Sunday, September 11, 2016

Hati-Hati dengan Hatimu


Ev. Hellen Chou Pratama

Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.
Yeremia 17:9-10 : Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Pendahuluan

                Apa yang akan terjadi bila selama 24 jam Tuhan mengambil alih hidup kita? Dia tinggal di rumah kita, terbangun di tempat tidur kita, keluarga kita adalah keluargaNya, bos kita adalah bosNya, toko dan karyawan kita adalah toko dan karyawan Dia. Dia mengambil alih semua aspek kehidupan kita sehari-hari. Apakah ada yang berubah? Apa yang orang lihat berubah dalam diri kita? Apakah orang akan melihat diri kita yang sama? Apakah orang akan melihat kita sebagai seorang yang berbeda? Pasti kehidupan kita berubah dan  berbeda. Kalau kita mengemudi di tengah kemacetan Jakarta, kita akan lebih sabar. Saat menghadapi pembantu yang kurang pintar atau karyawan yang menjengkelkan, kita akan menghadapinya dengan sabar. Dalam menghadapi orang tua yang bertingkah seperti anak-anak, kita akan jauh lebih lembut. Karena tingkah laku orang yang sudah tua terkadang membuat sakit kepala. Hatinya menjadi sangat sensitif, harga dirinya adalah  harga diri orang tua tetapi kelakuannya seperti kanak-kanak. Biasanya orang yang merawatnya bisa kehilangan kesabaran. Tetapi bila Yesus mengambil alih hidup, kita akan menghadapi orang tua seperti itu dengan cara yang berbeda. Kalau kita adalah pesawat, Tuhan ingin duduk di-cockpit nya karena Dia ingin menjadi pilotnya. Kalau kita menjadi mobil, Dia ingin duduk di bangku pengemudi. Kalau kita komputer, Dia ingin mengambil-alih sistem operasinya (softwarenya). Tetapi karena kita adalah manusia, Dia ingin mengambil alih dan mengendalikan hati kita. Dia ingin kita diubahkan menjadi semakin diserupakan dengan Dia. Mengapa penting bagi Tuhan untuk mengambil alih hati ktia?

Penggunaan Kata ‘Hati’

Kita melihat di Alkitab alasan Tuhan ingin mengambil alih hati kita. Ada ratusan ayat berbicara tentang hati di dalam Alkitab. Kata ‘hati’ dalam bahasa Ibrani menyoroti berbagai sisi dari hati manusia. Dengan menyebut kata ‘hati’ saja, kita akan melihat betapa ajaibnya kata ini. Kita sering mendengar, menggunakan dan mengucapkannya. Semuanya menceritakan tentang diri manusia. Kita bisa mengatakan orang yang sedang jatuh cinta sebagai seorang yang jatuh hati yaitu orang yang memberikan hatinya kepada seseorang. Ketika itu, kita memberikan yang paling berharga dari hidup kita. Karena hati kita melekat padanya seperti yang Tuhan Yesus katakan , "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Matius 6: 21).  Orang yang kita sayangi kita sebut sebagai jantung hati. Setelah saya memperlihatkan foto anak saya, Sung shi-mu memperlihatkan foto cucunya. Saya tadi juga berbicara dengan Guo shi mu,”Sewaktu pacaran saat bertemu dengan teman kita menunjukkan foto pacar. Setelah menikah dan belum punya anak, kita memperlihatkan foto suami. Kalau kita sudah punya anak, foto anak yang banyak. Setelah punya cucu, foto cucu yang diperlihatkan.” Ada seorang teman yang tidak punya anak, setiap kali membuka telpon selulernya , ia memperlihatkan foto anjingnya. Itu jantung hatinya. Orang Bandung mengatakan sakit hati sebagai nyeri hati. Kita menyebut orang yang sedang emosi seperti yang dialami oleh banyak perempuan yang sedang cemburu sebagai panas hati. Orang yang sedang putus cinta dikatakan patah hati. Orang yang jahat dikatakan sebagai orang yang tidak punya hati. Apa yang saya sebutkan terkait dengan kata ‘hati’ merupakan campuran antara yang berkonotasi ‘baik’ dan ‘jelek’.

Hati adalah Organ Manusia yang Sangat Penting

Tuhan Yesus sangat fokus dengan hati manusia. Sehingga dalam khotbahNya, Ia berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Matius 5:8). Bagi orang Ibrani, hati adalah organ yang sangat penting. Kata ‘hati’ sering kali dipakai terkait dengan keselamatan manusia dan karakternya. Hati adalah pusat kendali dalam hidup kita. Dia mengalirkan hidup kita. Kalau kita membuka Alkitab, kata ‘hati’ (dalam bahasa Ibrani leb atau kaved) dipakai untuk  :  lambang sebanyak 29 kali ; menunjukkan karakter / sifat / kepribadian manusia 257 kali; menjelaskan 6 kondisi emosi manusia 166 kali; menggambarkan kegiatan berpikir 204 kali dan menunjukkan maksud hati 195 kali. Hati akan membentuk siapa diri kita dan membedakan kita sebagai manusia dengan mahluk lain (binatang).

Hati adalah Tempat di Mana Manusia Bertemu Tuhan

Kita mendapatkan gambaran yang sangat luas tentang ‘hati’ hanya dengan melihat Alkitab. Hati adalah tempat di mana manusia bertemu dengan Tuhan. Itulah organ pertama yang Tuhan sentuh sebelum kita mengenalNya. Roh Kudus Tuhan memberikan hati baru kepada kita. Hati yang bisa berespon terhadap Injil. Hati yang bisa condong kepada Tuhan. Hati yang punya kemampuan untuk bisa percaya kepada Tuhan. Tanpa hati baru, kita tidak akan sanggup mempercayai Injil dan Tuhan. Tanpa hati baru, kita tidak akan sanggup meresponsi cinta Tuhan. Tanpa hati yang baru, kita tidak akan bisa mengatakan,”Ya Tuhan, aku percaya”. Organ ini begitu penting. Karena hati, kita bisa bertobat dan percaya. Hati adalah sumber kehidupan. Ini suatu tempat yang diinginkan si jahat lebih dari apapun. Karena jika ia mendapatkan tempat itu , ia bisa mengerjakan apapun yang diinginkan lewat orang itu. Allah sangat memperdulikan hati kita dan apa yang terjadi dengannya.

Tuhan Melihat Hati

Manusia sangat memperhatikan penampilan luarnya. Juga banyak orang Kristen yang sibuk memperhatikan bagian luarnya, apa yang dipakai, apa yang bisa ditampilkan dan dibawa. Itu semua bisa menaikkan penilaian orang lain terhadap dirinya. Perempuan yang gemar perhiasan akan memburu berlian yang semakin besar karatnya. Yang suka tas mengejar tas yang semakin tinggi harganya dan kalau bisa menggunakan tas seharga semiliar. Saya tidak membayangkan gaya hidup orang kaya yang seperti itu. Tas yang mereknya paling mahal seperti yang dibawa artis Syahrini dan Ratu Atut yaitu Hermes yang harganya bisa mencapai satu miliar Rupiah atau lebih. Hal Itu penting karena manusia ingin menampilkan kemahalan dirinya. Laki-laki yang hobi mobil maunya mengendarai mobil yang mahal. Yang suka main golf ingin memakai stick golf yang mahal. Semuanya untuk penampilan di luar. Tetapi berapa banyak manusia dan orang Kristen yang memperhatikan apa yang ada di ‘dalam’. Perempuan sangat memperhatikan penampilan luar. Saat umur bertambah, akan ada banyak kerutan di wajah. Di Bandung  ada menu restoran berupa makan sapo dengan kuah yang mengandung kolagen. Banyak orang yang memesan dan memakannya agar bisa awet muda. Ada banyak sekali yang sangat memperhatikan penampilan secara luar biasa. Seorang ibu berkata kepada saya, “Mengapa saat usia bertambah, fisik yang ada di atas ‘menurun’?” Saya berkata balik,” Itu berarti hidupmu sudah melewati waktu.” Kelopak mata turun operasi untuk naik lagi. Kalau tidak bisa operasi suntik botok dan lain-lain. Semua untuk penampilan luar. Allah tidak terkesan dengan penampilan luar. Tetapi Tuhan berkata, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Sam 16:7b). Tuhan tidak ingin anak-anakNya sibuk di luar tetapi hatinya tidak dijaga agar tetap indah.

Hati yang Melekat pada Tuhan

                Siapa orang yang paling banyak ditegur oleh Tuhan Yesus tentang hatinya? Bukan pemungut cukai atau orang jahat tetapi para pemuka agama, ahli Taurat dan orang – orang yang mengerti Alkitab. Mereka ditegur karena mereka munafik. Mereka di luar terlihat sangat rohani, tetapi di dalamnya penuh dengan kejahatan. Suatu hari Tuhan Yesus menegur mereka yang  di dalamnya penuh ‘ular beludak’ dan ‘bangkai’. Karena Tuhan melihat hati. Hati kita adalah suatu tempat yang Tuhan inginkan bagi diriNya sendiri. Hanya ada 1 Tuhan yang boleh bertahta di situ. Jika hati kita ditempatkan oleh si jahat, ia akan mengeluarkan hal-hal yang tidak baik dari perbendaharaan si jahat. Ketika Tuhan menegur Kain, “Kain mengapa hatimu panas? Kenapa mukamu muram?” Kain iri hati terhadap Habel. Mukanya tidak bisa berseri-seri karena si jahat telah menuangkan banyak rencana jahat dalam hatinya. Ketika si jahat mendapat tempat di hati, dia menuangkan banyak sekali hal yang jahat. Ia memberikan kelicikan , pemberontakan, keserakahan dalam hati. Dia membuat hati kita tidak peka terhadap dorongan Roh Kudus. Allah ingin kita memperhatikan dan menjaga hati kita. Kita tidak bisa menjaganya dengan kekuatan kita sendiri. Allah hanya meminta kepada kita untuk menurut pada Roh Kudus, mencodongkan hati kita pada keinginan Tuhan, diisi oleh kebaikan Tuhan, membiarkan Tuhan menjadi Tuhan di hati kita.

                Di keluarga kami ada kebiasaan rapat keluarga kecil. Ketika ada sesuatu untuk dibicarakan, maka diadakan rapat. Suatu kali suami saya yang juga papa anak-anak mengajukan rapat menjelang pergantian tahun. Topiknya sharing apa yang menjadi pengalaman seahari-hari dengan Tuhan dan anggota keluarga lainnya. Pada waktunya, setelah saya dan suami yang sharing tentang beratnya pelayanan, anak-anak pun membagikan pengalaman mereka. Anak yang kedua berkata, “Aku belajar satu hal. Waktu saya ingin mencari pacar, mama ingat saya bicara dengan mama? Ma, saya suka dengan siapa saja. Di antaranya ada yang paling saya suka. Dia tahu saya suka dia. Tapi saya berkata kepadanya, ‘Saya tidak akan masuk pacaran, kita doakan dahulu’. Dia anak pendeta. Aku mau Tuhan pegang dulu hatiku. Karena kalau hatiku terpegang Tuhan, maka hal lain akan menjadi benar.” Ketika ia berbicara, saya tahu arahnya kemana. Kokonya mengatakan, “Iya Pa. Apa yang ingin kita sampaikan : papa gelisah dengan pelayanan, mami jadi ikut gelisah. Tapi saya ingin sampaikan ke papa dan mama satu hal. Seperti pengalaman kita, saya yakin satu hal, kalau hati kita dipegang Tuhan, maka bila kita pegang yang lain akan menjadi benar. Papi tidak usah pusing, gereja dan pelayanan adalah milik Tuhan. Seperti papi sering mengingatkan kita. Tugas kita adalah setia. Yang penting hati harus benar. Karena kalau hati terpegang Tuhan, maka kita akan jadi benar dalam hidup ini.” Papinya sampai terdiam. Papinya lalu berkata, “Aduh, Puji Tuhan sekali kalian bisa bicara seperti itu!”

                Bila hati telah diserahkan kepada Tuhan, Tuhan akan atur banyak hal dan damainya ada di sana. Kebaikan Nya akan mengalir dari sana. KesucianNya akan menyucikan hati kita. KemurahanNya akan mengalir dari sana juga. Tuhan menginginkan tempat itu. Setiap hari, setiap saat dan setiap inci nya diperebutkan Tuhan dan si jahat. Kemana kah hati kita mengarah saat ini? Kepada Tuhan? Atau kepada ilah yang lain? Ilah yang lain bisa muncul dalam berbagai bentuk : harta, orang yang dikasihi, ego kita, barang-barang milik kita. Cara mengujinya mudah. Hati kita melekat kepada apa? Apa yang membuat kita tidak bisa tidur? Apa yang bila tersentuh kita tidak bisa tidur? kita hidup di dunia, kita bisa gunakan pengalaman hidup dan memiliki yang terbaik? Tetapi kalau hati melekat kepada Tuhan, maka kita akan meletakkan semuanya di tempat yang benar. Dan kita tidak membiarkan hati disusahkan olehnya.

Biarkan Tuhan yang Menjaga dan Mengendalikan Hati Kita

Saat ini semua orang sedang sibuk dengan program pemerintah Tax Amnesty. Banyak yang bertanya,”Shi mu kalau kita tidak mau laporkan harta kita, saya mau bawa pulang harta saya dari Hong Kong, bisa tidak uangnya saya masukkan saja ke brankas yang besar?” Dalam hati saya bertanya,”Ini perlu dikonseling atau dikhotbahkan?” Saya berkata,”Ini saatnya untuk tidak menyembunyikan harta dan uang. Kecuali uangnya tidak dipakai (hanya untuk dilihat). Kalau tidak, suatu saat dibelanjakan atau dijadikan warisan / hibah akan ketahuan uang dan hartanya. Ini saatnya kita melihat apakah hati kita melekat pada hal-hal yang bukan Tuhan. Kita orang Tionghoa disebut sebagai orang yang sangat suka uang. Ada yang setelah menjadi orang Kristen tidak juga berubah. Saya baru saja membesuk seorang ibu yang baru menjalani operasi tempurung lutut dan masih duduk di kursi roda. Ibu ini bercerita, “Saat saya turun dari pesawat, menantu laki-laki saya membawa kursi roda dari gereja. Saya bertanya , ‘Ini kursi roda siapa?’ dan ia menjawab, ‘Dari gereja!’ Malu-maluin saja membawa kursi roda dari gereja. Memang tidak ada uang untuk membeli kursi roda?” Ibu ini kemudian minta dibelikan kursi roda sambil marah-marah. Ia juga menjalani terapi di Malaka dan ibu ini berkata bahwa dokter yang menerapinya jahat. Saya katakan, “A-yi dokter itu mau a-yi sehat.” Ia pun membalas,”Ia mau uang saya. Dia harus baik-baik dengan saya. Tidak boleh marah-marah begitu dengan saya. Saya punya uang memang kenapa?” Saya hanya bisa mengatakan,”A-yi sudah mulai sehat karena bisa marah-marah.” Orang Tionghoa melihat uang sebagai hal yang begitu luar biasa. Mungkin hati kita sangat melekat kepada uang. Ia mengalirkan hidup yang sepertinya berkuasa bukan karena Firman. Ia mengalirkan tinggi kehidupan manusia namun bukan ditinggikan Tuhan. Ia mengalirkan hidup yang angkuh karena orang yang memiliki merasa punya banyak uang. Namun Tuhan menginginkan agar hati seperti ini diubahkan. Sebagai murid-murid Tuhan dengan bertambahnya usia seharusnya kita semakin lembut. Dengan umur bertambah hati harus menjadi semakin baik dan bersih. Semua itu akan terjadi jika Tuhan yang mengendalikan hati kita. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menolong membiarkan Dia menjaga dan menempatkan hati kita sehingga hidup kita menjadi berkat buat siapapun yang hidup di dekat kita dalam  keluarga, gereja dan di tempat kerja. 

No comments:

Post a Comment