kenyataan, kita tidak kuat memegang salib Kristus sampai pada akhirnya. Cinta kita pada Tuhan mudah sekali pudar. Badai hidup, ajakan teman-teman, godaan-godaan, cuaca yang panas, penderitaan atau kesenangan menyebabkan orang bisa kehilangan kesetiaan cintaNya kepada Tuhan. Padahal Tuhan tidak pernah bertindak demikian kepada kita. Jadi tema kesetiaan yang teruji bila dikaitkan dengan Tuhan Yesus, maka kita tidak perlu meragukannya. Tetapi tema ini dikaitkan dengan diri kita maka perlu dipertanyakan apakah kesetiaan dan cintaku kepadaMu Tuhan teruji oleh waktu? Apakah orang yang sudah komitmen dalam pelayanan dan komitmen memberi talenta yang Tuhan berikan dalam diri kita akan teruji sampai masa kini dan sampai selamanya? Itu menjadi sebuah tanda tanya. Tetapi di hari natal ini kita punya suatu model, model kesetiaan yang teruji atas nama cinta yaitu Tuhan Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraannya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan. Melainkan dalam cintaNya Dia mau datang untuk kita.

2.    Yesus datang karena taat

Yesus mau datang juga dilihat dari hubungan Yesus dengan Bapa. Ia mau datang dan tetap datang, mengapa tidak membatalkan jadwalNya? Kita bisa melakukan itu, ketika mengetahui tempat yang akan dituju tidak nyaman. Orang mau datang, di tempat yang orang demo kita, maka kita tidak akan datang. Tetapi mengapa Yesus meneruskanNya bahwa melalui pintu kehinaan (bukan pintu kemuliaan)? Dalam dimensi hubungan dengan Allah maka kita bicara tentang penundukan (submisi) taat pada kehendak Bapa. Filipi 2:7 mengatakan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Jesus made himself nothing. Yesus sendiri yang membuat dirinya tidak ada apa-apanya. Jadi keputusan untuk berada dalam keadaan nothing adalah keputusanNya. Lalu mengapa Ia memutuskan seperti itu dalam bentuk tidak menganggap kesetaraan pada Allah sebagai milik yang harus dipertahankan? Kesetaraan yang dipertahankan dalam bahasa Yunai disebut huparchon. Huparchon dalam bahasa aslinya berarti rampasan. Saya pernah melihat adegan rampasan di area tempat jualan makanan di Green Ville. Di situ penuh dengan mobil yang parkir karena banyak orang yang sedang makan. Suatu siang di hari kerja, dari kampus saya mencari makan dan melewati daerah Green Ville tersebut . Ada sepasang suami-istri berusia hampir 60 tahun baru selesai makan. Awalnya mereka bergandengan tangan dan Sang Isti memegang tas dengan tangan lainnya. Suaminya kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Istrinya masih di luar karena pintu mobil tidak bisa dibuka karena menunggu suaminya memajukan mobil. Ketika menunggu di tempat yang ramai itu dengan kondisi kendaraan berjalan merayap , tiba-tiba 2 orang laki-laki muncul mengendarai sepeda motor yang melaju kencang dan mencoba merampas tas Sang Istri (a-yi). Ayi ini secara spontan berteriak, membungkukan tubuhnya  lalu mempertahankan tasnya yang mau dirampas. Terjadilah adegan (seperti di film) tarik-menarik antara perampok dengan ayi tersebut. Tetapi kedua laki-laki kemudian menodongkan pistol ke kepala, maka terpaksa ayi ini melepaskan tasnya. Saat milik pribadi akan dirampas, tidak akan ada orang yang berkata,”Silahkan ambil” malah  ada refleks untuk mempertahankan agar milkiknya jangan sampai terlepas. Kalau tidak pakai pistol, ayi akan terus menarik tasnya.

Dalam konotasi rampasan ada yang harus dipertahankan (dipegang) mati-matian. Kata huparchon ini yang dipakai Rasul Paulus, namun  Yesus tidak mengangagap kesetaraan dengan Allah seperti rampasan dan sebagai hal yang harus dipertahankan, dipegang erat-erat . Melainkan Yesus justru dengan rela memberikan. Ini agak aneh. Saat orang dirampas tidak ada yang mau memberi. Tetapi Yesus tidak memperlakukan hal-hal yang sama dengan Allah yang dimilikinya sebagai rampasan tetapi Dia justru memberikannya dengan rela. Mengapa Ia memberikannya dengan rele begitu saja? Kita mengetahui mengapa Yesus datang ke dunia yaitu karena dari awal Ia sudah menyatakan, Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh 4:34).  Ia tahu walau dunia tidak enak, orang akan menolak, Ia akan disalahpamahi , dibenci, dihianati oleh orang terdekat, tetapi Ia melakukannya dengan kesadaran bahwa makananku adalah melakukan kehendak Dia (Kalau ini yang Bapak kehendaki, Aku akan terus melalui jalan ini). Kalau berbicara kesetiaan Tuhan Yesus teruji oleh waktu, mulai ketika ia datang ke dunia ini sampai ke kayu salib, tak pernah sekali pun Ia berpaling dari jalan yang diambilNya. Dalam konteks cinta (yang pertama) dan yang kedua dalam konteks ketaatan. Kesetiaan dan ketekunanNya melakukan sampai akhir. Ia belajar tunduk dan taat kepada Bapak. Kalau hal ini diberikan pada kita, kita tahu kegunaannya. Tapi apa yang membuat kita tidak setia dan kesetiaan kita tidak teruji? Jangan-jangan kita tidak mampu setia bahkan dalam pelayanan dan komitmen karena ketundukan kita kepada Bapa begitu rendah. Ada banyak kali kita mengerti “ini yang Tuhan mau” tapi kita tidak belajar taat. Ada banyak kali kita meninggalkan ladang pelayanan walau kita tahu bahwa “itu yang Bapa mau” karena kita tidak mau taat dan tunduk pada kehendak Tuhan.  Pada hari Natal ini kita berpikir tentang kesetiaan bukan  hanya ikut (percaya) dan melayani Tuhan tetapi kita belajar berada di tempat di mana Tuhan tempatkan dan di mana kita tunduk pada tempatnya dan terus bertekun sampai akhirnya. Mother Theresa, secara manusia kalau disodorkan pilihan : misal melayani rumah sakit kusta , TBC , banyak yang luka – miskin – bau -jorok atau pergi dan melayani di biara yang bersih dan tertata rapi. Secara manusia mungkin ia akan memilih yang lebih enak. Tetapi dalam kedudukannya pada apa yang ia mau : bukan apa yang aku mau tetapi apa yang Bapa mau. Maka Mother Theresia mengambil keputusan, dengan orang kusta mengerjakannya sampai selesai seperti Yesus mengatakan Tetelestai yang artinya sudah selesai Dalam bahasa Jawa ada kata enteh (habis). Apakah seruan Tuhan Yesus di atas kayu salib dimaknai dengan enteh? Tidak. Apanya yang selesai? Kehendak (rancangan) Allah untuk keselamatan Hidup sudah genap. Yesus sudah setia dan teruji oleh waktu. Sepanjang hati kita taat , maka kita akan tetap setia. Memang kesetiaan akan tahan uji.

3.     Bicara tentang kesiapan hati. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Fil 2:8). Perjalanan Yesus menempuh 3 step yang makin ke bawah menurun. Step pertama Yesus punya hal-hal yang sama dengan Allah. Downgrade (turun grade) ia punya hal yang sama dengan Allah lalu menjadi manusia (downgrade-nya Ia menjadi manusia seperti ciptaan. Itu beda (turun) kelas. Tetapi Rasul Paulus tidak berhenti sampai disitu menjelaskan tentang kerendah-hatian  Yesus. Bukan hanya mengirim,  mengambil rupa budak atau hamba (doulos) yang dalam masyarakat Yahudi berarti manusia yang sudah kehilangan kemanusiaan. Budak lebih di bawah manusia pada umumnya. Itu yang diambil Yesus mula-mula. Allah yang merendahkan diri, Allah punya segala sesuatu yang rela membuat diriNya nothing, membuatnya dirinya rendah, dari kekal masuk kefanaan yang transenden jadi permanen yang luar biasa jadi terbatas. Ini menunjukkan (mengekspresikan) kerendahan hati Yesus.

Penutup

Hari ini kita diajak untuk merefleksikan model dan teladan Tuhan Yesus. Apakah kesetiaanku kepada Tuhan, karena karakter kerendahan hati yang ada di dalam diriku atau ketaatan atau karakter / kerendahan hati dalam diriku, apakah akan teruji atau tidak. Jawabannya? Tergantung masing-masing. Amin.

                

Kristus = Paling Berharga


Pdt. Nindyo Sasongko

Lukas 2:25-35
25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
26  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
27  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
28  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
29  "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
30  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
31  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
32  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
33  Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
34  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
35   —  dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri  — , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Pendahuluan

                Saya pernah tinggal  setahun sebagai seorang misionaris di Ethiopia. Ethiopia adalah  sebuah negera di Afrika. Tidak pernah terlintas dalam benak sebelumnya bahwa saya akan tinggal di sana, karena saat mendengar nama Ethiopia yang terbayang adalah kemiskinan, kelaparan, kegersangan dan kekurangan lainnya. Pada awal 1980-an, siaran TV banyak menayangkan bencana kelaparan yang maha dahsyat dan kematian yang melanda Ethiopia. Pada tahun 2009 saya tinggal di Addis Ababa (ibukota Ethiopia) di bawah naungan suatu badan misi. Saya tinggal dengan jemaat yang sangat miskin. Gereja yang saya layani  belum memiliki gedung permanen dan masih menggunakan fasilitas yang sangat sederhana. Bangunannya hanya ditutup dengan kain terpal atau karung beras saja dan tiang-tiangnya masih dibuat dari kayu. Ubinnya belum permanen dan  hanya berupa tegel yang ditata berdempetan dan dialasi pasir (belum disemen karena gedungnya masih sementara). Namun yang luar biasa, semangat dari para jemaat di sana. Setiap Minggu jemaat di sana beribadah selama 3 jam! Sekitar 1 jam digunakan untuk puji-pujian, 1 jam untuk penyampaian firman Tuhan dan 1 jam lagi untuk pendalaman Alkitab. Pendalaman Alkitab (bible study) diadakan 1 jam sebelum ibadah yaitu pada pk 9 sedangkan ibadah dimulai pk 10. Yang menarik sebelum pk 9 , bahkan dari pk 7 ada jemaat yang sudah datang. Mereka bukan orang terkenal yang datang dengan mobil mewah melainkan mereka sangat sederhana dan miskin. Mereka adalah orang-orang tua atau ibu yang sudah senior dan mereka datang dari tempat yang jauh. Mereka kebanyakan tidak memiliki cukup uang untuk naik angkot (di sana dikenal sebagai taxi). Karena tidak punya uang sekitar Rp 4.000 maka mereka harus berjalan kaki. Sebelum pendeta datang, mereka telah datang untuk bersujud dan berdoa. Pk 8.30 -9.30 jemaat berdatangan dan pk 10 ibadah di mulai . Suatu kali saya bersama dengan ketua majelis datang lebih pagi yakni sekitar pk 8.30 sebelum pendalaman Alkitab (bible study) dimulai. Saat itu kami bertemu dengan seorang ibu tua . Dia datang menghampiri saya dan mencium (di sana hal ini merupakan simbul bahwa mereka menerima hamba Tuhan) dan berkata, “Pak Pendeta dan Bapak majelis , jangan pernah melupakan bahwa kekuatan gereja ini bukan hanya dari orang-orang yang punya uang atau harta dan bukan hanya orang-orang yang punya posisi yang baik di gereja. Tetapi lihat dan kenang selalu bahwa kekuatan gereja ini ada di lutut orang-orang tua  yang berlutut dan berdoa. Jangan pernah lupakan itu!” Perkataannya saya ingat dan terbukti hasilnya. Pada Juni 2010, 1 bulan sebelum saya tinggalkan gereja di sana, gedung gereja sudah tidak cukup menampung jemaat yang hadir. Dari 250 orang yang beribadah, setahun kemudian sudah bertambah menjadi 350-400 jiwa yang datang. Di mana letak kekuatan gereja?
Menghargai Orang-Orang Marjinal (Terabaikan)

                Pada saat membaca Lukas 2:25-35 kita akan menemukan seseorang yang bernama Simeon. Ia sudah lanjut usia dan tengah menantikan penggenapan janji Tuhan. Ada sebuah legenda yang tidak terdapat di Alkitab tapi patut direnungkan tentang Simeon sebagai pengganti Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis. Dikisahkan Zakharia tidak melanjutkan tugasnya karena terbunuh di tangan punggawa Raja Herodes dan Simeon terpilih menjadi imam dan tinggal di Bait Allah menggantikannya. Ada juga legenda kedua yang mengisahkan Simeon sebagai salah satu dari 70 orang yang menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani. Saat ia menerjemahkan firman Tuhan dan sampai pada Yesaya 7:14 yang mengatakan Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Pada bagian di mana LAI menerjemahkannya sebagai perempuan muda, dalam bahasa Yunani kata “perempuan muda” ini adalah gadis atau anak dara (virgin) alias  seorang perempuan yang belum dijamah laki-laki. Waktu Simeon menerjemahkan bagian ini kata aslinya bukan anak dara tetapi perempuan muda. Tetapi kenapa diterjemahkan di sini sebagai ‘anak dara’ (anak perempuan yang belum terjamah laki-laki)? Ia siap menghapusnya, namun konon malaikat menghardik dan memintanya agar jangan dihapus karena ada rencana Allah :  “Engkau sendiri akan melihat tanda (bukti) dari kata-kata itu.” Konon menurut legenda ini Simeon kemudian hidup 360 tahun lagi sampai ia melihat buktinya saat ia berjumpa dengan Kristus. Ini hanya legenda dan tidak perlu dipercayai tetapi ada kebenaran dibaliknya yakni ada penghargaan terhadap orang tua (mereka yang sudah sepuh). Ada sebuah penghargaan bagi banyak orang yang tidak ‘dianggap lagi atau bagi masyarakat terpinggirkan.

                Hal ini berbeda dengan tema-tema yang diusung oleh film sinetron pada stasiun-stasiun TV di Indonesia. Dalam film sinetron yang banyak ditampilkan adalah pemeran (artis) muda di mana mereka berpacaran, putus lalu cari lagi pacar yang baru serta kisah tentang memadu kasih antara yang kaya dan miskin. Yang dijual oleh media di masyarakat adalah anak-anak muda. Demikian pula dengan iklan kosmetik yang menampilkan orang-orang muda. Sedangkan tokoh dan pemeran orang (golongan) tua seolah –olah dipinggirkan dan tidak dianggap lagi. Mari menjelang natal dan tutup tahun, saya mengajak setiap kita untuk menyadari apakah selama ini kita telah meninggalkan dan melupakan orang yang disisihkan di masyarakat. Apakah gereja Tuhan juga demikian? Saya suka dengan bagian ini yakni ketika membaca Lukas yang penuh gambaran tentang orang-orang yang tidak berada di tempat yang hebat, bukan Raja Herodes, para imam, para orang muda yang hebat tetapi orang-orang yang terpinggirkan. Hal ini dapat dilihat pada pasal 2 di mana ‘konser pujian’ malaikat yang maha besar digelar bukan di gedung konser yang luar biasa megah melainkan di padang gurun Efrata dan di hadapan orang-orang pinggiran yaitu para gembala. Pada kitab Lukas ini, kita juga membaca ada seorang perempuan yang dipilih jadi ibunda Yesus Kristus yang berasal dari dusun dan tidak terpandang (tidak pernah dimasukkan di sejarah waktu itu) yaitu Maria yang usianya masih muda. Maria bukanlah seorang yang hebat. Kita juga melihat Zakharia dan Elizabet (Lukas 1) yang mandul , menanggung aib bertahun-tahun dan mendapat janji dari Tuhan. Mereka mendapat berkat yang hebat dari Tuhan walau dilupakan oleh manusia. Kalau dilanjutkan, kita akan menemukan nama Nabiah Hanna (Lukas 2:36), seorang  perempuan tua renta yang baik. Gereja kiranya tidak melupakan orang tua.

                Mari kita kembali melihat seorang tua bernama Simeon yang tinggal lama sekali di Yerusalem dan menantikan janji Allah dan menunggu kehadiran Sang Mesias. Ia sudah diberitahu oleh Roh Kudus bahwa ia akan melihat Allah. Kemudian ia menyambut Anak Itu, membopong dalam pelukannya dan berseru dari mulutnya melalui ucapan lagu yang istimewa, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu (Lukas 2:29) atau dalam bahasa Latinnya Nunc dimittis servum tuum, Domine,secundum verbum tuum in pace, quia viderunt oculi mei. Ia siap sekarang melihat tahta dan kemuliaan Allah. Ia siap memuliakan karena matanya telah melihat keselamatan. Orang yang digeser di masyarakat ini melihat keselamatan dari Tuhan. Bertahun-tahun ia sudah menantikannya. Bagaimana dengan kita? Apakah yang menjadi penantian kita? Minggu ini adalah minggu penantian (minggu kedatangan Tuhan yang keempat atau minggu adven terakhir). Gereja Tuhan telah diajak untuk menantikan Tuhan selama 4 minggu. Jemaat diajak menghadapinya kembali, “Di manakah pengharapan itu di tengah hidup tanpa harapan?.” “Di mana cinta kasih itu di tengah ketiadaan cinta, sukacita, damai sejahtera?” Yang terjadi hanyalah peperangan, musibah dan dunia yang carut marut. Mungkin saat ini kita merasa was-was sewaktu  meninggalkan tahun 2016 karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap kita. Mungkin masih tersembunyi ujung jalan yang akan kita tempuh. Banyak orang Kristen yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita, bukan hanya jemaat di Ethiopia. Bayangkan anak-anak yang kehilangan orang tua akibat pemboman di Aleppo (Suriah). Anak-anak yang tidak bisa duduk di ruang ibadah bersama orang yang mengasihi dan dikasihi mereka. Bagaimana dengan orang di Pidie Aceh? Saat ada gempa  6,4 skala Richter memporakporandakan di sana, ada banyak orang Kristen yang tidak bisa duduk dan menikmati perjamuan serta pesta Natal yang megah di gedung bagus seperti kita. Juga bayangkan dalam hati ketika kita mengingat perempuan-perempuan muda dari bagian Timur Indonesia yang dijual dan diberi janji muluk bahwa mereka akan mendapat uang yang banyak dengan bekerja di luar negeri. 2 hari yang lalu saya duduk bersama seorang teman dari NTT. Ia banyak bekerja untuk advokasi perempuan muda di sana. Sampai di penghujung tahun ini, ada 54 perempuan muda Indonesia dari NTT yang pergi dengan sukacita dengan penuh pengharapan namun pulang sebagai jenazah. Sebagian diperlakukan dengan tidak adil. Mereka kehilangan harapan. Bukan hanya dianiaya, ketika meninggal organ tubuh mereka dijual! Inilah dunia di mana tempat kita tinggal. Tidak perlu jauh-jauh, adakah orang di keluarga atau tetangga yang kita lupakan? Berapa banyak orang yang seperti Simeon yang telah lama menantikan kedatangan Mesias dan  hanya bisa mengerang, menanti dan akhirnya kecewa? Simeon akhirnya mendapatkan janji Tuhan. Simeon mendapat hak istimewa dari Tuhan. Bagi Simeon bayi kecil di gendongannya bukanlah bayi biasa. Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Dan dilanjutkan pada Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Simeon sudah melihat keselamatan dan rela melepaskan semua itu.

                Bagaimana kita mengisi Natal dan tahun baru ini? Saya bersyukur pernah tinggal di Ethiopia. Suasana Natal di sini berbeda dengan di sana. Di sini tanggal untuk memperingati Natal dekat dengan tahun baru. Di Ethiopia, Natal jatuh tanggal 7 Januari (setelah tahun baru). Karena sistem penanggalan di Ethiopia berbeda dengan kita. Kita sekarang sudah hampir memasuki tahun  2017 , sedangkan di sana masih 2009. Maka bila ada yang khawatir usia bertambah bisa pergi ke sana karena 8 tahun lebih muda. Penanggalannya berbeda karena tahun baru di Ethiopia jatuhnya tanggal 11 September. Setelah itu baru Natal 7 Januari. Saya memaknai Natal yang berbeda dengan kita. Pada perayaan Natal di kita , begitu banyak uang yang dihamburkan dan disia-siakan, sedangkan tahun barunya di sana jauh (berjarak 3 bulan lebih). Saat malam natal di sana, jemaat berkumpul untuk mengadakan ibadah dari pk 24 – pk 03 pagi. Setelah pk 3 mereka melayani satu dengan yang lain dengan saling mencuci kaki. Di sini ada tindakan yang luar biasa. Hakikat Natal di Ethiopia adalah saling melayani. Maka melalui renungan Lukas 2:25-35 saya mengajak agar kita memaknai Natal secara berbeda : kepada siapa saya harus melayani? Siapa yang telah saya lupakan dan belum layani? Saya mau pergi dan melayani mereka. Simeon mendapat anugerah besar dari Allah. Dari tahun 2003-2005 saya mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk melayani paduan suara  kaum tunanetra di Semarang . Saya menjadi pelatihnya. Itu pelayanan yang luar biasa agar saya punya memiliki hati gembala. Saya justru banyak dilayani oleh anggota paduan suara Efrata di Semarang. Tiap Jumat semua anggota paduan suara berkumpul. Ada saja anggota yang membagikan kisah sukacita maupun sedih. Kalau saya mengeluh dan merasa tidak ada pengharapan dan pertolongan mereka hadirkan melalui paduan suara Efrata. Bagaimana kita pulang menjelang Natal di tahun 2016 ini?

                Hidup kita sebenarnya hanya sementara saja. Kita punya kelengkapan hidup yang hebat dan normal, namun itu hanya sementara. Sewaktu kecil, kita menjadi orang yang ‘disable’ dan membutuhkan orang lain untuk memapah, menolong dan membesarkan kita. Sebentar lagi sebagian dari kita memasuki usia seniordan memasuki era di mana kita akan mengalami permanent disable. Itu berarti kemampuan dan normalitas saya sebentar lagi akan hilang dan juga kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Sebentar lagi saya kehilangan pandangan saya dan  kabur. Kita tidak bisa lagi berjalan secepat sekarang dan suka sakit-sakitan. Kapan waktunya? Saya tidak tahu. Menghayati kehidupan seperti ini dan berefleksi seperti Simeon : Apa yang sudah kita kerjakan untuk orang yang sudah lama dilupakan banyak orang? Marilah kita pulang dan kiranya dibimbing oleh Tuhan . Temukan orang yang  dekat dengan diri kita dan mungkin kita lupa melayani mereka. Tahun 2006, tahun kedua saya tidak berada bersama ibuda yang dipanggil Oktober 2005. Kalau saya pulang dari studi di Amerika, Ibu saya ingin melihat ijazah dan sertifikat saya dari luar negeri. Tetapi kehendak Tuhan berkata lain. Ibu saya belum sempat melihat ijazah saya. Tetapi saya mengucap syukur tahun lalu, penantian saya untuk kembali melihat ibunda diberi waktu bersama 1 bulan Tuhan penuhi. Waktu saya mau pergi ke luar negeri. Ibu saya menderita sakit gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah. Saya pergi ke luar negeri dengan berat hati, tapi ia yakinkan,”Kamu harus pergi karena Ibu masih punya saudara dan teman yang bisa menjaga Ibu . Ketika di luar negeri saya berjanji untuk menyelesaikan studi dengan baik. September lalu saya pulang dan pada bulan Oktober saya sudah punya rencana,”Sebentar lagi Natal dan saya akan merayakan Natal bersama Ibu.” Tetapi Tuhan memanggil dia. Sebelum kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita ingat mereka sekali lagi. Sebagai gereja yang dibesarkan Tuhan, mari kita lihat adakah orang yang dilupakan, yang merupakan soko guru dan tiang gereja dan yang menjadi kekuatan gereja ini. Bila ada orang yang tidak punya memiliki keluarga dan kita tergerak menolong mereka, mari nyatakan cinta kasih kita kepada mereka. Mari melayani mereka yang dilupakan masyarakat, Mari sekarang waktunya untuk menjadi terang Allah di dunia yang kehilangan pengharapan ini. Jika kita memiliki keyakinan bahwa Kristus yang  paling berharga dan terutama, maka kita datang seperti Kristus sudah datang kepada kita dan berkata, “Tuhan aku sudah melihat keselamatan Mu dan menjadi saksiMu demi namaMu” dan kiranya di akhir zaman Dia berkata,”Selamat datang hambaKu yang  baik dan setia.” Amin.


Pudarkah Harapanmu?


Pdt. Hery Kwok

Amsal 18:14 Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?
Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
Habakuk 1:2-3, 6-7, 3:17-19
2  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
3  Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
6  Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.
7  Bangsa itu dahsyat dan menakutkan; keadilannya dan keluhurannya berasal dari padanya sendiri.
17  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
19  ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Pendahuluan

                Penulis kitab Amsal mencatat pada Amsal 18:14 bahwa Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?? Pasangan hidup, anak, keluarga, teman? Tidak ada yang dapat melakukannya! Ibarat kayu yang patah, maka sulit menyambungnya kembali. Demikian pula semangat yang sudah menguap. Pada tahun baru ini, bila punya semangat, maka kita bisa menanggung semua hal selama  365 hari x 24 jam! Kalau tidak ada, akan sulit. Selanjutnya Yesaya menulis dalam Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Amsal 18:14 dan Yesaya 40:29 merupakan dua ayat yang bertalian. Bagi orang yang semangat patah, maka akan  susah dipulihkan. Namun untuk orang-orang yang memiliki pengharapan kepada Tuhan, maka Dia akan memberikan kekuatan bila mereka lelah dan tiada berdaya.

                Di kelas pra-remaja  (kelas untuk anak-anak yang telah melewati Sekolah Minggu namun belum sesuai ke persekutuan remaja) tanggal 23 Desember kemarin, saya ditelpon oleh seorang rekan hamba Tuhan (penginjil) yang bertanya apakah ada jemaat GKKK Mangga Besar yang bisa membantunya untuk main keyboard mengiringi musik pada ibadah kedukaan seorang jemaat GKK (Gereja Kristus Ketapang) yang telah meninggal. Jemaat GKKK Mabes (200 orang) yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding jemaat GKK (sekitar 2.000 orang) tentu tidak memiliki pemain musik sebanyak mereka. Sehingga tidak ada pemusik yang bisa membantu karena semuanya sibuk mengikuti gladi-resik. Rupanya yang meninggal adalah salah satu anggota keluarga dari pemilik pabrik pakaian merk BOSS dan usianya ‘baru’ 49 tahun. Hal ini mengejutkan karena usia ini tergolong muda apalagi ia rutin melakukan general check-up dan sudah memesan tiket untuk liburan. Alasan meninggalnya tidak ditahui pasti karena hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia selama ini sehat. Namun ternyata ia tidak bisa memasuki tahun 2017. 3 hari sebelumnya juga ada seorang rekan pelayanan di GKK yang usianya 53 tahun yang meninggal saat ia menapaki tangga ke ruang kantornya. Tinggal tersisa 3 anak tangga sampai ke ruang kantornya namun tidak tercapai karena ia keburu meninggal dalam posisi jatuh terduduk. Jadi kalau kita bisa masuk tahun 2017, hal ini bukan terjadi secara kebetulan namun merupakan anugerah Allah semata.

                Saat saya mengikuti ibadah tutup tahun di GRII, Pdt Stephen Tong menyampaikan bahwa kita diberikan dua buah harta oleh Tuhan. Yang pertama adalah waktu yang merupakan harta terbesar, namun kita sering tidak menggunakannya dengan baik. Berbeda dengan orang sukses yang dapat menggunakan harta ini. Yang kedua adalah tempat (di mana kita berada, di situ kita berkarya). Memasuki tahun 2017 , kita diberikan waktu untuk kita berjuang dan tempat di mana kita menjalani hidup kita. Saat memasuki tahun 2017, kit melakukannya dengan harapan dan keberanian apa? Ini pertanyaan yang penting karena ada orang yang bisa masuk tahun 2017 namun belum tentu memiliki kekuatan dan semangat seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal.

Apa yang dicari orang saat menjelang pergantian tahun?

Ramalan! Banyak artikel yang menyampaikan hal-hal yang harus menjadi perhatian saat memasuki tahun 2017 (tahun ayam). Bagaimana dengan ramalan di tahun ayam? Mengapa orang mencari-cari “sesuatu yang akan terjadi pada tahun depan”? Karena ia ingin memiliki HARAPAN. Ada sesuatu yang ingin didapat, dan hal itu membuatnya bersemangat. Semangat ibarat bahan bakar yang membuat seseorang berusaha sekuat tenaga seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal (bila ada semangat, sesusah apapun hidupnya bisa dihadapi). Sehingga saat memasuki 2017, ada orang-orang yang dengan serius mencari tahu hal-hal yang akan terjadi pada tahun 2017, agar punya semangat dan kekuatan untuk berusaha. Tanpa harapan kita tidak punya kemampuan menghadapinya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan harapan?

1.    Faktor eksternal (faktor dari luar diri kita)

Sewaktu kita datang untuk melakukan general check-up, bila dokter yang membaca hasilnya mengernyitkan alis maka walau belum disampaikan secara lisan oleh sang dokter membuat hati kita menjadi was-was.  Lalu ia mengatakan, “Setelah saya melihat hasil check-up dengan berat hati saya sampaikan bahwa saudara terkena kanker stadium 4.” Apa tanggapan kita? Harapan kita memasuki tahun 2017  menjadi hancur setelah sang dokter memberitahukan hasil pemeriksaan kesehatan kita. Namun ternyata beberapa hari kemudian, Sang Dokter menelpon dan mengabarkan, “Maaf itu hasil pemeriksaan orang lain sedangkan hasil pemeriksaan anda  bagus.” maka kita akan merasakan kelegaan dan langsung mengeluarkan kalimat “Puji Tuhan” karena faktor eksternal yang kedua ini membuat kita bersemangat lagi. Waktu divonis menderita kanker tahap terakhir, dunia seperti runtuh,  suram dan langit seperti tembaga yang keras. Apalagi membayangkan anak kita masih kecil, istri tidak bekerja, orang tua hidupnya tergantung kita, kalimat “kanker stadium 4” bisa menggocangkan kita. Melihat dunia yang akan kita jalani pada tahun 2017 dengan mengikuti dan melihat faktor eksternal sepertinya tidak mudah. Kemarin saat mengikuti doa syafaat di GRII pokok doanya hanya dua yaitu terkait dengan politik. Walau hanya dua, tetapi doanya berlangsung lama sekali. Kondisi politiknya sulit dan membuat hati dag-dig-dug sehingga membuat pengusaha bersikap wait and see. Saat dunia yang dihadapi mengalami halangan dan gangguan dari faktor eksternal , membuat harapan kita padam. Sepertinya tidak ada faktor eksternal yang membuat kita punya harapan.

2.    Faktor internal (faktor dari dalam diri kita).

Ada sebuah buku menarik yang mencoba memberikan masukan kepada pembacanya tentang pergumulan penulisnya (orang Perancis) yang mengambil bagian pada Perang Dunia Pertama dalam menaklukkan rasa khawatir. Hal yang tidak mudah diatasi. Dia menulis resep untuk menaklukan rawa khawatir yang ditemukan dalam saku bajunya setelah ia meninggal dunia. Dia mengatakan,”Ada hal yang pasti terjadi, entah ditempatkan di garis terdepan atau ditugaskan di gugus belakang yang paling aman. Pasti terjadi di antara keduanya, jadi terima saja. Di antara kedua hal itu, hanya ada 1 yang pasti terjadi. Jika menghadapi bahaya hanya 2 kemungkinan yang terjadi : entah saudara terluka atau anda sama sekali tidak terluka. Jika terluka ada 2 kemungkinan tapi 1 hal yang pasti terjadi : anda pulih kembali atau anda mati. Jadi mau bicara apa? Kesimpulan : jika kamu pulih maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Sebaliknya bila saudara mati, maka saudara tidak punya khawatir lagi.” ‘Resep’ itu menjadi rahasia dia bertahan di medan tempur. Faktor internal ini banyak diajarkan oleh para motivator sekarang ini. Kalimat motivasi seperti ini sering lebih menggerakan daripada firman Tuhan. Faktor dimana kita berfikir positif menjadi kekuatan menghadapi masalah. Sepertinya hal ini baik, menarik dan mempunyai solusi saat menghadapi kesulitan tanpa harapan. Kalimat yang disampaikan seorang motivator yang hebat berindikasi harus menang (tidak akan kalah). Faktor ini membuat kita seperti menjadi Tuhan. Ini berbahaya karena gerakan dari orang yang memotivasi hanya berdasarkan pemikiran  (logika)  yang memang masuk akal lalu membentengi diri dengan kekuatan dari dalam. Ini tidak baik. Ini ibarat kita menjadi Tuhan atas diri kita.

3.    Faktor iman.

Habakuk 1:2 mengatakan  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?  Hal ini mengindikasikan adanya pergumulan yang dihadapi penulis kitab Habakuk. Ia berada di tempat , kondisi dan waktu dimana kesusahan menghampirinya. Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi (Habakuk 1:3). Kalimat ini memberitahukan kita tentang adanya pergumulan iman dari penulisnya.  Faktor iman mungkin bisa keliru. Orang percaya, termasuk Habakuk, sepertinya melihat kesulitan : mengapa sudah percaya kepada Tuhan tetapi mengalami kelaliman dan seperti tidak ada jalan keluar?  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang (Hab 3:17). Penulis kitab Habakuk tengah mengalami kesulitan dan pergumulan. Dalam kondisi sekarang pergumulannya mungkin berupa : “mengapa sampai saat ini tidak dapat pekerjaan, mengapa suami tidak diubahkan, mengapa istri makin cerewet” walau kita sudah beriman. Orang yang berkata dengan iman  mungkin punya konsep iman yang keliru. Kita menganggap Tuhan seperti sarana yang dibutuhkan. Kalau kita menghadapi masalah , Ia harus menjawabnya. Ini konsep yang keliru. Di talent fair Januari 2017 akan  dikumpulkan orang-orang yang ingin mendedikasikan talenta-nya buat Tuhan. Mungkin ada yang bisa menjadi pembesuk orang sakit. Biasanya saat dibesuk, orang yang menderita sakit ada yang berkata ‘kalau sembuh mau melayani Tuhan dan pergi ke gereja’. Ini kalimat yang sering diucapkan. Ini doa atau ungkapan, kalau saya mau beriman harus begitu. Kitab Habakuk melihat kekejaman dalam kacamata seperti itu. Orang Kristen yang memiliki pandangan seperti Habakuk keliru. Kita melihat Tuhan sebagai sarana untuk mencapai kemauan. Kalau hal ini terjadi maka harapan orang Kristen sama seperti harapan orang dunia. Dengan merenungi kitab Habakuk, orang yang tengah menggumuli iman saat menghadapi tantangan dan masalah yang berat, apakah kita akan beriman seperti itu atau tidak. Walaupun dalihnya iman dan sudah percaya Kristus tapi bisa jadi kita menempatkan Dia menjadi sarana saat kita bermasalah. Tuhan bukannya menjadi fokus. Seharusnya kita menyadari bahwa Ia adalah sasaran dan Ia baik.

Pada Ayat 17 Habakuk berkata, sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah , hasil pohon zaitun mengecewakan dan ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan. Ia menyampaikan hal-hal yang sulit. Gara-gara orang Kasdim , orang yang saat itu berkuasa secara tidak adil, maka pohon zaitun tidak ada dan binatang terhalau dari kandang yang berarti kondisinya tetap sulit.  Ayat 18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Dalam kondisi sulit ternyata Habakuk bisa tetap semangat, memiliki harapan dan bersorak-sorai. Inilah Habakuk yang imannya berproses hingga ia mengenal Allah dalam kebenaranNya dan ia yakin bahwa Tuhan tetap baik (Akulah yang hari ini dan besok yang tidak berubah). Yesus yang tidak berubah dan yang memberi jaminan untuk kita terus berfokus padanya. Proses iman ke Tuhan itu perlu waktu dalam segala hal dan Ia tetap Tuhan yang baik. Sifat dan tindakanNya tetap baik. Di situlah Habakuk punya pergumulan iman yang baik.

Penutup


Mari di tahun 2017 kita mempunyai komitmen untuk (lebih) mengenal Tuhan agar dalam proses yang dijalani iman kita bisa bertumbuh. Kalau tidak, kita sama dengan orang dunia, hanya kita berjubah iman, yang bila permohonannya dijawab akan menjadi sukacita, namun bila tidak dijawab merengut. Bila keinginannya dikabulkan senang, bila tidak akan ngambek. Iman sejati kita seharusnya mengenal Kristus yang tidak berubah dan segalaNya baik. Sehingga apapun yang sedang terjadi dihadapi dengan harapan dan iman yang tidak goyah. Harapan yang pudar bisa berubah menjadi baik sewaktu kita berani diproses oleh Tuhan. Berproses dalam mengenal Tuhan , ingin mengetahui kebaikan Tuhan dan merasakan segala perjalanan hidup yang hebat bersamaNya. Kalau itu menjadi bagian dan pengalaman yang hebat, maka kita akan menjadi jemaat yang kokoh dan kuat. Gereja kita ingin bertumbuh dalam pengenalan terhadap Tuhan. Untuk itu kita perlu berproses dan dengan setia membaca Kitab Suci , melayani dan beribadah dengan baik. Kiranya kita dimampukan Tuhan untuk memiliki keberanian berjalan bersama Tuhan untuk lebih mengenalNya. Kalau hanya bergantung pada faktor eksternal dan internal saja, kita akan sulit. Nabi Yesaya memberikan semangat pada orang yang sungguh-sungguh bergantung padaNya. Disitulah harapan menjadi kuat. 

Hidup Hanya Untuk Hari Ini


Ev. Susan Kwok

Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya.
1 Raja-Raja 15:11-13
11  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.
12  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.
13  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron.
1 Raja-Raja 22:41-43
41 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel.
42  Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.
43  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.
2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Pendahuluan

                Yang dimaksud kalimat pada tema kali ini “Hidup Hanya untuk Hari Ini”  sebenarnya merupakan kalimat sindiran atau  peringatan untuk mengevaluasi diri : apakah kita adalah orang-orang yang hanya memikirkan hidup sebatas hari ini saja? Tema ini sebaliknya hendak mengingatkan bahwa kita harus mempersiapkan hari-hari mendatang dan generasi-generasi penerus kita. Ini bukan pekerjaan mudah. Hanya dengan pertolongan Tuhan kita dapat melakukannya. Tema GKKK Mabes 2017 adalah generasi yang sehat dan kuat. Siapakah generasi itu? Dia adalah anak-anak kita. Dia adalah anak-anak didik kita. Dia adalah orang-orang yang bekerja dan melayani bersama-sama kita. Mereka adalah orang-orang yang hidup bersama kita dan suatu hari akan menggantikan kita. Apa yang akan kita persiapkan untuk mereka? Pondasi apa yang akan kita tanamkan untuk mereka? Apa dasar yang kuat, teguh dan kokoh yang kita tanamkan untuk mereka? Dalam hal iman, kehidupan sosial, moral, pekerjaan, mental yang baik, apa yang kita tanamkan? Apa pengaruh yang kita berikan? Oleh karena itu kita mau melihatnya dari Alkitab dan belajar dari sejarah yang ada di dalamnya.

Yosua : Teladan dalam Mengikut Allah bersama keluarganya serta Menyaksikannya.

                Yosua adalah orang muda yang mempertahankan imannya sampai tua. Dia memimpin suatu bangsa yang tidak mudah ditangani. Suatu bangsa yang selalu ingin hidup seenaknya sendiri. Berkali-kali Yosua harus mengingatkan orang-orang ini. Sampai kemudian dia menjadi tua dan akan meninggal. Sebelum meninggal ia mengeluarkan kalimat yang tertera pada Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  Ia memberikan suatu tantangan dan pilihan pada umat Israel. Kamu mau beribadah pada Allah siapa : allah orang Amori , allah bangsa lainnya atau kepada Allah orang Israel? Israel harus membuat suatu  keputusan untuk dirinya sendiri, karena iman tidak bisa ikut-ikutan (hanya meniru-niru saja), tetapi iman itu harus diputuskan dari dalam diri sendiri. Sama seperti kalau mempunyai anak, kita tidak bisa memutuskan iman anak kita harus kepada siapa demikian juga Yosua tidak bisa memutuskan iman bangsa Israel. Namun dia melakukan hal-hal untuk memberikan pondasi selama perjalanan hidupnya agar umat Israel bisa melihat dan dapat memberikan hatinya kepada Allah. Jadi Yosua memberikan teladan hidup. Ia memberikan contoh dan model bagaimana dan seperti apa orang yang takut akan Tuhan (lihat diriku, perbuatanku dan kata-kataku). Inilah contoh orang yang percaya pada Tuhan. Pada suatu hari Yosua berharap orang Israel memilih Tuhan sebagai Allah orang Israel. Demikian pula kita harapkan anak –anak kita memilih iman kepercayaan yang tepat dengan menjadi model atau contoh (teladan).

Yang kedua yang dilakukan Yosua adalah  walaupun ia memberikan pilihan pada Israel tetapi dengan tegas ia menyatakan kepada bangsa Israel bahwa pilihanku adalah kepada Allah. Ketegasan ini harus nyata dalam diri Yosua. Sebagai seorang pemimpin, senior dan  orang tua biasanya diikuti oleh yang lebih muda, sehingga Yosua mengatakan “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". Itu yang harus kita lakukan kepada keluarga kita. Meskipun tidak bisa mengambil keputusan bagi anak-cucu kita untuk percaya, tapi dengan teladan kita menunjukkan pilihan kita. Itu sebabnya Yosua menjadi tokoh iman yang luar biasa bagi bangsa Israel. Ia mempersiapkan generasi Israel dalam masa sukar untuk memilih Allah yang benar.

Asa : Pengaruh Orang Tua Penting Pada Anak-Anaknya

Yang kedua lihat 1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya. Salah seorang putra Raja Daud adalah Salomo yang punya kemudian berputra Rehabeam. Selanjutnya Rehabeam mempunyai anak yang bernama Abiam. Daud sangat terkenal akan hatinya yang lembut sehingga kalau dia berbuat dosa dan ditegur Allah, langsung ia bertobat. Sebagai orang tua Daud pasti telah mengajarkan anak-anaknya bagaimana ia hidup di hadapan Allah. Tetapi beberapa anak dari beberapa istrinya ada yang ikut dan ada juga yang tidak ikut jalan Tuhan. Anaknya Salomo pada awalnya sangat mencintai Tuhan. Waktu Salomo ditanya olehTuhan, “Kamu mau meminta apa Salomo? Kamu meminta apa saja akan Saya kasih.” Suatu kali kalau Tuhan datang dan bertanya kepada kita,”Kamu mau minta apa?” Pasti ada yang mau ini, ada yang mau itu. Namun permintaan Salomo berbeda. Ia berkata,”Tuhan saya tidak minta uang yang banyak dan umur yang panjang.” Keduanya merupakan hal yang kalau ditanya menjadi jawaban banyak orang : “Tuhan aku mau umur panjang, sehat , makmur, kaya serta uangnya banyak”. Tetapi Salomo berkata,”Tuhan aku tidak minta uang dan umur panjang. Ya Tuhan jadikan aku orang yang bijaksana dan berhikmat.” Diminta keduanya karena dengan hikmat dan bijaksana ia akan bisa memimpin kerajaan dan keluarga dengan baik. Bila punya uang tapi tidak bijaksana maka kerajaan atau keluarga bisa bubar. Punya usia panjang, tetapi tidak pintar dan bijakasana, juga bisa bubar. Tetapi bila berhikmat dan bijaksana bisa berusia panjang dan langgeng kerajaan dan keluarganya. Sayangnya Salomo jatuh dalam dosa seks. Ia memperistri orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, sehingga hatinya berubah kepada Tuhan. Akhirnya kejahatan demi kejahatan dia mulai lakukan. Itu yang dia perlihatkan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mencontoh apa yang telah diperbuatnya. Sehingga Rehabeam menjadi anak yang jahat.  Demikian pula dengan Abiam, anaknya Rehabeam yang ternyata juga jahat. Jadi dua generasi di bawah Salomo adalah raja yang jahat. Rehabeam dan Abiam membawa bangsa Israel menjadi bangsa yang jahat juga, tetapi anugerah Tuhan ada untuk bangsa Israel.

1 Raja-Raja 15:11-13  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron. Siapa Raja Asa? Asa adalah anak dari Abiam. Allah melindungi Bangsa Israel. Ketika menggantikan Abiam, Asa banyak melakukan reformasi (perubahan). Yang pertama, Ia menghapus pelacuran bakti yakni persetubuhan yang diijinkan dilakukan oleh kepada siapapun dan dianggap sebagai persembahan kepada dewa.  Hal ini seperti yang terjadi beberapa puluh tahun lalu di mana dunia kekristenan digegerkan oleh satu bentuk agama yang membolehkan orang yang selesai ibadah melakukan hubungan seks dengan siapa pun, karena itu dianggap sebagai salah satu bentuk liturgi penyembahan. Betapa jahat yang dilakukan manusia dengan begitu bebas melakukan hubungan seks. Itu sebabnya ketika Asa menjadi raja ia bertekad menghapus pelacuran bakti. Nenek kandungnya sendiri kemudian dipecat sebagai ibu suri karena ia membangun patung Asyera. Apakah Asa kurang ajar? Bukan! Hal ini dilakukan karena neneknya kurang ajar kepada Tuhan yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir sehingga Asa memecatnya.
Asa memiliki seorang anak yang juga seorang reformator alias  pembawa pembaharuan. 1 Raja-Raja 22:41-43 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel. Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Asa seorang reformator yang melahirkan anak yang juga melakukan pembaharuan. Ia melakukan apa yang benar seperti ayahnya. Tadi Abiam juga melakukan apa yang jahat seperti ayahnya. Hal ini berarti apa? Berarti orang tua mempunyai pengaruh penting terhadap anaknya seperti apa di masa depannya. Tentu hal ini bukan bermaksud menyalahkan orang tua seratus persen, karena ada faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan anak seperti media dan lingkungan (pergaulan). Namun yang penting sebagai orang tua, kita  harus  mengevaluasi diri apakah kita sudah menjadi orang tua dan memberi contoh yang baik. Kita tidak bisa mengawasi anak 24 jam, tidak menutup gelombang perkembangan teknologi, namun yang dilakukan di dalam rumah sendiri atau saat sedang berada bersama, maka saat itu kita bertanggung jawab atas anak-cucu kita.

Timotius : Pengaruh dari Ibu dan Nenek

                2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
Rasul Paulus sangat menghormati , sangat bangga dan bersyukur akan ibu dari Timotius. Kemungkinan ayah Timotius sudah meninggal sehingga tidak dibicarakan pada nats ini. Pengaruh nenek dan ibu membuat Timotius mempunyai dasar yang kuat sebagai seorang anak. Sehingga ketika Timotius bertemu Rasul Paulus ,seorang profesor yang hebat di bidang teologi, maka Timotius bisa terasah dengan baik.

Tanpa pondasi yang baik, generasi mendatang jadi tidak baik

Raja, orang tua,  pemimpin yang hidup hanya untuk hari ini (tidak pikir panjang untuk masa depan), mereka akan mencetak generasi-generasi yang tidak baik. Tetapi orang tua, pemimpin dan generasi yang takut akan Tuhan akan memikirkan bagaimana hidup generasi ke depan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah memberikan pondasi yang kuat untuk generasi penerus kita supaya nanti mereka lebih baik dari kita? Ada 2 jenis pekerjaan yang sangat menyadari pentingnya regenerasi (kelanjutan pekerjaan). Yang pertama adalah orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan yang kedua adalah orang yang berkecimpung dalam politik. Orang yang berkecimpung dalam bisnis, apalagi bisnis keluarga, maka ia sebisa mungkin mendidik generasi penerusnya agar hartanya tidak beralih. Segala macam cara dilakukan. Bagi anak berasal dari keluarga yang sangat kaya, sebelum penikahan dibuat perjanjian pra nikah. Untuk berjaga-jaga agar kalau orang tuanya meninggal atau bercerai maka hartanya tidak jatuh ke tangan orang lain. Kalau Di Indonesia dikenal sebagai harta gono-gini. Misalnya : pengusaha sepatu. Bila usaha sepatunya sudah berkembang  dan merambah ke seluruh dunia, maka ia ingin anaknya yang meneruskan dan berharap anaknya jauh lebih berkembang. Anaknya akan dididik segala hal tentang sepatu. Supaya anaknya ini bisa menggantinya. Demikian juga dengan seorang politikus. Politikus identik dengan dunia kotor walaupun tidak semuanya kotor. Orang tua yang berkecimpung dalam dunia politik akan mencoba mewariskan pengetahuan kepada anaknya dengan tujuan, minimal kalau sudah tidak menjabat lagi maka kekayaan dan kesalahan saya tidak dikutak-katik. Itu sering terjadi di negara kita. Pengusaha dan politikus sangat mementingkan regenerasi. Bagaimana dengan keluarga dan gereja kita? Bagaimana kita mempersiapkan (menganggap penting) iman dalam hal regenerasi ini?
                Ada seorang teman yang tahun lalu anak perempuan satu-satunya yang pintar sekali ternyata jatuh cinta pada seorang supir taksi. Bukan masalah pada pekerjaan supir taksi. Masalahnya : ayahnya yang aktifis gereja serius dalam pelayanan. Anaknya juga serius dalam pelayanan. Namun begitu cinta datang maka tahi  kucing terasa coklat (irasional, tidak masuk akal, otaknya tidak jalan). Dia sudah seperti lupa akan Tuhan yang sudah menyelamatkannya dan lupa pada pelayanan yang sudah diambil. Dia mulai pakai ATM dengan limit yang tidak kira-kira. Papanya tahunya ia kuliah tetapi ternyata ia tidak kuliah dan ia pergi jalan dengan cowonya. Suatu kali ia pergi dan tidak pulang-pulang. Papanya bingung , telepon tidak diangkat-angkat. Tetapi tagihan kartu kredit jalan terus. Akhirnya oleh bapaknya diblokir. Ternyata ia berada di salah satu pelosok terpencil di Sukabumi , mereka hidup bersama. Pasangannya muslim dan jelas ia tidak ke gereja. Papanya coba cari dengan membawa pendeta, malah pendetanya mau dipukul oleh cowonya. Akhirnya papanya marah besar dan memutuskan hubungan. Beberapa bulan kemudian, ia mendengar kabar, anaknya sudah hamil 6 bulan. Tambah pusing papanya. Masing-masing orang harus punya keputusan sendiri. Orang tua memberikan pondasi tetapi anak harus memutuskan sendiri. Jangan bilang itu ujian dari Tuhan. Bukan, itu penyakit yang dicari sendiri.
Contoh kedua. Seorang teman meminta tolong, karena suaminya sedang tergila-gila. Awalnya saya pikir gila judi ternyata gila perempuan. Mereka sebenarnya sudah punya anak. Tetapi ia tergila-gila pada seorang perempuan muda yang jauh beda usianya. Apa yang terjadi? Siapa perempuan muda itu? Saya waktu mendengarnya terkejut. Sebagai hamba Tuhan saya juga merasa ditampar. Ternyata anak perempuan itu adalah anak dari pendeta. Saya tidak salahkan bapaknya yang tidak saya kenal. Ternyata sang bapak, istrinya lebih dari 1 alias ada 3 tetapi bisa jadi pendeta. Buat malu saja. Perempuan masih muda anak pendeta, ternyata pendeta itu punya istri 3. Kita sebagai orang Kristen malu. Saya sebagai hamba Tuhan merasa malu. Apa kata Tuhan itu yang penting. Tidak mau berpikir, mereka berdua hanya hidup untuk hari ini, kesenangan hari ini, kepuasan hari ini. Tidak berpikir anak-cucu dan bagaimana nantinya. Kalau dengan gereja bagaimana?
Saya punya pengalaman tidak enak berkaitan dengan gereja. Lebih dari 10 tahun lalu, ketika terjadi peralihan pimpinan, pemimpin sebelumnya tidak dipersiapkan oleh gereja untuk menerima saya yang lebih muda. Semua yang saya lakukan dianggap salah. Kemudian terjadi sedikit permasalahan di tengah jemaat. Karena jemaat merasa bahwa kehadiran saya untuk meniadakan pelayanan si Bapak Tua itu. Waktu itu usia saya masih cukup muda dan mengikuti emosi anak muda. Saya langsung marah dan langsung berkata, “Kalau memang begitu, hari ini juga saya berhenti. Saya tidak mau gereja ribut.” Akhirnya setelah beberapa hari, saya seperti ditegur oleh Tuhan. Mengapa kamu pakai emosi seperti itu? Coba adakan pertemuan dengan pusat. Akhirnya diadakan pertemuan dengan pusat dan semua hamba Tuhan hadir dan bicara. Semua dibukakan dan diketahui bahwa regenerasi di dalam gereja tidak disiapkan dengan baik. Peralihan kepemimpinan tidak dipersiapkan dengan baik. Orang yang akan diganti dan akan mengganti tidak diberitahu dengan baik. Akhirnya saya menangis karena kesal, sedih dan kecewa. Tiba-tiba hamba Tuhan itu menangis juga dengan suara kencang. Saya sampai terkejut. Yang membuat saya kaget , dia menghampiri saya dan memeluk saya seakan-akan saya anaknya. Langsung kemarahan dan kekecewaan saya hilang. Saya menyesal mengapa saya marah-marah dengan dia. Sesudah itu pelayanan jadi indah karena saling mendukung satu dengan lain. Itu regenerasi yang baik.

Penutup


Bagaimana dengan jemaat GKKK Mabes? Bulan Januari 2017 di pelataran parkir digelar acara talent fair yakni pameran talenta (pelayanan) yang bertujuan untuk mencari dan mempersiapkan kader agar pergantian pelayanan berjalan mulus (tidak terjadi kepincangan dalam usia). Contoh : pelatih paduan suara Hosana ,Sung shimu, sudah harus berpikir bahwa  tidak selamanya shi mu bisa hidup dan memimpin latihan paduan suara. Siapa penerusnya di paduan suara Hosana. Sehingga Sung shi mu harus mempersiapkan pelatih yang lebih muda untuk mengambil alih tugasnya. Pengganti anggota paduan suara Hosana juga perlu disiapkan. Suatu kali anggota paduan suara Jubilate (paduan suara anak muda)  akan menjadi tua dan menggantikan asuk-asuk di Hosana. Anggota Jubilate harus mempersiapkan anak-anak remaja di bawahnya. Sedangkan para remaja akan meninggalkan masa remaja dan menjadi anggota Jubilate. Anak-anak sekolah minggu akan menggantikan remaja. Talent fair untuk segala usia. Majelis dan rohaniawan memikirkan harus ada regenerasi yang baik di GKKK Mabes. Gereja ini tidak boleh berjalan secara tidak jelas urutan dan tujuannya. Itu sebabnya saat ini saya bersusah-susah dalam mengikuti kuliah bahasa Mandarin. Saya baru tahu kata ‘de’ ada 3 macam. De yang harus ada di belakang kata benda, kata kerja dan di belakang menyusul kata kerja. Supaya tidak salah dalam hal pemakaian dan terutama dalam tulisan. Kita harus ada regenerasi juga dalam hal pemusik (termasuk pianis) dan pengurus sound system harus mendidik juniornya. Siapa yang harus menggantikan mereka? Pengertian regenerasi tidak boleh terbalik, di mana yang tua menggantikan yang muda. Gereja bisa saja berpikir tidak perlu pusing tentang penyanyi, pemusik, sound system, operator LCD karena untuk menggantikannya dengan menyewa orang. Tetapi itu hal yang paling jelek yang bisa dilakukan oleh gereja. Kalau sudah begitu, gereja tidak berdiri di atas kaki jemaat melainkan di atas uang. Suatu kali Tuhan tidak kasih uang, bagaimana gereja mau berjalan bila tidak ada generasi yang disiapkan? Oleh karena itu hidup hanya untuk hari ini adalah hidup yang mempersiapkan generasi dalam segala hal. Amin.