Sunday, October 23, 2016

FirmanMu Kesukaanku

Ev. L. Vera Sitorus

Maz 1:1-6
1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Roma 1:18-32
18  Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
20  Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.
21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.
23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.
24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.
25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.
26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
28  Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
29  penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.
30  Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,
31  tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.
32  Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Firman Tuhan adalah pelita dan terang

                Tema hari ini FirmanMu Kesukaanku. Firman adalah kata-kata Tuhan. Kalau kita mendengar Allah berfirman berarti Allah berkata-kata. Mengapa firman Tuhan menjadi kesukaanku? Karena kata-kataNya absolut, mutlak, benar-benar dan sungguh benar dan pasti akan terjadi sehingga Firman Tuhan itu menjadi satu-satunya kesukaan kita. Kita memiliki banyak kesukaan. Ada yang suka makanan, benda-benda tertentu, rumah, pakaian dan bahkan di antara orang-orang yang kita cintai ada yang menjadi kesukaan kita. Misalnya : biarpun kita menyayangi semua cucu atau anak kita, tetapi di antara mereka pasti ada yang paling menyukakan hati kita. Namun semua kesukaan kita itu tidak abadi. Sekarang suka belum tentu besok tetap suka. Jika kita menyukai sesuatu lalu kita mendapatkannya, setelah itu beberapa lama kemudian kita berubah menjadi tidak suka. Tetapi kata-kata Tuhan harus menjadi kesukaan kita. Mengapa? Pada Maz 119:105 dikatakan Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Perkataan Tuhan itu ibarat pelita. Ketika berjalan, kaki kita tidak terantuk karena kita akan melihat terang dalam perjalanan hidup kita. Walaupun di pagi hari matahari terbit, tetapi belum tentu pikiran kita menjadi terang. Mengapa? Karena kita berpikir dari dalam diri sendiri. Kalau ada kata-kata orang lain yang mempengaruhi pikiran kita, belum tentu perkataan orang lain itu adalah suatu kebenaran mutlak sekalipun tampaknya benar (kalau dilihat dari segi yang lain akan ada yang tidak benar). Sehingga kata-kata Tuhan itu harus menjadi kesukaan kita. Jika tidak, kata-kata dunia ini akan membodohi kita. Contoh : Taat Pribadi yang menjadi pembina pada Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo (Jawa Timur) sangat berpengaruh kata-katanya sehingga orang berpikir dia benar-benar dapat melipatgandakan uang. Namun akhirnya polisi menangkapnya dan menjadikannya tersangka dalam kasus pembunuhan dan penipuan di awal Oktober 2016. Jika bukan karena firman Tuhan yang mempengaruhi pikiran kita, semua kata-kata dalam dunia ini dapat kita percayai padahal belum tentu benar.

Firman Tuhan adalah perintahNya

Hanya firman Tuhan yang bisa menerangi jalan hidup kita baik kita berjalan pada pagi hari, siang hari, sore hari atau malam hari. Pikiran kita terang benderang karena dalam segala yang kita lakukan , firman Tuhan akan mempengaruhinya. Mengapa kita datang ke gereja? Karena firman Tuhan. Mengapa kita memberikan persembahan? Karena firman Tuhan berkata kalau datang ke rumah Tuhan jangan dengan tangan kosong tetapi harus memberikan persembahan. Jadi firman Tuhan adalah perintah Tuhan. Ketika kita memberikan perpuluhan, itupun karena firman Tuhan. Perpuluhan itu wajib hukumnya. Tetapi ada orang Kristen yang ketika penghasilannya bertambah besar menjadi enggan memberi perpuluhan dengan benar. Contohnya : ketika penghasilannya mencapai Rp 9 miliar, saat akan memberikan perpuluhan yang besarnya Rp 900 juta ia merasa sayang. Pikirannya,”Nanti gereja akan kaya kalau saya berikan semuanya. Rp 100 juta saja sudah besar.” Begitulah kalau Tuhan memberikan banyak berkat tetapi kesukaannya bukan firman Tuhan. Karena baginya, semua itu berkat usahanya semata (saya yang mengerjakan semunya). Perusahaannya memperoleh keuntungan karena kepandaiannya. Padahal firman Tuhan tidak seperti itu. Memberi persembahan dan perpuluhan adalah firman Tuhan.
Ketika liturgis berkata,”Mari kita berdoa mengakui dosa-dosa kita” itu bukan semata-mata perkataan liturgis. Karena memang manusia tidak luput dari dosa. Manusia selalu melakukan dosa. Supaya tidak lagi memberatkan maka akuilah dosa kita sehingga Allah akan mengampuni kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1 Yoh 1:9). Saat berdoa yang harus dilakukan adalah mengaku dosa dan kesalahan kita. Hal ini dilakukan bukan sekedar karena liturgis mengatakannya. Kalau kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa maka kita adalah pembohong besar. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita (1 Yoh 1:10). Kita mohon ampun di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus sangat menghargai permohonan kita. Tuhan Yesus mendengar kata-kata kita. Coba kalau anak atau cucu kita melakukan kesalahan, misal  memecahkan gelas lalu kita bertanya, “Mengapa kamu memecahkannya?” Kemudian dengan wajah polos ia menjawab, “Saya bersalah. Saya minta maaf.” Maka dengan senang hati kita menerima permintaan maaf itu. Demikian juga firman Allah berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, Dia akan mengampuni dosa kita.”

Firman Tuhan bukanlah Kesukaan Orang Fasik

Semua yang kita lakukan dalam hidup sehari-hari adalah sesuai perintah Tuhan. Kita melakukannya bukan semau atau sesukaku, tetapi harus sesuai dengan kata-kata Tuhan.  Sehingga jika kesukaan kita bukan firman Tuhan, kita menjadi seperti apa? Pemazmur mengatakan, kita adalah orang fasik dan kita melakukan  apa yang dilakukan oleh orang fasik. Rasul Paulus selain menguasai hukum Taurat dia juga melihat hukum kasih Allah sehingga ia menuliskannya dalam Roma 1:18-32. Di sini digambarkan tabiat dan prinsip orang fasik. Bagaimana kita bisa melepaskan hal ini? Hanya dengan satu hal saja yaitu kuasa Tuhan Yesus melalui kata-kataNya.   Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya (Roma 1:32).
Tentunya dalam hidup, kita tidak mau untuk melakukan tabiat orang fasik. Supaya suatu hari kita sanggup melakukan kebenaran maka kesukaannya haruslah firman Tuhan. Firman Tuhan bukan hanya dibaca pada hari Minggu saja, karena kalau demikian maka dapat dipastikan iman kita adalah iman pengkhotbah dan bukan iman pribadi kepada Yesus Kristus. Sehingga sewaktu pengkhotbah melakukan kesalahan maka orang akan pergi dari gereja dan meninggalkan gereja karena sakit hati dengan gereja. Orang Kristen bukan seperti itu. Kesukaan orang Kristen seharusnya firman Tuhan dan merenungkannya siang malam. Harus dari dalam diri sendiri yang mengambil keputusan untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan kemudian melakukannya untuk Tuhan (bukan untuk pengkhotbah).

Berbahagialah Orang yang Kesukaannya adalah firman Tuhan.

                Terdapat banyak keuntungan dan kebahagiaan yang absolut melalui firman Tuhan. Ketika berhadapan dengan orang lain, saya adalah orang berdosa demikian juga dengan status orang tersebut. Saya adalah orang berdosa tetapi sudah dikuduskan oleh Tuhan Yesus, tetapi tabiat dosa dan sengatnya mempengaruhi kita. Misalnya ketika dikoreksi oleh orang lain, kita langsung patah hati. Kita terus ngambek dan marah, tidak bisa menerimanya. Padahal firman Tuhan mengatakan apa? Tidak apa-apa orang menghina kita. Tetapi jangan pernah Tuhan menghina kita. Karena pikira-pikiran Tuhan itu tidak seorang pun manusia bisa mengoreksinya. Itulah sebabnya kesukaan kita adalah firman Tuhan ini. Sehingga kalau kita sebagai pengusaha yang baik akan puas kalau memakai firman Tuhan. Demikian juga jika kita seorang pegawai maka kita akan puas melakukan pekerjaan kita. Jika kita adalah seorang yang tidak mempunyai apa-apa firman Tuhan ini akan mengangkat harga diri kita. "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3).  Kitab suci ini memuaskan hati kita sehingga  kita melakukan apa yang Tuhan kehendaki.
                Saat saya melayani di GKY Palembang, gereja melakukan aksi sosial dengan sasaran untuk sekitar 1.000 orang. Tidak mudah mengurus banyak orang. Contoh : di surat kabar, saat pembagian bingkisan oleh orang-orang kaya menjelang hari raya kita melihat terjadi kekacauan. Ada yang menangis, terinjak bahkan tergeletak. Kalau hal ini dilakukan oleh orang Kristen, maka sangat cepat sekali disorot. Jadi saat ada yang bertanya, “Ev. Vera apakah kita akan berhasil melakukan aksi sosial ini atau tidak?” Saya menjawab , “Pasti berhasil. Kita gunakan strategi Allah. Kita tidak boleh langsung membagikan pada 1.000 orang.” Jadi kami bekerjasama dengan lurah setempat. Lalu diatur waktu untuk tiap-tiap kelurahan sehingga 1.000 orang itu bisa dengan tertib dilayani sampai selesai. Ada konsultasi kesehatan gratis. Ada obat gratis. Ada pemeriksaan gigi gratis. Semua berjalan lancar karena kita mengenakan kasih yang Tuhan berikan untuk mengasihi orang. Kami memberi bukan karena kelebihan tapi karena kasih yang dalam. Jadi jangan supaya orang melihat gedung yang megah tetapi supaya orang melihat hati orang yang di dalamnya juga megah. Yaitu hati yang mau berbagi, mau mengasihi, sehingga kekristenan itu nampak di hadapan orang-orang yang belum mengenal Allah.
                Segala sesuatu yang saya sebutkan ada di Alkitab. Tetapi Tuhan mengatakan, “Jangan kamu seperti pencemooh!” Sudah keluar masuk gereja berpuluh kali, tetapi pola pikirnya tidak selaras dengan kata-kata Tuhan. Kesukaannya bukan kata-kata Tuhan, mendengar dan mentaati kata-kata Tuhan. Saya mempersiapkan khotbah ini selama 2 minggu. Apakah boleh saya khotbahkan dalam waktu 5 jam? Tidak! Hanya bisa 30 menit lebih. Apakah bisa meyampaikan isi Alkitab dalam waktu 30 menit? Tidak. Mungkin setelah usai kebaktian dan keluar dari gedung gereja, jemaat sudah lupa. Mari kiranya firman Tuhan menjadi kesukaan kita, menjadi kerinduan kita, menjadi jatuh cinta kita untuk bertemu Tuhan yang begitu jauh dalam pandangan mata kita, tetapi dia dekat karena kata-kataNya. Mau berkat? Jika ada orang yang terus-menerus mau berkat maka perlu dipertanyakan. Berkat Tuhan itu ada di depan mata kita. Sudah Tuhan sediakan. Coba kita melihat non Kristen banyak yang kaya. Lalu kita bagaimana? Ulangan 28:1-2 mengatakan demikian, "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu:” Jangan selalu curiga pada Tuhan. Kalau lagi susah, jangan kita katakan, “Ah Tuhan tidak baik pada saya.” Atau  “Ah pendeta itu hanya omong di atas mimbar. Sedangkan yang bergulat dengan kesakitan dan yang merasa sakit itu saya sendiri bukan hamba Tuhan. Kamu kan hanya khotbah saja sedangkan yang menderita saya lho (apalagi sakitnya kanker).” Kalau dibesuk, terpaksa menerima dengan sopan santun. Tetapi dia tidak tahu Tuhan bisa mengutus orang. Tuhan itu maha tahu. “Apakah kau suka akan FirmanKu? Apakah menjadi kesukaanmu kata-kataKu?” Sehingga apa pun yang terjadi dalam hidupmu, Tuhan sudah menangkap dan menggendongmu. Kita hanya mengalami sebagian kecil saja dari kesulitan-kesulitan yang ada di dunia. Jika kita mau menjadikan firman Tuhan kesukaan, Amsal 16:20 mengatakan Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN. Pada Mazmur 1, kata pertama yang keluar adalah berbahagialah. Orang yang berbahagia adalah orang yang merenungkan taurat Tuhan. Ia akan menghindari tabiat yang Tuhan tidak suka. Tuhan akan mempengaruhi pikirannya untuk melakukan hal yang benar.

Keuntungan Melakukan Firman Tuhan

Keuntungan orang yang melakukan firman Tuhan adalah di Mazmur 1:3 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.  Saat kita datang beribadah setiap minggu berarti Tuhan sedang menggendong kita terus-menerus. Seakan-akan Dia berkata,”Dengarkan Aku baik-baik , apa yang harus kamu lakukan, maka semua kebahagian itu akan kamu terima.” Sekalipun dunia ini tidak menjadi baik untuk kita karena akan selalu silih berganti tetapi sekarang kita bisa tersenyum walau saat pulang kita mungkin menangis. Sekarang kita bisa sehat. Kita tidak tahu nantinya yang terjadi dengan kita. Tapi Tuhan sudah menjawab semua kebutuhan kita dan membuat kita bahagia. Dan kata-kata Tuhan itu dapat dipercaya. Kalau kita mau menikmati Tuhan, mari jadikan kesukaan kita adalah firman Tuhan. Karena orang fasik pasti binasa. Baik di bumi ini, maupun setelah meninggal dunia.

                Seperti perkataan Agatha Christie,”Tidak ada kejahatan yang sempurna.” Serapat apapun tabiat kita tutupi di hadapan orang, jika firman Tuhan mengoreksi kita dan kita tetap berada di dalamnya, maka Tuhan akan mempermalukan, baik waktu hidup ini maupun yang akan datang. Sebab itu, Tuhan Yesus menyatakan begitu besar kasihNya melalui kematianNya di kayu salib. Mulai dari Dia lahir dunia ini menyembuhkan orang sakit, memberikan orang makan, memberikan kasihNya, Ia dihina, dicambuki, disesah, diludahi, disalibkan , lambungNya ditombak, darahNya tercurah, semuanya menunjukkan kasihNya yang begitu besar. Hal ini hanya ditulis dalam kitab suci. Betapa mahal harga di atas salib itu, tidak bisa kita membayarnya. Ini hanya kita dapati di dalam firman Tuhan.  Amsal 13:13 Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan. Sekarang jemaat silahkan mengambil keputusan, suka akan firman Tuhan atau tidak? Keputusan itu adalah keputusan diri sendiri. Dan yang melakukan adalah sendiri. Dan kita sendiri yang akan menikmatinya. 

Pedang Bermata Dua


Pdt. Gideon Ang

Yakobus 1:19-27
19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.
22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.
23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.
24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.
25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.
26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Ibrani 4:12-13
12  Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
13  Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Pendahuluan

                Ada sebuah cuplikan kisah yang dikutip dari sebuah buku hasil karya Lutan (?, penulis riwayat hidup - biografer Yunani dan seorang filsul). Bukunya yang keempat (Morals) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di abad 17 oleh Robert Weekley. Di dalam  pembukaan dari buku tersebut ditanyakan, “Mengapa orang-orang  bijaksana berhenti (tidak lagi) memberikan jawaban?” Dalam buku ini orang dibagi menjadi 5 macam :
1.     Orang tidak bertanya lagi mengenai pertanyaan-pertanyaan  mendasar dalam kehidupan ini sehingga tidak ada lagi jawaban. Padahal saat merenungkan firman yang didengarnya atau mengikuti ceramah biasanya timbul pertanyaan. Francis Schaeffer , seorang penulis Kristen, mengatakan “Berikan jawaban yang jujur atas pertanyaan yang jujur.”  Jika ada pertanyaan sebaiknya dicatat dahulu dan pada saat yang tepat ajukanlah pertanyaan itu (misalnya setelah kebaktian selesai).
2.  Orang yang tidak sabar. Ada beberapa orang yang tidak sabar menunggu jawaban. Kadangkala menjawab pertanyaan tidak mudah. Saya suka menghadapi pertanyaan yang tidak bisa saya jawab, sehingga ada PR untuk mencari jawabannya.
3.   Orang yang tidak mau mendengarkan jawaban. Setelah dijawab, ternyata pertanyaannya tidak jujur (hanya pertanyaan coba-coba saja)
4.   Ada yang motifnya kacau.
5.   Orang yang punya pendapat yang salah. Sehingga di zaman itu ada tempat yang dikenal semacam ampiteater (tempat berkumpul orang-orang untuk  bertanya jawab). Karena sudah lama tidak ada yang bertanya jawab, sehingga tidak ada lagi orang yang berkumpul. Lama-lama berkembang suatu legenda bahwa di situ tempatnya seram dan ada naga yang tinggal.
Buku ini ingin mengatakan bahwa banyak kali kita tidak bisa mendapatkan sesuatu karena tidak pernah mengajukan pertanyaan yang jujur dan sewaktu mendapat jawaban yang jujur , kita tidak mendengarkannya baik-baik.

Bagaimana Mengalami Karya Pedang Bermata Dua (Firman Tuhan)

Firman Tuhan bisa begitu masuk ke dalam hati kita. Kita akan belajar dari kitab Yakobus (kitab tentang iman dan perbuatan). Kita seringkali tidak mau mendengar jawaban yang baik sehingga tidak ada lagi proses belajar yang baik sehingga yang dilegendakan singa atau naga yang ada di situ. Paul Hidayat mengatakan, “Jika kita mempelajari kebenaran dan kita tidak juga berubah maka hanya 2 kemungkinan yaitu yang pertama kita belum sungguh-sungguh belajar atau yang kedua yang kita pelajari bukan kebenaran.

Bagaimana kebenaran bisa membukakan hati kita? Ada 4 hal yang kita pelajari :

1.    Dengarlah firman Tuhan

Dengarlah ada firman Tuhan yang dapat mengubah engkau, menyelamatkan jiwamu dan  memerdekakanmu secara sempurna. Yak 1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; Yak 1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Yak 1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Maukah kita mengalami karya firman yang merupakan pedang yang bermata dua ini  untuk mengubah hidup kita? Yang petama : dengar dan ingatlah ada firman yang dapat mengubahkan dan menyelamatkan hidup kita. Firman yang merupakan hukum yang sempurna yang memerdekakan kita. Sudahkah jiwamu diselamatkan? Sudahkan anda mengalami hukum yang memerdekakan anda? Seorang yang bernama Emerton , suka menyelidiki gereja dari sudut pandang sosiology Kristen. Dia mengatakan bahwa ada 13 kualitas dari gereja yang bertumbuh. Dari ke-13 itu yang pertama adalah pengetahuan Alkitab. Yang kedua dan berikutnya :  kehidupan rohani pribadi, ibadah, bersaksi, pelayanan awam, misi, persembahan, persekutuan (fellowship, komunitas di sekitar), kelakuan hidup, sikap terhadap agama, pelayanan sosial, perbumbuhan kuantitaf anggota dan keadilan sosial. Dari 13 tolok ukur gereja yang bertumbuh kualitas yang pertama adalah firman Tuhan. Sudahkah kita mengalami firman yang menyelamatkan jiwa dan memerdekakan kita? Gereja injili ada 4 hal yang utama yaitu biblisystem (berpusatkan Alkitab), pertobatan (lahir baru), menjalankan firman Tuhan (activism) dan  berpusatkan kayu salib (crucifycenterism). Selalu Alkitab yang utama yang perlu dialami lalu ciri kedua : lahir baru. Firman  yang menyelamatkan jiwa dan memerdekakan engkau. Dalam istilah teologia ada istilah once saved, save forever (sekali selamat, selamat selama-lamanya). Saya lebih suka mengatakan ,”Once to be generated, save forever (sekali lahir baru selamat selama-lamanya)”. Kenapa hal ini penting? Karena ada teologia yang dikembangkan “sekali selamat dapat tiket ke sorga” ini tidak bisa. Sudah mengalami firman yang bermata dua, yang pertama harus melahirbarukan hidup kita. Hidup baru apa? Hidup baru yang diterima dari Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus melalui iman percaya karena pekerjaan Roh Kudus pada saat firman Tuhan diberitakan. Hidup baru disebut keselamatan, hidup kekal, benih ilahi, kodrat ilahi. Ini penting sekali. Ada lagu natal yang sangat saya berkesan yakni pada lirik lagu O Holy Night : fall on your knees (berlutut / bersujudlah) itu adalah kalimat Martin Luther (minggu depan pada tanggal 31 Oktober kita merayakan reformasi dan tahun depan kita akan merayakan 500 tahun reformasi yang berawal di tahun 1517). Martin Luther mengatakan, “Percaya kepada Allah adalah berlutut di depanNya, merendahkan hatimu dan dirimu. Sudahkah engkau mengalami firman yang membukakan kebenaran sehingga engkau berlutut, melihat dan mengenal Tuhan Yesus serta keindahan karya keselamatanNya? Yang indah dari lagu O Holy Night, lirik terakhirnya oh night oh night divine (O malam.. malam kudus). Kalau malam itu anda mendapat kodrat dan benih ilahi yang mengubahkan hidupmu seperti yang disaksikan oleh Stefanus (mahasiswa STT Iman asal Pos Pelayanan GKKK di Bekasi). Bagaimana untuk masuk Sekolah Alkitab? Orang harus sungguh-sungguh lahir baru dan panggilannya jelas, baru bicara biaya. STT Iman tidak ingin sekedar memperbanyak murid, walau rindu orang  menjadi hamba Tuhan. Sehingga waktu ditempa , harus siap menjadi orang yang mementingkan komitmen, karakter dan kompetensi. Seorang siswa teologi harus punya komitmen untuk dibentuk karakternya dan baru kemudian kompetensi (karena talenta setiap orang berbeda-beda. Ada yang 3 , ada yang 5 dan sebagainya). Tahun ini STT Iman bersyukur mendapat 21 orang siswa baru (16 siswa S1 dan 5 siswa S2). Di antara mereka ada 4 orang berlatar juara umum, peringkat 1 atau 2. Tapi itu bukan yang utama. Saya ingin mereka betul menjadi hamba Tuhan. Demikian juga dengan anggota paduan suara. Sewaktu mereka bernyanyi, seharusnya suara yang keluar dari hati, sehingga jemaat yang mendengar menjadi tersentuh.

2.    Terimalah firman Tuhan

Bila tidak menerima firman, maka kita tidak akan mengalami operasi dari pedang bermata dua (firman) Yak 1:21b terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Terimalah dengan lemah lembut  firman yang tertanam dalam hatimu. Apakah di hatimu ada firman Tuhan? Kalau tidak, maka kita bisa sering membaca firman, tapi firman tidak pernah mengubah hati kita dan mengalami pedang bermata dua yang mengubahkan hidup kita.

Berikut kesaksian dr. W McKay. Dia meninggalkan rumah lalu mengambil kuliah kedokteran pada usia 17 tahun di kota lain. Mamanya adalah seorang Kristen yang saleh (godly christian). Waktu McKay akan pergi, mamanya memerikan sebuah Alkitab dan menuliskan nama McKay di dalamnya. Mungkin mamanya berpesan untuk membacanya setiap hari, menulis 1 ayat Alkitab dan menulis dari mamanya yang mengasihnya. Sayangnya setelah itu McKay jatuh dalam pergaulan bebas. Ia tidak membaca Alkitab atau pun bila membaca, firman itu tidak tertanam di hatinya. Ia lulus dengan pujian dari universitas, karirnya kemudian sukses dan akhirnya ia menjadi kepala rumah sakit  di kota itu. Suatu kali rumah sakitnya kedatangan seorang pasien gawat darurat yang kondisinya kritis sehingga kepala rumah sakit (McKay) harus menanganinya sendiri. McKay pun menghampiri pemuda itu dan melihat wajah pemuda itu seperti memancarkan sinar sukacita dan  ada semacam kasih. Kondisi ini mengherankan hatinya karena pemuda ini tidak lama lagi akan meninggal (tinggal tunggu mati dalam waktu 3 jam).  McKay melihat kondisi pemuda tersebut tidak dapat diselamatkan. Yang menarik pemuda ini berkata,”Dokter, tolong baringkan saya di mana saja di rumah sakit ini”. Saat itu rumah sakit sedang penuh dengan pasien.  Dia berkata, “Saya siap. Saya tidak mati. Karena iman percaya saya pada Tuhan Yesus  dan darahNya yang mulia.” Dokter kemudian mendengar pasien ini meminta suatu permintaan khusus. Dokter Mc Kay kemudian mengutus seorang suster  untuk melakukannya. Ternyata pemuda itu meminta tolong untuk melakukan 2 hal. Yang pertama, ia memintanya agar suster mengambil uang yang ada di kantongnya dan membayarkan uang kos bulan itu yang belum dibayarnya ke induk semangnya. Yang kedua ia meminta agar dibawakan buku yang ada di kamarnya. McKay masih terbayang wajah sang pemuda yang memancarkan sukacita dan kasih. Ia gelisah kemudian memanggil suster yang diutusnya tadi dan bertanya, “Pemuda itu minta apa sih?”. Suster tersebut menjawab,”Pemuda itu minta agar uang kos-nya dibayarkan dan minta bukunya dibawakan.” Buku itu diletakkan di bawah kepalanya. McKay tertarik akan permintaan tersebut dan meminta agar buku tersebut dibawa kepadanya. Akhirnya buku tersebut dibawa dan ternyata sebuah Alkitab. Sewaktu membukanya, McKay terkejut. Di halaman depannya tertulis nama dia, W McKay. Itu adalah Alkitab yang diberikan mamanya untuk dia! Rupanya pemuda itu mahasiswa yang membeli Alkitab tersebut di tukang loak (tempat jual buku bekas), lalu membacanya. Melihat itu McKay gemetar dan berlutut. Ia teringat akan mamanya dan wajah pemuda ini dan senyumnya walaupun akan meninggal. Sang pemuda telah mengalami firman (pedang bermata dua) yang mengubahkan hidupnya dan tertanam dalam hatinya. Sehingga sewaktu menjelang ajal ia masih teringat untuk membayar uang kos (orang yang akan meninggal biasanya tidak ingat untuk membayar uang kos) dan minta diambilkan Alkitab! Kisah ini terkenal dengan judul dr. McKay, the doctor’s Bible.

3.    Lakukanlah firman Tuhan.

Yak 1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Lakukanlah firman Tuhan dan biarkan firman Tuhan mengoperasi hidup dan hati sehingga seluruh karakter kita semakin menyerupai Yesus Kristus.

4.     Berbahagialah karena firman Tuhan.

Yak 1:25c jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Berbahagialah karena Firman sehingga He will be belessed in what he does (mengalami berkat). Kalimat ini mirip dengan ayat Yoh 13:17 Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. Kalimat yang diucapkan Yesus Kristus sewaktu mengadakan perjamuan terakhir di ruang atas (upper room). Apa yang dilakukan Sang Guru, ikutilah teladanNya. Kamu akan diberkati kalau melakukan firman Tuhan.

Penutup

Sudahkah engkau mengalami ‘operasi’ dan dilahirkan baru? Yang kedua, sudahkah engkau menerima firman Tuhan dalam hatimu? Ketiga apakah engkau sudah melakukannya? Bila sudah maka  engkau akan berbahagia. Firman Tuhan mengubahkan kita. Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Pedang bermata dua berupa pisau yang pendek (makaira). Di dapur pisau ini digunakan untuk memotong dengan tajam. Bagaimana merenungkan firman Tuhan?  Saya pernah membimbing seorang ibu , mama dari teman kuliah istri saya di Trisakti, September tahun lalu. Ibu ini pernah dioperasi kanker otak di Singapore dan saat itu saya sempat membesuknya. Usianya waktu itu sekitar 76. Supaya tidak pikun, ia mau belajar bermain piano dan saya membantu mencarikannya. Waktu itu saya berjanji untuk membawakan buku renungan “Our Daily Bread”. Karena sangat sibuk saya lupa akan janji ini sehingga ia bertanya pada anaknya, katanya saya berjanji untuk membawakannya. Saya pun merasa bersalah. Lalu saat mengunjunginya, saya membawakan 2 buah buku renungan. Yang satu berukuran besar dalam bahasa Indonesia dan yang satu lagi lebih kecil dalam bahasa Inggris. Sewaktu mengunjunginya, ia sedang latihan main piano. Saya memberikan buku renungannya dan bertanya,”Apakah Ibu tahu bagaimana cara membacanya?” Sang Ibu tidak tahu dan saya pun menjelaskan. Cara membaca buku renungan harus diawali dengan membaca ayat referensinya terlebih dulu. Jadi jangan langsung membaca renungannya karena tidak akan mendapat berkat. Bacalah ayat referensinya paling sedikit 3 kali (kalau bisa 5 kali). Untuk menyiapkan khotbah saya membacanya 11 kali. Sebelum membaca renungan berdoa minta pimpinan Tuhan dengan hati yang lembut untuk diubahkan Tuhan. Lalu ajukan pertanyaan “Apa yang kubaca tentang Tuhan, manusia, sesama, alam sekitar dan apa yang Tuhan larang dan ingin aku lakukan?” Lalu catat apa yang didapat. Hal ini saya lakukan sehingga saya punya buku catatan. Setelah itu baru kita renungkan lalu bandingkan dengan bahan bacaannya. Dengan melakukan hal itu barulah kita ketahui kenapa penulis renungan dapat berkata seperti yang ditulisnya. Jadi jangan langsung membaca renungan. Jadi bandingkan apa yang ditulis dengan hasil renungan kita. Setelah itu kita bertekad dan berdoa, “Tuhan tolong saya untuk melakukan apa yang didapat dari renungan”. Kalau bisa hafalkan ayat referensinya. Ayat firman Tuhan sangat penting. Ruth Graham pernah jatuh, mengalami geger otak  patah tulang din 5 tempat. Dia berdoa, “Tuhan, ambilah semua yang saya punya tapi kembalikan ingatan saya akan ayat-ayat Alkitab”. Menghafal ayat itu penting sekali. Kalau lupa , jangan malu untuk menghafal lagi. Terus-menerus membacanya sehingga kita dapat mengalami keindahan firman Tuhan.


Biarlah pedang bermata dua (firman Tuhan) dialami dengan sungguh-sungguh. Caranya MAP yaitu memorize, analysise, personalize yaitu mengingat (menghafalkan), menganilisa dan menjalankan (mengalami) firman Tuhan. Barulah firman Tuhan akan mengubah hidup kita.

Sunday, September 11, 2016

Hati-Hati dengan Hatimu


Ev. Hellen Chou Pratama

Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.
Yeremia 17:9-10 : Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Pendahuluan

                Apa yang akan terjadi bila selama 24 jam Tuhan mengambil alih hidup kita? Dia tinggal di rumah kita, terbangun di tempat tidur kita, keluarga kita adalah keluargaNya, bos kita adalah bosNya, toko dan karyawan kita adalah toko dan karyawan Dia. Dia mengambil alih semua aspek kehidupan kita sehari-hari. Apakah ada yang berubah? Apa yang orang lihat berubah dalam diri kita? Apakah orang akan melihat diri kita yang sama? Apakah orang akan melihat kita sebagai seorang yang berbeda? Pasti kehidupan kita berubah dan  berbeda. Kalau kita mengemudi di tengah kemacetan Jakarta, kita akan lebih sabar. Saat menghadapi pembantu yang kurang pintar atau karyawan yang menjengkelkan, kita akan menghadapinya dengan sabar. Dalam menghadapi orang tua yang bertingkah seperti anak-anak, kita akan jauh lebih lembut. Karena tingkah laku orang yang sudah tua terkadang membuat sakit kepala. Hatinya menjadi sangat sensitif, harga dirinya adalah  harga diri orang tua tetapi kelakuannya seperti kanak-kanak. Biasanya orang yang merawatnya bisa kehilangan kesabaran. Tetapi bila Yesus mengambil alih hidup, kita akan menghadapi orang tua seperti itu dengan cara yang berbeda. Kalau kita adalah pesawat, Tuhan ingin duduk di-cockpit nya karena Dia ingin menjadi pilotnya. Kalau kita menjadi mobil, Dia ingin duduk di bangku pengemudi. Kalau kita komputer, Dia ingin mengambil-alih sistem operasinya (softwarenya). Tetapi karena kita adalah manusia, Dia ingin mengambil alih dan mengendalikan hati kita. Dia ingin kita diubahkan menjadi semakin diserupakan dengan Dia. Mengapa penting bagi Tuhan untuk mengambil alih hati ktia?

Penggunaan Kata ‘Hati’

Kita melihat di Alkitab alasan Tuhan ingin mengambil alih hati kita. Ada ratusan ayat berbicara tentang hati di dalam Alkitab. Kata ‘hati’ dalam bahasa Ibrani menyoroti berbagai sisi dari hati manusia. Dengan menyebut kata ‘hati’ saja, kita akan melihat betapa ajaibnya kata ini. Kita sering mendengar, menggunakan dan mengucapkannya. Semuanya menceritakan tentang diri manusia. Kita bisa mengatakan orang yang sedang jatuh cinta sebagai seorang yang jatuh hati yaitu orang yang memberikan hatinya kepada seseorang. Ketika itu, kita memberikan yang paling berharga dari hidup kita. Karena hati kita melekat padanya seperti yang Tuhan Yesus katakan , "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Matius 6: 21).  Orang yang kita sayangi kita sebut sebagai jantung hati. Setelah saya memperlihatkan foto anak saya, Sung shi-mu memperlihatkan foto cucunya. Saya tadi juga berbicara dengan Guo shi mu,”Sewaktu pacaran saat bertemu dengan teman kita menunjukkan foto pacar. Setelah menikah dan belum punya anak, kita memperlihatkan foto suami. Kalau kita sudah punya anak, foto anak yang banyak. Setelah punya cucu, foto cucu yang diperlihatkan.” Ada seorang teman yang tidak punya anak, setiap kali membuka telpon selulernya , ia memperlihatkan foto anjingnya. Itu jantung hatinya. Orang Bandung mengatakan sakit hati sebagai nyeri hati. Kita menyebut orang yang sedang emosi seperti yang dialami oleh banyak perempuan yang sedang cemburu sebagai panas hati. Orang yang sedang putus cinta dikatakan patah hati. Orang yang jahat dikatakan sebagai orang yang tidak punya hati. Apa yang saya sebutkan terkait dengan kata ‘hati’ merupakan campuran antara yang berkonotasi ‘baik’ dan ‘jelek’.

Hati adalah Organ Manusia yang Sangat Penting

Tuhan Yesus sangat fokus dengan hati manusia. Sehingga dalam khotbahNya, Ia berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Matius 5:8). Bagi orang Ibrani, hati adalah organ yang sangat penting. Kata ‘hati’ sering kali dipakai terkait dengan keselamatan manusia dan karakternya. Hati adalah pusat kendali dalam hidup kita. Dia mengalirkan hidup kita. Kalau kita membuka Alkitab, kata ‘hati’ (dalam bahasa Ibrani leb atau kaved) dipakai untuk  :  lambang sebanyak 29 kali ; menunjukkan karakter / sifat / kepribadian manusia 257 kali; menjelaskan 6 kondisi emosi manusia 166 kali; menggambarkan kegiatan berpikir 204 kali dan menunjukkan maksud hati 195 kali. Hati akan membentuk siapa diri kita dan membedakan kita sebagai manusia dengan mahluk lain (binatang).

Hati adalah Tempat di Mana Manusia Bertemu Tuhan

Kita mendapatkan gambaran yang sangat luas tentang ‘hati’ hanya dengan melihat Alkitab. Hati adalah tempat di mana manusia bertemu dengan Tuhan. Itulah organ pertama yang Tuhan sentuh sebelum kita mengenalNya. Roh Kudus Tuhan memberikan hati baru kepada kita. Hati yang bisa berespon terhadap Injil. Hati yang bisa condong kepada Tuhan. Hati yang punya kemampuan untuk bisa percaya kepada Tuhan. Tanpa hati baru, kita tidak akan sanggup mempercayai Injil dan Tuhan. Tanpa hati baru, kita tidak akan sanggup meresponsi cinta Tuhan. Tanpa hati yang baru, kita tidak akan bisa mengatakan,”Ya Tuhan, aku percaya”. Organ ini begitu penting. Karena hati, kita bisa bertobat dan percaya. Hati adalah sumber kehidupan. Ini suatu tempat yang diinginkan si jahat lebih dari apapun. Karena jika ia mendapatkan tempat itu , ia bisa mengerjakan apapun yang diinginkan lewat orang itu. Allah sangat memperdulikan hati kita dan apa yang terjadi dengannya.

Tuhan Melihat Hati

Manusia sangat memperhatikan penampilan luarnya. Juga banyak orang Kristen yang sibuk memperhatikan bagian luarnya, apa yang dipakai, apa yang bisa ditampilkan dan dibawa. Itu semua bisa menaikkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Perempuan yang gemar perhiasan akan memburu berlian yang semakin besar karatnya. Yang suka tas mengejar tas yang semakin tinggi harganya dan kalau bisa menggunakan tas seharga semiliar. Saya tidak membayangkan gaya hidup orang kaya yang seperti itu. Tas yang mereknya paling mahal seperti yang dibawa artis Syahrini dan Ratu Atut yaitu Hermes yang harganya bisa mencapai satu miliar Rupiah atau lebih. Hal Itu penting karena manusia ingin menampilkan kemahalan dirinya. Laki-laki yang hobi mobil maunya mengendarai mobil yang mahal. Yang suka main golf ingin memakai stick golf yang mahal. Semuanya untuk penampilan di luar. Tetapi berapa banyak manusia dan orang Kristen yang memperhatikan apa yang ada di ‘dalam’. Perempuan sangat memperhatikan penampilan luar. Saat umur bertambah, akan ada banyak kerutan di wajah. Di Bandung  ada menu restoran berupa makan sapo dengan kuah yang mengandung kolagen. Banyak orang yang memesan dan memakannya agar bisa awet muda. Ada banyak sekali yang sangat memperhatikan penampilan secara luar biasa. Seorang ibu berkata kepada saya, “Mengapa saat usia bertambah, fisik yang ada di atas ‘menurun’?” Saya berkata balik,” Itu berarti hidupmu sudah melewati waktu.” Kelopak mata turun operasi untuk naik lagi. Kalau tidak bisa operasi suntik botok dan lain-lain. Semua untuk penampilan luar. Allah tidak terkesan dengan penampilan luar. Tetapi Tuhan berkata, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Sam 16:7b). Tuhan tidak ingin anak-anakNya sibuk di luar tetapi hatinya tidak dijaga agar tetap indah.

Hati yang Melekat pada Tuhan

                Siapa orang yang paling banyak ditegur oleh Tuhan Yesus tentang hatinya? Bukan pemungut cukai atau orang jahat tetapi para pemuka agama, ahli Taurat dan orang – orang yang mengerti Alkitab. Mereka ditegur karena mereka munafik. Mereka di luar terlihat sangat rohani, tetapi di dalamnya penuh dengan kejahatan. Suatu hari Tuhan Yesus menegur mereka yang  di dalamnya penuh ‘ular beludak’ dan ‘bangkai’. Karena Tuhan melihat hati. Hati kita adalah suatu tempat yang Tuhan inginkan bagi diriNya sendiri. Hanya ada 1 Tuhan yang boleh bertahta di situ. Jika hati kita ditempatkan oleh si jahat, ia akan mengeluarkan hal-hal yang tidak baik dari perbendaharaan si jahat. Ketika Tuhan menegur Kain, “Kain mengapa hatimu panas? Kenapa mukamu muram?” Kain iri hati terhadap Habel. Mukanya tidak bisa berseri-seri karena si jahat telah menuangkan banyak rencana jahat dalam hatinya. Ketika si jahat mendapat tempat di hati, dia menuangkan banyak sekali hal yang jahat. Ia memberikan kelicikan , pemberontakan, keserakahan dalam hati. Dia membuat hati kita tidak peka terhadap dorongan Roh Kudus. Allah ingin kita memperhatikan dan menjaga hati kita. Kita tidak bisa menjaganya dengan kekuatan kita sendiri. Allah hanya meminta kepada kita untuk menurut pada Roh Kudus, mencodongkan hati kita pada keinginan Tuhan, diisi oleh kebaikan Tuhan, membiarkan Tuhan menjadi Tuhan di hati kita.

                Di keluarga kami ada kebiasaan rapat keluarga kecil. Ketika ada sesuatu untuk dibicarakan, maka diadakan rapat. Suatu kali suami saya yang juga papa anak-anak mengajukan rapat menjelang pergantian tahun. Topiknya sharing apa yang menjadi pengalaman seahari-hari dengan Tuhan dan anggota keluarga lainnya. Pada waktunya, setelah saya dan suami yang sharing tentang beratnya pelayanan, anak-anak pun membagikan pengalaman mereka. Anak yang kedua berkata, “Aku belajar satu hal. Waktu saya ingin mencari pacar, mama ingat saya bicara dengan mama? Ma, saya suka dengan siapa saja. Di antaranya ada yang paling saya suka. Dia tahu saya suka dia. Tapi saya berkata kepadanya, ‘Saya tidak akan masuk pacaran, kita doakan dahulu’. Dia anak pendeta. Aku mau Tuhan pegang dulu hatiku. Karena kalau hatiku terpegang Tuhan, maka hal lain akan menjadi benar.” Ketika ia berbicara, saya tahu arahnya kemana. Kokonya mengatakan, “Iya Pa. Apa yang ingin kita sampaikan : papa gelisah dengan pelayanan, mami jadi ikut gelisah. Tapi saya ingin sampaikan ke papa dan mama satu hal. Seperti pengalaman kita, saya yakin satu hal, kalau hati kita dipegang Tuhan, maka bila kita pegang yang lain akan menjadi benar. Papi tidak usah pusing, gereja dan pelayanan adalah milik Tuhan. Seperti papi sering mengingatkan kita. Tugas kita adalah setia. Yang penting hati harus benar. Karena kalau hati terpegang Tuhan, maka kita akan jadi benar dalam hidup ini.” Papinya sampai terdiam. Papinya lalu berkata, “Aduh, Puji Tuhan sekali kalian bisa bicara seperti itu!”

                Bila hati telah diserahkan kepada Tuhan, Tuhan akan atur banyak hal dan damainya ada di sana. Kebaikan Nya akan mengalir dari sana. KesucianNya akan menyucikan hati kita. KemurahanNya akan mengalir dari sana juga. Tuhan menginginkan tempat itu. Setiap hari, setiap saat dan setiap inci nya diperebutkan Tuhan dan si jahat. Kemana kah hati kita mengarah saat ini? Kepada Tuhan? Atau kepada ilah yang lain? Ilah yang lain bisa muncul dalam berbagai bentuk : harta, orang yang dikasihi, ego kita, barang-barang milik kita. Cara mengujinya mudah. Hati kita melekat kepada apa? Apa yang membuat kita tidak bisa tidur? Apa yang bila tersentuh kita tidak bisa tidur? kita hidup di dunia, kita bisa gunakan pengalaman hidup dan memiliki yang terbaik? Tetapi kalau hati melekat kepada Tuhan, maka kita akan meletakkan semuanya di tempat yang benar. Dan kita tidak membiarkan hati disusahkan olehnya.

Biarkan Tuhan yang Menjaga dan Mengendalikan Hati Kita

Saat ini semua orang sedang sibuk dengan program pemerintah Tax Amnesty. Banyak yang bertanya,”Shi mu kalau kita tidak mau laporkan harta kita, saya mau bawa pulang harta saya dari Hong Kong, bisa tidak uangnya saya masukkan saja ke brankas yang besar?” Dalam hati saya bertanya,”Ini perlu dikonseling atau dikhotbahkan?” Saya berkata,”Ini saatnya untuk tidak menyembunyikan harta dan uang. Kecuali uangnya tidak dipakai (hanya untuk dilihat). Kalau tidak, suatu saat dibelanjakan atau dijadikan warisan / hibah akan ketahuan uang dan hartanya. Ini saatnya kita melihat apakah hati kita melekat pada hal-hal yang bukan Tuhan. Kita orang Tionghoa disebut sebagai orang yang sangat suka uang. Ada yang setelah menjadi orang Kristen tidak juga berubah. Saya baru saja membesuk seorang ibu yang baru menjalani operasi tempurung lutut dan masih duduk di kursi roda. Ibu ini bercerita, “Saat saya turun dari pesawat, menantu laki-laki saya membawa kursi roda dari gereja. Saya bertanya , ‘Ini kursi roda siapa?’ dan ia menjawab, ‘Dari gereja!’ Malu-maluin saja membawa kursi roda dari gereja. Memang tidak ada uang untuk membeli kursi roda?” Ibu ini kemudian minta dibelikan kursi roda sambil marah-marah. Ia juga menjalani terapi di Malaka dan ibu ini berkata bahwa dokter yang menerapinya jahat. Saya katakan, “A-yi dokter itu mau a-yi sehat.” Ia pun membalas,”Ia mau uang saya. Dia harus baik-baik dengan saya. Tidak boleh marah-marah begitu dengan saya. Saya punya uang memang kenapa?” Saya hanya bisa mengatakan,”A-yi sudah mulai sehat karena bisa marah-marah.” Orang Tionghoa melihat uang sebagai hal yang begitu luar biasa. Mungkin hati kita sangat melekat kepada uang. Ia mengalirkan hidup yang sepertinya berkuasa bukan karena Firman. Ia mengalirkan tinggi kehidupan manusia namun bukan ditinggikan Tuhan. Ia mengalirkan hidup yang angkuh karena orang yang memiliki merasa punya banyak uang. Namun Tuhan menginginkan agar hati seperti ini diubahkan. Sebagai murid-murid Tuhan dengan bertambahnya usia seharusnya kita semakin lembut. Dengan umur bertambah hati harus menjadi semakin baik dan bersih. Semua itu akan terjadi jika Tuhan yang mengendalikan hati kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menolong membiarkan Dia menjaga dan menempatkan hati kita sehingga hidup kita menjadi berkat buat siapapun yang hidup di dekat kita dalam  keluarga, gereja dan di tempat kerja. 

Monday, September 5, 2016

Belajar Menjadi Murid Yesus


Pdt. Hery Kwok

Yoh 1:43  Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"
Yoh 15:16  Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
1Tim 4:6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.
1 Tim 6:3  Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat  —  yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus  —  dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,

Pendahuluan                                                                                                                             

Ada beberapa nats Alkitab yang dikutip untuk tema hari ini yakni :
- Yoh 1:43 Rasul Yohanes menulis bagaimana Yesus memanggil salah satu muridnya.
- Yoh 15:16. Ayat ini pernah diucapkan oleh seorang supir non Kristen di Gereja Kristen Ketapang. Dia mengatakan menjadi murid Kristus dipilih oleh Allah bukan manusia. Kalau yang mengatakan hal tersebut orang Kristen, aktifis, atau majelis saya tidak heran, tetapi kalau yang mengatakannya orang non Kristen saya jadi terheran-heran. Yesus berkata dengan jelas kepada Filipus,”Ikutlah Aku”. Kita menjadi murid Tuhan Yesus karena wibawa dan otoritas dari Allah bukan karena kita. Rasul Paulus berkata bahwa Timotius akan menjadi pelayanan Kristus yang baik kalau mengingatkan orang lain, saudara lain, orang yang mengenal Kristus agar belajar tentang pokok iman dalam ajaran yang sehat yaitu Firman Tuhan.
- 1 Tim 4:6 Rasul Paulus memberi penekanan agar murid membuahkan murid yang lain .
- 1 Tim 6:3 Seorang murid Tuhan Yesus harus mengikuti perkataanNya dan hidup sepadan.

Apa konsep Anda tentang menjadi murid Yesus?

                Menjadi murid Tuhan Yesus adalah istilah yang dipahami dan tidak asing. Sejak kecil (Sekolah Minggu) kita diajarkan menyanyi lagu “Aku Laskar Kristus” yang adalah murid Kristus. Nyanyian ini mengingatkan bahwa kita adalah murid Kristus sehingga istilah murid Kristus sudah tidak asing. Berangkat remaja/pemuda, kita diingatkan oleh lagu “Saya Mau Iring Yesus”. Sedang konsep kita apa menjadi murid Yesus? Tokoh religius India, Mahatma Gandhi, tidak mau menjadi orang Kristen karena melihat perirlaku orang Kristen (murid Kristus) yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Gandhi memuji ajaran Yesus Kristus sebagai bagus dan luar biasa, tapi ia tidak mau menjadi murid Kristus bukan karena Firman Tuhan atau tokoh Yesus Kristus, tetapi karena pengikutnya (murid Kristus). Ini sesuatu yang sangat ‘menampar’ orang Kristen.

                Kita bisa memahami mengapa Rasul Paulus sedemikian militan dan kuat? Mengapa Rasul Yohanes mau dikucilkan di Pulau Patmos, Rasul Yakobus mati sahid, Rasul  Petrus mati dengan posisi terbalik, rasul-rasul lain dan orang-orang lain mau menderita sampai mereka memberikan dirinya untuk dibunuh. Martir pertama, Stefanus bukanlah seorang rasul tetapi ia telah membuktikan diri sebagai murid Kristus yang sejati dan berani membayar harga dari pengakuan dan keyakinannya bahwa ia adalah murid Kristus. Kita mengalami kesulitan untuk memahaminya karena  konsep kita dalam belajar. Apa tujuan kita menyekolahkan anak kita? Ada yang berkata anak bersekolah agar tidak bodoh karena kalau bodoh tidak bisa bekerja dan mencari uang, tidak bisa menikmati hidup enak dan akan menyusahkan diri serta orang lain. Maka saat belajar, kita selalu menekankan tingkat pengetahuan semata (hanya pengetahuan yang menjadi tujuan kita belajar). Hal ini  tidak sepenuhnya salah. Namun kalau hanya itu tujuan satu-satunya, maka kita tidak akan menemukan relasi antara ilmu dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam proses belajar sekarang  bisa saja murid tidak bertemu dengan guru karena bisa bertemu jarak jauh. Pada zaman sekarang yang didukung oleh teknologi yang canggih, kita bisa belajar dengan orang di Amerika, tutorial bisa didapat melalui konferensi jarak jauh atau pun universitas terbuka. Teman saya ada yang mengikuti sekolah lanjutan melalui universitas terbuka dan  tidak perlu terus tatap muka (cukup 1-2 kali). Jadi proses belajar sekarang tidak perlu lagi bertemu dengan guru terus menerus. Karena tujuan kita belajar agar dibekali kepintaran yang akan menolong agar menjadi orang yang bisa mencari uang, menghidupi diri sendiri dan keluarga (kalau sudah menikah dan menyekolahkan anak). Proses belajar dalam dunia sekarang seperti itu. Maka kita sekarang melihat orang-orang hebat dan jenius dalam pemerintah tapi berani korupsi dan mengambil uang rakyat. Sejak kecil orang diisi dengan konsep bahwa otak harus pintar dan nomor satu. Saat acara reuni dan melihat gurunya masih hidup, lalu para mantan siswa yang sudah sukses secara materi lalu mengumpulkan uang untuk membeli hadiah bagi sang guru. Relasi antara murid dengan guru hanyalah sebatas itu. Tujuan proses belajar seperti itu. Maka menjadi murid Kristus, konsepnya akan menjadi sama seperti itu. Banyak orang Kristen yang memuaskan otak hanya dengan Firman saja. Ini tidak sepenuhnya salah. Sayangnya pada proses ini tidak ada hubungan antara pengetahuan dan perubahan hidup.

                Saat mengikuti seminar yang diadakan oleh GKKK unit Central Park yang dibawakan oleh Ev. Johni yang berlatar jurusan apologetik (pembelaan iman dijelaskan kepada orang non Kristen). Ia berbicara dengan topik yang sangat bagus. Apa relevansi doktrin Tritunggal dalam hidup kita (apa pentingnya doktrin itu)? Hanya untuk memenuhi pikiran kita? Allah saya begini loh. Misal : saya menjadi pendeta di gereja, di rumah menjadi suami dari Ev. Susan , dan bila diperlukan  menjadi supir. Apakah Allah seperti itu? Itu salah. Allah yang kita sembah , Allah Tritunggal, dengan pribadi masing-masing, Allah Bapa , Anak dan Roh Kudus (dalam pribadi masing-masing tidak terpisah. Hanya itukah yang menjadi pengetahuan teologia di kepala kita? Apa hubungan Allah Tritunggal dengan hidup kita? Tidak mungkin pengetahuan Tuhan tidak masuk dalam hidup kita. Konsep menjadi murid dalam Alkitab bagus sekali.

Konsep menjadi murid menurut Alkitab.

Kata murid ditulis dalam bahasa Yunani : Mathetes (disciple atau pelajar):
1.     Relasi antara guru dengan muridnya
Dalam pemahaman orang Yahudi dan Yunani yang belajar filsafat, seorang bisa dikatakan murid bila memiliki hubungan antara guru dengan muridnya yang tidak terbatas dalam proses belajar saja tetapi terus berkelanjutan. Dalam Kisah Para Rasul, semua murid (orang yang menjadi percaya) punya kondisi yang sehati satu dengan yang lain karena mereka punya relasi dengan gurunya dalam hal yang sama. Tidak ada murid yang tidak punya hubungan dengan gurunya. Relasi ini penting karena perjalanan murid dan guru merupakan perjalanan bersama-sama. Seperti kemana pun Yesus pergi , murid-muridNya mengikutiNya

2.     Proses yang dijalani seorang murid (pelajar)
Kata ‘murid’ menekankan adanya proses yang dijalani mruid untuk mengenal karakter dan ajaran gurunya dan dibentuk menjadi sama dengan gurunya. Apa yang ada dalam karakter gurunya harus ada dalam diri murid-muridnya. Para rasul mengalami perubahan dalam belajar mengenal Kristus. Dulu Paulus menentang Yesus dan bermaksud membunuh murid-muridNya. Tapi begitu menjadi murid Yesus dengan ajaranNya untuk mengasihi seroang akan yang lain dan menyaksikan kasih Yesus dalam hidupnya, maka Paulus pun berubah.

3.     Mengikuti
Dalam kata Mathetes ada pengertian mengikuti (tidak ada lagi yang kita tentang). Tidak ada yang kita pertahankan, kemauan saya ada di dalam dia. Saat orang menikah dan mau ikut berarti menanggalkan diri. Suami dan istri kalau tidak menanggalkan ego, rumah tangga bisa tenggelam. Maka mulailah bertemu dengan pribadi yang berbeda dan saya berkomitmen mengikuti dia. Kemana guru pergi, walau tidak mau, di sanalah saya harus ikut. Tidak ada konsep : Tuhan saya maunya begini. Tuhan tidak melayani hamya saat senang. Tetapi banyak orang Kristen yang mengaku muridNya tidak begitu, kalau tidak suka atau enjoy tidak pelayanan dan beribadah. Kita hidup dalam zaman seperti ini, untuk menjadi murid pengikut Tuhan.

4.     Seorang yang menjadi murid kemudian membuat murid (pemuridan).
Murid memuridkan orang lain.  Maka rasul memuridkan orang lain. Timotius murid dari Rasul Paulus. Dan Paulus meminta Timotius mengajar orang yang cakap

Menjadi murid...

Dalam konsep orang Yunani
Seorang yang senantiasa mengikuti gurunya dan mengalami proses pembelajaran sampai proses pengujian sehingga akhirnya dapat memiliki murid yang belajar dari dirinya (menghasilkan murid). Perubahan yg terjadi dari seorang yang menjadi Murid Kristus : mengalami pertumbuhan iman yang diwujudkan (dibuktikan) dalam mentaati Firman Tuhan.
Kalau mau menjadi murid Yesus tapi tidak rindu memuridkan maka kita tidak berani mengatakan kita seorang murid. Maka ktia berkonsetnrasi ke penginjalan dan pemuridan agar memahami menjadi murid. Dengan menjadi murid terjadi perubahan dalam diri orang itu. Murid itu mengalami pertumbuhan imannya. Imannya kepada Kristus makin nyata setiap hari dengan mentaati firman. Murid yang mentaati iman akan memiliki pertumbuhan iman dengan gurunya. Jemaat yang sedang bergumul dengan masalah jangan mencari jalan pintas. Kalau mengalami kesulitan ekonomi, jangan pikir Tuhan mau apa dalam diri saya. Pertumbuhan iman apa yang Engkau kehendaki? Kalau tidak terjadi, maka  tidak bertumbuh dalam iman. Walau anak/istri/suami bermasalah, studi bermasalah, pergaulan bermasalah maka pikirkan apa yang Tuhan mau. Itulah murid. Mencari pasangan / teman hidup mudah sekali. Apalagi populasi orang di dunia lebih banyak perempuan. Kita bergumul dengan baik dengan mentaati iman. Seorang murid mengalami pertumbuhan iman dalam pendidikan dalam konsentrasi ini.

Proses menjadi murid Kristus dalam hubungan pribadi antara murid dengan gurunya

1.     Seorang murid akan mengajukan pertanyaaan terus-menerus kepada gurunya bagaimana cara mengikut Yesus.
Dalam doa malam, saya dan shi mu terus meminta agar Tuhan memberi petunjuk dan kehendakNya  kepada kami dalam mengajar jemaat di GKKK Mabes. Majelis dan teman dekat mu-shi mengerti kesulitan dalam menggembalakan. Kalau tidak ada hubungan dengan Tuhan dan Kristus tidak nyata dalam hidupmu itu bukan murid Kristus.
2.     Seorang murid akan belajar dari perkataan-perkataan Yesus.
Seorang murid Kristus mempunyai kecintaan untuk membaca Firman Tuhan setiap hari. Sehingga saya minta dibuat program untuk anak-anak  Sekolah Minggu agar rindu membaca Alktiab setiap hari walau tidak mudah kasih reward dll. Kalau membaca Firman Tuhan sudah merasuk dalam kehidupan, maka yang dipikirkan adalah Firman Tuhan.
3.     Seorang murid akan belajar dari cara Yesus melayani.
Ini tingkatan yang lebih tinggi. Mengapa orang Kristen yang percaya dibawa untuk melayani dia? Kalau ada yang bilang susah melayani karena sibuk, sesungguhnya paradoks. Tuhan yang memberi kesibukan, pekerjaan , bisnis. Apa harus ditarik Kistus baru melayani Tuhan? Saya banyak bertemu oang yang sudah collapse atau di kursi roda baru mau melayani Tuhan.
4.     Seorang murid akan mengimitasikan (menirukan / sama seprti ..) hidup dan karakter Yesus. Seperti pada Roma 8  di mana Rasul Paulus memberitakan bagaimana Allah memilih kita berdasarkan kerelaan hatiNya dan memprosesnya. Dia menjadi kepala dari orang tebusan. Kita diminta untuk melakukan supaya sama dengan karakter Tuhan Yesus. Mahatma Gandhi (1869-1948) tidak mau menjadi Kristen karena  melihat perilaku orang Kristen yang tidak mengikuti ajaran Yesus.
5.     Seorang murid akan menemukan dan mengajar murid-murid yang lain demi Yesus.

Penekanan Injil tentang menjadi Murid
Matius :
Konsep pemuridan dikaitkan dengan pengutusan. Setelah murid-murid memahami ajaranNya maka Tuhan Yesus memberi perintah “Jadikanlah muridKu” (Mat 28:19-20).

Markus :
Seorang murid sekaligus merupakan pelayan yang ditebus sehingga penekanan yang penting adalah kerendahan hati seorang murid. Kita harus mau dibentuk dan diproses. Ini sulit karena dalam zaman post-modern, orang punya konsep bahwa dirinya paling benar sehingga kalau dinasehati (bahkan oleh pendeta) akan dilawan. Markus : engkau seorang murid dan pelayan, engkau mau diajar, ditegur dan dibimbing melalui Roh Kudus , Hamba Tuhan, pembina rohani, orang tua kita. Ev. Bejo Lie M.Th. dalam relasi antara Anak, Bapa dan Roh Kudus pada konsep Tritunggal, Yesus sepertinya berperan di bawah Bapa walau setara di mana Ia mau merendahkan diriNya.  Bahkan seorang pendeta juga perlu diajar dan diberi petunjuk tentang kelemahannya walau tidak mudah menyikapinya. Begitulah proses yang dikatakan Markus tentang seorang murid harus belajar.

Lukas :
Jalan yang harus ditempuh oleh seorang murid bukanlah jalan yang mudah tetapi jalan yang penuh pengorbanan. Seorang murid bukan saja hanya tahu apa yang dikatakan oleh gurunya tetapi juga memilih berada di jalan gurunya. Langkah ini yang akhirnya akan menghasilkan buah yang konsisten dengan jalan yang dipilih oleh murid Kristus. Mengikut Kristus susah, harus menyangkal diriBarangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. (Mat 10:37)

Yohanes :
Murid yang mengikut Yesus memiliki banyak kekurangan (terikat dosa). Karena itu penekanan menjadi murid Kristus berarti diberi kesempatan untuk bebas dari ikatan dosa. Tuhan Yesus berbicara ke Nikodemus untuk dilahirkan kembali. Prosesnya harus meninggalkan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Juga kepada perempuan yang kedapatan berzina, Tuhan Yesus berkata, "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8:11)

Kesimpulan :
1.     Saat kita mengaku percaya dan mengambil keputusan untuk dibaptis maka kita menyatakan kepada dunia bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus.
2.     Apakah perjalanan kita sebagai murid yang mengiring Yesus telah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Guru Agung kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sudah berapa tahun kita menjadi orang Kristen? Apakah kita sudah benar-benar melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan? Saat meninggal, apakah sebagai murid Tuhan Yesus kita berani berjumpa dengan Guru?