Monday, April 27, 2015

Transformasikan Aku!


Pdt. Jonathan Lo

Gal 6:14Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Pendahuluan

                Apa yang harus diubah dalam hidupku? Rasul Pauus berbicara, dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia (Gal 6:14b). Rasul Paulus menghubungkan “aku’ dengan “dunia”. Kalau aku semakin serupa dengan dunia, maka aku semakin jauh dari Tuhan. Jadi aku harus diubah oleh Tuhan supaya makin serupa dengan Kristus. Pada waktu kita menjadi serupa dengan Kristus, maka aku menyalibkan dunia bagi aku dan aku bagi dunia. Kedewasaan orang Kristen tidak ditentukan oleh seberapa giat ia melayani Tuhan. Melayani Tuhan itu baik tetapi kehidupan rohani tidak ditentukan oleh pelayanan kita tetapi ditentukan oleh seberapa jauh kita telah mati bagi dunia, dan dunia bagi aku. Kalau aku hidup makin menyerupai dunia, maka kita tidak pernah mengerti apa artinya kuasa kebangkitan Kristus bagi dunia. Bagaimana aku bisa mati bagi dunia? Yaitu melalui kuasa Roh Kudus dalam diri kita dan hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus sehingga seperti yang Rasul Paulus katakan dalam Gal 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Rasul Paulus hidup seperti itu karena bersandarkan kuasa kebangkitan Yesus Kristus dan membiarkan Yesus Kristus  yang memimpin kehendak dan pikirannya. Sehingga perubahan hidup kita dimulai dengan perubahan dari dalam, bukan diawali dari perubahan tingkah laku karena perubahan tingkah laku berasal dari dalam.

              Rasul  Paulus mengatakan bahwa  dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Apa yang dimaksud “dunia” oleh Rasul Paulus? Dunia selalu berkaitan dengan aku. Sebelum Kristus menguasai hidup kita, maka kita cenderung hidup bagi diri sendiri. Dunia ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Rasul  Yohanes mengatakan bahwa ada 3 hal yang berkaitan dengan dunia ini seperti yang dikatakan pada 1 Yoh 2:16  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

1.    Keinginan daging

          Keinginan daging berarti hidup yang mengikuti hawa nafsu dan serupa dengan dunia. Keinginan hawa nafsu bertentangan dengan keinginan Roh Kudus. Barangsiapa mengikuti keinginan daging maka tidak mungkin berkenan di hadapan Tuhan. Rasul Paulus pada Galatia 5 menjelaskan tentang keinginan daging. Keinginan daging menghasilkan perbuatan daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Gal 5:19-21). Perbuatan daging menonjolkan kepentingan diri sendiri.
          Saya bertemu dengan seorang Ibu yang mengatakan, “Saya telah berdosa di dalam hidup.” Saya bertanya, “Mengapa Ibu berkata seperti itu?” Si Ibu menjawab, “Saya benci sekali dengan perbuatan dosa yang saya lakukan ketika melihat anak laki-laki saya menikah bukan dengan orang yang berasal dari satu suku. Di dalam benak, saya tidak bisa menerima menantu saya. Saya membencinya tanpa alasan. Bahkan waktu tahun baru imlek saya tidak mau menerimanya saat dia datang. Bertahun-tahun menantu saya sulit menghadapi saya. Saya tidak bisa menerima dia di dalam hati saya!” Itulah keinginan daging yaitu berkaitan dengan keinginan, kepentingan diri dan keinginan duniawi. Tapi kemudian ia mengatakan, “Suatu saat saya mendengar bahwa Tuhan mengasihi saya, dan Tuhan telah menerima saya seperti semua orang. Tuhan tidak membedakan siapa pun juga. Pada saat itu firman Tuhan masuk dalam hati saya. Saya bertobat dan menangis di hadapan Tuhan. Saat pulang ke rumah saya berdoa, ‘Tuhan apa yang saya harus perbuat?’” Tuhan pun mengingatkan, “Terimalah  menantumu seperti Aku menerima engkau!” Lalu ibu  ini menelepon menantunya dan berkata, “Maafkan saya karena selama ini sudah menyusahkan kamu.” Menantunya sangat terperanjat mendengar perkataan itu, namun ia berkata, “Mama tidak perlu mengatakan seperti  itu.” Kemudian Ibu ini mengunjungi menantunya untuk pertama kali. Sang Ibu berkata, “Pada waktu saya melakukan itu, hati saya bergetar. Tidak ada harga diri yang harus saya pertahankan. Sebenarnya ada rasa malu di dalam diri saya kalau mengaku kesalahan diri saya, tetapi firman Tuhan bergema dalam hati saya. Saya tidak tahan dan kemudian memberanikan diri untuk berdamai dengan menantu saya.” Orang seperti ini belajar “mati bagi Aku.” Ia tidak hidup dalam hawa nafsu dan perpecahan serta membiarkan Kristus hidup dan menguasai dia. Itulah yang harus diubah dalam hidup kita. Jika kita  tidak berubah bagaimana kuasa Kristus bisa bekerja dalam hidup kita?
          Seringkali si “aku” yang muncul saat kita sedang melalui berbagai himpitan dan kesulitan. Suatu kali saat macet saya menginjak rem untuk menghentikan mobil. Namun mobil di belakang terus membunyikan klakson. Saya rasanya ingin marah. Kalau si “aku” menguasai hidup maka saya akan buka pintu dan mengatakan, “Mau apa kamu?” Tetapi saya bersama istri kemudian berdoa, “Tuhan ampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Si aku seringkali dimunculkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Kalau bertemu dengan orang yang tidak sesuai dengan kita, maka kita ingin marah dan ingin melakukan sesuatu yang membawa “aku” muncul dalam hidup kita. Tapi Rasul Paulus mengatakan, dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

2.    Keinginan mata.

          Rasul Yohanes mengatakan Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu ….., keinginan mata artinya segala sesuatu yang berasal dari luar diadopsi dan kemudian mengendalikan kita. Bentuknya bisa berupa harta. Harta sebenarnya tidak jahat, tetapi yang jahat adalah orang jahat yang berharta. Orang benar menggunakan hartanya untuk kebenaran. Oleh sebab itu jangan berdoa agar supaya bisa kaya raya, tetapi berdoa supaya takut akan Tuhan dan beriman. Kalau seseorang tidak takut Tuhan dan tidak punya iman, maka ia akan menggunakan hartanya untuk berbuat dosa dan ia akan menggunakan segala cara untuk menjadi kaya. Oleh sebab itu, punya iman lebih baik daripada punya harta. Bila seseorang punya iman tapi tidak punya harta maka ia bisa setia. Bila seseorang punya iman dan harta maka ia akan menggunakan hartanya melayani Tuhan. Jadi harta tidak jahat, yang jahat adalah hati kita yang menggunakan harta tersebut. Ada orang yang punya harta banyak tapi pelitnya luar biasa. Ada juga orang yang tidak miskin dan kaya tapi hatinya terbuka kepada orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Ada orang yang hartanya semakin banyak semakin pelit. Persoalannya bukan harta tapi hatinya yang sempit. Kalau hatinya  berubah maka ia menggunakan harta untuk melayani hatinya yang baik.
          Tidak mempunyai rumah yang ‘baik’ itu sebenarnya bisa berarti berkat. Walau tIdak memiliki sesuatu yang ‘baik’ kita harus menghargai pemberian Tuhan. Tetapi keinginan mata  tidak akan memiliki rasa puas untuk memiliki sesuatu. Kalau sudah memperoleh “yang ini” ingin lagi yang lain. Kalau sudah memperoleh yang diingini hatinya tidak pernah bersyukur. Orang yang hatinya tidak pernah bersyukur  tidak pernah tahu bahwa harta dalam hidupnya itu adalah anugerah Tuhan. Jadi jangan bersandar pada harta , manusia atau sesuatu yang kita miliki tetapi bersandarlah pada Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Ada orang yang punya uang lalu membeli baju yang mahal. Waktu dipakai , jalannya petantang-petenteng seperti sudah menjadi “manusia” yang hebat. Saat orang lain ngomong “bajumu bagus sekali”, ia hanya berkata, “biasa”. Tetapi kemudian ia bangkrut (tidak punya apa-apa) lalu mepakai baju yang mungkin hanya seharga Rp 20.000. Waktu datang ke gereja, ia malu. Kalau orang berkomentar “Bajumu bagus ya”, mungkin ia akan tersinggung dan berkata dalam hati,”Sudah bajunya murah dibilang bagus”. Apa yang kita pakai bisa menentukan diri kita sehingga perkataan tersebut dikira menghinanya. Diri kita seringkali terikat oleh sesuatu yang kita miliki. Oleh sebab itu kita merasa bangga atau sebaliknya susah pada waktu kita memiliki sesuatu yang berharga atau tidak berharga. Kalau kita mempunyai sesuatu yang berharga seakan-akan bisa menentukan jati diri kita. Kalau kita memiliki sesuatu yang tidak baik, maka harga diri kita runtuh. Itu membuktikan kita masih mengukur diri berdasarkan sesuatu yang dimiliki. Padahal seharusnya kita mati bagi dunia ini. Karena Kristus telah hidup di dalam diri kita, hidupku tidak lagi ditentukan oleh apa yang dimiliki tapi oleh penilaian Kristus.
          Jangan diri kita yang muncul dan kita tidak bersandar pada Tuhan gara-gara sesuatu yang kita miliki. Orang yang seperti ini tidak pernah maju di dalam kerohanian. Bahkan ada orang yang punya uang dan banyak memberi persembahan sehingga merasa gereja miliknya (kalau saya tidak memberikan persembahan gereja akan ditutup). Orang ini membuktikan kekosongan di dalam hatinya. Ia tidak mengerti tentang anugerah Tuhan. Hidupnya sebenarnya seutuhnya milik Tuhan. Jadi memuliakanlah Tuhan dengan sesuatu apa yang dimiliki. Dengan keinginan dunia maka hati tidak berbangga. Kita bisa memiliki  sesuatu yang baik, tapi jangan berbangga karena memilikinya. Karena apapun yang kita pakai, minum, gunakan, semuanya kita anggap seolah-olah tidak ada.

3.     Keangkuhan hidup.

          Kesombongan diri (keangkuhan hidup) artinya menganggap diri sebagai seseorang yang memadai dan cukup di dalam segala hal, berada di atas kemudian memandang orang lain rendah. Orang yang sombong biasanya berdiri di atas sesuatu . Mungkin karena ia memiliki kelebihan tertentu. Ada orang sombong karena cakap, memiliki rumah besar, skill yang luarbiasa, lebih pintar dari orang lain, anaknya berhasil di dalam pekerjaan dan lain-lain. Kita seringkali bisa mengatakan, “Saya lebih baik dari orang lain.”,oleh sebab itu ia berdiri di atas segala pemberian Tuhan. Seharusnya kita harus mati bagi dunia ini sebaliknya orang yang sombong tidak mengakui pemberian Tuhan. Orang yang sombong merampas segala sesuatu dari Tuhan dan mengatakan “Ini milik saya!”. Orang seperti ini tidak mengerti  dan mengenal siapa Tuhan itu. Oleh sebab itu perlu diubah agar kita makin rendah hati seperti Yesus Kristus. Kristus yang begitu tinggi turun ke dalam dunia untuk melayani. Bagi orang yang mengerti anugerah Tuhan, dia akan bermegah hanya di dalam Kristus. Aku ini orang yang tidak punya apa-apa, kalau bukan Tuhan berbelaskasihan dalam di hidupku, maka saya tidak mungkin bisa ada pada hari ini. Saya orang yang tidak punya apa-apa.
         Sewaktu berumur 4 tahun, papa saya meninggal. Saat itu sangat susah membayar uang sekolah. Jangankan membayar uang sekolah, mau makan saja susah setiap harinya sehingga saya mengalami putus sekolah beberapa kali. Tetapi akhirnya saya bisa bersekolah di Amerika Serikat 2 kali itu karena kemurahan Tuhan. Hari ini saya bisa mengambil pendidikan S2 dan S3, ini semua kemurahan Tuhan. Saya tidak berani mengutamakan “aku” karena Tuhanlah yang menjadi tujuan yang membuat saya bekerja dan Dia hidup di dalamku. Aku belajar mati. Saya berkata, “Tuhan tolong saya supaya saya rendah hati dalam melayani Tuhan agar bukan aku yang dimuliakan tetapi Engkau ya Tuhan.” Tetapi Tuhan memanggil saya dengan  luar biasa. Tuhan memberikan hati , beban dan semangat untuk melayani. Kuasa dari Kristus bekerja dalam hidupku, maka Rasul Paulus mengatakan, “Aku tidak mau berbangga akan apa pun juga. Aku tidak ada apa-apanya karena Yesus telah mati untuk aku.” Oleh karena itu kita harus belajar. Kia belum pernah selesai sekolah untuk mati bagi Kristus. Hari ini mungkin kita berhasil , tetapi besok bisa gagal. Oang yang mungkin tinggi hati besok bisa berubah menjadi rendah hati,. Kiranya kita bisa  memadang Kristus dan memancarkan kemuliaan Kristus dan bukan diri sendiri.
          Banyak orang yang sudah berumur hidup dalam keluarga di mana anak cucunya menghormati dia karena orang ini tidak pernah hidup untuk diri sendiri. Ada seorang ibu yang bersaksi dalam komisi misi.  Saya belajar banyak dari nenek saya. Nenek saya orang yang rajin melayani orang lain. Ia bertekad pergi ke rumah sakit untuk berbagi dengan para pasien  satu per satu. Tiap hari ia berdoa untuk orang yang ditemui dan berdoa untuk anak cucunya. Dia seorang nenek yang begitu sabar dan setia dalam Tuhan. Suatu saat nenek ini terkena kanker stadium 4. Pemeriksaan menyatakan demikian, namun nenek ini tidak diberitahu. Sekeluraga sudah mendiskusikan hal ini. Nenek itu kemudian bertanya, “Sebenarnya saya sakit apa? Saya punya Tuhan dan kalian tidak usah takut.” Akhirnya anak cucunya memberitahu penyakitnya yaitu kanker stadium empat. Lalu ia masuk ke kamar dan anak cucunya tidak tahu ia melakukan apa. Mereka berpikir sang nenek kecewa karena ia telah begitu setia melayani Tuhan tapi sekarang ia terkena kanker! Tapi setelah nenek itu keluar dari kamar itu, ia tetap merasa tidak punya masalah apa-apa. Lalu cucunya bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi dengan diri nenek? Kenapa engkau tidak memberikan suatu reaksi dukacita dan sedih seperti biasanya terjadi pada banyak orang?” Lalu sang nenek berkata, “Hidupku adalah Tuhan. Baik saya sehat maupun kena kanker, Tuhan beserta saya. Tuhan bisa sembuhkan saya, kalau tidak saya tetap bersama Tuhan. Cepat atau lambat saya akan bertemu Tuhan, mengapa saya harus marah dan kecewa dengan Tuhan?” Beberapa hari sesudahnya, pelayanan sang nenek berubah.  Ia pergi ke rumah sakit untuk melayani orang-orang yang terkena kanker. Ia masih bisa berjalan waktu itu dan berbicara ke orang lain satu per satu bahwa ia terkena kanker namun ia tidak takut karena punya Tuhan. Kemudian banyak orang percaya kepada Tuhan melalui pelayanannya. Cucunya mengatakan , “Pelayanan neneknya terakhir lebih banyak berbuah.” Setelah nenek tidak bisa berjalan di rumah sakit dan di rumah, orang mengunjungi dia untuk memberikan nasehat ke nenek itu. Tetapi setiap orang yang bertemu dengan dia, mempunyai pandangan  bahwa Tuhan sungguh hidup di dalam diri dia. Orang yang mau menghibur malah terbaik karena mereka yang dihibur. Orang seperti dia menguatkan mereka. Ibu yang bersaksi mengatakan, “Nenek saya bersaksi untuk kemuliaan Tuhan sampai tidak bisa bicara. Bahkan hidupnya masih tetap menjadi berkat bagi keluarga karena nenek hidup bagi Tuhan.” Orang yang hidup bagi diri sendiri, saat mati orang tidak mengingat dia. Tidak ada hal yang bisa pelajari dari orang yang hidup untuk diri sendiri. Orang yang hidup bagi orang lain, imannya dan keindahannya terus bersinar di tengah dunia.


                Bebeapa waktu lalu saya mengenal seseorang. Orang ini sebelumnya pernah 2 kali ke gereja dan sangat sulit menerima Tuhan . Uangnya banyak dan anaknya berada di luar negeri, tapi pelitnya luar biasa. Dalam hidupnya ia tidak pernah membagikan satu sen pun. Setelah ia meninggal tak seorang pun membicarakannya. Saudara-saudaranya pun tidak terlalu sedih. Orang Kristen tidak boleh seperti itu. Karena Yesus Kristus mati untuk kita, dan aku telah disalibkan bagi dunia. Belajarlah hidup seperti ini. Hidup ini singkat sehingga dalam waktu yang singkat kiranya dapat memberi arti / makna yang mulia. Kehidupan yang memiliki makna berarti dalam memuliakan Tuhan. Maka kita mohon kepada Tuhan. Dengan kuasa kebangkitan, aku menyerahkan hidupku . Walaupun fisik senakin melemah, tetapi diri batin kita senantiasa bertumbuh dan berbuah. 

Monday, April 20, 2015

Transformasi Petrus


Ev. William Andreas

Matius 4:18-20
18  Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.
19  Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
20  Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
Lukas 22:54-62
54  Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.
55  Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.
56  Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia."
57  Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!"
58  Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak!"
59  Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea."
60  Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
61  Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku."
62  Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.

Pendahuluan

                Saya memiliki sebuah cincin batu akik yakni batu bluesaphire. Suatu kali saya dan seorang teman kuliah melakukan kuliah praktek pelayanan di Jambi. Teman saya menyenangi batu akik dan kami pun pergi ke pasar untuk membelinya. Teman saya tertarik dengan batu akik berwarna biru Topaz. Penjual membuka harga batu tersebut sebesar Rp 200.000 dan karena merasa kemahalan teman saya menawar harganya menjadi Rp 50.000. Setelah tawar menawar akhirnya si penjual menjual batu tersebut dengan harga Rp 50.000. Batu tersebut kemudian dipakainya. Seorang jemaat yang menggemari dan ahli batu akik melihat batu tersebut. Ia dapat mengenali keaslian batu tersebut hanya dengan melihatnya.  Setelah memeriksanya ia mengatakan bahwa batu tersebut ternyata palsu! Sesuatu yang kasat mata mudah dibedakan sedangkan yang tidak kasat mata (seperti mencari pasangan hidup) sulit untuk membedakannya. Sewaktu saya melakukan pelayanan di Tasik, ada seorang jemaat yang bertanya, “Bagaimana caranya untuk mengetahui apakah seseorang itu Kristen atau tidak. Seseorang itu sudah percaya Tuhan Yesus atau belum? Apakah orang tersebut sudah  diselamatkan atau tidak?” Saya menjawab, “Kalau menurut kamu bagaimana?” Dia menjawab, “Orang itu harus mengaku Yesus sebagai Tuhan, hidupnya benar dan baik dan menghasilkan buah-buah roh.” Saya menjawab dengan mengajukan pertanyaan, “Pernah tidak betemu dengan orang seperti itu, yang akhirnya tidak percaya Yesus?” Ternyata ada! Ada orang yang memiliki pengetahuan bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi ia tidak mengimaninya. Saya kemudian menambahkan, “Kita tidak tahu dan kita juga tidak menilai apakah orang tersebut diselamatkan atau tidak. Yang perlu adalah menilai diri sendiri, apakah kita seorang Kristen sejati  dan mengikut Kristus atau tidak.” Di sini kita akan belajar dari  transformasi Rasul Petrus.

2 Hal yang Dipelajari dari Transformasi Rasul Petrus

1.     Tuhan menstransformasi (mengubah) Rasul Petrus. Dengan perubahan yang baru terjadi, Rasul Petrus mengalami pembaharuan. Namun tidak seperti perubahan bentuk pada film Transformers di mana pada film ini dikisahkan mobil (tronton) yang bisa berubah menjadi robot dan kemudian bisa berubah wujud kembali menjadi seperti semula. Perubahan pada transformasi berarti meninggalkan substansi (unsur) semula. Pada Roma 12:2 Rasul Paulus berkata, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Pembaharuan bahasa aslinya μεταμορφουσθε (metamorphousthe) yang artinya perubahan bentuk dan struktur yang terjadi pada hewan. Contohnya  dari telur menjadi pupa (kepompong) dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Setelah menjadi kupu-kupu, ia tidak berubah menjadi pupa (kepompong) lagi. Secara kasat mata Yesus meminta Petrus menjadi penjala manusia (Matius 4:18-20 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.  Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.").  Lalu Petrus dan Andreas meninggalkan jala mereka , meninggalkan profesi mereka  dan mengikuti Yesus. Allah memilih berdasarkan anugerah semata dan bukan karena mereka ikut audisi dalam mencari calon yang terbaik. Saya pernah mengikuti audisi “Indonesian Idol”. Sebelum bertemu dengan  artis yang menguji,  ada orang dalam yang menguji terlebih dahulu. Saya diminta untuk menyanyikan 4 buah  lagu yang berbeda-beda untuk mengetahui karakter suara saya. Menurut juri, suara saya karakternya berganti-ganti, sedangkan pengujinya  mencari yang karakter suara yang khusus dan khas yang terbaik dari baik. Yesus memilih Petrus dan Andreas bukan melakukan ajang audisi tetapi berdasarkan anugerah dari Tuhan. Itu adalah sesuatu yang tidak kasat mata. Kita bisa melihat prinsipnya lebih jauh pada 2 Kor 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Kata baru dalam bahasa Yunani ada dua yakni νέος (neos) dan καινός (kainos). Pengertian baru dalam kata neos terikat oleh waktu. Contoh : ipad yang dibeli 5 bulan lalu adalah jenis yang terbaru. Namun dengan berjalannya waktu, akan keluar tipe lain yang lebih baru dan seterusnya, sehingga apa yang baru sekarang menjadi usang (barang lama) di kemudian hari. Dalam 2 Kor 5:17 kata yang digunakan adalah kainos yang tidak terikat waktu (tetap). Jadi sebagai ciptaan baru, dengan berjalannya waktu kita tetap menjadi ciptaan yang baru. Apa yang dikatakan Yesus di sini bersifat tetap. “Manusia lama” kita harus disangkal sehingga kita terus menjadi ciptaan baru. Kita harus sadar dan memeriksa  apakah kita sudah menyadari bahwa kita adalah ciptaan yang baru (bukan yang lama yang hidup dalam dosa). Kita harus menguji diri kita apakah kita masih berjalan dalam keberdosaan kita atau sudah ditransformasi oleh pembaruan budi seperti kepompong menjadi kupu-kupu (tidak menjadi sesuatu yang lama lagi). Contoh aktor Roy Martin pernah memakai narkoba sehingga di penjara. Setelah keluar penjara ia menjadi duta narkoba agar orang lain tidak memakai narkoba. Namun ia sendiri kemudian memakai narkoba kembali sehingga masuk penjara lagi. Dia kembali kepada kesalahan yang sama. Bukan di sini bukan berarti dia dihakimi apakah dia diselamatkan atau tidak. Secara kasat mata, kita melihat bahwa dia kembali kepada kesalahan yang lama. Seharusnya kita menyangkal manusia lama kita karena sesungguhnya kita adalah ciptaan baru.


2.     Tuhan mentransformasi iman Petrus. Pada Mat 14:28-31 dikatakan Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."  Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.  Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"  Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Di sini, kita bisa melihat Petrus merasa ragu akan kehadiran dan kuasa Yesus. Ketika ia berjalan di atas air dengan imannya, ia ingin mengatakan bahwa dengan kemampuannya ia mau berjalan kepada Yesus. Padahal iman adalah anugerah dari Tuhan. Ketika SMP  saya dekat dengan seorang gadis. Setelah jalan selama beberapa bulan, saya diajak ciuman. Saya terdiam dan kemudian berlari pulang. Namun setiba di rumah “manusia lama” kembali dan saya merasa menyesal karena tidak melakukannya. Di tengah pergumulan yang ada, kita berhasil bukan karena kemampuan kita. Itu anugerah karena sebenarnya kita tidak mampu keluar. Petrus ingin melangkah tapi bukan karena kemampuannya melainkan hanya karena anugerah semata. Kemudian pada Lukas 9:20 Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Petrus berulang ragu dan percaya , tapi akhirnya ia ditransformasi imannya. Lukas 22:33 Petrus mengatakan, "Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" Padahal waktu ditanya ia menyangkali Yesus 3 kali (Mat 26-69-74). Namun setelah menyangkali Yesus, teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Mat 26:75). Berbeda dengan respon Judas yang menyesal tapi tidak mau bertobat, Petrus sadar dan menangis dengan sedih. Selanjutnya setelah Yesus disalibkan dan dikuburkan Maria Magdalena dan Maria yang lain ingin melihat YESUS di dalam kubur-NYA.  Setelah kubur Yesus terbuka, ternyata tidak ada mayat Yesus di sana,  Petrus langsung bangun, bangkit dan memeriksa kuburan Yesus. Akhirnya ia sadar bahwa Yesus benar-benar bangkit dan  ia makin berkorbar untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus. Petrus pun dipakai untuk memberitakan Injil sehingga 3.000 orang bertobat (Kis 2:41) dan merekalah yang  menjadi jemaat mula-mula. Itu semua anugerah semata! Iman percaya bukan merupakan kemampuan kita untuk percaya tapi berdasarkan anugerah semata. Saya pernah mengajak jemaat remaja untuk menginap dan ngobrol soal pacar. Kemudian saya bertanya, “Mengapa kalian menjadi Kristen dan percaya kepada Kristus? Memang Tuhan itu ada?” Setelah mendengar jawaban mereka, saya memberikan penjelasan dengan nyanyian Sejak Yesus di Hatiku (Charles H. Gabriel, 1914), Perubahan ajaib jadilah padaku, sejak Yesus kutrimalah. Dalam hati ada t’rang dan harap penuh, sejak Yesus kutrimalah Atau dengan lagu “Hidup.. hidup.. Yesus sungguh hidup , Kurasa slalu dekatNya, Yesus sungguh hidup… hidup di hatiku!” Kita perlu periksa apakah ada perubahan / transformasi yang terjadi dalam hidup kita. Dulu dengan sekarang berbeda di mana. Ketika ditanya,  apa bukti Dia hidup? Maka kita bisa menjawabnya “Dia hidup dalamku!” Sehingga orang lain yang tidak percaya, melihat kehidupan kita memancarkan kemuliaan Tuhan. Ketika hidup kita mengalami transformasi lalu beritakanlah Injil! Apakah kita pernah memberitakan Inil? Saya mendapat pelajaran di SAAT tentang penginjilan. Dulu saya kira penginjilan hanya dengan kata-kata. Tetapi ternyata ada 4. Suatu penginjilan meliputi word (firman Tuhan), life (bagaimana hidup kita ditransformasi Tuhan), deed (perbuatan kasih apa yang kita Tunjukkan) dan sign (ketika Allah memberi tanda melalui mujijat dan kesembuhan, orang lain yang belum percaya menjadi percaya. Artinya ketika kita hidup benar, Tuhan menginjinkan kita menginjili orang). Ketika saya pelayanan di Jambi, ada pemuda Kristen yang pacaran dengan seorang Budhis. Sang gadis sering diinjili oleh pendeta saya, tapi tidak mau dan malah lari. Ketika kami nonton dan makan bersama, saya tidak menginjilinya dengan kata-kata. Saya ingin menunjukkan sikap yang benar. Kemudian pemuda itu menelepon saya menanyakan apakah saya punya waktu tidak karena pacarnya ingin mendengar Injil. Ia merasa tidak didesak saat diinjili lalu ia menangis dan mau menerima Yesus sebagai Tuhannya. Tugas kita semua adalah menginjili. Ketika Tuhan mentransformasi Petrus akhirnya ia dipakai untuk memberitakan Injil. Ketika ada masalah yang datang, terkadang kita bertanya ”Mengapa Engkau melakukan ini padaku?”. Bahkan mungkin ada yang berkata, “Mungkin  Tuhan tidak ada karena Dia tidak mendengar doaku.” Bagi saya Tuhan selalu menjawab doa saya walau jawabannya bisa “ya” , “tidak” atau “tunggu”. Ketika dijawab tidak bukan berarti Dia tidak mengasihi kita. Saat pelayanan week end di Kesamben saya diberi tema ”Jangan Khawatir” karena selama 3 minggu tidak turun hujan di sana. Di akhir khotbah dengan berani  saya berkata, “Bapak –Ibu berani tidak kita berdoa agar Tuhan memberi hujan?” Kemudian kami berdoa, setelah itu saya pulang. Setelah menunggu dari Senin sampai Jumat, hujan tetap  tidak turun. Waktu Jumat malam saya bertanya, “Tuhan kalau tidak hujan bagaimana?” Akhirnya Sabtu pagi  pk 5, ada hujan turun rintik-rintik. Saya terharu dan berlari ke luar. Saya merasakan hujan. Lalu saya menceritakan kejadian ini kepada teman-teman. Hujan itu menumbuhkan iman orang-orang di sana. Kita akhirnya menyadari Tuhan itu ada dan bersandar penuh kepadaNya berdasarkan anugerah Tuhan semata untuk berserah hanya pada Tuhan. Jangan transformasi yang terjadi secara tampak saja kita melayani, tetapi evaluasi apakah kita terus ditransformasi Tuhan , hidup kudus dan iman terus diperbarui. Mari sandarkan hidup kita pada Tuhan! 

Tuesday, April 14, 2015

TRANSFORMASI TOMAS


Pdt. Djie S. Mahoni

Yohanes 20 : 24-29
24  Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
25  Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
26   Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
27  Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
28  Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
29  Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Pendahuluan

                Setiap orang memiliki pola berpikir yang berbeda. Orang yang sederhana berpikir secara sederhana juga namun seringkali imannya lebih besar dibandingkan dengan  orang yang pintar. Pada zaman dulu ada banyak orang yang meragukan Tuhan dan saat ini jumlahnya semakin banyak termasuk ada pendeta yang ragu apakah Yesus pernah ada atau tidak. Bahkan ada pendeta yang mengklaim dirinya sebagai seorang ateis. Misal : seorang ‘pendeta’ dari gereja Metodist di Inggris mengklaim diri sebagai orang ateis. Saat dilarang untuk memberi khotbah di gereja, ia mengajukan tuntutan di pengadilan dan menang! Sehingga akhirnya ia tetap diberi kesempatan untuk berkhotbah di gereja. Di Amerika, ada komunitas ‘pendeta’ ateis. Masyarakat Kristen dikagetkan saat diadakan sebuah seminar besar , seorang dosen mengklaim dirinya sebagai seorang ateis setelah anaknya pindah sekolah. Juga saat para dosen seminari dikumpulkan pada suatu acara di Puncak, seorang pendeta senior  yang diundang sebagai penceramah mengatakan bahwa ia tidak percaya Tuhan! Kalau ia seorang ateis, lalu apa yang akan ia ajarkan di kelas?. Pada zaman dulu orang begitu sederhana pola pikirnya berbeda dengan sekarang di mana orang menjadi semakin pintar , ironisnya otak manusia telah membunuh imannya.

Rasio  vs Iman

                Sejak 2.000 tahun lalu, orang yang bersama dengan Yesus bahkan murid-murid  Yesus pun meragukan bahwa Yesus telah bangkit! Ketika Yesus mati , kita tidak punya kesan sedikit pun bahwa para murid menantikan kebangkitan Yesus. Padahal Yesus sudah mengatakan bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga. Justru musuh Yesus ingat akan perkataan Yesus tersebut, dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.  Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama." (Matius 27:63-64). Berbeda dengan murid-muridNya yang  tidak terkesan menantikan Guru mereka bangkit, bahkan ketika Guru mereka bangkit, mereka tidak percaya!

                Semakin kemari, semakin banyak orang yang skeptis. Anak-anak yang pintar dan otaknya encer, dengan ilmu yang banyak , mungkin suatu saat mereka terjebak oleh logika mereka sendiri. Manusia tidak menyadari bahwa manusia adalah mahluk natural  sedangkan Tuhan adalah supra natural. Untuk manusia memahamiNya dengan tuntas tidak mungkin, karena ada lompatan yang tak terseberangi antara yang natural ke supra natural. Bahkan banyak hal yang natural yang tidak diketahui manusia. Dikatakan bahwa dokter saja hanya mengetahui 25% dari tubuh manusia, bagaimana mau berbicara tentang Tuhan? Hanya karena Tuhan mengirimkan wahyuNya sehingga apa yang tadinya tertutup , kemudian manusia bisa mengerti.

                Ukuran otak manusia hanya sebesar genggaman tangan manusia. Ada ilmuwan yang berkata, manusia umumnya baru menggunakan kapasitas otaknya sebanyak 4-5%, sedangkan Albert Einstein (1879-1955) menggunakan 15% dari kapasitas otaknya sehingga ia menjadi orang yang jenius. Walaupun kita bisa menggunakan otak kita 100% , maka otak kita tidak mungkin memahami Tuhan dengan tuntas. Bila Tuhan bisa dipahami seutuhnya , hal ini  berarti yang lebih besar adalah otak manusia yang seukuran kepalan tangan. Otak manusia tidak mungkin lebih hebat dari Allah. Kalau Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi itu adalah allah dalam filsafat. Tetapi Allah kita juga bukan Allah yang tidak masuk akal. Allah kita mengetahui otak kita walau kita tidak bisa memahami Tuhan dengan tuntas.  Berapa besar ukuran bulan? Ukuran bulan sebesar piring saat terlihat dari jauh, padahal ukuran bulan sebenarnya jauh lebih besar dibanding piring walau lebih kecil dari bumi. Bulan sepertinya kecil tapi bulan bisa berjuta kali dari ukuran yang dilihat mata mansuia. Mata kita dirancang untuk melihat dengan kapasitas seperti itu. Otak kita dirancang terbatas. Jadi jangan berusaha memikirkan Tuhan sampai tuntas.

                Seorang rabi  (guru dalam masyarakat Yahudi) bernama Kutcher anaknya lahir cacat dan ia berusaha mengerti Tuhan. Pada Yesaya 55:8 dikatakan, Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Setelah beberpa waktu dalam pergumulan, Kutcher tidak bisa menerimanya dan akhirnya ia berkata, “Tuhan memang baik, tetapi sayangnya Tuhan tidak maha kuasa. Karena kalau Dia maha kuasa, maka Dia tidak akan menciptakan anak saya yang cacat.” Rabi Kutcher tidak memahami rancangan Tuhan. Demikian pula dengan murid-murid Yesus yang percaya setelah melihat Yesus muncul di tengah-tengah mereka setelah kebangkitanNya. Tomas yang diberi tahu oleh murid-murid yang lain menolak. Tomas bersikeras tidak percaya. Hal ini sama seperti saat ini, ada orang-orang yang begitu skeptis. Namun Allah kita memberi jawaban pada orang-orang seperti Tomas. Kita harus memahami Alkitab melalui 2 jalur yaitu otak dan iman dan keduanya harus seimbang.  Ada orang yang memahami melalui satu jalur saja yaitu ada yang memahami iman tanpa otak dan ada juga orang-orang liberal mendekati Alkitab dengan rasio (otak) tanpa iman. Sehingga iman dibunuh oleh rasio. Maka ada ekstrim  kiri dan  ekstrim kanan. Seharusnya ada gabungan otak dan iman. Iman yang diajarkan Alkitab tidak membabi buta namun iman yang mempunyai alasan dan argumentasi yang membuat kita percaya.  

                Di dalam Alkitab terdapat banyak tulisan yang memuat argumentasi. Misalnya dari Perjanjian Lama kita belajar tentang bumi yang bulat. Sebelumnya kalau tidak belajar ilmu pengetahuan, saat ditanya apakah bumi bulat atau datar maka akan dijawab datar. Hal ini saya alami sendiri. Sewaktu kecil saya ke rumah kakek di Singkawang. Di sana saya berenang di laut namun saya takut berenang sampai ke ujung karena  takut jatuh di ujungnya karena berpikir bumi itu bentuknya datar. Di samping itu dalam benak saya, langit bentuknya seperti kuali bulat yang menudungi bumi dan suatu saat akan jatuh menimpa saya. Pikiran saya sebagai anak kecil masih kuno dan tidak ilmiah. Padahal sekitar sekitar 2.700 tahun lalu Yesaya  bericara tentang bumi yang bulat (Yesaya 40:22a Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang). Manusia baru mengetahui hal ini beberapa ratus lalu. Kalau dahulu Nabi Yesaya menggunakan logika, maka ia tidak mengatakan hal itu. Karena semua orang akan berkata, “Mana bulatan bola dunia? Semuanya datar” karena kekeliruan ini baru diperbaiki 2.000 tahun kemudian. Nabi Yesaya sudah ada 700 sebelum Yesus lahir, jadi 2.700 lalu ia sudah mengatakan hal itu. Sedangkan Christopher Columbus (1451-1506) baru membuktikan bahwa bumi ini bulat pada abad ke-15.

                Alkitab juga berbicara tentang rotasi bumi di mana yang bergerak adalah  bumi (bukan matahari). Bagi orang yang tidak mengerti tentang bumi, orang yang mengatakan “bumi  yang berputar” dikatakan sebagai orang bodoh karena baginya bumi tempatnya berpijak tidak dirasakan berputar. Padahal apa yang kita amati dan rasakan, belum tentu mewakili esensinya. Kalau kita membayangkan bola sebesar gedung gereja, lalu kita berdiri di atasnya, maka saat diputar kita akan pusing jadi kalau bumi berputar maka kita akan pusing karena rotasi, padahal saya tidak merasa bumi bergerak. Inilah masalah bagi orang yang tidak memahami pengetahuan. Di kitab Ayub banyak menggambarkan ilmu pengetahuan seperti rotasi. Misalnya : saat membuat tempayan, ada papan yang bisa berputar, lalu ada objek tanah liat yang dibuat berputar dan bumi digambarkan seperti itu dan hal Itu mirip dengan teori rotasi. Ternyata perputaran bumi itu benar adanya. Pada 19 Januari 1616, Galileo Galilei membuat dua pernyataan bahwa  matahari adalah pusat galaksi (heliocentric) dan bumi bukanlah pusat tata surya. Kita membicarakan hukum termodinamika 1 dan 2, siklus air dan arus laut yang baru ditemukan kemudian dan para ahli setuju Alkitab bukan omong kosong, karena Allah yang memberitahukan hal itu.

                Beberapa bulan lalu, saya membahas hal ini di majalah Standard, bukan saja ilmu pengetahuan tapi ilmu medis. Di Alkitab dikatakan bayi disunat pada hari ke delapan. Mengapa hari ke delapan? Hal ini disebabkan kandungan vitamin K prothrombin paling tinggi yakni  110 % dari normalnya. Kalau bayi disunat sebelum hari ke delapan, maka ia harus disuntik vitamin K terlebih dahulu karena vitamin K prothrombin berperan dalam pembekuan darah. Setelah hari ke delapan, jumlah vitamin K sudah menurun kembali. Alkitab (pada zaman Musa) juga sudah membicarakan  tentang karantina. Saat seseorang menderita kusta maka ia harus tinggal di suatu tempat yang dikhususkan (dikarantina) Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya (Imamat 13:46). Pembasuhan tangan juga sudah dibicarakan di Alkitab. Ada dokter kandungan di Rumah Sakit di Eropa dulu yang heran menemukan fakta banyak ibu-ibu yang setelah melahirkan meninggal dunia. Awalnya ia menduga  penyebabnya adalah pastor yang masuk ke rumah sakit  dengan membunyikan lonceng sehingga membuat terkejut ibu-ibu yang sedang menantikan kelahiran sehingga membuatnya meninggal. Lalu pastor tersebut diminta datang ke rumah sakit tanpa lonceng. Ternyata ibu-ibu yang meninggal tetap tinggi. Lalu ia terus menyelidikinya. Rupanya para dokter setelah melakukan operasi kelahiran bayi, berpindah-pindah dari satu operasi ke operasi lain karena banyak bayi yang lahir tanpa mencuci tangan sehingga darah ibu-ibu bercampur. Bila mencuci darah di baskom pun tanpa mengganti airnya yang kotor. Sehingga ditemukan penyebabnya. Padahal di zaman Musa sudah disampaikan tentang cuci tangan dengan air mengalir dan pembasuhan dengan hisop. Baru sekarang ada hari mencuci tangan international. Tentang larangan makan lemak (Imamat 7). Dilarang di Alkitab. 3.000 tahun lalu Alkitab berbicara. Ilmu pengetahuan baru menemukan kejelekkan bila memakan lemak. Di Alkitab juga disinggung tentang larangan untuk memakan binatang yang haram (Imamat 11). Riset kemudian mendukung kebenaran perkataan di Alkitab.

                Juga terdapat hal yang menarik tentang nubuat. Di dalam Aklitab terdapat lebih dari 216 nubuat tentang Yesus. Ada seorang ahli statistik di Amerika yang menghitung kemungkinan digenapinya  nubuatan. Untuk menggenapi 8 buah nubuatan kemungkinannya adalah 1 berbanding 10 pangkat 17 alias luar biasa kecil kemungkinannya. Sebagai ilustrasi digunakan daerah Texas (negara bagian terbesar kedua di AS dengan luas 696.200 km2) yang dipenuhi oleh koin. Texas luasnya 5 kali dari luas pulau Jawa (138.794 km2). Texas kemudian ditutup koin setinggi 2 kaki (sekitar 60 cm). Dengan demikian jumlah koin yang digunakan untuk menutupi luas kota Texas sungguh banyak sekali. Setelah seluruh Texas ditutup koin, lalu diambil 1 buah koin yang kemudian diberi-tanda dan selanjutnya koin tersebut diaduk dan dicampur dengan koin-koin lainnya. Lalu diundang seseorang yang tertutup matanya untuk mengambil koin yang satu itu. Itu artinya 1 berbanding 10^17. Itu baru kemungkinan penggenapan 8 nubuatan saja, padahal di dalam Alkitab terjadi penggenapan yang luar biasa. Untuk menggenapkan 48 nubuat maka kemungkinannya terjadi pada 1 orang adalah sebanyak 1 berbanding 10 pangkat 157! Di sini kita tidak bisa menggunakan koin lagi. Maka untuk mengilustrasikannya digunakan electron (1 inci elektron = 2,5 cm). Bila diasumsikan dalam waktu 1 menit bisa dihitung 250 hitungan maka untuk menghitung jumlah elektron dalam 1 inci digunakan waktu 19 juta tahun!. Tapi sekarang yang dihitung bukan 1 inci melainkan, 1 meter kubik sehingga waktu yang digunakan 19 juta x 19 juta  x 19 juta tahun. Sangat banyak sekali. Lalu elektron diaduk dan diambil sekali saja sehingga kemungkinannya 1 berbanding 10 pangkat 157. Ini sudah absolute mustahil. Tetapi di Alkitab bukan hanya terdapat 48 nubuatan!

Yesus Benar-Benar Bangkit!

                Alkitab memberikan hal-hal yang luar biasa memuaskan. Alkitab bukan omong kosong. Beriman pada Yesus bukan isapan jempol atau iman yang membabi buta. Bagi yang termasuk kelompok skeptis janganlah ragu! Bukan kita tidak lebih pintar dari orang lain. Beberapa puluh tahun lalu ada seorang wartawan bernama Albert Henry Ross (1881 – 14 September 1950 dengan nama samaran Frank Morison) dan seorang ahli hukum. Ia  mendapatkan tugas untuk menulis buku tentang kebangkitan Yesus adalah omong kosong dan isapan jempol. Frank Morison mengadakan riset dan akhirnya ia menulis buku Who moved the stone? (1930). Ia berakata bahwa  ini adalah buku yang saya tidak mau tulis karena justru dalam risetnya ia berkesimpulan bahwa Yesus telah bangkit! Frank Morison membaca buku Lee Strobel (63, seorang ahli hukum, mantan ateis, jurnalis, yang memang dilatih untuk melakukan riset). Kebangkitan Yesus adalah sentral dari kekristenan, dan Lee Strobel ingin membantahnya. Ia kemudian melakukan riset panjang lebar dan akhirnya ia berkesimpulan, bahwa Yesus memang benar-benar bangkit! Demikian pula dengan Simon Greenleaf (December 5, 1783 – October 6, 1853) yang bukunya sangat mendunia. Ia seorang professor Yahudi, ahli pembuktian yang sangat terkenal. Simon Greenleaf juga seorang pengacara terbaik dan mengalahkan semua pengacara di Eropa. Simon Greenleaf menganggap bahwa kebangkitan Yesus omong kosong sampai ia ditantang mahasiswanya. Dalam risetnya akhirnya Simon Greenleaf yang skeptis dan ateis menjadi Kristen! Karena melalui risetnya ia  sampai pada kesimpulan bahwa Yesus bangkit!.

Yoh 20:27-29  Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"  Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."


Saya awalnya berpikir bahwa setelah  orang yang diyakinkan maka ia akan menjadi orang percaya, ternyata tidak. Orang yang yakin Yesus bangkit ternyata belum tentu percaya! Berbeda dengan kita yang bisa percaya! Berbahagialah orang percaya walau tidak melihat. 

Monday, April 6, 2015

Tinggikan Dia!


Pdt. Arganita Saragih

Lukas 3:10-20
10   Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
11  Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."
12  Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"
13  Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."
14  Dan prajurit-prajurit bertanya juga kepadanya: "Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?" Jawab Yohanes kepada mereka: "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
15  Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias,
16  Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
17  Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan."
18  Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak.
19 Akan tetapi setelah ia menegor raja wilayah Herodes karena peristiwa Herodias, isteri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya,
20  raja itu menambah kejahatannya dengan memasukkan Yohanes ke dalam penjara.
               
Pendahuluan

                Mengapa tema “Tinggikan Dia” menjadi sangat penting? Karena natur manusia berdosa sehingga manusia ingin ditinggikan (tidak ada yang mau direndahkan). Penyakit psikis pemimpin dan orang masa kini adalah harga diri. Harga diri penting karena begitu harga dirinya tersinggung maka eksistensi diri dan pengakuan terhadap dirinya tercabik dan merasa direndahkan. Sehingga orang berlomba-lomba ingin menjadi sukses, berada, punya banyak gelar dan jabatan yang tinggi agar ia menjadi orang yang dihargai dan ditinggikan oleh orang lain (diakui keberadaannya oleh orang lain). Kejatuhan Adam dalam Taman Eden karena ia ingin meninggikan diri seperti Allah. Keberdosaan Adam diturunkan  kepada manusia yang lahir di dunia sehingga manusia lahir dalam keberdosaaan. Namun  Yesus sudah bangkit  agar orang yang sudah diselamatkan berbeda dengan orang dunia yang ingin dirinya ditinggikan, Kita sebagai orang percaya kita harus mawas diri agar kita jangan memiliki keinginan untuk ditinggikan.
                Saat tokoh Yesus dalam drama yang dipentaskan tadi keluar dari goa, saya merasa merinding. Melihat Yesus bangkit membawa kunci kerajaan Allah, saya bergumul saat menyampaikan firman Tuhan. Ada kegentaran luar biasa saat naik  mimbar. Saya berpikir apakah sebabnya Yohanes Pembantis pada Yohanes 3:28 diberi mandat untuk membuka jalan sebelum Yesus melayani? Yohanes Pembaptis yang merupakan nabi terakhir dari Perjanjian Lama mengatakan, "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Markus 1:7). Ia mengetahui keberadaannya, walau ia dipakai oleh kerajaan Allah (Yohanes Pembaptis dipakai luar biasa dengan banyak pengikut sehingga banyak orang yang bertobat. Ia menegur pemuka agama,”Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati “(Mat 12:34  ). Ia menyadari bahwa kuasanya bukan berasal dari dirinya, tapi berasal dari surga, yaitu Allah Bapa. Sehingga ia mengatakan “membuka tali kasutNyapun aku tidak layak”. Ketika pengikutnya pergi mengikut Yesus Yohanes Pembaptis tidak marah! Semuanya bukan karena kuat kuasa diri tetapi karena anugerah Allah. Kita seringkali lupa saat memiliki kekuasaan dan karisma yang besar, punya  banyak harta  untuk mengontrol orang lain, memiliki jabatan tertentu sehingga mampu menguasai banyak hal. Kita lupa yang memberikannya adalah Allah yang menang atas kuasa maut.

Prinsip Meninggikan Allah

1.     Orang yang meninggikan Allah adalah orang yang memiliki belas kasihan. Allah yang turun menjadi manusia, merendahkan diriNya karena Dia memiliki belas kasihan agar  manusia tidak bisa masuk ke kesengsaraan kekal yang tidak ada ujungnya dan, mati mengalami penderitaan luar biasa tanpa akhir. Itulah neraka yang seharusnya kita disana. Alkitab mengatakan neraka adalah lautan api dan belerang. Di sana ada kertak gigi dan kegelapan tiada akhir (Mat 8:12  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.") ,tetapi Allah turun menjadi manusia, karena dosa harus ditebus oleh kematian. Allah kita tidak bisa mati. Sangat salah seorang filsuf mengatakan Allah orang Kristen adalah Allah yang bisa mati. Karena Dia tidak bisa mati maka Dia menjelma menjadi manusia agar bisa menebus dosa manusia. Tanpa belas kasihan tidak ada karya keselamatan Kristus di kayu salib. Kalau Kristus hanya mati dan tidak bangkit maka kematiaanNya sama seperti kematian manusia lain. Ketika bangkit, belas kasihanNya mengalahkan iblis sehingga manusia bisa masuk ke dalam kerajaan sorga nan kekal. Orang yang meninggikan Allah adalah orang yang memilik belas kasihan seperti yang dikatakan pada Lukas 3:10-11. Orang banyak bertanya kepadanya: "Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"   Jawabnya: "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya: "Guru, apakah yang harus kami perbuat?"  Jawabnya: "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."

2.     Orang yang percaya Kristus harus mengetahui bahwa dirinya harus merendahkan diri terlebih dahulu untuk ditinggikan Allah. Yesus , Allah yang turun ke dunia merendahkan diri sama seperti kita dan memiliki kekurangan oleh kedagingan manusia, tapi Dia rela merendahkan diri. Ini merendahkan diri yang luar biasa! Berbeda dengan Lucifer (Bintang Timur, putera Fajar, Yesaya 14:12) yang ingin meninggikan diri (menjadi seperti Allah).  Bagaimana cara agar dapat merendahkan diri? Hal ini sangat sulit dimiliki, karena hanya bisa didapat dari anugerah Allah. Kita harus memintanya kepada Allah. Manusia sulit untuk bisa rendah hati. Bila dipuji sedikit, membuatnya tinggi hati dan menganggapnya itu yang terpenting. Sehingga bila orang tersebut dipuji maka semua yang diinginkan darinya akan diberi. Itu namanya senang dijilat. Sekarang banyak orang dijilat orang lain dan hal ini tidak terkecuali masuk dalam gereja. Saya sangat takut dengan orang seperti ini. Saya memiliki tipe temperamen sanguin yakni tipe orang yang mudah sombong, fasih lidah dan bisa memukau orang sehingga banyak orang menyukai. Saya berdoa agar Tuhan menolong saya agar saya semakin kecil dan Yesus semakin besar. Seorang dosen saya berkata, kita akan jatuh dalam dosa kesombangan bila kita meninggikan diri. Ada hamba Tuhan yang awalnya memiliki pelayanan yang luar biasa bagus, tapi 25-30 tahun kemudian hancur karena jika Tuhan tidak ditinggikan maka pelayanan pun akan dihancurkan. Karena Tuhan tidak ingin orang atau pelayanan yang meninggikan diri. Saya melakukan pelayanan di sekolah-sekolah Kristen yang hampir bangkrut (rusak). Terlepas dari salah kelola namun hal ini terjadi karena Tuhan tidak ditinggikan di situ. Hidup kita akan hancur karena Tuhan tidak ditinggikan namun  kalau kita hancur bersyukurlah karena Tuhan ingin menginginkan agar kita kembali ke natur semula untuk meninggikan Allah. Manusia tidak pernah diciptakan untuk meninggikan diri sendiri, nenek moyang atau gerejanya tetapi manusia diciptakan untuk meninggikan Allah. Ketika hari ini kita mungkin mengalami kesulitan, keterpurukan , tugas yang begitu berat, evaluasilah apakah karena kita tidak meninggikan Tuhan? Uni Soviet (1922-1991) merupakan negara adidaya namun akhirnya hancur pada tahun 1991. Di bandara internasionalnya pernah dipasang tulisan, “Tuhan tidak ada di sini”. Mereka merasa seakan kuat tanpa Allah sehingga Tuhan menghancurkannya sehingga menjadi negara yang terpecah-pecah. Hati-hati menjadi tinggi-hati. Rendah hati adalah modal untuk hidup dalam Tuhan. Kalau kita bisa melayani itu karena anugerah Tuhan semata. Orang rendah hati tidak takut direndahkan. Karena kita adalah hamba Tuhan , maka kita tidak mudah patah hati dan tidak merasa sakit hati, karena harga dirinya sudah diserahkan kepada Allah. Orang inilah yang akan ditinggikan Tuhan. Ketika dimaki tidak membalas, dia tidak mudah menangis karena direndahkan orang, maka ia akan ditinggikan Yesus. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Matius 23:12). Dialah Allah yang patut ditinggikan.

Pada Tahun 2002, Cahaya Bagi Negeri (CBN), production house yang memproduksi program TV di antaranya yang paling dikenal adalah Solusi, tayang sejak tahun 1999). Bagi pemirsa yang ingin didoakan atau berkonsultasi tentang permasalahan hidup dapat menghubungi layanan Counselling Center CBN 24 jam melalui telepon, SMS, chatting dan email. CBN meminta saya bergabung untuk menyampaikan khotbah yang diambil gambarnya untuk ditayangkan. Kalau saya menerimanya maka saya akan menjadi orang terkenal. Saya bergumul, “Tuhan Engkau tahu kelemahanku”, akhirnya dengan kekuatan dari surga saya berhasil menolak karena tidak ingin keterkenalan dan uang membuat saya takut kalau Tuhan tidak ditinggikan dan  Roh Kudus tidak bekerja. Sebelum saya naik ke mimbar, Tuhan bekerja luar biasa. Itu pun dirasakan oleh jemaat yang hadir. Hanya karena Kristus, gereja ini akan tetap ada sampai saat ini dan sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. Tidak boleh kita yang ditinggikan melainkan hanya Yesus yang ditinggikan. Yohanes Pembaptis tetap meninggikan Allah walau akhirnya dipenggal karena pemberitaan Injil.


Mulai sekarang kita lepaskan keinginan daging agar dilihat orang dan membuat kita sombong karena apa yang kita miliki semata hanya anugerah Allah. Hari ini kita memiliki kefasihan dan kemampuan yang dimliliki karena anugerah Allah. Jangan sampai hal-hal yang kita miliki menjadi berhala dalam kehidupan kita. Tadi pagi saya memimpin KKR Paskah. Saya berdoa agar jemaat sungguh-sungguh diubahkan dalam Tuhan. Dari 223 orang yang datang, yang maju ke depan sebanyak lebih dari 100 orang. Ketika orang bertobat dari kelakuannya yang jahat, saya menangis di atas mimbar. Siapa saya Tuhan yang bisa membawa orang bertobat?  Saya menangis melihat kuasa Tuhan, sedangkan saya tidak ada apa-apanya! Seperti Yohanes Pembaptis mengatakan “membuka tali kasutNyapun saya tidak layak!” saya berkata, “Siapa saya Tuhan sehingga Tuhan pakai?” Saya melayani di SKKK Makasar belum setahun sudah berkembang. Siapa saya Tuhan? Semata-mata Tuhan yang memberi hikmat sehingga satu per satu bisa diselesaikan. Orang yang tadinya curhat bisa dibenarkan. Iblis dikalahkan di sana, karena kuasa Tuhan bukan karena aku. Tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan walauapun “kecil” kalau bukan dari Tuhan! Kalau bukan kerendahan hati! Saya bersyukur GKKK terutama di Bandung, ketika pelayanan dipegang oleh Pdt. Philip Andrew dalam waktu 5 tahun ribuan orang datang. Saya berdoa agar GKKK Mangga Besar juga memperoleh hal yang sama. Tuhan akan memulihkan sehingga lingkungan di sekitar gereja ini dibongkar ke kiri dan ke kanan untuk dibesarkan menjadi lahan gereja karena untuk menampung banyak orang yang bertobat! Tinggikan dia tidak ada yang lain! Yesus Kristus ditinggikan Bapa, kebangkitanNya karena Dia mau merendahkan diri. Jika ada yang merasa cukup dalam melayani Tuhan, maka kembalilah kepada Tuhan! Paskah seharusnya membawa pemahaaman diri untuk kembali kepada natur kita. Paskah membawa kita kembali kepada keberadaan kita yang nothing (tidak ada apa-apanya). Kita jadi apa-apa karena salib Kristus. Jiwa kita diselamatkan sehingga kita menjadi warga negara surge juga  karena salib Kristus! Kita  mampu melakukan pelayanan kita karena salib Kristus. Sebagai orang percaya dan hamba Tuhan, kita memang sudah dalam posisi rendah, sehingga jangan sakit hati, karena kita seharusnya direndahkan karena Krisuts ditinggikan. Kita tidak layak bahkan untuk membuka tali kasutNya pun!

Saturday, April 4, 2015

Allah Peduli


Pdt. Hery Guo

Roma 8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Roma 5:1-11
1   Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
2  Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.
3  Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
4  dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
5  Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
6   Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
7  Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar  —  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  — .
8  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
9  Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
10  Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
11  Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Pendahuluan

                Apa dasar keyakinin Rasul Paulus bahwa penderitaan yang dialaminya saat hidup tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan diterimanya? Untuk menjawabnya dapat dilihat pada perikop Roma 5:1-11. Suatu kali ada seorang guru berbicara kepada seorang siswi SMA-nya. Ia bertanya kepadanya, “Beberapa waktu ini saya melihat kamu bermusuhan dengan kawan karibmu. Biasanya kamu selalu bersama-sama dengannya. Kamu berdua bersama-sama ke kantin, ke perpusatakaan dan berolahraga bersama. Mengapa sekarang kamu tidak bersama lagi? Sang siswi menjawab, “Pak, sekarang saya benci dengan dia. Dulu memang dia kawan karib saya.” Sang guru bertanya lagi,”Mengapa persahabatanmu menjadi rusak?” Sang siswi menjawab, “Karena ia tidak pernah peduli terhadap saya!”. “Apa yang membuat kamu merasa begitu?” tanya Sang Guru lagi. “Karena ia tidak mau lagi melakukan apa yang saya minta, saya inginkan serta permohonan saya. Jadi bagi saya ,dia bukan kawan saya, karena ia tidak pernah peduli akan apa yang saya mau!”

                Ukuran apa yang bisa dipakai untuk mengukur dia peduli saya? Apakah berdasarkan kriteria untuk mengukur kepedulian Allah? Gambaran bahwa ia bukan teman saya karena ia tidak peduli dengan saya karena tidak mau memenuhi apa yang saya inginkan dan saya saya mohonkan? Pada waktu kita melihat dan menilai Allah, apakah Dia peduli benar-benar memperhatikan saya (diukur dari saya ke Allah)?. Itu sebabnya waktu kita menemukan kesulitan dan pergumulan, kita menilai Dia tidak memperhatikan dan menolong saya dan kita berkata Dia tidak peduli saya.

                Ada kesaksian dari buku “Ketika Allah Meratap” (When God Weeps) dari seorang yang mengalami sakit yang luar biasa (karangan Joni Eareckson Tada dan Steven Estes ). Buku itu sangat menggugah hati dan padangan saya dalam menilai Allah. Kata “meratap” adalah kata yang kuat yang menggambarkan betapa Allah sedang sedih, menangis dan meraung-raung seperti kehilangan orang yang dikasihNya terhadap ciptaan yang menilaiNya. Dalam buku tersebuat dikisahkan tentang seorang wanita bernama Karla Larson. Karla bukanlah seorang Kristen yang beribadah hanya pada waktu ia mau atau senang, tetapi ia adalah seorang Kristen yang setia. Usia 40 tahun sebenarnya bukanlah usia yang tua. Filosofi di Amerika mengatakan bahwa perjalanan manusia mulai di usia 40 tahun. Karla menderita diabetes akut. Agar tetap hidup dokter berkata kedua kakinya harus diptong. Maka kedua kakinya diamputasi sehingga ia tidak mempunyai kaki lagi. Kemudian ia pun menggunakan kaki palsu, Dalam buku tersebut dikisahkan juga  dalam perjalanan hidupnya di kemudian hari anggota tubuhnya juga lepas seperti jarinya, hal ini disebabkan tingkat diabetesnya tinggi sekali. Ia mengalami serangan jantung yang parah sehingga terasa sakit sekali. Dia juga punya penyakit gagal ginjal sehingga harus dicangkok. Ia mengalami pembengkakan yang parah dan menuju kebutaan pada matanya. Pergumulan Karla sangat berat, jarang ditemukan pergumulan seperti yang dialaminya. Apakah ada di antara kita yang lebih menderita darinya? Biasanya pergumulan siswa adalah saat mendapat nilai jelek , pergumulan pemuda adalah kesulitan dalam meraih jenjang karir yang tinggi dan jodoh yang dirasa sulit (diputus kekasih), permasalahan perusahaan yang sedang mengalami kesulitan menentukan patokan harga atau dalam tahap kehancuran sehingga akhirnya berkata “sepertinya Allah tidak peduli saya”. Mengapa Tuhan tidak menolong saya? Banyak pergumulan yang sepertinya Tuhan tidak pedulikan dan tidak memberikan jalan keluar. Namun dibandingkan penderitaan Karla apakah sebanding? Seorang kawan saya punya perusahaan yang berdiri lama sekali dan sedang dalam kesulitan. Apakah kita sedang bergumul dalam rumah tangga, tragedi antara suami–istri-anak-mertua, pergumulan yang tidak mudah dalam perjalanan, sehingga kita berkata, “Mengapa Tuhan tidak memberikan perhatian kepada saya?”

                Saat bergumul dan merenung tentang kepeduliaan Allah, kita seringkali jatuh dalam kesalahan karena dari kitalah kita menilai Allah dan mencoba melihat Allah berdasarkan perasaaan dan kesulitan yang kita hadapi. Kesulitan seringkali membuat kita tidak melihat Allah peduli. Padahal kitab Suci mengatakan Allah hadir dalam dunia , merasakan pergumulan-pergumulan yang dialami oleh manusia. Dia meneteskan air mata, merasakan kesunyian dan dicampakkan (dalam film The Passion of The Christ, 2004, Mel Gibson mengangkat kesunyianNya yang luar biasa. Ia ditinggal oleh murid-muridNya). Yang paling mengerikan, kesunyian ditambah penderitaan menjadi ramuan yang paling berbahaya dan bisa mematikan manusia. Saat merasa sunyi tanpa seorang pun mendampingi, yang ada keputusasaan dan hidup sebentar lagi. Yesus merasakan itu semua.
               
Melalui tulisan Rasuli Paulus kita melihat betapa Allah peduli.
Roma 5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Ayat 11: Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Kita hidup dalam damai sejahtera karena kita sudah menerima pendamaian itu. Yesus yang mati 2.000 tahun lalu mengorbankan nyawaNya supaya kita mempunyai damai sejahtera hidup dengan enak dengan Tuhan karena Kristus mati untuk saya. Kita tidak bisa hidup tanpa pendamaian Allah..

                Saat SMP saya tinggal di Matraman dan bersekolah di SMP Budhaya. Ada perkampungan orang Ambon di sebelah sekolah yang anak-anaknya berasal dari keluarga yang ekonominya sulit sehingga menjadi berandalan. Mereka minta uang dari anak-anak sekolah termasuk saya. Setiap hari saya dipalak Jadi kalau dimintai uang, saya tidak mampu jajan. Setiap kali bangun tidur dan berangkat ke sekolah saya ketakutan dengan orang yang minta uang. Bila dibilang tidak ada, maka mereka marah dan saya ditendang. Mereka akan meneror secara fisik. Saya menganggap mereka sebagai musuh, kalau boleh saya tidak ingin bertemu mereka. Saya mengalami rasa takut dan tertekan bertemu musuh. Kalau Kristus tidak memberikan diriNya maka selamanya kita akan bermusuhan dengan Allah. Kita yang memusuhi dan membenci Allah, Dosa Adam menyebabkan manusia berdosa dengan Allah. Allah maha dahsyat dan suci dan bisa menghancurkan manusia dengan hembusan nafasnya. Saat menghadapi orang suci , kita mengalami ketakutan tidak ada damai sejahatera. Adam-Hawa bersembunyi di belakang pohon karena Allah yang bisa menghanguskan mereka. Umat Israel juga ketakutan berhadapan dengan Allah sehingga meminta Musa untuk berbicara “Karena kalau kami berhadapan dengan Dia, kami akan mati!”.
Ayat 1 dan 11 ayat yang luar biasa. Allah mendamaikan kita dengan diriNya. Hal ini demikian luar biasa.  Bagi saya pernyataan ini sungguh ajaib sekali sehingga kita tidak mengalami ketakutan , kegentaran, kegelisahan tentang hidup ini. Saya bwberapa kali melayani orang yang akan meninggal dunia, reaksi nya macam-macam. Ada orang Kristen yang takut mati. Waktu diminta untuk tenang saja, mungkin mereka berkata, “Pak pendeta tidak mengalami sendiri. Kalau mengalami baru rasa takut!” Waktu kita diperdamaikan dengan Allah maka sesungguhnya kita hidup dalam damai sejahtera yang tidak bisa diambil. Bangkrut, putusnya kekasih, pencarian pekerjaan yang sulit tidak akan mengambil damai sejahtera itu. Allah sangat luar baisa kepedulianNya dalam konteks Jumat Agung. Rasul Paulus ingin memberikan inti (hal yang utama dari rencana Allah) bahwa Dia sangat peduli dalam perkara keselamatan manusia.

Inti (Utama) dari rencana Allah buat manusia
Allah peduli terhadap:
       Kepedihan kita
       Kemiskinan kita
       Hati kita yang remuk
Namun fokus Utama ALLAH adalah menyelamatkan kita
Ay.6: Kristus mati utk kita orang-orang durhaka
Ay.8: Kristus telah mati utk kita ketika kita masih berdosa

                Mari kita lihat cara kerja dan fokus Allah. Bukan Allah tidak peduli kepedihan, kemisikinan, kesulitan ekonomi kita sehingga tidak bisa makan. Papa saya yang cacat sehingga sulit untuk dapat mencari makan untuk besok. Kami sekeluarga hanya dapat 2 bakut untuk makan beramai-rama atau mama masak telur dengan tim sehingga anak bisa makan dengan banyak. Dia peduli dengan itu. Pada Yohanes 8, dikisahkan ada seorang perempuan yang kedapatan berzina. Seharusnya dalam kasus perzinahan ada 2 orang yang terlibat, namun laki-lakinya tidak ditangkap dan mungkin sang lelaki ada di antara orang banyak yang ingin menghukum perempuan itu. Waktu sang perempuan disudutkan sendiri karena tidak ada laki yang telah tidur dengannya yang mau bertanggungjawab, maka hatinya sangat sedih sekali. Padahal sewaktu ia menyerahkan tubuhnya, ia juga menyerahkan hatinya. Kalau laki-laki tidak mau mengakuinya, masalah sang perempuan menjadi sangat berat. Ada perempuan yang mau bunuh duri, karena mangandung lalu ditinggalkan sang kekasih. Hatinya hancur, karena luar biasa pedih. Rasul Yohanes mencatat bahwa Allah peduli. Dia bahkan menjadi pagar bagi perempuan ini. Allah sangat fokus dalam perkara yang paling bahaya yakni perkara dosa kita, yang caranya melalui kematianNya. Untuk menebus dosa yang membuat kita rusak dan menderita itulah yang dikerjakan Allah melalui anakNya di kayu salib. Ayat 6 dan 8 Yesus mati untuk kita orang durhaka. Orang Tionghoa kalau anaknya jahat, maka dikatakan anaknya durhaka. Kalimat yang memedihkan hati  bagi anak yang dikutuk.

                Dalam hikayat Malin Kundang (Padang), sang anak durhaka karena ia tidak mau mengakui orang tuanya yang miskin sehingga dikutuk. Kata “durhaka” lebih dari kurang ajar dan patut untuk dihukum dan dikutuk. Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Saat kita masih berjudi atau  omong kotor, Kristus telah mati buat kita. Artinya Kristus berbicara tentang kepeduliaan tentang dosa yang membuat tubuh kita lemah dan menderita. Penderitaan itu untuk mengenal betapa kejinya dosa. Ketika ia anugerahkan kesalamatan, ia mau kita berbalik dari dosa. Betapa kejinya dosa namun Dia mau menanggungnya. Itu membuktikan Allah kita benar-benar peduli, meskipun teriakan doa tidak didengar dan penyakit tidak diangkat tapi DIa sudah menyelesaikan penyakit utama yaitu dosa!

Mengenal Allah dengan baik dan benar


                Dengan mengenal Allah secara baik dan benar, akan membuat kita dapat menerima  kesengsaraan yg kita alami (ayat 3). Karla dalam buku “Ketika Allah Meratap” sampai matinya ia tetap sakit. Ia banyak memberi keteladanan rohani. Perawat yang awalnya tidak percaya menjadi percaya karena melihatnya demikian teguh dengan Tuhan. Allah begitu setia dengannya. Ia ditemui oleh Johni perempuan yang batang lehernya patah. Ia membaca Alkitab dengan yakin dan hidup dalam ibadah yang baik. Johni yang batang lehernya patah dan lumpuh serta hidup dalam kursi roda, bisa mengalami dan mengerti Allah. Kalau kita mengenal Allah dengan baik, hidupmu kendatipun punya tantangan, tidak akan berpaling dari iman. Setia beribadah membuat kita antusias karena Dia benar-benar sangat baik. Fil 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, Allah menggunakan penderitaan untuk mengenalNya dengan baik. Mengenal Allah dengan baik membuat kita sadar hidup dalam penderitaan dalam Kristus membuat kita bisa berkata, “Allah Engkau baik”. Dalam keterpurukan , Engkau tidak meninggalkan saya. Engkau melihat saya menangis, tidak bisa tidur dalam pergumulan yang berat, tidak bisa makan atau menelan kepahitan. Allah di sana bersama kita dan Dia tidak pernah mencampakkan anak-anakNya. Mari kita tingkatkan komitmen dengan baik dalam persekutuan pribadi denganNyak. Bacalah kitab suci dan rajin dalam ibadah dan pelayanan.