Tuesday, February 9, 2016

Gereja yang Berdoa

Ev. William S.

Matius 6:5-13
5  "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
6  Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
7  Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.
8  Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.
9   Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
10  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
11  Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
12  dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
13  dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)


Apa itu doa?

Apakah doa adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan dan kita bisa bercakap-cakap dengan Tuhan? Apa yang dimaksud dengan pengertian “bercakap-cakap” ? Apakah seperti tegur sapa sebagai berikut :
“Halo Pak John? Apa kabar?” Pak John menjawab ,”Baik. Kamu?” Kemudian dibalas lagi,”Baik”. Apakah doa seperti itu? Doa bukan seperti itu. Kalau konsep doa seperti itu, maka kita akan frustasi karena kita tidak akan pernah mendengar suara Tuhan secara verbal.

Kutipan dari para teolog mengenai doa :

1.       Kevin Vanhoozer: “Doa adalah bahasa yang digunakan untuk menyatakan relasi dengan Tuhan”.
2.       Wayne Grudem : “Doa adalah komunikasi personal dengan Tuhan”.
3.       Rodney Reeves dalam Christianity Today mengatakan: “Jujur, doa saya selama ini berbentuk monolog”.
(pengertian monolog di sini : saya berbicara kepada Tuhan satu arah)
4.       John Piper,“Doa adalah menyampaikan pesan”
Di Alkitab tidak ada secara eksplisit  yang menggambarkan doa manusia itu dijawab langsung oleh Allah secara verbal. Tuhan berbicara kepada Musa dalam nubuatan dan perintahNya tetapi tidak di dalam konteks doa. Jadi kalau ada yang mengaku bahwa  saat ia berdoa, Tuhan memberitahukan secara verbal bahwa ia harus pergi ke Bali atau dia mengucapkan “Tuhan bernubuat melalui saya hari ini”, maka jangan pernah percaya. Jadi kita harus menyadari doa itu menyampaikan apa yang menjadi harapan kita (pesan) secara monolog.
5.       Yohan Candawasa “Doa adalah berkat bukan alat untuk meminta berkat”
Kalau doa diorientasikan dengan hasil, maka iman kita akan mati. Misal saat sakit kita berdoa,”Tuhan saya mau sembuh dari sakit ini”. Ternyata setelah bertahun-tahun, bila kita fokus pada hasil lalu penyakit kita tidak juga sembuh maka kita marah pada Tuhan. Atau kita mengehendaki keturunan lalu kita berdoa, “Tuhan, karuniakan  saya anak dan cucu”. Orientasi kita kepada anak itu sendiri dan akhirnya setelah dapat anak, kita pun berhenti berdoa. Ada sebuah cerita yang dikisahkan Yohan Candawasa. Calvin Miller ,seorang pendeta, memiliki seorang anak yang saat berusia 1-2 tahun sakit keras. Karena itu  ia berdoa, “Ya Tuhan limpahkan sakit anak ini kepadaku.” Tetapi Tuhan menjawab tidak. Akhirnya ia terus berdoa, “Tuhan saya berdoa agar saat saya bangun pagi , anak ini jangan sampai mati.” Dia berlutut 1-2 tahun dan akhirnya anaknya sembuh. Setelah sembuh, beberapa tahun kemudian anaknya sakit lagi. Ketika sakit lagi, akhirnya ia baru sadar bahwa ia hanya tertuju pada anaknya (Tuhan, aku mau melihat anakku, aku mau anakku sembuh sehingga tidak bertumbuh imannya pada Tuhan). Sekali lagi, doa adalah berkat itu sendiri jadi jangan sampai pikiran kita fokus pada apa yang kita butuhkan. Jangan kita fokuskan ”aku mau kerja” dan berfokus pada kerja melainkan menjadikan fokus kita pada Tuhan.

Mengapa kita berdoa?

1.       Tuhan ingin kita berdoa karena doa merupakan ekspresi percaya kepada Tuhan.
Pada Matius 6:5-9a, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita jangan berdoa seperti orang munafik yaitu orang yang mengucapkan doa di depan orang dengan tujuan supaya kelihatan rohani. Tuhan Yesus mengajarkan harusnya saat berdoa,  kita masuk ke kamar, kunci pintu lalu berdoa. Bukan berarti kita harus seperti itu (berdoa di depan bapak ibu seperti orang munafik). Tetapi yang dimaksud Tuhan lebih melihat yang tersembunyi (melihat hati yakni hati yang tulus , beriman dan percaya pada Tuhan).

Doa jangan panjang dan bertele-tele melainkan berdoa secara sederhana tapi ada maknanya. Saya dan beberapa ayi membesuk orang sakit di Rumah Sakit Husada dan mendoakan mereka. Saat berdoa, saya minta ayi berdoa tapi ayi bilang tidak bisa berdoa. Lalu ayi itu bertanya bagaimana cara berdoa. Bagi saya berdoa itu sederhana. Tuhan tidak meminta kita berdoa sedemikian panjang dan indahnya. Bukan berarti orang yang doanya panjang dan bagus itu salah. Berdoa sederhana pun Tuhan dengar, misalnya “Tuhan Ibu A ini sakit, tolong Tuhan sembuhkan. Amin”. Kadang kita punya standar yang terlalu berlebihan yang sebenarnya bukan standar Tuhan. Ayat 8-9a Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.   Karena itu berdoalah demikian. Artinya kita sadar Tuhan tahu sebelum kita minta. Lalu untuk apa kita berdoa kan Tuhan juga tahu?” Tetapi uniknya, karena Tuhan mengetahui berdoalah!. Karena Allah Maha Tahu dan berkuasa, maka berdoalah! Karena Dia Maha Kuasa sehingga kita berdoa. Kalau kita tidak minta kepada Tuhan, mengapa Tuhan harus memberikan apa yang kita perlukan? Tepatlah apa yang dikatakan pada Yak 4:2 Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Karena kamu tidak minta, maka kamu tidak mendapat apa-apa Matius 7 : 7   "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Tuhan berkuasa dan Ia tahu yang terbaik, maka mintalah! Yoh 14:13-14 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Sekali lagi, Tuhan ingin kita berdoa karena doa merupakan ekspresi percaya kita kepada-Nya. Jangan difokuskan pada orientasi hasil tetapi karena kita percaya pada Tuhan maka kita meminta, bukan karena hasil.

Mengapa kita menutup doa dengan kata “Amin”?

2 Korintus 1:20: Sebab Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Kata “amin” berarti jadilah seperti demikian. Amin mengekspresikan kita percaya bahwa Dia mendengar dan menjawab. Terkadang ketika kita berdoa, “Tuhan, sembuhkan sakitku” namun sebenarnya kita tidak yakin dalam hati kita apakah Tuhan akan sembuhkan. Entah apapun kita meminta kepada Allah, terkadang kita memintanya dengan keraguan. Kalau terjadi seperti itu, Martin Luther berkata, “Kita telah menghina Tuhan”. Kalau berdoa dengan keraguan , kita sedang menghina Tuhan. Kalau kita dengan penuh keyakinan menyerahkan setiap kekuatiran kita, itulah ekspresi percaya kita.  Tuhan meminta kepada kita untuk mengekspresikannya. Matius 21:22: “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

2.       Tuhan ingin kita berdoa karena doa merupakan ekspresi relasi dan cinta kita kepada Tuhan.
Kalau memiliki hubungan erat (cinta), pasti kita rindu untuk menjalani komunikasi. Uniknya di saat orang jatuh cinta, komunikasi agak dibatasi. Misalnya : ada 2 orang senior saya yang sedang jatuh cinta di sekolah teologi namun tidak bisa duduk bersama karena dibatasi peraturan (tidak bisa dengan sengaja bertemu). Sehingga mereka janjian dengan sms-an untuk bertemu di perpustakaan. Di sana seolah-olah tanpa sengaja ketemu. Hal ini dilakukan karena rindu ingin berkomunikasi. Malam hari, pk 23 lampu harus mati dan tidak boleh berbicara. Tetapi orang yang jatuh cinta tidak tahan. Dengan memakai selimut lalu menelpon sampai pagi. Saya tidur di ranjang atas, senior saya tidur di ranjang bawah. Dia lagi menelpon pacarnya sehingga saya tanpa sengaja mendengarnya. Senior saya ini suaranya tegas sekali, tetapi ketika mengobrol dengan pacarnya nada suaranya berubah menjadi lembut. Inilah bukti bahwa kita sudah tahu bahwa ketika mencintai seseorang, kita rela berkomunikasi berapa pun biaya yang dikeluarkan. Apakah kita menyatakan cinta kita pada Tuhan? Apakah kita cinta Tuhan kalau kita tidak punya hasrat untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Pagi hari ketika kita bangun pagi apakah kita punya hasrat untuk berdoa kepadaNya? Kita mengatakan “Saya sibuk Tuhan”. Sebenarnya tidak ada kata sibuk itu. Maka John Piper berkata, “Salah satu kegunaan yang paling penting dari Twitter dan Facebook [handphone, Ipad, laptop, dsb.] adalah untuk membuktikan, bahwa jarang berdoa bukan karena kurang waktu.” Artinya banyak di antara kita, dengan rela dan cepat untuk membuka handphone. Ada waktu untuk buka handphone dan media sosial tapi kita mengatakan bahwa kita sibuk.

Ada 2 penghalang yang menghalangi kita berdoa :

a.        Aku belum mempersiapkan diri untuk berdoa.  Setengah jam lagi aku berdoa soalnya aku harus mempersiapkan ini dan itu. Yang punya anak mungkin mau urus anak dulu, nantilah di saat yang tepat saya akan berdoa. Namun pada akhirnya sampai malam pun tidak berdoa.

b.       Bagaimana saya bisa berdoa, saya ini manusia berdosa.  Saya tidak layak bertemu dengan Tuhan. Dengan rohani ia berkata seperti pada Matius 5 : 2424  tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Padahal ayat ini konteksnya untuk persembahan bukan untuk berdoa. Seharusnya ketika kita dirundung nafsu dan amarah, kita berdoa. Di dalam keberdosaan kita berdoa, “Tuhan mampukan saya”. Kadang alasan-alasan ini dibuat karena tidak punya hasrat untuk berdoa itu sendiri.
Martin Luther pernah berkata, “Pekerjaan seorang penjahit adalah membuat pakaian; pekerjaan tukang sepatu adalah membuat sepatu; pekerjaan seorang Kristen adalah berdoa. Banyak hal yang saya lakukan dalam satu hari, dan saya tidak pernah dapat melakukan semua itu tanpa berdoa kurang dari tiga jam dalam sehari.” Mungkin kita tidak bisa seperti Martin Luther yang berdoa 3 jam sehari. Apakah kita telah berdoa 3 menit hari ini? Ketika bangun pagi , apakah kita berdoa 3 menit saja? 3 menit saja kita kadang tidak punya hasrat untuk berdoa. Tuhan ingin kita mengekspresikan cintanya kepada Tuhan. Kalau kita mengatakan cinta Tuhan tapi tidak punya hasrat, maka untuk apa berdoa?

3.       Tuhan ingin kita berdoa karena dalam doa Tuhan mengizinkan ciptaan-Nya terlibat dalam pekerjaan baik-Nya Allah.
Contoh Jakarta di Sarinah terjadi pemboman. Kita dengan cepat mengetahui berita itu. Mungkin yang muda langsung membuat status “prayer for Jakarta “ (berdoa untuk Jakarta) tetapi belum tentu ia berdoa untuk Jakarta. Ketika tahu ada teroris, apakah kita langsung berdoa untuk Jakarta dan untuk dunia ini? Tuhan pakai doa untuk kita melakukan pekerjaan baikNya Tuhan, kita berdoa Tuhan jauhkan Jakarta ini dari teroris Pernahkah kita berdoa untuk gereja kita? Pernahkah kita berdoa untuk penginjilan di manapun berada? Di sini ada wadah , setiap Rabu malam ada persekutuan doa. Kiranya kita rindu bersama-sama datang untuk melakukan pekerjaan baiknya Allah dengan mendoakan gereja dan dunia ini.

Doa Bapa Kami

Merupakan doa terbesar dan teragung karena diajarkan oleh Tuhan Yesus. R.C Sproul menyatakan ada 4 pembagian dalam doa yakni :
-          A (adoration – penyembahan),
-          C (confession - pengakuan dosa),
-          T (thanksgiving - ucapan syukur) dan
-          S (supplication - permohonan).
Mungkin saat berdoa kita fokus pada permohonan, “Tuhan aku mau ini, aku mau itu.” Kiranya di dalam doa, kita juga menyatakan penyembahan kita, “Tuhan, Engkau adalah Allah yang berkuasa.” Di dalam doa kita juga mengatakan, “Tuhan aku mohon ampun atas dosa-dosaku.” Di dalam doa aku bersyukur pada Tuhan dan aku meminta (memohon). Kiranya kita menghidupi doa kita. Kita tidak berorientasi (fokus) lagi pada hasil. Kita berdoa karena itu merupakan ekspesi percaya kita kepada Tuhan dan Tuhan yang akan menyediakan yang terbaik untuk kita. Doa mengkespresikan cinta kita dan kita ingin melakukan pekerjaan baik yang Tuhan persiapkan bagi kita. Kiranya di dalam hidup kita, kita punya hasrat untuk berdoa. Sebagai gereja, kita hidup dalam hasrat untuk relasi dengan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati hidup kita.



                                

Spirit Menginjili

Pdt. Paulus Daun

Matius 28:16-20
16   Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
17  Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
18  Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Matius 9:35-37
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
37  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
38  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Amanat Agung untuk Memberitakan Injil

                Ketika Yesus Kristus belum terangkat ke sorga, ia meninggalkan suatu perintah yang penting sekali (Amanat Agung) kepada para muridNya untuk pergi memberitakan Injil. Sebelum menyampaikan pesan ini kepada murid-muridNya, Dia menyatakan bahwa segala kuasa di sorga dan di bumi telah diberikan kepadaNya. Mengapa Yesus menyatakan terlebih dahulu hal ini? Ia ingin menyampaikan ke murid-muridNya dan setiap kita bahwa Amanat Agung ini adalah perintah dari Raja Diraja dan Tuhan di atas segala tuhan. Amanat ini bukan meminta atau mengajak kita tetapi suatu perintah (命令 mìng lìng) kepada kita yang diberikan Tuhan sendiri kepada kita. Maka setiap kita yang menerima perintah ini, tidak ada alasan untuk menolaknya. Kita menerima perintah ini dengan satu sikap untuk mentaati dan mengikutinya. Kalau Tuhan Yesus memberikan perintah kepada kita maka tIdak ada alasan menolak dan tidak mau mengikutinya. Kita seringkali mengatakan kita sibuk sehingga jangankan mengabarkan injil, datang beribadah minggu saja tidak. Tetapi ini perintah yang diberikan oleh Tuhan, tidak ada alasan untuk menolaknya. Tidak bisa beralasan sibuk atau tidak ada waktu. Hanya ada satu sikap yakni HARUS TAAT dan MENJALANKANNYA! Saya kira semua orang sudah mengerti hal ini. Hamba Tuhan di mimbar sudah menyampaikan hal ini kepada kita. Kalau kita mengerti Amanat Agung dan tahu bahwa kita harus mengabarkan Injil, tetapi apa yang kita lakukan berbeda. Kita tahu perintah untuk mengabarkan Injil dan harus menjalaninya, namun apakah dalam kehidupan, perintah ini sudah kita jalankan? Mari kita bertanya pada diri kita sendiri, “Sejak percaya pada Tuhan Yesus sampai hari ini, apakah kita sudah mengabarkan Injil?” “Apakah kita pernah membawa 1 orang untuk datang dan percaya Tuhan Yesus?” Kadang kita merasa malu, pendeta menyampaikan untuk mengabarkan injil namun apakah kita punya semangat dan hati untuk mengabarkan injil? Jarang sekali orang menjalankan perintah ini, mengapa? Apa masalahnya? Masalah inilah yang harus diatasi. Kita harus punya hati (jiwa) untuk menginjili, mengapa kita tidak taat dan menjalankannya? Ketika Tuhan Yesus di bumi ini mengabarkan Injl, Alkitab mengatakan bahwa Dia masuk ke desa dan kota untuk mengabarkan Injil dan Dia mendorong murid-muridNya untuk menyampaikan firman Tuhan. Membuktikan Tuhan kita punya semangat memberitakan Injil. Agar para murid punya hati dan semangat penginjilan. Mengapa mereka harus semangat? Mat 9:36 mengatakan Dia melihat. “Melihat” itu penting sekali artinya Tuhan Yesus punya hati untuk mengabarkan injil. Kita harus seperti Tuhan Yesus yang melihat yaitu memiliki visi dan misi. Ada suatu titik tujuan dan pedoman.  

Visi dan Misi Hidup

                Apa itu visi? Satu titik tujuan dan pedoman. Apa titik tujuan kita? Kalau kita ingin memiliki hati penginjilan kita harus punya titik patokan yang harus dicapai. Titik tujuan kita apa? Seperti Tuhan Yesus melihat domba-domba tidak punya gembala (Mat 9:36b). Di depan kita melihat banyak jiwa yang akan binasa (terhilang). Kita menjadikan mereka sasaran dan tujuan untuk menyampaikan penginjilan. Kita harus mencapai titik tujuan itu, barulah kita punya semangat visi dan misi itu. Selain visi kita harus punya misi. Kalau hanya visi saja, kita hanya bicara saja di atas meja. Saat rapat kita banyak berteori tetapi tidak ada yang menjalankan. Kalau hanya punya misi tanpa visi, ibaratnya kita melakukan banyak pekerjaan tetapi tidak ada hasilnya. Di gereja kalau mau mengabarkan injil, kita harus punya visi dan misi juga. Bukan saja pemimpin gereja yang harus punya hati yang demikian tetapi juga seluruh jemaatnya. Kalau kita sudah “melihat”, kita akan memiliki hati demikian. Namun melihat saja tidak cukup. Walaupun kita punya visi, kita harus mencapai titik tujuan itu. Namun sepertinya kita tidak punya kekuatan untuk melaksanakannya. Tuhan Yesus tidak hanya melihat seperti yang dicatat pada Mat 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Kalau kita punya visi dan misi untuk pengabaran injil, maka bukan saja melihat tetapi kita punya hati yang berbelas kasihan. Hati yang berbelas kasihan berasal dari kita mengasihi. Kalau engkau punya kasih, baru engkau punya hati yang berbelaskasihan. Tanpa kasih, kita tidak punya hati yang berbelaskasihan. Apakah kita punya kasih? Kita punya. Tetapi mengapa kita tidak berbelaskasihan pada orang yang sudah jatuh dalam dosa? Karena kasih kita egois. Kita mau apa yang kita lakukan ada hasil untuk diri sendiri.

Kasih

Ada 3 macam kasih dalam Bahasa Yunani  :
1.       Storge. Kasih ini hanya untuk keturunan sedarah (saudara) saja. Saya bisa mengasih anak saya dan anak saya bisa mengasihi saya, karena memiliki kasih storge ini. Saudara-saudara bisa saling mengasihi karena punya kasih ini.
2.       Philia. Kasih di antara teman. Walaupun engkau bukan saudara saya melainkan sahabat saya, maka saya bisa mengasihimu.
3.       Eros. Kasih suami istri. Saya dan istri bisa mengasihi karena kasih eros ini.

Ketiganya diberikan Tuhan kepada kita. Kasih ini suci, kasih ini untuk kita nikmati. Ketika manusia berdosa,  kasih ini berubah. Ia tidak lagi seperti kasih mula-mula (kasih yang benar). Ketika manusia berdosa, kasih ini penuh keegoisan. Kita bisa mengasihi papa dan mama saya, anak saya, tetapi ada syarat. Asalkan mereka tidak menimbulkan kerugian  bagi (menyulitkan) saya. Kalau orang tua atau anak saya menimbulkan kerugian  maka kasih ini berubah menjadi benci. Kita banyak melihat hubungan orang tua-anak terputus. Kita melihat saudara-saudari, kakak beradik karena harta saling membunuh. Maka kasih storge berubah karena dosa. Asal mendatangkan kebaikan, baru dikasihi. Demikian juga dengan kasih philia. Asal engkau tidak merugikan saya, saya mengasihimu. Tetapi kalau engkau merugikan, kasih ini berubah. Maka kita sering melihat, orang itu bisa menjadi sahabat dan teman baik. Tetapi akhirnya mereka jadi bermusuhan. Demikian juga dengan kasih eros. Kasih ini diberikan Tuhan. Kasih ini baik dan suci, tetapi karena masuk dosa, maka kasih ini berubah. Maka banyak sekali suami mengasihi istri orang lain (selingkuh). Bukan saja suami, tetapi istri juga melakukan hal yang sama. Bukan saja mengasihi suami sendiri tetapi juga suami orang lain. Sehingga sekarang menjadi kacau balau. Setelah menikah sebentar kemudian bercerai. Baru menikah beberapa bulan terjadi masalah. Karena dosa, kasih eros berubah.

Kalau menggunakan tiga macam kasih ini, kita tidak bisa memiliki kasih yang berbelaskasihan pada orang lain. Maka kita perlu kasih Tuhan untuk melingkupinya. Kasih Tuhan adalah kasih agape. Ketiga kasih sebelumnya menghasilkan hal-hal yang normal. Kita hanya melihat teman, saudara, pasangan hidup dan keluarga semata. Dengan kasih agape, titik tujuan dan pedoman kita hanya satu yaitu membawa domba yang hilang kepada Tuhan. Baik saudara atau musuh, orang Tionghoa atau bukan, karena kasih agape kita hanya punya pedoman, untuk membawa jiwa-jiwa yang hilang ke hadapan Tuhan agar mereka punya hidup kekal. Kita tidak hanya bicara saja tetapi juga melakukannya.

Ketika Tuhan Yesus menyampaikan ke murid-muridNya bahwa Dia akan disalib dan murid-muridNya akan tercerai berai. Tetapi Petrus mengatakan bahwa ia tidak. Petrus berkata bahwa ia rela mengorbankan diri sendiri. Tetapi ketika Tuhan Yesus ditangkap, dituduh dan perlu orang untuk mendapinginya. Petrus malah menyangkalNya. Petrus di sini sangat lemah. Dia tidak bisa memegang janjinya. Inilah Petrus yang tercatat pada keempat Injil.  Pada Kisah Para Rasul, kita melihat hal yang berbeda. Di hadapan pemuka Yahudi,Petrus diminta untuk menyangkal Yesus tetapi ia tidak mau. Ia mau bersaksi tentang Tuhan Yesus. Kis 4:12  Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." Pemimpin Yahudi kemudian berusaha menangkap dan membunuhnya. Dalam kondisi demikian, Petrus tidak merasa takut. Mengapa Petrus yang tercatat pada keempat injil itu berbeda dengan kitab Yoh 21. Waktu itu Tuhan Yesus bangkit dan bicara dengan Petrus. Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari pada mereka ini?)" (Yoh 21:15-17). Petrus pun menjawab. Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kalau membaca Injil berbahasa Inggris dan Indonesia, kita tidak mengeri makna dan perbedaannya. Dalam bahasa aslinya saat Tuhan Yesus bertanya,”Simon Petrus, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari semua ini)?” Kata yang digunakan bukan storge atau eros tetapi agape! Jadi Tuhan Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku dengan kasih agape?” Petrus menjawabnya, “Aku mengasihi engkau dengan kasih philia.” Sepertinya pertanyaan Tuhan Yesus tidak begitu jelas. Dua kali Petrus menjawab,”Saya mengasihi engkau dengan kasih philia.” Ketiga kalinya Tuhan Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes, saya sudah melakukan banyak. Apakah engkau hanya mengasihiKu dengan philia?” Petrus merasa sangat sedih karena malu. Tuhan Yesus sangat mengasihi dia. Di depan Tuhan Yesus, ia tidak bisa bohong. Petrus tidak bisa menyembunyikan,“Tuhan Engkau Maha Tahu. Saya mengaku, saya mengasihi engkau bukan dengan kasih agape. Saya mengasihi Engkau dengan kasih philia.” Berbeda dengan Yesus yang tidak bisa mengasihi selain dari kasih Agape. Mulai saat itu Petrus tidak mengasihi dengan kasih philia tetapi dengan kasih agape yaitu kasih yang mendalam dan tidak berubah. Dalam keadaan bahaya Petrus tetap teguh memegang kepercayaannya karena dia mengasihi Yesus dengan agape. Kalau Kita punya hati pengabaran Injil, maka kita perlu kasih Tuhan Yesus untuk mengasihi mereka. Dengan kasih agape, mendorong kita mempunyai hati yang berbelaskasihan. Kasih seperti ini hanya punya 1 tujuan yakni  orang yang tidak percaya pada Tuhan Yesus akan binasa sehingga kita punya kasih yang berbelaskasihan. Bagaimana pun keadaannya aku harus mengabarkan injil. TIdak ada alasan tidak memberitakan Injil. Bukan hanya kita membaca Alkitab dan dari sejarah gereja kita bisa membaca. Banyak gereja yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang.
                17 tahun lalu ketika pensiun, saya dipercayakan untuk mengelola sebuah badan misi internasional yang bernama SIM (Serving in Mission) yang berpusat di Amerika. Jaringan ini sudah berusia 120 tahun dan selama itu sudah mengirim 10.000 misionari ke seluruh dunia. Tahukah engkau bagaimana asal mula dari badan misi ini? Jaringan misi ini dimulai dari 3 anak muda (2 orang pemuda dari Kanada dan 1 dari Amerika). 120 tahun lalu mereka  melihat kebutuhan di Afrika. Mereka melihat jiwa-jiwa terhilang di Afrika sehingga mereka mempersembahkan diri sendiri. Mereka mau menjadi misionari. Saat itu, mereka minta agar badan misi mengutus mereka. Tetapi tidak ada satu pun badan misi yang menerimanya. Bukan karena tidak ada uang. Uang ada, tetapi mengapa mereka menolak? Badan misi tidak berani bertanggung jawab. Mengutus misionari ke Afrika sama dengan bunuh diri. Kalau badan misi mengutus misionari ke Afrika, pasti tidak akan kembali. Jadi tidak ada badan misi yang menerima ketiga anak muda ini. Tetapi karena mereka mengasihi orang-orang Afrika, mereka tetap pergi. Tak lama kemudian, 2 pemuda meninggal di Afrika. Yang satu lagi sempat kembali ke Kanada dan berobat. Setelah sembuh ia kembali ke Afrika. Dia tahu kalau kembali ke sana, ia akan mengorbankan diri. Dia tahu, kalau pergi pasti mati! 2 orang temannya sudah meninggal dan dia tidak takut akan meninggal juga. Akhirnya ia benar-benar meninggal di Afrika. Orang-orang Afrika dengan 3 pemuda ini tidak ada hubungan. Bukan keluarga, teman atau kekasih. Mereka tidak mengenal orang-orang Afrika. Tetapi mereka mau pergi, sampai mengorbankan diri sendiri. Satu-satunya jawaban adalah mereka punya kasih yang mendalam. Mereka sungguh mengasihi orang-orang Afrika sehingga walaupun harus mengorbankan diri mereka tidak masalah. Pengorbanan mereka tidak sia-sia. Sampai saat ini sudah 120 tahun, jaringan misi ini terus berjalan. Sekarang ada 2.000 lebih misionari di 44 negara mengabarkan injil Banyak rumah sakit dan sekolah didirikan. Ada beberapa sekolah teologi didirikan. Melalui hal-hal ini, Firman Tuhan terus diberitakan. Kalau kita punya jiwa misi dan semangat mengabarkan Injil, kita tidak hanya dapat melihat tapi kita punya hati yang berbelaskasihan. Dengan memiliki hati yang demikian, percayalah bahwa  di masa depan Tuhan akan memakai kita. Suatu hari kita melihat jiwa terhilang dibawa kehadapan Tuhan. Sejak percaya Tuhan sampai hari ini, bila kita tidak pernah mengabarkan Injil dan membawa satu pun jiwa, jangan kecewa. Tetapi kita datang kehadapan Tuhan Yesus untuk memohon kepadaNya agar memberikan kasih yang dalam. Alkitab mengatakan, “Yang mengetok pintu Tuhan akan membukakan pintu, yang mencari akan mendapatkan.” Tuhan mengasihi orang-orang itu. Dia memberikan kasih yang mendalam pada kita. Kita bisa menggunakan kasih ini untuk mengasihi orang-orang lain. Ketika memperhatikan jiwa-jiwa yang terhilang, kita akan berpikir bagaimana caranya membawa jiwa itu ke hadapan Yesus. Percaya suatu hari Tuhan akan memakai kita.



                

Gereja yang Mengevaluasi Diri

Pdt. Hery Guo

Kis 6:1-7
1   Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
2  Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.
3  Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
4  dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
5  Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
6  Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
7  Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.


Pendahuluan

                Akhir-akhir ini kita cukup terkejut dengan berita yang mengatakan bahwa satu per satu perusahaan besar di Indonesia tutup (bangkrut). Contoh : perusahaan mobil Ford asal Amerika yang ada di Indonesia tutup padahal masih ada orang yang baru saja membeli mobil merek tersebut. Belum lagi ada pabrik Toshiba dan motor Yamaha yang juga pailit. Beberapa pabrik besar tersebut tidak pernah diperkirakan, namun akhirnya tutup. Saya pernah diundang khotbah di perusahaan motor Yamaha. Jemaat yang mengundang saya berkata, perusahaannya hampir pailit. Perusahaan yang dahulunya besar sekarang hampir collapse karena pemiliknya tidak pernah mengevaluasi perusahaannya dengan baik. Dia mempercayakan perusahaannya kepada anak dan mitra bisnisnya untuk  mengikat perjanjian dengan pihak lain. Sayangnya anaknya tidak mampu memimpin perusahaan tersebut. Belum lagi mitra bisnisnya bermain curang. Walaupun perkaranya masuk pengadilan namun pengadilan memenangkan mitra tersebut sehingga pemiliknya punya utang yang cukup besar dan pilihan yang paling tepat adalah menutup pabriknya. Kejadian ini timbul karena pemiliknya tidak mau mengevaluasi perusahaannya.
                Demikian pula dengan gereja. Berbicara tentang gereja bisa dilihat dari 2 sudut pandang yakni sebagai organisasi (misal : GKKK, GKY, GKI, GRII dll) dan orang-orangnya yang Tuhan panggil dan tebus. Gereja yang sehat adalah gereja yang mengevaluasi diri. Gereja harus melihat dan mengintrospeksi dirinya. Firman Tuhan seperti cermin yang fungsinya pada saat memandangnya kita dapat melihat kekurangan kita yang perlu diperbaiki. Tanpa itu kita akan tenggelam, karena sejarah gereja sudah membuktikan. Waktu gereja tidak mengevaluasi dirinya, maka gereja akan hancur. Maka kita melihat ada gerakan reformasi dengan tokoh-tokohnya seperti Martin Luther , John Calvin dll. Gereja reformasi adalah gereja yang selalu memperbarui dirinya dan mengevaluasi dirinya.

Mengapa gereja perlu mengevaluasi diri?

1.       Waktu gereja semakin bertambah besar dan banyak jemaatnya harus berhati-hati.

        Gereja perlu mengevaluasi diri seperti pada Kis 6. Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari (Kis 6:1). Janda-janda yang berbahasa Yunani tidak diperhatikan dengan baik (diabaikan) dalam pelayanan sehari-hari. Apa yang perlu dievaluasi gereja baik sebagai institusi maupun orang-orang percaya? Dikatakan setelah jumlah murid makin bertambah, pelayanan tidak semakin kuat. Gereja harus mengevaluasi diri waktu gereja mulai bertambah besar (banyak). Prinsip ini  penting! Saat gereja makin penuh orang, luas dan bertambah banyak, justru pelayanan sehari-hari semakin tidak dilayani dengan baik. Catatan kitab suci sudah memberikan banyak sinyal. Contoh : Pada kitab Ulangan , orang Israel dibawa keluar Mesir oleh Musa.  Sebelum masuk ke tanah perjanjian Allah menaruh dalam mulut Musa suatu perkataan yang luar biasa, “Pada waktu kamu sudah menabur, menuai, kenyang dan menikmati hasil dari gandummu, hati-hatilah! Jangan sampai kamu melupakan Tuhan!” Waktu orang Israel belum masuk tanah perjanjian, Allah memberi catatan. Allah tahu kalau tidak dinasehati, bisa berbahaya bagi bangsa Israel. Waktu masuk tanah perjanjian, kamu menikmati hasilnya, kamu merasa puas, hati-hatilah karena kalau kamu berkecukupan kamu bisa melupakan Tuhan. Orang Israel waktu berjalan dari satu tempat ke tempat berikutnya di padang gurun, mereka mengalami kesulitan, banyak tantangan dan banyak hal yang tidak enak yang mereka alami. Justru dengan itu mereka menjadi kuat (tough). Itu sebabnya saat mereka mengalahkan suatu kerajaan dan berjalan lagi,  maka kerajaan yang berada di depannya sudah takut. Hal ini terjadi karena pengaruh bangsa Israel yang menerima banyak tantangan justru membuat mereka bergantung (bertaut) pada Tuhan . “Waktu kamu masuk ke tanah yang Aku berikan yang penuh susu madu. Engkau tidak menanam namun engkau menuai. Engkau tidak berjerih parah untuk mengumpulkan barang-barang yang nantinya sudah ada.” Itu kondisi yang luar biasa. Waktu kamu ke sana dan kamu sudah mengecapnya, hati-hatilah jangan sampai kamu melupakan Tuhan. Itu terjadi sewaktu makin besar. Di kitab Samuel, Raja Daud pernah jatuh dalam dosa perzinahan yang kemudian dilanjutkan pada dosa pembunuhan berencana (Ia punya kemampuan untuk merencanakan supaya terjadi pembunuhan). Pada kitab Samuel ceritanya sepertinya sederhana. Dikatakan , saat awal tahun seharusnya raja-raja berperang. Namun Raja Daud tidak maju perang. Ia merasa sudah mapan, tidak perlu repot-repot dan membiarkan panglima-panglimanya yang berperang. Ia sendiri berjalan di sotoh rumah (halaman atas). Ia melihat ada perempuan cantik  sedang mandi , ia tergoda dan jatuh. Disitulah ia jatuh secara fatal. Semakin kuat dan besar, bisa menjadi berbahaya.
        Ada seekor monyet yang bertanding dengan alam semesta. Ia berkata kepada alam semesta, “Engkau tidak mungkin menjatuhkan saya dari atas pohon.” Monyet memang lihai di pohon. Ia bisa pegang dahan pohon dan tidak khawatir jatuh. Jadi ia menantang alam, “Kalau kamu jatuhkan saya dari pohon, maka saya akan takluk kepadamu.” Alam pun setuju lalu alam semesta mengerahkan angin ribut menghantam sang monyet. Waktu monyet dilanda angin, ia semakin erat memegang pohon. Semakin diombang-ambing semakin kuat monyet memegang dan tidak jatuh. Alam pun menjadi lelah sehingga ia berpikir. “Kalau begitu saya berikan angin sepoi-sepoi.” Monyet merasakan angin sepoi-sepoi, sang monyet merasa keadaannya sudah enak dan tenang. Tidak ada angin yang menerpa. Ia merasa ngantuk dan tertidur. Waktu angin sepoi bertiup, ia tidak lagi berpegang pada dahan pohon. Bukan angin badai yang membuatnya jatuh, tetapi angin sepoi-sepoi. Ini menarik sekali , saat merasa tenang dan mapan , hebat , di situ kejatuhan yang paling parah terjadi. Saya berkata pada majelis , “Tuhan telah menolong GKKK Mabes. Waktu Pdt Sung meninggal dan banyak rohaniwan keluar. Gereja autopilot, tidak ada pemimpin tapi bisa berjalan. Hebat. Kalau bukan tangan Tuhan yang pegang, maka celaka karena tidak ada gembala sidang. Itu belas kasihan Tuhan. Waktu Tuhan memulai dengan majelis yang mau maju. Rohaniawan dan aktifis merespon mau maju. Saya katakan, “Hati-hati waktu Tuhan cukupkan sedikit demi sedikit. Dulu kita andalkan Tuhan, waktu sedikit demi sedikit ditambahkan, Tuhan ingin kita kuat tapi kita bisa tidak mengandalkanNya lagi. Waktu jemaat sedikit kita melihat ke atas, waktu sudah banyak kita melihat ke samping. Kita melihat orang yang hebat dan kaya serta mengandalkannya. Gereja harus hati-hati karena bisa jatuh. Waktu ditambahkan kita harus semakin teguh memegangnya. Waktu bergumul tidak ada perkerjaan, jemaat rajin ke gereja dan berdoa. Tapi faktanya setelah ditambahkan berkat, justru jemaat tersebut makin kendor dan hilang. Ini peringatan buat kita. Gererja harus mau mengevaluasi diri. Waktu ditambahkan jangan sampai kita kendor dalam perkara kerohanian. Waktu ditambahkan rejeki, justru jemaat harus terus setia pada Tuhan. Kesetiaan manusia kepada Tuhan teruji waktu kita ditambahkan. Kalau tidak semakin kendor. Waktu tidak punya kendaraan, untuk ke gereja kita memperhitungkan waktu yang dibutuhkan. Misal : kalau naik mikrolet ke gereja, dihitung berapa lama sampainya. Kalau kebaktian mulai pk 10, ia sudah datang pk 9.30. Setelah punya motor , ia tidak hitung lagi waktu yang dibutuhkan untuk ke gereja dan baru datang pk 9.45. Bahkan setelah punya mobil, pk 10.30 ia baru datang. Hal ini seringkali terjadi dalam diri kita. Guo shi mu pernah mengingatkan saya untuk tidak sombong. Kita tidak mau disebut sombong, tapi kita memang sombong waktu tidak mengevaluasi diri dengan baik. Saat makin bertambah harus berhati-hati. Waktu ditambah rejeki harusnya bertambah setia dalam memuliakan Tuhan. Waktu diberikan anak semakin rajin beribadah pada Tuhan. Ini poin penting. Banyak kejatuhan justru terjadi di sana. Saya ingatkan agar mengevaluasi gereja kita. Kita tahu titik rawan supaya gereja dan orang percaya menjadi sehat. Saya tidak pernah anti dengan berkat. Alkitab berkata Abraham (juga orang percaya) diberkati. Namun saat tidak melihat berkat dan memandangnya dengan baik, maka kita harus hati-hati karena bisa jatuh. Gereja mula-mula pernah mengalami hal seperti ini. Waktu gereja Katolik menjadi besar kemudian jatuh dan muncullah gerakan reformasi. Setelah reformasi gereja Protestan menjadi besar. Lalu setelah itu muncullah  gereja Pantekosta.

2.       Waktu tidak merasa puas karena melalaikan Firman Allah.

Kis 6:2  Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.  Apa yang gereja harus evaluasi, apakah firman Allah sungguh-sungguh memuaskan hidup kita? Rasul berkata, “Kami tidak puas karena melalaikan Firman Allah” yaitu waktu mereka tidak serius melayani meja. Orang-orang yang susah diberi perhatian. Waktu pelayanan kepada janda terabaikan, rasul berkata, “kami tidak merasa puas karena melalaikan firman Allah karena tidak melayani janda dengan baik”. Bila diterjemahkan, “Kalau tidak melayani musik dengan baik, perkunjungan dengan baik, tidak melayani sebagai majelis atau hamba Tuhan dengan baik dstnya, pada waktu firman Allah kami lalaikan kami tidak puas. Ini evaluasi yang paling kuat yang harus ada dalam diri kita. Standarnya Firman Allah! Waktu firman Allah tidak memuaskan kita dalam segala aspek, kita harus evaluasi. Kalau sebagai gembala tidak maksimal dan tidak serius, walau majelis memberi kepercayaan 100%, tapi kepercayaan dinodai dengan cara kerja yang tidak baik, dan saya tidak merasa puas terhadap firman yang dilalaikan maka hal ini berbahaya bagi saya. Ini evaluasi buat kita, pribadi lepas pribadi. Adakah perasaan “saya tidak puas” saat firman Tuhan tidak saya lakukan?. Atau ada yang berkata, “Puji Tuhan saya tidak diberi pelayanan”? Ada juga yang berkata, “puji Tuhan kalender merah sehingga saya tidak besuk”? Ini berbahaya sekali. Celaka! Ternyata melalaikan firman Tuhan membuat hati tidak puas. Gereja harus merasa tidak puas saat firman Tuhan tidak dilakukan dengan baik. Coba evaluasi, apakah firman Allah saat mengajarkan kita untuk setia beribadah, apakah kita puas atau tidak? Ada yang terkadang “bolong” (kalau ada hal-hal yang sulit baru cari Tuhan) tetapi setelah aman tidak lagi ke gereja. Hal ini perlu dievaluasi. Satu hal yang saya dapat tentang beribadah. Itu bukan kewajiban semata-mata. Kalau kewajiban kita akan capai. Demikian juga dengan pelayaan kalau dilakukan sebagai kewajiban , maka kita akan capai. Seharusnya itu anugerah. Anugerahnya berupa diberi kesempatan beribadah. Datang dengan setia dan beribadah. Waktu setia beribadah, engkau bertumbuh. Saya ingin bertemu dan menyembah Tuhan sebab Dia layak. Orang yang bertekun akan membaca dan belajar firman Tuhan, maka ada kegelisahan waktu tidak melakukannya dengan baik. Mintalah kepada Tuhan, “Berikan saya kegelisahan, supaya aku sungguh-sungguh kembali kepada firman. Waktu kendor melayani, berdoa, membaca firmanMu, lalai beribadah, berdoalah agar “beri aku ketidakpuasan supaya aku mengevaluasi diriku dan kembali bangkit”. Waktu hal itu terjadi, maka kita akan betumbuh. FIrman Allah yang menjamin itu. Tapi kalau kita tidak merasa (merasa biasa saja), mari kita evaluasi, “Apakah saya jadi hamba Tuhan yang melalaikan firman Tuhan? Sebagai majelis apakah saya melalaikan firman Allah karena …. (diisi). Ini harus ditanamkan terus. Baru kita bisa menjadi besar.
Kis 6:7  Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.
Tuhan tidak alergi untuk menambahkan. Semakin bertambah banyak  orang menyerahkan diri termasuk imam. Sebenarnya yang paling sulit bertobat adalah hamba Tuhan dan  majelis. Semakin engkau berada di posisimu, semakin sulit bertobat. Sewaktu sejumlah besar imam bertobat, maka gereja mengevaluasi diri. Bahkan orang ayat 8 , saat kesulitan besar mereka tersebar ke seluruh dunia dan nama Tuhan ditinggikan. Kiranya dengan firman Tuhan ini kita mengkoreksi dan mengevaluasi diri.
Mari evaluasi gereja kita, sebagai institusi dan pribadi. Kalau tidak mengevaluasi diri, maka kita menjadi orang Kristen yang suam-suam dan biasa-biasa. Kalau kita mengevaluasi, kita akan semakin maju.


                

Monday, February 1, 2016

Change My Heart O God (Ubah Hatiku)


Pdt. Yuzo

Mat 9:35-38
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.
36  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.
37  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
38  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Pendahuluan

                Pada Mat 9:36  dikatakan , “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” Kata “tergeraklah oleh belas kasihan” terdiri dari 4 kata dalam Bahasa Indonesia namun dalam bahasa aslinya terdiri dari 1 kata yang bila diterjemahkan dalam bahasa kontemporer berarti “Yesus hatiNya bergetar ketika memiliki perasaan yang sama seperti yang dimiliki orang-orang itu” Hal ini menunjukkan Yesus punya kemampuan untuk memiliki perasaan yang sama seperti orang-orang yang dilihatnya. Matius 9:37-38 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya (setelah Ia merasakan apa yang dirasakan murid-muridNya) : "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."
Bayangkan  untuk 24 jam saja saudara dan saya mempunyai hati seperti hati Yesus. Hanya 24 jam saja, jangan lebih. Bayangkan! Bayangkan! Kita tetap bangun di ranjang yang sama, mobil dan pasangan hidup tidak berganti, pekerjaan tetap sama, bertemu dengan orang sama, anak-anak  dengan masalah yang sama, pasangan hidup mempunyai karakter yang sama, semuanya sama bahkan hasil lab terakhir dengan penyakit yang sama, tetapi yang berbeda hanya satu yaitu kita memiliki hati Yesus. Hati Yesus memerintah hidup kita. Yang lain tidak berubah, hanya satu yang berubah dalam 24 jam itu yaitu hati Yesus memerintah, berkuasa, menjalankan hidup kita. Kira-kira apa yang akan Yesus lakukan ketika Ia melihat pasangan hidup (suami / istri) kita, anak-anak kita, pembantu rumah tangga kita, supir kita? Ketika Yesus ada di mobil, melihat supir bekerja, apa yang kira-kira akan Dia lakukan? Apakah Dia berkata, “Kamu sudah lama bekerja di sini lebih baik kamu keluar saja” atau “Anak-anakku, papa sudah memberikan kamu gadget (gawai), jangan ganggu papa lagi”. Apa yang dilakukan Yesus pada orang yang membuatNya kesal setiap hari? Tukang parkir yang tidak terlihat tapi saat mobil di-starter, meminta tambahan uang parkir padahal mobil kita tidak dijaga dan ada tanda baretnya. Apa yang kira-kira Yesus lakukan pada orang-orang yang kita lihat setiap hari? Maka kita perlu menyelidiki kitab suci. Bagaimana Tuhan Yesus yang berinkarnasi 2.000 tahun lalu melihat dan bertindak.

Tergeraklah HatiNya oleh Belas Kasihan

Terdapat 7 kali muncul kata “tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan” dalam Injil.

1.       Matius 9:36
        Dalam Mat 9:36 , kata ini pertama kali muncul. Ketika Tuhan Yesus memlihat banyak sekali orang. Ia berkeliling dari desa dan kota. Ia memberitakan Injil kerajaan Sorga, melenyapkan segala sakit penyakit dan kelemahan, kemana Yesus pergi banyak orang yang mengikuti Dia. Sama seperti orang datang ke gereja mengatakan “Aku mengikut Yesus”. Melihat orang banyak itu, apakah Dia berpikir, saatnya Aku jadi terkenal dan mendapat pengikut yang banyak dalam waktu singkat? Tidak ada itu dalam hatiNya. Melihat orang banyak itu, tergerak dan tergertarlah hatiNya ketika Dia merasakan apa yang mereka rasakan. Ayat 35, segala penyakit dan kelemahan diusir. Orang-orang ini mencari kesembuhan, mujizat, kekayaan dalam waktu sesaat. Bukan itu yang Dia lihat dan rasakan. Yang dikatakan Tuhan Yesus, “Karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Tuhan Yesus tidak mengatakan domba cacat dan sakit, tetapi domba yang terlantar dan tidak bergembala. Maz 23 Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Setiap kali kata domba muncul di PL, selalu dipakai untuk mengartikan hubungan Allah dengan umatNya. Hubungan yang benar adalah Allah menjadi gembala dan umat jadi dombaNya. Sehingga kadang-kadang ketika Allah membangkitkan beberapa raja, raja itu menjadi tangan kanan Allah dan gembala bagi umatNya, tetapi pada Matius 9 Tuhan Yesus melihat mereka lelah, terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Ada pemimpin tetapi tidak ada yang memimpin, ada orang yang memegang jabatan tetapi tidak ada orang yang punya hati yang berbelaskasihan. Itu sebabnya orang mengikut Yesus karena mereka haus dan rindu (bukan karena mujizat). Tuhan Yesus melihat kebutuhan dalam diri orang lain. Tuhan Yesus tahu rasanya diombang-ambing dengan rupa-rupa angin pengajaran,  orang yang tidak tahu besok makan apa, tidak punya pekerjaan, anak-anak yang melacurkan diri, rasanya dikhianati seperti domba yang tidak bergembala. HatiNya tergerak oleh belas kasihan.
2.       Matius 14:14
Di sini  banyak orang sakit datang pada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus melihat mereka begitu papa, lemah dan hina. Mereka tidak tahu harus pergi ke mana, berdoa pun tidak ada yang mengajarkan. Maka tergeraklah hati Yesus, sehingga Yesus menyembuhkan mereka.  
3.       Matius 15:32.
Ketika banyak orang mengikut Dia, dan dikatakan orang-orang tersebut kelaparan. Tuhan Yesus tahu isi hati mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan sehingga Tuhan Yesus memberi makan kepada 4.000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak .
4.       Matius 20.
Ada 2 orang  buta yang mengikuti Yesus. Mereka berkata, “Tuan tolonganlah kami!” Tuhan Yesus bertanya, “Apa yang engkau minta?” Mereka menjawab,”Kami ingin melihat.” Tuhan Yesus tahu rasanya orang-orang yang tidak bisa melihat. Mereka bukan saja tidak bisa melihat apa yang di depan mereka dan mereka juga tidak bisa melihat masa depan mereka. Siapa yang mau menikah dengan orang buta dan siapa yang ingin punya anak yang buta? Siapa yang ingin buta? Tuhan Yesus tahu perasan orang-orang buta ini . Maka tergetarlah hatiNya oleh belas kasihan dan Tuhan Yesus menyembuhkan mereka.
5.       Markus 1:41
        Ketika itu, di dekat Yesus ada orang-orang berpenyakit kusta. Pada zaman itu orang kusta adalah orang yang sebentar lagi mati. Mereka tidak boleh masuk bait Allah bahkan di pelataran dan halaman luarnya (tempat parkirnya) tidak boleh. Mereka dianggap orang najis dan bisa menularkan kenajisan pada orang lain. Maka tempat bagi orang kusta bukan di rumah tangga mereka tetapi di kuburan. Itu terjadi 2.000 tahun lalu. Orang kusta dimatikan sebelum waktunya, dihindari , dijauhi (aku tidak mau dekat kamu). Anggota keluarga nya pun menjumpai mereka pada tempat yang jauh di luar kota, tidak ada yang berani menyentuhnya atau memberi “angpao”. Mereka mungkin kasih dalam bungkusan-bungkusan dengan dilempar , tetapi tidak ada yang memeluk dan menyalami . Mereka sangat haus akan sentuhan. Mereka dibuang oleh masyarakat. Tuhan Yesus hatiNya tergetar ketika melihat orang kusta itu maka Ia menyembuhkan mereka.
6.       Markus 9:22
Di sini dibawa kepada Tuhan Yesus seseorang yang dikuasai iblis dan setan-setan. Sejak kecil dibanting dan dibawa ke api, sangat terluka. Kadang sadar dan kadang kerasukan lagi. Apa yang dilakukan kepada orang seperti ini pada zaman kita? Masih syukur bila ditampung di dalam rumah. Kadang dimasukan rumah sakit jiwa atau di tempat-tempat terpencil mereka dipasung. Jangan berpikir mereka akan memiliki keturunan! Siapa yang mau menikah dengan orang seperti mereka? Tidak ada yang mau menikah dengannya. Mereka tidak punya masa depan menghasilkan keturunan. Bahkan untuk bekerja pun tidak ada yang mau memperkerjakan mereka. Tetapi Yesus merasakan apa yang orang ini rasakan. Hatinya tergerak oleh belas kasihan. Yesus mengusir setan-setan dari dirinya. Tuhan Yesus membuka lembaran baru, masa depan baru. Ketika orang lain menutup masa depannya, Tuhan Yesus membukannya. Ketika orang lain menjauhi dia, Yesus  medekatinya, Ketika orang lain tidak memperdulikan dia, Yesus secara khusus melayani dan berkata kepadanya. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan.
7.       Lukas 7:13
        Ketika Tuhan Yesus sedang berjalan di kota Nain ada serombangan orang yang sedang berkabung. Beberapa orang mengangkat jenazah dari seorang muda , anak semata wayang, anak tunggal. Disampingnya ibu yang janda menangis meraung-raung. Tahu rasanya menjadi janda, tua, anak satu-satunya meninggal ? “Siapa lagi yang akan bekerja untuk mencari uang bagi saya?” “Siapa lagi yang memberi makanan dan menyapa ‘halo ma’,  ‘Selamat pagi’, ‘Mama sakitnya ya? Ayo kita  ke dokter.’” Siapa lagi? Anak semata wayangnya kini telah meninggal. Tuhan Yesus tahu artinya menjadi seorang janda, karena Maria ibunya juga seorang janda. Tuhan Yesus tahu artinya menjadi seorang janda karena Tuhan Yesus juga menyaksikan bagaimana seorang janda tua memberikan semua yang dimiliki dengan penuh iman di dalam sebuah bait Allah. Tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan.       

Perumpamaan terkait “Tergeraklah hatiNya”

                Pada bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru kata “tergeraklah hatiNya” digunakan dalam 3 bagian. Masing-masing merujuk pada Allah. Pihak yang tergerak oleh belas kasihan selalu merujuk pada Allah :
-          perumpamaan pengampunan sang raja pada hambanya yang jahat yang berhutang 10.000 talenta (kira-kira berutang 200.000 tahun bekerja). Hambanya meraung-raung ke raja, “Tolong, tolong. Jangan eksekusi saya, jangan ambil keluarga saya.” Maka raja tergeraklah hatinya untuk mengampuni.
-          Perumpumaaan anak yang hilang. Ketika sang ayah melihat anaknya dari jauh yang dulu kaya sekarang jadi gembel, pulang tertatih-tatih, bajunya compang-camping. Tergeraklah hati sang ayah oleh belas kasihan.
-           Orang samaria yang baik hati. Ia melihat seorang yang sekarat sehingga tergeraklah hatinya oleh belas kasihan dan akhirnya ia mencurahkan semua bantuan kepada orang tersebut.
Ketiga perumpamaan ini mengisahkan tentang Allah sendiri. Dalam 10 kali kata “tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan” semua menunjuk dan diaplikasikan oleh 1 pribadi yang agung yaitu Yesus Kristus yang kita dipanggil oleh Allah untuk menggenapi apa yang Yesus sendiri doakan dan harapkan. Berdoalah bagi pekerja –pekerja karena tuaian itu sangat banyak. Kita dipanggil untuk menuai dan untuk memiliki hati seperti hati Yesus.

Mengapa begitu sulit kita memiliki hati Yesus?

Ada perkataan “Boro-boro punya hati Yesus, hidup saja tidak berubah, sudah berpuluh tahun datang ke gereja. Apa yang terjadi? Bagaimana menyelesaikannya? Bagaimana supaya kita menyelesaikannya? Bagaimana supaya kita tidak terjebak pada kesalahan yang itu-itu saja. Ada 2 hal yang membedakan Yesus dengan khalayak ramai, membedakan kehidupan kita dari orang lain yang tidak mengenal hati Yesus.

1.       Ketika Yesus melihat, Dia melihat kebutuhan , sementara orang sekitarnya kerepotan. Yesus melihat kebutuhan, manusia melihat kesulitan. Itulah sebabnya , jarang kita membiarkan hati kita bergetar karena kita menutup hati kita (saya tidak mau repot dan sulit-sulit). Lihatlah perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Ketika seseorang turun dari Yerusalem keluar dari Yeriko , orang ini dirampok begitu rupa. Banyak orang melihat sang korban yang sudah sekarat. Yesus melihat, kita melihat. Yang membedakan Yesus dari yang lain apa? Apa yang membedakan orang Samaria yang baik hati dari imam dan Lewi yang melihat dan memilih jalan di seberang. Mereka berpikir sulit dan repot. Kalau menolong berarti saya harus berkorban. Berkorban berarti sulit dan repot. Mungkin sang imam berpikir, “Jangan-jangan dia ini perampok yang menyamar karena daerah itu terkenal dengan perampokan.” Atau “Ini tipuan dari si perampok. Kalau saya menolong, saya dirampok dan jadi korban” Menolongnya sama dengan repot, sulit , berisiko. Mungkin Sang Imam berpikir, jangan-jangan ia perampok yang terkenal. Kalau saya tolong nanti saya jadi korban. Nantinya repot dan sulit sehingga mengacaukan jadwal kesibukan kita. Biarin orang lain saja , toh yang lewat sini bukan hanya saya. Tuhan pasti tahu saya sibuk maka ia lewat dari seberang jalan. Orang Lewi juga lewat dan berpikir “Aku baru keluar dari Yerusalem. Aku baru menahirkan diriku. Aku baru  melewati tata cara ibadah yang begitu panjang mempersembahkan korban untuk membasuh dan menyucikan dosa-dosaku, kalau menolong dan orang itu mati maka tanganku najis. Kalau najis harus mulai lagi dari awal. Manusia  pintar mencari 1.001 alasan untuk menolak melakukan getaran hatinya.
Suatu kali saya sedang kontrol di RSUD Cengkareng.  Saya datang pagi hari. Tiap kali datang sudah ada 24 orang di depan saya jadi  saya mendapat giliran ke-25. Saya tunggu dan tunggu. Nomor mulai berjalan sekitar 10-15 menit per nomor. Kadang yang masuk lama kadang singkat. Saya pikir bakal lama menunggunya. Di tengah penantian itu mata saya tertuju pada sebuah keluarga yang masuk. Ayahnya mendorong kursi roda, anaknya duduk di sana, anak yang lain membawa tas berdiri dan berjalan bersama sang ayah. Anak di kursi roda akan kontrol di dokter ahli syaraf. Ia sudah tidak berdaya. Koordinasi ototnya sudah tidak beraturan. Matanya sudah tidak menunjukkan kesadaran. Dalam hati saya muncul getaran itu. Seolah-olah Allah berkata, “Hampiri mereka! Doakan!” Tetapi celaka apa yang muncul dalam hati, “Tuhan sebenar lagi giliran saya. ” Tetapi suara itu berkata,  “Aku ingin agar mereka tahu bahwa Aku ada melalui kamu. Datang! Hampiri!, Dekati, tidak perlu basa-basi pun tidak apa-apa! Langsung saja katakan saya ingin berdoa untuk anak ini.” Tetapi kemudian muncul kata-kata, “Nanti saja Tuhan. Sekarang sudah nomor 21, 22. Sebentar lagi. Nanti saja. Lets make a deal, begitu saya keluar nanti saya akan berikan waktu 1 jam khusus untuk keluarga ini. Setelah saya selesai saja, kan tidak enak ngobrol tapi hati dag-dig-dug. Kalau nomor saya dipanggil dan saya datang lagi, maka saya akan dapat giliran yang ke-20 lagi berikutnya” Waktu pun berjalan. Nomor  24. 25. Saya pun masuk. Setelah saya keluar 15 menit kemudian, ternyata mereka sudah tidak ada lagi. Saya tunggu sebentar mungkin mereka di ruang lain. Ternyata mereka tidak ada. Saya cari di lantai bawah , ternyata tidak ada. Saya pun pulang. Jarak RSUD ke rumah hanya 20 menit, tapi itu  20 menit yang terpanjang. Di mobil saya minta Tuhan ampuni. Mungkin ini kesempatan terakhir, tetapi saya membiarkan diri saya tidak tergerak oleh belas kasihan. Belajar dari pengalaman ini, beberapa minggu kemudian saya mengajak putra saya untuk mencari snack. Kita beli bubble tea. Akhirnya kita beli 2. Lalu saya lihat di sebelah kanan ada sebuah restoran. Di depannya ada ibu tua sekali yang memanggul kerupuk ikan. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya tidak boleh menunda. Jangan menunggu bubble-teanya selesai. Saat itu juga saya mendekati. “Selamat malam. Ayi jual apa?” Dijawab,”Kerupuk ikan”. Saya tanya berapa harganya ternyata  RP 10.000 satu bungkus. Saya beli 2. Kemudian saya keluarkan uang Rp 50.000 dan saya kasih Rp 50.000 uangnya untuk ayi penjual tersebut. Saya pikir hari itu saya sudah berhasil. Ketika naik motor anak saya berkata, “Kenapa papa kasih hanya Rp 30.000?” Kalau memang dia butuh dan engkau tergerak oleh belas kasihan dan engkau punya uang lebih, kenapa hanya beri RP 30.000? Hari itu saya berhasil tapi tidak cukup berhasil. Lumayan, sudah ada kemajuan. Tetapi saya mulai belajar mengerti apa artinya tergerak oleh belas kasihan, tidak membiarkan diri saya membuat alasan, saya mulai membuka dan membiarkan Roh Kudus menggerakkan hati saya, membayangkan apa yang ayi itu rasakan. Dia mencari uang, sesuap nasi. Ia mencari malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menolongnya. Hati saya tergerak dan tergetar , tetapi saya masih membatasi diri. Tetapi lebih baik daripada tidak. Ketika Tuhan Yesus melihat kebutuhan, kita biasanya melihat kesulitan dan kita menarik diri.

2.       Ketika Tuhan Yesus melihat, apa yang Dia lihat? Ini adalah kesempatan untuk menyatakan kasih Allah. Tetapi seringkali ketika manusia melihat dan melakukan pun mereka tidak berpikir ini kesempatan untuk bersaksi tapi untuk mencari prestasi. Supaya dianggap baik oleh orang lain. Pada beberapa gereja masih mencetak nama besar-besar pada daftar persembahan. Saya senang bila yang paling besar persembahannya ditulis nama NN. Masih ada orang tertentu yang berusaha menjaga kemurnian hatinya. Bukan berarti saya melarang penulisan nama. Seringkali kelemahan kita terpancing pada dosa. Saat memberi persembahan, saya juga menulis nama dengan kode supaya yang perlu tahu hanya saya dan Tuhan. Ketika orang tidak menyatakan kasih tapi meraih prestasi tidak ada kasih Allah yang sesungguhnya. Yang ada kemunafikan. Tuhan Yesus di atas menyatakan kuasanya atas penyakit, kusta dan setan. Motivasi Yesus bukan untuk menunjukkan orang betapa diriNya besar. Yoh 17:23 dikatakan Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Jadi apapun yang Tuhan Yesus lakukan merupakan  kesempatan untuk menyatakan kasih Allah kepada orang berdosa, orang yang hidup dalam kesulitan, kepapaan, kemenderitaan, kepapaan, kesengsaraan, kepahitan hati. Tuhan Yesus tidak berusaha berkata, “Hayo datang! Ikut Aku dan jadikan Aku raja.” Tidak pernah. Walaupuan Dia bisa berbuat begitu, Dia punya modal besar. Ia bisa lakukan apa yang manusia tidak bisa lakukan. Tetapi tujuan Yesus bukan itu, melainkan ingin menyatakan kasih Allah dan menghadirkan Allah lewat  hidupnya.
 
Bagian kedua perumpamaan pada Matius 25 tentang kambing dan domba, menolong kita. Pada bagian lain, Tuhan Yesus akan memisahkan antara gandum dengan jelai, antara kambing dengan nanti. Dan nanti ada golongan yang disebut kelas kambing. Kelas kambing dikatakan Tuhan Yesus bahwa engkau tidak layak untuk masuk dalam kerajaan sorga. Karena waktu Aku lapar, haus, telanjang dan tidak punya tempat berteduh, kamu tidak melakukan apa-apa. Apapun yang tidak kamu lakukan untuk saudaramu yang paling hina itu, kamu tidak lakukan apa-apa untuk Aku. Hatinya tidak tergerak oleh belas kasihan dan tidak membiarkan dirinya digetarkan oleh cinta Tuhan dan cinta sesama. Orang-orang seperti Ini dikatakan kambing. “Pergi! Enyahlah engkau, sekalian pembuat kejahatan“ Tetapi kenapa Tuhan? Bukankah kami tidak pernah melihat Engkau? Kapan Tuhan menyatakan diri lapar dan kami tidak kasih makan? Kalau kami tahu Tuhan  lapar, sebagian besar dari kita mengatakan, “Saya mengasihi Tuhan. Kalau Tuhan minta berapapun, akan saya kasih.” Artinya cari muka di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan  berbeda dengan domba ini. Ketika aku lapar dan haus , tidak punya pakaian, telanjang tidak punya tempat tinggal kamu memberikan aku makan, minum, tempat tinggal , pekerjaan dan masa depan. Sama-sama tidak melihat. “Oh Tuhan, kapan kamu lapar, haus dan  telanjang?” Apapun yang kamu lakukan untuk orang yang paling hina, kamu lakukan untuk Aku”. Orang ini tergetar oleh belas kasihan dan hati itu berasal dari Tuhan  Itu sebabnya mereka diterima dalam sorga. Mereka tidak pandang bulu dalam mengasihi. Mereka ingin menyatakan kasih bukan prestasi.  Mengapa kita seringkali berpikir kalau Tuhan muncul saya akan kasih semua? Kita seringkali terbiasa menjadi orang Kristen yang part-time. Bayangkana kalau kita bekerja sebagai pegawai Indomaret. Begitu selesai shift sampai di rumah dan diminta tolong balik ke toko tidak mau karena sudah selesai. It’s okay, karena itu part-timer. Orang yang tidak bisa membedakan part-time dan full-time dalam peran-peran hidupnya, maka orang itu tidak bisa hidup sesuai kehendak Tuhan. Hidupnya kacau. Kalau suami-istri berpikir “Saya suami-istri part-time”, itu gawat. Pekerjaan bisa part-time, tetapi ada relasi yang full-time antara anak dan orang tua. Demikian pula relasi kita dengan Allah, full-time! Kita tidak pernah berdoa minta Tuhan part-timer. Tidak ada yang minta Tuhan “Berkati aku hari senin saja” tetapi kita selalu berdoa, “Tuhan berkati kami senantiasa”. Berarti full-time. “Tuhan berkati aku setiap waktu, Tuhan hadirlah sepanjang hidupku.” Tetapi pernah jadi anak-anak Tuhan yang full-time? Seringkali kita menjadi anak Tuhan yang part-time. Suatu kali seorang istri turun dari tangga, ke dapur, cari panci dan melihat suami lagi nonton TV. Lalu dipukul dari belakang. Suami berkata,”Kenapa?” Sang istri menjawab, “Saat aku lagi cuci baju, saya menemukan ada secarik kertas dengan nama Jennifer. Ini siapa? Tidak ada keluarga kita bernama Jennifer. Kamu selingkuh kan?” Sang suami menjawab,”Tunggu.  Sabar! Semua bisa dijelaskan. Kamu ingat tidak minggu lalu kita nonton pacuan kuda. Ada kuda yang tersandung pada awal pertandingan sehingga tertinggal. Lalu ia bangkit dan mengejar lawannya. Semua orang bangkit berdiri dan akhirnya kuda itu memenangkan pertarungan yang sangat ketat itu. Kita semua senang. Nama kudanya Jennifer. Saya tulis supaya tidak lupa dan masukkan kantong. Saya lupa dan kamu baca.” Baru istrinya berkata, “Sorry, saya belikan kamu trombopop, supaya bengkaknya cepat kempes”. Lalu minggu depannya istrinya membawa wajan, cari suaminya dan dipukul sampai pingsan. Sang suami sadar di rumah sakit. Istrinya berkata, “Tadi waktu kamu pergi keluar sebentar , kamu lupa bawa HP. Tadi kudamu telpon!” Celaka. Banyak orang selingkuh tidak bisa membedakan mana relasi full-time dan mana relasi yang part-time.  Dia pikir kalau tidak ada di hadapan istri, aku boleh menjalin hubungan dengan siapapun. Hanya menyatakan kasih kalau meraih prestasi. Mencari muka. Maka tidak jarang, orang Kristen yang luar biasa baiknya, ramah dan murah hati, memberikan tenaganya, bahkan setiap hari datang ke gereja. Apakah engkau melakukan itu ingin menyatakan kasih karena hatimu tergetar oleh belas kasihan atau untuk memuaskan nafsu meraih prestasi dan dikenal orang lain? Tuhan Yesus melihat orang bukan asal melihat dan ini membedakan Tuhan Yesus dari orang lain. Tuhan Yesus melihat kebutuhan dan kesempatan untuk dipakai oleh Allah menyatakan kasih kepada orang lain. Bagaimana dengan kita?

Penutup

1 Yoh 3:16-18. Bagaimana kasih Allah dapat tetap dalam dirinya? Mari kita mengasihi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Bayangkan, 24 jam saja hati Yesus memerintah hatimu. Apa yang akan dia lakukan pada orang yang kita lihat? Yang lain tidak berubah. Hanya satu yang berubah, hati Yesus menjadi milik kita. Apa yang akan kita lakukan pada orang di sekitar kita? Apa kira-kira yang orang lain rasakan melalui kehadiran kita? Apa yang anak,istri, teman, karyawan, rekan kerja rasakan lewat kehadiran kita? Kamu mau saya menjadi orang 24 jam terakhir atau 24 tahun sebelumnya? Pertanyaan terakhir : anda sendiri bagaimana? Kita pilih menjadi orang yang 24 jam itu atau 24 tahun terakhir? Anda ingin memiliki hati seperti Yesus atau hanya ingin menyanyi lagu “Ubah Hatiku” tetapi tidak ingin memiliki hati seperti Yesus. Kita pilih yang mana?