Sunday, July 26, 2015

Jika Allah Tahu, Mengapa? (Kelas Tiranus III)


Oleh : Yadi S. Lima

Kelas Tiranus III (26 Juli 2015)

Jika Allah tahu, mengapa Allah membiarkan ( mengijinkan, tidak berbuat apa-apa atau menunda pertolongan ) atas sesuatu hal yang tidak kita inginkan (hal yang buruk / jelek)? Karena bila hal yang baik terjadi, biasanya kita tidak bertanya mengapa hal itu terjadi.
Contoh : suatu ketika kita mendapat undian berhadiah. Lalu apa kita bertanya,”Mengapa saya mendapat hadiah undian?” atau setelah 60 tahun pernikahan yang harmonis dan penuh kelimpahan, apakah kita bertanya, “Mengapa Tuhan membiarkan perempuan ini bertemu saya?” Kita tidak bertanya mengapa? Kalau bagus kita tidak bertanya mengapa? Jadi pertanyaan “mengapa” di sini ditujukan kepada hal-hal yang tidak begitu baik. Dari sudut filosofi , ini adalah masalah kejahatan sehingga timbul pertanyaan “mengapa?”.
Pertanyaan ini sudah dibahas orang sebelum Tuhan Yesus datang ke dalam dunia.Misalnya oleh Epicurus yang merupakan filsuf Yunani terkenal dan sangat baik. Ia mungkin meninggal karena kanker namun menjelang ajalnya, ia masih bisa memberikan hiburan kepada orang lain agar tidak takut mati.
Masalah kejahatan (the problem of evil) sudah setua filsafat. Masalah ini dapat ditemukan pada tulisan Epicurus. Ini dipakai sampai sekarang , jadi sudah 2300 tahun. Masalah ini  dipakai sebagai alasan Bertrand Russel untuk tidak menjadi Kristen.

Pertanyaannya  bukanlah “Bagaimaan menghilangkan atau mengurangi kejahatan?” tetapi “Mengapakah Tuhan yang Maha Baik tidak mau menghilangkan kejahatan?” Atau “Mengapakah Tuhan yang maha kuasa tidak mampu menghilangkan kejahatan?”





The Problem of evil



Proposisi 1: Allah itu haruslah MAHA BAIK dan MAHA KUASA

Implikasi dari Proposisi 1: Yang tidak maha baik dan maha kuasa tak dapat disebut Allah

Proposisi 2: Ada kejahatan dalam dunia (di mana Allah adalah Bos dari dunia ini)
Dalam dunia ini ada kejahatan. Yaitu ada orang yang tidak bersalah difitnah , masuk penjara.
Ada orang yang cocok pada sebuah jabatan tapi yang menduduki jabatan itu adalah orang lain.
Ada orang yang gara-gara agamanya tidak boleh menduduki jabatan tinggi, terhambat karirnya atau dianiaya.
Ada juga kejahatan alamiah : gempa bumi : orang baik, tidak jahat, sedang tidur tertimpa balok lalu mati.
Ada tak terhitung banyaknya kejahatan.

Bukankah Tuhan itu Bos , mengapa terjadi begitu?

Pertanyaan: Mengapakah ada kejahatan dalam dunia di mana ada Allah yang Maha Baik dan Maha Kuasa? Bagaimanakah ini MUNGKIN terjadi? (how is it POSSIBLE?)

Suatu ketika saat sedang menunggu bus malam, calon penumpang ditodong  “pilih harta atau nyawa”. Lalu datang Superman. Orang tersebut merasa aman karena pasti penjahat tidak bisa berbuat jahat. Penjahat yang badannya besar bertato dan wajahnya seram juga melihat Superman. Penumpang tersebut kemudian berteriak minta tolong tapi diacuhkan oleh Superman, bahkan saat memegang tubuh Superman untuk meminta bantuan, penumpang tersebut disingkirkan dengan tangannya. Penumpang tersebut menjadi jengkel dengan Superman (seharusnya dia bisa menolong saya misalnya dengan mengangkat penjahat dan memutar-mutarnya di udara). Hal itu terjadi saat orang menderita kejahatan dan merasa diacuhkan Tuhan.

Kalau Tuhan maha kuasa,maha tahu dan katanya baik, mengapa ia biarkan ini bisa terjadi? Itu sebabnya kita perlu mengerti logika problem of evil

Proposisi 3: Jika Allah maha baik pastilah Ia mau dan akan melenyapkan kejahatan atau menciptakan dunia di mana tidak ada kejahatan – maka tidak akan ada kejahatan dalam dunia

Proposisi 4: Jika Allah maha kuasa pastilah Ia mampu melenyapkan kejahatan dalam dunia (atau menciptakan dunia yang tidak ada kejahatannya)

Tetapi FAKTANYA à ADA KEJAHATAN dalam dunia ini

Tuhan disalahkan seperti Superman , saat ada nenek-nenek dirampok dan tidak ada yang menolongnya.




Di dunia ini pasti ada kejahatan. Anak kecil lahir kakinya satu. Ada yang kena down syndrome. Ada orang lahir buta, yang salah siapa?
Ada kejahatan dan cari kambing hitamnya. Kita ingin hukum orang. Begitu tidak ketemu, kita salahkan Tuhan.

Ia mampu tapi kenapa tidak melakukan, maka Dia 'kejam sekali'.

Karena adanya kejahatan dalam dunia ini tidak dapat dibantah, maka ada TIGA kemungkinan PENJELASANNYA

  1. Allah ingin melenyapkan kejahatan, tetapi Ia TIDAK MAMPU melakukannya (Allah yang berduka tanpa daya di Atas Sana, Ia TIDAK MAHA KUASA)

  1. Allah mampu melenyapkan kejahatan dari dunia ini, tetapi (somehow) ia TIDAK MAU melakukannya (dengan demikian Ia adalah Allah yang KEJAM, Ia TIDAK MAHA BAIK)

  1. Allah memang Tidak Mau DAN Tidak Mampu untuk melenyapkan kejahatan (Ia tidak maha baik sekaligus tidak maha kuasa)

KESIMPULAN: Tidak mungkin Allah ada (karena fakta adanya kejahatan dalam dunia ini)


Theodicy


Ada banyak usaha untuk menjawab problem of Evil à Theodicy

Old Mythologies, Siddharta Gautama, Gnostics, Augustine, Thomas Aquinas, Leibniz, kaum Deist, C.S. Lewis, Alvin Plantinga

Kemungkinan jawaban

1)    Allah memang tidak ada – Atheism/Materialism à Epicurus, Russell, Hume
2)    Kejahatan hanyalah ILUSI

·         Kejahatan diterima sebagai bagian dari realitas. Realitas adalah peperangan / keseimbangan abadi antara gelap/terang, jahat/baik, Yin/Yang, Kerusakan/Penciptaan, Kematian/Kelahiran (mis. Hiduisme, Gnostisisme, Mitologi Barat-Timur)

·         Kejahatan adalah ilusi, penyadaran dari ilusi adalah obatnya. Samsara adalah akibat keterikatan pada dunia materi, pembebasannya adalah penyadaran (awakening) lewat meditasi, filsafat, disiplin diri, dll (Buddhism)

Kejahatan diterima sebagai bagian dari realitas seperti  adanya peperangan / keseimbangan abadi antara gelap-terang, jahat-baik, yin-yang, kerusakan-penciptaan, kematian-kelahiran dll. Di film silat dikatakan  kalau tidak ada gelap tidak ada terang, kalau tidak ada jahat tidak ada baik. Hal ini tidak benar. Kalau tidak ada gelap maka tidak ada terang, ini tidak benar. Karena Tuhan menciptakan yang baik. Sebagai orang Kristen, kita percaya Tuhan menciptakan dunia ini baik sesuai dengan komentarNya. Lalu Dia menciptakan manusia yang dilihatnya sebagai sungguh amat baik (tidak dikatakan sungguh amat jahat). Namun di antara yang amat baik itu, di kemudian hari muncul korupsi, kerusakan, distorsi, sehingga yang baik itu menjadi berkurang baiknya. Kalau tidak ada yang baik, tidak ada yang jahat, Ini amin. Misal : ada yang bilang Hawa jahat. Ia makan buah dari pohon yang pengetahuan yang baik dan yang jahat. Apakah Hawa  akan tertarik makan buah pohon itu bila tidak punya mulut, gigi, tangan, keinginan, mata? Tanpa gigi, mungkin buah itu harus di-blender dulu. Apakah pohon itu menarik, kalau Hawa buta? Tidak. Bisa juga mungkin masih wangi tercium. Hawa bisa berdosa karena hal-hal baik seperti adanya pohon, gigi, usus sehingga  makannya nikmat. Sampai hari ini orang berdosa waktu makan nikmat. Kalau makan seperti sakit melahirkan, maka tidak ada yang gemuk. Tapi bukan enak makan apel, minum cocacola, kalau makan sakit maka ia tidak akan makan buah pohon. Bukan sebaliknya ada baik karena ada tidak baik. Kalau sebaliknya benar.


-          Kejahatan adalah ilusi, penyadaran dari ilusi adalah obatnya. Samsara adalah akibat keterikatan pada dunia material, pembebasannya adalah penyadaran (awakening) lewat meditasi, filsafat, disiplin diri dll (Buddhism). Misal : kita usaha namun tidak ada perkembangan. Modelnya masih begitu saja sehingga gulung tikar. BATA saat ini tidak setrendi yang lain, padahal di masa lalu mereknya sangat top. Kalau tidak berkembang apakah kita akan berkata : puji Tuhan atau why me Lord (berpikir sebagai kejahatan). Kalah usaha kejahatan buat yang kalah karena yang menang tidak berpikir, “Wah toko sebelah gulung tikar, wah aku melakukan kejahatan.” Jahat itu karena kamu anggap jahat. Itu proses alam saja. Ada yang mati dan lahir. Waktu mati sedih. Kalau manusia tidak ada yang mati, maka berapa jumlah penduduk dunia? Sekarang saja 7 miliar. Kalau tidak ada yang mati, maka  kira-kira penduduk dunia ada 60 miliar yang bisa tidak tertampung dunia. Jadi apakah kita berkata, “Puji Tuhan ada yang mati?” Jadi jahat itu adalah ilusi. Jahat karena kamu terikat sesuatu. Samsara : kamu terikat pada dunia materi.  Kalau kita sudah melek, maka tidak ada problem itu.

Theodicy dalam kekristenan

Tidak mungkin memakai teori mitologi pra-Kristen, Hindu atau Buddhism karena tidak kompatibel dengan kepercayaan Kristiani

Jadi bagaimana mungkin ada Allah yang BAIK dan MAHAKUASA seperti yang diajarkan Alkitab dan Gereja sementara memang ada kejahatan dalam dunia ini?

Onto-Theology dari st. Augustinus à “Kejahatan adalah Ketidakhadiran
Kebaikan” (deprivatio Boni)


·         Kejahatan sebagai Ketidakhadiran menghindarkan Allah dari dilemma sebagai

‘pencipta kejahatan’ dan / atau ‘bukan satu-satunya Allah dalam dunia’ (dualisme)

·         Keselamatan sebagai tindakan Allah yang membuat dunia kembali menjadi UTUH

·         Mempertahankan kedaulatan Allah sebagai yang MENOPANG segala yang ada, termasuk apa yang kemudian menyeleweng menjadi jahat

·         Orang-orang jahat pun dapat melakukan dosa karena Allah menciptakan tubuh, memelihara tubuh mereka dan memungkinkan ciptaan begini-begitu. Mis. Pencurian terjadi karena ada NILAI (cobalah mencuri di Bulan atau Pluto)

Ilustrasi : kertas tissue, tidak ada bolong. Lalu dibuat bolong, Bolong itu apa? Apakah buat bolong ? Kalau tidak ada kertas, apakah ada bolong? Ada bolong tanpa kertas. Tidak ada. Bolong bukan keberadaan, tapi ketiadaan Ada dan tiada tidak simetris. Bukan A dan anti-A. Kenapa ? Tanpa tissue tidak ada bolong (tissue lain). Tidak ada bolong tanpa tissue. Bolong bergantung tissue. Tissue tidak bergantung bolong. Baik ada suatu keberadaan. Allah menciptakan keberadaan. Tidak ada yang ada yang Tuhan adakan sejak awal. Kalau bukan TUhan yang adakan, tidak ada yang tidak ada. Tuhan mengadakan ada bukan tidak ada. Maka yang namanya ada, baik karena Tuhan menciptakan baik, tidak mungkin menciptakan tidak baik. Jahat timbul dari yang baik seperti ada bagian kertas tissue yang dibolongin. Hawa yang tidak punya tangan dan mata, tidak mungkin ia berdosa. Semua jenis kejahatan dalam dunia, tidak mungkin ada kalau Tuhan tidak menciptakan dunia ini.

Apakah kita bisa ada di bulan? Kenapa kita bisa nyolong mic? Karena GKKK Mabes punya mic. Kalau di bulan tidak ada apa-apa , maka tidak bisa mencuri. Jadi dalam dunia ini, bisa ada jahat karena ada baik. Bukan tidak ada jahat, tidak ada baik. Kebaikan tidak tergantung kepada kejahatan tetapi kejahatan tergantung dari kebaikan. Seperti parasit. Kutu anjing ada karena ada anjing. Tidak sebaliknya. Bila tidak ada anjing tidak ada kutu anjing (akan mati).

Theodicy Augustinian



·         Kejahatan tidak diciptakan

·         Allah menciptakan segala yang ADA (Kej 1:1, Yoh 1:3)

·         Segala yang ada itu BAIK (Kej 1: 31)

·         Yang baik itu kemudian terbawa-bawa oleh PEMBERONTAKAN manusia (Kej 3)

·         Baik itu adalah karakteristik mendasar dari segala yang ADA; jahat itu soal BAGAIMANAnya segala yang ada itu setelahnya



·         Mis. Manusia itu baik, pernikahan dimaksudkan menjadi baik, tetapi manusia bisa memukuli istri dan istri merongrong suami – memukuli dan merongrong orang lain itu BUKAN SALAH TUHAN – itu bukan CIPTAAN, tetapi salah satu KEMUNGKINAN yang dibuka oleh ciptaan – diserahkan Tuhan sebagai respon manusia

Theodicy Leibniz



·         Allah menciptakan dunia (Ia dapat juga tidak melakukannya)

·         Allah menciptakan dunia yang mungkin untuk jatuh, sehingga muncul kejahatan (Ia tentu dapat menciptakan dunia yang tak mungkin jatuh)

·         Allah menciptakan dunia yang TERBAIK

·         Dunia yang ‘dapat jatuh’ adalah lebih baik daripada dunia yang ‘tidak mungkin jatuh’ karena adanya KEBEBASAN dalam dunia yang mungkin untuk jatuh

Tetapi ‘mengapa TUHAN mengizinkan kejahatan yang sedemikian jahat’ atau khususnya ‘menimpa SAYA’? (Why me?)


Felix culpa


·         Kejatuhan Adam adalah ‘pelanggaran yang berbahagia”

·         “Allah tidak mengizinkan kejahatan yang tidak akan dipakai-Nya untuk menghasilkan kebaikan yang lebih besar” (Ambrose dari Milan, Augustinus, Thomas Aquinas, Leibniz)

·         “ … Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia …” – Roma 8: 28


Polemik Medieval: God’s Will or God’s Law?

Dalam masa akhir Abad Pertengahan ada polemik antara sifat ADIL Tuhan dan KEDAULATAN Tuhan. Polemik antara KEHENDAK Tuhan dan HUKUM-Nya.

Kehendak tak perlu dijelaskan

mis. “Aku MAU makan es krim rasa Vanilla!” (mengapa bukan Coklat? Tak perlu dijelaskan!

Aku suka Vanilla. Mengapa suka Vanilla? Apakah sudah terbukti Vanilla lebih enak dari Coklat? Tidak usah ditanya lagi! AKU MAU ES KRIM VANILLA!)

Hukum perlu penjelasan

mis. “Aku akan bayar Rp 2.5 juta untuk laptop Lenovo X201 itu sesuai kesepakatan kita kemarin” (Mengapa bukan Rp 25 juta? Sebab aku hanya beli SATU, BUKAN SEPULUH, mengapa bukan Rp 500 ribu? Sebab penjualnya tidak akan mau? – harus ada ALASAN RASIONALnya)

God’s Will di atas God’s Law

Orang yang menekankan bahwa Allah itu BERDAULAT akan menekankan KEHENDAK Allah di atas Hukum-Nya. Allah TIDAK DIIKAT oleh Hukum-Nya sendiri. Ia tidak diikat oleh hukum Logika dan peraturan apapun. Dia itu KEADILAN, KEBENARAN, KEBAIKAN itu sendiri. Pengetahuan kita tentang apa itu Adul, Benar, dan Adil sangat terbatas.



Allah Maha Kuasa tetapi memang tidak ‘Maha Baik’ (versi kita)à Menekankan KEDAULATAN Allah di atas PENGETAHUAN KITA AKAN apa itu baik / buruk

Jadi bagian kita, manusia adalah untuk TUNDUK dan MENERIMA apapun ketetapan Allah. Jangan banyak tanya. Dia itu TUHAN. Bos di atas segala Bos. Bos tidak pernah salah!

“… apakah dayaku, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?” – Ayub 31: 14

Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? – Mazmur 43: 2

Dia itu TUHAN

“Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” – Rom 11: 34

“Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?” – Yesaya 40: 14

God’s law di atas God’s will

Sebaliknya, orang lain menekankan bahwa Allah tak bisa SEWENANG-WENANG. Allah itu TELAH MEMBERIKAN HUKUM dan Ia tak akan melanggarnya sendiri!

Allah pun tidak bisa seenak perut-Nya sendiri. Dia BUKAN DIKTATOR KEJAM.

Allah mewahyukan KEBENARAN – Ia bukan seperti Allah lain yang tidak menjelaskan alasan-alasan tindakan-Nya selain “Aku MAU begini dan Aku Bos-nya!”


Allah ingin menjelaskan kehendak-Nya pada manusia

“Sungguh, segala meja penuh dengan muntah, kotoran, sehingga tidak ada tempat yang bersih lagi. Dan orang berkata: "Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu! Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!" Yesaya 28: 8-10

“Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! … Marilah, baiklah kita berperkara! -- firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju … (Yesaya 1: 10-18)


Konsekuensi buruk tiap pilihan



Menekankan God’s (sovereign) will à Tidak lagi mencari penjelasan rasional yang dapat disepakati bersama – teologi tidak berkembang (Fides quarraens intellectum tidak dihayati)


Kemampuan intelektual orang berbeda-beda, orang IQ tinggi cenderung lebih sedikit, kaum ELIT akan berkuasa, kaum kebanyakan bisa tertindas


Solusi dilemma Medieval


“Deus legibus solutus, sed non ex Lex” (John Calvin)
God is above the civil law but not lawless

Walaupun TUHAN tidak diikat oleh Hukum, Ia ada DI ATAS Hukum, tetapi Ia tidak ada DI LUAR Hukum itu (sebab Ia tidak melawan Diri-Nya sendiri)

Apa hubungannya ini dengan Problem of evil?

Orang yang menekankan God’s (sovereign) will akan menjawab Problem of Evil dengan cara semacam: “Tuhan memang ada, tidak usah banyak tanya mengapa ada kejahatan, kita toh tak dapat berbuat apa-apa, terima saja, minta ampun dan perkenan Tuhan saja”

Orang yang menekankan God’s law akan menjawab: “Adanya kejahatan pasti mencerminkan hukum dan keadilan Tuhan, mungkin itu HUKUMAN atas kesalahan kita juga atau DISIPLIN buat kita – PASTI ADA MAKSUDNYA”

Jika orang menerima bahwa Allah memang berdaulat sehingga Ia BEBAS dari ikatan hukum apapun, tetapi Ia memilih untuk TIDAK BERDIRI DI LUAR Hukum Dia sendiri, maka Theodicy harus mengandung hal-hal ini:

Pengakuan bahwa penyataan hukum Allah itu akan mengungkapkan karakter dan niat-Nya yang baik – Ia tak pernah menjadi diktator lalim

Allah berdaulat akan sejarah, tidak ada yang lepas dari PENETAPAN-Nya, kehendak Allah pasti terjadi – Ia BUKAN tidak berdaya

Sejarah, seperti sebuah kisah (mis. Film atau novel) tidak akan dapat buru-buru dihakimi sebelum kisahnya selesai. Selama sejarah belum selesai kita belum dapat menyimpulkan bahwa Allah tidak adil karena mengizinkan hal-hal tertentu

Pengertian kita akan sejarah juga terbatas karena kita punya IQ terbatas, perspektif terbatas, dan tidak hidup terus dari awal sampai akhir sejarah


Allah sewenang-wenang?

Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Bukankah tangan-Ku yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman TUHAN. Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku. Orang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga, orang mengorbankan domba, namun mematahkan batang leher anjing, orang mempersembahkan korban sajian, namun



mempersembahkan darah babi, orang mempersembahkan kemenyan, namun memuja berhala juga. Karena itu: sama seperti mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri, dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka, demikianlah Aku lebih menyukai memperlakukan mereka dengan sewenang-wenang dan mendatangkan kepada mereka apa yang

ditakutkan mereka; oleh karena apabila Aku memanggil, tidak ada yang menjawab, apabila Aku berbicara, mereka tidak mendengarkan, tetapi mereka melakukan yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak Kukehendaki. Dengarlah firman TUHAN, hai kamu yang gentar kepada firman-Nya! Saudara-saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati nama-Ku, telah berkata: "Baiklah TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya, supaya kami melihat sukacitamu!" Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu. Dengar, bunyi kegemparan dari kota, dengar, datangnya dari Bait Suci! Dengar, TUHAN melakukan pembalasan kepada musuh-musuh-Nya! - Yesaya 66: 1-6

Umat Tuhan di sini mungkin menganggap Allahnya bertindak sewenang-wenang, tetapi itu adalah karena Ia sedang menghukum umat-Nya sendiri, atau jika tidak, tentu ada maksud-Nya yang tak dapat kita pahami karena kita ini manusia belaka yang tidak dapat melihat seperti Dia.


Jawaban Final TUHAN atas Problem of Evil


Pandanglah kepada Yesus yang tersalib

ž  “Eli, Eli lama sabakhtani!” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

(Mazmur 22 dan Matius 27: 46

ž  Solidaritas Allah dalam ketidakadilan dan kejahatan yang dialami manusia

ž  “dia tertikam oleh pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita .. Dan oleh  bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” Yesaya 53: 5 .
Kemenangan Tuhan atas kejahatan dunia 

_____
QA

1.     Predestinasi : kita dipilih sebelum diciptakan. Lalu kenapa diciptakan kalau akhirnya tidak baik?

                   Efesus 3:1-13 Paulus memberikan prinsip predestinasi dari segi positifnya. Predestinasi diajarkan bahkan sebelum Calvin (bukan Calvin yang menemukan). Ditemukan oleh bapak-bapak gereja (Thomas Aquinas juga sempat ditanyakan). Institutio karya Calvin berulang kali direvisi (ditambahkan) sehingga bukunya menjadi tebal, awalnya bagian tentang predestinasi sangat pendek. Ketika orang bertanya lalu ditambahkan. Alasan “untuk bersyukur karena diselamatkan” diajarkan pada orang yang sudah selamat , bukan pada yang tidak terima Tuhan dan tidak percaya sampai akhir.
          Jangan ajarkan predestinasi pada orang yang baru terima Tuhan dan jangan juga tidak diajarkan setelah orangnya siap. Karena dengan mengetahui predestinasi, menjadi alasan untuk mengucap syukur pada Tuhan yang tidak ada habis-habisnya. Efesus pasal 3 tidak ada tanda “titik” sampai ayat terakhir.
          Jawabannya : Tuhan menciptakan sebagian orang menjadi alat untuk memuiakan Tuhan secara negative. Seperti bangsa Babilonia dibangkitkan untuk menghajar umat TUhan. Alat tersebut seperti tissue toilet yang dibuat untuk membersihkan kotoran dan setelah dipakai lalu dibuang.
          Roma 11:34.

2.     Buta (bukan salah ortu tapi untuk menyatakan kemuliaan Allah). Namun bila tidak melihat (buta terus) bisa dipakai untuk memuliakan Allah?

          Bukan melalui kesuksesan saja Tuhan menyatakan diriNya. Di hal-hal yang negatif pun bisa menjadi kemuliaan Allah. Contoh : melalui kekalahan bangsa Israel Allah menyatakan kemuliaanNya. Lewat kemenangan juga kekalahan Allah menyatakan sesuatu.  Harus ada penyesatan itu, tapi celakalah orang itu. Seperti yang terjadi pada Yudas. Tuhan memakai pelanggaran Yudas.

3.     Ada cara mudah untuk menjelaskan kalau Tuhan tahu mengapa?
          Tidak ada.

4.     Tuhan seperti bisa dinegosiasikan di Alkitab?

          Orang percaya adalah orang yang jujur pada Tuhan. Ia utarakan juga pada Tuhan kemarahannya. Bergumul dan bergulat. Itu olahraga yang sangat intim. Beda dengan anggar (pedang ketemu pedang), tinju (kepalan tangan saja yang bertemu).  Ada masa dan waktu untuk mengalami proses. Di kitab Efesus seperti ada lintas waktu (lihat ke belakang), di sana sejarah sudah terjadi,  tapi bagi yang mengalaminya saat sedang dijalankan mereka berada dalam ketidaktahuan. Yesus tahu akan di Getsemani, lalu mengapa doa semalaman? Bergulat adalah bagian dari proses. Dalam proses Yesus melanggar. Kita mencontoh pergulatan Yesus (biar kehendak Tuhan yang terjadi)

5.     2 Raj 13:18. Raja Yoas disuruh pukul tanah dan ia memukul 3 kali (harusnya lebih banyak), bagaimana tahu harus pukul lebih banyak?

          Contoh ini tidak bisa diterapkan ke segala macam konteks. Nabi dan raja tidak tahu berapa kali dipukul. Tuhan tahu. Saat kita diuji, agar kita tahu dan orang lain tahu (kalau Tuhan sudah tahu).

6.     Manusia hidup untuk memuliakan Tuhan. Apakah Bangsa Babilon (juga Jokowi) tahu ia melakukan tugas Tuhan untuk memuliakan Tuhan? 

          Tuhan dimuliakan , manusia ingin berdedikasi kepada Tuhan. Tuhan dimuliakan oleh batu-batu , batu tidak punya keinginan. Batu bisa jadi pesuruh Tuhan. Tuhan dimuliakan bukan oleh sesuatu yang punya kesadaran untuk memulikan Tuhan. Manusia memuliakan Tuhan. Orang-orang yang tidak sadar dipakai Tuhan. Dia diperalat Tuhan dan Tuhan bisa pakai cara lain. Tapi Tuhan memilih dan memutuskan cara ini. Raja Asyria dengan keserakahan nya merampas dan menghancurkan kerajaan Israel. Jadi anak-anakNya dibersihkan. Raja Asyria tidak tahu sedang diperalat.  Jokowi dengan niat baik bisa memuliakan Tuhan. Kejujuran, keadilan walau tidak bukan orang Kristen, selaras dengan kehendak Tuhan. Ibarat anak tiri lebih cinta mamanya daripada anak kandung.

7.     Apakah setelah orang percaya di surga akan ada kejahatan dengan adanya free will manusia?

          Manusia bisa berubah. Bagi anak yang malas lalu berubah menjadi tidak malas. Sewaktu malas, ia ingin rajin. Setelah rajin tidak ingin malas. Ketika sedang malas, belajar adalah perjuangan.  Setelah diubah jadi rajin, malas-malasan itu menjadi siksaan. Setelah disempurnakan setelah mati , Kristus datang maka menjadi baik menjadi second nature. Ia tidak mungkin jadi malas-malasan.  Natur manusia pelit. HP baru Rp 2,5 juta lalu HP yang sama ditawarkan Rp 25 juta. Tidak mungkin beli yang Rp 25 juta . Ini natur manusia : bayar semurah-murahnya untuk  dapat yang sebaik-baiknya. Setelah  ditebus, manusia tetap bisa berdosa, tetapi tidak mungkin. Anak kecil main piano fals, setelah sempurna bisa buat fals, tetapi ia tidak mau lagi buat fals. Kalau pun fals ia sedang tidak fit. Misal : kita diminta menyiksa orang selama 30 hari 30 malam, maka sebagai orang percaya tidak mau melakukan. Karena setelah diangkat dan diperbaiki, keinginan pun juga tidak. Ada batas dijaga oleh Tuhan sehingga tidak bisa sejahat-jahatnya.  Agustinus (dan juga kemudian Luther ) : sesudah jatuh dalam dosa, tidak mungkin tidak berdosa. Setelah percaya, mungkin tidak berdosa. Setelah itu non pose pocare (tidak mungkin berdosa)  karena pernah cicipi dosa.  Seperti pemakai narkoba, setelah tidak pakai maka hanya ingat saja (sudah pernah coba, setelah pernah coba tidak ingin balik).

          Empat status manusia menurut Agustinus :
          manusia sebelum jatuh dalam dosa : dapat berdosa (posse peccare),      dapat tidak berdosa (posse non peccare)
          manusia setelah jatuh dalam dosa :  tidak dapat tidak berdosa (non posse non peccare)
          manusia yang sudah lahir baru : dapat berdosa (posse peccare), dapat tidak berdosa (posse non peccare)

          manusia dengan tubuh kemuliaan : tidak dapat berdosa (non posse pecarre)

Sunday, July 19, 2015

Dosa Saul


Ev. William

1 Sam 15 : 1-11
1  Berkatalah Samuel kepada Saul: "Aku telah diutus oleh TUHAN untuk mengurapi engkau menjadi raja atas Israel, umat-Nya; oleh sebab itu, dengarkanlah bunyi firman TUHAN.
2  Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.
3  Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai."
4  Lalu Saul memanggil rakyat berkumpul dan memeriksa barisan mereka di Telaim: ada dua ratus ribu orang pasukan berjalan kaki dan sepuluh ribu orang Yehuda.
5  Setelah Saul sampai ke kota orang Amalek, disuruhnyalah orang-orang menghadang di lembah.
6  Berkatalah Saul kepada orang Keni: "Berangkatlah, menjauhlah, pergilah dari tengah-tengah orang Amalek, supaya jangan kulenyapkan kamu bersama-sama dengan mereka. Bukankah kamu telah menunjukkan persahabatanmu kepada semua orang Israel, ketika mereka pergi dari Mesir?" Sesudah itu menjauhlah orang Keni dari tengah-tengah orang Amalek.
7  Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir.
8  Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang.
9  Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka.
10   Lalu datanglah firman TUHAN kepada Samuel, demikian:
11  "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." Maka sakit hatilah Samuel dan ia berseru-seru kepada TUHAN semalam-malaman.

Pendahuluan

                Apa dosa Saul? Ketidaktaatan. Memang ketaatan merupakan tindakan sulit untuk dilakukan (susahnya taat, lebih mudah tidak taat. Susahnya diatur, lebih mudah mengatur). Setiap kita belajar tidak taat sejak kita kecil. Orang tua mungkin kesal ketika anaknya tidak taat terhadap perintahnya, padahal perintah orang tua pasti baik untuk sang anak (misal : ayo makan biar sehat). Tapi sang anak tidak melihatnya begitu sehingga orang tua mungkin kesal. Demikian juga dengan Tuhan.

Mengapa Allah membenci ketidaktaatan?

1.    Ketidaktaatan akan salah menuntun kita dalam menentukan prioritas.

          Ada seorang remaja menatap dengan pandangan kosong karena sedang bergumul dalam percintaannya. Padahal ia masih sangat muda dan perlu melengkapi diri agar dapat mengejar cita-citanya. Seharusnya ia jangan berfokus ke hal-hal yang lain. Janganlah kesukaan hidupnya sekedar mencari pasangan hidup. Saat SD, SMP dan SMA mungkin kita tidak belajar dengan baik karena suka main game, olah raga sepak bola, basket dll. Prioritas kesukaan akan menuntun kita pada ketidaktaatan.

Saul adalah anak dari Kish dari suku Benyamin (1 Sam 9:1-2). Saul tidak hanya tampan, badannya juga kekar dan besar (lebih tinggi dari orang sebangsanya) dan kemudian diangkat menjadi raja. Hal ini disebabkan umat Israel menginginkan raja yang kelihatan (1 Sam 8:19b-20  harus ada raja atas kami;  maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang."). Kepada nabi Samuel bangsa Israel berkata, "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain." (1 Samuel 8:5). Sehingga TUHAN berfirman kepada Samuel: "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." (1 Samuel 8:22) dan, “Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." (1 Sam 15:2-3)  Ternyata Saul tidak taat (1 Sam 15:9 Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka). Saul memilih kambing, domba dan lembu yang terbaik dan tambun untuk pesta bersama rakyat Israel.
Samuel kemudian menegur Raja Saul ,” Mengapa engkau tidak mendengarkan suara TUHAN? Mengapa engkau mengambil jarahan dan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN?" (1 Samuel 15:19) Ketidaktaatan meletakkan salah prioritas kesukaan dari kita.

Ketika kuliah teologia di SAAT, para siswa harus  bangun pk 5 untuk bekerja bakti. Ada yang menyapu ,mengepel, membersihkan WC dll. Usai bekerja bakti, kami harus bersaat teduh.  Suatu ketika ada seorang kakak tingkat berkata, “Wil saya lelah. Saya mau tidur saja. Nanti tolong bangunkan saya”. Hal ini tidak mengherankan karena tadi malam dia bergadang untuk persiapan ujian bahasa Yunani yang merupakan mata pelajaran yang sulit. Saya kemudian membiarkan dia tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba seorang dosen mengetuk pintu dan melihatnya masih tidur. Akhirnya dia pun bangun dan berkata, “Saya sakit.” Padahal dia tidak sakit. Seharusnya momen “saat teduh” dan berdoa pagi menjadi kesukaan orang percaya (Kristen) dan sebaliknya bukan membuat kita bosan dan lelah. Pertanyaannya : apakah kita meletakkan kesukaan kita pada Tuhan atau pada diri kita?

2.  Ketidaktaatan menuntun kita salah dalam meletakkan rasa takut.

1 Sam 15:24 Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi titah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mengabulkan permintaan mereka. Di sini terlihat Raja Saul salah meletakkan rasa takutnya. Seharusnya kalau Saul taat pada Tuhan, maka  rasa takutnya diletakkan pada Tuhan. Saul memilih rampasan terbaik untuk dinikmati bersama-sama bangsa Isarel, padahal harusnya semua ditumpas. Di sini kita melihat bagaimana Raja Saul salah meletakkan rasa takutnya. Jawab Saul pada ayat 15 : "Semuanya itu dibawa dari pada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu; tetapi selebihnya telah kami tumpas." Dikatakan “sebab rakyat” berarti Raja Saul  menuduh rakyatnya yang melakukannya. Hal ini seperti yang dialami oleh Hawa. Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kej 3:13) Jadi Hawa menyalahkan ular. Raja Saul dan Hawa merasa takut yang disebabkan akan hukuman sehingga mereka menuduh yang lain. Awalnya Raja Saul takut kepada rakyat dan selanjutnya takut pada penghukumannya sendiri. Ketika tidak taat , maka kita meletakkan sesuatu pada hal yang salah.

B.J. Habibi (79) merupakan presiden ketiga Indonesia (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999) dan dilantik setelah presiden Soeharto mengundurkan diri. Sebagai presiden, dia harus bertanggung jawab pada banyak masalah, salah satunya pemisahan Timor Timur dari NKRI. Saat itu ia mendapat tekanan. Rakyat Timor Timur minta agar Timor Timur dimerdekakan, demikian juga ada dorongan dari PM Australia. Setelah referendum pemisahan dari NKRI tahun 1999, terbentuklah Negara Timor Leste. Hal ini menunjukkan terkadang pemimpin sulit membuat keputusan saat rakyat meminta sesuatu untuk dlakukan karena ada rasa takut membuat rakyat kecewa. Pdt. Hery Guo menasehati saya, “Sebagai pemimpin rohani kamu tidak boleh takut dicerca. Katakan yang benar terhadap tindakan yang salah.” Seorang pemimpin sering berada pada posisi yang sulit. Bangsa Israel berkata, “Sudah, kita makan saja bersama-sama lembu-lembu ini.” Raja Saul merasa tidak enak karena nama baiknya akan hancur bila menolak permintaan rakyatnya itu. Semua orang percaya diminta “takut akan Tuhan”. Di Alkitab, banyak perkataan “Takutlah akan Tuhan.” Pengertian “takut” secara umum berbeda dengan takut akan Tuhan. Secara umum , saat merasa takut maka  kita akan menghindarinya. Sedangkan rasa “Takut akan Tuhan” membuat kita dekat dengan Tuhan. Rasa takut ini disebabkan kita merasa diri kita merupakan ciptaanNya (kita merasa kecil maka kita kagum dan hormat sehingga kita harus menyembah padaNya dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan).

3.   Ketidaktaataan salah menuntun kita dalam meletakkan pujian.

Ayat 12  Lalu Samuel bangun pagi-pagi untuk bertemu dengan Saul, tetapi diberitahukan kepada Samuel, demikian: "Saul telah ke Karmel tadi dan telah didirikannya baginya suatu tanda peringatan; kemudian ia balik dan mengambil jurusan ke Gilgal." Rupanya Raja Saul terburu-buru membuat satu tanda peringatan untuk dirinya sendiri (biasanya untuk Tuhan) sebagai tanda keberhasilannya memimpin bangsa Israel menang terhadap bangsa Amalek. Berarti dalam pandangan Raja Saul, “karena tindakanku, aku memuji diriku dengan membuat monumen untuk diriku sendiri (yang seharusnya untuk Tuhan)”. Akhirnya Tuhan menyesal (1 Sam 15:11). Sedangkan di bagian Alkitab lainnya dikatakan :  Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bil 23:19) Penyesalan di sini berbeda dengan penyesalan dalam kalimat, “Presiden RI menyesal akan kejadian pemboman di Bali”. Penyesalan di sini tidak disebabkan karena presiden telah melakukan pembonan di Bali. Bahasa Ibrani נחם - NÂKHAM secara "konseptual" bermakna ' tidak sesuai dengan yang dikehendaki sehingga memerlukan penghiburan, hal-hal yang tidak memuaskan hati'. Jadi Tuhan nakham berarti Tuhan berkabung karena menjadikan Saul sebagai raja.

Ada seorang anak rohani saya yang rajin pelayanan, setia bergereja dan menjadi aktivis di gereja. Suatu kali dia menelpon dan bertanya dengan nada cemas, “Bang Wil ada waktu?”. Maka saya menyempatkan diri untuk mendatanginya. Saat bertemu, ia sedang menangis dan kemudian berkata,”Saya merasa sangat berdosa. Saya seorang pelayan Tuhan tetapi saya kedapatan berhubungan seks di mobil oleh polisi” Polisi tersebut rupanya menggedor mobil dan mendapatinya sedang berhubungan seks. Kemudian ia berkata, “Saya mau bunuh diri!” Saya berkata,”Jangan bunuh diri tapi bertobatlah!” Seorang pelayan Tuhan (aktivis) bisa jatuh dalam ketidaktaatan dan menyesalinya. Anak tersebut ingin terlepas dari rasa bersalahnya. Selama ini ia sering dipuji. Ia melayani dengan dan baik menyanyi dengan bagus. Polisi yang memergokinya berasal dari 1 gereja dan sewaktu menangkapnya sang polisi pura-pura tidak kenal. Saya pun mendatangi polisi itu untuk mencari solusi untuknya. Tindakan aktivis tesebut membuat kecewa. Penyebabnya ada pujian yang dibangun sejak lama. Pujian itu membuat kita “berdiri” dan kita lupa bahwa kita adalah manusia berdosa!

Salah satu contoh lainnya adalah tindakan hukuman mati di Perancis yang dialami oleh Ratu Perancis Marie Antoinette (1755-1793). Ratu ini sangat ingin dipuja sehingga membelanjakan uang untuk menjaga penampilannya, padahal Perancis saat itu sedang mengalami krisis ekonomi. Waktu mau dihukum mati dengan guillotine dia berkata, “Kasihanilah aku, karena sebenarnya aku tidak mau melakukan ini.” Jangan sampai waktu hukuman datang baru kita berkata, “Tuhan kasihanilah saya.” Harusnya kita taat karena kita manusia berdosa. Sebagai pekerja yang luar biasa, kita mungkin mendapat banyak penghasilan sehingga kita lupa bahwa pemberi berkat adalah Tuhan dan kita lupa berlaku setia dan taat dalam kehidupan kita. Sebagai siswa seharusnya kita fokus untuk belajar dan  menata hari depan. Jangan menyalahkan Tuhan kalau kita tidak menyelesaikan studi. Jangan sampai kita salah meletakkan prioritas hidup kita. Mari kita meletakkan pujian kita hanya pada Tuhan, karena dialah sumber berkat dalam kehiduapn kita. Amin.


Sunday, July 12, 2015

Dosa Adam

Pdt. Hery Kwok

Kejadian 2:15-17, 3:1-5
15  TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
16  Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
17  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
1   Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"
2  Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3  tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati."
4  Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,
5  tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Pendahuluan

                Kita sering mendengar istilah  dosa. Ada yang memiliki pemahaman tentang dosa yang sangat  sederhana. Ada yang mengatakan bahwa dosa itu sangat manusiawi sehingga kalau manusia berbuat dosa maka Tuhan pasti akan mengampuni. Pemahaman tentang dosa yang sederhana dan dangkal memberikan gambaran bagaimana kehidupan orang tersebut. Bagaimana cara memandang dosa demikianlah orang itu akan hidup.

Dosa Adam

                Kitab Kejadian merupakan kitab yang paling banyak dibaca karena menjadi pendahuluan (kitab awal) di Alkitab dan seringkali diceritakan guru-guru Sekolah Minggu kepada anak-anak  Sekolah Minggu. Jadi anak-anak Sekolah Minggu sangat mengenal cerita tentang kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Apakah dosa Adam?

1.    Menyalahgunakan Kebebasan yang Diberikan Allah

          Kej 2:15-17 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."  Alkitab memberi penjelasan bahwa Allah memberi perintah kepada Adam supaya Adam boleh memakan buah di Taman Eden dengan bebas, hanya buah tentang pengetahuan yang baik dan yang jahat yang tidak boleh. Allah memberi kebebasan kepada Adam (manusia). Mengapa manusia diberikan kebebasan itu, karena justru kebebasanlah yang menyebabkan manusia jatuh dalam dosa? Mengapa Allah yang maha tahu dan bijaksana memberi manusia kebebasan karena kalau diberi kebebasan maka terjadilah kejatuhan manusia dalam dosa? Pertanyaan ini sangat menarik, karena Alkitab memberitahukan bahwa manusia bebas untuk makan semua buah kecuali satu dan hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi kebebasan agar Adam belajar mentaati Allah! Allah sungguh amat baik dalam menciptakan manusia. Saat Allah menciptakan manusia, Dia menempatkan ciptaanNya ini sangat tinggi dibandingkan ciptaan yang lain. Sebagai mahkota ciptaan Dia menaruh kebebasan (hak istimewa)  pada manusia. Allah memberi kebebasan karena Allah menaruh penghormatan terbesar dan hak isimewa kepada manusia (manusia bukan robot). Itu sebabnya hak istimewa yang diberikan AlLAH kepada manusia merupakan hal yang sangat penting. Karena kebebasan itu merupakan fondasi (mencerminkan) nilai moral manusia.
          Contoh praktis : waktu saya dilarang minum narkoba dan tahu ini tidak baik lalu tidak mengambilnya karena saya tahu, mengerti dan rela tidak memakainya itu lahir dari kebebasan saya. Kalau kemudian saya meminumnya berarti nilai moral saya sangat buruk sekali. Justru pondasi dan nilai seseorang ada di dalam kebebasan yang Allah berikan. Nilai itu ada pada kerelaan dalam melakukan apa yang Tuhan perintahkan (Allah tidak memaksakannya). Seharusnya dari Adam lahir ketaatan kepada Allah. Ada seorang laki yang pergi jauh untuk merantau dan mencari uang sehingga meninggalkan keluarga. Saat berada jauh dari keluarga, ia bisa pergi ke seorang pelacur atau tidak. Kebebasan ini ada di dalam dirinya dan itu  untuk melihat pondasi dari nilai moralnya. Waktu ia tidak melacur berarti laki-laki ini adalah orang yang setia. Yusuf ditawarkan  oleh istri Potifar dosa berupa kenikmatan seksual. Yusuf tahu dan tidak melakukannya sehingga kita menemukan nilai moralnya yang luar biasa! Saat menjadi guru, saya memberi test mendadak lalu para siswa saya tinggal untuk mengerjakannya.  Sebelumnya saya berpesan, “Saya percaya kamu tidak akan mencontek dan saya berharap kalian menghargai kepercayaan saya.” Beberapa guru yang mengetahui hal ini berkata, “Kamu guru yang nekad dan tidak karuan. Pastilah anak-anak akan mencontek!” Saya berkata,”Tidak apa –apa. Saya harus memberi pemahaman yang jelas tentang kebebasan. Pada waktu ada yang mencontek , maka kebebasan itu akan keluar dan menjadi pondasi  untuk melihat nilai moral.”
          Dosa Adam ialah menyalahgunakan kebebasan yang diberikan Allah. Padahal kebebasan itu merupakan penghormatqn terbesar dan hak istimewa yang ditaruh Allah pada manusia. Namun manusia gagal melihat kebebasan itu. Ada 2 pilihan dalam menyikapi kebebasan. Adam bebas untuk mentaati Allah atau bebas untuk hidup berpusatkan pada diri sendiri. Penyalahgunaan kebebasan inilah yang terlihat pada Kejadian 3 saat manusia ditawarkan iblis bahwa manusia akan sama seperti Allah sehingga manusia ingin menggantikan Allah dalam hidup mereka. Kebebasan yang disalahgunakan ini  menjadi dosa dalam dunia pada manusia yang pertama.
          Alkitab memberikan penjelasan tentang kegagalan manusia pertama yang tidak,menjalankan kebebasan dengan sebaik-baiknya. Adam yang pertama gagal melakukan kebebasannya untuk taat pada Allah. Adam yang kedua yaitu Kristus melakukan kebebasan dengan berpusat pada Allah. Dengan kebebasan yang diberikan Allah seharusnya menjadi kehormatan bagi manusia karena Dia memberikan hak istimewa pada ciptaanNya. Tetapi bagaimana kita menggunakan kebebasannya menjadi hal lain. Apakah ditujukan (dipusatkan) pada kepentingan Kristus? Kalau berpusat pada diri saya, maka akan berdasarkan pada apa yang saya mau, pilih dan kehendaki. Ini sesuatu yang mengerikan. Apa yang terjadi pada Adam merupakan kegagalan nenek moyang kita seharusnya menjadi perhatian karena selanjutnya diteruskan oleh keturunannya yaitu kita.
          Waktu seorang anak perempuan jatuh dalam dosa seks dengan pacarnya lalu ia menyadari kegagalan nya karena tidak menjaga kesucian hidupnya. Waktu anak gadis diberi kebebasan untuk kepentingan , kepuasan dan kenikmatan diri sendiri maka ia menjual dan memberikan tubuhnya pada pacarnya. Karena kebebasan itu dilakukan untuk kenikmatan. Maka kita harus memahami dosa yang sedemikian berbahaya karena kita tidak mau melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang baik dan berguna. Kita selalu melihat perintah Allah sebagai sesuatu yang mengekang (membatasi) saya dan  membuat kita tidak bisa menikmati hidup sehingga banyak orang muda jatuh dalam dosa. Mari kita meningkatkan pemahaman kita untuk tidak menyalahgunakan kebebasan yang Allah berikan kepada kita sebagaimana diberikan kepada Adam.

2. Menolak Kehendak Allah

          Pada waktu manusia pertama mengambil dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat (dosa dalam diri nenek moyang kita Adam) berarti Adam menolak kehendak Allah yang kekal, yang ada dalam seluruh ciptaanNya dan yang menginginkan keselamatan dan kebahagian kekal untuk manusia. Cara iblis menaruh curiga dalam diri manusia licik sekali. Ia membuat jebakan dalam pertanyaan"Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?"(Kej 3:1b). Ia memberikan lemparan / pancingan dengan memutarbalikkan perkataan Allah, “semuanya tidak boleh dimakan bukan.?” Waktu si jahat memberikan pertanyaan umpan dan diharapkan diresponsi oleh manusia. Ternyata manusia memberi respon. "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." (Kej 3:2-3). Lalu iblis memberi pancingan kedua, Sekali-kali kamu tidak akan mati (Kej 3:4b), “Itu kecurigaan Allah saja! Dia tidak mau kamu sejajar dengan Allah.” Iblis menaruh bibit kecurigaan manusia kepada Allah dan bibit ini menjadi sangat subur saat manusia tidak takut dan menolak kehendak Allah yang kekal. Ada seorang hamba Tuhan membuat pernyataan, “Kala saya melayani di suatu gereja lalu jemaat mulai curiga maka saya tidak mau bicara. Kalau sudah curiga, maka seluruh pikiran kita yang baik tidak akan ditangkap dan diterima.” Dan ini merupakan penolakan jelas terhadap kehendak Allah. Berbeda antara hamba Tuhan yang menggembalakan jemaat dengan penginjil yang datang sebentar lalu pindah lagi terletak dalam respon jemaat. Pada waktu penginjil datang mengegor dosa jemaat hingga menangis, lalu penginjil itu tidak pusing setelah ia tidak ada lagi. Tapi waktu seorang hamba Tuhan yang merawat dan memberikan nasehat rohani lalu dicurigai maka jemaat tidak pernah menangkap pesannya dalam kehidupan rohani. Kecurigaan ini adalah bentuk penolakan terhadap apa yang baik. Perintah Allah adalah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, namun iblis menaruhkan kecurigaan pada kehendak Allah yakni supaya manusia menikmati kebahagiaan bersama Allah (bagaimana manusia menyembah pada Allah yang layak disembah). Waktu Tuhan Yesus bergumul di Taman Getsemani, pergumulanNya luar biasa berat. Yesus Kristus tidak takut secara fisik akan disalib , lambung ditusuk, tangan diikat, dimahkotai duri dan berdarah. Dia tidak takut. Kegentaran Dia adalah bagaimana Dia harus melakukan kehendak Allah untuk menebus manusia berdosa. Maka Yesus Kristus melakukannya dengan baik, karena Dia tahu kehendak BapaNya itu yang baik supaya manusia yang diciptakan dikembalikan dalam kondisi seperti Allah.
          Seberapa jauh kita menolak kehendak Allah? Banyak sekali! Manusia sering melihat apa yang diajarkan Kitab Suci selalu mencoba memplintir dan memberi toleransi terhadap apa yang Tuhan ajarkan. Hidupnya tidak berdasarkan firman Allah. “Tuhan bisinis ini harus ada di tangan saya, saya yang menentukan caranya.” Orang tua saya lumpuh sehingga ia bekerja serabutan. “Yang penting tidak mencuri” begitu prinsipnya. Lalu ia meribakan uang. Jadi saya lahir dalam keluarga yang lumpuh dan bunga uang. Saya berkata,”Pa jangan meribakan uang. Itu tidak boleh, karena Dia mencukupkan kita dan memelihara kita.” Papa saya menjawab, “Kamu sok tahu! Saya tidak mencuri. Kamu hidup dan sekolah saya yang biayai. Apa yang Allah kehendaki tidak benar.” Saya tidak bisa bicara, lalu Allah mengijinkan ia sakit sehingga uangnya tidak bisa lagi digunakan untuk biaya cuci darah. Kehendak Allah itu ada di dalam Kitab Suci. Kehendak Allah itulah yang harus kita lakukan. Kalau kehendak Allah sudah jelas, kita jangan menolak. Seringkali kali kita tidak melakukannya karena kehendakNya tidak sama dengan kehendak kita. Contoh : waktu mencari jodoh carilah sesuai kehendak Allah. Jangan mengandalkan matamu yang hanya melihat fisik semata karena Dia memberikan yang baik.
          Tujuan Allah menyatukan kita. Dua karakter dan budaya yang berbeda, segalanya berbeda, supaya dalam keberbedaan itu mempunyai kebahagiaan. Itu kehendak Allah dalam pemahaman tentang Kristus. Agama Kristen dan Katolik berbeda. Waktu kehendak Allah dinyatakan, orang muda sering menolak dan tidak mengaplikasikannya dalam hidup dan bisnis. Kita kagum dengan gereja yang membangun tanpa menyogok supaya ijin bangunan lolos walau dengan mengikuti prosedur maka memakan waktu terlalu lama. Kita berpikir apa yang kita mau. Ini membuat kita menolak kehendak Allah yang sedemikian baik. Suatu kali saya ditilang di Jawa Tengah. Saya kalau mengemudi kendaraan di luar kota agak kencang karena bila lambat bisa ditabrak truk dan bus. Di Muntilan, Jawa Tengah saya diberhentikan polisi yang mengatakan saya menyerobot lampu merah. Berdebat dengan polisi saya tidak menang dan  saya akan ditilang. Saya bertanya,”Apakah bisa diberi pengampunan untuk tidak ditilang?” Sang polisi menjawab,”Ada caranya. Masukkan uang ke dalam amplop!” Saya keberatan. “Kamu mau ditilang? SIM kamu SIM  Jakarta tapi kamu harus ikut persidangan di sini!” sang polisi menambahkan.  Saya berkata, “Saya bisa kirim uang ke adik ipar karena itu tidak sesuai dengan hati saya. Saya mengajar jemaat untuk tidak menyogok masa saya menyogok?” Namun akhirnya saya ditilang dan saya putuskan untuk buat lagi di Jakarta. Waktu itu saya mengurusnya di SAMSAT Daan Mogot. Di sini saya ditanya, “Mengapa buat SIM lagi?” Saya menjawab apa adanya bahwa SIM saya ditilang. Sang polisi bertanya,”Kamu mau ditolong tidak? Kamu kasih duit nanti saya kasih kode!” Saya tidak mau sehingga sang polisi berkata,”Ya sudah!”. Saya lalu mengikuti tes teori. Peserta lainnya ada yang tukang bajaj dan supir mikrolet yang tidak mengetahui arti rambu lalu lintas!. Waktu sedang menunggu ternyata tukang bajaj lulus, saya pikir saya juga akan lulus. Saya terus menunggu. Akhirnya saya bertanya, “Mengapa saya belum dapat hasilnya?” Ternyata saya dikatakan tidak lulus!  Saya pun protes, “Tukang bajaj saja lulus padahal ia bertanya kepada saya. Kenapa saya tidak?” Sempat terpikir “Mengapa saya tidak kasih uang saja. Kan sederhana? Tapi saya memutuskan :  TIDAK!” Lalu saya maju lagi dan bertanya di bagian computer,”Saya guru. Guru kalau ditanya siswa tentang nilai maka akan saya beritahu. Sekarang saya ingin bertanya mengapa saya gagal?” Seumur hidup, mungkin belum pernah ada yang bertanya seperti itu kepadanya. Setelah melihat di computer, akhirnya ia berkata, “Sdr. Heri kamu diluluskan!” Waktu saya bertahan untuk tidak menyogok itu dilemma. Waktu pikirkan apa yang Allah ajarkan tentang kehendak Allah, kita akan belajar.
          Kehendak Allah ditolak oleh Adam dan Hawa dan itu yang dilakukan oleh manusia. Mari belajar supaya kita jangan mencurigai dan menolaknya. Allah sumber hidup dan terang dan di dalam Dia ada terang dan kehidupan. Kalau tidak percaya kehendak Dia dan tidak melakukannya kita hidup dalam kegelapan dan kematian. Sehingga dosa manusia adalah menolak kehendak Allah.

3. Manusia ingin Menggantikan Allah

          Manusia ingin menggantikan Allah sebagai pencipta dalam hidup manusia. Pada ayat 5 dikatakan tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."  Di sini manusia akan menjadi penentu mana yang baik dan mana yang jahat (bukan Allah yang menentukan). Pada zaman hakim-hakim, dosa terjadi karena manusia melakukan sesuatu yang menurut hatinya benar. Tolok ukurnya adalah diri sendiri. Manusia menjadi penentu dan bukan Allah. Jadi yang mengatakan baik atau tidak bukanlah Allah., Kalau saya katakan baik maka akan saya lakukan dan menikmatinya. Ini yang sangat berbahaya, karena kita terbatas dalam hikmat bijaksana dan segala hal. Dalam keterbatasan kita, kita menentukan sesuai kehendak kita, menjadi hakim dalam diri kita, maka kita menjadi Tuhan atas diri kita, ingin sama seperti Allah. Waktu Lucifer jatuh menjadi setan, ia tidak pernah mau untuk menjadikan Allah sebagai pusat untuk menerima penghormatan dan pusat segala-galanya dan ia ingin sama seperti Allah. Ia ingin sejajar dan duduk bersama dengan Allah dan menjadi penentu dan penguasa. Dosa ini  mengerikan!  Allah bukan lagi Allah. Waktu keunggulan manusia dalam otak diagungkan, manusia menentukan diri sebagai Allah. Itu dibuktikan dalam sejarah gereja, mereka menjadi allah dalam hidupnya bukan sebagai mahluk yang memberikan penyembahan kepada Allah.

Penutup


                Waktu kita belajar tentang dosa mari kita belajar tentang Allah dengan baik. Filipi 3:10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,. Kalau mengenal Allah maka  kita akan mengenal kehendak , rencana dan kebaikanNya dalam hidup kita. Mari kita mengenalNya supaya Dia menjadi Tuhan dan Allah dalam hidup, bisnis, dan masa depan kita.          

Dosa Akhan


Pdt. Albert Sutanto

Yosua 7:1-6,12,21
1   Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu, karena Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.
2  Yosua menyuruh orang dari Yerikho ke Ai, yang letaknya dekat Bet-Awen, di sebelah timur Betel, dan berkata kepada mereka, demikian: "Pergilah ke sana dan intailah negeri itu." Maka pergilah orang-orang itu ke sana dan mengintai kota Ai.
3  Kemudian kembalilah mereka kepada Yosua dan berkata kepadanya: "Tidak usah seluruh bangsa itu pergi, biarlah hanya kira-kira dua atau tiga ribu orang pergi untuk menggempur Ai itu; janganlah kaususahkan seluruh bangsa itu dengan berjalan ke sana, sebab orang-orang di sana sedikit saja."
4  Maka berangkatlah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu ke sana; tetapi mereka melarikan diri di depan orang-orang Ai.
5  Sebab orang-orang Ai menewaskan kira-kira tiga puluh enam orang dari mereka; orang-orang Israel itu dikejar dari depan pintu gerbang kota itu sampai ke Syebarim dan dipukul kalah di lereng. Lalu tawarlah hati bangsa itu amat sangat.
6   Yosuapun mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya.
12 Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.
21 aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

Pendahuluan

                Banyak orang yang membuat definisi  tentang dosa. Ada orang yang berkata bahwa dosa adalah membunuh atau dosa adalah mencuri atau dosa adalah berdusta dan lain-lain. Di dalam perikop Yosua 7:1-6 dosa adalah berubah setia kepada Tuhan sehingga manusia terjerumus dalam dosa mencuri, perzinahan, pembunuhan dan lain sebagainya. Yosua 7:1b Tetapi orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu. Jadi karena orang Israel berubah setia kepada Allah maka mereka mengambil barang yang dikhususkan itu dan melakukan dosa. Ini adalah dosa yang dilakukan orang Israel sewaktu masuk ke tanah Kanaan. Waktu itu mereka melewati sungai Yordan dan mereka diperintahkan untuk menghancurkan kota Yerikho dengan catatan bahwa “jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan, supaya jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu setelah mengkhususkannya dan dengan demikian membawa kemusnahan atas perkemahan orang Israel dan mencelakakannya.  Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN." (Yosua 6:18-19). Tapi ada Akhan yang mengambil barang-barang yang dikhususkan itu karena ia berubah setia. Bila orang berubah setia kepada Tuhan, maka ia tidak taat dan peduli lagi kepada firman Tuhan dan ia pun melanggar perintah Allah. Setelah itu murka Tuhan turun atas Akhan, keluarganya dan seluruh bangsa Israel. Bila ada yang bertanya , “Apakah adil satu orang berbuat salah maka satu bangsa mendapat hukuman?” Jawabannya adil! Karena Tuhan tidak pernah tidak adil (Tuhan sudah mengingatkannya sebelumnya). Hal serupa juga terjadi saat Tuhan berkata kepada Adam, "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej 2:16-17). Mengapa Tuhan menaruh buah tersebut di taman Eden? Tidak semua rencana Allah kita mengerti. Tuhan punya hak untuk menaruhnya di sana. Namun satu hal yang harus dipercaya bahwa Allah tidak pernah merancangkan sesuatu yang menyusahkan anak-anakNya (Yeremia 29:11  Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan). Cara yang digunakanNya adalah urusan Allah. Pada waktu kita menghadapi sesuatu (masalah), kita jangan suka bertanya, “Mengapa?” Ubahlah pertanyaan itu dengan bertanya “Apa maksudnya?”

                Karena menderita sakit stroke yang sangat berat beberapa tahun lalu, cara berjalan saya masih tertatih sehingga di tempat yang belum saya kenal, istri saya menuntun saya untuk naik tangga. Saya tidak bertanya kepada Tuhan “Mengapa?” tetapi  saya bertanya “Apa maksudnya?” Setelah stroke, saya masih keluar kota dan keluar pulau untuk memimpin KKR di atas kursi roda. Saya bertanya, “Apa maksud Tuhan?” Saat terkena stroke, 4 pembuluh darah pecah dan sudah tidak bisa lagi ditangani oleh dokter. Dokter tidak jadi mengoperasi karena darah sudah penuh di kepala, namun puji Tuhan kepala saya masih “original” sampai saat ini. Saya tidak pernah masuk ruang ICU karena dokter berkata bahwa “tidak ada harapan”. Jadi saya hanya dimasukan ke  ruang isolasi saja. Saya tetap bersyukur dan tidak pernah berkecil hati. Setelah pulang, setiap hari saya hanya minta tolong orang-orang di rumah untuk bangkit dari posisi berbaring di tempat tidur dan kemudian berdiri di mimbar kecil yang ditaruh di samping tempat tidur. Di situ saya memandang kamar saya dan tersenyum. Saya tahu Tuhan punya rencana yang sangat indah, sehingga kita tidak perlu bertanya “Apakah adil?” Akhan berbuat dosa dan semua orang Israel dihukum itu menunjukkan  Tuhan punya rencana bagi Israel. Sikap kita harus bagaimana? Taat sepenuhnya! Kalau kita kembali ke peristiwa pada dosa yang dilakukan Akhan, orang seringkali mengelompokkan dosa Akhan sebagai dosa tamak.

                Tamak (serakah, rakus) mencakup banyak hal dan ketamakan itu sangat berbahaya. Orang yang serakah kemudian menjadi kikir. Orang yang mengutamakan uang, hidupnya hanya mengejar keuntungan. Kalau disimpulkan tamak berarti menginginkan sesuatu yang melebihi apa yang menjadi kebutuhan (keinginan melebihi kebutuhan). Di dalam hidup, kita harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kalau keinginan dijadikan kebutuhan maka kita akan terjerumus masuk ke dalam dosa tamak. Maka kalau mau beli sesuatu  pikirkanlah terlebih dahulu : ini kebutuhan atau keinginan? Kalau itu keinginan maka jangan paksakan diri (katakan tidak!). Bila tidak, setelah dibeli lalu mau taruh di mana di rumah? Paling diterlantarkan saja.

Arti Ketamakan

Bicara tentang ketamakan kita perlu tahu dahulu bahwa :

1.     Ketamakan itu sesuatu kebodohan. Lukas 12:15 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Hidup kita tidak tergantung pada kekayaan. Jadi mengapa harus mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk diri sendiri? Maka ketamakan itu kebodohan. Bukan berarti saya tidak setuju orang mencari uang yang banyak. Saya berdoa agar Tuhan memberkati kalau perlu berlimpah-limpah dengan cara yang benar dan kemudian memakainya dengan benar untuk kemuliaan Tuhan. Kalau sudah seperti itu, harta sebanyak apapun tidak membuat orang menjadi tergantung pada kekayaannya.

2.     Ketamakan berarti orang tidak bersandar lagi pada Tuhan. Janji Tuhan banyak. Contoh : "Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yes 41:10), “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan  engkau.” (Yosua 1:5) , "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b),   “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:25-26)  dll. Ini berarti kalau kita tidak yakin dengan firman Tuhan, maka kita akan bertindak sebaliknya. Itu akan masuk ke dalam kelompok ketamakan, tidak bersandar pada Tuhan dan hidup kita bergantung pada apa yang kita punya. Kita butuh semua dan Tuhan menyuruh kita mencarinya untuk bisa mendukung perjalanan hidup kita dan apa yang bisa kita perbuat di tengah di dunia bagi sesame, kita  dan Tuhan. Tetapi jangan punya konsep kekayaan itulah yang membuat kita bisa hidup di tengah dunia.

3.     Ketamakan itu sama dengan dosa penyembahan berhala. Tuhan Yesus berkata,  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Lukas 16:13) Kalau kita menjadikan uang segala-galanya maka kita akan mencari uang terlebih dahulu daripada mencari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam diri kita sudah ada ketamakan. Saya punya  3 orang anak dan 6 orang cucu. Sejak kecil saya sudah menanamkan suatu kebenaran bahwa di dalam hidup ini ada 2 harga. Harga supermarket dan harga kaki lima. Harga supermarket tidak bisa ditawar. Begitu masuk, harga sudah tertera. Maka saya katakan ke  anak-anak dan jemaat bahwa  dalam hidup ini ada 2 harga salah satunya harga tetap (harus dilakukan) yaitu setiap hari Minggu harus berbakti dan sebagai orang Kristen kita harus melayani Tuhan. Ini harga mati. Saya bersyukur, walau sesibuk apapun mereka tidak melupakan hal ini. Senin sampai Jumat boleh banting-tulang bekerja, hari Sabtu untuk keluarga dan hari Minggu untuk Tuhan. Apa yang saya inginkan mereka taati. Walau 5 hari kita bekerja, jangan sampai uang dan harta menjadi tuan dalam hidup kita. Carilah uang dengan cara yang halal sehingga Tuhan akan memberkati dan memakai semuanya itu untuk keluarga, sesama dan Tuhan. Saya takut sebagai pendeta salah berbicara bawah kalau Tuhan memberkati engkau pakailah semua untuk Tuhan karena hal itu tidak mungkin.  Kalau engkau kasih semua ke gereja maka engkau akan menyusahkan gereja karena engkau tidak punya apa-apa lagi sehingga bagian diakonia gereja harus mengurus kamu. Tuhan tahu kebutuhan kita, Kita bisa berkarya untuk sesama dan berbuat yang terbaik untukNya.

4.     Ketamakan membuat manusia menyimpang dari iman. Saya mencoba melihat janji Allah yang “Ya dan amin”. Pada tahun 1976, saya dan istri (saat itu masih calon istri) diwisuda di SAAT. Setelah berunding dengan calon istri, di hari wisuda itu juga saya berkata ke papa saya, “Papi mulai hari ini jangan dukung saya.” Padahal sebagai seorang kontraktor dan  pengusaha hotel, ia mampu mendukung saya. Saya belajar firman Tuhan dan saya sadar tidak boleh bersandar pada apapun tetapi harus beriman sungguh-sungguh. Papi saya heran sehingga bertanya,”Kamu tidak salah?” Saya berkata,”Tidak salah Pa!”. Lalu setelah itu selama 40 tahun saya hidup dengan beriman. Saya selalu melihat janji Tuhan digenapi. Di Gereja Kehidupan Rohan (jalan Gedong no. 5) setelah melayani 3 bulan, majelis bertanya, “Apakah Pa Albert sudah punya calon istri? Saya jawab, “Sudah!” Calon istri saya bisa berbahasa Mandarin karena dari Tiongkok dan bisa Bahasa Khe. Lalu ditanya, “Bagaimana kalau Pa Albert menikah saja?” Saya pikir baru masuk ladang 3 bulan dan uang belum cukup, tetapi majelis sudah mendorong. Saya kira nanti ada dukungan, padahal tidak! Kita sama-sama baru keluar melayani selama 3 bulan dan kita berjalan dengan imam. Pimpinan Tuhan luar biasa. Uang kami hanya bisa membeli tempat tidur dan meja rias yang sampai sekarang masih ada . Tempat tidur beli di pasar Senin (pinggir jalan) dan terbuat dari kayu jati walau tipis. Ada jemaat yang ingin menghias kamar tapi tidak bisa karena tidak ada kasur. Sampai hari pernikahan tidak ada kasur. Saya hanya berkata, “Baik untuk tulang belakang”. Keluarga saya datang dan mereka marah, “Kamu membuat malu keluarga!” Papa saya seorang kontraktor dan perhotelan, masa anaknya gara-gara tulang belakang tidur tanpa kasur?. Saya hanya menjawab, “Papi, saya sudah katakan bahwa saya mau berjalan dengan iman.” Terbukti bahwa akhirnya semua indah pada waktunya. Saya ingin melayani seluruh Indonesia dari desa dan kota besar, saya ingin melayani di 5 benua namun saya juga ingin anak-anak saya hidup layak. Kalau kita berani melangkah dengan iman, bukan berarti tanpa melibatkan pemikiran kita. Kita sebagai manusia harus berpikir dan berjuang sebagai manusia. Tetapi percayalah, orang yang bersandar padaNya, Tuhan tidak akan permalukan!

Proses Terjadinya Dosa Ketamakan

Kita perlu belajar dari proses yang dialami oleh Akhan sampai berubah setia dan mengambil barang-barang yang dikhususkan karena hal itu bisa terjadi di dalam diri kita juga. Yosua 7:21 aku melihat di antara barang-barang jarahan itu jubah yang indah, buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya; aku mengingininya, maka kuambil; semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali."

1.     Dosa Akhan dimulai dengan melihat. Dalam hidup orang mulai dengan memperhatian dan melihat. Barang-barang jualan diatur sedemikian rupa sehingga menarik orang untuk membelinya.
2.     Akhan berkata, “Aku melihat, setelah itu aku mengingininya.” Ini proses. Artinya dari mata turun ke hati. Lihat dahulu setelah itu muncul keinginan mengambil. Artinya ia melihat  jubah indah , emas dan perak sehingga hatinya tergerak.
3.     Lalu melakukannya (Akhan mengambil).
4.     Setelah itu Akhan tahu bahwa ia bersalah namun ia bersembunyi. Padahal mungkinkah manusia menyembunyikannya di hadapan Tuhan? Ada satu lagu Sekolah Minggu yang berjudul “Mata Tuhan Melihat:. Liriknya berbunyi Mata Tuhan melihat apa yang engkau perbuat. Baik yang baik maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat, Tuhan melihat.

Cucu saya kalau bersalah akan menyembunyikan mukanya tapi bagian belakangnya tetap kelihatan oleh saya. Demikian pula saat kita berdosa. Kita lupa bahwa Tuhan tahu dosa yang kita lakukan. Maka biarlah ayat 21 memberikan peringatan kepada kita, bahwa dosa dilakukan melalui proses : melihat, timbul keinginan, bertindak lalu bersembunyi.


Kita mungkin belum melakukan dosa Akhan, tetapi waspadalah! Kalau kita pernah melakukan dosa , sadarilah dan jangan terulang lagi. Di Lubang Buaya ada patung jenderal-jenderal yang dibunuh oleh PKI. Di tengahnya ada patung Jendral Ahmad Yani yang mengangkat tangannya dan  di bawahnya tertulis “Jangan terulang lagi!”